Sewaktu ngantri beli tiket nonton Get Out di hari Sabtu kemarin, aku kaget ngeliat pemandangan seorang bocah laki-laki merengek ke emaknya. Si bocah itu kebelet nonton Ghost In The Shell, padahal film animasi The Boss Baby, film yang memang buat anak-anak, juga tayang. Tambah kaget pas lagi di depan studio yang nayangin Get Out. Gerombolan anak-anak beserta orangtuanya keluar dari studio itu dengan riang gembira, kayak habis dari darmawisata ke kebun binatang.
“Get Out beneran di studio 5 kan, Sal?”
Tanyaku ke Nanda sambil menunjuk pintu masuk studio itu, dan memperhatikan sekali lagi tiket nonton kami yang lagi di genggamannya. Nanda cuma mengangguk sekenanya, lalu melakukan ritual kekinian dengan khidmat. Tiket nonton difotoin trus di-upload ke Insta Story. Refleks aku menggumam,
Tanyaku ke Nanda sambil menunjuk pintu masuk studio itu, dan memperhatikan sekali lagi tiket nonton kami yang lagi di genggamannya. Nanda cuma mengangguk sekenanya, lalu melakukan ritual kekinian dengan khidmat. Tiket nonton difotoin trus di-upload ke Insta Story. Refleks aku menggumam,
“Halah, upload kayak gitu palingan supaya dikira nonton sama cowok. HUAHAHAHAHA.”
Aku juga refleks mikir keras tentang alasan kenapa orangtua bisa punya inisiatif buat ngajak anaknya nonton film Get Out, film untuk 17 tahun ke atas. Lagian genre-nya juga horror-thriller. Apa yang mau dicari orangtua dan anak-anak dari Get Out?
![]() |
| Sumber: sini |
HUAAAAA!!!!!! Jelas itu lebih menegangkan daripada cinta beda prinsip! Beda prinsip misalnya kita berprinsip hubungan bisa dipertahankan, sedangkan pasangan kita berprinsip hubungan cukup sampai di sini gitu.
Dan..... aku suka Get Out! Ralat. Aku baper sama Get Out! Bukan soal cinta-cintaannya, tapi.....
Get Out punya dua pasangan memanjakan mata para penonton, yaitu fotografer muda kulit hitam bernama Chris Washington (Daniel Kaluuya) dan Rose Armitage (Alisson Williams), perempuan kulit putih. Mereka memutuskan untuk Sabtu-Mingguan di rumah orangtua Rose. Sempat ada keraguan dan ketakutan tersendiri buat Chris dalam melakukan kunjungan ke rumah calon mertuanya itu. Bukan, bukan takut orangtuanya Rose bilang,
"Kamu serius nggak sama anak saya? Nikahi, jangan dipacarin terus!"
Tapi takut kalau orangtua Rose mempermasalahkan beda ras-nya anak mereka dengan Chris. Perbedaan warna kulit nyatanya masih jadi hal sensitif. Apalagi mengingat kalau Chris adalah pacar kulit hitam pertamanya Rose. Perempuan dengan poni unyu bajingsengnya itu pun menenangkan pacarnya dengan berkata kalau orangtuanya nggak rasis. Chris pun melemas dan jadi nggak tegang lagi.
Sesampainya di rumah orangtua Rose, Chris disambut dengan hangat, ramah, dan pernyataan "Kami adalah keluarga yang suka berpelukan!" Chris merasa kunjungannya ke rumah calon mertua berjalan mulus, tanpa harus mengamalkan betul-betul apa yang ada di artikel Hipwee berjudul Strategi Menghadapi Pertemuan Pertama Dengan Orangtua Pacar.
![]() |
| Bukan lagi membicarakan uang panai untuk meminang Rose. Sumber: sini |
Chris makin merasa semuanya bakal baik-baik aja begitu menemukan fakta bahwa bukan dia satu-satunya yang berkulit hitam di situ, melainkan ada Georgina (Betty Gabriel) dan Walter (Marcus Henderson). Tapi itu nggak berlangsung lama, karena dia merasa ada yang nggak beres dengan asisten rumah tangga dan tukang kebun keluarga Armitage itu. Dua orang kulit hitam itu berperilaku dingin ke Chris.
