Selamat Hari Berubah Jadi Lebih Baik!

Pengen rasanya nyanyiin Confident-nya Demi Lovato, terutama nyanyiin kalimat, “What’s wrong with being confident?”

Nyanyiin ke orang yang menatapku aneh pas aku ngelakuin ‘tindakan percaya diri.' Contohnya, ngelakuin tindakan teriak heboh pas manggilin teman atau dadahin temen dari jauh. Ngelakuin tindakan naroh kaki di lengan kursi satu dan ngakak keras pas di McDonald's. Ngelakuin tindakan dengerin lagu, nyanyi sambil goyangin tubuh dengan kaku pas di lampu merah atau pas belanja bulanan sendirian di supermarket. 

Aku juga pengen nyanyiin lirik itu ke orang yang nyenterin aku pake hape, pas nonton Happy Death Day hari Kamis kemarin sama Kak Ira. Tepatnya pas di adegan Carter (Israel Broussard) ngelakuin tindakan heroik dan aku langsung teriak “I LOVE YOU, CARTER!”

Hehehehe. Wajar sih orang itu sampai nyenterin aku. Aku bukannya percaya diri lagi, tapi jatuhnya udah bikin malu dan mengganggu ketentraman orang yang nonton. Aku orangnya hebohan dan spontanan. Mungkin secara nggak sengaja aku memegang prinsip, “Hidup cuma sekali, ketemu mereka juga cuma sekali.” Ya, aku bertindak percaya diri (baca: malu-maluin) gitu seringnya di tempat umum dengan orang-orang nggak dikenal, karena aku mikir besok-besok nggak bakal ketemu mereka. Ketemu sekali dan sekalian aja malu-maluin. Hehehe. 

Sedangkan kalau sama orang yang ketemu tiap hari, aku bisa nggak percaya diri. Terutama sama ehem, gebetan. Aku bisa jaga image dan ujung-ujungnya bukannya terkesan anggun dan lemah lembut, malah jadinya rendah diri dan minderan. Huhuhuhu.

Aku bersyukur sih, karena jadinya aku punya keduanya, yaitu rasa percaya diri dan rendah diri. Seimbang. Aku jadi nggak ngerasa terlalu mencintai diri sendiri, nggak nganggap kalau semua orang suka sama aku dan job desc-ku di dunia cuma membalas rasa suka itu. Karena kalau aku kayak gitu, mungkin aku jatohnya jadi kayak Phill Connors (Bill Murray) dari Groundhog Day.

Atau.... kayak Tree dari Happy Death Day, film yang aku tulis di atas. 

Kue dengan krim stoberi berlimpah

Tree (Jessica Rothe) adalah gadis cantik yang ‘tau’ kalau dia memang cantik. Terkenal seantero kampus selain karena kecantikannya, juga karena dinaungi kelompok persaudaraan elit di kampusnya. Menurutku Tree adalah cerminan gadis yang percaya diri tanpa ada mindernya sama sekali.

Nggak tau malu pas mendapati dirinya terbangun di kamar seorang mahasiswa ganteng tapi nggak populer bernama Carter (Israel Broussard). Mabu-mabuan ena juga jadi penyebab Tree ‘terdampar’ di kamar orang lain itu. Memasang tampang nggak bersahabat bukan cuma sama Carter, tapi juga sama para penghuni kampus. Sombong dan angkuh ke banyak orang, termasuk sama teman sekamarnya, Lori (Ruby Modine) dengan ngomong ketus dan ngebuang cupcake pemberian Lori tanpa ngerasa bersalah. Menjadi selingkuhan dosennya sendiri dan dengan pedenya main nyosor ngasih cipokan. 

Melotot ala Evan Sanders di film Ruqyah: The Exorcism.
Sampai akhirnya, saat malam tlah tiba, Tree ketemu sama seseorang bertopeng bayi nyengir. Saat itulah dia terbunuh. Tapi hidup lagi, di hari yang sama. Tree mengulang-ngulang hari buat dibunuh sama makhluk pahlawan bertopeng itu. Dia terbangun di kamarnya Carter lagi, tanggal 18 keulang lagi, kejadian-kejadian di hari itu keulang lagi, dia kebunuh lagi. Cuma dia aja yang sadar sama pengulangan itu. Dia harus menghentikan itu dengan cara nyari siapa sosok di balik pembunuh bertopeng bayi itu dan kenapa dia dibunuh. Mengingat dia orangnya judes dan bermasalah sama banyak orang, rasanya susah buat nemuin jawaban dari dua pertanyaan itu. 

