Sabtu, 25 Maret 2017

Pria, Wanita, Fakir Miskin, dan Anak-Anak Terlantar Punya Selera

Setelah Instagram, aplikasi media sosial yang aku uninstall beberapa waktu lalu dari hapeku adalah Twitter. Lumayan, hal yang telah aku lakukan itu selain menghemat kuota, juga mengurangi intensitas begadangku. 

Tapi itu nggak berlangsung lama. Karena pas buka Twitter di komputer kantor, aku nemuin timeline Twitter penuh dengan ritwitan dari akun @pseuDony_ yang isinya tentang daftar film favorit setiap tahun selama hidup. Banyak yang ikutan ‘permainan’ itu. 

Nafsu bejatku untuk ikut main juga pun membuncah. Di situ aku ngerasa keimananku benar-benar diuji. 

Akhirnya aku install Twitter lagi. Huahahahaha! Rada kaget liat Twitter versi baru. Banyak perubahan sana-sini, tapi yang bikin kaget sih DRAF TWIT-KU PADA NGILANG ANJIIIIIIRRR.... PADAHAL BANYAK TUH DRAF-NYA. SAYANG BANGET HUHUHU. 

Tapi yaudah, lagian draf-nya pada alay gitu sih isinya. Aku pun langsung nge-twit dan mention ke akun Mas Don. 




Sungguh basique sekali, bosque~

Setelah sejam dua jam ngelakuin itu, aku jadi kepikiran. Aku ngerasa ikutan main dengan nggak lepas dan bikin aku nggak puas sama hasilnya. 

Daftar di atas itu ada yang dari hasil mikir cepet, jadinya ada film lain yang harusnya jadi film favoritku di insert-tahun daripada film yang udah aku masukin di daftar. Ada beberapa film yang sayang buat nggak masuk daftar, jadinya aku bikin daftar lagi.



Tahun 2014, setelah aku pikir-pikir lagi, harusnya aku masukin Mommy. Karena Mommy duluan yang mencuri perhatianku, dan Mommy yang menurutku related sama aku. 

Ada juga yang dalam satu tahun, dua film yang kujadiin favorit. Yaitu tahun 2015, aku juga favoritin Mustang. Susah buat milih antara The Lobster dan Mustang, karena sama-sama berkesan. Begitu juga di tahun 2004, aku favoritin film absurd lainnya tentang cinta yaitu 3 Iron. Memilih 3 Iron dan Eternal Sunshine of The Spotless Mind itu sulit. In The Mood For Love, A Walk To Remember, Flipped, dan Ruby Sparks juga nggak aku masukin di daftar sebelumnya karena alasan yang sama. 

Oh iya, 2010 dan 2012 punya banyak film yang bisa difavoritkan. Selain Flipped, aku juga favoritin Incendies, film drama asal Kanada tentang perjuangan saudara kembar menjalankan ‘wasiat’ dari Ibu-nya yang telah meninggal. Dan di 2012, selain Ruby Sparks, aku juga favoritin.... Jan Dara. Nggak usah ditulis ya sinopsisnya. Drama keluarga yang sedih banget pokoknya. Perlu tisu sebanyak-banyaknya buat menikmati itu film. Hiks. 

Ada juga yang dari hasil terlalu banyak mikir. Kalimat “Eh kalau aku pilih ini, ntar dibaca orang kayak gimana, ya?” terngiang-terngiang di kepalaku. Nah, The Virgin Suicides itu contohnya. Itu film kelam banget sumpah, tapi aku suka. Cuman aku males daftarku itu isinya itu rata-rata film kelam, jadi akhirnya aku masukin film remaja komedi romantis, yaitu 10 Things I Hate About You. 

Trus 2016.... banyak film bagus sih di tahun itu. Tapi aku nganggap kalau Captain Fantastic jadi satu-satunya film yang fantastic di tahun 2016. Tapi karena terlalu mikirin, 

“Ih, kan La La Land banyak dapat penghargaan!”

“Ih, kan banyak tuh yang pilih La La Land! Masa kamu enggak, Cha?”