Gelagat aneh bukan cuma Chris dapatkan dari Georgina dan Walter, tapi juga dari banyak hal. Chris semakin merasa ada yang nggak beres dan bertekad untuk pulang. Tapi keluar dari rumah itu nggak segampang "keluar di dalam." Chris harus "menjawab" pertanyaan-pertanyaan bagus yang dari awal ada di kepalanya (dan di kepala para penonton) dengan merasakan kegilaan di rumah itu.
Get Out ngingatin aku sama The Visit, film thriller tentang kunjungan dua anak ke rumah Kakek-Neneknya yang ternyata "aneh." Selain karena produser Get Out dan The Visit adalah orang yang sama yaitu Jason Blum, dua film itu juga punya persamaan yang lain. Kunjungan yang dipikir menyenangkan, ternyata assfgjk@#$^$*#$$!($jdkaknf!!! Bangke bangeeeet!!! Berkunjung atau liburan ke rumah Kakek-Nenek seharusnya menyenangkan dan saking menyenangkannya, pengalaman itu sering dijadikan tugas mengarang pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi itu nggak berlaku di The Visit.
Sedangkan berkunjung ke rumah calon mertua adalah hal menegangkan, mendebarkan, yaaa pokoknya menyeramkan lah karena bisa menentukan hubungan sama pacar bakal dibawa ke mana lagi selanjutnya. Tapi itu nggak berlaku di Get Out karena....
Gelagat aneh bukan cuma Chris dapatkan dari Georgina dan Walter, tapi juga dari banyak hal. Chris semakin merasa ada yang nggak beres dan bertekad untuk pulang. Tapi keluar dari rumah itu nggak segampang "keluar di dalam." Chris harus "menjawab" pertanyaan-pertanyaan bagus yang dari awal ada di kepalanya (dan di kepala para penonton) dengan merasakan kegilaan di rumah itu.
Get Out ngingatin aku sama The Visit, film thriller tentang kunjungan dua anak ke rumah Kakek-Neneknya yang ternyata "aneh." Selain karena produser Get Out dan The Visit adalah orang yang sama yaitu Jason Blum, dua film itu juga punya persamaan yang lain. Kunjungan yang dipikir menyenangkan, ternyata assfgjk@#$^$*#$$!($jdkaknf!!! Bangke bangeeeet!!! Berkunjung atau liburan ke rumah Kakek-Nenek seharusnya menyenangkan dan saking menyenangkannya, pengalaman itu sering dijadikan tugas mengarang pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi itu nggak berlaku di The Visit.
Sedangkan berkunjung ke rumah calon mertua adalah hal menegangkan, mendebarkan, yaaa pokoknya menyeramkan lah karena bisa menentukan hubungan sama pacar bakal dibawa ke mana lagi selanjutnya. Tapi itu nggak berlaku di Get Out karena....
KETEMU SAMA CAMER AJA UDAH BIKIN TEGANG NJIR. APALAGI CAMERNYA YANG KAYAK DI GET OUT! BUKAN MENEGANGKAN LAGI, TAPI UDAH..... AAAAAAK!!!!! CAMER BAJINGAAAAK!!!
![]() |
| Bukan lagi diputusin Rose Sumber: sini |
Get Out adalah film horror tanpa sosok hantu bermuka jelek atau jumpscare berlimpah ruah. Pergerakan menuju seramnya juga perlahan. Awalnya kita dibikin mikir, ah-ini-film-tentang-cinta-beda-ras-doang, trus lama kelamaan kita dibikin puyeng butuh Oskadon pancen oye karena banyak hal-hal ganjil.
Nah, karena pergerakannya yang perlahan tapi pasti itu, bikin kita yang nonton jadi nggak bisa menduga bakal ada adegan yang bikin kagetnya apa enggak. Beda sama film-film horror kebanyakan, di mana kita bisa pasang ancang-ancang tutup mata dan voilaaaaaaa beneran hantu jeleknya atau adegan sadisnya muncul.
Film ini menurutku nggak bisa memuaskan orang-orang yang nonton film dengan tujuan pengen di-jumpscare-in bertubi-tubi, pengen ngeliat darah-bermuncratan-organ-tubuh-berserakan-porak-poranda, atau pengen dapat pelukan ketakutan dari gebetan. Hal pertama terbukti dari Nanda yang begitu filmnya selesai, langsung bilang,
Film ini menurutku nggak bisa memuaskan orang-orang yang nonton film dengan tujuan pengen di-jumpscare-in bertubi-tubi, pengen ngeliat darah-bermuncratan-organ-tubuh-berserakan-porak-poranda, atau pengen dapat pelukan ketakutan dari gebetan. Hal pertama terbukti dari Nanda yang begitu filmnya selesai, langsung bilang,
“Kurang lama sama kurang tegang ya, Ndes.”
