Maaf Untuk Keputusan Ini

Andai saja ada kata yang benar-benar bisa menggantikan judul kali ini, mungkin aku akan menuliskan judul "Review Pengabdi Setan (2017)" seperti review-review film pada umumnya. Tapi ini lebih ke tentang curhat, bukan review film. Rasanya lebih berat mengulas perasaan daripada mengulas film itu sendiri.

Ini seperti ingin mengatakan "Game of Thrones b aja," kepada para netizen yang tengah engas menunggu season 8-nya series yang ngehits itu.

Butuh diam yang lama sampai diamnya menjadi emas. Butuh keberanian sedemikian rupa, sampai akhirnya aku bener-bener bisa mulai untuk menuliskan ini.

Maaf, Ibu datang lagi. Ibu kangen.

Sedari 3 hari yang lalu, lebih tepatnya ini sudah kupendam sejak hari Kamis lalu. Aku seperti mengalami fase di mana rencana yang telah dicanangkan selama ini, hanya berbuah sia-sia.

Obrolan di grup Nobar Squad yang berkepanjangan.

Harapan bisa menonton Pengabdi Setan di hari pertama yang selalu dipanjatkan.

Bawa bekal ke kantor yang terus dilakukan. KARENA HEMAT ANJIR AKU UDAH BERAPA KALI NONTON BULAN INI. PENGHEMATAN DALAM MAKAN SIANG HARUS DILAKUKAN HUHUHU.

Tapi, ini adalah kenyataan yang harus aku pikirkan.

Entahlah, aku masih belum habis pikir harus memulai pembicaraan ini dari mana. Bukan perihal aku sedang patah hati karena urusan Cinta. Maaf, urusan Cinta itu cuma teman segeng-nya dan Rangga yang tau. Lagian, tanda-tanda diproduksinya film Ada Apa Dengan Cinta 3 belum juga nampak.


Lalu, apa yang membuat Emma Stone begitu ragu untuk bicara?

Penyesalan. Satu kata yang awalnya nggak perlu aku berikan kepada dua teman nontonku. Kak Ira dan Kak Hendra. Tapi, jika ini nggak kunjung aku muncratkan, justru akan mem-BDSM aku sendiri.

Kepikiran berkepanjangan. Ingin rasanya mengulangi dari awal. Tapi, aku nggak bisa melakukan itu.

Sebelum semuanya benar-benar aku katakan, mungkin hal pertama yang harus aku tulis untuk paragraf selanjutnya adalah TERIMAKASIH DAN MAAF.


Terimakasih dan Maaf Semua Harus Berubah.

Pertama. Aku mau ngucapin terimakasih banget buat grup Whatsapp Nobar Squad yang anggotanya terdiri dari.... hem..... 3 orang. Aku, Kak Ira, dan Kak Hendra. Mereka berdua udah mau menerimaku dan membesarkan hasrat menontonku sampai saat ini.

Mungkin, tanpa grup itu, aku nggak akan pernah nonton dalam posisi layaknya threesome. Alias dua cewek, satu cowok. Aku pernahnya nonton dalam posisi dua cowok, satu cewek, pas masih SMK. Sama Ikhsan dan Wahyu. Sungguh membuatku kelelahan menjadi perempuan seorang diri waktu itu.

Grup Nobar Squad selalu ngasih optimisme ke aku. Selalu ngajarin bahwa ketika dalam keadaan apapun, aku harus bisa nonton film di bioskop kesayangan, bukan nonton yang bajakan.

Kedua. Aku mau ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya untuk Mbak Eka dan Rina yang mau nonton Pengabdi Setan sama aku. Sampai sekarang mungkin mereka masih trauma nonton sama orang sebrutal aku ini. Tapi mereka terlihat ikhlas lahir batin. Padahal menonton film itu yah.... mungkin nggak begitu penting bagi hidup mereka. Mereka lebih pengen nyoba tempat makan baru nan ngehits yang harganya nggak manusiawi, demi memenuhi kebutuhan feed Instagram.

