Sabtu, 27 Februari 2016

Sepotong Hati di Segelas Milshake Coklat (Bagian Enam)

Sahabat bercinta yang berbahagia, maksudnya sahabat yang dipenuhi dengan cinta. Cerita bersambung dari WIDY kini hadir kembali. Dan sudah (atau baru?) memasuki bagian enam. Bagi yang ingin membaca asal usul lahirnya cerbung ini, bisa baca di postingan INI. Serta bagian satu sampai bagian empat cerbungnya, bisa dibaca di laman Yoga atau laman Wulan .

Dan bagian kelimanya bisa dinikmati di blog Wulan. 

Lalu, selamat menikmati bagian enam ini sampai klimaks~ 




***
Namun usaha Agus tidak sampai di situ. Ia masih percaya akan pertemuan-pertemuan berikutnya. Terlebih ketika Mei bilang “See you”. Dua kata yang sangat bermakna bagi Agus. Yang menumbuhkan harapan.

***

Agus berjalan ke parkiran dengan langkah yang sangat lambat. Dengkulnya terasa begitu lemas seperti sehabis masturbasi.

Ia masih memikirkan kejadian tadi.

Agus sudah berusaha membuang rasa malunya untuk meminta kontak Mei. Sudah merasa perkenalan mereka berjalan mulus, semakin akrab saat ngobrol, lalu akhirnya yakin akan perasaan sukanya terhadap Mei. Ingin melanjutkan ke tahap selanjutnya, pendekatan. Agar setiap kali kangen, ia bisa langsung mengontak Mei tanpa uring-uringan.

Namun, dengan mudahnya Mei mengatakan,

"Lain kali aja, ya. Kita juga baru kenal."

Kalimat yang tidak enak didengar. Kalimat yang langsung meremukkan hati Agus. Bodohnya, Agus masih memikirkan Mei.

Setelah itu, Agus mulai mencoba untuk melupakan Mei sejenak, lalu menuju ke tempat motornya diparkir.

Di jalanan pulang,  ia berteriak tak karuan sambil bernyanyi random, 

“Pandangan pertama, awal aku berjumpa... ARGGGHHHH!!!”

Kondisi jalanan lumayan lancar sore itu. Tapi, begitu di tengah-tengah perjalanan, Agus terjebak macet. Ada perbaikan jalan. Untuk melalui jalanan itu harus bersabar atau bisa memilih jalur lainnya. Namun, banyaknya kendaraan yang memilih memutar dan melewati jalur lain, membuat kemacetan semakin parah.

Anehnya, Agus tetap memilih bertahan di tengah-tengah kemacetan. Saking muaknya dengan macet, perlahan-lahan ia mulai terbiasa. Atau justru dia mulai mencintai kemacetan.

Agus mengeluarkan hape dari saku kiri celananya, mengambil earphone di tas, dan memasangnya ke kedua telinganya. Mencoba menikmati jalanan sore yang macet ini dengan mendengarkan musik. Lagu diputar secara acak. Sedihnya, lagu-lagu mellow yang justru menemaninya sepanjang kemacetan.

Sambil menikmati liriknya yang puitis dan melankolis, terdapat suara gaib yang muncul tiba-tiba di dalam kepalanya.

“LAGIAN KITA BARU KENAL”

“KITA BARU KENAL”

“BARU KENAL”

Ingatan tentang kejadian meminta pin BBM di Widy Cafe terkenang kembali.

Ya, Mei memang baru mengenal Agus sebentar saja. Tapi berbeda dengan Agus, ia merasa sudah cukup lama mengenal Mei. Meskipun cara mengenalnya hanya memerhatikannya dari kejauhan.

Ada rasa menyesal karena telat mengajak berkenalan. Ada rasa menyesal lainnya kenapa ia harus berkenalan.

Ia sempat berpikir Mei tidak memberikan pin karena sudah memiliki pacar. Entahlah.

Agus kemudian sadar. Kalau perempuan cantik tidak mungkin jomlo. Hanya sekitar 20% saja pastinya.

Sepuluh persennya karena gagal move on dari mantan, sedangkan yang 10% lagi karena seorang lesbian. Ia pun sadar betul akan hal itu.  LGBT memang sedang marak akhir-akhir ini.

Tapi kenapa malah berharap terlalu banyak?

Karena Agus sudah terlanjur suka. Tidak begitu peduli meskipun Mei sudah memiliki pasangan, ataupun ternyata seorang lesbian.

Terkadang, mengagumi atau menyukai seseorang secara diam-diam dan memerhatikannya dari jauh tanpa mengenal orang itu rasanya sudah cukup bahagia.

Tapi terkadang pula, bisa mengajak kenalan seseorang yang kita kagumi itu lebih membahagiakan. Meskipun pada akhirnya, perkenalan itu tidak berjalan dengan baik.

Baru saja ia mulai tertarik dengan seorang perempuan. Baru saja harapan itu tumbuh.

Namun, seketika itu juga dia harus menahan sesak di dada saat sadar akan beberapa kemungkinan. Mungkin Mei hanya ingin Agus menjadi teman ngobrolnya di cafe.

Dalam artian lain, Agus terkena “ngobrolcafezone”

***

Sesampainya di rumah, Agus langsung memarkirkan motornya begitu saja. Rasanya ia ingin sekali melupakan kejadian sore tadi. Tidur adalah satu-satunya cara yang terlintas di pikiran Agus.

Untuk melupakan senyum Mei. Melupakan kacamata yang bertengger anggun di hidung mancung gadis bermata sipit itu. Melupakan ekspresi lucu wajah Mei saat meminum frappuccino. Dan berharap bisa melupakan semua percakapan dan perkenalan yang pernah terjadi di antara mereka.

Agus memasuki rumahnya dengan langkah lunglai. Ia bersyukur, di rumah tidak ada siapa-siapa. Ibunya mungkin belum pulang bekerja. Jadi ia tidak perlu takut diomeli seperti biasa karena pulang telat. Sesampainya di kamar, Agus langsung merebahkan tubuhnya. Ia ingin mengubah skenario kejadian akhir di kafe tadi, walaupun hanya dalam mimpi.

Baru saja Agus larut dalam lelapnya, ada suara langkah kaki mengusik. Lalu suara pintu digedor.

"Gus... Gus! Buka pintunya! Bego amat dah segala dikunci!"

Ah, ganggu orang tidur aja! 

Agus terbangun dari tidur.

Suara yang tidak asing lagi. Suara yang mulai mengusiknya kembali setelah sekian lama.

***
BERSAMBUNG


Note: Bagian tujuh sudah diposting oleh Darma. Bisa dibaca di sini. Terima kasih sudah membaca ya :)
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 23 Februari 2016

Maunya Tidur Halal Sama Bang Zayn Aja

Dari awal Februari sampe sekarang, aku dibikin eargasme sama Pillowtalk, single dari album solo-nya Zayn Malik.

Btw, eargasme itu beda sama orgasme. Kalau eargasme itu bahasa slang yang artinya kecenderungan dengerin satu lagu berkali-kali, kalau orgasme itu..... cari sendiri deh. Aku masih polos soalnya. 

Eargasme-ku ini karena ulah Dina. Dengan gencarnya dia ngerekomendasikan lagu dari mantan personil One Direction itu. Bukannya dengan alasan, 

“Cha, lagunya romantis! Kamu harus denger!”

“Zayn tumben bawain lagu R&B. Kamu kan suka tuh R&B, Cha!”

Eh malah, 

“Dengerin deh, Cha. Pillowtalk itu istilah seks. Lumayan buat nambahin kosakata vulgarmu.”

Sialan. 

Tapi akhirnya aku termakan bujuk rayu Dina juga, dengan download lagunya. Awalnya sih ngebosenin, bikin ngantuk. Tapi lama-kelamaan jadi asik di telinga. Suara powerful dan jernihnya Zayn bikin ketagihan buat didengerin mulu. Kalau aku denger lagu ini, bawaannya pengen diimamin pas salat. Suaranya pasti bagus banget kalau adzan dan baca surah Al-Fatihah.

Maaf ya, Wulan, aku suka calon suamimu ini. HAHAHA.

 Brewoknya nggak nahan, Bang. Minta banget dielus

Btw, cerbung WIDY bagian lima udah dipublikasikan, di blog Wulan. Selamat membaca!

Balik lagi ke Zayn.

Keputusannya buat bersolo karier memang tepat. Dia udah kayak mantan personil grup musik jaman dulu, yang sukses banget karena bersolo karier.

Zayn udah kayak Beyonce yang keluar dari Destiny’s Child.

Di MV-nya, Zayn bermesraan bareng Gigi Hadid, supermodel Victoria’s Secret. Aku pikir mereka pacaran. Tapi katanya sih cuma good friends. Jadi good friends di barat sana gitu ya, bisa deket-deketan.


(BTW INI NGGAK PAPA MV-NYA AKU TAMPILIN? TAKUT DIGREBEK FPI NIH)

Aku jadi penasaran sama makna lagunya. Nggak paham sama istilah pillowtalk. Sebenarnya liriknya udah gamblang menggambarkan kalau lagu ini tentang aktivitas di ranjang. Dan ada liriknya yang menarik, 

“In the bed all day, bed all day, bed all day

Fucking you and fighting on

It’s our paradise, and it’s our war zone.”

Terlihat kalau Zayn itu romantis, dinamis, dan erotis di ranjang. 

Tapi aku masih nggak paham apa itu pillowtalk

Pas googling, aku nemuin kalau pillowtalk adalah obrolan sebelum atau sesudah tidur dalam suasana intim yang dilakukan suami-istri, guna meningkatkan kualitas hubungan. Two pillows, million talks.

Aku melongo baca itu. 

Dan jadi mikir, kalau seandainya aku nikah nanti (masih lama, Cha!), kayaknya aku nggak bakal ngelakuin pillowtalk

Golongan darahku AB, dan yang bergolongan darah itu, katanya mudah ngantuk. Itu terbukti di aku dan Bapakku. 

