Rabu, 28 September 2011

Dipermalukan Kucing

Setiap orang punya ketakutannya sendiri. Nama kerennya, phobia. Phobia yang pasaran sih phobia ketinggian. Trus ada juga phobia ruangan gelap, phobia ular, phobia boneka, phobia api, phobia orang gila, phobia hantu (Reni), phobia wig (Reni lagi), phobia sebuah lagu yang kononnya mengandung mitos mengerikan (ah Reni terus). Ketakutan gak selalu identik dengan cewek. Cowok-cowok juga punya phobianya sendiri kok. Dan gak selalu hal-hal yang dikambinghitamkan sebagai phobia itu adalah hal yang menyeramkan. Mungkin bagi  sebagian orang hal itu gak menakutkan, tapi bagi pemilik phobia, hal itu bisa jadi momok.

Kucing. Itu adalah salah satu dari phobia-phobiaku. Aku phobia orang gila, Tuhan (ceilah lagaknya tu nah Chaaaaa) dan KUCING! Bagiku kucing itu menyeramkan, geli, atau apalah. Pokoknya konotasinya jelek banget. Waktu kecil, aku suka kucing, tapi gara-gara pernah digigit, aku langsung menaruh dendam kesumat mat mat. Eh, bukan dendam sih, tapi jera. Semenjak itu, aku takut kucing. Jenis apapun! Mau Anggora yang katanya lucu itu kek, sama kucing Persia yang mahal itu kek, sama kucing liar kek, sama anak kucing kek, sama kucing-kucingan kek. Tetap aja nakutin! Kontras banget sama Ariesta, pecinta kucing. Katanya kucing itu lucu. Wallpaper hapenya sampe gambar kucing. Di rumahnya terdapat kucing dengan berbagai jenis dan usia. Aku sering dikerjain anak sekelasan. Kalau ada kucing mampir ke kelas, Audya langsung menyodorkan kucing itu ke aku. Tawa pun membahana. Tangis histeris pun terpecah.

Lain lagi di kantin. Waktu itu aku udah mesan makanan, tinggal makannnya aja lagi. Samasama Nina. Tiba-tiba ada kucing datang, naik ke kursi, trus naik melompat ke meja tempat kami mau makan. Huaaaa serem, langsung aja tuh ambil langkah seribu. Teriak di sepanjang jalan keluar kantin. Anak-anak SMK 1 lain menoleh ke kami dengan tatapan pasien-rumah-sakit-jiwa-selili-ngapain-ada-disini?. Gak jadi makan deh, padahal sumpah demi nama mama bapakku kami laper banget.

Tadi pas pulang sekolah, pas aku udah nyampe rumah, ada kucing hitam nongkrong depan pagar. Aku bergidik ngeri sebentar. Diam mikirin gimana cara cepat tepat selamat untuk masuk ke dalam rumah. Aku jadi teringat Dina, yang suka ngegertak kucing, trus kucingnya pergi gitu aja. Wah, patut dicoba tuh.
Aku pun menggertak kucing itu. Hentakin kaki. Eh ternyata kucing itu mendekat. Refleks aku mundur. Doi (kucing hitam itu-red) makin mendekat. Aku mundur, doi maju. Doi menyeringai, memamerkan gigi-gigi taringnya. Dan...

Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...
Sepatuku...
Brukkkk!!!

"Kenapa ndok? Ada maling? Mana malingnya??!!"
"Iya Cha kenapa?"

Para tetangga keluar lalu mendatangiku. Ah, lihatlah posisi sekarang. Jatuh tekelungkuop di depan rumah tetanggaku. Tas ranselku melingkar dimana-mana. Rambut abrut-abrutan. Lecet sana sini.

"Oh, haha kucing toh, owalah ndok kok takut sama kucing, takutnya sama Gusti Allah toh ndok.. Hussh Hussshh.."

Pakde Miran, tetanggaku, mengusir kucing itu. Sang kucing lari-lari terbirit.
Tetanggaku yang lain ketawa ngakak,trus masuk ke dalam rumah lagi. Mungkin di dalam rumah mereka lebih leluasa membicarakan kebodohanku tadi.

Mama keluar dari rumah, menarik aku dari keramaian tadi. Senyum sebentar ke Pakde Miran. Ketika sudah sampai di dalam rumah, Mama menyuguhiku dengan...

 Segelas pertanyaan memojokkan...
"Bikin malu aja, mama pikir tadi ada apa kah? Eh sekalinya?"

Sepiring omelan...
"Secendana tadi kayaknya dengar teriakkanmu!! Sampe teriak-teriak kayak gitu! Semuanya tadi keluar, kirain ditabrak mobil kah apa kah. Kaget sudah mama dengar kamu teriak tadi tuh. Makanya kalau takut ga usah pake teriak. Diusir aja kucingnya, Aduhai Icha.." 

Semangkok peremehan...
"Kucing aja tuh takut, gak gigit kucingnya tuh.. teriak, lari-lari. Tuh tangan lutut lecet-lecet gitu. kayak gimana sih kamu jalannya? Nabrak, jatoh terus..Gak malu kah kamu diketawakan Elok, Wisnu, Pakde Miran, Bude Mis? Icha.. Icha.. "

Aku garuk-garuk kepala. Gak bisa membantah omongan mama itu, karena memang semua itu bener sih.
Sakit eh. Lututku berdarah, tanganku juga. Kayaknya tadi ketusuk kerikil batu. Trus tadi sepatuku lepas, kesandung, nyungsep deh.

Udah gede gini masih takut kucing. Sudah sering sih aku teriak histeris gitu karena kucing, tapi kalau yang tadi itu rasanya maluuuuuuuu banget. Disaksiin tetangga-tetangga bo. Diketawain juga lagi. Hancurlah image remaja anggun yang selama ini ku bangun >,<

Aku ga mau takut kucing lagi. Ariesta, tolong.... :'(
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 27 September 2011

Lewat Hape Jatoh, Rinduku Tertuntaskan

Ceroboh. Mungkin kata itu yang tepat menggambarkan Dina. Syaiba Meidina, gadis berjilbab yang fanatik akan Bruno Mars itu adalah teman sebangkuku waktu kelas X. Yang kini telah fix menjadi belahan jiwaku #tsaaahh. Berkulit kuning langsat, pendiam, misterius, cenderung tomboy, slengean, rada cuek, kalau sekali bercanda langsung bikin ngakak tendeng aling-aling, pelupa, dan.. ceroboh. Sifatnya rada-rada mirip sama kamu. Mungkin karena itu kali ya makanya waktu setahun duduk sama dia rasanya sebentar banget .

Kalau aku ga ngerjakan PR, dia ikut gak ngerjakan PR. Kalau aku lupa bawa LKS, dia juga lupa. Padahal sebelumnya dengan sombongnya dia pamer ke aku kalau dia bawa , eh sekalinya dia ga bawa juga. Kami sama-sama suka Bahasa Inggris, suka lagu Barat. Dia mengenalkan pesona-pesona yang ada pada Bruno Mars, hingga aku jadi ikutan nge-fans. Kami sama-sama alergi sama pelajaran matematika. Maka gak heran saat Bu Yayuk menjelaskan rumus-rumus matematika di depan kelas, aku dan Dina malah asyik ngobrol. Bertopang dagu. Menggeliat di meja dengan posisi membaringkan kepala. Membahas lagu-lagu mancanegara ter-update, soal-soal bahasa inggris yang belum terpecahkan, menceritakan kecerobohan masing-masing. Lihat kiri kanan depan belakang, pada duduk tegak mata fokus menghadap ke papan tulis. Berebutan menjawab pertanyaan Bu Yayuk dengan sigap. Kontras sekali dengan kami.

Kini, aku gak sekelas lagi sama Dina. Aku jadi kangen dengan sifat-sifat menyimpangnya itu. Apalagi dengan kecerobohannya, yang bikin aku geleng-geleng kepala, lalu tertawa karena menyadari bahwa aku juga melakukan kecerobohan itu. Aku pengen melewatkan waktu sama dia lagi. Curhatan lagi. Ngakak lagi. Ceroboh bareng lagi.

Hari Senin kemarin, aku dan bubuhan Ass. belajar kelompok. Bertempat di rumah Dea. Kami mengerjakan tugas MPA (Melakukan Prosedur Administrasi) sampai jam 5. Reni, Chintya, dan Eka pulang. Tinggal aku, Dina, dan Dea si tuan rumah.
Jemputan Dina sudah menunggu di depan gang. Dia pamit, habis itu langsung kabur. Aku dan Dea lari mengejarnya. Kami pun berhasil mendahuluinya. Lalu Dina naik ke motor kakaknya, yang ngejemput dia. Lambaian tangan kami mengantarkan kepulangan Dina menuju rumah. Lucu banget, ada emang orang ga mau diantar sampai depan, langsung kabur gitu aja? Ya Dina itu~~

Dari sinilah, kecerobohan Dina yang kurindukan bermula.

Selang sepuluh menit kemudian...

"Itu Dina temanmu balik lagi tuh, Ya!" pekik Mamanya Dea

"Ah, Mama ni mabuk. Udah pulang dia tuh... Eh Cha, iya itu Dina nah!!"

Dina datang dengan nafas terengah-engah.

"Loh? Kenapa, Din?"

"Anu, ada kah barangku yang ketinggalan disini?"

Aku mengernyitkan dahi. Sementara Dea langsung menelusuri tiap sudut rumahnya, mencari apa ada barang yang dimaksud Dina, meski kami belum tau persis barang apa yang ketinggalan.

"Barang apa, Din?"

"Hapeku Cha, aku lupa taroh dimana.."

"Bukannya tadi sama Chintya ya?"

"Kalau sama Chintya, trus tadi dia nelfon minta jemput pake hape apa, Chaaa??"  Dea mendelik.

Tuuutt. Tuutttt. Dea mencoba menelfon ke nomor Dina. Tersambung, tapi gak diangkat.

Kami kebingungan. Jatuh waktu Dina lari-lari tadi, gak mungkin. Kami yang waktu yang ada di belakangnya pasti akan mendengar bunyi brakkk kalau seandainya hape Dina beneran jatuh waktu itu.

Eh, nomor Dina memanggil ke nomor Dea. Dea mengangkat telfon itu. Suara... cowo.
Ternyata, hape Dina jatuh di jalan. Mungkin waktu di motor, mengingat posisi duduk Dina tadi rada-rada miring, semiring pemikirannya #uupppss. Cowo yang menelfon pake hape Dina itu adalah orang yang menemukan hape Dina. Dea speechless, kagum lebih tepatnya. Cowo itu jujur. Padahal orang jujur itu langka. Waw.

Aku menelfon ke nomor Dina. Akhirnya sepakat, aku akan mengambilkan hape Dina dari cowo itu. Awalnya Dea nyuruh cowo itu ngantarkan hapenya ke rumahnya, tapi cowo itu ga mau. Ya jadinya harus kesana, ke Gang 16. Lagian, yang butuh kan kami juga, bukan dia. Aku meluncur bersama kakaknya Dina. Sementara Dina dan Dea tetap di tempat.

Sesampainya di depan Gang 16, aku kembali menelfon ke nomor Dina, memberitahu bahwa aku sudah di tempat yang dijanjikan.
Sesosok cowok jangkung ber-Ninja merah datang dari kejauhan. Lalu berhenti di depanku.

"Ini punya kamu kan?"

Tuturnya sambil menyerahkan hape Dina ke aku. Aku manggut-manggut. Kakaknya Dina mengucapkan terimakasih kepada cowo itu.

"Lain kali hati-hati ya,"

Kemudian pergi menggeber Ninja merahnya.

Begitu sampai di rumah Dea, kakaknya Dina langsung bilang ke Dea kalau cowo itu cakep. Haha, Dea langsung kelepak-kelepek. Dea kayaknya jatuh kagum banget sama cowok itu. Aku sih nganggap biasa aja. Karena yang bikin aku jauh lebih kelepak-kelepek lagi, aku bisa ngeliat kecerobohan Dina lagi setelah sekian lamanya. Eh aku gak bermaksud jahat kok, bukannya aku senang kalau Dina kesusahan gitu, bukaaannnn. Aku kangen ngeliat wajah Dina yang sok tenang itu, yang selalu bilang "gapapa icha.. gapapa aja tuh," tapi padahal dalam hatinya debar debur. Dea aja bilang kalau sebenarnya Dina tuh takut dimarahin kakaknya, tapi dia berusaha nyembunyiin. Jaim deh, Din. Aku ngangenin itu, ngangenin ketawa ngakaknya begitu menyadari kecerobohannya. Dengan dia ceroboh kaya gitu, aku ngerasa dekattttt banget sama dia. Saat-saat kebersamaan dulu yang kini telah direbut oleh waktu, seolah dikembalikan lagi ke pangkuanku. Aku senang aku bisa bantu dia, meski bantuanku sangat kecil sekali.

