Senin, 18 September 2017

Terlalu Berusaha Terlihat Bahagia, Apakah Tidak Mematikan Marnie?

Rencananya mau nyelesain draf review baper IT dan draf proyekan WIRDY, tapi...... rasa kagum akan film When Marnie Was There menggangguku. Huhuhuhu. Layaknya cewek yang kasmaran, aku butuh media buat menyampaikan kebaperanku akan film ini sesegera mungkin. Aku pengen orang-orang tau kalau aku baper sama film ini. Ya, aku dibikin baper sama film anime. Genre film yang jarang banget aku jamah. 

Seumur-umur aku baru pernah nonton tiga film anime. Yaitu 5 Centimeters per Seconds. A Silent Voice, dan When Marnie Was There. Yang 5 Centimeters per Second bikin mewek gila, sampai bikin aku berandai-andai bisa bikin tandingannya, yaitu 5 Kilometers per Second. Isinya tentang dua sejoli yang LDR. Dua sejoli yang berharap di durasi setiap telponan mereka, bisa mendekatkan jarak mereka sebanyak lima kilometer per detiknya. Konyol abis. Terus aku kepincut buat nonton A Silent Voice, film anime yang bikin nangis sesenggukan ngeliat dampak buruk bullying itu ternyata nggak cuma menimpa korban, tapi menimpa tersangka juga. Terakhir nonton When Marnie Was There, film anime yang bikin aku ngerasa....

“WHEN MARNIE WAS THERE BRENGSEK! BIKIN MEWEK! AKU HARUS TULIS SOAL FILM INI DI BLOGKU YANG JELEK!”

The Virgin.

Ya. Brengsek sih. Selain bikin aku mewek, film ini juga bikin aku sempat punya perasaan jelek. Sebelum nonton filmnya, dengan beraninya aku ngerekomendasiin film ini ke Justin. Setauku Justin adalah penggemar film anime khususnya yang dari Studio Ghibli. Tapi..... pas di tengah-tengah nonton filmnya, aku rada nyesel sih udah ngerekomendasiin. Adegan demi adegannya bikin aku mikir kalau filmnya mengandung unsur LGBT. Aku jadi ngerasa aneh aja, ngerekomendasiin film anime LGBT sama cewek. Anehnya sama kayak pas nonton adegan 69 yang dilakuin dua cewek montok di Blue Is The Warmest Color sama Nanda. 

Tapi begitu selesai mengonsumsi filmnya, aku jadi nyesel kenapa sempat nyesel udah ngerekomendasiin. 

Oke. Ceritain duls soal filmnya yak dengan awalan ala Wikipedia. Jadi When Marnie Was There adalah film animasi Jepang keluaran tahun 2014 yang diproduksi Studio Ghibli dan diadaptasi dari novel karangan Joan G. Robby Haryanto. Eh. Robinson. Sutradaranya adalah Hiromasa Yonebayashi. Film ini punya dua tokoh sentral, yaitu Anna Sasaki (Sara Takatsuki) dan Marnie (Kasumi Arimura) yang sama-sama berumur 12 tahun. 

Anna adalah remaja kelewat introvert asal Sapporo yang mengidap penyakit asma. Suatu ketika, penyakit Anna kambuh dan dokter menyarankan Anna untuk dimutasi sementara ke daerah yang udaranya lebih segar demi nasib paru-parunya. Yoriko (Nanako Matsushima), orangtua angkat Anna, memilih menempatkan Anna di pedesaan ujung timur Hokkaido, tepatnya di rumah keluarga Oiwa, rumah saudaranya. 

Gadis bermata biru itu disambut hangat oleh keluarga Oiwa dengan hikayat tentang anak putri mereka yang sekarang bekerja di luar kota. Anna menghabiskan hari-harinya di pedesaan dengan menggambar. Sampai akhirnya dia kepincut dengan rumah besar bergaya Eropa di seberang rawa-rawa. Rasa penasaran Anna akan rumah itu besar, kurang lebih kayak rasa penasaran para remaja akan segala hal yang berbau pornografi. 

Kenekatannya menyusuri rawa-rawa mempertemukannya dengan Marnie, gadis cantik berambut pirang dan sepantaran dengannya. Tanpa perlu mengenalkan diri dengan kalimat, “Nama saya Marnie. Walaupun saya orang Jepang, keluarga saya itu memegang erat budaya Eropa,” seperti Dodit saat di kompetisi SUCI 4, Anna sudah tau kalau Marnie berbeda dengan anak-anak desa yang lain. Marnie tinggal di rumah besar itu. Keluarga Marnie sering mengadakan pesta. Marnie terlihat bahagia tapi sebenarnya dia adalah anak yang kesepian. Sama seperti Anna. 

Model iklan Sunsilk.

Anna yang depresif dan benci sama kehidupannya sendiri itu, jadi ngerasa Marnie adalah kebahagiaan hidupnya. Setiap air pasang, Anna mengarungi rawa-rawa untuk ngapelin Marnie. Marnie dan Anna pun menjalin persahabatan yang.... lebih tepatnya bisa dibilang sebagai hubungan percintaan. 

Nah ini, yang bikin aku sempat punya pikiran nggak nyaman sama When Marnie Was There. Bukannya aku anti sama film-film tentang hubungan sesama jenis. Tapi rasanya agak aneh ngeliat Anna dan Marnie yang kayak sepasang kekasih, bukannya dua sahabat. Dari mereka pegangan tangan, pelukan, sampai berdansa itu bikin mikir kalau ini film anime tentang LGBT. Apalagi pas adegan Anna tersipu malu plus kagum pas ngeliat Marnie untuk pertama kali. Didukung pula sama gaya berpakaian dan rambut Anna yang tomboy, ngingatin aku sama tokoh Kim di film Thailand berjudul Yes or No. Semua itu bikin aku mikir kalau Anna ‘gelisah’ sama hidupnya sendiri itu ya karena dia lesbian.

Marnie-Anna

Pie-Kim.

TAPI TERNYATA AKU TERTIPU. Adegan demi adegan menuju ending-nya membantah semua dugaanku akan Anna dan Marnie. Ending-nya lah yang bikin aku baper parah sama film ini sampai-sampai aku nggak puas kalau kesanku soal film ini dituangin di Twitter doang. Aku jadi 'memaklumi' keintiman mereka berdua. Malah jadinya itu indah bangeeeeeeeet. Sukaaaaaaaaaaa.

Aku ngerasa dekat sama dua karakter di film ini. Aku yang awalnya nggak suka sama Anna karena dia kelewat tertutup, dia yang benci orangtua angkatnya, dia yang hobi bikin ulah (walaupun nggak sengaja) sehingga ngerepotin pasutri Oiwa, lama-kelamaan jadi ngerasa kasihan sama Anna. Aku pengen banget dengerin curhatannya Anna secara langsung. Aku pengen sahabatan sama Anna.

Marnie juga nggak luput dari perhatianku. Dari awal aku udah kagum berat sama kecantikan yang ada padanya. Tutur katanya dan caranya melihat dunia. Ditambah pas ending-nya... YA ALLAH TANGGUL AIRMATAKU JEBOOOOOL. HUHUHUHUHUHUHUHUHUHU. 

Sekilas kayak cewek sama cowok iya nggak sih?

Oh iya, selain tentang orientasi seksualnya Anna, film ini juga bikin aku punya pemikiran lumayan buruk tentang kejiwaannya Anna. Itu karena misteri siapa sebenarnya Marnie. Kemunculan Marnie suka mendadak. Terus pas pertama kali ketemu Marnie, Anna langsung bilang kalau Marnie adalah perempuan yang sering ada di mimpinya. Hal itu ngingatin aku sama Ruby Sparks, di mana Calvin dapat anugerah kalau tokoh fiksinya jadi nyata. Aku jadi mikir kalau saking kesepiannya, Anna sampai nggak sengaja nyiptain teman khayalan berwujud Marnie. 

TAPI TERNYATA AKU SALAAAAAAH. Aku ngerasa sotoy. Marnie lebih dari sekedar teman khayalan. Bagusnya lagi, Marnie membawa pengaruh baik buat Anna dalam mensyukuri hidupnya dan menerima cinta dari orang-orang di sekelilingnya.

Aku jadi percaya mulut-mulut yang bilang kalau film-film Ghibli itu memang indah dan menyentuh hati. Bahkan ini kayaknya aku pengen nonton film-film Ghibli yang lain. Oh iya, katanya film ini adalah film terakhir yang diproduksi Ghibli sebelum memulai vakum sementara untuk waktu yang nggak ditentukan. Huhuhuhuhu. Jadi tambah mewek. 

MEMANG BENERAN BRENGSEK DAH INI FILM. AKU YANG NGGAK SUKA FILM ANIME KENAPA INI BAPER PARAH SIH HUHUHUHU. 

Tapi gimana ya, film ini menurutku sederhana, ada unsur fantasi bahkan mistisnya, tapi setting-nya di dunia nyata sehingga jadinya nggak terlalu absurd dan nggak terlihat ‘ngayal’ banget. Terus twist-nya itu lho, kurang ajar sekali. Pengen pukul-pukul manja itu yang buat ceritanya rasanya. 

