Selasa, 11 Juli 2017

Tanya Jawab Bersama Pelacur Kata

Begitu sang penggagas WIRDY, yaitu Yoga Akbar Sholihin mengusulkan ide tanya-jawab dijadikan tulisan untuk proyek nulis kami selanjutnya, aku cukup antusias. Aturan main di proyek kali ini adalah, satu anggota bakal dikasih empat pertanyaan berbeda dari empat anggota lainnya, terus ngejawabnya di blog. Itu pertanyaan dari siapa, nggak ditulis. Biarlah menjadi misteri Ilahi.

Kayak WIRDY aja. Lima orang.

Mengingat bahwa anak-anak WIRDY pada cerdas dan banyak akal kayak anak susu formula kaleng mahalan, aku udah ngebayangin aja ntar bakal dapat pertanyaan yang berbobot macam Tanya Jawab Bersama Dr. Oz Indonesia. Atau aku bakal dapat pertanyaan seputar masalah ranjang kayak yang biasa didapatkan Mamah Dedeh dan Aa Abdel.

Wooogggh! Pasti jadi keren bet! 

Tapi yang ada, aku malah dapat pertanyaan-pertanyaan bajingak.

Kayak gini,


Pertanyaan pertama.

1. Halo, Kakak Pelacur Kata. Jika seandainya salah satu temen baikmu adalah seorang pelacur atau gigolo atau mucikari, apa reaksi pertamamu ketika dia curhat soal itu?

Terus kira-kira apa alasan terkuat dia sampai berani memilih sekaligus melakukan hal seperti itu?

Gimana caramu membuat dia bertobat?

Terus kalau seandainya dia sulit tobat karena udah ketergantungan banget sama hal itu, apa reaksimu selanjutnya?

Dan misalkan dia tetep memilih jalan itu, kamu masih mau berteman apa nggak? Uraikan alasannya!

Jawab: 

Anjir. Kayak soal essay. Pertanyaannya agak sulit, ya. Masalahnya nggak relate sama aku. Dan daya imajinasiku nggak tinggi. Temenku rata-rata anak polos. Dina, agamis meskipun rada absurd, seperti yang pernah aku tuliskan di SINI. Dea juga. Si koleris yang di pikirannya cuma pengen jadi anak terpelajar dan punya karir bagus. 

Aku dan Dea, sang bintang iklan Fair and Lovely.

Dita, si gadis ranum yang nggak pernah pacaran sama sekali. Ikhsan, walaupun tampangnya rada mesum tapi dia itu keperempuanan.

Untuk Ikhsan ini aku masih nggak habis pikir sih. Tiap ketemu dia, bikin aku ngerasa kalah berilmu sama dia dalam hal produk kecantikan wanita. Dia tau kuteks yang bisa dipake salat beserta harganya berapa. Bahkan juga tau kalau pensil alis bentuk krayon merk Maybeline itu tahan selama tiga hari.

Entah memang beneran tahan tiga hari atau gimana, yang jelas aku heran (sekaligus takut) sama wawasan Ikhsan yang cukup luas seputar produk kecantikan itu.

Dan mungkin... di antara teman-temanku, aku yang paling binal. Huhuhuhu.

Nah tapi ini kan ditanya kalau seandainya, ya. Kalau seandainya temanku ada yang berprofesi sebagai pelacur, gigolo, atau mucikari, reaksi pertamaku adalah...

AKU KAGET LAH ANJIR. Waktu bukber kemarin aja, ngelihat cewek yang jilbaban lagi vaping, aku shock. Terus pengen ikutan vaping. Hohohoho. Eh enggak. Serius shock. Vaping yang sama aja kayak ngerokok itu aja aku kaget, apalagi kalau temenku ‘ngerokokin.’ Dibayar lagi!

AMAZING NGGAK SIH?

Oke, serius. Nggak amazing lah. Ya jelas aku kaget karena ngerasa itu adalah pekerjaan yang salah. Dan menurutku alasan terkuat dia bisa memilih menjajakan sekujur tubuhnya dan keahliannya memuaskan nafsu birahi, karena tuntutan ekonomi. Kebanyakan kayak gitu kan? Cari kerja (dari dulu sampai) sekarang susah. Lagian ada nggak sih orang yang bekerja jadi pelacur karena passion?

Terus cara membuat temenku bertobat adalah.... apa, ya. Aku nggak jago nasehatin orang sih. Aku aja masih babal begini. Yang bisa aku lakukan cuma jadi orang yang dengerin curhatannya dia soal dunia pelacuran, sambil berusaha mencarikan dia pekerjaan lain. Untuk seterusnya, aku ajak dia ke pengajian dekat rumah yang isinya mas-mas yang sebelas dua belas sama Mas Muzammil Hasballah, sang imam muda yang pernikahannya kemarin bikin baper tingkat dunia akhirat. 

Kalau masih nggak mempan juga, jalan satu-satunya adalah..... aku serahkan dia hidup-hidup ke Mamah Dedeh untuk dieksekusi.

Nah, kalau dia tetap teguh pada pekerjaannya itu, aku memilih buat tetap berteman sama dia meskipun dengan mengurangi intensitas pertemuan kami. Mau bagaimanapun dia udah baik sama aku. Dan selama dia nggak mempengaruhi aku buat terjun ke dunianya, ya.... yaudah sih.

BANGKE. PERTANYAANNYA SUSAH BANGET ANJIR. INI YANG NANYA TEROBSESI JADI GIGOLO APA GIMANA SIH. FAK.


Pertanyaan kedua. 

2. Kalau berkesempatan jadi travel blogger, negara mana yang mau dikunjungi? Kota apa yang mau dikunjungi? Dan bareng siapa (blogger) ke sananya?

Jawab:

Wow! Itu adalah kesempatan yang nyaris nggak bisa aku dapatkan. Apa jadinya kalau aku adalah seorang travel blogger? Itu nggak mungkin banget anjis. Yang ada malah jadi travelokalisasi blogger, kayak yang pernah aku tulis di SINI dan di SINI. Ya, pergi ke tempat-tempat wisata yang konon katanya adalah lokalisasi. Tempat menjajakan kenikmatan duniawi. 

Jadi travel blogger itu susah buatku. Terpujilah para blogger yang bisa jadi travel blogger. Untuk mendapatkan gelar sebagai travel blogger, pertama-pertama aku harus membiasakan diri buat makan banyak supaya gemukan dan stamina jadi kuat. Nggak mau banget kalau aku sampe pingsan nggak jelas. Terus... aku juga harus siap buat berdebat sama Mamaku soal aku-udah-gede-Ma-aku-bisa-jaga-diri. Demi hal itu, aku harus mempertaruhkan eksistensi namaku di kartu keluarga. Huhuhuhu. Mamaku overprotektif. Waktu ke Bontang beberapa tahun lalu aja, aku ditelponin mulu. Dan waktu itu bikin aku sempat bersyukur punya pacar cuek, karena dengan kehadiran Mamaku yang posesif udah lebih dari cukup.

Tapi kalau seandainya aku jadi travel blogger, negara yang mau aku kunjungi adalah...

NGGAK TAU. Hahaha.

Berkaca dari pengalamanku yang suka jalan sendirian dan spontan, aku hampir sama sekali nggak pernah ngerencanain mau pergi ke mana. Sesuai sama suasana hatiku saat itu sih. 

Mungkin aku bakal pergi ke Italia kayak Julia Roberts di film Eat, Pray, Love, kalau misalnya aku lagi pengen menggemukan badan dengan makanan surgawi. Mungkin aku bakal pergi ke Jepang, menikmati kerlap-kerlip warna lampu kota Tokyo yang semarak. Dengan harapan ketemu orang yang sama-sama kesepian kayak aku, lalu kami berdua saling berbagi cerita kayak Bill Murray dan Scarlett Johansson di film Lost In Translation. Mungkin aku bakal ke Islandia demi ‘menantang’ sifat introvert-ku, kayak yang dilakuin Walter Mitty dari film The Secret Life of Walter Mitty.

Atau mungkin... aku pergi ke Perancis, datangin Rezki, dan melihat proses syuting film-film Gaspar Noe. Syukur-syukur Gaspar Noe melihat potensi kami berdua, terus terilhami bikin sekuel film LOVE.

HEHEHEHEHE.

Duh. Kalau ditanya negara mana yang mau dikunjungin, jadi ngawur gitu jawabnya.

Nah tapi kalau ditanya kota mana yang mau dikunjungi, aku bakal mantap ngejawab....

JAKARTA!

Pengen ketemu teman-teman blogger yang domisili di sana. Banyak sih. Tapi tentu aja pengen ketemu Yoga bajingak dan Robby Hendrik. Wulan juga harus ke Jakarta kalau gitu. Huahaha. Dan Darma... Darma harusnya pulang. Pokoknya aku pengen WIRDY bisa meet up dengan formasi lengkap. Terus juga pengen ketemu Farhan, teman sesama penggemar Eminem yang juga tinggal di sana. Pengen bahas musik hip-hop secara langsung. Oh iya, pengen ketemu Tommy juga. Seru kayaknya ngomongin film sama dia secara langsung, sekalian copy film-film erotis dari hardisk-nya. Huehehe.

Dan bareng siapa ke sananya? Bareng Kak Ira. Hahaha. Kak Ira itu juga blogger. Blogger ingkar (karena istilah blogger murtad udah mainstream) tapi. Udah lama ninggalin dunia blog. Huhuhuhu. Cuman ya aku milih dia selain karena dengan dia aku jadi diizinin Mamaku buat pergi ke mana-mana, juga karena dia engas pengen ke Jakarta. Lagian dia pengen getok kepalanya Yoga juga katanya. Huahahahaha.

Yogs, kamu harus hati-hati.


Pertanyaan ketiga.

3. Setelah menikah nanti, adakah rencana untuk sesuatu, ingin menjadi apa, dan apa alasannya?

Jawab: 

APA PULA INI!!!! MOSO NANYA SOAL RENCANA PASCA NIKAAAH!!!!! 

