Kamis, 01 Juni 2017

Nge-BF Bareng Son Agia: Rob Bukan Cuma Ada di High Fidelity

Sebagai perempuan polos, aku punya pemikiran naif, yaitu: "Kalau mau tau apa yang laki-laki mau, aku harus banyak nonton film kelelakian!"

Bukan film action, tapi film romance yang isinya tentang laki-laki beserta masalah asmaranya.

Contohnya Annie Hall, Her, Ruby Sparks, (500) Days of Summer, dan film lainnya yang ditulis di salah satu postingan Distopiana.com.

Tapi itu naif abis. Mamah Dedeh yang menyadarkanku. Waktu salah satu jamaahnya bertanya bagaimana cara mengerti suami, beliau bilang solusinya adalah... 

“Perbanyak service pada suami!”

Jadi, yang harus aku nonton adalah fake taxi. Bukan film romance bertokoh utama laki-laki. 

Puasaaaaa, Chaaa..... 

Ya intinya aku suka nonton film kelelakian dengan alasan senaif itu. Film kelelakian yang aku suka nambah lagi, yaitu High Fidelity. 

High Fidelity adalah film keluaran tahun 2000 yang diangkat dari novel berjudul sama. Bercerita tentang kehidupan Rob, (John Cusack), bukan Robby Haryanto. Rob adalah pemilik toko musik yang baru aja putus dari pacarnya, Laura (Iben Hjelje) setelah bertahun-tahun bersama.

Dalam keadaan patah hati tapi menyangkal kalau lagi patah hati, Rob yang punya kebiasaan suka membuat top five untuk segala aspek dalam hidupnya, kali itu membuat top five mantan dan peristiwa putus bajingak. Dia menceritakan satu-persatu mantan beserta gimana mereka bisa putus. 

Sama kayak yang dilakuin Alvy Singer di film Annie Hall dan Deadpool di film Deadpool, Rob ‘mengajak ngobrol’ para penonton. Selain disuguhkan dengan mantannya yang berbagai rupa, kita juga diperkenalkan dengan dua karyawannya, yaitu Barry (Jack Black), si ceriwis yang suka menganggap selera musik orang lain itu 'kampungan', dan Dick (Todd Luiso), si lemah lembut dan pengertian.

Tiga Serangkai.
Menurutku, menonton High Fidelity sama kayak menonton vlog. Aku jadi ngebayangin kalau Awkarin bikin vlog yang isinya top five peristiwa putus bajingak, yang isinya nyeritain soal putus sama Gaga, sama Oka, sama..... 

Tapi aku lebih ngebayangin yang lain. Ngebayangin kalau aku ngebahas film kelelakian ini sama laki-laki. 

Dan akhirnya itu terealisasikan! Setelah nge-BF (Baperin Film) sebelumnya aku sama Yoga ngebahas film cewek, kali ini aku ngebahas film cowok. Bareng Son Agia, pria macho asal Bandung. 

Agia spesial bulan Ramadan.
Son Agia yang bernama lengkap Agia Aprilian, adalah pemilik blog sonagia.com. Blog yang mencapai kepopuleran hakikinya setelah menulis A Tribute To Her. Mendulang banyak dukungan, hujatan, serta job review Citilink yang sempat menerbangkan idealismenya sebagai blogger. 

Kalau dihitung kasar, aku udah kenal Agia sekitar satu tahun. Aku ingat dia main ke blogku pertama kali di postingan INI, yang aku tulis waktu bulan puasa. Dan pas banget, aku bisa nge-BF sama lulusan Sosiologi ini di bulan puasa juga. Yuhuuuuuu. 

Langsung aja disimak nge-BF-nya. Semoga berkah.


Icha: Agia sukanya nonton film yang gimandos?

Agia: Soal film, aku nggak punya kriteria tertentu sih. Biasanya dari sinopsis. Kalau sinopsisnya seru, baru tonton.

Icha: Jadi kita ngebaperin film apa nih?

Agia: Pange sih, terserah Icha aja. Eh, kok malah Pange, ya...

Icha: Agia taik.

Agia: Terserah kamu, Cha. Ngikut kamu aja. Tapi kudu yang udah aku tonton ya. Ha ha ha. 12 Angry Men juga oke kok.

Icha: Oke.

Agia: High Fidelity, siap.

Icha: Kamu suka High Fidelity? Trus pertama kali nonton itu karena apa?

Agia: Suka dong. Awalnya aku baca novelnya. Terus penasaran sama filmnya.

Icha: Watdefak..... Ini anak kayaknya sering gitu baca novel-novel yang difilmkan.

Agia: Ha ha ha. Baiklah. High Fidelity aja? Tapi ini nyambung nggak sama kebaperan kamu? Kalau bisa sih kita ngebahas film yang bukan cuma relate ke aku, tapi juga relate ke kakak ipar. Jadi biar seimbang gitu.

Icha: Adik ipar taik! Iya, relate. Tapi aku harus kepoin kamu, dulu...

Agia: Oke siap. Tapi serius nih, Icha. Kan tajuknya aja "Nge-BF bareng," jadi kamu juga kudu ikut terlibat. Yuhuuu.

Icha: YHAAAAA! Oke. Gimana pendapat kamu soal Rob, tokoh utamanya itu?

