Rabu, 16 Agustus 2017

Unboxing (Pengalaman Dapat) Paket Supernova

Yo yo yo apa kabar ITEAM tersolid terkece tersemuanya! Bagi teman-teman yang baru aja datang ke blog ini, silakan follow, komen, dan page one-kan blog ini 3 detik mulai dari sekarang. 

3....

2...

1.


TAEEEEK. KERASUKAN ATTA HALILINTAAAAAAAR.

Pfffft. Selain kerasukan sesaat sama salah satu anggota keluarga Gen Halilintar, aku juga ngerasa lagi kerasukan Laili Umdatul Khoirurosida yang cantiknya cetar. Beauty blogger yang sering bikin postingan unboxing produk-produk kecantikan di blognya. Nah kalau ini kerasukannya bikin seneng. Sebenarnya bukan kerasukan juga sih, lebih tepatnya terinspirasi sama dia. 

Aku pengen nulis postingan tentang unboxing juga, tapi aku bukan beauty blogger. Terus aku nggak pernah dapat paket produk kecantikan. Huhuhu.

Yang ada, aku hanyalah baper blogger yang pernah dapat paket..... buku. Lebih tepatnya, paket boxset Supernova by Dee Lestari. 

Sebenarnya mau bikin postingan unboxing paket buku tersebut. Tapi berhubung aku nggak ngerti nulis postingan begitu dan kalau mau review buku-bukunya juga belum aku baca semua, akhirnya aku memilih buat unboxing pengalaman ngedapetinnya aja. Hehehe.

Pengalaman yang aku udah ‘kotakin’ terus aku buka di sini. Pengalaman yang udah aku ‘bungkus’ dan ‘kemas’ rapi sebelumnya. Pengalaman yang aku pikir, biarlah terbungkus rapi dalam ingatanku dan nggak bakal aku buka karena ANEH NJIR. Nggak penting gitu.

Begitu aku konsultasikan sama Laili, nanya soal pendapatnya, tanggapannya....



Sepertinya Laili nggak habis pikir apa gimana sama ide anehku itu. Makanya typo ngetiknya. Huhuhuhu.


***


Paket boxset buku Supernova itu dikirim oleh seorang teman yang kita harus sepakati kalau namanya adalah Kim. Yha, itu nama samaran. Ini aku pake nama samaran karena rasanya nggak etis aja  nyebut nama asli. Hehehe.

Sengaja pakai nama itu karena dia adalah lelaki penggemar film-film brutal, ganas, dan vulgar menggigit karya Kim Ki-Duk. Kalimat bernada heran dan nggak habis pikirnya dia akan film-fim Kim Ki Duk, terdengar sebagai bentuk kekaguman bagiku. Terus kelihatannya dia juga mengabdi pada karya-karya Gaspar Noe dengan berniat menonton ulang film LOVE, setelah sempat menghapus film romantis itu. Apalagi sama karya Yorgos Lanthimos, sutradara asal Yunani yang terkenal dengan filmnya yaitu Dogtooth. Beeeeeh! Favoritnya dia banget! Kayaknya. Pokoknya, di manapun dia berada, dia akan selalu tercyduk dalam keadaan lagi nontonin film-film dari sutradara-sutradara berkualitas di atas. Yuhuuu~

Nah, sekitar dua bulan lalu, di tengah chatting-an, Kim bilang kalau dia mau kirim paket boxset Supernova. Bilangnya ditambah dengan kalimat, 

“Saya mau mewujudkan mimpi kamu.” 

Waktu ngebaca chat-nya, aku ngerasa kayak lagi ngobrol sama Ibu Peri. Aku nganggap itu sebagian kecil dari sekian banyak candaannya. Nggak perlu dianggap serius. Terus beberapa hari kemudian, layar hapeku pecah dan perbaikannya selain ganti layar, juga harus diformat. Otomatis hilanglah chat itu. Seolah memang nyuruh aku buat nggak nyeriusin chat dramatis itu. Bisa jadi juga karena chat itu adalah pembawa sial buat hapeku. Huhuhuhuhuhuhu. 

Sampai akhirnya, beberapa minggu kemudian....

Waktu itu aku lagi di Alfamart dalam rangka nyari micellar water. Di tengah keasikan mengitari rak demi rak, aku dapat telpon. Aku pikir dari Mamaku yang nanya aku lagi di mana. Eh taunya dari…

“Atas nama Ibu Icha Hairunnisa? Ini dari JNE, Bu. Mau antar barang. Rumahnya di Cendana gang 8 mananya, ya?”

Dalam pikiranku waktu itu...

AH PALINGAN INI ULAH DITA. SEPERTI BIASA. DIA BELI BAJU DI ONLINE SHOP TERUS NGGAK MAU KETAHUAN BAPAKNYA BELI BAJU TERUS. YAUDAH SOLUSINYA BELI PAKE ATAS NAMAKU. 

Kebiasaan emang itu si bijik kenari. 

Kelar membayangkan sekelebat baju macam apa lagi yang dibeli Dita, aku menjawab pertanyaan orang JNE itu. Dia bilang kalau lagi pakai mobil jadinya susah mau masuk ke dalam gang rumahku. Kami pun janjian ketemu di depan gang aja. Hahaha. Kami. Janjian. Ya pokoknya orang JNE-nya bilang kalau dia nunggu depan gang aja dan sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Yaudah aku langsung pergi dari Alfamart. 

Pas nyampe depan gang, nggak lama kemudian ada mobil JNE menepi. Satu orang turun dari mobil dan ngasih paket JNE. Paket berupa kotak yang lumayan berat. 

Aku jadi bingung. Baju macam apa yang dibeli sama Dita? Dress terpal biru ala Mimi Peri? Tumben pake kotak, biasanya kan bungkus biasa yak. 

“Tanda tangan ya, Mbak. Di sebelah sini.”

Orang JNE memporakporandakan lamunanku dengan instruksinya itu. 

Aku lihat resinya dan… 

Pengirim: Kim
Alamat: Korea Utara (alamat juga disamarkan huahahaha)

“Kim bajingak! Kim anjir! Kim pejulu merembes! Nggak nyangka kamu serius. Taik.”

Umpatku spontan dalam hati. Memaki beliau dengan khidmat. 

Nyampe rumah, aku langsung buka. 

Begini penampakannya.



GILSSSSSS. AAAAAAAAAAAAAAK. AKU PUNYA NOVEL SUPERNOVA LENGKAAAAAAAAP AAAAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!!!111!!!!! 

SATU SATU AKU SAYANG IBU SURIIIII DUA DUA JUGA SAYANG IBU SURI TIGA TIGA SAYANG IBU SURI AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK AKU BAKAL BACAIN ITU AAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!!!!!

Aku pun ngebawa paket itu ke kamar. Selesai mengelus-elus dan menimang kumpulan buku itu layaknya menimang bayi baru lahir, aku menggerayangi hapeku. Berpikir keras buat nelpon Kim apa enggak. Nelpon dalam rangka ngucapin terima kasih sambil mengumpat kasar ngatain dia sok baik sok dermawan sok kecakepan. 

Tapi jadinya aku cuma nge-chat dia dengan sok cool

“Paketnya udah datang. Makasih, ya.”

Dia ngebalas…

“Y.”

Glek. 

TAEK. DINGIN BANGET ANJIR SOK COOL JUGA APA GIMANA SIH. IKHLAS NGGAK SIH KIRIM BOXSET-NYA? 

