Rabu, 21 Juni 2017

Durhaka Ala August: Osage County

Selain nonton film di bioskop yang jam tayangnya nggak direstui Mamaku karena pulangnya bakal kemalaman, nonton film bukan di bioskop juga bikin aku ngerasa durhaka sama beliau. Pas nonton August: Osage County beberapa hari lalu. 

Waktu itu aku nggak pengen tidur habis Subuhan. Aku mau nonton August: Osage County, film drama bergenre black comedy tentang keluarga disfungsional. Aku suka film macam begitu! Sayangnya, katanya film keluaran tahun 2013 itu jadi film yang underrated. Dan aku juga baru tau di tahun 2017 ini. Huhuhuhu. 

Bukan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warramah. 

Padahal pemainnya pada terkenal. Ada Meryl Streep, aktris yang ‘rakus’ akan nominasi Oscars. Terus ada Julia Roberts, si binal dari Pretty Woman dan ‘pengembara' dari Eat, Pray, Love. Ditambah lagi ada Benedict Cumberbatch. Aaaaaak!!! Si dokter songong dari Doctor Strange. Lucunya lagi, tiga wanita muda (yang sebenarnya nggak muda-muda banget) yang berperan jadi tiga bersaudara di film ini punya nama yang mirip-mirip. Julia Roberts, Juliette Lewis, dan Julianne Nicholson. Jul semua. Kayak udah jadi takdir buat main bareng dalam satu film. 

Julianne Nicholson, Julia Roberts, dan Juliette Lewis. Trio Jul.

Nah, aku nggak bisa nonton pas malam entah gara-gara aku ketiduran atau disuruh Mama buat tidur cepat. Yaudah aku berniat nontonnya habis Subuhan sampai aku mandi berangkat kerja.

Pas lagi asik nonton di kamar atas, Mama nyuruh aku buat tidur. Aku cuma ngangguk-ngangguk sambil tetap melanjutkan tontonanku. Mamaku langsung bilang, 

“Berisik.” 

Dengan muka merengut, aku langsung angkat kaki sambil ngebawa selimut dan hapeku. Terus ngendap di kamar bawah. Lanjut nonton. Pas jam 6, aku kepikiran Mama yang nyuruh aku tidur. Yaudah aku mutusin buat tidur aja. 

Pas bangun….. 

Terus aku ngeliat hape…. 

LCD HAPEKU PECAH!!!!!!!!!

LAYARNYA BLANK HITAM SEPARO BULAT DI BAGIAN BAWAAAAAH TERUS SISANYA GARIS-GARIS AAAAAAAAK!!!!!!!!! 

Aku nyoba buat nge-restart hapeku. Siapa tau itu nge-hang atau gimana. Berusaha menyangkal kenyataan. Taunya malah blank-nya nyebar menggerogoti layar kayak kanker payudara. Aku patah hati banget rasanyaaaaaaaaaaaa!!!!! 

Perasaan hapeku nggak ada jatoh. Terus posisinya juga terbaring manis di sampingku. Nggak ndelusep ke lantai. Aaaaak! Aku tanyain orang rumah pada nggak tau hapeku tadi pas aku tidur jatoh apa enggak. Huhuhuhu. 

Sumpah. Sedih. Banget. 

Aku jadi mikir. Apa karena aku merengut dan nggak nurut sama Mama makanya aku dikasih azab begitu? Toh aku nggak ngelawan juga sih. Maksudnya, aku nggak ngebantah omongan beliau dengan ngejawabin sambil nyolot.

HMM.. SELALU ADA CELAH UNTUK MEMBELA DIRI, YA CHAAA....

Oke. Aku durhaka.

Dan berarti tausiyah Mamah Dedeh yang bilang kalau dosa kepada orangtua langsung dibalaskan di dunia, itu emang terbukti. Huhuhuhu. Mamah Dedeh memang panutanque.

Untungnya sekarang hapeku udah kembali seperti semula. LCD-nya udah diganti dan..... data di memori internalnya hilang semua.

SCREENSHOT-ANKU PADA HILANG SEMUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA. HUHUHUHUHUHUHUUHUHU. NOTE-KU YANG ISINYA IDE TULISAN DAN CURHATAN SEBELUM TIDUR JUGA. CHAT-CHAT ALAY JUGA HILAAAAAAAANG AAAAAAAAAAAAAK.

Entahlah itu beneran azab atau cara praktis yang dikasih Allah supaya hal-hal alay di hapeku hilang semua. Yang jelas dengan kejadian itu, ditambah dengan nonton August Osage County, aku jadi bertanya-tanya, 

“Sebenarnya kita boleh nggak sih durhaka kalau orangtuanya pantas buat didurhakain?"

Well, August: Osage County punya cerita tentang Beverly (Sam Shepard) yang sebelumnya menghilang dari rumah, ditemukan meninggal dalam keadaan bunuh diri. Kematian Beverly ngebuat tiga putrinya yang terdiri dari Barbara (Julia Roberts), Karen, (Juliette Lewis) dan Ivy (Julianne Nicholson) harus pulang ke rumah mereka, mudik ke kampung halaman mereka di Osage County, Oklahoma. Barbara bareng suaminya, Bill (Ewan McGregor) dan anaknya, Jean (Abigail Breslin). Karen bersama tunangannya, si gadun bernama Steve (Dermot Mulroney). Sementara Ivy udah tiba duluan di rumah mereka. 

Mereka semua meet up sama sang Ibu, Violet (Meryl Streep), pengidap kanker mulut dan pecandu obat-obatan. Punya kemampuan berkata-kata pedas dan tajam layaknya Mbak Bertha sang komentator ajang pencarian bakat penyanyi dangdut KDI.

Adik dari Violet, yaitu Mattie Fae (Margo Martindale) juga datang ke rumah yang diselimuti duka itu. Bersama suaminya, Charlie (Chris Cooper) dan anak tunggalnya, Little Charles (Benedict Cumberbatch). 

Selesai pemakaman, mereka ngadain jamuan makan malam. Makan malam di mana Violet lahap ‘memakan’ anggota keluarganya hidup-hidup dengan sindiran, perkataan sinis, hinaan, dan tawa mengejek. Makan malam itu berubah jadi ajang buka-bukaan aib. Berujung baku hantam antar wanita kayak lagi ngerebutin satu barang diskonan. Dari situ juga aku ngakak keras dan ngerasain jatuh cinta sama film ini. Aku cinta sama kerusuhan itu. Ngingatin aku sama alasan kenapa aku suka film bertema keluarga disfungsional.

Bukber.

Adegan makan malam penuh aura kebencian itu bikin aku dari yang cuma senyam-senyum, ngakak, sampai pengen bergabung sama mereka. Perasaan aneh yang aku rasain itu makin besar pas aku baca review yang ditulis Movfreak. Terutama di bagian ini,

“Rasanya seperti saat kita sedang asyik bercanda dan tertawa bersama teman-teman kita tiba-tiba ada orang yang marah-marah dan mendadak menjadikan suasana yang tadinya ceria menjadi sunyi dan mengagetkan. 

Saya pun begitu mengagumi aspek black comedy film ini. Entah berapa kali saya dibuat tertawa terbahak-bahak berkat kelucuan film ini entah dari dialog ngawur karakternya atau lewat tingkah laku absurd mereka seperti bergulat di meja makan atau parade piring yang dibanting. 

Banyak sarkasme yang lucu luar biasa, namun banyak juga rangkaian kalimat yang terasa begitu getir saat masing-masing dari karakter mulai mengungkapkan permasalahan yang mereka miliki.”

Aku setuju banget. Hal itu menurutku jadi susuknya August: Osage County buat menggaet para penggemar film keluarga disfungsional. Sumpah, dialog-dialog di film ini lucu-lucu sekaligus kelam. Ada juga adegan di mana Barbara mencegah hal buruk terjadi dengan bilang ke Violet, 

“Eat that fish, bitch!”

Sumpah, yang itu juga lucu. Ekspresinya Julia Roberts dapet banget. Ya, film dengan black comedy emang gitu, yak. Lucunya dari kejadian-kejadian yang harusnya nggak lucu. 

Terus karakter-karakter di film ini berasa realistis. Ada juga yang ngingatin sama anggota keluarga sendiri. 

Ada Violet sebagai sosok Ibu yang keras. Kebalikan dari Beverly yang punya pembawaan tenang dan ramah. Violet yang tunduk sama pesona obat-obatan itu ngingatin aku sama Mama yang sejak sakit-sakitan kayak sekarang, jadinya apa-apa dibawa minum obat aja. Kalau pegel badan, minum Carbidu aja. Kepala pusing, minum Antalgin aja. Batuk, di-Komix aja. 

Tatap mata Ojan....
Pasangan Violet-Beverly bikin aku juga ingat sama Mamaku-Bapakku. Mamaku jauh lebih tegas daripada Bapakku yang orangnya nyantai. Tapi ya cuma itu. Mamaku nggak mirip banget sama Violet. Mamaku nggak semenyebalkan sekaligus selucu Violet. 

Oh iya, mulut pedesnya Violet bikin aku mikir kalau pantesan aja sih, Ibu beranak tiga itu dapat penyakit kanker mulut. Kena azab Allah gitu deh. Huahaha aku ngawur abis.

Barbara, si sulung yang tegas, tipikal anak pertama yang biasa aku temui. Kayak Kak Fitri dan Kak Mirna, kakaknya Kak Ira. Barbara lagi ada masalah rumah tangga tapi mencoba terlihat baik-baik aja. 

Karen, si anak kedua yang kelakuannya kayak ABG kasmaran, di mana bahan obrolannya sama orang lain selalu soal pacarnya, pacarnya, pacarnyaaaaaaa mulu. Ralat, tunangannya maksudnya. Tambahan, tentang gaya hidupnya yang mewah juga. 

