Jumat, 30 Desember 2016

Maaf Untuk Penumpang Ini

“Maaf telah membangunkanmu lebih awal.”

Aku kengiang-ngiang sama dialog di atas. Ngerasa dihantui karena bingung, ada nggak sih dialog kayak gitu di film Passengers? Perasaanku sih ada, tapi aku ragu juga.

Kebingungan macam gini jarang datang, karena biasanya aku dengan kurang kerjaannya nyatat di note hape kalau ada dialog keren dari film yang kutonton. Tapi waktu nonton Passengers dua hari yang lalu, aku nggak ngelakuin hal itu.

Karena ada seseorang di sampingku yang negur aku pas main hape. Seseorang itu adalah Bang Haris Firmansyah.

Bingungku bingung-bingung ena. Yeaah, karena aku bisa nonton nggak sendirian lagi kayak biasanya! Dan nontonnya sama batangan dari Cilegon! Trus nonton dalam rangka memenuhi janji! Bukan, bukan janji bakal nggak keluar di dalam. Tapi janji nggak bakal nonton film Hangout-nya Raditya Dika. Janji-nya Bang Haris ke aku. Janjiku ke dia. Janji kami, dua fans Raditya Dika yang kecewa sama film Single-nya Dika, lalu kapok buat nonton filmnya yang lain. Janji yang mengantarkan kami berdua buat nonton film Passengers, film bergenre science fiction adventure yang dibintangi Chris Pratt dan Jennifer Lawrence.

Sumber: Edwindianto

Eh, ralat. Mengantarkan kami bertiga maksudnya. Karena nontonnya sama Kak Ira juga.

Sehakiki-hakikinya threesome
Sesuai dengan dialog di atas yang antara itu dialog fana atau nyata ada di filmnya, Passengers punya adegan tidur. Tidur bareng. Bukan cuma berdua, tapi rame-rame. Jumlah yang tidur mencapai 5000 orang. Sungguh pesta seks orgy yang semarak!

Eh tapi nggak, ini tidur beneran. Bukan ditiduri dan meniduri. Dan juga karena 5000 orang itu bukan tidur di rumah bordil, melainkan di pesawat luar angkasa (atau kapal terbang ya? Entahlah) bernama Avalon. Mereka sedang dalam perjalanan menuju planet Homestad II, tempat yang menjanjikan adanya peradaban baru dan kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan di planet Bumi. Para penumpang Avalon ditidurkan dalam waktu 120 tahun selama perjalanan.

Penampakan Avalon. Sumber: Edwindianto

Malang bagi Jim Preston (Chris Pratt), salah satu dari 5000 penumpang itu. Jim terbangun 90 tahun lebih awal dari seharusnya. Terbangun seorang diri. Awalnya Jim depresi takut-mati-duluan-sebelum-nyampe-di-Homestad-II. Iya wajar sih dia depresi. Siapa juga yang mau hidup sendirian? Dia pun pas mau meminta pertolongan, ada biayanya dan mahal banget. Lebih mahal dan banyak daripada penghasilan Pangeran Wortel yang mencapai 3.800 dollar. Huhuhu.

Trus Jim nyari cara supaya dia bisa tidur panjang lagi. Lama kelamaan Jim mulai menghibur dirinya sendiri dengan menikmati fasilitas yang ada di Avalon. Dan berteman akrab dengan robot bartender ramah tamah bernama Arthur (Michael Sheen).

Bromance. Sumber: Edwindianto
Setelah setahun hidup dalam kesendirian, Jim kepincut sama salah satu penumpang, bernama Aurora Lane (Jennifer Lawrence). Jim ngejalanin hari-harinya dengan nyari tau soal Aurora. Yap, kayak stalking gitu lewat socmed. Lelaki bermuka lugu-lugu kocak itu juga suka ngamatin Aurora. Ngamatin Aurora yang lagi tidur dengan anggunnya. Kayak gini,



O iya maaf. Maksudnya yang ini.


Jim pun jadi jatuh cinta sama Aurora. Dengan memanfaatkan skill wahid-nya sebagai montir, Jim mutusin buat ngebangunin putri tidur itu dari tidurnya. Itu kelihatan jahat sih, karena Jim udah merusak rencana bangun-di-waktu-tepatnya Aurora. Jim seolah mengikutsertakan Aurora dalam bencana bangun-lebih-awalnya dia. Jim seolah egois, nggak mau menderita sendirian. Tapi menurutku, mungkin si Jim-nya udah terpesona gitu sama Aurora. Trus dia engas sambil menjerit,

“Tanggung jawab! Kamu sudah membangunkan Jim junior! Kamu harus bangun juga, wanita jalang!”

Gimana nggak ‘bangun’? Aurora cantik banget bangke. Jennifer Lawrence yang memerankan Aurora ngingatin aku waktu dia meranin karakter Tiffany di film Silver Linings Playbook. Seksi! Merancap jiwa!

Mubazir banget buat Jim, kalau tubuhnya Aurora cuma buat jadi pajangan doang. Jadi ya gitu. Gitu kali ya. Yha. Suudzon aja teros sama orang, Cha!

Nah intinya di situ konfliknya mulai muncul. Filmnya yang awalnya have fun karena ada unsur komedi dan romance-nya, berubah menjadi tegang. Bukan lagi tentang gimana seorang Jim mencoba survive dari meleknya dia seorang diri, tapi tentang Jim yang harus menyimpan rahasia dari Aurora. Rahasia kalau sebenarnya dia yang udah ngebangunin, bukan kebangun sendiri.

Sumber: Edwindianto

Makin lama konfliknya makin nambah. Aura drama survival-nya mulai terpancar, rada ngingatin sama The Hunger Games, di mana Katniss-Peeta bertahan hidup sebagai rival tapi sebenarnya sama-sama peduli. Cuman kalau Passengers, awalnya Jim-Aurora temenan, akrab, trus saling cinta, trus jadi musuhan. Tapi harus saling bahu membahu membantu demi kesejahteraan bersama. Mereka keliatan kayak terpaksa, tapi sebenarnya masih sama-sama peduli. Ya kayak mantan yang masih sayang tapi gengsi buat ngakuin gitu.

Akting JLaw (Jennifer Lawrence, please. Bukan Jude Law kayak kata Yoga Gemini bajingak) juga senatural dan sememikat biasanya. JLaw juga nggak ‘lupa’ buat menampilkan wajah ekspresifnya. Aku paling suka pas dia lagi ditanya sama Arthur. Trus dia jawab, “We’re on a date,” sambil kayak meringis gitu. Lucu! Gemesin! Aku serasa lagi ngaca! Mirip banget sama aku!

Ngahahaha.

Eh, yang mirip itu sebenarnya Passengers sama Titanic sih. Seperti yang ditulis di blog Rorypnm. Dan aku setuju banget. Passengers punya bukti kesombongan manusia. Yaitu Avalon, yang digadang-gadang nggak bakal bisa rusak. Sama kayak Titanic, kapal yang dianggap nggak bakal bisa tenggelam. Selain itu, Passengers juga punya kisah cinta beda kasta sama kayak Titanic. 

Cuman kalau di Passengers, hal itu nggak jadi sorotan bahkan nggak dipermasalahkan kayak cinta beda kastanya Jack-Rose. Jim adalah seorang montir yang bisa dibilang dari kalangan bawah, sedangkan Aurora adalah penulis dari keluarga kaya raya. Beda kasta semakin terlihat saat tau kalau Jim bisa ikut rombongan Avalon dengan cuma-cuma, Aurora dengan biaya yang mahal. See? Makin ngingatin sama Jack yang bisa jadi penumpang kapal Titanic karena menang judi.

Oh iya, masih ada lagi. Dialog “No, you die, I die!” yang diucapkan Aurora pada Jim, ngingatin sama dialog Rose yang, “You jump, I jump!” Trus, Aurora sama Jim berusaha bertahan hidup dari kapal, eh pesawat, eh apa sih itu namanya, ya Avalon deh, yang udah mulai rusak. Mirip sama kapal Titanic yang rusak karena nabrak gunung es kan?

Kelihatannya Passengers terinspirasi sama Titanic, ya. Sama kayak aku yang kelihatannya terinspirasi oleh para blogger yang menjalin hubungan dengan sesama blogger. Padahal sebenarnya nggak terinspirasi juga sih. Aku hanya ngerasa jatuh cinta itu nggak bisa dicegah.

HMM.. 

Ya, aku jatuh cinta sama Bang Haris. Tambah jatuh cinta lagi ketika makhluk bajingak itu datang ke Samarinda hari Minggu kemarin. Aku ngerasa nyaman sama Bang Haris. Tambah nyaman lagi pas dia ketawa sama aku saat adegan Jim lagi tergila-gilanya sama Aurora. Ketawa di saat penonton yang lain nggak ketawa. Ketawa berdua di dalam teater sampai kami bisa ngedenger suara ketawa kami. 

YHA. HOEEEEKS.

Aku jatuh cinta sama Bang Haris kayak lagi dalam perjalanan menuju ke Homestad II. Ada harapan aku bakal nemuin hidup yang lebih baik, lebih baik dari ketika masih tinggal di Bumi. Lebih baik dari jatuh cintaku sama Zai. Lalu aku dan Bang Haris, jadi penumpang kayak Jim dan Aurora. Mereka menumpangi pesawat luar angkasa bernama Avalon, kami berdua menumpangi hubungan bernama LDR. 

