Jumat, 22 November 2013

Kamu Bisa Bantu Apa?

Udah tiga hari ini aku dipusingkan sama training. 

Jadi gini, aku tu baru dapat akun NOL, makanya aku baru bisa ngerjakan soal-soal training yang udah ada dari lima bulan yang lalu kalau gak salah, pokoknya soal-soal training yang bubuhannya udah pada kerjakan sementara aku belum.Maka deadline nya itu kemaren lagi Aku pusing sumpahhhh. Soal trainingnya ada enam, yaitu Nokia Lumia 625, Lumia 925, Lumia 1020, Lumia 1520, Sosial Media, dan Here Drive 4.0. Susah banget, ngejawab pertanyaan-pertanyaan gitu, mana aku tau NFC antenna itu dimana, trus hardware apa aja yang cocok, aaaaaaaaa pokoknya susah deh pertanyaaannya mana aku tau yang begituan. Kemaren lusa aku udah ngerjakan satu, itupun harus ngemis-ngemis minta bantuin Max dan Kak Uun. Trus hari ini udah ngerjakan tiga, sebenarnya dikerjakan Kak Ira sih hahaha, nah sisa dua, itu kami nyerah bukan kepalang dah, udah kami kerjain tapi salah terus, nilainya tu minimal harus 70. Sampe jam setengah delapan malam aku mendem sama Kak Ira buat ngerjain training itu dannnn akhirnya lambai tangan ke kamera. Nyerahhhh.

Huhuhu, gatau deh gimana nasibku gak ngerjain training yang sisa dua itu. Tadi siang aku sempat nanya sih sama Kak Ira,

"Kak, kalau gak ngerjain training itu dipecat kah?"

Hening.

Gak lama Kak Ira, Kak Muti, Kak Fajar, dan Kak Uun ketawa ngakak.

"Kok ketawa?"

"Lucu pertanyaanmu!" Kak Fajar nyolot, trus ngelanjutin ngakaknya lagi.

"Yaudah dicoba dikerjakan aja." kata Kak Ira bijak.

Nyatanya, aku gak ada ngerjakan yang sisa dua itu sampe sekarang dengan benar. Ada tadi pagi, ngerjakan yang Lumia 1020, tapiii gak nyampe 70. Sakit hati sumpah. Mana aku tau jawabannya, megang hapenya aja gak pernah -__-

Aku baru ngerti ini toh yang namanya stress kerja. Bulan kemaren sempat stress karena penjualan NCP gak capai target, sekarang stress karena training belum dikelarin. Huuufffhhh, pasrah aja deh ini training sisa dua, aku juga bingung sih ini dibiarin aja atau gak usah dikerjain, soalnya kan deadline nya kemaren, takutnya kalau ngerjakan hari ini percuma, trus juga sebenarnya udah nyerah banget sih, soalnya susah banget, maka bubuhan teknisi tu pada lupa jawabannya sama cuek juga aaaaaa TT

Oke, udahan ya stress nya.

Eh ada lagi sih stress yang lain, yang bukan dari training aja, tapi dari user rempong. Setelah sekian lama hidupku dan Kak Indra sebagai CS damai aman sentosa, akhirnya user rempong kembali menghantui kami. Menghantuiku lebih tepatnya. Pagi tadi pas lagi asik-asiknya ngobrol sama Kak Indra dan Kak Maya, seorang bapak-bapak separuh baya, eh lebih tepatnya kaik-kaik setengah abad masuk ke NCC. Selayaknya seorang CS, aku berdiri dan menyapa Bapaknya, eh Kaiknya itu,

"Selamat pagi Pak, ada yang bisa dibantu?"

"Kamu bisa bantu apa?"

Jleb.

Sumpah kaget. Aku spontan ngeliat Kak Maya, mukanya cengo banget. Kalau aku sama Kak Indra sih gak cengo-cengo banget, soalnya sebelumnya kami udah pernah ketemu Kaiknya ini, dulu dia pernah jadi usernya Kak Indra, kata Kaiknya hapenya tu gak bisa dipake nelpon sama sms. Pas dicoba nelpon sama Kak Indra, eh ternyata...

"Ini adalah panggilan pertama anda---"

Yeee ternyata itu kartu baru, belum pernah dipake nelpon  Pas dicoba buat sms juga ternyata bisa. Aaaaah Kaiknya ini -_-

Nah terus Kaiknya jadi userku, hapenya tu gak bisa internetan. Gaul eh ini Kaik, internetan bukanya Kompas.com, KapanLagi.com, supaya tau keadaan luar jar. Bapaknya ini pas ku jelaskan prosedurnya, dia selalu motong gitu bilang "Iya, tau..." dengan penekanan yang seolah-olah ngegambarin aku ini bego banget, atau aku ini sok baik sok pintar ngasih tau dia, padahal dia gak tau. Sepanjang aku ngejelasin selalu dipotong dnegan kata-kata ajaibnya itu. Contohnya yang paling aku inget,

"Pak, ini untuk handphone nya kemungkinan di-soft--"

"Iya, tau..."