IIIH JADI PENGEN NGEREVISI KEGIRANGANKU BARUSAAAAAAAN!!!!!

Rasa senangku pun berubah dari kesal kemudian jadi... heran. Aku nggak habis pikir ternyata dia beneran kirim. Aku pikir dia cuma hehe cnd doang. Taunya beneran. 

Entah dengan niat apa dia mau ngasih itu. Maksud dan tujuannya apa? Ulang tahunku masih lama, kalau misalnya itu dijadikan kado. Kalau tujuannya mau balas budi, kebaikan apa yang udah aku perbuat? Ah, atau lagi ada promo beli satu boxset gratis satu?

Makin lama aku makin mudah menilai.

Sampai akhirnya pas aku tanya, dia bilang kalau maksud dan tujuannya adalah, 

Berbagi kebahagiaan. 

EMANGNYA IKLAN WALL’S ULTAH 25 TAHUN APA BERBAGI KEBAHAGIAAN!

Aku pun mikir lagi. Dia pernah bilang di awal mau mewujudkan mimpiku dengan ngasih paket itu. YA NGARUHNYA APA KE DIA KALAU MIMPIKU TERWUJUD? Aku memang pernah nge-twit soal pengen punya koleksi lengkap Supernova. Aku ngefans sama Dewi Lestari tapi sayangnya aku belum punya semua bukunya. Mungkin Kim berpatokan di situ. Tapi ya untungnya juga buat dia apaaaaaa cobaaaaaaa. 

Selagi nulis ini, aku ingat soal pengalaman di awal bulanku kemarin. Aku ada beli komik Detektif Conan volume 89, yang ternyata pas sampai rumah aku baru sadar kalau itu aku udah punya. Saking udah lamanya nggak beli, sampe lupa. Huhuhuhuhu. Aku memang udah lama nggak beli sih. Padahal dulu waktu masih sekolah, rajin beli setiap bulan. Mengejar ketertinggalan komiknya yang beranak pinak nggak habis-habis itu. Lah sekarang udah kerja malah nggak beli. Sekali beli, malah salah. 

Mungkin, paket Supernova itu adalah upaya pencegahan dari salah beli lagi. Siapa tau aku mau ngelengkapin novel Supernovaku terus aku malah beli yang KPBJ padahal aku udah punya. Aku jadi ngebayangin Kim pake gaun putih dengan tongkat ajaib di tangannya. Selain mewujudkan mimpi, Kim juga menghadang kesialan yang bakal datang menghampiri. 

Mungkin Kim memang Ibu Peri. Yang selalu mewujudkan mimpi semua orang. SEMUA. Saking baik hatinya jadi orang. Ah, senangnya punya teman seperti dia.

Terima kasih, Ibu Peri Kim. 


Huft. Gara-gara giveaway-nya Robby dengan tema Aku dan Buku, jadi nulis curhatan riya' begini dah. Bajingak. 

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 10 Agustus 2017

We Need to Talk About Eva

Tausiyah kontroversial macam di-surga-ada-pesta-seks yang menghebohkan warganet beberapa waktu lalu, ngingatin aku sama film animasi cabul berjudul Sausage Party. Tausiyah itu lalu ‘disusul’ ustad dari markas yang sama kayak ustad sebelumnya, yang bilang kalau pakai pembalut sama sepatu hak tinggi itu adalah penyebab sulit hamil. Sulit punya anak. Hal itu ngingatin aku sama film-film bertema anak ‘nakal’ kayak The Omen, Case 39, dan We Need to Talk About Kevin. 

Film-film yang bikin aku phobia punya anak. Mau ena-enanya aja. Hehehe. 

Ih tapi serius. Film-film di atas bikin mikir kalau terlalu takut punya keturunan kayak anak-anak di tiga film bedebah itu, rasanya lebih masuk akal dijadikan alasan susah hamil. Daripada karena pakai pembalut atau sepatu hak tinggi. Terutama takut punya anak kayak di film We Need to Talk About Kevin. Film keluaran tahun 2011 yang diadaptasi dari novel berjudul sama. Film yang bikin aku keseeeeeeel banget sama Ezra Miller sekaligus jatuh cinta sama dia karena aktingnya yang BRUUUUH!

Cita-citaku buat punya anak cowok (karena aku enek sama keponakanku lima biji cewek semua huhu) nyaris kandas gara-gara ngeliat Kevin. Amit-amit jabang bayi punya anak kelakuannya begitu walaupun YA ALLAH DIA KOK GANTENG SIH IH GEMAY. Tapi tetap sih, aku jadi takut punya anak cowok senakal Kevin. Takut hidupku berubah jadi buruk ketika udah jadi Ibu.

Bukan Kevin Julio, Kevin Aprilio, ataupun Kevin Anggara..

Film thriller ini punya tokoh utama bernama Eva (Tilda Swinton). Di awal, kita ditunjukin ekspresi bahagia Eva saat ikut festival tomat (yang lebih mirip festival mandi darah). Terus maju ke masa sekarang di mana Eva hidup dengan haters di sekelilingnya. Rumahnya dilempari cat merah, telur belanjaannya dipecahin, ditampar sama ibu-ibu di jalan. Kalau ibu-ibu itu adalah Revina VT si nyonya kecubung, mungkin dia nggak nampar kalau kesel sama Eva. Cukup nyinyirin Eva aja di video terus di-upload ke Instagram. 

Eva ini lagi berusaha buat survive dan move on dari masa lalu yang buruk, akibat satu kejadian besar yang bakal kita ketahui di akhir film. Kejadian yang bikin Eva jadi punya haters tapi dia terima aja diperlakukan nggak baik sama mereka. Yang jelas, dari awal sampai menuju ending, kita udah dikasih tau kalau dalang di balik kejadian itu adalah Kevin (Ezra Miller aaaaaaaaaak!!!!), anak laki-laki Eva dan Franklin (John C. Reilly). Anak SMA yang udah nakal dan jadi hater Ibunya sendiri dari kecil. 

Kevin dari kecil udah complicated bet. Waktu bayi, dia hobi ngadain konser musik rock mulu alias nangis rewel. Susah diatur. Giliran sama Ayahnya aja dia anteng. Pas masih bocah, dia nggak mau nurut sama Eva. Jadi anak yang nggak ada hormatnya sama sekali. Makin gede dia makin ngeselin bahkan sadis plus bermuka dua depan Ayahnya. Dia keliatan benci banget sama Eva dengan nggak mau nurut, ngeledek Eva, bahkan ya itu, bikin Eva putus asa dan depresi sama hidupnya.

Eva bersama Kevin dari berbagai usia.

Film ini alurnya maju mundur btw. Rada ngingatin sama Gone Girl kesukaan Njus, (500) Days of Summer kesukaan Reyhan, dan LOVE kesukaan Heru Arya

Dan We Need to Talk About Kevin jadi kesukaaanku! Aku memang suka sama film yang bertema hubungan Ibu-anak, pokoknya tentang drama keluarga. Menurutku film ini agak ngebosenin sih di awal. Beda sama Mommy yang langsung bikin tertarik pas di adegan awal filmnya. Dan ya, aku ngerasa bosen karena bingung apa yang sebenarnya terjadi. Tapi... lama-lama jadi menegangkan. Film tentang hubungan Ibu-anak macam Mommy bikin aku ngerasa sesak kayak pake bra kekecilan, sedangkan We Need to Talk About Kevin bikin aku ngerasa takut. Aku ngegigitin kerah kaos karena ketakutan pas nontonnya. Terus istigfar beberapa kali. Gemas kali sama karakter Kevin yang diperanin sama tiga orang, salah satunya Ezra Miller my love. Musiknya pun ngagetin. Genjreng, genjreng, genjreng....

