Rabu, 08 Juni 2016

The Progamama

Film-film andalan yang biasanya kutonton harus dicuekin dulu gara-gara chat dari Tata yang, 

“Di bulan puasa ini kayaknya list film rekomendasi lu kemaren bakal dipending nih, Cha. Mau nonton yang lucu-lucu aja. Jalan Sesama misalnya. Takut ada adegan yang membangkitkan sesuatu.”

Tauk deh sesuatu yang dimaksud Tata itu apa. Mungkin maksudnya kenangan akan mantan kali, ya. Kalau puasa trus nangis karena itu, kan bisa batal puasanya. 

Bahahaha! Ampuuuuuuuun, Ta.

Jadi daripada anuku ikut terbangkitkan, kenanganku maksudnya, aku milih buat nonton film yang macho. Bebas menye-menye. Yaitu film tentang olahraga. Lebih tepatnya, film biografi tentang olahragawan. Berjudul The Program. 

Sebenarnya aku nggak terlalu suka dua jenis film ini, biografi dan olahraga. Kecuali kalau film The Social Network bisa disebut film biografi selain disebut film drama/film drama sejarah. Dan hasrat nggak kesampaianku buat nonton Eddie The Eagle, film tentang atlet-ski-jumping-yang-ambisius-walaupun-punya-banyak-kekurangan, bisa masuk hitungan. Cuman berhubung The Program ini film yang diangkat dari kisah nyata kayak dua film di atas, yaudah aku jadi pengen nonton. 

Lagian, film ini tentang atlet olahraga balap sepeda. Aku suka sepeda. Dan suka sekali digenjot. Dibonceng naik sepeda maksudnya.

The Program bercerita tentang Lance Armstrong (Ben Foster), atlet olahraga balap sepeda asal Amerika yang udah menangin kompetisi balap sepeda terbesar di dunia, Tour de France, sebanyak tujuh kali berturut-turut. 



Ia meraih kemenangan gemilang itu setelah sembuh dari penyakit kanker. Banyak orang yang terinspirasi dan kagum sama Armstrong yang strong itu. Lagian memang iya sih, siapa yang nggak memuja dan mengidolakan seorang mantan pengidap kanker yang bisa mewujudkan impiannya jadi juara dunia?

Ngegenjot sepeda menyambut garis finish dengan girang.
Sumber: Google Image
Tapi sebenarnya, kisah hidup Armstrong nggak patut jadi inspirasi. Karena dalam meraih kemenangannya, Armstrong ngegunain obat-obat perangsang kinerja dan peningkat performa. Penggunaan obat-obatan tersebut biasanya kita kenal dengan sebutan doping. Hal itu dia dapatkan dari Dr. Michelle Ferrari (Guillaume Canet), seorang dokter atlet. Btw, Dr. Ferrari ini lumayan ganteng lho. Walaupun udah tua, tapi dengan aksen Italianya yang seksi itu...... uuuh~

Jadi, selain disuguhkan sama kemenangan-kemenangan yang diraih, kita juga disuguhkan sama prosesi ‘The Program’ alias praktek curang yang dilakuin Armstrong. Ada adegan yang sempat bikin aku ngilu pas nontonnya. Ternyata dunia olahraga sepeda itu keras. 

Cerita nggak cuma berpusat pada Armstrong, tapi juga pada David Walsh (Chris O'Dowd). Seorang jurnalis berita olahraga sebuah koran terkemuka yang curiga sama kemenangan mulus atlet itu.

Om, mingkem, Om...
Sumber: Google Image 

Kita diajak Walsh buat menyelidiki orang-orang terdekat Armstrong. Kita diajak buat ngerasain gimana rasanya jadi Walsh, yang pusing sendiri karena nggak ada yang percaya sama dia. Kita yang awalnya simpati sama semangat Armstrong dalam meraih mimpinya, lama-kelamaan jadi kesel sendiri. Lalu kita jadi naruh hati sama David Walsh. Kita jadi pengen ngebantu dia buat mengungkap kejahatan itu. 

Ya, kejahatan. Pengen jadi yang terbaik, tapi dengan cara yang salah. Sama aja kayak pengen jadi juara kelas, tapi dengan cara nyontek. Atau dengan cara kasih pole dance ke wali kelas pake tiang bendera sekolah. 

Overall, aku suka The Program. Selain dapat pesan moral, aku juga dapat banyak pengetahuan dari film ini. Salah satunya yaitu, aku jadi tau kalau Perancis itu selain punya festival film bergengsi di dunia, Festival de Cannes, ternyata juga punya kompetisi balap sepeda terbesar di dunia. Yeaah, pengetahuanku akan negara Perancis jadi bertambah. Selama ini taunya cuma Menara Eiffel, Festival de Cannes, sama french kiss, sih. Huhuhu.

Seandainya aku nggak ngeliat sinopsisnya dulu sebelum nonton, mungkin aku bakal mati kebosanan nontonnya. Dari judulnya aja sebenarnya nggak menarik. The Program. Nggak nimbulin rasa penasaran kalau dilihat cuma dari judulnya.