Agia: Pengen nanya dong. Kamu nonton film ini kapan? Dan gimana ceritanya?

Icha: HEH! JAWAB DULU PERTANYAAN AKU TADI!!!!!!

Agia: Ha ha ha. Jadi gini. Menurutku pribadi, Rob adalah gambaran sosok pria yang nyata. Oke, mungkin aku terdengar menggeneralisir. Tapi kenyataannya memang gitu. Bahkan penulis novelnya, Nick Hornby (salah satu novelis favoritku) dianggap sebagai pelopor genre lad-lit. Info dikit: Lad-lit itu bisa dibilang "novel cowok". Soalnya banyak membahas karakter pria dari segi psikis.

Icha: *nyimak*

Agia: Nah, di film itu kita bisa liat gimana si Rob ini punya sifat plin-plan, bingung memutuskan suatu hal. Aku yakin, yang nonton film ini (khususnya cewek) bakal bergumam kayak, "Ini orang maunya apa sih!"

Icha: Nah iya, njir. Aku juga mikir gitu. Terutama pas dia sama Laura. Dia seolah nggak tau apa yang sebenarnya dia mau. Apa yang sebenarnya dia cari.

Agia: Betul. Dan ini bukan tentang stereotip cowok yang berkaitan erat dengan macho, cuek, playboy.

Icha: Hmmmm. Berarti High Fidelity ini film yang menggambarkan isi kepala laki-laki, ya?

Agia: Bukan. Itu mah lebih ke imej. Bukan psikis (isi kepala).

Icha: Maksudnya gimana, Agia? Nggak semua cowok itu kayak Rob? Dan yang imej itu gimana? Kayak lebih ke apa yang cowok lakuin ke cewek, ya? Bukan apa yang dipikirkan cowok tentang cewek?

Agia: Maksudnya gini, Cha. Kalo imej kan berarti gambaran luar seseorang. Tanpa ada kaitannya sama psikis dia. Misal, kamu ngeliat cowok di mal/warung, terus kamu refleks bilang gini:

"Bajingak! Cool banget! Macho abis!”

Nah itu kan biasanya stereotip luar. Bukan psikis. Dicirikan dari sikap/gestur, bukan pikiran. Sedangkan kondisi psikis cowok, siapa yang tahu? Bahkan aku berani bilang, kami sendiri pun kadang gak tau.

Icha: OOOOOOH...... Oke. Paham paham.

Agia: Anjir kok malah banyak penjelasan teori gini, ya. Sori sori. Jadi belok ke mana-mana nih.

Icha: Hahahahaha. Nah ini aku suka! Bisa ada teori begitu. Terus, apakah kamu ngerasa relate sama film ini? 

Agia: Iya, aku ngerasa relate sama film ini. Walaupun sebenarnya berat buat ngaku. Berat, soalnya seolah-olah aku mengamini kalo jalan pikiran laki-laki itu emang begitu. Kalau mau contoh, tengok studi kasus kamu dengan mantan. Ehemmmmmmm.

Icha: Kalau contohnya dari kehidupan pribadi kamu, ada enggak?

Agia: Nanda sehat? Titip salam.

Icha: MOHON PERTANYAAN DI ATAS DIJAWAB....

Agia: Oke siap, kakak ipar! Kamu pasti pernah denger ungkapan ini.

“Cewek: mempertimbangkan konsekuensi, baru melakukan.
Cowok: Melakukan dulu, baru mempertimbangkan konsekuensi.”

Pernah?

Icha: Huhuhuhu. Sayangnya nggak pernah denger. Mainku kurang jauh. Pergaulanku kurang luas. Aku masih polos. Tapi aku setuju sih sama ungkapan itu. Soalnya pernah kelintas di pikiran,

"Cowok kalau ngomong nggak pake mikir!"

Agia: Jadi intinya, cowok mah cenderung lempeng. Laki-laki nggak banyak pertimbangan. Tapi, kalo dirasa sudah menimbulkan konsekuensi (a.k.a. masalah) baru deh mikir.

Icha: Contoh nyatanya gimana? Apakah kisahmu bersama Yuliana yang melegenda itu mirip sama High Fidelity? Mohon dijawab. Curhat panjang disarankan.

Agia: Oke. Kamu inget nggak adegan pas Rob nyamperin empat mantannya? Tau-tau ngajak ketemuan. Tanpa alasan yang jelas.

Icha: Iya. Ingat! Di situ aku ngerasa Rob itu aneh. Buat apa ketemuan sama mantan? Dia ngajak ketemuan buat menganalisa penyebab putusnya dia sama mantan-mantannya kah? 

Agia: Aku luruskan dikit nih. Kebetulan aku baca novelnya, jadi agak-agak paham sama jalan pikiran si Rob. Sebetulnya Rob nggak punya niatan apa-apa selain untuk memuaskan kegelisahannya, Cha. Dia mikir, what's wrong? (pake aksen Inggris pastinya, bukan Sunda). Apa yang salah? Kenapa dari dulu selalu ada yang nggak beres? Nah berangkat dari situ, akhirnya dia (tanpa alasan yang jelas) nyamperin eks-eksnya.

Jawab: Pikirkan sendiri!