Nanda yang nge-review Get Out kayak habis ena-ena dengan lansia itu, karena dia emang penggemar film horror yang bergelimang kejat-kejut lebay dan hantu-hantu yang mukanya lebih jelek daripada mukanya sendiri. Film ini memuaskan para penonton yang doyan digerayangi rasa penasaran akan hal-hal ganjil dan yang engas sama komedi satir.
Aku dan Nanda sukses dibikin ngakak sama hal-hal kecil di film ini. Yang mungkin bagi orang lain, itu-buat-apa-diketawain-njir. Misalnya adegan rusa, yang kelihatannya rusanya kayak dilempar dari atas awan. Trus kami ngakak pas Chris menemukan “barang bukti” kalau Rose ternyata asdfgkls@#$%*@)flsbl alias... ya gitu deh. Ngakak juga pas ngeliat kesan para tamu pesta terhadap Chris. Kalimat dari salah satu tamu yang kira-kira isinya, “Hitam lagi ngetrend, ya,” itu bikin kami berdua ngakak.
Aku dan Nanda sukses dibikin ngakak sama hal-hal kecil di film ini. Yang mungkin bagi orang lain, itu-buat-apa-diketawain-njir. Misalnya adegan rusa, yang kelihatannya rusanya kayak dilempar dari atas awan. Trus kami ngakak pas Chris menemukan “barang bukti” kalau Rose ternyata asdfgkls@#$%*@)flsbl alias... ya gitu deh. Ngakak juga pas ngeliat kesan para tamu pesta terhadap Chris. Kalimat dari salah satu tamu yang kira-kira isinya, “Hitam lagi ngetrend, ya,” itu bikin kami berdua ngakak.
Tapi film ini memang lucu kok. Kalau kata Raditherapy, Get Out adalah mimpi buruk yang menyenangkan. Ekspresi Chris dalam menghadapi keganjilan dan kegilaan di rumah calon mertuanya itu lucuuuuu. Trus, kepribadian Rose itu juga lucu. Cantik, ceria, dan selera humornya bagus. Semua orang menurutku bisa jatuh cinta sama perempuan semenyenangkan Rose. Dan kalau aku jadi cowok, aku udah pasti “menegang” ngeliat dia.
| Rose dan Chris habis minum es teh. Sumber: sini |
Tapi yang ada aku malah menegang ngeliat Rod Williams (Lil Rel Howery), sahabatnya Chris. Rahangku yang tegang karena ketawa mulu akibat ulahnya. Rod banyak berperan sebagai penyebar lawakan di film ini. Suka ngomong sembarangan, bertindak semaunya, dan rasa setia kawannya tinggi. Karakter Rod ngingatin aku sama tokoh Hassan di novel An Abundance of Katherines. Dan seperti Hassan, Rod juga menghidupkan suasana dengan mulut sompralnya. Mungkin kalau Get Out di-remake Indonesia, Rod ini memperingatkan Chris dengan bilang,
"Sudah kubilang jangan ke rumah pacarmu yang orang Dayak itu! Nanti pulang-pulang tititmu hilang!"
"Sudah kubilang jangan ke rumah pacarmu yang orang Dayak itu! Nanti pulang-pulang tititmu hilang!"
Film ini terasa segar karena ada unsur komedinya. Dan lagi, Get Out jadi semacam penyampaian curhatan tentang perlakuan kulit putih terhadap kulit hitam. Get Out mengangkat tema rasisme. Mengutip dari yang Dina bilang, persoalan perbedaan warna kulit di Amerika sensitifnya bisa disamain dengan persoalan agama di Indonesia.
Get Out adalah sindiran cantik terhadap diskriminasi ras kulit hitam. Terhadap perbedaan warna kulit mempengaruhi status sosial. Aku ngerasa miris pas Chris mulai merasakan keganjilan di rumah Rose. Dari beberapa dugaannya Chris kenapa Georgina dan Walter dingin ke dia, yaitu mungkin-Georgina-dan-Walter-ngerasa-aneh-ngeliat-kulit-hitam-nggak-bekerja-pada-orang-lain. Ya, maksudnya nggak ngebabu ke kulit putih gitu.
