Ezra, You Can't Save The Relationship Alone

Motivasiku nungguin Justice League adalah pengen sayang-sayangan sama Ezra Miller. Ya, cuma itu. Posisi Paul Dano saat ini lagi tergeser sama Ezra Miller, aktor yang aku suka karena aktingnya di The Stanford Prison Experiment. Apalagi pas tau kalau zodiaknya Ezra itu Libra, sama kayak aku. HUAAAAAAAAA AKU ENGAAAAAS!!!!!1111

The Flash berlari ke arahku. Fufufufu.
Tapi, aku sempat nemuin halangan dalam sayang-sayangan sama Ezra Miller di Justice League. Halangan yang akhirnya bisa teratasi.

Pertama, tanggal tayangnya Justice League deketan sama tanggal tayangnya Marlina si Pemenggal Kepala Bapak-Bapak. Eh enggak deng, Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak yang bener. Aku pengen banget nonton itu film. Tapi... pengeluaran bulan ini benar-benar brengsek. Uang makan yang harusnya bisa tahan sampai akhir bulan, malah setelah dihitung-hitung cuma bisa bertahan sampai dua minggu. Gara-gara aku kalap di awal bulan. Maka dari itu, aku harus nentuin satu film yang mau ditonton. Huhuhuhuhu.

Tapi ternyata Marlina nggak tayang di Samarinda. Aku anggap malapetaka itu sebagai hal yang memudahkan buat nonton Justice League. Awalnya aku senang tapi sekarang sedih juga. Tapi yaudah lah. Mungkin biar aku nggak makan nasi Padang sebungkus bagi dua sama Rina demi bisa nonton dua film. 

Kedua, aku nggak punya teman nonton. Setelah sering nonton sama Nobar Squad (Kak Hendra dan Kak Ira), sama Dita, dan sama Rina, aku jadi males nonton sendirian lagi. Kemampuan nonton sendirianku hilang. Seolah tagline-nya Justice League yang tulisannya,

“You can’t save the world alone.”

Berubah jadi,

 “You can’t watch Justice League alone.”

Aku pun ngajakin Rina, tapi dia nggak bisa. Kak Hendra kalau dari balasannya di chat grup, menyiratkan kalau dia nggak bisa juga. Terus pas ngebahas Justice League sama Eqy, dia bilang pengen nonton tapi nggak mau hari pertama. 

ANJEEEEEEER. SEDANGKAN AKU MALAH PENGENNYA HARI PERTAMA AAAAARRRRRRGHHH. 

Untungnya pas Rina nemenin aku beli tiket nonton di jam istirahat, dia tergoda buat beli juga. Akhirnya aku nonton sama dia. Wkakakakakakaka. 

Justice League memang bukan film yang wooooow banget, tapi menyenangkan dan menghibur pas ditonton. Durasinya yang anjir-kirain-bakal-lama-kayak-Batman-v-Superman taunya cuma dua jam, bikin filmnya jadi terkesan buru-buru dalam menjalankan ceritanya. Tapi... pengenalan tiap tokoh barunya pas dan nggak pilih kasih. Momen pertarungannya juga walaupun yah-gitu-doang, tapi tetap nunjukin kalau Batman dkk itu beneran para kumpulan superhero

Film ini ibarat kerja kelompok anak sekolah yang terdiri dari Zack Snyder dan Joss Whedon. Karena ketimpa 'musibah', Zack harus berhenti di tengah produksi lalu ini dialihkan ke Joss Whedon. Nah, kalau yang aku baca dari beberapa review, peranan Joss Whedon bikin film ini jadi menimbulkan reflek tawa. Justice League nggak terlalu kelam dan jadinya lucu. Tapi bagiku tetap, DC lebih bisa dibaperin daripada film-filmnya Marvel. Pemilihan lagu sebagai original soundtrack-nya juga menurutku lebih ngena. Kalau katanya Eqy, 

“DC lebih baik daripada Marvel. Kalau Marvel mah menang kemasan, lebih friendly.”

Kalau ada penggemar Marvel yang nggak setuju, tolong serang Eqy aja, ya. HUAHAHAHA.

Terus karena aku bukan penggemar DC maupun Marvel, dalam artian AKU CUPU BANGET ANJIR SOAL FILM SUPERHERO, di bawah ini aku nyoba ngebahas para anggota Justice League satu persatu. Benar-benar dari sudut pandang yang tidak profesional.


