Sabtu, 25 Maret 2017

Pria, Wanita, Fakir Miskin, dan Anak-Anak Terlantar Punya Selera

Setelah Instagram, aplikasi media sosial yang aku uninstall beberapa waktu lalu dari hapeku adalah Twitter. Lumayan, hal yang telah aku lakukan itu selain menghemat kuota, juga mengurangi intensitas begadangku. 

Tapi itu nggak berlangsung lama. Karena pas buka Twitter di komputer kantor, aku nemuin timeline Twitter penuh dengan ritwitan dari akun @pseuDony_ yang isinya tentang daftar film favorit setiap tahun selama hidup. Banyak yang ikutan ‘permainan’ itu. 

Nafsu bejatku untuk ikut main juga pun membuncah. Di situ aku ngerasa keimananku benar-benar diuji. 

Akhirnya aku install Twitter lagi. Huahahahaha! Rada kaget liat Twitter versi baru. Banyak perubahan sana-sini, tapi yang bikin kaget sih DRAF TWIT-KU PADA NGILANG ANJIIIIIIRRR.... PADAHAL BANYAK TUH DRAF-NYA. SAYANG BANGET HUHUHU. 

Tapi yaudah, lagian draf-nya pada alay gitu sih isinya. Aku pun langsung nge-twit dan mention ke akun Mas Don. 




Sungguh basique sekali, bosque~

Setelah sejam dua jam ngelakuin itu, aku jadi kepikiran. Aku ngerasa ikutan main dengan nggak lepas dan bikin aku nggak puas sama hasilnya. 

Daftar di atas itu ada yang dari hasil mikir cepet, jadinya ada film lain yang harusnya jadi film favoritku di insert-tahun daripada film yang udah aku masukin di daftar. Ada beberapa film yang sayang buat nggak masuk daftar, jadinya aku bikin daftar lagi.



Tahun 2014, setelah aku pikir-pikir lagi, harusnya aku masukin Mommy. Karena Mommy duluan yang mencuri perhatianku, dan Mommy yang menurutku related sama aku. 

Ada juga yang dalam satu tahun, dua film yang kujadiin favorit. Yaitu tahun 2015, aku juga favoritin Mustang. Susah buat milih antara The Lobster dan Mustang, karena sama-sama berkesan. Begitu juga di tahun 2004, aku favoritin film absurd lainnya tentang cinta yaitu 3 Iron. Memilih 3 Iron dan Eternal Sunshine of The Spotless Mind itu sulit. In The Mood For Love, A Walk To Remember, Flipped, dan Ruby Sparks juga nggak aku masukin di daftar sebelumnya karena alasan yang sama. 

Oh iya, 2010 dan 2012 punya banyak film yang bisa difavoritkan. Selain Flipped, aku juga favoritin Incendies, film drama asal Kanada tentang perjuangan saudara kembar menjalankan ‘wasiat’ dari Ibu-nya yang telah meninggal. Dan di 2012, selain Ruby Sparks, aku juga favoritin.... Jan Dara. Nggak usah ditulis ya sinopsisnya. Drama keluarga yang sedih banget pokoknya. Perlu tisu sebanyak-banyaknya buat menikmati itu film. Hiks. 

Ada juga yang dari hasil terlalu banyak mikir. Kalimat “Eh kalau aku pilih ini, ntar dibaca orang kayak gimana, ya?” terngiang-terngiang di kepalaku. Nah, The Virgin Suicides itu contohnya. Itu film kelam banget sumpah, tapi aku suka. Cuman aku males daftarku itu isinya itu rata-rata film kelam, jadi akhirnya aku masukin film remaja komedi romantis, yaitu 10 Things I Hate About You. 

Trus 2016.... banyak film bagus sih di tahun itu. Tapi aku nganggap kalau Captain Fantastic jadi satu-satunya film yang fantastic di tahun 2016. Tapi karena terlalu mikirin, 

“Ih, kan La La Land banyak dapat penghargaan!”

“Ih, kan banyak tuh yang pilih La La Land! Masa kamu enggak, Cha?”

"Ih katanya kembaran Emma Stone, kok nggak pilih La La Land?" 

Akhirnya aku pilih La La Land aja. Yang aku favoritin juga, tapi nggak ngasih paket lengkap kayak yang udah Captain Fantastic kasih ke aku. 

Ya, begitulah kalau terlalu mikir. Mikirin pendapat orang lain. Mikirin selera orang lain, trus ngebandingin dengan selera kita. Anuan Mas Don itu menurutku secara nggak langsung ngasih tau kalau kita bebas mengutarakan pendapat soal film, mengutarakan selera film. Bebas berselera.

Dan ternyata nggak cuma aku aja yang punya selera yang mainstream. Tapi ternyata ada banyak. Ternyata banyak juga yang nggak milih film Seven, The Usual Suspect, Donnie Darko, Pulp Fiction, dan film-film apik klasik lainnya yang namanya udah tersohor, kayak yang aku lakuin. Aku belum pernah nonton film-film bajingseng itu. Dan itu yang bikin aku sempat minder buat ikutan. Trus ada beberapa yang ikutan, yang nggak selalu setiap tahunnya ada filmnya. Dikosongin aja gitu. Jujur apa adanya. Sukaaaa! 

Ngomongin soal selera, setiap orang punya selera yang beda-beda. Selera musik, film, makanan, sampe selera tipe cowok favorit.

Dan aku cukup sering nemuin orang yang seleranya beda sama aku. Sama Nanda misalnya. Rasanya selera kami nggak ada yang sama selain kami sama-sama suka nyanyiin lagu Eminem keras-keras. 

Berbeda soal selera itu udah biasa. Begitu juga dengan ‘mempermasalahkan’ soal beda selera. Aku masih bisa ketawa-ketawa (yang dipaksakan huhuhu) kalau udah kalah debat sama Dina soal selera film. Dia yang nggak suka La La Land, Oldboy, Dogtooth, dan film-film lainnya yang selama ini aku rekomendasiin ke dia dengan semangat. Aku masih bisa mengumpat, “Bajingak teleq kuda benyeq!” pas Dea bilang rekomendasi filmku melaini umat. Aku masih bisa cengengesan pas aku nonton AADC2 hari pertama trus Kak Ira bilang,

“Icha nonton film cinta-cintaan Indonesia? Sehat, Cha?”

Karena dia pikir selera filmku sebatas film luar tentang inses doang. Huhuhu.

Dan soal musik, aku suka banyak jenis musik. Salah satunya musik hip-hop, dan rapper yang aku favoritin yaitu Eminem. Beberapa teman ada yang heran dan bilang kalau aku aneh karena suka lagu-lagu yang ada kata-kata kasarnya lah, suka rapper yang banyak kontroversi lah, hasrat suka om-om (FYI, Eminem umurnya udah 44 tahun) nggak bisa dibendung lah. Ada rasa senang karena ngerasa waw-aku-unik, waw-aku-memang-pecinta-om-om-sejati, tapi di satu sisi juga ngerasa aku memang aneh. 

Tapi itu masih bisa aku anggap nggak papa. Lain halnya pas seleraku direndahin dengan cara dianggap sebagai hal yang harus dihindari. Selera makan favorit misalnya. Beberapa waktu yang lalu, aku ada ngerekomendasiin tempat makan siang langgananku ke salah satu teman kerjaku, sebut aja A. Teman kerjaku yang lain, sebut aja B, tiba-tiba nyamber dengan bilang, 

“Ih, di situ nggak enak, A! Sambalnya kurang nendang! Nggak usah makan di situ!”