Ivy, si bungsu paling berbakti pada orangtua, jauh dari kesan anak-terakhir-jadi-anak-paling-manja-dan-dimanjain. Sering jadi bahan olok-olokan Violet. Ivy betah ngejomblo, seolah-olah waktunya dihabiskan cuma buat ngebahagiain orangtua, sampai dia lupa buat ngebahagiain dirinya sendiri. Eh sekalinya udah bahagia, udah jatuh cinta, jatuh cintanya sama orang yang salah. Ivy sedikit ngingatin aku sama Nanda yang orangnya susah jatuh cinta, tapi sekali jatuh cinta sama orang yang salah mulu. Hadeeeeh....

Barbara, Karen, dan Ivy.
Little Charles, sepupu tiga Srikandi itu. Lelaki pengangguran yang canggung, gugupan, dan sering diremehkan Ibunya. Kalau seandainya Barbara sekeluarga punya grup Whatsapp keluarga, mungkin isinya foto-foto Charles yang dijadiin meme sama Ibunya sendiri. 

Btw, Benedict keren abis aktingnya, njir. Walaupun dapat porsi dikit, tapi bisa ngeyakinin kalau dia emang anak yang dianggap pecundang. Aku paling suka pas adegan dia ngerasa bersalah karena ketiduran. Aih aih aih. Beda banget waktu dia di Doctor Strange.

Aura songongnya luntur pas di adegan ini.

Secara keseluruhan, aku suka film ini. Aura negatif di film ini malah jadi aura positif pas nyampe ke aku. Ada rasa senang pas ngeliat pertengkaran mereka. Ada kepuasan (sekaligus kebingungan) ngeliat ending-nya yang sebenarnya ironis itu. Mungkin aku kelihatan jahat, tapi aku ngerasa Violet memang pantas ngedapatin apa yang ada di ending. MHUAHAHAHAHA! *ketawa jahat*

Btw, itu bukan spoiler kan? HEHEHEHE.

Menurutku August: Osage County ini lucu-lucu ngedrama. Kalau Yura feat Glenn Fredly punya Cinta dan Rahasia, August: Osage County punya Keluarga dan Rahasia. Makin lama, rahasia makin terungkap. Udah kayak nonton sinetron Cinta Fitri yang tiap season-nya bikin kita mikir, 

“Oooooh ternyata ini.” 

“Ooooh jadi gituuuu.” 

“Ah taek Shireen pacaran lamanya sama siapa, nikahnya sama siapa!” 

Twist ala sinetron sih kalau boleh aku bilang. Tapi bukan berarti ‘gampangan’ kayak sinetron juga. Gimana ya, setiap anggota keluarga punya permasalahannya masing-masing, terus masalahnya nggak semuanya diceritain. Pasti ada yang dipendam sendiri. Begitu rahasia itu terbongkar, ya udah byaaaaar. Konflik nggak bisa dihindari. Kayak keluarga Violet ini. Anak-anak Violet harus menentang Violet. Menjelma jadi anak durhaka karena konflik yang bersumber dari Ibunya itu.

Sahur
Kalau nonton film ini mau dapat pencerahan, pesan moral, ending yang memotivasi, atau apalah, film ini nggak bisa diharapkan kayak mengharapkan Tunjangan Hari Raya. Film ini sarat akan aura keluarga besar yang gila. 

Dan aku suka kegilaan itu. 

Walaupun masalah dalam keluarga di film ini nggak relate sama keluargaku. Hal yang harusnya jadi alasan kenapa aku bisa suka sama film ini, sama kayak aku suka film-film lainnya. Hal yang biasanya bikin aku bikin aku baper terus aku tergerak buat nulis review-nya. 

Tapi aku tetap suka. Karena selain tema keluarga disfungsional, juga karena film ini ngebuat aku kebingungan. Sama kayak waktu nonton Captain Fantastic. Waktu nonton film itu, aku bingung menempatkan Ben itu sebagai kepala keluarga macam apa. Entah dia itu kepala keluarga yang baik, yang patut dicontoh orangtua-orangtua di jaman edan sekarang. Atau kepala keluarga yang buruk karena mengisolasi anak-anaknya sendiri dari dunia luar. 

Aku bingung harus gimana kalau seandainya ada di posisi tiga bersaudara itu. Apa aku sanggup buat mengemban tugas berat sebagai anak tertua kayak Barbara? Apa aku bisa jadi anak yang sabar, berbakti, dan ngemong kayak Ivy? Apa aku bisa jadi Karen yang menggaet duda kaya raya untuk dijadikan calon suami? 

Aku bingung kalau aku jadi mereka, apa aku bakal ngelakuin hal yang sama kayak mereka lakuin? 

Aku bingung apa  Barbara, Karen, dan Ivy itu durhaka ke orangtua mereka, Violet? Apa Violet memang pantas diperlakukan begitu, mengingat dia nggak menghargai anak-anaknya? 

Apa memang anak 'seharusnya' durhaka kalau orangtuanya kayak gitu? 

Haaah. Durhaka ala August: Osage County bikin aku bingung. Ini karena faktor kurang kerjaan juga kayaknya makanya bingungin hal begitu.

Mungkin, aku bakal nggak bingung lagi kalau meresapi kalimat pamungkas dari Anji Dunia Manji. Yang kurang lebih isinya begini, 

“Nanti suatu saat kalian ngerti kalau udah punya anak. Kalau belum punya anak, nggak ngerti.”

Yha. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 07 Juni 2017

To Be Wonder Woman is To Love

“Ndese, ini nah Mbak Gadot-nya muncul pake kostum! Pahanya gede!”

Kalimat itu keluar dari mulut Nanda, waktu kami nonton Batman v Superman. Membangunkanku yang ketiduran karena durasi filmnya yang kelamaan. Dan ya, aku terpana sama pahanya Gal Gadot. Seksi, padat, mulus, tapi nggak vulgar.

Beruntung, aku bisa menikmati Gal Gadot lagi lebih puas, di film solonya berjudul Wonder Woman. 

Bukan model iklan sabun Giv.

Film yang aku tonton hari Minggu kemarin. Nontonnya bareng Dita, sahabat yang udah aku anggap sebagai keponakan sendiri (soalnya dia manggil aku Tante huhuhu). Dita adalah temen nonton yang polos-polos ngehe daripada Nanda. Suka ngomong semaunya kalau nonton. Aku kenyang makan omongan semaunya dia pas nonton Sabtu Bersama Bapak. Waktu nonton Wonder Woman, dia bilang kalau Gal Gadot itu mirip Nadine Chandrawinata.

Dan ternyata ada yang sepemikiran sama Dita, njir.

Nggak cukup sampe situ, dia juga ngomong,

“Serasa lagi nonton My Trip My Adventure ya, Tan.”

Dan aku.... iyain. Ngeliat ada pulau indah, laut, pantai, hutan dan adegan menyelam, bikin aku terhasut oleh kata-kata Dita itu. Terus pas lautnya di-shoot dari kejauhan, aku bawaannya pengen nyanyi, 

"Para para paradise~"

Dari situ aku mikir kalau Wonder Woman itu eeeeeeeeegggh! Selain bikin aku dan Dita berimajinasi liar, Wonder Woman juga bikin kami baper. Oke, lebih tepatnya yang baper itu.... aku.

APA SIH FILM YANG NGGAK KAMU BAPERIN, CHAAAAA.......

Huhuhuhu. Percayalah, itu bukan kemauan saya...

Oke. Jadi, Wonder Woman ini bercerita tentang Diana (Gal Gadot), anak gadis yang hidup di Themyscira, pulau surga katanya. Themyscira adalah pulau yang dihuni kaum Amazon berjenis kelamin perempuan semua. Perempuan-perempuan yang eksotis, tangguh, kekar, dan mukanya pada mirip-mirip. Aku rada susah ngebedainnya pas awal-awal. Kayak susah ngebedain muka anggota girlband Korea. 

Sejak kecil, nafsu Diana untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran sudah membuncah. Dia pun berlatih bertarung bersama bibinya, Antiope (Robin Wright) secara backstreet karena sang Ibu, Hippolyta (Connie Nielsen) nggak setuju kalau anaknya jadi seorang petarung. Ya, Hippolyta ini semacam ibu-ibu protektif. Tapi akhirnya Hippolyta merestui pelatihan itu dan ingin Diana dilatih lebih keras.

Waktu terus berjalan dan Diana pun tumbuh besar. Besar di segala sudut. Uuuh. Termasuk besar di tekadnya untuk melawan Dewa Ares, dewa perang dalam mitologi Yunani. Diana yakin banget kalau hanya kaum Amazonlah yang bisa menyelamatkan umat manusia dari kehancuran. Dewa Ares, biang keladi kehancuran umat manusia. Tukang adu domba. Itu yang diyakini oleh Diana. Mungkin Ares juga yang membisiki para selebtwit untuk bikin drama terus twitwar.

Entahlah. Yang jelas, bukan Ares yang membisiki Steve Trevor (Chris Pine), seorang mata-mata Inggris dari Perang Dunia 1 untuk terdampar dan ditemukan tak berdaya oleh Diana. Sejak saat itu, hidup Diana berubah. Steve seolah datang untuk menyampaikan wahyu kepada rakyat Themyscira kalau dunia lagi dalam kehancuran. Dan Steve ibarat pangeran berkuda buat Diana. Membawa pergi Diana, putri yang sudah lama terisolasi di lingkungan ‘kerajaan’ buat keluar dari ‘istana’ dan melihat dunia luar.

Di dunia luar, Diana polos-polosnya kayak kembang desa masuk kota. Untungnya Steve orangnya pengertian dan sabar. Banyak pertanyaan tentang dunia luar yang ditanyain sama Diana. Udah kayak anak kecil aja nanya mulu. Terus asal nyeplos ini itu lagi. Asli polos banget. Sampai akhirnya kepolosan Diana membawa dia menemukan jati dirinya. Yaitu sebagai superhero.