Nggak sepenasarannya aku sama sifat Mamaku. Mungkin lebih tepatnya heran. Now You See Me sama The Conjuring sekuelnya udah mau tayang, Tukang Bubur Naik Haji udah episode 1645, Mama masih aja galak.

Kemaren, waktu aku telponan sama seorang teman, Mama teriak-teriak nyuruh aku buat matiin telpon itu. Aku udah biasa sih ngedengar Mama teriak-teriak kesetanan gitu. Eh Astagfirullah, teriak-teriak kemanusiaan gitu maksudnya. Termasuk pas aku telponan di saat-saat yang menurut beliau nggak tepat. 

Tapi yang bikin aku nggak habis pikir, pas kemaren itu aku bener-bener dianggap anak kecil. Mama pikir aku bakal telponan sampe lupa buka puasa. Pemikiran yang berlebihan sih menurutku. Dan lagi, kalau memang mau ngelarang aku buat telponan, nggak perlu teriak-teriak. Kasihan lawan bicaraku di sana. 

Hal itu bikin aku ngedrama. Aku ngambek. Buka puasa dengan porsi sedikit, minumnya yang banyak. Minum bergelas-gelas dengan gerakan secepat buraq.

Aku kesel sama Mamaku. 

Mama memang terkenal sebagai orangtua yang galak. Seenggaknya di kalangan teman-teman SMK. Mungkin juga di kalangan orang-orang yang pernah baca post-ku soal Mama. Aku udah lumayan sering nulis soal ke-overprotective-an Mamaku itu. 

Orang-orang di kehidupan nyataku juga ikut ngerasain itu. Ikhsan nggak berani ngajak aku kemah dan jalan bareng teman-temannya kayak waktu ngajak aku dan Dita ikut Sun Colour, karena tau aku bakal nggak dibolehin jalan sampe larut malam, apalagi sampe bermalam. Hasilnya, aku cuma bisa gigit jari pas ngeliat mereka upload foto di Instagram. 

Dina, yang biasanya selalu siap siaga ke rumahku kalau aku bilang pengen curhat face-to-face, jadi nggak mau ke rumah kalau masalah yang aku curhatin itu soal Mama. Kayaknya, dia takut nggak bisa pulang. Takut kena masalah sama Mama juga kali.

Mantanku-yang-bikin-aku-susah-move-on-dua-tahun, bikin Dea dan aku berasumsi soal alasan itu mantan mutusin aku. Dugaan kami, alasannya karena ngerasa lelah sama teriakan yang dikumandangkan Mama, tiap kami bercengkerama di depan pagar rumah. Padahal kan cuma bercengkerama, bukan bersenggama. 

Aku takut kalau teman baruku ini ngerasain itu juga. 

Tapi ternyata kalau dilihat dari tanggapannya, kegalakan Mamaku adalah hal biasa. Dia ngerti. Dengan bilang, 

“Iya, kamu kayak anak kecil, baper, cengeng. Mama kamu memang gitu kan. Memangnya cuma kamu aja yang punya orangtua suka marah-marah?”

Ah, dia benar. Akunya aja yang lebay. Kayak gitu aja dibawa ngambek. Di hari pertama puasa lagi. Dan harusnya bukan pertanyaan “Kenapa Mama kayak gitu?” yang mengganggu pikiranku lagi. Tapi harusnya pertanyaan, “Kenapa aku masih nggak mau ngertiin Mama?” 

Aku udah sering nulis soal Mama dengan ending aku-menyesali-perbuatanku-sebagai-anak-yang-binal. Tapi masa sampe sekarang masih nggak ngerti-ngerti juga. Masih ngeluhin aja. 

Aku jadi mikir, kalau Mama dan Dr. Ferrari itu sama. Mereka sama-sama punya program. Dr. Ferrari punya The Program, kalau Mama punya ‘program’ yang kalau boleh dikasih nama, namanya adalah The Programama (iya, tau tau, namanya maksa huhuhu). Sebuah program yang dijalankan seorang Ibu buat buat ngedidik dan ngejagain anaknya. Bukan cuma Mama, tapi setiap Ibu di dunia ini punya programnya masing-masing. Sikap galak dan overprotective Mama adalah program yang Mama pilih. Eh, program ini bukan dipilih, tapi memang ditakdirkan. Udah takdirnya Mama ‘sebegitu’ sayangnya sama aku.

Di film The Program, Lance Armstrong ngejalanin suatu program buat mencurangi kompetisi. Buat menang. Di kehidupanku sebagai anak, aku harus bisa ngejalanin program dari Mama supaya menang. Menang sebagai anak yang berbakti juga sholehah. Dan aku, nggak boleh mencurangi program itu dengan ngeluhin beliau. Menginginkan program itu segera berakhir juga nggak boleh. Program itu nggak ada masa berlakunya. Karena cinta Ibu itu sepanjang masa.