Bapak suka tidur tiba-tiba pas kami lagi nonton film dan ngobrolin soal tokohnya. Pas nikahan Kak Dayah, kami yang mau foto sekeluargaan sibuk nyariin Bapak dimana. Ternyata beliau lagi tidur pulas di rumah tetangga. Huhuhu. 

Like father like daughter. Aku juga nggak jauh beda sama Bapak, mudah ngantuk. Dan di bawah ini pengalaman-pengalaman tidur sembarangan berkesanku.

HELEH. BERKESAN GIGIMU!


1. Tidur di kelas

Kejadian ini waktu aku masih kelas 1 SMK. Aku pernah posting kejadian ini waktu awal-awal ngeblog, di postingan INI

Di hari Senin itu, pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia. Pelajaran yang harusnya menyenangkan, tapi jadi menghanyutkan karena yang ngajar itu Bu Mur. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia yang kalau ngajar, udah kayak ngedongeng. Pelan dan halus meninabobokan. Tapi giliran ngomelin murid, suaranya kenceng banget. 

Aku yang malam sebelumnya tidur di rumah sakit ngejagain Bapak yang di-opname, ngerasa ngantuk banget. Cuaca yang nggak begitu panas, ditambah suara mendesah dari mulut Bu Muryati, bikin aku ketiduran. 

Itu udah kedua kalinya aku tidur di pelajaran Bu Mur. Tapi itu pertama kalinya aku nggak dibangunin sama Dina, teman sebangkuku waktu itu. Aku bangun sendiri. Tapi begonya, aku langsung ngambil air mineral gelas dari tas. Asal ngejebolin atasnya, trus airnya tumpah menyembur. Menarik perhatian seisi kelas.

Entah dengan motif apa aku main ngejebolin air mineral gelas. Mungkin waktu itu lagi ngigau. Huhuhu.

“HAIRUNNISA TIDUR LAGI?”

Sekelasan langsung ketawa ngedengar suara melengking Bu Mur. 

“Anu, Bu. Saya tadi malam jagain Bapak saya di rumah sakit...”

“Halah, nggak tiap hari kok!”

What the... aku salah sih udah tidur di kelas, tapi....

Selanjutnya aku disuruh keluar dari kelas. Selain buat mengeringkan rok yang basah ketumpahan air mineral, juga buat nggak boleh ikut pelajaran beliau waktu itu. 

Hiks. 

Jangan ditiru ya, anak-anak. 


2. Tidur di pelantikan teater. 

Ini juga waktu kelas 1 SMK, waktu aku dan Nina ikut ekstrakulikuler teater. Kami harus ikut pelantikan sebagai anggota, yang diadain di Taman Budaya, hari Sabtu sore sampai Minggu siang. Aku ingat kejadian ini gara-gara baca postingannya Wahyu. Yang dialami Wahyu, kurang lebih sama kayak aku alamin.

Pelantikannya lumayan melelahkan. Tapi nyenengin. Cuma yang betenya, kami harus pake papan nama dari kakak senior buat identitas diri. Jadi nggak boleh nyebutin nama selain yang ketulis di papan. 

Sari, anggota baru juga, papan namanya bertuliskan, “Congor Trotoar. ” 

Nina papan namanya, “Jengkol Keriting.” 

Dan aku, “Pipi Burit.”

Waktu itu memang pipiku lagi binal-binalnya. Hiks.

Sekitar jam dua dini hari, ada perenungan. Para anggota baru maupun lama duduk melingkar. Kami dicekoki pengandaian kalau orangtua kami meninggal dunia. Disuruh merenung dan menangisi diri kami yang masih belum bisa berbakti pada orangtua.

Otomatis, suasana waktu itu jadi haru. Penuh dengan isak tangis dan suara ingus ditarik. Termasuk aku, yang sedih begitu ngebayangin ditinggal orangtua buat selama-lamanya. 

Tapi sedihku nggak berlangsung lama. Aku nguap selebar-lebarnya. Ngantuk banget. Aku langsung ketiduran.

Ya, disaat teman-temanku nangis mikirin orangtua, aku malah tidur pules. Anak macam apa aku ini?

Untungnya aku bisa kebangun dengan anggun. Pas perenungan selesai. Itupun gara-gara Nina yang bangunin. Eh, Nina apa Kiki ya. Aku lupa.

Yang jelas, aku ingat ada suara dari kakak senior, ngomong sama temannya.

“Pipi burit tidur pas perenungan? BANGSATNYA!”

HUHUHUHUHUHUHU.


3. Tidur dibangunin customer

Entah berapa kali aku ketiduran di kantor waktu masih kerja, pas jadi customer service. Pas jadi admin, mulai berkurang sih. 

Tapi biasanya aku ketiduran di ruang admin. Teman-teman juga pada maklum. Tapi pas ketiduran di meja customer service dua tahun lalu, aku malu.

Waktu itu aku dilanda bosan. Mungkin hujan adalah penyebab sepi customer. Kak Indra, yang juga customer service, sibuk bemesraan sama Blackberry-nya. Ketawa-ketawa sendiri.

Aku menopang daguku, trus dengerin lagu. Entah karena lagu yang didengerin pada mellow atau karena faktor cuaca, aku pun ketiduran. 

Sampe akhirnya, aku ngedengar suara meja diketuk-ketuk. Sayup-sayup kedengaran suara, 

“Mbak, selamat sore, Mbak. Saya mau service.”

Sontak aku bangkit dari posisiku, yang ternyata udah berubah. Kepalaku jadi selonjoran di meja. Dengan gelagapan, aku ngerapiin posisi dudukku sambil tersenyum canggung. 

“Bisa di meja sebelah sini, Pak.” Kata Kak Indra tiba-tiba. Mempersilahkan si Bapak untuk dilayani olehnya.

Aku langsung lari ke belakang. Cuci muka, trus ngaca. Rambutku udah kayak Medusa. Kuwel-kuwel berantakan. Mataku udah kayak Edward Cullen. Merah. 

HUAAAAAA SUMPAAAAH MALU BANGEEEET!

Aku mastiin si Bapak udah pergi. Pas aku kembali ke mejaku, Kak Indra ngetawain sambil masuk ke dalam buat kasih tau yang lain. Trus mereka pada ngeliatin CCTV, ngeliat pas aku ketiduran dan dibangunin sama customer

Untungnya supervisor-nya itu kakak sepupuku sendiri. Dia cuma ketawa ngakak sambil nyubit tanganku. Kalau bukan, mungkin aku udah ditendang hari itu juga kali.


4. Tidur di lampu merah

Ini sebenarnya nggak cuma sekali, tapi udah berkali-kali. Dan selalu berakhir dengan klakson panjang juga beruntun dari motor-motor di belakang. Huhuhuhu. Biasanya karena aku begadang pas malamnya, cuacanya lagi dingin, atau jalan sendirian dan lampu merahnya lama. Kayak mendukung banget buat tidur. 

Tapi sebenarnya tidurku nggak lelap. Tidur ayam, kalau kata orang. Tetap aja sih ngantuk, tetap aja nikmat. Makanya aku suka dengerin lagu di jalan, buat ngehindarin dari ketiduran. Maunya sih ngajak kenalan pengendara motor di samping, buat ngehindarin ketiduran. Tapi takut dikira jambret.

Sekali lagi, jangan ditiru ya, anak-anak. Ketiduran maupun dengerin lagu di jalannya.


Nulis empat pengalaman diatas, bikin aku ngerasa hina. Juga ngerasa aku nggak bisa pillowtalk. Boro-boro ngobrol, baca doa aja kayaknya nggak sempet. Eh, Astagfirullah. Aku baca doa kok sebelum tidur. 

Semoga aku nggak kayak Janus di film Kala, penderita narkolepsi (serangan tidur tiba-tiba tanpa mengenal waktu dan tempat), sampe istrinya minta cerai. Jangan sampe. 

Dan biarpun nggak bisa pillowtalk, aku tetap pengen tidur halal sama Bang Zayn. Ya, sama Bang Zay(n).

Duh, terakhirnya alay, Cha. Hoek.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 20 Februari 2016

Sabar Itu Dinamis, Bukan Dimanis

Menurutku, film adalah bentuk lain dari seorang Mario Teguh.

Film juga bijaksana, jadi ‘pendengar’ curhatan kita (walaupun cuma satu arah), bahkan jadi pemberi solusi dari masalah kita itu. Kita bisa belajar banyak hal dari satu film. Tanpa perlu menyaksikan seorang bapak-bapak tua berkepala botak dan bernada suara khas, sedang menasihati kita dari layar televisi.

Banyak film yang bisa diambil pelajarannya. Contoh, kita bisa belajar tentang arti kesetiaan, dari seekor anjing jenis akita bernama Hachiko, di film Hachiko: A Dog’s Story.

Kita bisa belajar mencintai diri kita apa adanya. Tanpa perlu berbohong cuma karena ingin dianggap keren, setelah nonton film Easy A.

Kita bisa belajar bahwa seks sebelum nikah itu bikin kita nggak bisa mewujudkan cita-cita. Apalagi kalau kondom pasangan sampai tersangkut di organ kewanitaan, kayak yang dialami Rosie, di film Love, Rosie.

Super sekali. Kondomnya bisa nyangkut di organ kewanitaan.

Termasuk film The Shawsank Redemption. Film yang diadaptasi dari cerita pendek Stephen King itu adalah film favoritku. Aku bukan cuma favoritin, tapi ngerasa film ini udah kayak soulmate.

The Shawsank Redemption rilis tahun 1994, tahun dimana aku dirilis, eh dilahirkan. Trus Tim Robbins, pemeran utama film ini, kelahiran Oktober. Sama kayak aku. 

Alasan terakhir aku nganggap film ini belahan jiwaku, yaitu Wulan pernah bilang kalau Tim Robbins itu om-om ganteng, lebih ganteng udah tua daripada pas mudanya. Ya, aku dan Wulan sama-sama penggemar om-om.