Kesimpulannya, When Marnie Was There adalah film anime yang bikin aku baper tanpa harus ngerasa punya kisah yang sama kayak di filmnya. Aku ngerasa dekat dengan Anna maupun Marnie kayak udah pernah ketemu mereka. Aku ngerasa di satu sisi, tindakan Anna itu benar. Anna yang nunjukin apa adanya kalau dia memang nggak bahagia, sampai akhirnya dia ketemu seseorang yang menyadarkan dirinya kalau dia memang udah bahagia. Daripada berlagak bahagia di luar padahal ngerasa menderita di dalam, nggak ada yang tau kalau sebenarnya nggak sebahagia itu. Kalau Anna terlalu berusaha untuk terlihat bahagia, Anna bisa ‘mematikan’ Marnie. Marnie bisa aja nggak bakal pernah datang di hidupnya Anna. 

Tapi di satu sisi lain, aku ngerasa tindakan Anna itu salah. Gampang menilai jelek diri sendiri, menolak otomatis perhatian dan kasih sayang orang-orang ke dia, dan rajin menanam kebencian. Membenci orangtua, keadaan sekarang, masa lalu, bahkan diri sendiri itu memang nggak ada benarnya sih.

Kalau seandainya Anna nggak ketemu Marnie, mungkin aku bakal nanya ini ke Anna. Atau ke siapapun. Bahkan bisa tanya ke diriku sendiri saat melankolisku lagi kumat. Nanya,

“Terlalu sibuk membenci diri sendiri, apakah tidak mematikan nurani?”

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 14 September 2017

Di Balik(papan) Kegagalan, Ada Kepuasan

Judulnya udah kayak tugas Bahasa Indonesia mengarang bertema liburan, ya nggak sih? Huhuhu. Udah mikir keras film apa yang bisa dibaperin alias disambung-sambungin sama apa yang mau aku tulis kali ini, tapi aku nggak nemu-nemu. Lagu pun juga begitu. Akhirnya aku mutusin buat.... yasudah lah tulis murni curhatan aja. Nggak usah bersembunyi di balik film atau lagu buat curhat kayak biasanya.

Hmmmm oke. Sebagai orang yang berkepribadian melankolis sempurna menurut tes bimbingan konseling waktu SMK, aku merasa gagal. Masalahnya, sifat-sifat baik yang ada di melankolis nyaris nggak ada di aku.

Perfeksionis. NO. Visioner. NO. Standar tinggi. NO. Nyaris hidup tanpa kesalahan. BIG NO.

Melankolis sempurna terkenal sebagai orang yang suka merencanakan apapun dengan matang. Yaelah. Bukan aku banget, tong. Aku juga nggak terpaku dengan target. Aku terpaku dan bergantung sama mood. Budak mood banget. Teman-teman yang udah kenal lama sama aku macam Dita dan Ikhsan, udah hapal di luar kepala kalau aku nggak suka merencanakan agenda jalan dari jauh-jauh hari. Karena biasanya kayak gitu sering gagal atau sering berjalan nggak sesuai ekspektasi. Makanya kalau mereka jalan sama aku, suka dadakan. Kalaupun direncanakan juga palingan sehari sebelumnya.

Tapi beda dengan rencana kami buat jalan ke Balikpapan. Rencana itu udah kugembar-gemborkan dari berbulan-bulan lalu. Setelah menyambut kedatangan Dita dari Jogjes dengan jalan-jalan ke Tenggarong, aku mikir kalau enaknya pas sebelum Dita kembali ke Jogjes, kami ngadain semacam farewell party. Yaitu dengan bermalam di Balikpapan. Aku, Dita, dan Ikhsan. Bertiga. Trisam. Yeaaaaaaah!

Eh nggak trisam beneran sih. Maksudnya jalan bertiga gitu. Tidurnya dalam satu kamar nggak papa. Toh kami udah nganggap Ikhsan itu teman perempuan kami.

Kami pun menyusun agenda. Tanggal 3 September dipilih buat keberangkatan kami. Heleh. Keberangkatan. Setiap jalan bareng, kami selalu mengungkit soal rencana jalan itu layaknya dua orang pacaran lama yang ceweknya selalu ngungkit “Kamu kapan nikahin aku?” Jujur aku excited tapi aku eneg juga kalau dibahas mulu.

Terus akhirnya...... rencana jalan ke Balikpapan ngalamin banyak kegagalan. Tetap jadi ke sana, tapi nggak sesuai rencana. Entah memang dasarnya aku nggak cocok sama jalan yang direncanakan atau gimana. Ironisnya, kegagalan itu beruntun. Tapi untungnya, di balik kegagalan itu ternyata ada kepuasan.


1. Gagal bareng Ikhsan.

Sehari sebelumnya, Ikhsan bilang nggak bisa ikut. Aku dan Dita kesel banget, tapi mau diapain lagi kalau Ikhsannya memang nggak bisa. Sempat ada niatan mau ngebatalin aja agenda ke Balikpapan, dan ngeganti itu dengan pergi ke Tenggarong. Nggak papa kalau harus ke Tenggarong lagi, yang penting kami tetap bisa jalan bertiga.

TAPI YA JARANG-JARANG AKU DIIZINKAN JALAN JAUH PLUS BERMALAM. DENGAN MINTA IZIN APA ADANYA PULA TANPA EMBEL-EMBEL URUSAN KERJAAN ATAU APA. MOMEN LANGKA ANJER! KAPAN LAGI COBA?

Yaudah aku nggak mau melewatkan kesempatan ini lah. Biarin aja deh auk berdua Dita doang. Persetan dengan persahabatan sejati harus selalu bertiga! Mhuaahahaha.


2. Gagal berdua Dita

Untungnya Dita nggak menjunjung tinggi asas persahabatan ala tripod kayak di film The Girl Next Door. Begitu tau Ikhsan nggak bisa, dia nggak kerasukan Paul Dano sebagai karakter Eli terus bilang,

“Okay, you know what the three of us are? We're a tripod. Which means that if you knock out one of our legs, WE-ALL-FALL!”

Dia tetap bertekad pengen ke Balikpapan. Rencana ke Balikpapan pun nggak batal, dan kalau memang aku ngebet banget, aku nggak perlu sendirian ke sana. Sehingga resiko menjadi anak hilang pun kecil dan nggak memunculkan berita kayak gini:


Sumber: Yogaesce bijik

Tapi.... lagi-lagi rencanaku kali ini gagal. Aku pikir aku bakal ena-ena sama Dita alias tidur bareng dia berdua di penginapan. Sama kayak seminggu sebelumnya di mana aku nginap di rumahnya habis nonton Baby Driver midnight. Ternyata Nanda ikut nyempil di antara kami. Salahku juga sih manas-manasin Nanda. Pas dia telponan sama Angga, pacarnya, aku ngomong sama dia,

“Yok ikut ke Balikpapan yoooook ikut yoooook.”

“Betulan kah, Ndes? Saya mau ikut naaaaaaaah. Saya ikuuuuuuuuut!”

LAH DIA LANGSUNG BAPER. KAN AKU NGGAK SERIUS NGOMONG GITUUUU.

Nanda ngebet pengen ketemu pacarnya yang domisilinya di Balikpapan itu. Si Angga. Heran. Beberapa hari yang lalu udah ketemu juga, Angganya ke Samarinda. Udah mau ketemu lagi aja.

Nggak sesuai dugaan, ternyata Nanda dibolehin Mamaku. Biji terbang! Awalnya Mamaku ngelarang, tapi nggak bertahan lama. Pas di kantor, aku dikabarin Mamaku kalau Nanda jadi ikut.

THE HELL. JALAN-JALANKU DIINTILIN ADEK YANG LAGI KASMARAN. PFFFFT.


3. Gagal nonton Bad Genius.

Sambil menyelam minum air. Sambil mengukir kenangan sama Dita, sekalian berencana ke CGV nonton Bad Genius. Beberapa hari sebelumnya aku sempat ngecek apakah film Thailand tentang contek mencontek dibisnisin itu masih tayang apa enggak. Ternyata udah turun layar alias udah nggak tayang. Cuman aku ada semacam keyakinan gitu sih, siapa tau CGV berbaik hati mau nayangin Bad Genius lagi. Mwehehehehehe. Keyakinan yang bijik bet.

Aku, Dita, dan Nanda berangkat ke Balikpapan naik bus sekitar pukul setengah enam sore. Nyampe di Balikpapan jam setengah sembilan malam. Nanda langsung dijemput Angga, sedangkan aku dan Dita terlantar di terminal. Huhuhuhu.

Kami pun jalan kaki sampai ke SPBU buat nyari angkot, sekalian mikir....

“Ini serius kita mau ke BC (Plaza Balikpapan), Tan?”

Tanya Dita, bikin aku ragu. Udah malam juga sih. Tapi akhirnya kami tetap pengen ke BC, dan nggak jadi naik angkot. Naik gojek aja.

Di situlah aku ngerasa norak bet. Aku nggak pernah naik gojek sebelumnya MHUAHAHAHAHAHAHA. Jadi pas naik gojek, aku cerita semangat banget ke driver-nya kalau itu adalah pengalamanku pertama kali naik gojek. Driver-nya awalnya juga bingung ngapain ke BC malam-malam gitu huahaha.

Nyampe di BC, langsung meluncur ke CGV, dan.....

BAD GENIUS BENERAN UDAH TURUN LAYAAAAAR HUHUHUHUHUHUUHUUHU.