Aku yang tadinya heboh ngejawabin pertanyaan si A soal tempat makan siang langgananku, langsung kaget dan senyum miris pas denger B ngomong gitu. Si A nanggepin si B dengan cengengesan. Sementara si B kembali ngelanjutin kerjaannya habis ngomong gitu. Aku dan A cuma bisa diem-dieman. Suasana jadi canggung, udah kayak pasangan digital love yang ketemuan untuk pertama kali trus ngerasa muka asli pasangannya beda sama muka di foto profil pasangannya itu. 

Ya... B emang kalau ngomong suka kelewat jujur sih. Tapi hal yang dilakuin B itu bikin aku kesal. Aku jadi mikir, pasti aku ngerasain kekesalan yang sama, bahkan lebih, kalau seandainya selera musik dan selera filmku yang dijadikan sebagai hal yang harus dihindari juga. 

Kesal aja sih, cara review-nya menurutku nggak ‘sehat’. Masa kita nyaranin orang buat nggak makan di situ, nggak nonton film A, dengerin musik B, cuma karena itu nggak sesuai sama selera kita? Kalau nyaraninnya ke satu-dua orang yang punya selera sama kayak kita sih nggak papa. Tapi kalau misalnya nyaraninnya sampai ke banyak orang? Ke media sosial misalnya? Bisa aja kan ada orang yang suka sama hal yang kita nggak suka itu, trus dia baca dan dia jadi tersinggung. Dia jadi marah, bahkan bisa aja jadi sedih karena ngerasa seleranya rendahan sekali. 

Aku masih terima dan berlapang dada kalau seleraku dikata-katain. Tapi kalau seleraku dijadiin suatu hal yang harus dihindari kayak wabah penyakit, direkomendasikan sebagai hal yang terlarang kayak minuman keras, jujur aku nggak terima. Aku ngerasa seleraku bener-bener direndahin. Dada berasa nyesek. 

Ya itu tadi, selera tiap orang beda-beda. Harusnya kita nggak maksain selera orang harus sama kayak selera kita. Haw pernah ngalamin itu, dan dia bilang, 

”Kayak aku aja, nggak begitu asyik pas baca Al-Qur'an, tapi kata ustaz, sangat menyenangkan.” 

YHA, HAW. YHAAAA.

Sembari ngetik postingan ini, aku nanya-nanya mulu sama diriku sendiri. Aku wajar nggak sih kesal cuma gara-gara itu? 

Lama kelamaan aku mikir, ternyata aku juga pernah jadi orang yang menjadikan selera orang sebagai hal yang harus dihindari. Secara sengaja maupun nggak disengaja. Dan aku ngerasa semua orang mungkin juga pernah. Mungkin aja itu nggak bermaksud buat merendahkan, tapi buat beropini doang. Itu subjektif, kalau kata Yoga. Itu.... wajar. Demi ngasih tau kalau punya selera yang bisa dibanggakan. Demi mempertahankan seleranya agar nggak tergeser posisinya sama selera lain.

Jadi, ya.... aku nggak mau kesal-kesalan lagi. Nggak mau minder. Karena solusinya adalah terima aja. Atau lebih tepatnya, nggak perlu didengerin kalau selera kita digituin. Yoga, sang filsuf yang merangkap sebagai tukang curhat, pernah bilang, 

”Kita berhak nggak dengerin pendapat orang kok. Sama-sama punya hak.” 

Bikin aku jadi mikir, kalau orang-orang yang ngerendahin selera itu punya hak buat ngerendahin, kita juga punya hak buat nggak ngedengerin. Dan tentu aja kita punya hak buat punya selera. Mau pria kek, wanita kek, fakir miskin dan anak-anak terlantar yang dipelihara negara sekalipun, berhak buat punya selera.

Dan aku jadi mikir (lagi), kita nggak salah kalau punya selera yang beda dari kebanyakan orang. Kita pun bebas buat cuek sama pendapat orang akan selera kita. Seperti kata Haw,

“Jadi biarin ajalah apapun komentarnya. Kayak buku Tere Liye. Ada yang bilang bagus banget. Tapi ada juga yang bilang mending baca buku porno aja.”

Haw bajingak memang.

Lagian, kalau selera orang sama kayak selera kita, belum tentu juga itu jadi hal yang baik. Kadang ada kan cewek-cewek yang suka sama penyanyi yang sama, trus kayak rebutan gitu, kayak saingan gitu, membuktikan siapa yang jadi fans terbaik (dan calon istri terbaik, biasanya sih sampe mikir gitu). 

Dan kalau ada lawan jenis yang punya selera yang sama kayak kita, entah itu selera musik atau selera fim, belum tentu dia adalah jodoh kita. 

Seperti kata adiknya Tom Hansen di (500) Days of Summer,

“Just because she likes you the same bizzaro crap you do, doesn’t mean she’s your soulmate.”

Bikin aku mikir keras, kalau selera nggak perlu dibaperin.

Njir. Tau-tau udah panjang aja. Udah lama nggak curhat gini di blog sih. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 18 Maret 2017

Karena Captain Fantastic, Tragedi Jadi Komedi

“Ini film superhero kayak Captain America, ya?”

“Captain Fantastic ini siapanya Captain Tsubasa njiir?”

"Apakah Captain Fantastic pengertiannya sama kayak captain unicorn porn?"

Belum cukup bikin aku bertanya-tanya kayak gitu, Captain Fantastic bikin aku ingat sampai rengat sama dua film. Liat posternya, ngingatin sama film Little Miss Sunshine. Pas baca sinopsisnya, langsung keingat Dogtooth. Tentang cara hidup keluarga yang nggak normal, terisolasi dari dunia luar. Little Miss Sunshine dan Dogtooth adalah dua film bertema keluarga disfungsional kesukaanku. Khusus film terakhir, bikin aku dikatain gila sama Dina dan disumpahi serapahi oleh Mak Ben karena kata mereka, film itu aneh banget. Huhuhuhu.

Dan pas selesai nonton Captain Fantastic, aku mendaulatnya sebagai film tentang keluarga disfungsional kesukaanku juga. Di urutan pertama! Filmnya bagus banget faaaaaaak! Makasih buat Alanwari dan Farhan yang udah ngerekomendasiin film ini!
Foto keluarga
Sumber: SINI

Film ini ternyata meraih penghargaan Best Director di ajang Cannes Film Festival. Huaaaa! Aku selalu percaya film-film yang diajangkan di Cannes itu pasti bagus-bagus, layaknya percaya khasiat daun katuk baik untuk melancarkan ASI bagi ibu menyusui. 

Langsung aja. Captain Fantastic bercerita tentang Ben (Viggo Mortensen) super daddy dari enam anak yaitu Bodevan (George MacKay), Kielyr (Samantha Isler), Annalise Basso (Vespyr), Rellian (Nicholas Hamilton), Zaja (Shree Crooks) dan si bungsu Nai (Charlie Shotwell). Adegan awalnya sesaat kayak kita lagi nonton Animal Planet. Yha, hidup mereka kayak program-program di channel itu sih, menampilkan tentang hubungan manusia dan hewan. Manusia dan alam. Mereka hidup di hutan, jauh dari perkotaan, dan menolak gaya hidup modern yang konsumtif dan hedonis. 

Kehidupan sehari-hari mereka diisi dengan melatih tubuh mereka agar setara dengan atlet profesional, mencari makan dengan cara tradisional, dan belajar dengan sistem homeschooling di bawah cahaya bintang-bintang pada malam hari. Anak-anak Ben sungguh cerdas, tangguh, dan bahagia hidup dengan ‘kekangan’ idealisme sang Ayah yang seolah nggak ngebolehin anak-anaknya kenal dunia luar. 