Mencoba menggerakan gelas dengan kekuatan pikiran.

Rasanya kayak lagi nonton sinema religi Indosiar bertema anak durhaka. Tapi disajikan dengan nuansa horor tanpa hantu-hantuan. Film ini nggak ada unsur mistisnya TAPI YA SEREEEEEM.... Serem anjir ngeliat kelakuan Kevin yang istigfar-able itu. Dia diem terus menyeringai aja bikin takut. Denger suaranya aja bikin takut. LIAT DIA YANG LAGI MERANCAP AJA BUKANNYA KERANGSANG TAPI MALAH TAKUT. Aaaarrrrrrrgggh. 

Selain karena kelakuan Kevin si-anak-yang-nggak-tau-diuntung, film ini kerasa horor karena banyak warna merah bergentayangan. Warna merah dari tomat, cat air, selai stroberi, cahaya lampu di restoran, dress polos-nya Eva. Warna merah ngebuat aku yang nonton jadi bergidik ngeri sendiri. Ngingatin sama foto-foto jajaran pemain Pengabdi Setan yang bernuansa merah darah.

Ini dia salah satu pemain Pengabdi Setan. Taraaaaa!

Ngefans sama Ezra Miller nggak membutakan mataku buat ngeliat kinerja pemain lain. Halah hahaha. Kinerja. Akting Tilda Swinton mencuri perhatian. Aku baru nonton filmnya beliau yang Doctor Strange, Trainwreck, dan Okja. Di tiga filmnya itu, dia jadi tokoh yang perannya superior gitu. Di We Need to Talk About Kevin, dia ‘tunduk’ sama Ezra Miller. Sumpaaah. Akting depresi dan frustasinya Tilda keren. Dia nggak perlu nangis bercucuran air mata buat ngasih tau kalau dia lagi sedih. Dia nggak perlu teriak-teriak kencang buat nunjukin kalau dia depresi berat. Dia berhasil memerankan seorang Ibu yang hidupnya hancur karena anaknya sendiri, cukup dengan muka muram dan lesunya. Huaaaaa!


Oh iya, alur di film ini berjalan berdasarkan sudut pandang Eva. Kita seolah diajak menyelami masa lalu Eva layaknya mengenang masa lalu kita saat masih pacaran sama mantan. Ngebandingin masa lalu sama masa sekarang, dikenalin sama orang-orang sekitar Eva, nyari-nyari sebenarnya siapa yang salah. Ya itu... siapa yang sebenarnya bisa disalahkan dari kehancuran hidup Eva. Apakah murni Kevin yang salah atau karena yang lain.

Lynne Ramsal selaku sutradara film ini, nggak ngasih tau secara pasti apa yang membuat Kevin jadi senakal itu. Dan nggak ngasih tau alasan pasti kenapa Kevin hobi pake kaos ketat kekecilan yang bikin orang-orang berjiwa fashion police jadi resah ngeliatnya. 

Oke. Serius. Aku bingung Kevin ini nakalnya murni karena apa. Padahal Kevin kelimpahan kasih sayang, orangtuanya adem ayem, kaya dari lahir. Apa yang bikin dia jadi anak nakal? Apa karena pas Eva dan Franklin sebelum ngadon Kevin alias ena-ena, nggak baca doa bersetubuh dulu? Nggak menjalankan tata cara bersenggama menurut kitab Qurrotul Uyun? Sehingga kegiatan berfaedah mereka itu jadinya diintervensi oleh setan? 

Atau... ini karena salah Eva?

Menurutku, Eva belum siap jadi Ibu. Pas hamil Kevin, Frank sang suami yang justru terlihat lebih excited. Terus adegan yang nunjukkin habis proses persalinan, makin menguatkan pemikiranku tentang belum siapnya Eva. Adegan yang beda sama adegan habis persalinan yang biasanya aku liat. Biasanya kan bahagia gitu, senyam-senyum riang sama si penebar benih alias sama suami. Lah kalau Eva malah... ya gitu. Kelihatan shock. Termenung lama. Kayak baru beli kuota yang langsung habis karena keasikan dipake streaming series belasan episode.

Pas Eva ngerawat Kevin, dia selalu kelihatan gondok. Dari Kevin kecil, dia sulit ngebangun chemistry sebagai Ibu dan anak. Bukan berarti dia jahat sih. Dan Eva bukannya nggak mau jadi Ibu. Terlihat pas dia punya anak kedua yaitu Celia (Ashley Gerasimovich), di mana dia lebih luwes. Tapi... ya karena belum siap jadi Ibu. Dia belum terbiasa dengan kehidupan barunya bersama Kevin. Sifat keibuan belum ada di dirinya.

Mungkin karena itu, Kevin jadi nakal. Karena dia ngerasa Ibunya nggak siap sama kehadirannya di dunia. Dia ngerasain itu dari kecil dan perasaan itu nggak hilang-hilang. Mungkin kayak gitu kali, ya. Aku belum baca novelnya sih buat tau lebih jelas.

Makan malam ini indahx hanya begron semata.

Ada satu adegan favoritku. Eva menghiasi dinding ruang kerjanya dengan peta-peta langka. Dia lakukan dengan sepenuh hati karena ruangan itu bakal jadi ruangan yang dia banget. Dia yang berjiwa traveler sejati. Tapi dindingnya disemprotin cat air sama Kevin. Sebelumnya juga Kevin ngehina habis-habisan ruangan itu. AKU KESEL BANGEEEET NONTONNYAAA. 

Adegan itu ngingatin aku sama Mamaku yang ngelepasin foto-foto jadul SMK-ku yang aku tempel di lemari buku. Aku seolah ngerti perasaan Eva yang keseeeeel banget kesenangannya dirusak. Ya ampun, foto-foto tempelan di lemari itu aja sebenarnya kan udah lama, terus Mamaku ngelepasinnya dengan niat baik karena pengen lemariku keliatan bersih. Itu aja aku udah kesel. Apalagi kayak Eva yang tempelannya dari peta-peta langka, ditempel sepenuh hati, dicat, dikasih hiasan, eh nggak lama kemudian dicrot-crotin cat air sama Kevin bijingek. Huhuhu.

Adegan itu bikin aku ngerasa relate sama Eva. 

Apa aku bakal kayak Eva? Mengingat aku juga belum siap buat jadi orang yang keibuan. Belum siap ya, bukan nggak punya sifat keibuan. Huahaha. Hmm terus... aku susah ngebangun chemistry sama keponakan-keponakanku. Aku suka bingung gimana cara mengakrabkan diri sama anak kecil selain dengan ngatain mereka sesuka hati. Terus aku ikutan nangis kalau mereka nangis. Salwa misalnya. Kalau dia nangis, aku bawaannya kelabakan sendiri. Aku ngebandingin diriku sama Nanda yang selalu ada cara buat nenangin Salwa. Dia nimang-nimang, ngajak ngobrol, sampe mutarin video alif ba ta sa Upin-Ipin. 

Sebuah pencitraan.

Aku ngeliat Eva itu udah kayak ngeliat cerminan diriku di masa depan nanti. Aku yang entah kapan bisa jadi wanita yang keibuan.  HUAAAA AKU TAKUT SUMPAAAAAAH. MANA KATANYA KALAU BERANTEM SAMA MAMA MULU, MELAHIRKANNYA SUSAAAAAAAAH AAAAAAAK.