Kesel bet dah. Padahal itu film tayang regulernya tanggal 23 Agustus. Masih semingguan lebih udah turun layar aja. Huhuhu.

Aku dan Dita pun pergi ke KFC, buat ngeganjel perut sekalian naroh pantat. Di tengah kegiatan berfaedah meneguk mocha float, aku nanyain Nanda lagi diculik Angga ke mana. Ternyata mereka berdua lagi nyarikan penginapan. Aku dan Dita langsung request pengen penginapan yang di dekat BC aja.

Terus kami berdua dijemput sama Angga. Naik satu motor bertiga huahahahahahaha. Sempit-sempitan anjer di satu motor, mana aku di tengah pula. Pas nyampe di penginapan, aku dan Dita sadar ternyata penginapannya memang beneran deket dari BC. Bisa aja jalan kaki tapi kapan lagi coba naik motor bertiga kayak amor (anak motor) Samarinda? Wkakakaka.

Yha, dan ternyata Nanda ikut ke Balikpapan itu ada untungnya juga. Ada Angga sebagai pacar Nanda yang membantu kami itu. Yuhuuuu.


4. Gagal ke pantai, dulu...

Demi mengobati patah hati akibat turun layarnya Bad Genius, aku dan Dita berencana buat ke pantai, selayaknya rencana warga Samarinda ke Balikpapan pada umumnya. Entah apa yang bakal kami lakukan di sana. Yang penting pantai, dulu...

Begitu Nanda pulang dari beli makan sama Angga, kami langsung tidur. Dita dan aku sempat ber-pillowtalk sebentar sih sebelumnya. Ngomongin soal rencana buat keesokan harinya.

“Tan, besok kita bangun pagi-pagi terus foto-foto di antara ruko itu sama di jalan raya ya, Tan. Terus sarapan di McD terus siangan baru kita ke pantai terus kita ke mana lagi gitu kek yang penting pulang jam 4 terus bla bla bla bla bla.”

Aku menyimak serangkaian rencana Dita dengan mata mengantuk. Maunya sih nyempetin streaming Krisha sama It Comes At Night, tapi karena memang udah ngantuk, aku memilih iyain aja setiap rencana Dita itu habis itu langsung tidur.

Begitu bangun pas besok paginya, TAUNYA HUJAAAAAAN. HUAAAAAAAANJEEEEER. TAU GITU AKU STREAMING FILM AJA MALAMNYA MUMPUNG ADA WIFI TERUS BANGUN SIANG. HUHUHUHUHU.

Hujannya awet pula. Dita mencak-mencak di kasur karena gagal foto-foto. Sementara aku memendam sakit hati karena rencanaku gagal. Pupus sudah harapanku untuk swafoto dengan latar belakang pantai.



5. Gagal kopdar sesuai rencana.

Hujan baru berevolusi menjadi rintik-rintik sekitar pukul 11 siang. Kami tetap nggak jadi ke pantai karena pantai dalam keadaan habis hujan pasti uelek tenan. Aku dan Dita pun nekat jalan kaki ke BC dalam keadaan rintik-rintik manja itu. Sementara Nanda.... ya jelas diculik pacarnya lah. Huhuhuhu.

Selain dalam rangka sarapan pagi, aku dan Dita berencana ke McD buat kopdar sama Yogaesce, blogger mesum asal Balikpapan. Rencananya kami kopdar pukul 10 pagi, tapi karena hujan akhirnya gagal. Yoga bilang dia bakal ke McD kalau hujan di tempatnya yang masih deras itu udah reda.

Selama jalan kaki, aku dan Dita foto-foto. Mhuahahaha. Biarin deh norak di kota orang! Mhuahaha.



Kata Angga, aku kayak anak SD mau piknik. Huhuhu.
Cangkemmu ambrol, Jok!.

Tiba di BC dalam keadaan lapar selaparnya plus tas yang lumayan basah. Meluncur ke McD, pesen makan, duduk-duduk manja sampai nggak berasa udah pukul setengah 1 siang. Saat itulah Yoga bijik ngabarin kalau hujan di tempatnya udah reda dan dia siap-siap mau ke BC.

Okesip. Kopdar yang molor. Dari pukul 10 ke pukul 1 siang. Okesip.



6. Gagal pulang pukul 4.

Dita lagi nge-charge hape di pojokan agak jauh dari tempat duduk kami. Sedangkan aku lagi duduk sendirian, ngabisin McFloat cola dan ngegigitin kentang dengan posisi kaki dinaikin ke lengan kursi.

Di momen itu, aku mikir keras soal Yoga. Dia gimana aslinya, ya? Ntar ngomongin apa ya aku sama dia? Ngebahas soal fake taxi lagi? Ngebahas hubungan darahnya sama Attar? Atau ngebahas make up?

Ngebahas make up kayak gini.

Pas Yoga nge-chat kalau dia udah nyampe di McD, aku langsung celingak-celinguk. Nggak lama terlihat sosok cowok berbaju merah dilapisi jaket hitam baru tiba di McD. Aku langsung nebak kalau itu Yoga. Sontak aku manggil dia dari jauh. Eh nunjuk sih. Udah kayak nunjuk orang yang terciduk ngambil jemuran beha. Semangat gitu.

Dia pun ke mejaku sambil berhei ria, habis itu pergi ke antrian pesan makan.

Nggak lama dia datang lagi sambil ngebawa nampan berisi makanannya. Aku menyambut Gemini bajingak itu dengan pertanyaan,

“Kira-kira om-om yang di ujung sana itu lagi ngapain ya, Yogs?
a. Main Insta stories.
b. Live IG
c. Facebook Live. “

“Main Bigo dia itu. Buka buka buka!”
Jawab Yoga dengan santai dan mengukir senyum mesum tipis.

Menimbulkan reflek tawa. Fix Yoga memang Gemini bajingak!

Terus ternyata kami nggak ngobrolin soal make up sih. Ngobrolin..... banyak. Kalau dituliskan semua di sini, mau nggak mau berbentuk 3 part. Kepanjangan, dan ntar bisa jadi udah dibaca tiga kali dari atas sampai bawah, tetap bikin nggak ngerti, Huhuhuhu.

Di tengah nge-BH alias nge-Baperin Hari-hari sebagai blogger, aku sempat ada pemikiran pengen foto bertiga sama Yoga dan Dita. Terus ntar pas di-upload dan dikasih caption, “Trisam tetap dilaksanakan meski ada pergantian partner.” Sayangnya Dita masih asik di pojokan, yang nggak lama kemudian temannya datang terus mereka jalan bareng. Menyisakan aku dan pemikiranku.

Ini Yoga mau nggak ya kalau diajak foto bareng?

Soalnya aku ingat banget sama postingannya yang INI.

Berikut cuplikannya:



Eh taunya pas diajakin, ternyata dia mau juga. Huahahahaha.





Begitu kami ngeliat hasilnya...

"Nah, upload yang itu aja." Yoga nunjuk hasil foto yang terakhir.

"Enggak. Aku mau upload yang ini." Pilihanku jatuh ke foto pertama.

"JANGAN YANG ITU WEH."

"Semakin kamu nda mau itu yang di-upload, semakin aku anggap iya itu aja yang layak upload.”

HUAHAHAHAHAHAHA. Senengnya ngerjain orang. Mhuahahaha.

Eh taunya aku kena azabnya. Rencana keluar dari McD pukul 3 sore dan cus jalan-jalan lagi, lah jadinya pukul 4 sore. KELAMAAN NGOBROL TELEK. Yoga orangnya bawel banget anjir. Ditambah juga aku harus nge-charge hapeku dulu demi bisa order gojek buat ke terminal. Huhuhu. Aku kena kualat.

Yeaaah. Biarpun gagal pulang sesuai rencana, tapi aku puas. Aku bisa ngerasain kopdar juga kayak blogger-blogger lainnya. Huehehehehek.


7. Gagal dengerin lagu selama perjalanan pulang.

Kami berangkat menuju Samarinda sekitar pukul 5 sore. Daya baterai hapeku nggak cukup kalau dipake buat dengerin lagu selama perjalanan pulang di bus. Jadinya aku cuma duduk diam. Nggak bisa tidur juga.

Hikmahnya nggak dengerin lagu, yaitu bisa menikmati pemandangan di luar jendela bus. Liat kanan kiri. Ngeliatin Nanda yang tidur lelap sambil ngerasa kasihan aku marahin mulu selama di Balikpapan. Ngeliatin Dita yang ya ampun bentar lagi aku pisah sama dia huhuhu. Perjalanan pulang yang aku pikir bakal membosankan, ternyata nggak membosankan dan penuh perenungan. Heleh. Perenungan.

Kami pun nyampe di Samarinda pukul setengah 9 malam. Capek beeeet. Capek tapi puas.



Sampai saat aku nulis ini pun, aku masih ngerasain rasa puasnya. Kegagalan demi kegagalan di atas bikin aku mikir kalau ternyata gagal nggak selamanya bikin kecewa. Jalan yang direncanakan pun nggak selamanya berlangsung anyep bagi orang yang suka jalan dadakan kayak aku.

Aku yang anak rumahan ini, jadi pengen jalan lebih jauh daripada Balikpapan. Jalan sama Dita lagi, Nanda, Kak Ira, atau sendirian. Terus kopdar sama banyak blogger. Terserah mau blogger curhat, atau blogger yang sering publikasiin tulisan berbayar. Terserah apapun niche blognya. Seng penting aku iso nambah konco baru.