"Iya Pak, jadi untuk handphone nya disoftware, pengerjaan tidak bisa ditunggu Pak, sekitar--"

"Iya, saya tau, diulang-ulang terus."

Senyap. Aku senyum aja, senyum kecut.

"Hapenya ditinggal? Berapa lama?"

Yeee tadi gue mau ngejelasin malah dipotong -__-

"2-3 hari Pak. paling cepet besok."

Untungnya Kaiknya ini beli NCP, maka NCP kategori 4 lagi, hapenya Lumia 820, jadi aku gak gedek-gedek banget huhu. Awalmya sih dia gak mau, ngedumel gitu karena kemahalan,tapi yaudah akhirnya dia mau. Eh tapi sebenarnya biarpun gak beli NCP aku gak gedek sih, cuman lucu aja gak bikin kesel pengen nyumpah gitu, Kaik-Kaik gitu, cobanya kalau anak muda sepantaran sama aku atau ibu-ibu atau bapak-bapak ya gedek hhh.

Itu pada saat mau masukkin hapenya buat diservice, nah pas pengambilan, lagi-lagi si Kaik mengeluarkan kalimat andalannya. pas aku pasangin sim card-nya, aku ngasih tau dia.

"Bapak, untuk kartu memorinya gak saya masukkin dulu ya, nanti Bapaknya scan antivirus dulu kartu memorinya, di laptop, komputer atau counter-counter yang--."

"Iya, tau....."

Dan lagi-lagi, aku senyum kecut, trus memilih buat ngebubuhin stempel di tanda terima.

"Loh loh yang itu kenapa gak dipasang?" Si Kaik nunjuk ke arah kartu memori yang teronggok di atas meja.

Hah? Cengo habis sumpah.

KAN TADI AKU UDAH BILANG KALAU KARTU MEMORINYA GAK KUMASUKKIN AAAAAAAAAAAA!!!

"Ini harus di scan dulu Pak, bisa di laptop atau komputer atau di counter-counter baru bisa dimasukkin ke hapenya."

"Oh iya iya."

Setelah tetek-bengek pengambilan handphone sudah dijalanin, si Kaik pergi melenggang pulang. Aku langsung masuk ke dalam, ngeluarin tawa yang udah kutahan daritadi trus ceritaan sama Kak Indra dan Kak Maya haha.

Ternyata di hari itu aku masih diuji, ceilah diuji, pokoknya gitu deh, masih ada user binal selain Kaik itu. Masih berhubungan dengan training, jadi sore-sore sekitar jam setengah enam lewat aku, Kak Ira, dan Kak Muti bertahan di kantor. Kak Muti nunggu suaminya jemput kah kalau gak salah, lupa juga aku. Plang depan udah dibalik, gerbang udah ditutup, udah nunjukkin banget kan kalau udah tutup gak beroperasi lagi dalam hari ini.

"Eh, coba pas kayak gini masih ada user yang masuk, kayak apa ya?" Tanya Kak Ira iseng.

Eeehhh gak lama ada ibu-ibu masuk ke dalam NCC, langsung nanyain ada jual charger apa enggak.

"Tuh kan baru diomongin. Kamu masih mau ngelayani kah?" Kak Muti ngeliatin aku.

"Iya Kak mau." Aku langsung berdiri sambil pasang senyum.

Ibunya tu cari charger, dia bilang dia udah cari di Surya Phone tapi barangnya lagi pending. Pas aku tanya mau beli charger yang mana, Ibunya nunjuk tempat plastik chargernya.

"Ada Bu, ada yang harganya sembilan puluh ribu,  ada yang seratus tujuh puluh ribu."

"Oh gapapa gapapa, saya gak masalah soal harga."

Aku ambilin deh dua-duanya.

Nah, mulai disini deh kebinalan user ini bermula. Jeng jeng jeng....

Si Ibu minta dijelasin apa bedanya yang sembilan puluh ribu sama yang seratus tujuh puluh ribu., oke ku jelasin.

"Yang ini namanya AC-3, charger biasa. Bedanya sama yang ini, AC-15, untuk AC-15 lebih cepatnya ngisi daya baterainya,"

"Ohhh, yang persis kayak punya saya ini yang mana ya?"

"Coba saya liat sebentar kotaknya Bu."

Si Ibu ngasih kotak.

"Yang punya Ibu ini AC-11, ada dijual disini, harganya seratus ribu." jawab Kak Ira. Dia langsung ngambilkan charger yang dimaksud.

"Ohhhh gak sama kayak punya saya ya, ini nih yang sama." Ibunya nunjuk AC-15.

"Beda Bu, itu AC_15, kalau punya Ibunya AC-11." sanggahku.

"Yang ini kok kayak punya saya! Yang itu gak sama!"

