Minggu, 04 Desember 2016

Mencintai Kamu yang Lain

Beberapa hari belakangan ini aku suka nonton film tentang pernikahan, selain tetap suka nonton film tentang perkawinan. Kalian pasti tau perbedaan antara pernikahan dan perkawinan. Termasuk kakakku. Yang selalu bilang kalau aku harus nikah dulu baru boleh kawin. 

Film tentang pernikahan yang aku tonton yaitu Blue Valentine dan The One I Love. Dua film yang setahun lalu pernah kutonton karena baca tulisannya Tommy yang INI. Dua film yang nggak aku simak banget. Aku malah nyeriusin nonton Dogtooth karena waktu itu aku ngerasa lebih related sama film tentang keluarga disfungsional itu daripada sama Blue Valentine dan The One I Love. 

Sampai akhirnya libidoku naik buat nonton film tentang hubungan pasangan pernikahan. Aku mutusin buat nonton ulang kedua film itu. Alasannya sederhana. Karena pengen nikah. Hehe. Hehe. He...

EH, BUKAN SIH. TAPI KARENA PENGEN TAU KEHIDUPAN PERNIKAHAN DI FILM AJA.

Dan aku dapatin banyak pelajaran dari dua film itu. Dari Blue Valentine, aku dapatin pelajaran kalau nikah itu bukan sekedar ena-ena belaka. Pas masih pacaran mesra, pas udah nikah belum tentu. Banyak masalah yang bisa datang mengganggu. Dari masalah mantan pacar sang istri sampe pekerjaan serabutan sang suami. 

Aku suka beberapa fakta selama pembuatan Blue Valentine. Proses syutingnya sempat tertunda dari umur Michelle Williams, pemeran utama wanitanya itu 21 tahun sampe 27 tahun karena kendala biaya. Pemeran utama prianya, Ryan Gosling, dan Michelle Williams harus menyewa rumah untuk mereka berdua tempati demi mendalami karakter mereka sebagai sepasang suami-istri. Mereka juga harus menurunkan dan menaikkan berat badan mereka demi memainkan adegan masa pacaran dan masa udah nikah. 

Sungguh sebuah totalitas kejingsengan yang patut diapresiasi. 

Tapi aku ngerasa The One I Love lebih bajingseng daripada Blue Valentine sih. Film bergenre drama comedy yang bikin aku seolah kehilangan akal sehat karena ceritanya yang absurd dan aneh. 

Sumber: Google Image

The One I Love bercerita tentang pasangan suami-istri bernama Sophie (Elisabeth Moss) dan Ethan (Mark Duplass) yang datang ke marriage therapist untuk memperbaiki rumah tangga mereka. Beliau nyaranin Sophie dan Ethan buat berlibur ke sebuah villa. Beberapa pasangan suami istri bermasalah yang pernah dikandangkan di sana, begitu pulang, ngerasa kalau hubungan mereka terlahir kembali. Bak korban rayuan Dimas Kanjeng yang dijanjikan uangnya bisa digandakan, Sophie dan Ethan pun tergiur engas ke villa itu demi menumbuhkan kembali benih-benih cinta di antara mereka. 

Sesampainya di sana, ternyata villa itu bukan sekedar villa. Ada hal aneh di sana. Ada ‘kembaran’ mereka atau yang disebut sebagai doppelganger. Doppelganger di film ini dan doppelganger di game werewolf punya pengertian yang berbeda. Kalau di game werewolf, doppelganger adalah pewaris peran dari pemain yang udah mati, maka di film ini doppelganger adalah kembaran Sophie dan Ethan tapi versi udah di-upgrade. Alias Sophie dan Ethan versi lebih baik. Mulai dari segi fisik maupun sifat. 

Nah, dari situlah konfliknya dimulai. Sophie dan Ethan menyelidiki siapa dan apa sebenarnya kembaran mereka itu. Apa mereka itu alien atau roh halus? Tapi lama kelamaan niatan itu berubah haluan. Seenggaknya itu yang terjadi pada Sophie. Perempuan imut dengan rambut pendek menggemaskannya itu jatuh cinta sama doppelganger-nya Ethan. Dan Ethan asli harus berjuang merebut kembali hati istrinya itu. 



Ngomong-ngomong soal merebut hati, review The One I Love dari Niken Bicara Film merebut hatiku. Ini sudah kedua kalinya aku nyeletuk “Anjir, sependapat banget sama lubangan ini satu!” pas baca review-nya setelah dulu pernah ngebaca review My Stupid Boss. Apa yang ditulis Niken bener-bener bisa mewakili apa yang aku rasain. Aku sempat kebingungan mau nulis The One I Love kayak gimana lagi. Tapi untuk film seaneh The One I Love, memang harus dibuatkan review bapernya. 

The One I Love nggak masuk akal, tapi anehnya bikin yang nonton nerima aja gitu. Seenggaknya itu berlaku sama aku. Aku nggak terlalu musingin darimana kembaran Sophie dan Ethan itu berasal. Aku menikmati keanehan itu sambil ngikik geli ngeliat tingkah laku Ethan dan Sophie juga doppelganger-nya mereka itu. 

Sumber: Niken Bicara Film

Mungkin karena saking menikmatinya, aku ngerasa ketakutan habis nonton film bergenre drama komedi ini. Pas browsing soal filmnya, aku ada liat foto Sophie dan Ethan yang lagi senyum. Entah kenapa aku ngerasa ngeri sendiri. Trus aku jadi takut sendirian di kamar. Bawaannya pengen liat sekeliling. Dan tiba-tiba kebayang di depan pintu kamarku ada kembaranku. Ada ‘aku yang lain’ lagi natap aku. 

ANJIR. AKU NGETIKNYA SAMBIL DEG-DEG AN ANJIR. BANGKE AKU TAKUT BAJINGAAAAK AAAAAAAK!!!!

Bikin aku pengen nyumpahin sutradaranya, 

“FILM DRAMA KOMEDI PALKONLU PECAH!”

Tapi bukan berarti aku benci film ini. Nggak. Aku suka banget sama film ini. Dengan modal pemainnya yang cuma tiga orang, trus tempatnya juga cuma di rumah therapist dan di villa, film ini mampu bikin yang nonton ngerasa nggak bosan. 

Dan yang paling utama, aku suka sama ide ceritanya. Seperti halnya aku yang jatuh cinta sama Dogtooth karena mampu menggambarkan gimana jadinya kalau ada keluarga disfungsional parah, The One I Love mampu membawa penontonnya berpikir lebih jauh soal mencintai pasangan apa adanya. Tentunya dengan cara yang aneh. Sama kayak gaya 69 yang aneh tapi mampu memberikan kenikmatan bercinta sampai klimaks. 

