Selasa, 11 Juli 2017

Tanya Jawab Bersama Pelacur Kata

Begitu sang penggagas WIRDY, yaitu Yoga Akbar Sholihin mengusulkan ide tanya-jawab dijadikan tulisan untuk proyek nulis kami selanjutnya, aku cukup antusias. Aturan main di proyek kali ini adalah, satu anggota bakal dikasih empat pertanyaan berbeda dari empat anggota lainnya, terus ngejawabnya di blog. Itu pertanyaan dari siapa, nggak ditulis. Biarlah menjadi misteri Ilahi.

Kayak WIRDY aja. Lima orang.

Mengingat bahwa anak-anak WIRDY pada cerdas dan banyak akal kayak anak susu formula kaleng mahalan, aku udah ngebayangin aja ntar bakal dapat pertanyaan yang berbobot macam Tanya Jawab Bersama Dr. Oz Indonesia. Atau aku bakal dapat pertanyaan seputar masalah ranjang kayak yang biasa didapatkan Mamah Dedeh dan Aa Abdel.

Wooogggh! Pasti jadi keren bet! 

Tapi yang ada, aku malah dapat pertanyaan-pertanyaan bajingak.

Kayak gini,


Pertanyaan pertama.

1. Halo, Kakak Pelacur Kata. Jika seandainya salah satu temen baikmu adalah seorang pelacur atau gigolo atau mucikari, apa reaksi pertamamu ketika dia curhat soal itu?

Terus kira-kira apa alasan terkuat dia sampai berani memilih sekaligus melakukan hal seperti itu?

Gimana caramu membuat dia bertobat?

Terus kalau seandainya dia sulit tobat karena udah ketergantungan banget sama hal itu, apa reaksimu selanjutnya?

Dan misalkan dia tetep memilih jalan itu, kamu masih mau berteman apa nggak? Uraikan alasannya!

Jawab: 

Anjir. Kayak soal essay. Pertanyaannya agak sulit, ya. Masalahnya nggak relate sama aku. Dan daya imajinasiku nggak tinggi. Temenku rata-rata anak polos. Dina, agamis meskipun rada absurd, seperti yang pernah aku tuliskan di SINI. Dea juga. Si koleris yang di pikirannya cuma pengen jadi anak terpelajar dan punya karir bagus. 

Aku dan Dea, sang bintang iklan Fair and Lovely.

Dita, si gadis ranum yang nggak pernah pacaran sama sekali. Ikhsan, walaupun tampangnya rada mesum tapi dia itu keperempuanan.

Untuk Ikhsan ini aku masih nggak habis pikir sih. Tiap ketemu dia, bikin aku ngerasa kalah berilmu sama dia dalam hal produk kecantikan wanita. Dia tau kuteks yang bisa dipake salat beserta harganya berapa. Bahkan juga tau kalau pensil alis bentuk krayon merk Maybeline itu tahan selama tiga hari.

Entah memang beneran tahan tiga hari atau gimana, yang jelas aku heran (sekaligus takut) sama wawasan Ikhsan yang cukup luas seputar produk kecantikan itu.

Dan mungkin... di antara teman-temanku, aku yang paling binal. Huhuhuhu.

Nah tapi ini kan ditanya kalau seandainya, ya. Kalau seandainya temanku ada yang berprofesi sebagai pelacur, gigolo, atau mucikari, reaksi pertamaku adalah...

AKU KAGET LAH ANJIR. Waktu bukber kemarin aja, ngelihat cewek yang jilbaban lagi vaping, aku shock. Terus pengen ikutan vaping. Hohohoho. Eh enggak. Serius shock. Vaping yang sama aja kayak ngerokok itu aja aku kaget, apalagi kalau temenku ‘ngerokokin.’ Dibayar lagi!

AMAZING NGGAK SIH?

Oke, serius. Nggak amazing lah. Ya jelas aku kaget karena ngerasa itu adalah pekerjaan yang salah. Dan menurutku alasan terkuat dia bisa memilih menjajakan sekujur tubuhnya dan keahliannya memuaskan nafsu birahi, karena tuntutan ekonomi. Kebanyakan kayak gitu kan? Cari kerja (dari dulu sampai) sekarang susah. Lagian ada nggak sih orang yang bekerja jadi pelacur karena passion?