Dina pun pulang dengan menenteng hapenya.
Aku dan Dea mengucap syukur. Untung aja cowok itu jujur, baik. Mungkin cowok itu anak berada, makanya dia gak perlu ngambil hape orang, pikir Dea.
Untung aja ada cowok itu, perantara permintaanku untuk ketawa ngakak karena sebuah kecerobohan  jadi dikabulkan. Aku gak bisa ngebayangin kalau Tuhan mengabulkan permintaanku dengan cara hape Dina gak kembali, pasti Dina bakalan sedih. Aku ga mau lihat Dina sedih, hiks *narikingus. Alhamdulillah yah sesuatu.

P.S : Ceroboh boleh Din, tapi harus masih di ambang batas yaa. Mari kita ceroboh bareng.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 26 September 2011

Serpihan Melati

Kemarin malam, di saat aku lagi asyik online, Kak Sidiq sms aku.

"De kapan bisa ketemu kamu, kakak kangen? Dan ada yang mau dibicarain penting"


Lantas, jari-jariku pun menari lincah di keyboard hape.

"Bisa Kak, kapan maunya?"


"Besok jam 2 habis pulang sekolah tapi tolong kakak cuman kamu aja jangan kasih tau yang lain ini rahasia. Jangan cerita ke anggota lain. Besok kakak sms kamu lagi ketemu dimana ok..."


Aku tertegun, kaget dapat sms dari Kak Sidiq. Ehem, Kak Sidiq adalah pelatih Teater Melati, teater yang menjadi ekstrakulikulerku di sekolah. Setelah Kak Jaka, pelatih kami sebelumya, lepas tangan, Kak Sidiq dengan siap menggantikan tahta Kak Jaka. Kak Sidiq sendiri adalah alumni SMKN 1, dan tentu saja mantan Teater Melati. Kinerjanya bagus, sinar Teater Melati yang semula meredup kini berangsur-angsur terang kembali. Kembali merebut masa kejayaan yang dulu pernah kami cicipi. Aku dan beserta anggota teater Melati lainnya merasa sangat terbantu.  Trus, apa yang bikin aku kaget tertegun dapat sms dari pelatih yang kami sayangi itu? Yang bikin aku tertegun itu ada dua, yaitu..

  1. Kenapa mau ketemu aku? Ada apa? Bukannya hari minggu kemarin Ka Sidiq sudah mengadakan pertemuan di Untag, membicarakan yang penting itu? Sayangnya aku ga bisa datang waktu itu, karena kendala transportasi.  Jadilah Sari dkk yang datang, yang ga pernah absen saat-saat pertemuan teater. Kupikir, tanpa kehadiran akupun, pertemuan itu akan tetap berjalan. Lagian, aku bisa tanya-tanya ke Kiki apa yang dibicarakan Kak Sidiq ke mereka. Trus, untuk apa Kak Sidiq mengadakan pertemuan lagi? Hanya aku sendirian pula ! Apa yang mau dibicarakan? Kalau kemarin mereka jadi datang, ya berarti sesuatu yang penting yang mau diomongin sama Kak Sidiq itu udah selesai dong. Kok jadi gini?
  2. Gaya bahasa sms nya itu loh, rada ganjil. Ada satu kalimat yg menguatkan keganjilan itu, "Kakak kangen," dan "Tapi tolong kakak cuman kamu aja jangan kasih tau yang lain ini rahasia. Jangan cerita ke anggota lain." Ada yang bisa menangkap makna dari kalimat-kalimat ini? Aku bingung, sebegitu rahasiakah sampe ga boleh orang lain yang tau?  Bahkan anggota teater sekalipun juga ga boleh? Hal yang mau dibicarakan kan menyangkut masa depan Melati kan? Itu pasti, itu sudah pasti! Aku mencium hal-hal yang ga beres disini. Hush hush, aku harus mengusir pikiran yang ngelantur ini.

Smsin Kiki! Mungkin itu cara tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

"Ki, tadi jadi ketemu Kak Sidiq kah? Ngomomgin apa?"

Drrttt. Drrtt. Hape bergetar, tanda sms masuk. 

"Iya jadi.. Ngomongin tentang pelatih baru. Namanya Kak Ian Nari."

Satu balasan sms dari Kiki itu makin membuatku bingung. Bukannya terjawab, malah menimbulkan pertanyaaan baru.

"Loh, Kak Sidiq berhenti jadi pelatih? Kenapa Ki?"

"Bukaannnnnnnn. Kak Sidiq tetap ngelatih, tapi jadi asistennya Kak Ian gitu.."

Benar-benar gak ada yang beres!!



Keesokan harinya setelah malam itu, yaitu hari ini, Kak Sidiq sms aku lagi, memantapkan pertemuan kami. Aku tergesa gesa menuju tempat kami akan bertemu, di workshop sekolah. Tapi, Nina mencegat langkahku.

"Cha, kemarin kamu datang kah ke Untag?"


"Gak Nin.. Kamu ga datang kah? Kenapa?"

"Hapeku mati Cha, ku charge.. Eh, aku bingung nah, ih aku bingung Cha.. "


"Kenapa Nin? Bilang aja.."


"Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya?


Ternyata, Nina juga diajak bertemu sama Kak Sidiq! Dan Kak Sidiq cuma ingin ngomong berdua aja jangan sampe anggota lain tau. Pake bilang kangen dulu lagi sebelumnya. Pulang sekolah ketemu di workshop. Persis, persis banget! Apa maksudnya coba? Kami serasa dijebak. Dipertemukan secara gak sengaja. Kalau misalnya pengen ketemu sendiri-sendiri gitu, kenapa harus bersamaan waktunya? Tempatnya sama? Kami ga habis pikir apa maksud Kak Sidiq. Pikiran-pikiran negatif pun bermunculan. Aku dan Nina sama-sama berpikiran kalau kami bakal dimarahin habis-habisan. Aku berusaha mengingat-ngingat salahku apa ke Kak Sidiq, hmm bahkan salahku ke Melati.  Mungkin kami dipertemukan secara ga sengaja, pertemuan yang private ini, menunjang Kak Sidiq untuk menghabisi kami berdua. Hiiiii. Bulu kudukku merinding.
Aku memutuskan untuk pergi duluan ke workshop, sementara Nina nanti menyusul, supaya ga keliatan mencolok.

Nina sudah tiba, tapi Kak Sidiq belum datang-datang juga. Pas dia datang, refleks kami ga bisa memainkan sandiwara yang sudah kami rencanakan sebelumnya, yaitu kami pura-pura ga tau kalau akan saling ketemu. Ka Sidiq cuma tersenyum, lalu kami bertiga menuju lantai atas.

"Saya, sudah cari pelatih buat kalian. Kak Ian bersedia mau jadi pelatih. Tau Kak Ian kan? Yang waktu itu datang ke pelantikan? Kemarin, saya sudah omongin ke Kiki, Sari, Victor, Rudi, Reza, Arif, dan Wandi... Perkenalan sama Kak Ian, mulai atur struktur, perencanaan kita mau pentas tunggal. Habis itu,  ketujuh orang itu.. bilang langsung di depan saya dan Kak Ian, kalau mereka.. mengundurkan diri dari teater."


Tau apa yang aku dan Nina rasakan setelah mendengar perkataan Kak Sidiq itu? Lemas, limbung... Seperti ada yang hilang. Air mata berusaha ku tahan. Mungkin, lebih baik aku dimarahin habis-habisan ketimbang harus mendengar kabar buruk ini. Mereka... mereka yang sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri, teater tempat kami bernaung... Mereka mengambil keputusan sepihak.
Cerita pun mengalir. Kata Kak Sidiq, kemarin mereka bertujuh seperti berdemo. Mengundurkan diri serentak, serempak, seiya sekata. Mereka berhenti ikut teater karena masih ada masalah pribadi yg harus diselesaikan, gak bisa membagi waktu. Tapi menurutku Kak Sidiq sendiri, mereka itu lemah mental. Labil. Aku dan Nina setuju banget.

Padahal, Kak Ian sudah memotivasi mereka bertujuh itu agar gak berhenti gitu aja. Pentas tunggal bulan November nanti gimana nasibnya kalau gak ada mereka. Belum lagi lomba musikalisasi puisi yang bentar lagi akan diadakan di pertengahan bulan Oktober. Sari, yang terkenal dengan suara emas Mariah Carey-nya, ditawarin buat ikut lomba musikalisasi puisi. Tapi ditolaknya. Gak biasanya Sari kayak gitu !

Mereka sudah mantap melepaskan diri dari Teater Melati. Kenapa ya mereka gak cerita dulu sama aku dan Nina kalau mau keluar? Kenapa mereka lepas tangan gitu? Kenapa harus mereka semua? Kiki, sang bendahara yang disiplin. Sari dan Reza, koordinator anggota. Victor, ketua teater. Mereka selalu bekerja keras, tak kenal kata menyerah. Malah aku yang seringkali cepat nyerah, ngeluh, capek sendiri. Kenapa mereka serapuh itu? Lagi-lagi kata "kenapa" !

Kata Ka Sidiq, bertujuh itu adalah orang yang labil, kalau sudah nge-fly, tinggi banget nge-fly nya. Coba kalau sudah down, nyungseppppp banget. Kak Sidiq menceritakan semua itu dengan linangan air mata tertahan. Aku tahu dia sedih, sama seperti yang aku rasain. Sebenarnya apa alasan mereka keluar dari teater? Capek? Terkekang? Gak ada waktu? Iya sih, kadang-kadang aku suka ngerasa capek. Muak dengan ini itu, tetek bengek latihan teater. Atur schedule, me-manage anak-anak kelas satunya. Ada keinginan terbersit untuk keluar aja. Tapi, kalau aku ingat anak-anak kelas satunya, aku jadi sedih. Anak-anak kelas satunya antusias banget, aku senang. Aku ga mau ngecewain mereka. Kak, latihannya kapan Kak? Kak, ngumpul dimana? Kak, formulirnya kapan diserahkan? Kak, kapan pelantikan? Kak, bawa baju ganti kah? Pertanyaan-pertanyaan antusias itu yang menguatkan aku untuk tetap teguh di melati. Melihat wajah sumrigah mereka sehabis latihan, wajah murung mereka ketika tanggal pelantikannya diundur, wajah polos mereka saat kami menjelaskan ini dan itu tentang teater.. Mereka perlu dibimbing, diayomi.. Tapi, bertujuh itu mangkir dari tugas mengayomi anak-anak kelas satunya. Aku ga habis pikir. Emang mereka pikir aku gak capek? Aku juga capek tau. Prinsipnya, mereka egois. Baik, aku harus hargai keputusan mereka. Kak Sidiq aja sudah ikhlas lilahita'alla tuh.

Kini, yang tersisa hanya aku, Nina, Wahyudi, dan Oji. Rita, Bece, Melinda, masih diragukan. Aku yakin 100% Rita dkk bakal ikut keluar juga. Mereka kan satu bubuhan. Hiks.
Apa yang bisa diharapkan dari kami? Wahyudi, sibuk dengan OSIS nya. Oji, hmmm gak usah ditanya. Nina? Kadang-kadang ga boleh pulang sore. Bukan kadang-kadang sih, sering malah. Sedangkan latihan teater menghabiskan waktu seharian. Aku? Ah, aku?


