Aku dan Keluarga (abnormal) ku

Ehem ehem
Perkenalkan, namaku Hairunnisa. You can call me Icha, mate. Aku pendatang baru di dunia blog, di dunia catatan harian dunia maya ini. Perjuangan membuat blog ini amatlah panjang. Berbekal pengetahuan yang cetek mengenai internet, aku dan adikku bernama Nanda berhasil menerbitkan postingan pertama ini :)
Niat untuk mempunyai akun blog ini timbul karena Raditya Dika. Yeep, cowok separo baya berkacamata itu. Yang menulis beberapa judul novel best seller. Dia idolaku. Berkat menulis di blog, dia menjadi tenar seperti sekarang. Wow.. tak henti-hentinya aku berdecak kagum. Aku selalu berkhayal menjadi penulis terkenal seperti dia.
Aku si remaja labil, menapak bumi, menjadi warga berkebangsaan indonesia kurang lebih 16 tahun. Blasteran Banjar-Bugis. Mama banjar dan bapak yang Bugis.
Keluargaku terdiri dari:
  •  Bapak, si kepala keluarga bersahaja
  • Mama,  ibu rumah tangga yang amat perhitungan dan peduli terhadap masalah keuangan
  • Kak Fitri yang sudah menikah dan punya anak menggemaskan bernama Tasya,
  • Ka Eddy Wardhana si kakak iparku, suami dari Kak Fitri 
  • Ka Dayah, wanita karir kebelet nikah, dan..
  • Nanda Anggraini, si bungsu ganjen bin binal, kerjaannya dandan saban hari
Kami hidup rukun di sebuah rumah sederhana di kawasan Jalan Cendana Gang 8 No 46. Bapak pergi merantau ke negeri seberang, dan Ka Eddy pulang kerjanya malam mulu. Makanya, di rumah cuma ada kumpulan kaum hawa. Dan otomatis, jadi rame tu rumah. Apalagi  jika sore menjelang, di depan teras rumah, semuanya berkumpul membentuk lingkaran besar lingkaran kecil, bergosp syalalalalalalala. Salah satu dari kami bisa grasak-grusuk (terutama Nanda) bila ada lelaki tak dikenal datang menyambangi rumah. Misalnya tukang koran, pengamen, tukang antar galon, ataupun delivery pizza hut :D
Tasya, adalah makhluk paling kecil dan polos di rumah. namun dibalik kepolosannya itu, dia menyimpan semacam kebinalan yang mengancam.Bayi usia 15 bulan itu sering kami (aku dan Nanda-red) hina dan siksa secara verbal. Kami berdua suka mengolok-olok dia dengan sebutan binal, gaje, botak.
Yaa, kepala anak itu tandus, gersang. Padahal untuk anak seusia dia, rambut lebat memenuhi kepala. tapi nyatanya, kepala anak itu botak. Ini menjadi pemicu untuk mengolok-olok dia. Mama Tasya, melihat anaknya disalahgunakan oleh tante-tante nya, cuma bisa mengurut dada, lalu melengos pergi. Kami sangat puas.
Diawal bulan, tepatnya tanggal gajian, aku dan Nanda merengek-rengek minta dibelikan nasi goreng kahoi. Do you know nasi goreng kahoi? Kuliner itu adalah kuliner rutin tiap bulan, rasanya lezat dan menyebabkan sakau bila tidak segera disantap. Kalau ada duit, ya dibelikan. Kalau ga ada, ya udah. Bikin indomie goreng di dapur aja.
Aku sangat mencintai keluargaku, meski Mamaku orangnya kolot dan pemarahan, meski bapakku jarang pulang ke ruimah kayak Bang Toyib, meski kedua kakakku hobi mendiktatorku, meski si Nanda nakalnya naudjubillah,aku tetap pegang perkataanku tadi. I love my family.. And i hope.. we've happilly ever after :)

You Might Also Like

6 komentar