Ketiga. Terimakasih kepada Om Joko Anwar selaku sutradara film Pengabdi Setan. Filmnya bangsat-bangsat memuaskan. Ikhtiar beliau selama 10 tahun, demi mendapat restu untuk menggarap ulang Pengabdi Setan (1981) akhirnya nggak berbuah sia-sia. Pengabdi Setan (2017) adalah bukti nyata dari usaha yang berkepanjangan, doa yang terus dipanjatkan, dan sujud yang terus dilakukan. 

Om Joko memeras ide mentah alias orisinil dari Pengabdi Setan (1981) menjadi Pengabdi Setan (2017), film horor dengan drama keluarga yang mengikat emosi penontonnya. Menjadi sebuah cerita menyeramkan sekaligus menyentuh yang patut diapresiasi. Menyelipkan reflek tawa yang membuat perut tergelitik. Om Joko sempat-sempatnya melucu di film horor pertamanya ini. Banyak jokes yang membekas. Baik itu menimbulkan reflek tawa ataupun reflek takut, bahkan keduanya sekaligus. Contohnya adalah ini:

Qucedilaaaaa. 

Ingin rasanya aku menampol wajah Om Joko sambil memaki,

"Jokes dijogo, Jok!."

FRIENDZONE ITU SEREEEEEM FAAAAK.


Terus, maafnya Emma Stone mana?

Oh iya, kebanyakan terimakasih udah kayak pemenang piala Oscar aja. Oke, aku mau minta maaf kepada Kak Ira dan Kak Hendra atas kejadian hari Kamis kemarin. Di mana waktu itu kami nggak bisa melakukan posisi berhubungan, eh maksudnya nggak bisa melakukan agenda nonton bertiga seperti biasanya.

Ya, alasan ini berangkat dari patah hati yang sudah sejak dulu aku simpan rapat-rapat soal pekerjaan. Tapi, ibarat pepatah, sepandai apapun berhubungan diam-diam dengan wanita simpanan, akhirnya akan terciduk juga.

Dari bulan Agustus sampai awal September kemarin, aku sering lembur karena Mbak Yanti, teman kerjaku cuti melahirkan. Ditambah banyak masalah di tempat kerja kayak internet yang nggak bisa, programnya gangguan, aku ketahuan punya skandal seks dengan atasan. Eh yang terakhir itu bukan. Pokoknya ada aja masalah di kantor, yang bikin pekerjaan jadi numpuk dan harus pulang larut malam. Bahkan pernah pulang pas dini hari. Pernah juga waktu janjian sama Nobar Squad buat nonton IT, aku datang telat. Aku melewatkan sekitar 15 menit filmnya. HUHUHUHU.

Aku ngerasa konsistensiku sebagai seorang pecinta film sedang diuji.

Untungnya belakangan ini masalah di kantor berkurang. Aku jadi bisa pulang tepat waktu lagi. Grup Nobar Squad lagi ngomongin rencana nonton bareng Pengabdi Setan hari pertama, yaitu hari Kamis. Aku pun dengan semangat mengiyakan rencana itu.

Tapi rencana mendadak berubah haluan. Hari Selasa, Kak Hendra bilang nggak bisa nonton hari Kamis. Hari Jum'at pun dipilih buat nonton bertiga. Aku kembali mengiyakan rencana itu. Terserah mau nonton hari apa, sing penting kami nonton bareng.

Sayangnya, di hari Rabu, Mbak Vemy dan Mbak Ucy bilang kalau dia izin nggak masuk kerja hari Jum'at. Otomatis, pekerjaan di hari Jum'at bakalan banyak karena pekerjaan mereka harus dikerjakan sama aku, Mbak Eka, dan Rina. Aku pernah ngalamin momen Mbak Ucy dan Mbak Vemy cuti juga sebelumnya. Di momen itulah aku telat nonton IT. Maka dari itu, aku jadi mikir kalau hari Jum'at aku bakal pulang telat juga dan kelewat beberapa menit Pengabdi Setan. Rencana nonton bareng Nobar Squad bakal batal. Huhuhuhu.