Icha: Bukan Sunda. Oke noted. Terus-terus?

Agia: Curhat dikit. Beberapa waktu lalu, lupa tepatnya kapan, aku juga ngelakuin hal yang sama kayak Rob. Oh jelas itu bukan terinspirasi, ya. Itu spontan terlintas di kepala seorang pria fantastis bernama Agia. Tiba-tiba aku ngontak cewek-cewek yang dulu pernah deket sama aku. Cinta monyƩt pas SMA, SMP, bahkan SD. Seandainya kakak ipar nanya alasannya, aku juga nggak tau.

Icha: Buseeeeeeeeet. Terus hasilnya gimana? Mereka semua berhasil dihubungi atau diajak ketemuan? Totalnya berapa? Itu.... beneran cewek semua kan, adik ipar?

Agia: Salah satu kejadiannya pernah aku tulis di SINI

Icha: Sudah kuduga. Tadi sempat terlintas juga kayaknya kamu pernah nulis soal itu di blog. Eh ternyata emang iya pernah.

Agia: Terus totalnya banyak, Cha...... Tiga.

Icha: O-oke....

Agia: Ha ha ha ha ha nggak ada yang menanggapi. Satupun nggak ada. Setan ya...

Icha: BUAHAHAHAHAHAHAHAHA.

Agia: Ya wajar sih. Soalnya yang aku hubungi itu temen SD dan SMP. Udah lama banget nggak ketemu. Pasti mereka nganggep aku ini psikopat yang punya niat nyulik dan menyekap mereka di sebuah kamar berukuran 2x2 meter.

Icha: Sempit amat.

Agia: Eh ralat, 3x3 meter maksudnya. Eh 5x4 aja deh.

Icha: Oke.

Agia: Ah sial. 6x6 meter kalo gitu. Fix.

Icha: HADEEEEEH. YANG KONSISTEN DONG!!!!!!!!

Agia: Padahal mah, aku nggak akan nyulik kok. Aku pengennya titip salam buat NANDA. Sekarang.

Icha: Dah disalamin. Dijawab, “Heeh.” 

Agia: Mantep.

Icha: Terus terus..... selain itu ada lagi nggak yang relate? Pernahkah kamu bikin top five mantan bajingak? Kalau belum.... bisa bikin top five-nya sekarang?

Agia: Ya enggak lah. Mantanku aja jumlahnya kurang dari lima, kakak ipar. Bahkan kurang dari empat.

Icha: Jadi berapa? Tiga? 3×3 meter? Agia dan Rob memang berbeda.

Agia: Iya dong. Agia kan fantastis. Bukan bajingan. Aku bukan berengsek, tapi aku bisa memainkan peran itu.

Oajayakan

Icha: Supaya apa? Jadilah diri sendiri!

Agia: Ha ha ha. Eh ngomong-ngomong, yang jadi si Barry keren banget, ya. Persis gambaran di novel.

Icha: Oh. Temennya yang ngeselin itu? Yang agak gemuk?

Agia: Iya. Yang sikapnya kasar, mengintimidasi.

Icha: Huahahaha iya. Awalnya ngeganggu sih. Apaan sih ini orang. Tapi lama-lama aku suka. Soalnya dia yang ngehidupin suasana film itu. Dan sok-sok punya selera tinggi.

Agia: Ha ha betul! Anjir beda euy ngobrol sama tukang review film mah. Langsung bisa menyimpulkan karakter tokoh secara tepat. Yuhuuu.

Icha: Adik ipar..... Please.......Oh iya, dia juga nggak mau kalau seleranya direndahin. Ada aja yang bisa dia debatkan.

Agia: Itu yang aku suka dari Barry. Dia cenderung fasis ke orang yang beda selera musik.

Ini Barry. Tipe cowok idaman Agia.
Icha: Hahahaha. Jadi ngakak inget waktu dia nggak mau jual ke orang yang udah ngincar piringan hitamnya salah satu musisi. Eh malah dijual ke pelanggan lain.

Agia: Iya. Dengan alasan orang itu norak. Dia nggak mau ngejual vinyl keren ke orang yang norak.

Icha: Oh. Jadi itu namanya vinyl.... Itu filmnya tentang pernak pernik (ini apa pulaaaa) musik gitu kan, ya. Menurut kamu, orang yang nggak suka musik, bisa nikmatin film ini nggak?

Agia: Sangat bisa. Meskipun di film (apalagi di novelnya) banyak membahas musik dan anekdot-anekdot yang dilakuin pencinta musik tingkat dewa, tapi tema utama yang dibahas kan tentang romance. Perihal kegelisahan seorang pria dalam berasmara.

Icha: Iya juga sih. Aku mikir tadi itu karena aku nggak kenal sama beberapa nama musisi yang digaungkan Rob dkk. 

Agia: Mending, Cha. Ada beberapa penyanyi/band yang kita kenal. Green Day aja sempet disinggung. Iya kan? Pas Dick kenalan sama pelanggan cewek, mereka kan ngebahas Green Day. Ha ha.

Icha: Oh iya. Hahahaha. Sempat dibahas gitu kalau musiknya Green Day itu sama kayak Stiff Little Fingers. Dan gara-gara itu, Dick jadi bisa deket sama cewek. Agia pernah pake trik kayak Dick nggak? Deketin cewek dengan ngomongin musik?