"Yang ini kemasan baru Bu tapi jenisnya sama kayak yang Ibu cari." Kak Ira negasin.

"Oh iya iya, yang itu sama ini apa bedanya?"

"AC-15 ini lebih cepat daripada AC-11."

"Ohhh, kalau yang ini sama yang itu?" Si Ibu nunjuk AC-3 sama AC-15.

"Lebih cepat AC-15 daripada AC-3 Bu, lebih cepat ngisi daya baterainya, jadi handphone Ibu cepat penuh baterainya."

"Yang ini bisa dibuka gak? Saya mau liat."

"Gak bisa Bu..."

"Loh, kalau gak cocok gimana?"

"Pasti cocok Bu, untuk jenis handphone Ibu compate nya sama charger ini."

"Gak yakin saya. buka aja ya saya mau coba."

Ibunya ini hhh bersikeras gitu buat buka itu chargerannya, padahal masih dalam kemasan. Trus juga...

"Saya mau beli yang seratus tujuh puluh ini aja, tapi gak bisa kurang kah Mbak? Jadi seratus lima puluh De...."

LOH? TADI PAS AWAL KATANYA GAK MASALAH SOAL HARGA?

"Gak bisa Bu."

"Ayolah De seratus lima puluh ya, saya cuma bawa seratus lima puluh."

"Gak bisa Bu, udah dari sananya harganya segitu..."

"Ibu bisa beli yang ini, AC-11, harganya seratus ribu." kata Kak Ira.

"Gak sama kayak punya saya De, yang sama tu yang ini, tapi mahal betul eh gak bisa kurang kah?"

"Gak bisa Ibu, udah dari pusat harganya seperti itu."

"Saya mau liat yang seratus ribu, bisa dibuka kah?"

"Gak bisa, ini ada segelnya." jawabku jutek.

Akhirnya Kak Ira ngebuka itu kemasan AC-11 dengan hati-hati, untung gak ngerusak segelnya. Si Ibu ngeliatin charger AC-11 itu dengan seksama.

"Kurang panjang ini, punya saya itu panjang, dari awal saya udah yakin kalau yang seratus tujuh puluh panjang, keliatan ni. Tapi harganya pang, bener-bener gak bisa kurang kah De?"

Biar Ibu nanya kayak gitu sampe kiamat datang, harganya tetap gak beruibah Bu. Kecuali kalau ada salah satu dari kami yang berbaik hati (atau mungkin bodoh) nombokkin dua puluh ribu.

Aku garuk-garuk kepala aja sih, sementara Kak Ira ngejelasin dengan detil kalau charger yang AC-11 yang Ibunya cari, dan cuma beda kemasan aja beda sama kemasan yang Ibunya bawa. Tapi Ibunya tetap keukeh mau yang AC-15, dannnnn keukeh nawar.

"Kalau seratus enam puluh?"

"Tetap gak bisa Ibu..." jawab Kak Ira lembut. Aku dan Kak Muti yang lagi sok-sok an poto pake daftar harga baterai langsung saling berpandangan pas dengar Ibu nya nawar gitu.

"Seratus enam puluh lima ya, lima ribunya buat bensin pulang."

Hah? Hah? HAH? WHAT THE F---- Aku gak bisa nyembunyiin muka cengo, Kak Muti langsung buang muka, kayaknya ketawa, sementara Kak Ira keliatannya geregetan sama Ibunya.

"Gak bisa Ibu, kalau mau Ibunya beli yang AC-11 ini."

"Gak bisa ya... Yaudah De, mau beli di sana barangnya lagi gak ada sih."

"Iya.. ada lagi yang bisa dibantu?"

"Ya itu, coba harganya bisa kurang.. Yaudah makasih ya."

Fiuhhhhhh. Kami langsung ngembusin nafas lega pas Ibunya pergi.

Astagaf heh mimpi apa semalam bisa dapat user sebinal itu,. udah datangnya pas udah tutup, jelas-jelas gerbang udah ditutup tu nah masih aja masuk, trus sok-sok an, rempong, gak peka lagi. Orang mukaku sama muka Kak Ira kepampang nyata muka capek dan keselnya masih aja gak ngeh. Untungnya Ibunya gak jadi beli, gatau ya aku kok senang ada user yang gak jadi beli gear, biasanya rada kecewa gitu.

Eehhh enggak, ternyata si Ibu itu balik lagi aaaaaaa.

"Saya ngambil yang itu aja De, yang seratus tujuh puluh."

Kaget eh pas ngeliat Ibunya balik lagi. Antara pengen nyelesain soal training sama males ngelayanin Ibunya ini, aku bilang aja kalau udah tutup, eh seharunya daritadi kan aku bilang udah tutupnya. Tapi si Ibu kembali ngeyel minta dilayanin.Dengan langkah malas-malasan, plus sepatu yang udah kulepas jadinya aku nyeker, aku melangkah ke lemari gear buat ngambil charger nya. Di sela-sela aku nulis invoice buat tanda terima Ibunya, si Ibu ini kembali berkicau, nyeritain kalau dia dapat uang dari keluarganya. Aku nanggapin si Ibu dengan senyum tipis.