HOEEEKSSS. 

Seperti layaknya di Avalon, aku dan Bang Haris punya prosedur menjalin hubungan, yaitu tidur. Alias memilih nggak menampakkan hubungan kami di depan umum. Aku awalnya ngerasa sedih, tapi mikir lagi sih. Biarlah hubungan ini berhibernasi sampai tiba saatnya untuk bangun. You know, tiba-saatnya-untuk-bangun itu apa maksudnya. 

HOEEEKS LAGI, GAES! 

Aku nyaman dengan ‘tidur panjang’ itu. Aku bisa leluasa baperin film tanpa takut dikatain alay atau takut dikatain pamer hubungan. 

Aku bisa nulis soal lagu Crush tanpa ketahuan, kalau sebenarnya aku lagi curhat rasa suka-suka takut, yang aku rasain ke Bang Haris. Aku bisa nulis soal baperku sama film Her, trus ngait-ngaitin sama LDR tanpa bikin orang ngeh kalau sebenarnya aku lagi LDR. Dan bahkan nggak bikin orang ngeh kalau judul dari post itu, huruf H-nya itu sebenarnya kalau diterusin, aku mau nulis namanya Bang Haris. 

Dan post-post baperin film atau lagu seterusnya, kebanyakan tentang perasaanku ke Bang Haris. Tentang masalah yang aku alamin sama dia. Tentang betapa berartinya dia buat aku. 

HOEEEEKS LEBIH KERAS!!!!

Sampai akhirnya hubungan ini ‘terbangun’ lebih awal. Teman-teman yang awalnya nggak tau, jadi tau. Dan sekarang yang lagi baca post ini, juga jadi tau deh. 

Aku senang sih. Aku bahagia. Aku ngerasa teman-teman pada ngedukung kami. Bang Haris juga bahagia bisa nginjakin kaki di pulau Kalimantan trus ketemu patung Lembu di Tenggarong. Tapi aku pengen minta maaf aja ke Bang Haris, kayak Jim yang minta maaf ke Aurora. 

“Maaf, telah membangunkan kita lebih awal. Baiknya kita tidurkan hubungan ini sampai saatnya tiba. Sampai kita benar-benar fix nggak bakal pisah. Ya, kamu tau itu maksudnya apa. Tidurnya kita baru tujuh bulan. Kita belum sampe ke Home, alias rumah kita berdua, -yah kamu tau itu apa btw aku geli anjir nyebutinnya- tapi kita udah bangun aja. Maaf, membangunkanmu dari tidur nyamanmu di Cilegon. Membuatmu datang ke tempat jauh yaitu Samarinda seberang. Eh, nggak. Samarinda kota maksudnya. 

Maaf, membuatmu menjadi penumpang LDR. Maaf, aku jadi penumpang yang nggak sabaran selama perjalanan. Yang melankolis suka nangis irasional. Maaf untuk penumpang ini. Maafin aku.”

YHA. UDAH BERAPA HOEKS GAES? YHAAA. 

Btw, Passengers adalah film yang recommended. Kalau pengen cari ketawa dan tegang, bisa nonton itu aja. Oh iya, sex scene-nya cuma dalam hitungan detik. Kalau Dek Attar mau nonton, kayaknya aman kok. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 20 Desember 2016

Nge-BF Bareng M. Antar Jihad: Ruby Sparks

Banyak film yang berpotensi membangkitkan hasratku buat curhat sampai bermuncrat-muncratan. Salah satunya adalah Ruby Sparks. Film yang sempat aku bahas sedikit di SINI adalah film yang bisa bikin aku buka-bukaan soal kebaperanku. Berhubung aku orangnya tertutup, baik kepribadian dan pakaian (ini bukan pencitraan. please percayalah), jadinya aku pengen nyoba orang lain yang buka-bukaan soal bapernya sama Ruby Sparks.

Sumber: Google Image

Dan orang itu adalah M. Antar Jihad, atau yang biasa dipanggil Tata. Gue temenan sama Tata tapi gue bukan anak Tangga. Karena beliau adalah blogger empunya ruangterbang.com asal Jakarta yang suka ngamar di Depok. Entah ada apa di Depok. Selain suka nulis dan desain, Tata juga suka memperjuangkan hak-hak kaum lajang dengan mendirikan website http://www.projomblo.com/ . Sungguh perbuatan mulia.

Ruby Sparks sendiri bercerita tentang seorang penulis yang tokoh karangannya menjadi nyata. Tokoh karangannya itu cewek btw, dan merupakan gadis impiannya. Bikin baper memang itu film! Dan bapernya kami bisa dilihat di bawah ini.


Icha: Ta, mau baperin film itu bareng nggak? Kan kamu udah nonton Ruby Sparks tuh.

Tata: Ohhh iya ya.. boleh, Cha. Takis! Kalo kata yangleks mah.

Icha: Oke. YOGS! TAKIS!

Tata: Butuh latihan dulu gak, Cha?

Icha: LATIHAN APA TATA ANJEEEEER. Oke. Apa alasan kamu mau nonton Ruby Sparks, Ta? Kan pemainnya nggak terlalu beken tuh. Trus dada ceweknya juga nggak gede-gede banget.

Tata: Duh nervous, Cha...

Icha: NGAKAK. TATAAAAAAAA!! Nervous kenapa bajingak? Yaudah, tarik nafas dulu, Ta.

Tata: Baiklah.. huuh.. Emang tertarik aja kalo liat film tentang penulis, pelukis, geek, dan semacamnya..

Icha: Oh gitu yak. Trus ngerasa related nggak sama film Ruby Sparks? Sebagai cowok normal yang pipisnya berdiri, kamu pasti pernah kan "ngerancang" cewek impian kamu itu gimana. Atau minimal, mimpi basah trus isi mimpinya lagi sama cewek impian.

Tata: Ya.. gua jadi mengandai-andai punya pasangan dari karakter fiksi ciptaan sendiri. Tapi sayangnya gua nggak nulis fiksi. Gua nulis tips desain dan blog, takutnya pasangan gua nanti malah motivator. Males aja pas izin pergi ke mana gitu bukannya assalamualaikum malah.. “Salam Super.”

Icha: Bajingak. Andai-andainya kayak gimana tuh, Ta?

Tata: Gua pernah ngebayangin punya pasangan yg sporty gitu si, Cha. Tapi nggak berotot kayak Ade Rai juga ya. Ya minimal yang enggak "cewek banget" gitu lah. Oiya kalo diibaratin kayak siapa ya... Kayak Margot Robbie kali ya. Iya dia. Pas. Mantap.Tapi kalo bisa pake hijab. Biar varokah gitu. Jadi ngebayangin Harley Quinn pake hijab, terus Joker pake baju kokoh, peci dan sarung. Sholatnya jamaah. Masyaallah..

Icha: ......

Tata: Eh ngapa jadi gini sih.. Pertanyaan selanjutnya, Cha? *ngeretekin leher*

Icha: *sending photo*



Yang kayak gitu kira-kira?

Tata: Hahaha.. fakuyy Ichaaaa. Syit bgt luhh! Itu siapa, anjir?

Icha:  BAHAHAHA. HASIL GUGLING. Oke, Joker pecian. Coba deh kalau misalnya kamu dapatin Harley Quinn jilbaban. Kayak Calvin yang dapetin Ruby di dunia nyata bukan di khayalan doang. Apakah kamu bakal ngerasa bosen juga kayak Calvin? Ngedapatin yang bener-bener sesuai impian kamu. Nggak ada kurangnya. Kamu bisa ngontrol dia gitu sesuka kamu.

Tata: Setelah liat film ini, mata gua jadi terbuka lebih lebar tentang memandang pasangan. Iya, pasti bakal malesin banget punya pasangan yg sama persis dgn harapan kita. Tanpa celah. Justru kan yang seru dari cewek adalah ketika dia mulai nunjukin sikap-sikap ajaib yang sebelumnya kita gak pernah hadapin.

Icha: Bijak banget, bijik.

Tata: Hehe. Mantan gua dulu aneh-aneh, Cha. Bukan aneh makan beling atau gimana ya. Tapi kelakuannya itu random-random banget. Tapi gapapa, jadi belajar tentang perbedaan dan kesabaran. Sempurna tak sesempurna kedengarannya. Aseek.

Icha: Bangke. Trus setuju nggak kalau Calvin itu sebenarnya egois? Dia putus sama mantannya yang juga penulis itu bukan semata-mata salah mantannya. Tapi salah Calvinnya juga yang nggak peduli sama mantannya itu waktu pacaran.

Tata: Iya keliatan banget si Calvin egois. Keliatan egoisnya ketika dia mulai mengubah-mengubah karakter si cewek.

Icha: Yap. Eh aku jadi mikir deh. Di setiap hubungan yang kandas, pasti ada dua versi penyebab kenapa hubungan itu bisa kandas. Versi cewek beda sama versi cowok. Sama kayak Calvin dan mantannya. Di awal film kita digiring buat ngebenci mantannya itu. Mantan yang tega mutusin dia pas dia lagi dalam suasana berkabung. Eh pas menuju ending, kita diliatkan kalau sebenarnya mantannya itu kayak terpaksa mutusin Calvin. Karena Calvin itu sayang sama dirinya sendiri doang. Nggak peduliin mantannya.