Bisa jadi, kalau tanpa The Progamama, hidup para anak nggak bakal keurus. Bakal berjalan tanpa arah. Contohnya aku. Kalau Mamaku nggak punya program, mungkin hidupku bakal kayak film-film yang ada di Festival de Cannes. Melanggar norma yang ada, tone-nya indah bercampur kelam, dan penuh dengan penis-vagina yang bertebaran dengan eksplisit. Serem. Diurus aja udah 18+ gini.

Jadi, kalau ada yang punya orangtua yang overprotective kayak Mamaku, orangtuanya jangan dilawan. Dilemesin aja. Karena orangtua orangtua lebih dari anak BOOM!

Gitu kali ya.

65 komentar:

  1. Hehe itulah mengapa banyak kasus cewek-cewek lebih deket ama ayahnya, sedangkan cowok lebih deket ama mamah.

    Kami (lelaki) punya sifat dasar 'cool', urakan, dan 'kasar'. Makanya, kami lebih prefer akrab dengan ibu, yang notabene punya sifat sebaliknya.

    Sedangkan cewek, yang (mungkin, saya pengen so tau nih hehe) notabene punya sifat dasar cerewet, insecure, dan manja, cenderung lebih membutuhkan sosok ayah yang gentle, kalem, dan oportunis.

    Cheers :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi mamahku urakan juga, sama kaya aku. :(

      Hapus
    2. ini bener juga nih. aku ideem aja

      Hapus
    3. Udah rame aja ini komen. Hohohoho.

      Nah bener, Gi (ini aku panggil Agi gitu ya?). Aku lebih deketnya sama Bapakku. Walaupun jarang ketemu karena beliau kerja jauh, tapi aku ngerasa jauh lebih dekat sama beliau daripada sama Mamaku. Yang kamu udah sebutin itu bener banget. Bapakku orangnya cool, woles, nggak rempong, seolah percaya sama anaknya gitu. :D

      Kamu nggak sok tau, yang kamu sebutin itu bener banget. Itu si Dibah pertanyaannya dijawab gih! Kami butuh konsul soal orangtua sama kamu! *ini apa dah*

      Hapus
  2. akhirnya update juga :D nice review, well terkadang orang tua memang masih galak, bahkan disaat kita sudah berumur, ya suatu saat kita bakalan rindu dengan teriakannya :D haha dinikmatin saja cha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Iya nih, Ham. Makasih :D

      Iya bener banget. Dinikmatin aja. Karena galaknya orang tua itu demi kebaikan anaknya juga kan :'D

      Hapus
    2. sama2 cha. kembaliannya ambil aja. :D

      Hapus
  3. Bedebah!! aku udah komen panjang banget, pas klik publikasikan sinyalnya ngadat. Bangsat!!
    Astaghfirullah poso bah... -_-
    oke aku ulangi, semoga masih sama persis.

    Tumben icha nonton film yang "baek-baek aja". Ehe, gamau komen perihal filmnya, biar icha saja yang lebih kompeten.
    Selamat kita mamah dengan tipe yang sama, berisik, nyolot, rusuh, rese bangetlah. Astaghfirullah.
    Mamahku orang yang bener-bener keras kepala ditambah aku yang lebih-lebih keras kepala, jangan ditanya kalo udah berantem, beuuh. Mia mah bagian nangis aja kalo aku berantem sama Mamah.
    Bahkan aku pernah karna ngambek setengah bulan lebih ngurung diri di dalem kamar, keluar seperlunya, gamau makan masakan mamah, gamau ngomong sama mamah, saiik lah pokoknya.
    Makin gede aku makin sadar, udah bukan masanya kalo mamah ngebentak aku bales bentak, kalo mamah marah aku bales marah, jadi kalo mamah mulai ngomel ya aku diem aja pasang muka datar, kaya gak punya kuping.
    Walaupun gabikin marahnya mamah berenti paling enggak gak bikin ada amarah dari dua sisi.
    Orangtua selalu punya cara buat ngedidik anaknya. Gak ada orangtua yang enggak sayang (eh ada sih dikit)coba kamu bangun tegah malam, nguping pas mama kamu berdoa saat sholat disepertiga malam. Beeuuuh, aku pernah dan sukses bikin aku tidur sambil nangis sampe subuh.
    Sejak aku jauh dari mamah malah aku kangen rusuh, ngomel, dan resenya mamah, kangen mama nyuruh-nyuruh, nuduh-nuduh, bukain pintu tiap aku gedor-gedor abis pulang rapat jam 1 malem. :')
    Mungkin kamu butuh merantau biar tau rasanya betapa sebenernya setiap rempong dan berisiknya mamah mu itu ngangenin. :')
    Ah sudahlah, aku jadi baper. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibaaaaaaaaah! Komenmu, Dib. Ku suka kalau kamu udah komen curhat kayak gini! Dan hahaha puk puk Dibah, untung yang kedua kalinya nggak ngadat lagi ya :D

      Iya, karena nggak berani nonton film yang aneh-aneh. Huahaha. Takut terbangkitkan :D

      What the hell. Kita sama banget, Dib. Aku juga pas masih sekolah, pernah ngambek gitu. Nggak mau keluar kamar. Gengsian banget. Sedih ingat kelakuan dulu. Maling Kundang wannabe. Huhuhuhu.

