Si Wartawan Akhirnya Dapat Jawaban


Kartini hari ini gak turun lagi. Kayaknya sakitnya bukan main-main, mengingat kalau Kartini orangnya jarang sakit gitu, tahan banting. Aku pun langsung sms dia. Dan dia balas…
Iya… Ketularan kmu ni cha kayakx…
Sender:
Kartini Yanti
+62853**********


Whats? Kartini parotitis? Rasa gak percaya, virus parotitis masih belum cukup puas nulari Mami Ndese. Oh iya, Mami Ndese lagi sakit nih, pipi sebelah kanannya bengkak. Dia sakit parotitis juga sama kayak aku  dulu, karena waktu hari apakah itu, udah lama sih, dia make handukku buat mandi. Virusnya nular deh. Sisi positifnya, Mami Ndese jadi agak tembeman, daripada kempot kayak biasanya.

Setelah smsan cukup lama, kesimpulannya Kartini sakit gusi bengkak. Giginya sakit, gak bisa nelan makanan. Beda dengan aku yang gak bisa nelen makanan karena leher yang sakit. Jangan sampe deh Kartini sakit parotitis, apalagi sakitnya gara-gara ketularan aku… Sudah cukup makan korban satu… sudah…

Gantian deh sekarang aku yang sendirian, Rasanya sepi, gak ada teman ngobrol. Lebih parahnya, tugas-tugas Bu Susi yang biasanya dikerjakan Kartini, sekarang aku yang ngerjain. Meliputi data produksi 2012, rekapan polis Agus Wijaya Ang, apa kek segala macam yang berhubungan dengan hitung-hitung input-input.

Tapi gak sepi-sepi juga sih, karena tadi aku berhasil kerja bareng Bu Yani. Yeah, setelah sekian lamanya aku jadi anak bimbingan Bu Yani, baru kali ini aku satu ruangan sama Bu Yani, baru kali ini aku dikasih tugas sama Bu Yani yang cantik itu. Jadi gini, tadi pas aku lagi ngerjakan tugasnya Bu Susi, Mbak Ririn datangin aku, katanya aku dipanggil sama Bu Yani. Aku pun langsung cepat-cepat turun ke bawah. Bodo amat tugas Bu Susi belum selesai. Lagian aku juga tadi lupa bagian-bagian mana yang diketik. 

Nyampe di ruangan Bu Yani, lag Taylor Swift yang judulnnya Fifteen menggema. Bu Yani kayaknya hobi sama lagu barat. Aku dikasih tugas ngopi SPA sama ngarsipin. Tugas-tugas yang dikasih sama Bu Yani ringan-ringan, aku ngerjakannya juga nyantai. Malah banyakan beceritaannya. 

Kami berdua beceritaan tentang Bu Susi dan Bu Yuli. Dia gak senang kalau ada agent yang nyuruh anak PKL  ngerjakan laporan asuransi. Ya walaupun berhubungan sama kantor, tapi itu urusan pribadinya si agent. Si agent harus punya sekretaris untuk me-manage semua keperluannya. Nah yang nyuruh-nyuruh aku sama Kartini ni agent-agent yang gak punya sekretaris. Mungkin dalam pikiran mereka lebih enak nyuruh anak PKL daripada harus nyari sekretaris, harus ngegaji, kalau anak PKL kan gratis. Anak PKL jadi dimanfaatkan gitu.

Kalau dipikir-pikir, iya sih benar juga apa  yang dibilang sama Bu Yani. Mentang-mentang kami PKL disini, seenaknya nyuruh-nyuruh tugas yang sebenarnya gak boleh kami kerjakan, karena kalau salah bisa fatal banget. Cerewet lagi sumpah. Ibu-ibu yang udah berumur, mintanya aneh-aneh, gak ngerti komputer lagi, jadinnya ribet. Oh iya, Bu Yani gak suka kalau kami panggil Ibu. Iya sih, umurnya itu baru 24 tahun, tapi karena jabatannya tinggi ya jadi kami panggil Ibu. Tapi dia gak terima, maunnya dipanggil Mbak aja. Waktu itu aja ada aku lupa kapan, Bu Lilis, eh Mbak Lilis ketawa ngakak pas dengar aku manggil Bu Yani. Disinigak mandang status kok. Pak Satpam aja manggil Mbak Yani (akhirnya manggil Mbak juga) pake nama aja. Cckckck keren. Kantor mana lagi yang kayak begini.