Aku, pasti bakal kangen sama mereka. Kangen  Victor yang melatih anak-anak kelas satunya dengan gaya sok seriusnya plus cengengesan, jahil, usil. Saat Kiki menghibur anak kelas satunya yang lagi nangis karena pengaruh peran yang dimainkan. Sari yg dengan tegasnya membuka rapat teater. Reza dengan seronoknya membanyol, bikin kami ngakak. Arif yang alim tapi gak kolot, lucu banget. Wandi dan Rudi yang bertolak belakang, yang bertingkah semau gue dan banyak ulahnya.... Mereka benar-benar ga ikut teater lagi. Kami ga bakal bisa latihan bareng lagi :(


Mau gak mau aku harus merombak struktur organisasi lagi. Membangun pondasi teater melati, tanpa mereka bertujuh. Kak Sidiq banyak berharap pada aku dan Nina. Meski kami cuek pada masalah teater, tapi kami loyal. Begitu kata Kak Sidiq. Entah apa artinya loyal. Yang jelas, yang kami tau, kami masih jauh lebih kuat dibandingkan mereka. Itu saja.


Tanggung jawab besar ini harus kami emban. Kami harus memikirkan pelantikan buat kelas satunya, struktur organisasi, proposal, lomba musikalisasi  puisi, pentas tunggal bulan november nanti. Kami ga boleh bertanya tanya terus-terusan kenapa mereka kayak gitu. Hanya langsung dari mulut mereka sendiri kami bisa tau jawabannya.


Aku dan Nina, adalah serpihan melati. Kami sebenarnya rapuh, tapi berusaha beradaptasi sehingga gugurnya kami gak terjadi. Aku, Nina...., janji gak akan gugur. Meski kemarau sekalipun. Selamanya kami punya kekuatan.
Kami adalah serpihan melati, yang berusaha mencari pucuk kami, tangkai penopang kami, mencari serpihan lain, lalu merangkainya menjadi bunga melati yang harum mewangi.


God bless us.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 24 September 2011

Reny Takut Pocong dan Segenap Ketakutan Lainnya

Seperti yang aku janjikan di postingan sebelumnya, kali ini aku bakal posting tentang pengalaman lucu antara aku, Ariesta, Kartini, dan tentu saja Reni. Tentu saja, karena Reni akan jadi objek utama dalam postinganku ini. Karena Reni, kami jadi susah berhenti ngakak . Bosan yang sebelumnya kami rasakan tergusur.

Ceritanya berawal dari Ariesta yang dilanda bosan saat pelajaran Bu Neni. Entah apa nama mata pelajarannya, yang jelas, di jam pelajaran itu disibukkan dengan dikte-an dari Bu Neni yang harus kita catat. Jarang banget ibunya bangkit dari tempat duduknya lalu menjelaskan pelajarannya secara rinci sampai kami paham. Yang dia lakukan hanya duduk manis di singgasananya, menceracau mendiktekan materi, mengultimatum tangan-tangan kami untuk bekerja keras menorehkan tinta di buku catatan. Mendengarkan, menyimak, lalu mencatatnya. Selalu begitu setiap minggu. Ngerti kaga, pegel iya. Ga tanggung-tanggung, berlembar-lembar kami nyatatnya. Kami tau sih ini demi kebaikan kami juga, demi belajar kami. Kalau ibunya ga kayak  gituya kami ga bakal tau materi pelajarannya. Minimal tau, kalau paham tuh urusan belakangan (ngg?!!) Tapi.. Ah, menyalahkan orang lain dan keadaan itu memang gampang ya.

Sontak Ariesta mengetuk meja, lalu mengangsurkan selembar tissue ke arahku. Baik banget kamu Ta, tau aja kalau aku lagi keringatan kepanasan, pikirku. Eh, tapi tissue-nya ada tulisannya.

"Agak bosan...."

Aku mengernyitkan dahi . Apa benar yang tertulis di tissue ini? Ariesta bosan?? Dan itu artinya, dia malas nyatat? Aku sih emang daritadi bosannya,. Kurasa aku wajar merasakan bosan. Justru yang ga wajar itu adalah ketika aku dengan semangatnya mencatat materi dari Bu Neni dengan tulisan super rapi mengalahkan ketikan komputer. Itu baru ga wajar. Lalu, ketika Ariesta, anak paling rajin yang pernah kukenal, merasakan kebosanan yang sama sepertiku, itu adalah ketidakwajaran. Apa dia terjangkit virus malasku?
Bukan hanya aku, Suci, Denada, Kartini, Reni, Emi, Nina, dan sekumpulan anak-anak malas-catat-pelajaran-bu-neni-mendingan-juga-tidur lainnya yang mengeluh bosan jika Bu Neni sudah beraksi mengeluarkan dikte-annya. Speechless gua.

"Gambar aja Ta. Biasanya kamu ngegambar lok.. Gambarin orang muka suram aja"

Ariesta menyanggupi permintaanku. Sret sret sret tsah. Goresan lincah pulpennya menghasilkan gambar wajah suram sesuai yang aku inginkan. Aku manggut-manggut.
Gak lama kemudian, Ariesta gambar lagi. Dia gambar pocong, asli serem abis. Pertamanya aku kaget bergidik ngeri, habis itu ketawa. Mirip banget eh haha.
Aku menoleh ke belakang, dimana tempat Reni dan Kartini duduk sebangku. Refleks ku sodorkan ke Reni.
Seperti yang kuduga, Reni langsung histeris ngeliat gambar pocong itu. Aku, Ariesta, dan Kartini cekikikan ngeliat wajah ketakutan Reni. Beneran lucu eh, dia ga teriak tapi bahasa tubuhnya tu nah bener-bener menggambarkan kalau dia takut banget.

"Gambaran aja tuh Ren.. Gpp aja tuh.." Kartini menenangkan, dengan muka menahan ketawa.

"Ih ndamau nah ih  pocong"

Ariesta mulai keluar jahilnya. Ditarohnya tissue pocong itu di depan Reni, di kotak pensil Reni, di pinggir meja. Kartini lebih parah, dia langsung menggulungkan tissue di pergelangan tangannya, kayak pake gelang itu. Trus tangannya dihadapkan ke Reni. Reni ketakutan banget. Mukanya itu nah, lucu, ga bisa dijelaskan deh. Kami ketawa ngakak sampai pulangan. Ariesta sampai bercucuran airmata ngeliat Reni. Dia jahil banget, makin Reni takut makin jadi dia. Aku sih cuma bisa nyumbang ketawa paling keras. Ariesta kayaknya udah lupa sama kebosanannya tadi.

Besoknya, Ariesta tampak tekun di mejanya, pagi pagi belum masukan kelas. Seingatku ga ada PR buat hari itu. Rasa penasaran mendorongku.

"Lagi ngapain Ta?"

"Lagi bikin pocong-pocongan buat Reni, haha"

Kreatif sekali. Dia bikin pocong mini dari tissue, terus digambar, terus diikat pake karet rambut yang kecil-kecil warna hitam. Ketawa ngakak lagi deh. Reni tambah ketakutan. Belajarnya jadi ga tenang. Terus-terusan dia nutupin mukanya pake buku, biar ga saling berpandangan dengan pocong mini buatan Ariesta. Reni lucu banget kalau ketakutan, pikir kami. Gelegar suara tertawa kami terdengar sampai ke penjuru kelas, membuat anak-anak lain menatap aneh.

Reni memang anti banget sama yang namanya hantu. Mending setan katanya daripada hantu. Lagu Gloomy Sunday-nya Billie Holiday, yang konon katanya mengandung kutukan bunuh diri, dia takutkan. Di saat aku, Chintya, Dina, dan Dea asyiknya mendengarkan alunan lagu itu, dia malah mengungsikan diri. Kutukan itu hanya mitos, buktinya ga ada satupun dari kami yang mati konyol karena sebuah lagu. Awalnya memang nyeremin sih, suara penyanyi menggema gitu. Aura mistis mulai teras begitu lagunya diputar. Lama kelamaan lagu itu betah di kuping, bikin ketawa. Kami mencibir mitos yang ada.  Tapi tidak pada Reni, dia masih keukeh takut sama lagu. Kami puas deh ngeliat muka ketakutan Reni. Bukan maksud mau mengolok, itu jadi hiburan tersendiri sih. Mukanya tu nah bikin orang ketawa ngakak sampai tenangis. Singkatnya, ketakutan Reni adalah hal yang menyenangkan bagi kami.

Padahal ku pikir, Reni itu ga kenal rasa takut loh. Dia berjilbab, anggun, ciri-ciri muslimah sejati gitu deh. Ternyata oh ternyata... Dia hobi ngelawak Dengan kata-kata spontannya yang langsung aja keluar dari mulutku, dengan selera humornya yg cenderung fresh, dengan ketakutannya. Kayaknya dia tuh takut sama segala hal deh. Habisnya, kalau cerita pocong dia takut, sama lalat dia takut (geli gitu dikerubungin lalat katanya), sama wig rambut dia takut (dia beranggapan wig itu terbuat dari rambut org yang sudah mati, dan segala makhluk hibup terutama manusia yg mati adalah hal yang menyeramkan baginya), sama suara gabus digesek (suaranya berdecit bikin kuping merinding, tapi bagi kami ga begitu), sama kucing hitam dia takut (aku juga takut sih sebenarnya, haha), sama bu tutik dia takut. Apa sih yang ga kamu takutkan tuh , Ren? Tanya kami serempak, membuat Reni cengir selebar-lebarnya.

Yang jelas, aku nganggap ketakutan Reni yang ga wajar (???!!) itu sebagai hiburan. Kalau lagi bete, begitu teingat histeria Reni yang takut sama pocong mini ataupun gabus yang digesekkan, aku sontak cekakak cekikik sendiri.

Reni oh Reni.. Muslimah penakut segala, muslimah unik :D

*maaf ya ren, ga maksud share aib kok, aku kagum aku kagum sangat sama kamu
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 22 September 2011

Kelas Dua = Masa Rekreasi

Kata orang, masa kelas satu dalam jenjang pendidikan itu adalah masa adaptasi. Lalu kelas dua adalah masa masa rekreasi. Kelas tiganya? Ah aku lupa.  Intinya masa masa kelas tiga itu masa perbaikan diri, entah apa namanya. Dikatakan masa adaptasi karena di masa itu kita memasuki lingkungan sekolah yang baru, sistem belajar mengajar yang baru. Ngerasa kaku, taat, patuh, rajin, karena takut kena hukuman yang ketat plus ribet. Adaptasi dengan kakak kakak kelas dengan berbagai macam watak, dengan beraneka ragam guru killer . Adaptasi dengan teman-teman baru. Menurutku, masa adaptasi kelas satu sangat menyenangkan.

Aku mulai sadar kalau di kelas dua ini aku adalah makhluk pemalas, ketika aku dipasangkan oleh Yang Maha Kuasa sebangku dengan cewek berjilbab bernama Ariesta Rachmadillah dari kelas X Ap 1. Dia sumber makanan bagi anak-anak AP  yang kelaparan di jam istirahat yang malas ke kantin, singkatnya dia menjajakan makan siang untuk anak anak AP dari kelas ke kelas. Aku adalah salah satu pelanggan setianya. Dia memang rajin, ulet, tekun, ciri ciri wirausahawanita banget deh pokoknya. Berhubung aku ga sekelas sama dia waktu itu, aku taunya dari kisah kisuh anak sebelah aja.

Waktu hari pertama turun sekolah kenaikan kelas, aku memasuki kelas dengan langkah gontai. Sedih sih, dinyatakan ga sekelas dengan Dea dkk. Nina sekelas denganku. Aku sudah terbiasa ga sekelas sama dia. Malah aneh kalau kami sekelas. Bersaing dengan sahabat sendiri rasanya agak berat. Ditambah lagi dengan tangisannya yang semerbak begitu dia tau kalau ga sekelas dengan bubuhannya waktu kelas satu. Dia sedih banget ya kayaknya, jarang-jarang banget dia nangis kejer kayak gitu. Sekelas sama aku mungkin dia biasa aja. Bikin aku jadi tambah miris ngeliatnya. Sudah ga sekelas ama Dea, Dina, Chintya, dan Eka , ga dianggap lagi sama Nina. Ah sudahlah, itu bukan masalah. Toh nanti aku juga terbiasa kan.