Agia: Sayangnya nggak pernah. Selain karena pengetahuan musikku yang terbatas sama genre punk dan soul, aku juga nggak terlalu doyan ngomongin musik. Ha ha.

Icha: Oh gitu. Jadi kalau deketin cewek, biasanya ngomongin apa? Ngomongin teknik salibu?

Agia: Ha ha tai ah salibu. Kamu itu mah. Jujur aja nih, aku kurang begitu tau perkembangan budaya pop kayak musik kekinian, Youtube, film keren dsb. Jadi kalau kenalan atau PDKT-an sama cewek yang update kayak begitu, aku biasanya jadi pendengar yang pura-pura ngerti.

Pernah dulu pas kuliah, aku PDKT-an sama perempuan yang ngefans banget ke Maroon 5. Mau nggak mau aku riset dulu deh. Donlot lagu Maroon sekitar empat album.

Icha: BIJIK RENGAAAAT. EMPAT ALBUM GILAAAA.

Agia: Cari tau nama vokalisnya. Nah kalau udah gitu kan, jadi bisa nyambung dikit. Vokalisnya si Adam Adam apa gitu.

Icha: ADAM LEVINE!

Agia: Iya itu. Sejak lulus SMA aku nggak pernah lagi nyari-nyari lagu baru. Sumber referensi musikku terhenti di tahun 2010. Ikutan suka sih enggak. Tapi ada beberapa lagu yang sampai saat ini aku inget. Won't Go Home Without You sama I Can't Lie, dua di antaranya. Ha ha.

Icha: WAAAAAAKSSS!!!!!! DUA-DUANYA AKU SUKAAAA!!!!!!! FYI, aku juga ngefans sama Maroon 5. Nah yang I Can't Lie, aku suka. Waktu SMK, aku baper parah sama itu lagu. Ngerasa relate. Pas banget pertama kali tau lagu itu lagi dalam proses move on dari mantan. 

Agia: Itulah penyakit manusia menurut Rob. Kita cenderung menyiksa diri sendiri dengan cara mendengarkan lagu-lagu menyedihkan ketika kita justru sedang bersedih.

Icha: Hahahaha iya. Nggak tau kenapa, ya. Rasanya enak kalau lagi sedih dengerin yang sedih. 

Agia: Oiya. Sekedar informasi aja. Pada akhirnya dia (si fans maroon 5) nolak aku. Aku naif. Dulu aku mengira, aku bisa nyingkirin pacarnya yang bajingan itu. Ternyata aku salah. Nggak peduli seberapa besar kenyamanan yang aku kasih, tetep aja dia nggak mau lepas dari si kadal Sumatra. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha.

Icha: BAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHHAHAHAHHAHAHAAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHHAHHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAAHAK.

Agia: Yang bikin ironis lagi, dia juga nggak mau aku ngejauhin dia.

Icha: Cewek bajingak.

Agia: Cintanya terbagi menjadi dua. Namun di situlah letak permasalahannya. Aku pengennya 100%. Nggak mau berbagi sama kadal Cianjur.. Eh, Sumatra.

Icha: Tay. Bawa-bawa kadal. Trus gimana? Dia masih nggak mau kamu jauhin dia?

Agia: Ya enggak dong. Atas saran dari cees-cees (waktu itu kami diskusi di grup BBM), aku mutusin buat mundur. Yuhuuu. Kan udah aku bilang, itu cerita zaman kuliah. Ah dasar...

Icha: Hehehehehe. Ya kirain sampe sekarang masih. Oh iya, adegan paling favorit kamu dari High Fidelity yang mana, adik ipar? 

Agia: Wow. Adegan favoritnya.... Pas Barry nyanyi lagu Marvin Gaye - Let's Get It On (salah satu lagu favoritku sepanjang masa). Orang-orang pada histeris, teriak-teriak, dan berdansa.

Icha: Dan Rob-Laura berpelukan mesra kayak pasangan muda-mudi yang lagi nonton konser Armada.

Lagi nonton konser di GOR Segiri Samarinda.

Agia: Yoi. Eh, kamu cerita dong. Kok aku terus sih yang curhat. Nggak adil anjir.

Icha: YA EMANG KAYAK GITU NGE-BF, TONG.

Agia: Aku yang nanya deh. Pendapat kamu soal film High Fidelity gimana?

Icha: Aku suka filmnya. Meskipun nggak mudeng sama bahasan tentang musik, tapi aku menikmati film ini. Aku baper terus bikin tulisan top five mantan bajingak. Nulisnya di Tumblr. Tulisannya aku private. Hahaha. Sama kayak Rob, aku juga sempat menyangkal mantan terakhir itu masuk top five. Maksudnya, Rob sempet nggak mau masukin Laura ke daftar, kan. Eh akhirnya malah masukin. Aku juga gitu. Awalnya ogah masukin mantan terakhir karena berusaha menyangkal sakit hati karena dia. Eh taunya aku masukin juga. Taik. Jadi pendapatku soal High Fidelity... High Fidelity itu kayak mantan yang difilmkan. Oke. Itu lebay. 