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 10 September 2017

The Big No

Malam Minggu kemarin aku habiskan dengan beberapa kegiatan berfaedah. Ngedengerin lagu-lagunya Taylor-is-dead alias lagu-lagu lamanya Taylor Swift sambil bernostalgia, dan nonton dua film beda genre. Nonton Krisha dan The Big Sick. Untuk orang semager aku, nonton dua film dalam satu malam adalah kegiatan yang produktif, positif, dan edukatif. 

Dari dua film di atas, aku lebih suka Krisha. Hal yang nggak aku duga sebelumnya, karena aku pikir aku bakal kasmaran berat sama The Big Sick mengingat itu film komedi romantis dan ada Zoe Kazan main di situ. ZOE KAZAN CANTIKNYA NGGAK NAHAAAAN! 

Tapi ya gimana. Film yang dapat skor 98% di Rotten Tomatoes itu menurutku b aja. Aku ngerasa lebih terhubung sama Krisha daripada sama The Big Sick, walaupun aku nggak pernah ngalamin punya anggota keluarga yang pemabuk kayak Krisha. Kalau mabuk darat sih punya. Krisha memenuhi kriteriaku sebagai film bajingseng. Punya tokoh utama menarik dan drama keluarga Krisha bisa dibaperin ke hal selain keluarga. 

Misalnya ke soal kita main serong dari pacar kita. Kegep, minta maaf dengan berbagai cara mulai dari ngomong langsung sampai bikin postingan di blog, berusaha buat berubah, tapi si pacar masih nggak mau maafin kita dan nggak nganggap kita lagi. Pilihannya ada dua, mau terus berusaha sampai capek sampai si pacar bener-bener percaya sama kita. Atau ngerasa usaha kita nggak dihargai terus balik lagi jadi tukang main serong selevel Gemini bajingak.

Aku ngerasain kesenangan yang bermuncratan pas nonton film sedepresif Krisha. Tapi aku lebih tertarik buat ngebaperin The Big Sick. Ada beberapa keresahan receh yang aku rasain habis nonton filmnya dan harus aku tumpahkan kali ini. 

Lebih suka posternya yang ini daripada yang satunya.

The Big Sick adalah kisah nyata seorang komika yang difilmkan. Komika tersebut bernama Kumail Nanjiani dan di film ini dia bermain sebagai dirinya sendiri. The Big Sick udah kayak film-filmnya Raditya Dika. Tokoh utamanya sama-sama seorang komika, sama-sama tentang kisah percintaan yang nggak mulus, dan sama-sama ada komedinya. Perbedaannya yaitu nggak ngomongin mantan atau kehidupan jomblo ngenes. Tapi lebih berat, yaitu cinta beda kultur terus berhubungan dengan agama dan restu orangtua. 

Kumail (Kumail Nanjiani) adalah seorang komika muslim keturunan Pakistan yang tinggal di Chicago, Amerika. Dia melewati hari-harinya dengan open mic di kafe, kerja sambilan menjadi sopir Uber, dan berkunjung ke rumah orangtuanya. Keluarga Kumail cukup fanatik soal agama dan tradisi. Nyuruh Kumail buat numbuhin jenggot kayak kakaknya yaitu Naveed (Adeel Akhtar), nyuruh Kumail buat salat lima waktu, dan menjodohkan Kumail dengan perawan keturunan Pakistan. 

Perlakuan-perlakuan di atas cukup bikin Kumail gerah. Dia bukan Muslim yang taat. Bisa dibilang dia hidup dengan gaya barat. Kalau ditambah tato sekujur tubuh dan suara merdu, Kumail udah kayak Zayn Malik. Tapi terlepas dari itu, siapa sih yang nggak gerah sama tradisi kolot bertajuk perjodohan? Perjodohan yang benar-benar pokoknya-harus-nikah-dengan-sesama-Pakistan. Kalau mau nikah sama yang bukan produk Pakistan, pasti nggak direstuin, diasingkan dan dicoret dari kartu keluarga alias nggak dianggap sebagai anggota keluarga lagi. Pilihannya seolah cuma ada dua kalau mau tetap hidup damai: Nikahin cewek Pakistan atau melajang sampai ajal menjemput. 

Awalnya Kumail nggak terlalu memusingkan hal itu. Dijadikannya kebiasaan Ibunya yang suka memperkenalkan lubangan Pakistan itu sebagai jokes personal. Sampai akhirnya Kumail jatuh cinta sama Emily (Zoe Kazan), perawan lucah Amerika yang cantik dan humoris. Cintanya nggak bertepuk sebelah tangan. Tapi.... Emily harus terbaring koma di rumah sakit karena penyakit misterius. Misterius ya, bukan mistis. 

Di masa-masa Emily koma, Kumail harus meyakinkan orangtuanya Emily dan perasaannya sendiri akan Emily. Kumail harus memilih salah satu: nikah sama pacar terus ena-ena 69 atau dapat warisan keluarga. Eh bukan. Kumail harus memilih antara pacar atau keluarga. 

Btw aku kira Kumail ini orang India lho. 

Eeeeeeer. Film yang berdasarkan dari kisah nyata dan relatable kayak The Big Sick nyatanya nggak bikin aku baper parah kayak waktu nonton Her dan Ruby Sparks. Dua film yang nggak realistis itu. Ada hal yang aku suka dan aku nggak suka dari film ini. The Big Sick menurutku adalah film Hollywood yang nggak Hollywood. Ada soal perjodohan, stereotype agama, dan usaha merebut hati calon mertua. Rasanya jarang ada film Hollywood yang ada kayak gitunya. Hal itu ngingatin sama para sepupuku yang di Bengalon dan Makassar, yang pada nikah sama saudara jauh karena tradisi harus nikah sama yang sukunya Bugis juga. 

Untungnya penyajian hal-hal berat di film keluaran tahun 2017 ini nggak kaku, nggak menggurui, nggak membenarkan dan nggak membela agama Islam atau agama lain. Persoalan beda agamanya nggak terlalu ditekankan. Lebih nekanin soal tradisi Pakistan yang perjodohan itu sih. Ini jadi salah satu yang aku suka. The Big Sick nyantai, ringan, dan lucu. Walaupun ya nggak lucu-lucu banget. Beberapa scene memang ada yang bikin ngakak, contohnya kayak Emily yang sempat malu ngaku kalau dia mau buang air besar. Dialognya juga ada yang bikin ketawa. Tapi ya.... nggak membekas gitu. Nggak sampai bikin aku ngakak tanjal kayak Trainwreck misalnya. Hmmm. Ini soal selera humor atau apa, ya. Entahlah. 

Mudah untuk bisa baper sama The Big Sick. Usaha Kumail dalam memperjuangkan cintanya bikin senyam-senyum. Kumail nggak gentar walaupun dijudesin sama camer galak. Gaya pacarannya (terlepas dari bobok-bobok lucu bareng) itu relatable sama gaya pacaran kawula muda tanah air. Sok-sok nggak mau saling komunikasi, nongkrong bareng, nonton film yang berakhir dengan filmnya yang malah ‘nontonin’ alias berakhir dengan ciuman. Yeaaaah, itu biasanya yang terjadi pas kita lagi nonton di bioskop kan, ya? Eh iya nggak sih?

Ditambah tindakan santainya Kumail saat meladeni penonton open mic yang nyinggung soal terorisme sama keislamannya. Tapi aku kurang ngerasa klik sama chemistry antara Kumail dan Zoe. Interaksi mereka sebagai dua orang yang saling mencintai bagus sih. Tapi menurutku tetap aja nggak ngena. Nggak tau kenapa. Apa karena aku lebih suka kalau Zoe sama Paul Dano atau karena karakter Kumail itu kurang bisa disukai. Sebagai komika, Kumail harusnya lucu. Dia lucu sih tapi ya lucu biasa aja menurutku. Nggak ekspresif. Masih lucu-lucu menarik si Amy Schumer, pemeran di Trainwreck. 

Bukan lagi dengar kabar Emily sedang mengandung.

Lah aku nggak ada ngeliat hal menarik selain dia itu lucu dan suka ngebohongin orangtuanya. Aku pernah sih ngebohongin orangtua tapi nggak soal ibadah juga. ANJIR LAH INI AKU JADI SOK SUCI BET YAK.

Ngomong-ngomong soal komika, aku jadi inget masa-masa di mana aku masih sering nonton open mic. Aku yang hebohan dan suka teriak “UUUH!” kalau ada komika yang lucu. Sementara Kak Ira juga nggak kalah heboh dengan ngakak sambil tepuk tangan. Kami secara nggak langsung suka jadi pusat perhatian. Kami berdua sama cabe-cabean nggak ada bedanya. Huhuhu.

Nah, karakter Emily yang diperankan Zoe Kazan itu ngingatin sama kebiasaanku saat nonton open mic. Emily juga heboh pas nontonin Kumail. Itu jadi hal lain yang aku suka dari The Big Sick. Di film ini, Zoe Kazan cantik, mengagumkan, dan menggemaskan seperti biasanya. Cuman sayangnya.... menurutku pesonanya ketutup sama Holly Hunter, yang berperan jadi Ibunya. Aku suka banget sama kelakuan beliau yang gaul bet jadi Ibu. Pembawaannya nyantai, konyol, dan cenderung serampangan semau gue. Seksi! Dalam artian seksi yang cool. Chemistry beliau bareng Zoe Kazan bikin aku yakin kalau mereka Ibu-anak beneran. 

