Surat Curhat Untuk Mas Nichol

Seperti orang-orang yang suka banget sama Pengabdi Setan, berbondong-bondong buat nonton filmnya dua-tiga kali, terus ngelapor ke Om Joko Anwar, aku juga mau caper soal film kesukaanku, yang bakal aku baperin kali ini. Film yang bukan cuma jadi kesukaan, tapi juga film yang udah membangkitkan semangat nulisku lagi, yang sempat surut beberapa waktu lalu. Film yang kutonton dua kali tapi masih ngasih rasa yang sama kayak baru pertama kali nonton. Ngasih rasa nggak nyaman, tapi aku suka. Rasa yang nggak nyaman kayak pas melakukan permainan tabu di ruang tamu terus takut kepergok sama orang rumah. Deg-deg-an ena gitu.

Aku cinta berat sama The Eyes of My Mother. Aaaaaaak!



Film horor hitam putih bajingseng ini bercerita tentang Fransisca (Olivia Bond, pas udah gede diperanin sama Kika Magalhaes) yang sewaktu kecil mengalami masa-masa indah layaknya lagu Anak Gembala-nya Tasya. Selalu riang gembira tak pernah malas ataupun lengah buat memberi makan hewan ternak. Fransisca melakukan aktivitas itu bersama Ibunya (Diane Agostini), seorang dokter bedah mata. Selain beternak, Fransisca juga diajarkan cara membedah telor mata sapi oleh Ibunya. 

Sampai akhirnya Fransisca dan Ibunya kedatangan seorang salesman bernama Charlie (Will Brill). Bukannya nawarin barang, malah SKSD (sok kenal sok dekat) sama Fransisca. Terus mau numpang buang air kecil segala. Ujug-ujug masuk terus main ngebacok Ibunya Fransisca. Terus bukannya lapor polisi, Ayahnya Fransisca malah menjebloskan Charlie ke gudang. 

Fransisca tumbuh menjadi gadis keibuan yang kesepian. Dia mengatasi kesepiannya dengan berbagai cara. Mulai dari ‘berteman’ dengan Charlie, ‘mengundang’ teman main ke rumah, sampai ‘mengadopsi’ seorang anak. Nicholas Pesce selaku sutradara film ini, butuh tiga part untuk menjelaskan semuanya. Part itu terdiri dari Mother, Father, dan Family.

"Masak apa hari ini, ya?"
Aku jadi kepikiran buat ngebaperin film ini dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk kecaperan seperti yang aku bilang di awal. Tapi dalam bentuk... hehehe ketawa dulu ya. Hmm... dalam bentuk surat curhat untuk Mas Nichol. Menyampaikan rasa terima kasihku dan kekagumanku akan film debutnya ini. Berandai-andai kalau dia bakal bac--- oke. Berandai-andai aku bisa bacain surat ini di depannya sambil ngelus-ngelus jambangnya. Nah itu yang tepat. Uuuuh~

Iyain aja please. Iyain juga kalau Nicholas Pesce mau-mau aja dipanggil dengan sebutan Mas Nichol, dan ngerti-ngerti aja dikasih surat yang ditulis pake bahasa Indonesia. Hahaha. 

Oke. Ini isi suratnya.


Mas Nichol,

Kenalin, namaku Icha. Seorang cinephile jelata. Dengan surat ini, aku mau cerita soal kecintaanku pada film yang Mas Nichol kangkangi, yaitu The Eyes of My Mother. Sebenarnya aku nggak doyan nonton film horor, tapi itu nggak berlaku buat filmnya Mas. Sebenarnya aku benci adegan yang melibatkan mata dicongkel mata diapa-apain, tapi aku suka pas adegan itu ada di filmnya Mas ini. The Eyes of Mother berarti banget buat aku.

Senyum sinis (eh ini sinis bukan sih?) Mas Nichol juga berarti.
Sayangnnya aku nonton film ini bukan pas di tahun 2016, tapi di tahun 2017. Tepatnya sekitar tiga bulan lalu. Hehehe. Tau aja kan nontonnya di mana. HEHEHE. Tapi ada sisi positifnya juga sih. Perkenalan yang telat itu bikin aku nggak tambah bingung memilih film keluaran tahun 2016 mana yang terbaik. Aku udah cukup pusing mau pilih La La Land, Captain Fantastic, atau Hangout.

Eh, film yang terakhir itu enggak deng. Aku belum (dan nggak akan) nonton film itu soalnya, Mas. 