Agia: Tadinya aku mau bilang gitu, buat manas-manasin. Ha ha ha eh taunya kamu yang ngomong sendiri.

Icha: ANJER. Habis gimana, ya. Bener kata kamu di awal, Rob itu gambaran sosok nyata. Bajingan dengan tampang pas-pasan. Aku nganggap kalau Rob itu bajingan yang bertampang biasa aja. Padahal bajingan rata-rata ganteng, ya.

Agia: Betul. Ha ha ha.

Icha: Terus dia bisa sayang sama pacarnya, sekaligus suka sama cewek lain. Dalam waktu bersamaan. Rob takut komitmen, nggak mau terikat. Karena menurut dia, itu bisa menutup jalan dia bertemu dengan jodohnya. Dia kayak masih nggak yakin kalau jodohnya itu Laura. Makanya dia 'berusaha' buat sepak-sepik cewek lain yang siapa tau jadi jodohnya. 

Agia: Dalam....

Icha: Oh iya satu lagi! Rob punya banyak mimpi. Dibikinin top five juga pula. Kalau seandainya Rob ini blogger, mungkin dia bakal bikin postingan tentang apa yang mau dia capai sebelum berumur 25 tahun.

Agia: Seharusnya Agia yang ngejelasin bagian Rob. Kok nggak kepikiran, ya. Ngebahas pandangan cinta Rob sama fobia komitmennya. Sebagai narasumber, aku merasa gagal. Serius deh. Di luar konteks curhatnya, pengamatan kamu ini keren, Cha.

Icha: Wkakakakakakakakaka. Taik ah.

Agia: Aku baru tahu kamu orangnya cukup observant.

Icha: Eh tapi, Agia. Biasanya kan aku ngerasa relate sama tokoh ceweknya juga. Setiap nonton film. Lah pas nonton film ini, aku nggak ngerasa relate sama Laura.

Walaupun potongan poni kami hampir sama.
Poniku dipotong kependekan sama Dita. Aaaaak. Kok jadi curhat njir.

Agia: Wajar, Cha. Laura di sini cuma tempelan. Di novelnya juga enggak terlalu kuat kok karakternya. Laura cuma digambarkan sebagai "cewek biasa" yang kebetulan ngebuat Rob kelepek-kelepek.

Icha: Oh..... Iya juga sih. Karakternya Rob yang memang paling mendominasi. Sebagai cowok, kamu bakal kelepek-kelepek juga nggak sama tipe cewek kayak Laura?

Agia: Kemungkinan besar, iya. Laura orangnya ngerti. Konteks ngerti yang dimiliki Laura cakupannya luas, menurutku. Bukan cuma ngertiin sifat si Rob, tapi dia juga ngerti sikon hubungan mereka.

Icha: Mantap, shol! Eh sebenarnya yang mutusin duluan itu siapa sih? Laura, ya?

Agia: Laura. Tapi itu juga karena salah Rob. Laura udah beberapa kali sabar. Tapi Rob kan egois. Ha ha ha.

Icha: Njir. Iya sih... Eh adik ipar, aku punya tiga pertanyaan mahagampang nih.

1. Ada saran nggak buat cewek-cewek yang ketemu sama Rob dunia nyata? 
2. Agia sudah move on belum dari Yuliana?
3. Kapan nikah?

Agia: Anjir ini mah tiga pertanyaan yang sungguh mahal harganya. Pertanyaan nomor 1 susah banget anjis sumpah. Udah nyoba mikir berkali-kali, belum nemu juga. Paling aku cuma bisa mengawang-awang. Gini...

Icha: *menunggu dengan sabar dan tawakal*

Agia: Berdasarkan pengamatan dan pengalamanku, kalau ada dua sejoli yang salah satunya punya sifat kayak si Rob (plin-plan, egois, indecisive) biasanya yang bakal jadi "korban" dalam hubungan itu ya pasangannya. Jelas. Agia cuma bisa ngasih tahu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Kenali dulu karakter calonmu secara baik. PDKT-an jangan cuma menilai dari segi wajah/kumis/jenggot/nama ortu/selera film doang. Bukan pula cuma dari sifat luar aja.

Icha: *mencatat*

Agia: Perhatikan gerak-gerik dia. Dan cara dia berekspresi, kalau perlu. Dalam hal beberapa hal, karakter asli seseorang bisa dilihat dari ekspresi atau reaksinya dalam menanggapi sesuatu. Bahkan hal yang sepele sekalipun. Misal, coba kamu tes pake pertanyaan kayak,

"Rambut kamu pernah poni ya?" dan liat bagaimana reaksinya--Ha ha canda.

Ya intinya gitu lah. Kudu bisa baca karakter. Tapi yang jadi masalah, bagaimana membaca karakter orang di dunia maya?

Icha: PERTANYAAN BAGUS!

Agia: Jawaban dari pertanyaan itu, ceesku, masih menjadi misteri. Itulah mengapa Agia Aprilian masih belum mengerti konsep pacaran online. Hmmm...

Icha: MAKSUD L?

Agia: Kayak pacaran sama blogger. Apaan... Atau film Her.

Icha: HEH!

Agia: Bagaimana mungkin seseorang bisa percaya pada orang lain hanya berdasarkan tombol keyboard saja? Hmmmmmm.

