Rabu, 30 Maret 2016

Superman, yang Kamu Lakukan Ke Saya Itu Jahat!

Demi memperingati Hari Film Nasional, kali ini aku mau nulis soal film kemaren lusa yang aku tonton. Yaitu film Batman v Superman: Dawn of Justice. 

sumber: Cinemags

Nggak nasionalis ya. Malah mau bahas BvS. Tadinya mau bahas film Indonesia pertama yang aku tonton sih. Tapi berhubung film yang ditonton itu bukan Petualangan Sherina, aku jadi bingung gimana nulisnya. Yang aku lihat di timeline Twitter, film Petualangan Sherina jadi film yang pertama kali ditonton banyak orang. Nontonnya dari dalam rangka ngisi liburan sampe jadi bonus habis sunat. Sedangkan film yang pertama aku tonton, yaitu Ayat-Ayat Cinta. Masih ingat banget, gimana terobsesinya aku buat punya suami kayak Fedi Nuril, padahal waktu itu masih kelas 1 SMP. 

Nggak penting banget buat ditulis. 

Ngg, nulis soal nonton BvS juga nggak penting sih. Tapi kalau dipikir-pikir lucu juga. Sebelum nonton filmnya, aku bikin tulisannya. Sekalian aja bikin pas udah nonton filmnya.

Aku nonton BvS atas ajakan dari Kak Kris. Suami dari Kak Dayah itu ngajakin aku dan Nanda buat nonton Bvs bareng dia dan istrinya.

Orang udah pada angkat kaki, lah ini malah...

Film yang memakan durasi 2,5 itu bikin aku ngerasain emosi yang berbeda silih berganti. Kagum, takjub, kebingungan, kebosanan, bergairah, sampai baper. Ada banyak subplot yang ditampilkan di film ini. Bagi aku yang bukan penggemar superhero, yang bahkan nggak tahu-menahu soal DC Comic dan DC Extended Universe, itu jelas ngebingungin. Saking kebingungannya, aku sampe ketiduran. Tapi langsung kebangun begitu dengar Nanda ngomong, 

“Ndese, ini nah Mbak Gadot-nya muncul pake kostum! Pahanya gede!”

Secara keseluruhan, aku suka film BvS sih. Meskipun kecewa juga. Review dari Hans David dan Cinemags ngewakilin kekecewaan yang aku rasain tentang filmnya. 

Walaupun rada ngebosenin karena durasinya yang cukup lama. Tapi durasi yang lama itu bertujuan buat menjalankan plot masing-masing para karakter. Setiap karakter punya ceritanya sendiri. 

Dan aku, punya cerita tersendiri tentang film ini. 


1. Ben Affleck mencuri hatiku. Banyak juga sih yang hatinya telah tercuri oleh penampilan Ben Affleck sebagai Batman. Tapi banyak juga yang mau mematahkan hati Affleck, karena lebih suka penampilan Christian Bale, pemeran Batman terdahulu. Buat golongan yang terakhir, Affleck itu terlalu dingin, terlalu penuh dendam, dan terlalu berumur. Sedangkan buat golongan yang pertama, penampilan Affleck benar-benar keren.

Nggak ada banyak dialog yang berisi tentang Superman adalah ancaman, keluar dari mulut Batman. Affleck kebanyakan menggambarkan hal itu dengan gestur dan mimik mukanya. Belum lagi pas dia lagi ngelawan penjahat, brutal dan bengisnya minta ampun. Raut muka dinginnya bikin dia kelihatan seksi. Sorot matanya pas ngingat kejadian kedua orangtua mati, bikin hati ngerasa perih. Uuuh. Udah kayak orgasme aja ngeliatnya. Lemas. Mungkin karena aku nggak pernah ngeliat akting Christian Bale sebagai Batman secara keseluruhan kali ya, makanya mikir gitu. Atau juga mungkin karena pengaruh dari kecenderunganku yang suka cowok yang lebih tua. Entahlah.


2. Superman bikin aku pengen sandarin kepalanya di bahuku. Kasihan banget dia, galau di antara dua ‘gelar’ yang orang berikan kepadanya. Si Penyelamat dan Si Penghancur. Upayanya dalam menyelamatkan dipandang sebagai upaya untuk menghancurkan umat manusia juga. Setiap aksi penyelamatannya, selalu memakan korban jiwa orang-orang yang nggak bersalah. Padahal dia nggak bermaksud kayak gitu. Puk puk Superman. 

Selain karena kasihan, alasan aku pengen dia senderan di bahuku, karena dia ganteng. Waktu nggak pake kostum ketat Superman sih. Punya badan atletis, rambut klimis, pake kacamata.

Lambang S di dadaku. Lambang S kebanggaanku
sumber: di sini
Aku jadi ingat Yoga, yang pernah bilang kalau cewek berkacamata itu lucu-lucu ngegemesin. Kayaknya dia bakal bilang gitu juga kalau lihat Clark Kent alias Superman.


3. Kecewa sama akting Amy Adams. Sebagai Lois Lane, sang jurnalis pacar Superman, Amy Adams nggak bersinar. Biasa aja gitu. Aku lebih suka aktingnya waktu main di film Big Eyes. Ngelihat Superman-Lois Lane malah ngingatin aku sama Spiderman-Mary Jane. Entahlah, kayaknya karena aku cemburuin dia yang bisa ciuman sama Clark Kent deh. 



4. Jesse Eisenberg kelihatan alay di film ini. Bukannya alay dengan pake celana gemes atau ngelakuin gerakan lala yeye cuci-cuci jemur-jemur, tapi alay yang rada kekanak-kanakan dengan tingkah nyelenehnya, juga ekspresi mukanya yang berlebihan. Kalau kata Hans David, alay yang tidak stabil secara emosi. 

Zack Snyder, sutradara BvS, nyoba ngebuat versi Lex Luthor yang berbeda dari versi yang ada di komik. Dan akhirnya malah jadi psikopat alay kayak yang Eisenberg perankan. Aku suka sama Eisenberg, tapi nggak suka aja ngelihat aktingnya kali ini. Karakter Luthor yang harusnya kelihatan jenius dan jahat, malah kelihatan jadi kayak si kaya yang sirik sama Superman lalu pengen ngadu dombain dia sama Batman. Bukan villain yang mengancam. Kalau mengancam terenggutnya keperawananku sih, iya, mengancam banget. Habisnya dia ganteng sih.


5. Gal Gadot sebagai Wonder Woman, menguasai pertarungan mendekati ending. Rasanya udah kayak ngeliat dia aja yang bertarung, sementara Batman bisanya cuma lari-larian aja. Aku takjub sama pesona yang dipancarkan Gal Gadot, yang bisa jadi wanita yang kuat, bisa juga jadi wanita yang elegan. Dia membuktikan kalau selain cantik dan seksi, dia juga tangguh. Dia kuat. Nggak baperan. Huh, makin bikin dengki aja.


6. Berbeda dengan Superman yang berasal dari Planet Krypton, Batman adalah manusia dari kota Gotham. Batman adalah manusia yang selayaknya manusia, dan biasanya manusia adalah umat suatu agama. Entah apa agama yang dianut Batman. Tapi kalau misalnya agama Islam, Batman fix meneladani salah satu sifat Allah dalam Asmaul Husna, yaitu Al-Ghaffar (Maha Pengampun). Habisnya, dia mudah banget ngampunin dan maafin Superman, hanya karena nama ibu mereka sama.


7. Superman itu ternyata jahat kayak Rangga. Yang dia lakukan ke saya itu jahat.

Superman lagi digrepe-grepe masyarakat
sumber: Hans Davidian

Nggak, dia nggak ngebuat siapapun nunggu selama 14 tahun, termasuk aku. Dia cuma bikin aku keingat sama lagu One Direction yang judulnya One Thing. Itu lagu jaman One Direction masih berlima dan hobi pake celana warna-warni. 

Di lagu itu, tepatnya di part Harry Styles, ada liriknya yang, 

“You’re my kryptonite. 
You keep waking me weak.
Yeah, frozen and can’t breathe.”

Kryptonite adalah batu berwarna hijau yang berasal dari pecahan planet Krypton. Kryptonite adalah kelemahan Superman, yang membuatnya jadi menyedihkan di akhir film. Bagi One Direction, kryptonite adalah seseorang yang ngebuat mereka jatuh cinta sehingga jadi nggak berdaya, kayak yang mereka tuturkan di lirik.

Superman jahat karena sudah bikin aku ingat sama lagu 1D itu. Superman jahat karena sudah bikin ngerasa, aku juga punya kryptonite. Dan kryptonite-ku adalah, seseorang yang bikin dinding pertahanan dan ketegasan yang aku berusaha bangun, jadi runtuh. Jadi kubangan air mata. Aku yang awalnya udah lemah, jadi tambah lemah. 


Superman jahat, udah bikin aku sok-sokan punya kryptonite sambil sesenggukan di akhir film. Trus nulis postingan segaje ini.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 29 Maret 2016

Sepotong Hati di Segelas Milshake Cokelat (Bagian Sepuluh)

Bagian satu sampai delapannya bisa dibaca di SINI dan di SINI juga. Lalu KLIK INI untuk membaca bagian sembilannya. Terima kasih! :)



Agus menghela napas. Bukannya sebuah tawa, malah kecewa yang ia dapat. 

Jadi ini tujuan Mei mengontaknya? Hanya menjadi penyampai kabar Januar ke Mei? 

Handphone yang semula dipegang erat, kini dibiarkan tergeletak di atas kasur. Pemiliknya ikut menggeletakan tubuhnya begitu saja. Sambil memandang langit-langit kamar, ia kembali merasa bodoh sudah jatuh cinta pada gadis yang salah. Bukan, bukan gadis yang salah. Tapi keadaannya yang salah.

Baru saja Agus ingin membalikan badannya untuk mencoba tidur dengan posisi tengkurap, handphone Agus kembali berbunyi.

“Gus, gue ganggu lu, ya?”

Dengan rasa tidak enak hati, Agus pun langsung membalas, “Eh, nggak kok.”