Mas Nichol,

Aku boleh ya, nyampein rasa cintaku sama The Eyes of My Mother lewat pendapat sotoyku di sepanjangan surat ini, Mas. Hehehe. Buatku, suatu film bisa dikatakan seram kalau aku ngerasa terikat sama filmnya. The Eyes of My Mother berhasil ngebuat aku ngerasa terikat secara emosional. Aku ketakutan sekaligus kesenangan dibikin nggak nyaman sama filmnya Mas. Yang aku rasain selama nonton itu nggak ena sama sekali. Ngerasa ngeri, ngilu, sakit, gesek-gesekin kaki, duduk gelisah...

Ini bangsat tapi kok  ya aku tumben nggak benci.
Tindakan brutal yang dilakuin Fransisca itu nggak dilihatkan secara gamblang sih. Mas Nichol seolah ngajak aku buat berfantasi liar. Merancang sendiri kira-kira apa yang dilakukan Fransisca sampai hasil akhirnya kok bisa kayak gitu. Kok ada darah di lantai. Kok dia makan daging banyak itu daging dari mana. Kok... ITU YANG BIKIN AKU NGERASA TAKUT. ITU KETAKUTAN YANG SEBENARNYA DIBANDINGKAN NONTON FILM HOROR YANG HANTUNYA NONGOL MULU BANCI TAMPIL. 

Makasih udah bikin aku ngerasa nggak nyaman lho, Mas. Huhuhuhuhu. 

Aku senang kok ditakut-takutin sama filmnya Mas. Mungkin orang bisa bilang kalau The Eyes of My Mother adalah film yang nggak-seram-ah-lebay-kamu. Tapi level seram tiap orang beda-beda. Bahkan video fake taxi pun bisa dibilang seram bagi orang yang mengidap claustropobhia alias fobia ruangan tertutup dan sempit. Taksi itu tertutup dan sempit kan?

Btw, Mas pernah nonton fake taxi?


Mas Nichol, 

Kenapa filmnya Mas ini disajikan hitam putih? Apakah Mas pemuja film-film lawas macam 12 Angry Men? Karena Mas suka berat sama lagu Monokrom-nya Tulus? Atau Mas punya pemikiran yang sama kayak orang di bawah ini?

Silakan di-follow IG-nya Immank ini, kakak~


Entah alasannya apa, yang jelas pemilihan warna itu jadi salah satu alasan aku cinta sama filmnya Mas. Hitam putihnya menyegarkan mata. Nggak ngebosenin sama sekali. Mas berhasil bikin aku ngerasa ngeri tanpa warna jelas yang mengaburkan detail. Darah berwarna hitam pekat di filmnya itu sama seremnya dengan darah yang berwarna merah di film yang bukan hitam putih. Udah gitu, filmnya jadi kelihatan artistik. Cantik. Mantap Sholihin!

Bukan cuma hitam putihnya yang cantik, tapi juga pemeran utama di film Mas ini. Mukanya Kika Magalhaes mirip sama Amy Winehouse. Sumpah mirip. Atau perasaanku aja, ya. Mirip sama Lady Gaga juga sih. 

Sekilas mirip Amy sama Gaga bukan sik?
Film Mas ini pun ngingatin aku sama lagunya Amy Winehouse yang judulnya Back To Black. Kalimat “You go back to her, and I go back to black,” di lirik Back To Black nimbulin perasaan miris. Sama kayak pas aku nonton The Eyes of My Mother. Ngeliat tatapan sendu-sendu-dinginnya Amy Winehouse di music video lagunya itu nimbulin rasa simpati yang sama kayak pas ngeliat kehidupan Fransisca. 

Aku masih ngerasa sedih kalau ingat Fransisca, Mas. Semua bagi Fransisca adalah normal. Karena dari awal dari kecil, dia nggak diajarkan norma pelajaran PPKN. Jadi dia nggak tau kalau sebenarnya yang dia lakuin itu salah. Gitu kan? 

Fransisca memandang hidup dengan caranya sendiri. Atau lebih tepatnya, dia memandang hidup dengan ‘mata’ Ibunya. Fransisca udah kayak anak-anak remaja yang berkiblat pada pemikiran selebtwit ataupun selebgram. Ibunya Fransisca ibarat influencer yang udah ngasih pengaruh kuat buat Fransisca. Sepanjang nonton, aku ngerasa kesal sendiri. Terus pengen teriak ke Fransisca, "Ubah sudut pandang lo!"