Tata: Kadang emang jadi 2 versi gitu, Cha. Sifat moody sih yang biasanya bikin cewek keliatan aneh dan membuat versi sendiri. Lah kita cowok nggak tau apa-apa tiba-tiba disalahin, dicuekin, dsb. Entah mengapa cewek dan sifat moody-nya selalu menggocek kami. Huft. Ini seperti curhat yang terselubung ya~

Icha: Bahaha. Namanya juga baperin film, Ta. Ada curhatnya.

Tata: Dan hebat banget sih kalau ada orang yang sanggup bertahan sama orang egois. So, yang dilakuin pacarnya Calvin wajar banget.

Icha: Yap. Oh iya, Ruby ada dua kali diatur tuh sama si Calvin. Jadi Ruby yang nggak bisa jauh dari Calvin. Sama jadi Rubby yang dilimpahi kebahagiaan yang meluap. Pas itu terjadi, Calvinnya kayak... gimana ya? Ya intinya ngerasa nggak nyaman. Kamu pernah nggak, Ta. Ada di posisi Calvin? Kamu ngatur pasangan kamu. Trus pasangan kamu nurut, tapi kamunya malah nggak nyaman?

Tata: Enak sih jadi nggak repot, ya cuma bosen juga kalo datar-datar aja. Nah, kalo soal ngatur-ngatur pacar yang sampe gimana gitu, gua nggak pernah, Cha. Paling sebatas bilang jangan deket-deket banget sama cowok lain. Soalnya ya siapa kita ngatur-ngatur hidup orang. Orangtuanya aja belom tentu. Gila itu sih. Pasangan dianggap kayak peliharaan. Bilang A harus ikut. Bilang B juga ikut. Luar biasa.

Icha: Okeee. Kalau misalnya diatur gitu, pernah nggak? Misalnya sifat kamu yang begini, eh pasangan maunya kamu sifatnya begitu. Kalau pernah, kamu nyikapinnya gimana?

Tata: Kalo diatur gitu pernah, Cha. Selama belom keluar dari jati diri gua ya diikutin aja. Ya kan buat kebaikan gua juga. Cuma pernah tuh gua udah ikutin tapi malah keliatan salah mulu.. Yaudah berantem terus akhirnya. Putus deh lama-lama.

Icha: Bijak ya. Ngikutin kemauan pasangan trus mikirnya positif. Tapi bijik ya, udah diikutin tapi keliatan salah mulu.

Tata: Ya kan emang yang paling jelas ngeliat kekurangan kita adalah orang lain. Lumayan jadi masukan buat perbaikin diri..

Icha: Setuju. Dia ngatur kita itu juga bisa dibilang sebagai bentuk perhatian dari dia ke kita. Trus, Ta. Adegan favorit kamu di film Ruby Sparks itu apa?

Tata: Bagian pas Calvin bingung karakter ciptaannya jadi nyata dan masih nggak percaya. Sama pas ceweknya di-setting supaya gak bisa jauh dari dia. Lucu banget sih itu...
Icha: Oh ya! Trus aku juga suka tuh yang nggak bisa jauh dari dia. Sama yang Ruby-nya tiba-tiba ngomong pake bahasa Perancis itu lucu juga. Ekspresi kakaknya Calvin pas nyaksiin itu lucuuu.

Tata: Iya. Sama yang mau nyebrang eh Ruby-nya ilang, Cha. Ternyata dia nggak mau ikut nyebrang karena tangannya dilepas. Hahaha.

Icha: Oh iya yang itu. Hahaha. Itu Calvinnya lagi terima telpon ya kalau nggak salah. Trus ngelepas tangannya Ruby. Eh Ruby-nya diam aja matung di tempat nggak ngikutin ke mana Calvin melangkah dan menyeberang. Bangke deh segitunya Ruby.

Tata: Iya yang itu. Syit bgt. Sama pas makan juga harus tetep pegangan tangan. Haha..



Sepertinya Tata sangat memimpikan tangannya digenggam erat
dan ditatap engas kayak gini deh. Makanya dia bilang dia suka adegan ini.

Icha: Anjir banget yang itu. Ta, aku kok jadi kepikiran ya kalau seandainya Ruby Sparks di-remake sama sutradara Indonesia, ost-nya pake lagu Tulus yang Jangan Cintai Aku Apa Adanya, ya? Pemikiranku aneh banget.

Tata: Enggak aneh.. Pas malah itu. Tepat... Dan kurang kerjaan. NGAPAIN MIKIR KE SITU-SITU HAH?

Icha: Nggak tau. Tiba-tiba terpikir gitu aja. Sayang banget Ruby Sparks ini kurang ost yang ciamik. Kalau 500 Days of Summer kan sempurna gitu. Ost-nya bagus-bagus, pemainnya mukanya bagus-bagus, ide cerita filmnya bajingak. Nah menurutku kurangnya Ruby Sparks ini di ost aja sih. Sayang banget nggak ada lagu yang jadi ost yang bisa nempel di kepala.

Tata: Iya ost nya kurang nempel ya. Kalo Begin Again nempel banget di gua, Cha. Hahaha..500 Days of Summer sungguh film yang kampret sekali. Waktu itu tau dari mantan. Langsung inget mantan. Syit.

Icha: Ta....

Tata: Hahahaha.. Padahal udah move on. Kan bajigak ya. Gua sih udah iklash lahir batin mantan mau ngapain dan sama siapa. Cuma ya kadang datang suatu momen yang bikin keinget dia.

Icha: Kamu typo mulu anjir. 1. Bajigak 2. Iklash 

Tata: Wah iya typo mulu. Semoga bukan pertanda buruk. 

Icha: 3. Kadang. Padahal maunya ngetik sering kan?

Tata: KAGA, EMANG KADANG AJA. BUKAN SERING. ELAH.

Icha: MHUAHAHAHA.

Tata: Lu sendiri udah move on dari Zai-Zai itu? Eaa..

Icha: Bijingak! Dah move on, Ta. Dah lama.

Tata: Emang sama Zai berapa lama, Cha?

Icha: Tiga tahun, Ta.

Tata: WADAW 3 TAHUN..

Icha: Dua tahunnya normal. Satu tahunnya abnormal alias LDR. Karena kerjaannya dia. Hahahaha.

Tata: Tipsnya apa sih kalo bisa lama gitu? Gua selalu sebentar lho. Paling lama kalo gak salah 5 atau 6 bulan.

Icha: Anjir! Ini kenapa minta tips?

Tata: Kenapa ya gua dulu pacaran nggak pernah lama. Padahal pengen ngerasain bilang happy anniversary ke pacar.

Icha: Apa ya.... Mungkin aku kayak gitu karena aku susah buat pacaran. Diprotektifin orangtua. Jadi sekali dapat pacar, ya sok-sok dijaga baik-baik gitu. Dan njiiir.... FIX TATA TERNYATA PLAYBOY! KAYAK YOGA GEMINI BAJINGAN TENGIK!

Tata: Nggak playboy, Cha. Cuma emang nggak disengaja aja. Terjadi begitu aja. Mau diapain lagi..

Icha: Ngg... mungkin karena kamu cepat dan sigap nyadarin kalau pasangan kamu bukan orang yang tepat buat kamu?

Tata: Lebih tepatnya, mereka menyadari bahwa gua bukan orang yang tepat. Hahahaha. Gua dulu pernah ditembak cewek sekali, Cha. Hari Sabtu. Minggu depan alias hari Minggu langsung diputusin. Alesannya pengen fokus belajar. Satu atau dua bulan kemudian jadian sama temen satu sekolahnya. Lah, kocak banget tuh orang.

Icha: SERIUS PERNAH DITEMBAK? WAAAAH.

Tata: Kebetulan waktu itu deket sama yang rabun.

Icha: PRESTASI CINTA YANG PATUT DIAPREASIASI.

Tata: Terus ada cewek yang selalu teringat ketika gua denger lagu Call Me Maybe.. Dia suka banget sama lagu itu. Hampir tiap malem kalau nelpon nyanyiin lagu itu. Dia adek kelas. Awalnya gua yang ngedeketin dia, eh besok-besok dia yang nelpon mulu.Pernah suatu waktu dia nunggu gua di kantin. Mau balik bareng atau ngobrol bareng temen-temennya gitu. Lupa. Tapi gua inget banget, gua bilang "mager". Dia langsung sakit hati. Katanya, gue udah selalu duluan nelpon lu tiap malem, nemenin lu balik bareng, tapi pas gua cuma minta ke kantin bilangnya mager. Gua langsung merasa bersalah banget. Njir.

Icha: Bajingan sih itu. Keparat.

Tata: Hahaha sialan lu, Cha.

Icha: Aku juga sakit hati kalau jadi dia.

Tata: Iya, nggak sadar.. Waktu itu lagi asik sama anak kelas.

Icha: Hahaha. Nah kamu ada miripnya dikit sama Calvin.

Tata: Apa tuh?

