First Man Is My First Love

Karena udah hampir seminggu aku belum bisa move on dari First Man, film tentang Neil Armstrong, manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan, aku akhirnya nulis First Man di blog. Sebenarnya nggak nulis juga sih tapi nyalin dari akun letterboxd hehehehe. Oh iya, tulisan di bawah ini mengandung limpahan spoiler, ya. 

Nonton First Man di first day filmnya tayang, yaitu tanggal 10 Oktober kemarin. Sebelum nonton, aku udah optimis bakal ngantuk nontonnya karena film luar angkasa macam First Man gini biasanya aku nggak suka. Nggak minat buat nonton lebih tepatnya. Interstellar, Gravity, Arrival, The Martian, Star Trek dan.... apalah entah yang jelas aku nggak pernah nonton film-film tentang luar angkasa. Kecuali Moon, itupun karena yang main itu Sam Rockwell. Oh iya, sama Passengers. Itupun juga nonton karena Jennifer Lawrence.

Aku semakin yakin bakal ketiduran pas tau durasi First Man nyampe 2 jam lebih. Aku langsung mikir ini film TERLALU WADAW UNTUK DITONTON ORANG YANG AWAM FILM LUAR ANGKASA KAYAK AKU.
Pengen banget nyubit hidungnya Ryan Gosling di sini uuuh~
Tapi ini filmnya mas Damien Chazelle gaeeees, orang yang harus bertanggung jawab atas remuk redam hatiku sama Whiplash dan baper parahnya aku sama La La Land. Aku jadi penasaran hatiku bakal diapakan lagi  sama mas Damien. Lagian di film ini ada Ryan Gosling sebagai pemeran utama. Yaps, bisa dibilang aku nonton ini juga karena dikuasai hawa nafsu pengen liat Ryan Gosling.

Hehehe.

Aku nonton ini sama Dina, temanku yang juga nggak suka sama film-film tentang luar angkasa. Parahnya, dia nggak sebaper aku pas nonton La La Land. Aku udah mikir aja kalau dia bakal jauh lebih ngantuk daripada aku pas nontonnya. Aku udah siap sama konsekuensi itu.

DEMI DAMIEN CHAZELLE DAN RYAN GOSLING!

Bukti cinta pada Damien dan Ryan.
TERNYATA....

KAMI SUKA FILMNYA. KAMI NGGAK NGANTUK. SAMA SEKALI.

Okelah harus kuakui sempat roaming sih sama istilah-istilahnya (yang sebenarnya cuma seuprit). Bikin mata kriyep-kriyep anjeeeer. Satu-satunya istilah yang bikin aku melek cuma palka albatif. Itupun juga melek karena aku salah baca subtitle-nya. Aku bacanya palkon huhuhuhu.

Tapi aku yakin kalau aku nggak salah baca pas bagian subtitle nayangin kalimat, “Perhatikan yaw.” Soalnya waktu itu aku sama Dina kompak ngakak. Itu memang subtitle-nya yang gaul kayak gitu, atau yaw itu memang jadi istilah di film ini, atau kami memang salah baca sih?

Entahlah.

Yang jelas, kami nggak ngantuk sama sekali. Filmnya enjoy buat ditonton. Durasi yang sempat bikin keder itu taunya berjalan dengan nggak berasa. Banyak hal yang aku suka dari First Man.

Hal pertama yang aku suka dari First Man yaitu karena film ini nggak sekaku yang aku pikir. Ada serpihan komedinya. Apaan dah serpihan. Maksudnya cuma sedikit gitu. Komedi di film ini yang aku ingat itu pas mabuk habis latihan. Neil Armstrong (Ryan Gosling) dan teman-teman seperjuangannya pada muntah kayak habis naik wahana Dufan. Tapi ya nggak komedi-komedi banget sih karena ITU SEREM ANJIR. Adegan-adegan pelatihan itu serem. Ditambah pas adegan lagi di dalam roket. Guncangan yang dirasakan Neil Armstrong dkk kerasa sampai di aku sebagai penonton. Teknik kamera handheld-nya bikin perut jadi nggak nyantai. Ikutan buat mual-mual juga.

Nah, itu hal kedua dari film ini yang aku suka. Film ini udah kayak film horor aja. Adegan yang melibatkan roket, kokpit, lagi di luar angkasa, itu bikin aku ketakutan. Pekerjaan Neil Armstrong sebagai astronaut itu membahayakan. Nyawa taruhannya. Pergi ke bulan udah kayak pergi ke medan perang. Rekan-rekannya pada mati gugur dalam tugas. Neil Armstrong dan istrinya, Janet Armstrong (Claire Foy) datang ke pemakaman yang udah kayak kondangan bulan September-Desember.

