Ingrid Mengejar Selebgram

Baru aja kemarin lusa aku nge-twit,

"Jadi ingin vakum main Instagram bla bla bla bla bla."

Lah besok siangnya aku malah upload foto di Instagram. HAHAHAHA. Labil, yak. Entahlah, belakangan ini aku lagi labil-labilnya dan mood-ku lagi jelek-jeleknya. Biasanya kalau aku lagi badmood, ada tiga sih penyebabnya: 

1. Lapar
2. PMS
3. Kangen

Aku rasa aku ngalamin dua di antaranya. Aku lagi PMS. Ada satu hari di mana aku pegang hape cuma buat dengerin lagu dan nggak mau ngomong sama orang rumah. Di kamar mulu mendem kayak bangkai. 

Terus, aku lagi kangen. Aku kangen Dita. Walaupun masih bisa komunikasian sama dia lewat chat dan video call setiap hari, tapi tetap aja rasanya beda banget sama ketemu langsung. Benar-benar nggak enak kayak waktu aku harus LDR-an sama mantan gara-gara dia kerjanya bukan di Samarinda. 

Penyebab aku upload foto di Instagram pun gara-gara aku kangen sahabatku sejak SMK itu. Aku upload fotoku bareng Dita dan kasih caption, yang aku pikir bakal bikin dia terharu, eh malah dia ketawain. Asem. 

Nah, kalau penyebab aku sempat pengen vakum main Instagram itu... karena film jingak berjudul Ingrid Goes West.

Salam dua jari
Film komedi gelap keluaran tahun 2017 dari Netflix ini dikangkangi oleh Matt Spicer. Adegan pertama film menampilkan tokoh utama, yaitu Ingrid Thorburn (Aubrey Plaza) menyemprotkan pepper spray ke mempelai wanita yang tengah berbahagia di hajatan nikahan. Mempelai wanita itu jelas kaget, histeris, dan kesal layaknya cewek yang disemprotkan cairan semen alias peju di muka oleh partner ranjang tanpa kesepakatan terlebih dahulu. 

Aku pikir Ingrid habis ditikung, pacarnya Ingrid direbut gitu sama Charlotte (Meredith Hagner), nama mempelai wanita itu. Aku pikir karena drama itu. Tapi ternyata.... dia dan Charlotte bukan sepasang teman akrab di dunia nyata. Ingrid ngerasa mereka itu teman, bahkan sahabat selamanya, cuma karena Charlotte komen di salah satu postingan Instagramnya. Ingrid ngerasa ada yang peduli sama dia, menggantikan peranan Ibunya yang baru meninggal dunia. Terus tindakan nyemprotin pepper spray itu adalah wujud kemarahannya karena dia nggak diundang di hajatan nikahannya Charlotte.

Setelah dijebloskan ke pusat rehabilitasi (atau rumah sakit jiwa ya itu?), Ingrid ngerasa udah baikan. Sampai akhirnya dia kumat lagi karena selebgram bernama Taylor Sloane (Elizabeth Olsen). Entah karena apa Taylor bisa terkenal, yang jelas bukan karena cari sensasi macam Awkarin. Hidup Taylor kelihatan sempurna. Taylor juga ramah banget sama para followers-nya.

Ada satu adegan di mana Taylor ngebalas komen Ingrid, dan dia senang minta ampun kayak cewek yang fotonya di-love sama gebetannya. Dengan uang warisan peninggalan Ibunya, Ingrid memutuskan pergi ke Los Angeles, California. Bukan, bukan karena Taylor ngadain meet and greet kayak selebgram Indonesia, tapi karena Ingrid pengen sahabatan dekat sama Taylor.

Naluri penguntit Ingrid pun membinal setelah sempat mati suri. Ditambah lagi Taylor mengepos semua aktivitasnya di Instagram. Tentunya dengan caption yang nyambung dengan fotonya. Bukannya foto selfie yang dikasih caption kalimat bijak dari novel hasil intipan waktu mampir ke Gramed atau hasil gugling. 