Icha: ENTE BAHLUL! Jangan lupakan Darma-Wulan! Adi-Deva! Febri-Beby! Yogaeskrim-Rima! Mereka semua pernah terjerat asmara dunia blog.

Agia: Anjir banyak juga tuh. Tapi kandas semua, ya?

Icha: Yha.

Agia: Eh bentar. Ada pengecualian, kakak ipar. Salah satunya kekagumanku pada Nanda, adik kamu. Itu mah nggak usah ditanya lagi. Walaupun kami belum pernah ketemu (bahkan mungkin doi nggak kenal siapa pria fantastis bernama Agia), tapi aku bisa merasakan "tanda-tanda".

Icha: Hmmmm.

Agia: Asal tau aja nih, Icha. Setiap kali Nanda upload foto, nggak tau kenapa detak jantung ini suka berirama. Mau tau iramanya?

Icha: Paan tuch?

Agia: J... O... D..... O.... H. Tiap satu menit selalu begitu.

Icha: ADUH AKU NGAKAK KESEL BACANYA.

Agia: Ha ha ha. Jawaban dari pertanyaan nomor 2, ya udah dong, Hairunnisa. Lagian, kalaupun belum, percuma. Nggak ada gunanya mikirin perempuan yang sekarang udah hamil 6 bulan.

Icha: Waaaaaaaah! Kabar gembira! Kayaknya tulisan tentang akikahan anaknya Yuliana dan Yulianto bakalan ada di sonagia.com .

Agia: Anjis. 

Icha: Nomor 3 nomor 3?

Agia: Jawaban dari pertanyaan nomor 3, nanti, pas Agia udah dapet restu dari orangtua kamu. Eitsss, jangan geer. Ini maksudnya ke Nanda, bukan Icha. 

Icha: Yha, Agia. Oke, terakhir. Menurut Agia, Rob suka berekspektasi tinggi nggak?

Agia: Ekspektasi dalam hal apa dulu nih? Kalau dalam hal cita-cita atau impian, setahuku nggak deh. Dia nggak ambisius.

Icha: Hmmmm..... dalam soal perempuan, maybe? Dia kayak nggak puas sama Laura. Sampe selingkuh gitu kan. 

Agia: Rob cenderung realistis. Bahkan alasan dia buka toko CD itu karena dia sadar nggak bisa maen musik, nggak punya kemampuan nulis jadi biar bisa jadi jurnalis musik. Akhirnya, dia milih alternatif terakhir: jualan CD musik.

Icha: Oh iya! Dia nerapin ilmu tentang musiknya dengan jualan CD musik dan berkumpul dengan orang-orang yang suka musik, bukan musyrik. Cuman, Rob ini menurutku kayak orang-orang yang suka berekspektasi tinggi. Kalau realita nggak sesuai ekspektasi atau harapannya, dia dengan cepat beralih ke yang lain yang dia rasa bisa memenuhi ekspetasinya. Jadi kayak nggak bersyukur.

Mereka bahagia banget ya~

Agia: *nyimak*

Icha: Entahlah, aku mikir kalau Rob ini suka berfantasi soal apa-itu-gadis-sempurna. Pas lagi proses move on dari Laura, dengan mudahnya dia jatuh cinta sama musisi. Seorang cewek yang menurutnya sempurna. Apa aku aja yang terlalu ngaco ya?

Agia: Setelah dipikir-pikir, itu masuk akal. Tapi jangan lupa juga, Rob kan nggak pernah selingkuh, Cha. Maksudku, selingkuh dalam arti menaruh hati ke cewek lain. Laura satu-satunya cewek yang dia pengen. Jadi ini bukan soal ekspektasi tinggi. Dia cuma resah aja. Penyebabnya banyak--pekerjaan salah satunya. Rob sering banget mengeluh tentang kerjaannya, dan aktivitas hariannya yang cenderung repetitive. Bosen lah, sepi pengunjung lah, dan sebagainya. Nah menurutku ini sedikit banyak berpengaruh pada hubungannya sama Laura.

Di scene awal juga kan ditunjukkin. Bahwa Laura lah yang mutusin, bukannya Rob. Tapi apa mereka masih sayang satu sama lain? Masih. 100% masih. Cuma kelakuan atau perubahan Rob yang bikin Laura terpaksa ninggalin. Nah, jadi pas tadi kamu bilang kalau Rob itu orangnya nggak bersyukur, iya memang betul. Aku setuju! 

Icha: Oh.... jadi tepatnya kalau Rob ini nggak bersyukur yak. Oke noted. Makasih yaaaaaaaaaa, adik ipar! Bahasannya sangat memuaskan dan mencerahkan!

Agia: Sama-sama. Jangan lupa ya... Jangan lupa apa?

Icha: Jangan lupa nonton High Fidelity.

Agia: Ah kau memang tidak mengerti aku, kakak ipar. Ayo tebak sekali lagi. Jangan lupa apa?

Icha: Jangan lupa.... bahagia?

Agia: Satu kesempatan lagi nih. Jangan lupa apa?

Icha: Si bangke. Jangan lupa..... baca doa sebelum tidur?

Agia: Aaaaaah. Jangan lupa titip salam ke Nanda. Ya Allah gitu aja ampe salah....

