Film-Film Dengan Pengalaman Nonton Membekas

Nonton film di bioskop memang punya sensasi tersendiri dibanding nonton di rumah lewat streaming atau download. Punya cerita tersendiri juga, yang ngebuat film itu jadi bermakna bukan sekedar film. Punya momen yang patut dikenang. Nonton sama mantan misalnya. Kadang kita bisa suka sama satu film tapi di saat bersamaan bisa benci karena nontonnya itu sama mantan yang sepanjang filmnya bukannya nonton malah sibuk celingak-celinguk cari pasangan yang lagi ciuman. Auto putus!

Nah, ada lima film yang membekas di kepalaku bukan cuma karena filmnya bagus, tapi karena pengalaman nontonnya itu…. entah bagus apa enggak. Oh iya, tulisan kali ini bakal puanjaaaaaaaang banget karena aku sekalian nge-review film-filmnya dan spoiler. Resiko gumoh ditanggung sendiri. 



1. Crazy Rich Asians
Crazy poor Asians menonton Crazy Rich Asians. Yeah, yang dimaksud crazy poor Asians itu aku dan Kak Ira, kakak sepupuku.

Aku sih lebih tepatnya huhu.

Aku nonton Crazy Rich Asians tanggal 11 September kemarin pake promo TIX ID Buy One Get One. Ngajakin Kak Ira buat nonton bareng. Sekalian pengen melepas kangen sama dia yang pulang dari Bontang. Kerjanya di Bontang btw dan dia pulang ke Samarinda dua minggu sekali.

"Tapi aku mau ketemuan sama temenku sih, Chaaaak. Di Big Mall." balasnya di Whatsapp pas aku ajakin nonton.

"Sampe jam berapa, Kaks?"

"Sebelum jam 2 siang udah selesai lah. Soalnya temenku harus balik jam 2."

Okelah karena itu aku beli tiket yang jam tayangnya 14.15. Di XXI Big Mall. Mau sih yang sore tapi habis Isya dia udah harus balik ke Bontang. Kayaknya mepet banget gitu sama nonton dan kepulangannya.

"Kaks, aku beli tiketnya ini. Seat-nya aku aja yang pilih ya." laporku ke Kak Ira.

"Seat berapa?"

"Seat E, Kaks."

Dia mengiyakan.

Sekitar jam 13.30, aku meluncur Big Mall dengan rencana bakal jemput Kak Ira yang lagi nongkrong sama teman-temannya, terus sama-sama ke XXI-nya. Nyampe sekitar jam 14.00 di Starbucks, tempat mereka nongkrong. Bukannya langsung cus ke XXI, aku malah disuruh duduk. Nungguin mereka (yang aku nggak kenal itu siapa-siapa aja padahal bisa dbilang aku kenal hampir semua teman Kak Ira) yang masih ngobrol. Terus...

"Ra, suruh sepupumu fotoin kita nah, Ra."

Kata salah satu temannya Kak Ira. Aku langsung angkat pantat dan nyambut hape yang temannya Kak Ira sodorin ke aku.

Oke aku fotoin. Beberapa kali. Dengan santai. Salah satu temannya, duduk di kursi tempat tasku ditaroh. Tasku ngejogrok jatoh. Mau ngambil tapi...

"Eh lagi dong. Sebelah sini."

Oke aku fotoin lagi. Iseng sambil ngeliat jam tangan.

BUSET UDAH JAM 14.25.

Aku jadi gelisah motoin mereka. MANA MEREKA MINTA NAMBAH MULU FOTONYA. MAU NGAJAK KAK IRA BUAT KELUAR DARI SITU JUGA NGGAK ENAK.

HUHU.

Otomatis habis aku balikin hape buat moto ke yang punya, aku....

"Kak, aku duluan nonton ya!"

Terus aku lari kayak orang lagi kebelet pipis.

Mana pas di eskalatornya penuh banget anjir. Mana pas nyampe bioskop juga rame banyak orang anjir mentang-mentang hari libur. Huhu.

Nyampe ke pintu studio, aku serahin ke bapak-bapak penyobek tiket. Bukan mbak-mbak kayak biasanya. Tapi bapak-bapak. Dua tiket gitu aja aku serahin. Habis tetek bengek itu aku masuk dengan semangat, dan terdengarlah suara demi suara dari dalam studio yang bikin aku jadi parnoan. Filmnya kayaknya udah mulai.

AKU NGGAK MAU KETINGGALAN SATU SCENE PUN. NGGAK MAU. NGGAK ENAK BANGET. CUKUP PAS NONTON IT AJA YANG KETINGGALAN GITU. AAAAAK.