Dan senyum tipisku berganti jadi senyum kecut pas Ibunya ngomong gini,

"Itu gak ada tas bagusnya kah De?"

Aku langsung ngehentiin kegiatan masukkin charger ke kantong plastik yang kupegang, trus pasang tampang cengo, dua kali lebih cengo.

INI IBU MAKSUDNYA APAAN COBA???!!

"Gak ada Bu, adanya plastik gini."

"Oh kirain ada."

Loe kira belanja di Sophie Martin gitu?

Si Ibu masih gak ngehentiin kicauannya. Pas aku nyuruh dia buat tanda tangan di invoice, dengan muka panik dia nanya, "Buat apa saya tanda tangan?", ya ampun ini Ibuuuuuuuu -_-

Eh ada lagi, pas aku ngasih kembalian, kan uangnya tu dua ratus ribu, kembaliannya tiga puluh ribu, tapi aku salah ngomong gitu aku bilang kalau kembaliannya dua puluh ribu, padahal aku nyodorin uang tiga puluh ribu, eeeehhh dibahasnya gitu padahal udah ku ralat, bilangnya, "Iya dong tiga puluh ribu, kan uang saya dua ratus, cesannya seratus tujuh puluh, bla bla bla bla bla" Gak ku dengerin habis itu, asli udah gedek banget.

Yaaa namanya juga customer service, hal yang lumrah dan gak tabu kalau ketemu user yang nyeleneh. Justru itu sih yang aku suka, karena kalau gak ada user nyeleneh, hidupku sebagai customer service pasti bakal datar. Because life is never flat, kayak yang dibilang di iklan Chitato. Eh sumpah, jadi tepengen Chitato. Ada yang bisa bantu saya belikan Chitato?

Dadah pembaca. Dadah user rempong.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 08 November 2013

Kakak Pipi Towel

Hari-hariku di NCC  mulai membinal lagi sejak bangunnya Kak Maya dari cuti lumayan panjangnya.

Siang tadi aku, eh mereka, yang terdiri dari Kak Maya dan Kak Muti, sukses bikin aura onengku keluar. Pas aku ke ruang Kak Maya buat nanya nota user, dia nanya-nanya ke aku dengan gaya sengak, aku sih cuma ketawa aja. Kak Muti yg duduk di depannya juga ikut-ikutan sengak, persis kayak kakak kelas yang ngebully adek kelas. Trus aku nanya soal nota ga diheranin, malahan mereka berdua asik ngobrol,

"Eh Ira kayak apa ya kakaknya Ira tu? Udah melahirkan lah?"

"Ini aku lg smsan sama Ira."

"Kak ini punya user sekalinya pernah masuk kak dealer nah jad--"

"May kamu makan kah May? Ayo sudah." kata Kak Muti sambil ngeliatin aku.

"Ayo sudah aku bawa bekal juga."

"Kakkkkkk ini gimana kak nota?"

"Kenapa Cha kenapa hah kenapa dia sih Mut?" 

"Gatau tu, coba jelasin ke Maya Cha." 


Perasaan udah ku jelasin daritadi, ngomong dalam hati aja sih aku. Nah tetap ku jelasin lagi ke Kak Maya lok, eh malah Kak Maya ngebahasnya...

"Cha, Zai itu tu datang ke nikahanku sama cewek loh. Yang dia bilang sama kamu dia tidur itu tu dia datang Cha manaada tidur."

"Iya Cha aku liat, ku kira itu temannya Maya lok sekalinya Maya ga kenal, cantik Cha pake dress, dewasa gitu orangnya."

"Ah ga percaya aku Kak."

"Ihhh May coba kamu liatkan buku tamumu May!"

"Ada Cha di buku tamuku Zai dan siapaaaa gitu."

"Iyakah? Eh Kak trus namanya siapa?"

"Mana kenalan aku sama dia."

"Ra-rambutnya Kak? Kayak gimana rambutnya? Beponi ga?"

"Dia rambutnya dibelakangkan gitu dewasa Cha, gak oon kayak kamu."

"Hooo berarti bukan, soalnya dia suka cewe beponi Kak."

"Dia pake bando, mungkin kalo ga pake dia ponian."

Refleks tediam. Antara mau percaya atau enggak.

"Pantesan mamanya gatau dia pacaran sama kamu, dia tu takut bilang Cha nanti dikira mamanya dia selingkuh, padahal kamu yg diselingkuhi."

"Makanya dia cuek kan, soalnya dia itu perhatian sama kamu kalo dia lagi kelahian sama cewenya."

Thanksss Kak Muti dan Kak Maya sudah bikin saya nyesek, batinku dalam hati.