Karena keterbukaan Taylor pada publik itulah, makin gampang Ingrid melancarkan pedekatenya ke Taylor untuk menjadi sahabatnya. Cara-cara ekstrem dia lakukan. Mulai dari 'mencuri' anjing kesayangannya Taylor, dari situ Taylor dan suaminya, Ezra O’Keefe (Wyatt Russell), akrab sama Ingrid. Taylor dan Ingrid pun mulai jalan bareng.

Senang karena hasil fotonya bikin nggak keliatan gendut
Obsesi Ingrid semakin besar, dan hal itu bikin dia ngelakuin hal-hal gila yang melibatkan Dan Pinto (O’Shea Jackson, Jr) pemilik kontrakan tempat Ingrid tinggal, dan Nicky Sloane (Billy Magnussen), adeknya Taylor. Ujung-ujungnya ngerugiin diri Ingrid sendiri.

Mantengin twitwar tim bubur ayam diaduk vs bubur ayam nggak diaduk
Aku suka banget film ini. Banget banget banget. Tema yang diusung di film ini dekat dengan generasi millenial (adegan minta difotoin sampe dapat hasil yang sempurna itu paling bangke!). Film ini menurutku adalah sindiran dan tamparan yang santai sekaligus ngena tentang penggunaan Instagram yang berlebihan. Media sosial tersebut adalah wadah yang 'tepat' buat ngeliat sekumpulan orang-orang yang hidup bahagia. Selebgram yang hidupnya kelihatan sempurna, dijadikan role model. Nah, itu ditunjukkan karakter Taylor. Kebahagiaannya ngebuat Ingrid jadi terobsesi berlebihan sama dia. Padahal... Taylor juga manusia biasa. Dia juga punya masalah hidup. Dia nggak sesempurna yang dipikir Ingrid.

Karakter Ingrid bicara banyak soal bajingaknya penggunaan Instagram. Ingrid bikin mikir, kalau kita bisa mendadak kehilangan percaya diri kalau foto kita minim likes. Kita bisa jadi pribadi yang nggak apa adanya kalau di medsos demi dapat banyak likes. Orang-orang bisa nguntit seseorang kayak Ingrid nguntit Taylor. Bisa tau yang mau diintilin itu lagi di mana, makanan favoritnya apa, buku favoritnya apa, hanya dari foto yang orang itu upload

Soal buku favorit, ada satu adegan di mana suaminya Taylor bilang soal buku yang di-upload istrinya di Instagram. Buku itu bukan buku favoritnya Taylor, tapi buku favoritnya Ezra. Hal itu bikin aku ketawa kecil. Bikin mikir kalau pencitraan digital itu kenyataan. Taylor termakan era baca-buku-kelihatan-keren-bukan-kelihatan-cupu-lagi.

Sikap ramah (atau mungkin bisa dibilang sebagai sikap nyeleb) Taylor ternyata nggak selamanya ngebawa dampak baik. Aku suka pas adegan Ezra curcol yang kurang lebih kalimatnya gini,

“Aku rindu masa-masa kami baru pertama pindah ke sini. Hanya ada kami berdua.” kata Ezra mengenang masa-masa sebelum Taylor menjadi cewek ngehits.

Miris.

Tapi lebih miris karakternya Ingrid sih. Ingrid adalah wanita yang rusak akal, gila, sinting, nekat, fake, dan menyedihkan. Hebatnya, karakter Ingrid nggak bikin kita serta merta ngebenci dia. Malah... kasihan. Tragis. Dia bukannya mau panjat sosial sama Taylor. Tapi dia cuma pengen punya teman. Ngeliat Ingrid menurutku bikin kita pengen ngebantuin dia, tapi kita sendiri juga nggak tau harus gimana. Ingrid posesif sama Taylor, tapi bikin kita seolah memaklumi itu.