Aku jadi berandai-andai kalau We Need to Talk About Kevin dijadiin dua film layaknya Mars Met Venus, film Indonesia yang dibintangi Ge Pamungkas dan Pamela Bowie. Film itu tentang cara memandang suatu hubungan percintaan berdasarkan dua sudut pandang, yaitu sudut pandang cowok dan cewek. Seandainya ada film We Need to Talk About Eva, film yang berdasarkan sudut pandang Kevin. Mungkin aku bisa tau gimana rasanya punya orangtua yang nggak keibuan. Mungkin aku bisa memaklumi kenakalan Kevin. Dan bisa memahami Kevin yang berani-beraninya durhaka melebihi berkata "ah" kepada orangtua. 

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 05 Agustus 2017

Uptown Boy Dari Trainwreck

Trainwreck adalah film romantis komedi kurang ajar brojolan tahun 2015 yang menurutku mampu mengacaubalaukan pendirian, persepsi, bahkan perasaan para penontonnya. Seenggaknya itu terjadi di aku yang nontonin ulang filmnya dua hari lalu.

KARENA SEBENARNYA AKU NONTONIN ULANG FILM INI YA CUMA BUAT KANGEN-KANGENAN SAMA EZRA MILLER. YANG BAHKAN DI SITU DIA NGGAK JADI PEMERAN UTAMA DAN PERANNYA JUGA MENURUTKU IYUH GITU. TAPI CUMA KARENA EZRA MILLER. LAH HABIS NONTON FILMNYA KENAPA AKU MALAH BAPER PARAAAAAAAAH. BUKAN SAMA EZRA MILLERNYA TAPI MALAH SAMA YANG LAIN. RENCANAKU KACAU BALAU KARENA KEBAPERANKU SAMA FILM INI!!!!


Hhh. Dasar cewek baperan.

Oke. Jadi gini. Awalnya aku kangen Ezra Miller. Aku pengen nyimak lagi aktingnya sebagai anak magang bernama Donald yang iyuh banget. Dan aku lagi nggak punya kuota buat Twitter-an waktu itu jadinya nontonin film-film lama. Huhuhuhuhu.

Jujur aku nggak suka Ezra Miller di situ, tapi gara-gara nonton filmnya dia yang The Stanford Prison Experiment, aku jadi jatuh cinta sama dia. Muka menderitanya di The Stanford Prison Experiment, dan seringainya pas dia kepergok lagi autofellatio alias olahraga lima jari alias masturbasi di We Need To Talk About Kevin, masih kengiang-ngiang sampai sekarang.

Muka yang selalu terbayang saat aku ingin tidur...

Terus habis nonton ulang Trainwreck, aku malah ngedapatin hasil yang berbeda. Bukannya makin sayang sama Ezra Miller, aku malah....

Oke. Ceritain dulu ya filmnya gimana. Jadi, Trainwreck ini bercerita tentang Amy (Amy Schumer), seorang penulis di majalah terkenal. Amy adalah tipe cewek yang terbiasa pacaran tanpa mengenal komitmen dan hobi main serong, karena menganut paham "Monogamy isn’t realistic," yang ditanamkan Ayahnya sedari dini. Bertolak belakang banget sama adiknya, Kim (Brie Larson), yang telah berkeluarga dan memilih mengabdikan diri menjadi ibu muda dengan satu anak tiri.

Setelah putus dari Steve, (John Cena) dengan cara yang bikin aku teriak, “Bangkay!” Amy ditugaskan oleh Diana (Tilda Swinton), atasannya, buat menulis profil seorang dokter bedah para atlit olahraga yang tengah naik daun. Dokter itu bernama Aaron Conners (Bill Hader).

Dan bisa ditebak, seiring waktu berjalan, mereka saling jatuh cinta. Awalnya Amy nganggap kalau hubungan mereka sekedar one night stand semata. Tapi enggak dengan Aaron yang udah lama nggak pacaran dan lugu itu. Amy bisa aja nolak mentah-mentah pernyataan, “Kita bisa jadi sepasang kekasih," yang muncrat dari mulut Aaron. Tapi dia malah ragu. Ternyata dia jatuh cinta sama Aaron. Dan memikirkan apakah kali ini Aaron bakal sama kayak cowok-cowok lain yang sekedar jadi teman tidurnya dia, bukan teman hidupnya.

Saling mengendus
Waktu nonton pertama kali, aku memang udah suka sama film ini. Filmnya bikin ngakak sekaligus bikin senyam-senyum terharu. Pantas aja sih Mbak Niken sampai masukin film ini di daftar film 2015 favoritnya. Dan ya, waktu itu aku fokus penuh ke Amy. Aku ngerasa semua yang ada pada Amy itu familiar. Nggak mau berkomitmen, suka nuntut pasangan, cerewet, sinis sama orang lain, pantang nangis karena cinta, dari fisik biasa aja tapi menarik. Orang kayak Amy itu nyata. Amy versi cowok itu banyak. Biasanya sih cowok-cowok dengan zodiak Gemini. Aku membaperkan diri sama hal itu.

Senyum Gemini saat berhasil flirting ke banyak lawan jenis.

Terus pas nonton kedua kalinya, aku ngeliat Trainwreck lebih dari itu. Ya, tanpa perlu nunggu dua Yoga Gemini bajingak nge-twit yang isinya, 

“Kalau cuma bisa ngeliat cowok dari zodiaknya aja, jangan nantangin.” 

Trainwreck punya jajaran pemain yang santap soul. Tilda Swinton lagi-lagi memukau dan lagi-lagi main bareng Ezra Miller setelah duet maut mereka sebagai Ibu dan anak di We Need To Talk About Kevin. Pembawaannya ngingatin penonton sama peran bos jahat dari Meryl Streep di film Devil Wears Prada. Stylish, galak, dan perfeksionis. Salah satu ‘kejahatan’nya yaitu nuntut Amy buat nulis yang bukan bidangnya.

Brie Larson memerankan Kim sesuai porsi. Aura keibuannya di film Room menurutku kerasa di Trainwreck, pas dia menghadapi anak tirinya. Dan kelihatan kalau dia menikmati hidupnya sebagai istri orang. Tapi adegan favoritku yaitu pas dia adu mulut sama Ayahnya dan Amy sih. Adegan yang cukup emosional itu masih sempet-sempetnya ditutup dengan satu kalimat yang cukup lucu. Taek. Udah kebawa kesalnya Kim, eh aku langsung ngikik gara-gara kalimat itu.

Lagi ngeliatin foto jadul buat ikut #SemingguAvatarFotoJadul

Ada Lebron James, pemain basket NBA yang berperan jadi dirinya sendiri dan jadi sahabatnya Aaron. Aktingnya bagus sih. Aku suka gimana dia ‘ngelindungin’ Aaron dari sakit hati karena wanita. Btw aku tambah kagum sama film ini karena kehadiran Lebron James. Tentang dokter olahraga yang temenan sama pebasket terus ya pebasket beneran. Bukan aktor yang berperan jadi pebasket. Terus nggak cuma Lebron James, tapi juga ada pebasket lainnya. Film ini nampilin banyak cameo (bahkan ada Daniel Radcliffe dan Marisa Tomei si Bibi May hahaha). Jadi ngingatin sama film Insya Allah Sah yang banjir cameo.