Agus berniat melanjutkan chatting dengan Mei. Ia tidak peduli dengan fakta kalau Mei adalah kekasih kakaknya sendiri. Agus menikmatinya. Menikmati perasaan suka yang ada pada dirinya terhadap Mei. Walau terasa seperti sebuah kesalahan.

Namun, ini bagaikan sebuah kesalahan yang indah. Selama janur kuning belum melengkung, Agus berikrar untuk bersaing dengan kakaknya demi mengenal Mei lebih jauh. Atau mendapatkan Mei. Merebutnya? Mungkin bisa jadi. Selagi belum ada ikatan resmi, ia ingin bersaing secara sehat. Berusaha meluluhkan hati Mei tanpa menjelek-jelekan Januar. Sepertinya itu hal yang wajar, walaupun ia rasa cinta ini kadang-kadang tak ada logika. 

“Januar belum pulang, Mei. Mungkin dia lagi lembur di kantornya,” jawab Agus berusaha menenangkan hati Mei.

“Lembur? Akhir-akhir ini Januar sering lembur di kantor, ya, Gus?” balas Mei penasaran.

“Iya. Mungkin dia lagi banyak deadline.”

“Ya udah deh, makasih ya.”

“Hmm. Sama-sama.”

Pesan Agus hanya dibaca, tidak ada balasan lagi. Tidak ingin berakhir di situ, Agus mencoba berpikir untuk mencari topik agar bisa tetap chatting dengan Mei.

Lalu, ia tiba-tiba bertanya, 

“Eh iya, Justin Bieber katanya bikin album baru? Lu udah dengar lagu-lagunya, Mei?”

Satu menit berlalu, pesannya masih bertuliskan “D”, tanda belum dibaca.

Dua menit, masih tetap sama.

Tiga menit, “D” belum juga berubah menjadi “R”.

Sekitar 5 menitan menunggu, pesan itu pun dibaca. Tak berapa lama, muncul “Meiriska is writing a message”.

Agus tersenyum senang.

“Iya, Gus, beberapa sudah. Dan lucunya, ternyata Selena juga bikin album. Mereka kayak bales-balesan pesan dari lirik lagunya. Seniman gitu, ya. Asyik banget. Berbalas pesan aja pakai bikin lagu. Patah hatinya dibuat menjadi karya,” timbal Mei panjang lebar.

Detik demi detik terus berjalan, berganti menjadi menit, lalu menjadi jam. Mengundang malam sunyi mereka menjadi lebih terisi. Malam mulai bergulir mendekati larut. Denting jam semakin jelas terdengar, volume TV yang bervolume kecil pun menjadi terdengar keras. Silir-selimir angin malam mulai masuk menusuk ventilasi jendela membuat gorden kamar menari dan berdansa kecil. 

Tak lama kemudian, terdengar suara Januar dari luar kamar Agus. Tampaknya Januar baru pulang.

Secara bersamaan saat Agus sedang seru-serunya chat dengan Mei, Agus mendengar Januar yang sedang bercakap-cakap. Ia mendekati celah pintu kamar yang terbuka. Terintip dan terdengar samar olehnya, Januar yang sedang bertelepon ria dengan seseorang. Raut wajah Januar tergambar senang sesekali, terlukis senyum dan tawa di bibir Januar. Entah dengan siapa Januar menelepon, sementara yang Agus tahu bahwa Mei sedang chat dengan dirinya.

Ketika Agus mulai menyimak saksama percakapan telepon Januar, Agus melihat dengan jelas bibir Januar sedikit lebih maju sesenti, seakan memberikan kecupan sebelum akhirnya telepon itu ditutup. Lalu, Januar segera masuk ke dalam kamarnya. Agus pun langsung berpikir yang aneh-aneh.

***

“Oh selera lu bagus-bagus, ya,” balas Agus sehabis membaca pendapat Mei tentang buku dan musik yang sedang mereka bahas. “Eh, iya. Januar udah pulang, barusan dia masuk kamar. Sepertinya langsung mau tidur.”

“Serius dia sudah pulang? Kok nggak chat gue, ya?”

Beberapa detik kemudian, Mei membalas lagi, “Eh, udah nih. Baru aja. Makasih ya, Gus. Btw, lu belum ngantuk, Gus? Gue udah lega nih dapet kabar dari King. Habis ini langsung mau tidur.”

Agus paham betul akan kode itu. Maksudnya pasti ingin mengakhiri percakapan.

“Iya, Mei. Udah ngantuk juga, kok. Malam,” balas Agus menutup chatting malam itu.

Agus tidak benar-benar tidur. Ia justru memikirkan suatu hal; tentang percakapan mesra Januar tadi. Agus mencurigai bahwa kakaknya mungkin selingkuh. Ia pun mendadak sangat kesal terhadap kakaknya. Tidak menyangka, wanita selucu Mei saja masih kurang bagi Januar. Bener-bener nggak ada bersyukurnya. Ternyata cewek baik dan cantik bukan jaminan tidak diselingkuhi.

Januar bangsat! teriak Agus dalam hati.

Agus pun bimbang. Harus memberi tahu Mei akan hal tersebut atau menjaga aib kakaknya.

Karena terlalu pusing memikirkan masalah itu, dia pun ketiduran.

***

Seminggu setelah malam yang teramat panjang bagi Agus, ada banyak hal yang membuatnya merenung. Bahkan, sudah tiga hari ini, Agus tidak mengunjungi kafe langganannya. Selain karena sudah tidak ada Mei di sana yang menunggu jalanan tidak maceti, juga karena ingin cepat pulang dan tidur saja.

Berdasarkan penelitian psikologi, orang yang banyak tidur biasanya adalah orang yang sedang bersedih dan menyimpan banyak masalah. Tampaknya, hal itu terjadi pada Agus sekarang.

Namun, di hari ketiga ini, Agus tidak bisa tidur nyenyak. Sedikit-sedikit ia selalu terjaga. Apalagi getaran dari dalam perutnya mengisyaratkan untuk segera makan. Agus memang paling tidak bisa tidur dalam kondisi lapar. 

Ia pun langsung berlari ke dapur dan membuka tutup saji. Kosong. Tidak ada satu makanan pun yang bisa mengganjal perutnya. Ia pun menyadari bahwa ibunya tidak memasak lagi hari ini. Ibunya belum pulang karena ditugaskan ke luar kota. Agus maklum akan hal itu. Sebagai anak berorangtuakan single-parent, ia harus menerima kalau ibunya menjadi tulang punggung keluarga.

“Ya udahlah, gue masak Indomie aja kalo gitu. Biar hari gue semangat," ucap Agus pada dirinya sendiri. Begitu Agus merebus air dan hendak membuka bungkus mie instan itu, suara ketukan pintu terdengar. Disusul dengan suara mengucap salam berkali-kali.

Agus bergegas menuju pintu rumah dengan agak kesal. 

Siapa, sih? Ganggu aja!

Ia pun membuka pintu.

“Ya, Waalaikumsa...,” kalimat Agus terhenti. Ia kaget bukan main dengan apa yang sedang dilihatnya.

***
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 24 Maret 2016

Kenapa Bukan Batman Love Superman?

Seandainya jam 10 pagi tadi aku tetap ngitarin mall, atau mutusin buat naroh pantat di mana lagi mana lagi selain di mekdi. Mungkin postingan ini bakal berisi tentang ulasan film Batman v Superman: Dawn of Justice. 

Niatan buat nonton film pergelutan dua superhero itu udah digadang-gadang dari lama. Cuma, niatan untuk nonton sendiriannya terpikir tadi malam. Dan dua niatan itu sama-sama batal. Aku memilih buat pulang, bergumul dengan Tasya yang begitu aku datang langsung ngerengek minta ditemenin menggambar. Dan aku ngetik postingan ini. Yang isinya malah... 

Seandainya aku datang ke XXI-nya nggak kepagian, mungkin semua mata nggak tertuju padaku. Mata para security dan tukang bersih-bersih. Ngebuat aku cengengesan, berdiri di depan pintu bioskop sambil sok sibuk ngecek hape, dan mutusin buat turun. Buat pulang. Eh, enggak. Sebenarnya bukan gara-gara itu aku cengengesan dan pulang. Bukan. Itu karena aku sendirian. Nonton sendirian. 

EH, BUKAN. Aku udah biasa nonton sendirian, dari jaman sekolah. Aku nikmatin nonton sendirian, karena teman-temanku menghabiskan uang sakunya buat yang seharusnya yaitu makan, bukan buat nonton. Aku mutusin pulang dengan muka cengengesan yang dipaksakan, karena sadar aku mau nonton bukan karena suka filmnya. Aku nggak kayak Justina Landhiani, seorang perempuan ayu nan ranum penyuka film-film superhero. Aku cuma pengen bersedih di dalam teater. Ngebayangin niatan awalku buat nonton itu terlaksana. Nonton sama dia yang lagi cuti, pulang ke Samarinda. Nonton film yang dia bilang, udah ditunggu-tunggu. 

Seandainya dia tetap cuek seperti biasa, bukan cuek yang kayak dia lakuin sekarang, mungkin aku bakal senyum-senyum dengerin Us-nya Regina Spektor. Membayangkan kalimat, “I love us!” keluar dari bibirnya. Bukannya ngegemeratakin gigi, hentakin kaki, sambil teriak, “LAGU US BANGKEEEEE!” pas naik eskalator. Habis itu kesandung tangga terakhirnya, karena ngira belum nyampe ke atas.

Gak Bisa Romantis-nya 8ball feat Robe jadi lagu bangke selanjutnya. Lagu yang pernah diperdengarkannya ke aku, dan pernah bikin senyum-senyum, karena liriknya jujur sekali. Tapi tiga tahun kemudian, tepatnya tadi pas di parkiran, rasanya aku pengen teriak, 

“IYA, AKU TAU KAMU NGGAK BISA ROMANTIS! KALAU ANGGAP AKU ADA? HAH? BISAAAA?”

Dengerin lagu secara acak nggak pernah semenyebalkan ini.