Aku pun senyum-senyum nahan air asin dari mata trus ngelanjutin nanya soal nota, trus kembali ke userku. Kelar bikin tanda terima dan usernya pulang, aku langsung telpon Zai, nanyain soal itu.

"Iya." jawabnya di seberang telpon. Datar.

"Beneran?"

"Ya enggaklah! Kamu ni mau aja dibunguli."

"Ihhhh habisnya mereka itu nah meyakinkan betul mukanya! Aaaaa gak bener kan itu?"

"Heh anak ini heh polos betul." 

"Ohahaha yaudah deh dadaaahhh."

Gak lama setelah aku nutup telpon, Kak Maya dan Kak Muti kucuk-kucuk datang ke tempat dudukku.

"Coba liat ym mu! Ini sudah cewek yang datang sama Zai! Mancung kan!" Kak Maya berkoar-koar


"Ah manaada, cantik gitu kayak artis Kak mana mungkin Kak."

"Iya ini Cha! Liati rumahnya, manaada rumah artis tu kayak gini! May May liati May gak percaya dia May!"

"Hehhh anda ya! Telpon Zai nya coba kamu tanyai!"

Aku nurut. Ku telpon Zai (lagi!) dan bubuhannya ngerubungi aku trus bubuhannya ketawa ngakak. Yap bisa ditebak si Zai bilang "Iya bawa cewek aku, hahaha ya enggak lah orang aku tidur" sambill ngehina dina aku huhu. So mereka itu bohongin aku aja, itu poto dapat dari internet huhuhu ah Icha onengggg -_-

Oh iya, aku ada ketemu sama kakak kelasku waktu SMK, namanya Kak Robby. Beliau (?!) bukan sembarang kakak kelas, bukan karena dia berdarah biru, bukan juga karena dia sakti mandraguna, tapi karena dulu dia adalah kakak kelas yang paling aku keselin, hhhhhh kesel banget banget banget. Beliau, eh, dia, dia itu kakak OSIS, dan punya jabatan yang cukup tinggi di OSIS, ketua PK kah kalau gak salah lupa juga aku, nah PK itu aku lupa kepanjangannya apa. Waktu dia kelas 3, aku kelas satu. Nah pas MOS, dia adalah orang yang paling susah dimintain tanda tangannya dan bikin anak-anak MOS pada males minta tanda tangannya. Tapi aku sama Nina gak gentar, sekaligus penasaran juga sih apa sih yang bikin susah minta tanda tangannya. Maka di hari itu, kalau gak salah pas hari kedua MOS, aku sama Nina ngedatangin Kak Robby yang lagi dikerubuti sama anak-anak MOS dan kakak-kakak OSIS. Sumpahhhh kami berdiri gitu kayak ngantri sembako huhu. Biar gak bosan, aku sama Nina ceritaan sampe tengakak ngakak. Eh trus pas udah rada sepian gitu kami langsung nyodorin buku buat ditandatangani. Ehhhhhh kami malah disuruh ngipasin dia. Oke kami nurut. Kami kembali nyodorin buku sambil ngerengek minta tanda tangan, eh malah...

"Heh kalian berdua! Tembak dia!" 

Tau-tau Kak Robby langsung nunjuk dua anak yang baru datang trus nunjuk aku.

"Eh yang itu tu, tembak ini!" 

Kak Robby nunjuk salah satu dari dua anak cowok itu, dia nunjuk yang gendut. Aku lirik-lirikan sama Nina, cengo abis. Teman-teman Kak Robby pada ketawaan trus pada megang handycam gitu seingatku.

"Ayo, kok pada diam? Mau dapat tanda tangan saya enggak?" bentak Kak Robby

Sumpah hehhhhh gedek banget sama Kak Robby! Waktu itu aku gak mau sih, si anak MOS itu juga gak mau, nyesel deh kenapa minta tanda tangannya segala coba ga usah. Tapi karena udah kepalang basah yaudah, sampe Kak Robby tu nyuruh anak itu berlutut huhu dan kalau ga salah dia disuruh megang tanganku.

"Yaudah aku mau,"

"Yang ikhlas jawabnya!" bentak Kak Robby, gak ngelupain gaya sengaknya.

"Iya aku mau." aku langsung ngelepas genggaman tangan anak gendut itu.

Ketawa Kak Robby dan teman-temannya membahana. Aku keselllllllllll banget, aku megangin tangan Nina keras-keras.

Nina pun gak lepas dari jeratan penyiksaan Kak Robby. Dia ditembak juga, ditembak sama temannya yang gendut itu, ganteng eh temannya itu aaaaa trus gak pake dibentak juga dia sama Kak Robby huaaaaa.