Filosofi Basket: Aaron dan Lebron.
Dan untuk Ezra Miller.... aku udah nggak ngerasa iyuh lagi sama perannya di film ini. Itu aja sih. 

Oh iya, soal pemeran utamanya.... Ya memang sih, Trainwreck nggak punya tokoh utama wanita yang menarik dari segi penampilan. Amy Schumer yang nggak begitu cantik, nggak tinggi, dan nggak langsing. Tapi itu yang menurutku bikin Trainwreck terlihat istimewa dan bikin baper parah. 

Film ini adalah kisah tentang bad girl yang ‘takut’ sama perasaannya sendiri karena jatuh cinta sama good boy. Bagi aku yang masih kurang asupan film, aku jarang nemuin film dengan premis begitu. Rom-com yang biasa kutonton dan bikin aku jatuh cinta malah biasanya good girl gitu. Dan pasangannya biasanya bad boy. Terus bentukan bad boy misalnya kayak di film A Walk To Remember, film You Are The Apple of My Eye, dan music video Bad-nya Young Lex. 

Nah, terus aku jarang nemuin bad girl yang kayak Amy. Selain karena penampilannya yang beda sama cewek-cewek di rom-com kebanyakan, karakter Amy menyebalkan dan menyenangkan di saat bersamaan, gampang jatuh cinta dan gampang juga ngelupain. Amy lucu-lucu ngeselin dan lugas dengan pemikiran-pemikiran jelek serta sikap sinisnya terhadap sekitar yang bikin ngakak. Dia nggak habis pikir kenapa cowok-cowok ‘memuja’ atlit, nggak habis pikir sama para anggota cheerleaders, nggak habis pikir sama adiknya yang mau-maunya nikah sama duda beranak satu... 

Review Rorypnm menyebut Amy Schumer sebagai The Amazing Amy, dikarenakan kehadirannya di Trainwreck sebagai pemeran utama sekaligus penulis naskah sama-sama bagus. Girl power! Ngingatin sama film Ruby Sparks yang naskahnya ditulis oleh Zoe Kazan sendiri, pemeran Ruby Sparks. Film arahan Judd Apatow ini membebaskan Amy untuk menuangkan ide-ide liarnya. 

Naskahnya cerdas dan kocak kalau kata Mbak Niken. Amy menyinggung banyak film dan para pemain film. Bikin ngakak sekaligus kagum sama referensi film Amy dan selera humornya itu. Terus ada satu adegan yang bikin aku berfantasi liar, di mana Amy lagi ngobrol sama temannya selagi buang hajat. Ngobrolin mau bercinta sama Johnny Depp versi apa. Aku jadi ngebayangin kalau misalnya Trainwreck itu di-remake Indonesia terus demi kearifan lokal, Johnny Depp-nya diganti sama Reza Rahadian. Amy dan temannya bakal berdialog mau bercinta sama Reza Rahadian versi Habibie Ainun, Critical Eleven, atau My Stupid Boss.

Terus, bukti kalau naskah Amy ini cerdas adalah film ini bukan sekedar film komedi cinta-cintaan, tapi juga ada drama keluarga tentang Ayah-anak. Interaksi antara Amy dan Ayahnya itu lucu dan sedih di saat bersamaan. Trainwreck menyentuh dengan drama keluarganya. Dan ada satu adegan yang bikin aku mikir kalau semua cewek pasti bisa langsung meleleh sama cowok yang bisa akrab sama orangtuanya. 

Ngomongin soal meleleh, ada satu adegan yang bikin aku meleleh bahkan sampai sekarang. Aura adegan itu mirip-mirip sama acara Melamar di Net TV. Dan pake lagu Uptown Girl-nya Billy Joel. Gara-gara baper sama adegan itu, aku jadi keingat sama twit Agia.


Ending-nya mayan nyesek, ya...


Terus kepikiran sama tatapan terharunya Aaron Conners di adegan itu. Tatapan yang.... aaaaaaak. AKU BAPER PARAH SAMA AARON CONNERS AAAAAAK. Rasanya baru kali ini aku jatuh cintaaaa banget sama good boy. Trainwreck mengubah pandanganku akan good boy dan bikin aku berpaling dari bad boy. Good boy ternyata nggak harus cupu, nggak harus culun, dan nggak harus ganteng manis banget macam Tom Hansen-nya (500) Days of Summer. Good boy yang bikin aku meleleh justru malah yang kayak Aaron Conners. 

AARON CARTER! EH, AARON CONNERS!!

Dia memang keliatan biasa aja sih. Nggak ganteng-ganteng banget, jidatnya lebar, suaranya seringkali cempreng. Tapi huaaaaaaaaa aku tetap aja aku suka sama diaaaaaaaaa! Aku suka dia yang nggak keliatan sebagai good boy yang yah, kebanyakan digambarkan cupu, culun, introvert, dan lemah. Aku suka caranya dia dalam ngebaik-baikin dan ‘tunduk’ sama Amy. Aku suka caranya dia ngebuat karakter Aaron Conners itu real. Seorang dokter mapan yang lucu dan lugu. Udah lama nggak pacaran, eh sekalinya pacaran malah sama cewek begajulan kayak Amy. Aaron adalah good boy yang mampu membawa Amy ke pemikiran hidup yang benar. Pemikiran bahwa serius dalam hubungan itu penting.

Dengerin Uptown Girl sehabis nonton Trainwreck, bikin aku jadi mikir kalau Aaron bukan sekedar good boy, tapi juga uptown boy. Bukan karena Aaron itu dokter mapan kaya raya berlimpah harta hidup bermewah-mewahan, tapi karena Aaron adalah cowok yang kaya akan kebaikan hati. Punya sifat rendah hati, penolong, pemaaf. Dan Aaron juga kaya akan kasih sayang. Kasih sayang buat Amy. Aaron adalah cowok yang berharga. Sementara Amy adalah cewek yang kelihatan nggak ada harganya. Ya karena dia dari satu cowok ke cowok lain dengan gampangnya. Dia adalah cewek yang ‘kekurangan.’ Kurang setia, kurang ramah, kurang serius, kurang peduli.... Hmm, Amy menurutku bisa dibilang sebagai cewek yang miskin akan hal-hal baik, meskipun sebenarnya dia nggak jahat. Dia cuma nggak punya kebaikan hati yang dipunyai Aaron. 

Sekali lagi, Amy itu ada di kehidupan nyata. Cewek yang ‘kekurangan.’ Dan di kehidupan nyata, apa boleh cewek kayak Amy jatuh cinta sama uptown boy kayak Aaron? Mengingat isi surah An-Nur:26 yang artinya,

“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik."

Apa boleh?

Eh tapi, ada juga yang bilang, kalau jodoh itu bukan yang 'setara' dengan kita, tapi juga bisa berupa orang yang mendekatkan kita ke hal-hal baik. Mungkin itu berlaku di kisah Amy dan Aaron. Dan kalau itu juga berlaku di kehidupan nyata...

Aku pengen uptown boy kayak Aaron itu ada.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 30 Juli 2017

Jika Philomena Menjadi Tontonan Favorit Mamaku

Kadang kalau Mamaku nyuruh aku tidur pas aku lagi masyuk-masyuknya nonton film di laptop atau hape, ada satu keinginan liar terbesit di kepala. Aku pengen ngajak Mamaku buat ikutan nonton bareng aku. Film-film drama keluarga tentu aja jadi pilihan. Pasti itu bakal relate sama beliau. Selesai nonton, kami bakal bahas film itu sama-sama. Menciptakan bahan obrolan yang lebih bergizi dibandingkan kayak biasanya yaitu makan-siang-tadi-makannya-di-luar-apa-titip-teman-terus-menunya-apa-awas-aja-kalau-makan-mie-instan-lagi. 