Icha: Ngomong nggak sengaja bikin sakit hati. Kayak waktu Calvin ngomong sama Ruby di menuju ending. Pas mereka pulang dari pesta.

Tata: Oh iya ya.. Yang Ruby mau berenang sama penulis di pesta. Iya yang itu. Hahahaha. Ruby-nya sakit hati gitu kan.

Icha: Ho’oh, Ta.

Tata: Haha. Iya namanya juga khilaf... 

Icha: HAHAHA! Nggg, kamu emang suka desain dari jaman sekolah, ya? Kayak si Calvin gitu. Dari jaman sekolah dah suka nulis. Jadi banyak yang mau jadi pacarnya dia.

Tata: Iya suka desain dari SMK, Cha.. Diajarin temen. Sebelumnya cuma suka gambar aja.

Icha: Ohahaha. Oke. Trus, kamu pilih mana, nganggap kalau Ruby itu memang nyata atau cuma imajinasinya Calvin doang?

Tata: Nah itu gua juga masih bingung, Cha.. Ceritanya sukses ngacak-ngacak logika...

Icha: Aku juga bingung sih. Hahaha. Dan ya, terakhir. Kalau kamu punya mantan yang susah dilupain, kamu milih percaya dia nyata pernah ada di hidupmu atau percaya dia itu fana?

Tata: Mantan yang ngeselin atau susah dilupain itu gua anggap nyata, Cha. Karena begitulah hidup. Nggak melulu soal hal-hal yang kita suka.

Icha: Wuiih. Tata bijak.


Tata: Hahaha. Cha, gua jadi curhat panjang lebar gini gapapa kan ya? Pengen mengenang aja. Seru juga ternyata jaman dulu. Hahaha.

Icha: INI AKU KAYAK INTERVIEW WITH THE MANTAN BAJINGAN TENGIK. 

Tata: Hahaha. Cha, kalau mau tag ke akun yang ruangterbang.com ya. Main-main, nanti kusediakan teh hangat, atau segala susu murni dingin dari kulkas.

Icha: Oke. Susu murni langsung dari sumbernya maunya, Ta.

Tata: Sapi dong. *ngebayangin*

Icha: Ohahaha. Sapi!

Ditutup dengan susu sapi murni. Bajingseng sekali. Ya begitulah kalau Tata bawa-bawa mantan. Bapernya bisa kemana-mana.

Jadi kesimpulan dari nge-BF kali ini adalah... Tata nggak pernah ngucapin happy anniversary ke pacar.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 16 Desember 2016

Anomanisa: Ketika Kerasukan Tukang PHP yang Pembosan

“Kamu pernah ngerasa bosen nggak sama seseorang yang pernah kamu suka sebelumnya?”

Pertanyaan itu diajukan Tommy Surya Pradana, di postingan ngebaperin film Anomalisa beberapa waktu yang lalu di blog distopiana.com miliknya. 

Dengan baper tingkat tinggi, aku ngejawab pertanyaan itu sekalian curhat di SINI. Dan aku nggak nyangka Tommy menanggapi kebaperanku itu dengan positif. Nggak nyangkanya sama kayak Dian Hendrianto itu ternyata cowok dan Syarifatul Adibah itu ternyata cewek.

Dan awalnya aku juga nggak nyangka waktu Tommy ngajakin baperin film. Dalam pikiranku....

INI AKU BAHAS APA SAMA DIA, ANJIR? 

Untuk blogger kayak dia yang total kalau bahas film, pasti bahasannya nggak jauh dari teknis filmnya. Aku udah mikir kalau aku bakal cengo banget. Pasti dia yang kebanyakan nanya, trus mau nggak mau aku bakal ngejawab pertanyaannya dengan, 

“Ya-ya gitu deh. Kayak yang kamu bilang, aku setuju aja. Hehe. He. He.”

“Oh iya, ada istilah film mockumentary ya? Haha lucu ya. Aku jadi ingat lagu Eminem yang judulnya Mockingbird. Eh kamu suka Eminem juga kan, Tom? Tom? Heeei?!”

“Tom! Cukup bahasnya, aku pusing! Shut up and fuck me!"

Tapi ternyata Tommy orangnya asik banget. Luwes dan woles kayak tisu basah. Nggak kaku kayak titit yang habis dipakein tisu magic. Film yang kami bahas juga dibaperin habis-habisan. Dan kesimpulan yang dia buat adalah,

“Kesimpulan dari aku: Pen + Apple = Apple Pen.”

Sungguh kesimpulan yang bajingak. Ya walaupun habis itu dia langsung ngeralat kesimpulan itu dengan ngasih kesimpulan yang panjang.

Pilihan film dari Tommy juga nggak disangka. Dia memilih Anomalisa sebagai film yang dibaperin bareng. Film animasi stop motion keluaran tahun 2015.


Sumber: Google Image

Nggak nyangka ternyata Anomalisa bukan film animasi stop motion biasa. Karena ada adegan dewasanya. Tidak disarankan ditonton bersama anak, tapi bisa ditonton sebagai panduan bikin anak.

Bercerita tentang Michael Stone (disuarakan oleh David Thewliss), seorang penulis buku tentang pelayanan pelanggan yang sedang melakukan perjalanan ke Cincinnati, dalam rangka menghadiri seminar yang berhubungan dengan bukunya. Di sepanjang perjalanan, kita disuguhi muka lelah Michael dan suara-suara orang di sekitarnya yang sama padahal beda-beda orang. Mau cowok, mau cewek, mau anak kecil. Suaranya cowok gitu. Hal itu menggambarkan Michael bosen sama hidupnya, sehingga siapapun di sekitarnya terdengar sama aja.

Sesampainya di hotel tempat dia menginap, Michael bertemu dengan Lisa (disuarakan oleh Jennifer Jason Leigh), perempuan penggemar Michael. Suara Lisa terdengar selayaknya suara seorang perempuan. Lembut, anggun, dan menggairahkan kalau mendesah. Beda dari yang selama ini dia dengar, yaitu kayak suara bapak-bapak kuli bangunan. Michael pun ngerasa Lisa bisa membuat hidupnya lebih berarti lagi.

Memulai ena-ena. Sumber: distopiana.com

Sumpah, aku suka film ini. Hal aneh untuk seorang Icha yang nggak suka film animasi. Film ini sukses bikin aku jatuh cinta karena keanehan dan keabsurdannya. Alasan yang sama pas aku jatuh cinta sama film Eternal Sunshine of Spotless Mind. Dan ternyata, Anomalisa dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind dikangkangi oleh orang yang sama, yaitu Charlie Kaufman. Di Anomalisa, Charlie Kaufman sebagai sutradara. Dan di Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Charlie Kaufman sebagai penulis naskah. Bajingseng!

Lebih bajingsengnya lagi, aku nggak puas sama ending-nya. Pertanyaan “Ada apa dengan Michael?” masih menggelendoti pikiranku layaknya Amanda Seyfried yang gelendotan di lengan kekar Channing Tatum di film Dear John.

Walaupun sebenarnya aku dan Tommy udah dapat kesimpulan, kalau Michael adalah tukang PHP yang nggak puas sama hidupnya, jadinya ngerasa nggak bahagia. Padahal aku pikir Michael adalah pria kesepian yang hidupnya memang nggak bahagia karena banyak masalah. Tapi ternyata enggak. Bukunya laku keras. Udah menikah. Terpelajar. Punya karir bagus. Tapi dia ngerasa hidupnya nggak bahagia.

Kisah hidup Michael juga bukan sekedar tentang pria yang bosan hidup tiba-tiba ketemu wanita yang berbeda dari yang lain trus ngerasa bersemangat hidup lagi. Ternyata nggak sesederhana itu. Lisa yang dia kira adalah cinta sejatinya pun, ternyata….

Ngebuat aku mikir, tukang PHP itu rumit. Kita nggak bisa dengan mudahnya bilang kalau tukang PHP itu orang yang jahat. Pada kasus Michael, tukang PHP digambarkan sebagai orang yang nggak bisa konsisten sama perasaannya sendiri. Tukang PHP nggak hanya membuat korbannya susah, tapi juga dirinya sendiri. 

Terlihat di adegan Michael terbayang Bella, (perempuan yang dulu pernah dekat sama dia, atau mantannya, entahlah) lagi marah-marah karena dipehapein. Michael merasa dihantui oleh Bella. Atau lebih tepatnya, merasa dihantui rasa bersalahnya ke Bella.

Michael disemprot mantan. Sumber: Google Image

Nggak semua, atau mungkin memang tukang PHP bisa jadi tukang PHP bukan karena dari awal mau memberi harapan palsu. Bisa jadi niat awalnya memang mau serius. Tapi karena dia nggak bisa tegas sama dirinya sendiri, terlalu mengejar kesempurnaan, nggak bisa menerima kekurangan kecil pasangan kayak Michael yang nggak bisa nerima kebiasaan Lisa yang suka makan sambil ngomong. Yaudah, dia milih pergi sebelum semuanya terlambat. Lalu dicap sebagai tukang PHP.

Kalau kata Tommy, Anomalisa mengajak kita untuk mengerti sebenarnya apa yang si manusia PHP rasakan. Dia juga bilang kalau Michael adalah Summer Finn-nya 500 Days of Summer versi cowok. Kalau aku boleh bilang, Lisa adalah Tommy Surya Pradana versi cewek. 