Mas Nichol,

Banyak adegan yang memorable dari The Eyes of Mother. Salah tiganya yaitu pas Fransisca nari depan Ayahnya, pas Fransisca ngobrol sama Charlie, dan pas Fransisca kasih makan sapi tapi sapinya malah menjauh. Untuk adegan yang terakhir, itu singkat tapi dalem banget, Mas. Dari situ aku bener-bener kasihan sama Fransisca. 

Aku bingung antara mau kesel, marah, takut, atau kasihan pengen temenan sama dia. Ini kurang lebih kayak mantan yang bikin kita benci sama dia, marah sama dia, dan kita takut buat disakitin dia. Tapi di satu sisi, kita kasihan sama dia dan pengen nemenin biar dia nggak kesepian. Mas punya mantan yang kayak gitu nggak? 

Adegan sesederhana ngasih-makan-sapi-tapi-sapinya-sok-jual-mahal itu kok ya bisa-bisanya bikin aku baper, Mas. Ternyata aaah, hal itu nggak bakal terjadi kalau bukan karena aktingnya Mbak Kika. Aku jatuh cinta sama muka polos bercampur dinginnya. Seterusnya aku jatuh cinta sama tangisannya yang lebih menyayat hati dibandingkan tangisan Michelle Ziudith di film-film keluaran Screenplay. Mbak Kika lewat aktingnya seolah bilang, 

“Gini lho, kemungkinan terburuk yang bisa terjadi sama anak yang ditinggal mati orangtuanya.”

HUHUHUHUHUHUHU. 

Aku suka Mbak Kika, Mas. Termasuk suka dress yang dia pake di salah satu adegan. Eh baju tidur deng. Bikin aku mikir.... KELAK AKU AKAN MEMAKAI PAKAIAN MENERAWANG ITU UNTUK SUAMIKU. HAHAHAHAK.


Mas Nichol, 

Film Mas Nichol ini sukses bikin aku keingat masa-masa malam perenungan waktu pelantikan teater. Malam di mana anak-anak yang dilantik buat jadi anggota teater itu dicekoki pengandaian gimana-kalau-seandainya-kamu-pulang-ke-rumah-dan-orangtuamu-meninggal-dunia. Waktu itu suasana jadi haru dan penuh tangis, diiringi erangan yang berbunyi, “Mama jangan pergi, Ma... Maafin, Maaaa.” Semuanya sibuk merintih dan berderai air mata. 

Kecuali aku. Karena waktu itu aku ngantuk berat dan akhirnya ketiduran.

YA GIMANA NGGAK KETIDURAN. ORANG ITU DIADAINNYA PAS PUKUL DUA DINI HARI ANJIR.

Oh iya, pengalaman yang bikin aku ngerasa jadi anak nggak berperasaan itu pernah aku tulis di blogku.

Nah, The Eyes of My Mother menurutku adalah versi lain dari malam perenungan itu. Mas Nichol ibarat kakak kelas yang ngasih pengandaian bedebah itu ke aku. Salah satu (atau mungkin satu-satunya) ketakutan seorang anak adalah ditinggal mati orangtuanya, dan itu yang Mas Nichol coba sampaikan di The Eyes of My Mother. Itu yang bikin Mbak Kika jadi terlihat menyeramkan sekaligus memprihatinkan. 

Itu yang bikin aku jadi takut ditinggal orangtua. Aku takut Mamaku pergi untuk selama-lamanya.


Mas Nichol, 

Karena ini namanya surat curhat, jadi ada curhat-curhatnya, ya. Hehehe. Aku... aku.. Aku iri sama Fransisca, Mas. Aku pengen ngerasain cinta sebesar dia pada Ibunya. Di balik kekejiannya, Fransisca adalah contoh anak yang berbakti dengan menjadikan Ibunya sebagai role model, influencer, dan junjungan.

Fransisca bikin aku mikir kalau sementara surga ada telapak kaki Ibu, dunia ada di mata Ibu. Hitam putih benar salahnya ada di Ibu, bukan di anak.

Aku ngerasa mataku dan mata Mamaku berbeda. DAN OKE INI BAGIAN CURHATNYA. EHEM. Oke, aku ngerasa aku nggak dekat sama Mamaku, nggak kayak anak-anak gadis lain. Mungkin karena itu aku ngerasa related sama Bliss Cavendar (Ellen Page) di Whip It, anak yang nggak satu visi dan misi sama Ibunya. Ngerasa terhubung juga sama Antoine Olivier Pion (Steve Depres) di Mommy, anak yang emosian. Bahkan sama Kevin (Ezra Miller), si anak ‘iblis’ dari We Need To Talk To Kevin.