Ray Ramano, yang berperan sebagai Ayahnya Emily juga keren. Aku suka pas beliau ngomong, 

“Menjadi orangtua adalah mimpi buruk. Mencintai seseorang sama buruknya.”

Deeep! Dalemaaaaan!

Tapi ya aku tetap ngerasa kalau The Big Sick nggak sebagus yang aku kira. Nggak sebagus yang orang-orang di Twitter bilang. Aku jadi setuju sama apa yang dibilang Bang hehwhr soal The Big Sick. Orang pertama dan mungkin satu-satunya yang frontal bilang kalau The Big Sick biasa aja. 







Untuk twit yang terakhir, aku setuju banget. Untuk ukuran film komedi romantis, nggak ada soundtrack atau scoring di The Big Sick yang nempel di kepalaku. Bener, sepi bet. Masih mending pas liat trailer-nya, ada lagu Mess Is Mine-nya Vance Joy. Itupun nempel karena lagu itu pernah dipake di 13 Reasons Why. Soal soundtrack, The Big Sick kalah sama LOVE-nya Gaspar Noe di mana ada lagu Maggot Brain yang nempel dan bikin pengen bersenggama ramai-ramai. 

Jadi..... balik lagi ke awal. The Big Sick b aja menurutku. Tapi aku suka. Cuman, kalau ada yang bilang akting Zoe Kazan di The Big Sick adalah yang terbaik dari semua filmnya, aku bakal bilang big no. Kalau ada yang bilang The Big Sick adalah film komedi romantis terbaik, aku bakal bilang big no. Kalau ada yang bilang The Big Sick bisa bikin aku baper parah, aku bakal bilang big no

Sekarang aku ngerasa kayak orang-orang yang bilang La La Land itu b aja di saat banyak yang bilang La La Land itu bagus banget. Huhuhu.

Aku jadi mikir gini nih. Mungkin alasan terbesarku kenapa aku ngerasa The Big Sick itu b aja, karena aku nggak ngerasa terhubung sama film ini. Aku nggak pernah pacaran sama orang yang beda kultur sama aku. Atau karena aku nggak pernah ngalamin cinta yang kebentur restu orangtua. Yang pernahnya malah dapat restu dari orangtua, eh tapi malah aku putusin. Bodoh.

Anjir jadi curhat.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 02 September 2017

Nge-BF Bareng Yogaesce: Antara The Dictator dan Fake Taxi

Dulu, mengonsumsi film-filmnya Sacha Baron Cohen bagiku adalah aib. Beberapa tahun lalu, aku pernah share di Path kalau aku lagi nonton The Dictator, dan aku langsung dapat komentar yang isinya cewek-kok-nonton-film-mesum-vulgar-brutal-cewek-apaan-sih-kamu-Cha. Waktu itu aku ngerasa malu terus ngehapus postinganku itu. Tapi sekarang setelah dipikir-pikir lagi... 

BUAT APA SIH AKU MALU. TOH FILMNYA BAGUS. SACHA BARON COHEN ITU CERDAS. LAGIAN MASIH BANYAK FILM LEBIH MESUM, VULGAR, DAN BRUTAL DARIPADA FILM ITU. 

Terus sekarang aku jadi kebelet buat nge-BF The Dictator deh.

Aladeen!

Oke. The Dictator adalah film tentang politik yang dibumbui komedi mesum. Bercerita tentang Aladeen (Sacha Baron Cohen), seorang diktator yang memimpin negara fiktif bernama Wadiya. Aladeen kejam, egois dan childish melebihi cewek yang lagi PMS. Kepemimpinan Aladeen bukan cuma meresahkan rakyat Wadiya, tapi juga meresahkan banyak negara lain. 

Karena suatu urusan yang menyangkut soal kediktatorannya, Aladeen bertandang ke markas besar PBB di New York. Hal itu jadi malapetaka buatnya. Alih-alih dibunuh, jenggotnya malah disunat habis. Tapi hal itu membuatnya terpukul karena tanpa jenggot, dirinya nggak dikenal sebagai Aladeen. Ditambah lagi Tamir (Ben Kingsley), pamannya Aladeen, membawa serta pria yang mirip keponakannya itu untuk menyamar sebagai Aladeen demi melancarkan niatnya menjadikan Wadiya sebagai negara demokrasi. 

Sampai akhirnya Aladeen yang terlihat bukan Aladeen itu dibantu Zoey (Anna Faris), gadis yang tergabung dalam kelompok yang bisa juga disebut Anti Anti Aladeen Club. Aladeen juga bertemu Nadal, mantan ilmuwan nuklirnya. Di sinilah dimulai perjuangan Aladeen dalam merebut tahtanya kembali sebagai diktator Wadiya. 

Sekilas nggak ada mesum-mesumnya kan? Sama aja sih kayak Yogaesce, pemilik blog yogaesce.com, yang sekilas nggak mesum tapi ternyata mesumnya melebihi Yoga Akbar

Founder ayopoligami.com 
Dua istri lebih baik!
Blogger curhat bernama lengkap Yoga Cahya Putra ini asalnya dari Balikpapan. Aku kenal dia dari.... dari.... dari kapan ya? Entahlah. Yang jelas, awalnya aku kenal Yoga sebagai penulis buku Senior High Stress. Terus merambat tau kalau dia adalah salah satu anggota grup blogger bernama Wahai Para Shohabat yang terdiri dari dia, Kresnoadi, Ichsan Ramadhani, dan Firdaus Ramdhan. Selain menelurkan proyekan grup berupa tulisan dengan berbagai macam bentuk, mereka juga hobi main hastag di Twitter. Terus aku sering main ke blognya. Nah dari situ deh Yoga yang aku pikir orangnya tertutup dan anak baik-baik ternyata....... mesum banget anjir. Suka pake jokes mesum maksudnya. Dia suka membeberkan jati dirinya sebagai pengabdi fake taxi

Aku rasa ngebaperin film semesum The Dictator harus sama orang yang tepat, dan orang yang tepat itu adalah Yogaesce! Mhuahahaha!

Maka dari itu.... Wajar, kalau hasil nge-BF-nya jadi seperti di bawah ini. 



Icha: Yogs, kamu sukanya nonton film apa?

Yoga: Kalo fake taxi bisa dianggap film, aku pilih itu.

Icha: BANGKAY BELITUNG PEKANBARU RIAU. Sayangnya aku nggak pernah nonton itu. Kalau The Dictator gimana?

Yoga: Fake taxi aja sudaaah. Aku nggak percaya kamu nggak pernah nonton itu.

Icha: SUDAH PERNAH DENGKUL LU KOPONG! Ini Gemini nggak pernah bisa serius yak. Kzl.

Yoga: The Dictator apanya yang dibaperin coba? Tapi kalau mau nyoba itu nggak papa sih. Kalau nggak bisa ya... fake taxi. Fix! Okesip!

Icha: Apanya ya? Hahahaha. Ada 3 alasan sih aku pilih itu buat dibaperin.

1. Kamu kayaknya udah pernah nonton banyak filmnya Sacha Baron Cohen.
2. Siapa tau kamu mau bilang Indonesia lebih baik kalau pemimpinnya kayak Aladeen.
3. Mungkin kisah cintanya Aladeen sama Zoey, mirip sama kisah cinta kamu.

Yoga: (((Kisah cinta))

Icha: Taek. Bahasaku tua gitu, ya. Kisah cinta kisah cinta. Oke. Pertanyaan klasikku kalau nge-BF.

1. Nonton The Dictator itu kapan, Kak Yoy? Awalnya kenapa berminat buat nonton itu?
2. Terus Kak Yoy suka nggak sama filmnya? Sukanya karena apa?
3. Ceritain dong soal mantan Kakak yang dulu pernah kasih jersey tulisannya Yoy. Yang lengkap ya ceritanyaaaaa!

Yoga: Untung nggak ada pertanyaan mantan udah ngapain aja sama oli bekas.

1. Nonton pas awal tahun 2014 kalau nggak salah. Pas lagi liburan di Surabaya. Karena lagi bosan terus di hardisk kakakku ternyata banyak film yang belum pernah dia tonton juga, salah satunya The Dictator, akhirnya nyoba nonton itu.

Awalnya kami kira ini film based on history gitu. Apalagi di poster filmnya ada keterangan "BANNED" yang berarti film ini dilarang di beberapa negara dan biasanya ngangkat isu-isu sensitif, terus di bawahnya ada tulisan "UNRATED" yang artinya minimal bakal ada adegan yang sadis dan buka-bukaannya. Fix, tonton!

2. Suka? Oh jelas. Ini salah satu film komedi terbaik yang pernah kutonton. Sukanya karena struktur jokes dan karakter yang dibangun si Sacha Baron ini kuat banget. Dari awal sampe akhir film konsisten dengan sifat tololnya.

3. ITU BUKAN DIKASIH, YA! ITU AKU SENGAJA BIKIN JERSEY FUTSAL PAKE TANGGAL JADIAN BUAT NOMOR PUNGGUNGNYA BIAR KELIATANNYA ROMANTIS. KAN BIASANYA COWOK-COWOK LUPA SAMA TANGGAL JADIAN, NAH AKU PENGIN HILANGIN STIGMA NEGATIF ITU.