Pertemuan kami terbilang aneh. Awalnya aku memilih duduk di belakang, Karena hanya tempat itu yang tersisa. Padahal aku pengen duduk di depan, melestarikan kebudayaan duduk-di-depan-merupakan-siasat-jitu-menjadi-beken-di-kalangan-guru yang sudah mengakar sejak SD. Eh pernah sih aku duduk di belakang, tapi ga di belakang-belakang banget sih, kalau ga salah di baris keempat dari depan. Kan bangku berderet sepanjang lima sampai enam urutan atau baris dari depan. Kalau dari samping kanan atau kiri sekitar empat baris. Waktu SD kelas 6 aku duduk di baris pertama dari depan urutan ketiga dari samping kiri. Kelas satu SMP aku duduk di belakang, baris keempat dari depan urutan kedua dari samping kanan. Kelas duanya, sama kayak waktu SD. Kelas tiganya, aku duduk di baris pertama dari depan urutan ketiga dari kanan. Kelas satu SMK, aku duduk di pojok kanan dan tentu saja duduk di depan. Cukup menarik kan sejarah dari pelestarian tradisi serta kebudayaanku itu? Cekacekaceka ga penting ah, balik lagi ke main topic. Nah tepaksa ai aku duduk di belakang itu, paling belakang urutan kedua dari kanan. Di sela dumelanku tentang tempat duduk yang ga pewe itu, tiba-tiba Reni datangin aku. Dia bilang kalau lebih baik duduk di depan aja. Ku tengokkan kepalaku ke bangku depan, dan kudapati Ariesta duduk sendirian. Ih ren, aku udah terlanjur duduk di sini. Dialog antara aku dan Reni terpecah oleh tiga cewe teman sekelas kami dulu. Salah satu dari mereka ingin duduk di sebelahku. Dua lainnya mengambil dua bangku, dan diletakkannya di belakang bangkuku. Aku hooh hooh aja. Tapi aku sadar kayaknya aku kurang nyaman kalau duduk sama mereka. Soalnya mereka tipikal cewe-cewe metropolis yang kerjaannya mengurusi kecantikan diri bukan nilai raport. Sudahnya aku bobrok kayak gini, kalau duduk sama mereka tambahnya ai bobrok. Aku nekat memanggul tas dan meluncur ke bangku depan, duduk di sebelah Ariesta.

Hari pertama, kami saling canggung.  Say hello sekedarnya.
Hari kedua, aku kebablasan ketiduran di kelas seperti biasa. Dia speechless. Kayaknya agak ilfeel  sama aku.
Hari ketiga, aku ngegosipin Bu Tuti sama Reni sambil cekakak-cekikik. Lantas dia mengetukkan meja pake pulpen, menepuk pundakku, dan bilang “Sssttt diam, Ibunya lagi ngomong”. Mendadak aku balik badan menghadap Ibu Tuti. Mencoba konsen. Reni masih keukeh melanjutkan cekakak-cekikiknya.
Hari keempat, LKS IPS ku ketinggalan. Dengan santainya aku ongkang ongkang kaki dengerin lagu, sedangkan dia ngerjakan tugas LKS IPS. Bayangkan aja,  seorang cewe berambut sebahu berantakan tampak asyik manggut-manggut dengerin lagu hentakin kaki, dan disebelahnya terdapat seorang jilbaber yang tekun mengerjakan lembar demi lembar LKS, yang sesekali merasa terusik dengan senandungan false dari cewe disebelahnya. Kontras banget.
Hari kelima, aku minta izin buat tidur sampe jam istirahat ke dia, supaya rasa ilfeel-nya ke aku jadi agak berkurang. Aku gatau itu ngaruh apa nggak, yang jelas aku ga mau dia tiba tiba pindah ke lain bangku.

“Ta, aku tidur ya, bosan nah gak ngapa-ngapain.” Tuturku sesantun mungkin ( santun? —‘ ). 

“Kamu tidur terus dari kemarin. Tidur jam berapa kamu?”

“Mmmh aku ga tau Ta, pokoknya pas Bukan Empat Mata udah habis tu nah, baru aku tidur..”



“Astaghfirullah, itu jam setengah 12. Pantesan aja. Aku juga sering tidur jam segitu.”



“Hah? Wah sama dong kita. Tapi kamu kok tahan ya ngantuknya?”


Bukannya tidur, malah asik ngobrol sampai istirahat –‘

Hari keenam, Pak Sudio lagi show di depan kelas. Mempertunjukkan pelajaran bahasa inggris yang have fun itu. Ariesta tampak lesu mengikuti pelajaran. Disaat jari jemariku lincah berselancar di lembar jawaban LKS, dia hanya terpekur diam. Ga biasanya dia diam gitu, biasanya ada aja yang dikerjainnya kalau pelajaran sedang berlangsung. Ternyata dia kurang memahami pelajaran bahasa inggris. Dan dia terlihat lebih unggul dalam pelajaran matematika dibandingan aku. Wah, kami terlihat sangat kontras sekali. Tau aja kan kalau aku lemah melemah dalam hal mematik-matika. Sejak saat itu, kami jadi saling melengkapi. Kalau aku kesusahan ngerjakan matematika, dia bantuin aku. Aku pun juga gitu. Walau aku ngerasa masih kalah rajin dibanding dia~~~

Keenam hari itu mengawali persahabatan kami hingga sekarang. Sudah ga kerasa hampir empat bulan aku duduk sama dia. Sekarang kami mulai tau pribadi masing-masing. Dia tau sifat pengantukanku, sifat nyablakku, cerobohku, paniknya aku, kadar malasku yang naik turun. Di dirinya, banyak sisi lain yang bisa aku temukan, yang sebelumnya ga pernah ku duga. Seperti layaknya kubus yang punya banyak sisi, Ariesta punya banyak sisi yang dilengkapi oleh rusuk-rusuk jilbab anggunnya. Ariesta punya tawa lepas dibalik senyum manis kalemnya. Ariesta punya jiwa jahil yang tinggi di setiap ide-ide spontannya di kala bosan sedang melandanya. 

Aku ga nyangka dia bisa tertidur di saat istirahat, mengikuti jejakku. Dia ga pelit, rela membagi bekal makanannya sama aku. Sukses, aku menghabiskan separo bekalnya. Enak banget nyam nyam. Untung aja dia berbaim hati berlapang dada menerima kenyataan kotak bekalnya habis tak bersisa. Di saat bosan nyatat pelajaran Bu Neni, dia gangguin Reni sampai bikin aku dan Kartini ngakak. Ntar yang ini aku ceritain di postingan selanjutnya yaa.

Aku kadang iri dengan sifat ulet dan rajinnya. Pengen niru sih, tapi apa daya. Oh iya, di samping itu, dia juga teguh dalam berpendirian. Ga seperti aku yang plin plan dan lelet.
Banyak sifat yang ga ku punyai, ada pada dia. Aku kagum loh sama kamu, Ta.

Aku harap, masa-masa kelas dua ini dilewati dengan rekreasi yang menyenangkan sampai akhir. Bukan menyenangkan, mungkin lebih tepatnya rekreasi yang bermanfaat. Bermanfaat dalam artian dapat membuatku menjadi anak yang rajin, yang lebih baik. Yang ga mikirin senang2 nya aja. Jujur aku ga mau ngulang masa-masa kelas dua waktu SMP dulu. Kelam abis soalnya. Isinya hanya manian, ngeluyur, ga ngerjain PR, tidur di kelas, pacaran (hiks hinanya). Aku jadi ngerasa minder berdampingan dengan Ariesta. Setiap dia nanya "Udah ngerjain PR kah cha?", dengan wajah polosnya, rasanya aku tertohok. Malu eh, dan kenapa ya pas dia tanya itu pasti aku belum ngerjakan PR. Rasanya pas banget gitu nah. Aku jadi terpacu untuk rajin ngerjain PR. Awalnya karena ga pengen keliatan payah di depan Ariesta. Lambat laun aku pun menyadari bahwa PR adalah kewajiban seorang murid untuk mendapatkan haknya berupa nilai bagus. Virus rajin Ariesta menjangkitiku. Merusak sistem kekebalan malasku. Aku sadar sekolah bukan mainan, bukan tempat pelarian dari jenuhnya berada di rumah. Bukan, bukan itu lagi. Sekolah tempat bersaing, tempat berebut ilmu, yang tentu saja dengan cara sportif. 

Kelas dua memang benar-benar masa rekreasi. Jalan-jalan meniti ilmu, merajut tugas sekolah yang perlu diselesaikan, menikmati pemandangan berupa nilai bagus yang terpampang di raport.
Makasih Ariesta, kamu buat masa-masa rekreasiku jadi menyenangkan dan bermanfaat.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 19 September 2011

Disiplin Dengan Denda, Lebayatun Abis~~

Begitu memasuki kelas, aku, Reni, dan Kartini dikejutkan oleh kertas yang ditempel di pojok kanan, tepat dekat rak sepatu. Kami membacanya perlahan, lalu diakhiri dengan jeritan histeris serempak. Isinya begini, "Charger handphone di kelas atau di sekolah DENDA Rp 3.000,-". Belum habis keterkejutan kami, lengkingan Nia terdengar di seantero kelas, mengultimatum Puji dan Yuni agar melepas sepatu mereka. Grasak-grusuknya anak-anak kelas XI AP 2 lainnya dalam memperbaiki letak helm yang semulaya ditaroh dengan pewe dibawah lantai. Aura kedisiplinan mulai tercium kuat menusuk hidung. Ada apa dengan kelas ini? Dimana kenyamanan, kebebasan, dan keberingasan yang selama ini mengakar?

Tak sampai disitu, Bu Neni dengan lantangnya mengumumkan suatu gebrakan baru untuk menyongsong kemajuan XI AP 2, yaitu DISIPLIN DENGAN DENDA. Bagi siapa saja yang berada dalam lingkup XI AP 2 (kecuali guru) yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan, akan dikenakan sanksi berupa denda. Pelaku-pelakunya akan dicatat dan diarsipkan oleh Nia selaku sekretaris kelas. Uang denda masuk ke kocek uang kas kelas yang diamanatkan Bu Neni kepada Nuri. Apa saja peraturan tersebut, tarif dendanya, beserta seluk beluk lahirnya peraturan tersebut? Kita saksikan setelah pesan-pesan berikut, tetap di On The Spot. Eh, lihat di bawah ini :

*)Tidak piket nyapu kelas DENDA Rp 10.000,-
Denda ini digalakkan karena seringkali banyak yang mangkir tugas piket nyapu kelas. Main kabur gitu aja. Malas, itu alasan utamanya. Aku pun suka rada malas kalau udah ingat jadwal piket yang mencantumkan namaku. Ingat jadwalnya aja malas apalagi ngelaksanainnya. Eh tapi aku nyapu kok, daripada dipelototin Nia mendingan ngalah sama kemalasan diri. Ya cuman nyapu sekelebat gitu, ga sampe 10 menit. Pengen cepat-cepat pulang sih haha.

*)Tidak lepas sepatu ketika masuk kelas DENDA Rp 5.000,-
Kelas XI AP 1 dan XI AP 2 terkenal akan kebersihan kelasnya, karena pada saat belajaran sepatunya dilepas. Jadi, kami ga pakai sepatu saat di kelas, sehingga lantai so putih so bersih hanya so klin pemutiiiiihhhh. Kebiasaan itu dilestarikan meski dengan wajah-wajah ga ikhlas. Masalahnya, sebagian dari kami malas melepas sepatu. Udah terlanjur menempel di kaki lah, takut kaos kaki kotor lah, ribet kalau mau keluar kelas harus pasang sepatu lagi lah. Alasan-alasan dengan label malas itu pun kini berusaha ditebas dengan peraturan diatas.  Bagus sih, kita jadi tertib nan disiplin.

