A Star Is Lady Gaga

 Aku cinta A Star Is Born.

Kalau adegan habis nyanyi lagu Shallow sampai ending-nya nggak membosankan. 

Hiyaaa hiyaaaa hiyaaaaaaa~

Oke, aku udah spoiler sedari awal. Seperti biasa sih tulisan kali ini spoiler, ngebahas soal film A Star Is Born.

Btw soal hiya hiya hiya, kasihan deh Tretan Muslim dan Coki Pardede. Mereka dikecam gitu gara-gara video Last Hope Kitchen-nya Muslim yang masak daging babi campur air kurma dan puding. Biasa, orang-orang pada sensitif soal bercandaan SARA. Padahal itu lucu deh sumpah. Karena video itu juga aku makin jatuh cinta sama Coki Pardede. Keliatan banget kalau dia orangnya penyabar, daging kesukaannya umatnya (Coki agamanya bukan Islam tapi agnostik atau Kristen deh lupa) di-bully sama Muslim gitu terus dia malah ngakak-ngakak aja. Habis itu dia pinter dan lucu lagi aaaaaaaak. 

Hadeeeeeeeeeeh malah bahas soal yang lain. 

Fokus ke filmnya, ya. A Star Is Born ini bercerita tentang Jackson Maine (Bradley Cooper) si penyanyi country-rock terkenal yang jatuh cinta sama pegawai restoran yang lagi perform di bar waria. Namanya Ally (Lady Gaga). Jack nyepik-nyepik Ally, si Ally luluh, terus mereka saling jatuh cinta. Ally diajak jadi teman turnya Jack, lama kelamaan jadi teman hidup. Tapi cobaan menerpa percintaan mereka. Jack menjadi bintang yang meredup karena masalah personalnya, dan Ally jadi bintang baru yang bersinar di belantika musik Amerika. Popularitas ibaratnya udah kayak orang ketiga aja buat rumah tangga mereka.

Aku nonton film ini kemarin tanggal 19 Oktober, di hari pertama filmnya tayang.



Nontonnya bareng Nanda. Sebenarnya malas nonton sama Nanda sih. Dia orangnya pasif banget kalau diajak jalan ke mana-mana. Rasanya sama aja jalan sendirian atau jalan sama dia. Alasan kenapa aku pengen nonton bareng -minimal nonton berdua- itu supaya ada teman ngobrolin filmnya ngalor ngidul. Nah, Nanda itu---

Aku jahat banget sebagai kakak, ya. Huhuhu. 

Tapi karena dia lagi butuh penyegaran dan aku pengen jadi kakak yang baik sekali-kali, yaudah aku ajak dia nonton A Star Is Born. Lagian juga dia Little Monster alias penggemar Lady Gaga si Mother Monster. Mungkin dia bakal ekspresif pas nontonnya.

Bukannya ekspresif, dia malah... malah....

Malah nunjukin aku ke jalan yang benar.

Pas di salah satu adegan A Star Is Born, aku nanya,

“Lah suaminya mana?”

Nanda dengan nyantai ngejawab,

“Bunuh diri lok?”

Bikin aku mikir... ADEKKU YANG OON AJA NANGKEP SAMA ADEGAN ITU LAH AKUUUU NGGAK NANGKEP HUHUHU.

Habis adegannya artistik bener. Jack keluar dari mobil, terhuyung-huyung menuju garasi, ngegenggam botol pil obat, terus close up, terus ada pantulan sinar matahari ala-ala foto cewek-cewek ngehits di Instagram, terus... lupa deh gimana. Ambruk atau gimana gitu Jack-nya. Yang jelas bego banget aku nggak ngeh kalau itu adegan sakaratul maut bunuh diri.

Untung ada Nanda yang memberikan pencerahan. 

Tapi itu bukan sepenuhnya salahku sih. Salah film ini juga. Oke itu jahat. Maksudnya film ini punya banyak adegan-adegan yang nggak mengikat emosiku. Adegan yang setipe dengan adegan bunuh dirinya Jack itu. Film ini nggak bersinar seperti yang aku kira. Durasinya lama tapi alurnya kayak kecepatan. Tau-tau ini tau-tau itu. Ujug-ujug A ujung B. Tau-tau udah nikah aja GAMPANG BANGET ANJIR NIKAH DI FILM INI HUHUHU.

Aku ngerasa film ini nggak punya kedalaman yang aku inginkan. Kalau menurut review-nya Mas Amir Syarif Siregar, konflik-konflik yang hadir di film ini hanya hadir dan berlalu begitu saja. Banyak adegan jadi terasa membosankan karena nggak ada kedalaman itu.