Terus cara membuat temenku bertobat adalah.... apa, ya. Aku nggak jago nasehatin orang sih. Aku aja masih babal begini. Yang bisa aku lakukan cuma jadi orang yang dengerin curhatannya dia soal dunia pelacuran, sambil berusaha mencarikan dia pekerjaan lain. Untuk seterusnya, aku ajak dia ke pengajian dekat rumah yang isinya mas-mas yang sebelas dua belas sama Mas Muzammil Hasballah, sang imam muda yang pernikahannya kemarin bikin baper tingkat dunia akhirat. 

Kalau masih nggak mempan juga, jalan satu-satunya adalah..... aku serahkan dia hidup-hidup ke Mamah Dedeh untuk dieksekusi.

Nah, kalau dia tetap teguh pada pekerjaannya itu, aku memilih buat tetap berteman sama dia meskipun dengan mengurangi intensitas pertemuan kami. Mau bagaimanapun dia udah baik sama aku. Dan selama dia nggak mempengaruhi aku buat terjun ke dunianya, ya.... yaudah sih.

BANGKE. PERTANYAANNYA SUSAH BANGET ANJIR. INI YANG NANYA TEROBSESI JADI GIGOLO APA GIMANA SIH. FAK.


Pertanyaan kedua. 

2. Kalau berkesempatan jadi travel blogger, negara mana yang mau dikunjungi? Kota apa yang mau dikunjungi? Dan bareng siapa (blogger) ke sananya?

Jawab:

Wow! Itu adalah kesempatan yang nyaris nggak bisa aku dapatkan. Apa jadinya kalau aku adalah seorang travel blogger? Itu nggak mungkin banget anjis. Yang ada malah jadi travelokalisasi blogger, kayak yang pernah aku tulis di SINI dan di SINI. Ya, pergi ke tempat-tempat wisata yang konon katanya adalah lokalisasi. Tempat menjajakan kenikmatan duniawi. 

Jadi travel blogger itu susah buatku. Terpujilah para blogger yang bisa jadi travel blogger. Untuk mendapatkan gelar sebagai travel blogger, pertama-pertama aku harus membiasakan diri buat makan banyak supaya gemukan dan stamina jadi kuat. Nggak mau banget kalau aku sampe pingsan nggak jelas. Terus... aku juga harus siap buat berdebat sama Mamaku soal aku-udah-gede-Ma-aku-bisa-jaga-diri. Demi hal itu, aku harus mempertaruhkan eksistensi namaku di kartu keluarga. Huhuhuhu. Mamaku overprotektif. Waktu ke Bontang beberapa tahun lalu aja, aku ditelponin mulu. Dan waktu itu bikin aku sempat bersyukur punya pacar cuek, karena dengan kehadiran Mamaku yang posesif udah lebih dari cukup.

Tapi kalau seandainya aku jadi travel blogger, negara yang mau aku kunjungi adalah...

NGGAK TAU. Hahaha.

Berkaca dari pengalamanku yang suka jalan sendirian dan spontan, aku hampir sama sekali nggak pernah ngerencanain mau pergi ke mana. Sesuai sama suasana hatiku saat itu sih. 

Mungkin aku bakal pergi ke Italia kayak Julia Roberts di film Eat, Pray, Love, kalau misalnya aku lagi pengen menggemukan badan dengan makanan surgawi. Mungkin aku bakal pergi ke Jepang, menikmati kerlap-kerlip warna lampu kota Tokyo yang semarak. Dengan harapan ketemu orang yang sama-sama kesepian kayak aku, lalu kami berdua saling berbagi cerita kayak Bill Murray dan Scarlett Johansson di film Lost In Translation. Mungkin aku bakal ke Islandia demi ‘menantang’ sifat introvert-ku, kayak yang dilakuin Walter Mitty dari film The Secret Life of Walter Mitty.