Kurang soulmate apalagi coba?

Tapi sebenarnya bukan cuma itu, alasan aku memfavoritkan film yang menempati posisi nomor satu IMDb dari dulu sampai sekarang ini. Dari The Shawsank Redemption, aku jadi tau arti sabar sesungguhnya.

Film The Shawsank Redemption bercerita tentang seorang bankir muda ganteng bernama Andy Dufresne (Tim Robbins) yang dituduh membunuh istrinya sendiri dan selingkuhan istrinya, padahal dia nggak ngelakuin itu. Andy harus mendekam di penjara bernama Shawsank, dengan masa hukuman dua kali seumur hidup.

Di penjara, dia harus menerima penderitaan, terutama di awal-awal mendekam. Dia diincar dan dipukuli oleh geng homoseksual bernama The Sisters, diperlakukan semena-semena oleh kapten sipir penjara, dimanfaatkan oleh kepala penjaranya bernama Samuel Norton. Nggak adil banget, untuk seorang berpendidikan dan nggak bersalah kayak Andy.

Tapi filmnya nggak selalu bikin kita ngerasa kasihan. Andy sahabatan sama sesama tahanan, bernama Red (Morgan Freeman) yang easy going juga pengertian. 

Andy dan Red, menggambarkan kalau persahabatan bagai kepompong

Sifat Andy yang cool dan cerdas juga bikin senyum-senyum. Dan lagi, ending dari film ini, bikin aku mikir. Kalau sabar itu bukan dimanis,  tapi dinamis.

Hehe. Agak maksa ya.

Hmm. Maksudnya, sabar itu bukan hanya soal manisnya, bukan hanya soal hasilnya, ketika sabar itu berbuah manis. Kesabaran Andy Dufresne dalam menghadapi penderitaannya di penjara, atas kesalahan yang nggak dia lakukan, bikin aku mikir kalau sabar itu dinamis, bukan statis.

Menurut KBBI, dinamis adalah penuh semangat dan tenaga sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan dsb, mengandung dinamika. Sedangkan statis, adalah keadaan diam (tidak bergerak, tidak aktif, tidak berubah keadaannya).

Dengan kecerdasannya, Andy Dufresne berhasil menipu daya Norton yang memanfaatkannya itu. Dengan ketekunannya, dia berhasil kabur dari penjara. Dia melakukan tindakan dalam bersabar. Dia nggak diam begitu aja, menerima kenyataan. Dia nggak mengeluh dan menantikan keajaiban datang. Dia membuat keajaiban.

HUAAAA KEREEEEN. AKU MAU NGECUP KENINGNYA SI ANDY, YO OLOH.

Pengen rasanya nerapin bersabar ala Andy Dufresne, tapi aku nggak yakin kalau aku bisa, karena suatu malam. 

Malam tanggal 9 Februari, aku chat sama Zai. Menanyakan apa tanggal 10, dia jadi pulang.

“Nggak jadi, Seng. Cutiku diundur bulan Maret. Ternyata nggak disetujui bulan ini. Soalnya masih banyak kerjaan.”

Ngebaca chat itu, spontan aku meremas pipiku. Mengusap kedua mataku dengan kasar.

AKU NGGAK MAU NANGIS. AKU NGGAK MAU NANGIS. NGGAK MAU. NGGAK MAU!

Buat apa aku nangis? Di bulan Desember dan Januari kemarin, aku udah puas ngeluarin air asin dari mataku. Buat apa sekarang aku ngeluarin lagi?

TAPI AKU MUAK. MUAAAAK! KENAPA AKU SAMA DIA GAGAL KETEMU LAGI? KENAPAAAAAA?

Setelah beberapa lama, aku langsung matiin data selulerku. Aku nggak mau pura-pura nggak sedih karena kebatalan pulangnya, dengan ngomongin hal-hal sok lucu.

Habis itu aku langsung nelpon Wulan. Tapi nggak kunjung diangkat. Mungkin Wulan lagi ada kesibukan, atau hapenya lagi di-charge. Bodohnya, aku nggak nyerah gitu aja. Aku tetap nelpon Wulan. Pake ngehubungin Darma segala, nanyain Wulan.

Aku pun mutusin buat nelpon Dina. Seperti biasa kalau aku curhat kayak gini, dia ngetawain isak tangisku. Bukannya nenangin.

“Salahku apa, Din? Ini udah ketiga kalinya dia batal pulang. Dulu dia bilang mau pulang sebelum tahun baru. Tapi ternyata batal karena ada kunjungan gitu. Trus dia mau pulang Januari, ternyata diundur Februari. Nah pas Februari ini, malam sebelum harusnya dia pulang, aku dapat kabar dia nggak jadi pulang. NGGAK JADI LAGI. Kenapa kami kayak nggak diizinkan buat ketemu, Din?”

Nggak ada jawaban dari seberang sana. Antara ngebiarin aku larut dalam tangisanku, nungguin kalimatku selanjutnya, atau ketiduran.

“Kamu tau, Din. Kami udah nggak ada telponan kurang lebih dua bulan ini. Sinyalnya makin susah disana. Dia juga sering lembur. Chat juga makin jarang, palingan seminggu itu tiga kali. Sekarang, dia nggak jadi pulang lagi. Dinaaaaaa, salah kami apaaaaaaa?”

“Mungkin ini supaya kalian nggak mesum pas hari Valentine kali,” jawab Dina, disusul dengan gelak tawanya.

Sialan. Teman macam apa ini orang. Hina Dina!

Seterusnya kami ngerumpiin teman sekelas dulu, bernama Nia. Dia sempat jadi pelaku LDR karena pertukaran mahasiswi ke Bali selama tiga bulan. Di masa-masa LDR-an itu, dia rajin meng-update personal message-nya dengan menghitung hari. Hari menuju dia kembali ke Samarinda.

Contoh,

“71 hari lagi. Kangen kamu, Sayang.”

“70 hari lagi. Ini orang kalau aku butuh, dia nggak ada.”

“69 hari lagi. Hari aja bisa 69, gaya 69 sama kamu kapan bisanya?”

Eh, enggak ding. Yang terakhir itu bohongan.

“Jangan kepedean ya, tapi kamu itu jauh lebih tegar loh daripada Nia. Dia kerjaannya ngeluh mulu di BBM. Padahal masih bisa komunikasian sama pacarnya. Telponan, chattingan. Bahkan pacarnya pernah datangin dia ke Bali. Kamu ada lihat DP-nya dia kan? Tapi dia masih aja ngerasa LDR itu berat. Dia nggak sabaran.”

“Hahaha. Tapi, Din, dia itu sabar kok. Sabarnya dinamis. Berusaha buat ngejalanin LDR-nya. Selalu ngejaga komunikasinya sama si pacar. Berusaha buat ketemu. Sedangkan aku? Komunikasi aja nggak bisa. Apalagi ketemu. Nggak perlu nyebrang pulau sih buat ketemu Zai. Tapi gimana mau kesana? Mau tidur dimana aku? Di hutan? Aku statis, Din. ”

”Hmm. Tauk deh. Yang jelas, kalau Zai bukan jodohmu, kamu rugi udah nangis kayak gini.”

Obrolan kami selanjutnya malah ngomongin film, trus dia nanyain kenapa tulisanku di blog selalu vulgar. Huhuhuhu.

Kelar telponan sama Dina, aku aktifin data seluler. Ada chat bertubi-tubi dari Wulan.

Aku meneruskan curhatanku ke gadis penyuka jengkol itu. Isak tangisku yang tadi udah reda, kembali meledak. Aku ngebalas chat dari Wulan sambil sesekali menghapus air mata dan ingus yang keluar.

Wulan sempat ngira kalau Zai cuma ngerjain aku. Rasanya aku pengen banget percaya itu. Tapi aku tau, Zai bukan tipe orang kayak gitu. Dia nggak seromantis dan sekurang kerjaan itu.

“Kesel deh aku sama bosnya. Kalo nggak bisa, bilang dari jauh hari, dong. Bilang saat Zai minta cuti. Sumpahin kena muntaber.”

Chat dari Wulan bikin aku tertawa kecil, lalu membalasnya.

“Sama, aku juga kesel. Padahal dari hari Sabtu dia udah berkemas mau pulang. Pengen banget nyumpahin kepala si bosnya bocor kejatuhan kelapa sawit. Aaaaaaaaak!”

“Kesel parah, taunya di-cancel. Iya iya, sumpahin palanya bocor!”

Aku spontan ngakak. Dalam bayanganku, Wulan udah kayak ibu-ibu yang murka karena vas bunganya rusak kena tendang anak tetangga.

Curhat dengan Dina dan Wulan, bikin tidurku nyenyak malam itu. Besoknya, aku bangun dengan nyoba nerima kalau hari itu bukan hari kepulangan Zai. Aku nggak mikir kejauhan lagi, mikir kalau ini pertanda kami harus jalan masing-masing atau gimana.

Dan aku jadi tau, ternyata kalau aku mau, aku bisa sabar dengan dinamis.

Walaupun aku nggak bisa kayak Nia, yang selalu komunikasian sama pacarnya. Atau kayak Kak Roy dan Kak Maulida, yang saling mengunjungi satu sama lain, Kak Roy di Samarinda dan Kak Maulida di Jakarta.

Tapi aku bisa berusaha buat menyibukkan diri, supaya nggak ngedrama nangis nggak jelas. Dan aku bisa berdoa. Semoga dia baik-baik aja. Semoga kami memang baik-baik aja, kalau memang jodoh. Semoga dia nggak tergoda janda muda, dan aku nggak dilahap om-om gadun.  

Oh iya, berdoa itu dinamis kan? Bukan statis?
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 17 Februari 2016

Cowok Melankolis Is Dead....pool

Judul postingan ini terinspirasi dari postingan ulasan film Deadpool di blog movie review favoritku, Distopiana.com.