Apalagi begitu pas hari Kamisnya, kerjaan selesai dengan cepat. Kurang dari pukul 17.00, aku udah duduk tenang. Ngecek jadwal tayang Pengabdi Setan, terus ada yang tayang pukul 18.15. Aku jadi mikir....

Aku harus bisa nonton Pengabdi Setan HARI PERTAMA.

Aku pun izin ke Nobar Squad kalau aku nonton hari itu juga. Kak Ira bilang kalau dia juga mau nonton hari itu, bareng cemcemannya, pukul 20.00. Sementara Kak Hendra bisa nonton hari itu, pukul 21.00. Fix. Kami terpisah namun satu tujuan. 

Semangatku membara. Aku putuskan untuk menonton Pengabdi Setan seorang diri. Nggak lama kemudian, aku denger Mbak Eka koar-koar bilang pengen makan di McDonalds, diiringi dengan gerakan mengelus-elus perut (KELAPARAN). Rina juga bilang pengen eskrimnya McDonalds. Pas banget sama aku yang emang mau nonton di Cinema 21 Samarinda Central Plaza, di mana McDonalds cuma ada di situ.

Singkat cerita, Mbak Eka dan Rina jadi pengen nonton. Mbak Eka yang penakut, udah pesan duluan kalau dia mau seat yang di tengah, di antara aku dan Rina. Kami mengiyakan, terus segera meluncur ke 21 dan nonton Pengabdi Setan.

Filmnya memuaskan, terutama bagi orang yang penakut macam aku dan Mbak Eka. Di awal filmnya aja, aku udah mikir kalau hantunya bakal mengalami kemunculan dini. Pas di-zoom, kirain itu momen hantunya muncul, taunya yang muncul itu tulisan judul filmnya. Aku spontan ngakak seperti penulis cerita komedi yang menertawai hidupnya sendiri.

Oke, aku nggak usah ceritain sinopsis filmnya, ya. Langsung ke kesan akan filmnya gimana. Aku ngerasa ini film horor yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Bagian menyenangkan adalah, pengambilan gambarnya itu memanjakan mata. Baguuuuus. 

Ciluk...ba!

Belum lagi sama para pemainnya yang apik-apik. Aku jatuh cinta sama Endy Arfian, pemeran Toni. Dia menggambarkan lelaki ngemong dan paling dekat sama Ibunya. Nggak bisa dipungkiri kalau aku selalu engas sama cowok model begitu. Ditambah lagi aku bener-bener terikat sama karakter Ian, anak paling bungsu dari empat bersaudara. Diperankan oleh Adhiyat Abdulkhadir. Polah tingkahnya lucuk dan ngegemesin. Rasanya aku pengen dibuahi dan melahirkan anak selucu Ian saat itu juga. Jiwa keibuanku bangkit dengan sebrutal itu.

Karena terlalu ngerasa terikat, aku sampai nangis jejeritan pas ada scene yang melibatkan Ian dalam marabahaya. 

Ada satu scene di mana aku bener-bener nangis kayak nangisin kerabat yang meninggal. Rasa takut bercampur nggak rela. Ian benar-benar mencuri hatiku. Sampai akhirnya aku sadar kalau Ian itu @#$%^&*(@^#)#($!!!. Ian nggak sepatutnya ditangisi, udah kayak mantan yang masih aja nyakitin padahal udah putus. Huuffh. Kayaknya menangisi orang yang salah udah jadi passion-ku deh. 

Perbuatanku itu ngebuat Mbak Eka jadi marah-marahin aku sepanjang aku nangis. Bukan marah-marahin juga sih, tapi gimana ya. Pas aku nangis itu, Mbak Eka nepuk-nepuk kakiku buat nenangin aku. 