Waktu awal-awal ngeblog dulu, aku sering curhat soal Me vs Mom ini. Aku baru sadar juga kalau dulu ya ampun aku lebay, Mas. Aku pernah konsultasi sama guru BK-ku di sekolah. Setiap istirahat, aku bakal datangin Ibu Lis, guru BK-ku itu. Ruangannya ada di bawah kelasku. Aku ketagihan ke ruang BK demi curhat sama beliau, karena kalau aku curhat sama temanku, aku pasti dapat predikat sebagai anak durhaka.

Mungkin kalau waktu itu aku punya uang lebih, aku bisa aja sampai konsultasi ke psikolog. Atau terbang ke Jakarta buat kopdar sama Kak Seto Mulyadi.

Kata Bu Lis, aku punya sifat yang sama kayak Mamaku. Berdasarkan ‘diagnosa’ beliau, aku dan Mamaku sama-sama berkepribadian melankolis sempurna. Mungkin itu yang menyebabkan aku dan Mamaku suka berantem karena hal-hal kecil. Kami sama-sama keras kepala dan ya itu... perasa. Hati Mama sensitif, pedulinya juga ampun-ampunan sampe bikin orang terkadang risih. Entah sih, aku juga sebenarnya bingung apakah aku sepeduli Mamaku apa enggak.

Yang jelas, aku dan Mamaku punya pandangan beda-beda soal urusan duniawi. Pandangan yang bikin aku harus nentang beliau.

Soal naik motor. Dulu waktu masih sekolah, aku bersikeras buat belajar naik motor, tapi Mamaku selalu ngelarang dan nyaranin buat belajar naik motornya pas nunggu Bapakku pulang. Aku dan Bapakku LDR karena Bapakku kerja jauh. Aku pun nentang, aku mutusin buat belajar naik motor sama Sahid, temanku. Belajarnya setiap habis sahur karena waktu itu bulan puasa. Sekarang aku jadi mikir, kalau aku nurut buat nggak belajar naik motor.... Kapan aku bisanya? Mungkin sekarang aku bakal naik angkot mulu. Atau naik gojek dan bergonta-ganti lelaki alias driver.

Soal pekerjaan. Waktu kantorku mau pindah, Mamaku nyuruh aku buat berhenti kerja aja. Rasanya aku pengen nelan sendok aja pas dengar itu, Mas. Masa mau berhenti kerja cuma karena kantornya lebih jauh daripada yang lama?

Terus soal jodoh, Mamaku selalu nyaranin buat nggak usah nikah cepat-cepat. Oke. Aku nurut karena keadaannya memang memungkinkan buat itu. Kecuali kalau Mas Nichol besok ngelamar aku. HEHEHEHE. 

Tapi yang bikin aku nggak nurut adalah.... Mama nyuruh aku buat balikan sama mantanku. Sudah kenal baik, kata beliau. Aku nggak habis pikir sama Mamaku. Emangnya balikan itu hal yang mungkin?

Sekarang aku berusaha buat nggak kembali kayak waktu jaman sekolah, di mana aku jadi anak yang terlalu lugas nyampein nggak setujunya sama Mamaku. Jadi, menanggapi dua persoalan di atas, yasudah, akupun memilih diam. 

Aku tau di mata Mamaku, itu baik. Mataku menganggap itu salah. 

Oh iya, Mas. Seminggu kemarin aku ulang tahun yang ke-23. Kita beda empat tahun. Di umurku yang bertambah tua ini, aku berharap semoga aku bisa mengerti matanya Mama. Semoga aku dan Mama bisa melihat dunia yang sama. Supaya aku bisa mencapai, heleh, mencapai surga di telapak kaki beliau.

Makasih udah bikin film sebagus The Eyes of My Mother, Mas. 


Samarinda, 16 Oktober 2017. 

Sepulang dari rumah sakit.

You Might Also Like

29 komentar

  1. "Mas punya mantan yang kayak gitu nggak?"

    Aku ketawa langsung baca curhatan itu, Mbak. Kasihan sekali mantan yang udah nyakitin, tapi akhirnya malah kesepian. Bukan, bukan karena aku kenal orang seperti itu. Sebab, aku pun pernah kayak gitu, Mbak. Aku emang nggak nyakitin mantan terus kesepian, tapi nyakitin perempuan yang aku beri harapan palsu dan membuat dia nggak mau kenal lagi sepertinya sama aku. Aku ternyata jahat, Mbak. Wajar, Gemini sepertiku dikatain bajingan. :(

    Sebetulnya, aku juga punya akun Instagram khusus hitam putih. Firman followers-nya udah banyak, Mbak. Promosiin akunku aja aturan. Wqwq.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahahaha Yoga taek. Manggil "Mbak." Ntang mentang ada panggilan Mas di tulisanku ini.