Kekesalanku sama Kak Robby masih berlanjut walaupun MOS udah selesai. Tiap Kak Robby lewat depan kelas, bawaannya kesel pengen ngedumel, pengen nabok. Kalau ketemu di jalan bawaannya pengen nyolokkin matanya pake kaca spion. Intinya aku masih dendam sama Kakaknya itu, gatau deh kalau Nina masih dendam atau enggak, tapi keliatannya enggak sih soalnya dia gak sekesal aku. Waktu itu kan aku akrab sama teman sekelasnya Nina, anak-anak AP 1, nah mereka itu ngolokkin aku kalau ada Kak Robby. Parahnya, pernah juga aku disangka adeknya Kak Robby sama kakak teater, alasannya...

"Habis kalian mirip sih, sama-sama pipi burit."

Asem kutu kupret. Kekesalanku sama Kak Robby semakin mendalam sampe kelas tiga. 

Sampe akhirnya gak ada angin gak ada hujan aku ketemu dia, jadi userku.

Awalnya sih rada-rada gak yakin juga itu Kak Robby, potongan rambutnya rada berubah, lebih gondrong sekarang. Hitam pekatnya kayak ter mah tetep. Iya, emang bener Kak Robby sih itu.

Aku komat kamit merapal doa dalam hati, berharap Kak Robby gak jadi userku, jadi usernya Kak Indra aja gitu kek. Eeeh sekalinya Tuhan baik banget sama aku, dijadikannya Kak Robby sebagai userku. Dia ngambilkan hape temannya ternyata. Dia cerita kalau pas tanggal merah kemaren dia kesini. Trus ternyata dia masih inget sama aku, adek kelasnya yang dia kerjain waktu MOS. Gak lama aku nanya soal video itu, video waktu MOS. Masih dengan logat bugisnya yang kayak dulu, dia ngejawab,

"Hahahahahaa iya ada De, banyak tuh. Tapi udah gak ada di laptopku, keformat laptopku. Ada mukamu sama temanmu siapa tu yang item-item manis itu? Nin-Nina ya?"

"Huaaaaa!!!!! Iss Kakak jahat betul waktu itu, pake direkam segala lagi!!!" 

"Yaaa namanya juga buat seru-seruan De. Eh tapi kamu kurusan ya? Perasaan dulu pipinya kayak gini." Kak Robby men-setengahkan kedua kepalan tangannya,  trus ditaroh di pipinya, yang juga kurusan itu.

Aku cuma bisa manyun.

Seketika suasana mendadak cair. Ngobrol-ngobrol sih dia kuliah dimana, dia bilang dia kuliah di Universitas Mulawarman, ambil Ilmu Komunikasi. Ada ketemu Roro Mira, teman waktu SMK-ku teman sekelasnya Nina.

Kelar dengan urusan hapenya, yang lebih banyak urusan protes soal MOS yang sok galak dari Kak Robby dan anak-anak PK lain, Kak Robby pun pulang. Eh sebelum dia pulang, dia ngulurin tangannya,

"Salaman De, biar gak slek. " katanya dengan tampang yang udah gak sok cool perangutan kayak dulu, tapi malah senyam senyum bijak ala Mario Teguh Golden Ways.

Spontan kubalas uluran tangannya sambil keheranan.

Kak Robby pun pulang. Kegedekanku sama dia pun ikut berpulang, malah jadinya ketawa-ketawa gak jelas. Ketawain diri sendiriku sih, karena aku malah jadi kangen sama masa-masa MOS itu. Kangen dengan rasa kesel sama kakak-kakak kelasnya yang galak, dengan kakak-kakak kelasnya yang cakep-cakep cantik-cantik, dengan kepolosan sebagai adek kelas.

Masa putih abu-abu emang ngangenin yah.














Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 03 November 2013

Gak Sesuai Rencana

Rachelia Al Medina ditasmiyah hari ini. 

Udah itu aja. 

Tamatttttt.

Eh enggak-enggak, gak sesingkat itu. Gini-gini, keponakan baruku hari ini ditasmiyah, namanya Rachelia Al Medina, anak dari Kak Iin dan Kak Iril. Lahirnya tanggal 3 Oktober kemaren jam tiga pagi. Acarnya berjalan lancar, cuman aku gak sepenuhnya ngumpul sama keluarga di hari besar itu, di samping aku ketiduran di kamar dua jam, aku juga keluar rumah buat jalan ke nikahannya Kak Maya dan.... Oke disimak ya paragraf selanjutnya.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 02 November 2013

Tiga Aspek Saat Mengenalmu

Di suatu malam, heleh suatu malam, pokoknya di malam gatau malam apa aku lupa, aku telponan sama Zai dan ngomongin...

"Aku ngiranya kamu itu pembualan, sok kaya, gak mau ngumpul sama makan gorengan, ternyata gak juga."

"Iyakah? Jangan-jangan semuanya ngira gitu? Isssss."

"Ya gatau."

Jawaban Zai tadi membungkam percakapan kami. Aku terdiam cukup lama, mencari-cari apa lagi yang mau diomongin, padahal dalam hati banyakkkk banget,  eh gak banyak sih cuma satu, yaitu tentang "Apa yang bikin kamu suka sama aku?" dan berharap dia bakal panjang lebar ngejawabnya haha.