Atau mungkin... aku pergi ke Perancis, datangin Rezki, dan melihat proses syuting film-film Gaspar Noe. Syukur-syukur Gaspar Noe melihat potensi kami berdua, terus terilhami bikin sekuel film LOVE.

HEHEHEHEHE.

Duh. Kalau ditanya negara mana yang mau dikunjungin, jadi ngawur gitu jawabnya.

Nah tapi kalau ditanya kota mana yang mau dikunjungi, aku bakal mantap ngejawab....

JAKARTA!

Pengen ketemu teman-teman blogger yang domisili di sana. Banyak sih. Tapi tentu aja pengen ketemu Yoga bajingak dan Robby Hendrik. Wulan juga harus ke Jakarta kalau gitu. Huahaha. Dan Darma... Darma harusnya pulang. Pokoknya aku pengen WIRDY bisa meet up dengan formasi lengkap. Terus juga pengen ketemu Farhan, teman sesama penggemar Eminem yang juga tinggal di sana. Pengen bahas musik hip-hop secara langsung. Oh iya, pengen ketemu Tommy juga. Seru kayaknya ngomongin film sama dia secara langsung, sekalian copy film-film erotis dari hardisk-nya. Huehehe.

Dan bareng siapa ke sananya? Bareng Kak Ira. Hahaha. Kak Ira itu juga blogger. Blogger ingkar (karena istilah blogger murtad udah mainstream) tapi. Udah lama ninggalin dunia blog. Huhuhuhu. Cuman ya aku milih dia selain karena dengan dia aku jadi diizinin Mamaku buat pergi ke mana-mana, juga karena dia engas pengen ke Jakarta. Lagian dia pengen getok kepalanya Yoga juga katanya. Huahahahaha.

Yogs, kamu harus hati-hati.


Pertanyaan ketiga.

3. Setelah menikah nanti, adakah rencana untuk sesuatu, ingin menjadi apa, dan apa alasannya?

Jawab: 

APA PULA INI!!!! MOSO NANYA SOAL RENCANA PASCA NIKAAAH!!!!! 

NIKAH AJA BELOOOOM!!!!

 UNTUNG NGGAK NANYA KAPAN NIKAH.

Oke. Jadi.... aku ada rencana pengen jadi istri yang tetap bekerja. Meskipun itu berat, seberat hari-hari Mila Kunis di film Bad Moms. Ngelihat tiga kakakku yang udah nikah, aku ngerasa ya susah kalau cuma jadi Ibu rumah tangga. Kak Dayah dan Kak Iin yang nggak kerja, denger ceritanya bikin sedih gitu sih. Mereka bilang ada perasaan bersalah karena seolah membebankan semuanya ke suami.

“Dan malas aja sih, Cha. Kalau mau kasih ke orangtua, kita harus izin ke suami. Kan kita dapat uang dari suami, ya. Sedangkan kalau suami, kata Mamah Dedeh, nggak perlu izin ke istri kalau mau ngasih orangtua.”

Kira-kira itu yang pernah dibilang Kak Dayah.

Denger cerita Kak Fitri yang kerja juga sedih, karena anaknya jadi jarang menghabiskan waktu sama Mamanya. Tasya, anaknya, malah lebih dekat sama Mamaku.

Ya.... menjalani kehidupan pernikahan itu nggak mudah. Dan aku bertekad buat jadi istri yang nggak berpangku tangan sama suami. Cukup berpangku bokong aja. Alias kasih service lapdance pas suami pulang kerja.



Pertanyaan keempat.

Ini pertanyaannya ada banyak btw. Beranak. Bakso beranak.

4a. Dalam kisah asmara, kamu pernah nggak ngalamin masa lalu yang sampai bikin kamu terpuruk gitu. Kalo boleh tau karena hal apa?

Jawab:

TAIK IH. BISA DILEWATIN AJA NGGAK PERTANYAAN INI? AAARGGH. INI JAWABNYA SAMBIL DEG-DEGAN ANJIS.

Oke, jadi gini...

Menurutku, setiap orang pasti punya masa lalu seputar asmara yang bikin terpuruk. Aku ingat, waktu aku SMP, ada salah satu teman sekelasku yang mengklaim kalau lagu Saat Terakhir-nya ST 12 itu lagu yang dia banget.