      Hem... mungkin job desc-nya Gemini bajingak buat hidup di dunia saat masih muda itu kayak gitu kali ya? Gampang bikin orang baper terus keliatannya kayak kasih orang harapan palsu terus orangnya kesal dan ya gitu. Huhuhuhu. Berarti sah-sah aja kan kalau kamu kupanggil Gemini bajingak? Anggap aja itu gelar kebangsaan, Yogs. WKAKAKKAKA.

      Oh iya aku lupa. Nggak kepikiran sampe situ anjis. Tau gitu aku masukin juga akunmu yang waktu itu dikira Wulan akun parodi. HAHAHAHHAHAHAK. Ngakak anjir tiap ingat itu xD

      Hapus
  2. ah icha, awal baca setengah artikel aku udah berancang-ancang ngetik komentar kurang ajar karena geli baca suratmu. tapi di beberapa paragraf akhir, jadinya malah sendu. oke. tapi tetep aku tulis dua-duanya ya.

    pertama, bangkai. kirain pas awal baca ini surat buat jefri nichol, aktor remaja yang lagi hits itu. eh tapi kok ternyata review film. akhirnya aku membacanya lagi. ini film horor yang pernah direkomen sama masku dulu karena konsepnya bw. out of the box, beda dari film horor kebanyakan. tapi aku belum nonton juga sampai sekarang. uh.

    membaca review icha, membuatku ingin segera mengunduh filmnya. dan nonton dengan segera... bersama teman. karena meskipun aku miskin ekspresi saat nonton film, tapi aku tetap butuh pendamping hidup. *lho. maksudnya pendamping buat nonton. entah mengapa nonton film horor dengan teman yang heboh dan suka jejeritan, membuatku merasa terwakilkan karena aku nggak bisa jerit-jerit. bukan sok cool, tapi emang nggak bisa. gimana dong.

    aku juga ingin bertanya:

    1. deg-degan ena kayak takut kegep pas main adegan tabu di ruang tamu itu bagaimana? bisa diceritakan lebih jelas? apakah icha mengalaminya sendiri?
    2. waktu nonton film ini kok kerasa ngilu, ngilu di bagian mana? ini film apa obat perangsang?
    3. kenapa nggak pengen nonton film hangout? (aku juga nggak pgn nonton dan punya alasan tersendiri)
    4. kenapa icha pengen pake baju tidur menerawang saat bersama suamimu kelak? emang bagian mana yang mau dibuat nerawang?

    udah itu aja. dijawab boleh, nggak dijawab juga nggak papa. aku maklum. jomblo memang sering baper dan kekurangan nutrisi sehingga saat nulis postingan bisa menimbulkan banyak pertanyaan di benak pembaca.

    kedua, berat. selisih pendapat antara orangtua dan anak hampir ada di setiap rumah tangga. itu pasti. hanya bagaimana pintar-pintar mengatur komunikasi agar tidak menjadi perdebatan panjang. aku pun mengalami ini. aku sayang pada orangtuaku. sama kecilku juga luar biasa menyenangkan. dan ini berubah saat aku udah dewasa. kalau ada pandangan berbeda, kami bisa diem-dieman beberapa lama. apalagi kalau udah menyangkut hal-hal semacam jodoh dan pekerjaan. orantua tumbuh pada jamannya dan lingkungannya dulu. kita tumbuh di jaman dan lingkungan yang berbeda. mau nggak mau, mereka dan kita sebagai anak harus menerima itu. maka kalau ada perbedaan paradigma, itu wajar.

    maaf kalau komentarnya kepanjangan.

    BalasHapus
    Balasan

    1. Maaf komennya baru dibalas, May. Hehehehe.

      Aku pun sebenarnya geli pas ngetik postingan ini. Sempat ragu ini serius mau dijadiin kayak surat curhat gitu. Tapi gimana ya, udah dari kapan gitu aku ngebayangin bisa curhat langsung sama Mas Nichol sih. Jadinya yaudah tetap ditulis aja. HAHAHAHAHA.

      Wkakakaka. Sekali lagi. Awalnya aku mau bahas soal One Fine Day sedikit. Tapi kepanjangan. Yaudah nyempilin Michelle Ziudith-nya aja deh.Terus sekarang gimana? Udah nonton kah, May?

      Iya memang beda, May. Aku suka. Terus ternyata ada film horor black and white lainnya selain ini. Film-film yang disebutin sama Kang Rido.