Tapi nyatanya aku nanyain dia soal masa-masa dia waktu sekolah di asrama, trus dia cerita panjang lebar tentang rasa kekeluargaan yang kuat disana. Dia bilang gak mungkin banget bakal pacaran sama teman satu asrama atau teman sekelasnya, sekalipun dia cantik, karena udah nganggap sebagai keluarga sendiri, ya karena udah sering sama-sama gitu. Aku ngambil kesimpulan, kebersamaan gak menimbulkan rasa-pengen-jadi-lebih-dari-sekedar-teman bagi Zai., gak berlaku buat dia sahabat jadi pacar. Beda banget sama aku, yang bisa aja jatuh cinta sama sahabat karena seringnya ketemu dan berkomunikasi. Hah, hal yang sebenarnya aku udah tau lama, tapi masih aja bikin aku pengen bilang wow sambil lompat pagar kantor PU.

Kelar telponan, rencananya aku mau langsung tidur. Tapi rencana baikku itu batal karena aku kepikiran perkataan Zai tadi. Apa semua nganggap gitu? Apa semua teman-teman Zai nganggap gitu? Aku ngerasanya aku memang keliatan sombong sih kalau gabung sama bubuhannya Zai, aku diem aja dan sok jaim. Tapiiiiii jujur deh aku gak maksud jaim dan sombong, bermaksud sok kaya juga apalagi, aku tu malu gitu kalau baru ketemu pertama kali, trus juga gak bisa ngajak kenalan duluan atau negur duluan sama orang baru. Tapi dijamin deh kalau udah kenal aku dan akrab, aku orangnya gak jaim kok, gak pemalu, malu-maluin malah. Gatau ya kenapa aku gitu, aku pengen sih kayak Ani yang gampang banget akrab sama orang huhu atau kayak Intan, teman satu kumpulannya Zai., sama kayak Ani juga dia gampang akrab.Untungnya di bubuhan Zai itu ada Hamzah yang negur aku duluan dan ramah gitu, kadang suka ngolokkin aku juga dewi twitter dewi twitter -__-

Aku jadi mikir, setiap orang punya sisi yang berbeda, gak cuma satu sisi. Tergantung dari sisi mana kita ngeliatnya. Dari sisi belum kenal sama dia kah, sisi belum kenal baik kah,  sisi udah akrab kah. Contohnya ya kayak aku tadi, orang yang belum kenal sama aku mikirnya aku jaiman, huuuuu padahal jauh banget dari kata jaim, udah tau sendiri kan dari postingan-postinganku, tapi ya aku gak nyalahin kalau ada yang nganggap aku gitu, dan aku juga gak mau nganggap aku ini baik.

Aku pernah juga kok, pasti pernah lah semua orang pernah, mandang orang dari satu sisi aja. Sebenarnya banyak hahaha, cuman ini yang paling aku ingat, pas aku ketemu Kak Maya, kesan pertamanya sih rada judes gitu, ku kira aku gak bakal bisa jadi temannya huhu tapi ternyata pas udah kenal, Kak Maya itu baik, pengertian banget sama aku yang ngerepotin huhu perhatian pula, tau aja gitu nah kalau aku belum istirahat, jahil juga uuuh jahilnya itu kayaknya menduduki peringkat pertama deh daripada kejahilan bubuhan NCC yang lain. Oh iya besok Kak Maya nikahan loh, happy wedding deh buat Kak Maya :*

Selain itu juga ada Adhi yang jadi sasaran-mandang-dari-satu-sisi-ku.
Adhi itu teman sekelas waktu SMP kelas satu. Orangnya baik, pinter, selalu jadi juara kelas, kesayangan para guru-guru, dan satu hal yang paling aku ingat dia anaknya sangat toleran pada pemeluk agama lain, dia sendiri sih agamanya Kristen Protestan, aku paling inget peristiwa pas adzan mushala berkumandang, dia nyuruh sekelasan itu diam karena ada adzan, dan sekelasan pada nurut. Akhir-akhir ini aku sering telponan sama dia, ngomongin masa-masa SMP khususnya masa-masa kelas satu yang dihiasi dengan kejar-kejaran nilai dan cari muka sama guru hahaha yang terakhir itu kayaknya hina banget ya, ngg maksudnya bukan cari muka gitu sih tapi berusaha menonjol aja depan guru, nonjolin prestasi. Entah kerasukan apa kerasukan Bapak Ki Hadjar Dewantara mungkin, aku dapat ranking satu pas kelas satu itu, dan masuk majalah sekolah. Hal yang terjadi cuma sekali dalam masa tiga tahun sekolah di SMP 4 huhu. Nah obrolan kami berdua itu ya seputar masa-masa kelas satu itu, masa-masa aku rajin-rajinnya belajar dan dia juga rajin belajar, tapi bedanya dia sekarang masih rajin dan aku enggak hahaha. Lama-lama jadi ngerembet ke soal kuliahnya sekarang, ngobrolin kehidupannya yang jadi anak Jogja karena dia kuliah di Jogja, ngobrolin kerjaanku yang ngadapin user-user gak sabaran, ngobrolin kehidupan waktu SMA dimana dia dulu di SMA 3 dan aku di SMK 1, ngobrolin--- pokoknya banyak banget yang bisa aku obrolin sama dia. Padahal awalnya aku ngira yang ada di pikirannya itu cuma belajar belajar dan belajar, soalnya di kelas satu dia itu pinter dan rajin, di SMA dia masuk kelas unggulan mulu, sekarang pas udah kuliah tugas gak pernah keteteran. Jadi aku mikir sih kalau aku ngomongin soal apapun selain pelajaran prestasi dan pendidikan, gak bakal nyambung. Rasanya gak mungkin banget kalau aku cerita sama dia tentang sifat pelupa akut dan kecerobohanku, hal yang biasa aku ceritakan ke orang.