      Kayaknya kalau kita misalnya kopdar, kita banyak-banyak sharing soal Mama kita deh, Dib. Huahahahaha. Kita sama banget sialan. Aku juga sekarang kalau diomelin, dengerin aja kayak nggak punya kuping. Kalau dijawabin mulu ya nggak selesai-selesai. Dan bener kata kamu soal tujuan kamu pasang muka datar kayak nggak punya kuping itu :')

      Ah iya. Kalau aku nggak serumah sama Mamaku lagi, aku pasti bakal kangen cerewetnya beliau. Aaaaak Dibah jangan bapeeeeeeer. Puk puk puk :')

      Hapus
    2. Astagfirullah, Mas Fan :(

      Hapus
  4. Endingnya pake lirik Ganteng-Ganteng Anak Mama. Orangtua orangtua lebih dari Youtube. BOOM!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahaha. Ganteng-Ganteng Anak Mama! Padahal gantengan anak emak daripada anak mama ya, Bang. :D

      Karena orangtua nggak punya sayap, tapi mirip malaikat. BOOM!

      Hapus
  5. eh now you see me 2 udah ada ya? serius?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah. Tayang mulai tanggal 8 Juni kemarin kalau nggak salah. Sekarang masih ada nih kayaknya :D

      Hapus
  6. Jadi si amstrong ini curang ya karakternya
    Dan pemeran protagonisnya sebenernya si wals?
    Wow ini action apa cha?
    Aku blom ceki ceki ni thrillernya

    Ibuku juga keras cha, dulu aku anaknya ngeyelan, tp pas dah merried jd tau ibu ibu kita itu pingin loh anak ceweknya ini jadi anak yang lempeng, makanya punya prinsip kuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dia curang, Mbak Nit. Ngeselin pokoknya. Udah gitu sombong lagi. Huhuhuhu.

      Yap. Bener banget. Protagonisnya itu si David Walsh. Kasihan dia.

      Ini genrenya biografi olahraga gitu, Mbak Nit. :D

      Wah. Ibu kita sama ya karakternya, Mbak Nit. Oh jadi gitu ya. Mbak Nita ngerasain manfaat 'dikerasin' pas udah nikah. Jadi kerasnya memang demi kebaikan anak ya :')

      Hapus
  7. The Progamama. Nggak maksa kok, Cha namanya. Unique. Hahaahaa
    Hmmm sepertinya aku tau siapa lawan bicara yang telfonan sama kamu menjelang buka puasa kemarin. Hmmmm :D

    Mama kita satu seperguruan, Cha.
    Ibuku juga overprotective. Aku telfonan di kamar aja, kadang Ibu sampe ikutan nguping. Segitunya. Huuuhu
    Aku jadi sadar diri juga sama yang dibilang lawan bicara kamu itu. Aku juga cengeng, masih anak-anak banget kelakuannya, jadi Ibu masih memperlakukan aku kayak anak anak sekolahan yang semuanya mesti diatur. :(

    Duh kapan ya aku jadi dewasa. Kalo jadi dewasa kan enak, bisa ngelakuin adegan dewasa. EH MAKSUD AKU BIAR NGGAK DIOVER PROTECTIVE LAGI. Gitu hahahahahaaaa

    ((Padahal cuma bercengkerama, bukan bersenggama))
    Asli. Pecah banget di bagian ini, Cha. HAHAHAHAAAHA bisa-bisanya kamu yaaa

    Aku setuju juga dgn apa yg kamu bilang, Cha. Semua orangtua punya program masing-masing untuk mendidik anaknya dengan tujuan yg sama. Untuk kebaikan si anak itu sendiri.
    Kalo dulu, tiap kali diomelin aku selalu ngelawan, balik marah, huhhhuuu sekarang aku sadar kalo aku pernah jadi anak yg ngelawan sama orangtua gitu. Kalo skrg tiap kali diomelin, aku jadi diem. Kalo udah nggak tahan lagi, aku nangis. YHAAA cengeng huahahahaaa

    Karena orangtua lebih dari anak. BOOM!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaa. Makasih, Lan. Dan baru kusadari setelah sekian lama tulisan itu dibuat, ternyata aku typo. Kurang satu huruf. Huahaha. Maunya tuh ngetik Programama. Tapi kenapa terketik progamama. HAHAHAHAHA. HUHUHUHU.

      Aaaaak Wulan tau. Jadi malu nih. Huahahaha.

      ((SATU PERGURUAN))

      Ngakak sialan. Hahahahahahahaha.