      Membaca komenmu, aku jadi pengen uji coba nonton film horor sama kamu, May. Mungkin bisa dibilang sebagai uji nyali juga. Karena bisa jadi kamu bakal nampol or nimpuk aku pake benda tumpul karena aku yang hebohan. Udah sering soalnya aku diomelin dan disiksa biar aku diem nggak hebohan lagi. Huhuhuhu.

      Baiqlah. Aku akan menjawab pertanyaan bangkemu.

      1. Telek. Deg-deg yang kayak pas kita melakukan hal-hal menyenangkan tapi di satu sisi bisa aja membahayakan kita kalau kita nggak hati-hati. Misalnya kayak ngapsul (do you know ngapsul? belok di tikungan secara berlebihan sampai bodi motor dan kaki nyaris nyentuh tanah). Itu nyenengin yang bikin deg-deg an ena. Mengancam keselamatan tapi kok ya seru. Nah kurang lebih kayak gitu rasanya. Kalau mengalami deg-degan ena takut kegep melakukan permainan tabu di ruang tamu... aku... pernah nggak ya? Anak polos susah nih jawab pertanyaan itu.

      2. ((OBAT PERANGSANG))
      Ngilu di sekujur tubuh, May. Tapi bertahap. Pertama, ngilu di kaki. Terus di mata. Terus di sekujur lengan. Aaaak.

      3. Alasannya ada di mentionan kita kemarin. Hohohoho. Kalau kamu sendiri alasannya apa, May?

      4. Kenapaaaaa? Masih nanya kenapaaaa? TENTU AJA BUAT MELAYANI SUAMI, MAAAAAAY. Kayak lagu Cater 2 U-nya Destiny's Child, I wanna cater to my man. Bikinin makan buat dia pulang kerja, lepasin sepatunya, terus pake baju menerawang biar dia bersemangat melepas bajuku itu. Huahahahaha. Taik banget Mayang ih. Bagian yang mau dibikin menerawang..... PIKIRKAN SENDIRI.

      SUDAH AKU JAWAB YA MAAAAAAAY. ANJER MAYAAAAAAAAAANG BANGKE BENEEEER. UNTUNGNYA AKU SAYANG SAMA MAYANG.

      Nah persis. Masa kecilku juga bahagya. Terus pas udah gede begini, sering diem-dieman juga sama Mamaku. Aku nggak bisa komentar banyak-banyak. Pikiran kita sama banget soal ini. Sepertinya juga kita senasib, May. Huhuhu.

      Makasih udah komen sepanjang dan sebaper ini ya, Maaaaay. Mwaah.

      Hapus
    2. aku tidak akan membalas komentar ini lagi.

      Hapus
  3. Pertama-tama aku ucapkan: weh, udah lama gak main blog, interior rumah udah baru aja Nis. cakep. kuningnya favorit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ANJIR KIRAIN JEFRI NICHOL SI COWOK HITS YANG SELALU MUNCUL DI EXPLORE INSTAGRAM HAHAHA

      Yah selera film kita beda Cha. Cuma HER aja deh kayaknya yang sama. Film The Eyes of My Mother ini 3 part?

      Hahaha ngakak. Ketiduran ketika yang lain nangisin mamanya. HAHAHA.

      Weh, kamu sakit apa Cha?

      Hapus
    2. ((INTERIOR RUMAH))

      Iya nih, Rih. Berkat uluran tangan Pangeran Wortel Heru Arya. Hehehe. Makasih atas pujiannya~

      WKAKAKAKAKAKAKA AWALNYA AKU MEMANG MAU NULIS SOAL JEFCHOL SIH DI POSTINGAN INI. NYINGGUNG ONE FINE DAY. TAPI KEPANJANGAN.

      Lah Farih dah nonton Her ya? Gimana? Bagus kan filmnya? 😄

      Satu film tapi ada partnya gitu, Rih. Kayak Dunkirk gitu.

      Huehehehe. Sungguh anak yang bedebah yak aku~

      Mamaku yang sakit, Rih. Dirawat inap kemarinan. Cuman sekarang udah keluar. Hehehe.