Icha: HAHAHA YANG NOMOR 3. YA MAAP. AKU LUPA-LUPA INGAT SAMA ISI POSTINGAN 23-MU ITU.

Yoga: Baca ulang :))

Icha: Hehe. Bacalah! Waw ternyata kamu suka yang vulgar rasis kayak The Dictator ya, Yogs.

Yoga: Vulgar? Oh jelas, tapi nggak vulgar-vulgar amat juga. Kalau rasis sebenernya enggak. Cuma emang si Sacha ini kalau bikin jokes selalu jokes sampah dan seenaknya sendiri; vulgar, rasis, goblok. Tapi di situlah kerennya beliau.

Icha: Yuhuuuu. Nah terus menurut kamu, The Dictator ini jadi film Sacha yang paling lucu kah dari film-filmnya yang lain? Soalnya gimana,ya. Aku baca di banyak review terus pada bilang kalau The Dictator ini jauh di bawah Borat. Jujur aku nggak sependapat sih. Aku suka Borat. Tapi The Dictator aku juga suka dan nggak sejelek yang dibilang di review.

Yoga: Kalo menurutku iya. Dari adegan awal yang ceritain masa kecilnya udah epic banget. Kalau Borat nggak terlalu suka mungkin gara-gara dirty jokes-nya itu bener-bener... dirty. Di The Dictator lebih rapi. Mungkin karena aku sedikit tau penulisan struktur komedi, pas nonton The Dictator ini jadi kayak ketawa dan kagum di waktu yang sama. Struktur rules of three banyak banget digunain di film ini dan bangkay semua punchline-nya. Terus juga banyak kalimat-kalimat iconic kayak, "Ahhh america, the birthplace of AIDS." Kan bangke. Benar-benar menimbulkan reflek tawa.

Icha: Iya sih. Dari awal aja udah ngakak pas dia lahir tau-lahir udah jenggotan. HAHAHAHAHA. Terus terus.... adegan yang bikin ngakak sampe tiga part dari The Dictator itu apa, Yogs? Adegan yang paling kamu suka?

Yoga: Adegan favorit? Pas pengganti si Aladeen dapet layanan dari pengawalnya. HUAHAHAHA. Apa ya... bingung aku, banyak adegan memorable di film ini.

Icha: GEMINI MEMANG BANGSAT. ADEGAN FAVORITNYA YANG ITU.

Yoga: ITU BECANDA WOY! Rata-rata jokesnya kena semua di aku, tapi yang bikin ketawa sampe nangis itu pas di restoran. Perkara nanyain nama asli aja dibikin ribet.

Icha: Iya itu lucu juga tuh. Si Aladeen kelihatan banget bodohnya di situ. 

Yoga: Adegan di restoran itu kayak bener-bener full of jokes. Dari awal masuk, nanyain nama sampe ketemu si Nadal. Semuanya kocak.

Icha: Iya bener. Malah pas mendekati ending, itu lucunya mulai kendor sih menurutku. Adegan pas dia mau menyusup masuk ke dalam gedung apa sih itu namanya, itu njijiki sih. Ada penampakan benda tumpul.

Yoga: (((benda tumpul)))

Iya, mendekati ending, mulai kendor komedinya. Mungkin biar fokus ke inti ceritanya. Lagian, memeras ide mentah menjadi suatu cerita yang layak untuk dibagikan itu susah, apalagi musti menyelipkan reflek tawa di dalamnya.

Icha: O-oke... Eh btw tapi aku suka juga sih adegan dapat layanan dari para pengawal. Nggak habis pikir sama pengganti Aladeennya ngelakuin adegan memerah susu.

Yoga: (((Aku juga suka)))

Cha, nggak sekalian bahas fake taxi aja nih?

Icha: Aku mau aja sih bahas fake taxi TAPI KAN AKU BELOM NONTON DAN NGGAK BAKAL NONTON HAHAHAHAHAK.

Yoga: Oiya kamu mah nontonnya public agent, ya?

*mengirim foto*


Icha: TAEK KENAPA PAKE FOTOKU BUAT GITUAAAAAN. Oh iya terus menurut kamu, romance-nya film ini dapet nggak?

Yoga: Nggak terlalu sih kalau soal romance-nya. Sebenernya Aladeen deketin Zoey kan awalnya cuma buat supaya dia punya akses ke hotel si Aladeen palsu, dengan jadi karyawan di tokonya Zoey. Tapi lama kelamaan Aladeennya jadi suka beneran ke Zoey, apalagi setelah dipeluk dan dikasih tau cara memuaskan diri sendiri. Ini membuktikan kalo cinta datang karena kebiasaan~

Icha: Hmmm.. Kamu pernah nggak ngalamin kayak Aladeen? Maksudnya, ngalamin jatuh cintrong karena kebiasaan, kebersamaan kayak gitu?

Yoga: Sebagai Gemini sejati yang dikenal jago flirting, aku jatuh cinta ya caranya begitu. Nggak pernah ngeliat cewek cakep langsung pengin jadiin pacar gitu. Jadi, bener-bener awalnya nggak sengaja. Kayak misalnya dari chatting, balas-balasan mention/komen di socmed, terus jadi sering ketemuan, kalo doi mulai menebar kode minta ditembak, tinggalin. Dudududu.

Icha: Bangszat.

Yoga: Etapi emang gitu sih, semua pacarku kayaknya awal mulanya dari kebiasaan. Kayak semesta sudah ngatur kalau kami bakal pacaran. Cantik itu bonus. Tapi bonus kan wajib dikejar juga. *lho*

Icha: Awalnya bagus tapi terakhirnya bangsat. Dasar Gemini.

Yoga: APA SALAH GEMINI WOY?! Gemini itu sebenernya setia. Serius. Kelihatannya aja sikat sana sini, tapi aslinya nggak gitu. Mereka cuma gampang disukai sama orang lain aja dan mereka gampang akrab, tapi ya seperlunya aja. Paling flirting doang, tapi tetep setia kok sama pasangannya. :)

Icha: ((PALING FLIRTING DOANG))

Yoga: Walaupun ya chat atau jalan sama cewek gitu. Udah Gemini sejati belum? :))

Icha: Taek. Iya Gemini sejati.

Yoga: Lebih enak begitu. Jalan ya jalan aja, masa cowok-cewek jalan berdua musti pacaran dulu. Kenapa juga cowok-cewek yang jalan berdua selalu dikira pacaran? Bisa aja kan mereka… Ibu dan anak.

Icha: Ya.... bisa diterima. Kalau digital love, pernah ngalamin nggak?

Yoga: Digital love sih pernah, tapi udah dulu banget, sama temen ngeblog. Awalnya ya komen-komenan, nggak lama saling follow di Twitter terus mention-an, lalu pindah smsan, YM-an, video call, terus suka.

Icha: Itu tahun berapa? Kok YM-an? Asli jadul bet. Anak mana? Namanya siapa? Blognya apa? Sempat jadian nggak? Kalau iya putusnya kenapa?

Yoga: Tahun 2012 deh. Nggak boleh tau dong siapa itu muahahaha. Sempet jadian. Putusnya gara-gara sama-sama sibuk aja, kan sama-sama maba waktu itu.

Icha: Taek. Jangan-jangan dia masih jadi salah satu pembaca blog kamu sampe sekarang, ya?

Yoga: Iya dia masih baca kadang-kadang, tapi nggak pernah komen, masih baik-baik aja dan masih tetep kontakan kok. Emangnya kamu apa sama mantanmu? WQWQWQWQ.

Icha: Yha! Eh kalau kubilang adegan favoritku itu pas dia diajarin memuaskan diri itu nggak lebih parah dari jawaban kamu soal adegan favorit kan, Yogs? Aku paling suka adegan itu. Tawa nggak bisa dijaga.

Yoga: Yang dia berhasil memuaskan diri untuk pertama kali itu juga bangke sih. Mind blowing. Udah tua tapi masa nggak tau caranya. Bangkenya dia langsung nelpon Nadal. Ngabarin.

Icha: Hahahaha iya. Yang terakhirnya dia keluar dari gudang, mamerin tangannya yang berlumuran hasil memuaskan diri itu kan.

Yoga: Dia pamer ke semua pengunjung toko, bgst!

Icha: HAHAHAHAHA BANGGA GITU FAK HABIS MEMUASKAN DIRI. Kamu juga gitu nggak pas pertama kali memuaskan diri?

Yoga: Aku lupa sensasinya gimana. Kayaknya normal-normal aja. Yakali tisuenya difigurain, terus digantung di kamar. Terus di bagian bawahnya dikasih tulisan, "my first."

Icha: Bangsat. Figurain. 

Yoga: Yekan buat kenang-kenangan difigurain muahahaha.

Icha: Hahaha. Eh si Sacha kayaknya sering kan pake jokes hubungan sesama jenis gitu. Di Brothers Grimsby parah dah. Di Borat juga ada. Bruno apalagi. Kalau di The Dictator kayaknya nggak ada deh. Aku lupa-lupa juga.

Yoga: Di The Dictator ada yang pas pengawalnya saling ciuman buat nunjukin maksud dari 'layanan' itu buat Aladeen palsu. Udah dicontohin buat ciuman, eh malah diperah anjer.