Wonder Woman memang nggak wow banget. Ceritanya cenderung klise dan predictable. Nggak bisa juga dibilang sebagai film superhero paling paling paling paling. Tapi alasan aku ngerasa eeeeegh sama film ini salah satunya adalah karena latar belakang Perang Dunia 1 di filmnya. Ada granat, pasukan tentara, barak, gencatan senjata, rudal, tank, dan orang-orang yang terluka diejakulasi, eh dievakuasi.

Nah, Dina tau banget kalau aku kurang berminat sama film-film yang imajinatif macam film fantasi atau film animasi. Dia memaklumi aku yang muji habis-habisan film ini. Terus bilang,

"Terdengar rasional sekali. Kukira imajinatif filmnya kayak film superhero kebanyakan."

Dan ya, aku kira juga gitu. Ternyata nonton Wonder Woman kayak nonton film perang. Terus aku berharap Dina tertarik buat nonton. Tapi tetap aja dia nggak tertarik karena dia lebih suka film Marvel dan Gal Gadot itu orang Israel. Padahal bisa aja kan dia mau nonton karena itu mirip sama Hacksaw Ridge, salah satu film kesukaannya. 

Yang ada malah banyak yang bilang kalau Wonder Woman ini mirip sama Captain America: The First Avenger. Sama-sama berlatar belakang perang dunia. Terus persamaannya, sama-sama bawa perisai. Habis itu... aku nggak tau lagi, sih. Belum nonton Captain America. Huhuhuhu. Aku ngerasa polos pas tau itu. Polos dalam artian....

“BEGO BANGET SIH! Udah nyangkain kalau Wonder Woman itu satu-satunya film yang pake setting perang dunia!”

Sekali lagi, percayalah, itu bukan kemauan saya...

Tapi polosnya Diana alias Wonder Woman itu bukan polos bego kayak aku. Ya, Wonder Woman adalah superhero yang polos. Menggemaskan sekaligus garang. Ada scene yang bikin aku sama Dita histeris. Lucuk bangeeeeeet sih si Dianaaaak!!! Polos-polosnya Milly AADC jadi tergeser. Ya ampun, padahal kami cewek njir. Gimana kalau cowok, ya. Palingan neguk liur sih kayaknya. Sama ngelonggarin celana yang mengetat. 

Ada juga scene yang bikin kami teriak kegirangan plus cemas. Yaitu pas rakyat Themyscira pada 'kerasukan' Katniss Everdeen-nya The Hunger Games semua. Kami kayak ngeliat tawuran anak STM lawan anak sekolah khusus putri. Terus scene lainnya yang nampilin Gal Gadot pake kostum terus memberantas para bajingak, bikin kami jejeritan sambil melantunkan lafadz Allah. Bersyukur atas ciptaan Allah.

BODO AMAT DAH DINA BILANG KALAU GAL GADOT ITU ASAL ISRAEL ZIONIS YAHUDI DARAHNYA HALAL. BODO AMAAAAAT. AKU DAN DITA TETAP SUKA GAL GADOT SUKA WONDER WOMAAAAAN.

Bersiap bertarung di tengah cuaca mendung.

Dan bodo amat kalau ini film DC, yang selama ini dianggap bobrok daripada Marvel. Karena kenyataannya, setelah coba-coba dengan memuncratkan banyak humor dan lagu-lagu keren serta main warna di film Suicide Squad tapi sayangnya itu gagal, DC nyoba buat menyeimbangkan humor plus kekelaman. Dan itu berhasil dilakukan Wonder Woman di bawah asuhan Patty Jenkins, sang sutradara. Berhasil dilakukan dua perempuan. Perempuan! Penyelamat DC adalah perempuan! 

Hidup perempuan! Aku bangga jadi perempuan! Semua laki-laki itu sama aja!

Dan rasanya aku belum pernah nonton film superhero yang dikangkangi cewek. Karena itu, aku jadi nonton film lain yang dibidani Patty Jenkins juga, judulnya Monster. Tentang seorang pelacur yang jadi pembunuh. Bangke banget. Pedih anjir. Filmnya dengan sempurna menggambarkan tragisnya hidup seorang cewek yang dari kecil nggak dapat keadilan dan nggak dapat limpahan kasih sayang. Monster adalah film pembunuhan yang ‘punya hati.’

Oh iya, Niken, salah satu movie blogger favoritku, bilang kalau Wonder Woman adalah film yang jelas punya hati. Selain punya hati, menurutku film ini juga punya rasa cinta.

Rasa cinta yang bukan ditunjukkan dengan ‘adegan romantis’ macam film-film besutan Gaspar Noe kayak LOVE dan Irreversible, JAV (Japan Adult Video), atau kayak yang tertulis di Serat Centhini (Kamasutra ala Jawa). Nggak ada seni persenggamaan dipertontonkan di sini. Yang ada, sekelebat adegan romantis dan orang-orang yang penuh rasa cinta.

Hippolyta punya rasa cinta untuk Diana. Walaupun sempat nggak rela melepas anak gadisnya itu pergi ke medan perang, tapi akhirnya ngeiyain juga. Karena beliau percaya, kalau itu yang terbaik buat anaknya. Percaya apa yang anaknya pilih adalah salah satu bentuk rasa cinta seorang Ibu. 

Aku sempat baper pas adegan Ibu-anak itu btw. Huhuhu.

Terus tambah bapernya pas tau kalau Steve juga punya rasa cinta. Steve bukan cowok bajingak. Jiwa ngemong dan berkorbannya tinggi. Bahkan pas berinteraksi sama salah satu villain yang nyebelin, yaitu Dr. Isabel Maru (Elena Anaya), cewek ahli Kimia yang nggak takut asap nggak kayak cewek-cewek teman sekolahnya Robby, dia penuh dengan kelembutan. Aih, itu sih emang karena jobdesc-nya mata-mata ya gitu. Aaaah. Gitu deh. Pokoknya aku yakin banget kalau zodiaknya Steve Trevor ini bukan Gemini! Aaaaak!

Yang rambutnya blonde-blonde gemesin itu yang namanya Steve Trevor.
Alias Chris Pine.

Kalau pulau Themyscira itu instagram-able, nah Steve ini.... suami-able. Mata birunya pas natap dalem-dalem si Diana.... aaaaaak! Rasanya pengen manggil Steve dengan sebutan Mas Steve. Dia keliatan penyayang banget. Apalagi pas di scene favorit (yang jadi favorit Niken juga atau mungkin favorit semua cewek-cewek yang nonton Wonder Woman), di mana Steve-nya bilang.......

AAAAAAAAAAAK INTINYA AKU LANGSUNG NANGIS DI SITUUUUU!!!!!!!! BAPER GILAAAAA!!!!!!!

Terus... tentu aja Wonder Woman. Yang paling banyak punya rasa cinta di film ini. Diana alias Wonder Woman punya banyak cinta untuk manusia yang kesusahan. Diana adalah perempuan cantik, cerdas, dan apa adanya. Dia percaya dirinya bisa, dan itu adalah bukti kalau dia mencintai dirinya sendiri. Nggak semua cewek bisa kayak gitu. Masih ada cewek yang nggak percaya kalau dirinya bisa. Dan itu.... menyedihkan, njir. Kayaknya perlu digembleng di padepokan Antiope di pulau Themyscira biar jadi cewek kuat. 

Diana punya kemauan yang kuat buat menolong orang. Dia punya semangat tinggi buat memulai perang. Diana berjiwa Duta Perdamaian banget. Aku ngakak pas di scene Diana ngebet mau perang terus bilang itu ke Steve. Asli dia lugu banget.

Kayak lagi pacaran terus ceweknya ngambek. Cowoknya ngebaik-baikin.
Menurutku  itu nunjukkin kalau Diana nggak kebanyakan mikir kayak orang-orang jaman sekarang. Diana fokus pada tujuan, bukan pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Saat kita jatuh cinta sama seseorang, harusnya kayak gitu juga kan? Kalau kebanyakan mikir, kita bisa takut. Karena cinta bukan soal pantaskah kita dicintai atau pantaskah kita mencintai dia, tapi seberapa yakinkah kita pada cinta itu. 

Anjir. Berasa dibajak Awkarin lagi dalam masa galau-galaunya putus sama Oka pas ngetik kalimat barusan. Kan Awkarin gitu yak, suka upload foto berupa quote-quote bijak tentang cinta.

Balik lagi ke film. Nah, romansa Diana bareng Steve juga sarat akan rasa cinta. Di salah satu scene, Wonder Woman ngucap satu kalimat yang bikin aku mikir. Kalau dia adalah perempuan yang penuh rasa cinta. Di saat Paloma Faith punya lagu judulnya Only Love Can Hurt Like This, Neil Young punya lagu judulnya Only Love Can Break Your Heart, Diana punya pemikiran,

“Only love can truly save the world.”

Pemikiran yang lugu, polos, sekaligus menyemangati jiwa-jiwa yang udah nggak percaya kalau cinta nggak selamanya menyakiti. Wonder Woman bisa dibilang sebagai anak gadis yang penuh cinta kasih. Dan pemikirannya akan cinta itu putih bersih. Dia nggak suuzan sama cinta. 

Ditambah lagu To Be Human-nya Sia feat Labrinth sebagai original soundtrack, menambah aura cinta-lugu-polos-menyemangati di film ini. Kalimat “To be human is to love,” di liriknya benar-benar ngena.

Bikin aku mikir, Wonder Woman hadir bukan buat menggoyahkan iman dan akidah kaum adam di bulan Ramadan. Ya memang bukan sih. Hahahaha.

Ralat, Wonder Woman menurutku hadir bukan cuma jadi film superhero. Tapi juga buat jadi film cinta-cintaan. Membawa pesan,

“To be human is to love. Only love can truly save the world.”