Tapi nggak susah buat suka sama film ini. Happy Death Day menghormati leluhurnya, yaitu Groundhog Day, dengan tampil semenyenangkan mungkin dan tanpa pengen terlihat sok pintar. Bahkan film ini nggak malu, gengsi, atau apalah, mengakui kalau memang terinspirasi dari Groundhog Day. Film ini menunjukkan penghormatannya itu lewat salah satu adegan. Happy Death Day juga nggak kalah kocak dibandingkan Groundhog Day, tapi tetap beda. Groundhog Day dan Happy Death Day kocak dengan caranya masing-masing. 

Tree mengulang harinya dengan bikin ngakak dan lumayan bikin tebakan kita meleset. Cukup nggak bisa diprediksi apakah adegan di hari itu diulang lagi apa enggak. Gemash! Walaupun adegan pembunuhannya kurang berdarah-darah sih. Masih bisa diterima sama mata dan asam lambung. Nggak sampe bikin mau muntah kayak asam lambung lagi naik maksudnya. Eh, gimana? 

Film ini lebih fokus sama komedinya daripada slasher-nya. Terus aku lebih fokus sama karakter Carter. AAAAAAK. Aku suka sama wajah pualamnya dan baik hatinya dia ke Tree. Sampai-sampai lagu Cater 2 U-nya Destiny’s Child sekarang jadi bermakna lain buatku. Dengerin lagu itu bukannya kebayang Beyonce dkk meliukan badan udah kayak pemanasan sebelum lapdance, tapi malah kebayang sosok cowok berkemeja flannel kotak-kotak. Kalimat “I want to cater to my man,” di liriknya lagu itu berubah jadi “I want Carter to be my man,” di telingaku. 

Wajah yang ditemuin Tree tiap dia bangun tidur. Sumpah ngiri.

Segitu kasmarannya aku sama Carter. Padahal lagunya itu lebih ke tentang istri yang liat suaminya capek baru pulang kerja terus pengen muasin suaminya. Melayani suaminya dengan sepenuh hati, sebagai ucapan terima kasih karena udah jadi suami yang pekerja keras. 

Sebenarnya aku juga lebih fokus sama karakter Tree sih. Karena ya iyalah lebih fokus ke dia karena dia itu tokoh utamanya. Film ini juga nggak bakal mungkin bikin ngakak kalau bukan karena kerja keras dari Jessica Rothe buat menghidupkan karakter Tree. Lagu Confident-nya Demi Lovato yang sempat nongol di filmnya ini memang cocok buat mengiringi sepak terjang Jessica Rothe sebagai Tree. Jessica percaya diri abiiiiis. Dia seolah punya seribu ekspresi wajah dan nggak segan pasang tampang jelek. Luwes banget pasang tampang songong, ucapan nusuk, intonasi bicara yang bervariasi dan bikin ngakak. Aku sukaaaaa banget pas dia ngomong, “SILENCEEEE!” Juarak. 

Bukan lagi orgasme. 
Tree jadi cewek angkuh yang bertranformasi jadi cewek baik. Tree jadi cewek yang pantang menyerah terus dengan cepat berubah jadi cewek yang pasrah. Terus yaaaaa, dia ini cantik-cantik ekspresif. Bikin betah ngeliat dia berkutat dengan pengulangan harinya. Bikin aku envy ngeliat badannya yang proporsional. Bikin aku mikir kalau cowok-cowok pas nontonin salah satu adegan di film ini sambil bergumam, “Yeeees belahan dada montok itu muncul lagi. Ulang lagi harinya aja terooooos!”

Selain cantik, yang bikin aku envy dari Tree adalah... dia ini pintar. Kalau aku di posisi dia, mungkin aku butuh berhari-hari buat nyadar kalau aku lagi ngalamin time loop. Mungkin aku bakal ngerasa kalau itu cuma deja vu, aku kurang minum air putih, atau aku habis makan tape ketan dicampur sprite.