“Ya Allah Ichaaaa nangis beneran airmatanya berlelehan...”

“Chaaaaa JANGAN KAYAK GITU NAH KAMU KAYAK KESURUPAN TAUK AKU TAKUUUUT.”

"AKU NGGAK MAU NONTON SAMA KAMU LAGI DAAAAH IIIIH SEREEEEEM!”

Mbak Eka pun senderan ke Rina yang sibuk ngetawain tangisanku. Aku jadi tambah nangis. Aku keingat masa-masa di mana nonton sama Kak Ira, Kak Hendra, dan Dita. Mereka terima-terima aja sama kebiasaanku yang terlalu ekspresif kalau nonton film. Oh iya, pas aku teriak-teriak pun, Mbak Eka semacam ngelarang aku karena teriakanku malah bikin dia tambah takut. Aku ngerasa ketakutanku bukan otoritasku lagi. 

AKU HARUS SABAR UNTUK SEGERA MELUPAKAN SEMUANYA.

Di saat itu, aku merenung. Aku nggak boleh ngebanding-bandingin orang lain atau nggak boleh ngerasa ketakutanku bukan otoritasku lagi. Tapi aku nggak mau jadi orang yang ekspresinya saat nonton film terkekang. Aku nggak mau pura-pura jadi orang lain. Misalnya, berusaha menyukai film yang nggak aku suka. Berusaha tertawa karena itu lucu, tapi aslinya aku sedang meneteskan air mata, karena filmnya nggak lucu sama sekali tapi kok banyak yang ketawa. Berusaha berani, cool, dan berwibawa pas nonton film horor. Aku benci jadi fake begitu.

Lagian, kalau nonton film horor itu udah kayak masuk wahana rumah hantu. Di situ kita bisa senang-senang dengan teriak-teriak karena ditakutin. Tujuannya memang itu kan? Buat ketakutan? Kalau kita nggak ketakutan, kasihan hantunya. Coba kalau kita kalem aja pas ditakutin hantu di rumah hantu. Apa hantunya nggak sedih, minder, dan meragukan kemampuannya sendiri? Huhuhuhuhu. 

Aku jadi mikir, nonton sama orang ‘baru’ untuk pertama kalinya itu cukup sulit. Orang yang bikin kita jadi keingat sama teman nonton andalan kita. Orang yang menimbulkan refleks celetukan ke diri sendiri, 

“Dia bukan teman nonton gue.”

Taunya, pas hari Jum’at-nya, AKU PULANG TEPAT WAKTU ANJEEEEEER. KERJAANNYA NGGAK BANYAK KAYAK YANG AKU PIKIRKAN. BANGSAAAAAAT. TAU GITU AKU NONTONNYA PAS HARI JUMAT AJAAAAA NGGAK BATALIN ACARA NONTON BAREEEENG SAMA NOBAR SQUAAAAAD. HHUHUHUHUHUHUU.

Tapi seperti kata Reyhan Ismail, “Nasi telah menjadi bubur dan bubur menjadi karbohidrat,” aku nggak boleh menyesali acara nontonku sama teman kerja. Nggak boleh banget. Mereka menyenangkan kok. Aku masih percaya, ini cuma masalah waktu dan kebiasaan. Bukan berarti teman kerjaku kurang mantep dibanding teman nontonku kayak biasanya. Aku sadar selama ini mungkin aku egois dalam hal menonton. SADAR. Mungkin keegoisanku itulah yang menuntunku suka nonton sendirian. Dulu awalnya juga nggak terbiasa, harus ada temannya. Tapi akhirnya aku mikir,

“Aku nonton ada temennya syukur, nggak ada ya selow.”