“Pacarku meninggal karena kecelakaan motor, Cha,” ujarnya setelah koar-koar soal lirik Saat Terakhir yang nyessss itu.

Waktu itu aku ngerasa prihatin. Dan ngerasa.... oke, aku ngerasa iri. Dia punya kisah yang relate sama lagu yang lagi ngehits kala itu. Sedangkan aku mah apa. Aku nggak punya pacar. Lah harusnya pelajar itu iri sama temannya soal prestasi, ini malah iri soal ngenes-ngenesan kisah asmara. Huhuhu.

Terus akhirnya aku punya kisah yang relate sama satu lagu waktu SMK kelas satu. Kisah bersama mantan yang bukan mantan pertama, tapi jadi mantan pertama yang bikin aku... hoek. Terpuruk. Mantan yang bikin aku (ah aku sebenarnya enek karena aku udah sering nulis soal ini) susah move on selama dua tahun. Mantan yang bikin aku ngerasa The Man Who Can’t Be Moved-nya The Script adalah lagu yang aku banget. 

Aku sempat terpuruk karena susah move on itu. Tapi seperti yang udah aku bilang, hal itu cuma berlaku selama dua tahun. Akibat jatuh cinta sama Zai, akhirnya aku bisa move on juga.

Tapi aku ngalamin kisah yang bikin aku terpuruk lagi. Bukan karena Zai, melainkan karena seseorang yang lain. Kita sebut aja dia Clarity. Seperti yang pernah aku ceritain di SINI

Aku bego banget bisa jatuh cinta sama Clarity, lalu selingkuh dari Zai. Padahal.... Aku udah tau kalau Clarity punya banyak teman cewek. Suka tebar pesona. Dia juga suka melontarkan kalimat gombalan ke banyak cewek. Aku udah tau. Tapi aku dulu tetap suka. Melanjutkan rasa kagumku ke dia jadi rasa sayang. Lagu Fool’s Gold-nya One Direction bikin aku ngerasa relate. Lagu yang direkomendasikan Dina waktu aku curhat sama dia soal itu.

“And I knew that you turned it on for everyone you met. But I don’t regret. Falling for you. Fool’s gold.”

Lirik itu masih terasa bangsat-kok-aku-banget-sih-anjir sampai sekarang.

Ya, aku udah tau dari awal kalau Clarity nggak ada perasaan apa-apa sama aku. Akunya aja yang punya perasaan lebih sama dia. Aku sebodoh itu.

Ya pokoknya gitu deh. Aku juga ngerasa terpuruk pas aku suka sama Clarity di saat aku udah punya Zai. Dan yang ‘memulihkan’ aku itu malah Zai, pacarku waktu itu. The Scientist dari Coldplay bisa dibilang nemenin aku di masa-masa sulit itu. Heleh. Masa-masa sulit. Terus aku terpuruk lagi karena setahun kemudian kami putus. Aku ngerasa dia udah bosan sama hubungan kami. Di mataku, dia bertingkah lebih cuek dari biasanya sampai akhirnya aku muak dan milih buat putus aja. 

Padahal... Padahal belum tentu. Mungkin itu cuma pikiran burukku aja. Alasan kami putus menurutku abu-abu, kayak alasan putus Emma Stone dan Andrew Garfield. Hehehe. Nggak papa kan bawa-bawa kembaran. Hehehehe.

Terus.... aku pacaran sama orang lain. Dan nggak bertahan lama. HAHAHAHA. Orang yang bikin aku sadar kalau.... AKU KENA KARMA KALI YA. 

So, aku udah tiga kali ngerasa terpuruk soal asmara. Hahahaha. 


4b. Apa aja sih rencana masa depan yang kamu impikan mulai dari cita-cita dan pasangan hidup kamu? Terus alasannya kenapa?

Jawab:

Nggak tau. Hahaha. Yang ada di pikiranku sekarang sih, aku pengen bekerja sekeras-kerasnya.

 Bukan kerja keras begini juga sih...