"Ih katanya kembaran Emma Stone, kok nggak pilih La La Land?" 

Akhirnya aku pilih La La Land aja. Yang aku favoritin juga, tapi nggak ngasih paket lengkap kayak yang udah Captain Fantastic kasih ke aku. 

Ya, begitulah kalau terlalu mikir. Mikirin pendapat orang lain. Mikirin selera orang lain, trus ngebandingin dengan selera kita. Anuan Mas Don itu menurutku secara nggak langsung ngasih tau kalau kita bebas mengutarakan pendapat soal film, mengutarakan selera film. Bebas berselera.

Dan ternyata nggak cuma aku aja yang punya selera yang mainstream. Tapi ternyata ada banyak. Ternyata banyak juga yang nggak milih film Seven, The Usual Suspect, Donnie Darko, Pulp Fiction, dan film-film apik klasik lainnya yang namanya udah tersohor, kayak yang aku lakuin. Aku belum pernah nonton film-film bajingseng itu. Dan itu yang bikin aku sempat minder buat ikutan. Trus ada beberapa yang ikutan, yang nggak selalu setiap tahunnya ada filmnya. Dikosongin aja gitu. Jujur apa adanya. Sukaaaa! 

Ngomongin soal selera, setiap orang punya selera yang beda-beda. Selera musik, film, makanan, sampe selera tipe cowok favorit.

Dan aku cukup sering nemuin orang yang seleranya beda sama aku. Sama Nanda misalnya. Rasanya selera kami nggak ada yang sama selain kami sama-sama suka nyanyiin lagu Eminem keras-keras. 

Berbeda soal selera itu udah biasa. Begitu juga dengan ‘mempermasalahkan’ soal beda selera. Aku masih bisa ketawa-ketawa (yang dipaksakan huhuhu) kalau udah kalah debat sama Dina soal selera film. Dia yang nggak suka La La Land, Oldboy, Dogtooth, dan film-film lainnya yang selama ini aku rekomendasiin ke dia dengan semangat. Aku masih bisa mengumpat, “Bajingak teleq kuda benyeq!” pas Dea bilang rekomendasi filmku melaini umat. Aku masih bisa cengengesan pas aku nonton AADC2 hari pertama trus Kak Ira bilang,

“Icha nonton film cinta-cintaan Indonesia? Sehat, Cha?”

Karena dia pikir selera filmku sebatas film luar tentang inses doang. Huhuhu.

Dan soal musik, aku suka banyak jenis musik. Salah satunya musik hip-hop, dan rapper yang aku favoritin yaitu Eminem. Beberapa teman ada yang heran dan bilang kalau aku aneh karena suka lagu-lagu yang ada kata-kata kasarnya lah, suka rapper yang banyak kontroversi lah, hasrat suka om-om (FYI, Eminem umurnya udah 44 tahun) nggak bisa dibendung lah. Ada rasa senang karena ngerasa waw-aku-unik, waw-aku-memang-pecinta-om-om-sejati, tapi di satu sisi juga ngerasa aku memang aneh. 

Tapi itu masih bisa aku anggap nggak papa. Lain halnya pas seleraku direndahin dengan cara dianggap sebagai hal yang harus dihindari. Selera makan favorit misalnya. Beberapa waktu yang lalu, aku ada ngerekomendasiin tempat makan siang langgananku ke salah satu teman kerjaku, sebut aja A. Teman kerjaku yang lain, sebut aja B, tiba-tiba nyamber dengan bilang, 

“Ih, di situ nggak enak, A! Sambalnya kurang nendang! Nggak usah makan di situ!”

Aku yang tadinya heboh ngejawabin pertanyaan si A soal tempat makan siang langgananku, langsung kaget dan senyum miris pas denger B ngomong gitu. Si A nanggepin si B dengan cengengesan. Sementara si B kembali ngelanjutin kerjaannya habis ngomong gitu. Aku dan A cuma bisa diem-dieman. Suasana jadi canggung, udah kayak pasangan digital love yang ketemuan untuk pertama kali trus ngerasa muka asli pasangannya beda sama muka di foto profil pasangannya itu. 