Ya, aku jadi mikir  sok iye kalau kita punya tugas lain sebagai manusia. Selain beribadah untuk bekal di akhirat nanti. Kita harus mencintai. Jangan membenci ataupun menyakiti. Kita punya banyak rasa cinta yang bisa dibagi.

Dan dicintai. Masih ada banyak cinta untuk kita di dunia ini.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 01 Juni 2017

Nge-BF Bareng Son Agia: Rob Bukan Cuma Ada di High Fidelity

Sebagai perempuan polos, aku punya pemikiran naif, yaitu: "Kalau mau tau apa yang laki-laki mau, aku harus banyak nonton film kelelakian!"

Bukan film action, tapi film romance yang isinya tentang laki-laki beserta masalah asmaranya.

Contohnya Annie Hall, Her, Ruby Sparks, (500) Days of Summer, dan film lainnya yang ditulis di salah satu postingan Distopiana.com.

Tapi itu naif abis. Mamah Dedeh yang menyadarkanku. Waktu salah satu jamaahnya bertanya bagaimana cara mengerti suami, beliau bilang solusinya adalah... 

“Perbanyak service pada suami!”

Jadi, yang harus aku nonton adalah fake taxi. Bukan film romance bertokoh utama laki-laki. 

Puasaaaaa, Chaaa..... 

Ya intinya aku suka nonton film kelelakian dengan alasan senaif itu. Film kelelakian yang aku suka nambah lagi, yaitu High Fidelity. 

High Fidelity adalah film keluaran tahun 2000 yang diangkat dari novel berjudul sama. Bercerita tentang kehidupan Rob, (John Cusack), bukan Robby Haryanto. Rob adalah pemilik toko musik yang baru aja putus dari pacarnya, Laura (Iben Hjelje) setelah bertahun-tahun bersama.

Dalam keadaan patah hati tapi menyangkal kalau lagi patah hati, Rob yang punya kebiasaan suka membuat top five untuk segala aspek dalam hidupnya, kali itu membuat top five mantan dan peristiwa putus bajingak. Dia menceritakan satu-persatu mantan beserta gimana mereka bisa putus. 

Sama kayak yang dilakuin Alvy Singer di film Annie Hall dan Deadpool di film Deadpool, Rob ‘mengajak ngobrol’ para penonton. Selain disuguhkan dengan mantannya yang berbagai rupa, kita juga diperkenalkan dengan dua karyawannya, yaitu Barry (Jack Black), si ceriwis yang suka menganggap selera musik orang lain itu 'kampungan', dan Dick (Todd Luiso), si lemah lembut dan pengertian.

Tiga Serangkai.
Menurutku, menonton High Fidelity sama kayak menonton vlog. Aku jadi ngebayangin kalau Awkarin bikin vlog yang isinya top five peristiwa putus bajingak, yang isinya nyeritain soal putus sama Gaga, sama Oka, sama..... 

Tapi aku lebih ngebayangin yang lain. Ngebayangin kalau aku ngebahas film kelelakian ini sama laki-laki. 

Dan akhirnya itu terealisasikan! Setelah nge-BF (Baperin Film) sebelumnya aku sama Yoga ngebahas film cewek, kali ini aku ngebahas film cowok. Bareng Son Agia, pria macho asal Bandung. 

Agia spesial bulan Ramadan.
Son Agia yang bernama lengkap Agia Aprilian, adalah pemilik blog sonagia.com. Blog yang mencapai kepopuleran hakikinya setelah menulis A Tribute To Her. Mendulang banyak dukungan, hujatan, serta job review Citilink yang sempat menerbangkan idealismenya sebagai blogger. 

Kalau dihitung kasar, aku udah kenal Agia sekitar satu tahun. Aku ingat dia main ke blogku pertama kali di postingan INI, yang aku tulis waktu bulan puasa. Dan pas banget, aku bisa nge-BF sama lulusan Sosiologi ini di bulan puasa juga. Yuhuuuuuu. 

Langsung aja disimak nge-BF-nya. Semoga berkah.


Icha: Agia sukanya nonton film yang gimandos?

Agia: Soal film, aku nggak punya kriteria tertentu sih. Biasanya dari sinopsis. Kalau sinopsisnya seru, baru tonton.

Icha: Jadi kita ngebaperin film apa nih?

Agia: Pange sih, terserah Icha aja. Eh, kok malah Pange, ya...

Icha: Agia taik.

Agia: Terserah kamu, Cha. Ngikut kamu aja. Tapi kudu yang udah aku tonton ya. Ha ha ha. 12 Angry Men juga oke kok.

Icha: Oke.

Agia: High Fidelity, siap.

Icha: Kamu suka High Fidelity? Trus pertama kali nonton itu karena apa?

Agia: Suka dong. Awalnya aku baca novelnya. Terus penasaran sama filmnya.

Icha: Watdefak..... Ini anak kayaknya sering gitu baca novel-novel yang difilmkan.

Agia: Ha ha ha. Baiklah. High Fidelity aja? Tapi ini nyambung nggak sama kebaperan kamu? Kalau bisa sih kita ngebahas film yang bukan cuma relate ke aku, tapi juga relate ke kakak ipar. Jadi biar seimbang gitu.

Icha: Adik ipar taik! Iya, relate. Tapi aku harus kepoin kamu, dulu...

Agia: Oke siap. Tapi serius nih, Icha. Kan tajuknya aja "Nge-BF bareng," jadi kamu juga kudu ikut terlibat. Yuhuuu.

Icha: YHAAAAA! Oke. Gimana pendapat kamu soal Rob, tokoh utamanya itu?

Agia: Pengen nanya dong. Kamu nonton film ini kapan? Dan gimana ceritanya?

Icha: HEH! JAWAB DULU PERTANYAAN AKU TADI!!!!!!

Agia: Ha ha ha. Jadi gini. Menurutku pribadi, Rob adalah gambaran sosok pria yang nyata. Oke, mungkin aku terdengar menggeneralisir. Tapi kenyataannya memang gitu. Bahkan penulis novelnya, Nick Hornby (salah satu novelis favoritku) dianggap sebagai pelopor genre lad-lit. Info dikit: Lad-lit itu bisa dibilang "novel cowok". Soalnya banyak membahas karakter pria dari segi psikis.

Icha: *nyimak*

Agia: Nah, di film itu kita bisa liat gimana si Rob ini punya sifat plin-plan, bingung memutuskan suatu hal. Aku yakin, yang nonton film ini (khususnya cewek) bakal bergumam kayak, "Ini orang maunya apa sih!"

Icha: Nah iya, njir. Aku juga mikir gitu. Terutama pas dia sama Laura. Dia seolah nggak tau apa yang sebenarnya dia mau. Apa yang sebenarnya dia cari.

Agia: Betul. Dan ini bukan tentang stereotip cowok yang berkaitan erat dengan macho, cuek, playboy.

Icha: Hmmmm. Berarti High Fidelity ini film yang menggambarkan isi kepala laki-laki, ya?

Agia: Bukan. Itu mah lebih ke imej. Bukan psikis (isi kepala).

Icha: Maksudnya gimana, Agia? Nggak semua cowok itu kayak Rob? Dan yang imej itu gimana? Kayak lebih ke apa yang cowok lakuin ke cewek, ya? Bukan apa yang dipikirkan cowok tentang cewek?

Agia: Maksudnya gini, Cha. Kalo imej kan berarti gambaran luar seseorang. Tanpa ada kaitannya sama psikis dia. Misal, kamu ngeliat cowok di mal/warung, terus kamu refleks bilang gini:

"Bajingak! Cool banget! Macho abis!”

Nah itu kan biasanya stereotip luar. Bukan psikis. Dicirikan dari sikap/gestur, bukan pikiran. Sedangkan kondisi psikis cowok, siapa yang tahu? Bahkan aku berani bilang, kami sendiri pun kadang gak tau.

Icha: OOOOOOH...... Oke. Paham paham.

Agia: Anjir kok malah banyak penjelasan teori gini, ya. Sori sori. Jadi belok ke mana-mana nih.

Icha: Hahahahaha. Nah ini aku suka! Bisa ada teori begitu. Terus, apakah kamu ngerasa relate sama film ini? 

Agia: Iya, aku ngerasa relate sama film ini. Walaupun sebenarnya berat buat ngaku. Berat, soalnya seolah-olah aku mengamini kalo jalan pikiran laki-laki itu emang begitu. Kalau mau contoh, tengok studi kasus kamu dengan mantan. Ehemmmmmmm.

Icha: Kalau contohnya dari kehidupan pribadi kamu, ada enggak?

Agia: Nanda sehat? Titip salam.

Icha: MOHON PERTANYAAN DI ATAS DIJAWAB....

Agia: Oke siap, kakak ipar! Kamu pasti pernah denger ungkapan ini.

“Cewek: mempertimbangkan konsekuensi, baru melakukan.
Cowok: Melakukan dulu, baru mempertimbangkan konsekuensi.”

Pernah?

Icha: Huhuhuhu. Sayangnya nggak pernah denger. Mainku kurang jauh. Pergaulanku kurang luas. Aku masih polos. Tapi aku setuju sih sama ungkapan itu. Soalnya pernah kelintas di pikiran,

"Cowok kalau ngomong nggak pake mikir!"

Agia: Jadi intinya, cowok mah cenderung lempeng. Laki-laki nggak banyak pertimbangan. Tapi, kalo dirasa sudah menimbulkan konsekuensi (a.k.a. masalah) baru deh mikir.

Icha: Contoh nyatanya gimana? Apakah kisahmu bersama Yuliana yang melegenda itu mirip sama High Fidelity? Mohon dijawab. Curhat panjang disarankan.

Agia: Oke. Kamu inget nggak adegan pas Rob nyamperin empat mantannya? Tau-tau ngajak ketemuan. Tanpa alasan yang jelas.