Seandainya dia nggak jadi pulang lalu kami tetap LDR, mungkin aku nggak bakal sadar. Kalau selama ini, cueknya dia udah bertransformasi jadi nggak peduli. Aku nggak bakal tau kalau tatapan matanya udah nggak sehangat dulu. Aku nggak bakal tau kalau dia udah nggak seantusias dulu sama cerita-cerita nggak jelasku. Aku nggak bakal tau kalau cuma aku yang terlampau bahagia bisa ketemu. Aku nggak bakal tau kalau selama ini dia nggak balas chat-ku, nggak pernah nelpon aku, bukan hanya karena sinyal atau kesibukan. Tapi karena memang nggak butuh lagi buat ngelakuin itu. 

Aku kenal sama kecuekannya. Jauh sebelum kami menjalin hubungan lebih dari sekedar teman, dia memang sudah cuek. Dan aku nyoba buat terbiasa. Nyoba buat menerima. Nyoba buat nggak membalas kecuekannya. Nyoba buat nepis prasangka burukku ke dia. Secuek-cueknya dia, rasanya nggak pernah sampe ngebuat aku nyerah. Mungkin dia juga udah nyerah sama aku, udah mau ngangkat bendera putih itu dari dulu, cuma dia nyerahin ke aku. Biar aku aja yang ngangkat bendera putihnya. 

Seandainya beberapa hari yang lalu aku nggak cerita sama Kak Fitri, Nanda, dan Dina, mungkin aku nggak bakal dengar kalimat-kalimat, 

“Kalian udahan aja. Dia bukan cuek lagi, tapi udah nggak peduli lagi, Cha. Heran juga. Kalian LDR kok kuat, pas ketemuan malah rapuh.” 

“Mending waktu kau sakit kemaren ya, Ndes. Dia peduli dengan kau walaupun ngolokin kau penyakitan. Kau bahagia betul pas ketemuan di rumah sakit tahun kemarin.”

“Mungkin dia udah... ngg kayak gimana ya ngomongnya. Ngg, dia, dia udah bosan sama kamu, Cha. Udah nggak ada yang bisa dieksplor dari kamu. Yaudah. Perjuanganmu sampai disini aja.”

Pas denger kalimat Dina, aku ngerasa jadi finalis ajang kompetisi menyanyi. Dan aku lagi tereleminasi. Kalau di Dangdut Academy Indosiar, disebut tersenggol. 

Seandainya aku tau tata cara patah hati yang benar, mungkin aku nggak bakal sedrepesi ini buat maksain nangis. Aku pengen nangis, tapi nggak bisa nangis. Udah kayak Colin di novel An Abundance of Katherines, dimana dia juga nggak bisa nangis pas ditinggalin Katherine XIX. 

Ditulis dalam novel itu, kalau gadis itu rasanya telah merenggut bagian dari dirinya yang mampu menangis. Apa semua orang yang lagi berpatah hati, nggak bisa nangis? Dengan lantang bilang kalau airmata kini telah habis?

Aku pengen tau kenapa kedatangannya malah bikin kayak gini. Tapi hatiku nggak bertanya-tanya, nggak berusaha menebak-nebak. Aku pengen duduk aja sambil ngegigit bibir kuat-kuat, terus nulis postingan ini. Gimana, gimana cara patah hati yang benar? 

Seandainya tadi aku mau sabar nunggu XXI buka, mungkin aku nggak bakal nulis postingan se-sialan-Icha-kirain-mau-review-film-ternyata-review-perasaan-yang-lagi-patah-hatinya-. Mungkin aku bakal menikmati filmnya. 

Ada Ben Affleck yang jadi Batman. Lebih ganteng dan lebih kelihatan cerdas daripada waktu main di film Gone Girl, dimana menurutku keahliannya cuma bantuin Emily Ratajkowski pake baju. Ada Henry Cavill yang jadi Superman, dengan dada bidang menggemaskannya. Ada Jesse Eisenberg yang jadi Lex Luthor. Lumayan, kegantengannya bisa bikin aku senyam-senyum mesum pas nonton. Ada Gal Gadot yang jadi Wonder Woman. Juga jadi penyebab para cowok pada rame bawa tissue ke dalam teater. Kayaknya bawa sih. Tauk deh buat apa.

Mungkin dengan adanya semua itu, aku nggak bakal ingat dia. 

Seandainya judulnya filmnya typo parah. Bukannya Batman v Superman, melainkan Batman Love Superman. Karena aku cinta damai. 

Tapi itu cuma pengandaianku, yang nggak bakal terwujud. Sama dengan seandainya-seandainya yang dari awal, nggak bakal terwujud. Karena patah hati ini, udah terjadi. 

Dan kenapa judul filmnya itu bukan Batman Love Superman, padahal LGBT udah dilegalkan di Amerika?

Karena Batman tau, kalau benci yang berubah jadi cintanya pada Superman nggak bakal berbalas. Yang berbalas itu, yang saling mencintai. Yang saling mencintai itu biasanya yang udah nikah. Kalau yang masih pacaran, biarpun udah bertahun-tahun, bisa aja nggak saling mencintai. Bisa.

sumber: @accamotong

Ya Tuhan. Ini postingan apa sih? Aku lagi mabuk kayaknya, bukan patah hati. Mabuk gas buang dari knalpot, gara-gara tadi kelamaan merenung di parkiran.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 21 Maret 2016

You Never Forgive Your Flipped

Mungkin setiap orang punya persepsi masing-masing sama apa yang disebut cinta pertama. Ada yang mengganggapnya cinta main-main hingga muncul istilah cinta monyet, ada yang menyeriusi cintanya itu sampe ngebuatnya susah buat jatuh cinta lagi.

Sementara aku, nggak tau apa itu cinta pertama.

Cinta pertama itu, apakah orang yang pertama kali disukai? Orang yang pertama kali dipacarin? Orang yang pertama kali bikin patah hati?

Atau kalau mau dilihat dari film, apakah cinta pertama itu cinta sama cowok jago basket, kayak yang dirasain Bunga Citra Lestari di film Cinta Pertama? Apakah cinta yang bikin kita pengen berubah, dari buruk rupa jadi cantik jelita kayak Nam di film First Love? Atau, apakah cinta yang bikin kita rela disetubuhi pas naik bianglala, kayak Doek-Yi di film Scarlet Innocence?

Aku nggak tau.

Tapi itu nggak bikin aku jadi nggak suka buat nonton film bertemakan cinta pertama. Aku suka nonton ketiga film di atas walaupun nggak related sama kehidupanku. Juga suka film Flipped. Film tentang cinta pertama paling innocent yang pernah kutonton. 

Flipped adalah film keluaran tahun 2010 yang biasanya aku tonton kalau lagi jenuh jadi orang dewasa, yang entah kapan dihalalin biar bisa ngelakuin adegan dewasa. Eh, enggak. Jenuh jadi orang dewasa aja. 

Menurutku, Flipped bener-bener ngeringanin pikiran. Sensasi yang sama aku rasain pas denger lagu First Love-nya Utada Hikaru. Rasanya jarang banget ada film sepolos dan semanis Flipped di ranah perfilman Hollywood. Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini sukses bikin aku senyam-senyum dari awal sampe akhir. Padahal nggak ada adegan ciumannya.


Bercerita tentang Juli Baker (Madeline Carroll) dan Bryce Loski (Callan McAuliffe) yang bertemu pertama kalinya pada umur 7 tahun. Saat itulah juga pertama kalinya Juli merasakan cinta, dan cinta pertamanya adalah Bryce. Tapi Bryce nggak ngerasain hal yang sama, malah terganggu dengan kehadiran Juli. 



Selain menjadi tetangga berseberangan rumah, Juli juga jadi teman sekelas Bryce. Dan jadi penyebab Bryce dikatain teman-temannya. Ya, Juli ekspresif banget nunjukin rasa sukanya. Ngebuat mereka berdua jadi Olga, olok-olokan warga. 

Eh Astagfirullah, nggak boleh becandain almarhum, Cha! 

Cinta Juli pada Bryce bertahan sampe mereka masuk SMP. Begitu juga dengan kebencian Bryce pada Juli, cewek yang ia anggap aneh. Aneh karena masih aja mengejar-ngejarnya, juga aneh karena Juli itu suka manjat pohon dan melihara ayam.

Tapi lama-kelamaan, perasaan Juli dan Bryce seolah ditukar. Jadi flipped alias terbalik. Juli jadi benci sama Bryce karena perlakuan cowok itu yang selalu ngecewain dia. Sedangkan Bryce, malah kangen sama gangguan Juli, dan jadi jatuh cinta. 


Ya, tema film ini sederhana. Dan udah banyak film, sinetron, atau FTV yang memakai formula cinta-pertama dan benci-jadi-cinta buat dijadiin cerita. Tapi aku ngerasa, cuma Flipped yang bisa nyiptain momen romantis dengan apa adanya. Ngalir aja gitu. Film ini cute banget, ngeliat tingkah polos Juli dalam ngekspresikan rasa sukanya. Ngeliat Bryce yang nggak suka sama Juli tapi anehnya nggak mau menyakiti hati cewek itu. 

Flipped adalah film yang bisa ngebuat yang udah bangkotan pun jadi ngerasa berbunga-bunga nontonnya, karena ngebuat bernostalgia sama cinta-cintaan waktu masih remaja. 

Tapi nggak cuma itu yang bikin aku jadi suka banget sama Flipped. Aku suka sama penggunaan dua sudut pandang dalam film ini. Sudut pandang Juli dan sudut pandang Bryce. Ditampilkan secara bergantian. Jadi, kita bisa tau isi pikiran mereka dalam menanggapi, juga alasan mereka kenapa bertindak kayak gitu dalam menghadapi satu kejadian. Dengan adanya itu aku jadi tau kalau sebenarnya Juli itu nggak aneh, dan Bryce itu sebenarnya secara nggak sadar juga suka sama Juli.

Alasan lain aku suka sama Flipped adalah, film ini bukan sekedar tentang cinta pertama. Kita bisa belajar bagaimana menghargai orang lain, dan benar-benar paham kalau uang nggak bisa membeli apapun, termasuk kebahagiaan. 

Bryce adalah anak dari keluarga berada, tapi kehidupannya di rumah nggak sehangat kehidupan di rumah Juli. Bapaknya Bryce suka sinisin orang, Kakaknya pembangkang, dan Kakeknya malah akrab sama Juli, bukan sama cucunya sendiri. Sedangkan Juli, anak dari keluarga pas-pasan, ngerasa bahagia banget punya keluarga yang akur dan pandai bersyukur. 