*)Charger hape di kelas DENDA Rp 3.000,-
Mungkin karena menjamurnya pemakai BB di kawasan XI AP 2, peraturan ini ditetapkan. Tiap menit tiap detik, stop kontak di pojokkan kelas selalu penuh dengan jejeran hape BB dan sepanjangan kabel charger. Aku rada ngerasa ganjil dengan peraturan ini. Menurutku, hape BB kan boros baterai, jadi wajar aja lah di charge terus. Toh, kegiatan pen-charger-an BB ga mengganggu proses belajar mengajar kan? Masih bisa belajar dengan tenang kan kalau ada BB tergeletak sedang di-charge?
Kenapa harus pake DENDA? Apa karena pemakaian listrik sekolah jadi boros gara-gara hadirnya BB? Hmm.. atau karena si penetap denda itu rada envy ngeliat orang-orang pemakai BB asyik men-charge? Sstt.,. malah su'udzon.
Yang perlu ditanyakan, bagaimana dengan hape-hape berkasta jelata seperti hapeku? Kalau baterainya low, mau nge charge dimana lagi? Ah, cuma Rp 3.000,- aja kok #sombong

*)Sepatu tidak ditaroh rapi DENDA Rp 5.000,-
Meski peraturan ini sudah berjalan dari kemarin, masih banyak yang mucil menaroh sepatunya sembarang tempat. Aku adalah salah satu dari sekian anak-anak muci itu. Taroh sepatu di depan pintu, di pojok belakang, di bawah kursi. Melihat hal itu, Bu Neni selaku wali kelas menyuruh kami supaya sepatu dikasih label nama, kemudian diabsen supaya terdeteksi siapa-siapa aja yang naroh sepatu sembarangan. Haaaah lebay ya? Kami bakal tertib kok tanpa pemberian identitas diri di sepatu kami. Masih ga cukup denda? ~~

*)Penyusunan helm tidak rapi DENDA Rp 2.000,-
Rasanya ga ada tempat lagi buat menaroh helm secara rapi. Meja dan bangku sudah pada dipake. Maka dengan terpaksa helm-helm kami dihamparkan ke seluruh penjuru lantai pojok belakang. Ga rapi? Ah, ga juga. Palingan agak terbolak-balik yang mana depan yang mana belakang. Sangat mengganggu kah? Ah, manaada. Pake denda segala, lebay banget. Makin ga wajar aja peraturannya.

Meneliti peraturan-peraturan lebay di atas, aku jadi prihatin. Rasanya anak TK ga gini-gini banget. Kenapa ga sekalian aja ditambah-tambahi peraturan baru biar makin perfect kelas XI AP 2 #bweeekk. Ini dia, hasil pemikiran iseng dari aku, Reni, Ariesta, dan Kartini.
1. tidur di kelas DENDA Rp 20.000,-
2. makan di kelas DENDA Rp 10.000,-
3. ngobrol di kelas DENDA Rp 5.000,-
4. ngerjakan PR DENDA Rp 20.000,-
5. izin ke toilet pada saat belajaran DENDA Rp. 5.000,-
6. ketawa sampai gigi keliatan DENDA Rp.Rp 6.000,-
7. main hape di kelas DENDA Rp 10.000,-
8. nangis DENDA Rp 8.000,-
9. ngupil DENDA Rp 2.000,-
10. nguap DENDA Rp 3.000,-
11. minjam tipe-x DENDA Rp 20.000,-
12. bawa bekal DENDA Rp 5.000,-
13. nginjak lantai DENDA Rp 4.000,-
14. foto-foto di kelas DENDA 7.000,-
15. nyanyi DENDA Rp 5.000,-
16. buang angin DENDA Rp 10.000,-
17. bernafas DENDA Rp. 10.000,-

Tuh, ditambahin 17 peraturan lagi, biar makin lebay, biar makin disiplin, biar makin pinter, biar cepat lulus!!
Peraturan kok mencekik gini? Kelas XI AP 1 sampe ketawa ngeliat segudang peraturan beserta dendanya. Dea jadi rada malas ke kelasku. Iya sih, kalau aku jadi Dea aku juga bersikap yang sama kayak dia. Malas banget ngeliat peraturan yang menghibaki kelas. Mau perfect kok kesannya maksa ya?

Disiplin itu kan kesadaran dari dalam sendiri, bukan dari denda
Sekian.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 18 September 2011

Gugup Itu Wajar, Bahkan Untuk Guru Sekalipun

Ada yang berbeda di hari Kamis kemarin. Di jam 3-4 yang harusnya diisi oleh Pak Falah, guru seni budaya, malah diisi oleh Bu Yayuk, guru matematika. Aku rada bersyukur, karena otomatis pelajaran seni budaya ditiadakan pada hari itu. Yeaah, dulu aku memang suka seni budaya, tapi seni budaya waktu kelas X itu mengenai teater, makanya aku suka. Lah kalau seni budaya yang sekarang di kelas XI ini, gambar menggambar boo. Aku lemah dalam soal itu. Mencocokkan warna aja aku ga fasih, apalagi membuat sebuah gambar. Ditambah dengan gurunya yang masih kalah asyiknya dibanding Bu Ida, guru seni teater Aku juga ga suka pelajaran matematika. Anti banget, lemah banget. Tapi, berkat hadirnya Bu Yayuk, aku mulai membuka hatiku buat matematika. Ibunya baik sih, ramah, murah senyum, masih berumur kepala dua, cantik, imut-imut pula. Cara ngajarnya juga gape, mudah dimengerti. Apalagi waktu kelas X, ibunya jadi wali kelas X AP 2. Mengayomi, menyayangi, mengabdi. Seringkali jadi pelacur (pelabuhan curhat) murid-muridnya. Aku benci matematika, tapi aku suka Bu Yayuk.

Lanjuttt. Bu Yayuk ngajar di jam Pak Falah karena akan ada pengawas dari Jakarta, yang akan mengawasi ibunya dalam mengajar. Bu Yayuk dalam masa training, mengingat umur ibunya yang masih muda itu. Sorot kamera dari kiri kanan depan belakang #tsaaaah menyemarakkan kelas kami. Kami sibuk bertanya sana sini.

Bu Yayuk pun masuk kelas, diiringi dengan dua pengawas berjenis kelamin laki-laki bertampang wibawa. Tak ada gurat senyum seperti yang biasa ditunjukkan Bu Yayuk setiap memasuki kelas memulai pelajaran. Yang ada malah sebentuk wajah gugup. Para pengawas itu mengambil tempat duduk paling belakang kemudian menegakkan kepala mereka menghadap ke depan. Suasana menjadi tegang. Harusnya kami bisa bebas mengekspresikan diri lewat kamera yang bersorot. Tapi nyatanya, kami cuma diam. Salah-salah gerak bisa membuat nilai Bu Yayuk jadi jelek.

Tumben banget ibunya salah-salah ngomong. Beberapa kali Bu Yayuk salah menyebut angka ini, jumlah itu. Pas kami ditanya ini itu jawabannya apa, kami malah diam terpaku. Sebenarnya soalnya gampang bangte, tapi bibir mendadak kelu. Takut gitu nah. Mana pengawasnya langsung maju kedepan, mengkritik hasil hitungan Bu Yayuk yang salah. Ga biasanya banget Bu Yayuk begitu. Sumpah down abis.

Nia pun diberi amanat Bu Yayuk untuk maju ke depan, membuat titik potong kah kalau ga salah. Kami pikir Bu Yayuk tepat memilih Nia untuk maju ke depan, untuk memperlihatkan anak-anak X AP 2 itu pintar dan percaya diri. Ah ternyata salah. Nia malah nanya-nanya ke sana kemari, seolah-olah dia gatau titik potong itu apa. Ini panjang kah, itu pendek kah, trus kalau dikasih tau malah ngedumel-dumel sendiri. Kami, termasuk aku dan Reni,mengernyitkan dahi. Inikah anak yang dibangga-banggakan karena kepintarannya? Bu Yayuk cuma bisa mengurut-ngurut kepalanya sambil menahan senyum miris.

Eh Nia malah bikin garis-garisnya doang, ga diselesaikan titik-titik potongnya. Aku menghela nafas. Pengen ketawa tapi kok jahat banget ya keliatannya. Reni melirikku, habis itu langsung ketawa. Jadi ikutan ketawa juga deh. Tiba-tiba Bu Yayuk menyodorkan penggaris dan spidol ke depanku. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan aku agar maju ke depan menyelesaikan soal di papan tukis itu. What?  Disuruh ngerjakan soal matematika? Eh ganti pertanyaan, Kenapa aku yang disuruh ngerjakan soal itu? Padahal ada Audya, ada Reni, ada Emi, ada yang lain yang pasti ga bakal bikin malu Bu Yayuk. Aku kan lemah di matematika. Sudah kepalang basah, akhirnya aku maju dengan tangan gemetar, menggoreskan spidol membentuk titik potong. Huufh semoga ini benar titik potongnya, doaku tulus. Aku menatap Bu Yayuk, dan beliau tersenyum tanda jawabanku itu benar. Pake bilang kalau aku pintar lagi. Hahaha, tingkat kepedeanku menggelegak. Lumayan lah, citraku jaid baik di mata para pengawas beringas itu #uupssss. Aku kembali ke tempat dudukku dengan senyum kemenangan, karena telah mengungguli Nia meski  ga seberapa.Sombong dikit boleh ya?

Para pengawas pun mulai bergegas, mengingat waktu mengawas mereka telah habis. Salah seorang dari mereka maju ke depan, menunjukkan nilai yang didapatkan Bu Yayuk. 90 nilainya. Nice.  Kami berdecak kagum. Padahal beliau dan termasuk kami juga sih, ngerasa kalau pertunjukkan matematika kami kurang memuaskan. Mungkin karena Bu Yayuk cantik kali ya, haha

Kelar semua. Bu Yayuk langsung curhat sama kami begitu para pengawas itu melenggang keluar kelas.. Lelah, letih, lesu, lunglai #iklansangobionlewat. Dirasakan Bu Yayuk begitu gugup. Beliau bilang kalau bahan-bahan buat presentasi ngajar matematika hari itu dipersiapkan dadakan. Dadakan banget, itu pun bahan presentasinya bukan dari laptop Bu Yayuk, tapi laptop Pak Falah. Habisnya Pak Falah tiba-tiba ngasih taunya ga jauh-jauh hari. Laptop Bu Yayuk habis baterainya. Pantas aja agak gagu Bu Yayuk tadi. Bu Yayuk sempat kaget begitu lihat nilainya 90. Bu Yayuk menceritakan semua itu dengan gelak tawanya yang khas, dan tentu  saja dengan senyumnya yang manis. Oh Bu Yayuk, Ibu tetap cantik meski keringat dingin gugup begitu #eaaaa

Seorang guru, yang profesional sekalipun, tetap merasakan apa yang namanya kegugupan. Ketakutan. Keraguan. Untuk melakukan suatu  hal pertama kali, kegugupan tak luput. Gugup itu normal. Jangan pernah menyepelekan orang yang lagi gugup. Pelecehan itu namanya.

Dan bersyukurlah bagi yang masih merasakan kegugupan, karena guggup menunjukkan kita takut untuk melakukan kesalahan, sehingga kita terpacu berusaha untuk jadi yang terbaik :)
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 14 September 2011

Mari Tertawakan Diri Sendiri

Tadi pagi aku ngeliat pemandangan yang ga biasa. Nuri dikelilingi tiga sahabatnya, duduk berkelompok sambil bergosip ria. Itu yang ga biasa? Bukan, bukan itu. Yang ga biasa itu airmata yang mengucur deras dari muka Nuri. Mulutnya komat-kamit menceritakan sesuatu, sesuatu yang seolah-olah beratttttt banget baginya. Ada apa ya sama dia?

Anak imut yang terkenal rajin itu, terkenal juga dengan reputasinya sebagai anak osis yang saban hari jumat kowar-kowar hijrah dari kelas ke kelas buat minta sumbangan. Dia ga sendiri, ada tiga teman yang menemaninya. Ada Nia, si cewek berjilbab berjiwa kepimpinan tapi cenderung gegabah, jago dalam pelajaran bahasa inggris. Nabila, rambut melewati bahu dan senyum ramahnya membuat dia mudah dikenali. Dia juga pake kacamata. Lalu Selvi, aku sama sekali ga nyangka kalau dia masuk dalam 'perkumpulan' pintar itu. Aku ga bermaksud merendahkan dia kok. Aku cuma ngerasa ada yang kontras ada. Dulu aku pernah satu sekolah satu kelas sama dia waktu SMP. Seingatku, dulu dia suka berkumpul dengan anak-anak yang cantik, tenar, impian semua cowo deh. Dia anak berada, dancer, cantik... Tapi sekarang dia ga bergaul dengan anak-anak semacam waktu dia  SMP. Baik, ga sombong lagi. Sedangkan Nuri, nah seperti yang udah ku bilang sendiri, Nuri itu rajin. Mereka adalah sekelompok anak pengejar nilai tinggi dan perhatian ekstra dari guru-guru mata pelajaran apapun.Mereka semua anggota osis. Lantas akau berpikir, apa mereka sempat memikirkan cinta? Kurasa waktu mereka telah habis separonya untuk memanjakan buku-buku pelajaran. Lalu, apa yang membuat Nuri sampe nangis sesenggukan kayak gitu? Sampe merempet-rempet ke masalah smsan-smsan lagi. Apa ada masalah keluarga? Keuangan? Persahabatan? Atau... cinta?? Jiwa kewartawananku sontak bangkit.