Hem…

Untuk itulah, aku minta maaf kepada Kak Ira dan Kak Hendra karena sudah berpikiran jelek kalau hari Jum’at-nya nggak bisa nonton bareng. Pun dengan Mbak Eka dan Rina. Aku suka nonton bareng kok. Oh iya, aku minta maaf juga karena tulisan ini NGEBAHAS FILMNYA DIKIT BANGET ANJER. Tapi mau gimana, filmnya bagus. Apa lagi yang mau ditulis?

Semoga bisa mengerti. Maaf untuk keputusan ini.


NOTE: 
Ini adalah tulisan memperingati satu tahunnya tulisan Maaf Untuk Keputusan Ini dari Heru Arya yang beliau posting pada tanggal 30 September 2016. Tulisan itu membekas dan menginspirasi layaknya Pengabdi Setan tahun 1981 yang menginspirasi Om Joko Anwar buat bikin film garapan ulangnya. Bisa dibilang ini adalah A Tribute To Heru Arya. Tulisan ini harusnya diposting kemarin, yaitu 30 September 2017. Harusnya aku barengan sama beberapa blogger yang nulis tribut ini juga. Tapi aku baru sekarang bisa ikutan meramaikan. Huhuhuhu. Maaf untuk keputusan ini. 

Oh iya, berikut blogger-blogger laknat yang meramaikan: 

5. Febri Dwi Cahya G.

Terimakasih sudah membaca. Emma Stone pamit. See you...

You Might Also Like

15 komentar

  1. Wakakakakakaka rusuh nonton sama aku, May. 😂

    ((SI FLAT))

    ((MISKIN EKSPRESI))

    Ini aku jadi pengen nonton sama kamu. Gimana rasanya yak hahahaha. Kamu kalem dalam nonton film, May. Persis kayak Nanda tuh. Mukanya diem nggak ada ekspresi. Dia anaknya lebih tepatnya sok cool sih. Kalau kamu bisa dibilang elegan outside, petakilan inside. HAHAHAHA.

    BalasHapus
  2. Gue kebanyakan nonton sendirian kayaknya dan selalu jaim. Jadi iri sama Icha yang kalau nonton kayak korban gempa dan tsunami gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah dikomen sama blogger yang punya tagline hidup "Tapi setelah mengalaminya sendiri, gue jadi berpikir ulang buat gak percaya." Qu senang~

      KORBAN GEMPA DAN TSUNAMI SEPATU FUTSAL LU DIAMBIL YOGAESCE!

      Hapus
  3. Biar kayak movie blogger, mau kasih tulisan SPOILER ALERT ah buat balas komen ini.

    *SPOILER ALERT*

    Wkakakakaka. Itu pas di scene Ian, seorang bocah umur 7 tahun, lagi 'ditungguin' sama kawanan payung hitam. Adegan yang melibatkan sumur dan angin deras. Iannya mau diambil paksa gitu. Aku sedih ngeliat Ian yang mau diambil sama para pengabdi sekte sesat. Eh taunya Ian itu... TONTON AJA SENDIRI HEHEHE.

    ((TEGANG MULU))

    Wah itu tegangnya bukan tegang takut tapi karena tegang nganu ya. Hahahahaha. Iya film horor jaman dulu modalnya model syur gitu~

    Iya dah tayang dari Kamis kemarin. Kuy tonton di bioskop~

    BalasHapus
  4. Banyak sekali curhat terselubung di sini. Misalnya aja, "suka menangisi orang yang salah adalah passionku"

    Coba itu kamu nontonnya sendiri, pasti orang yg duduk di sebelahmu makin pura2 gak kenal. Atau coba nonton sama bg days. Pas takut, noleh ke dia. Dia noleh ke kamu. "Saya juga takut, cha." :)))

    Paling bangke penjelasan soal (KELAPARAN). Bangke bener. Inget paragraf aslinya lalu jadi begitu bener2 menimbulkan reflek tawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. HEH! Jangan segampar itu menilai! Itu cuma kalimat yang tadinya diniatkan mengandung unsur filsafat tapi malah gagal, ya.