NIKAH AJA BELOOOOM!!!!

 UNTUNG NGGAK NANYA KAPAN NIKAH.

Oke. Jadi.... aku ada rencana pengen jadi istri yang tetap bekerja. Meskipun itu berat, seberat hari-hari Mila Kunis di film Bad Moms. Ngelihat tiga kakakku yang udah nikah, aku ngerasa ya susah kalau cuma jadi Ibu rumah tangga. Kak Dayah dan Kak Iin yang nggak kerja, denger ceritanya bikin sedih gitu sih. Mereka bilang ada perasaan bersalah karena seolah membebankan semuanya ke suami.

“Dan malas aja sih, Cha. Kalau mau kasih ke orangtua, kita harus izin ke suami. Kan kita dapat uang dari suami, ya. Sedangkan kalau suami, kata Mamah Dedeh, nggak perlu izin ke istri kalau mau ngasih orangtua.”

Kira-kira itu yang pernah dibilang Kak Dayah.

Denger cerita Kak Fitri yang kerja juga sedih, karena anaknya jadi jarang menghabiskan waktu sama Mamanya. Tasya, anaknya, malah lebih dekat sama Mamaku.

Ya.... menjalani kehidupan pernikahan itu nggak mudah. Dan aku bertekad buat jadi istri yang nggak berpangku tangan sama suami. Cukup berpangku bokong aja. Alias kasih service lapdance pas suami pulang kerja.



Pertanyaan keempat.

Ini pertanyaannya ada banyak btw. Beranak. Bakso beranak.

4a. Dalam kisah asmara, kamu pernah nggak ngalamin masa lalu yang sampai bikin kamu terpuruk gitu. Kalo boleh tau karena hal apa?

Jawab:

TAIK IH. BISA DILEWATIN AJA NGGAK PERTANYAAN INI? AAARGGH. INI JAWABNYA SAMBIL DEG-DEGAN ANJIS.

Oke, jadi gini...

Menurutku, setiap orang pasti punya masa lalu seputar asmara yang bikin terpuruk. Aku ingat, waktu aku SMP, ada salah satu teman sekelasku yang mengklaim kalau lagu Saat Terakhir-nya ST 12 itu lagu yang dia banget.

“Pacarku meninggal karena kecelakaan motor, Cha,” ujarnya setelah koar-koar soal lirik Saat Terakhir yang nyessss itu.

Waktu itu aku ngerasa prihatin. Dan ngerasa.... oke, aku ngerasa iri. Dia punya kisah yang relate sama lagu yang lagi ngehits kala itu. Sedangkan aku mah apa. Aku nggak punya pacar. Lah harusnya pelajar itu iri sama temannya soal prestasi, ini malah iri soal ngenes-ngenesan kisah asmara. Huhuhu.

Terus akhirnya aku punya kisah yang relate sama satu lagu waktu SMK kelas satu. Kisah bersama mantan yang bukan mantan pertama, tapi jadi mantan pertama yang bikin aku... hoek. Terpuruk. Mantan yang bikin aku (ah aku sebenarnya enek karena aku udah sering nulis soal ini) susah move on selama dua tahun. Mantan yang bikin aku ngerasa The Man Who Can’t Be Moved-nya The Script adalah lagu yang aku banget. 

Aku sempat terpuruk karena susah move on itu. Tapi seperti yang udah aku bilang, hal itu cuma berlaku selama dua tahun. Akibat jatuh cinta sama Zai, akhirnya aku bisa move on juga.

Tapi aku ngalamin kisah yang bikin aku terpuruk lagi. Bukan karena Zai, melainkan karena seseorang yang lain. Kita sebut aja dia Clarity. Seperti yang pernah aku ceritain di SINI

Aku bego banget bisa jatuh cinta sama Clarity, lalu selingkuh dari Zai. Padahal.... Aku udah tau kalau Clarity punya banyak teman cewek. Suka tebar pesona. Dia juga suka melontarkan kalimat gombalan ke banyak cewek. Aku udah tau. Tapi aku dulu tetap suka. Melanjutkan rasa kagumku ke dia jadi rasa sayang. Lagu Fool’s Gold-nya One Direction bikin aku ngerasa relate. Lagu yang direkomendasikan Dina waktu aku curhat sama dia soal itu.

“And I knew that you turned it on for everyone you met. But I don’t regret. Falling for you. Fool’s gold.”

Lirik itu masih terasa bangsat-kok-aku-banget-sih-anjir sampai sekarang.

Ya, aku udah tau dari awal kalau Clarity nggak ada perasaan apa-apa sama aku. Akunya aja yang punya perasaan lebih sama dia. Aku sebodoh itu.

Ya pokoknya gitu deh. Aku juga ngerasa terpuruk pas aku suka sama Clarity di saat aku udah punya Zai. Dan yang ‘memulihkan’ aku itu malah Zai, pacarku waktu itu. The Scientist dari Coldplay bisa dibilang nemenin aku di masa-masa sulit itu. Heleh. Masa-masa sulit. Terus aku terpuruk lagi karena setahun kemudian kami putus. Aku ngerasa dia udah bosan sama hubungan kami. Di mataku, dia bertingkah lebih cuek dari biasanya sampai akhirnya aku muak dan milih buat putus aja. 

Padahal... Padahal belum tentu. Mungkin itu cuma pikiran burukku aja. Alasan kami putus menurutku abu-abu, kayak alasan putus Emma Stone dan Andrew Garfield. Hehehe. Nggak papa kan bawa-bawa kembaran. Hehehehe.

Terus.... aku pacaran sama orang lain. Dan nggak bertahan lama. HAHAHAHA. Orang yang bikin aku sadar kalau.... AKU KENA KARMA KALI YA. 

So, aku udah tiga kali ngerasa terpuruk soal asmara. Hahahaha. 


4b. Apa aja sih rencana masa depan yang kamu impikan mulai dari cita-cita dan pasangan hidup kamu? Terus alasannya kenapa?

Jawab:

Nggak tau. Hahaha. Yang ada di pikiranku sekarang sih, aku pengen bekerja sekeras-kerasnya.

 Bukan kerja keras begini juga sih...

Terus aku pengen jadi saksi mata Nanda lulus kuliah. Ngeliat tumbuh kembang keponakan-keponakan yang jumlahnya ada enam biji. Huahaha. Anjir, aku ngerasa tua ngetik gitu.

Soal pasangan hidup, nggak tau deh, ya. Yang jelas aku pengen punya pasangan hidup yang bisa menerima dan diterima keluargaku. 

LAGIAN INI NGAPAIN SIH NANYA-NANYA PASANGAN HIDUP? SIALAN. LAGI NGGAK PUNYA PASANGAN HIDUP INIIII!!!


4c. Percaya nggak sama digital love? Kalo punya pengalaman, bisa kali diceritain. Hehe.

Jawab:

ANJEEEEEER. EMANGNYA DIGITAL LOVE ITU SEMACAM TAKHAYUL APA YAK. SEGALA NANYA PERCAYA APA ENGGAK.

Hmm oke. Aku jawab kalau aku percaya digital love

Pengalaman soal digital love itu aku udah pernah tulis secara tersirat maupun tersurat di blog ini kurang lebih beberapa bulan lalu. Termasuk di review baper film Her

Jadi nggak perlu diceritain lagi yaaaaaaaaaa. Huehehe.

Btw, kemarin waktu nonton Spider-Man: Homecoming, ada satu adegan di mana aku langsung keingat film Her. Bahkan aku berharap kisah Peter Parker bersama kostumnya yang bisa bicara itu menjelma menjadi kisah cinta. Kayak film Her. Kostum Spider-Man di mataku udah kayak OS-nya Theodore yang bernama Samantha. 

Ternyata Dina ngerasain hal yang sama. Terus dia bilang kalau film Her itu membosankan. Nggak ada klimaksnya, datar, apalah. Aku udah nggak heran sih sama responnya yang nggak sesuai harapanku. Kami udah seringkali beda pendapat soal film dan sering berdebat soal itu. Tapi kali itu aku diam aja. 

Selain karena waktu itu moodku lagi jelek dan males ngomong, aku diam aja karena.... aku terima pendapat Dina. Aku juga terima kalau ada orang yang heran soal.... aku kok bisa terjerat digital love. Kok aku bisa kangen sama orang yang belum pernah aku temuin. Kok aku bisa yakin kalau aku bakal hidup sama dia nantinya, padahal buat menuju hidup bersama itu susahnya minta ampun.

Aku terima keheranan itu. Karena... nggak ada yang bisa ngerti perasaan orang yang terjerat digital love, selain orang itu sendiri. Mungkin sama kayak film Her. Dina nggak ngerti apa bagusnya film itu, karena dia ngerasa nggak relate. Mungkin, dia nggak pernah jatuh cinta sama orang yang nggak 'nyata.'

Jadi, aku percaya digital love. Karena aku pernah mengalaminya. 



Ya elah. Jawabannya panjang-panjang juga, ya. Padahal tadi rencananya mau jawab pertanyaannya pake yes-yes no-no doang. 

Yak, semoga puas sama jawabannya. Supaya nggak nanya-nanya lagi. Hahahahahaha. Deg-degan campur kesel anjir ngejawab tiap pertanyaan demi pertanyaan. Terutama yang menjurus ke arah curhat. Hhhhh....

Proyek kali ini bikin aku mikir kalau nulis curhatan itu ternyata butuh keberanian. Berani buat berbagi cerita masa lalu yang nggak selalu indah. Berani buat dapat tanggapan yang bisa aja menyakitkan hati. Berani dicap sebagai blogger curhat. Tulisan curhatan adalah wujud keberanian karena nggak takut membuka diri buat orang lain. Orang yan curhat di blognya adalah orang yang pemberani. 

Yuks, lihat tulisan dari para pemberani lainnya!