1. Superman (Henry Cavill)

Walaupun dia nggak nongol di poster dan dikisahkan sudah mati karena kryptonite di BvS, Superman tetap hadir di film ini. Bukan spoiler, karena di trailer-nya pun nunjukkin batangnya Superman. Batang hidung maksudnya. Kata “hidung"-nya ketinggalan. Ehehehehe.


Justice League dibuka dengan footage handphone. Menampilkan video semacam rekaman di mana ada Superman yang tangguh, ramah, dan.... giginya rada tonggos. Entah karena aku yang salah liat apa gimana, tapi aku ngerasa aneh pas liat Supes senyum menyeringai. Semoga aku cuma salah liat. 

Footage handphone itu juga bikin asal mikir. Aku mikir kalau... anjir ini sutradaranya melek tren di dunia musik apa gimana, ya. Soalnya ngingatin aku sama vertical video Wolves-nya Selena Gomez featuring Marshmello sama vertical video Havana-nya Camila Cabello. Mmmmaaaaaantaaap.

Nah, kehadiran Superman di sini sebenarnya nggak banyak. Tapi kalau kata Mayang, Superman menguasai permainan. Aku setuju. Ngeliat perfomance-nya Superman, aku jadi mikir kalau Batman dkk udah kayak jadi tim bantu-bantu doang. Huhuhuhu. 

Justice League seolah bergantung pada Superman karena mereka ternyata masih kurang kuat. Seolah bergantung pada harapan. Superman adalah simbol harapan itu sendiri. Tanpanya, dunia jadi kacau balau. 

Bahkan Bruce Wayne alias Batman terinspirasi sama aksi heroik tanpa pamrihnya Superman, makanya jadi ngumpulin para superhero. Layaknya film Bulan Terbelah di Langit Amerika yang punya tagline, “Apakah dunia lebih baik tanpa Islam?” Justice League seolah punya tagline lain yaitu, “Apa dunia lebih baik tanpa harapan?” 

Aku suka adegan-adegan Superman. Henry Cavill menampilkan Superman yang lebih murah senyum dan arif bijaksana. Adegan dia waktu di ladang gandum, padang ilalang, kebun jagung, atau entah salah CGI-nya atau aku yang emang nggak tau itu sebenarnya apa, itu cukup manis. Adegan ‘bertukar senyum’ sama The Flash juga cukup lucu. Aku juga suka adegan di mana dia ‘ngamuk-ngamuk.’ Udah kayak anak kecil yang ketiduran habis Ashar. Kan katanya gitu, ya. Tidur habis Ashar itu bisa bikin mood jelek. 

Sayangnya, di film ini aku nggak ada liat Superman pake kacamata. Padahal dia gantengnya kebangetan kalau udah kayak gitu. Memang kali ya, aku nggak dibolehin buat suka selain sama Ezra Miller. 


2. Batman (Ben Affleck)

Ben Affleck di sini dalam memerankan Batman, menurutku keliatan kayak om-om bos besar yang kelelahan habis pulang kerja. Mukanya muruuuuung mulu. Interaksinya sama Wonder Woman yang aku harap ada percikan-percikan nakal ala gadun, malah jadinya biasa aja. 

Terus pas ngeliat dia ngerekrut The Flash, itu cukup lucu sih. Jiwa investigasinya dimunculin di situ, ngebuat The Flash jadi rada salting ngejawab pertanyaan demi pertanyaannya. Begitu di mobil, dia bilang, “I’m rich,” pas ditanya The Flash tentang apa superpower-nya.... mukanya lagi-lagi murung. MANA MUKA MILYUNER SONGONGNYAAA OOOOOM?

Batfleck dengan muka kelelahannya.
Tapi mungkin memang nggak bermaksud songong kali, ya. Bermaksudnya nunjukin keresahan hati berupa, 

“Anjir masih nanya apa superpower lagi ini bocah satu. Udah tau gue manusia biasa juga! Capek akutu...”

Cuman itu nggak sampai mengganggu kenyamanan nontonku juga. Ben Affleck masih terlihat keren. Aku suka interaksinya dia sama Aquaman. Mereka macam bapak-bapak teman sebaya yang hobinya saling ngejek satu sama lain. Gemesin. 


3. Aquaman (Jason Momoa)

Pertama denger Come Together-nya Gary Clark Jr. & Junky XL, aku langsung keingat sama kibasan rambutnya Aquaman. Lagu yang nge-rock abis dan diperdengarkan di trailer Justice League itu memang cocok diidentikan dengan superhero ‘seliar’ Aquaman alias Arthur Curry. 