Dia juga pintar bikin yang nonton dari gedek sama dia berubah jadi simpati sama dia. Dia bikin aku bermelankolis ria. Di saat orang-orang pengen hari ulang tahunnya nggak berakhir begitu aja, ngerasa itu berkesan, terus berandai-andai pengen hari itu bisa diulang-ulang, lah Tree malah ngerasa ulang tahun nggak berarti apa-apa. Aku ngerasa nyes pas dia bilang kurang lebih kayak gini, 

“Hari ulang tahun itu hanya sekedar alasan untuk makan kue dan buka kado. Tak ada maknanya.”

Tapi bagiq bermakna kalau ultahnya ditemenin sama Carter kayak gini ulululu~
Ucapan Tree itu jadi makin nyessss setelah aku tau kalau Tree sebenarnya menganggap hari ulang tahun itu punya makna. Makna yang bikin Tree jadi benci hari ulang tahunnya. Aku sempat mergokin Kak Ira nangis pas adegan ‘pengungkapan makna’ ulang tahun itu. 

HUAAAA SEDIIIIIIH. BAPEEEEEEER. 

Oh iya, sebenarnya film bertema pengulangan hari ini nggak cuma Groundhog Day dan Happy Death Day. Tapi juga ada Before I Fall, Edge of Tomorrow, dan entahlah apa lagi. Cumaaaan... aku udah mikir aja kalau film semacam ini mengandung pesan moral yang selalu sama: jadilah orang yang lebih baik dari hari ke hari. Film semacam ini seolah ngasih tau, kalau kita akrab dan terbiasa dengan hal-hal yang kita anggap buruk lalu kita bisa melewatinya, itu bisa membentuk kita jadi pribadi yang lebih baik. Kita jadi kebal dan bebal akan anggapan itu hari yang buruk karena udah terbiasa.

Aku jadi mikir kalau film dengan tema ini udah kayak sinema religi Indosiar. Tokoh utamanya punya sifat jelek, bersikap angkuh dan sombong, terus dikasih azab berupa mengulang satu hari yang sama berkali-kali, membiasakan diri dengan hari yang dibenci itu sampai akhirnya dia sadar dan bertobat. 

Terus aku jadi mikir kalau kalian harus nonton Happy Death Day, karena masuk nominasi Oscars 2018 kategori Best Picture. 

EH ENGGAK DENG. Nggak kerasukan Kemal Palevi kayak gitu.

Aku jadi mikir kalau aku dan Tree itu.... beda. Hehehe. Nice info, ya. Ya emang beda jauh lah. Hmm gini, beda karena aku nggak sepercaya diri dia. Aku nggak secantik dia. Aku nggak sepintar dia. Aku nggak sebohay dia.

Tapi aku ngerasa juga punya hari yang bajingak kalau diulang-ulang. Yaitu hari Sabtu kemarin. Hari di mana kerjaan di kantor lagi banyak-banyaknya, Mamaku ngomel-ngomel nyangkain aku ngeluyur ke mall tanpa izin dulu padahal aku cuma ke minimarket dekat rumah, sedih karena besoknya Kak Ira, kakak sepupuku, harus pergi merantau ke Bontang. Aku jadi ngebayangin kalau ngalamin kayak Tree, di mana aku mengulang hari Sabtu yang cukup asu itu. 

Tapi aku mikir lagi, kalau aku dan Tree itu ternyata sama. Mungkin kita semua sama kayak Tree. Sama-sama harus sadar kalau kita perlu berubah jadi lebih baik demi bisa pantas buat ketemu hari esok. Setiap orang punya hari bajingaknya masing-masing. Kalau hari bajingak kita keulang-ulang mulu, mungkin kita bisa jadi orang yang lebih sabar, lebih woles, lebih tegar, lebih nrimo, lebih bersyukur, lebih penurut, dan...

Lebih kuat menghadapi perpisahan. Entah dengan siapapun itu.

You Might Also Like

27 komentar

  1. Balasan
    1. Bang Har kayaknya doyan banget deh komen pertamaxx di postingannya Icha. Hobi ya? Atau jangan-jangan bang Har rutin ngecek blog ini sambil berkata dalam hati, "Semoga ada saya semoga ada saya semoga saya."

      Eh maaf ralat. Gini maksudnya: "Semoga gak ada nama saya semoga gak ada nama saya semoga gak ada nama saya."

      Hapus
    2. Saya pembaca nomor satu blog Icha. Ada atau nggak ada saya, saya bakal bilang bagus. Eh, gimana?

      Hapus
    3. Komentar kalian semua bajingak. Paling bajingak komentarnya Agia sih. Untung dia itu calon adik iparku, jadi aku lebih kesel sama dia. Eh, gimana?