Dan sebagai orang yang nggak tau cinta pertamanya, aku rasanya pengen nambahin tagline Flipped yang, 

“You never forget your first love.” Diiringi kalimat, “You never forgive your flipped.”

Sekaligus pengen nanya, 

“Pernah ngerasain momen flipped?“

Momen dimana perasaan jadi terbalik. Yang tadinya suka, jadi benci. Begitu sebaliknya.

Waktu aku tanya ke Wulan, dia jawab kalau dulu pernah disukai sama temannya. Tapi dia nggak suka sama temannya yang sebegitu ekspresifnya dalam nyatain perasaannya itu. Trus setahun kemudian, Wulan ngerasain flipped. Dia malah suka sama temannya itu. 

Dia juga cerita kalau pernah sayang banget sama seseorang, tapi orang itu ninggalin. Trus orang itu akhirnya datang dengan perlakuan yang nunjukin maafkan-aku-dan-kasih-tau-aku-perasaanmu-masih-sama-kayak-dulu. Tapi udah terlambat. Dulu nggak bisa kehilangan, sekarang bisa karena lelaki itu yang membiasakan. Dia lagi-lagi ngerasain flipped

Dua cerita yang aku dengar (lebih tepatnya baca, karena diceritainnya lewat chat) bikin aku mikir, momen flipped terjadi nggak secara tiba-tiba dan bukan tanpa sebab. 

Contohnya Juli dan Bryce. Juli suka sama Bryce karena mata cowok itu terlihat bersinar. Juga senyumnya. Cuma itu. Bryce benci sama Juli karena tingkah laku Juli yang aneh. Hanya itu. 

Keadaan jadi terbalik saat Juli ngeliat keseluruhan, ngeliat segala perlakuan Bryce yang ngecewain dia. Bryce ngeliat secara keseluruhan yang ada pada Juli. Ngeliat bahwa Juli itu ternyata punya kepribadian yang mengagumkan, berwawasan luas, dan selalu ceria. 

Begitu juga dengan Wulan. Setelah tau kalau teman yang dulu suka sama dia punya kepribadian yang menarik, setelah tau kalau mantannya adalah orang yang nggak pantas ditangisi. Momen flipped itu pun terjadi padanya. 

Momen flipped menurutku pernah dialami sama banyak orang. Bisa terjadi saat kita ngeliat seseorang nggak cuma dari luarnya aja. Atau nggak cuma dari satu sisi. Momen flipped ngebuat kita tau siapa dia sesungguhnya. 

Aku nggak tau persis apa itu cinta pertama. Tapi aku tau momen flipped pertamaku, yang sekarang aku lagi rasakan. Dan rasanya susah dilakukan. 

We never forgive our flippedMemaafkan perasaan terbalik kita yang selama ini mempercayai seseorang yang kita lihat itu hanya dari satu sisi, kini jadi ragu padanya. Memaafkan rasa menyesal kita kenapa nggak dari dulu aja kita melihat orang itu secara luar dalam. Memaafkan rasa gembira yang meluap-meluap begitu ngeliat dia pulang dan bertemu kita, sementara dia nggak ngerasain apa-apa. Memaafkan kenaifan kita yang baru sadar, kalau selama ini kita nggak berarti apa-apa buat dia. 

Ibaratnya udah kayak cinta mati sama gadun, tapi selama ini kita cuma liat perut buncitnya yang menggoda, lalu berpikir bahwa dia adalah cinta sejati kita yang gagah perkasa. Trus akhirnya kita ngeliat secara keseluruhan. Ngeliat kalau dia udah beristri. Ngeliat kalau kita nggak ia sayangi, melainkan cuma digaji. Ngeliat kalau kita mutusin buat pergi, dia tetap ngerasa baik-baik aja, karena masih punya Viagra.

 Ibaratnya kayak gitu.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 15 Maret 2016

(88) Days of Haris Firmansyah

Tadinya mau bikin judulnya sama kayak judul film, (500) Days of Summer. Jadi (500) Days of Haris Firmansyah. Cuma post-nya belum nyampe 500 (Ya iyalah, Cha! Orang blognya berumur setahun, dan setahun itu 365 hari!). Dan lagi, kayaknya Bang Haris nggak punya tanda lahir berbentuk hati di lehernya. Kayak tanda lahirnya Summer Finn, tokoh di film itu. 

Maka jadilah judul postingan ini menyesuaikan sama banyaknya jumlah postingan yang ada, juga dicantumkannya nama lengkap pemilik blog harisfirmansyah.com itu. 

Tapi setiap main blog Bang Haris, kita memang seolah diingatkan dengan film (500) Days of Summer lho. 

Coba buka deh blognya, trus lihat nama blognya, Hari-Hari Haris. See? Hari-hari. Days. Satu kata yang mirip sama judul film itu.

Kalau ditelusuri lebih jauh, ada beberapa postingan yang menyelipkan (500) Days of Summer di dalamnya. Mulai dari diselipkannya foto kebersamaan Tom-Summer, foto Summer, review singkat film itu, sampe penemuannya akan efek terbaru saingan Summer’s Effect, yaitu Novi’s Effect. Btw, Novi itu temannya. Bukan mantannya. Kayaknya sih. 

Ngelihat hal-hal itu di blognya, aku sendiri dibuat terperangah kagum sambil bergumam, 

“Ternyata Bang Har suka film (500) Days of Summer. Kirain suka film Jan Dara aja.“

Bagi yang mengenal Bang Haris dari lama, pasti udah nggak asing dengan nama panggilan Pangeran yang disematkan padanya. Tapi bagi yang baru mengenalnya dalam hitungan bulan seperti aku, mungkin setuju kalau personal branding yang dibangun Bang Haris, nggak jauh beda dengan kepribadian Tom Hansen.

Ini Bang Joseph Gordon-Levitt yang meranin Tom Hansen.


Ini Bang Haris. Sumber: Blog Diva Press

Mirip kan? Mereka sama-sama mainin tangan saat berpose. Tom Hansen alias JGL masukin tangannya di kantong. Bang Haris nyilangin tangannya kayak guru pengawas Ujian Nasional.

Cuma Bang Haris sepertinya nggak senaif Tom Hansen dalam mengartikan cinta. Lahirnya juga di Serang, Indonesia. Bukan di Margaret, New Jersey juga kayak Tom Hansen. 

Tapi sekali lagi, mereka berdua punya satu kesamaan yang mencolok. Sama-sama ‘membicarakan’ wanita yang telah mengecewakan. Tom Hansen membicarakan Summer. Bang Haris membicarakan mantan. 

Yeaaaah, mantan. Yang kata Bang Haris sendiri, mantan adalah kata terlarang versi bajak laut. Tapi dia sendiri bukan bajak laut. Jadi dia bebas, leluasa, dan seringkali menuliskan soal mantan di blognya. Seperti yang aku kutip dari postingannya yang berjudul 11 Macam Mantan dan Cara Menghadapinya,

“Selama ini saya sering bahas mantan. Entah kenapa mantan jadi topik yang layak diperbincangkan. Sebagian layak diajak balikan sih. Kali ini saya ingin mengklasifikasikan macam-macam mantan dan bagaimana cara menghadapinya. Pokoknya, kalau udah berurusan dengan mantan, jangan macam-macam deh.”

Setelah paragraf itu, paragraf selanjutnya yaitu tentang klasifikasi mantan dan cara menghadapinya. Terlihat kalau Bang Haris sudah berpengalaman menggeluti berbagai jenis mantan.

Tapi, Bang Haris nggak pernah nyebutin siapa mantan-mantannya. Siapa mantan yang dimaksud dalam tulisannya. Ada satu nama sih, yaitu Ponijah. Ia tulis di buku terbarunya, Unforgettable Baper Moments (satu-satunya buku Bang Haris yang aku punya huhu sedih). Tapi siapa yang percaya kalau itu nama asli?

Alasan nggak dicantuminnya nama mantan di postingannya, adalah karena Bang Haris ingin menyajikan karya, bukan nestapa. Ia menggunakan mantan sebagai bahan utama, kemudian diramu dengan cara yang idealis, kritis, dan tentu saja, humoris. Lalu jadilah sebuah karya yang bukan sekedar berisi curhatan, tapi karya yang sarat akan tawa dan pelajaran berharga. Bikin para wanita yang habis baca, jadi pengen menjerit manja, 

“Bang Haris, tanggung jawab! Sekarang aku sedang mengandung benihmu! Benih tawa yang kau taburkan di tulisanmu! Cepat nikahi aku, Bang! Aku nggak kayak mantanmu, yang selalu menyakitimu. Nggak pernah mau ngurusin kamu. Bohongin kamu. Curangin kamu.”

Trus Bang Haris dan para wanita itu nyanyi lagu Gak Kayak Mantanmu-nya Ello berjamaah, dan Bang Haris di-gangbang. 

Eeeh, nggak ding. Gangbang mah satu cewek dianu banyak cowok ya. Lagian, Bang Har adalah jomblo barokah yang hapal surah Al-Baqarah. Hanya ayat pertama sih. Tapi tetap barokah. Nggak mungkin nge-gangbang cewek.

Btw, bener nggak sih alasannya itu, Bang Har? Bukan karena takut dibaca mantan trus diblokir dari semua medsos kan? *digampar* 

Mantan bukan hanya jadi bahas nulis aja bagi Bang Haris, tapi juga sebagai alasan kenapa memilih genre personal di blognya, hingga ia bisa menulis banyak postingan yang bikin ngakak sampe basah. Ngomong-ngomong, yang basah itu mata, ketawa sampe bercucuran air mata maksudnya. Bukan basah bagian tubuh yang lain.

Alasan lengkap pemilihan itu aku kutip dari postingan Salam Sapa Blogger Personal,

“Saya memilih genre personal dalam ngeblog karena saya bukan mewakili perusahaan atau kabupaten di sini. Saya murni ingin berbagi tentang masalah hidup saya, kegundahan saya sehari-hari, tentang mantan saya yang hobi remove dan blokir saya semaunya. Saya heran, kenapa sih saya nggak bisa akur sama mantan?”