Alias ITU LAGI MUSIM-MUSIMNYA KAWIN. NEIL DAN JANET RUTIN DATANG KE PEMAKAMAN UDAH KAYAK LAGI MUSIM MENINGGAL SAKING SERINGNYA ADA YANG MENINGGAL.

Horor kan?

Hal ketiga yang aku suka dari film ini adalah pengambilan gambarnya. Kebanyakan close up, ngingatin aku sama Jackie. Pengambilan gambar kayak gitu berguna buat menyalurkan emosi para pemain ke para penonton. Terus kalau dalam film ini, berguna juga buat ‘ngasih tau’ kalau matanya Ryan Gosling itu memang indah banget. Bulu matanya panjang.

Informasi yang amat sangat berguna bagi para penonton, terutama penonton kayak aku yang haus akan kegantengan Ryan Gosling.

Hal keempat yang aku suka yaitu scoring-nya yang bikin eargasm. Selain memuja Damien Chazelle yang jahat udah bikin stabilitas perasaanku keganggu, aku juga harus memuja Justin Hurwitz. Scoring-nya bagus-bagus sumpaaah. Ada scoring yang bikin aku dan Dina ngerasa kayak lagi di negeri dongeng. Ada scoring yang bikin aku tau-tau langsung ngalir aja air asin dari mata. Ada scoring yang aku bikin mikir kalau itu scoring Black Panther nyasar ke sini. Dina mikirnya kalau itu mirip kayak anak-anak yang lagi ngebangunin sahur.

Anjir lah Dina itu pemikirannya nggak jauh-jauh dari keagamaan.

Bahkan ini, ya. Pas aku bilang kalau Neil Armstrong itu ibaratnya lagi jihad dan teman-teman astronautnya itu matinya pada mati syahid, Dina langsung nyamber,

"Heh. Mereka kafir itu nah."

HAHAHAHA aku ngakak sih.

Ah tapi pas ngebahas soal adegan mendarat di bulan, Dina bilang kalau misalnya dia jadi Neil Armstrong, di sana dia bakal nulis,

“Syaiba Meidina was here.”

Hmm. Islami-islami tapi ternyata riya’ juga. Balasku atas ucapan was here-nya itu. Gantian dia yang ngakak.

Satu lagi deng. Pas adegan kematian para teman-temannya Neil di kokpit dalam rangka uji coba kabel (kalau nggak salah), aku sama Dina malah ngakak. Adegan sedih malah lucu. Gara-gara Dina bilang kalau...

“Cha, itu kalau dikasih judul sinetron azab MNC, judulnya jadi Azab Astronaut Baik-Baik Terbakar Anget-Anget.”

BAJINGAAAAAN. Aku langsung nutup mulut buat ngeredam ngakak kerasku. Azab sekarang nggak pandang bulu kalau itu memang azab. Bangke lah kematian diparodiin gitu. Dina benar-benar perempuan islami yang membingungkan.

Untungnya om Damien Chazelle nggak bikin karakter Neil Armstrong ‘membingungkan’ juga. Ada salah satu adegan Neil diceritakan oleh istrinya kalau dia jago dalam bidang musik. Pinter main piano juga kalau aku nggak salah ingat. Aku harus bersyukur karena nggak ada adegan Neil Armstrong main piano. Kalau misalnya ada, mungkin aku bakal bingung dan reflek nanya,

SEBASTIAN IS THAT YOU?”

Eh lagian ini bukan film musikal sih jadinya nggak ada adegan main piano. Aku jadi ingat adegan pas misi Gemini 8 berhasil. Kelakuan salah satu kru misi itu udah kayak anak tongkrongan. Main gitar. Mungkin kalau Damien Chazelle nggak keluar dari zona nyamannya yaitu film musikal, bakal jadinya ada adegan khusus main gitar satu lagu penuh. Lagunya mungkin lagu-lagu Slank satu album. 

Ngomong-ngomong soal lagu, di film ini ada adegan demo. Salah satu pendemo nyanyiin lagu rap tentang misi Apollo 11, misi setelah Gemini 8. Aku jadi mikir itu lagu rap udah kayak diss track buat NASA. Emang Atta Halilintar aja yang bisa bikin diss track.