Untungnya aku datang di saat tepat. Pas banget adegan pembuka filmnya. Udah lucu aja sih. Tapi aku nggak ketawa karena masih keingatan soal Starbucks. Agak kecewa karena ternyata Kak Ira ngumpul sama temannya lewat jam 2. Terus mereka nyuruh buat foto berkali-kali PADAHAL MEREKA TAU KALAU AKU SAMA KAK IRA ADA RENCANA NONTON JAM 2 LEWAT HUHU. ITU KALAU MISALNYA AKU JABANIN MEREKA MINTA FOTOIN MULU, KAPAN NONTONNYAAAAA?

Aku juga nggak ketawa karena nggak fokus. Hapeku getar mulu dan aku liat ternyata Kak Ira nelponin aku. Aku sengaja nggak angkat. Ya ya ya aku ngambek sama dia yaaaaa.

Pas adegan Rachel Chu (Constance Wu) mulai nongol, aku udah mulai rileks. Kemunculan Nick Young (Henry Golding) yang ganteng dan humble itu bikin tambah rileks. Aku udah siap bakal ngerasain gigi kering dan pipi pegal karena kebanyakan senyum ngeliat interaksi mereka berdua. Sampai akhirnya aku liat ada cewek jalan ke arah seat tempat aku duduk. Terus duduk di sebelahku, dan ngomong,

"Jangan marah gitu, Cha. Sooooorrrrriiii."

Ternyata itu Kak Ira.

Spontan aku nge-"Husssssh-"in dia dan fokus ke layar.

Dia nanya-nanya di beberapa adegan filmnya, hal yang wajar karena dia nggak tau premis film ini dan nggak pernah liat trailer-nya. Selain karena dia nggak tau apa-apa soal film ini, dia nanya-nanya juga menurutku karena dia tau aku lagi kesel. Menurutku dia nanya-nanya buat nyairin suasana.

Awalnya aku malas buat jawab, tapi lama kelamaan kasian juga. Aku jadi mikir kalau sumpah ya aku kekanakan banget. Sebenarnya buat apa sih aku kesal sama dia.

Untungnya (lagi) ini film komedi romantis yang bergelimang jokes dan kemewahan. Adegan demi adegan selanjutnya bikin aku susah buat nggak ngakak. Awkwafina sebagai Peik Lin lawak banget! Bikin aku susah buat nggak nyeletuk kagum terpukau parah. Terakhir liat orang Asia kaya raya itu pas liat Dao Ming Si-nya Meteor Garden huhu. Bikin aku susah buat nggak larut dalam suasana filmnya. Bikin aku susah buat nggak nangis pas di beberapa adegan, terutama di adegan pernikahan. Sonoya Mizuno sebagai Araminta cantik dan humble.

Adegan pernikahan itu yang terbaik sih dari film ini. Can't Help Falling In Love sekali lagi bikin aku baper dengan versi lainnya. Dulu baper pas liat trailer-nya Like Crazy, ada Can't Help Falling In Love versi Ingrid Michaelson. Terus di The Conjuring 2 juga ada. Gila dah itu lagu.

Aku dan Kak Ira nangis bareng pas ngeliat adegan itu. Ngeliat Rachel Chu nangis, kami juga nangis. Ngeliat Araminta pake baju pengantin ngelewatin sungai kecil, itu magis banget sih bikin nangis karena YA AMPUN GAUN PENGANTINNYA JADI BASAH KAN PASTI ITU MAHAL HUAAAAAAAAA.

Oke, bagian lainnya... aku suka juga. Aku suka ngeliat ada bartender bule di acara besar orang Asia HAHAHAH. Lucu aja sih kayak tukar nasib. Biasanya kan orang Asia dapat peran kecil-kecil di film Hollywood, ya. Lah ini nggak.

Oke. Itu bukan hal disuka yang penting buat ditulis sih. Oke, ini yang penting. Film ini Asia banget dan Asia 'berhak' buat mewah.Aku suka pola pikir orangtua Tionghoa kaya raya yang kolot ditampilkan dengan baiknya di sini. Kekolotan itu bukan cuma soal masa depan yang menyangkut finansial. Tapi juga soal kehidupan rumah tangga anaknya kelak. Eleanor (Michelle Yeoh), ibunya Nick Young, nggak suka sama Rachel selain karena beda kasta, juga karena beda cara pandang. Eleanor pengen anaknya nikah sama orang yang murni, Tionghoa asli. Masih memegang nilai tradisi, masih mengutamakan keluarga daripada impian. Rachel yang besar di Amerika, yang independen dan open minded itu, adalah gadis yang nggak murni di mata Eleanor. Jadi konfliknya bukan semata-mata,

"Ah, kamu nggak sederajat sama anak saya."

Mencoba tersenyum di depan camer.