Icha: Iya. Ingat! Di situ aku ngerasa Rob itu aneh. Buat apa ketemuan sama mantan? Dia ngajak ketemuan buat menganalisa penyebab putusnya dia sama mantan-mantannya kah? 

Agia: Aku luruskan dikit nih. Kebetulan aku baca novelnya, jadi agak-agak paham sama jalan pikiran si Rob. Sebetulnya Rob nggak punya niatan apa-apa selain untuk memuaskan kegelisahannya, Cha. Dia mikir, what's wrong? (pake aksen Inggris pastinya, bukan Sunda). Apa yang salah? Kenapa dari dulu selalu ada yang nggak beres? Nah berangkat dari situ, akhirnya dia (tanpa alasan yang jelas) nyamperin eks-eksnya.

Jawab: Pikirkan sendiri!

Icha: Bukan Sunda. Oke noted. Terus-terus?

Agia: Curhat dikit. Beberapa waktu lalu, lupa tepatnya kapan, aku juga ngelakuin hal yang sama kayak Rob. Oh jelas itu bukan terinspirasi, ya. Itu spontan terlintas di kepala seorang pria fantastis bernama Agia. Tiba-tiba aku ngontak cewek-cewek yang dulu pernah deket sama aku. Cinta monyƩt pas SMA, SMP, bahkan SD. Seandainya kakak ipar nanya alasannya, aku juga nggak tau.

Icha: Buseeeeeeeeet. Terus hasilnya gimana? Mereka semua berhasil dihubungi atau diajak ketemuan? Totalnya berapa? Itu.... beneran cewek semua kan, adik ipar?

Agia: Salah satu kejadiannya pernah aku tulis di SINI

Icha: Sudah kuduga. Tadi sempat terlintas juga kayaknya kamu pernah nulis soal itu di blog. Eh ternyata emang iya pernah.

Agia: Terus totalnya banyak, Cha...... Tiga.

Icha: O-oke....

Agia: Ha ha ha ha ha nggak ada yang menanggapi. Satupun nggak ada. Setan ya...

Icha: BUAHAHAHAHAHAHAHAHA.

Agia: Ya wajar sih. Soalnya yang aku hubungi itu temen SD dan SMP. Udah lama banget nggak ketemu. Pasti mereka nganggep aku ini psikopat yang punya niat nyulik dan menyekap mereka di sebuah kamar berukuran 2x2 meter.

Icha: Sempit amat.

Agia: Eh ralat, 3x3 meter maksudnya. Eh 5x4 aja deh.

Icha: Oke.

Agia: Ah sial. 6x6 meter kalo gitu. Fix.

Icha: HADEEEEEH. YANG KONSISTEN DONG!!!!!!!!

Agia: Padahal mah, aku nggak akan nyulik kok. Aku pengennya titip salam buat NANDA. Sekarang.

Icha: Dah disalamin. Dijawab, “Heeh.” 

Agia: Mantep.

Icha: Terus terus..... selain itu ada lagi nggak yang relate? Pernahkah kamu bikin top five mantan bajingak? Kalau belum.... bisa bikin top five-nya sekarang?

Agia: Ya enggak lah. Mantanku aja jumlahnya kurang dari lima, kakak ipar. Bahkan kurang dari empat.

Icha: Jadi berapa? Tiga? 3×3 meter? Agia dan Rob memang berbeda.

Agia: Iya dong. Agia kan fantastis. Bukan bajingan. Aku bukan berengsek, tapi aku bisa memainkan peran itu.

Oajayakan

Icha: Supaya apa? Jadilah diri sendiri!

Agia: Ha ha ha. Eh ngomong-ngomong, yang jadi si Barry keren banget, ya. Persis gambaran di novel.

Icha: Oh. Temennya yang ngeselin itu? Yang agak gemuk?

Agia: Iya. Yang sikapnya kasar, mengintimidasi.

Icha: Huahahaha iya. Awalnya ngeganggu sih. Apaan sih ini orang. Tapi lama-lama aku suka. Soalnya dia yang ngehidupin suasana film itu. Dan sok-sok punya selera tinggi.

Agia: Ha ha betul! Anjir beda euy ngobrol sama tukang review film mah. Langsung bisa menyimpulkan karakter tokoh secara tepat. Yuhuuu.

Icha: Adik ipar..... Please.......Oh iya, dia juga nggak mau kalau seleranya direndahin. Ada aja yang bisa dia debatkan.

Agia: Itu yang aku suka dari Barry. Dia cenderung fasis ke orang yang beda selera musik.

Ini Barry. Tipe cowok idaman Agia.
Icha: Hahahaha. Jadi ngakak inget waktu dia nggak mau jual ke orang yang udah ngincar piringan hitamnya salah satu musisi. Eh malah dijual ke pelanggan lain.

Agia: Iya. Dengan alasan orang itu norak. Dia nggak mau ngejual vinyl keren ke orang yang norak.

Icha: Oh. Jadi itu namanya vinyl.... Itu filmnya tentang pernak pernik (ini apa pulaaaa) musik gitu kan, ya. Menurut kamu, orang yang nggak suka musik, bisa nikmatin film ini nggak?

Agia: Sangat bisa. Meskipun di film (apalagi di novelnya) banyak membahas musik dan anekdot-anekdot yang dilakuin pencinta musik tingkat dewa, tapi tema utama yang dibahas kan tentang romance. Perihal kegelisahan seorang pria dalam berasmara.

Icha: Iya juga sih. Aku mikir tadi itu karena aku nggak kenal sama beberapa nama musisi yang digaungkan Rob dkk. 

Agia: Mending, Cha. Ada beberapa penyanyi/band yang kita kenal. Green Day aja sempet disinggung. Iya kan? Pas Dick kenalan sama pelanggan cewek, mereka kan ngebahas Green Day. Ha ha.

Icha: Oh iya. Hahahaha. Sempat dibahas gitu kalau musiknya Green Day itu sama kayak Stiff Little Fingers. Dan gara-gara itu, Dick jadi bisa deket sama cewek. Agia pernah pake trik kayak Dick nggak? Deketin cewek dengan ngomongin musik?

Agia: Sayangnya nggak pernah. Selain karena pengetahuan musikku yang terbatas sama genre punk dan soul, aku juga nggak terlalu doyan ngomongin musik. Ha ha.

Icha: Oh gitu. Jadi kalau deketin cewek, biasanya ngomongin apa? Ngomongin teknik salibu?

Agia: Ha ha tai ah salibu. Kamu itu mah. Jujur aja nih, aku kurang begitu tau perkembangan budaya pop kayak musik kekinian, Youtube, film keren dsb. Jadi kalau kenalan atau PDKT-an sama cewek yang update kayak begitu, aku biasanya jadi pendengar yang pura-pura ngerti.

Pernah dulu pas kuliah, aku PDKT-an sama perempuan yang ngefans banget ke Maroon 5. Mau nggak mau aku riset dulu deh. Donlot lagu Maroon sekitar empat album.

Icha: BIJIK RENGAAAAT. EMPAT ALBUM GILAAAA.

Agia: Cari tau nama vokalisnya. Nah kalau udah gitu kan, jadi bisa nyambung dikit. Vokalisnya si Adam Adam apa gitu.

Icha: ADAM LEVINE!

Agia: Iya itu. Sejak lulus SMA aku nggak pernah lagi nyari-nyari lagu baru. Sumber referensi musikku terhenti di tahun 2010. Ikutan suka sih enggak. Tapi ada beberapa lagu yang sampai saat ini aku inget. Won't Go Home Without You sama I Can't Lie, dua di antaranya. Ha ha.

Icha: WAAAAAAKSSS!!!!!! DUA-DUANYA AKU SUKAAAA!!!!!!! FYI, aku juga ngefans sama Maroon 5. Nah yang I Can't Lie, aku suka. Waktu SMK, aku baper parah sama itu lagu. Ngerasa relate. Pas banget pertama kali tau lagu itu lagi dalam proses move on dari mantan. 

Agia: Itulah penyakit manusia menurut Rob. Kita cenderung menyiksa diri sendiri dengan cara mendengarkan lagu-lagu menyedihkan ketika kita justru sedang bersedih.

Icha: Hahahaha iya. Nggak tau kenapa, ya. Rasanya enak kalau lagi sedih dengerin yang sedih. 

Agia: Oiya. Sekedar informasi aja. Pada akhirnya dia (si fans maroon 5) nolak aku. Aku naif. Dulu aku mengira, aku bisa nyingkirin pacarnya yang bajingan itu. Ternyata aku salah. Nggak peduli seberapa besar kenyamanan yang aku kasih, tetep aja dia nggak mau lepas dari si kadal Sumatra. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha.

Icha: BAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHHAHAHAHHAHAHAAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHHAHHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAAHAK.

Agia: Yang bikin ironis lagi, dia juga nggak mau aku ngejauhin dia.

Icha: Cewek bajingak.

Agia: Cintanya terbagi menjadi dua. Namun di situlah letak permasalahannya. Aku pengennya 100%. Nggak mau berbagi sama kadal Cianjur.. Eh, Sumatra.

Icha: Tay. Bawa-bawa kadal. Trus gimana? Dia masih nggak mau kamu jauhin dia?

Agia: Ya enggak dong. Atas saran dari cees-cees (waktu itu kami diskusi di grup BBM), aku mutusin buat mundur. Yuhuuu. Kan udah aku bilang, itu cerita zaman kuliah. Ah dasar...

Icha: Hehehehehe. Ya kirain sampe sekarang masih. Oh iya, adegan paling favorit kamu dari High Fidelity yang mana, adik ipar? 

Agia: Wow. Adegan favoritnya.... Pas Barry nyanyi lagu Marvin Gaye - Let's Get It On (salah satu lagu favoritku sepanjang masa). Orang-orang pada histeris, teriak-teriak, dan berdansa.