YA MEMANG NGGAK CUMA DIA AJA KALI YANG BISA BIKIN DISS TRACK.

Oke lanjut, ya. Hal kelima yang aku suka dari First Man adalah... film ini bagiku adalah film drama keluarga. Aku mengiyakan review Cine Crib sih, soal bagi yang suka Interstellar atau Apollo 13 mungkin bakal kurang terhibur sama First Man, karena First Man lebih ke personalnya Neil Armstrong, bukan ke spaceship adventure-nya. Ya, mungkin aku nggak bakal suka First Man kalau nggak ada unsur drama keluarganya sih.

Ryan Gosling nggak usah diragukan lagi aktingnya sebagai bapak yang kehilangan anaknya yang bernama Karen untuk selama-lamanya. Ryan Gosling nggak perlu nangis setiap saat buat ngasih tau kalau karakter yang dia perankan adalah karakter yang ngalamin banyak kehilangan. Kehilangan anak dan kehilangan teman-teman sejawat bahkan sahabat.

Neil Armstrong dan teman-teman seperjuangan.
Ryan Gosling sebagai Neil Armstrong ngadain pertemuan sebelum pergi ke bulan sama anak-anaknya, udah kayak lagi ngadain konferensi pers dengan nanya,

“Ada lagi yang mau bertanya?”

Itu udah cukup ngasih tau kalau betapa Neil Armstrong terlalu ‘kalem’ dalam menghadapi misi yang mengancam nyawanya itu, walaupun sebenarnya dia juga takut.

Ryan Gosling sebagai Neil Armstrong kelihatan sayang banget sama keluarganya, tapi juga berusaha profesional sama kerjaannya sebagai astronaut. Ryan Gosling bikin Neil Armstrong terasa ambisius tanpa terlihat gila kerja. Sekali lagi, Ryan Gosling sayaaaaaang banget sama keluarganya, terutama sayang banget sama anaknya yang udah meninggal. Adegan ngejatuhin gelang Karen adalah adegan yang bikin aku nangis sesak. Bahkan sampai sekarang kalau tiap ingat adegan itu, sambil dengerin Quarantine-nya Justin Hurwitz.

RYAN GOSLING IMAM MATERIAL BANGET.

Aku boleh bilang kayak gitu tanpa harus ada adegan adzan terdengar di bulan ada di filmnya kan? 

Claire Foy sebagai Janet Armstrong juga patut dipuji aktingnya. Main mulus-mulus nyes. Dia ngebuat ending film ini jadi nggak biasa. Nggak gegap gempita. Hening-hening menghanyutkan. Padahal itu happy ending tentang kemenangan bisa berhasil ngelaksanain misi. Yang aku pikirkan ending-nya bakal ceria. Taunya nyes bikin terdiam gitu. Indah sekaligus pedih. Tau-tau lampu studio nyala dan bikin aku malu karena nggak sempat hapus-hapusin airmata huhuhuhu.

Aku kepikiran sama ending-nya. Apalagi pas baca review-nya Mbak Niken soal First Man, terutama di bagian ini:



Diperjelas, terutama di kalimat: "Kalau kamu dan pasangan cukup bertatap-tatapan mata untuk bisa saling memahami, maka level hubunganmu sudah tinggi." 

Bikin aku mikir.... AAAAAAK AKU PERNAH HUBUNGAN YANG LEVELNYA SETINGGI ITU NGGAK SIH?

Oke itu nggak penting. Ngebahas aktingnya Claire Foy yang penting. Karakter ibu dan istri tersampaikan banget sama Claire Foy, lawan mainnya Ryan Gosling. Mati satu anak hamil lagi satu, layaknya Emily Blunt di A Quiet Place. Cemasnya dia sama keadaan suami, mulai dari misi Gemini 8 sampai Apollo 11. Bikin nyes juga pas dia ngeliat mukanya Neil bentuknya peyat peyot kayak mukanya Ratna Sarumpaet habis digebukin, eh habis operasi maksudnya. Neil habis jatuh dari roket. Tapi Neil nggak bilang. Terus Janet cemas tapi cemasnya nggak lebay.

Itu aja udah cukup buat ngasih tau betapa tertekannya jadi istri astronaut. Ditambah misi pergi ke bulan itu ditentang sama warga sipil. Dikatain pemborosan lah uangnya bisa dipake buat hal lain lah. Udah kayak netizen julid yang ngomentarin liburannya artis, terus bilang uangnya bisa disumbangkan ke pihak yang lebih membutuhkan. Aku bakal tertekan banget kalau jadi Janet.