Terus aku juga suka karakter Nick Young. Aku jadi ingat bahasan di grup Whatsapp soal film ini, terutama di kalimat,

"Nick Young adalah Christian Grey versi Asia."

Aku setuju, sekaligus mikir kalau Nick Young jauh lebih loveable daripada Christian Grey. Nick lebih membumi, nggak arogan, dan jelas, nggak suka BDSM. Fetish-nya mungkin cewek kacamataan. Aku mikir gitu karena ada adegan di mana Nick dan Rachel baru bangun tidur, terus Rachel pake kacamatanya, dan Nick langsung menerkamnya. Morning glory tengah menimpa titit Nick.

Satu lagi, Nick juga rela makan kue sisaannya Rachel. Sengaja minta disisain malah. Udah kayak Jo di Sore: Istri Dari Masa Depan yang makan sisaannya Sore. Kalau Mr Grey mah nggak mungkin gitu. Yang ada kalau Anastasia Steele gitu, mungkin bakal diomelin sama Mr Grey. Dipaksa buat habisin kuenya. Kalau Anastasia bandel nggak mau ngehabisin, dikasih hukuman pukul bokong.

Cuman gimana, ya. Film ini bikin aku nggak puas-puas banget. Aku ngerasa masih kurang ditampol emosinya. Seandainya aja kalau masalah Astrid (Gemma Chan) soal rumah tangganya itu dapat porsi yang dibanyakin sedikit lagi, mungkin aku bakal ngerasa puas parah sama film ini. Tapi ya gimana, film ini kayaknya memang cuma buat masalahnya Nick dan Rachel aja deh.

Lagian aku yang belum pernah baca novelnya berekspektasi kalau film ini punya ending yang sedih. Adegan mahjong adalah adegan pengikhlasannya sekaligus kemenangan Rachel akan dirinya sendiri, dan itu sempat bikin aku mikir kalau dia dan Nick nggak bakal bersatu. Yeee taunya…

Emang kayaknya aku suka percintaan yang kelam apa, ya. Huhu.

Ah tapi yang jelas, film ini loveable. Menghibur. Menyenangkan. Menyatukan. Ya, menyatukan aku sama Kak Ira. Habis nonton, Kak Ira cerita gimana dia bisa masuk ke dalam studio tanpa tiket (karena tiketnya sama aku). Dia nelpon-nelpon aku buat nyuruh aku keluar, aku nggak angkat. Jadinya dia ngomong panjang lebar sama bapak-bapak perobek tiket itu, dan akhirnya bapak-bapak itu ngebolehin Kak Ira masuk karena Kak Ira bilang beli tiketnya pake TIX ID.

"Oh ya, tadi ada cewek pake kacamata yang pake TIX ID dua, tapi dia datang ya sendirian. Gitu katanya, Cha. Aku langsung teriak iyain itu temen yang aku maksud udah masuk duluan terus bisa masuk deh hahahaha."

Aku ngakak-ngakak ngerasa bersalah pas dengernya sih.

"Terus kamu tadi pas pergi itu ya, Chaaaak. Itu temen aku udah nyodorin hapenya ke kamu, mau boomerang. Eh tapi kamunya pamit pergi. Pas kamu pergi temen-temenku cengo dan yang nyodorin hape ke kamu itu bilang ANJING TAU NGGAK SIH HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA AKU NGAKAK DAH DI SITU."

Aku tambah ngakak. Fix itu bukan salah Kak Ira. Aku salah udah kesel sama Kak Ira.

Crazy Rich Asians seolah ngasih tau aku kalau menikahi seseorang berarti menikahi keluarganya juga. Pengalaman kesel sama soal Starbucks seolah ngasih tau aku kalau temannya Kak Ira adalah temanku juga.

Untungnya, Kak Ira nggak nganggap teman-temannya barusan itu beneran teman. Cuma sebatas teman SD. Teman SD yang dulu pernah musuhin dia dan tau-tau sekarang ngajakin reunian. Kak Ira sebenarnya mau nolak ikut tapi males dighibahin. Pantesan aja aku nggak pernah liat Kak Ira jalan sama teman-temannya itu sebelumnya. Jadi aku lega sih kalau ternyata Kak Ira juga ngakak pas aku bikin teman-temannya kecewa karena nggak jadi bikin boomerang.

Jadi nggak papa kan kalau aku kesel sama mereka?

Nggak papa palelu.



2. Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Aku nonton ini tanggal 1 September sama Ani, teman sekelasku waktu SMK. Hal menyenangkan pertama dari nonton film ini yaitu pas ngeliat logo 20th Century Fox. Bikin sumringah. Serasa nonton film barat. Aku sama Ani cengar-cengir.