Ceritanya yang udah aneh, untungnya nggak didukung dengan karakter di filmnya yang aneh juga. Aku suka karakter Sophie. Istri yang cute. Kalau disandingin sama Ethan, Sophie udah kayak anak kecil binal yang nikah sama orang tua malas hidup. Sebenarnya nggak binal, cuma body-nya itu lho, sintal dan mulus. Tipikal badan sashimi girl, perempuan yang badan telanjangnya dijadiin tempat menyajikan makanan di restoran daerah Blok M, Jakarta. 




Tapi yang paling penting, aku suka Sophie karena dia adalah istri yang tegar. Permasalahannya sama Ethan bikin aku mikir kalau Ethan cukup brengsek juga. Sophie memaafkan Ethan, dan ngusahain banget pernikahannya itu supaya nggak hancur dengan datang ke terapis nikah. Demi mengembalikan rasa saling mencintainya mereka. Sungguh, Sophie adalah istri idaman. 

Rasa sukaku ke Sophie makin nambah pas nonton adegan Sophie jatuh cinta sama Ethan doppelganger. Dari segi penampilan, Ethan doppleganger lebih seger daripada Ethan asli. Dari segi sifat, Ethan doppelganger lebih humoris, lebih romantis, dan lebih antusias sama Sophie. Beda sama Ethan asli yang cenderung kaku. Aku nganggap kalau Ethan asli akhirnya dapat karmanya juga. Aku ngerasa kalau aku jadi Sophie, aku juga bakal jatuh cinta sama Ethan doppelganger. 

Sungguh, aku adalah calon istri yang berpotensi main serong.

EEH. ENGGAK GITU BAJINGAK. 

Dan ya, emang nggak gitu. Karena pas menjelang ending, aku sadar kalau Ethan asli sayang banget sama Sophie. Dan seharusnya Sophie milih Ethan asli karena Ethan asli itu suaminya, sedangkan Ethan doppleganger itu bukan. Lagian juga Ethan doppelganger itu palsu, nggak nyata. 

Ethan asli dan Ethan KW 19.
Pas selesai nonton filmnya, aku juga sadar kalau kita semua pasti pernah berimajinasi liar tentang pasangan kita. 

Bukan, bukan berimajinasi gimana dia melumat bibir kita atau ‘menggoyangkan’ kita. Tapi berimajinasi gimana jadinya kalau pasangan kita itu begini, pasangan kita itu begitu. Misalnya pasangan kita itu orangnya cuek, trus kita berimajinasi kalau dia itu romantis. Kita pasti pernah berpikiran hidup kita bakal lebih bahagia kalau pasangan kita sesuai sama apa yang kita harapkan. Kita ingin sosok pendamping hidup yang sempurna. Hal itu yang coba ditampilkan oleh The One I Love. Ditampilkan dengan cara yang unik, yaitu ngebawa-bawa doppelganger. Sama uniknya dengan film Ruby Sparks yang ngebawa-bawa cerita gadis impian sang penulis yang ditulis di novel jadi nyata. 

Tapi menurutku, makna mencintai dan dicintai yang hakiki bukan itu. Mencintai yang kita harapkan, dicintai sama orang yang sempurna. Bukan. Seandainya kalau mencintai dan dicintai harus bermakna kayak gitu, kita bakal kayak Calvin di film Ruby Sparks, yang selalu ngerasa nggak puas bahkan sama gadis fiksinya sendiri. Kita bakal kayak Sophie yang mencintai orang tak nyata. 

Seandainya aku punya pasangan dan aku malah cinta sama doppelganger-nya pasanganku, mungkin aku nggak bakal tau seberapa besar rasa takut kehilanganku. Aku bakal ngerasa tenang dan baik-baik aja karena mikir, 

“Ah, dia kan selalu nurut sama aku. Dia nggak bakal pergi.” 

Aku bakal nganggap hubunganku datar-datar aja. Bahkan nggak berarti. Karena nggak ada yang aku korbanin, minimal ngorbanin air asin yang mengalir dari mata. 

Aku bakal nggak paham apa itu intuisi atau firasat. Ya sebenarnya nggak paham-paham banget sih. Cuman ya, kalian pernah nggak sih ngerasain dia baik-baik aja, dia nggak selingkuh, dia nggak berpaling, di saat orang-orang pada bilang sebaliknya? Orang-orang yang ngebaca apa yang dilakukan pasangan kalian itu salah. Kalian sempat goyah dan kecewa sama pasangan, tapi keyakinan dalam hati masih ada. Jadi, goyah dan kecewanya cuma sebentar. Pernah nggak sih ngerasain kebajingakan itu? 

Aku bakal...

Ah. Pengen rasanya bisa ngomong, 

“Aku nggak bakal cinta kamu yang lain. Aku cinta kamu yang begini aja.”



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 26 November 2016

Kangen(in) Band

Walaupun jaman sekarang banyak rapper Indonesia karbitan yang bermunculan, tapi hal itu nggak mempengaruhi para pecinta band buat nggak menantikan band kesayangan mereka ngeluarin album atau single terbaru. Dan penantian mereka terbayarkan. 

Contohnya, para fans Simple Plan bisa bersuka cita mendengarkan lagu terbarunya Simple Plan, berjudul Singing In The Rain. Penantian para fans Greenday selama empat tahun nggak terasa apa-apa saat lagu Bang-Bang-nya band tersebut dirilis beberapa bulan kemarin. Dan aku tersenyum engas, pas tau kalau Maroon 5 ngeluarin single terbaru berjudul Don’t Wanna Know. Duet bareng salah satu rapper favorit, yaitu Kendrick Lamar. Senengnya aku udah kayak dilamar! 

Tapi kembalinya Maroon 5 setelah vakum itu nggak memuaskan. Kebiasaan Adam Levine gantengku yang suka pake teknik falsetto kalau nyanyi, nggak menonjol di Don’t Wanna Know. Mana part-nya Kendrick Lamar sedikit aja anjir. Trus pas di MV (music video) itu, part-nya Kendrick Lamar dihilangin. Jingeks! Lalu konsep MV-nya juga tentang Pokemon Go gitu. Bagus sih. Tapi bikin bingung nyambungnya apa.sama makna lagunya yang tentang masih sayang mantan gitu. Aku jadi kesel dengerin lagunya. Bajingak kelas teri! Begundal!

Tapi seenggaknya suaranya Adam Levine masih asoy didengar. Berhasil menuntaskan rindu para fansnya. Ngebuktiin kalau mereka masih eksis. 

Aku jadi kepikiran gimana nasib para Doy Kangen, sebutan untuk para fans Kangen Band. Para fans band asal Lampung itu pasti kecewa band kebanggaan mereka udah lama nggak ngeluarin album. Eh Kayaknya ada deh. Dengan vokalis baru. Auk dah yang mana orangnya.