Dea pun beramsumsi. Pasti itu masalah cowo, cowo, cowo. Nuri putus sama Danimo, itu dugaan Dea, dan tentu jadi dugaanku dan dugaan anak-anak lainnya. Suudzon itu ga boleh sih, tapi faktanya bener-bener nunjukin kalau Nuri lagi galau karena cintrong. Nangisnya jingkar, trus habis nangis malah makan nasi campur. Benar-benar gejala kalau orang capek nangisi cowok terus  (apa hubungannya coba?)

Disini aku ga bermaksud ngomongin Nuri. Nuri itu sumber inspirasiku dalam memulai paragraf postingan blogku ini #tsaaahhh. Gini loh, aku ngerasa aneh aja, ganjil, dan sebagainya lah. Ketika ngeliat orang nangis karena kehilangan uang dengan ketika ngeliat orang nangis karena habis putusan, beda loh sensasinya. Pertamanya samasama ngerasa simpati, trus berusaha buat nenangin sebisa mungkin, ngebiarin dia tenang dulu sampai dia ga nangis lagi. Kalau bisa coba kasih solusi yang tepat. Tapi bedanya, kalau ketika teman kita kehilangan uang, habis nangis dia akan sadar kalau uang itu ga akan kembali, meski udah berusaha sebisa mungkin, seperti lapor ke polisi, konsultasi ke dukun (iihh syirik). Toh buat apa ditangisin kan? Nah kalau liat teman kita yang kehilangan pacarnya, dia akan terussssss aja nangisin pacarnya itu, mengeluh, begalau, merutuki, ngomong kata-kata kasar. Kita yang dengar jadi bingung kan? Padahal teman kita itu udah jelas-jelasnya tau kalau pacarnya itu jahat, pengkhianat, ga gentle, ga bakal kembali, bukan jodoh, tapi keukeh aja ditangisin sebegitu rupa. Udah dibilangin jangan jangan nangis, tetap aja mucil. Bodoh, lucu, alay! Nangis terus! Kayak anak kecil! Mau-maunya ai nangis terus-terusan, emang ga ada kah cowok yang lebih dari dia? Pikirku

Haha, aku jadi serasa ngomongin diri sendiri ya? Aku ini mucil, ga bisa dibilangin. Masih bersikukuh nangis aja, padahal udah dilarang mati-matian. Bodohnya, aku menangisi hal yang sama. Obyek yang sama.Mungkin bukan hanya aku yang begini, teman-temanku juga begini kan. Remaja lumrahnya begini kan?  Selalu identik dengan cinta. Cinta yang belum matang, makanya nangis terus. Lantas, ketika aku menangis kayak Nuri tadi, kenapa aku ga nyadar kalau hal itu menjijikan. Aku tersenyum menahan tawa miris ketika melihat orang nangis karena putus cinta, sedangkan aku sendiri? Ketika aku nangis, aku seakan sudah lupa semuanya. Lupa setiap pendapat orang lain, tawa orang lain yang menertawakan kebodohanku. Aku yang lebih bodoh! Apa bedanya aku dengan Nuri, kami sama-sama menangis hebat kayak gitu kan? Ga usah ngetawain tangisan orang, Cha!

Mungkin Nuri akan lupa tentang masalahnya setelah dia nangis kayak tadi. Dia jauh lebih tegar dari aku. Menangis sepuas-puasnya sampai lega, setelah itu hilang ingatan mengenai masalahnya. Bukan seperti aku, menangis dengan airmata tertahan, bersembunyi di balik rintik hujan dan bantal guling kala malam. Tak pernah ku habiskan. Selalu ku sisakan untuk malam besok dan besoknya lagi. Mungkin Nuri akan dapat solusi dari permasalahannya. Dan aku, dapat juga. Tapi berbeda. Memang betul ya pepatah bilang semut di sebarang nampak, gajah d pelupuk mata tak tampak. Huaaa aku ga mau jadi bodoh lagi TT

Sebisa mungkin aku akan coba memandang positif dari segala hal, yang baik maupun yang buruk. Agar aku ga menangis lagi. Tertawa itu sepertinya membuat semuanya lebih mudah.
Mari tertawakan tangisan konyol itu sendiri !
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 13 September 2011

Saatnya Untuk Egois

Anak SMK identik dengan PSG, atau yang lumrah disebut dengan PKL. Seperti layaknya anak kuliah yang pasti melaksanakan PKL, anak esemka juga gitu. PKL itu singkatan dari Praktek Kerja Langsung, yang artinya kita belajar sambil bekerja. Sekolah di SMK berbeda dengan bersekolah di SMA. KIta diberi  ilmu pembekalan untuk terjun ke lapangan kerja langsung.Anak SMK kebanyakan langsung bekerja setelah lulus. Nah, PSG untuk anak SMK hukumnya wajib. Bekerja selama tiga bulan hingga lima bulan di tempat yang sesuai dengan jurusan yang ditekuni. Sudah pasti cuti sekolah selama masa PSG itu.  Biasanya dilaksanakan pas kelas XI semester dua bulan januari. Tiap sekolah beda-beda sih kapan PSG-nya, ada yang sama kayak di SMK ku, ada yang bulan agustus kemaren, ada yang pas kenaikan kelas XII. Banyak cerita yang beredar kalau PSG itu digaji, tapi tergantung perusahaan/kantor/instansinya sih.

Aku sadar bahwa aku sudah kelas XI, dan aku sadar bulan Januari semakin dekat merayap. Teman-teman sudah pada sibuk cari sana-sini tempat PSG yang sesuai, meski sebagian besar masih acuh tak acuh. Merencanakan mau dimana, lalu menanyakannya, kemudian menyerahkan lampiran surat-surat, dan menunggu kepastian apakah diterima atau nggak. MIrip-mirip melamar kerja gitu.  Dari hal itu aku mulai mencium aroma kesibukan, dan... keegoisan.

Keegoisan???


Ya, egois. PSG membuat hati nurani tidak berpikir hal-hal yang menyangkut kebersamaan. Mementingkan diri sendiri. Gak, aku gak bermaksud menghakimi PSG. Aku cuma mencoba menjabarkan sisi lain dari pengaruh PSG. Tadi Dea bilang kalau dia mau PSG sama Reni. Aku sempat ngerasa gimana gitu. Satu kantor/instansi biasanya nerima anak PSG maksimal dua orang. Dan itu artinya, aku ga bisa satu kantor sama Dea dan Reni. Menyayat sih, serasa ditinggal gitu aja sama mereka.

Sempat dongkol ngedengar berita itu. Tapi aku lihat-lihat lagi, Chintya sama Kartini mau di kantor gubernur, Dina di kantor kakaknya. Dina dan Chintya terpisah, sama seperti aku dan Dea serta Reni. Ku cermati. Huufffhh, pikiranku sempit. Masa untuk soal beda tempat aja harus dijadiin masalah? Masa aku harus ngegalauin perpisahan sementaraku sama Dea dan Reni? Masa aku ga mau untuk coba fokus sendiri? Aku bodoh kalau aku menganggap mereka egois, itu pikiran sempit banget.

Oke, mungkin ini saatnya aku sendiri. Ada sih Jannah ngajak PSG bareng, tapi aku rada enggan eh. Aku udah tau seluk beluk wataknya. Dia itu pemalas, ga terorganisir (ini yang paling ga aku suka), jarang serius, suka bergantung sama kemampuan orang. Behh aku ga bisa ngebayangin kalau aku satu tempat PSG sama dia. Dia baik sih, tapi ya itu... Nanti dia tanya ini itu. Masih mending dia nanya terus dia mau ngerjakan sendiri. Kalau dia minta dikerjakan sama aku, gimana?? Wah betapa tersiksanya aku. Aku kan PSG buat mengejar nilai, buat cari-cari pengalaman. Bukan buat ngemong anak orang. Sudah terbukti kok kalau dia sifatnya begitu. Bisa dilihat dari dia yang hobi nyontek (sebenarnya aku juga sih, tapi ga separah dia lah masih di ambang batas kewajaran kok haha), malas nyatat, malas berpikir, hobi smsan. Embel-embel malas. Ntar jadinya malah menghambat kinerjaku kan. Eeeh kok jadi ngomongin orang sih. Inalillahi yah.

Jadi intinya, aku mau coba sendiri dulu PSG nya. Persiapkan mulai dari sekarang. Tadi aku udah minta bantuan Kak Dayah sama Ka Kris, dan alhamdulillah yah sesuatu banget mereka mau bantu. Sudah nanya-nanya juga. Katanya kerjanya di bagian admin gitu. Aku sudah mencalonkan kantor redaksi koran Tribun Kaltim dan DPU Cipta Karya sebagai cika bakal tempat PSG ku kelak. Aku sih ngarepnya bisa PSG di kantor redaksi Tribun, soalnya kerja di kantor redaksi itu adalah impianku. Apalagi kalau udah lulus, langsung kerja disitu. Jadi editor bahkan jadi wartawan.. Wah sesuatu banget :*

Mungkin ini bukan saatnya untuk memikirkan hura-hura bersama teman-teman. Fokus pada masa depan, fokus pada pilihan. Dea dan Reni sudah menentukan pilihannya, begitu juga dengan Chintya, Kartini juga Dina. Kami punya jalan masing-masing.  Tiga bulan tanpa kebersamaan yang selama ini rutin kami lewati. Harapanku, semoga aku bisa diterima di kantor redaksi itu. Aku sendiri, aku mandiri. Aku pengan kayak kelas VII waktu SMP duu. Kulalui semuanya sendirian, dan hasilnya malah lebih memuaskan ketimbang kerjanya keroyokan. Mending sendirian kan daripada PSG bareng simbiosis parasitisme?

Saatnya untuk egois. Egois untuk sesuatu yang benar itu ga salah kan?

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 08 September 2011

Kurasa Selalu Ber-Soundtrack

Benar-benar kayak film. Semuanya seakan sudah dirancang oleh sutradara maha agung yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dimainkan dengan apik oleh pemain utama yaitu aku dan Nur (eh kenapa nama ini lagi2 muncul?). Pemain pembantu yang terdiri dari Dea, Nina, Ando, keluargaku, orang-orang terdekat menambah ketegangan fim ini. Alurnya maju. Berakhir dengan happy ending, dengan mengorbankan pemain utamanya yaitu aku, maka happy ending. Film ini judulnya  RIP PASANGAN SINONIM

Eh, ini bukan 100% postingan tentang galau loh. Aku cuma sekedar mengenang hal-hal yang kurasa menyenangkan saat bersama dia. Siapa tau bisa jadi novel kan, hahahaha mimpi kaleee

Gini loh, aku ngerasa semua kisah kisuhku sama dia dipenuhi dengan lagu. Berhubung kami berdua suka lagu mancanegara (entah apa sekarang dia masih suka), terutama lagu-lagu lawas seperti lagunya Celine Dion, Whitney Houston, Shania Twain, Backstreet Boys, waaahh makin jadul. Lagu yang terbaru juga suka sih, cuman ya masih kalah bagus dibandingkan dengan lagu lawas. Lagu indonesia dia juga suka, tapi tertentu aja. nah sama banget kayak aku. Aku dan dia ga suka dengan band-band beraliran melayu. Maka dari tadi aku suka dengarin lagu bareng dia. Huaa teingat lagi TT
Uupss jangan nangis, ini kan postingan bahagia, mengenang hal-hal bahagia tentangnya, seperti yang dia pernah bilang ke aku. Jangan ingat hal yg membuatmu luka, gitu katanya. Kisah kami dipenuhi soundtrack, seperti layaknya film. Mau tau?

Waktu awal-awal jadian, aku lagi suka-sukanya sama lagunya Rihanna yang duet sama Drake, judulnya What's My Name. Ngerasa tiap liriknya ngegambarin apa yang aku rasakan. Aku acapkali menyanyikannya di kelas sambil mengitari bangku anak sekelasan, berputar-putar, ngibasin rambut. Bahagia banget bisa jadian sama orang yang benar-benar ga disangka. seolah Tuhan menurunkannya dari langit khusus buatku seorang. Dan lagi, aku ga nyangka dia memilihku sebagai pacarnya setelah sekian lama dia melajang. Ngerasa istimewa.......... banget. Rihanna aja kalah atraktifnya nyanyiin lagu itu dibandingkan aku.