Icha: Bangkay. Aku baru ingat adegan itu. Malah paling ingatnya itu adegan pertarungan antara Aladeen sama salah satu pengawalnya yang dadanya ukuran 47B (asli ini ngawur abis). 

Yoga: Pengawalnya kan cewek perawan semua. Jadi mereka ciuman. Eh Aladeen palsunya malah cium si Ben Kingsley-nya. Jadi... ya ada lesbi dan homonya juga sih.

Icha: NAH AKU INGETNYA ALADEEN PALSU CIUMANNYA SAMA BEN KINGSLEY. AKU LUPA KALAU SEBELUM ITU PENGAWALNYA DULUAN YANG CIUMAN. HUHUHUHU. DARI ADEGAN ITU POKOKNYA YANG PALING DIINGAT CUMA PAS PEMERAHAN SUSU DAH. Eh... kamu kok masih hapal banyak adegannya sih? Kamu nontonnya berapa kali emangnya? 

Yoga: Nonton 3x. Huahahaha.

Icha: Pantesan aja. Khatam 3x sih. Terus memang, ya. Ingatannya Gemini bajingak lebih kuat kalau soal film-film vulgar kalau dibandingkan ingatannya Libra lugu kayak aku.

Yoga: LUGU BLOG LU PAGE ONE!

Icha: BLOGKU PAGE ONE AAMIIN YA ALLAH. Oh iya... kan film ini komedinya cabul dan brutal ya, kayaknya bukan jenis komedi yang disukai semua orang. Terus kamu pernah nggak sih rekomendasiin film ini ke orang? Ke anak-anak Wahai Para Shohabat gitu misalnya? Terus Adi yang keliatannya paling lugu di antara kalian itu pernah nonton nggak sih?

Yoga: Tawarin lah. Ke temen biasa ataupun Wahai Para Shohabat. Kan yang dicari cara bikin komedinya. Tapi ya liat-liat juga sih orangnya, kadang ada juga orang yang nggak suka sama jokes yang kotor gitu.

Icha: Jadi anggota grup vokal kalian itu pada suka jokes kotor, ya? Waaah so sweet~

Yoga: Kayaknya gue sama Ichsan doang sih yang rusak. Adi nggak terlalu. Daus kebetulan udah tobat.

Icha: Ohahahahahahaha. Dasar emang kalian berdua. Malu-maluin Kaltim aja.

Yoga: Ichsan doang yang malu-maluin. Dia anak Samarinda seberang sih. Kamu juga.

Icha: Heh! Aku bukan anak Samarinda seberang! Aku anak Samarinda kota, setaaaaaaaaaan.

Yoga: Dari namanya yang asing aja udah ketebak itu di Samarinda seberang.

Icha: Heh! Mulut dijaga! Itu Samarinda kota, brother! Coba kamu main ke Samarinda untuk membuktikannya!

Yoga: Aku main ke Samarinda ntar ingat mantan. Jangan. :((

Icha: Mantan kamu anak Samarinda belah mananya, Yogs? Itu yang blogger bukan?

Yoga: Mantanku yang anak Samarinda bukan blogger, punya blog sih tapi nggak rajin diisi. Samarinda mana, ya. Pramuka deh satunya, satunya lagi di sekitaran SCP.

Icha: Bangsat. Ada dua mantan. Nggak cukup satu. Namanya siapa? Kantorku deket Pramuka nih. Terus aku lumayan sering main ke SCP. Siapa tau kenal ya kan~

Yoga: Dua-duanya anak Balikpapan tapi kok, kuliahnya aja di Samarinda. Gabole tau dong. Weeek~

Icha: Sok misterius anjer. Eh kalau rekomendasiin ini sama temen cewek, pernah nggak?

Yoga: Belom berani sih rekomendasiin film ini ke temen cewek. Temen-temen cewekku pada alim-alim semua sih. nggak kayak kamu yang brutal, Cha.

Icha: Biarpun brutal tapi aku suka nontonin tausiyah Mamah Dedeh. Jadi brutal sama alimku imbang. Hahahahahaha.

Yoga: Semacam STMJ, ya. Solat Terus Maksiat Jalan.

Icha: Bijik. Gpp sih. Soalnya maksiatnya beda sama Gemini bangsat yaitu suka flirting.Yoga C. Putra. Tukang flirting kembaran Yoga Akbar Sholihin. Hidup seperti fake taxi.

Yoga: Wah hidup seperti fake taxi sulit bah. Udah banyak yang digrebeg warga tiap liat mobil goyang. Lebih mendukung public agent sih.

Icha: ......

Oh iya, tokoh favorit kamu di film ini apa, Yogs? Terus alasannya kenapa?

Yoga: Tokoh favorit? Nadal! Entah kenapa aku suka sama karakter si ilmuwan gila itu.Cocok banget jadi sidekick-nya Aladeen. Tampang bloon + emosian tiap hadapin kebodohan Aladeen bener-bener menimbulkan reflek tawa. Apalagi pas debat masalah ujung roket nuklir.

Bukan Mr Grey dan Anastasia Steele.
Icha: Hahahahahahahaha iya sih emosian. Siapa juga yang nggak emosi ngadepin lolotnya Aladeen. Terus ini nih. Kamu kan ada bilang kalau Gemini itu sebenarnya setia. Kelihatan dari luarnya aja sikat sana sini. Nah.... aku jadi mikir kalau Aladeen ini zodiaknya Gemini masa HAHAHAHAHAA. Soalnya ya dia kan rada brengsek, haus wanita, cabul, mesum, eh ternyata dia bisa setia sama satu cewek pilihannya yaitu Zoey. FIX ALADEEN GEMINI! GEMINI KALAU JADI PRESIDEN, BENTUKANNYA KAYAK ALADEEN!

Yoga: Bung Karno itu Gemini. FYI aja. UKHUK.

Icha: Eh iya. Ternyata Jokowi juga Gemini, anjir. Konspirasi macam apa ini?

Yoga: Tandanya, bangsa ini menuju arah yang benar. Ingat rasa, lupa nama. Itu.

Icha: BANGKAY. Itu bakal jadi semboyan bangsa Indonesia kalau kamu jadi presidennya. Untungnya para presiden yang berzodiak Gemini itu bukan Gemini bajingak kayak kamu. Bukan kayak Yoga Akbar juga. Kalau kayak Yoga Akbar dan kayak kamu.... RUSAK GENERASI MUDA, COY!

Yoga: Sorry, aku sama Sholihin beda level. Aku Gemini baik, dia Gemini jahat. Putus aja air ludah bekas ciumannya minta dibalikin. :)

Bukti perbedaan Yogaesce dan Yogaakbar

Icha: BANGKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY. Eh asli aku jadi ingat waktu Aladeen bantuin persalinan ibu-ibu. Taeknya lagi ada Edward Norton juga di adegan perhomoan. Bangsaaaaat! Taek banget. Mau-maunya main di film cabul.

Yoga: Iya ada Edward Norton hahaha. Entah kenapa film-film yang si Sacha Baron jadi pemeran utama, aktor lain jadi kayak bener-bener figuran. Ben Kingsley aja mau-maunya cium keteknya Aladeen. Faaak!

Icha: HAHAHAHAH. Eh tapi aku baru tau kalau Edward jadi salah satu pengisi suara di Sausage Party. Itu kan filmnya mirip kayak film-filmnya Sacha. Cabul, mesum, brutal, ada rasisnya juga. Kamu udah nonton Sausage Party, Yogs?

Yoga: Sausage Party ngggak dibolehin nonton sama Ibuku. Belum cukup umur. Aku baru 16 caun, Kak. :3

Icha: Mantap Sholihin. Oh iya lupa, adegan persalinan itu so sweet. Iya nggak sih?

Yoga: Adegan persalinan itu salah satu adegan yang aku skip pas nonton ulang. Sama yang jilat bulu bulu. Jijik anjer.

Icha: Anjer. Hahaha. Padahal lucuk tauk. Romantis juga.

Yoga: ADEGAN PERSALINAN ITU JIJIK YA. ROMANTIS GUNDULMU.

Icha: HIH ROMANTIS TAUUUUK. DARI SITU SI ZOEY SAMA ALADEEN TAU KALAU MEREKA SALING CINTAAAAAAAA.

Yoga: ROMANTIS BEHA LU KENDOR! PEGANGAN TANGAN DI DALAM VAGINA IBU HAMIL APANYA YANG ROMANTIS WOY!

Icha: Ya romantisnya ya pegangan tangannya HEHEHEHEHEHE.

Yoga: Nggak suka aku. Geli + jijik pas liatnya. Mana hapenya ketinggalan di dalam situ lagi.

Icha: I-iya bener juga sih. Sama ini lho, di film The Brothers Grimsby. Mark Strong aja mau-maunya terjebak di vagina gajah sama Sacha. Terus paling bungulnya dia mau-mau aja di... HAHAHAHA IIIH AKU JIJIK NGAKAK SUMPAH. Kamu pasti favoritin adegan yang aku maksud itu, Yogs.

Yoga: Itu adegan paling epic sih di The Brothers Grimsby. BUKAKEEEEEEEE :))))

Icha: Paling epic berarti kamu suka sama adegan itu dan berharap bisa ngalamin gitu juga sama saudara kembar kamu? Sama Yoga Akbar gitu?