Lari pagi~
Sumber: SINI
Mirip Dogtooth deh. Tapi miripnya cuma di bagian ‘kekangan’. Karena filmnya ini nggak menimbulkan aura depresif. Justru filmnya ini terasa menyenangkan dan bikin yang nonton ngakak. Genre-nya drama komedi btw. Yang ngebedain lagi, Ben nggak ngajarin yang aneh-aneh ke anaknya kayak orangtua di Dogtooth ngajarin anak-anaknya. Trus, film ini nggak cuma tentang kehidupan mereka di dalam hutan, tapi juga tentang mereka keluar dari hutan dan mulai mengenal dunia yang selama ini mereka (anak-anaknya) nggak pernah tau.

Karena tragedi meninggalnya Leslie (Trin Miller) istri Ben sekaligus Ibu dari enam anak itu, mereka pergi ke ‘dunia luar.’ Perjalanan mereka bukan sekedar pengen ngeliat Leslie untuk terakhir kalinya, tapi juga untuk mengabulkan apa yang diinginkan Leslie, yang dia tulis di surat wasiatnya. Leslie ingin mayatnya dikremasi, bukan dikuburkan dengan aturan agama Kristen. Tapi hal itu nggak berjalan mulus, karena orangtua Leslie mau anaknya tetap dikuburkan. 

Melangkah di catwalk.
Sumber: SINI
Sampai di sini, Captain Fantastic juga ngingatin sama Little Miss Sunshine. Dua film itu sama-sama tentang perjalanan menuju suatu tempat. Tapi aku lebih jatuh cinta sama apa yang telah Captain Fantastic lakukan padaku.

Aku suka beberapa adegan di film ini. Pertama, waktu Nai nanya soal apa-itu-perkosa. Dengan santainya Ben ngejawab pertanyaan anaknya itu. Blak-blakan. Nggak ada yang ditutupi. Beda waktu pas waktu aku kecil, nanya sama Mamaku gimana caranya bikin adek, dan Mamaku jawab, 

“Beli tepung trus diadon.”

Trus si Nai kepo banget, nanya sampe ke ujung-ujung. Ben keliatan canggung, jadi di tiap habis Nai nanya, Ben selalu ngalihin pembicaraan dengan nanya hal-hal nggak penting ke para anaknya. Bikin ngakak. 

Sekaligus bikin mikir, 

“Apakah kita harus jadi orangtua kayak Ben? Yang ngejawab apa adanya kalau ditanya anak soal hal-hal sensitif?”

Tambah bikin mikir pas adegan Justin, keponakannya Ben nanya gimana Leslie meninggal. Ayahnya Ben ngejawab dengan ‘berbohong,’ dalam rangka melindungi anak-anak dari hal-hal sensitif, sedangkan Ben ngejawab dengan jujur. Bilang kalau Leslie meninggal dengan cara bunuh diri. 

Adegan kedua yang aku suka, pas Nai dan sepupunya punya pengertian berbeda soal Nike. Kayak orang-orang pada umumnya, sepupunya bilang kalau Nike itu merk sepatu. Sedangkan Nai bilang kalau Nike itu Dewi Kemenangan dalam mitologi Yunani. KELAS BANGET ANJEEEEER.

Trus yang terakhir, aku suka pas Ben dan anak-anaknya akhirnya bisa menjalankan wasiat Leslie. Mereka melepas kepergian Leslie dengan haru. Dengan nyanyian. Dengan tarian. Dengan tawa. Nggak ada melankolis dan depresifnya. Tapi tetap aja sih aku nangis. Nangis karena terharu ngeliat kebahagiaan mereka. Dan terharu karena betapa indahnya lagu Sweet Child O’Mine-nya Guns and Roses yang mereka nyanyikan. Lagu rock bisa jadi semanis itu njiiiiiiirrrr. Keren!

Acara bakar-bakar yang mengharukan.
Sumber: SINI
Layaknya cowok idaman, Captain Fantastic punya semua yang aku impikan. Tema yang menarik, ada komedi ada dramanya, akting para pemain yang cemerlang, dan pesan yang dibawa itu sebenarnya berat dan sulit tapi bisa dibawakan dengan woles. Captain Fantastic ibarat cowok humoris yang bisa diajak ngomong serius bukannya apa-apa dibercandain, berwawasan luas, dan kritis terhadap hal-hal sekitar. 

Tapi Ben bukan Ayah atau suami yang aku idamkan. Bukan berarti dia itu jahat, tapi gimana ya. Idealismenya lebay, bikin anak-anaknya jadi cerdas sih cerdas, tangguh sih tangguh, Tapi jadi nggak tau dunia luar. Nggak tau cara bersosialisasi sama orang lain. Jadi ndeso nggak tau hal-hal kekinian. Bahkan bikin si sulung, Bodevan, jadi gugup banget pas pertama kali ciuman. Film ini ‘bernuansa’ abu-abu, di mana nggak ada hitam dan nggak ada putih. 
Sungguh berbulu uuuh~
Sumber: SINI

Maksudnya, kita bingung menempatkan Ben itu sebagai kepala keluarga macam apa. Dia punya segudang bukti yang nunjukkin kalau dia itu kepala keluarga yang baik. Dia juga punya alasan yang masuk akal kenapa ngebentuk anak-anaknya dengan cara nggak biasa itu. Tapi Ben juga punya bukti kalau dia adalah orangtua yang bajingak. Kita sebagai penonton punya alasan yang bisa diterima buat menyalahkan cara Ben dalam membina anak-anaknya itu.
Zaja, Nai, Bodevan, Rellian, Vespyr, dan Kieryl.
Sumber: SINI

Dan layaknya orangtua yang nggak pilih kasih terhadap anak-anaknya, Captain Fantastic juga nggak pilih kasih pada para pemainnya. Nggak ada yang tampil mendominasi seolah nunjukkin kalau dia lebih berbakat daripada pemain yang lain. Terutama buat pemeran anak-anaknya Ben, mereka punya jatah masing-masing buat menunjukkan akting mereka. Di sepanjangan film, mereka bergantian ‘mengajak’ penonton untuk kenal sama mereka lebih dekat, secara teratur. 

Kielyr cantiknya bajingak banget yaaa~
Sumber: SINI


Semuanya dapat panggung. Emangnya kayak Young Lex, panggung para rapper dimakan semua sama dia. 

Karakter Rellian menarik perhatianku btw. Rellian adalah ABG pemberontak yang mulai tergoda sama ‘dunia luar’, dan jadi satu-satunya anak yang ngerasa kalau keluarganya itu nggak normal. Aku ngerasa kalau dia itu aku-waktu-umur-belasan banget. Bisa dibilang dulu aku adalah anak yang suka memberontak sama aturan orangtua, tergoda hal-hal di luar rumah, dan nganggap kalau keluargaku itu nggak normal. Aku pernah bete nggak jelas pas kami sekeluarga lagi ngumpul haha hihi. Aku pernah marah sama Mamaku kayak Rellian marah sama Ayahnya. Aku pernah mikir mau tinggal sama Bapak aja di Bengalon daripada di Samarinda sama Mama, kayak Rellian yang kabur dari Ayahnya. 

MASA REMAJAKU NGEDRAMA BANGET BIJINGEK. 

Ngomong-ngomong soal ngedrama, Captain Fantastic menurutku nggak bisa ditonton sama orang yang suka ngedrama. Maksudnya, nggak bisa ditonton dengan mood jelek atau dengan apa-apa dipermasalahin. Menurutku penonton film ini harus mau jadi pribadi yang berpikiran terbuka. Banyak hal-hal yang bajingseng. Entah terlihat nggak masuk akal, hal sensitif dibercandain, atau....