Tuh kan. Mantan lagi. Puk puk Bang Har. 

Eh, nggak perlu dipukpukin sih. Karena Bang Haris kuat dalam menghadapi kemantanan. Hal itu terbukti di banyak postingannya.

Ada satu postingannya yang paling aku sukai, dan yakin aku nggak bakal sendirian kalau orang lain pada baca postingan itu. Yaitu Haris Firmansyah dan Relikui Kemantanan. Bang Haris sangat bijak dalam menghadapi para mantan yang singgah silih berganti di hidupnya. Ya, singgah, bukan menetap. Dimasukkannya beberapa film yang sesuai dengan tema postingan itu, bikin aku jadi makin suka. 

Pokoknya, bagi kaum-kaum susah move on yang kalau kata Bang Haris, ngebaca judul film Ant-Man aja jadi Man-Tan. Bakal ngerasa nggak sendirian, termewek-mewek, terhibur, dan termotivasi kalau bacain blog Bang Haris. Ia menulis tentang mantan dengan dewasanya. Hmm, mungkin faktor umur juga kali ya. Kan udah mau umur 24 tuh.

Ngomong-ngomong soal umur, Bang Haris pernah menuliskan beberapa hal yang ingin ia wujudkan sebelum berumur 25 tahun, di postingan Before 25. Postingan itu sangat menginspirasi banyak orang untuk bermimpi dan mengejar mimpinya, termasuk aku yang cuma punya mimpi menikah di umur 24 tahun. Cetek sekali. Beda banget sama Bang Haris yang nggak puas jadi penulis aja, tapi juga pengen menerbitkan komik. Aku bisa jadi pengetik (baca: blogger) erotis aja udah sujud syukur. 

Ya, ada kata komik barusan. Di blognya kita bisa ngebaca postingan yang merekomendasiin beberapa komik keren, trus anime favoritnya, juga ada cerita bergambar (cergam). 

Selain jadi bacaan para kaum sumo (susah move on), blognya juga bisa menjadi surga bagi para pecinta komik dan anime. Kalau bagi para pecinta hentai sih, nggak. Atau belum? Entahlah. 

Bang Haris suka berimajinasi, lalu menuangkannya ke tulisan. Oleh karena itu, kita jadi bisa ngebaca postingan-postingannya yang nge-remake sinetron dan film jadul, ada di awal-awal ia ngeblog. Daya ingatannya yang kuat dan kemampuannya memplesetkan segala hal yang serius jadi lucu, bikin yang baca jadi nungguin postingan-postingan Bang Haris berikutnya.

Di blognya kita juga bisa menjumpai pengamatan-pengamatannya akan banyak hal, lalu dituliskan dengan gaya komedi bikin-ngakak-sampe-basah-mata-loh-ya-bukan-bagian-tubuh-yang-lain. Salah satu postingan observasinya yaitu 7 Artis yang Tidak Boleh Baca Doa Puasa di SCTV. Aku sukses dibikin ketawa ditutup dengan mendesah, saking lucu dan basahnya. Kok bisa kepikiran ya Bang Haris bikin begituan? Hal-hal yang dipandang remeh oleh kebanyakan orang, malah jadi sesuatu di tangan Bang Haris. 

Masih ada lagi. Blog Bang Haris juga memanjakan para pembacanya dengan postingan tentang review film dan bedah lagu. Bukan sembarang review film dan bedah lagu, karena dibumbui dengan gaya penulisannya yang bikin basah itu. Ya, sekali lagi, mata yang basah. Mikir mesum mulu yang baca deh!

Di blognya, Bang Haris punya rubrik Ngobrol-Ngobrol Ngondek yang sedap buat dibaca. Sudah banyak orang-orang hebat yang berhasil ia ajak obrol. 

Salah duanya ada Hadi Kurniawan, sang blogger, penulis, sekaligus sahabat ngondek Bang Haris. Dan ada Milfachu, seorang wanita yang ngomikin Twit-nya Raditya Dika. Ngobrol-Ngobrol Ngondek bukan sekedar ngobrol-ngobrol yang ngondek, tapi juga menginspirasi. Bermula dari iri, kita akhirnya jadi termotivasi untuk bisa seperti bintang tamu NNN. Minimal, termotivasi untuk jadi seperti Bang Haris, yang haus akan ilmu menulis dari para tamu-tamunya itu. 

Blog Bang Haris sama kayak film (500) Days of Summer. Isinya bukan sekedar cerita dari lelaki yang pernah dikecewakan. Mereka berdua nggak menghabiskan hari-harinya hanya untuk merancap sambil mandangin foto mantan. 

Mereka bisa mengejar mimpinya. Tom Hansen mengejar mimpinya menjadi arsitek. Sedangkan Bang Haris mengejar mimpinya menjadi penulis, juga punya blog yang humoris-humoris manis. Blog yang entah disadari empunya atau enggak, telah mengajarkan bahwa sudah nggak jaman lagi mantan jadi alasan buat ngejomblo. Jamannya itu, mantan jadi alasan buat menulis. 

Well, itulah review blog Bang Haris Firmansyah dalam rangka Giveaway 1st Anniversary-nya. Sebenarnya aku rada pesimis buat ikut. Seperti yang udah kalian baca, aku nggak bisa nge-review. Huhuhu.

Kalaupun nggak menang, anggap aja ini kado buat anniversary Bang Haris dengan blognya. Aku cuma seorang blogger, jadi bisanya cuma kasih kado beginian. Coba kalau aku ini penari striptis atau yang biasa disebut stripper, aku bakal kasih Bang Haris lap dance. Alias tarian pangkuan. 

Astagfirullah, kalimat penutup macam apa itu?
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 12 Maret 2016

Jangan Kasih Ini Kalau Nggak Mau Aku Berimajinasi Liar, Mas.

Ngedengarin lagu secara acak itu seru juga.

Nggak jarang lagu-lagu yang ngingatin sama masa lalu mengalun. Contohnya lagu Pemilik Hati-nya Armada. Aku baru sadar kalau dulu pernah jadi Pasukan Armada, bukan cuma jadi Lylaku. Trus keingat cowok-cowok jaman dulu, yang ngikutin gaya berpakaiannya Pasha Ungu. Mau yang ngakunya Ungu Cliquers, atau bukan, pake celana nggak pernah rapi. Sepinggul trus kolornya kelihatan. 

Voice note grup Line WIDY yang aku save dan rekaman suara juga sering keputar. Misalnya kayak voice note-nya Wulan yang, 

“Aku bukan Raisa, Cha. Aku Raiso, ra iso kehilangan kamu.”

Trus voice note-nya Darma yang, 

“Icha, udah adzan itu. Salat dulu. Parah parah parah.”

Atau voice note-nya Yoga yang, 

“Ikkeh ikkeh kimochi!”

Ngakak kalau denger itu. Tapi begitu satu rekaman suara keputar, jadi tertegun.

Rekaman suara itu memuat suaraku dan Zai, lagi debat soal apa keunggulannya film thriller. Rekaman akhir tahun 2014, direkam diam-diam di malam sebelum dia berangkat ke Malang buat training kerja. Ya, aku alay banget.

Kami ngebahas genre film yang paling dia nggak suka, tapi jadi genre film favoritku. Dia bilang, film thriller itu ngebosenin. Satu psikopat ngebunuh orang-orang nggak berdosa lah, ending-nya ternyata hal yang sok-sok nggak terduga lah. 

Dia adalah pecinta film tiga genre ini: horror, animasi, dan fantasi. Ketiga genre yang nggak kusukai. Dulu pernah maksa aku buat nonton Wall-E, dan untungnya aku suka. Waktu dia maksa buat nonton The Lord of The Rings, aku nolak mentah-mentah. 

“Kamu tuh nggak bisa berimajinasi! Pantesan oon. Katanya waktu itu, sambil noyor kepalaku. Sialan. 

Padahal dia nggak tau aja, kalau aku suka berimajinasi liar. Terutama pas nonton film yang hot. Contohnya, pas nonton film 500 Days of Summer. Judulnya hot, bawa-bawa musim panas. 

Dan karena aku ngerasa suka berimajinasi liar, aku jadi ngehindari tontonan di bawah ini, 


1. Film horror. 
Alasan nggak suka sama film horror, karena suka berimajinasi liar tiap habis nonton film jenis ini. 

Bukan, bukan nonton film horror kayak Tali Pocong Perawan, Suster Keramas, atau Nenek Gayung. Itu horrornya cuma tempelan. Dada cewek-cewek di film itu tempelan juga apa enggak, aku nggak tau. 

Aku penakut parah. Jangankan nonton filmnya, baca review-nya aja bikin merinding. 

Hal ini berbanding terbalik dengan Nanda, Dita, dan Dina. Tiga orang sialan selain Zai itu suka banget sama film horror. Mereka nggak akan pernah cocok nonton sama aku. 

Nanda, selalu ngelempar barang apapun di dekatnya kalau aku jejeritan. Dita, negur halus dengan kata-kata nusuk. Dina, sibuk ngetawain aku yang ketakutan.

Imajinasi liarku karena nonton film horror itu biasanya berupa ngerasa ada ‘orang asing’ yang nemeni dan ngeliatin aku. Suka keingatan adegan di film. Suka merinding sendiri cuma karena ngeliat gorden kamar melambai ketiup angin dari kipas angin.

Dan yang paling liar, aku pernah nggak berani mandi sendirian. Dulu pas nonton film The Omen, film tentang anak titisan setan, aku sampe minta ditemenin Nanda mandi. 

Aku takut banget kalau air dari keran tiba-tiba jadi darah, pasta gigi majrot keluar sendiri dari kemasannya, atau tiba-tiba ada hantu keluar dari bak mandi trus berupaya mencabuliku. Padahal di film itu hampir nggak ada adegan berdarahnya, dan tokoh utamanya juga anak imut umur 6 tahun. 

Memang dasar akunya aja yang penakut.

Untungnya Nanda mau, setelah permintaanku buat dia ikut masuk ke kamar mandi ditolak. Dia berdiri di depan pintu kamar mandi. Aku ajak dia ngobrol, nanya-nanya. Misalnya, 

“Sal (panggilan buat Nanda), coba tebak. Ini saya lagi sabunan apa shampoan?”