Ya... B emang kalau ngomong suka kelewat jujur sih. Tapi hal yang dilakuin B itu bikin aku kesal. Aku jadi mikir, pasti aku ngerasain kekesalan yang sama, bahkan lebih, kalau seandainya selera musik dan selera filmku yang dijadikan sebagai hal yang harus dihindari juga. 

Kesal aja sih, cara review-nya menurutku nggak ‘sehat’. Masa kita nyaranin orang buat nggak makan di situ, nggak nonton film A, dengerin musik B, cuma karena itu nggak sesuai sama selera kita? Kalau nyaraninnya ke satu-dua orang yang punya selera sama kayak kita sih nggak papa. Tapi kalau misalnya nyaraninnya sampai ke banyak orang? Ke media sosial misalnya? Bisa aja kan ada orang yang suka sama hal yang kita nggak suka itu, trus dia baca dan dia jadi tersinggung. Dia jadi marah, bahkan bisa aja jadi sedih karena ngerasa seleranya rendahan sekali. 

Aku masih terima dan berlapang dada kalau seleraku dikata-katain. Tapi kalau seleraku dijadiin suatu hal yang harus dihindari kayak wabah penyakit, direkomendasikan sebagai hal yang terlarang kayak minuman keras, jujur aku nggak terima. Aku ngerasa seleraku bener-bener direndahin. Dada berasa nyesek. 

Ya itu tadi, selera tiap orang beda-beda. Harusnya kita nggak maksain selera orang harus sama kayak selera kita. Haw pernah ngalamin itu, dan dia bilang, 

”Kayak aku aja, nggak begitu asyik pas baca Al-Qur'an, tapi kata ustaz, sangat menyenangkan.” 

YHA, HAW. YHAAAA.

Sembari ngetik postingan ini, aku nanya-nanya mulu sama diriku sendiri. Aku wajar nggak sih kesal cuma gara-gara itu? 

Lama kelamaan aku mikir, ternyata aku juga pernah jadi orang yang menjadikan selera orang sebagai hal yang harus dihindari. Secara sengaja maupun nggak disengaja. Dan aku ngerasa semua orang mungkin juga pernah. Mungkin aja itu nggak bermaksud buat merendahkan, tapi buat beropini doang. Itu subjektif, kalau kata Yoga. Itu.... wajar. Demi ngasih tau kalau punya selera yang bisa dibanggakan. Demi mempertahankan seleranya agar nggak tergeser posisinya sama selera lain.

Jadi, ya.... aku nggak mau kesal-kesalan lagi. Nggak mau minder. Karena solusinya adalah terima aja. Atau lebih tepatnya, nggak perlu didengerin kalau selera kita digituin. Yoga, sang filsuf yang merangkap sebagai tukang curhat, pernah bilang, 

”Kita berhak nggak dengerin pendapat orang kok. Sama-sama punya hak.” 

Bikin aku jadi mikir, kalau orang-orang yang ngerendahin selera itu punya hak buat ngerendahin, kita juga punya hak buat nggak ngedengerin. Dan tentu aja kita punya hak buat punya selera. Mau pria kek, wanita kek, fakir miskin dan anak-anak terlantar yang dipelihara negara sekalipun, berhak buat punya selera.

Dan aku jadi mikir (lagi), kita nggak salah kalau punya selera yang beda dari kebanyakan orang. Kita pun bebas buat cuek sama pendapat orang akan selera kita. Seperti kata Haw,

“Jadi biarin ajalah apapun komentarnya. Kayak buku Tere Liye. Ada yang bilang bagus banget. Tapi ada juga yang bilang mending baca buku porno aja.”

Haw bajingak memang.

Lagian, kalau selera orang sama kayak selera kita, belum tentu juga itu jadi hal yang baik. Kadang ada kan cewek-cewek yang suka sama penyanyi yang sama, trus kayak rebutan gitu, kayak saingan gitu, membuktikan siapa yang jadi fans terbaik (dan calon istri terbaik, biasanya sih sampe mikir gitu). 