Ditambah liat Mahesa Birawa kecil menurutku mirip Jaden Smith pas main di The Karate Kid. Terus salah satu karakter jahat di film ini, yang sekomplotan sama Mahesa Birawa gitu. Cowok lah pokoknya. Gaya rambutnya dikepang ala Katniss Everdeen. Mana keteknya mulus pula. Hampir semua cowok di film ini kayaknya keteknya pada mulus semua deh.

Jadi, film ini menyenangkan buat aku dan Ani. Chemistry antara Wiro Sableng (Vino G Bastian) dan Sinto Gendeng (Ruth Marini) itu so sweet. Aku sempat ngerasa tersentuh sih pas adegan Wiro dilepas ke alam liar. Sebelumnya juga ngerasa tersentuh pas Wiro ngomong,

“Baju putih susah nyucinya!”

Tersentuh karena ingat mama di rumah. Ya ampun, Wiro! Kau kayak mamaku.

Aku cocok sama jokes dari film ini. Adegan bak-buk-bak-buk di warung makan itu favorit. Puncak ngakakku yaitu adegan nampar ala cewek-cewek yang habis kena pelecehan seksual. Bikin ngakak brutal.

Cuman agak kurang puas aja. Komedinya boleh lah tapi…. Waktu Rara Murni (Aghniny Haque) nya nanya ke Wiro,

“Hah? Tadi ngomong apa?”

Pengen rasanya nanya juga. Di sebagian besar adegan, suaranya sering nggak jelas. Nggak nangkep mereka barusan ngomong apa. Kebanyakan dari si Wiro Sablengnya sih. Terus CGI-nya agak bikin hah-hoh-lah-kok-gitu-ih-lucu. Nggak semuanya sih tapi…. yang pas adegan Anggini pertama muncul itu membekas banget hah-hoh-nya. Ya tapi seenggaknya nggak parah (tapi lucu) kayak filmnya Stephen Chow yang The Mermaid sih.

Ngerasa kurang puas juga sama kemunculan para karakter pendukung. Marsha Timothy sebagai Bidadari Angin Timur yang datang ngilang. Kayak Jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar. Atau kayak ibu peri yang datangnya pas tokoh utama lagi kesusahan.

Soal karakter favorit… Rara Murni aku suka sih. Satu lagi, aku juga suka si Bujang Gila Kentut Sakti. Eh, Tapak Sakti deng. Habisnya kentutnya bermanfaat gitu sih buat kepentingan salah satu adegan.
Bujang Gila >>> Wiro Sableng
Ngerasa kurang puas juga karena aku nggak terlalu bisa sepenuhnya nikmatin film ini. Awalnya karena ngeliat salah satu penonton di depanku lagi ngerekam adegan berantem di film ini buat Instastory-nya. Aku langsung nyeplos,

“Ih ada yang Instastory lagi!”

Si orang itu langsung nge-lock hapenya, entah karena memang ngerasa kesindir atau karena udah selesai ngambil gambar buat update-annya. Aku pun tersenyum puas terus duduk senderan lagi.

Selang beberapa lama kemudian, aku kebelet pipis. Kandung kemihku berasa digedor-gedor. Dodolnya aku masih aja nyeruput minum. Menuju ending tambah parah kebeletnya. Aku sampai gelisah nggak bisa duduk senderan, bisanya cuma duduk tegap kayak lagi interview.

Ani, temen nontonku, ternyata juga kebelet pipis. Pantesan dia diem kalem padahal ada adegan yang biasanya bikin dia ngakak menggelegar.

Fix kami bertahan dengan kebelet pipis kami. Pantang keluar sebelum kelar.

Aku jadi mikir, kayaknya kami dikutuk sama yang aku sindir soal Instastory itu deh. Huhu.



3. Kafir
Nonton ini pas tanggal 1 Agustus. Di awal-awal filmnya, aku sempat mikir kalau film ini bukan film horor, tapi film..... kuliner. Food porn! Ada penampakan gulai ayam, sop ayam, bubur. Pengambilan gambar masakan-masakan itu dari dekat pula. Aku dan Mbak Eka, teman kerjaku yang jadi teman nonton film ini, sempat cemas. Mbak Eka nanya ke aku,

"Ini kita nggak salah film kan?"

Terutama pas sop ayam di-shoot dengan jarak dekat. Aku sama Mbak Eka makin cemas.

Bukan Dilan.