Terus aku pengen jadi saksi mata Nanda lulus kuliah. Ngeliat tumbuh kembang keponakan-keponakan yang jumlahnya ada enam biji. Huahaha. Anjir, aku ngerasa tua ngetik gitu.

Soal pasangan hidup, nggak tau deh, ya. Yang jelas aku pengen punya pasangan hidup yang bisa menerima dan diterima keluargaku. 

LAGIAN INI NGAPAIN SIH NANYA-NANYA PASANGAN HIDUP? SIALAN. LAGI NGGAK PUNYA PASANGAN HIDUP INIIII!!!


4c. Percaya nggak sama digital love? Kalo punya pengalaman, bisa kali diceritain. Hehe.

Jawab:

ANJEEEEEER. EMANGNYA DIGITAL LOVE ITU SEMACAM TAKHAYUL APA YAK. SEGALA NANYA PERCAYA APA ENGGAK.

Hmm oke. Aku jawab kalau aku percaya digital love

Pengalaman soal digital love itu aku udah pernah tulis secara tersirat maupun tersurat di blog ini kurang lebih beberapa bulan lalu. Termasuk di review baper film Her

Jadi nggak perlu diceritain lagi yaaaaaaaaaa. Huehehe.

Btw, kemarin waktu nonton Spider-Man: Homecoming, ada satu adegan di mana aku langsung keingat film Her. Bahkan aku berharap kisah Peter Parker bersama kostumnya yang bisa bicara itu menjelma menjadi kisah cinta. Kayak film Her. Kostum Spider-Man di mataku udah kayak OS-nya Theodore yang bernama Samantha. 

Ternyata Dina ngerasain hal yang sama. Terus dia bilang kalau film Her itu membosankan. Nggak ada klimaksnya, datar, apalah. Aku udah nggak heran sih sama responnya yang nggak sesuai harapanku. Kami udah seringkali beda pendapat soal film dan sering berdebat soal itu. Tapi kali itu aku diam aja. 

Selain karena waktu itu moodku lagi jelek dan males ngomong, aku diam aja karena.... aku terima pendapat Dina. Aku juga terima kalau ada orang yang heran soal.... aku kok bisa terjerat digital love. Kok aku bisa kangen sama orang yang belum pernah aku temuin. Kok aku bisa yakin kalau aku bakal hidup sama dia nantinya, padahal buat menuju hidup bersama itu susahnya minta ampun.

Aku terima keheranan itu. Karena... nggak ada yang bisa ngerti perasaan orang yang terjerat digital love, selain orang itu sendiri. Mungkin sama kayak film Her. Dina nggak ngerti apa bagusnya film itu, karena dia ngerasa nggak relate. Mungkin, dia nggak pernah jatuh cinta sama orang yang nggak 'nyata.'

Jadi, aku percaya digital love. Karena aku pernah mengalaminya. 



Ya elah. Jawabannya panjang-panjang juga, ya. Padahal tadi rencananya mau jawab pertanyaannya pake yes-yes no-no doang. 

Yak, semoga puas sama jawabannya. Supaya nggak nanya-nanya lagi. Hahahahahaha. Deg-degan campur kesel anjir ngejawab tiap pertanyaan demi pertanyaan. Terutama yang menjurus ke arah curhat. Hhhhh....

Proyek kali ini bikin aku mikir kalau nulis curhatan itu ternyata butuh keberanian. Berani buat berbagi cerita masa lalu yang nggak selalu indah. Berani buat dapat tanggapan yang bisa aja menyakitkan hati. Berani dicap sebagai blogger curhat. Tulisan curhatan adalah wujud keberanian karena nggak takut membuka diri buat orang lain. Orang yan curhat di blognya adalah orang yang pemberani. 

Yuks, lihat tulisan dari para pemberani lainnya!