Berpose tangan sedekap kayak penjaga perpustakaan.
Pose yang edukatif.
Sumber: Blog awal Berdirinya Kangen Band

Entahlah. Yang jelas aku baru nyadar kalau aku pernah jadi Doy Kangen. Buku diary-ku waktu SMP membuktikan itu. Aku ada nulis lirik salah satu lagunya Kangen Band di buku diary-ku itu. Yaitu lagu Doy. 



Nulis lirik lagu di buku diary-ku pake gambar-gambar norak gitu lagi. Mana tulisan kayak cacing pita gitu. Huhuhu.

Aku pun iseng dengerin lagu Doy. Dan baru nyadar kalau Doy ternyata keren juga.


Doy bercerita tentang cowok yang nggak ngerti sebenarnya maunya pacarnya itu apa. Sikap pacarnya berubah. Padahal si cowok udah ngelakuin apa yang ceweknya mau. Udah berusaha semampunya. Tapi si cewek masih nggak ngerasa terpuaskan gitu. 

Makna lagu Doy ngingatin aku sama What Do You Mean-nya Justin Bieber. Lantas aku berdecak kagum. Andhika dkk lebih dulu ngangkat tema bingung-maunya-cewek-itu-apa duluan. Dari segi MV juga lebih bagus punya Doy-nya Kangen Band. Bagus karena jelas maksudnya apa. Di MV-nya itu, Andhika dkk ngomong nanya langsung ke ceweknya. Nggak kayak Justin Bieber yang apaan-sih-pake-ngerencanain-penculikan-pura-puraan gitu. MV-nya Doy jauh lebih mewakili makna lagunya dibandingkan What Do You Mean-nya Justin Bieber. 

KEREN BANGET BAJINGEK! JUSTIN BIEBER CUMA MENANG DI KOLOR CALVIN KLEIN DOANG! 

Lalu aku semakin sadar. Kalau dilihat dari lirik, Kangen Band adalah band yang pemikir. Maksudnya, lirik mereka itu ada yang kayak puisi gitu. Romantis. Ya, walaupun di beberapa lagu ada yang nggak baku gitu sih bahasa kayak percakapan sehari-hari. Tapi yang jelas, masih lebih kelihatan kalau dibikinnya pake mikir. Nggak kayak Panjat Sosial-nya Roy Ricardo feat. Lula Lahfah & Gaga Muhammad. Verse-nya ada yang nggak berima gitu. Pake ada kata-kata “Konichiwa.” Nggak ngerti maksudnya apa. Kenapa nggak masukin kalimat “Ikkeh-ikkeh kimochi,” juga sekalian? Biar makin total gitu pake bahasa Jepangnya.

Kangen Band juga nggak pernah bikin lagu yang liriknya kasar dan kotor. Pas mereka dihina, dicaci, dan dimaki banyak orang dari berbagai kalangan, mereka nggak ada bikin lagu buat haters gitu. Mereka juga nggak pernah bikin video klarifikasi yang isinya membedah lagu-lagu mereka dan memberikan penjelasan, supaya pemikiran para haters yang tadinya negatif jadi positif. Pokoknya Kangen Band nggak kayak Young Lex dan Awkarin.

Lagu-lagu Kangen Band juga lebih ‘manusiawi’ daripada lagu para rapper karbitan. Kebanyakan galau dan menye-menye, tapi masih lebih nyaman didengar. Daripada lagu tentang nyombongin karir, haters, dan potong-aja-itunya. Kayaknya lebih mendingan kalau bocah-bocah pada demam lagu-lagunya Kangen Band yang tentang cinta-cintaan, daripada lagu-lagu para rapper karbitan yang liriknya pada kasar atau sombong itu. Huhuhuhu. 

Aku jadi kangen band. Aku kangen masa-masa di mana banyak band meramaikan ranah musik Indonesia. Termasuk band-band pop melayu, misalnya Kangen Band ini. Yang liriknya lebih manusiawi. Membentuk band dan mempertahankannya itu sulit daripada solo trus duet gitu kayak rapper karbitan jaman sekarang. Dan biasanya yang sulit dibentuk itu bertahannya lebih awet. Liat aja karir bermusiknya Kangen Band. Cukup lama, dari tahun 2005. Aku nggak yakin kalau Young Lex dan para rapper karbitan lain bisa bertahan lama juga. 

Ya, mungkin sekarang masa berjayanya band udah habis. Tapi yang jelas, aku jadi nggak pengen ngehina Kangen Band atau Young Lex dkk deh. Orang-orang di bawah ini juga berpikiran hal yang sama kayak aku, 

Dua Doy Kangen sedang berdiskusi.


Kami sama-sama pengen ngehargai karya mereka. Bukan karena takut ditodong pertanyaan,

"Emang situ punya karya sampe berani kritik karya orang?"

 Tapi karena ngerasa seperti yang dibilang di blog INI

"Setiap orang punya hak dan kesempatan untuk sukses dalam kehidupan yang singkat ini."

Yha. Gitu. Hehe. Bagi yang nggak suka Kangen Band, boleh timpuk kami. Tindihin. Tunggangin. Silakan. Kami ikhlas.

Btw, ini project nulis WIRDY. Kami bersama-sama ngebahas satu band gitu, dan entah ide ngebahas Kangen Band tercetus dari palkon siapa. Tulisan soal kangen band selain ini bisa dibaca di blog Wulan si perawan Pekanbaru, di blog Robby si adik kecil, dan di blog Yoga si Gemini bangsat.

Kalau Darma? Lagi sibuk mencari perempuan yang mau diperawanin.


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 23 November 2016

10 Soundtrack Pemuas Favorit

Tulisan kali ini terinspirasi dari tulisan-tulisannya Rido Arbain di blognya. Akang kesayangan Agia itu dengan gamblang membeberkan film-film favoritnya dari berbagai negara. Ada 10 film India favorit10 film Thailand favorit, dan 10 film Korea favorit. Aku berharap beliau bakal nulis tentang 10 film Perancis favorit. Soalnya film Perancis terkenal dengan keromantisannya dan sarat akan konten seksual. Pasti jadi tulisan yang menarik.... blogger kayak aku buat komen pake huruf kapital semua saking kegirangannya.

Tapi aku nggak membeberkan 10 film favoritku sih. Sesuai judulnya, aku pengen nulis soal 10 soundtrack yang telah memuaskan telingaku. Menjadikan aku sebagai pelanggan setia 'mereka.'

Sumber: Google Image

Kalau Bang Haris jatuh hati pada When Can I See You Again-nya Owl City dari film Wreck-It Ralph, dan Tata punya Lost Stars-nya Keira Knightley dari film Begin Again sebagai soundtrack favorit, aku punya 10 soundtrack favorit. Kalau ngikutin Rido Arbain, aku urutin berdasarkan dari favorit ke favorit-banget-anjir-bajingak-banget. Ini dia!