Bahkan mungkin orang yang fanatik agama nggak bisa nonton film ini. Orang yang agamis bisa ngamuk kali ya pas ngedengar perkataan Ben soal nggak-suka-agama-yang-terorganisir.

Atau denger pas adegan Ben ngomong gini, 

"My face is mine. My hand is mine. My mouth is mine. But I'm not. I'm yours."

Pasti orang agamis bakal koar-koar,

“Astagfirullah! Segala sesuatu itu adalah milik Allah! Kita hanya dititipkan!"

Ya, kayaknya lebay deh kalau sampai kayak gitu. Huhuhu. 

Tapi serius, orang-orang ‘ngedrama’ menurutku pasti bakalan nggak habis pikir sama Ben sekeluarga yang kayak ngejadiin kematian Leslie sebagai lelucon. Itu bukan berarti mereka nggak ngerasa kematian Leslie itu nggak berarti. Tapi justru karena mereka itu nganggap itu berarti, karena mereka sayang, makanya mereka ngejadiin tragedi itu jadi komedi. 
Mengekspresikan kebahagiaan dengan brutal.
Sumber: SINI

Lucu juga ya kalau tragedi jadi komedi. Aku jadi ingat kejadian dua minggu lalu. Waktu itu aku, Dea, dan Chintya ngelayat ke rumah Dina. Sahabatku itu nyeritain waktu dia dikabarin adiknya kalau kakaknya yang berdomisili di Balikpapan meninggal dunia. Dia bilang, 

“Pas aku lihat smsnya Titik (adeknya Dina), aku langsung kaget. Teriak. Asli kayak ngeliat hantu!!!”

Aku, Dea, dan Chintya nggak bisa nahan ketawa ngeliat Dina melakukan reka ulang adegan nerima sms itu. Ekspresi Dina lucu banget. Dina yang biasanya sok cool, jadi kayak Jim Carrey yang ekspresif. Kami ngakak keras sambil bersumpah serapah. Dina ikut ngakak dan mukulin tubuh Dea yang gempal. Sungguh, kami adalah pelayat yang tak tau sopan santun. Malah ngakak di suasana berkabung. 

Menurutku, Young Lex menjadikan tragedi foto masa kecilnya di-bully oleh netizen sebagai ide lagu. Di lagu terbarunya yang berjudul Makan Bang itu, seolah dia ngetawain netizen yang udah nge-bully dia. Seolah ‘berterimakasih’ ke para netizen karena udah ngasih inspirasi. Banyak yang bilang kalau dia kayak gitu karena baper. Tapi gimana ya, aku mikirnya kalau dia kayak gitu dalam upaya berusaha menjadikan tragedi itu sebagai komedi. Dia nganggap itu sebagai lucu-lucuan. Komedi buat dia, trus komedi buat netizen juga sih ujung-ujungnya. 

Dan aku ngerasa ikut-ikutan ngejadiin tragedi jadi komedi juga. Kemaren pas lagi jam istirahat kerja, Mamaku nelpon ngasih tau aku kalau adekku, Nanda, harus dioperasi.

“Hah? Operasi apa?”

“Itu lho. Benjolan di dada sebelah kirinya. Kan tadi pagi ke Dirgahayu. Diperiksa. Itu tumor sekalinya, Cha.”

Aku langsung ngakak di situ. Ngakak karena nggak nyangka benjolan yang pernah aku grepe-grepe dan sering Nanda grepe-grepe sebagai pelipur bosan, ternyata adalah tumor mamae atau tumor payudara. Ngakak juga karena INI UDAH KAYAK SINETRON AJA NJIR. PAKE OPERASI SEGALA.

“Kok Icha mau ketawa ya, Ma. Padahal ini sedih,” jawabku sambil nutupin mulut pake jilbab.

“Astagfirullah. Pokoknya nanti malam kamu yang jaga Nanda, ya. Besok izin aja nggak usah turun kerja.”

Telponan itu pun berakhir. Aku langsung ngakak sengakak-ngakaknya. Grup WA saudara ternyata ngebahas itu juga. Kak Dayah nyemangatin Nanda, sedangkan aku koar-koar bilang kalau itu kayak sinetron.

“Icha sudah situasi genting gini masih bisa ngelawak,” kata Kak Fitri di convo grup. 

AKU JAHAT YA. HAHAHA. HAHA. HA.

Setelah nyuruh aku istigfar dan menenangkan Nanda, Kak Fitri malah bilang, 

“Saya aja kayak ngerasa Nanda mau lahiran.”

Laaaaaaah. Aku tambah ngakak di situ. Nanda dan Kak Dayah juga ikutan ngakak.

Malamnya, Nanda dioperasi di rumah sakit Dirgahayu. Setelah kurang lebih satu jam, seorang suster keluar ngabarin kalau operasinya udah selesai, dan nunjukin baki atau apasih-namanya-aku-nggak-tau-njir yang isinya....

“Ini tumor yang diangkat, ya. Kami periksa dulu apakah tumornya jinak atau ganas. Paling cepat seminggu hasilnya udah keluar.”

Aku kaget liatnya. Yang kupikir cuma segede jempol, taunya besar-juga-fak-dah-kayak-tiga-jempol-kakinya-Dea-digabung-jadi-satu. 

Aku menoleh ke samping, ke arah Bapakku, dengan masang tampang mau nangis. Bapak malah ketawa sambil geleng-geleng kepala. Trus aku ikut ketawa juga dengan canggung. 

"Silakan kalau mau difoto," tawar si suster. Jiwa paparazi-ku langsung timbul. 

Begitu Nanda udah keluar dari ruang operasi, ke ruangan dirawat, sadar dari bius, aku nunjukkin foto tumor itu. Dia keliatan kaget trus bilang, 

“Kok kayak pizza sih, Ndese? Saya jadi lapar nah.”

HOLYSHIT. KAYAK PIZZA DARIMANANYA NJIIIIIR?! 

Aku ngakak. Tragedi (kalau operasi tumor susu itu bisa dibilang tragedi sih) dijadiin bahan tertawaan. Yaaaa tapi aku tetap sedih. Sekeluarga sedih dan simpati. Ngakakku itu bukannya wujud dari nggak peduli sama adekku itu. Aku peduli, aku prihatin, aku sedih, tapi nggak ditunjukkan dengan cara melankolis. 

Sebenarnya aku heran sama sikapku. Tumben aku nggak nangis. Mungkin efek nonton Captain Fantastic kali, ya? 

Yha. Mungkin. Captain Fantastic seolah ngajarin kalau tragedi yang terjadi di kehidupan kita, baiknya nggak usah disedihin. Boleh sih disedihin, tapi jangan sampai bikin lupa buat bahagia lagi. Alias kesedihannya jangan berlarut-larut. Dan kalau kita mandang tragedi itu dari sisi positif, tragedi itu bisa kita tertawakan. Jadi hiburan buat kita. Kalau kayak gitu, kita terlihat ikhlas dalam nerima tragedi yang terjadi, daripada kalau kita misalnya bersedih-sedihan. Kayak nggak terima sama takdir gitu. Lagian, tragedi itu juga udah berlalu. Pasti berlalu. 

Captain Fantastic seolah ngajarin kalau tragedi menyangkut soal keluarga aja bisa dijadiin komedi. Apalagi tragedi menyangkut orang yang 'bukan siapa-siapa' kita. Orang yang cuma singgah di kehidupan asmara kita, misalnya.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 12 Maret 2017

Nge-BF Bareng Justina Landhiani: Orang-Orang Panjat Sosial di Gone Girl

Seorang wanita bernama Ary Yogeswary yang curhat di blog mengenai perselingkuhan suaminya dan kisah itu menjadi viral, ngingatin aku sama film keluaran tahun 2014 karya David Fincher, berjudul Gone Girl. 