Seiring filmnya masuk ke kira-kira durasi satu jam, aku mulai ngerasa bodoh udah cemas gitu, dan baiknya mikir kalau Kafir memang film horor.... yang ada unsur kulinernya. Adegan seremnya berhubungan dengan makanan sih. Herman (Teddy Syach) punya adegan tersedak pas lagi makan malam. Terus pas diminumin air dan tersedaknya berakhir, yang keluar bukannya tulang ayam tapi beling. Kesedihan yang dialami Sri (Putri Ayudia), istrinya Herman juga berhubungan sama makanan. Setelah sang suami meninggal, Sri yang jago masak itu 'mencoret' gulai ayam dari list masakan untuk keluarganya, karena menu itu adalah favorit suaminya.

Ditambah Andi (Rangga Azof) punya pacar bernama Hanum (Indah Permatasari cantik banget di sini daripada di Jomblo) yang punya usaha catering bareng ibunya.

Hmm makanan banget kaaaaan.

Tapi dengan munculnya penampakan 'si karung goni,' aku mulai ngerasa takut. Laperku mulai pudar.

Adegan seramnya nggak berlebihan sih. Makhluk halusnya juga nggak banci tampil. Jalan ceritanya cukup rapi sampai menuju ending. Karakter demi karakternya kuat. Terus adegan menuju ending itu sempat bikin shock. Mbak Eka seneng banget begitu tau kalau prasangkanya soal Hanum itu bener. Aku juga seneng karena kejutan di film ini bisa dibikin judul sinema religi Indosiar. Sahabatku adalah Perebut Suamiku yang Telah Mengandung Anakku.

Oh iya, sebenarnya adegan demi adegan film ini ngingatin aku sama Pengabdi Setan. Ada adegan dengerin radio, adegan dengerin lagu pake piringan hitam, adegan sisirin rambut, adegan dukun, nuansa merah, numpang rumah orang---- Rumahnya pun menurutku mirip sama rumah di Pengabdi Setan. Cuman kalimat "Ibu haus," di film ini nggak bisa disamain sama kalimat "Sisirin Ibu," sih ehehehe. Lebih lucu ibu kehausan itu.

Tuh kan, kehausan. Berhubungan sama kuliner gitu kaaaan.

Tapi secara keseluruhan, ini film horor. 

YAIYALAH, CHAAA.

Walaupun pas pulang aku dan Mba Eka bukannya ketakutan, tapi kelaparan.



4. A Quiet Place
Nonton film ini dua kali, tanggal 7 April dan 20 April. 

Plus dalam keadaan mataku diperban sebelah. Ini pas aku parah-parahnya infeksi mata. Awal-awalnya kornea mataku meradang akibat pemakaian softlens yang over. Kalau kata Kak Fitri, mataku jamuran. Huhuhu.

Ini salah satu contoh penampakan mataku diperban. 
Rina, Mbak Eka, Mbak Ucy, Emily Blunt

Kak Fitri juga yang bikin pengalaman nonton A Quiet Place yang pertama jadi lebih membekas daripada nonton pas kedua kalinya. Pas nonton kedua kali, membekasnya karena aku yakin banget kalau aku bakal jadi yang paling kalem di antara temen-temen kantor pas nontonnya, karena aku udah nonton. Yakin kalau aku bakal menyeringai puas pas mereka ketakutan.

Tapi ternyata....

ANJIR BENER AKU TETAP KAGET DI BANYAK ADEGAN ANJIR ADEGAN LAMPU TEMBOK JATOH AJA AKU MASIH KAGET MAMPUS ANJIR TERUS AKU MASIH AJA NANGIS PAS ADEGAN AYAH SAYANG ANAK ANJIR.

Azab orang takabur ya gitu huhuhu.

Di nonton pertama kali, aku juga kena azab dan itu membekas.

Awalnya aku udah ada rencana mau nonton sama Dina. Tapi gagal karena soal mataku. Aku mikir kalau nonton sama Kak Fitri mungkin nggak masalah karena Kak Fitri bisa jadi tameng dari larangan nonton dari Mamaku. Lagian seumur-umur aku belum pernah nonton sama kakak keduaku itu.

Tapi acara nonton yang aku pikir bakal berjalan nyenengin, malah ngeselin. Kami berantem gara-gara soal debat mau nonton di mana. Terus dia pake telat datang ke bioskop. Rasanya percuma aja aku ajak dia, karena aku ajak dia biar aku ada temannya. Malu anjir keliaran dalam keadaan mata diperban. Ditambah aku baru tau kalau ternyata kakakku itu udah nonton filmnya, dan pas di salah satu adegan, aku yang deg-degan mau nangis terus dengan entengnya beliau bilang,

"Nggak mati dia. Masih hidup..."

ANJIR KAN SPOILER YAK HUHUHU JADI KURANG DEH FEELNYA.

Tapi film ini bagus. Aku selalu suka film tentang keluarga gitu. Film ini 'banyak diemnya' buat nebarin nuansa horornya. Jadi jangan harap ada sound effect, scoring, apalah itu macam Karma ANTV.