      Nah sama. Kadang Mamaku gitu juga. Trus pas udah selesai telponan, nanya-nanya gitu. Ada pas aku telponan sama kamu siang-siang, Mamaku nanya gitu. Aku jawabin sampe jelasin kenal kamu di mana. Aku bilang aja kenal di blog, beliau bingung blog itu apa, trus aku bilang blog itu kayak Facebook gitu. Baru deh beliau kalem. Ahahaha. Kepo bener ya orangtua kita :'D

      Iya ya, kayak anak kecil kita ini. Huehehe. Huhuhu. Sedih ya. Kelakuan nggak ingat umur :(

      WULAAAAAAN! HAHAHAHAHAHAHA. Belajar adegan dewasa aja dulu, Lan. Belajar teorinya. Sini belajar bareng aku~

      Huhehehe. Iya kan. Habisnya Mamaku neriakin aku sama mantanku itu udah kayak kami lagi mesum aja gitu. Huhuhu.

      Nah kamu sama nih kayak Dibah. Nyoba lebih dewasa dalam menyikapi omelan orangtua ya, Lan. Iya nggak papa nangis. Aku juga sering nangis kalau nggak nahan :'D

      Yo. Orangtua lebih dari anak BOOM!

      Hapus
  8. Armstrong itu seharusnya ga perlu make obat obatan loh
    dia itu sebenarnya udah kuat
    liat aja dari namanya i am strong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya. Bener juga. Duh Bang Nik makin pinter aja bulan puasa gini. Ku terharu! :'D

      Hapus
  9. Kalau cewek biasanya lebih deketan sama bapaknya emang ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Biasanya sih gitu. Tapi tergantung anaknya juga sih :D

      Hapus
  10. Baca postingan Icha harus sesudah berbuka puasa.
    Sangat tidak dianjurkan untuk membacanya waktu anda berpuasa, karna terdapat banyak kosakata yang membangkitkan "Imron".
    Kalo "Iman" InsyaAllah kuat kok Cha.

    Wow, aku jadi pengen, jadi jurnalis kayak David Walsh gitu Cha. Ngungkap kebeneran dari sesuatu yang emang agak mencurigakan.
    Penderita kanker, tapi juara dunia dalam bersepeda. Dan benar saja ternyata pake obat2an terlarang.
    Jadi pengen liat aksi Walsh dalam ngumpulin data-data.

    Mmmm Bener banget. Semua mama pasti punya Programama gini Cha. Tapi kalo gebetanku (Yang semoga nggak ketikung orang lagi ini) mamanya fine aja, tapi papanya yang overprotectif. Jadi Progapapa deh kayaknya. Huhuhuu
    Kalo mamahku sih overprotektif banget, dulu.
    Sekarang udah agak percaya sama anaknya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahahahaha. Ampuuuun, Ka! :'D
      Buset dah. Ini postinganku kelewat vulgar ya? Aaaak susah ngilangin kebiasaan :(

      Iya nih. Filmnya pas buat kamu yang pengen jadi jurnalis. Penyelidikannya dia keren, Ka. Dia nggak terburu-buru gitu. Trus pembawaannya juga tenang. Keren deh pokoknya. Oh iya, film ini sebenarnya diangkat dari buku karya David Walsh, judulnya Seven Sins apa gitu. Jadi diangkat dari kisah nyata yang ditulis di buku gitu deh :D

      The Progapapa! Huahaha. Keren-keren. Moga sukses sama gebetannya kali ini ya, Ka. No ditikung, no cry. Soal Mama kamu, menurut kesotoyanku kayaknya Mama kamu ganti program gitu deh, Ka. Alhamdulillah deh kalau udah agak percaya sama kamu :')

      Hapus
  11. Agaksusah sih untuk bisa dapet kepercayaan dari orang tua kalau kita baikbaik aja, bisa jaga diri, dan lain-lain. Namanya juga sayang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mif. Apalagi anak perempuan. Huhuhuhu. Tapi nggak papa, namanya juga sayang :')

      Hapus
  12. Iya. Kita sebagai anak pasti inginnya kebebasan. Tapi, saat nanti sudah punya anak pasti bisa ngerasain apa yang orangtua inginkan dari anaknya. Cz bisa saja nanti kita memberlakukan anak kita seperti orangtua kita sekarang ini.

    Tau nih Icha banyak ngeluhnya. Ditulisan aja mau berubah mau ngertiin mama. Tapi, mana? Hahahhahaha.

    Btw, asik, ya, sekarang sudah ada teman baru. asik asik jos dah. Siapa tau bisa ngebimbing untuk lebih baik ngertiin mama. Hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener banget, Dar. Kita bisa aja ngerasain 'karma', kita bisa dapat anak yang kayak kita sekarang ini. Huhu.

      HUAHAHAHAHAHAHA. Yaudah, aku ngeluhnya sama kamu aja ya, Dar. Ngeluh di voice note WA. Teriak-teriak sendiri biar kamu pusing! HAHAHAHAHAHA.

      Asik asik jos. Tapi teman lama nggak dilupain koks~ Iya, Dar. Dia ngebimbing aku ke jalan yang benar :'D

      Hapus
  13. kita juga butuh kebebasan, tp juga ada aturanya karena kita juga harus patuh sama orang tua kita :) btw sudah saya follow blognya icha :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Mawan. Bener banget :) Oke. Makasih :D

      Hapus
  14. Film biografi + romance = The Theory of Everything! Atau nggak, Habibie Ainun... ._.