      Imajinasi tolong dijaga ya, Yogs. Aku mau marah-marah tapi kok ya aku malah ngakak baca imajinasi kamu. Bangsat bener.

      Mhuahahahaha. Tetap sih. Paragraf aslinya yang terbaiq! :')

      Hapus
  5. Emma watson main di pengabdi setan? ._.

    Ya mungkin karna gen yang berbeda, gaya menonton mereka pun jadi ikut berbeda ka. Mungkin kaka nyaman sama nobar squad karna anggotanya memiliki tali darah yang satu. Yaitu ibu *sok tau mode on* Tapi yakinlah sesuatu yang baru memang awalnya bikin ga betah hati tapi lama-lama kelamaan karna telah terbiasa jadinya akan..

    Masuk kerumah hantu, hantunya saya cuekin orang saya lari :v sama kaya mantan lagi lari pagi sama doi barunya eh saya dicuekin wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dek Asep..... Tolong... Akuanya... Diminum :(

      ((TALI DARAH YANG SATU))

      Aku jadi ngebayangin aku dan dua anggota Nobar Squad lainnya terlilit tali pusar, anjir. Ya kamu benar, aku memang nggak terbiasa aja nonton sama lain orang~ Kamu bijak sekali~

      INI KENAPA BAWA-BAWA MANTAN DAAAAH. CURCOL JALAN TEROS YA, SEP. HAHAHAHAHAK.

      Hapus
  6. ((jika ini nggak kunjung aku muncratkan, justru akan mem-BDSM aku sendiri.))

    INI APAAN CAAA? JAWAAB?!

    BalasHapus
  7. Nonton d bioskop sndirian itu nda enaaa kaichaaaa. Soalnya aku suka ngoceh n komen gaje gtu pas lg nonton. Prnah nntn sm sodara, tp bangkunya misah dan aku brasa nntn sndiri. Itu ga seru:(

    Awal nntn film ini aku msh bisa kalem, krna msh adem yak lawak2 mulu. Apalagi si tukang pijet ngeselin itu:( Pas terror ke dua yg ngetwist.. Di situlah ku mulai merasa ktakutan dan brasa diterror jg. Kamvret skali memang:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahahahaha huhuhuhu iya, Lu. Mau dibikin seasik apapun juga tetap aja, sebenarnya nonton sendirian itu tida ena~ Wah itu nonton apa pas misah gitu, LU? Filmnya rame bet ya sampe misah gitu.

      Wkakakaka iya banyak dialognya yang memuncratkan reflek tawa. Nah iya, dimulai pas bagian Hendra tabrakan (semoga memang ini yang Lulu maksud) itu ngerasa was-was nontonnya. Huhuhuhu :(

      Hapus
  8. harus disyukuri, Cha punya grup nobar. sebagai yang sering nonton sendiri, jujur aku nga iri. karena aku pemberani.
    tapi nga cukup berani buat nonton Pengabdi Setan. masih nga ngerti yang suka genre horor, gimana yha, kita udah bayar eh malah ditakuti. wasap bu kos besok mau ke kos ambil uang kos aja udah nakutin banget.
    apa implikasinya terhadap sinkronisasi aku di lingkugan sosial. jadi nga nyambung anjir nga nonton IT, Pengabdi Setan, Amitifil (ini lupa tulisannya gimana)
    yha termasuk ini, komentar nga nyambung huhu
    maaf buat keputusan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus kalau nggak iri, Tom. Kamu memang khalifah! Oh iya sebenarnya ku juga penganut paham nonton sendirian di bioskop, tapi akibat digauli Nobar Squad, yaudah aku berubah huhuhuhu. Itu sedih lho, Tom. Please kasihani akuh :(

      ((WASAP BU KOS))

      Yaaaaa sekarang aku percaya kalau hidupmu lebih menyeramkan daripada film-film horor yang kamu sebutin itu, Tom. Sudah nggak usah minta maaf~

      Hapus