Eh maksudnya, Tom Hansen versi cewek.

Tapi beda sama 500 Days of Summer di mana Summer terlihat sebagai tukang PHP yang kejam, Anomalisa memperlihatkan Michael sebagai tukang PHP yang patut dikasihani. Kasihan aja, dia capek sama perasaannya yang nggak konsisten itu. Terkadang tukang PHP perlu dipahami. Dipahami bahwa menjadi tukang PHP ternyata lebih menyedihkan daripada jadi yang dipehapein.

Salah satu muka menyedihkannya Michael si tukang PHP bajingak.
Sumber: Google Image

Menyedihkan juga ketika jawaban dari pertanyaan Tommy di atas, punya jawaban lain dari yang aku jawab di blog Tommy. Aku ngebayangin kalau pertanyaan itu dimodifikasi sedikit, trus jadinya, 

“Kamu pernah ngerasa bosen nggak sama hal yang pernah kamu suka sebelumnya?”

Dengan mantap soul aku bakal jawab, 

“YHA! Sekarang bosennya!”

Ya, akhir-akhir ini aku ngerasa bosan sama hal yang aku sukai, yaitu nulis. Aku nggak seantusias biasanya. Aku juga memberi harapan. Memberi janji. Ke diriku sendiri. Misalnya janji mau maraton nonton film pas malam, eh malah ketiduran. Janji mau ngelarin beberapa draf tulisan, nggak dikelarin juga. Janji mau…

Huufh. Udah terjadi semingguan lebih ini. Intinya aku lagi bosan nulis. Aku pehapein diriku sendiri, dan mungkin juga orang lain. Tulisan ini aja dari kapan tau, baru aku posting sekarang. Aku kayak nggak semangat. Aku nggak bergairah. Aku tau aku mau nulis apa, tapi nggak tau kenapa rasanya malas banget. Kayak ada hal yang memberatkan pikiranku. Padahal hidupku baik-baik aja. Biarpun ada masalah, aku juga nggak bisa mengkambinghitamkan masalahku itu sebagai alasan aku malas nulis. Justru kita bisa menulis karena punya masalah kan? Karena punya keresahan, yang sering kita manfaatkan sebagai ide nulis. 

Dan karena rasa bosanku ini, hidupku jadi nggak tenang. Semuanya terlihat salah dan sama aja. Nggak ada yang menarik. Aku juga ngerasa bersalah.

Aku ngerasa sekarang aku jadi Michael. 

Selain ada apa dengan Michael, ada apa denganku? Ini aku lagi kerasukan Michael apa gimana?

Pengen rasanya teriakin diriku sendiri sampe eargasme dengan kalimat, 

"ADA APA DENGANMU, ICHAAA? NISAAAA? ANOMANISAAAA?!"

Huufh. 

Apa karena aku lagi kena ‘penyakit’ keren para penulis, yaitu writer’s block

Apa karena aku kurang baca buku, mengingat udah lama banget aku udah nggak pernah beli buku lagi? 

Apa karena aku udah jarang nonton ke bioskop dan melakukan hal-hal menyenangkan di luar rumah? 

Apa karena ini saatnya aku harus mengikuti saran Yogaesce, yaitu mengganti nama menjadi Icha Khalifa? Seolah-olah aku adalah adiknya Mia Khalifa?

Sampe diedit gini sama Yogaesce. Kan bajingak! :((((

Ah. Entahlah. Yang jelas aku nggak boleh kayak gini terus. Aku nggak boleh melewatkan banyak hari dengan rasa bosan bajingakku yang entah kenapa ini. Dan aku harus meresapi apa yang dikatakan Michael, 

“Our time is limited, we forget that.”  

Yha, Michael. Yha.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 04 Desember 2016

Mencintai Kamu yang Lain

Beberapa hari belakangan ini aku suka nonton film tentang pernikahan, selain tetap suka nonton film tentang perkawinan. Kalian pasti tau perbedaan antara pernikahan dan perkawinan. Termasuk kakakku. Yang selalu bilang kalau aku harus nikah dulu baru boleh kawin. 

Film tentang pernikahan yang aku tonton yaitu Blue Valentine dan The One I Love. Dua film yang setahun lalu pernah kutonton karena baca tulisannya Tommy yang INI. Dua film yang nggak aku simak banget. Aku malah nyeriusin nonton Dogtooth karena waktu itu aku ngerasa lebih related sama film tentang keluarga disfungsional itu daripada sama Blue Valentine dan The One I Love. 

Sampai akhirnya libidoku naik buat nonton film tentang hubungan pasangan pernikahan. Aku mutusin buat nonton ulang kedua film itu. Alasannya sederhana. Karena pengen nikah. Hehe. Hehe. He...

EH, BUKAN SIH. TAPI KARENA PENGEN TAU KEHIDUPAN PERNIKAHAN DI FILM AJA.

Dan aku dapatin banyak pelajaran dari dua film itu. Dari Blue Valentine, aku dapatin pelajaran kalau nikah itu bukan sekedar ena-ena belaka. Pas masih pacaran mesra, pas udah nikah belum tentu. Banyak masalah yang bisa datang mengganggu. Dari masalah mantan pacar sang istri sampe pekerjaan serabutan sang suami. 

Aku suka beberapa fakta selama pembuatan Blue Valentine. Proses syutingnya sempat tertunda dari umur Michelle Williams, pemeran utama wanitanya itu 21 tahun sampe 27 tahun karena kendala biaya. Pemeran utama prianya, Ryan Gosling, dan Michelle Williams harus menyewa rumah untuk mereka berdua tempati demi mendalami karakter mereka sebagai sepasang suami-istri. Mereka juga harus menurunkan dan menaikkan berat badan mereka demi memainkan adegan masa pacaran dan masa udah nikah. 

Sungguh sebuah totalitas kejingsengan yang patut diapresiasi. 

Tapi aku ngerasa The One I Love lebih bajingseng daripada Blue Valentine sih. Film bergenre drama comedy yang bikin aku seolah kehilangan akal sehat karena ceritanya yang absurd dan aneh. 

Sumber: Google Image

The One I Love bercerita tentang pasangan suami-istri bernama Sophie (Elisabeth Moss) dan Ethan (Mark Duplass) yang datang ke marriage therapist untuk memperbaiki rumah tangga mereka. Beliau nyaranin Sophie dan Ethan buat berlibur ke sebuah villa. Beberapa pasangan suami istri bermasalah yang pernah dikandangkan di sana, begitu pulang, ngerasa kalau hubungan mereka terlahir kembali. Bak korban rayuan Dimas Kanjeng yang dijanjikan uangnya bisa digandakan, Sophie dan Ethan pun tergiur engas ke villa itu demi menumbuhkan kembali benih-benih cinta di antara mereka. 

Sesampainya di sana, ternyata villa itu bukan sekedar villa. Ada hal aneh di sana. Ada ‘kembaran’ mereka atau yang disebut sebagai doppelganger. Doppelganger di film ini dan doppelganger di game werewolf punya pengertian yang berbeda. Kalau di game werewolf, doppelganger adalah pewaris peran dari pemain yang udah mati, maka di film ini doppelganger adalah kembaran Sophie dan Ethan tapi versi udah di-upgrade. Alias Sophie dan Ethan versi lebih baik. Mulai dari segi fisik maupun sifat. 

Nah, dari situlah konfliknya dimulai. Sophie dan Ethan menyelidiki siapa dan apa sebenarnya kembaran mereka itu. Apa mereka itu alien atau roh halus? Tapi lama kelamaan niatan itu berubah haluan. Seenggaknya itu yang terjadi pada Sophie. Perempuan imut dengan rambut pendek menggemaskannya itu jatuh cinta sama doppelganger-nya Ethan. Dan Ethan asli harus berjuang merebut kembali hati istrinya itu. 



Ngomong-ngomong soal merebut hati, review The One I Love dari Niken Bicara Film merebut hatiku. Ini sudah kedua kalinya aku nyeletuk “Anjir, sependapat banget sama lubangan ini satu!” pas baca review-nya setelah dulu pernah ngebaca review My Stupid Boss. Apa yang ditulis Niken bener-bener bisa mewakili apa yang aku rasain. Aku sempat kebingungan mau nulis The One I Love kayak gimana lagi. Tapi untuk film seaneh The One I Love, memang harus dibuatkan review bapernya. 

The One I Love nggak masuk akal, tapi anehnya bikin yang nonton nerima aja gitu. Seenggaknya itu berlaku sama aku. Aku nggak terlalu musingin darimana kembaran Sophie dan Ethan itu berasal. Aku menikmati keanehan itu sambil ngikik geli ngeliat tingkah laku Ethan dan Sophie juga doppelganger-nya mereka itu. 

Sumber: Niken Bicara Film

Mungkin karena saking menikmatinya, aku ngerasa ketakutan habis nonton film bergenre drama komedi ini. Pas browsing soal filmnya, aku ada liat foto Sophie dan Ethan yang lagi senyum. Entah kenapa aku ngerasa ngeri sendiri. Trus aku jadi takut sendirian di kamar. Bawaannya pengen liat sekeliling. Dan tiba-tiba kebayang di depan pintu kamarku ada kembaranku. Ada ‘aku yang lain’ lagi natap aku. 