Tapi hal di atas itu sangat nggak mungkin terjadi karena kekolotan Mamaku yang udah mendarah daging. Mamaku pernah bilang kalau film The Conjuring 2 itu film kafir. Oke, bukan cuma The Conjuring 2, tapi semua film yang ditayangin di Fox Movies dan HBO itu dilabeli film kafir oleh beliau. Terus pas aku mau malam Mingguan sama Bapakku dengan nonton Silariang, Mamaku ngelarang dengan bilang, 

“Nggak usah nonton gin. Nanti Bapakmu mau kencing-kencing terus. Kedinginan sama AC bioskop.”

Waktu itu aku berusaha mempertahankan rencana nonton dengan bilang, 

“Nggaknya pang, Ma. Pasti Bapak tegang karena suka. Nggak sempat kepikiran mau kencing. Kan itu film Bugis (Bapakku orang Bugis btw).”

“DIBILANGIN NGGAK USAH NONTON YA NGGAK USAH! MENDING UANG NONTONNYA DIPAKE BUAT BELI MIE JOGJA! KENYANG!”

Ya gitulah. Mamaku nggak suka nonton film, intinya. Iya sih, wong udah tua begitu. Huhuhuhu. 

Mungkin momen nonton film berdua sama Mamaku bisa terjadi kalau seandainya film Philomena itu Termehek-Mehek rasa Mikrofon Pelunas Hutang campur Mamah dan Aa Beraksi. 

Berpikir keraz.

Philomena ini aku taunya dari review Mbak Niken. Pas ngebaca review yang sarat akan kekaguman dan kebaperan akan Philomena, aku langsung berminat buat nonton. Aku ngerasa di tulisan itu, Mbak Niken seolah ngomong, 

“Kalo lo ngerasa film sebagus Philomena itu biasa, tandanya ada yang salah sama lo.”

Aku pun penasaran dan langsung nonton. Sehabis nonton filmnya, ya bener aja sih sama apa yang udah ditulis Mbak Niken. Filmnya baguuuuuuuus! Aku ngerasa film keluaran tahun 2013 ini harus aku bahas walaupun nggak dibahas kayak film Dunkirk yang sampe bikin ada commentwar (kayak twitwar gitu hehehe) di blognya Mas Rasyid Harry. Dan padahal aku udah nge-review film ini di Twitter.


Tapi itu nggak cukup menggambarkan betapa bajingsengnya film ini. 

Philomena ini berdasarkan kisah nyata, sama kayak Dunkirk (yaelah kenapa Dunkirk mulu daritadi sih, Chaaaa) lebih tepatnya diadaptasi dari buku berjudul The Lost Child of Philomena Lee yang ditulis oleh mantan jurnalis BBC bernama Martin Sixsmith. Filmnya kurang lebih ngingatin sama The Program. Sama-sama tentang petualangan jurnalis dalam mencari kebenaran. Kalau pas sebelum nonton The Program, aku harus browsing ke sana kemari buat mau lebih masok di filmnya, nah kalau Philomena ini enggak. Mbak Niken bilang kalau semakin sedikit yang kita tau soal kisah Philomena, semakin seru filmnya. Dan aku nurut.

Filmnya diawali dengan problematika seorang lelaki bernama Martin (Steve Coogan) yang baru saja dipecat, jadi pengangguran, dan sedang ingin menulis buku sejarah Rusia. Tak lama kemudian dia dipertemukan dengan pegawai di salah satu restoran, yang memintanya untuk membantu sang Ibu. Philomena Lee, itulah Ibunya. 

Philomena, tokoh utama film ini, adalah seorang lansia yang ramah, lugu, dan religius. Masa mudanya dulu dia habiskan dengan hidup diasingkan di gereja karena hamil di luar nikah. Dia menggantungkan harapan pada Martin, harapan untuk bisa menemukan anaknya yang sudah 50 tahun terpisah darinya dikarenakan kekejaman gereja tempat ia ‘belajar’ dulu. Saat Martin mengiyakan permintaan Philomena, dimulailah petualangan mereka berdua dalam mencari anak yang hilang. Petualangan berujung momen yang bikin aku berkata-kata tidak higienis untuk para biarawati bajingak itu. Biarawati yang mengatasnamakan agama dan mendompleng popularitas gereja untuk berbuat keji. 

Aku suka cerita yang diangkat di film ini. Rada ngingatin sama perjalanan Cici Panda dan Mandala Shoji-nya Termehek-Mehek, yaitu mencari orang hilang. Ngingatin sama acara yang dulu aku suka tonton berdua sama Mamaku. Dan lebih suka lagi karena ‘cara mengangkatnya’ adalah dengan cara yang ringan, manis, dan juga lucu. Perjalanan mereka nggak ditunjukkan secara bertele-tele. Chemistry antara Judi Dench dan Steve Coogan itu juga manis. Judi Dench memerankan Philomena yang religius dan sangat amat percaya kuasa Tuhan, sedangkan Steve Coogan dengan perannya sebagai Martin yang meragukan eksistensi Tuhan dan cenderung sinis soal agama. 

Bertatap manjah
Karakter yang bertolak belakang menjadikan perjalanan mereka bikin ngakak. Perjalanan mereka dihiasi dengan dialog-dialog cerdas nan sarkas yang keluar dari mulut Martin. Dan Philomena bikin ngakak dengan ceritanya soal seks dan dengan kebiasaannya yang suka menceritakan lengkap isi novel. Dan adegan pas depan pintu hotel dia datangin Martin itu cukup lucu. Kirain dia mau ngomong apa. Eh taunya....

Di setiap film pasti ada tokoh antagonisnya. Di film ini tokoh antagonisnya adalah para biarawati tempat di mana Philomena dulu tinggal. Tempat di mana dia dan anaknya dipisahkan selama 50 tahun. Dan ya, aku keseeeeeel banget sama para biarawati itu. Aku nggak terima sama apa yang mereka telat perbuat dan bikin aku nggak terima sama ending-nya karena... WHAAAT THE FUCK ITU NGGAK ADIL BANGET BUAT PHILOMENA GITU LHO. DIALOG “RASA SAKIT ADALAH PENEBUSAN DOSANYA,” YANG KELUAR DARI MULUT KEPALA BIARAWATI SEMPAT BIKIN KUPINGKU PANAS DENGERNYA. HHH. 

Aku baper sama Philomena. Jatuh cinta dengan Philomena menurutku sama kayak jatuh cinta sama lagu Santa Tell Me-nya Ariana Grande. Sama-sama tentang bukan agama yang aku anut tapi bisa dinikmati. Santa Tell Me bukan cuma tentang Natal, malah lebih ke tentang cewek yang nggak mau dipehapein lagi sama satu cowok. Bisa dinikmati sama ciwik-ciwik yang sering kena PHP sih menurutku. Lirik, “Don’t make me fall in love again. If he won’t be here next year," itu sungguh asyu.

Dan ya, Philomena bisa relate ke agama lain. Aku jadi mikir kalau isu agama yang diangkat Philomena, bisa relate sama agama Islam yang ‘disalahgunakan’ oknum-oknum bajingak sebagai pembenaran atas perbuatan buruk yang telah mereka lakukan. Ya contohnya FPI. 