YAELAH SIAPA JUGA YANG NGAREP, ICHAAAAA.

Terus adegan bathub adalah salah satu adegan yang keparat. Aku suka. Selain bikin deg-degan, juga bikin ngerasa perjuangan ibu dalam melahirkan anak itu memang berat. Jadi renungan gitu. Beda banget sama adegan bathub dari Paku Kuntilanak, di mana Dewi Persik dan Keith Foo asik bersenggama dalam limpahan busa.

Oh iya ada lagi. Adegan John Krasinski pas teriak dan Noah Jupe pas gendong adek bayinya, bikin nangis. Aku lemah sama kaum adam yang kebapakan.

Kebapakan kayak gini ngemong anak uwuwuwuw~

Aku juga lemah sama amarahku sendiri. Aku kesel sama kakakku yang sepanjangan nonton sibuk main hape dengan pencahayaan terang. Kesel banget. Mentang-mentang udah nonton. Spontan aku negur dia dengan juteknya. Nggak lama dia….

“OH KAMU PULANG SENDIRI YA NANTI NGGAK USAH SAYA URUSIN LAGI KAMU.”

Aku kaget. Antara karena nggak nyangka kakakku marah atau malu denger kakakku ngomong kayak gitu dengan suara keras.

Pas filmnya kelar, kakakku langsung ngeloyor pergi duluan. Aku ikutan langsung keluar bioskop. Rencananya mau naik angkot pulangnya. Tapi itu harus jalan kaki dulu dari Samarinda Square, tempat aku nonton, ke halte. Jaraknya lumayan jauh.

Aku jalan kaki dan pas nyampe ke halte mau nelponin Dina buat curhat, TAUNYA HAPEKU NGGAK ADA DI TAS. Aku inget-inget lagi dan ternyata hapeku ketinggalan di bioskop.

Aku. Langsung. Nangis. Di. Tempat.

Nangis karena ngerasa apes sekaligus ngerasa aku kualat karena kesel sama Kak Fitri. Sambil nangis aku jalan kaki lagi ke Samarinda Square. Kakiku rasanya mau patah.

Bener aja, pas nyampe bioskop, hapeku beneran ada di sana. Nggak lama habis tetek bengek pengambilan hape sama orang XXI-nya, Kak Dayah nelpon aku. Dia bilang mau jemput aku.

Untung punya kakak banyak huhuhu.

Di perjalanan pulang, Kak Dayah ngomelin aku yang udah kesel sama Kak Fitri. Aku diam sambil manggut-manggut, terima aja, karena ya itu memang salahku. 

Kenapa aku nggak bisa kalem pas kakakku telat datang? Kenapa aku nggak negur baik-baik soal kakakku yang main hape? Kenapa aku harus terlalu perfect dalam nonton?

Gara-gara itu aku diem-dieman sama kakakku berhari-hari. Sekarang udah baikan sih, tapi kayaknya dia udah kapok deh nonton sama aku. Huhuhu.



5. Avengers: Infinity War
Aku nonton film ini dua kali sama kayak nonton A Quiet Place. Nonton pertama berhubungan sama lagunya Charlie Puth. Di perjalanan pulang dari bioskop habis nonton Avengers: Infinity War yang pertama kali, di hari pertama, aku dengerin Done For Me-nya Charlie Puth feat. Kehlani. Terus senyam-senyum karena ngerasa penggalan liriknya relatable sama keadaanku. Tinggal diganti liriknya, kata "Baby," di dalamnya diubah dan jadilah,

"I lie for you, Avengers. I die for you, Avengers. Cry for you, Avengers."

Yaaaa, nggak nyambung sama makna lagu sebenarnya sih ehehe. Tapi aku ngerasa memang lagi ngalamin itu demi Avengers. Demi film ini.

I lie for you, Avengers. Harus jadi manusia penuh 'trik' buat bisa nonton film ini di hari pertama, tanggal 25 April. Seenggaknya itu buatku. Aku harus check-up mata di jam makan siang, bukan pulang kerja kayak biasanya. Dokter bilang mataku udah mendingan, tapi tetap aja harus kontrol lagi dua minggu ke depan. Hal itu bikin aku mikir kalau aku nggak diizinkan buat nonton karena aku belum sembuh. Jadi jadwal check-up mataku, aku pake buat nonton. Skenario kebohongan yang jangan ditiru ya, anak-anak. Huhuhu.

I die for you, Avengers. Ini rada lebay sih. Aku seolah udah siap terima konsekuensi kalau ntar aku dimarahin sama orang rumah karena nekat nonton. Aku juga seolah udah siap mati di kantor karena aku mengkhianati teman-teman kantor. Hedeh lebay. Tapi iya sih aku berkhianat sama mereka, aku janji bakal nonton sama mereka. Tapi akhirnya aku mutusin buat nonton sendirian karena panas liat review di Letterboxd.