Dia ngejawab dengan males-malesan, sambil terus ngedesak aku buat cepetan mandinya.

Imajinasi liarku habis nonton film horror, biasanya berlangsung paling lambat tiga hari. Dan tiga hari itu juga aku minta temenin Nanda mandi.



2. Film yang ada adegan anu terluka
Anu yang dimaksud adalah organ manusia yang penting demi kelangsungan hidup. Yaitu mata. Walaupun aku suka film slasher, tapi aku paling nggak suka kalau ada adegan yang nampilin mata lagi diapa-apain. Ditusuk, dicongkel, mata berdarah. Aaaarrrrrgh!

Btw, sampe sekarang aku bingung, slasher itu subgenre thriller apa horror sih?

Lanjut, 

Aku masih kuat pas nonton organ lain yang terluka. Kayak tangan, kaki, atau anu sesungguhnya anu. Masih kuat. Daripada mata.

Dulu waktu nonton Final Destination 5 dalam format 3D bareng Audya, aku nggak bisa nahan jeritan pas ngeliat adegan yang paling aku benci selain penampakan hantu. 

“Ya Allah, itu kenapa matanya berdarah aaaaaaaaaaak!”

Audya, atau yang biasanya aku panggil Abang karena dia tomboy, negur aku dengan anggun. Tapi aku masih keukeh teriak. 

"AAAAAK ITU MATANYA LEPAAAAASSSS!”

“Cha, Cha! Nggak usah ngeremas tanganku coba!”

“BANG! MATANYA MAU JATOH KE AKU! ABAAAANG MATANYA JATOOOOH AAAAAAK KELINDEEEEEES!!!”

Plak!!

Satu-tamparan-mendarat-di-pipi-kiriku.

Hiks. Orang takut bukannya ditenangin, malah ditampar. 

Seandainya tamparan itu bikin aku jadi berani dan nggak teriak-teriak najis lagi kalau nonton film yang ada adegan itu, mungkin aku bakal ketagihan buat ditampar mulu. Tapi yang ada aku tetap takut. 

Nggak cuma film. Kalau dengar berita soal mata, aku suka merinding sendiri. Apalagi beritanya misalnya karena-pake-softlens-mata-jadi-berjamur, karena-pake-softlens-saat-tidur-mata-jadi-buta. Aku jadi berimajinasi yang enggak-enggak. Nyeri di mata langsung berasa. 

AAAAAAAAKKK!!!

Alasan segitu paranoidnya sama adegan mata terluka, karena aku adalah pengguna softlens lumayan sejak lama. Dari kelas 3 SMP. Pemakaian softlens ini karena mataku minus dan males pake kacamata, kecuali di rumah. Mataku minus 5 sejak SD. Dan sering dikatain Betty La Fea. 

Yak, ini Betty La Fea-nya. Bully-nya silahkan kakaaaaak~

Terakhir ngecek yaitu dua tahun lalu, jadi 7,25. Tauk deh sekarang berapa. 

Sebenarnya aku kebal aja dikatain, sampe akhirnya pas SMP, aku jadian sama teman sekelasku. Tapi kami putus karena kalau di kelas, dia nyuekin aku mulu. 

Akhirnya aku tau kalau dia malu pacaran sama aku. Insiden buku diary-ku dan sms-sms dari aku ke cowok itu dibaca di depan kelas, ditertawakan, dan si cowok itu ngomong, 

“Mana mungkin aku pacaran sama Betty La Fea!” 

Jujur, aku nggak sakit hati sama cowok itu. Aku sakit hati karena mataku nggak sehat. 

Jadi pas kelas 3, aku belajar pake softlens sama Kak Fitri, dan jadi pengguna tetapnya sekarang. 

Dengan taunya aku akan bahaya softlens yang dipake terus-terusan, juga adegan-adegan yang melibatkan mata kenapa-napa, bikin imajinasiku jadi liar. Dan bikin takut, tapi anehnya bikin nggak kapok buat pake softlens. 

Aku sebenarnya bingung sama cewek-cewek yang matanya sehat-sehat aja, tapi pake kacamata. Juga sama cewek-cewek bermata minus, tenang dengan kacamata yang bertengger anggun di hidung mereka. Kenapa mereka bisa secantik itu? Kenapa aku nggak bisa sepercaya diri mereka?



3. Video Sukatoro
Orang-orang pasti pernah ngalamin penyesalan yang datang belakangan. Karena aku juga orang, aku juga ngerasain itu. Salah satu penyesalanku adalah menyesal pernah mengenal sukatoro. 

Kira-kira setahun yang lalu, adek kelas waktu SMK ada bikin personal message di BBM, 

“Jangan pernah gugling Sukatoro!”

Karena semakin dilarang malah semakin pengen dilakuin, entah itu hukum alam atau apa, aku malah gugling Sukatoro. Dan hasilnya sialan sekali. Seandainya rasa penasaran itu ada tombol off-nya, mungkin aku udah tekan tombol itu dengan mantap sebelumnya. 

Sukatoro nimbulin imajinasi yang liar banget. Bukan karena adegan enak-enaknya. Nggak ada enak-enaknya sih. Udah dapat dosa, dapat nafsu makan yang turun drastis juga. 

Setelah berhasil ngelupain Sukatoro, aku dihadapin sama film Salo or 120 Days of Sodom. Film keluaran tahun 1976 itu bikin aku penasaran, karena masuk sebagai film paling sadis dan brutal sedunia. Aku pun nyari review-nya. 

Dan ternyata bangke beribu-ribu bangke! Aku langsung close tab. Aku suka cerita brutal sih, apalagi kalau itu film lawas. Tapi nggak brutal kayak gitu juga.

Besoknya, aku cerita sama Kak Fajar soal Salo. Dengan khidmatnya Kak Fajar ngedengerin. Pas istirahat, 

“Cha, coba kesini!” 

Aku pun datangin Kak Fajar yang lagi menghadap ke komputernya. 

Ternyata, dia lagi nonton potongan film Salo dari Youtube. Adegan-adegan yang bikin aku mau ngeluarin isi perut pun terpampang. 

Dia ngakak ngeliat aku lari ke toilet kayak ibu hamil muda. 

KAK FAJAR SIALAAAAAAN!

Aku kesel banget. Imajinasiku bikin aku jadi susah makan. Untung itu udah lama berlalu. Dan aku pikir nggak bakal berhubungan sama Sukatoro dan Salo lagi. 

Tapi beberapa hari yang lalu, di pagi yang mendung enak dibawa makan lontong sayur, Nanda nanya, 

“Ndese, sukatoro itu apa? Saya tanya Rio, teman saya, kok dia malah ketawa?”

Fix, aku nggak jadi ngelahap lontong sayur yang tinggal hap itu. 

Oh iya, bagi yang pengen tau Sukatoro, silahkan gugling aja. Kalau kata Bang Haris di postingan terakhirnya, selamat bersenang-senang!


Setelah nulis kejadian ini, aku jadi tau, aku bukan pecinta film sejati. Aku nggak bisa menikmati semua jenis tontonan. Lama-lama pikiranku melayang, kembali ke imajinasi liar. Hal itu bikin aku ngerasain apa yang film sajikan, seolah-olah aku ngalamin kayak di film itu. 

Seandainya aku juga bisa berimajinasi liar pas ada orang yang curhat sama aku, mungkin aku lebih bisa membantu, bukan cuma jadi pendengar aja.

Seringkali kalau ada yang curhat, dengan entengnya aku ngasih saran, tanpa mikir apa si yang curhat bisa ngelakuin itu. Atau apa aku sendiri bisa ngelakuin itu. Kecuali masalah itu pernah dialamin sebelumnya. Tapi tetap aja, curhatan yang datang, selalu aku anggap aku bisa hadapin kalau aku berada di posisinya. Padahal nggak semudah itu. 

Seandainya imajinasi liarku bisa bekerja di tiap curhatan, bisa ngerasain bener-bener seperti yang dirasain si yang curhat, mungkin aku bakal lakuin apapun supaya dia nggak sedih. Seandainya imajinasi liarku bisa bekerja di tiap pemikiranku akan orang. Orang yang aku pikir sombong, cuek, mesum, apa segala macam, jadi berubah. Aku bisa ngerti kenapa dia kelihatan kayak gitu, nggak perlu nge-judge. 

Btw, ini postingan macam apa? Panjang bener. Padahal aku nggak terlalu suka panjang. Kalau punya kamu nggak panjang, nggak papa. Kan ada vibrator. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 06 Maret 2016

Nggak Cuma Butuh Passion Buat Beli Mansion

Passion dan mansion. Dua kata yang beda pengertiannya, tapi punya dua kesamaan. 

Satu, sama, atau lebih tepatnya mirip dalam pengucapan. Kedua, sama-sama jadi bahan buat diceritain panjang lebar. 

Bedanya, kalau dari kata mansion, dengan mudahnya aku bisa cerita tentang betapa penasarannya aku sama Playboy Mansion. Rumah besar kepunyaan Hugh Hefner, pendiri majalah dewasa Playboy. Rumah yang sering diadakan pesta enak-enak antara Bos besar Playboy dengan para wanita Playboy.

Sedangkan kalau passion, aku ngerasa kesulitan buat nulis soal itu. 

Sampai akhirnya aku keranjingan nonton The Voice Indonesia, lalu keingat sama The Voice USA yang coach-nya ada Adam Levine. Trus baca blog Yomamen.com yang membahas soal passion. Lalu barusan ngebaca postingan Bayu Rohmantika Yamin, yang berjudul Mari Membuat Sebuah Karya, Make Something! Dan aku ingat kalau sebulan yang lalu, aku nonton film Big Eyes. 

Hal-hal itu seolah jadi pendorong buat aku nulis ini. 

Ya, setiap orang pasti punya passion. Passion dan berkarya di bidang apapun, yang seperti ditulis Bayu. Menulis, membuat film, bermusik, Merancang bangunan, pakaian. Fotografi. Memasak. Dan kebanyakan orang berkarya dari passion-nya. 