1. White Flag – Dido (Mommy) 
Lagu yang rilis tahun 2003 ini udah sering aku denger waktu SD, tapi aku sukanya pas dijadiin soundtrack film Mommy keluaran tahun 2014. Film tentang hubungan disfungsional antara ibu dan anak itu bikin aku ngerasa related, dan aku jadi suka sama hampir semua lagu-lagu yang jadi original soundtrack-nya. Padahal lagu-lagunya pada nggak nyambung sama scene atau jalan cerita filmnya. Termasuk lagu ini. 


Menurutku White Flag ini auranya mirip-mirip sama Gagal Bersembunyi-nya The Rain. White Flag ditujukan buat orang-orang yang masih keukeh aja sayang sama mantan. Masih sayang, walaupun udah tau kalau si mantan udah males banget sama dia. Masih sayang, walaupun udah tau kalau si mantan nggak mau kenal dia lagi. Masih sayang, walaupun udah tau kalau nggak bakal dapat jatah mantan.



2. Jai Ho – Pussycat Dolls, A.R Rahman (Slumdog Millionaire)
Lagu ini ngingatin aku sama momen waktu ikut pemilihan anggota dance buat acara perpisahan anak kelas tiga, pas aku masih SMP. Waktu itu pake lagu ini, dan waktu itu aku nggak terpilih. Hiks. Aku memang nggak bisa goyang. Tapi kalau goyangin kamu, aku jamin bisa, Bang. 



Sebenarnya yang versi India itu lebih bagus sih. Lebih ngingatin sama banyak scene romantis, lucu, dan mengharukannya Jamal dan Latika. Tapi aku lebih suka versi bahasa Inggris ini. Selain karena dulu aku pengen banget punya kulit eksotis kayak Nicole Scherzinger, juga karena lagu ini cocok banget dinyanyiin pas lagi kasmaran-kasmarannya. Terutama pas nyanyiin yang ini, 

“You are the reason that I still believe. 
You are my destiny. 
Jai Ho!”

Liriknya manis banget njir.



3. Na Xie Nian – Hu Xia (You Are Apple of My Eye)
Denger intronya aja aku udah mau nangis. Padahal nggak tau arti lagunya apa. Yang jelas aku yakin, arti lagunya pasti nyambung sama adegan demi adegan di film You Are The Apple of My Eye. Terutama di adegan Ko Chin-Teng melakukan tindak asusila ke suami Shen Cia-Yi. 



Dengan penggunaan bahasa Mandarin dan durasinya yang sampe enam menit, lagu ini sama sekali nggak membosankan. Selalu sukses bikin aku terhanyut di dalamnya. Apalagi pas di alunan biolanya, pas di pertengahan lagu. Bajingaaaaaaak! Menyayat-nyayat hati banget. Jadi keingatan adegan Ko Chin-Teng yang kehujanan di jalan pulang dari tempat potong rambut. 

Trus bikin keingatan sama diri sendiri. Muka jadi serasa basah kuyup. Nangis. Kayaknya mustahil deh, yang baper pas nonton filmnya, nggak baper pas dengerin ini. Baik yang lubangan maupun batangan. 



4. You Don’t Own Me – Grace ft G-Eazy (Suicide Squad)
Banyak yang bilang kalau Suicide Squad itu unggul dari soundtrack-nya doang. Jalan ceritanya mah kacos. Aku setuju sih, mengingat semua lagu yang jadi soundtrack-nya itu bagus-bagus. Rada susah buat nentuin yang mana yang jadi favorit. Sampe akhirnya aku memilih lagu ini. 



Alasannya, karena lagu ini paling lama bikin aku eargasme dibanding lagu-lagu lainnya yang jadi soundtrack Suicide Squad. Makna lagu ini bagus, tentang cewek independen yang menolak didoktrin laki-laki. Aku paling suka kalimat di liriknya yang, 

“You don’t own me.
Don’t try to change me in a way.”

Tapi You Don’t Know Me cover version ini nggak kalah keren sama versi yang dinyanyiin Lesley Gore. 

Dengan adanya verse rap dari G-Eazy dan suara Grace yang powerful, lagu ini lebih aku sukain daripada versi aslinya. Karena makes me feel badass. Nyanyiin lagu ini enak sambil teriak-teriak. Kalau udah gitu, aku ngerasa jadi kayak masokis yang akhirnya bisa melepaskan diri dari jeratan pelaku sadisme seksual. Rasanya kayak lagi kerasukan Harley Quinn, tapi Harley Quinn versi akhirnya-sadar-kalau-selama-ini-Joker-cuma-manfaatin-dia-aja. 



5. Littlest Things – Lily Allen (Love, Rosie)
Kalau nggak salah, lagu ini muncul pas adegan Rosie nikah sama orang yang dulunya berjasa nyangkutin kondom di area kewanitaannya. Auk aku lupa. Yang jelas, dari film Love, Rosie, yang paling membekas ya lagu ini. 


Suara Lily Allen yang lembut dan liriknya yang curhat abis, bikin kemelankolisanku kumat. Lagunya tentang putus cinta. Si cewek dalam lagu ini nyeritain masa-masa indah waktu masih sama mantannya. Banyak hal di sekitarnya, yang bikin dia keingatan sama si mantan. Kalimat di liriknya yang, 

“There’s no one in the world who could replace you.”

Sempat aku jadiin pedoman hidup waktu masih sama Zai. Dulu baperin lagu ini dalam keadaan bingung sama hubungan kami berdua. Begitu denger lagu ini, aku seolah disadarkan kalau aku bakal semenderita Allen kalau putus sama Zai. Tapi pada kenyataannya, pas akhirnya putus sama Zai, nggak menderita juga sih. Akunya aja yang lebay. Sungguh bajingak. Rosie di film Love, Rosie yang hamil di luar nikah dan gagal kuliah aja nggak ngerasa kalau dirinya dalam penderitaaan. Apalagi kalau cuma putus cinta. 



6. La Valse d’ Amelie – Yann Tiersen (Amelie)
Cuma instrumental, tapi kerennya kurang ajar banget! Sama kayak filmnya, soundtrack-nya juga bikin mood jadi baik. Mengingat kalau aku orangnya moody-an, aku suka dengerin ini tiap pagi demi menjaga mood agar tetap baik sepanjang hari. Aku ngerasa aura positif yang ada pada Amelie, bisa tersalurkan dengan dengerin instrumental ini. 



Tiap denger ini, aku suka kebayang adegan demi adegan di film Amelie. Aku masih aja kagum sama film asal Perancis itu. Ide ceritanya bener-bener nggak biasa. Dan tokoh utamanya juga nggak biasa. Seorang introvert dengan masa kecil yang nggak bahagia, tapi jadi orang yang membahagiakan. Begitu juga dengan instrumental ini. Nggak ada liriknya, tapi bermakna banget buatku.