      Hapus
  4. Teh Nisa keren ya sekarang curhatnya via surat terbuka gini. Ayo kakak ipar kapan-kapan kita ngobrol again. Kita gosipin rumah tangga teuku wisnu lagi. Atau ustadz solmed juga boleh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ((TEH NISA))

      Wkakakaka. Alhamdulillah kalau postingan bentukan sok-sok nyurat begini dibilang keren. Yuks ah ngobrol-ngobrol gosip-gosip seputar artis. Udah aku WA ya, adik ipar~

      Hapus
  5. Kirain tadi surat curhat buat Kak Jefri Nichol, ternyata tulisan ini tidak se-click bait itu. Ahihi~

    Film ini butuh 3 part untuk ngejelasin semuanya, sama menariknya kayak konsep three stages in the life di film City of God, Atonement, atau Moonlight ya. Jadi penonton bisa terkoneksi sama perkembangan tokoh utamanya. Adegan paling ngeselin itu kalau nggak salah pas ada cowok brengkes yang datang ke rumah dan berniat berbuat asusila (lupa detailnya). Pokoknya itulah...

    Aura gloomy di The Eyes of My Mother ini hampir sama kayak A Girl Walks Home Alone at Night, kebetulan sama-sama film neo-noir juga. Menyeramkan secara psikologis. Hhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda adalah fans film-film keluaran Screenplay ke 27339923 yang mengira surat ini untuk Jefchol, Kang Rido.

      Huanjeeeeer. Aku baru pernah nonton Atonement dan Moonlight. Atonement juga udah lupa-lupa ingat ceritanya kayak gimandos. Huhuhu.

      ((COWOK BRENGKES))

      Naaaah. Dua hari lalu aku donlot A Girl Walks Home Alone Tonight, Kang. Tapi belum sempat ketonton nih. Kayaknya bakal jadi favorit juga. Menyukai film yang seram secara psikologis adalah jalan ninjaqu~

      Hapus
  6. Waduh, berat ini. Tentang orang tua ya. Huwaaaah. Baru aja disuruh memposisikan orang tua sendiri dengan orang tua yang sedang kesusahan di jalan. (ehem, sudah diposting! :p)

    Eh iya, ini banyak menyentuh deh, apalagi perihal mama. Semenjak kuliah ketemu mama cuma menjelang matahari terbit dan menjelang tidur. Aduh, apa ya ini namanya? Momsick bukan sih? Ngikut-ngikut istilah yang sering diucapin temenku anak kos; homesick, kangen rumah. Apalah itu, gak ngerti. Dan itu singgung-singgung belum bisa naik motor. Hem... aku banget itu. :(

    Oh iya, sempet ngetweet semangat ngeblog kendur ya? Ngerasain juga nih. BANGKAI MEMANG TUGAS LAPORAN PRAKTIKUM! *sewot di blog orang*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huanjer. Promosi tulisan terbaru. Selalu ada celah, ya.

      Wkakakaka leh ugha tuh istilah momsick. Kangen Mama di rumah gitu ya, Rob. Ya berarti pas libur, dimanfaatin bet ya waktu di rumahnya. Buat ngumpul sama keluarga dan buat nugas. Huhuhuhu. Sama belajar naik motor juga kalau mau. Huehehehe.

      Anjir sempet-sempet merutuki tugas laporan praktikum. SINI AYOK KITA SALING MENGOBARKAN SEMANGAT NULIS, ROB.

      Hapus
  7. Saya penasaran, Jefri Nichol itu siapa? kok jadi salah sangkaan beberapa org di atas.

    Sungguh review yang asyik kalo dibikin surat, yak. ternyata selain ngereview sambil memparodikan maaf untuk keputusan ini, mereview dgn gaya suratan gini enak juga yak. yg baca juga jadi ngerti alur dan makna ttg filmnya, juga tentang yg ngereviewnya. grrrrnya berasa.

    tapi karena filmnya sepertinya ada sedih sadis2nya, kayaknya nggak bakal mausk list ditonton deh kalo untuk saya, Cha. Belajar ttg maknanya drai review ini aja udah cukup kok. saya juga memiliki ketakutan yg sama kayak kamu itu. T.T

    btw, kapan ini mau ngereview Fake Taxinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cowok cakep yang kalo diperhatiin gak capek lagi. hehe.

      Hapus
    2. Nah itu udah dijawab sama Farih, Haw. Ini aku tambahin itu. Jefchol itu cowok cakep yang kalau diperhatiin nggak cakep lagi dan sekarang lagi laris main film rasa FTV~

      Wah makasih kalau nyurat ini dianggap asyik, Haw. Duh aku jadi keingatan pedihnya kenyataan kamu nggak sempat ikut parodi MKI. Padahal pengen bet baca punya kamu, Haw :(

      Iyaps. Lebih baiq dan lebih nyaman perbanyak nonton film-filmnya Stephen Chow agar hidup tidak terasa berat dan ketakutan akan ditinggal orangtua jadi memudar~

      Kalau soal ngereview fake taxi, kita serahkan pada ahlinya. Yogaesce.

