Dipermalukan Kucing

Setiap orang punya ketakutannya sendiri. Nama kerennya, phobia. Phobia yang pasaran sih phobia ketinggian. Trus ada juga phobia ruangan gelap, phobia ular, phobia boneka, phobia api, phobia orang gila, phobia hantu (Reni), phobia wig (Reni lagi), phobia sebuah lagu yang kononnya mengandung mitos mengerikan (ah Reni terus). Ketakutan gak selalu identik dengan cewek. Cowok-cowok juga punya phobianya sendiri kok. Dan gak selalu hal-hal yang dikambinghitamkan sebagai phobia itu adalah hal yang menyeramkan. Mungkin bagi  sebagian orang hal itu gak menakutkan, tapi bagi pemilik phobia, hal itu bisa jadi momok.

Kucing. Itu adalah salah satu dari phobia-phobiaku. Aku phobia orang gila, Tuhan (ceilah lagaknya tu nah Chaaaaa) dan KUCING! Bagiku kucing itu menyeramkan, geli, atau apalah. Pokoknya konotasinya jelek banget. Waktu kecil, aku suka kucing, tapi gara-gara pernah digigit, aku langsung menaruh dendam kesumat mat mat. Eh, bukan dendam sih, tapi jera. Semenjak itu, aku takut kucing. Jenis apapun! Mau Anggora yang katanya lucu itu kek, sama kucing Persia yang mahal itu kek, sama kucing liar kek, sama anak kucing kek, sama kucing-kucingan kek. Tetap aja nakutin! Kontras banget sama Ariesta, pecinta kucing. Katanya kucing itu lucu. Wallpaper hapenya sampe gambar kucing. Di rumahnya terdapat kucing dengan berbagai jenis dan usia. Aku sering dikerjain anak sekelasan. Kalau ada kucing mampir ke kelas, Audya langsung menyodorkan kucing itu ke aku. Tawa pun membahana. Tangis histeris pun terpecah.

Lain lagi di kantin. Waktu itu aku udah mesan makanan, tinggal makannnya aja lagi. Samasama Nina. Tiba-tiba ada kucing datang, naik ke kursi, trus naik melompat ke meja tempat kami mau makan. Huaaaa serem, langsung aja tuh ambil langkah seribu. Teriak di sepanjang jalan keluar kantin. Anak-anak SMK 1 lain menoleh ke kami dengan tatapan pasien-rumah-sakit-jiwa-selili-ngapain-ada-disini?. Gak jadi makan deh, padahal sumpah demi nama mama bapakku kami laper banget.

Tadi pas pulang sekolah, pas aku udah nyampe rumah, ada kucing hitam nongkrong depan pagar. Aku bergidik ngeri sebentar. Diam mikirin gimana cara cepat tepat selamat untuk masuk ke dalam rumah. Aku jadi teringat Dina, yang suka ngegertak kucing, trus kucingnya pergi gitu aja. Wah, patut dicoba tuh.
Aku pun menggertak kucing itu. Hentakin kaki. Eh ternyata kucing itu mendekat. Refleks aku mundur. Doi (kucing hitam itu-red) makin mendekat. Aku mundur, doi maju. Doi menyeringai, memamerkan gigi-gigi taringnya. Dan...

Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...
Sepatuku...
Brukkkk!!!

"Kenapa ndok? Ada maling? Mana malingnya??!!"
"Iya Cha kenapa?"

Para tetangga keluar lalu mendatangiku. Ah, lihatlah posisi sekarang. Jatuh tekelungkuop di depan rumah tetanggaku. Tas ranselku melingkar dimana-mana. Rambut abrut-abrutan. Lecet sana sini.

"Oh, haha kucing toh, owalah ndok kok takut sama kucing, takutnya sama Gusti Allah toh ndok.. Hussh Hussshh.."

Pakde Miran, tetanggaku, mengusir kucing itu. Sang kucing lari-lari terbirit.
Tetanggaku yang lain ketawa ngakak,trus masuk ke dalam rumah lagi. Mungkin di dalam rumah mereka lebih leluasa membicarakan kebodohanku tadi.

Mama keluar dari rumah, menarik aku dari keramaian tadi. Senyum sebentar ke Pakde Miran. Ketika sudah sampai di dalam rumah, Mama menyuguhiku dengan...

 Segelas pertanyaan memojokkan...
"Bikin malu aja, mama pikir tadi ada apa kah? Eh sekalinya?"

Sepiring omelan...
"Secendana tadi kayaknya dengar teriakkanmu!! Sampe teriak-teriak kayak gitu! Semuanya tadi keluar, kirain ditabrak mobil kah apa kah. Kaget sudah mama dengar kamu teriak tadi tuh. Makanya kalau takut ga usah pake teriak. Diusir aja kucingnya, Aduhai Icha.." 

Semangkok peremehan...
"Kucing aja tuh takut, gak gigit kucingnya tuh.. teriak, lari-lari. Tuh tangan lutut lecet-lecet gitu. kayak gimana sih kamu jalannya? Nabrak, jatoh terus..Gak malu kah kamu diketawakan Elok, Wisnu, Pakde Miran, Bude Mis? Icha.. Icha.. "

Aku garuk-garuk kepala. Gak bisa membantah omongan mama itu, karena memang semua itu bener sih.
Sakit eh. Lututku berdarah, tanganku juga. Kayaknya tadi ketusuk kerikil batu. Trus tadi sepatuku lepas, kesandung, nyungsep deh.

Udah gede gini masih takut kucing. Sudah sering sih aku teriak histeris gitu karena kucing, tapi kalau yang tadi itu rasanya maluuuuuuuu banget. Disaksiin tetangga-tetangga bo. Diketawain juga lagi. Hancurlah image remaja anggun yang selama ini ku bangun >,<

Aku ga mau takut kucing lagi. Ariesta, tolong.... :'(

You Might Also Like

0 komentar