Tulisan Wulan ada di SINI. Tulisan Robby ada di SINI. Tulisan Yoga ada di SINI. Dan tulisan Darma... ALHAMDULILLAH DARMA IKUTAN NULIS JUGA AKHIRNYAAA. Oke, tulisan Darma ada di SINI

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 07 Juli 2017

Nge-BF Bareng Dara Agusti M.: The Autopsy of "Perawan" Kalimantan

Sudah lama aku pengen nulis soal The Autopsy of Jane Doe. Film keluaran tahun 2016 yang bikin aku baper setelah The Conjuring 2. Film yang mengubah pemikiran negatifku akan film horor jadi positif, layaknya garis di testpack saat masa-masa subur. 

Tapi, bapernya The Autopsy of Jane Doe ini bukan bernuasa romantis kayak The Conjuring 2. Film ini bukan tentang pasangan suami istri yang satu profesi, melainkan tentang Ayah dan anak yang satu profesi. 

Sikap lilin, kalau kata Yogaece.
Pas kemarin-kemarin mau nulis soal fim ini, aku nemuin kendala. Nonton film ini udah kayak ngeliat dua tukang otopsi yang lagi nge-vlog, soalnya ada adegan yang nunjukin kamera ditaroh entah di atas lemari atau di mana, lalu mereka bercuap-cuap ngasih tau mereka lagi ngapain. Bikin aku rada bingung. Udah kayak lagi nonton vlog yang isinya unboxing paket skin care

SERUM ITU APAAAA? 

ESSENCE ITU APAAA? 

MICELLAR WATER ITU APAAAAAAAH?

KAMU TUH CEWEK APA BUKAN SIH, CHAAAAA?

Jadi ya, pas nonton The Autopsy of Jane Done, aku mikir....

INI FILM BANYAK HAL-HAL YANG KALAU AKU BAHAS DI BLOG, AKU JADI KELIHATAN BEGONYA NJIR. Aku nggak paham istilah-istilah forensik, biologi anatomi, dan unsur supranatural. Huhuhuhuhu. Saya bukan penikmat tiga hal itu. Bisa baca bio saya siapa? 

Untungnya ada Dara Agusti Maulidya, blogger perawan asal Kalimantan Barat yang suka nulis soal pengalamannya sebagai anak Fakultas Kedokteran di blognya, My Micro World 2.0. Aku kenal Dara waktu awal-awal tau apa-itu-blogwalking, sekitar tahun 2015. 

Dara ini sosok perempuan lemah lembut yang menjaga prinsipnya untuk nggak pacaran sampai halalan thayyiban. Salut! Udah gitu so sweet lagi. Dari semua postingannya di label mencoba sastra, aku paling suka yang INI. Dara kelihatan sebagai cewek yang romantis dengan nulis itu.

Aaaah Dara..... The Virgin....

Dara yang bukan vlogger aja butuh kamera.
Apalagi vlogger beneran. Bukan butuh motivasi doang.

Nah, beberapa waktu lalu aku berkesempatan buat ngebaperin The Autopsy of Jane Doe sama Dara. Dan aku nggak salah langkah. Di tengah obrolan kami soal BDSM, aku nembak Dara buat jadi teman nge-BF-ku kali ini. 

Oh iya, The Autopsy of Jane Doe bercerita tentang Ayah dan anak yang kedatangan tamu berupa sesosok mayat perempuan-nampaknya-masih-perawan yang diberi sebutan Jane Doe (Olwen Cattherine Kelly). Mereka berdua menjalankan ‘bisnis keluarga’ sebagai tukang otopsi mayat, btw. Sang anak, Austin (Emile Hirsch)  pun sekali lagi membatalkan rencana jalan-jalannya bareng pacar demi membantu sang Ayah dalam menangani mayat tersebut. Sang pacar, Emma Stole (Ophelia Lovibond), sekali lagi gagal ena-ena sama Austin. Dan Ayahnya (Brian Cox), sekali lagi harus merasakan ‘kehilangan’ tapi kehilangan yang ngebuat dia jadi....

Jadi apa prok prok prok! Tonton sendiri filmnya, ya.

Nah sebelum nonton, bisa disimak nge-BF-ku sama Dara di bawah ini. Mungkin ada spoiler-nya. Kalau ada, jangan kesel, please. Eh tapi nggak papa sih kalau kesel. Karena makin ke sini, orang yang menyebar spoiler makin dihujat seperti penista agama. Disalahkan mati-matian, kalau perlu sampe kehilangan pertemanan. Susah sekali manusia hidup damai.


Icha: Udah nonton Autopsy of Jane Doe kah? Aku pengen bahas itu sama kamu, Dar. 

Dara: Udah kok, Cha. Boleh lah, mumpung aku lagi kosong perpindahan stase koass. Hehe.

Icha: Waaaah mantap betul! Kesempatan bagus nih pas-pasan kamunya lagi kosong.

Dara: Untungnya kamu minta Autopsy of Jane Doe ya, Cha. Bukan Fifty Shades of Grey. Itu sih aku nggak mau nonton wkwk.

Icha: Wkakakaka. Iya soale pas aja gitu ngebahas film itu sama dokter muda. Fifty Shades of Grey soal BDSM sih yak. Untung Jane Doe enggak. 

Dara: Jane Doe sih bugil-bugil aja dia mah. Nggak ngapa-ngapain wkwk.

Icha: Hahaha. Filmnya malah tentang keluarga. Hubungan antara Ayah-anak. Iya nggak sih, Dar?

Dara: Iya, lumayan juga kekeluargaannya.

Nuansa kekeluargaan yang hangat. Belah mayat bareng.

Icha: Kamu nonton itu awalnya kenapa, Dar?

Dara: Diceritain sama teman, sih. Katanya dosen forensik kami kan share trailer film ini di akun Facebook-nya. Jadi sebagai mahasiswa yang baik, kami menonton film tersebut. Hakhakhak.

Icha: Terus gimana menurut kamu? 

Dara: Bagus dia mah. Dari segi eksekusi jalan ceritanya, efek, dsb kelihatan natural banget gitu kan ya, Cha. Natural horornya. Nggak dibuat buat. Wajar sih takut. Even orang yang udah sering ketemu mayat juga pasti masih bisa takut. Eh aku kan jarang nonton film ya, Cha. Jadi bagus atau nggak bagus tuh berdasarkan pengetahuanku yang minim aja lah, ya. Haha.

Icha: Ohahaha. Iya, Dar. Terus kamu tipe orang yang suka nonton film horor nggak, Dar?

Dara: Aku lumayan suka horor, Cha. Soalnya dari kecil dicekokin film boneka Chuckie.

Icha: Pantesan bilang Jane Doe itu natural horornya. Dari kecil aja tontonannya boneka serem. Tapi awalnya aku nggak nyangka kalau Jane Doe ada horor-nya, Dar. Malah nyangkanya itu film misteri doang. Makanya kaget pas di tengah film sama ending-nya.

Dara: Aku malah nggak tau Jane Doe itu genrenya apa, Cha. Taunya cuma itu film tentang Ayah-anak. Ayahnya dokter forensik, anaknya residen forensik. Taunya gitu doang wkwk.

Icha: Residen forensik itu apa, Dar? Sejenis asisten dokter forensik gitu kah?

Dara: Residen tuh yang masih pendidikan spesialisasi forensik, Cha.

Icha: Aku malah nyebutnya tukang otopsi. Wkakaka. Jelata banget.

Dara: Iya mah tukang otopsi juga itu. Eh iya. Udah tau lah ya kalau mayat perempuan tanpa identitas tuh Jane Doe. Kalau mayat laki, John Doe. 

Icha: Ooooh. Iya udah tau. Tapi itu juga berlaku buat di Indonesia, ya? Jane Doe-John Doe.

Dara: Di Indonesia biasanya pake Mr. X gitu sih, Cha.

Icha: Lebih kerenan Jane-John yak. Kalau pake Mr. X, kayak nama samaran penjahat.

Dara: Wkwkwkwk.

Icha: Terus apakah kamu ngerasa relate sama film ini, Dar? Relate karena kamu anak kedokteran atau apa gitu? Atau pernah mau jalan nonton ke bioskop tapi malah nggak jadi, kayak yang dialamin Austin sama pacarnya?

Dara: Pertama sih karena kegiatan otopsi itu. Jelas lah ya kalau anak Fakultas Kedokteran pasti nggak asing lagi sama kegiatan kayak gitu.

Icha: Woowww berarti kamu pernah belah-belah kadafer? 

Dara: Kalau otopsi itu pernah ikutan jadi observer, Cha. Soalnya yang ngelakuin kan dokter forensiknya. Jadi ya ngeliat lah gimana ngebelah badannya, ngeluarin organ, dll gitu. Kalau koass di stase forensik, sering tuh ikutan dokternya otopsi. 

Icha: *melongo kagum*

Dara: Btw, otopsi yang paling aneh tuh kalau otopsi mayat transgender. Tampak luarnya perempuan kan. Eh pas dibelah, isi dalemnya organ reproduksi laki. Lah.

Icha: Anjir hakhakhakahak! Aku ngebayangin kalian pada cengo pas liat itu mayat.

Dara: Eh iya, kalau yang mayatnya transgender itu punya kelompok seniorku, Cha. Jadi aku cuma dapat cerita dan fotonya aja sih. Jadi tuh ceritanya itu banci salon. Dibunuh sama pacarnya. Which is, pacarnya itu.... Lelaki (suami orang) dan udah punya anak. What the... Dunia...

Icha: Itu dibunuh karena banci salonnya minta buat dinikahin?

Dara: Dia mah motif ngebunuhnya gara-gara harta, Cha. Itu banci salon kan kaya banget tuh. Pokoknya sebelum itu mereka ada cekcok. Intinya ya harta. 

*lah malah ngomongin orang*

*khilaf*

*istighfar*

Icha: WAAAAAAAAAAAAAAAAH HAHAHAHAAHAHA. Ternyata karena harta. Ternyata bukan cuma om-om yang bisa dimatrein, tapi banci salon juga.