Yoga: Gundulmu! Paling epic menurutku soalnya kayaknya bagian itu doang yang paling bikin ketawangakak, sisanya so so, nggak kayak The Dictator yang banyak menimbulkan reflek tawa.

Icha: Reflek tawa teros.... Nah, coba dongs diurutkan nih film-film Sacha yang udah kamu tonton, dari terbaik ke terjelek.

Yoga: Bentar. Film buatan dia kan? Bukan yang ada dianya main?

1. The Dictator

2. The Brothers Grimsby

3. Borat

4. Bruno

5. Bruno

6. Bruno

7. Bruno

.

.

10928. Bruno

Icha: O-oke..... Terus kriteria film yang menimbulkan reflek tawa menurut kamu itu apa aja? KALAU MESUM UDAH PASTI KAN YA. GOSAH DITANYA.

Yoga: Apa, ya. Lucu itu kan relatif sama selera sebenernya. Banyak yang bilang ngakak pas nonton 21 Jump Street, tapi aku biasa aja. Malah lebih suka Let's Be Cops. Jadi film yang menimbulkan reflek tawa itu balik lagi ke selera, terus referensi juga. Kadang ada film yang jokes-nya nyindir atau bawa-bawa film lain (kayak Deadpool), ada yang paham ada yang enggak kan? Jadi yaaaa… balik ke selera aja masalah lucu apa enggak.

Icha: Setuju soal Deadpool. Terus yang Let’s Be Cops itu goblok banget sih.

Yoga: Let’s Be Cops itu salah satu film komedi favorit juga. Kalau 22 Jump Street kayaknya kalah lucu dibanding yang 21 sih. Walaupun ada yang paling bikin ngakak banget pas tau pacarnya Schmidt ternyata anak bosnya.

Icha: Hah masa sih? Aku malah ngerasa lebih lucu yang 22. Di situ Channing Tatumnya lebih ekspresif daripada di 21. Nah iya itu yang paling bikin ngakak. Bangkay dunia sempit.

Yoga: Ekspresinya si Ice Cube bener-bener priceless itu wkwk. Kayak nggak rela anaknya diewe sama orang bodoh macam Schmidt.

Icha: Iya bangke yak itu. Wkakaka. Jadi ingat muka bloonnya Zoey pas Aladeen koar-koar soal cukuran. Terus dia aneh sih. Moso yang kayak Kapten Hook dijadiin tukang narohin barang di rak.


Yoga: BGST KAPTEN HOOK! Iya. Masih warasan Aladeen ternyata buat ngatur-ngatur posisi karyawan. Berarti Aladeen bener-bener cocok jadi supreme leader.

Icha: Wkakaka iya. Tapi Zoey baik banget jadi orang. Biarpun udah dikatain sama Aladeen, dia tetap aja baik. Kontraknya batal gara-gara pertarungan Aladeen sama si dada super ngondoy aja, dia masih baik sama Aladeen. Nggak murka terus main usir gitu.

Yoga: (((Dada super ngondoy)))

Emang ya, kalo orang sirik itu gampang banget buat ngatain. :)

Icha: YA EMANG NGONDOYNYA SUPER KAAAAAN. Serem ih jadi senjata gitu dadanya.

Yoga: Iya serem anjir. Tetenya kayak berisi batu bata gitu. Kayu aja patah.

Icha: Eh tapi kok dia langsung mati pas tenggelem di water birth dalam gudang. Agak nggak ngerti sih pas adegan itu. Itu airnya sama persis kayak yang dideskripsikan sama Aladen sebelumnya.

Yoga: Uhhh kayaknya dia keberatan oppai. Makanya tenggelam. Makanya juga kubilang itu isinya batu bata. Mustinya ngapung dong, ya? Kan di dunia nyata yang gede-gede dibilang kalo nggak airbag, ya… pelampung. TAPI DIA TENGGELAM HUAHAHAHA!

Icha: Oppai itu apa?

Yoga: SOK POLOS ANJER! Oppai itu bahasa Jepang-nya yang ngondoy itu weh.

Icha: Bangke lah aku dikotorin sama ilmu perbokepan kamu. Kalau dipikir-pikir kamu ada miripnya sama Sacha sik. Suka jokes mesum, dan nggak bisa seriusnya itu. Bercanda mulu anjer. Kamu emang di dunia nyata gini juga apa di dunia maya aja?

Yoga: Aku begini juga di dunia nyata. Jadi, bisa dihitunglah berapa sudah korban korban berjatuhan akibat ulahku. :)

Icha: Waw! Rasanya baru ada orang bajingak ngaku. PENJARA PENUH!

Yoga: Wahahahaha ya enggaklah! Liat-liat juga sama siapa ngobrolnya. Kalau kurasa orangnya open minded ya bahas apa aja enak, apalagi topik yang sensitif dan tabu.

Icha: HALAH! Hmmmm terus terus..... film secabul ini ada pesan moralnya nggak, Yogs? Kalau The Brothers Grimsby menurutku tentang sayangi keluarga gitu. Keluarga adalah segalanya.

Terus Bruno... sifat ambisiusnya Bruno itu patut dicontoh sih. Walaupun cara yang ditempuh buat mewujudkan mimpinya itu aneh-aneh. Kalau Borat.... apa ya? Kayaknya soal nasionalisme dah. Bruno orangnya terlalu bangga gitu kan sama Kazakhstan. Nyanyiin lagu wajibnya, kebudayaannya, kebiasannya, masih kebawa-bawa. Ya entah itu sikap nasionalisme yang tinggi atau udik hahahahaha.

Yoga: Apa ya pesan moral dari The Dictator? GAK ADA! HAHAHA!

Niatnya Aladeen kan sebenernya baik. Sengaja jadi negara diktator biar kekayaan negaranya berupa minyak gak dijual ke negara lain, biar untuk warganya sendiri. Dia juga mikir belum tentu demokrasi yg dilaksanakan di negara lain itu cocok di negaranya, Wadiya. Jadi, menurut dia, 'demokrasi' yang sesuai ya... diktator tadi itu. :))

Icha: Udah segitu aja pesan moralnya, Yogs? Nggak dijelasin dalam 3 part?

Yoga: Itu baru seperempat part. Panjang sebenernya. Bisa dibukuin terus dijadikan file pdf biar semua paham dan terus belajar.

Icha: Mulut, dijaga...

Yoga: Ini yakin kah mau posting? Kayaknya pembicaraan di sini dikit aja bahas The Dictator-nya dan sangat amat unfaedah :')))

Icha: Ini cukup berfaedah buat anak-anak gemay kayak Attar.

Yoga: Biar Attar cepet dewasa. "Ukhuk"

Icha: RUSAK GENERASI MUDA COY! Eh aku jadi pengen nonton deh.

Yoga: Nonton apaan? Fake taxi? Fake agent? Fake hospital? Fake driving school?

Icha: Fake driving school itu apa? Ih Yoga hebat tau segala tentang perbokepan~

Yoga: Itu produk terbaru dari serial fake fake-an. Oiya, lupa nyebutin produk lainnya, ada fake cops juga. Gokil.

Icha: FAKE COPS ITU APA LAGEEEE HAAAAH? ITU PAKE SISTEM BDSM PAS BERSENGGAMANYA?

Yoga: Bukan. Yang main ceritanya polisi. Terus misalnya nilang cewek, ceweknya nggak bawa duit, terus uang damainya ya... EH LIAT ADA UFO!

Icha: .....

Kamu paling suka yang mana?

Yoga: Tetep fake taxi sih. Percakapannya kadang lucu-lucu. Fake taxi aja dulu buat newbie kalo mau mendalami dunia per-fake-an.

Icha: Bgst. Hmmm..... Nonton or donlotnya di mana tuh?

Yoga: Donlotnya nggak tau dimana. Kan kemaren dikasih Ichsan. HD pula kualitasnya.

Icha: BANGKAY.

Yoga: Gueh kan anak polos dan baik-baik. Tidak pernah macem-macem.

Icha: Tapi nonton fake taxi sering.

Yoga: Ah cowok mana coba yang nggak pernah nonton bokep. Lagian aku nonton fokus ke dialognya. Lucu lucu~

Icha: Oh iya juga sih. Ini Indonesia, brother! Cowok-cowoknya nggak kalah mesum dibanding cowok-cowok di Amrik.

Yoga: Mesum gundulmu. Kalau belom pernah nonton, jangan nantangin!

Icha: Yasuds. Nonton fake taxi, dulu...

Yoga: Pas! Nonton sud!

Icha: NONTON SUD PALKON LU GESER! Aku ragu nontonnya. Aku masih polos, Kak...

Yoga: POLOS TALI SURGA LU LEPAS! Lo masih ragu, belum mengalaminya sendiri kan?

Icha: YHA, YOGS. YHAAA.

Yoga: Hmm. Wajar.

Icha: Kalau.

Yoga: Icha Khalifa.

Icha: Disayang

Yoga: Om-om.

Icha: GEMINI BANGSAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT!!!!!!



Huuuffh. PANJANG BANGET YAK. Sebenarnya lebih panjang lagi sih aslinya. Tapi.... mesum dan bacotnya Yogaesce cukup segitu aja ditampilkan di sini. Takut blogku yang putih bersih belum ternoda ini kena internet positif. Huhuhuhu.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com