      Hapus
  2. pas baca sampe tengah, jadi inget 'Edge of Tomorrow', dan benar saja. Eh, gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ingatan Mbak Dian sungguh kuat soal film itu. Pasti hobi minum jamu kuat, ya? Eh, gimana?

      Hapus
  3. ini lagi musimnya komentar dengan imbuhan "eh, gimana?" ya? baiklah, aku akan mengikuti permainannya. ciao.

    pertama kali nonton trailernya di porntube, eh youtube, aku udah menggadang-gadang kalau film ini akan se-memuaskan groundhog tapi dalam versi thriller. dan setelah membaca review icha-ku sayang, ternyata benar. benar-benar perfect treat for halloween. mantap solihin!

    aku kok sebal ya, waktu kamu mengulas belahan dada montok Tree. padahal baru kemarin saya curhat kalau my life is totally flat sampai-sampai saya harus berhenti mengkonsumsi chitato karena phobia dikatain 'kaum datar'. kamu jahat, cha. kamu dengan mudahnya melupakan curhatanku. jangan hubungi aku lagi nanti malam.

    aku juga setuju sm kamu, Carter ganteng. kemarin aku naik bis kota yang carter bisnya juga ganteng. masih muda. sepertinya kami berjodoh. eh, salam buat Kak Ira yang sudah mau menemani dan mengurusimu selama beberapa dekade ini. biarkan ia tenang di Bontang. jangan diganggu lagi. oke?

    buat aku sendiri, hari ulang tahun bukanlah hari yang spesial. kalau Tree masih bisa makan kue dan buka kado, aku justru merayakannya dengan tidur seharian kalau itu tepat hari libur. kala hari kerja ya, wassalam. nggak ada manis-manisnya seperti le minerale. serius.

    pesan moralnya tumben bener, cha. aku setuju. hari sebangkai apapun kalau diulang-ulang akan membuat kita kuat menghadapinya. yah, semacam menghadapi hari Senin yang padat merayap seperti badannya Tree yang bohay itu. aku menjadi kuat karena hari Senin selalu terulang setiap minggunya. tos!

    belum nonton film ini nih. jadi belum bisa komentar banyak. maaf ya, Cha. eh, gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau edit komen, tapi nggak bisa. eh, gimana?

      Hapus
    2. ((PORNTUBE))

      Iya, filmnya datang di momen yang tepat sih. Halloween dan pas di bulan kelahiranku juga bulan kelahiran Kak Ira. Huahahahaha. Jadi rada relate sih sama tema ulang tahun yang diusung film ini, May. :D

      WKAKKAKKAKKAKKAKAKKAKAKKAKAKA IM SO SORRY, MY LOVE~ Belahan dada montoknya Tree susah untuk dihindari dan dikesampingkan. Aku ngerasa itu harus dimasukin ke blog ini. Huhuhuhuhuhu. Kalau nggak boleh hubungin kamu malam, siang bisa lah~

      Bahahaha. Carter bis. Aku aminin ya. Hmmm walaupun aku berhenti mengganggu Kak Ira secara langsung, aku masih mengganggu dia lewat telpon, chat, dan video call. MHUAHAHAHAHAHAHA.

      ((TIDUR SIANG SEHARIAN))
      Iya sih, ulang tahun bisa dipake buat me time juga. Nggak perlu dirayakan riuh rusuh sama orang-orang terdekat. Yang penting ingat umur makin tua, makin harus berubah. Huehehehek sok bijaq amat yak.

      Yuhuuuu. Dan ini hari Senin lagi. Semakin kuat menghadapinya. TOS!

      APAAN NGGAK KOMENTAR PANJANG, MAY. INI KOMEN KAMU PANJANG ANJIR UDAH KAYAK POSTINGAN BARUUUUUU.

      Hapus
  4. beneran teriak pas didalem bioskop, ca? keren. hahaha

    bukanya malah lebih enak gitu ya. percaya diri sewajarnya, minder sewajarnya. bukan lbih ke minder sih, tapi kyak yang, ngerasa diatas langit tuh masih ada langit lagi.
    wah, boleh dicoba nih nonton film ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya beneran teriak, Zi. Mhuahahaha. Melanggar tata krama di bioskop sih itu, ya. Tapi gimana, itu refleks :(

      Nah iya kayak gitu. Lebih ke.... sadar diri gitu ya? Tau diri. Jadinya nggak nyombong bahkan takabur. Ckckckck. Dalem nih pembahasan gara-gara nak Mesir.