Obrolan kami pun berlanjut sampai topik anak PKL yang dulu pernah juga di Sequis, anak SMK 4 tiga orang cewe semua. Kata Mbak  Yani, mereka itu satu ruangan sama Mbak Yani, yang banyak ngasih kerjaan itu Mbak Yani juga.  Tapi pembimbingnya Cece yang baik itu, Ernawaty Limong namanya. Itu masih di kantor lama, yang di Lembus itu. Karena anak PKL itu ribut dan Mbak Yani juga ngerasa kurang nyaman diliatin sama mereka kalau lagi kerja, maka mereka dipindahkan ke ruang atas, lantai 3. 

"Mbak, mereka pernah  disuruh sama Bu Susi sama Bu Yuli juga kah?"

"Nah, kalau itu gak tau, kan mereka di atas jadi aku  gak bisa mantau sih kayak kamu gini. Mungkin aja sih mereka disuruh, mereka juga nggak pernah cerita."

Pokoknya kami ceritaan banyak deh, seru. Ternyata Mbak  Yani itu alumni SMK 1, dia dulu di jurusan Usaha Jasa Pariwisata. Terus PSG nya dulu di travel dekat kantor gubernur. Terus juga Mbak Yani meringatin aku jangan sampai mau kalau disuruh Bu Susi sama Bu Yuli. Selain itu, yang bikin kaget, ternyata Mbak Yani gak senang kalau aku kerja sama Bu Sinta. Dia paling gak suka kalau aku sudah disuruh sama Bu Sinta mencet-mencet nomor telepon gitu. Gini nah, ibunya tuh malas buat bangkit mencetin nomornya. Aku yang kebetulan dekat sama teleponnya jadi disuruh buat mencetin nomor tujuan teleponnya, sedangkann dia nempelin gagang teleponnya itu ke telinga. Kayak babunya aja sudah. Mbak Yani, Mbak Lilis, gak suka sama kerja lambat dari Bu Sinta. Habis itu juga Bu Sinta itu orangnya gak mau gabung ngumpul gitu. Makan aja sendirian, gak  pernah mau bareng-bareng satu meja. Bu Sinta kayak  gak punya teman di kantor. Pokoknya orang kantor pada gak suka sama Bu Sinta karena sifat tertutupnnya, suka nyuruh-nyuruhnya yang aneh itu, dan kemampuannya yang dibawah standar sebagai pekerja kantor.

Pelan-pelan aku jadi ikutan gak suka sama Bu Sinta. Mbak Wanti cerita asal-usul Bu Sinta kerja disini. Awalnya itu Bu Sinta kerja dimana kah gitu. kantor apakah, pokoknya di Agus Salim, trus diajaklah sama Pak Frans buat kerja di Sequis, karena waktu itu Mbak Su berhenti kerja akibat hamil. Eh sekalinya sama sekali gak  bisa komputer, Mbak Su pun ditarik lagi buat kerja disini, dan ngajarin Bu Sinta. Gak nyangka aja gak bisa komputer, padahal  katanya udah dua puluh tahun kerja di kantor lamanya itu, dipikirnya Pak Frans kan bisa komputer. Eh ternyata gak bisa, ternyata di kantor lamanya itu dia kerjanya manual. Pak Frans mau  mecat juga gak enak. 

Hah, akhirnya aku udah tau jawaban dari kepenasaranku. Dan sekarang, rasa simpatiku ke Bu Sinta berubah jadi benci. Si (calon) wartawan ini, sekarang jadi benci sama idolanya sendiri.

You Might Also Like

0 komentar