*malah lanjut ngegosip*

*ikutan istigfar*

Dara: Hahaha iya, Cha. Terus kalau batalin kegiatan sama teman atau pacar gitu kayaknya anak FK (Fakultas Kedokteran) sering ngalamin juga, Cha. Haha. Batalin sih misalnya tiba-tiba ada pasien gawat yang nggak bisa ditinggalin (walaupun jadwal jaga kita sebenarnya udah selesai). Tapi tuh kayak setiap ngeliat yang dibelah gitu...

Icha: *nungguin kelanjutan dengan menegang*

Dara: Kan awal-awalnya pasti ngerasa ngeri ngeri gimana gitu, ya. Kayak kita pasti ada rasa bersalah gitu. Ini seandainya mayatnya tuh keluarga kita. Apakah sebagai keluarga, kita rela ngebiarin keluarga kita itu mayatnya dibelah-belah gitu kan. Pasti ada moral kita yang bertentangan gitu. Nah parahnya, semakin lama, moral value yang aku bilang tadi tuh makin menipis. Jadi kayak udah makin biasa gitu kan, ya. 

Icha: Hmmmm.... kalau aku sih nggak rela, Dar. Sebelum dibelah aja digrepe-grepe gitu kan. Ngeliatnya aja udah gimanaaaaaaa gitu. Kan ada ya adegan di Jane Doe, sebelum dibelah, Jane Doe ditelisik dari kepala sampe kaki. Digrepe-grepe. 

Dara: Wkwk itu namanya pemeriksaan luar, Cha. Bukan grepe-grepe jugaaaaaa. 

Icha: HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAK. MAAF YA, DAR. ASAL NYEPLOS AJA.

Dara: Wkwk. Santai santai. Kalau di kasus asli, pemeriksaan luar itu biasanya kita nyari tanda-tanda pasti kematian, sama ngelaporin misalnya pakaian mayatnya, aksesoris, dll gitu yang diperlukan lah. Pemeriksaan luar jenazah atau pemeriksaan eksternal itu pokoknya itu pemeriksaannya nggak boleh sampai merusak keutuhan jaringan jenazahnya. Makanya cuma boleh digrepe-grepe aja.

Icha: Bahahahaha OK noted. Terus ada kan pas adegan Bapaknya pertama kali ngebelah Jane Doe. Itu darahnya muncrat segar. Dianya kaget. Katanya, "Biasanya ini hanya berlaku buat mayat segar. Setelah satu atau dua jam kematian." Kira-kira gitu. Nah kalau mayat yang kayak Jane Doe yang udah berjam-jam lebih dari satu dua jam itu, harusnya darahnya kayak gimana, Dar? YA ALLAH PERTANYAANKU BEGO BANGET.

Dara: Nah yang darah segar... Jadi tuh kan salah satu tanda pasti kematian tuh namanya lebam mayat. Kita biasanya nyebutnya livor mortis. Kalau kematiannya belum lebih dari 8-12 jam, itu lebam mayat masih bisa pindah gitu, Cha. Misalnya awalnya lebam di punggung. Trus posisinya kita telungkupin gitu kan. Bisa pindah ke bagian perut tuh lebamnya.

Untung nggak pindah ke bagian mata. Hah apa sih, Cha...

Setelah mati, sel darah merah kita kan perlahan-lahan berhenti ngalir tuh karena jantung udah nggak mompain darah lagi kan. Nah makin lama, harusnya sel darah merah kita itu ngendap, ngikutin gravitasi, jadi nanti membentuk bercak lebam gitu kan di bagian paling terbawah tubuh. Misalnya posisi mayatnya baring, itu pasti nanti muncul lebam di bagian punggungnya, karena itu bagian yang langsung nempel ke tanah kan. Eh aku rada lupa. Mayat Jane Doe dibolak balik nggak ya yang bagian punggungnya?

Icha: Kayaknya nggak dibolak-balik deh. Dibiarin aja telentang gitu si Jane Doe. Yang aku ingat, Austin menelusuri pinggangnya Jane Doe kayak tukang jahit mau ngukur kain kebaya.

Dara: Lebam mayat itu mulai nampak 20-30 menit pasca kematian. Nah kalau udah 8-12 jam, dia bakal menetap tuh. Darah mayat masih tetap cair emang, kadang bisa sampai lebih dari 24 jam. Tapi ya karena jantung nggak mompa, nggak mungkin muncrat kayak yang di Jane Doe. Kalau muncrat kayak gitu ya pasti mayatnya beneran fresh. Bener bener baru harusnya... Makanya kaget si Bapaknya mah.

Icha: Wow. Apalagi pas kepalanya dibongkar. Otaknya diambil. Tambah kaget dia, ya. 

Dara: Nah itu salah satu yang nggak masuk akal, Cha. 

Icha: Iya, Dar. Dan padahal dari luar, Jane Doe putih mulus dan seksi. Rambutnya pun indah bagai putri. Mirip iklan di tivi.

Dara: ST 12. Hakhakhak.

Icha: SATU JUTA RUPIAAAAAH!!!!!!!

Dara: Wkwkwkwkwk.

Icha: Oh iya. Soal kuku. Bapaknya bilang kalau kukunya Jane Doe nggak rusak. Emang semua mayat itu (terutama mayat pembunuhan) kukunya biasanya pasti rusak kah?

Dara: Setauku bukan rusak sih, Cha. Kadang kuku kebiruan (sianosis) tuh nunjukin kalau dia mati kekurangan oksigen. Biasanya korban pembekapan. Nah kadang kuku tuh nunjukin perlawanan dia sebelum dibunuh. Bisanya ada bekas nyakar nyakar gitu. Kalau si Jane Doe malah ada tanah gitu kan ya di kukunya.

Icha: Hooooo..... Iya ada tanah gitu. Gambut apa gitu ya namanya. Padahal di TKP nggak ada tanah begituan.

Dara: Gambut malah banyak di Pontianak. Jangan jangan... Jreng jreng jreng....

Icha: Pontianak jadi serem gitu. Udah yang soal makan daging manusia. Terus gambut Jane Doe.

Dara: Ya ampun, Cha, itu tahun berapa dah gosip makan daging manusia. 

Icha: Ku juga tau gosip itu gara-gara baca tulisannya Haw, Dar. Dulunya nggak tau soal itu. 

Dara: Wkwk. Bang Haw nih sebar sebar gosip. Ckckck.

Icha: Hahahaha. Btw sama-sama Pontianak kan, Dar. Sudah pernah kopdar sama Haw kah?

Dara: Aku beberapa kali ikut kopdar blogger Pontianak, nggak pernah ketemu Bang Haw, Cha. Kayaknya Bang Haw beda grup deh.

Icha: Lah? Sama anak Jakarta dia malah udah ketemu. Marahin aja dia, Dar. Marahin!

*malah ngehasut orang*

*istigfar lagi*

Dara: Auk ah Bang Haw. Yekali ntar aku ajakin kopdar. Tapi cuma berdua. Hahaha.

Icha: Ciyaaaaa kopdar berdua ciyaaaaaaaaaaaaaaa.

Dara: Soalnya kalo komunitas blogger Pontianak tuh rata-rata mereka bukan tipe personal blogger kayak kita, Cha. Banyak yang blogger SEO gitu. Jadi hanya aku yang tak berpenghasilan dari blog saat kopdar. 

Icha: Kok pedih ya.....

Dara: Lah malah bahas Bang Haw. Malah bahas kopdar. Malah bahas SEO.

Icha: Iya nggak papa. Buat selingan.

Dara: Wkwkwk. Eh banyak juga ya ini yang mau dibahas dari Jane Doe. 

Icha: Iya. Hahaha. Bahas organ luarnya apa lagi, ya? Itu aja sih kayaknya yang bikin aku bingung pas nontonnya. Kuku sama darah muncrat.

Dara: Lanjut lah bahas daleman.

Icha: ((DALEMAN))

Oke. Soal paru-paru hitamnya Jane Doe deh, Dar. Itu selain karena misalnya dia perokok, ada penyebab lain nggak kalau dalam ilmu kedokteran, Dar? Coba jelaskan padaku. Isi hatimu. Seberapa besar kau yakin padaku.

Dara: Seventeen?

Icha: DUA JUTA RUPIAAAAAH!!!

Dara: Wkwkwkwk. Paru-paru bisa juga hitam gara-gara terpapar debu tambang batubara, Cha. Nama penyakitnya pneumokoniosis. Khas pada pekerja tambang batubara. Apa Jane Doe sebenarnya seorang buruh tambang? Hmmmm...

Icha: Tambang batubara itu setauku banyak di Kalimantan. Aku kok jadi mikir kalau Jane Doe itu orang Kalimantan, ya. Karena gambut, terus soal takhayul, sama tambang itu.

Dara: Wah harusnya kita emang bikin hipotesis sendiri, Cha. Trus bunga itu juga, ya. Siapa tau ada di hutan Kalimantan.

Icha: Nah, yang bunga itu sebenarnya apa, ya? Itu bagian dari supranatural itu kah?

Dara: Bunga itu mungkin bagian itu juga, Cha. Dan itu termasuk salah satu spesies yang bisa bikin paralisis (lumpuh) kalau aku nggak salah sih, ya. Dan itu kan endemik, ya, cuma ada di tempat yang dulu ada legenda mistisnya yak.

Icha: Waw. Jadi... Jane Doe, si perawan yang sebenarnya nggak perawan. Tampak luar masih perawan, padahal organ dalemnya rusak. Gitu yak.

Dara: Wkwkwkwk. Iya. Oh iya teknik belah-belah. Jadi untuk bedah mayatnya itu ada dua teknik. Teknik I sama teknik Y. Coba tebak, itu Bapaknya Austin pake teknik yang mana?

Icha: Pake teknik Y bukan? Soalnya ngebelahnya nggak lurus.

Dara: Yeee satu jutaaa rupiah! Bapaknya pake teknik Y. Itu lebih susah sebenarnya, perlu pengalaman buat bisa belah pake teknik Y.

Icha: WKAKAKA SATU JUTA RUPIAH.