Kata Tomyspradana, pemilik blog Distopiana, ini poster film Deadpool paling sialan. Bahahaha.

Dengan judul Romance is Dead....pool, film Deadpool di-review dengan singkat, padat, makin menimbulkan gairah buat nonton, dan menurunkan ekspetasi. 

Aku yang awalnya mikir kalau bakal dapat paket lengkap, meliputi alur cerita yang bagus, premis ciamik, dan karakter tokoh Deadpool yang kocak, setelah baca review itu jadi berharap sama poin terakhir aja. Distopiana.com menggambarkan kalau film Deadpool itu premisnya biasa aja, aktingnya Ryan Reynolds yang luar biasa. 

Sama kayak kamu. Mukamu sih biasa aja, tapi ukuranmu luar biasa. Gede dan panjang. Ukuran sepatumu maksudnya. Sampe 44 gitu.

Tapi aku nggak kecewa sih. Alasanku nungguin film Deadpool dari tahun kemarin itu karena ngefans sama Ryan Reynolds. Aku bukan penggemar fanatik Marvel atau penikmat film-film superhero. Film superhero yang aku suka pun cuma Spiderman. Itupun gara-gara suka sama karakter Mary Jane yang diperankan Kirsten Dunst. Tambah suka pas The Amazing Spiderman, karena ada kembaranku, Emma Stone. Berperan sebagai Gwen Stacy. Hohoho.

Yang bikin kecewa, aku nggak bisa nonton tepat di hari pertama, tanggal 10 Februari kemarin. Karena waktu itu masih sakit radang tenggorokan. Tambah sakit pas ngeliat personal message orang-orang di BBM, nyeritain kalau habis nonton Deadpool. Belum lagi pas ngeliat tweet Bang Haris, 

“Deadpool lucunya pol!”

AAAAARRRRRGGGGGHHH!!

Untungnya, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang nggak ngebiarin aku berlama-lama larut dalam kekecewaan dan kesakitan. Setelah ngebujuk Mama buat bisa nonton dan bisa bawa motor sendiri, akhirnya tanggal 15 kemarin aku nonton juga. 

Awalnya ngerencanain nonton bareng Dina, Dea, Chintya, dan Wahyu. Tapi Chintya dan Wahyu nggak jadi nonton, dengan alasan katanya Deadpool dilarang tayang di China. Mereka berdua menghindari tontonan yang dilarang. 

Sungguh pasangan kekasih yang barokah. 

Jadilah aku nonton bareng Dina dan Dea. Kami janjian langsung ketemu disana. Dina yang (tumben) udah nyampe duluan langsung beli tiket, memilih bangku F. Tau aja sih itu anak, itu bangku favoritku. Soalnya F itu huruf depannya fuck. Fuck you with love


Sambil nungguin Dea, kami ngobrolin soal aktor favorit kami, Ryan Reynolds. Kami penasaran sama akting Reynolds sebagai superhero slengean, karena selama ini kami taunya dia main di film kayak The Proposal, R.I.P.D, Buried, dan The Voices.

Kami sama-sama bukan penggemar film X-Men dan film-film Marvel, jadi belum pernah ngeliat performa Reynolds sebagai Deadpool. Sempat tau sih kalau Reynolds pernah jadi superhero lain, yaitu Green Lantern. Tapi katanya film itu masuk dalam daftar film terburuk sepanjang masa. Mungkin gara-gara itu si seksi Scarlet Johansson cerai dari Ryan Reynolds. Entahlah.

Nggak lama setelah peringatan untuk memasuki teater 4 berkumandang, Dea pun datang. Aku langsung memeluknya dengan dramatis. Sontak Dina menyeret kami untuk segera masuk ke dalam teater. 

Begitu filmnya mulai, aku udah dibikin ngakak. 

Opening credit-nya sialan! Seolah memperolok-olok filmnya itu sendiri. Ditambah dengan lagu Angel of The Morning-nya Juice Newton membuka filmnya, bikin tambah ngakak nggak nahan. Nggak sinkron banget, opening yang jenaka sinis dipadukan dengan lagu lawas romantis macam Angel of The Morning. Kayaknya habis ini lagu itu bakal jadi lagu yang bikin aku ngakak tiap dengernya, bukannya jadi lagu yang bikin aku pengen bobo manis. 

Untuk sinopsis film Deadpool, nggak usah aku tulis ya. Udah banyak yang nulis soal itu. Dan lagi, aku nggak bakal nahan buat nggak nulis selengkap-lengkapnya. Ntar jadinya spoiler. Ya, aku memang nggak bakat buat jadi movie blogger

Aku malah ngerasa berbakat jadi kaum minoritas pas nonton film Deadpool bareng Dina dan Dea. Aku udah kayak kaum LGBT di antara sekumpulan orang-orang yang kontra sama legalisasi cinta sesama jenis. 

Di antara kami, yang suka sama mulut kotor Deadpool, kayaknya cuma aku. Dina juga suka sih, tapi kalau dilihat dari ekspresinya pas nonton, dia biasa aja. 

Beda sama aku, yang horny sama karakter Deadpool yang bermulut pabrik komedi vulgar itu. Nggak terhitung berapa kalimat yang Deadpool lontarkan, sukses bikin aku ngakak sambil mukulin lengan bangku teater dan lutut sendiri. 

Deadpool bener-bener bermulut sampah. Selera humornya yang aneh, majas innuendo (majas sindiran yang bersifat mengecilkan fakta yang sesungguhnya) yang bertebaran, bercandain beberapa film, yaitu Taken dan 127 Hours. Aku sukaaaaaaa! 

Rasa sukaku berubah jadi cinta karena film ini pake metode breaking the fourth wall, yaitu bicara sama penonton, seolah-olah nganggap penonton sebagai ‘sahabat’-nya. 

HUAAAA. AKU CINTA BANGET SAMA DEADPOOL! CINTA SAMA RYAN REYNOLDS JUGA! CEPAT CERAIKAN BLAKE LIVELY, REYNOLDS! NIKAH SAMA AKU AJA! KITA KAN SAMA-SAMA KELAHIRAN OKTOBER! AAAAAK!

Dan di antara kami bertiga, cuma aku yang ngakak nggak tau malu. 

Waktu Deadpool ngelontarin banyolan soal X-Men, aku nggak ngakak, karena nggak ngerti. Begitu pun juga Dina dan Dea. Pas adegan Deadpool menghirup asap dari pistolnya, trus dia ngomong, 

“I’m gonna touch myself tonight!”

Dan subtitle-nya nayangin kalimat, 

“Aku akan merancap malam ini!”

Aku spontan ngakak sengakak-ngakaknya. Sambil teriak, 

“AAAAAAAAKKK HAHAHAAHA BAHAHAHAHA SIALAAAAAAN!”

Bodohnya, aku ketawa sampe bisa ngedengar suara ketawaku sendiri. Aku ketawa sendirian, dan seheboh itu. Sementara Dina dan Dea, diam kalem. Trus ngeliatin aku dengan tatapan aneh.

Aku langsung cengengesan membuang malu.

Rons Onyol Imawan pernah nge-tweet di akun @movfreak, kalau dia ngalamin hal itu juga, ketawa sendirian pas di scene itu. Tapi dia bangga. Sedangkan aku ngerasa malu campur sedih. Aku ngerasa kotor udah ketawa sendirian, ditambah ngetawain kalimat itu. 

Btw, merancap itu melakukan rancap. Yang mana rancap itu artinya.... masturbasi. 

Aku semakin ngerasa sedih begitu Deadpool ngomong ke Weasel, temannya.

“I want a blowjob.”

Lagi-lagi aku spontan menyemburkan tawa. Ngakak heboh lagi. 

“Din, blowjob itu apa?” 

Suara Dea menghentikan tawaku. 

“Tanya aja sama pakar seks di sebelahmu tuh,” jawab Dina datar. 

HIKS.

Seterusnya aku tetap ketawa sendirian. Dina dan Dea ketawa sih, tapi yang menurutku lucu, mereka nggak ketawa. Menurutku biasa aja, mereka ketawa. Mereka kayak kompakan ngacangin aku. Aku teman yang tak dianggap. 

Pengen rasanya gabung aja sama cowok-cowok di bangku belakang, yang waktu scene Deadpool ngomong blowjob, mereka ketawa. Biar aku ada teman ketawanya.


Catatan: yang dilingkarin merah itu cowok-cowok yang aku maksud. Kayaknya sih mereka yang ketawa, dan kok bisa pas gitu ya, bertiga kayak kami? Apakah kami berjodoh dengan mereka? Btw, itu Dina mukanya ngeselin ya, Sok-sok candid.

Ternyata ketawa sendirian jauh lebih ngenes daripada jalan sendirian. Lebih ngenesnya lagi, pas nyadar kalau tawa itu membuktikan, kalau kepolosan berpikir kita udah rusak kalau dibandingin sama kepolosan berpikir teman nonton kita. Huhuhu. 

Tapi akhirnya, aku dianggap teman juga sama mereka. Pas adegan terakhir, lagu Careless Whisper-nya Wham! mengiringi momen Wade Wilson alias Deadpool bareng Vanessa. 

Aku ngakak sambil ngeliatin Dina dan Dea. Spontan kami bertiga nyeletuk, 

“Lagu Gramed!”

Habis itu kami ngakak bareng. Nggak jelas banget.

Ya, lagu itu dulu (atau sampai sekarang ya?) sering diputar di Gramedia, tapi versi instrumentalnya sih biasanya. 

Selesai nonton, kami mutusin buat menuntaskan rasa lapar dengan makan. Lebih tepatnya, menuntaskan rasa rindu, karena lebih banyak berbagi cerita selama nggak ketemunya daripada makannya. Kami bertiga juga berbagi pendapat soal film Deadpool. 

Dea sempat ngira kalau film Deadpool itu film horror, karena judulnya yang bawa-bawa kata “dead”. Dina bilang kalau dia lebih suka Ryan Reynolds berakting di film drama atau film romantic-comedy. Teman sebangkuku waktu SMK itu ternyata satu pemikiran dengan Distopiana. 