    Kalo ada yang overprotective, lemesin aja. BOOM! O AJA YA KAN?!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. Itu film keren, Us. Aktingnya Eddie Redmayne jadi Stephen Hawking itu juaraaaaa! Iya, Habibie Ainun bisa dibilang film biografi gitu ya. Trus romantis dan sedih juga filmnya :(

      Wah ini nih. Fans Young Lex sejati :D

      Hapus
  15. Aku nggaaaaak ngikutin perfilmaaaan -_- duuuh. Ini yang boom boom boom itu trend apalagi sih Chak ._. internet tempatku down 3 hari rasanya aku jadi manusia kurang apdet banget deh -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga nggak terlalu ngikutin kok, Feb. Kebetulan aja pengen nonton film ini :'D

      HUAHAHAHAHAHAHA. Itu, Young Lex dan kawan-kawan bawain lagu judulnya Ganteng-Ganteng Swag. Ada lirik "BOOM" nya gitu. Gara-gara Robby nih aku jadi anu sama itu lagu. Sialan memang. Hahaha.

      Ya ampun, Feb. Tiga hari itu lumayan lho. Huhu. Untung sekarang udah enggak ya :D

      Hapus
  16. Pastinya ibu kita galak, karena mereka menginginkan anak-anaknya untuk tumbuh lebih kuat dan nggak cengeng, bener ora son???? Tuh buktinya Icha kuat ketika melewati malam minggu sendirian, eh....

    Nice share Cha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya. Tepat sekaleeeee! Mas Hen udah pro masalah orangtua ginian. :D

      Iya. Kuat sih, Mas. Dikuat-kuatin sih sebenarnya. Huhuhuhu.

      Makasih, Mas Hen! :D

      Hapus
  17. Vocabulary postingan ini:
    Genjot
    pole dance
    french kiss
    bersenggama

    JANGAN DI CARI DI GOOGLE YAA BAGI YANG BACA POST INII
    karena gue barusan melakukan itu dan shock
    Hahahaa


    Tapi aku tobat, ga goolging lagi karena pengen ikutan Menang sebagai anak yang berbakti juga sholehah
    Ekk

    The programama?
    Asli waktu baca ini, aku kira ini emang judul filmnya begitu Hahaha
    Kalau kamu nulisnya cuma The Program, malahan kayaknya aku bakalan ngira kalau ini film tentang pemrograman, tentang bikin software, atau teknologi canggih gitu. Eh ternyata tentang olahraga.
    Olahraga genjot.

    ooo..
    Jadi kalau kamu habis review begini, kenapa nggak ada rating filmnya ca?
    Apa memang ini bukan review film?
    Atau ini hanya pembuka cerita tentang mama?
    Atau ini hanya pembuka cerita tentang kamu dan dia ?
    Eaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. BAHAHAHAHAHAHAHA LAILIIIIII! You made my day! Aku ngakak parah baca komen kamu ini. Kamu perhatian banget sih, merhatiin kata-kata itu trus digugling segalaaaaaaaaa! :D

      Yuks kita sama-sama berusaha buat menang jadi anak berbakti dan solehah. Yuks!

      Nah sama, aku awalnya juga ngira film ini tentang pemrograman, software, teknologi gitu. Eh ternyata tentang olahraga. Yeaah, olahraga genjot. Kamu suka digenjot juga nggak, Li? Diboncengin naik sepeda maksudnya.

      Ngg.... kenapa ya? Nggak ada kepikiran mau kasih rating sih. Nah, bisa jadi karena ini sebenarnya bukan review film. Bukan review film kayak biasanya, bukan review film keren dan pro yang kayak biasa kamu tulis. Tapi review film yang ada curhatannya gitu. Namanya review baper. Review yang aneh sih. Hahaha.

      Aku dan dia? Eaaaa juga aah :D

      Hapus
  18. Jadi film si Abang Setrong ini aman ya Ca? Gabakal membangkitkan sesuatu ya. Huahaha.

    Pas baca kata menggenjot aku jadi keinget tahu. Bukan tahu bulat digoreng dadakan tapi tahu gejrot! Yaampun siang-siang begini mantap Ca. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahaha. Abang setrong. Boleh uga namanya.

      Bener, Lu. Aman dikonsumsi saat bulan puasa. Palingan membangkitkan niat buat naik sepeda aja sih. :D

      Waks. Tahu gejrot. Enak tuh, Lu. Aaaak bulan puasa gini genjotnya malah ngingatin sama makanan ya :((((

      Hapus
  19. Sepertinya ini bisa dicoba nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dicoba.... nontonnya maksudnya, Kang? :D

      Hapus
  20. Cha, Pange gak nemu feel kalimat ini : "Karena orangtua orangtua lebih dari anak BOOM!" :'(

    Oke, Icha kenapa bisa keren gini, sih, kalo lagi bahas film. Iya, selalu punya korelasi yang baik. Susunan paragraf yang rapi dan pindah dari review ke cerita sehari-hari dalam hidup juga bagus. Halus... Kayak....