Bikin aku mikir kalau cinta itu nggak harus diungkapin dengan banyak berkata manis. Bisa diungkapin dengan perbuatan. Dengan french kiss misalnya.



7. Montage – Andy Hull, Robert McDowell, Daniel Radcliffe and Paul Dano (Swiss Army Man)
Baru-baru ini aja sih dipuasin sama lagu ini. Kalimat di liriknya yang, “Pop pop corn. Ah da da da,” itu lucu didengerinnya! Trus menurut Reyhan, kalau denger lagu ini sambil tutup mata, serasa bebas. Semacam ada suasana hutan dan pulau. Lagu yang cocok banget buat theme song acara My Trip My Adventure kayaknya. 


Tiap dengerin lagu ini, aku ngerasa kayak lagi ikut serta dalam petualangan Manny dan Hank, dua tokoh di film Swiss Army Man. Serasa kayak punya persahabatan sejati sekaligus absurd kayak persahabatannya mereka berdua. Dan kalau didengerin ini pas lagi di jalan, entah itu naik motor atau mobil, serasa kayak lagi naik jet ski dengan tenaga gas busuknya Manny. Bebas, lepas, dan berangin.



8. The Last Waltz – Cho Young-Wuk (Oldboy)
Sebenarnya susah nentuin aku favoritin yang ini atau yang Cries and Whispers. Dua-duanya sama-sama bagus. Sama-sama ngingatin dengan adegan-adegan keren di film Oldboy. Tapi kalau Cries and Whispers nimbulin kesan traumatik mendalam, bikin hati tersayat-sayat, The Last Waltz bikin merinding. 


Bukan karena serem, tapi karena manis sekaligus miris. Instrumental yang satu ini bener-bener bikin aku bingung. Entah aku harus senang atau sedih pas dengernya. Soalnya alunan musiknya itu rada ceria kalau dibandingkan sama Cries and Whispers.

Bingungnya aku udah kayak bingungnya Oh Dae-Su, tokoh di film Oldboy, waktu Mi-Do bilang, “Aku cinta kamu,” ke dia. Oh Dae-Su bingung antara sedih atau senang mendengar pernyataan Mi-Do. Dan aku suka kebingungan itu. 



9. I Tuoi Fiori – Etta Scollo (Bad Guy)
Rasanya baru lagu ini yang bikin aku ngalamin momen jatuh cinta sama soundtrack film padahal belum nonton filmnya. Udah nonton sih, tapi skip-skip doang gitu. Mentalku sebagai anak polos belum siap melahap film Kim Ki Duk yang judulnya Bad Guy itu. Filmnya bercerita tentang hubungan cinta absurd antara penculik dengan yang diculik. Unsur seksualnya kental abis, pake bawa-bawa rumah bordir segala. Hubungan percintaannya itu juga aneh. Cukup film Kim Ki-Duk misalnya Pieta, Moebius, dan 3 Iron Man aja yang merusak kepolosanku.... saat ini. Ntar yang Bad Guy aku bakal tonton. Mhuahahahahaha. 


Balik bahas ke soundtrack. Jadi, aku suka banget sama soundtrack ini. Walapun nggak tau sama sekali artinya apa, lagu Italia yang dinyanyiin penyanyi usia 58 tahun ini kedengaran romantis dan sensual aja di telingaku. Kedengeran miris juga sih. Bikin melankolisku kumat. 

Dan bikin rasa kagumku sama Kim Ki-Duk juga bangkit. Selain film Oldboy, film-film karya sutradara nyentrik itu juga bikin aku ngubah pandanganku soal film Korea. Kim Ki-Duk itu sinting! Film-filmnya pada bajingak. Bahkan yang judulnya Pieta, yang menurutku udah sinting-bijingek-kok-bisa-kepikiran-gitu-ceritanya-njir, adalah film Kim Ki-Duk yang lebih normal daripada filmnya yang lain. Kim Ki-Duk juga punya selera musik yang aneh dan bagus. Aneh aja gitu, dia milih lagu Italia buat jadi soundtrack Bad Guy-nya. Dia juga milih lagu Arab berjudul Gafsa buat jadi soundtrack 3 Iron Man. 

SINTING! TAPI AKU SUKAAA!



10. The Moon Song – Karen O (Her)
DAN INI DIAAA!! SOUNDTRACK PALING FAVORIT DARI FILM FAVORIT! 

Lagi-lagi aku harus pake kalimat, “Manis sekaligus miris,” tapi buat lagu ini. Ya, kisah cinta antara manusia bernama Theodore dan OS (Operating System) bernama Samantha juga manis sekaligus miris. 

Lagu ini terlalu indah. Mau versi Karen O yang nyanyiin kek, mau versi di film yang Scarlet Johansson nyanyiin kek, sama aja indahnya.


Aku suka banget lagu ini karena aku suka filmnya, bikin aku dengan senyam-senyum nulis review filmnya di SINI.

Entah aku harus ngetik apa buat ngungkapin betapa cintanya aku sama lagu ini. Pengen rasanya aku kayak Theodore yang tinggal ngomong aja trus terketik secara otomatis di komputer. Lagu yang nggak kalah bagus sama filmnya. AAAAK!!!!!!

Mungkin lagu ini bermakna biasa aja buat orang lain karena liriknya nggak romantis-romantis banget. Mungkin lagu ini nggak ada istimewa-istimewanya karena modal ukulele doang. Hal itu ngingatin aku sama komentar di Youtube. Di video lagu ini. 

“You’ll get this song if you’re a million miles away from someone.”

Jadi ya, lagu ini bakal terdengar bajingak-indah-sekali, bagi orang-orang yang lagi ngalamin kayak komentar di atas. Ya. Gitu. 



Sebenarnya masih banyak soundtrack yang memuaskan aku selama ini. Contohnya Only Hope-nya Mandy Moore dari film A Walk To Remember, semua lagu dari 500 Days of Summer, dan Lingsir Wengi dari film Kuntilanak. Tapi bagusnya memang sampe 10 aja sih. Dan ini aja udah kepanjangan. Kalau kepanjangan dan kegedean juga nggak enak. Bikin sakit dan nyeri, girls.




Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 16 November 2016

Fantastic Scars and How To Heal Them

Bioskop lagi bajingak-bajingaknya bulan ini. Banyak film bagus yang tayang dan wajib ditonton bersama orang tersayang. Tapi situasi dan kondisiku buat ngelahap film-flm itu lagi nggak mendukung. 