Film Deadpool bagi mereka adalah penggabungan dari formula film superhero kacangan dan film romance kacangan. Alurnya biasa aja, premisnya juga nggak wah. Ending-nya bikin pengen ngomong, 

“Udah, gitu doang?” 

Film Deadpool bukan tentang misi menyelamatkan dunia, tapi lebih ke balas dendam, yang sebenarnya bisa dibilang kayak menyelamatkan dunia. Dan, Deadpool juga bukan superhero, tapi antihero. Dia ada ngomong, 

“I didn’t ask to be super. And I’m no hero.”

Selain bukan superhero, film Deadpool juga bukan tontonan yang bagus buat orangtua dengan anak-anaknya, atau om dan tante dengan keponakannya. Tapi kalau mau ditonton sama tante-tante girang bareng berondongnya, atau gadun bareng dedek gemesnya, boleh lah. 

Jadi Dina malah merindukan peran Reynolds yang melankolis. 

Tapi Reynolds dengan perannya sebagai Deadpool, tetap jadi cowok yang melankolis.

Ya, dengan sotoynya aku beranggapan kalau Deadpool itu melankolis.  Dia sayang banget sama Vanessa sampe rela mengambil jalur yang salah demi bisa sembuh. Dia ngerasa malu banget sama mukanya yang berubah jadi jelek. Dia punya masa lalu yang pahit dan dia depresi.

Rasanya cuma cowok melankolis yang punya perasaan sehalus itu. Bukan cowok sanguinis, cowok koleris, atau cowok plegmatis. 

Deadpool adalah sosok cowok melankolis yang bukannya memilih jalur menye-menye dalam menyalurkan perasaannya. Bukan dengan nulis diary, bikin puisi menyayat hati atau berdiksi indah, nangis di bawah shower. Tapi lewat banyak bicara dan berkelakuan nyebelin. 

Dia adalah tokoh protagonis (sebenarnya jahat sih, tapi membunuh orang-orang yang lebih jahat). Tapi karena eksperimen yang dilakuin si bajingan ganteng Ajax alias Francis, bikin dia jadi punya alter ego bernama Deadpool, si protagonis sadis. 

Deadpool juga sebenarnya romantis, sifat yang ada pada diri orang melankolis. Selain masih galauin satu wanita yaitu Vanessa, ada beberapa momen romantis (sekaligus konyol) yang dia ciptakan bareng wanitanya itu. Mulai dari Deadpool melamar Vanessa, Deadpool yang merhatiin wajah Vanessa lekat-lekat, Vanessa yang bilang sayang sama Deadpool, sampe pas Vanessa ngomong dengan berapi-api ke Deadpool, 

“Asshole!”

So sweet. 

Deadpool terlihat apatis padahal melankolis. Dengan segala tingkah dan ucapannya yang kotor, ngebuat orang-orang mikir dia itu sosok paling berandalan sedunia. Bikin dia terlihat nggak peduli apapun termasuk dirinya sendiri. 

Tapi sebenarnya jauh di dalam dirinya, dia itu rapuh, merasa kecil, dan butuh perhatian, juga kasih sayang. 

Ngeliat Deadpool, aku berasa ngaca.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 14 Februari 2016

Demi Tenggorokan, Kucinta Sabu-Sabu

Dulu aku pernah sempat punya cita-cita pengen jadi angel.

Bukan, bukan angel yang artinya malaikat, semacam manusia dermawan berhati malaikat yang membantu orang-orang kesulitan. Bukan juga jadi Angel Lelga, sosialita istri siri (eh apa istri kedua ya?) Rhoma Irama.

Tapi jadi angel-nya Victoria’s Secret. Angel adalah sebutan untuk model yang tampil di pagelaran Victoria’s Secret untuk mempromosikan produk pakaian dalam wanita tersebut.

Cita-cita yang mulia banget kan? Iya, mulia buat dijadiin alasan orangtua buat ngegeplak anaknya.

Aku juga punya cita-cita ini bukan karena suka sama dunia modeling, apalagi karena ngerasa ukuran dada dan bokongku layak dipertontonkan. Bukan banget. Aku merancang cita-cita ini karena ngerasa, aku punya hal yang nggak dipunyai sama model-model kebanyakan. Yaitu, aku nggak bisa gendut.

Dengan kelebihan (atau lebih tepatnya kekurangan) itu, aku nggak perlu diet ketat sampe harus punya penyakit bulimia atau anoreksia, cuma demi dapatin badan kurus. Karena nggak makan sehari aja berat badanku bisa turun beberapa kg. Aku nggak perlu sok-sok menghindari makanan ini itu, mengurangi jatah makan, karena memang dasarnya aku nggak doyan makan. Aku nggak perlu sit up buat ngecilin perut, karena kalau aku makan banyak, larinya malah ke pipi.

HAHAAHAHAHAHAHAHAHA. JADI MODEL TERNYATA MUDAH BANGET, CYIN.

Tapi impianku buat jadi angel pun pupus.

Karena masih mikirin nama baik keluarga. Karena tinggi badanku cuma 162 cm dan jadi angel itu minimal harus 179 cm. Karena harus ke San Fransisco buat audisi jadi angel. Dan karena nggak ada angel yang sakit-sakitan.

Ya, karena kebiasaanku yang nggak doyan makan, aku jadi sering sakit.

Waktu masih sekolah, aku sering pingsan waktu upacara bendera. Sekarang juga sih, terakhir pingsan waktu jalan sama Dita. Tahun kemarin, aku masuk rumah sakit dan dirawat inap selama seminggu. Seminggu yang lalu, aku sakit radang tenggorokan.

Awalnya pilek, trus sakit kepala yang lumayan nyiksa. Aku pikir maag akutku kambuh lagi, tapi pas dibawa makan, susah buat nelan. Sakit banget, udah kayak ada luka di tenggorokan. Keesokan harinya malah tambah sakit, dibawa nelan ludah aja sakit. Pas ngomong, ketawa, dan nguap, sakitnya tetap terasa. Sialan.

Demam juga ikut berpartisipasi. Jadilah pilek, sakit di tenggorokan, dan demam berkolaborasi menciptakan rasa sakit yang nggak manusiawi. Waktu buka chat WIDY, Yoga ada bilang kalau dia lagi sakit. Dan sakitnya kurang lebih sama yang aku rasain. Sialan banget. Ini radang tenggorokan lagi ngetrend apa ya?

Selama sakit, aku mikir kira-kira apa yang bikin aku sakit kayak gini.

Apa karena aku malas makan?

Apa karena aku suka begadang?

Apa karena aku suka latihan mendesah nggak ingat waktu?

Tapi ternyata sakitku ini disebabkan karena panas dalam, juga iritasi. Ada bercak-bercak putih pada tenggorokanku. Selama ini aku kurang  minum air putih, terlalu banyak makan makanan pedas dan berminyak.

Sakit itu mengharuskanku buat banyak makan. Tapi masalahnya, makanan favoritku jadi makanan yang diharamkan selama sakit. Makanan-makanan pedas, makanan-makanan yang dibakar, makanan-makanan yang digoreng. Selain diharamkan, makanan-makanan itu juga seolah nggak bisa terima aku apa adanya yang lagi sakit. ‘Mereka’ nggak mau aku telan, lebih memilih buat keluar secara utuh maupun udah jadi muntahan.

Kan nggak lucu, aku makan tapi cuma dikulum di mulut.  Itu lagi makan apa blow job?

Satu-satunya makanan yang bisa terima aku apa adanya, yaitu bubur ayam.

Sumpah, selain mie ayam, sebenarnya nggak ada makanan berkuah yang aku suka. Aku nggak suka bakso, rawon, sop, soto. Di saat teman-temanku pada melahap dengan binal bola-bola daging bakso, aku malah sibuk menerka-nerka umur abang tukang baksonya berapa tahun.

Nggak terkecuali bubur ayam.

Tapi karena cuma itu yang bisa dimakan, jadi tiap hari aku melahap makanan yang nggak aku suka itu. Awalnya memang nggak suka, tapi lama-kelamaan aku jadi suka sama cita rasanya yang asin-asin gurih.

Aku jadi suka sama teksturnya yang lembut, nggak perlu dikunyah. Tinggal telan, lalu masuk dengan leluasa melewati tenggorokan, melewati proses pencernaan dengan anggun. Aku jadi suka sama warnanya yang putih suci menggoda, dihiasi dengan suwiran ayam, potongan tomat, daun seledri, daun bawang yang sudah dicincang, bawang goreng, dan kerupuk. Aku jadi suka sama peranan bubur ayam buat jadi salah satu 'tokoh' di sinetron, sampe ngebuat sinetronnya jadi beribu-ribu episode. 

karena nggak sempat motoin bubur ayam yang sering dimakan,
 jadi ngambil gambar bubur disini

Hmmm. Mamamia lezatos!

Bubur ayam pun jadi menu makan siang. Lalu jadi menu makan malam.  Makanan tiap hari yang anehnya bikin aku nggak kenal istilah enek, sampai akhirnya sembuh.

Ternyata memang benar, cinta bisa tumbuh dari kebersamaan.

Alhamdulillah, berkat cinta sama bubur ayam, aku udah sembuh. Jadi bisa kembali beraktifitas dan nggak perlu masuk rumah sakit karena gara-gara malas makan trus akhirnya maag kambuh lagi.

Aku jadi mikir, kenapa model-model itu nggak makan bubur ayam aja kalau mau tetap makan tanpa harus diet ketat. Bubur ayam itu mengenyangkan dan juga sehat. Kayaknya cocok aja dimakan buat orang yang takut gendut.

Dan aku nggak bisa ngebayangin kalau Komo sakit radang tenggorokan juga kayak aku. Ya, Komo Ricky. Host acara Katakan Putus.