Dan kalau ada lawan jenis yang punya selera yang sama kayak kita, entah itu selera musik atau selera fim, belum tentu dia adalah jodoh kita. 

Seperti kata adiknya Tom Hansen di (500) Days of Summer,

“Just because she likes you the same bizzaro crap you do, doesn’t mean she’s your soulmate.”

Bikin aku mikir keras, kalau selera nggak perlu dibaperin.

Njir. Tau-tau udah panjang aja. Udah lama nggak curhat gini di blog sih. 

10 komentar:

  1. "Yoga, sang filsuf yang merangkap sebagai tukang curhat."

    Taeee! Bangkailah ngakak pagi-pagi diledek begitu. XD

    Tolong, itu jangan sering-sering sebut gue filsuf. Nanti filsuf sesungguhnya pada ngamuk euy! Kuliah filsafat kagak. Baca buku filsafat aja sering puyeng paling. Nanti digituin nih gue. :(

    Eternal Sunshine of The Spotless Mind itu film Jim Carrey kan, ya? Jadi pengin nonton ulang. :)

    Kemarin gue lihat si Dio ikutan, entah beneran ikut atau cuma iseng ngeledek Doni. Dia favorit filmnya Shutter Island. Gokil dah sukanya film orang skizofrenia.

    BalasHapus
  2. Se-simpel "jangan ganggu gue lagi dengerin lagunya Vagetoz". :))

    Tapi gara-gara selera aku jadi nggak punya temen. Temen-temen yang lain punya selera yang sama, aku beda dari yang lain. Akhirnya, nyari dulu yang satu selera biar minimal ngomongnya nyambung. Ada yang ngomongin Naruto, masa aku mau celetukin, "Naruto lawan Tsubasa menang mana?"

    BalasHapus
  3. Iya, klo udah selera mah gak usah dibaperin. Woles aja! Haha

    BalasHapus
  4. Duh dalem banget nih curhatannya. Meluap-luap, kayak orang yang habis patah hati soal asmara. Padahal kan lagi kasmaran. Bukankah begitu, kakak iparku? :D

    Cuma ada beberapa nih yang udah kutonton dari sekian banyak film di atas, salah satunya Her, itupun tau dari postingannya kakak ipar.

    Spotless mind itu emang seru banget ya, cha? Soalnya banyak pisan yang ngomongin. Lain kali download ah...

    BalasHapus
  5. Halo TehCha! Apa kabar???

    Hahaha kenapa atuh Twitter di-uninstall? Padahal rame lho kalo stalking timeline-nya Teh Cha wkwkwk.
    Btw masalah selera, ya bener sih kata Kak Yoga, wajar. Tapi jujur aja aku juga rada sependapat smaa Teteh kalo selera kita kek direndahin. Sejauh ini sih Riska ngerasa belum pernah di kek gituin, cuman kalo nggak ditoleransiin, pernah... sebenernya kalo direndahin, aku mah nggak apa-apa. Nggak ditoleransi/dimakluminya itu, lho. Kan itu hak kita. .-.
    Eh, kumaha ceunah? :'D

    BalasHapus
  6. Selera direndahin emang gak enak. sumpah. bikin emosi.

    Toleransi sama sesama emang kurang. Semakin hari orang semakin merasa bahwa apa yang dia suka dan yang dia punya itu segalanya. sampai ngehina orang yang berbeda pendapat / selera.

    mungkin dia belom pernah di gesrek sama awan kinton ? sehingga ngerasa dia bisa di atas segalanya.

    BalasHapus
  7. Entah kenapa dalam hari ini, aku membaca cukup banyak tulisan yang membahas tentang selera. Selera yang berbeda.
    Ya menurutku sih wajar saja jika selera tiap orang itu berbeda-beda, ya seperti halnya aku ini yang suka sama gadis bule berambut pirang tinggi semampai nan berbody bahenol itu akan berbeda seleranya sama kawan yang lebih menyukai gadis jepang yang berwajah innocent berdada rata yang mendesah-desah tatkala baru sebatas pegang saja, semua jelas berbeda seleranya. Tapi apakah sekiranya kita mesti memaksa orang lain untuk menyamakan selera dengan kita? Tentu saja tidak.