Icha: TAIK. Lah kan tadi sudah, tong! Nandanya dah bobok pules!

Agia: Itu setengah jam yang lalu kan. Titip salam buat Nanda ada jadwal khususnya. Tiap 4 menit sekali.

Icha: YA ALLAH.

Agia: Oke. Nggak enak ah. Masa aku terus terusan nge-chat Kakaknya pas doi lagi tidur. Nggak tau kenapa aku ngerasa udah ngekhianatin dia. Ini nggak etis. Biarpun kami belum saling kenal, tapi Agia mau terus setia.

Icha: INI ANAK!!!!!!


NGE-BF SAMA AGIA AKU KESAL.
NGE-BF SAMA AGIA AKU KESAL.
NGE-BF SAMA AGIA AKU KESAL.
NGE-BF SAMA AGIA AKU KESAL.

Kesimpulan dari nge-BF kali ini adalah, fantastisnya seorang Agia ternyata bukan mitos, melainkan fakta. Dia peka soal High Fidelity, berpengalaman dalam bidang asmara, dan ngeselin. Sama kayak Rob yang bukan fiksi, tapi bisa juga nyata. Rob bukan antagonis. Rob itu... manusiawi.


NB: Untuk nama para blogger yang tercantum di postingan ini, aku mohon maaf ya. Juga dengan curhatanku. Nggak ada maksud apa-apa kok selain hehehe canda. 
NB2: Adam Levine, I love you.

32 komentar:

  1. TErnyata si agia lelaki pejuang keras dan pengamat baik tentang karakter lelaki.. sering 'main' bareng lakik ya?.. O_o tapi yg bagian mau ngerebut orang dari pacarnya itu cukup minta ditampol salsa sih...

    itu filmnya romance, bisa dinikmati penyuka musik garis keras. kalo aku yg sukanya musik dangdut gini bisa dapet feelnya kagak, Cha?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahahaha Haw taik. Itu kenapa kata main pake dikasih tanda kutip. Main apa neh lw leh tau?

      KAMU JUGA CUKUP MINTA DITAMPOL SALSA! KOMENMU LUCUK-LUCUK NGESELIN!

      Sepertinya bisa, Haw. Soalnya salah satu mantannya Rob ada yang pesonanya mirip-mirip Via Vallen tuh. Yuhuuuu~

      Hapus
  2. KOK AKU BACA KAMU NGE-BF AGIA JADI KESEL PARAH YA ALLAH :(

    * noted High Fidelity *
    Buat list nonton besok hahaaha.

    Btw, aku dulu juga orang yang kayak Rob. Takut berkomitmen. Tapi ga sampe kayak Rob yang sepak sepik cewe lain meskipun udah ada pacar karena belum yakin kalo Laura adalah jodohnya. Menurutku itu malah kayak curang gitu ya ke pasangan.
    Kalo aku yg takut berkomitmen malah gapernah mau kayak si Rob. Aku ngatasinya dgn cara gausah terlalu sayang ke pasangan. Yawla aku perempuan setia banget yak. Iyain dong chaaa

    Hmmm terjerat asmara dunia blog. Hei tapi aku ga sampe pacaran yawlaa Ichaaaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahaha. Agia bajingak emang ngeselin yak. Yang baca aja juga ikutan kesel. :D

      NGE-LIST MULU, LAAAAN. KAPAN KITA NONTON BARENGNYAAAAA. AYOOOOK HAHAHAHAHAHAAHAHA HUHUHUHUHUHUHU.

      Waaaks Wulan pernah ngalamin kayak Rob juga. Tapi cara mengatasinya beda yak. Iya, Lan. Kamu perempuan setia. Wulandari Setiawati. Yuhuuuuu~

      BAHAHAHAHA. IYA TUH BENER KATA YOGA. KAMU NGOMONG GITU JADI SEBUAH KLARIFIKASI. HUAHAHAHAHAHAHAAHAHAA. IYA AKU CUMA BERCANDA AJA NULIS BEGITU DI POSTINGAN BLOG, LAN. HUEHEHEHEHE.

      Hapus
    2. BHAHAHAAAAHHA IYA ICHAKUUU GAPAPA YAWLAAA :*

      Hapus
    3. AHIHIHIHIHIHI MUAAAAH BUAT WULANKUUUU :*

      Hapus
  3. di tengah-tengah ada pertanyaan yang timbul,

    apa awkarin putus lagi?
    jadi kepo hahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebuah komentar anti-mainstream.

      Hapus
    2. Rizqi: Pertanyaan bagus! Iya, Awkarin putus lagi. Dia sering curhat tuh di akun Instagram-nya. Kasihan yak :(
      Yoga: YOGA LAGI YOGA LAGI!

      Hapus
  4. lama juga nga main ke sini. dan masih suka nge-BF kamu, Cha. konsisten.

    haha anju poster tukang cukur bawah pohon.
    asli nga mudeng obrolannya :( gak tau filmnya, gak kenal tokohnya, gak tau list lagunya, taunya Adam Levin,armada apa kurangnya aku, sama Stadion Segiri Samarinda huhuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huehehehe iya nih, Tom. Mencoba melestarikan rubrik yang nggak seberapa ini.