Ekspresi wajah Aubrey Plaza dalam meranin Ingrid itu... ya ampun jingak banget. Tatapan matanya kayak nggak semangat hidup tapi tajam. Bibirnya yang gerak-gerak ekspresif kalau ngomong. Dia lucu dengan omongan pedasnya, dia lucu dengan strateginya buat jadi temannya Taylor. Aku jadi ngefans sama dia. Terus, pas dia bareng O'Shea Jackson bikin aku makin suka. Mereka cocok. Aku jadi ingat sama teman SMP-ku, namanya Eqy, tiap liat O'Shea. Terus lama kelamaan ingat sama... Ice Cube. 

Mukanya mirip. Bahasa tubuhnya mirip. Humorisnya juga mirip.

EH TAUNYA DIA EMANG BENERAN ANAKNYA ICE CUBE. ANJER BENER. PANTASAN AJA. 

Ice Cube junior. Aku juga baru tau kalau nama aslinya Ice Cube itu O'Shea Jackson. Huahaha.
Ngomongin pantas, awalnya aku ngerasa nggak 'pantas' buat nonton film ini. Aku dan Instagram itu nggak dekat, alias aku jarang buka Instagram jadinya takut ngerasa nggak nyambung sama filmnya. Buka Instagram itu pun karena....

Pertama, karena pengen memantau IG stories Rina yang isinya dia tiba-tiba manggil aku dan voilaaaa ternyata aku lagi direkam. Muka jelekku yang makin jelek karena nggak siap berhadapan dengan kamera, terpampang nyata. Apalagi sejak ada fitur super zoom, makin seringlah itu si Rina bangke ngerekam aku. Terus dijadiin bahan tertawaan. Kampret. Aku dipermalukan di situ. 

Kedua, karena pengen ngebaca review dari akun Instagramnya Distopiana. Tommy, pemilik akun itu, lagi seneng-senengnya nge-review film di Instagram.

Ketiga, alasan yang terakhir, karena pengen gercep sama berita soal Chicco Kurniawan, kalau Rina nge-chat aku kayak gini:


Tapi pas aku nonton filmnya, aku sadar kalau Ingrid Goes West bukan sekedar film tentang Instagram. Film ini juga tentang bahayanya kesepian. Habis nonton film ini, aku ngerasain lucu-lucu miris kayak waktu nonton The Voices. Aku ngerasain baper yang parah kayak waktu nonton The Eyes of My Mother. Apalagi ketiga film ini punya kesamaan. Yaitu tokoh utamanya sama-sama ditinggal Ibunya, terus kesepian, dan berusaha mengecoh kesepian itu dengan cara yang aneh.

Hmm... ditinggal orangtua > ditinggal rabi.

Jingak banget nggak sih?

Lebih jingaknya lagi, Ingrid Goes West adalah film yang maruk dalam mengandung pesan tentang bahayanya kesepian. Film ini punya semua unsur yang ada di empat film kesepian versi Alzhema, alter egoku. Hehehe. Dulu aku sok-sokan punya alter ego. HEHEHE.

Kesepian menghilangkan akal sehat. Kayak Ingrid yang menghalalkan segala cara untuk bisa mengusir kesepian, atau buruknya mengecoh kesepian, kalau kata Yoga. Kesepian bisa mengubah kepribadian seseorang. Mengubah Ingrid jadi orang yang sebenarnya menyenangkan, supel, mudah disukai, jadi memalukan dan menyedihkan. Kesepian menimbulkan obsesi akan suatu hal, yang baik maupun yang buruk, misalnya Instagram dan selebgram itu. Kesepian bisa membuat orang rela menghambur-hamburkan uang untuk kebahagiaan yang salah. Kayak Ingrid yang rela ngabisin uang warisan Ibunya, buat menyokong hidupnya sebagai pengabdi Taylor Sloane.