Tulisan Wulan ada di SINI. Tulisan Robby ada di SINI. Tulisan Yoga ada di SINI. Dan tulisan Darma... ALHAMDULILLAH DARMA IKUTAN NULIS JUGA AKHIRNYAAA. Oke, tulisan Darma ada di SINI

19 komentar:

  1. Anjir. Itu pertanyaan pertama siapa yang kasih ya Allah?? Tapi katanya si Yoga udah tobat. Eh gimana sih?? 😂😂

    Wah, Cha. Aku juga pengen ke Jakarta Cha. 2 kali mau ke sana gagal mulu. Ckckk.
    Kok sepertinya kak Ira ini semacam kunci izin mama buat ke luar rumah yak?? 😂😂

    Hmm gak pengen deh bahas tentang terpuruk soal cinta. Takut malah bikin terpuruk.

    Digital love buat blogger mungkin terjadi karena ngebaca tulisannya ya awalnya. Aku pernah nih kagum sama tulisannya orang ehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha. Hayoooo tebak itu pertanyaan dari siapa~ Nah iya, alhamdulillah Yoga sang mucikari udah tobat tanpa perlu dieksekusi sama Mamah Dedeh. Hahahahahaha.

      Ya elaaaah. Kita aja mau kopdar nggak jadi-jadi mulu, Rum. Qu cedila. Apakah itu pertanda kita kopdarnya di Jakarta aja?

      Iyaps. Kak Ira udah jadi semacam orang kepercayaannya Mamaku. Huhuhu.

      Kebanyakan begitu sih. Dari tulisan turun ke hati. Ciyeee kagum sama siapa, Rum? Sebut nama!

      Hapus
    2. Apakah Wulan? Masa iya?! Entahlah. Abisnya biasanya yang nanya semacam itu Yoga sama Icha sih 😂😂

      Apaan orang rumah di kaltim ketemu di JKT?😂😂
      Sebenernya aku juga beberapa kali ke SMD tapi gak hari ahad, kesian lah kamu pasti masih kerja mencari nafkah. Ehehe

      Jadi kamu harus selalu baik sama kak Ira, Cha. Biar selalu bisa bekerjasama 😂

      Duh, sebut nama ya.. malu..


      Sebenernya.. aku suka tulisan Alit Susanto. Tapi sekarang abangnya jarang nulis.

      Hapus
  2. Sebenernya, buat kopdar, silakan berdoa aja sesering-seringnya untuk pemindahan ibukota ke Kalimantan. Kan seru tuh, main ke ibukota yang baru. Hahaha. Orang Jakartan nggak rela dicabut gelar "anak ibukota"-nya. Btw, Samarinda bukan nih calon ibukotanya?

    Oh iya, digital love itu kenyataan. Saya percaya itu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm... Nggak rela dicabut gelar anak ibukotanya. Kalian sungguh nasionalis sekali yak.

      Maunya sih Samarinda aja, Rob. Tapi katanya Palangkaraya, ya. Hadeeeeeh gagal deh jadi anak ibukota gahol kayak Robby Hendrik dkk.

      Percaya terus sempat ngerasain nggak, Rob? Ceritain dong sekalian. Huehehehehe.

      Hapus
  3. lama juga yak move onnya ampe dua tahun :D

    sha juga percaya sama digital love! haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha. Iya tuh, Mbak. :D

      Toooooossss kalau gitu. Mau nyenengin ataupun nyedihin, digital love itu bukan takhayul. Hahaha.

      Hapus
  4. Sett, dah, pertanyaannya macam tu yang pertama..haha

    Haha..ujung-ujungnya ke Mamah Dedeh ya, Teh. Ada rencana untuk mengikuti jejak mamah Dedeh gak nih ?
    Siapa tahu lebih mendunia nanti..

    Betul tuh, nikahan kang Muzammil bikin baper dunia akhirat ya..hehe

    Kalau jadi tarvel blogger masih bingung ya, Teh. Mau kunjungi negara mana. Aku rasa mana aja oke, asalkan gratis..hehe
    Ide bagus kalau ke Jepang, aku juga pengen kesana :)

    Semoga wirdi bisa kumpul semua ya, Teh. Berkumpul dan jalan-jalan.
    Aku beberapa kali main kesini, semoga teh Icha berkenan mampir ke blog sederhanaku.. :)

    BalasHapus
  5. Hmm meme terakhirnya bikin aku salah fokus yawla chaaa

    Btw, aku setuju sama jawaban kamu di pertanyaan ketiga. Enaknya perempuan walaupun udah berkeluarga, tetep punya penghasilan sendiri ya, Cha.