ANJIR. AKU NGETIKNYA SAMBIL DEG-DEG AN ANJIR. BANGKE AKU TAKUT BAJINGAAAAK AAAAAAAK!!!!

Bikin aku pengen nyumpahin sutradaranya, 

“FILM DRAMA KOMEDI PALKONLU PECAH!”

Tapi bukan berarti aku benci film ini. Nggak. Aku suka banget sama film ini. Dengan modal pemainnya yang cuma tiga orang, trus tempatnya juga cuma di rumah therapist dan di villa, film ini mampu bikin yang nonton ngerasa nggak bosan. 

Dan yang paling utama, aku suka sama ide ceritanya. Seperti halnya aku yang jatuh cinta sama Dogtooth karena mampu menggambarkan gimana jadinya kalau ada keluarga disfungsional parah, The One I Love mampu membawa penontonnya berpikir lebih jauh soal mencintai pasangan apa adanya. Tentunya dengan cara yang aneh. Sama kayak gaya 69 yang aneh tapi mampu memberikan kenikmatan bercinta sampai klimaks. 

Ceritanya yang udah aneh, untungnya nggak didukung dengan karakter di filmnya yang aneh juga. Aku suka karakter Sophie. Istri yang cute. Kalau disandingin sama Ethan, Sophie udah kayak anak kecil binal yang nikah sama orang tua malas hidup. Sebenarnya nggak binal, cuma body-nya itu lho, sintal dan mulus. Tipikal badan sashimi girl, perempuan yang badan telanjangnya dijadiin tempat menyajikan makanan di restoran daerah Blok M, Jakarta. 




Tapi yang paling penting, aku suka Sophie karena dia adalah istri yang tegar. Permasalahannya sama Ethan bikin aku mikir kalau Ethan cukup brengsek juga. Sophie memaafkan Ethan, dan ngusahain banget pernikahannya itu supaya nggak hancur dengan datang ke terapis nikah. Demi mengembalikan rasa saling mencintainya mereka. Sungguh, Sophie adalah istri idaman. 

Rasa sukaku ke Sophie makin nambah pas nonton adegan Sophie jatuh cinta sama Ethan doppelganger. Dari segi penampilan, Ethan doppleganger lebih seger daripada Ethan asli. Dari segi sifat, Ethan doppelganger lebih humoris, lebih romantis, dan lebih antusias sama Sophie. Beda sama Ethan asli yang cenderung kaku. Aku nganggap kalau Ethan asli akhirnya dapat karmanya juga. Aku ngerasa kalau aku jadi Sophie, aku juga bakal jatuh cinta sama Ethan doppelganger. 

Sungguh, aku adalah calon istri yang berpotensi main serong.

EEH. ENGGAK GITU BAJINGAK. 

Dan ya, emang nggak gitu. Karena pas menjelang ending, aku sadar kalau Ethan asli sayang banget sama Sophie. Dan seharusnya Sophie milih Ethan asli karena Ethan asli itu suaminya, sedangkan Ethan doppleganger itu bukan. Lagian juga Ethan doppelganger itu palsu, nggak nyata. 

Ethan asli dan Ethan KW 19.
Pas selesai nonton filmnya, aku juga sadar kalau kita semua pasti pernah berimajinasi liar tentang pasangan kita. 

Bukan, bukan berimajinasi gimana dia melumat bibir kita atau ‘menggoyangkan’ kita. Tapi berimajinasi gimana jadinya kalau pasangan kita itu begini, pasangan kita itu begitu. Misalnya pasangan kita itu orangnya cuek, trus kita berimajinasi kalau dia itu romantis. Kita pasti pernah berpikiran hidup kita bakal lebih bahagia kalau pasangan kita sesuai sama apa yang kita harapkan. Kita ingin sosok pendamping hidup yang sempurna. Hal itu yang coba ditampilkan oleh The One I Love. Ditampilkan dengan cara yang unik, yaitu ngebawa-bawa doppelganger. Sama uniknya dengan film Ruby Sparks yang ngebawa-bawa cerita gadis impian sang penulis yang ditulis di novel jadi nyata. 

Tapi menurutku, makna mencintai dan dicintai yang hakiki bukan itu. Mencintai yang kita harapkan, dicintai sama orang yang sempurna. Bukan. Seandainya kalau mencintai dan dicintai harus bermakna kayak gitu, kita bakal kayak Calvin di film Ruby Sparks, yang selalu ngerasa nggak puas bahkan sama gadis fiksinya sendiri. Kita bakal kayak Sophie yang mencintai orang tak nyata. 

Seandainya aku punya pasangan dan aku malah cinta sama doppelganger-nya pasanganku, mungkin aku nggak bakal tau seberapa besar rasa takut kehilanganku. Aku bakal ngerasa tenang dan baik-baik aja karena mikir, 

“Ah, dia kan selalu nurut sama aku. Dia nggak bakal pergi.” 

Aku bakal nganggap hubunganku datar-datar aja. Bahkan nggak berarti. Karena nggak ada yang aku korbanin, minimal ngorbanin air asin yang mengalir dari mata. 

Aku bakal nggak paham apa itu intuisi atau firasat. Ya sebenarnya nggak paham-paham banget sih. Cuman ya, kalian pernah nggak sih ngerasain dia baik-baik aja, dia nggak selingkuh, dia nggak berpaling, di saat orang-orang pada bilang sebaliknya? Orang-orang yang ngebaca apa yang dilakukan pasangan kalian itu salah. Kalian sempat goyah dan kecewa sama pasangan, tapi keyakinan dalam hati masih ada. Jadi, goyah dan kecewanya cuma sebentar. Pernah nggak sih ngerasain kebajingakan itu? 

Aku bakal...

Ah. Pengen rasanya bisa ngomong, 

“Aku nggak bakal cinta kamu yang lain. Aku cinta kamu yang begini aja.”



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 26 November 2016

Kangen(in) Band

Walaupun jaman sekarang banyak rapper Indonesia karbitan yang bermunculan, tapi hal itu nggak mempengaruhi para pecinta band buat nggak menantikan band kesayangan mereka ngeluarin album atau single terbaru. Dan penantian mereka terbayarkan. 

Contohnya, para fans Simple Plan bisa bersuka cita mendengarkan lagu terbarunya Simple Plan, berjudul Singing In The Rain. Penantian para fans Greenday selama empat tahun nggak terasa apa-apa saat lagu Bang-Bang-nya band tersebut dirilis beberapa bulan kemarin. Dan aku tersenyum engas, pas tau kalau Maroon 5 ngeluarin single terbaru berjudul Don’t Wanna Know. Duet bareng salah satu rapper favorit, yaitu Kendrick Lamar. Senengnya aku udah kayak dilamar! 

Tapi kembalinya Maroon 5 setelah vakum itu nggak memuaskan. Kebiasaan Adam Levine gantengku yang suka pake teknik falsetto kalau nyanyi, nggak menonjol di Don’t Wanna Know. Mana part-nya Kendrick Lamar sedikit aja anjir. Trus pas di MV (music video) itu, part-nya Kendrick Lamar dihilangin. Jingeks! Lalu konsep MV-nya juga tentang Pokemon Go gitu. Bagus sih. Tapi bikin bingung nyambungnya apa.sama makna lagunya yang tentang masih sayang mantan gitu. Aku jadi kesel dengerin lagunya. Bajingak kelas teri! Begundal!

Tapi seenggaknya suaranya Adam Levine masih asoy didengar. Berhasil menuntaskan rindu para fansnya. Ngebuktiin kalau mereka masih eksis. 

Aku jadi kepikiran gimana nasib para Doy Kangen, sebutan untuk para fans Kangen Band. Para fans band asal Lampung itu pasti kecewa band kebanggaan mereka udah lama nggak ngeluarin album. Eh Kayaknya ada deh. Dengan vokalis baru. Auk dah yang mana orangnya.

Berpose tangan sedekap kayak penjaga perpustakaan.
Pose yang edukatif.
Sumber: Blog awal Berdirinya Kangen Band

Entahlah. Yang jelas aku baru nyadar kalau aku pernah jadi Doy Kangen. Buku diary-ku waktu SMP membuktikan itu. Aku ada nulis lirik salah satu lagunya Kangen Band di buku diary-ku itu. Yaitu lagu Doy. 



Nulis lirik lagu di buku diary-ku pake gambar-gambar norak gitu lagi. Mana tulisan kayak cacing pita gitu. Huhuhu.

Aku pun iseng dengerin lagu Doy. Dan baru nyadar kalau Doy ternyata keren juga.


Doy bercerita tentang cowok yang nggak ngerti sebenarnya maunya pacarnya itu apa. Sikap pacarnya berubah. Padahal si cowok udah ngelakuin apa yang ceweknya mau. Udah berusaha semampunya. Tapi si cewek masih nggak ngerasa terpuaskan gitu. 