Lama kelamaan Come Together berubah jadi Cum Together di telingaku dan aku ingatnya malah gerakan cepatnya The Flash. Jadilah aku mengidentikkan Aquaman dengan lagu.... Papa Rock ‘n’ Roll

Nah, aku nggak dapat aura songong dari Batman, mungkin karena ada Aquaman. Sang penguasa lautan itu kentara dengan persona songongnya. Tengil abis. Terus dia sok nggak butuh, sok terpaksa berada di liga keadilan itu, padahal---
Nyebur di empang
Aku masih ngerasa belum dekat sama Aquaman. Nah, di film solonya nanti yang katanya tayang tahun depan, aku harap bisa lebih mengenal karakternya, memahami kekuatan-kekuatannya, menikmati lekukan otot dan ukiran tato di tubuhnya dengan puas. Uuuuuh. Pakbapak gaul~


4. Wonder Woman (Gal Gadot)

NAH INI. Bisa dibilang sebagai superhero-nya DC. Film solonya kemarin banyak menuai pujian dan menumbuhkan harapan akan film-film DC selanjutnya.  
Cantik. Banget. Jingaaaaak.
Wonder Woman tetap mengagumkan dan cantik seperti biasanyaAku makin suka sama Gal Gadot. Aktingnya makin matang. Aku suka pas dia marah ke Batman. Amarahnya sebagai perempuan yang nggak suka kalau mantannya diungkit-ungkit lagi, tersampaikan dengan baik ke penonton. 

Penggunaan Lasso of Hestia kepunyaan Wonder Woman di sini lebih apik daripada di film Wonder Woman. Menurutku jadi kepake banget dan menimbulkan banyak reflek tawa. Pas digunain ke salah satu anggota Justice League, itu lucu banget. Wonder Woman usil!

Tapi... aku ngerasa ada yang janggal sama Wonder Woman alias Diana Prince. Saat dia nggak pake kostum Wonder Woman, baju yang dia pakai lebih terbuka daripada waktu di film Wonder Woman. Lebih terbuka di area dada, bikin belahan dadanya terpampang nyata dengan frontal. 
Di sini dia cemataan aja udah seksi. Gils.

Aku jadi suudzon dengan mikir tim wardrobe Justice League memang sengaja ngasih baju begitu buat Gal Gadot, karena termakan mean tweet di acara Jimmy Kimmel Live


SUUDZON DIJAGA, CHAAAA....


5. Cyborg (Ray Fisher)

Waktu pertama tau nama aslinya Cyborg yaitu Victor Stone, aku langsung nyeletuk, 

“Victor Stone siapanya Emma Stone, anjir?”

Tentunya nyeletuk dengan sepelan mungkin, karena Rina udah memperingatkan dari awal kalau aku jangan bikin malu, dan penonton hari itu rame. Bangkunya pada penuh. Aku harus belajar tau malu. Kecuali kalau ketawa ngakak. Ya nggak bisa dikontrol. Hehehe.

Cyborg adalah atlet basket yang menjelma menjadi manusia robot, habis kecelakaan. Ayahnya Cyborg belum siap buat kehilangan anaknya, dan dia jadinya mereinkarnasi anaknya dengan cara ‘merobotkan’ anaknya. Kisah hidup Cyborg cukup menyentuh, karena bikin aku memaknai apa-itu-kehilangan. Apakah kematian yang bikin kita kehilangan? Atau apakah ketika seseorang itu berubah menjadi hal lain? 
Bukan Power Rangers
Untung juga sih jadi robotnya bukan dari kecil, karena kalau gitu malah ngingatin aku sama.... Rafathar The Movie

Aku suka saat dia kopdar pertama kali sama Wonder Woman. Sosoknya kelihatan cuek bebek, tapi sebenarnya dia ini orangnya peduli dan setia kawan. Begitu juga pas dia ngobrol sama The Flash. Satunya cool, satunya cengengesan. Perpaduan yang enak dipandang. Dua partner yang gereget buat diajak threesome bareng aku. 

Cuman karena kehadirannya, bikin Batman jadi keliatan cupu. Apa-apa diambil alih sama Cyborg. Wkakaka. Ngeliatnya jadi kayak anak magang yang ternyata lebih kompeten daripada anak lama di kantor. 