Icha: Dan Rob-Laura berpelukan mesra kayak pasangan muda-mudi yang lagi nonton konser Armada.

Lagi nonton konser di GOR Segiri Samarinda.

Agia: Yoi. Eh, kamu cerita dong. Kok aku terus sih yang curhat. Nggak adil anjir.

Icha: YA EMANG KAYAK GITU NGE-BF, TONG.

Agia: Aku yang nanya deh. Pendapat kamu soal film High Fidelity gimana?

Icha: Aku suka filmnya. Meskipun nggak mudeng sama bahasan tentang musik, tapi aku menikmati film ini. Aku baper terus bikin tulisan top five mantan bajingak. Nulisnya di Tumblr. Tulisannya aku private. Hahaha. Sama kayak Rob, aku juga sempat menyangkal mantan terakhir itu masuk top five. Maksudnya, Rob sempet nggak mau masukin Laura ke daftar, kan. Eh akhirnya malah masukin. Aku juga gitu. Awalnya ogah masukin mantan terakhir karena berusaha menyangkal sakit hati karena dia. Eh taunya aku masukin juga. Taik. Jadi pendapatku soal High Fidelity... High Fidelity itu kayak mantan yang difilmkan. Oke. Itu lebay. 

Agia: Tadinya aku mau bilang gitu, buat manas-manasin. Ha ha ha eh taunya kamu yang ngomong sendiri.

Icha: ANJER. Habis gimana, ya. Bener kata kamu di awal, Rob itu gambaran sosok nyata. Bajingan dengan tampang pas-pasan. Aku nganggap kalau Rob itu bajingan yang bertampang biasa aja. Padahal bajingan rata-rata ganteng, ya.

Agia: Betul. Ha ha ha.

Icha: Terus dia bisa sayang sama pacarnya, sekaligus suka sama cewek lain. Dalam waktu bersamaan. Rob takut komitmen, nggak mau terikat. Karena menurut dia, itu bisa menutup jalan dia bertemu dengan jodohnya. Dia kayak masih nggak yakin kalau jodohnya itu Laura. Makanya dia 'berusaha' buat sepak-sepik cewek lain yang siapa tau jadi jodohnya. 

Agia: Dalam....

Icha: Oh iya satu lagi! Rob punya banyak mimpi. Dibikinin top five juga pula. Kalau seandainya Rob ini blogger, mungkin dia bakal bikin postingan tentang apa yang mau dia capai sebelum berumur 25 tahun.

Agia: Seharusnya Agia yang ngejelasin bagian Rob. Kok nggak kepikiran, ya. Ngebahas pandangan cinta Rob sama fobia komitmennya. Sebagai narasumber, aku merasa gagal. Serius deh. Di luar konteks curhatnya, pengamatan kamu ini keren, Cha.

Icha: Wkakakakakakakakaka. Taik ah.

Agia: Aku baru tahu kamu orangnya cukup observant.

Icha: Eh tapi, Agia. Biasanya kan aku ngerasa relate sama tokoh ceweknya juga. Setiap nonton film. Lah pas nonton film ini, aku nggak ngerasa relate sama Laura.

Walaupun potongan poni kami hampir sama.
Poniku dipotong kependekan sama Dita. Aaaaak. Kok jadi curhat njir.

Agia: Wajar, Cha. Laura di sini cuma tempelan. Di novelnya juga enggak terlalu kuat kok karakternya. Laura cuma digambarkan sebagai "cewek biasa" yang kebetulan ngebuat Rob kelepek-kelepek.

Icha: Oh..... Iya juga sih. Karakternya Rob yang memang paling mendominasi. Sebagai cowok, kamu bakal kelepek-kelepek juga nggak sama tipe cewek kayak Laura?

Agia: Kemungkinan besar, iya. Laura orangnya ngerti. Konteks ngerti yang dimiliki Laura cakupannya luas, menurutku. Bukan cuma ngertiin sifat si Rob, tapi dia juga ngerti sikon hubungan mereka.

Icha: Mantap, shol! Eh sebenarnya yang mutusin duluan itu siapa sih? Laura, ya?

Agia: Laura. Tapi itu juga karena salah Rob. Laura udah beberapa kali sabar. Tapi Rob kan egois. Ha ha ha.

Icha: Njir. Iya sih... Eh adik ipar, aku punya tiga pertanyaan mahagampang nih.

1. Ada saran nggak buat cewek-cewek yang ketemu sama Rob dunia nyata? 
2. Agia sudah move on belum dari Yuliana?
3. Kapan nikah?

Agia: Anjir ini mah tiga pertanyaan yang sungguh mahal harganya. Pertanyaan nomor 1 susah banget anjis sumpah. Udah nyoba mikir berkali-kali, belum nemu juga. Paling aku cuma bisa mengawang-awang. Gini...

Icha: *menunggu dengan sabar dan tawakal*

Agia: Berdasarkan pengamatan dan pengalamanku, kalau ada dua sejoli yang salah satunya punya sifat kayak si Rob (plin-plan, egois, indecisive) biasanya yang bakal jadi "korban" dalam hubungan itu ya pasangannya. Jelas. Agia cuma bisa ngasih tahu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Kenali dulu karakter calonmu secara baik. PDKT-an jangan cuma menilai dari segi wajah/kumis/jenggot/nama ortu/selera film doang. Bukan pula cuma dari sifat luar aja.

Icha: *mencatat*

Agia: Perhatikan gerak-gerik dia. Dan cara dia berekspresi, kalau perlu. Dalam hal beberapa hal, karakter asli seseorang bisa dilihat dari ekspresi atau reaksinya dalam menanggapi sesuatu. Bahkan hal yang sepele sekalipun. Misal, coba kamu tes pake pertanyaan kayak,

"Rambut kamu pernah poni ya?" dan liat bagaimana reaksinya--Ha ha canda.

Ya intinya gitu lah. Kudu bisa baca karakter. Tapi yang jadi masalah, bagaimana membaca karakter orang di dunia maya?

Icha: PERTANYAAN BAGUS!

Agia: Jawaban dari pertanyaan itu, ceesku, masih menjadi misteri. Itulah mengapa Agia Aprilian masih belum mengerti konsep pacaran online. Hmmm...

Icha: MAKSUD L?

Agia: Kayak pacaran sama blogger. Apaan... Atau film Her.

Icha: HEH!

Agia: Bagaimana mungkin seseorang bisa percaya pada orang lain hanya berdasarkan tombol keyboard saja? Hmmmmmm.

Icha: ENTE BAHLUL! Jangan lupakan Darma-Wulan! Adi-Deva! Febri-Beby! Yogaeskrim-Rima! Mereka semua pernah terjerat asmara dunia blog.

Agia: Anjir banyak juga tuh. Tapi kandas semua, ya?

Icha: Yha.

Agia: Eh bentar. Ada pengecualian, kakak ipar. Salah satunya kekagumanku pada Nanda, adik kamu. Itu mah nggak usah ditanya lagi. Walaupun kami belum pernah ketemu (bahkan mungkin doi nggak kenal siapa pria fantastis bernama Agia), tapi aku bisa merasakan "tanda-tanda".

Icha: Hmmmm.

Agia: Asal tau aja nih, Icha. Setiap kali Nanda upload foto, nggak tau kenapa detak jantung ini suka berirama. Mau tau iramanya?

Icha: Paan tuch?

Agia: J... O... D..... O.... H. Tiap satu menit selalu begitu.

Icha: ADUH AKU NGAKAK KESEL BACANYA.

Agia: Ha ha ha. Jawaban dari pertanyaan nomor 2, ya udah dong, Hairunnisa. Lagian, kalaupun belum, percuma. Nggak ada gunanya mikirin perempuan yang sekarang udah hamil 6 bulan.

Icha: Waaaaaaaah! Kabar gembira! Kayaknya tulisan tentang akikahan anaknya Yuliana dan Yulianto bakalan ada di sonagia.com .

Agia: Anjis. 

Icha: Nomor 3 nomor 3?

Agia: Jawaban dari pertanyaan nomor 3, nanti, pas Agia udah dapet restu dari orangtua kamu. Eitsss, jangan geer. Ini maksudnya ke Nanda, bukan Icha. 

Icha: Yha, Agia. Oke, terakhir. Menurut Agia, Rob suka berekspektasi tinggi nggak?

Agia: Ekspektasi dalam hal apa dulu nih? Kalau dalam hal cita-cita atau impian, setahuku nggak deh. Dia nggak ambisius.

Icha: Hmmmm..... dalam soal perempuan, maybe? Dia kayak nggak puas sama Laura. Sampe selingkuh gitu kan. 

Agia: Rob cenderung realistis. Bahkan alasan dia buka toko CD itu karena dia sadar nggak bisa maen musik, nggak punya kemampuan nulis jadi biar bisa jadi jurnalis musik. Akhirnya, dia milih alternatif terakhir: jualan CD musik.

Icha: Oh iya! Dia nerapin ilmu tentang musiknya dengan jualan CD musik dan berkumpul dengan orang-orang yang suka musik, bukan musyrik. Cuman, Rob ini menurutku kayak orang-orang yang suka berekspektasi tinggi. Kalau realita nggak sesuai ekspektasi atau harapannya, dia dengan cepat beralih ke yang lain yang dia rasa bisa memenuhi ekspetasinya. Jadi kayak nggak bersyukur.

Mereka bahagia banget ya~

Agia: *nyimak*

Icha: Entahlah, aku mikir kalau Rob ini suka berfantasi soal apa-itu-gadis-sempurna. Pas lagi proses move on dari Laura, dengan mudahnya dia jatuh cinta sama musisi. Seorang cewek yang menurutnya sempurna. Apa aku aja yang terlalu ngaco ya?