Makna lagu Doy ngingatin aku sama What Do You Mean-nya Justin Bieber. Lantas aku berdecak kagum. Andhika dkk lebih dulu ngangkat tema bingung-maunya-cewek-itu-apa duluan. Dari segi MV juga lebih bagus punya Doy-nya Kangen Band. Bagus karena jelas maksudnya apa. Di MV-nya itu, Andhika dkk ngomong nanya langsung ke ceweknya. Nggak kayak Justin Bieber yang apaan-sih-pake-ngerencanain-penculikan-pura-puraan gitu. MV-nya Doy jauh lebih mewakili makna lagunya dibandingkan What Do You Mean-nya Justin Bieber. 

KEREN BANGET BAJINGEK! JUSTIN BIEBER CUMA MENANG DI KOLOR CALVIN KLEIN DOANG! 

Lalu aku semakin sadar. Kalau dilihat dari lirik, Kangen Band adalah band yang pemikir. Maksudnya, lirik mereka itu ada yang kayak puisi gitu. Romantis. Ya, walaupun di beberapa lagu ada yang nggak baku gitu sih bahasa kayak percakapan sehari-hari. Tapi yang jelas, masih lebih kelihatan kalau dibikinnya pake mikir. Nggak kayak Panjat Sosial-nya Roy Ricardo feat. Lula Lahfah & Gaga Muhammad. Verse-nya ada yang nggak berima gitu. Pake ada kata-kata “Konichiwa.” Nggak ngerti maksudnya apa. Kenapa nggak masukin kalimat “Ikkeh-ikkeh kimochi,” juga sekalian? Biar makin total gitu pake bahasa Jepangnya.

Kangen Band juga nggak pernah bikin lagu yang liriknya kasar dan kotor. Pas mereka dihina, dicaci, dan dimaki banyak orang dari berbagai kalangan, mereka nggak ada bikin lagu buat haters gitu. Mereka juga nggak pernah bikin video klarifikasi yang isinya membedah lagu-lagu mereka dan memberikan penjelasan, supaya pemikiran para haters yang tadinya negatif jadi positif. Pokoknya Kangen Band nggak kayak Young Lex dan Awkarin.

Lagu-lagu Kangen Band juga lebih ‘manusiawi’ daripada lagu para rapper karbitan. Kebanyakan galau dan menye-menye, tapi masih lebih nyaman didengar. Daripada lagu tentang nyombongin karir, haters, dan potong-aja-itunya. Kayaknya lebih mendingan kalau bocah-bocah pada demam lagu-lagunya Kangen Band yang tentang cinta-cintaan, daripada lagu-lagu para rapper karbitan yang liriknya pada kasar atau sombong itu. Huhuhuhu. 

Aku jadi kangen band. Aku kangen masa-masa di mana banyak band meramaikan ranah musik Indonesia. Termasuk band-band pop melayu, misalnya Kangen Band ini. Yang liriknya lebih manusiawi. Membentuk band dan mempertahankannya itu sulit daripada solo trus duet gitu kayak rapper karbitan jaman sekarang. Dan biasanya yang sulit dibentuk itu bertahannya lebih awet. Liat aja karir bermusiknya Kangen Band. Cukup lama, dari tahun 2005. Aku nggak yakin kalau Young Lex dan para rapper karbitan lain bisa bertahan lama juga. 

Ya, mungkin sekarang masa berjayanya band udah habis. Tapi yang jelas, aku jadi nggak pengen ngehina Kangen Band atau Young Lex dkk deh. Orang-orang di bawah ini juga berpikiran hal yang sama kayak aku, 

Dua Doy Kangen sedang berdiskusi.


Kami sama-sama pengen ngehargai karya mereka. Bukan karena takut ditodong pertanyaan,

"Emang situ punya karya sampe berani kritik karya orang?"

 Tapi karena ngerasa seperti yang dibilang di blog INI

"Setiap orang punya hak dan kesempatan untuk sukses dalam kehidupan yang singkat ini."

Yha. Gitu. Hehe. Bagi yang nggak suka Kangen Band, boleh timpuk kami. Tindihin. Tunggangin. Silakan. Kami ikhlas.

Btw, ini project nulis WIRDY. Kami bersama-sama ngebahas satu band gitu, dan entah ide ngebahas Kangen Band tercetus dari palkon siapa. Tulisan soal kangen band selain ini bisa dibaca di blog Wulan si perawan Pekanbaru, di blog Robby si adik kecil, dan di blog Yoga si Gemini bangsat.

Kalau Darma? Lagi sibuk mencari perempuan yang mau diperawanin.


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 23 November 2016

10 Soundtrack Pemuas Favorit

Tulisan kali ini terinspirasi dari tulisan-tulisannya Rido Arbain di blognya. Akang kesayangan Agia itu dengan gamblang membeberkan film-film favoritnya dari berbagai negara. Ada 10 film India favorit10 film Thailand favorit, dan 10 film Korea favorit. Aku berharap beliau bakal nulis tentang 10 film Perancis favorit. Soalnya film Perancis terkenal dengan keromantisannya dan sarat akan konten seksual. Pasti jadi tulisan yang menarik.... blogger kayak aku buat komen pake huruf kapital semua saking kegirangannya.

Tapi aku nggak membeberkan 10 film favoritku sih. Sesuai judulnya, aku pengen nulis soal 10 soundtrack yang telah memuaskan telingaku. Menjadikan aku sebagai pelanggan setia 'mereka.'

Sumber: Google Image

Kalau Bang Haris jatuh hati pada When Can I See You Again-nya Owl City dari film Wreck-It Ralph, dan Tata punya Lost Stars-nya Keira Knightley dari film Begin Again sebagai soundtrack favorit, aku punya 10 soundtrack favorit. Kalau ngikutin Rido Arbain, aku urutin berdasarkan dari favorit ke favorit-banget-anjir-bajingak-banget. Ini dia!


1. White Flag – Dido (Mommy) 
Lagu yang rilis tahun 2003 ini udah sering aku denger waktu SD, tapi aku sukanya pas dijadiin soundtrack film Mommy keluaran tahun 2014. Film tentang hubungan disfungsional antara ibu dan anak itu bikin aku ngerasa relate, dan aku jadi suka sama hampir semua lagu-lagu yang jadi original soundtrack-nya. Padahal lagu-lagunya pada nggak nyambung sama scene atau jalan cerita filmnya. Termasuk lagu ini. 


Menurutku White Flag ini auranya mirip-mirip sama Gagal Bersembunyi-nya The Rain. White Flag ditujukan buat orang-orang yang masih keukeh aja sayang sama mantan. Masih sayang, walaupun udah tau kalau si mantan udah males banget sama dia. Masih sayang, walaupun udah tau kalau si mantan nggak mau kenal dia lagi. Masih sayang, walaupun udah tau kalau nggak bakal dapat jatah mantan.



2. Jai Ho – Pussycat Dolls, A.R Rahman (Slumdog Millionaire)
Lagu ini ngingatin aku sama momen waktu ikut pemilihan anggota dance buat acara perpisahan anak kelas tiga, pas aku masih SMP. Waktu itu pake lagu ini, dan waktu itu aku nggak terpilih. Hiks. Aku memang nggak bisa goyang. Tapi kalau goyangin kamu, aku jamin bisa, Bang. 



Sebenarnya yang versi India itu lebih bagus sih. Lebih ngingatin sama banyak scene romantis, lucu, dan mengharukannya Jamal dan Latika. Tapi aku lebih suka versi bahasa Inggris ini. Selain karena dulu aku pengen banget punya kulit eksotis kayak Nicole Scherzinger, juga karena lagu ini cocok banget dinyanyiin pas lagi kasmaran-kasmarannya. Terutama pas nyanyiin yang ini, 

“You are the reason that I still believe. 
You are my destiny. 
Jai Ho!”

Liriknya manis banget njir.



3. Na Xie Nian – Hu Xia (You Are Apple of My Eye)
Denger intronya aja aku udah mau nangis. Padahal nggak tau arti lagunya apa. Yang jelas aku yakin, arti lagunya pasti nyambung sama adegan demi adegan di film You Are The Apple of My Eye. Terutama di adegan Ko Chin-Teng melakukan tindak asusila ke suami Shen Cia-Yi. 



Dengan penggunaan bahasa Mandarin dan durasinya yang sampe enam menit, lagu ini sama sekali nggak membosankan. Selalu sukses bikin aku terhanyut di dalamnya. Apalagi pas di alunan biolanya, pas di pertengahan lagu. Bajingaaaaaaak! Menyayat-nyayat hati banget. Jadi keingatan adegan Ko Chin-Teng yang kehujanan di jalan pulang dari tempat potong rambut. 

Trus bikin keingatan sama diri sendiri. Muka jadi serasa basah kuyup. Nangis. Kayaknya mustahil deh, yang baper pas nonton filmnya, nggak baper pas dengerin ini. Baik yang lubangan maupun batangan. 



4. You Don’t Own Me – Grace ft G-Eazy (Suicide Squad)
Banyak yang bilang kalau Suicide Squad itu unggul dari soundtrack-nya doang. Jalan ceritanya mah kacos. Aku setuju sih, mengingat semua lagu yang jadi soundtrack-nya itu bagus-bagus. Rada susah buat nentuin yang mana yang jadi favorit. Sampe akhirnya aku memilih lagu ini. 