Sumpah, aku malah lebih tertarik di masa-masa Jack dan Ally (Lady Gaga) belum nikah alias masih kasmaran-kasmarannya. Lebih mengikat emosiku nggak ke mana-mana cuma tertuju pada filmnya aja. Padahal konflik sangarnya ya pas mereka udah nikah. Ketika pernikahan mereka harus diuji dengan kecanduan minuman keras yang dialami Jack dan popularitas yang harus dibayar Ally dengan mengorbankan keutuhan rumah tangga. Aku setuju sama siapapun yang bilang kalau patokan menariknya film ini menuju ‘momen Shallow.’ Pas momen Shallow tiba, makin menarik. Lepas momen Shallow, mulai ngebosenin. Apalagi kalau Bradley Cooper di layar tanpa Lady Gaga, entah kenapa filmnya jadi terasa loyo. Nggak bertenaga. Apa karena Bradley Cooper juga jadi sutradara film ini, jadinya tenaganya udah habis gitu buat akting?

Hadeh mulai sotoy~

Shallow ini salah satu ost-nya film ini btw. 

Soal momen sebelum Shallow, di mana Jack dan Ally baru pertama kali ketemu, itu bikin aku ngiri berat sama Ally. Awal-awal film ini diperlihatkan kalau Ally baru putus sama pacarnya lewat telpon, dengan kalimat kurang lebih,

"Kamu mau menikah denganku? Kamu gila? Kita putus, Roger!" 

Eh nggak lama Ally dideketin sama penyanyi terkenal yaitu Jack, diajak tur, terus pacaran. Enak bener anjir beruntung banget habis putus cinta langsung dapat rezeki. Huaaaaaa move on-nya dimudahkan bener. Si Ally belum sempat shalat istikarah minta petunjuk soal jodoh UDAH LANGSUNG DAPAT AJA JODOHNYA.

Tapi aku ngerasa kalau chemistry-nya Bradley Cooper dan Lady Gaga sebagai Jack dan Ally ini nggak dapet. Eh ini bukan karena iri sama Ally, ya. Hehehe. Beneran deh aku ngerasa mereka kayak temen duet aja gitu. Jack jatuh cinta sama Ally, Ally pun jatuh cinta sama Jack. Hubungan mereka terasa mulus. Kasmarannya mereka kental. Cinta mereka sama-sama kuat satu sama lain.

Tapi.... aku ngerasa itu kurang meyakinkan. Gimana, ya. Malah aku lebih suka chemistry-nya Keira Knightley sama Mark Ruffalo di Begin Again. Padahal mereka ceritanya di situ bukan sepasang kekasih. Si Nanda malah lebih suka chemistry Dakota Johnson dan Jamie Dornan di Fifty Shades of Grey.

“Saking nggak berasanya chemistry-nya sampai saya milih Anastasia sama Grey aja, Ndes.”

Begitu alasan Nanda. Lagi-lagi dia kasih aku pencerahan soal chemistry.

Padahal akting Bradley Cooper dan Lady Gaga memuaskan sih. Apalagi aktingnya Lady Gaga. Emosiku dan perhatianku sepenuhnya buat Ally, yang diperanin sama Lady Gaga, bintangnya film ini. Beliau bersinar. Lady Gaga cantik banget di sini. Dengan muka polosan tanpa make-up, rambut coklatnya dan badan sintalnya aaaaaaaaak. Lady Gaga di film ini kayak Awkarin masa sekarang yang udah ngejual akun Instagram-nya karena pengen back to the real life.

Maniiiis banget nggak dandan aneh-aneh.
Awkarin
Lady Gaga, bukan Gaga Muhammad, ya.
Lady Gaga melontarkan dialog demi dialog dengan natural, bikin aku lupa kalau sebenarnya yang aku liat itu adalah Lady Gaga, si megabintang.  Aku lupa kalau Ally hanyalah peran. Aku suka banget pas beliau ngomong,

“I don’t like it. But I understand it.”

Entahlah. Bermakna aja buatku.

Akting Lady Gaga ngebuat adegan demi adegan yang melibatkannya jadi bermakna nggak berlalu gitu aja.

Walaupun Lady Gaga bisa lepas dari gemerlapnya beliau di film ini, tapi ada satu momen di mana ngeliat Lady Gaga sebagai Ally bikin berasa nostalgia, sama masa-masa di mana aku dengerin lagu-lagu zaman The Fame Monster. Zaman di mana Lady Gaga masih dikuasai jin Ifrit alias nyentriknya nggak ketulungan.

Adegan waktu nyanyi di bar waria ngingatin aku sama gosip zaman dahulu kala di mana Lady Gaga ‘dituduh’ sebagai transgender. Tuduhan itu makin kuat pas music video You and I brojol, di situ ada Lady Gaga versi cowok (yang ganteng banget!). Alter egonya Lady Gaga lebih tepatnya.
Sekilas kayak Aron Ashab iya nggak sih?
Tapi ya itu cuma sekedar tuduhan. Nggak ada bukti kuat kalau Lady Gaga itu transgender. Lady Gaga beda sama Lucinta Luna. 