Kayak Darma aja. Suka foto dari belakang.
Sumber: SINI 

Tulisan Mbak Ary (sok akrab banget anjis) dan film Gone Girl menurutku punya kesamaan, yaitu sama-sama berisikan kisah tentang wanita yang diselingkuhi suami. Dan wanita itu sama-sama jadi sorotan publik. 

Ya tapi sebenarnya bukan itu sih inti dari Gone Girl. Bukan itu juga yang jadi alasan aku mendaulat Gone Girl sebagai salah satu film kesayangan. 

Dan jadi film kesayangan Justina Landhiani juga. Atau yang biasa aku panggil dengan sebutan Njus, mengingat dirinya yang imut-imut lucu dan manis-manis jambu. 
Ava Twitter Njus jaman dulu yang membuatku jatuh cinta. 
Njus adalah seorang blogger asal Solo yang selain jadi pengagum mie ayam, juga menjadi pengagum film-film thriller. Selain jadi penggemar kopi, juga jadi penggemar film-film superhero khususnya Marvel. Selain jadi penyebar spoiler, juga jadi penyebar semangat feminisme. Selain kadang bantuin di Katanium, juga kadang bantuin teman-teman di Twitter buat menilai jokes mereka itu itu cukup lucu atau nggak. Hehehe. 

Dan aku pengen ngebaperin film Gone Girl ini bareng Njus. Oh iya, Gone Girl ini bercerita tentang pencarian suami terhadap istrinya yang hilang. Sang suami, Nick (Ben Affleck) pun melapor ke pihak berwajib. Tapi setelah diperiksa, Nick dicurigai membunuh istrinya itu. Istrinya yang bernama Amy (Rosamund Pike) diduga telah dibunuh oleh suaminya sendiri. Karena Amy adalah penulis, dan dikenal sebagai The Amazing Amy berkat orangtuanya yang menuliskan kisah hidupnya sedari kecil, kasus itu jadi sorotan publik. 

Apalagi ketika Nick ketahuan berselingkuh dengan cabe-cabean kampus bernama Andie (Emily Ratajkowski, perempuan yang menurutku ‘menyeramkan’ karena ngebuat aku teriak histeris kenapa dia cantik banget bajingak) dan Amy diketahui ternyata hamil, publik semakin ‘peduli.’ Publik mengutuk Nick sebagai suami biadab, dan berpikir kalau kisah Nick cocok jadi ide cerita FTV Hidayah episode “Aku Hamil, Suamiku Selingkuh.” 

Tapi lama kelamaan kenyataan pun diungkap satu persatu. Ternyata nggak begini, ternyata nggak begitu. Ternyata bukan hanya tentang istri yang hilang, bukan hanya tentang suami yang selingkuh. Dan ternyata Njus punya pemikiran lain soal film ini. Pemikiran lain itu bisa ditemukan di obrolan intim antara aku dan Njus berikut ini: 


Icha: Hai, Njus. Mau nanya doooooong!

Justin: Nggak sekalian ngenalin “Nama saya Hairunnisa, dari Pengajian Ibu-Ibu Mar'artuss Sholihah di Samarinda?”

Icha: HAHAHAHAHAHAHAHA jokes Njus!

Justin: Begini saudari sholihah... sodaranya sholihin, Yoga Akbar Sholihin.

Icha: HENTIKAN, NJUS. HENTIKAAAAN!

Justin: Mwehehehehek.

Icha: Ku pengen nge-BF sama Njus. Mau nggak?

Justin: BF-in apa nih?

Icha: Gone Girl aja gimana? Nggg… Nonton Gone Girl dulu karena apa, Njus?

Justin: Disuruh temen Nonton Gone Girl, sejak Desember 2015 kayaknya. Jadi sejak aku penelitian skripsi udah disuruh temenku buat nonton. Tapi aku cuma iyaa iyaaa... terus skip-skip yang di akhir. Aku langsung ogah. Bilang... "Film apa-apaan tuh!" Dan baru Desember 2016 kemaren aku nonton. Terus aku nyesel... kenapa nggak nonton dari dulu. Keren banget dari segi penggambaran karakternya, konflik pribadi karakter penggambaran setting sekitarnya. Khas David Fincher yang aku suka banget!


Mandi darah yuhuu~
Sumber: SINI
Icha: Ohahaha. Jadinya malah suka, ya. Trus ada alasan lain nggak kenapa Njus suka Gone Girl?

Justin: Suka Gone Girl.. karena di situ karakter Amy-nya kuat. Dia tau apa yang dia mau, dan tau bagaimana caranya buat mencapai tujuannya.

Icha: Yuhuuuu. Trus menurut Njus, aktingnya Ben Affleck dalam memerankan Nick Dunne itu gimana?

Justin: Ben Affleck keren. Dia sukses memerankan pria tampan, charming, sekaligus jadi laki-laki yang dibenci wanita, juga mampu memerankan cowok yang rapuh dan bingung sama kelakuan istrinya.

Icha: Dibenci wanita. Aku juga mikir gitu. Keselnya pas dia selingkuh sama mahasiswi, si Andie. Tapi ada rasa kekaguman di situ sih. Dia cekatan banget masangin bajunya Andie. Andie-nya nggak pake beha btw.

Justin: Iya, jangan-jangan kalau Amy nggak ada, dia latihan pake dan ngelepasin baju perempuan dan beha sendiri, ya. Wkwkwkwkw.

Icha: Jokes Njus again. Hahaha. Okaaay. Trus apa semua cewek harus kayak Amy, Njus?

Justin: Menurutku sih iyaaaaa! Hihihi. Habis Amy keren. Ya kayak yang tadi aku bilang, cewek harus tau apa yang dia mau dan gimana cara wujudinnya. Sayangnya, kondisi sosial sekarang nggak memungkinkan. Dibilang "Jadi cewek nggak usah banyak milih," "Jangan terlalu pinter.” Ya kalo misal si cewek nggak tau apa yang dia mau, dia gampang disetir sama orang lain.

Icha: *nyimak*

Justin: Bukan berarti aku mencela orang-orang yg taat suami dan yah you named it lah. Tapi kalau kita nggak menghargai diri sendiri, nggak membuat kita lebih baik, kita akan dipandang rendah oleh siapapun itu, termasuk sama diri kita sendiri. Makanya aku salut sama Amy, dia nggak mau tampak pathetic. Kemudian menyusun rencana pembalasan kepada Nick dengan rapi, sampai Nick nggak bisa berkutik.


Tatap matamu bagai busur panah~
Sumber: SINI

Icha: Mantap bener ini! Tapi setuju ngggak sih, dia terlalu ngekang si Nick banget? Makanya Nick itu berpaling ke beha lain? Eh maksudnya ke cewek lain? Dia kayak nyetir Nick jadinya. Nah naluri cowok sih, setau aku, rada keder gitu dan bisa males kalau ceweknya lebih superior dari dia.

Justin: Emmm menurutku sebaliknya, ya. Amy ini awalnya baik-baik aja sama Nick. Dan... ya mungkin dia jenis orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Jadi ya dia melakukan tes untuk menguji si Nick.

Icha: Tes yang kayak gimana maksudnya, Njus?

Justin: Yang untuk mengetes cinta dari Nick, dia melakukan rekayasa dalam keuangan rumah tangga mereka. Dan Nick kenyataannya ketika udah di titik rendah kehidupan rumah tangganya, mulai mencari "kesegaran" lain di luar rumah. Trus Amy kan seorang public figure, kalau dia bercerai, pasti ntar dicemooh orang lain. Yaa udah deh dia mulai ngebales. Hehe.

Icha: Hmm terus..... adegan favorit Njus yang mana?