    Perihal film The Program. Iya, sih, Cha. Judulnya BIASA BANGET. Gak ada sesuatu yg buat orang akan bertanya. Paling cuman respon "Ooooo gitu."

    Terus, perihal mama. Orang tua emang selalu punya program yang beda-beda. Ada yang emang ngerti cara ngedidik anak pake yang halus aja, bisa baik banget itu anak. Tapi, kadang ada juga orang tua yang gak bisa halus.Takutnya ngelunjak. Maka terjadilah program yang keras seperti itu.

    Dirimu enak, Cha. Dan Pange rasa cukup patut disyukuri. Gue dari kecil banyak tinggal sama nenek dan hidup gue udah keras dari SD. Nyari uang jajan sendiri. :'( Tapi, setelah nenek meninggal. Hidup gue gak tentu arah cha. SUka ngelamun dan gue ngerasa hampa banget. Padahal orang tua ada. Iya, peran mereka ke gue belum bisa gue rasakan dari kecil. Ya, mungkin mereka juga sibuk. Gue ngerti, sih. Makanya, sekarang orang tua gue malah jadi seperti mamamu Cha. Over. Cuman, gue nanggepinnya biasa aja. Meskipun kadang suka ngerasa gak nyaman. Setiap lagi ngobrol sama temen. Ditelepon orang tua. Nanti, baru aja nyerput kopi, ditelepon lagi. Gak nyaman, sih. Tapi, begitulah orang tua. Kepedulian mereka beda-beda. jadi, sebagai anak harus juga pengertian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu lagu mas pang, bacanya harus sambil dinyanyiin biar berasa feelnya.

      Hapus
    2. Iya bener kata Dibah, Pangeran. Itu lirik lagu Ganteng-Ganteng Swag. Dibaca sambil dinyanyiin lebih dari dibaca aja BOOM!

      Ahahaha. Makasih, Pangeran. Karena aku suka nonton film dan bisanya nulis soal film gitu. Huehehe. Halus.... halus kayak bokong bayi?

      Nah kan. Judulnya biasa banget. Nggak membangkitkan minat nonton. Tapi ceritanya nggak sekedar oooh gitu kok. Keren. Terutama buat orang kayak Azka yang suka sama dunia jurnalistik. :D

      Iya. Aku setuju sama yang Pangeran bilang. Mungkin Mamaku takut aku ngelunjak, makanya pake program yang keras gitu.

      Huaaaa aku sedih :( Pangeran ternyata dididik mandiri sejak kecil. Dan sekarang rada di-overprotective sama orangtua ya. Iya sebenarnya nggak nyaman. Tapi kayak yang Raditya Dika tulis di novelnya, entah yang mana aku lupa, 'gangguan' dari orangtua adalah gangguan yang terindah. Huahaha. Dodol banget deh. Aku baru kepikiran tulisan Raditya Dika itu. Gara-gara komennya Pangeran nih. :'D

      Iya. Sebagai anak harus pengertian. Haaah. Aku masih nggak pengertian :(

      Hapus
  21. mana mungkin Icha lupa buka puasa..?? okee ini bercanda. emang kalo lag asik telponan biasanya lupa. lupa segalanya. bahkan hal yang sangat dinanti nantikan sejak siang hari, berbuka puasa..

    iyasih dari judulnya gak keren The Program. tapi ternyata bagus juga kayaknya, melakukan sesuatu yang membahayakan untuk jadi pemenang. aah,, segitu pentingnya ya lomba sepeda..

    orang tua kadang emang terlalu lebay. tapi.. ya begitulah, semua yang dilakukan demi anaknya.. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha. Sebenarnya memang iya, Rum. Mana mungkin aku lupa buka puasa. Lapar dan haus gitu. Iya sih, telponan bikin kita keasikan sampe nggak ngelakuin yang lain. Hahaha.

      Iya, Rum. Menurutku filmnya bagus. Segitu cintanya dia sama gelar juara dunia, sampe ngorbanin dirinya buat doping. :(

      Setujuuuuu. Orangtua ngelakuin apapun demi anaknya BOOM!

      Hapus
  22. Hahaha, endingnya malah gitu ye. Orang tua lebih dari TV, WOYY! (ini penggangti BOOM. Karena WOY cara ibu memanggil anaknya.

    Mungkin karena perempuan jadinya di-protect. Atau lebih tepatnya merasa over protect. Biasanya cewek emang gitu, ya. Ngeluh mamanya over protekftif; gak boleh pulang malem, gak boleh main jauh-jauh, gak boleh narkoba. Cowok-cowok jaranag yang ngeluh begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini semua gara-gara kamu, anak muda! Aku jadi dengerin GGS mulu kan. Bangke. Sialan. Itu Dycal imut banget siiiiiiiih. Dulu mama papanya pake gaya apa ya jadi bisa punya anak imut kayak dia? *ini apa dah*

      Hahaha. Orangtua lebih dari tivi WOYYY!