Dara: Wkwkwkwk. Tapi keuntungannya ya nanti pas mayat mau dikremasi, kan dipakein baju lagi kan, nah di bagian lehernya nggak nampak tuh kalau pernah dibelah. Beda halnya kalau pake teknik I. Mayatnya jadi nggak bagus lagi.

Icha: Hooooo iya bener. Makanya pas belahan sayatan apalah itunya ditutup nggak disingkap dibuka lebar, aku ngeliatnya kayak masih bagus. Terus... Ada yang kamu baperin nggak, Dar? Sempat ngerasa melankolis sesaat atau gimana gitu pas nontonnya? Karena gimana, ya. Aku mikirnya film ini tentang rasa bersalah juga sih. Aku kasihan sama Bapaknya. Kayaknya rasa bersalahnya gede banget. Ngerasa bersalah sama istri, anak, sama calon mantunya.

Dara: Si Bapak kayaknya emang punya rasa bersalah ke Austin dari awal. Kelihatan pas dia nyuruh Austin jalan sama pacarnya aja, biar Bapaknya yang otopsi sendiri pas Jane Doe datang. Ya nggak sih? Terus Austin ngerasa bersalah ke pacarnya gara-gara batalin janji terus.

Icha: Nah Austin berjiwa anak FK banget. Maksudnya kayak yang kamu ceritain tadi, Dar. Suka batal janji karena tiba-tiba ada pasien gawat padahal jadwal jaga udah selesai. Austin menurutku nggak tega sama Bapaknya kalau sendirian dan nganggap kalau Jane Doe adalah pasien gawat yang harus ditangani berdua. Bukan sendirian.

Dara: Benar. Dan aku juga walaupun masih kuliah gini udah mulai ngerasa bersalah juga, terutama ke orang tua karena sering merasakan "ketidakhadiran" seorang anak di rumah haha.

Icha: Sediiiiiiiiiih. Lebih banyak ada di luar rumah gitu ya, Dar. 

Dara: Aku sekarang di tahap kepaniteraan klinik, Cha. Banyakan di rumah sakit wkwk.

Icha: Ohaha. Kamu berapa bersaudara, Dar?

Dara: Anak kedua dari tiga bersaudara.

Icha: Wuidih. Ternyata kamu punya adek. Hmm.. Adegan favorit kamu di Jane Doe itu yang mana, Dar?

Dara: Adegan favorit aku ada beberapa, Cha. Pertama yang Austin batalin kencan sama pacarnya karena mau bantuin Bapaknya buat otopsi Jane Doe. Padahal kan Bapaknya ngizinin dia buat pergi, tapi dia kekeuh mau bantuin Bapaknya. Nah itu tuh. Si Austin anak saleh deh emang. Hahaha.


Terus pacarnya itu kan masih pengertian gitu ya sama Austin, walaupun udah sering di-cancel janji janji mereka. Nah inilah yang perlu dipahami oleh anak muda yang nantinya bakal punya pasangan yang sibuk demi kemaslahatan umat wkwk (bukan cuma dokter aja). Yang harus dipahami adalah bahwa pasanganmu itu bukan milikmu sendiri aja. Mungkin ada banyak orang lainnya yang membutuhkan kehadiran pasanganmu itu. Jadi ya pengertian lah, ya. Jangan posesif amat.

Icha: WOOOOOOW... NOTED!!!!

Dara: Terus adegan selanjutnya adalah saat Austin dan Bapaknya ngelakuin otopsi Jane Doe. Mulai dari teknik, penjelasan, efek yang dipake, trus Jane Doe-nya yang akting bagus banget, pokoknya aku suka semua bagian itu. Sepaket itu aku suka!

Terus yang terakhir, pas Bapaknya bisikin sesuatu Jane Doe. Nah di bagian itu tuh, aku suka juga. Betapa Ayah tuh cinta sama anaknya. Kan seringnya yang ditampilkan di film-film tuh biasanya cinta Ibu ke anak. Nah kalau ini keren menurutku, cinta ayah ke anaknya yang ditonjolkan. Ntap lah pokoknya.

Icha: Terus punya tokoh favorit nggak?

Dara: Tokoh favorit aku jelas si Austin! Karena dia dari awal tuh mau ngebantuin Bapaknya setiap ada otopsi, nggak mentingin diri sendiri. Walaupun kan dia nggak yakin juga mau jadi coroner (tukang otopsi) sampe tua atau nggak. Terus sama Bapaknya juga kagum sih. Karena kalau Bapaknya tuh selalu punya alasan di setiap keanehan yang ditemukan di Jane Doe ini. Terus suka sama Austin lagi lah karena yg mecahin teka teki kain yang ada simbol-simbol itu kan dia wkwk. Udah, Cha. Panjang banget ya? Wkwk.

Austin. Bujang kesayangan Dara.
Icha: WHOAAAA PANJANG AKU SENAAAAANG HAHAHAHAHA KARENA ITU YANG AKU SUKA.

Dara: Gue tampol lu. Jangan sok iye deh.

Icha: Salsa wannabe! Mantap ya. Jane Doe ini banyak pesan moralnya. Austin anak saleh, berbakti sama orangtua, nggak cinta buta sama pacarnya alias nggak menomorsatukan pacar. Salut! Dan... Iya ya. Jarang gitu sih ada film tentang hubungan Ayah-anak. Apalagi anaknya cowok. Kalaupun ada, setauku sih kebanyakan Ayah-anak itu anaknya cewek. Nah terus, Dar. Kamu pernah bilang kalau ending-nya agak aneh, kurang logis kalau kita ngomongnya sains. Itu gimana, Dar?

Dara: Kalau menurutku, mulai muncul keanehan kan dari awal ya sebenernya. Pas mayat Jane Doe ditemukan. Ingat gak, sheriff-nya bilang di TKP itu nggak ada tanda masuk secara paksa, malah kayaknya ada percobaan buat keluar dari TKP. Nah ini udah aneh ya. Gimana caranya Jane Doe itu bisa ada di situ.

Terus pas otopsinya kan. Mulai dari darah segar, tampak luar yang nggak sesuai sama kondisi organ dalemnya, dsb. Trus mulai tuh hal-hal nggak bisa dinalar dengan logika bermunculan. Yang darahnya tumpah dan banyak banget, padahal kan Austin cuma ngambil dikit tuh sampel darahnya Jane Doe, tapi pas di kulkas, banyak banget yang tumpah. Dan keganjilan keganjilan lain lah ya aku udah agak lupa-lupa wkwk.

Hingga... Keanehan paling haqiqi menurutku adalah... Jreng jreng...

Icha: *nahan nafas*

Dara: Saat sampel otaknya yang diperiksa Austin itu. Nah pokoknya disitu lah anehnya Jane Doe. Gak saintifik lah menurutku. Jadi kesan mistisnya yang kuat kan disitu. Trus sampai-sampai tubuhnya yang udah diotopsi itu balik utuh lagi kan. What? Ini kayak gak masuk akal gitu loh, Cha. 

Icha: Hmmm.... Filmnya ternyata nggak tentang kedokteran banget, ya. Ada unsur yang nggak bisa dinalar dengan logikanya juga. 

Dara: Kayak film Doctor Strange juga tuh. Taunya nggak bisa dinalar dengan logika juga. Kan jadi aneh wkwk.

Icha: Nah iya Doctor Strange. Ilmu pasti dicampur sama ilmu yang nggak bisa dinalar logika gitu. 

Dara: Wkwkwk iya. Cha, btw giliran nanya dong. Kamu pertama kali tau film Jane Doe gara-gara apa, Cha?

Icha: Gara-gara baca review-nya Movienthusiast. Terus yang jadi Austin itu aku suka. Dia pernah main film remaja erotis gitu judulnya The Girl Next Door. Film tahun 2004. Yaudah. Nonton deh.

Emile yang di kanan. Ada Paul Dano di tengah, btw. Aaaak!!

Dara: Oh. Karena Austin yang aku suka. Hooo berarti kamu mengharap Austin dapat peran erotis lagi di film ini?

Icha: Hahaha. Nggak juga sih. Soalnya aku mikir ini filmnya bakal berat gitu, Dar. Nggak bakal ceritanya jadi drama komedi. Atau nggak bakal si Austin itu necrophilia yang menyetubuhi Jane Doe terus trisam sama Bapaknya.

Dara: (((trisam sama Bapaknya))) That quote. Wah ntapz nih, Cha. Kamu emang suka banget nonton film, ya? 

Icha: Hehehe iya. Sesat nih. Malah lebih suka nonton film daripada baca buku. Tapi nggak semua film juga sih, Dar. Film animasi sama fantasi aku kurang suka. Soalnya aku suka film yang dekat sama kehidupan sehari-hari. Minimal ada hal di film itu yang bisa bikin baper. Kayak Autopsy of Jane Doe ini. Soal hubungan Ayah-anak. Bikin ngerasa relate gitu sih. 

Dara: Trus film ini kalau menurutmu, dapat rating berapa?

Icha: Berapa ya? 4/5 untuk segi ceritanya. 4/5 untuk akting. 5/5 untuk Austin!!!! Yeaaaah!!!!!!

Dara: Wiiih, berarti tinggi banget lah ya penilaianmu untuk Jane Doe ini ya, Cha. Btw, itu yang meranin Jane Doe kan emang cantik, ya. Dan bugil. Tapi jadi mayat. Yang laki-laki ngeliatnya gimana, ya? Takut, atau malah mikirin aneh-aneh? Wahaha.


Ayo silakan dijawab pertanyaan Dara di atas sambil lihat foto ini..

Icha: WKAKAKAKAKAKAKAKA. PERTANYAAN BAGUS! Kalau kamu sebagai cewek, ngeliat Jane Doe-nya gimana, Dar?

Dara: Aku sih karena cewek ya biasa aja. Dan ngeliat mayat cowok bugil pun sebenarnya biasa aja. Wkwkwk. Btw sejauh ini sih yang paling awkward aku alamin tuh pas ngelakuin RT (colok dubur) ke kakek-kakek sama pasang selang kencingnya. 