      Silakan dicoba~

      Hapus
  5. Lagi lagi bikin malu di tempat umum.

    Aku sudah berusaha fokus baca, tapi langsung buyar pas nahian bukan orgasme. :((

    Di antara film2 yang ngulang hari itu cuma pernah nonton edge of tomorrow. Yang groundhog itu ntar deh donlot. Kalo ada kuota. Eh gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak Samarinda emang suka bikin malu kayaknya. Tapi seenggaknya aku masih lebih suci bikin malunya daripada Ichsan yang nawarin kamu file fake taxi. Mhuahahahaha.

      ((NAHIAN))

      Makanya. Fokus, dijaga...

      Wah kamu sama Mbak Dian cocok. Sama-sama pernah nonton Edge of Tomorrow. Pake wifi KFC dong. Sekalian kopdar lagi sama Ichsan. Eh, gimana?

      Hapus
  6. Template blog Icha bagus.

    Eh, gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jambang Renggo juga bagus.

      Eh, gimana?

      Hapus
  7. Gue nontonnya yang Before I Fall. Ternyata mirip-mirip. Gue pengin nonton tapiiiiii... takut Hahahaha. \:p/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sini Adi malah nggak bilang eh, gimana?

      Hapus
    2. Moso cowok gondrong super berani dan haus akan tantangan seperti Adi takut nonton Happy Death Day? Eh, udah potong rambut ya? Eh, gimana?

      Hapus
  8. Happy Death Day, film horror apa romance ka? Wkwkwk

    Tapi gada salahnya juga sih, mungkin bagi sebagian orang pede yang overactive itu bisa dibilang alay atau apapun itu. Namun namanya manusia diciptakan berbeda beda, jadi saling melengkapi aja biar cocok kaya tree dan caster.

    Btw tree ini pasti anak ketiga dan masih keturunan jawa. Iya kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mstinya "Iya kan?" nya diganti sama "Eh, gimana?" nih :'))

      Hapus
    2. Asep: Film slasher remaja bercampur romance gitu sih, Sep.

      ((ORANG PEDE YANG OVERACTIVE ITU BISA DIBILANG ALAY))

      Kok aku merasa hina ya baca itu. Huahahaha. Yaaak setuju. Manusia berbeda-beda dan orang overpede pun pasti ada pasangannya yuhuuuu wkakakaka~

      Huahahahha bisa bisa. Tri ya. Sayangnya di film ini dia anak semata wayang. Mungkin kalau diremake sama Indonesia, jadinya anak ketiga ya :D


      Lulu: Uuuuh pinter anak Mama! :*

      Hapus
  9. Aku liat trailer film ini di bioskop nih, pas lg nungguin pengabdi setan tayang tp banyakan iklan ama trailer2 mulu. Seru dan mnegangkan sih liat trailernya doang. Dikirain bneran bnyak slash2an. Trnyata lebih bnyak ke komedi yak? Asek.
    Yauda ntar aku nntonnya nnti aja klo udh ada bajakannya deh. Eh, gimana?

    BalasHapus
  10. Uuuuuu lucu bgt si ini filmnyaa. Pengen nonton tapi kalo ada unsur serem2 nya ginikayanya musti ngajak temen deh.
    Samaaa cha aku juga suka over malu maluin kalo di tempat umum, like bodho amat gua ga akan ketemu lo lagi. Tapi dilingkungan yg udh kenal pun ga jarang malu-maluin juga, kayanya emang udah passion deh.

    Dasar manusia tdk mau belajar!!
    Giliran hari buruk aja gamau diulang, kalo hari baik baru deh semangat diulang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hem... ngajak temen apa demen neh klw lech tw? Temen yang berwujud mas-mas gondrong ya, Dib? HUAHAHAHAHA.

      Nah iya hahahahaha. Anjir, kutemukan teman sepermaluanku. Aku juga gitu sih, Dib. Di kantor sering dibully juga. Yha beginilah kalau terlalu apa adanya tidak berlagak baik-baik anggun di depan khalayak *kibas poni*

      ((UDAH PASSION))

      Wkakakakaka. Karena yang ena tidak cukup sekali, jadi maunya diulang. Kalau yang nggak ena maunya cepat udahan :(

      Hapus