    AAAAAKKK KUJUGA MAU NGUMPUL SAMA WIRDY
    NTAR KITA LANJALAN BERLIMA YA. KEMANA GITU KEK.

    BalasHapus
  6. Astafirullah pertanyaan pertama, daya khayalnya cukup liar juga. Hhm.

    Yass aku setuju, apasalahnya perempuan tetap mandiri meski hidupnya suda ditanggung suami. Asaalkan tetap fokus sama tugas utama sebagai seorang ibu dan istri. :)
    #AdibahSholehah2017

    Yeuuuu AKU JUGA DI JAKARTA GA ADA YANG MAO KETEMU AKU APA HAH?!?!?
    *block*

    BalasHapus
  7. Bangkaaai passion-nya seorang pelacur. Tapi siapa yang tahu? Mungkin aja emang ada. Passion dia memuaskan orang lain sebenarnya~ Caranya aja yang salah. XD

    Yang sampe abc gue tahu banget tuh siapa yang nanya. Wqwq.

    Hayuklah ketemuan WIRDY. Masa nunggu Darma balik dari Turki sekitar 2 tahunan lagi? :|

    Kak Ira kenapa mau getok kepalaku? Apa yang salah denganku? Hmmm.

    BalasHapus
  8. Pertanyaan pertama aja udah kek begitu yawlaaa... Itu yg nanya si Bangul apa yak?

    Udah, akhir tahun ini aja ke jakartanya. biar lekas keobati itu rasa pen ngejitak yoganya.

    service lapdance itu yg kek mana? bisa membuat suami senang dan hilang penatnya kah? bisa kamu contohkan segera, Cha?

    karena ngalami juga, saya sepakat kalo digital love itu nyata, yg nggak nyata harap minjem catata temannya karena materi itu yg akan dijadikan ulangan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yawlaaa kenapa ada yg su'udzon kepada diriku yang polos dan tidak tau apa apa ini?

      Hapus
  9. Pertanyaan nomor satu gitu amet dah :v

    Digital Love sejati itu plankton yang mencintai istri komputernya *apaansih #respect

    BalasHapus
  10. Semua pertanyaan di sini adalah jebakan.

    BalasHapus
  11. Aku salah fokus sama gambar JAKARTA KERAS BROOOOOOOOOOo

    wkwkkwkwk


    ICAA NANTI KALAU KE JKT AKU PENGEN KETEMU DOOOOONG.
    wkwkwkkww


    Iyap gapapa jadi blogger curhat, kadang blogger2 yang curhat2 bikin ngerasa deket gitu karena berani curhat.
    Eh tapi deket deket nanti baper, terus jadi digital love wkwkwkw. Eh gadeng, beneran.. blogger yang cerita2 gini tuh kayak blogger yang bikin ngerasa deket sama penulisnya

    BalasHapus
  12. kenapa dikit dikit gue ketawa wk wk wk ya

    Maaf ya ca. menodai kolom komentarmu dengan kebanyakan ber wkwk

    BalasHapus
  13. Empat pertanyaan, kenapa jadinya banyaaaak sekali ya wkwkw mana ada a, b, c-nya segala wkwkwk.

    Anyway, satu hal ya chak. Kata 'ngerokokin' yang ada di atas itu tadi tuh, kok sepertinya merusak moral saya yang penuh dengan keimanan ya :( dirokok itu enak nggak sih?

    Terus...

    AAAAKH AKU JUGA MAU KE JAKARTA EEEEH :(
    Temen-temen blogger yang kece parah kebanyakan domisilinya di Jakarta cobaaaaak :(

    BalasHapus
  14. ((JAKARTA KERAS BROOO)) :))
    Ih parah Icha gak mau ketemu gue kalo ke Jakarta. Hmmmmmm. Udah, gak mau komen lagi. *ngambeg*

    BalasHapus

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com