Kan ada dokter penanggungjawabnya gitu kan sama perawatnya ngeliatin. Bener atau nggak. Dan setelah aku selesai masang... Aku diketawain mereka (itu laki semua). Karena katanya aku kelihatan banget baru masang pertama kali. Cara megang "anu-"nya aja aku beda sama yang udah sering. Gitu, Cha, katanya.

Kan aku... Jadi... Gimana... Gitu...

Icha: HAHAHAHAHAHAHAHA. HAHAHAHAHAHAHA. MEGANG ANUNYA. HAHAHAHAHAA NGAKAK ANJIR. Aku ngebayanginnya kamu canggung, malu, muka polos masih bersemayam. 

Dara: Wkwkwk ya gitu, Cha. Megang anu orang untuk pertama kalinya. Aku langsung dibilangin, "Tangan Dara nggak perawan lagi." Tapi aku pake handscoon (sarung tangan latex) dua lapis waktu itu. 

Icha: ((TANGAN DARA NGGAK PERAWAN LAGI)) 

Hahahaha. Aneh-aneh aja, Dar. Btw. Terima kasih sudah meluangkan waktunya ya! Oh iya, semoga lancar ya ngejalanin koass-nya ya. Ini tepat banget aku ngebahas film Jane Doe sama kamu. Ahihihihi.

Dara: Wkwkwk. Aamiin makasih, Cha. Semangat juga lah, Cha.

Icha: Oh iya, Dar. Satu pertanyaan lagi deh. Menurut kamu, apakah orang yang nggak suka nonton film yang ada nuansa horornya, bisa menikmati The Autopsy of Jane Doe? 

Dara: Bisa. Kayaknya sih nggak terlalu gimana, ya. Nonton mah nonton aja wkwk. Soalnya kan horor Jane Doe ini natural, nggak gimana banget dibuat-buatnya supaya nakutin penonton gitu.

Icha: Iya juga sih. Dan... Banyak kok yang doyan film romance jadi doyan horor setelah ketemu horor yang "bener."


Yak. Terakhirnya kerasukan Jenny Jusuf gitu. Nggak papa deh. Daripada kerasukan Jane Doe. Ngebaperin film The Autopsy of Jane Doe-nya bareng perawan religius kayak Dara sih. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 04 Juli 2017

Okja(y)

Entah gimana orang lain, tapi kalau aku sendiri punya banyak alasan kenapa nonton Okja. Film yang dirilis di layanan streaming Netflix dan sempat menimbulkan kontroversi di Festival Film Cannes 2017. 

Alasanku nonton Okja yaitu:

1. Karena ada Paul Dano
2. Karena ada Paul Dano
3. Karena ada Paul Dano
4. Karena ada Paul Dano
5. Karena ada Pa....

HEHEHEHEHE. 

Ya emang semata-mata karena dia sih. Aku kangen pengen nonton film yang ada dianya lagi. Aktor dengan tatapan mata bersahabatnya itu kalau main film, filmnya yang nggak biasa. Contohnya yaitu Swiss Army Man. Nontonin trailer Okja, bikin aku mikir kalau film Paul Dano yang satu ini nggak kalah aneh-aneh mengharukan. Tentang perjuangan seorang anak perempuan yang berpetualang mencari binatang kesayangannya dan membawanya pulang. Drama antara manusia dan hewan. Huaaaaa! Aneh-aneh mengharukan adalah kesukaaanku! Jadi ya, walaupun Paul Dano nggak jadi pemeran utama, niatku buat nonton film yang disutradarai Bong Joon-Ho ini tetap aku wujudkan.

Tulisannya warna pink. Lucuk.

Langsung aja, jadi Okja ini genre-nya drama fiksi ilmiah petualangan hmmm hmm satir kalau boleh aku boleh nambahin. 


Kita sebagai penonton dipertemukan dengan Lucy Mirando (Tilda Swinton), CEO Mirando Corp. Dalam rangka menanggulangi krisis pangan dunia (baca: melihat peluang bisnis), Lucy membuat terobosan baru di bidang makanan bertajuk babi-berukuran-super-yang-sehat-lezat-berkualitas-tinggi yang untuk pencapaiannya butuh waktu selama sepuluh tahun. Dengan terobosan baru itu, Lucy mampu menghapus jejak prestasi buruk perusahaan yang sebelumnya diukir Ayahnya dan saudara kembarnya, Nancy Mirando. Dia mampu mempromosikan dan membuat citra baik sehingga para investor percaya padanya. Mungkin di mata mereka, Lucy itu udah kayak Ibu Susi Pudjiastuti yang menggalakkan gerakan makan-ikan-supaya-pintar. 

Tapi di balik bisnis besar itu ada cara kotor. Yaitu dengan melakukan sandiwara pangan. Babi-berukuran-super-yang-sehat-lezat-berkualitas-tinggi itu adalah babi hasil rekayasa genetika (dan sebenarnya aku baru tau njir kalau babi hasil rekayasa genetika itu serem yak bisa bikin alergi, dan emang ada gitu orang yang nggak cemas duluan kalau makan makanan yang nggak ‘alami’ gitu?), dan karena itu dibuatlah skenario kalau babi-babi calon bahan pangan itu diternakkan oleh para peternak di 26 negara pilihan. Salah satunya adalah Korea. Didampingi Dr. Johnny Wilcox (Jake Gyllenhaal) yang agak-agak autis kelakuannya, Lucy melancarkan sandiwara pangannya. 

Ceria kayak MC ulang tahun di KFC

Sepuluh tahun kemudian, kita dibawa ke kehidupan seorang kakek dan cucunya bernama Mija (Seo-Hyeon Ahn). Mereka adalah pemain sandiwara pangan yang didalangi Lucy. Seperti kedelai hitam bahan dasar kecap Bango yang diberi nama Malika, babi super mereka juga diberi nama, yaitu Okja. Dan Okja juga dibesarkan sepenuh hati seperti anak sendiri. 

Hubungan Mija dan Okja sangat harmonis. Mija nggak perlu melamar Okja sebagai sahabat sejatinya layaknya Awkarin melamar Sarah Gibson. Kita bisa merasakan aura persahabatan dari cara mereka berinteraksi. Persahabatan  yang erat dan hangat antara anak perempuan lucuk dan babi super yang gemesinnya kayak boneka babi gede pemberian mantan. 

Main di hutan.

Sampai akhirnya tim audit Miranda Corp alias Dr. Johnny Wilcox dkk pun datang ke tempat tinggal Mija untuk menjemput Okja, yang memenuhi syarat sebagai babi super terbaik. Sandiwara pangan itu berlanjut ke festival babi super. Okja dibawa pergi dari desa ke kota. Bahkan ke luar negeri. Okja go international. Alias setelah Okja dipamerkan di festival, beliau (atau dia? Atau apa? Aaarrrgh) bakal diproduksi jadi olahan babi sehat lezat berkualitas tinggi dalam jumlah besar-besaran bersama babi-babi super lainnya. 

Mija yang udah terlanjur sayang sama Okja jelas nggak terima hal itu terjadi. Dengan keteguhan hatinya, dia memulai petualangan mendapatkan Okja kembali. Di tengah petualangannya itu, dia bertemu dengan Jay (PAUL DANO MY LOVE AAAAAK!!!), ketua Animal Liberation Front atau kalau diartikan jadi Front Pembebasan Hewan. Jay dan para anggotanya yang terdiri dari Red (Lily Collins), K (Steven Yeun), Silver (Devon Bostick, sekilas mirip sama Zayn Malik btw), dan Blond (Daniel Henshall), saat itu juga sedang dalam misi menyelamatkan babi-babi super. Mija dan Front Pembebasan Hewan ternyata satu tujuan seiya sekata.

Dan pertemuan mereka melahirkan misi mengungkap kebusukan Mirando Corp supaya sandiwara pangan itu terbongkar. Misi yang dijalankan kurang lebih udah kayak Reportase Investigasi mengungkap rumah makan yang berjualan bakso tikus. 

Dan seterusnya muncul adegan demi adegan yang menegangkan, menyentuh, dan manis, kalau kata Alanwari.

Oh iya, adik kecilku selain Robby Haryanto itu juga bilang kalau Front Pembebasan Hewan lebih berfaedah daripada Front Pembela Islam. Hahaha. Jahat. Aku ngakak! Aku nggak kepikiran sampe ke ke situ. Kepikiran kalau FPH lebih dari FPI boom!

Mungkin karena yang aku pikirkan itu cuma Paul Dano. Lagi-lagi aktingnya keren. Bajingseng! Aktingnya sebagai Jay bikin meleleh. Aku suka dedikasinya yang tinggi sebagai anggota kelompok pecinta hewan. Aku suka cara dia bernegosiasi sama Mija tentang misi keren itu. Aku suka tatapan ramahnya. Aku suka suaranya yang kalem-kalem berkarakter setiap dia ngomong. 

Dia ngebuat karakter Jay jadi orang yang peduli dan sayang banget terhadap sesama makhluk hidup. Jay alias Paul Dano mampu menyampaikan pesan yang terkandung dalam film ini. Paul Dano hebat! Jay nggak kalah ngegemesin daripada Okja!

Tatapan matanya itu lho gini aja dia gemesin!!!!!

Eh. Tapi nggak cuma Paul Dano sih yang mampu menyampaikan pesan positif dari Okja. Karena pemain lain juga bagus-bagus aktingnya. Dan nggak cuma karakter Jay yang ngegemesin. Seo-Hyeon Ahn jelas bagus dengan akting powerful-nya sebagai anak perempuan yang menggemaskan, keras kepala, dan nekat. Dia nggak peduli apapun selain ingin bersatu kembali sama Okja. Ini sedihnya mirip-mirip kayak Hatchiko, di mana Hatchiko cuma mau lihat majikannya pulang. Mija cuma mau Okja. Okja juga cuma mau Mija. 

TAEK. NULIS GITU AJA AKU SEKARANG JADI NANGIS NJIR. 