Hah, Cha.... TAU APA KAMU SOAL FPI....

Terus.... karena tokoh utamanya adalah seorang Ibu, maka film ini nggak jauh-jauh dari kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya. Ibu adalah manusia yang selalu ngerasa bersalah kalau anaknya kenapa-kenapa. Ibu nggak mau menyalahkan keadaan bahkan anaknya sendiri, padahal jelas-jelas itu adalah kesalahan anaknya. Contoh sederhananya kayak anak kena maag akut karena malas makan, ya Ibu tetap aja nggak nyalahkan anaknya. Philomena memperlihatkan rasa bersalah itu. Meskipun di sini anaknya nggak salah sih, yang salah adalah para biarawati bajingak itu.

Dan ngebuat aku mikir, terkadang menyalahkan diri sendiri lebih baik daripada menyalahkan yang lain. Menyalahkan diri sendiri dengan artian ya kayak Philomena itu. Merasa bertanggung jawab, dan memaafkan apa yang udah terjadi. 

Ngomong-ngomong soal Ibu, aku jadi mikir gini sih. Seandainya Steve Coogan ini Okky Lukman-nya Mikrofon Pelunas Hutang, di mana karakter Martin bukannya sarkas dan sinis, melainkan mudah merasa kasihan dan suka nangis sesenggukan, terus berusaha menularkan tangisannya itu ke penonton. Terus Philomena dibikin melarat, dibikin punya keterbatasan fisik, dibikin memprihatinkan gitu lah. Film ini jadi penuh dengan muatan konflik pribadi yang over dramatic menguras air mata. Ya tetap aja dari kisah nyata tapi dikasih bumbu-bumbu drama biar sedap. Apalagi kalau agama Katholiknya diganti jadi agama Islam. Mungkin Philomena bakal jadi tontonan yang emak-able. Bahkan bisa dijadiin series kayak Tukang Bubur Naik Haji. 

Kalau Philomena jadinya begitu, pas disuruh tidur, aku bisa bilang, 

“Ma, sini nonton Philomena sama Icha.” 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 22 Juli 2017

Teman Tapi Menikah Tapi Bercerai Tapi Berteman

Aku sempat bingung kenapa teman-temanku sebegitu ngefans sama Ayudia Bing Slamet dan suaminya, Ditto Percussion. Terus berbondong-bondong beli buku Teman Tapi Menikah, buku pasutri Ayudia-Ditto itu. Dan salah satu temanku, yaitu Nina, pernah update IG stories yang isinya foto Sekala (anak Ayudia-Ditto) terus ditambahin tulisan....

"Ih anak Bunda udah mandi...." 

Sepertinya temanku itu udah kebelet buat punya anak. Dan aku jadi sadar kalau udah nggak jaman lagi ngaku-ngaku jadi pacarnya artis. Sekarang jamannya ngakuin anak artis.

Terus mereka heboh pas Ayudia nggak pake jilbab buat main di film Mantan. Padahal pembuatan filmnya itu udah lama, pas Ayudia belum hijrah. Hadeh banget.

ANJER. KOK AKU KAYAK HATERS-NYA TEMAN TAPI MENIKAH SIH....

Sebenarnya nggak benci juga sih. Cuman ya aku bingung aja. Kisah cinta di mana dua insan yang berteman lama ternyata berjodoh, jodoh nggak ke mana, dihamili sahabat sendiri, itu menurutku biasa aja. Memangnya kenapa kalau teman tapi menikah? Halal daripada teman tapi mesra gitu? 

Sampai akhirnya aku ketemu film Celeste and Jesse Forever. Dan judul postingan kali ini adalah premis dari film tahun 2012 itu. Dikangkangi Lee Toland Krieger. Dibintangi Rashida Jones dan Andy Samberg.


Photobox di Timezone

Awalnya aku ragu buat nonton film ini karena pemeran utamanya nggak familiar. Tapi kalau dilihat sekilas, Andy Samberg pucet putihnya mirip Jesse Eisenberg dan Rashida Jones mirip Kristen Wiig waktu masih muda. Terus kalau dilihat dari trailer-nya, konyolnya Rashida dan Kristen itu kurang lebih sama. 

Dengan sotoynya aku jadi mikir, mungkin itulah yang menyebabkan Iqbaal dipilh buat jadi Dilan. Bukan Gusti Rayhan. Supaya nggak menimbulkan 'keraguan' buat nonton kayak yang aku rasain. Padahal kan Grayhan itu Dilan bangeeeet!

Alisnya tebel btw.

Halah. Tau apa soal Dilan. Baca novelnya aja belum. Huhuhu.

Kembali lagi ke Celeste and Jesse.

Nah, tapi akhirnya aku nggak ragu buat nonton karena hal-hal ini.

Hal pertama, yaitu judulnya. Celeste and Jesse Forever. Ada dua nama dan kata forever. Mengingatkanku pada tulisan alay yang biasa diukir di buku halaman belakang, dinding kelas, atau pohon. Ditulis oleh remaja-remaja alay sekolahan. Aku ngikik geli karena aku pernah nulis-nulis begitu. Dan kayaknya anak sekolahan emang suka deh nulis namanya dia sama nama lawan jenis terus diakhiri dengan kata forever. Biasanya juga dibingkai sama tanda love.

Hal kedua, aku tertarik pas di awal filmnya. Lagu Littlest Things-nya Lily Allen mengalun mengiringi tumbuh kembang kisah cinta mereka. Bikin aku teriak-teriak, 

“AAAAARRRRGHHH ANJER PAKE LAGU INI AAAAAAAK!”

Terus bapernya aku sama Littlest Things sebelumnya pernah aku tulis di SINI dan di Twitter.



Hal ketiga, karena tema filmnya. Film komedi romantis tentang pernikahan. Aku lagi engas sama film-film bertema pernikahan. Dan setelah nonton filmnya, aku ngerasa kebingunganku akan teman-tapi-menikah terjawab. Aku jadi ngerasa hubungan teman tapi menikah itu istimewa. Dan indah banget.... kalau bisa dipertahankan selamanya.

Celeste and Jesse Forever bercerita tentang Celeste (Rashida Jones) dan Jesse (Andy Samberg), dua insan yang sudah bersahabat lama dari sekolah, pacaran, terus nikah. Tapi kini mereka lagi dalam proses perceraian. Mereka berpisah udah 6 bulan lamanya di saat umur pernikahan mereka mencapai 6 tahun.

Yang uniknya (lebih tepatnya anehnya) adalah, mereka masih sering ketemu, jalan bareng, bercanda bareng. Kayak nggak terjadi apa-apa di antara mereka. Mereka tetap jadi pasangan yang enak dilihat. Pasangan yang konyol dan menyenangkan. Punya selera humor yang sama dan saling memahami satu sama lain.

Pemandangan yang membingungkan bagi Beth (Arya Graynor) dan Tucker (Eric Christian Olsen), dua sahabat Celeste dan Jesse. Di satu sisi mereka senang bisa ngeliat dua orang yang sahabatan, atau pacaran lama, bisa nikah. Menikah dengan sahabat baik. Pas cerai pun tetap mau sama-sama. Nggak memutus silaturahmi. Nggak saling blokir atau unfollow akun sosial media terus saling sindir no mention di Twitter.