Justin: Pas Amy ada di jendela mobil, keliatan bebas dan puas banget.


Itu yang dibilang Amy di scene itu. Dan waktu dia ngilang, dan nyemir rambut di WC. Dia nggak mau jadi cool girl, maunya ya tetap jadi The Amazing Amy. Biar Nick tau kalau dia bukan cewek gampangan. Wkwkwk.

Icha: Oh iya. Dia juga udah pernah nyoba buat jadi cool girl. Iya nggak sih?

Justin: Iyaa wkwk. Akhirnya dia tau dia bukan gadis "baik-baik" seperti stereotype orang-orang. Dia tau apa yang dia mau, dia tau seberharga apa dia, dan dia tau bagaimana mewujudkan betapa berharganya dia, dan nggak membiarkan orang lain merenggut harga dirinya.

Icha: Sadiiiiiiis! Jadi menurut Njus, Amy itu bukan tokoh antagonis yak? Yang antagonis itu jadinya Nick?

Justin: Iya. Menurutku Amy itu orangnya cerdas dan bukan antagonis. Dia bereaksi begitu karena ada yang memulai. Kalau Icha, suka nggak sama Amy?

Icha: Suka sih. Tapi..... Aku kasihan juga sama Nick-nya. Mereka jadinya hidup dalam pernikahan yang penuh dengan kepura-puraan. Semuanya ingin terlihat dan dilihat sempurna. Dikendalikan sama Amy. Amy segitu cintanya sama Nick. Sampai nggak mau ngelepasin Nick. Padahal Nick-nya nggak bahagia gitu ngejalanin pernikahan sama dia.

Justin: Wah seru nih kalau kita beda sudut pandang. Hehe. Aku lihat mereka itu dari kacamata realistis. Nick butuh duit, Amy butuh branding yang oke buat dirinya. Udah, pas. Pasangan panjat sosial.


Mojok di perpustakaan.
Sumber: SINI
Icha: Nah iya sih. Mereka saling membutuhkan gitu kelihatannya. Dan saling melengkapi satu sama lain dengan kelebihan mereka itu. Tapi aku bingung. Sebenarnya Nick itu salah atau benar?

Justin: Masalah benar atau salah itu menurutku nggak penting, karena kita semua ada dalam area abu-abu. Menurutku yang paling penting adalah gimana kita bisa tetep survive dari area abu-abu ini.

Icha: Wuoogh! Area abu-abu.

Justin: Oh iya. Dan pernikahan dengan kepura-puraan? Bukankah banyak dari kita yang punya hubungan dengan berlandaskan hal tersebut. Ya, biar nggak terlihat ngenes karena jomblo, biar terlihat keren karena pasangannya keren, walau di belakangnya nggak sekeren yang dilihat orang lain selain yang bersangkutan.

Icha: ANJIIIIIIIIIIIR!!!!! SUMPAH NJUS AKU LANGSUNG NYUMPAH SERAPAH. INI BENAR BANGET. Trus ini. Menurut Njus, gimana soal media massa yang ikut berperan dalam pencarian The Amazing Amy itu? Dalam kehidupan sekarang, tanpa perlu jadi public figure pun.... hubungan kita juga bisa diikut campurin. Sama media sosial. Kalau di Gone Girl kan, media massa yaitu tivi dan pemirsanya kayak bikin Nick kelihatan jahat. Tapi habis itu Nick keliatan nggak jahat, malah meraih banyak simpati.

Justin: *gantian nyimak*

Icha: Kalau media sosial.... misalnya gini. Hubungan kita banyak yang tau, trus pas hubungan itu kandas dan diketahui teman-teman kita di media sosial, jadi kayak ngebentuk kubu gitu. Kubu yang ngebelain si A. Kubu yang di pihak si B. Padahal mereka nggak tau persis apa masalahnya yang bikin hubungan itu kandas. Cuma liat dari twit atau status yang diapdet A dan B aja. Nyambung gak sih Njus kalau dibaperin ke situ?

Justin: Hehehe iya nyambung. Nah, Amy itu tau kekuatan media massa, jadi dia memang menggiring publik untuk bersimpati kepada dirinya, dan membuat publik membenci Nick.

((MY DUNNE))
Sumber: SINI 

Icha: Nah, menurutku Amy bukan cuma puas bisa balas dendam dengan cara itu. Keuntungan yang dia dapatkan adalah dia bisa dapat perhatian dari banyak orang. Seperti yang selama ini dia dapatkan berkat orangtua yang suka nulis soal dia.

Justin: Iya. Nick kan nggak pinter menggiring opini publik, nah ditolong sama pengacaranya itu. Dilatih biar punya ekspresi yang bikin mendulang rasa simpati.

Icha: Yoi. Karena dia udah terlatih dari kecil gitu, ya. Udah ada bakat nyelebnya sedari dulu. Trus menurut Njus, apakah media sosial itu berperan penting dalam suatu hubungan? Di film itu media massa yang kayak ikut campur. Kalau di dunia nyata, banyak orang-orang yang punya hubungan yang hubungannya diikut campurin teman-teman di media sosial.

Justin: Berperan penting kalo hubungan tersebut jadi konsumsi publik. Atau secara tidak langsung kita "menjualnya". Gitu....

Icha: Noted. Oh iya, Amy kan orangnya nggak mudah percaya dengan orang lain. Njus orangnya gitu juga ya?

Justin: Dulu sih nggak. Tapi setelah nonton Captain America: The Winter Soldier, aku mulai tau kalo nggak semua orang bisa dipercaya. Jadi ya aku cuma cerita seperlunya. Ya Allah, aku kok anak film banget, ya. Hahaha….

Icha: HAHAHAHAHAHAHA DITERAPIN KE KEHIDUPAN SEHARI-HARI YAK.

Justin: Banget, Cha. Aku belajar dari Mas-nya Logan Wolverines itu juga: “Keraskan hatimu, agar tidak gampang sakit hati.” Duh Gusti... ustadku film.

Icha: Hahaha. Njus nak film banget yak. Trus menurut Njus, apa yang dicari Nick pada Andie? Mahasiswi yang punya dada berukuran melebihi ukuran wajahnya yang kecil itu?

Justin: Bwahahahahak. Aku lihat Andie itu punya sex appeal yang cukup keren, ya. Ya, Nick mungkin cari kesegaran aja lewat Andie. Secara Amy udah tua.

Icha: Ya biasanya gitu yak alasan orang selingkuh. Mau cari penyegaran. Dan mirisnya kenapa masih aja ada cewek kayak Andie. Mencintai suami orang.

Justin: Lha enak og. Panjat sosial. Nick ganteng, dosennya, dan mungkin dia lagi fase estrus.

Icha: FASE ESTRUS ITU APAAAA?

Justin: Fase estrus sebetulnya nggak terjadi di manusia sih. Estrus itu terjadi di hewan seperti tikus, trus simpanse apa monyet ya aku lupa. Nah ketika estrus itu, bakal kelihatan kalau itu hewan lagi birahi. Misal kalau mencit (tikus kecil) lagi fase estrus, maka terlihat pembengkakan pada vaginanya kalo nggak salah. Dulu sampe vaginanya diusap-usapin ke gelas kaca. Kasian banget, biar bisa dilihat di mikroskop. Jadi kalau aku lihat orang yang lagi pengen kawin, aku katain lagi estrus.

Icha: ANAK BIOLOGI SUSAAAAAAAH COOOOY.

Justin: Tulisanku serius banget ya mwehehehe.

Icha: Nggak papa, Njus. Keren! Oh iya, yang soal panjat sosial itu gimana-gimana?