Dari hari ke hari, perlakuannya makin bikin aku nge fly. Lagu You're Still The One-nya Shania Twain ngawang-ngawang di pikiranku. Setiap dengar lagu itu, aku selalu ingat Nur. Aku pernah kepergok Puji, lagi senyam senyum dengerin lagu itu dengan mata terpejam. Pas aku buka mata, muka Puji full tepat di depanku. Puas dia ketawa ngakak. Aku sih biasa aja, udah biasa diketawakan Puji. Kalau Dina, palingan geleng-geleng kepala aja kalau penyakit malarinduku kumat. Lagu ini menghantuiku sekitar tiga bulan awal-awal jadian. Lagu lawas sih tapi bagusssss banget. Isinya tentang pemujaan kepada yang terkasih menganggap bahwa dia adalah yang pertama dan terakhir. Kalau aku lagi kalap sama dia aku dengerin lagunya trus ga jadi marah deh. Dahsyatnya pengaruh sebuah lagu.

Gara-gara masalah saling cemburu kami sempat berantem. Aku tenangis pas dengar lagunya Whitney Houston yang I Will Always Love You. Nge jazz gitu lagunya. Aku ngerasa Nur bakalan ninggalin aku kayak yang digambarin di liriknya lagu ini. Kami memang sering meributkan hal-hal kecil. Habis berantem malah ketawa-ketiwi. Kadang aku nyesal kenapa tadi nangis sesengukkan nangisi dia --'

Because You Loved Me - Celine Dion
Awalnya aku ga begitu minat sama lagu ini. Tapi ketika dengerin lagunya bareng-bareng Nur, trus lama kelamaan akhirnya aku suka juga. Lagi-lagi soal lirik. Aku suka lagu ini karena liriknya bagus, ga begitu puitis sih tapi menyentuh gitu. Aku begitu bahagia dicintai oleh seorang yang kucintai, dan lagu ini sepertinya pas mewakili apa yang aku rasakan itu. Lagu kasmaran gitu deh. Dia pernah nyanyiin lagu ini  dengan gaya slengeannya. Aku ketawa-ketawa ngolok, sambil tersipu malu-malu kucing.meongg

Dulu aku berimpian kalau suatu saat ada cowok yang nyanyiin lagu Bruno Mars yang Just The Way You Are. Pernah dengar kan? Liriknya so sweet, pemujaan bener. Dan impian konyolku itu terwujud. Lagi-lagi dengan gaya slengean. Sontak aku ketawa ngakak ngeliat dia nyanyi tepat di depan mukaku. Aku bilang kalau suaranya jelek. Dan suara jeleknya itu sukses membuatku susah tidur. Iiihh tuh kan kangen lagi. Lagu yang jadi soundtrack betapa aku sayang banget sama dia, stadium empat. Aku sampe berimpian bahwa dia adalah orang yg pertama dan terakhir yang nyanyiin lagu itu. Bruno jelek ku.. Bweeeekkk

Lagu Naif yang Karena Kamu Cuma Satu, itu lagu yang bikin aku melting. Dia bilang itu lagu favoritnya. Dia nyuruh aku buat liat videoklipnya. Begitu terobsesi dia sama lagu ini, kayanya sih. Aku jadi suka senyam-senyum sendiri. Dia bilang kalau dia dengarin lagu ini, dia teingat aku. Hhh Nur, kenapa aku ga bisa cemberut kalau ingat kamu? Hahaha galauress!

Masa-masa sulit dan mudah kami lewati samasama. Mulai dari teror Indra, Mamaku yang sempat ga setuju, hapenya rusak sampe ga bisa smsan beberapa hari, jarang ketemu, berantem yang beruntun, temanku yang bikin dia marah, sifat pengambekkanku. Semua sudah dilewatin dengan mulus walau banyak rintangannya. Tapi, dia udah nyerah sama keadaan begitu cepat. Kami putus, dan original soundtrack pengiringnya adalah lagunya Ecoutez, judulnya Simpan Saja. Kayaknya sih,pokoknya liriknya tuh gini.
Simpan saja rasa di hatimu, sudah lupakan, hasratku tak lagi untuk mencinta. Sudah sampai disini..
Dia memutuskan ikatan kami dengan gunting lagu ini. Benar-benar dipersembahan untuk mengakhiri hubungan kami. Pas. RIP PASANGAN SINONIM.

Sudah dua bulan sejak kejadian pemutusan itu. Ga ada lagi lagu-lagu penyemangat yang mengilhamiku. Film dan soundtrack pun juga ga ada. Lantas, apa ga ada soundtrack lagi yang ngegambarin perasaanku sekarang? Hmm aku lagi suka lagunya Ipang, yang judulnya Bintang Hidupku. Mungkin itu jadi soundtrack selanjutnya kali ya?Aku suka lagu ini karena suara Ipang yang keren, nge-rock-rock gitu. Trus liriknya itu loh ngena banget. Menurutku bukan sebuah lagu galau kok. Menceritakan cinta yang tulus, Dengarin aja.

Kurasa selalu bersoundtrack. Setiap kisah yang kualami sama dia, pasti tersisipkan sebuah lagu. Aku membayangkan kalau ini difilmkan, pasti box office. Bweeekk ngarep

Aku harap, soundtrack selanjutnya yaitu lagu Single Happy, aku lupa penyanyinya siapa.

Semoga.



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 05 September 2011

Trend Galauness Di Kalangan Galauress

Pernah ngerasa galau?
Pasti pernah, bohong banget kalau kalian-kalian ga pernah merasakan, ga pernah mengenal, bahkan ga pernah mengetahui galau itu apa. Remaja pada dasarnya mengalami pasang surut pencarian jati diri. Galau adalah salah satu prosedur yang harus dilewati dalam mencapai jati diri menuju kedewasaan itu. Galau adalah perasaan sedih, kalut, tertekan, bingung. Kalau aku sih nganggapnya galau itu mengasihani diri sendiri. Penyebab seseorang menjadi galau itu sebenarnya banyak, tapi kebanyakan CINTA yang jadi penyebabnya. Entah itu cinta bertepuk sebelah tangan, cinta lama bersemi kembali, cinta tak direstui,cinta dalam hubungan jarak jauh, cinta monyet, cinta juga kuya. Ketika seseorang sedang galau, dia merasa sangat tertekan, mengeluhkan dirinya sendiri yang menurutnya sangat serba kekurangan, mencaci maki orang lain yang menurutnya membuat dia jadi galau, mencari-cari Tuhan ada dimana, merutuki keadaan, dan... menangis. GALAU dan MENANGIS, seperti saudara kembar yang tak terpisahkan.

Apakah aku pernah galau? Aku?
Ya, tentu aja. Sering malah. Setiap hari ada aja yang membuat aku galau. Uang sangu ketinggalan, galau. Blog yang ga mau ter sign in, galau. Ditinggal Dea ke kantin, galau. Mecahin cobek kesayangan mama, galau. Teringat Nur, galau.. Hah? Nur?
Yeaah, akhir-akhir ini aku kembali dibayang-bayangin oleh kabar-kabari Nur. Nur lagi dekat sama Ani, dan hubungan mereka itu tercium sampe ke aku. Nur suka sama Ani? Kata Dea, Nur malah ga suka sama Ani karena ngerasa ga nyaman gitu dengan sifat manjanya. Aku udah cukup lega. Gini loh, aku ga begitu mempermasalahkan kalau Nur jadian lagi setelah putus sama aku, tapi please jangan Ani naah... Aku keterlaluan ya? Aaahh.. kenapa aku cemburu kayak gini ya? Padahal Nur bukan siapa-siapaku lagi, aku ga punya andil untuk mencampuri urusannya. Sama sekali! Tapi asli, aku mumet setengah mati. Nur katanya ga suka, tapi kok dia dekatin Ani terus.. Waktuku yang seharusnya ku habiskan untuk mengerjakan satu bab lks ips, malah ku habiskan untuk memikirkan romansa cinta Nur dan Ani itu. Apa untungnya coba buat aku? 

Mana katanya besok mereka mau nonton di 21 bareng.Nyesek eh dengernya. Dulu sebelum aku jadian sama Nur, Nur ngajakin aku nonton bareng gitu.. Setelah itu ga lama kami jadian. Jangan-jangan Nur emang lagi mendekati Ani, habis itu mereka langsung pacaran?! Semua itu bisa jadi mungkin. Ani itu cantik, baik, hidungnya mancung, rambutnya indah panjang terurai, ramah, mudah bergaul, selera fashionnya bagus.. Cowok mana sih yang nolak bersanding sama dia? 
Tadi aku gelap mata. Pas Ani dekatin aku, reflek aku langsung bangkit menjauh, lalu mencari tempat duduk lain. Aku puas, tapi itu sifatnya sementara. Lama-lama aku mikir kalau sikapku tadi kekanak-kanakan banget. Anak kecil! Terdengar seperti Nur yang meneriakkan itu  ke telingaku. Aku malu.. Pantas aja Nur mutusin aku. dan mulailah perutukan diri sendiri.  Lalu mengeluh, bersumpah serapah, mencari cari Tuhan... Kesimpulannya, aku galau,

Kenapa aku bisa galau?
Aku juga gatau. Semua itu bereaksi sendiri, reflek, alamiah. Kalau aku lagi galau, dan aku ga menangis, rasanya nyesek banget. Kayak ada yang ngeganjel gitu nah, Ganggu banget. Ya, satu-satunya cara yaitu dengan mengeluarkan kegalauan itu dalam wujud air mata. Aku tau, aku tau... aku tau menangisi dia adalah hal yang percuma,ga menghasilkan apa-apa. Aku juga tau kalau seandainya dia lihat secara langsung aku nagis, dia pasti bakal ketawa jijik. Aku tau! Aku sudah memperkirakan itu semua. Tapi kenapa aku masih tetap keukeh menangis? Layaknya narkoba, walaupun udah digembar-gemborkan bahayanya, banyak udah ditunjukin korban-korban yang bergelimpangan tewas. Tetap aja narkoba itu beredar luas, tetap aja dikonsumsi. Nah mirip-mirip galau deh. Meski aku udah tau betul kalau galau itu cuma buang-buang waktu, energi, air mata, nambah dosa (dengan menyumpah serapah), bikin malau, ngejatuhin harga diri, tapi tetap aja keukeh digandrungi. Intinya, aku ini, dan termasuk para galauress di luar sana yang pasti berjumlah ga sedikit itu mucil nan pengengkelan.
Kalau lagi galau, aku ngerasa bahwa aku ini makhluk termalang di muka bumi. Ih coba lihat di luar sana, lihat kanan kiri depan belakang. Masih banyak yang lebih pantas untuk bergalau. Ibu yang kebingungan karena anaknya sakit demam itu, anak kecil yang bertelanjang kaki menyusuri aspal jalanan untuk menjajakan koran itu, bapak-bapak yang kelelahan sehabis membanting tulang itu.. mereka lebih menderita kan? Dalam artian begini, kita yang hanya didera masalah putus cinta, sangat ga pantas untuk bergalau. Hal yang kita alami itu masih terlalu kecil untuk dijadikan masalah. Kita masih belum terlalu pantas. Jadi sepatutnya kita bersyukur. Bukannya malah mengeluh melulu. Enjoy your life. Ya gitu.

Tapi, gimana kalau galau udah terlanjur merasuk ke dalam diri?
Yeaaah, galau itu harus dilawan.Kalau diladenin ya makin ngelunjak sakitnya. Ciptakan hal-hal yang mneyenangkan. Alihkan perhatian dari galauness itu. Biasaya sih, untuk mengatasi galau (terutama galau karena cinta, hiks), aku dengerin lagu-lagu  beraliran heavy metal, atau bisa juga lagu-lagu yang bertempo cepat, yang dominan gebukan drum dan cabikan gitar elektrik yang menggigit.Kalau diperdengarkan lagu-lagu mellow, wah apalagi dah becucuran air asin dari mata. Aku paling suka lagu-lagunya Avril Lavigne. Easy listening, seru buat jejingkrakan. Aku iseng search liriknya di google, trus ku translate-kan, trus ku pelajari vocab-vocab yang ada di lirik lagu tersebut. Galau hilang, hati tenang, hati pun tak lagi udang (karena sekalian belajar bahasa inggris gitu, hehe). Sambil menyelam minum air.