Adegan nyanyiin Why Did You Do That adalah adegan yang miris. Adegan di mana Ally udah terkenal dan nyanyiin single terbarunya yang kental akan nuansa EDM dan tarian-tarian konyol itu. Bikin aku iba sama Ally. Saking ibanya sampai nggak tega buat liat. Lagunya relate. Walaupun bukan makna sebenarnya lagunya, tapi seolah-olah aku kayak denger Ally nanya, “Why did you do that? It’s not meee,” ke manajernya, Rez (Rafi Gavron). Nanya (atau lebih tepatnya protes) kenapa manajer dan label tempatnya bernaung memperlakukan beliau kayak gitu. Mengorbankan dirinya yang apa adanya demi kebutuhan industri musik masa kini. Kasihan Ally nggak bisa jadi dirinya sendiri dalam bermusik huhuh

Ngeliat Ally disuruh nari-nari kayak gitu seolah kayak ngeliat Raisa dipaksa enerjik nari-nari kayak Agnez Mo tau nggak siiiiiiiih.

Adegan nyanyiin Shallow.... boleh lah. Bikin aku tepuk tangan. Adegan itu menampilkan akting Lady Gaga yang menurutku gila bagus banget sih. Gugupnya dia pas awal-awal nyanyi itu kerasa di aku. Terus pas selesai beliau nyanyi, aku reflek tepuk tangan. Berasa lagi nonton konsernya secara langsung. Terus Jack sweet bener sih nyeriusin lagu ciptaannya Ally dan nyuruh Ally buat nunjukin karyanya itu ke semua orang. Ngehargain passion cewek banget. Aaaaaak aaaaaak aaaak~

Aku mendaulat adegan itu sebagai adegan yang paling romantis dari film ini.

TAPI.... setelah baca review-nya Tirto soal film ini, aku jadi mikir itu adegan nggak romantis. Meminjam istilah dari 13 Reasons Why season 2, momen Shallow itu muncul tanpa adanya consent dari si Ally. Itu kan lagunya Ally, kenapa nggak izin dulu gitu. Main dinyanyi-nyanyiin main diaransemen-aransemen aja. Terus ujug-ujug nyuruh Ally naik ke panggung. Kasihan Ally-nya belum siap. Nggak ada consent-nya dari awal. Ibaratnya kayak kita dicium sama gebetan tiba-tiba tanpa ada persetujuan, dan si lawan jenis bilang,

"Maaf aku reflek. Itu karena aku sayang kamu."

Seneng sih, suka sih, itu semacam jadi kejutan sih, tapi kan....

EH NYAMBUNG AJA SIH AKU NGAITINNYA HUHUHUHU.

Entahlah. Yang jelas adegan itu aku cancel jadi adegan romantis. Yang romantis malah lagu Music To My Eyes, yang munculnya seuprit aja di filmnya huhuhu. Itu lagu beneran romantis sih. Ngegambarin banget dua musisi yang saling jatuh cinta. Lagu itu menurutku bisa dibaperin sama siapa aja, nggak harus musisi. Khususnya di bagian,

"I heard a song and then I saw you. I learned the lyrics and knew you were mine."

Ngena di aku, yang tiap dengerin lagu terus liriknya sok iye dipahamin kemudian nyadar kalau aku lagi suka atau lagi sayang sama siapa. Hehehe.


Sayangnya ya itu, Music To My Eyes munculnya seuprit doang PADAHAL ITU LAGU YANG NGENA HUHUHUHU.

Adegan di mana Ally nyanyiin lagu I’ll Never Love Again, juga lumayan ngena sih. Lumayan tapi. Pas denger di filmnya, agak bangsat. Pas denger lagi besok paginya, BANGSAT BANGET. AKU NANGIS HUHUHUHUHU. LIRIKNYA ITU LHO DON’T WANNA GIVE MY HEART AWAY TO ANOTHER STRANGER.

BIKIN GAGAL MOVE ON. MALAH BIKIN TURN ON SAMA MANTAN.

Secara keseluruhan, A Star Is Born biasa aja. Nggak segemerlap yang aku kira. Tetap bersinar dan bercahaya seperti bintang, tapi bukan tipe bintang yang bikin aku melek mantengin semalaman. Malah bikin ngantuk pengen tidur.

Tapi tetap, aku suka bintang. Aku suka film ini. 

You Might Also Like

2 komentar

  1. Baca kata pasif, agak gimana gitu. Hahaha. Sering males sama orang yang begitu. Kesannya saya dominan atau bawel banget, terus enggak dipercaya sebagai pendengar. :( Sepasif-pasifnya, menurut saya kalau dibikin perbandingan itu orang bisa mengimbangi sampai 70:30 lah. Kalau di bawah itu, apalagi 90:10, ya mending enggak usah ngobrol. XD

    Satu-satunya yang saya tahu tentang film ini, fans Lady Gaga bikin ulasan jelek buat film Venom. Teknik promosi kok segitunya~ :(

    ((turn on sama mantan))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wadaw. Berarti kamu bisa males dong jalan Nanda, Yogs. Hahaha. Eh tapi kayaknya tergantung dengan siapa orang pasif ini jalan deh. Soalnya si Nanda kalau jalan sama teman-temannya rusuh tuh :(

      Iya hahaha aku ada baca di Twitter. Persaingan antar film sungguh ketat~ Untung filmnya sama-sama unggul sih ahahaha.

      Hapus