Eeeehh tapi nyatanya dia itu gak semaniak belajar yang aku kira. Dia orangnya males nyatat, nyatat itu pake bahasa sendiri dan cuma dia yang ngerti, jadi suka bikin bingung orang yang minjem catatannya. Pas dia bilang gitu aku gak tahan buat ketawa, rasanya aneh aja orang serajin dia ternyata juga males nyatat, dan bikin catetan yang cuma dia aja yang ngerti itu kayak aku, aku juga kalau bikin catetan ya cuma aku yang ngerti karena gak berurutan, tulisan acak kadut, trus kadang ku tambahin tulisan gak penting gitu. Nah gak sampe itu aja sih kata 'ternyata' berlaku sama dia, ternyata dia gak sekaku yang aku kira, dia juga bisa dibawa bercanda dan bercandanya tu sampe bikin tengakak guling-guling. Aku kira dia gak bakal cocok sama gaya bercandaku yang total ngolok dan apa-apa serba ngayal gitu, tapi ternyata dia nanggapin ngerespon dan nimpalin, gak kayak orang-orang yang cuma ketawa aja gak ngomong apa-apa. Ternyata dia suka Raditya Dika juga walaupun suka pas stand-up nya aja, ternyata dia melankolis sempurna juga sama kayak aku, ternyata dia pernah jatuh cintrong sama anak SMP 4 teman sekelasnya waktu kelas 3, ternyata dia dekat banget sama Mamanya, hal yang bikin aku jadi teringat Indra. Gatau ya, kalau aku ngeliat cowok yang dekat, akrab dan sayang banget sama Mamanya, aku jadi kagum campur trenyuh, ya gitu deh yang aku rasain waktu denger cerita Adhi sama Mamanya,  Yang aku rasain waktu liat secara langsung kedekatan Indra dan Mamanya. Apalagi ternyata mereka berdua itu sama-sama satu-satunya cowok, kalau Adhi dari tiga bersaudara, kalau Indra dari empat bersaudara. Ternyata Adhi itu asik diajak curhat masalah cewek, dan ngasih solusi yang kadang bikin gak habis pikir. Ternyata dia suka Enrique Iglesias. Ternyata dia gila musik, bukan cuma gila belajar. Ternyata dia juga bisa becandaan yadong hahaha. Jauh dari yang aku kira sebelumnya. Entah dia yang udah berubah semenjak kelas satu SMP atau akunya yang belum kenal baik sama dia.

Lagi-lagi aku mikir, ternyata kita perlu tiga aspek buat mengenal seseorang, yang terdiri dari belum mengenal, sudah mengenal, dan sudah mengenal baik atau akrab atau dekat, sama seperti yang aku udah tulis di awal-awal postingan ini. Kita harus melewati, menjalani, merasakan (aaaaaahh aku sebenarnya gak tau apa kata yang tepat) tiga aspek tersebut, baru kita bisa men-judge seseorang. Makanya kan ada istilah "don't judge a book by its cover." Jangan menilai dari sampulnya, dari luarnya, bahkan dari omongan-omongan di sekitarnya atau di sekitar kita. Mengenal seseorang itu kayak mengenal makanan. Ada makanan yang dari namanya kelihatan wah tapi ternyata rasanya biasa aja. Ada makanan yang keliatannya biasa aja tapi rasanya luar biasa. Untuk bisa tau rasa dari makanan tersebut enak apa enggak, kita harus nyicipin dan makanin, gak cuma diliatin, gak cuma denger dari kata orang-orang. Karena setiap orang punya penilaian yang berbeda-beda akan suatu hal. Bener gak? Bener aja gin.

Okeee udah itu aja sih, selamat menerapkan tiga aspek saat mengenal orang baru ya, atau orang lama yang baru-baru ini hadir, dadaaaaaahhhh see you next post! :)
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com