Nyesal ga karena pernah galau?
Kalau dipikir-pikir, aku nyesal. Malu apalagi. Asli malu banget! Di twitter, heello, maupun blog ini, aku rajin banget saban hari mengumumkan kepada dunia tentang kegalauanku. Aku puas, aku lega waktu itu. Tanpa memikirkan kira-kira bagaimana tanggpan orang-orang setelah membacanya. Sampai suatu ketika, aku ketiban curhatan dari temanku yang habis diputusin sama cowoknya. Diputusin dengan ketidakjelasan,Tiap hari dia sms-sms dari dia tentang begalauan semua. ertama sih empati, tapi lama kelamaan kok muar ya? Rada malas gitu nanggpin tangisan plus keluhannya mengenai mantannya itu, campur ilfeel juga.Orang yang lagi galau tuh berlebihan ya. Sontak aku teringat dengan timeline-ku, ping-ku, maupun postingan blogku yang lalu. Aku malu. Apa bedanya aku sama Shela? Sama-sama lagi ada masalah, lalu mengeluhkan masalah itu kemana-mana, samasama bikin muar kan? Akhirnya aku sadar, galau itu percuma.  Galauin orang yang udah move on dari kita itu adalah hal yang membosankan. Menunggu yang jelas2 ga ada kepastiannya. Aku jadi malu sendiri eh. Orang-orang yang membaca postingan sampahan galauku itu (terutama sampahan postingan blogku ini, karena temanya galau melulu hiks hiks) pasti  akan berpikiran sama seperti yang aku pikirkan ketika Shela membeberkan kegalauannya. Dimana-mana orang ga suka kalau dicurhatin dengan masalah yang itu-itu aja. Ha ha ha tolol aku! Jadi budak galau ya ho'oh-ho'oh aja.

Lalu, bagaimana dengan Ani dan Nur itu?
Sebenarnya aku nyesel udah gitukan Ani. Beneran. Musuhan gara-gara cowo itu kan sama sekali ga mutu. Uuuh ikhlas dah ikhlas dah kalau mereka jadian, biar mereka kumpul kebo kah situ (uupsss). Ga boleh marah,ga boleh nangis.. Toh kalau aku sama Nur berjodoh, pasti bakalan ketemu lagi kok. Cam kan itu Cha!!

Jadi, beneran ga galau lagi nih?
Sejauh ini aku akan berusaha menjauhkan diri dari kata galau. Terutama galau karena Nur. Galau memang jadi trend di kalangan remaja sekarang. Tapi sepertinya, cukup disini aku  ngikutin trend. Biarkan aku dibilang ketinggalan jaman, yang penting aku bahagia. Im single i'm very happy. I'm so glad without the galauness, without NUR! (haha semoga ini never ending dan berlaku untuk selamanya, soalnya aku anaknya labil pang TT)

Let's spread the happyness, don't spread the galauness

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 03 September 2011

Tapi Sebenarnya Kamu Lagi Ada Di Hatiku T___T

Aku benar-benar tersugesti oleh primbon punya mamaku. Setiap fenomena yang terjadi pada diriku, selalu berpatokkan pada primbon. Kalau potong kuku pada hari minggu akan dapat sial, haid datang pada pasaran kliwon akan beruntung, dan lain sebagainya.

Sampai suatu ketika kemarin, sepulang dari menjelajah mall bersama Dea Kusuma Wardhani, mata sebelah kiri bagian bawahku berkedut. Tau artinya berkedut? Itu loh, ngerjap-ngerjap gitu, dut dut dut. Dibilang goyang enggak, dibilang ngedip-ngedip juga nggak. Aaaah pokoknya berkedut gitu deh. Persetan dengan kalian-kalian yang ga tau artinya berkedut! (uupsss).

Yang jelas, refleks aku teringat deretan kalimat yang tertera di primbon. KEDUTAN MATA SEBELAH: AKAN MENANGIS. Glekkk!! Ketakutan pun menyergap. Aku lumayan sering berkedut di daerah-daerah itu, dan aku selalu menangis setelah itu. Selalu ga bisa dipungkirin. Entah masalahnya besr atau kecil, pasti nangis. banyak orang di sekitarku yang juga merasakan hal yang sama. Sontak aku mencabut bulu mata, lalu memijat-mijat mataku. Berharap hal itu dapat membatalkan agenda nangisku.

Daripada kepikiran soal mata-sebelah-kiri-bawah-berkedut beserta ramalannya, mending bongkar-bongkar lemari buat nemuin buku-buku pelajaran jadwal hari senin turun sekolah nanti. Saat mau ngambil buku agama islam, tiba-tiba buku lks bahasa indonesiaku waktu aku masih kelas X terkeluar dari lemari. Iseng ku buka lembar demi lembarnya, dan mataku berhenti pada satu lembar terakhir paling belakang. Disana tertulis...
Akik ubay ikok


Hairunnisa..


07-02-2011..


Aku sayang kamu..


Sebuah tulisan yang pernah kutertawakan karena morat-marit dan terlihat meromantiskan diri padahal ga romantis.Sebuah tulisan dari tangan kidal seorang cowo yang dulu kucintai. Yang hingga sekarang pun kaan tetap begitu. Si kidal bodoh. Nur :/

Aku menangis sambil mengusap-usap lembar akhir lks bahasa indonku itu. Oh mungkin lebih tepatnya menggosok-gosok. Ngarep kalau tiba-tiba Nur akan muncul dari situ, seperti jin yang keluar dari botol ajaib apabila botolnya digosok-gosok. Aaaah bodoh memang. Katanya aku udah cukup pintar mengatasi kesedihan ini, tapi kenapa lagi-lagi aku bodoh? Dengan melihat tulisan kidal itu aja air mataku langsung terurai. Aku terus menangis, kadang diselingi dengan celotehan galau mencari-cari Nur ada dimana. Mumpung ga ada orang di kamar, aktivitas buang-buang air mataku itu berjalan dengan sempurna.

Oh, jadi karena lembar akhir lks bahasa indonesia ini yang bikin aku nangis? Yang dimaksudkan oleh primbon itu adalah ini? Lantas aku lega, karena bukan masalah yang berat banget yang bikin aku nangis malam ini. Aku sudahh sering nangis ngeliat barang-barang kenangan dari Nur, makanya aku biasa aja malah lega. Aku udah nangis, dan itu artinya aku lega..

Eh tapi ternyata, bukan itu. Bukan itu!
Aku kembali menangis lagi. Justru lebih kencang. Aku di-smsin Dea, katanya Nur lagi ada di rumahnya  sekarang. Nur cerita ke Ani tentang Deni. Oh iya, aku belum cerita ya, waktu itu pas hari apa kah Ani kebingungan ga ada yang jemput. Trus yang jemput malah Nur. Aku sontak nangis kejer dengar hal itu. Aku tau kok Nur bukan milikku lagi, aah tapi... Nur pasti suka sama Ani sampe mau bela-belain jemput Ani di sekolah dan ngantar dia sampe ke rumah. Nur pasti nyeritain kecintaannya itu ke Deni. Nangis kejer, kenceng, tanjal... Buruknya aku ga bisa nepetin janjiku. Janji kalau misalnya Nur ke rumah Dea, aku bakal usahain ke rumah Dea buat ketemu dia untuk sekedar saling bermaafan. Berusaha menjalin persahabatan sama dia. Tapi pada kenyataannya, aku mengingkari janjiku itu..

Benar-benar pengen kesana rasanya. Untuk ngeliat sepasang mata sipitnya yang berbinar jenaka, sebentuk senyum ikhlasnya, sosok tinggi jangkungnya, tangan hangatnya, huaaa STOP!!!
Tuh kan, aku nangis lagi.. Past Nur bakal ketawa jijik kalau  tau aku masih nangisin dia. Menangisi hal dan orang yang sam. Suatu saat nanti aku bakal ketawa kalau ingat aku telah ditertawakan oleh orang yang kugalauin. Tertawa mengasihani diri sendiri

Nur, primbon itu benar.Aku nangis, dan itu karena aku masihh ga bisa ikhlas kamu lepas. Kamu memang lagi ada di rumah dea sekarang, tapi sebenarnya kamu ada di hatiku.
Bantu aku buat kamu jadi temanku, Nur.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Postingan Perempuan Frigid

Sebelumnya, jangan protes ya dengan postingan ini. Terutama buat laki-laki. Jangan protes, naik pitam, apalagi menghakimi aku! Aku cuma sekedar menumpahkan rasa yang berkecamuk di dada ke dalam sebuah tulisan. Dan seperti inilah jadinya. Aku ga mikir ini bagus atau jelek, ini mengundang banyak pujian atau cacian. yang pasti aku lega setelah nge post nya !!! (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) 


Untuk makhluk ciptaan tuhan yang menawan bernama lelaki, khususnya buat yang player _,_

Rembulan adalah kekasih sang malam
Sumber cahaya penerang bumi di kala malam menjelang
Menjadi hiasan terindah sang malam


Pada suatu saat rembulan tak kunjung datang
Sedangkan malam benar benar merindukannya
Malam terasa begitu dingin dan gelap
Tanpa cahaya kasih sang rembulan

Dalam sedih, akhirnya malam tersadar
Bahwa bulan takkan lagi setia
Menyinari sang malam
Ia akan datang jika butuh
Sementara ia pergi ketika sang malam begitu membutuhkannya

BEGITU JUGA LELAKI, GA SEMUANYA SETIA PADA SATU PEREMPUAN !!!


aku mau frigid aja ah TT 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 02 September 2011

Sebentuk Impian Berwujud Puisi

Sudah lama rasanya aku ga bikin puisi. Waktu smp. aku sering banget bikin puisi untuk menumpahkan apa yang lagi kurasakan.Kebanyakan isinya tentang kekesalan gitu, atau rasa kekaguman terhadap makhluk pahatan tuhan yang menawan bernama lelaki. Kalau lagi ga ada kerjaan, iseng iseng corat coret di lembar buku paling belakang, trus diketik di ms word, trus diterbitkan ke dalam catatan fb. Banyak loh yang  sempat minta bikinin puisi, banyak yang memuji puisiku, banyak yang kadung mencela puisiku juga, karena bahasa yang dipakai sok filosofis, berat, cenderung abstrak. Aku suka puisi, aku suka Kahlil Gibran. Tapi sekarang, aku jarang lagi berpuisi ria, dengan alasan sibuk.  Inspirasi menulis puisiku sebenarnya banyak bertebaran di otak, cuman aku ga menangkapnya dengan cermat.Bukannya membuat puisi butuh waktu yang cukup lama dan suasana yang mendukung? Ketika aku melihat hujan turun, aku jadi teringat impian kekanak-kanakkan ku, dan teringat seseorang yang kudambakan kehadirannya datang bersama hujan. Dan jadilah puisi ini..

Maukah menjadi hujanku??

Gerimis,
Maukah kau menjadi hujanku?
Jatuh perlahan lalu bertubi tubi membasahi kemarau hatiku

Gerimis
Maukah kau menjadi hujanku?
Terkadang buatku sakit setelah bermain denganmu
Tapi tak buatku menyesal sedikitpun

Gerimis,
Maukah kau menjadi hujanku?
Terjatuh hanya untukku selalu
Kapanpun ku mau

Gerimis
Maukah kau menjadi hujanku?
Buatku bersikap apa adanya tanpa perlu memakai topeng ketegaran lagi ketika bersamamu
Aku bebas menangis terisak tanpa ada orang yang harus tau selain kamu
Air mataku jadi fatamorgana di mata mereka karena rintikmu ikut membasahi pipiku

Gerimis,
Maukah kau menjadi hujanku?
Menghadiahkanku sebentang pelangi indah sebagai kenang-kenangan
Sebelum matahari menggantikanmu
Kapan kau datang lagi, ku tak pernah tau

Gerimis,
Jika kau benar tak mau menjadi sang hujan bagiku
Setidaknya kau adalah gerimis
Yang jatuh perlahan dengan rindu tertahan
Yang sejuknya tak seutuhnya untukku

 Jelek ya? Haha baru meniti kembali dunia persajakkan, jadi harap maklum :D
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com