Beberapa hari yang lalu, waktu aku mau nonton Hacksaw Ridge, Mamaku kedapatan lagi sakit. Tekanan darah tinggi beliau semakin parah dan nambah penyakit satu lagi, yaitu vertigo. Malam yang aku bayangkan bakal dihabiskan dengan nonton Andrew Garfield sambil nangis-nangis karena katanya filmnya itu sedih, aku habiskan dengan nontonin Mama yang dibujuk buat makan tapi nolak mulu, sambil nangis-nangis. 

Besoknya, Mamaku masuk rumah sakit buat dirawat inap. Aku batal nonton Hacksaw Ridge lagi. Dan sekarang, aku juga batal nonton Fantastic Beasts and Where To Find Them. 

Hei kamu, jadi apa prok prok prok!
Sumber: Google Image

Selain karena Mamaku masih dirawat inap, juga karena aku nonton film buatan sendiri di rumah. Judulnya Fantastic Scars and How To Heal Them. 

Alias, aku lagi sakit. Bukan, bukan sakit chlamydia atau penyakit kelamin lainnya, tapi habis kecelakaan motor bajingak tadi pagi. Lukanya nggak banyak sih. Cuma di lutut dan di sikut. Trus paha lebam, bokong keram. Motorku yang luka parah, sampe dirawat inap di bengkel. Huhuhuhu.

Ya, jadi gitu. Pagi tadi aku baru pulang dari rumah sakit habis jagain Mamaku. Pulang bareng Kak Fitri, bikin aku nggak bisa mengendarai motor dengan kecepatan tinggi dalam rangka mengejar waktu buat pulang ke rumah, mandi, trus berangkat kerja. Kak Fitri berkali-kali nyaranin aku buat biasa aja bawa motornya, dan nyuruh aku buat minta izin ke SPV-ku kalau datang ke kantornya agak telat. Aku pun nurut dan bawa motor dengan sesantai mungkin.

Tapi entah karena melamun, ngantuk, atau apa. Pas mau belok, ada motor dari arah kiri. Kak Fitri udah ngasih tau aku buat baiknya ngalah aja ntar dulu tunggu motor itu lewat. Dan aku juga liat. Tapi akhirnya aku tetap aja jalan terus. 

Dan ketabrak. Dan jatoh. Dan ketindih motor sendiri. Dan dipeluk Kakakku yang juga jatoh, dari belakang. Dan nangis. Dan diangkat sama entah-aku-nggak-tau-siapa-namanya-tapi-ena-rasanya. Huehehe. Hehe. Hehe. 

Setelah duduk, minum air putih entah dari mana, dan nggak nangis lagi, aku diberondong sama permintaan maaf dari mas-mas yang nabrak aku. Dia ngejelasin kalau dia udah klaksonin aku berkali-kali. Aku cuma ngangguk-ngangguk sambil megangin bibirku yang perih karena kepentok aspal. Mikir kalau sepenuhnya mas-mas itu nggak salah. Atau memang aku yang salah. 

Aku pun pulang dianter mas-mas itu. Kak Fitri waktu itu di TKP, nunggu jemputan Kak Iin. Begitu nyampe rumah, aku ngelanjutin nangisku tadi. Aku langsung nelpon orang yang berkemungkinan nggak sibuk di jam segitu. Pikiranku tertuju ke Wulan. Aku langsung nelpon dia dan merusak gendang telinganya dengan tangisanku. Sungguh kekanakan sekali.

Masih belum puas, aku nyobain video call via Whatsapp sama Dina. Dia ngetawain aku sepanjangan aku cerita soal kecelakaan receh itu. Habis itu aku telponan sama Kak Ira. Meskipun aku nggak bisa liat, tapi aku yakin setiap kalimat yang dia ucapin di telpon, diiringi dengan gelengan kepalanya. Sambil menggumam, 

“Ini anak senang banget dah nambah-nambahin masalah orangtuanya.”

HUHUHUHUHU.

Sekarang udah biasa aja sih. Nyatanya aku bisa nulis kayak sekarang. Jadi kayak Yoga yang walaupun lagi sakit tapi tetap bisa nulis. Atau kayak Pangeran Wortel yang habis kecelakaan motor parah juga tetap bisa nulis. Dan aku nggak ada apa-apanya dibanding kakaknya Wulan yang kecelakaan motor juga beberapa minggu yang lalu. Kalian bisa baca ceritanya di SINI. Jadi, ya. Aku masih bisa bilang untung. Karena lukaku nggak parah. 

Tapi boleh nggak sih, aku nganggap lukaku ini fantastic scars? Boleh nggak sih aku bingung how to heal them? Bukan. Bukan luka di lutut dan sikutku. Tapi luka di hatiku. Mikirin Mamaku yang masih aja sakit. Mikirin di saat ada hal kayak gitu, sempat-sempatnya ada hal lain yang bikin hatiku terluka. Hal yang sebenarnya nggak bermaksud melukai. Tapi akunya aja yang lemah.

Oh yeah, udah lama nggak curhat gini di blog. Mhuahahaha. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 13 November 2016

Nge-BF Bareng Reyhan Ismail: Swiss Army Man

Tagline "We all need some body to lean on," pada film Swiss Army Man seolah memberiku sugesti kalau film ini nggak bisa aku review sendirian. Aku butuh seseorang buat ngebahas film bajingak ini bersama-sama. Bersandar pada pemikiran seseorang yang lebih terbuka daripada aku soal film ini. 

Sumber: Picture Play bajingak-blog-bagus-cerdas-panjang-ah-aku-suka-panjang

Sampai akhirnya yang Maha Pencipta mempertemukanku dengan makhluk bernama Reyhan Ismail. Blogger yang... halah. Aku udah pernah memperkenalkan dia di post INI. Tapi info terbarunya, Reyhan ini kembarannnya Niki Setiawan. Dan dia suka duluan sama Swiss Army Man daripada aku. Aku jadi excited buat nge-BF (Baperin Film) Swiss Army Man bareng dia. Perasaan yang sama kayak waktu direkomendasiin Tommy buat nonton Anomalisa.dan ngebaperin film itu bareng dia di SINI.

Swiss Army Man bercerita tentang Hank Thompson (Paul Dano) yang terdampar di pulau terpencil dan mutusin buat bunuh diri. Tapi niatannya itu ia urungkan begitu ngeliat sesosok mayat hidup bernama Manny (Daniel Radcliffe). Lalu mereka berdua memulai petualangan mereka buat keluar dari pulau bijingek itu.

Film ini sempat disangka Picture Play sebagai parodi film Cast Away-nya Tom Hanks. Tapi sebenarnya nggak sih. Dan sebenarnya juga filmnya nggak cuma ngandelin unsur kentut, sampah, bahasan fetish, obrolan soal masturbasi, dan hubungan aneh antara manusia putus asa dengan mayat jenaka. Tapi lebih dari itu. Seperti yang aku dan Reyhan muncratkan berikut ini.