Ngomong-ngomong nangis, aku jadi ingat Red, yang diperankan Lily Collins. Karakter Red ternyata bukan cuma sebagai ‘pemanis’ layaknya lady companion bahenol yang menemani kumpulan mas-mas berkaraoke sampe pagi, mengingat dia satu-satunya perempuan di kumpulan itu. Dia tangguh dan ada satu scene yang nunjukkin kalau dia memang pecinta hewan sejati. Aku yang awalnya biasa aja, pas lihat ekspresinya dia, jadi ikutan ngerasa ngilu dan nangis sesenggukan. 

Bukan cuma ngerasain itu, nonton Okja juga bikin aku ngerasa kesal. Aku kesal sama Tilda Swinton. Aktingnya emang keren sih. Terakhir lihat waktu beliau jadi guru spiritualnya Doctor Strange, eh sekarang jadi pebisnis. Tilda Swinton memerankan Lucy yang mampu mengubah imej perusahaan dari yang negatif jadi positif. Padahal mah tetap aja praktik perusahaannya jahat. Ditambah juga beliau memerankan kembaran Lucy, yaitu Nancy. Yang nggak peduli citranya bisa buruk di mata masyarakat. Nggak kayak Lucy yang panikan takut namanya jadi buruk. 

Ada Jake Gyllenhaal sebagai Dr. Johnny Wilcox, yang pakaian dan tingkah lakunya rada ngeganggu kayak Raka di Insya Allah Sah. Sumpah, sempat bingung sih itu beneran Jake Gyllenhaal apa bukan. Habisnya tingkahnya aneh gitu. Mas Paskalis Damar bilang di review-nya kalau Dr. Johnny Wilcox itu pembawaannya kayak Borat di film Borat (dan aku mengiyakannya dengan keras!). Anjir. Aku bilangnya Dr Johnny itu kayak Raka. HAHAHA. Beda banget ya cara pandang cinephile yang wow sama yang jelata. Huhuhuhu. 

Di saat aku setuju kalau Dr. Johnny itu mirip Borat, aku nggak setuju kalau ada yang bilang pesan yang dibawa Okja buat penonton adalah, 

“Jadilah vegetarian demi masa depan yang lebih baiq!”

Aku setuju sama review Cinema Indonesia, yang bilang kalau Okja nggak ‘menghasut’ kita untuk jadi vegetarian. Okja nggak meminta belas kasihan kita dengan seolah-olah nanya, 

“Udah nonton film ini terus serius kalian masih tega buat makan daging?”

Nggak membawa ceramah yang isinya kalau makan daging sama aja mendukung binatang untuk dijagal dengan cara semena-mena. Meskipun potongan rambut Mija dan Raka itu sama, tapi Mija nggak semenggurui itu.

Tuh kan. Potongan rambutnya mirip sama Mija.

TAEK LAH BAWA-BAWA INSYA ALLAH SAH LAGEEEEE.

Intinya, Okja adalah sindiran kepada orang-orang keji di industri makanan. Okja membawa isu tentang kekerasan terhadap hewan. Tentang pengolahan makanan yang harusnya nggak menyiksa hewan itu sendiri. 

Bersimpuh di sekujur tubuh Okja

Kalau Okja di-remake Indonesia, mungkin babi supernya diganti jadi sapi super dan konfliknya berupa kebengisan di rumah jagal kali, ya. Tukang jagalnya nggak melaksanakan tata cara penyembelihan hewan sesuai syariat Islam. Misalnya tukang jagalnya nggak baca bismillah dulu sebelum menyembelih. Tayangnya pas hari raya Idul Adha. Saingan sama Warkop DKI Reborn: Part 2 yang katanya juga tayang sekitaran itu. 

Okja memikul pesan dan sindiran berat, tapi disajikan dengan ringan, menyenangkan, mengharukan, dan ya itu, manis. Penonton Okja nggak harus pecinta binatang. Apalagi pecinta Paul Dano. Karena Paul Dano aktingnya bisa dinikmati siapa aja yuhuuu~

Dan ya, bisa dinikmati sama orang yang baperan kayak aku. Terlepas dari aku yang ngefans Paul Dano, aku menikmati Okja dengan pemikiran, 

“Aku pengen diperjuangin kayak Okja yang diperjuangin sama Mija dan Front Pembebasan Hewan. Aku pengen ada orang yang keras kepala kayak Mija di hidupku. Aku pengen sama orang yang peduli kayak Jay. Okjay. OK Jay.”

Taik. OK Jay. Kayak OK Jek. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 01 Juli 2017

So Sweet 20

Dulu aku sempat kepikiran mau bikin daftar film 'tak biasa' yang bikin sayang keluarga. 

Terdiri dari Captain Fantastic, Little Miss Sunshine, We're The Millers, Mustang, dan The Brothers Grimsby. Di Captain Fantastic, kita bisa nemuin keluarga yang hangat dan harmonis walaupun sempat ada masalah menerpa. Little Miss Sunshine, hampir sama sih. Keluarga disfungsional yang ternyata menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dengan melewati suka duka bersama. Mustang, bikin sayang sama saudara-saudara kita dan mau yang terbaik buat mereka. We’re The Millers, ngebuat kita ngerasa ‘malu’ karena keluarga pura-pura macam The Millers aja bisa saling menyayangi, apalagi keluarga beneran kayak yang kita punya.

Terakhir ada The Brothers Grimsby, filmnya Sacha Baron Cohen. Biarpun komedi vulgar brutal begitu (adegan di vagina gajah itu memorable banget njir), tapi film itu menurutku mengandung pesan moral, 

“Keluarga adalah segalanya.” 

Nah, alasanku mau bikin daftar begitu karena: 

1. Emang tertarik sama film drama keluarga 
2. Mau ngasih tau kalau film keluarga itu nggak harus melankolis mendayu-dayu 
3. Terinspirasi dari postingan Tommy yang INI

Tapi niatanku itu aku urungkan karena.... I'm busy enjoying my life, darling. 

Eh enggak. Karena aku ngerasa Tommy sih yang lebih jago bikin daftar film begituan. 

Kalau seandainya niatanku itu diwujudkan, mungkin daftarnya bakal nambah. Ditambah sama film Sweet 20. Film Indonesia adaptasi dari film Korea berjudul Miss Granny. Film yang sempet bikin aku pengen ganti judulnya jadi Sepet 20, karena aku kira filmnya bakal anyep. Film yang awalnya bikin aku suudzon sama cewek secantik Tatjana Saphira.

Aku nonton film ini nggak direncanain jauh-jauh hari kayak biasanya aku mau nonton. Aku mau balas dendam, karena hari Lebaran pertama aku di rumah aja. Lagian Lebaranku juga nggak rasa Lebaran, karena kerjaan kantor tetap datang lewat e-mail dan grup kantor. Aku enek di rumah. Jadi pas jalan ntar ngapain aja aku nggak mikirin.

YANG PENTING ANGKAT KAKI DARI RUMAH AAARRRGH!!!!!!!.

Terus Dita ngerengek-rengek pengen nonton di XXI Big Mall. Ditambah Kak Hendra bilang kami halal bihalalnya bareng Kak Ira dengan nonton aja.

Seperti biasa, Dita ngajak nonton tapi nggak tau mau nonton apa.

“Sweet 20 kah, Tan? Surat Kecil Untuk Tuhan? Atau Jailangkung?” 

Hah? Hah? Hah? 

Anjir. Nggak ada yang menarique. Sweet 20 itu meragukan, takutnya ntar jadi kayak film adaptasi Thailand yang itu tuh, si Chelsea Islan sama Hamish Daud pemainnya. Males nyebutin judulnya. SKUT menye-menye. Jailangkung dihujat di mana-mana. 

“Aha! Transformers aja! Transformers!”

IDIH. KAGAAAK. NGGAK NGIKUTIN SERINYA. AKU JUGA NGGAK MAU NONTONIN ROBOT GEDE NGAMUK-NGAMUK DI HARI LEBARAN NAN FITRI. 

APALAGI NGALAMIN BEGINI:



Akhirnya kami sepakat nonton Sweet 20. Dengan nggak berekspektasi apa-apa. Kak Hendra dan Kak Ira pun semangat mau nonton itu juga.

Okelah.

Karena sekali lagi,

YANG PENTING ANGKAT KAKI DARI RUMAH AAARRRGGH!!!!!

Dan ternyata.....

Sweet 20 mantap Sholihin! 

Aku jadi ngerasa bersalah sama Tatjana Saphira, karena sempat suudzon sama dia. Aku udah ngeraguin kapasitas beraktingnya. Sumpah, dulu aku sensi sama dia yang menurutku sok-sokan di serial Stereo. Ternyata dia nggak sekedar cantik di Sweet 20. Ibarat kucing yang katanya punya sembilan nyawa, Tatjana itu salah satu nyawa yang mampu menghidupkan Sweet 20. 

Huaaaaa maafin aku ya, Tatjanaaaaaaaaaaa! 

Oke, jadi Sweet 20 ini ceritanya tentang Nenek Fatma (Niniek L Karim), seorang nenek umur 70 tahun yang bawel, cerewet, rempong, dan sedikit sangar. Tinggal bersama anak satu-satunya bernama Adit (Lukman Sardi). Si Adit yang udah mapan ini juga udah berkeluarga, beristri satu bernama Salma (Cut Mini). Hasil kolaborasi pasutri itu menghasilkan dua anak yaitu Luna (Alexa Key), fresh graduate yang kerjaannya bangun siang mulu bukannya cari kerja, dan Juna (Kevin Julio) si lanang yang terjun ke dunia musik walaupun tanpa restu dari kedua orangtuanya, kecuali dari si Nenek. 

Kehadiran Nenek Fatma di rumah Adit, nyatanya nggak bikin nyaman. Nenek Fatma adalah nenek yang terlihat pilih kasih, karena lebih perhatian sama Juna daripada sama Luna. Nenek Fatma adalah orang yang kritis dan selalu mau ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Apa yang dilakukan Salma selalu salah di mata Nenek Fatma. Tipikal mertua yang bikin menantu pengen mengakhiri hidup dengan overdosis pil KB.