Gimana ya. Mereka pada udah yakin aja nggak bakal kebagian. Jadi aku nekat buat nonton sendirian. Pas udah dapat tiket, aku langsung laporan di grup. Mbak Vemy, SPV-ku tercinta, bilang aku tega udah nonton duluan. Huhuhu.

Oh iya, buat dapatin tiket, aku cukup diuji. Di bioskop mal deket kantor udah pada habis, terus aku langsung pergi ke bioskop mal rada jauh dari kantor. Antriannya cukup ngular alias panjang. Pas lagi khusyuk ngantri, ada mbak-mbak (atau ibu-ibu ya?) yang ngerocos soal ini-21-ya-bukan-XXI-itu-film-apa-mbak-mau-nonton-apa-mbak-eh-Perfect-Husband-malam-banget-ya-duh-saya-ini-ngajakin-adek-saya-dari-Bontang, yang ujung-ujungnya dia pengen nonton film ini.

"Barengan ya duduknya, Mbak."

Aku ngiyain dengan senyum.

Ternyata pas nyampe di mbak-mbak tiket, si mbak (atau ibu?) itu nggak jadi barengan sama aku. Dia milih di jam lain karena masalah seat.

Okesip.

Cry for you, Avengers. Ah yang ini.... aku udah nangis dari awal filmnya. Pembuka yang greget. Hati yang sensitif jadi tambah sensitif. Bikin jiwa dan raga siap untuk digeber filmnya sampai habis. Aku sampai lupa minum teh kotak yang ada di tas.

Banyak pemikiran liar yang timbul akibat film ini. Bola mata Thor pemberian Rocket itu bikin mupeng. Seandainya aja bisa kayak Thor. Jadi aku nggak perlu pake perban deh huhuhu. Captain America dengan jambangnya itu bikin aku gigit-gigit bibir. Jambang Captain America melebihi Jambang Thor. Drax makin lucu makin pengen dipeluk. Sabdanya yang, "You are dude, this is man," bikin aku ngakak. Mantis juga makin lucu gemesin dengan tingkah polosnya. Gemes juga pas liat Tony Stark. Gengsinya Tony Stark buat ngehubungin Steve Rogers udah kayak mantan gengsi ngehubungin mantannya. Nuansa jadian putusan pun tambah kental pas Bruce Banner ngomong, "Avenger bubar?"

Lucu sih. Tapi film ini nggak cuma ngandelin jokes-nya. Film ini bukan cuma berlimpah adegan action (adegan aksi melindungi 'operasi pengangkatan tumor' itu keren!) dan 'penyiksaan' (pas adegan 'akupuntur' cukup ngeselin!) tapi juga sarat akan drama persahabatan, drama keluarga, dan drama percintaan. AKU NANGIS BUAT KETIGA-TIGANYA HUAAAAA. Nangis bahagia, nangis terharu, nangis prihatin, nangis marah, nangis---

Apalagi pas menuju ending. Rasa sayang yang baru tumbuh akibat maratonin filmnya, jadi bertambah besar. Terus gara-gara film ini jadi makin sayang sekaligus patah hati (in a good way). Bahkan ada satu tokoh yang aku nggak sangka bakal bikin aku nangis, ternyata bikin aku nangis juga. Sakit. Ini bisa dibilang sakit tapi nggak berdarah nggak sih?

Aku paling sedih liat Bucky jadi debu. Adegan perdebuan bikin aku jadi ngebayangin kalau itu dibikin bener-bener slow-motion terus diiringi Sampai Jadi Debu-nya Banda Neira. Aku cinta Bucky sampai jadi debu.

Aku adalah Mantis pas sebelum nangis liat adegan perdebuan.
Nah, pas nonton kedua kalinya, aku bareng teman-teman kantor. Banyak hal yang baru sadarin dari filmnya. Satu, aku baru sadar kalau yang nonton niatnya pengen liat Tom Hiddleston, kepaksa harus kecele. Dapat jatah dikit nampilnya itu si Tom.

Terus adegan Soul Stone 'minta tumbal' jadi adegan pertama yang bener-bener mengiris hati. Thanos pun ikut teriris, karena sebenarnya beliau punya rasa punya hati. Beliau layaknya tokoh antagonis di film-film depresif, yang bikin kita simpati sama dia. Niatnya baik, tapi caranya salah. Biasanya kan itu niatnya baik, hasilnya juga baik. Thanos ingin 'beramal' baik demi keseimbangan makhluk hidup. Tapi ya itu, niat Thanos menghasilkan derita. Hadis "Innamal a’maalu bin niyyah (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat)," nggak berlaku pada Thanos.