Agia: Setelah dipikir-pikir, itu masuk akal. Tapi jangan lupa juga, Rob kan nggak pernah selingkuh, Cha. Maksudku, selingkuh dalam arti menaruh hati ke cewek lain. Laura satu-satunya cewek yang dia pengen. Jadi ini bukan soal ekspektasi tinggi. Dia cuma resah aja. Penyebabnya banyak--pekerjaan salah satunya. Rob sering banget mengeluh tentang kerjaannya, dan aktivitas hariannya yang cenderung repetitive. Bosen lah, sepi pengunjung lah, dan sebagainya. Nah menurutku ini sedikit banyak berpengaruh pada hubungannya sama Laura.

Di scene awal juga kan ditunjukkin. Bahwa Laura lah yang mutusin, bukannya Rob. Tapi apa mereka masih sayang satu sama lain? Masih. 100% masih. Cuma kelakuan atau perubahan Rob yang bikin Laura terpaksa ninggalin. Nah, jadi pas tadi kamu bilang kalau Rob itu orangnya nggak bersyukur, iya memang betul. Aku setuju! 

Icha: Oh.... jadi tepatnya kalau Rob ini nggak bersyukur yak. Oke noted. Makasih yaaaaaaaaaa, adik ipar! Bahasannya sangat memuaskan dan mencerahkan!

Agia: Sama-sama. Jangan lupa ya... Jangan lupa apa?

Icha: Jangan lupa nonton High Fidelity.

Agia: Ah kau memang tidak mengerti aku, kakak ipar. Ayo tebak sekali lagi. Jangan lupa apa?

Icha: Jangan lupa.... bahagia?

Agia: Satu kesempatan lagi nih. Jangan lupa apa?

Icha: Si bangke. Jangan lupa..... baca doa sebelum tidur?

Agia: Aaaaaah. Jangan lupa titip salam ke Nanda. Ya Allah gitu aja ampe salah....

Icha: TAIK. Lah kan tadi sudah, tong! Nandanya dah bobok pules!

Agia: Itu setengah jam yang lalu kan. Titip salam buat Nanda ada jadwal khususnya. Tiap 4 menit sekali.

Icha: YA ALLAH.

Agia: Oke. Nggak enak ah. Masa aku terus terusan nge-chat Kakaknya pas doi lagi tidur. Nggak tau kenapa aku ngerasa udah ngekhianatin dia. Ini nggak etis. Biarpun kami belum saling kenal, tapi Agia mau terus setia.

Icha: INI ANAK!!!!!!


NGE-BF SAMA AGIA AKU KESAL.
NGE-BF SAMA AGIA AKU KESAL.
NGE-BF SAMA AGIA AKU KESAL.
NGE-BF SAMA AGIA AKU KESAL.

Kesimpulan dari nge-BF kali ini adalah, fantastisnya seorang Agia ternyata bukan mitos, melainkan fakta. Dia peka soal High Fidelity, berpengalaman dalam bidang asmara, dan ngeselin. Sama kayak Rob yang bukan fiksi, tapi bisa juga nyata. Rob bukan antagonis. Rob itu... manusiawi.


NB: Untuk nama para blogger yang tercantum di postingan ini, aku mohon maaf ya. Juga dengan curhatanku. Nggak ada maksud apa-apa kok selain hehehe canda. 
NB2: Adam Levine, I love you.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 28 Mei 2017

Kamu Nggak Sendirian, Tapi Bertiga

Aku suka BDSM: beribadah, dakwah, salat, mengaji; apalagi ketika bulan puasa. 

TUH. BUKANNYA BDSM YANG ITU LHO YA. YANG DISUKAIN SAMA ANASTASIA STEELE DI FILM FIFTY SHADES OF GREY. Walaupun iya sih, pas perutku kesenggol ujung meja, bukannya kesakitan malah keenakan.

Hehehehe. Cnd.

Btw, kayaknya kalau BDSM bertiga itu seru. Aku baru sadar kalau aku sering menghabiskan waktu bareng teman-temanku dalam formasi bertiga. 

Muka Dita sama Kak Iraks sering muncul yak. 
Penyebabnya mungkin karena berlima ala Geng Cinta AADC udah enek aku jalanin pas jaman sekolah. Dan karena akhirnya aku tau, kalau bertiga itu nggak selalu bertega. 

Dulu aku sempat beranggapan kalau temenan, sahabatan, nongkrong bertiga itu selalu ngehasilin satu tumbal. Ya, duanya hahahahaha hihihihi, satunya dicuekkin trus mikir mau mati aja. Tindakan pilih kasih secara sengaja maupun nggak sengaja ada di temenan bertiga. Tega nggak tega, teman kita bisa menimpakan itu pada kita. 

Temenan bertiga nggak semulus di film-film bertema persahabatan yang biasanya punya tiga tokoh bersahabat sejati. Dan aku pernah ngalamin bertiga rasa bertega. Terus aku curhat terselubung di postingan ini

Tapi untungnya aku udah nggak ngalamin momen bertega yang awkward dan bastard itu. Ya itu, bertiga nggak selamanya bertega. Selama bertiga itu saling cerita nggak ada yang ditutupin, saling ngerti satu sama lain, dan saling nge-bully tanpa ampun. 

Terutama bertiganya kalau ada yang beda jenis kelamin. Nggak cewek semua gitu. Hal itu aku rasain waktu sama Kak Ira dan Max. Kakak sepupu dan mantan teman kerjaku. Kami sama-sama tinggal di jalan Cendana, dan Kak Ira bikin grup chat Whatsapp namanya Ceindan Street. Grup yang isinya Max share cerita sedih tentang orangtua, Kak Ira yang ngomong, “Test,” mulu, dan aku yang memelas, 

“Max, balikin Xiaomi Yi-ku yang tak seberapa....” 

Dan Max dengan santainya ngejawab, 

“Hilang.”

Terus aku bersumpah serapah pake capslock ke Max. 

Bikin dia kena tampol lewat chat sama Kak Ira. Ujung-ujungnya Max bilang kalau itu cuma bercanda. 

Bijingek. 

Ya. Isi percakapan di grupnya cuma itu. Huhuhuhu. 

Soalnya kalau mau curhat juga tinggal ketemu. Entah itu jalan bareng (dan itu pasti ke McD) atau sekedar di rumah. Trus pas aku lagi di rumah Kak Ira, Max mau aja kalau disuruh datangin kami. Begitu juga pas lagi di rumahku. Waktu aku dan Kak Ira mau keluar malam buat ngejemput orang, Max mau nemenin. Diajak nongkrong di Jurdol rencananya sampe orangnya dateng (yang akhirnya nggak jadi dateng) dia mau juga. Max jadi semacam cowok baik hati yang selalu ada buat kami. 

EH BUKAN. Max ibarat cowok panggilan yang bisa ‘dipake’ kapan aja. Mau long time, short time. Dan dia selalu dipake dengan posisi threesome. Bertiga gitu.

Astagfirullah..... Bulan puasa, Cha..... 

Ya, jadi gitu. Aku ngerasain enaknya temenan bertiga waktu sama mereka berdua. Sayangnya walaupun rumah kami deketan, kami nggak bisa salat tarawih bareng. Nggak bisa satu shaf maksudnya. Huhuhuhuhu. 

Tapi kalau sama Ikhsan, kayaknya bisa deh. Huahahaha. Mengingat kalau Ikhsan terobsesi buat pake atribut keperempuanan, kayaknya kalau disuruh pake mukena, dia mau-mau aja deh.

Oh iya, Ikhsan itu sahabatku dari SMK. Bareng sama Dita, mereka melengkapi hidupku dan juga bikin bertiga jadi nyenengin. Dan.... malu-maluin. 

Ngehabisin waktu sama Dita dan Ikhsan itu seringnya dadakan. Kami jarang ngerencain dari jauh-jauh hari, karena jadinya bakal wacana doang. Entahlah, menurut kami, jalan dadakan itu sensasinya lebih eeegh daripada jalan yang direncanain. Karena banyak hal yang nggak terduga yang bakal terjadi. Karena nggak bakal sempat berekspetasi apa-apa. Ya mungkin sama lah kayak baru pacaran beberapa hari trus langsung dilamar. Beda sama pacaran bertahun-tahun eh taunya nggak di pelaminan yang sama. 

Jalan dadakan (atau ketemu dadakan) bareng Dita dan Ikhsan baru-baru ini yaitu pas hari Rabu kemarin. Malamnya Dita ada ngajak makan siang bareng. Besoknya, dia bilang kalau dia nggak bisa jemput aku di kantor karena... 

“Ikhsan minta jemput nih, Tan. Kamu naik motor sendiri aja ya.” 

HAH? IKHSAN IKUT? TUMBEN AMAT ITU ANAK NGGAK MAKAN SIANG SAMA PACARNYA. 

Pikirku waktu itu. Lengkap dengan mulut menganga yang bikin Rina, teman kerjaku bilang, 

“Mingkem, Cha!”

Bikin kagetnya juga, Ikhsan pake kemeja warna pink. Warna pink. WARNA PINK. BIKIN MUPEEEEEENG.

Sedangkan aku waktu itu pake celana kain hitam dan baju hitam. Terus Dita berinisiatif buat aku dan Ikhsan tukeran sepatu, mengingat kalau sepatunya Ikhsan warnanya hitam dan warna sepatu kerjaku pink

Kayaknya emang udah diatur oleh yang Maha Kuasa deh. Warna sepatu Ikhsan menyesuaikan sama bajuku, begitu juga sebaliknya.

Kami ngakak sepanjangan proses nukar sepatu. Sumpah heboh sendiri di tempat makan itu. Aku ngakak sambil hentakin kaki. Dita ngakak sambil mukulin meja. Sedangkan Ikhsan koar-koar bilang kalau sepatunya nggak muat sama kakinya. Kami diliatin sama orang-orang di situ. Huhuhuhuhu. Untung di situ nggak ada satpam. Kalau ada, mungkin kami udah ditendang kali, ya.