Alasannya, karena lagu ini paling lama bikin aku eargasme dibanding lagu-lagu lainnya yang jadi soundtrack Suicide Squad. Makna lagu ini bagus, tentang cewek independen yang menolak didoktrin laki-laki. Aku paling suka kalimat di liriknya yang, 

“You don’t own me.
Don’t try to change me in a way.”

Tapi You Don’t Know Me cover version ini nggak kalah keren sama versi yang dinyanyiin Lesley Gore. 

Dengan adanya verse rap dari G-Eazy dan suara Grace yang powerful, lagu ini lebih aku sukain daripada versi aslinya. Karena makes me feel badass. Nyanyiin lagu ini enak sambil teriak-teriak. Kalau udah gitu, aku ngerasa jadi kayak masokis yang akhirnya bisa melepaskan diri dari jeratan pelaku sadisme seksual. Rasanya kayak lagi kerasukan Harley Quinn, tapi Harley Quinn versi akhirnya-sadar-kalau-selama-ini-Joker-cuma-manfaatin-dia-aja. 



5. Littlest Things – Lily Allen (Love, Rosie)
Kalau nggak salah, lagu ini muncul pas adegan Rosie nikah sama orang yang dulunya berjasa nyangkutin kondom di area kewanitaannya. Auk aku lupa. Yang jelas, dari film Love, Rosie, yang paling membekas ya lagu ini. 


Suara Lily Allen yang lembut dan liriknya yang curhat abis, bikin kemelankolisanku kumat. Lagunya tentang putus cinta. Si cewek dalam lagu ini nyeritain masa-masa indah waktu masih sama mantannya. Banyak hal di sekitarnya, yang bikin dia keingatan sama si mantan. Kalimat di liriknya yang, 

“There’s no one in the world who could replace you.”

Sempat aku jadiin pedoman hidup waktu masih sama Zai. Dulu baperin lagu ini dalam keadaan bingung sama hubungan kami berdua. Begitu denger lagu ini, aku seolah disadarkan kalau aku bakal semenderita Allen kalau putus sama Zai. Tapi pada kenyataannya, pas akhirnya putus sama Zai, nggak menderita juga sih. Akunya aja yang lebay. Sungguh bajingak. Rosie di film Love, Rosie yang hamil di luar nikah dan gagal kuliah aja nggak ngerasa kalau dirinya dalam penderitaaan. Apalagi kalau cuma putus cinta. 



6. La Valse d’ Amelie – Yann Tiersen (Amelie)
Cuma instrumental, tapi kerennya kurang ajar banget! Sama kayak filmnya, soundtrack-nya juga bikin mood jadi baik. Mengingat kalau aku orangnya moody-an, aku suka dengerin ini tiap pagi demi menjaga mood agar tetap baik sepanjang hari. Aku ngerasa aura positif yang ada pada Amelie, bisa tersalurkan dengan dengerin instrumental ini. 



Tiap denger ini, aku suka kebayang adegan demi adegan di film Amelie. Aku masih aja kagum sama film asal Perancis itu. Ide ceritanya bener-bener nggak biasa. Dan tokoh utamanya juga nggak biasa. Seorang introvert dengan masa kecil yang nggak bahagia, tapi jadi orang yang membahagiakan. Begitu juga dengan instrumental ini. Nggak ada liriknya, tapi bermakna banget buatku.

Bikin aku mikir kalau cinta itu nggak harus diungkapin dengan banyak berkata manis. Bisa diungkapin dengan perbuatan. Dengan french kiss misalnya.



7. Montage – Andy Hull, Robert McDowell, Daniel Radcliffe and Paul Dano (Swiss Army Man)
Baru-baru ini aja sih dipuasin sama lagu ini. Kalimat di liriknya yang, “Pop pop corn. Ah da da da,” itu lucu didengerinnya! Trus menurut Reyhan, kalau denger lagu ini sambil tutup mata, serasa bebas. Semacam ada suasana hutan dan pulau. Lagu yang cocok banget buat theme song acara My Trip My Adventure kayaknya. 


Tiap dengerin lagu ini, aku ngerasa kayak lagi ikut serta dalam petualangan Manny dan Hank, dua tokoh di film Swiss Army Man. Serasa kayak punya persahabatan sejati sekaligus absurd kayak persahabatannya mereka berdua. Dan kalau didengerin ini pas lagi di jalan, entah itu naik motor atau mobil, serasa kayak lagi naik jet ski dengan tenaga gas busuknya Manny. Bebas, lepas, dan berangin.



8. The Last Waltz – Cho Young-Wuk (Oldboy)
Sebenarnya susah nentuin aku favoritin yang ini atau yang Cries and Whispers. Dua-duanya sama-sama bagus. Sama-sama ngingatin dengan adegan-adegan keren di film Oldboy. Tapi kalau Cries and Whispers nimbulin kesan traumatik mendalam, bikin hati tersayat-sayat, The Last Waltz bikin merinding. 


Bukan karena serem, tapi karena manis sekaligus miris. Instrumental yang satu ini bener-bener bikin aku bingung. Entah aku harus senang atau sedih pas dengernya. Soalnya alunan musiknya itu rada ceria kalau dibandingkan sama Cries and Whispers.

Bingungnya aku udah kayak bingungnya Oh Dae-Su, tokoh di film Oldboy, waktu Mi-Do bilang, “Aku cinta kamu,” ke dia. Oh Dae-Su bingung antara sedih atau senang mendengar pernyataan Mi-Do. Dan aku suka kebingungan itu. 



9. I Tuoi Fiori – Etta Scollo (Bad Guy)
Rasanya baru lagu ini yang bikin aku ngalamin momen jatuh cinta sama soundtrack film padahal belum nonton filmnya. Udah nonton sih, tapi skip-skip doang gitu. Mentalku sebagai anak polos belum siap melahap film Kim Ki Duk yang judulnya Bad Guy itu. Filmnya bercerita tentang hubungan cinta absurd antara penculik dengan yang diculik. Unsur seksualnya kental abis, pake bawa-bawa rumah bordir segala. Hubungan percintaannya itu juga aneh. Cukup film Kim Ki-Duk misalnya Pieta, Moebius, dan 3 Iron aja yang merusak kepolosanku.... saat ini. Ntar yang Bad Guy aku bakal tonton. Mhuahahahahaha. 


Balik bahas ke soundtrack. Jadi, aku suka banget sama soundtrack ini. Walapun nggak tau sama sekali artinya apa, lagu Italia yang dinyanyiin penyanyi usia 58 tahun ini kedengaran romantis dan sensual aja di telingaku. Kedengeran miris juga sih. Bikin melankolisku kumat. 

Dan bikin rasa kagumku sama Kim Ki-Duk juga bangkit. Selain film Oldboy, film-film karya sutradara nyentrik itu juga bikin aku ngubah pandanganku soal film Korea. Kim Ki-Duk itu sinting! Film-filmnya pada bajingak. Bahkan yang judulnya Pieta, yang menurutku udah sinting-bijingek-kok-bisa-kepikiran-gitu-ceritanya-njir, adalah film Kim Ki-Duk yang lebih normal daripada filmnya yang lain. Kim Ki-Duk juga punya selera musik yang aneh dan bagus. Aneh aja gitu, dia milih lagu Italia buat jadi soundtrack Bad Guy-nya. Dia juga milih lagu Arab berjudul Gafsa buat jadi soundtrack 3 Iron. 

SINTING! TAPI AKU SUKAAA!



10. The Moon Song – Karen O (Her)
DAN INI DIAAA!! SOUNDTRACK PALING FAVORIT DARI FILM FAVORIT! 

Lagi-lagi aku harus pake kalimat, “Manis sekaligus miris,” tapi buat lagu ini. Ya, kisah cinta antara manusia bernama Theodore dan OS (Operating System) bernama Samantha juga manis sekaligus miris. 

Lagu ini terlalu indah. Mau versi Karen O yang nyanyiin kek, mau versi di film yang Scarlet Johansson nyanyiin kek, sama aja indahnya.


Aku suka banget lagu ini karena aku suka filmnya, bikin aku dengan senyam-senyum nulis review filmnya di SINI.

Entah aku harus ngetik apa buat ngungkapin betapa cintanya aku sama lagu ini. Pengen rasanya aku kayak Theodore yang tinggal ngomong aja trus terketik secara otomatis di komputer. Lagu yang nggak kalah bagus sama filmnya. AAAAK!!!!!!

Mungkin lagu ini bermakna biasa aja buat orang lain karena liriknya nggak romantis-romantis banget. Mungkin lagu ini nggak ada istimewa-istimewanya karena modal ukulele doang. Hal itu ngingatin aku sama komentar di Youtube. Di video lagu ini. 

“You’ll get this song if you’re a million miles away from someone.”

Jadi ya, lagu ini bakal terdengar bajingak-indah-sekali, bagi orang-orang yang lagi ngalamin kayak komentar di atas. Ya. Gitu. 



Sebenarnya masih banyak soundtrack yang memuaskan aku selama ini. Contohnya Only Hope-nya Mandy Moore dari film A Walk To Remember, semua lagu dari 500 Days of Summer, dan Lingsir Wengi dari film Kuntilanak. Tapi bagusnya memang sampe 10 aja sih. Dan ini aja udah kepanjangan. Kalau kepanjangan dan kegedean juga nggak enak. Bikin sakit dan nyeri, girls.




Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com