Di nonton kedua kalinya, aku masih aja susah buat milih lebih bikin baper yang mana antara adegan Gamora bilang, "I love you more than anything," atau adegan pas Vision ngomong, "It's OK, I love you."

BIKIN BAPER DUA-DUANYAAAAAA.

Oh iya, aku juga baru sadar kalau…. Kenapa cuma Peter Parker yang kesakitan pas mau melebur? KENAPAAAAAA?

Oke, yang membekas dari nonton kedua kalinya tanggal 4 Mei bukan karena hal-hal di atas. Tapi karena nonton ini bareng teman-teman kantor. Pas nonton pertama kali dengan kondisi sendirian, aku nggak siap sama ending-nya yang bikin kalut itu. Pas nonton kedua kali, aku siap sama ending-nya jadinya nggak nangis lagi.

TAPI AKU NGGAK SIAP SAMA KENYATAAN.

Habis nonton, Rina, salah satu teman kantorku sekaligus teman dekatku, bilang kalau besoknya dia udah nggak masuk kerja lagi. Pengurangan karyawan, hasil dari dia dan beberapa teman kerjaku lainnya yang dipanggil HRD sore harinya sebelum kami nonton. Aku nangis. Aku kalut mikirin temanku itu. Selama ini duduknya sebelahan sama dia. Tiap hari aku sama dia. Curhat, ngedumel soal orang rumah, ghibahin teman, sama dia. Ke mana-mana sama dia. Kami sampai dibilang duo kembar saking seringnya kelihatan sama-sama.

Dunia kerja kejam dengan 'memusnahkan' sebagian karyawannya. Mungkin maksud kantorku pengurangan karyawan itu supaya 'seimbang,' tapi kenapa harus dadakan? Nggak dikasih jeda atau apalah itu. Aku mikir itu bisa aja terjadi sama aku, di mana aku pasti bakal sedih banget karena kehilangan pekerjaan. Tapi aku juga sedih karena harus lihat teman dekatku nggak sekantor sama aku lagi. Aku nggak siap.

Ini mungkin berlebihan, tapi aku harus bilang. Kalau aku ngerasa Thanos dan kantorku nggak ada bedanya.



Btw, hari ini ulang tahunnya Rina. Nulis yang terakhir bikin aku jadi mellow. Anjir. 

You Might Also Like

6 komentar

  1. dari semua film yang lu sebutin diatas, enggak ada film yg udah gue tonton. bgst. ngerasa kesel sama diri sendiri jdinya. bioskop sini aneh sih. klo mau tau anehna gimana, bisa baca d blog gue ya.

    *abis ini diomelin ica*

    klo dari yg cerita lu ini, gue nangkepnya yg pertama sama yg terakhir ya yg paling kerasa. kak ira ini tipikal manusia yg baik ya, gue enggak bisa nyontoh dia kayaknya. coba dicontoh kayak kak ira gitu, ca. sapa tau berhasil.
    baru tau juga, klo elu segitunya pas nonton film yak. hahaha. untung pas adegan hape lu ketinggalan, ga ditanggepin sama kaka lu,
    "MAMPUS LU,CA. KUALAT KOE"

    hahaha

    BalasHapus
  2. BROKER AMAN TERPERCAYA
    PENARIKAN PALING TERCEPAT
    - Min Deposit 50K
    - Bonus Deposit 10%** T&C Applied
    - Bonus Referral 1% dari hasil profit tanpa turnover

    Daftarkan diri Anda sekarang juga di www.hashtagoption.com

    BalasHapus
  3. Tagline blog tidak sesuai dengan isi. Masa atasnya Pelacur Kata tengah-tengahnya ngeluarin hadis, harusnya kan ngeluarin.. *mikir* ngeluarin... *masih mikir* ngeluarin apa hayoooo

    BalasHapus
  4. Hahaha rusuh juga tuh yang pas crazy rich asian. Gue kalo jadi kak ira udah pasti beli tiket lagi, terus duduk di samping lo sih. Gak jajgo gue ngelobi2 gitu. Muahaha. :))

    BalasHapus
  5. Perempuan memang hebat syekali melakukan akting. Bahkan dengan orang yang tidak disukainya pun maish bisa berhahahihi dengan akrab. profesional.

    Kantormu dan Thanos sama sjaa? apakah sebelum ngasitau bakal nggak kerja di kantor itu lagi dia bilang "i dont feel so good?"

    BalasHapus
  6. ((morning glory tengah menimpa titit Nick))

    Ya, Cha. Serah lu aja, Cha.

    BalasHapus