Icha: Rey, mau nge-BF Swiss Army Man bareng nggak?

Reyhan: Boleh, Anastasya…

Icha: ANASTASYAAAAAAA!!!!!! Okelah, Mr. Rey.

Reyhan: Jadi gimana filmnya, Icha?

Icha: Filmnya aneh, Rey. Tapi bagus. Ada pesannya gitu soal kehidupan. Aku mau tanya deh. Awalnya kamu nonton itu karena apa?

Reyhan: Disaranin sama temen sih, Cha. Bahkan sebelumnya aku nggak pernah tau kalau Daniel Radcliffe mau jadi aktor film bangsat begitu.

Icha: Wkakakakaakakakaaka. Bangsat ini dalam artian muji atau gimana, Rey?

Reyhan: Bangsat dalam artian, merusak masa kecilku yg dipenuhi magic Harry Potter dengan mengubah perannya terhadap Daniel Radcliffe yang sangat keren, ganteng, dan cool. Menjadi MAYAT, BUSUK DAN MULTIGUNA!

Icha: AKU NGAKAK BAHAHA. Keliatannya Rey suka karakter yang diperankan Daniel Radcliffe, ya. Trus adegan yang paling disuka yang mereka di dasar laut itu ya, Rey? Alasannya apa? 

Rey: Yang di dasar laut atau yang di dalam laut, Cha? Soalnya yang mereka berdua di dalam laut itu aku juga suka. Bukan karena aku homo, tapi lebih ke kagum aja sama totalitas mereka berdua dalam meranin karakternya. Trus yang waktu Manny pergi dengan bahagia. Itu ekspresinya kayak dapet peran villager pas main werewolf.

Thats thug life, my brother :) - kata Reyhan. setelah kirim gambar ini

Icha: BAJINGAAAAK REEEEY!!! Eh iya yang di dalam laut maksudnya. Iya, Rey. Mereka totalisnya keren, ya. Eh tapi aku nggak paham deh. Kenapa Hank ngelakuin itu ke Manny?

Reyhan: Selain pengungkapan hasrat homo seksualnya Hank, mungkin untuk menambah oksigen yang ada di perutnya Manny supaya bisa menjulang ke atas sih menurutku.

Icha: Cerdas. Oh iya, emang dijelasin nggak sih kenapa Hank bisa ada di pulau itu? Atau emang nggak ada penjelasannya?

Reyhan: Di awal perasaan ada, Cha. Alasan kenapa Hank bisa ada di pulau itu. Tapi di film cuman menampilkan sebab Hank tersesat lewat kertas yang ditulis trus dimasukkin ke botol. Kalo menurut aku sih, justru pembuka filmnya itu yang unik. Di saat Hank memutuskan mau bunuh diri, di situ juga petualangannya dimulai. Semacam akhir film yeng baru dimulai. Ngerti nggak maksudku, Cha?

Icha: G.

Reyhan: Dasar bajigur!

Icha: HAHAHA. Oke. Akhir film yang baru dimulai. Iya sih. Aku pikir juga bakal nggak langsung ada adegan dia mau bunuh diri. Aku pikir bakal ada adegan lainnya. Eh ternyata enggak ada. To the point aja gitu. Manny nggak perlu waktu lama buat masuk.

Reyhan: Iya, Cha. Biasanya kalo pembukaan film yang wajar itu dibuka pake narator atau perkenalan dulu.

Icha: Trus menurut kamu, Rey. Pesan apa yang mau disampaikan dari film ini? Atau kamu ngerasa ada yang relate nggak sama kamu?

Reyhan: Wah bakal panjang nih kayaknya haha. Film ini menurutku mengajarkan tentang mindset yang salah dan kebiasaan yang menyiksa itu sering dianggap aneh oleh kebanyakan orng. Contoh kecilnya kentut di tempat umum itu dianggap aneh dan kurang sopan, walaupun kalau ditahan itu menyiksa. Nah, analogi ini yang coba dihubungkan Manny dengan kisah cinta Hank. Film ini mengajarkan tentang kehidupan. Trus kisah cinta Hank juga ngena sama kehidupan lelaki pemenang kayak gue.

Icha: Aku juga sependapat sama kamu. Film ini make analogi kentut buat nyampein pesan itu. Keren banget. Iya, Hank nyimpan perasaannya sama cewek itu. Nyiksa dirinya banget. But….

((LELAKI PEMENANG KAYAK GUE))

Oke.....

Nah kalau aku, Rey. Suka sama adegan-adegan yang aku kirim gambarnya ini.







Reyhan: Gambar pertama, mungkin itu yang dimaksud penis ajaib. Nah, yang kedua itu Manny lagi pake analogi sampah untuk menghina Hanky Pramono. Kalau yang ketiga mungkin dia pake analogi film BF yang merajalela smpai sekarang... Gambar keempat, aku jadi tau, ternyata gigi bisa juga berfungsi sebagai pencukur jenggot. Mahakarya Manny si manusia multiguna!

Icha: BANGKE BANGET. DIGITUIN SAMA KAMU SEGALAAAAAAA! REY NGESELIN! Eh. Manny juga ngeselin btw. Mulutnya polos-polos tajem.

Reyhan: Hahaha. Karakter Manny kalau bisa dibilang nggak tau apa-apa tentang kehidupan. Justru sutradaranya si Daniel menjadikan Manny ini untuk memicu analogi-analoginya masuk ke dalam film. Manny ini jadi ngingetin sama film PK. Manny nggak bermaksud menghina Hank, Cha. Si PK juga awalnya nggak tau apa-apa tentang kehidupan, agama dan budaya yang ada di sekelilingnya. Sampai dia nggak sadar menyinggung semua agama untuk mencari mana yang paling benar.

Icha: Oh! Dia memang mirip kayak PK! Pantesan aku kayak ingat siapa gitu kalau liat mukanya yang pucat dan ekspresinya yang kaku itu. So, aku salah mandang Manny. Dianya aja yang bego kelewat polos. Semua yang ada di kepalanya dimuncratin aja. Nggak disaring. Nggak mikir kalau itu bisa bikin Hank sakit hati atau tersinggung.

Trus menurut kamu, filmnya ini tentang persahabatan juga nggak, Rey?

Reyhan: Aku nggak tau kalo berteman sama mayat itu bisa dikategorikan persahabatan atau enggak. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya sambil membayangkan ekspresi Manny waktu pulang dengan gas beracunnya.

Icha: Sampe sekarang aku berngakak-ngakak sambil membayangkan kalau kamu yang jadi Manny, Rey. Cuman, mereka itu nuansa bromance-nya kental gitu. Waktu Hank mau mati, Manny kayak nggak rela gitu kan. Trus yang soal ngomongin Ibunya Hank, Manny kayak peduli gitu sama Hank. Ya walaupun pake ngomong mau masturbasi sambil ngebayangin Ibunya Hank itu.