Tapi di satu sisi lagi, mereka bingung bahkan kesal sama Celeste dan Jesse. Karena bagi mereka, Celeste dan Jesse itu nggak normal. Masa pas rumah tangga mereka retak, mereka nggak kelihatan sedih sama sekali? Emangnya pernikahan mereka itu bukan hal penting sampai nggak dipusingin? Terus kok bisa sih mereka masih bisa punya jokes personal yang mereka ketawain bareng-bareng misalnya jokes memainkan 'penis kecil', yang orang lain nggak ngerti itu lucunya di mana?

Roger Ebert bahkan menuliskan ini di review Celeste and Jesse-nya:

"But we're still best friends," they explain to everyone. To me, those are five of the saddest words in romance. 

Ngeliat teman yang putus tapi masih bisa hahahahihihi sama mantannya aja kita bingung, apalagi ini cerai. Iya nggak sih?

Beth dan Tucker yang udah di puncak kebingungannya itu pun menyarankan Celeste dan Jesse untuk segera move on. Untuk segera memulai lembaran hidup baru masing-masing. Celeste dan Jesse pun mengikuti petuah dari dua sahabatnya itu. Dan yang move on duluan itu Jesse, dengan menghamili Veronica (Rebecca Dayan), seorang perempuan elegan yang baru dikenalnya beberapa bulan. Hal yang nggak pernah disangka Celeste.

Celeste pikir walaupun mereka bercerai, dia dan Jesse tetap bisa bersama. Celeste pikir nggak ada yang berubah kecuali status mereka. Celeste pikir kalau nggak ada Jesse dalam hidupnya, dia bakal baik-baik aja. Celeste pikir dia nggak butuh Jesse lebih dari sahabat baik.

Ternyata Celeste salah. Celeste nggak selalu benar seperti yang dia pikir selama ini.

Foto gandeng.
Selanjutnya adalah adegan demi adegan yang seolah menggambarkan penyesalan seorang Celeste. Bikin aku mikir, film ini bisa dikasih judul Dear Jesse. Soalnya porsi Celeste lebih banyak daripada Jesse sih. Padahal jujur aku lebih suka kalau pas adegan yang ada Jesse-nya. Walaupun Celeste itu berkepribadian konyol, tipikal pemeran wanita favoritku, tapi aku lebih suka pas mereka dalam satu adegan.

DAN AKU BAPER HUAAAAAAAA.

KENAPA FILMNYA BERTEMA KELAM TAPI DIBAWAKAN RINGAN DAN MAKNANYA DALEEEEM SIIIIH.

KENAPA MEREKA YANG SEMANIS DAN SELUCU ITU BISA CERAI SIH AAAAAAAAAAK.

AKU IKUTAN SENENG PAS LIAT MEREKA SENANG. AKU IKUTAN NGAKAK SAMA JOKES MEREKA. AKU IKUTAN SEDIH PAS MEREKA SALING NGERASA KEHILANGAN. 

ENDING-NYA NGEDEWASAIN GITU AAAAAAK. LITTLEST THINGS PAS DIDENGER JADI KERASA MAKIN SEDIIIIIIH. 

Otomatis, aku memakan perasaanku sendiri. Perasaan waktu aku bingung kenapa teman-temanku memuja pasutri Ayudia-Ditto. Lah aku malah memuja pasutri fiktif. Huhuhuhu. 

Sumpah ya, ngeliat mereka berdua itu bikin baper. Nikah sama sahabat sendiri itu ternyata menyenangkan banget. Nikah sama orang yang udah dikenal bertahun-tahun lamanya itu membahagiakan. Punya jokes personal buat diketawain berdua. Curhat-curhatan tanpa sungkan. Sumpaaaaah. Seneng banget ngeliat Celeste dan Jesse yang nggak perlu bermanis-manis ria, malah saling ngeledek, tapi keliatan kalau mereka itu pasangan yang romantis.

Keep smile!
Sayangnya, perbedaan prinsip, kepribadian, apalah itu, membawa mereka ke ambang perceraian. Padahal masih ada cinta di antara mereka. Tapi mereka butuh masa depan. Oke, Celeste yang butuh masa depan. Celeste sebenarnya nggak bisa hidup tanpa Jesse. Begitu juga sebaliknya. Tapi Celeste memasang standar untuk bisa selamanya menjadikan Jesse itu suaminya. Kalau cuma jadi sahabat yang selalu menemani, Celeste bisa mencintai Jesse. Tapi kalau buat jadi suami... Celeste nggak bisa. Saat itu, Celeste nggak mau ‘buta’ buat berumah tangga. 

Sedangkan Jesse bukan nggak mau berubah jadi yang lebih baik. Tapi Jesse udah nyaman dengan keadaan itu. Jesse nggak mau menggungguli sifat otoriter Celeste karena dia pikir, Celeste nggak bakal suka. Biarlah dia tetap jadi pendengar Celeste. Tetap jadi satu-satunya orang yang mengerti Celeste.

Hal itu bikin aku mikir dengan sotoy, kalau Jesse itu berkepribadian plegmatis. Dan Celeste itu koleris. Rashida Jones dan Andy Samberg sukses membawakan peran mereka dan ngebuat karakter Celeste dan Jesse itu nyata. 

Celeste adalah tipe perfeksionis. Ambisius, taat pada peraturan, kaku, dan bossy. Tipe-tipe wanita karir yang nggak sudi kalau kemampuannya diungguli orang lain, bahkan oleh suaminya sendiri. Kehadiran Riley Banks (Emma Roberts) di ranah pekerjaan Celeste, menguatkan karakter Celeste yang suka menilai orang dari sisi jeleknya aja. 

Sementara Jesse adalah tipe santai, pecinta damai, cenderung pasif, dan ramah. Bergumul dengan Veronica, ngebuat Jesse lebih percaya diri dalam mencintai orang lain. Hal yang nggak dia rasakan sewaktu bersama Celeste.

Double date di Susano Bookstore.
Sekuat-kuatnya Celeste dengan bilang kalau dia baik-baik aja ngeliat Jesse sama yang baru, akhirnya dia nangis juga. Dia nggak sekuat yang dia pikir. Adegan saat dia adu mulut dengan Jesse dan curhat dengan Riley itu.... bagus. Aku nangis sambil ngomong, “Mbak Celeste. Mbak Celeste," berkali-kali kayak Slamet, remaja 16 tahun yang kepincut nenek usia 70 tahun. Slamet yang ngomong "Mbak Chika, Mbak Chika," berulang-ulang di salah satu episode Hitam Putih. 

Secara keseluruhan, Celeste and Jesse Forever adalah film yang enak dijadikan panduan menikah, apalagi kalau kita mau menikah sama sahabat kita sendiri. Apakah modal udah kenal lama dan pacaran lama bisa dijadikan jaminan bakal langgeng sampai tua? Kalau nanti misalnya harus cerai, apakah kita bisa move on tanpa merusak persahabatan sama dia? 

Celeste and Jesse Forever adalah film yang ngebuat kita berpikir-pikir lagi tentang makna pasangan hidup ideal. Celeste dan Jesse seolah 'menenangkan' cewek-cewek umur otw 25 tahun, yang lagi galau liat satu persatu mantan mereka upload foto gandeng bareng calon istri di Instagram. Sementara mereka belum punya calon sama sekali. Ngasih tau, kalau nikah itu ya.... nggak mudah. 

Kalau nikah itu mudah, wajar kalau mereka sedih kenapa mereka belum nikah.  Di saat orang lain bisa melakukan hal mudah tapi kitanya nggak bisa, itu bikin sedih kan?

Hmm. Iyain aja deh. Biar cepet. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com