    Lalu bagaimana? menurut aku sih semua kembali kepada respon, respon yang akan dilakukan ketika tahu bahwa selera kita dengan orang lain itu berbeda. Bisa menerima dan menyikapi seperti menghadapi hal biasa, atau kontra dan melawan semuanya. Seperti halnya seleramu tadi soal warung makan yang berbeda dengan selera si B, tentu akan terjadi perpecahan, jika sekiranya kamu ngotot dan kontra berdebat dengan si B.

    Ya sudah sewajarnya tiap manusia itu punya selera yang berbeda. Kan gak lucu jika nantinya seluruh pria mengikuti selera wanita dalam memilih pakaiannya. Beda jauhhh bos! hahaa

    BalasHapus
  8. Semua orang punya selera entah sama atau beda sama yang lainnya. Setiap orang juga berhak menyatakan pendapatnya tentang seleranya tapi sebaiknya juga jangan sampe merendahkan selera yang lain. :)

    BalasHapus
  9. Banyak sekali film yang gue nggak tahuuu. Yuhuuuuu. Hmmm jadi sebenernya banyak yang nggak selera sama kamu ya cha, tapi seleranya ke Nanda gitu? *menggunakan jurus menghilanng*

    BalasHapus
  10. Deretan filmnya oke-oke Cha, mulai dari The Shawshank Redemption sampe La La Land... worth to watch. Milih satu film bagus di tahun tertentu emang sulit, terutama kalo filmnya sama-sama luar biasa dan related ke kehidupan kita hehe.

    Duh, topik "selera" yang lo usung disini ngena banget. Keren pemaparannya. Setuju banget sama kalimat ini: "...kalau orang-orang yang ngerendahin selera itu punya hak buat ngerendahin, kita juga punya hak buat nggak ngedengerin."

    Gua udah kenyang berkonflik dengan orang lain terkait selera, sejak SMP hingga sekarang. Dulu pas masa sekolah, gua suka bingung, kenapa orang lain ga suka ama selera gua terkait musik, film, olahraga, dll, dan bingung kenapa selera gua berbeda sama yang laen. Bahkan gua sempet merendahkan mereka. Lama-kelamaan gua sadar, bahwa selera ga bisa dipaksain. Ga pantes juga merendahkan selera yang lain. Ini poin pentingnya Cha, bahwa kita cenderung menyukai apa yang kita pikir sesuai dengan persepsi kita akan kepuasan dan keindahan. Semua orang punya persepsi berbeda. Titik.

    Yang nyebelin adalah saat ada yang membuat penghakiman sendiri atas selera orang lain. Contoh sederhananya (dan ini sering) adalah saat gua terlihat ga nyambung saat orang lain ngomongin musik Indonesia populer, maka mereka bilang, "Lo kuper banget, ga tahu begituan. Makanya, kalo punya TV itu ditonton." Dulu mungkin gua akan marah, tapi sekarang, gua biasanya cuma senyum aja dan mendoakan bahwa mereka ga berpikiran sempit.

    Ngga usah minder Cha kalo selera kita berbeda. Apa yang kita anggap bagus, sepanjang itu ngga menyalahi norma dan bisa memotivasi kita setiap hari, kenapa harus malu? Pendapat orang lain boleh aja dijadiin masukan, tapi mending ga terlalu dibaperin. Gua sendiri punya selera pribadi akan musik dan film, dan gua berusaha mengambil manfaat positif dari situ.

    Well, gua lihat lo juga mengambil manfaat positif dari selera lo sendiri kan, bisa dijadiin bahan postingan di blog. Itu sesuatu yang positif. Keep doing it. Semakin kita nambah wawasan, dunia akan lebih berwarna :D

    BalasHapus

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com