      Wkakaka. Dasar! Jangan-jangan kamu ngefans sama Adam Levine juga? Terobsesi buat jadi istrinya dia juga? Anjir. Kalau gitu... Selamat datang di sekte pemuja cowok brewokan, Tom!

      Hapus
  5. setelah ngalamin patah hati terhebat, agia jadi jago ttg asmara gitu ya. o ya, satu pertanyaan nih, emang semua cowok di mata cewek sama aja, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Dian. Fantastis gitu kan Agia, ya. Agia belajar dari pengalaman. #terusbelajar

      Jawaban dari pertanyaan itu....

      PIKIRKAN SENDIRI!

      Hapus
  6. Ha ha ha ha ha nggak ada yang menanggapi. Satu pun nggak ada. Setan ya...

    Aku belum nonton High Fidelity nih. Tapi karena Agia suka filmnya, aku putuskan untuk nggak akan nonton.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh jadi kamu punya prinsip enggak mau nonton apa yang aku suka?

      I hate you.
      Agia dislike rido.
      Rido doesn't have a girlfriend.

      Hapus
    2. BRUAKAKAKAKAKA BUAHAHAHAHAHA AHAHAHAHAHAHAK HAHAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHA KEINTIMAN KALIAN BERDUA KOK LUCUK SIH AAAAAAK HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. MANA ITU KALIMAT TERAKHINYA AGIA NGEHE ABIS. AKU SARANKAN KALAU KALIAN KOPDAR, HARUS NONTON BROKEBACK MOUNTAIN. HUAHAHAHAHAHAHAHHAHA HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.

      *kabur naik buraq*

      Hapus
  7. wahaha, semakin frontal ya :")
    Gue suka caranya, untuk mengetahui sesuatu, "nonton" memang solusi tersendiri karena mengedukasi melalui visualisasi. Untuk film romance tahun 2000 kayak high fidelity sendiri sih gue belum pernah nonton yak. Mungkin film tahun segitu gue lebih doyan thrillernya kayak fight club atau memento, atau frequency. Tapi kalau romance di tahun segitu, mungkin when hay meet selly kalau nggak salah masih satu warna sama film ini seharusnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huehehehehe. Iya nih :')

      Yups. Dan ngebahas satu tontonan begini bareng-bareng, makin bikin merasa teredukasi oleh visualisasi. Hmmm karena kamu cowok kali ya, jadi lebih tertarik sama film thriller-nya daripada romance. Oh iya, When Harry Met Sally itu juga bagus. Cuman aku kurang suka sama karakter Sally-nya. Jadi ngerasa kurang baper. Huhuhuhu.

      Hapus
  8. Itu ngapa jadi mantap shol dah? Mantap yang saleh gitu?

    "Jangan lupakan Darma-Wulan! Adi-Deva! Febri-Beby! Yogaeskrim-Rima! Mereka semua pernah terjerat asmara dunia blog."
    Bagaimana dengan Icha dan Bang Days? Hehehe. Cnd.

    Kesimpulan dari jawaban Agia ini: sedih-lucu-ngeselin gimana gitu. :D

    Akhirnya tulisan ini jadi BF, ya. Bukan full curhat. Wqwq. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkakakaka. Iya juga ya. Auk tuh mantap yang gimana. Udah kebiasaan ngomong mantap shol begitu sih :'D

      Iya, jawabannya Agia emang kayak gitu. Di satu sisi pengen prihatin, pengen juga ketawa, tapi pengen kesel juga. Huhuhuhu.

      Anjer. Iya nih, Yogs. Draf dari kapan tau akhirnya jadi BF. Berkat Agia! :D

      Hapus
  9. Susah untuk mengerti soh kalo belim nonton filmnya. Jadi ya gue sok ngerti aja ye ahahah.

    Pelajaran yg bisa dipetik mungkin, hmmm yog, jelasin yog. Ehh lupa ini bukan grup #WahaiParaShohabat ya.

    Sorry, sorry. Etapi udah 3 paragraf kok. Mantap shol, lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya coba nonton, San. Jangan nonton fake taxi mulu terus maksa Yogaesce buat nonton. Huahahahaha. Eh waktu kalian kopdar di KFC itu maksa bukan sik? Auk dah.

      Anjer. Salah room chat dijaga!

      Taik. Nggak mau sampe 3 part sekalian?

      Hapus
  10. Satu bagian yang saya garisbawahi karena menarik: Kang Agia nggak suka budaya pop. Wow. Terus jadi mikir, mikir, mikir, gak nemuin apa-apa. Huahaha. Nggak, maksudnya, kok ini istilah yang kayaknya tepat buat saya. Nggak ngerti lagu-lagu kekinian yang biasanya didenger orang-orang di Joox, terus di-share di facebook. Di saat cewek-cewek ngomongin Shawn Mendes, saya cuma tau Shawn Michael. Norak banget. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya. Kamu sama Agia itu satu spesies. Pasti kalian sama-sama suka Kangen Band juga. Aku juga sih, suka yang Doy. Yuhuuuu.

      *kemudian masukin link postingan proyekan Kangen Band*

      Barusan aku gugling Shawn Michael, Rob. Hasilnya sungguh bajingak. Beda banget sama Shawn Mendes yang unyu-unyu. :(

      Hapus

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com