Tadi aku iseng googling makanan favoritnya, aku baca dia suka bakso sama pecel. Kira-kira dia bakal kayak gimana ya? Apakah dia bakal suka sarapan bubur juga kalau sakit radang tenggorokan, demi bisa marah-marah lagi di Katakan Putus?

Lah, kok malah ngomongin Komo. Gini deh, kalau orang yang nggak suka makan, trus nulis dengan tema makanan.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 11 Februari 2016

Phobia Stand Up Comedy

Banyak yang berpendapat kalau maraknya stand up comedy di pertelevisian Indonesia, bikin jenis komedi ini jadi kelihatan murahan dan kehilangan taringnya. 

Tapi aku nggak begitu sependapat. 

Untuk murahannya, sebenarnya aku sependapat. Cara menyajikanya kebanyakan malah membelokan apa yang sebenarnya dimaksud stand up comedy itu, sehingga jadi kelihatan ngedrama. Disingkapnya hal-hal pribadi komika bikin penonton pengen nanya, 

“Ini stand up comedy apa acara rumpi?” 

Untuk kehilangan taring? Aku malah mikir, taring stand up comedy masih ada, bahkan lebih tajam. Taring itu mampu menggigit semua kalangan buat menikmatinya. Yang nggak punya channel Kompas TV di rumahnya buat nonton SUCI, yang kelewatan Stand Up Comedy Metro TV, yang jadi fakir kuota trus nggak bisa buka Youtube. Nggak hanya masyarakat yang bisa nikmatin keuntungan maraknya stand up, tapi juga para komikanya. Seperti kata Pandji Pragiwaksono

“Supaya lebih banyak panggung tersedia, lebih banyak kesempatan, lebih banyak penonton, lebih banyak rezeki untuk komika Indonesia.” 

Bagiku sendiri, dengan adanya fenomena ini, bikin aku bisa nyembuhin phobiaku. Phobia stand up comedy. 

Ya, phobia macam itu memang nggak ada sih. Yang ada malah phobia-nikah-sama-Ge-Pamungkas-karena-takut-dimadu-soalnya-Ge-itu-ganteng-banget-pasti-banyak-yang-mau-jadi-istrinya.

Tapi dengan sotoynya aku nyiptain jenis phobia itu. Karena tragedi di tahun 2014 lalu.

***
2014

Setelah dua tahun nggak ada nonton open mic dan show stand up comedy lokal lagi, karena Wilda sibuk kerja, akhirnya aku nonton lagi. Kak Ira ngajakin aku buat nonton Arie Kriting dan Mongol Stress di salah satu kafe di Samarinda. Aku baru tau kalau dia ternyata suka stand up comedy dan fans berat Arie Kriting. 

Dan aku baru tau kalau Mamaku bakal ngijinin aku jalan jam sembilan malam, asalkan sama kakak sepupu.

Sisa malam itu. Di-upload biar nggak dibilang hoax. Dihoekin boleh kok

Sejak saat itu, aku kembali jadi penikmat stand up. 

Dua minggu kemudian, aku, Dita, Kak Ira, Kak Indra, Kak Uun dan Kak Fajar nonton TDTB (Tawa Dari Timur Borneo). Nampilin para komika dari Samarinda, Balikpapan, Sangatta, dan Bontang. 

Aku memilih duduk paling depan bareng Dita dan Kak Uun, sementara yang lain udah dapat tempat di belakang. Dita langsung mencak-mencak kesel ngeliat jarak antara tempat duduk dan panggung cuma beda lima langkah.

“Tan! Nanti kalau kita diolokin mereka, gimana? HUAAAA.”

“Kerajinan banget mereka. Nggak bakal. Tenang aja.” Kataku kalem.

Pas bagian komika bernama Kago (nama disamarkan) tampil, banyak yang jadi korban riffing-nya. Ada anak cowok SMA, cewek SMP, sampai..

“Hai, kesini sama siapa?”

Tiba-tiba Kago yang habis nge-riffing anak SMA, langsung nyosor pertanyaan ke aku. 

“Sa-sama temen.” Jawabku gelagapan, kayak kepergok lagi mesum.

“Bagus, jangan pulang dulu ya.” Katanya cepat, lalu berbalik badan dan bikin penonton kembali ngakak. 

Selesai acara, Kago nyuruh aku dan Dita nunggu di luar. Kami mengiyakan. Nggak lama kemudian, dia datang dan minta pin BBM-ku. 

Kirain yang tadi itu bagian dari jokes. Kak Ira dkk ngakak sambil ngeciye-ciyein di telingaku. Sialan. 

Tiga hari kemudian, aku jalan bareng sama Kago. Cuma makan siang bareng, dan Zai juga nggak pernah ngelarang aku buat jalan sama cowok. 

Tapi begitu pulang, aku mikir....

KOK AKU BEGO BANGET YA MAU JALAN SAMA DIA KAYAK ORANG PACARAN GITU?

KOK AKU NGGAK TAU DIRI?

AAAAAAKKK ZAIIII MAAAFF!!!

Habis itu aku nggak ada kontakan sama Kago lagi. 

Kejadian itu sempat bikin aku malu buat nonton open mic yang diadain setiap Jumat malam. Tapi Kak Ira ngeyakinin aku kalau aku nggak perlu malu.

Lagian, open mic-nya seru banget. Komikanya ada beberapa yang kukenal. Eqy, teman sekelasku waktu SMP yang dari dua tahun lalu sampe sekarang masih konsisten stand up. Kak Ikhsan, kakak kelasku sekaligus teman satu angkatannya Kak Ira, waktu SMK.

Dan Clarity (nama disamarkan), komika idolaku, juga idola Wilda. 

Terakhir lihat Clarity, waktu dia di Pre Show 2 SUCI 4. Waktu itu mataku berkaca-kaca, ngeliat wakil Samarinda bisa ada di panggung sebesar SUCI, walaupun nggak sampe final. Sekarang, aku senyum-senyum, ngeliat idolaku itu berdiri di depanku. Dia masih aja berkharisma, dengan muka seadanya.

Lalu, 

“Itu mbak-mbak yang duduk disitu, berdua aja ya? Yang satunya berjilbab tuh.”

Aku sama Kak Ira spontan celingak-celinguk, nyariin mana yang dimaksud Clarity. Nggak ada. Cuma kami yang lagi berdua trus satunya pake jilbab, yaitu Kak Ira. 

“Mbaknya namanya siapa ya?” Clarity nunjuk ke arahku.

“SAYA?” 

“Iya, namanya siapa?”

“Icha.”

“Sama, nama saya juga Icha.”

“Ichantik ya?” tanyaku, mencoba melucu. Padahal lagi nutupin kegugupan. 

“Bukan. Icha aja. Kalau kamu Icha-nya Clarity, kalau aku Clarity-nya Icha.”

What the f. 

Di-riffing sama komika yang selain bikin aku sama Wilda jadi stalker di akun medsosnya, juga jadi stalker di dunia nyata. Karena pernah ada niatan mau ngebuntutin dia pulang cuma buat tau rumahnya dimana. 

HUAAAAAAA!!!!!

Singkat cerita, aku dan Clarity jadi dekat. Clarity mengisi kekosongan hari-hariku dengan banyolan, ledekannya, dan gombalannya di Path, chat Line, dan di telpon. Dia nyariin aku kalau aku telat balas chat. Nggak kayak Zai, yang kayaknya mau nyariin aku kalau aku telat datang bulan. 

Dia ngasih perhatian yang sebisa mungkin aku anggap biasa aja. Ya, sebisa mungkin. Karena jujur, perhatiannya itu terasa istimewa. 

Bisa dekat sama dia itu udah kayak mimpi lama yang baru terwujud. Doa malam yang baru terjawab.

Puncaknya, kami berdua jalan dan nonton. Dia jauh lebih menyenangkan daripada waktu di panggung. Apapun yang ada di sekitar, dia jadikan bahan obrolan mengocok perut.

Sampai akhirnya, aku ngerasa ada kupu-kupu yang mau majrot dari perutku. 

Waktu antri tiket, Clarity nyuruh aku ngikat tali sepatuku yang terlepas. Karena lagi rame dan males nunduk, aku bilang nggak mau. Dia bersikeras nyuruh aku, tapi aku tetap pada pendirian. 

“Kalau diikatkan, baru aku mau,” kataku dengan nada bercanda.

Clarity langsung membungkuk mengarah ke sepatuku. Tangannya dengan cekatan menyeriusi candaanku barusan. 

OMAIGAT. ZAI MANA PERNAH DAN NGGAK BAKAL MAU BEGINI, SIALAAAN! 

Rasa kagumku berubah jadi lebih. 

Hubungan kami semakin intens. Aku jadi mendepak Zai dari pikiranku, dan ngegantiin dia dengan Clarity. 

Tapi lambat laun, aku sadar kalau aku bodoh. Zai pun akhirnya tau karena si bodoh ini mengaku. Sebagai laki-laki yang punya harga diri, dia marah besar. Tapi kayaknya dia nggak punya otak. Dia malah maafin aku. 

Ya, kami berdua memang pasangan yang nggak punya otak. 

Pasca kejadian itu, selain berusaha buat ngembaliin kepercayaan Zai lagi, aku juga berusaha buat ngatasin rasa takutku. Aku ngerasa semua komika lokal tau kebinalanku. Sudah Kago, sekarang Clarity. Pas beberapa kali nonton open mic, aku sering nundukin pandangan. Ketawa sekalem mungkin. Aku takut. 

Terakhir kali nonton, waktu show-nya Ernest Prakasa. Saking takutnya, aku nyaris pipis di celana.

***

Ya, sekarang aku udah nggak phobia stand up comedy lagi. Karena stand up udah banyak di acara-acara TV. Juga karena, aku harus memaafkan diriku sendiri, yang sempat sebinal itu. 

Film Ngenest mengajarkan bahwa hidup kadang perlu ditertawakan. Kalau boleh, aku mau nambahin, 

“Dan hal-hal yang ditertawakan nggak perlu diseriusin. Misalnya candaan temen, gombalan cowok PHP, atau rasa kagum kita ke komika.”