      Hapus
  8. Maa.. maa.. ini jojo maa..

    Oh iya ka, sebelumnya itu siapa yang sakit? Syafakillah semoga cepat sembuh dan barakallahu fii umrika semoga di umur 23 tahun ini dijadikan wanita yang ++, sholehah maksudnya.

    Ehm.. mungkin kalo saya disuruh nonton film ini, baru beberapa menit kayanya langsung close, soalnya ga suka film horor dan ga suka film item putih, cukup saya yang item jangan yang lain *loh

    Namun setelah membaca reviewnya, kayanya film ini salah satu film yang harus ditonton. Terlepas fransiska yang kagum oleh emaknya, barangkali karena fransiska ini kurang pergaulan dan kurang piknik *soktaubanget. Biasanya anak kaya begitu karena dia belum terkontaminasi pergaulan temen. Princess Rapunzel contohnya. Didoktrin.

    Tapi, terima kasih atas sharingnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anjer Joshua oh Joshua.

      Mamaku yang sakit, Sep. Sempat dirawat inap. Tapi sekarang udah keluar dan udah baikan. Hehehehehe. Makasih yaaa atas ucapan dan doanya. TAPI... TAPI.... wanita ++ itu maksudnya apa ya? Wanita plus-plus semacam pijat plus-plus gitu? Huhuhuhuhuhu.

      Awalnya aku juga berpikiran pengen langsung close. Agak bosen sih pas di awal-awal. Untungnya langsung bergairah pas ada adegan ngehe muncul. Hahahaha.

      ((CUKUP SAYA YANG ITEM JANGAN YANG LAIN))

      KOK SEDIH YA....

      Nah iya kamu benar. Nggak sok tau itu mah. Fransisca memang kuper, kudet, dan kurang piknik. Pola pikirnya terbentuk dari masa kecilnya yang kelam dan kesendiriannya. Nah kamu benar lagi. Rapunzel bisa dijadikan contoh.

      Aku juga terima kasih karena kamu udah baca tulisan ini. Yuhuuu~

      Hapus
  9. komen dulu. ntar aja ngeliat ulasannya :D

    BalasHapus
  10. Serem liatnya. Aku takut kalo liat film horor

    BalasHapus
  11. apa cuma saya yang hobby baca sampek koment??
    btw happy b'day dear.. cepat sembuh ya.. duh unyu unyu 23 tahun >.<
    saya tertarik dengan coment mayang dwinta, pas banget itu semua pertanyaan saya juga! entah karena namanya sama jadi kepo nya sama juga. haha..

    btw saya gak setuju dengan icha dan yoga. suami saya GEMINI dan saya pacar pertamanya hahah... nikah lho. LDR 6 tahun dan dia terkenal gak neko neko. so sebenarnya itu pilihan.

    soal ortu, saya juga selalu beda paham sama beliau. dan tidak dekat tapi seiring usia bertambah akhirnya saya bisa sedikit ngalah dan coba mengerti. tapi kalau gak cocok dan bener bener vital saya bakalan frontal juga nolak nya.

    btw salam kenal ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahahahaha. Aku juga suka gitu kok, Mbak Uli. Seru bacain komentar-komentar yang ada di postingan teman. Kadang suka nimbrung juga, ngerecokin komennya mereka. Hahahaha.

      Iya makasih ya, Mbak. Alhamdulillah yang sakit yaitu Mamaku, udah baikan ini kondisinya. Terus ALHAMDULILLAH JUGA DIBILANG UNYU-UNYU. WKAKAKAKAKAKAKA. Makasih banget, Mbak. Mwah.

      Komennya Mayang memang menarik perhatian warga. Iya sih bisa jadi karena namanya sama jadinya keikut kepo juga xD

      WAAAAAAAAAW. Sebuah kisah yang menginspirasi. LDR yang membuahkan hasil. Mbak Uli sendiri zodiaknya apa? Hmmm sebenarnya kita nggak boleh juga sih ngeliat orang dari zodiaknya ya. Hahahaha. Nggak semua zodiak anu berarti orangnya ono.

      Nah. Persis banget, Mbak. Aku juga nggak dekat sama Mamaku. Kalau beda pendapat, punya pendapat sendiri, aku nggk segan buat ngungkapin. Sebenarnya itu nggak masalah ya beda pendapat sama orangtua. Cuman kitanya aja harus menyampaikan beda pendapatnya itu secara baik-baik biar nggak cekcok.

      Salam kenal juga, Mbak Uli. :*

      Hapus