Bangga bisa bobok bareng selebgram.
Ada satu lagi yang jingak dari Ingrid Goes West. Bikin aku mikir kalau Ingrid ngalamin unrequited friendship sama Charlotte dan Taylor. Pedih rasanya. Ketika kita nganggap satu orang sebagai sahabat kita, tapi ternyata dia cuma nganggap kita sebagai salah satu dari sekian banyak temannya. Ketika kita senang saat dia bilang, "Aku cuma cerita ini sama kamu lho," taunya dia cerita ke teman lainnya juga. Ketika kita rela selalu ada buat dia, selalu datang ke dia dan nggak pernah ninggalin dia, tapi dianya---

Aku pernah ngalamin unrequited friendship. Untungnya itu udah lama berlalu. Sekarang aku bersyukur karena punya sahabat yang benar-benar sahabat. Salah satunya adalah Dita. Aku jadi ngerasa nggak kesepian. Nggak bikin aku berpotensi ngelakuin hal-hal gila kayak Ingrid.

Semoga.

Btw, lebih pedih mana sih, unrequited friendship apa unrequited love?

You Might Also Like

15 komentar

  1. Ingin nonton karena ada Elizabeth Olsen, tapi rasanya tidak perlu deh. Selain lagi hemat kuota karena baru awal bulan takut pemborosan, di dunia nyata ini setiap harinya gue bisa menonton orang-orang kebelet jadi selebgram. Lebih lucu malah~ :))

    Soal frasa "mengecoh kesepian", itu gue dapet pertama kali dari novel Sabda Armandio, Cha. Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya. Karena gue pikir keren, gue jadi suka aja gunainnya. Gue rasa-rasain, sih, sama pedihnya. Mungkin bedanya kalau kehilangan sahabat itu nggak semudah ketika gue mendapatkan kekasih baru. Ehehe.

    BalasHapus
  2. amazing post..

    i follow you, i hope you will follow me back

    Blog: MagdalenaŠ.

    BalasHapus
  3. wah ada elizabeth olssen. :v
    jadi si inggrid ini semacam pengin punya sahabat gitu tapi sekaligus panjat sosyeal?

    LOH ITU ICE CUBE KOK KURUSAN, YA? :))

    BalasHapus
  4. (dikangkangi)

    ini kok si Ingrid posesip banget yak. kira'' kisaran umur berapa tuh? kadang yang udah tua pun, bisa kayak gitu. bngung, klo lagi sedih ngelakuin apa. lagi kesepian harus ngelakuin apa. ya senggaknya ga ngerugiin orang lain gitu kan. si Ingrid kira'' termasuk psyco ga, ca?
    tapi ya gitu lah. gue jadi inget kata''nya Adriano Qalbi, "di Instagram ga ada orang miskinya?" hahaha. ya emang karena yang ditunjukkin kan bukan aslinya seperti itu. supaya dibilag keren aja. butuh pengakuan. kayaknya seru nih filmnya buat ditonton.

    buat pertanyaan terakhir, kayaknya dua''nya lebih pedih.
    anaknya ice cube kan pernah meranin ice cube ketika masih muda. filmnya apa gitu, lupa. tentang rap rap berkulit hitam. dengan lagu terkenalnya, fuck police

    BalasHapus
  5. Emang bangke yak gambar2 di akun itu..
    apalagi kameranya jahad banged...
    hahahhaaaa....

    BalasHapus
  6. Aku baru nonton semalam nih, Cha. Sebelum baca ini aku malah ngira Charlotte itu memang teman nyatanya Ingrid lo, terus niking, kayak yang kamu bilang. Eh ternyata crush-nya di medsos juga. Parah si Ingrid!

    Menurutku sindiran film ini kena banget ya, terutama soal kontradiksi dan ironi hidup Ingrid versus Taylor. Ingrid yang kelewat obsesi dengan hidup Taylor, padahal hidup yang ditampilkan Taylor cuma fake. Bagian upload foto buku favorit itu memang bajingak, aku ketawa karena relate. Hahaha.