Sialan, gara-gara GA-nya Yoga, jadi nulis aib beginian deh. 

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 08 Februari 2016

Jika Kelamin Kita Tertukar

Jika kelamin kita tertukar, aku lelaki dan kamu perempuan. 

Mungkin aku adalah lelaki tergugup sedunia. Gugup ketika disapa, ditatap, didekati. Entah itu gugup atau takut memulai hubungan lagi. Sampai akhirnya bertemu denganmu, perempuan yang tak kenal takut.  Dengan mata yang menyipit ketika tersenyum atau tertawa. Menyapa, mendekati, mengajak ngobrol semua orang pada waktu itu, termasuk aku, seorang lelaki yang menyambut uluran tanganmu dengan canggung.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling cupu, karena berlaku apa adanya. Berawal dari ajakan kumpul anggota komunitas setiap malam Minggu, dan akhirnya kamu tau aku adalah anak rumahan yang tidak selalu bisa keluar malam. 

Lalu kita mengobrol hal-hal random, dari sekolahku, kuliahmu, musik, film, iklan di TV yang sedang hits, sampe soal Sinta & Jojo. Dan aku nyaman. 


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling tak tau diri. Merindukanmu. Padahal kamu milik lelaki lain. Aku sedih, kecewa, murka, dan benci padamu karena selama kita mengobrol, kamu seolah bukan milik siapa-siapa. 

Tapi nyatanya aku masih dengan kurang ajarnya merindu. Mendengarkan lagu Orang Ketiga-nya HiVi! sambil bercucuran air mata. Lemah sekali.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki yang membenci persaingan. Kalah sebelum berperang. Pergi menjauh setelah merasa salah merindukan kekasih orang. Lagipula, itu perang macam apa? Merebut milik orang lain. Kalau mati, tidak bakal jadi mati syahid.

Dan selang berbulan bulan kita menjauh, kamu datang mengacaukan hidupku lagi, dengan pernyataan hubunganmu dan lelakimu itu sudah berakhir.  Membuatku kembali merasa benar. Dasar kau perempuan sialan!


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling tak tau malu sedunia. Mengejarmu. Menanyakan hubungan kita ini sebenarnya hubungan macam apa.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling bersikeras untuk romantis. Dan kamu adalah perempuan yang menganggap, bahwa romantis itu hanya seputar gombalan dan bualan. Menganggap dengan gelak tawa mengejekmu. 


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling melankolis sedunia. Overthinking tentangmu, merencanakan yang indah tentang kita ke depan, mengeluhkan hubungan kita yang sebenarnya baik-baik saja. 

Dan kamu adalah perempuan paling kurang kerjaan, yang memanfaatkan kemelankolisanku itu untuk menjahiliku. Menunggu  sampai aku menampakan muka cemasku, lalu kamu tersenyum jahil. Disusul dengan tawa sambil memberitahu itu hanya bercanda. Tawa yang menyebalkan, tapi anehnya selalu aku rindukan.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki yang paling benci dengan kalimat,

 "Nggak papa," 

Keluar dari mulut seorang perempuan. 

Aku benci, dan tambah benci saat kamu yang mengucapkannya. Aku benci kamu yang tidak terus terang. Aku benci kamu yang selalu membuatku menebak-menebak apa yang sedang kamu rasakan. Aku benci saat kamu memaksaku untuk melupakan hal itu. Melewatkannya dengan membicarakan hal-hal lain. Atau parahnya, pergi berlalu dari hadapanku.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling brengsek. Aku menyalahi kepercayaanmu padaku. Hanya karena aku merasa dimiliki ketika bersama dia. Sedangkan kamu tak pernah mengekang, apalagi cemburu. Membuatku merasa tidak dimilikimu.

Tapi satu hal yang aku tak tau, kamu adalah perempuan yang sangat percaya pada lelakinya. 

Bodohnya, aku merusak itu semua. 

Dan entah apakah kamu ingin jauh lebih bodoh dari aku, kamu mau memberi lelakimu kesempatan kedua. Memaafkan, memulai semuanya dari awal, walaupun tak bisa melupakannya begitu saja. 

Aku tau aku salah. Aku terlalu naif. Aku tak bersyukur atas adanya kamu. Ingin rasanya kamu bunuh aku saja. Cengkeram kerah kemeja flannelku, hempaskan badanku ke dinding, lalu hunus aku dengan pisau, tepat di jantung. 


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling lemah. Ketika kamu bilang ingin bekerja di tempat yang jauh setelah lulus kuliah, aku merasa akan tidak kuat menjalani hubungan jarak jauh. Belum mencoba, aku sudah merasa dikalahkan oleh jarak. 

Tapi melihat matamu yang meyakinkanku kalau kita bisa, memberiku kekuatan. Kita pasti bisa menjalaninya. Mungkin ini harga yang harus dibayar, kalau masih mau bersama.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki yang paling ingin menjagamu. Paling ingin menjadi yang kamu butuhkan. Paling ingin merentangkan tangan lebar-lebar saat kamu pulang. Paling ingin pundaknya jadi tempatmu bersandar melepas lelah.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin tak perlu kelamin kita sampai tertukar. Menyeramkan.


Mungkin aku sudah menyalahi kodrat sebagai perempuan yang dipacari. Yang biasanya dikejar, diberi perhatian, diberi hal-hal romantis. Namun aku sudah terlalu asik dengan salahku ini.


Mungkin kamu lelaki yang memang mengejarku, memberiku perhatian, memberiku hal-hal romantis. Hanya saja, aku tak sadar.


Mungkin kita punya cara masing-masing dalam mencintai.


Jangan pernah berubah, ya. Apalagi kelamin kita yang berubah.


Selamat tiga tahun, kita.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 02 Februari 2016

Manusia Merencanakan, Tuhan Menentukan, Icha Bikin Syukuran

Selain berita tentang seorang pria yang ereksi selama lima hari karena overdosis Viagra, dan itu dia lakukan cuma demi bercanda sama teman-temannya, dulu aku juga sempat dibuat merinding sama berita tentang calon penumpang pesawat yang selamat dari kecelakaan maut. 

Para calon penumpang itu lolos dari maut karena nggak jadi melakukan perjalanan pake pesawat itu. Seandainya rencana mereka berjalan lancar, nggak ada penghalang macam ketinggalan pesawat, kehabisan tiket, atau belum adanya aplikasi Traveloka yang memudahkan mereka buat booking tiket pesawat, udah pasti mereka jadi korban dari kecelakaan pesawat itu. Mereka selamat, karena kegagalan rencana mereka. 

Merinding, sekaligus terharu. Rencana manusia digagalkan Tuhan, demi kebaikan manusia itu sendiri. 

Sebagai manusia, udah pasti kita pernah (sampe sekarang pun) punya banyak keinginan dan rencana dalam hidup. Tapi nggak semuanya berhasil, trus ngalamin kegagalan. Kegagalan yang bikin menyesal, kegagalan yang bikin sedih, kegagalan yang jadi motivasi, atau kegagalan yang nimbulin hasrat pengen bikin syukuran. 

Aku juga pernah ngalamin kegagalan yang patut disyukuri. Ya, walaupun nggak sefantastis kayak di atas, yang sampai menyangkut hidup dan mati. Tapi kalau ingat kegagalan-kegagalan ini, bawaannya pengen sujud syukur aja. 

Langsung aja, 


1. Gagal punya rambut ala Skrillex

Waktu kelas dua SMK, aku pengen banget punya potongan rambut kayak DJ Skrillex.

Sebenarnya bukan karena ngefans sama Skrillex, tapi karena terpesona sama Cassie, model MV Roll Up-nya Wiz Khalifa. Udah lagunya bagus, modelnya juga bagus. Cantik maksudnya. 

Sumber: disini
Dengan kulit coklat eksotis, badan bohay, dan potongan rambutnya yang unik, model MV yang berprofesi jadi penari itu bikin aku pengen mantengin channel MTV mulu, berharap MV itu bakal diputar lagi. 

HUAAAA CASSIE! YOU’RE SO FUCKIN’ BEAUTIFUL! I LOVE YOU! AKU TRESNO KARO KOWE! (lah, kenapa jadi bahasa Jawa?)

Ditambah lagi Rihanna, Avril Lavigne, dan Kesha ternyata juga cukur rambut kayak gitu. Di mataku, mereka makin keliatan cantik dengan rambut belah pinggir tergerai panjang, dan sisi kirinya dicukur habis. Aku juga baru tau, ternyata mereka terinspirasi sama DJ bernama Skrillex. 

Aku tambah jatuh sayang sama potongan rambut itu. Tiap malam, bukannya ngitungin domba supaya cepat terlelap, malah ngitungin berapa persen kadar kekerenanku kalau misalnya aku pake crop tee, celana jeans belel, sepatu keds, dan berpotongan rambut ala Skrillex. 

Dengan penampilan kayak gitu, aku bisa pede nge-beatbox dan ngerap, trus Eminem ngangkat aku jadi anaknya. BAHAHAHAHAHAHAHA.

Aku pun bertekad manjangin poniku yang biasanya selalu sealis, jadi sedagu. Begitu udah panjang, tinggal cukur deh.

Di proses pemanjangan poni, ada teman sekelasku yang pengen punya potongan gitu juga, dan berhasil ngewujudinnya, yaitu Owi. Di akun Facebook-nya, aku ada ngeliat foto, dia berpose lagi di atas bukit sambil mamerin sisi kiri rambutnya, yang tercukur habis tapi nggak sampe plontos. Sementara sisi kanannya, masih ada rambut lebatnya yang panjang dan tergerai indah. 

HUAAAAAA! ITU RAMBUT GUEEEEEEE! 

Aku sempat nggak habis pikir sama Owi. 