Justin: Emm apa yaa, menurutku saling memanfaatkan satu sama lain. Nggak ada yang bener-bener tulus dari hati. Wuwuwuwuwuwuwww~

Icha: Oh iya sih. Jadi film Gone Girl ini bisa dibilang tentang orang-orang yang suka panjat sosial.

Justin: Hati-hati jaman sekarang….*terusin lagunya

Icha: Banyak orang berteman punya maksud tujuan mengumbar kedekatan habis manis lo dibuang~

Justin: Cukup lucu!

Icha: Hahaha....Trus pesan moral dari Gone Girl ini apa, Njus?

Justin: Kok kayak Webtoon yes ada pesan moral. Apa yaaaaaa… Ntar aku mikir dulu pesan moralnya apa... Sebelum kita bahas pesan moral, alangkah baiknya kita pesan sate ayam dulu, Icha…

Icha: Hahaha. Sate ayamnya pake lontong nggak?

Justin: Pake.

Icha: Jokes Njus!

Justin: Hmm pesan moralnya apa yaaa? Yaaa... nggak ada... Hihi.. Aku mengambil pesan dari Gone Girl itu cuma dua sih:

1. Kita harus tau apa yang kita mau dan gimana kita mencapainya, kayak Amy.

2. Media massa/media sosial benar-benar bisa mengubah seseorang menjadi apa aja, pencitraan apapun bisa dibikin, jadi sebaiknya kita harus bijak untuk bersikap. Kalau ingin men-judge orang ya analisisnya harus deep, nggak cuma asal-asalan. Jangan gampang terkena arus, apalagi media massa atau media sosial.

Contohnya, kalau membenci orang ya bukan karena orang-orang membencinya terus kita jadi ikut-ikutan membenci. Menyukai orang karena banyak orang yang menyukai orang tersebut. Kalo gitu caranya, kita bakal terlihat pathetic. Menyedihkan. Suara kita bisa dibeli.

Icha: Waaaah hahaha menarik nih! Apakah selama ini suara kita sudah dibeli? Ayooo tanya bintang-bintang....

Justin: Hanya engkau yang kusayang…

Icha : Bruakakaka. 

Justin: Btw Icha jangan lupa buat kayak The Amazing Amy, ya.

Icha: Ku tak sanggup sepertinya. Amy tangguh dan cerdas sekali.

Justin: Halah, bisa kok. Hihihi. Tetap kocak kayak Icha biasanya. The Amazing Icha!

Icha: You know me so well.

Justin: Yes!!! Yaaa Icha, jangan lupa bikin standar dirimu, dan jangan lupa untuk mempertahankannya, ya. Kamu berharga! Aku itu suka sama Icha, mau Icha lagi looks welek kayak gimana aku tetap suka. Gitu, Cha. Kalau orang udah suka.

Icha: YA AMPUN, NJUUUUS. AKU TERHARUUUU. Jujur aku nggak pernah bikin standar apa-apa. Sekarang mau bikin deh.

Justin: Nah harus bikin standar. Biar nggak looks emyeh-emyeh manut aja. 

Icha: Siaaaap, bosque! Seneng banget bisa ngebahas film ini. Pake nyambungin ke panjat sosial segala pula! Makasih ya udah mau nge-BF sama akooooeh~

Justin: Maaci yaaa udah dikasih kesempatan nge-BF bareeng. It's such an honour.

Icha: Yuhuuuu~

Ya, kesimpulan dari nge-BF kali ini adalah, sebelum Gaga nyanyiin lagu judulnya Panjat Sosial, David Fincher udah ngebuat film yang ternyata ada soal panjat sosialnya. Dan ternyata bukan cuma Amy dan Spiderman aja yang bisa jadi The Amazing. Kita juga bisa. Semua perempuan juga bisa. Karena semua perempuan itu berharga. 

Harganya berapa? Ayo tanya bintang-bintang..... 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 09 Maret 2017

Berani Seperti Nick dan Norah

Setahun yang lalu, aku lagi engas-engasnya sama AADC (Ada Apa Dengan Cinta) 2. Dan nggak sabar mau nonton filmnya yang tayang bulan April. Ngerasa terbaperkan sih pas nontonnya, sampai aku ngerasa related trus aku tulis di sini. Huaaaah. Hal menjijikkan yang sudah biasa terjadi kalau aku nonton film yang bikin baper. Tapi aku berharap, kalau ending-nya nggak seklise itu. Apaan kayak drama Korea gitu jadinya njiiiiiiir. Aku nggak sukaaaaaaaaaa di luar negeri trus ciuman gitu!!!!!!!

Ada yang bilang kalau seandainya ending AADC 2 itu kayak La La Land. Cinta tetap nikahnya sama tunangannya, si Trian.

MAMPUS LU, RANGGA! HUAHAHAHA!

Eh tapi kalau Cinta dan Trian batal nikah, nggak akan ada surat terbuka dari Trian untuk Cinta, dong. Nggak akan ada surat sekocak itu. Dan kayaknya bakal banyak penonton yang protes kalau ending-nya sepahit itu. Menurutku kebanyakan penonton suka film romantis yang happy ending, makanya banyak film romantis (film Indonesia, terutama) yang ending-nya bahagia didapatkan dengan mudah padahal masalahnya tadi alamak-kelihatannya-berat-dan-ribet-bajingak.

YA NAMANYA JUGA FILM, CHAAAAAAAAAA.

Huhuhuhu.

Sebenarnya itu harapan lawas nggak penting yang udah aku kubur dalam-dalam, tapi nongol lagi gara-gara beberapa hari lalu nonton Nick and Norah's Infinite Playlist. Film keluaran tahun 2008.

Sumber: SINI

Di film Nick and Norah's Infinite Playlist, orang-orangnya berani mengambil keputusan dalam satu malam. Entahlah, aku jadi keingat sama Cinta dan Rangga yang udah melewati satu malam bersama tanpa one night stand. Nah aku berharap kalau seandainya AADC 2 isinya kayak Nick and Norah's Infinite Playlist . Kejadiannya fokus di perjalanan satu malam itu. Benar-benar cuma sehari semalam. Nggak perlu ada adegan Rangga sempat balik ke New York dan kedapatan lagi dipeluk sama karyawannya yang kegirangan dinaikin. Gajinya yang dinaikin.

Ya itu cuma sekedar jadi harapan sih. Nggak bakal bisa terwujud. AADC 2 ya AADC 2, Nick and and Norah's Infinite Playlist ya tetap Nick and Norah's Infhlsdffldljhl panjang banget anjir judulnya.

Oke, sekarang aku sebut jadi Nick and Norah aja. Dan naaaah, ini penampakan poster filmnya.

Sumber: SINI
Aku tau film ini dari sama kayak waktu tau film Frank, yaitu dari Dony Iswara alias Mz Don. Nick and Norah masuk dalam daftar 100 film favorit beliau. Santap jiwa! Dan lagi, film ini jadi favoritnya Kak Ira juga. Dia udah lama nontonnya. Huaaaaaa. Aku telat tau film ini.

Sumber: SINI

Dan aku kaget pas tau kalau film ini diangkat dari novel berjudul sama karangan Rachel Cohn dan David Levithan. AAAK!!!!!!!

Aku suka sama novelnya dia yang Will Grayson, Will Grayson. Nulis bareng John Green waktu itu. Dalam satu novel, ada dua tokoh dengan nama yang sama. Aku suka sama Will Grayson versinya David Levithan daripada Will Grayson versinya John Green. David menuliskan Will Grayson yang berkepribadian rumit itu dengan sederhana dan bikin ngakak. Terlepas dari Will Grayson-nya Levithan itu gay, aku suka cara pandangnya terhadap dunia.