Reyhan: Sepertinya begitu sih, Cha. Tapi yang aku tangkep itu kayaknya Manny nggak mau Hank mati sebelum mereka menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai. Manny juga kayaknya nggak puas sama pernyataan Hank untuk mengakhiri hidupnya. Waktu Hank ditarik sama beruang, Hank malah bahagia dan lebih baik memilih kotorannya bercampur dengan kotoran mayat-mayat lain. Yang masturbasi, awalnya sedih, tapi ada kesel juga. Semua anak pasti kesel kalau Ibunya digituin.

Dan Manny juga di sini sekaligus memicu kenangan-kenangan Hank sama Sarah. Intinya sih Hank bukan siapa-siapa tanpa Manny. KURANG ROMANTIS APA COBA?!

Icha: YAP! Bener banget. Hank bakal selamanya ada di pulau bedebah itu. Bahkan Hank hampir jadi mayat juga kayak Manny, tapi entah bakal berguna juga apa enggak. Dan, ya. Romantis abis. Menurutku Manny juga nggak ada apa-apanya tanpa Hank.

Reyhan: Menurutku juga begitu, Cha. Klo Manny ini perempuan, mungkin filmnya melebihi keromantisan Romeo and Juliet.

Icha: Sadiiiiis.

Reyhan: Oh iya, menurut kamu di dunia ini ada nggak mayat yang kayak Manny?

Icha: Bahahaha. Ngebayanginnya aja aku ngakak. Apalagi kalau ada beneran. Yah mungkin kalau soal adanya mayat yang berguna apa enggak, ada sih. Yaitu kadaver. Buat anak-anak imut kedokteran belajar anatomi.

Reyhan: Hahaha. Jingan. Kalau kamu jadi mayat, kamu mau mayat kamu bermanfaat untuk banyak orang nggak, Cha?

Icha: Mau, Rey. Misalnya kayak organ tubuhku didonorin ke orang. Kayak di film-film gitu. Atau..... jadi sex doll buat orang-orang necrophilia. Orang yang horny-nya sama mayat.

Reyhan: BANGSAT! Kalau tubuh kita dijadiin sex doll gitu, kerasa nggak sih sama roh kita yg sudah di akhirat? Sumpah aku nggak bisa bayangin...

Icha: Kayaknya sih enggak, Rey. Kita nggak ngerasain ena-enanya lagi. Dan karena ena-enanya nggak kita rasain, jadinya kita nggak dapat dosa zina. Hahaha. Paan sih, Chaaa.

Reyhan: Bajigur! Kalau dari pandangan kamu, Cha, lebih baik jadi siapa? Manny atau Hank?

Icha: Jadi Manny aja deh. Selain multifungsi, juga dia memandang hidup dengan sederhana. Ada kan pas dia sama Hank lagi diskusi soal hal-hal apa aja yang nggak boleh dilakuin di rumah. Trus Manny bilang kalau nggak boleh anu nggak boleh itu, untuk apa pulang. Mending di hutan itu aja. Dan Manny itu polos-polos nyebelin lucu! Aku pengen jadi dia. Daripada jadi Hank yang muram dan putus asa.

Reyhan: Ya. Lebih baik jadi Manny, Cha. Daripada jadi Hank. Setidaknya hidup kita lebih berguna, bahkan sampai jadi mayat. Semenjak ketemu Hank, Manny menjelma menjadi mayat yang bisanya cuman kentut, menjadi mayat yang kentutnya bermanfaat bagi orang lain. Tititnya juga bermanfaat, giginya bermanfaaat, mulutnya bermanfaat dan seluruh raganya bermanfaat.

Icha: BAHAHAHAHAHAHAHAHA. MAYAT YANG ADA GUNANYA DAN SELALU RIANG GEMBIRA~ DARIPADA JADI MANUSIA NGGAK ADA GUNANYA DAN SEDIH MULU.

Reyhan: Iya, soalnya makhluk hina di dunia ini adalah jomblo kayak Hank. Bayangin, dia naik bus dan sering ketemu Sarah, tapi mereka nggak pernah bicara sekalipun. Padahal dia suka....

Icha: Sedih banget. Sediiiiiiiiih. Filmnya asli sedih sebenarnya.

Reyhan: Yang paling sedihnya ya itu... Hank sudah terlambat untuk memulai kisah cintanya. Hank udah sampai pada level jomblo yang tak berguna. Kasian si Hank. Sepertinya semua yang udah nonton Swiss Army Man, bakalan terinspirasi jadi mayat deh, Cha.

Eh, aku baru sadar. Kalau manusia kayak Hank itu kayak kita. Berarti sutradaranya menganggap mayat kayak Manny itu lebih berharga daripada kita.

Icha: BAJINGAK ASIQUE! Oke. Jadi.... Apakah…. Swiss Army Man....Worth it buat ditonton?

Reyhan: Untuk fans beratnya Daniel Radcliffe…. NGGAK!!! Tpi kalau untuk fans sejatinya, SANGAT WORTH IT!!! Apalagi buat yang suka peran Paul Dano yang depresi berat. Di film ini, depresinya asli banget!

Oh iya, satu lagi. Sebelum nonton film ini, minum air yang banyak. Supaya otaknya nggak keseleo.

Icha: Mantap! Aku kagum sama wawasan kamu yang luas soal film, Rey. Makasih ya dah mau nge-BF sama aku~

Reyhan: Aku juga mau berterima kasih sudah memberikanku ruang untuk melampiaskan hinaan terhadap film ini. Aku merasa puas. Mudahan BF ini bisa menginspirasi banyak orang untuk menghina film Swiss Army Man.

Icha: Bangke. Menghina. Oke deh. Sekali lagi makasih, Rey!

Reyhan: Sama-sama, Cha. Kabarin ya kalau udah di-publish. Biar langsung bisa aku hack :))

Icha: BAJINGAAAAAAAK!!!!


Ah! Teman nge-BF ku kali ini sama ngeselinnya kayak Manny. Tapi filmnya layak dinikmati. Semoga review ini juga. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

TRANSLATE

YANG PUNYA KEHIDUPAN TERKETIK

Foto saya

Makhluk Tuhan yang diduga kuat pengidap alzheimer kelak di hari tua, Makanya suka nulis, menceritakan apa yang perlu maupun yang gak perlu, sebuah kebiasaan yang diimpikan akan jadi sebuah kesuksesan. Moody-an, tapi disitu ngerasa masalah yang bikin mood jelek itu jadi sumber ide untuk nulis. Terobsesi untuk gendut, agar gak cuman kentut sama rindu aja yang ngumpul di badan. Si masokis yang terima saja dihujat pacar sendiri, dan tak lupa menghujat balik, lewat blog ini.
Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com