Karena maunya begini mulu tiap malam bukannya ditinggal
pergi ke bulan huhu
Aku ngerasa terhubung sama Janet, walaupun aku nggak pernah ngalamin apa yang Janet alamin. Terutama pas Janet Armstrong bilang, “Aku hanya ingin stabilitas,” aku reflek nangis. Ini receh sih dan nggak ada apa-apanya dibanding dilema yang dihadapi Janet, tapi aku ngerasa relate. Dalam hati aku ngebatin,

“Sama, aku juga ingin stabilitas. Aku nggak mau punya hubungan yang naik turun.”

Jiwa melankolisku kepake banget gara-gara ini film huhuhuhu. 

Dengan banyaknya hal yang aku suka dari film ini, hal-hal yang nggak aku sangka bakal aku dapatkan, fix bikin First Man jadi first love-ku sama film-film tentang luar angkasa. Mungkin habis ini aku bakal nonton Interstellar dkk.

Mungkin. 

You Might Also Like

11 komentar

  1. Tinggalkan letterbox dan pulang kembali ke pangkuan blog. Insyaflah segera, kakak iparku!!

    BalasHapus
  2. Emang dah, yang first-first selalu memiliki sensasi yang berbeda. Belum nonton. Tapi kok aku kurang tertarik ya sama ceritanya. Konfliknya juga belum terasa tapi gatau deh kalo sudah nonton wkwk.

    Aku hanya ingin stabilitas, iya betul itu, masa punya pasangan harus ngertiin mulu, sekali-kali kita juga mau kali dingertiin wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, Sep. Yang first-first selalu berkesan. Iya wajar kali ya kurang tertarik karena ini film biopik kita udah tau siapa Neil Armstrong (walaupun taunya sekelebat info) terus endingnya kita udah tau gimana jadinya nggak penasaran.

      SETUJU SEKALEEEEEEH!

      Hapus
  3. Maaf, saya enggak akan komentarin film yang kamu tonton itu. Belum nonton dan kurang suka juga sama film luar angkasa. :(

    Kalau menurut saya, meskipun suka film-film garapan Nolan, tapi pernah pas pertama kalinya nonton Interstellar saya malah ketiduran. Alias ada bagian yang bikin ngantuk, Cha. Atau saya aja yang kurang tidur? Halah~

    Omong-omong, meskipun kita enggak suka sama genre filmnya, cuma kalau pemerannya adalah aktor/aktris kesukaan, entah mengapa pasti berusaha buat nonton, ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nggak papa, Yogs~

      Mungkin yang bikin ngantuk itu bagian yang soal astronautnya nyemburin istilah-istilah luar angkasa gitu kali, ya. Entahlah deh. Tapi durasinya memang wadaw sih. Dua jam lebih gitu ya, Yogs.


      Iya bener wkakakaka. Seenggaknya kalau nggak terhibur sama filmnya, terhibur sama aktor favoritnya.

      Hapus
  4. Gue kirain adegan tanya jawab itu memang konferensi pers?

    Sebenarnya bagian yang paling gue tunggu-tunggu adalah bagian mereka nancepin bendera Amerika di bulan. Itu kan ikonik banget ya! Tapi malah nggak ada. Jadi gue sedikit kecewa sih sebenarnya karena itu. Itu adegan yang paliiiiing gue tungguin soalnya. Tapi tetap favorit sih ini film.

    Btw, di endingnya gue juga nangis, Cha. Haha!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adegan tanya jawab yang mana neh, Mank? Kalau yang pas mereka ngumpul di meja makan itu ibaratnya pertemuan terakhir Neil sama keluarganya gitu. Tapi kaku banget nggak ada nuansa haru dramatisnya dari si Neil :(

      Iya nggak ada, malah digantiin sama adegan ngejatohin gelang. Eh iya nggak sih? Tapi kalau nancepin bendera itu kurang personal sih, lebih ke Amerika banget. Mungkin maunya si mas Damien ini filmnya terasa personal makanya adegan yang kamu tunggu-tungguin itu nggak ada. Mungkin.

      TOOOOOS SEBAGAI SESAMA MELANKOLIS!

      Hapus
  5. Untung udah kebal sama 'meteor' bernama spoiler. so, otewe nonton :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkakaka boleh juga tuh spoiler diibaratin sama meteor :D

      Hapus