    Mana ending-nya gitu kan, membangkitkan jiwa keselebgraman Ingrid yang sempat terkubur. Ahoy!

    BalasHapus
  7. Film yang deket sama kenyataan sekarang ini ya. Instagram-instagraman. Selanjutnya menunggu drama grup WhatsApp.

    Unrequited friendship sedih juga. Kalau yang diceritain ke kita cuma 80%, tapi orang lain cerita versi full, agak gimanaaaa gitu. :(

    BalasHapus
  8. Chicco kurniawan? 11 17 lah sama asep kurniawan ya ka?

    Btw dizaman milenial saat ini kesepian kalo yang namanya listrik padam, hape lowbet, sinyal gak ada. Sepiii.. Padahal, ya banyak pekerjaan offline yang bisa dilakuin. Nyuci piring misalnya.

    Tapi tipe orang kaya ingrid ini sebenernya kasian loh. Dia nganggep temen seseorang eh padahal engga, sama halnya pas udah deket, jalan, sayang-sayangan cuma dianggep temen sama doi.

    Kita juga cari pacar karena terkadang kita merasa kesepian. Makanya saya kalo ditanya "temennya si nganu ya?" Saya jawab "Oh si nganu, tau kok tau" udah itu aja.

    Pada akhirnya juga ntr kita sendiri, sepi, teman sejati tinggalah amal. *tsah

    BalasHapus
  9. itulah kengerian dari kesepian dan pencitraan. aku belum nonton nie film tapi kelihatanya seru. dan saya cenderung suka dengan orang seperti ingrid ya cerdas melakukan segala hal menuju tujuan wkwkwkw... salah sendiri jadi orang mudah dilacak tiap menit update sech. btw icha labil juga ya baru bilang mau off udah mentongol aja dengan upload foto ig pakek ngeles kangen dita segala wkwkwk...
    temen gila model unreqited gitu mending di gibang saja lah.

    BalasHapus
  10. Pesan saya kalo ingin jadi selebgram, jadilah diri sendiri. jangan jadi orang lain. jadilah selebgram yang mempunyai karya.

    BalasHapus
  11. Eh sumpah deh, kirain lu mau bahas penyanyi Ingrid Michaelson. Lah, taunya Ingrid yang lain. Eh tapi cona dengerin lagunya Ingrid Michaelson deh cha, barangkali suka hahaha

    Btw film ini gak ada hubungannya kan fengan film "selebgram" itu. Soalnya dari cerita lu masalahnya selalu tentang instagram. Gue jadi ragu mau nonton.

    BalasHapus
  12. Ini parah sih, parah banget. Bikin pengen nonton filmnya dalam detik ini juga. KELAKUANNYA INGRID KAMPRET BANGET YA TUHAN. Salah satu akibat dari eksistensi sosial media ya ini nih.

    Sosmed turns people into a bunch of lonely douche bag.

    Film ini deket banget sama keseharian kita ya, Cha, ya. Aku jadi bayangin muridku yang ngefans sama Awkarin pake banget. Segala hal dijabanin mulai dari beli produknya, ikut fanmeetingnya, hanya demi ikutan eksis dan dicap "teman selebgram". Serius. Aku sampai bingung juga nasihatinnya gimana :')

    Meskipun begitu, sosmed memang sekarang menjadi salah satu pelarian manusia kalau mereka menghadapi patah hati di dunia nyata. Patah hati ditinggal orangtua. Atau ditinggal rabi kekasih. Seperti kata-katamu. Namun, sosmed ini jugalah yang justru membuat orang ybs merasa lebih kesepian, apalagi kalau ternyata teman sosmednya juga nggak merespon dia. Ada nih, muridku yang kapan hari juga berantem karena masalah sepele. IG-nya nggak difollback. Ngehe banget kan. Tapi mau bagaimanapun juga, hal kayak gini nggak bisa dibasmi sih. Bisanya dikontrol.

    BalasHapus