      Kayaknya aku termasuk yang merasa over protect deh, Rob. Iya, cowok jarang-jarang ngeluh begitu. Kamu contohnya. Nggak pernah ngeluh soal begitu di blog. Enak ya jadi anak cowok :(

      Hapus
    2. Hahaha, SWEEEEKKK. Selain imut, lagu-lagunya enak. Jogetnya juga, beuh, kece parah kalo kata Young Lex mah. :))

      Hapus
    3. Ganteng-ganteng sweeeeek. Hahahha. Iya tuh. Aku ada buka videonya dia yang cover lagu Bad Boy-nya Big Bang. Liriknya diganti gitu ya, Rob. Keren. Kalau gitu, kece bikin basah kalau kata aku mah :))

      Hapus
  23. Ya syukurlah ICHA, mamamu programnya agar kamu meraih sukses gak hanya dunia namun akhirat juga :) Mencegah asal bermalam, namun membibing untuk bermalam yang sah dengan mahram yang tepat :) Amin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huehehehe Iya. Harusnya aku bersyukur ya, bukannya ngeluh :'D

      Asik. Dengan mahram yang tepat. Aamiin :)

      Hapus
  24. ehem, jadi ini film yang menginspirasi? wah, mirip2 wolf of wall street mungkin ya, menginspirasi karena suksesnya.. tapi nggak mnginspirasi karena perbuatannya di kehidupan sehari-hari. kalau masalah doping, atlet2 dunia mah emang sering pake doping. pemain bola terkenal yang jadi legenda sekalipun.. pernah digosipin pake doping. jadi penasaran, bagaimana kedua sinergi itu, antara "p" dan "v" bertebaran secara eksplisit :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. Wolf of Wall Street itu filmnya Leonardo Dicaprio bukan? Aku belum nonton. Tapi iya kayaknya memang mirip sama The Program. Mereka sama-sama menginspirasi karena sukses tapi kelakuan mereka nggak menginspirasi.

      Oh gitu ya. Aku malah baru tau. Serem juga ya doping itu :(

      Huahaha. Mau lihat p sama v secara eksplisit, Jev? Coba nanti nonton Prenjak. Kalau udah bisa ditonton selain di festival film sih. Huehehe.

      Hapus
  25. Yaarabb Teh Cha...
    Bener sih, dari baca judulnya aja kok biasa aja.
    Aku juga kalo dimarahin gitu da, Teh. Pundungan. Apa-apa jadi males. Ntar teh nangis weh. Tapi gitu-gitu juga sayang :(
    Teteh, kayaknya kalo The Progamama kurang srek. Coba kalo The Programama. Selipin r di tengah. Yeee riska, protes ae.
    AKU NGGAK NGERTI PENUTUPNYA APAAAA AMPUN!!! :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener kan. Judulnya biasa aja. Tapi filmnya menurutku nggak biasa. Keren. Trust me.

      Ahahaha. Kita sama ya. Kayaknya rata-rata anak cewek gitu deh kalau dimarahin sama orangtua. Iya. Sayang banget :')

      NAAAAH! Kamu pinter deh. Dan aku baru sadar sekarang. Dodol banget dah. Tadinya tuh mau nulis gitu, tapi nggak tau kenapa kok jadinya ketulisnya kurang satu huruf. Ahahaha. Ah biarin deh. Udah terlanjur juga :'D

      Iya diampunin, Ris. Aku nggak lawan, aku lemesin aja. :D

      Hapus
  26. saya sarankan anak kecil jangan baca tulisan ini hahahaha
    banyak banget kata-kata yang +18 X)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Fan. Bimbingan Orangtua. NC-17. Dan lain sebagainya. Hahahaha.

      Hapus
  27. striptis nih kata-kata, yang puasa jadi pengen cepet buka, yang udah buka pengen cepet nikah~
    bener ca, tiap mau nonton atau download harus baca sinopsis film itu dulu, biar gak sayang pas udah ngedownload. akuu gak komen mamanya ah, mamaku juga sama kayak mamamu, suka nonton sinetron dan gak mau diganggu sama anaknya yang lagi teleponan atau apapun namanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buset. Striptis. Hahahahaha. Aaaaak ampun, Di :(((

      Iya. Setuju. Biar nggak sayang pas udah ngedownload. Sayang kuotanya. Huhuhu. Kasihan aja sih kita ini :(

      Bahahahaha. Fix. Mama kita satu perguruan, Di. Digabungin sama Mamanya Wulan, Dibah, udah deh. Cocok :D

      Hapus
  28. karena itu, semoga gak ada lagi yang namanya sinetron di rcti, biar kita bisa nonton box office trans yang sekarang ada 2 kali :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahaahahaha. Aamiin! Dukung Erdi sebagai pemberantas sinetron! Yuhuuuu~

      Hapus

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com