Tapi, nggak semua orang yang bisa mewujudkan sesuatu dari passion-nya. Nggak semua orang bisa jadi 'seseorang' karena mengikuti passion-nya. 

Contohnya aku.

Acara The Voice Indonesia ngingatin kalau aku punya passion di bidang tarik suara. Aku suka nyanyi. Suka banget. Kak Dayah yang ngenalin aku sama musik waktu SD, pas dia lagi ngefans banget sama Christina Aguilera. Lagu I Turn To You jadi gerbang menuju impian buat jadi penyanyi. 

Pas SMP, aku sempat ikut paduan suara. Tapi itu nggak berlangsung lama karena seringnya aku absen latihan, akibat sakit. Waktu SMP aku memang sakit-sakitan, tapi untungnya waktu itu belum kenal sakit hati karena lelaki. 

Waktu SMK, aku keranjingan nonton The Voice USA. Selain karena coach-nya ada Adam Levine, juga karena aku suka sama konsep ajang pencarian bakat itu. Ada blind audition yang ngebuat para coach-nya hanya fokus ke suara. Yang diandalkan benar-benar suara. Cocok buat aku yang nggak pedean sama penampilan, terutama sama ukuran dadaku yang bukan 34B. 

Tapi aku nggak punya suara yang bagus. Suka nyanyi, tapi nggak bisa nyanyi. Waktu nyanyi lagunya Whitney Houston di kelas pas istirahat, Ariesta, teman sebangkuku, ngehampirin aku dengan panik, 

“Icha, kamu kenapa? Cerita sama aku!”

Aku yang sedari tadi nyanyi sambil mejemin mata, kaget pas buka mata dan ngeliat Ariesta lagi guncang-guncangin bahuku. 

“Hah? Apaan, Ta?” Tanyaku sambil melepas earphone.

“Kamu itu loh, kenapa nangis?” 

Aku yang tambah bingung, untungnya langsung ngeh dan ngejelasin kalau daritadi aku nyanyi, bukannya nangis. Habis itu Ariesta langsung ngakak.

Sialan. Segitu jeleknya suaraku sampe bikin salah paham.

Tapi memang iya sih, suaraku jelek banget. Tiap karaokean, aku suka ngakak sendiri ngedengar suaraku yang kalau nyanyiin lagu mellow atau ballad, kayak orang lagi nangis. Getar-getar sesenggukan gitu. Beda pas nyanyi sendiri pake earphone. Apalagi nyanyi di kamar mandi, suara kedengaran merdu dan powerful.

Fix. Aku nggak bisa nyanyi. Bisanya mendesah doang. Itu juga kayak lenguhan sapi.

Tapi pas tau kalau passion-ku bisa dialihkan ke rapping, aku kembali mutusin buat ngehidupin passion-ku. 

Berawal dari iseng ikut komunitas hip-hop di Samarinda. Trus jadi suka Eminem, diam-diam aku pengen jadi rapper. Untuk jadi seorang rapper, kayaknya nggak perlu suara bagus. Aku tetap bisa nyanyi. Dan kayaknya masih jarang ada rapper cewek. 

Cuman sayang, aku nggak bisa punya flow (jenis suara) pas lagi ngerap. Jadi pas nyanyiin lagu rap, bukan kayak ngerap, tapi kayak baca shalawat dalam tempo cepat. 

Pas belajar beatbox pun, aku juga nggak bisa. Dari dulu sampe sekarang cuma bisanya mentok di B, T dari teknik dasar B, T, K. Yang ngedengerin aku nge-beatbox juga ikutan B T. Alias bete, karena ngeliatin air liur nyembar-nyembur dari mulut.

HUHUHUHU.

Selain bidang tarik suara, aku juga punya passion yang lain. Yaitu akting. Aku suka nonton film, dan selalu merhatiin para pemainnya. Juga ngebayangin kalau seandainya aku yang memerankan peran di film itu. 

Passion-ku itu aku salurkan dengan ikut teater. 

Selama ikut teater, aku ngerasa senang banget. Aku suka dengan kegiatan menghapal dialog dan memainkan peran dari yang serius sampe yang konyol. 

Alhamdulillah, akhirnya aku punya bakat juga.

Sampe akhirnya pas udah kelas dua, punya anggota baru, yaitu para adek kelas. Waktu latihan teater, para kakak kelas dipasangkan sama adek kelas buat mainin satu adegan. Kami memainkan adegan pertengkaran antara Ibu dan anak. Sudah kuduga, aku yang jadi Ibunya.

Tapi nggak kuduga, ternyata pas lagi beradegan marah-marah, aku malah dimarahin sama adek kelas itu. 

“Kak! Yang sangar dong! Muka Kakak kok lucu gitu sih? Aku nggak kuat, Kak. HAHAHAAHA.” 

Dan si adek kelas itu ujung-ujungnya malah ketawa ngakak. Alhasil, kami tukeran peran. Dia yang jadi Ibu, aku yang berperan jadi anak, lagi diomelin sama Ibunya.

Aku pengen nangis rasanya. Udah diketawain adek kelas, diomelin sama dia lagi. Walaupun itu cuma akting. 

Waktu pas disuruh Bu Ida, guru Seni Budaya, buat mendeklamasikan puisi ujian praktek Bahasa Indonesia anak kelas tiga, aku semakin yakin kalau aku nggak bisa akting antagonis. Puisinya tentang perjuangan para pahlawan. Mengharuskanku ngebawainnya dengan berapi-api, dengan amarah, dengan suara lantang. Pas latihan, 

“Nisa, suara kamu memang melankolis gitu ya? Marah, Nis. Marah. Yang membara baca puisinya!”

Waktu itu aku down banget. Ditambah lagi setiap mau pertunjukan teater, aku selalu dapat peran yang karakternya nggak jauh-jauh dari karakterku. Kalau nggak jadi anak-anak, jadi tante-tante, atau jadi orang gila. Aku ngerasa nggak punya bakat di bidang akting. 

Seolah nggak kapok, aku ngerasa punya passion lain. Yaitu di bidang menulis. Aku salurkan lewat catatan Facebook. Lalu akhirnya punya blog. 

Sejauh ini menyenangkan. Banyak manfaat yang aku dapatin selama mengikuti passion-ku yang satu ini. Tapi entah kenapa aku jadi sadar, kalau lagi-lagi passion cuma sekedar passion. Aku nggak berbakat di bidang menulis. 

Aku nggak punya sesuatu yang bisa aku banggain dari tulisanku. Nggak bisa nulis komedi yang bisa bikin ketawa, atau nulis puisi yang bisa bikin orang tersentuh hatinya. Aku juga nggak ngebagiin ilmu apa-apa dari tulisanku. Yang aku bisa lakuin, cuma nuangin apa yang ada di kepala, biar nggak cuma aku aja yang ngerasain. Jenis passion yang kelihatan egois. 

Dan itu kayaknya mempengaruhiku buat nggak semangat nyari kerjaan baru. Banyak yang nyaranin kalau aku mau cari kerja, baiknya sesuai passion. Tapi sekarang aku bingung. Aku sendiri udah nyerah sama passion-ku itu. Passion is bullshit, kalau kata Haw. 

Sekarang, aku ngerasa kalau aku benar-benar bukan siapa-siapa, karena aku nggak bisa ngelakuin apa-apa. Bahkan untuk disebut seseorang pun, kayaknya kebagusan. Sebuah mungkin ya.

Tapi sesuai yang aku bilang di awal, ada empat hal yang bikin aku jadi pengen nulis postingan ini. Dan hal-hal itu juga ngebuka pikiranku akan arti passion sebenarnya. 

Yomamen.com menuliskan kalau passion bukan satu-satunya bahan baku dalam kesuksesan. Nggak berarti setiap keputusan dalam hidup, berkaitan erat dengan passion. Dan kalau kita nggak bisa sukses dari passion kita, bukan berarti kita bener-bener nggak bisa sukses. 

Seperti Walter Keane di film Big Eyes. Dia punya passion di bidang melukis, tapi nggak punya bakat. Lalu bisanya cuma ngakuin karya orang kalau itu karyanya. Karya Margaret, istrinya, jadi korban kelicikannya. 

Margaret punya passion di bidang yang sama, punya bakat yang luar biasa. Tapi kepribadiannya yang tertutup, pendiam, takut mencoba mengenalkan lukisannya pada dunia, ngebuat dia nggak sukses, dan malah suaminya yang sukses. 

Hal itu bikin aku mikir, passion memang benar-benar bukan satu-satunya. Kita juga butuh bakat dan kerja keras. Kita butuh tindakan. Kalau hanya mengandalkan salah satunya, kita nggak bisa jadi apa-apa. 

Mungkin kalau aku mau kerja keras, mau bertindak lebih jauh, aku bisa jadi penyanyi, rapper, atau beatboxer. Mungkin aja aku bisa jadi aktris sekelas Meryl Streep. Atau mungkin jadi sutradara film thriller psikologi, atau drama erotis. 

Mungkin tulisan ini bisa jadi motivasi buat diriku sendiri agar tetap nulis. Mungkin aku memang nggak bisa nulis kayak kebanyakan orang.

Dulu aku sempat berpikiran, kalau lebih baik takut hantu daripada takut jadi diri sendiri. Tapi akhirnya aku takut dua-duanya juga. Dan sekarang aku nyoba buat kembali takut sama yang pertama, ditambah sama takut telat datang bulan.

Karena benar apa yang dibilang Bayu di postingannya, 

“Yakinlah bahwa hasil tulisan kalian pasti membuat perbedaan, setidaknya untuk diri sendiri. Jadi, berbanggalah menjadi seorang blogger.”

Dan mungkin, tulisan ini bisa jadi motivasi buat aku, atau siapapun, buat cari kerja. Buat dapat penghasilan yang banyak trus punya mansion juga kayak Hugh Hefner. Buat lepas dari rasa terlalu nyaman di rumah terus-terusan. 

Dan lepas dari pemikiran nggak punya apa-apa buat ditonjolkan, selain dada.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 01 Maret 2016

Orangtua Selalu Benar

Akun @accamotong, akun Twitter mesum-mesum bijak kesukaan Wulan, pernah nge-twit begini, 

“Manusia terlalu pintar, sudah tidak tergoda sama dosa. Setan bingung. Lalu setan menjelma jadi sabun dan gadget. Setan berhasil.”