Aku yang nahan ngakak dan Ikhsan yang lagi kesemutan.

Cukup malu-maluin sih. Tapi itu kayaknya masih mending daripada ketemu lebih dadakannya kami sekitar dua minggu lalu. 

Waktu itu, hari Sabtu malam Minggu, aku dan Dita jalan ke Big Mall. Setelah beli jaket Roughneck (yang penampakannya kurang lebih kayak almamater karena warnanya huhuhu) yang lagi ada promo, kami mutusin buat menaruh pantat di KFC. Suasana KFC waktu itu lagi rame sih. Maklum malam Minggu. Kami sempat kesulitan buat cari tempat duduk. Mau duduk di tempat biasa yaitu di pojokan dan ada colokannya, tapi udah diambil sama dua mbak-mbak hijabers. Kayaknya mereka mau live IG tapi baterai-nya habis. Jadi nge-charge, dulu...

HADEH JANGAN SOTOY, CHAAAAAAA.

Nah akhirnya kami dapat tempat duduk di tengah-tengah. Kami dikepung rombongan keluarga bahagia, ciwik-ciwik berpakaian modis, pasangan muda, dan cowok-cowok sepertinya masih SMP yang imutnya setara dengan Dek Attar.

Sumber: Robby Zaryanto

OOOH DEK ATTAR MY LOVEEEEE.....

Oke. Tahan, Cha. Tahan.....

Setelah kenyang makan, kami bukannya langsung angkat kaki, tapi sibuk main IG stories. Waktu itu aku pengen boomerang, trus adegannya aku kasih makan Dita pake kentang. Ya, mengulang kesuksesan foto Dita yang ini:

Pas di mulut.
Pas kami bikin IG stories, Dita posisinya mangap-mangap memohon banget dikasih makan. Jadi akunya kayak ngasih makan hewan peliharaan. Mau-mau aja dia disuapin kentang kayak kucing dikasih makan. HUAHAAHAHAHAHA.

Tapi udah beberapa kali take, gagal mulu anjer. Kami ngakak mulu. Seperti biasa, hentak-hentakin kaki dan mukulin meja. Kalau ketawanya di-teks-kan (ini apa pulaaa), mungkin jadinya, 

“BAHAHAHAAHAHAK BRAK BRAK BRAAAAK BAHAKAKAKAKAKAKA PLAK PLAAK PLAAAK BAHAHAHAHAHHAAKAKA BRAKKKK!!!”

Hasilnya, keluarga bahagia yang ada di sebelah kanan kami, bergantian ngeliatin kami dengan tatapan aneh. Ngerasa ketakutan apa gimana aku nggak ngerti. Trus ciwik-ciwik modis yang duduk di depan kami, tau-tau udah nggak ada. Entahlah sejak kapan mereka perginya. Yang jelas, mereka perginya bukan karena kami kok. Kayaknya. 

Karena nggak dapatin hasil yang bagus, aku dan Dita memilih buat kalem. Sebenarnya juga karena malu sih. Trus pas Dita sibuk sama hapenya sendiri, dan aku ngelahap sisa-sisa kentangku.... 

Aku ngeliat ada cowok sama cewek baru datang. Mengisi tempat duduk di depan kami yang sempat kosong itu. Ternyata si cowok itu Ikhsan. Aku pun refleks teriak kegirangan.

“EEEEEEH!!” 

Ibu-ibu dari keluarga bahagia samping kiri noleh ke aku. Begitu juga dengan pasangan muda, lengkap dengan tatapan kagetnya mereka. Suasana langsung hening. Seruangan KFC pada noleh ke aku semua anjeeeeeeeeer. Dita ngakak nggak nahan, sedangkan aku diam. Shock. 

Habis itu ngakak canggung sambil nundukkin kepala. Terus ngedenger suara ngakak keras dari tempat duduk belakang. Entah itu siapa. 

Huhuhuhuhu. Resiko suka hebohan sendiri. Huhuhuhuhuhu.

Ikhsan sempat terpaku gitu dengan nampannya. Terus dia duduk dan nutupin mukanya. Kayaknya dia malu deh punya teman kayak aku.

Si cewek, yang ternyata adalah Kiki, pacarnya, kayaknya psikisnya juga terguncang. Terbukti pas Ikhsan pergi cuci tangan, Kiki gelisah di tempat duduknya sambil ngeliatin aku sama Dita, dan celingak-celinguk ke tempat Ikhsan cuci tangan dengan harap-harap cemas. Aku teman yang menyeramkan kali, ya.

HUHUHUHUHUHU.

Aku dan Dita menunggu Ikhsan dan Kiki selesai makan. Kami pengen mereka bergabung di meja kami. Sempat sih mikir kalau mereka bakal langsung hengkang dari KFC. Tapi ternyata enggak. Ikhsan langsung memboyong Kiki ke mejaku dan Dita, dan melontarkan beberapa protes. Salah satunya....

“Dasar malu-maluin kamu tuh, Tan! Aku tadi diliatin sama ibu-ibu di samping serem banget anjir. Mukanya kaget.”

Aku dan Dita ngakak berjamaah sambil ngerekam muka Ikhsan yang cemberut. Tapi ngakak kami berhenti pas ada suara ngakak yang aneh banget. Kayak kuntilanak mulutnya mau lepas. Cempreng trus kedengaran ngakaknya lebar membahana. 

Taunya itu suara ketawanya Kiki. Anjeeeeer. Aku sempat mikir kalau Kiki itu orangnya kalem. Terlihat dari fotonya. Taunya orangnya gesrek juga. 

Singkat cerita, malam itu jadi malam yang bener-bener nggak terduga. Malam yang nyenengin. Dan jadi malam yang bikin aku mikir, sahabatan bertiga itu emang nyenengin. Apalagi kalau mau dimalu-maluin. 

Ngomong-ngomong soal malu-maluin, aku sempat berandai-andai gimana jadinya kalau aku ketemu sama Yoga Akbar Sholihin dan Robby Haryanto. Apakah aku bakal malu-maluin mereka juga? Atau mereka yang bakal malu-maluin aku? Atau kami bakal membuat kemaluan bareng? 

EH MAKSUDNYA, MEMBUAT HAL MEMALUKAN BARENG-BARENG. 

Walaupun cuma akrab di internet, baik itu di blog, media sosial, ataupun grup chat WIRDY, aku udah ngerasa deket sama mereka berdua. Sama Wulan dan Darma juga, tapi yang intens komunikasiannya tiap hari sih sama Yoga dan Robby. Wulan sibuk mencari pundi-pundi uang untuk operasi payudara biar kayak Pamela Duo Serigala, sedangkan Darma sibuk mencari perawan mirip Pamela Duo Serigala di Turki. 

Banyak yang kami bertiga obrolkan bareng. Baru-baru ini ngobrolin (atau lebih tepatnya mem-bully) Robby. Nggak nyangka, ternyata calon mahasiswa bertampang mahasiswa semester 5 itu suka gonta-ganti pacar. Robby pernah curhat terang-terangan dengan sikap jumawa, kalau tiap tahun ajaran baru, pacarnya juga baru. Terus dia juga suka share foto cewek-cewek. Yang paling aku ingat, waktu itu nge-share foto cewek udelan. 

Maka dari itu, aku dan Yoga mendaulat Robby sebagai The Next Zarry Hendrik.

Selain buat nge-bully Robby, grup juga sering dipake buat curhat-curhatan. Apa aja dicurhatin. Menurutku, kami sama-sama nggak nyari solusi dari curhat, tapi yang kami cari adalah kelegaan. 

Kayak yang dibilang Katherine Langford, pemeran Hannah Baker di 13 Reasons Why. 

Yes, Nah. Hannah.
Aku berharap bisa ketemu Yoga dan Robby secara langsung. Dan kayaknya memang seru kalau kami jalan bertiga. Buka puasa bareng. Main ke Kalijodo. Nonton film pendek Sandera.

AAAAAAAAAAAK. PENGEEEEEEN!!!!!! 

Pas ketemu, pake baju blogger kayak gini. Aaaak!!
Btw, aku nulis ini sambil dengerin salah satu ost-nya 13 Reasons Why, judulnya Mess Is Mine. Berimpian kayak gitu sambil dengerin Mess Is Mine, bikin aku ngerasa nggak sendirian. 

Selama ini aku salah karena ngerasa sendirian dan ngerasa bertiga itu bertega. Ternyata aku masih punya banyak teman yang walaupun jumlahnya nggak seberapa, tapi hadirnya begitu terasa. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Masih ada yang mau ngerasain kebahagiaanku, kesedihanku, kelebihanku, kekuranganku. Dan kacaunya aku. 

Bagiku, lagu seromantis Mess Is Mine maknanya kayak gitu. Bukan cuma ditujukan buat lawan jenis yang kita cintai kekurangan dan kelebihannya. 

Aku nggak pernah sendirian. Kamu nggak pernah sendirian. Kita nggak pernah sendirian. Teman murni yang akan selalu menemani. Mau itu cewek kek, cowok kek. Yang penting niat murni temenan. Bukannya yang ada maunya aja. Mau modus, misalnya.

Dengan tulisan ini, aku pengen ngucapin makasih buat rekan-rekan dalam formasi bertigaku. 

Makasih, karena nggak pernah ngebiarin aku sendirian. Terlebih di bulan Ramadan ini.


Note: Oh iya, ini tulisan project WIRDY bertema kalimat pertama sama. Punya Robby bisa dibaca di SINI. Punya Yoga di SINI. Wulan nulis juga di SINI. Dan Darma... dia nggak suka BDSM. Makanya nggak ikutan nulis.

Tambahan, tulisan ini terinspirasi dari Percaya Sama Kita-nya Kresnoadi. Dan dari foto-foto #BEARBRAND yang akhir-akhir ini gentayangan di media sosial.

Yuhuuuu.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com