6. The Flash (Ezra Miller)

Pas liat The Flash pertama kali muncul, lagu-lagu cinta berkumandang di telingaku. Mulai dari Gorgeous-nya Taylor Swift, I Really Like You-nya Carly Rae Jepsen. sampai Juragan Empang-nya Diana Sastra. Terutama di bagian,

“Rasa seneng sun ora kejagan. 
Due demenan macam sampeyan. 
Uwonge oral bli perhitungan. 
Ngasih sewaan bandeng seempang.”

Bodo amat deh The Flash bukan juragan empang. Yang penting lagu itu tentang kasmaran cinta-cintaan. 
Muka gugupnya ucul anet.

Kehadiran The Flash bisa dibilang sebagai pencair suasana di Justice League. The Flash alias Barry Allen ibarat anak kecil menggemaskan yang ceria, ekspresif, banyak ngomong, dan cerdas. Dia yang paling semangat diajak bergabung di liga keadilan. Mana pas proses perekrutannya itu, ada hal yang ngegambarin kalau The Flash ini adalah fanboy-nya BLACKPINK. Aslinya si Ezra Miller juga fanboy dari girlband asal Korea itu. NGAKAK. 

Aku suka semua adegan yang ada The Flash-nya.  Pas dia ngomong, “Tenangkan pikiranmu. Bayangkan hal-hal indah,” itu bikin ngakak. Pas dia jadi ‘tim evakuasi’ di tengah pertarungan, ya ampun itu bikin aku meleleeeeeeeeh. Pas momen lumayan emosional antara dia sama Ayahnya, bikin aku trenyuh. Ngeliat ‘interaksi’ nggak sengajanya dia sama Wonder Woman, bikin aku jadi suka sama missionary lagi setelah sempat males akibat nonton The Room. Aku jadi pengen ngerasain missionary sama The Flash aaaaaak!
"Tapi aku nggak mau missio-in kamu, Cha. Sorry."

Ezra Miller pas memerankan The Flash. Kocaknya ada, melankolisnya ada. Jadi nggak bodor melulu kayak Spider-Man versi Tom Holland. Ya walaupun aku juga suka versi Tom Holland pas adegan dia nangis karena ketindihan reruntuhan gedung. 

Intinya, aku jatuh cinta sama cowok lucu yang masih manusiawi. Masih bisa sedih. Masih kayak manusia biasa, yang punya masalah di hidupnya. The Flash punya semua itu. Uuuuuh!

Terus... The Flash emang ekspresif sih. Bahkan mungkin ada yang nggak nyaman sama gerakannya dia. Kayak di komen ini.




Tapi seenggaknya masih enak dilihat daripada kids zaman now yang musically lagu Masha cegukan. 

Aku tetap suka sama Ezra Miller. Tetap cinta sama The Flash. Mana si Ezra kalau senyum, matanya menyipit tinggal segaris. IDAMAN BANGET.

The Flash, Barry Allen, Ezra Miller, fix jadi manic pixie dream boy di mataku. 



Ngomongin soal manic pixie dream boy, itu istilah untuk laki-laki ganteng yang penuh semangat. Aku tau istilah itu dari tulisannya Mbak Niken (walaupun di tulisan itu lebih membahas versi girl-nya). Manic pixie dream boy jadi tipe idaman para perempuan hopeless romantic dan penjunjung kesempurnaan cinta. 

Ezra Miller adalah manic pixie dream boy buatku. Di mana dia adalah idaman dan harapan. Aku seolah berharap kalau Ezra Miller nggak ngecewain aku di Justice League. Kalau misalnya aktingnya jelek, nggak sesuai ekspektasi, mungkin aku bakal kecewa banget. Untungnya, Ezra nggak ngecewain aku. Dia tetap sesuai harapan. Dia tetap bisa menyenangkan aku. 

Manic pixie dream boy nggak cuma berlaku buat artis. Memang bukan sih sebenarnya. Tapi lebih ke pasangan. Gara-gara telponan sama Wulan beberapa hari lalu, aku jadi mikir kalau aku pernah punya manic pixie dream boy yang 'nyata'. 

“Cha, beberapa hari ini aku baca postingan kamu yang 2011-2014 lho. Tentang... (terus Wulan nyebutin satu nama mantanku).”

Begitu kalimat kampret itu keluar dari mulut Wulan. 