Seperti biasa, aku ngakak kalau bacain twit @accamotong. Termasuk twit barusan. Tapi kali ini, aku gatal mau nambahin. 

Kalau setan bukan menjelma jadi sabun dan gadget aja, tapi juga jadi acara Grammy Awards 2016. 

Karena kejadian seminggu yang lalu. 

Waktu itu, jam menunjukan pukul sebelas malam. Mama yang baru pulang dari pengajian, nggak habis pikir ngeliat aku yang masih melek aja jam segitu. Dengan takzimnya aku masih dengerin lagu dan grepe-grepe layar hape. 

“Kenapa masih belum tidur?” tanya Mama, udah siap mau marah. 

“Belum ngantuk. Oh iya, coba nonton Dangdut Academy, Ma. Saipul Jamil-nya udah nggak ada lagi loh.” 

Aku langsung ngambil remote, mindahin channel-nya ke Indosiar. Perhatian Mama langsung teralihkan. 

Yak. Bagus. 

Seterusnya aku dan beliau malah ngobrolin soal Saipul Jamil, bukannya nonton TV. Beliau masih nggak percaya dengan kasus yang membelit juri favoritnya itu. Belum lagi yang dicabuli bukan ABG cewek montok, tapi ABG cowok. Eh, montok juga sih. Mungkin yang di hap-hap sama Saipul Jamil, itu bagian yang montoknya. 

Mendingan makan sosis empuk deh, Bang Ipul.
Obrolan kami berdua yang udah kayak pillowtalk antara ibu dan anak itu (karena meningkatkan keharmonisan), tiba-tiba kepotong,

“Ndese, acara Grammy-nya malam ini tauk! Ini teman saya nonton!”

Nanda yang aku pikir udah tidur, tiba-tiba menyodorkan hapenya. Ada personal message temannya yang ngasih tau kalau lagi nonton Grammy Awards 2016, tayang di salah satu stasiun TV. 

“Loh, bukannya malam besok ya?”

“Nggak tau nih. Masa’ dia bohong?”

Gairahku buat nonton, langsung meledak-ledak. Ada banyak penghargaan dan performance yang pengen aku lihat dari ajang penghargaan musik bergengsi itu. Sebenarnya aku udah ngerencanain, besoknya bakalan tidur dulu habis Isya, trus bangun pas acaranya dimulai. Tapi pas tau kalau tayang malam itu, aku nggak bisa nahan birahiku lagi. 

AKU HARUS NONTON! HARUUUUUS! 

Berhubung pengen fokus nonton dan nggak mau ganggu tidurnya Mama serta Nanda, aku mutusin buat nonton di ruang tengah. Lalu tidur di kamar bawah. Bukan tidur di kamar biasa, di kamar atas, kamar kami bertiga tidur. Bagi yang udah pernah baca postingan-postingan sebelumnya soal Mama, udah tau kalau kami bertiga tidur satu kamar, beda tempat tidur. Dengan tujuan supaya Mama bisa ngontrol kami biar nggak tidur telat.

“Ma, Icha ke bawah ya. Mau nonton Grammy.” 

“Apa itu? Begadang kah kamu?”

“Acara musik. Hehe. Iya, begadang. Hehe,” jawabku sambil cengengesan. 

“GAK USAH NONTON! KAMU MAU SAKIT LAGI KAH, CHA? BEGADANG TERUS!”

Suara Mama sontak meninggi. Aku yang udah biasa mengalami momen kayak gitu, diam sambil menekuk muka. 

Ada Justin Bieber loh, Cha. Menang Grammy pertama kalinya! Ada Joey Alexander juga, pianis dari Indonesia! Ada Kendrick Lamar borong banyak penghargaan! Ada Taylor Swift, masih kurus kering aja walaupun udah banyak uang! Kamu nggak mau liat?

Bisikan-bisikan gaib itu mengusik, mengiringi omelan Mama yang panjang. Ngedorong aku buat ngebujuk Mamaku supaya dibolehin. 

“Kan begadangnya sesekali juga, Ma. Lagian, Icha udah sembuh kok. Boleh ya?”

Tiba-tiba Mama merebahkan tubuhnya ke kasur, lalu diam. Nggak nanggepin omonganku. Aku ngelirik Nanda sekilas, nyari teman buat ngebaca situasi. Tapi yang ada, Nanda udah tidur. Atau pura-pura tidur. Entahlah. 

Sampe akhirnya, Mama bersuara, 

“Cha, kalau kamu sakit, Mama juga sakit. Mama tuh sakit mikirin kamu yang sakit. Waktu kamu sakit radang tenggorokan, nggak bisa makan, Mama juga nggak bisa makan. Waktu kamu masuk rumah sakit, Mama nggak bisa tidur ngeliat kamu nangis habis disuntik antibiotik. Waktu kamu sering pingsan di sekolah, Mama di rumah mikirin terus. Tekanan darah Mama naik. Sekarang kamu mau begadang? Kamu udah sering begadang. Begadang itu bikin sakit, Cha.”

Butuh waktu yang cukup lama buat mencerna kalimat yang terlontar dari mulut Mama. Suara Mama pelan, serak, dan mengucapkannya dengan terbata-bata. 

Bukan kayak Mama yang aku kenal. 

“Kamu nggak kasihan sama Mama?”

“Kamu nggak mau diurusin sama Mama lagi?”

Suara Mama semakin serak. Aku menatap ke bawah, nggak berani menatap Mama kayak tadi. Pertanyaan Mama sungguh buat aku ngerasa, aku anak paling durhaka sedunia. 

Posisiku yang daritadi duduk, udah siap mengangkat bokong buat keluar dari kamar, jadi berubah. Aku merebahkan badanku dengan perlahan, bersamaan dengan melepaskan earphone dari kedua telingaku, yang dengan perlahan juga. 

Malam itu, aku nggak ditemani lagu-lagu mellow menjelang tidur seperti biasanya. Aku ditemani oleh renungan. 

Lebih tepatnya, penyesalan. 

KENAPA AKU TADI MAU NONTON GRAMMY? PADAHAL BAGUS UDAH NGGAK DIOMELIN KARENA BELUM TIDUR. PADAHAL BAGUS TADI HUBUNGAN UDAH HARMONIS SAMA MAMA. KENAPA HAH? KENAPAAAA?

SEMUA GARA-GARA GRAMMY! AAAAAARRRRGGGGGH!

Eh, enggak. Grammy nggak salah apa-apa. Aku yang salah. 

Sebagai anak, aku terlalu egois. Selama ini aku hanya mikirin diriku sendiri. 

Aku kesal kalau nggak dibolehin bawa motor pas jalan malam. Aku kesal kalau diomelin pas pake earphone sebelum pergi. Aku kesal kalau dilarang buat begadang. Aku kesal kalau dipaksa buat makan banyak. Aku kesal ngeliat Nanda yang dilarang pergi ke tempat karaoke dengan alasan, tempat karaoke itu tempat zina. 

Sebulan yang lalu, aku sempat kesal karena nggak dibolehin dimutasi ke Balikpapan. Kesal yang sebentar, karena aku pikir, mau hidup kayak gimana aku disana. Suasana kantor juga udah nggak mendukung. Akhirnya aku memilih resign. Dan kekesalanku kembali hadir, pas beliau ngelarang aku buat cari kerja. 

“Di rumah aja dulu, istirahat. Kamu udah mau cari kerja, karena nggak betah kah di rumah sama Mama?”

Ih, si Mama. Suudzon aja sih sama anak. Pikirku waktu itu. 

Dan malam itu, aku kesal sama Mama lagi. Lalu berujung dengan Mama yang kelihatan sedih. Bukannya ngomel atau ngelempar aku pake remote TV, kayak biasanya. 

Mungkin Mama udah tau kalau anaknya ini adalah seorang masokis. Yang kalau dipukul atau digampar, bukannya kesakitan, malah keenakan. Malah horny, minta lagi. 

EH, ENGGAK. Aku bukan masokis, dan bukan itu alasannya. Mungkin Mama udah terlalu kecewa sama aku.

Aku yang nggak pernah ngerti cara Mama menyayangi anaknya. 

Malam itu, aku cuma bisa menatap Mama yang udah tertidur. Dan besoknya, sampai sekarang, aku masih belum bisa minta maaf dan berterima kasih. Minta maaf karena jadi anak yang nggak bersyukur. Berterima kasih, karena beliau sudah jadi orangtua yang super. Jadi Ibu yang perhatian dan tegas. 

Mungkin, upayaku sekarang buat menghindari larangannya dan jadi anak yang lebih penurut, bisa jadi pengganti. Mungkin, permintaan maaf dan terima kasih nggak harus ditunjukan lewat ucapan, tapi lewat perbuatan.

Setelah kejadian itu, aku jadi mikir. Kalau bukan cewek yang selalu benar, apalagi pacar. Orangtua yang selalu benar. Mereka menyayangi kita dengan cara mereka sendiri, yang mungkin nggak langsung terasa benar bagi kita. Larangan dan kekangan yang mereka terapkan pada kita, mungkin awalnya kelihatan salah. Tapi suatu saat, kita bakal mengerti kalau larangan-larangan itu demi kebaikan kita juga. 

Orangtua selalu benar. Nasihat dan saran mereka adalah segalanya. 

Kecuali kalau mereka memaksa kita buat berbuat jahat sama tetangga, buat jadi pengikut Syiah, atau buat jadi budak seks seorang penganut BDSM kayak Mr. Grey, di film Fifty Shades of Grey.

Well, sebenarnya aku takut buat posting ini. Takut yang baca bakalan rame-rame ngutuk aku jadi batu, patung, atau gedung pernikahan. Soalnya kayak nyebar aib sendiri. Tapi entahlah, akhirnya aku posting juga. Apa adanya. Karena kata Yoga, 

“Menulis dengan jujur itu lebih kerasa feel-nya.”

Jadi, selamat ngutuk aku rame-rame. Dan cintai orangtua kalian. Karena ridho Allah, tergantung ridho dari orangtua. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com