Oh iya, di Nick and Norah juga ada tokoh yang gay. Tapi jadinya lucu. Nggak ngedrama kayak Moonlight. Dan walaupun ada pasangan gay, tapi menurutku nggak ada adegan yang bikin jijique gitu sih. Bikin ngakak yang ada.  Trus walaupun film ini setting-nya di klub malam, tapi nggak ada adegan ngerokok. Apalagi adegan dirokokin. Nggak ada. Film remaja yang aman dari adegan vulgar.

Ngomong-ngomong soal novel, aku belum baca novelnya. Trus katanya di novel sama di film beda gitu. Dan lebih bagus di novelnya. Nah, karena aku belum baca novelnya, aku cuma ngerasa David Levithan ini kayaknya lekat banget sama soal gay. Trus mobil unik dan 'rapuh' kepunyaan Nick, ngingatin aku sama Kereta Jenazah-nya Colin dari novel An Abundance of Katherines.

Trus aku suka chemistry-nya Michael Cera dan Kat Dennings. Dan waktu di Scott Pilgrim bareng Mary Elizabeth Winstead atau di Juno bareng Ellen Page, Michael Cera terlihat polos dan imut doang. Kalau di film ini terlihat..... eeeehhhm eeeegggh! Trus Kat Dennings itu seksi, njir. Semua yang ada pada dia itu seksi. Bibirnya, rambutnya, suaranya, sampai..... dadanya.

Oh iya, aku belum nyeritain filmnya gimana.

Jadi, Nick and Norah ini bercerita tentang seorang anggota band indie homo Jerks Off bernama Nick (Michael Cera, yang bukan homo) yang masih belum bisa move on dari mantannya bernama Tris (Alexis Dziena). Nick susah move on dari Tris sampe nggak mau ngeband lagi. Patah hati memang gitu ya, bikin kitanya jadi males ngapa-ngapain. Tapi dia rajin ngasih Tris hadiah berupa CD kompilasi lagu-lagu, yang rutin dibuang Tris tiap kali dia ngedapatinnya. Dibuang, tapi dipungut lagi sama Norah (Kat Dennings), cewek yang diam-diam suka sama lagu-lagu di CD itu.

Sumber: SINI
Sampai akhirnya (btw aku baru nyadar kalau aku selalu pake kata ini kalau ngulas film HAHAHA) Nick dan Norah dipertemukan di bar. Di situ Norah meminta Nick buat jadi pacar sementaranya. Kebetulan-kebetulan ala FTV pun terjadi di sini. Tapi jadinya so sweeet. Dan seterusnya, filmnya bercerita tentang pencarian mereka terhadap band bernama Where's Fluffy. Band indie yang misteriusnya melebihi Limbad, karena merahasiakan di mana mereka manggung.

Sumber: SINI
Dan ternyata nggak sekedar soal pencarian tempat manggungnya Fluffy. Tapi juga pencarian akan hal-hal lain, hal yang ngebuat Nick, Norah, dan tokoh-tokoh lainnya mengambil keputusan yang tepat di malam itu.

Caroline (Ari Graynor), sahabat Norah, berani ambil keputusan buat 'tobat,' nggak ngelakuin hal yang sama kayak malam itu tadi. Thom (Aaron Yoo) dan Dev (Rafi Gavron), dua teman Nick, berani ambil keputusan buat ngebantuin Nick move on.

Sumber: SINI
Lalu malam itu, Nick berani ngambil keputusan buat ngeband lagi. Lalu mencari di mana band favoritnya, Fluffy, manggung. Dan yang terpenting, dia berani buat move on dari Tris, mantannya yang bajingak itu. Mantannya yang dia pikir masih sayang sama dia karena masih suka hadir di kehidupannya, padahal mah hadir buat mainin perasaannya aja. 

Sumber: SINI

Aku paling suka pas adegan lagu You Sexy Thing dimainkan. Di situ Tris berusaha menggoyahkan imannya Nick dengan menari erotis. Tapi yang ada Nick malah keingatan momen di mana dia mengacak-ngacak akidahnya Norah. Eh maksudnya ngacak-ngacak rambutnya Norah. Fix, dia pun mengambil keputusan yang tepat yaitu move on dari Tris. Yuhuuuu~

Dan Norah!!!! Norah berani buat mutusin apa yang mau dia lakukan di masa depan setelah lulus nanti. Dia nggak mau kerja di bidang musik, tepatnya mengurus studio rekaman. Dia cinta musik, tapi dia takut kalau dia kerja di situ, dia bakal mencintai musik dengan cara yang berbeda. 





Hal itu ngingatin aku sama Haw yang sempat ngetwit soal ini,

Sumber: @hawadys
Hal yang dialamin Norah bisa dikaitin sama nulis. Iya nggak sih?

Oh iya, aku suka banget sama karakter Norah. Cewek cool yang suka dengerin musik. Kayaknya nggak bisa lepas gitu dari earphone dan iPod-nya. Trus aku suka sorot matanya yang datar. Dan aku suka pas dia adu mulut sama Nick. Nggak lama habis itu dia melampiaskan kekesalannya dengan kekerasan ke Nick, dan handphone Nick mengumandangkan lagu Boys Don't Cry-nya The Cure sebagai nada dering. Aku ngakak di situ! Lagunya pas banget anjir sama adegan itu.

Sumber: SINI

Dan Norah pun akhirnya berani buat lepas dari Tal (Jay Baruchel) yang sudah menjeratnya selama bertahun-tahun dalam hubungan teman-ada-udang-di-balik-batu-zone. Tal yang resek, matre, dan maunya ambil untung aja. Norah akhirnya berani sadar kalau ada cowok yang sayang sama dia dengan tulus. Akhirnya berani sadar kalau dia itu sebenarnya nggak kesepian. 

Yha, Nick and Norah's Infinite Playlist ini film remaja yang bukan sekedar haha hihi dan uuuh so sweet doang. Apalagi film tentang cinta satu malam. Bukan. 

Film ini manis, bikin aku kangen masa-masa sekolah. Pas dengerin Last Words-nya The Real Tuesday Weld, aku ngerasa kayak balik ke jaman-jaman sekolah pas lagi engas-engasnya nonton konser band tapi nggak bisa pulang sampe larut malam. Huhuhu. 

Dan film ini bikin aku jadi mikir kejauhan, mungkin benar-benar nggak nyambung sama filmnya. Mikir kalau seseorang bisa jadi 'lebih' pada saat malam. Beberapa dari kita bisa lebih leluasa nulis pas malam hari dengan alasan lebih tenang daripada nulis di siang hari. Kita bisa lebih jujur dan ngerasa deket banget pas curhat pada malam hari. Seolah kita mengambil keputusan untuk menjadi lebih terbuka pada saat malam. Terbuka secara kiasan maupun secara harfiah. 

Hehe.

Termasuk lebih terbuka sama diri sendiri. Berdiskusi pada diri sendiri, bertanya pada diri sendiri. Misalnya,

"Kenapa seharian ini kok sial banget ya? Bautnya plat motor lepas, trus buat sementara diikat pake tali rafia eh di jalan diketawain. Pas nyampe rumah, kacamata didudukin adek sendiri. Patah. Huhuhuhu. " 

"Kenapa hari ini aku boros banget anjeeeeer. Gampang banget tergoda diskon! Huaaaa!"

"Kenapa aku kepikiran hal yang itu-itu terus sih?"

Dari pertanyaan-pertanyaan itu, jawaban atau keputusan yang diambil adalah: Ntar baikin motor dan kacamata. Tahan nafsu belanja.

Dan besok nggak usah kepikiran hal itu lagi. Karena berani melepaskan diri seperti Nick dan Norah itu baik.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com