Bikin aku keingat masa lalu. Masa-masa aku mandangin cowok bermata sipit yang cengengesan tiap ngejelek-jelekin film yang aku suka. Masa-masa pas dia bilang, “Mikirin kamu lah. Nggak usah sok bodoh!” pas aku tanya mikirin siapa selama kami LDR-an. Masa-masa pas dia bilang, “Akhirnya masuk rumah sakit juga,” pas dia jengukin aku yang lagi diopname terus dengan sabar dia nungguin aku di rumah sakit sampe bermalam. 

Masa-masa yang... ngangenin, anjir. Masa-masa yang diisi sama cowok penuh semangat, lucu, ngeselin, dan aku berharap dia adalah jalan keluar dari masalah aku-pengen-punya-pacar-romantis. 

Nyatanya, dia bukan jalan keluarnya. 

Justice League, Ezra Miller, dan telepon dari Wulan bikin aku mikir kalau kita nggak bisa menyelamatkan hubungan seorang diri. Atau nggak bisa menggantungkan harapan pada pasangan tanpa kitanya berusaha. Kita nggak bisa menyerahkan keselamatan hubungan pada pasangan, dengan berharap dia bisa berubah, kalau pada dasarnya dia memang begitu.

Kita harus memperjuangkan dan menyelamatkan hubungan bersama-sama. Kita nggak bisa terima asal jadi, terus kalau nggak terselamatkan, malah nyalahin dia. Padahal kita bisa menyelamatkan hubungan dengan ‘cukup’ menerima dia apa adanya.

Rasanya aku pengen ngomong ke Ezra Miller. 

“You can’t save the relationship alone. Ada aku. Kita selamatin sama-sama biar kita nggak putus.”

Karena kalau ngomong itu ke mantanku yang dimaksud sama Wulan, udah terlambat.

You Might Also Like

8 komentar

  1. Eqy bgst.Eh typo. Maksudku salam sama Rina. Ehe.

    BalasHapus
  2. saya belom nonton... dulu2 gamau nonton DC karena selain jalan ceritanya, tampilan gambarnya juga dark. malesi. wonder woman juga kemaren nggak begitu menarik walo darknya berkurang. namun pesona gal gadotnya berhasil menawan buat nonton dia lagi.


    oh iya, masih ada kata "balikan", kali aja perpisahan kemaron itu suatu kesalahan~

    kabur ah pake buraq yg udah lama dianggurin..

    BalasHapus
  3. go marvel...


    eh salah ini DC..


    belum nonton sih tapi kayanya ga mau juga setelah baca ulasan kamu cha, kayanya ceritanya kurang greget.. hehee


    masalah mantan belum terlambat cha .. ,xD

    BalasHapus
  4. Apalah dayaaa ngomongin superhero gak ngerti apa-apa. Cuma tau Gatotkoco, Arjuno, Angling Dharmo, internasional paling Spiderman-Batman-Superman. T_T

    Aquaman itu superhero ya? Kirain tokoh film fiksi yang badannya kayak galon...

    Hahaha endingnya baper Cha. Kangen? Telpon dong jaman now. :D
    Kyut banget itu btw mantanmu digambarinnya.

    BalasHapus
  5. Hm, kalaupun nggak bisa diselametin lagi hubungan percintaannya, tetap silaturahmi mungkin masih bisa, ya? Kontakan sama mantan yang asyik mah nggak ada salahnya. Siapa tahu bisa sahabatan atau sekadar main bareng. Wqwq. Kalau mantannya nyebelin, baru nggak usah. XD

    Kayaknya nggak akan nonton deh meski ada Mbak Gadot. Haha. Selama ini emang nggak terlalu suka film-film DC, kecuali Batman versi Nolan. Batman favorit saya juga masih Bale. Nggak tau kenapa susah sreg sama Affleck. Songong akan kekayaannya emang bisa jadi komedi, sih. Cuma aura gelap seorang Batman-nya aneh. Hehe.

    BalasHapus
  6. ((akhirnya masuk rumah sakit juga))

    Lucu juga kalau bilang gitu. Tapi, kalau ngomongnya ke orang sensian dan gak mikir jauh, bisa digaplok itu. :))

    BalasHapus
  7. Dari semua pernyataan di pos ini, saya sangat setuju. Kecuali yang menurut saya ganggu adalah scene pacaran Superman di kebon jagong itu aneh banget. Pacaran di kebon jagong? Aduh, itu kalo di lembur kuring mah udah diusir sama Emak yang punya kebon.

    Fix, Ezra Miller tidak dapat mengalahkan kegantengan saya, kak Icha. Huahahahaha

    BalasHapus