Karena satu insiden (bukan overdosis pil KB btw), Nenek Fatma direncanakan buat dimutasi ke panti jompo. Nenek Fatma sedih dan mutusin buat keluar rumah di malam hari kayak Hannah Baker-nya 13 Reasons Why pas dia sedih karena telah menghilangkan uang orangtuanya. Kalau Hannah Baker nemuin rumah Bryce di jalan-jalan malam itu, Nenek Fatma nemuin studio foto misterius. Beliau bersemangat untuk berfoto di situ layaknya anak 17 tahun yang semangat mau foto KTP. 

Dan studio foto itu membuat beliau terlihat lebih muda 50 tahun. Bukan terlihat lagi sih. Tapi memang berubah jadi lebih muda 50 tahun. 70 going on 20. 20 again. 

Dianugerahi keajaiban itu, Nenek Fatma mengubah nama jadi Mieke Wijaya, sesuai dengan nama artis favorit beliau. Lalu punya pemikiran untuk mengejar cita-citanya yang nggak kesampaian saat masih muda dulu, yaitu menjadi penyanyi. Keajaiban lain pun berdatangan, yaitu ditaksir oleh dua batangan sekaligus. Terdiri dari Alan (Morgan Oey aaaaak mata sipitnyaaaa!!!), sang produser musik ganteng. Dan Juna, cucunya sendiri.

Oh iya, ada Kakek Hamzah (Slamet Rahardjo), sahabat Nenek Fatma yang udah naksir dari dulu. Terus... 

Cha, udah, Cha. Nanti spoiler

Yak, memang mirip banget sama Miss Granny. Meskipun belum nonton versi aslinya alias Miss Granny itu, tapi aku bilang mirip karena ada fakta memang sengaja alurnya dibikin mirip. Namanya juga film adaptasi dan hasil kerjasama PH Indonesia dan PH Korea Selatan. Jadi kalau ada yang bilang kalau film ini niru film Korea, diiiih aku kesel banget. 

Kayak gini: 



Untungnya cuma itu yang bikin kesel. Karena Sweet 20 ini bikin senang. Bakat terlalu ekspresifku (baca: suka heboh sendiri) diasah sama film ini. Aku ngakak, nggak lama aku nangis. Habis itu ngakak lagi, terus senyam-senyum. Ngakak lagi, nangis, terus ngakak keras sambil teriak “Bangsat!” sambil mukulin lengan bangku teater. Sweet 20 bener-bener so sweet. Bukan so sweet yang melankolis romantis, tapi.... so sweet yang bikin ngakak-ngakak seneng kayak lagi sama cowok humoris yang manis. 

Seperti yang udah aku bilang di awal, aku sempat suudzon sama Tatjana. Ternyata oh ternyata aktingnya keren banget. Bener-bener bisa meranin nenek-nenek. Dia juga nggak kelihatan berusaha melucu. Ngalir aja gitu. Komedinya nggak maksa.

Ngingatin sama Amelie neh. 

Yang bikin lucu itu karena bahasa tubuhnya, kalimat yang dipake ngomong, sampai intonasi suaranya mirip kayak yang dilakuin Niniek L. Karim. Dari minum teh, cara jalan, cara ngomong, nunjuk-nunjuk muka orang, meluk orang... Nenek-nenek banget. Kalimat yang kurang lebih isinya, “Di sini tidak boleh menggoyangkan pinggul berlebihan,” jadi salah satu dari sekian banyak kalimat yang bikin aku ngerasa kalau Tatjana dan Niniek L Karim adalah orang yang sama. 

Buang muka.

Setelah nontonin trailer adaptasi Miss Granny yang versi Vietnam, China, dan Thailand, aku ngerasa Tatjana itu kayak campuran antara tokoh utama yang versi Thailand dan yang versi Vietnam. Tingkahnya ceria cenderung atraktif, senyumnya manis, dan badannya tinggi montok. Ngiri abiiiis.

Chemistry-nya dengan para pemain lain juga bikin ngiri. Dalam artian, aku kagum sama dia yang bisa berbaur sama para pemain yang beda-beda umurnya. Aku paling suka chemistry-nya sama Om Slamet Rahardjo, yang melahirkan adegan bajingak bikin ngakak satu ruangan. Scene yang relate sama kehidupan warga Indonesia khususnya kaum manula yang hobinya nonton sinetron kejar tayang tak berkesudahan. Bangke bener itu sih. Kalau ingat itu aku masih ngakak-ngakak nggak jelas. Dan otomatis aku jadi nantiin di mana Kakek Hamzah (atau Om Hamzah?) dan Mieke dalam satu adegan. Mereka lucuuuuu! 

Yang aku kagumin juga, yaitu chemistry antara Kevin Julio dan Alexa Key sebagai kakak-adek. Aku ngelihat mereka kayak kakak-adek beneran yang jarang akur. Berantem mulu. 

Hmmmm.... Jadi pengen punya adek cowok. 

Terus.... terus... aku juga suka chemistry antara Tatjana dan Morgan. Lebih condong ke Morgan-nya sih kalau ini. Aaaaak taek ah. Morgan emang gitu, ya. Mata sipitnya itu jadi kekuatannya buat menggetarkan area sensitif kaum hawa. Dia nggak terkesan romantis sih, tapi...... Kalimat yang muncrat dari mulutnya, jadi terdengar kayak kata-kata mutiara berkat matanya yang seolah berbicara itu. 

Dia ngomong, “Kamu yakin?” aja, di telingaku jadi kedengeran ada kelanjutannya kayak gini, 

“Kamu yakin? Hanya karena pernah terluka, tak berarti kamu harus takut mencinta. Ada seseorang yang tepat untukmu di luar sana.”

AAAAAAAK BIKIN SENYAM-SENYUM ALAAAAAY. SWEEET ALAAAAAN!!!


Morgan di sini kurusan. Ih gemes!

Bikin senyam-senyum juga karena ternyata Sweet 20 ini bercita rasa Indonesia. Kita seolah jadi lupa kalau Sweet 20 diadaptasi dari film Korea. Menurut beberapa review, film ini mengandung banyak kearifan lokal di dalamnya. Ada kearifan lokal macam Lebaran, dangdut, pengamen, sinetron yang nggak habis-habis episodenya dan sok-sok menegangkan, acara musik alay. Karakter Alan sebagai produser musik idealis yang nggak ngutamain sensasi tapi kualitas seorang penyanyi, menurutku adalah sindiran bagi para pelaku acara musik di Indonesia yang hanya mementingkan rating semata. 

Ngomong-ngomong soal musik, Sweet 20 bener-bener cinta musik Indonesia. Nggak pake lagu buat soundtrack dari penyanyi hits kekinian yang liriknya ada bahasa Inggrisnya. Malah pake lagu-lagu jaman dulu yang udah akrab di telinga tapi bagi kita yang masih muda ini cuma tau liriknya nggak tau judulnya. Payung Fantasi jadi lagu yang bikin engas senyam-senyum mulu. Dan Selayang Pandang adalah lagu daerah asal Riau yang asik banget dinyanyiin Gugun Blues Shelter. Jadi eargasm dengernya! 

Untuk komedinya, semuanya berhasil. Nggak ada yang sok lucu. China dan negara lain yang mengadaptasi kayaknya lebih banyak pake dirty jokes. Kalau Sweet 20 versi Indonesia ini mungkin karena jadi film Lebaran, jadi dirty jokes-nya nyaris nggak ada. Ya, komedinya lebih ke kehidupan sehari-hari sih. Jadi gampang buat ngetawainnya. 

Dan paling gampang ngetawainnya itu pas di ending. Taeeeeeek. Aku dan Kak Hendra ngakak keras sambil bersumpah serapah. Sedangkan Kak Ira dan Dita nggak bisa berkata apa-apa selain ngakak bertubi-tubi. Nggak nyangka anjir ending-nya setaik itu. Callback bangke!

Kalau bicara soal adegan yang bikin nangisnya, aku sempat nangis terisak di beberapa adegan. Nenek Fatma udah kebiasaan mandiri, makanya suka ngatur-ngatur. Beliau ngerasa karena pengalaman pedihnya di masa lalu ngebuat dia jadi orang yang paling tau cara mendidik anak. 

Hal itu ngingatin aku sama Mama yang dari kecil nggak punya Ibu. Terus beliau harus ngurusin dua adik tirinya. Mama juga termasuk mertua yang ya, ‘ngeganggu’. Suka ambil bagian dalam kehidupan rumah tangga anak-anaknya karena ngerasa udah berpengalaman sama hal gituan. Dan nggak mau kalau anak-anaknya sampai kekurangan kasih sayang serta tuntunan kayak yang beliau alamin. Ternyata ada alasan memilukan di balik kerempongan mereka.

Hiks. Waktu itu aku nangis sambil punggungku diusapin sama Kak Ira, yang juga nangis. 

KAMI MEMANG CIWIK-CIWIK GAMPANGAN. GAMPANG NANGIS HUHUHUHUHU.

Mungkin kalau nonton yang versi Korea, nangisku bakal lebih parah kali, ya. Soalnya banyak yang bilang kalau versi Indonesia ini dramatisnya kurang. Lebih dramatis dan mengharukan yang versi Korea. Nggak heran sih, karena Korea memang jagonya ayam. Eh maksudnya jagonya soal dramatis begitu. 

Sweet 20 jadi film Lebaran bertaburan tawa dan makna yang di luar dugaan. Film drama keluarga komedi fantasi ini menurutku sama kayak 17 Again. Yaitu tentang kesempatan yang didapatkan untuk jadi muda lagi. Untuk memperbaiki masa lalu. Untuk menikmati organ tubuh yang masih segar. 

Tapi Sweet 20 lebih sweet. Cita rasa Indonesianya bikin kita jadi makin cinta Indonesia, dan makna di dalamnya bikin kita sayang sama keluarga. Aku pengen ganti judulnya jadi So Sweet 20. Film ini nggak sepet, dan beneran sweet bahkan so sweet

Hmmm... so sweet nggak harus selalu yang dramatis kan? 


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com