Sebenarnya dia kepentok izin orangtuanya, tapi dia tetap ngecukur rambutnya ke salon. Trus sebisa mungkin dia nyembunyiin cukurannya itu, dengan natain rambutnya yang belah pinggir jadi belah tengah kalau lagi di rumah, biar cukurannya nggak keliatan. Di sekolah, dia juga bisa nyembunyiin cukurannya dengan hijab, karena dia kalau ke sekolah memang berhijab. 

Owi dan aku punya keinginan dan tipe orangtua yang sama. Orangtua yang nggak ngebolehin anak buat cukur rambut kayak gitu. Ya, kayaknya semua orang tua bakalan nggak kasih ijin sih. 

Tapi Owi berhasil, berkat kenekatannya. 

Caranya boleh juga sih. Tapi begitu ingat kalau aku tidurnya sekamar sama Mama (dan Nanda) dan posisi tidurku suka berganti nggak menentu, aku yakin kenekatanku nggak bakal seberhasil Owi. 

Takutnya pas tidur, rambutku tersingkap trus cukuranku jadi keliatan. Udah bisa ditebak, kalimat-kalimat mengutuk macam apa yang bakal keluar dari mulut Mama. Dan pas bangun tidur keesokan harinya, aku jadi membatu di tempat tidur. THE END.

Lantas aku keingat Bapak. Beliau selalu sehati sama aku, mungkin aja nggak terkecuali sama keinginanku ini. Lagian kalau aku udah ngantongin izin dari Bapak, pasti Mama nggak bisa berkutik. Bukankah istri itu harus tunduk sama suami? Pikirku waktu itu, dengan senyum kemenangan. 

Aku langsung nelpon Bapak. 

“Kau mau potong seperti laki-laki?”

“Tapi nggak cuma buat laki-laki kok, Pak. Cewek juga banyak. Bapak tau kan yang main di Battleship? Rihanna? Dia potong gitu juga loh. Boleh ya, Pak?”

Ada hening yang cukup lama. Antara karena beliau lagi ngingat-ngingat kembali potongan adegan film Battleship yang ada Rihanna-nya, berpikir keras bakal kasih izin apa enggak, atau cuma mau bikin aku deg-deg an. 

“Tanya Mama kau saja.”

“Hah? Lah, Icha nih nelpon Bapak, biar Mama ngizinkan. Ngapain lagi nanya Mama?”

“Kau ini macam tak tau Mama kau saja. Bapak kalah kalau berdebat dengan dia tuh. Sudah, pokoknya tanya Mama kau saja!”

Tut tut tut. 

Telepon terputus. Memunculkan anggapan baru, kalau ternyata Bapak itu suami yang kelewat nurut, atau suami yang takut istri. Entahlah. 

Perjuanganku buat ngedapatin rambut ala Skrillex berhenti sampai disitu. Poniku yang nyaris sehidung itu kupotong jadi sealis. Bersamaan dengan rencanaku yang gagal total.

Bertahun-tahun kemudian, aku baca berita kalau rambut Skrillex itu dinobatkan jadi rambut terburuk sepanjang abad 21. Tepatnya rambut Rihanna, yang meniru rambut Skrillex. Aku juga baru tau kalau Islam ngelarang keras perempuan berpotongan rambut mirip laki-laki. Lagian, rambut yang dicukur gitu, kalau numbuh bakalan keliatan aneh. 

Pas tau semua itu, aku cuma bisa ngakak. Syukurlah kalau gagal.


2. Gagal sekelas sama Nina
Nina adalah sahabatku dari SMP. Pas masuk SMKN 1 bareng, aku pengen kami jadi best friend forever, dengan cara sekelas lagi kayak waktu SMP dulu. Kami ngerencanain bakal duduk sebangku. Bakal bawa bekal setiap hari, trus uang jajannya dipake buat ngemall tiap pulang sekolah, ngeborong aksesoris rambut dan gelang-gelang warna pink. 

Cetek banget ya impian anak SMK. 

Tapi rencana kami gagal karena papan pengumuman pembagian kelas. Begitu tau kalau kami nggak sekelas, spontan aku nangis kejer melukin Nina. 

Ya, dulu aku memang punya kebiasaan suka melukin Nina di kondisi apapun. Tapi perasaan, itu pelukan paling dramatis yang pernah aku lakuin sama Nina. Oh iya, sama yang waktu minta maaf berlebihan itu juga. Intinya waktu itu aku nangisnya udah kayak anak yang mau dijual orangtuanya ke Batam. 

Selama setengah semester, aku nyedihin soal gagal sekelas itu. Sedih, di SMP kami lengketnya udah kakak-adek, jadi nggak lengket gara-gara beda kelas. 

Tapi akhirnya aku bersyukur, karena kalau aku sekelas sama Nina, aku bakalan jadi orang yang bergantung sama Nina mulu. Aku bakal maunya temenan sama Nina aja, nggak mau temenan sama yang lain. 

Kalau rencanaku itu nggak gagal, aku nggak bakal akrab sama Dea, cewek yang mudah antusias sama apapun, yang ternyata rumahnya nggak jauh dari rumahku. Aku nggak bakal ngalamin kejadian-kejadian memalukan bareng Reny, cewek sabar yang bakal jadi pemarah begitu tau aku masih suka mikirin mantan. 

Aku nggak bakal duduk sebangku bahkan sering bertukar pikiran sama Dina, cewek tomboy yang cantiknya kayak Kimberly Ryder itu. Sahabat yang udah kayak malaikat berbulu iblis, karena paling peduli sama aku di balik kata-kata sinis yang sering dia ucapin. Aku nggak bakal dapat sahabat macam Dita, yang udah aku anggap kayak adek sendiri.

Aku nggak bakal ngerasain kebahagiaan dikelilingi orang-orang yang sayang sama aku, kalau rencanaku berhasil. 


3. Gagal ke Bontang
Tahun kemarin, aku ada ngerencanain mau ke Beras Basah Bontang bareng Zai. Rencana yang aku susun sendiri, dan bakal langsung kulontarkan begitu anak itu cuti pulang ke Samarinda, bulan Juli. Mau nggak mau dia pasti bakal nurut sama aku kalau udah ditodong rencana itu di depan mata. 

Tapi sekitar awal Juli, maagku kambuh parah. Puncaknya pas pertengahan bulan Juli, tepatnya lebaran hari kedua, aku masuk rumah sakit dan diopname selama seminggu. Rencanaku langsung gagal total. Tambah ngerasa gagal total pas aku tau kalau dia lagi di Beras Basah Bontang, bareng teman-temannya. Di hari pertama aku diopname. 

Kesal banget. Dasar lelaki bajingan! Sakit maag dan demamku bercampur sama sakit hati. Aku bukan cuma sakit hati sama dia, tapi juga sakit hati sama penyakitku. Datangnya di saat yang nggak tepat banget. 

Dua hari kemudian, dia pulang dari Bontang dan ngejengukin aku. Dia minta maaf karena mendadak pergi ke Beras Basah, dan dia nggak nyangka aku bakal masuk rumah sakit. Sebenarnya bukan nggak nyangka, tapi gimana ya, soalnya dengan senyum mengoloknya dia bilang, 

“Akhirnya masuk rumah sakit juga.”

Malam itu, dia ngejagain aku semalaman di rumah sakit. Dan malam itu, aku jadi tau, walaupun dia orangnya cuek, tapi dia sayang sama aku. Huehehehehe. Hoek. 

Aku bersyukur sama kegagalan rencanaku sama dia ke Beras Basah Bontang. 

Kalau seandainya rencana itu berhasil, dan itu misalnya bareng teman-temannya, mungkin nggak bakal berkesan daripada waktu di rumah sakit. Bisa aja pas disana, dia nyuekin aku karena lebih asik sama teman-temannya. Dan aku disana, mau nggak mau sibuk mainin dildo demi menghibur diri. 

Untung aja rencana itu gagal. 


4. Gagal nyelesain cerpen
Cerpen WIDY baru sampe di bagian keempat. Kami ada berencana buat posting bagian kelima, tapi berhubung Wulan, aku, Darma, dan Yoga lagi ada kesibukan masing-masing, hal itu pun jadi ketunda. 

Yoga sibuk UAS dan cari kerja. Darma sibuk kelarin skripsi. Wulan sibuk mikirin siapa jodohnya. Eh, sibuk mikirin tugas di semester duanya. Sedangkan aku sibuk cari gadun yang bisa terima aku yang bukan dedek gemes ini. 

Maka, kami pun gagal buat nyelesain cerpen secepatnya. 

Sebagai gantinya, kami berencana nyeriusin permainan kalimat kami yang lain, yaitu bikin tulisan bertema. Pertengahan bulan ini mulai jalan. Kami berempat bakal serempak bikin tulisan dengan tema yang sama, yang Insya Allah diposting di hari yang sama juga. Lumayan, buat makin ngasah kemampuan nulis kami, sekalian pemanasan sebelum posting cerpen lagi. Lebih lumayan lagi buat Darma, yang blognya berdebu karena udah lama ditinggal sama penghuninya. Huahaha. 

Kegagalan yang satu ini lagi-lagi bikin aku bersyukur. Kami jadi makin akrab dan bersemangat nulis. Ceilah. 


Segitu aja sih kegagalan yang bisa aku syukuri. Sisanya, masih banyak. Cuma pada ngenes sih. 

Tapi dengan nulis ini, aku jadi mikir, selain bisa mendapatkan hikmah atau pelajaran, kita juga mendapatkan karunia dan rasa syukur yang teramat banyak dari kegagalan. Gagal nggak selamanya buruk. Dan nggak selamanya berhasil itu baik. 

Seperti firman Allah di Surah Al-Baqarah ayat 126,

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Iya sih, kita sebagai manusia nggak tau, sama sekali. Manusia kebanyakan suka ngutukin kegagalan. Apalagi kalau gagal keluarin di luar, malah keluar di dalam.

Btw, ada yang pernah ngalamin kegagalan trus pengen bikin syukuran juga?
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com