![]() |
| Bukan Shareefa Danish di film Danur Sumber: sini |
Hal itu ngingatin aku sama film The Help, film tentang perlakuan kulit putih kepada kulit hitam yang berperankan Emma Stone kembaranku dengan rambut keriting mie. Di film itu, orang-orang kulit hitam seolah ditakdirkan bekerja sebagai pembantunya orang-orang kulit putih. Dan orang-orang kulit hitam nggak boleh menentang “takdir” itu. Hiks.
Peele benar-benar menyampaikan keresahannya akan masalah bijiingek itu dengan sepenuh hati dan cerdas. Bukan cuma dari dialog kayak di atas, tapi juga di banyak adegannya. Salah satunya di adegan yang mirip pemilihan ketua kelas. KEBAWA EMOSI NONTONNYA NJIR.
*ini spoiler kayaknya*
Oh iya, ada satu kalimat yang dilontarin Chris. Kira-kira isinya,
“Kenapa harus orang kulit hitam?”
Jawaban atas pertanyaan itu bikin aku senyam-senyum miris. Satir terhadap persoalan beda kulit yang benar-benar ngena. Kalau aku jadi kaum kulit putih di Amerika, aku ngerasa itu sindiran yang nusuk. Udah kayak disindir mantan. *ini-spoiler-kayaknya berakhir*
Get Out bikin aku baper. Jordan Peele bikin aku ngerasa kegeeran, ngerasa kalau aku dan beliau punya persamaan, yaitu suka curhat terselubung. Selama ini aku curhat terselubung di tiap review abal-abalku. Aku “bersembunyi’ di balik film yang aku ulas. Dan yak, aku menganggap kalau Get Out adalah curhatan terselubung Peele tentang diskriminasi yang dialami kaumnya. Peele “bersembunyi” di balik Get Out.
Jawaban atas pertanyaan itu bikin aku senyam-senyum miris. Satir terhadap persoalan beda kulit yang benar-benar ngena. Kalau aku jadi kaum kulit putih di Amerika, aku ngerasa itu sindiran yang nusuk. Udah kayak disindir mantan. *ini-spoiler-kayaknya berakhir*
Get Out bikin aku baper. Jordan Peele bikin aku ngerasa kegeeran, ngerasa kalau aku dan beliau punya persamaan, yaitu suka curhat terselubung. Selama ini aku curhat terselubung di tiap review abal-abalku. Aku “bersembunyi’ di balik film yang aku ulas. Dan yak, aku menganggap kalau Get Out adalah curhatan terselubung Peele tentang diskriminasi yang dialami kaumnya. Peele “bersembunyi” di balik Get Out.
Hehehehehe. Sotoy banget yak.
Oh iya, mungkin lebih tepatnya aku pengen kayak Jordan Peele. Yang bisa curhat dengan cara sesatir yang beliau lakukan di film ini. Yang bisa menyampaikan keresahan berupa hal sensitif bukan dengan cara menye-menye atau dengan cara serius, melainkan dengan cara yang asik-banget-fak.
Oh iya, mungkin lebih tepatnya aku pengen kayak Jordan Peele. Yang bisa curhat dengan cara sesatir yang beliau lakukan di film ini. Yang bisa menyampaikan keresahan berupa hal sensitif bukan dengan cara menye-menye atau dengan cara serius, melainkan dengan cara yang asik-banget-fak.
Menurutku, Get Out nggak hanya “menyindir,” tapi juga memberikan pesan moral. Ucapan, “Kamu itu beda, kamu memang yang pertama, bla bla bla....” yang termuncrat dari mulut pasangan kita, itu bisa aja bullshit. Jangan terlalu cepat yakin sama pacar kita. Yakinlah hanya kepada Allah SWT.
Dan yaaaa, akhirnya aku nemu apa yang dicari para orangtua yang ngajak anaknya nonton Get Out. Di mata para orangtua itu, Get Out adalah film parenting. Punya pesan moral dan bikin orangtua ingin berkata bijak,
“Nanti kalau udah gede, pintar-pintar pilih calon teman hidup ya, nak. Biar nggak kayak film ini.”
Gitu kali ya.













