5W + 1H Untuk Pencinta I, Tonya

Baru awal tahun, aku udah mikir kalau tahun 2018 adalah tahun di mana kekonsistenanku sebagai blogger benar-benar diuji. Aku mulai malas ngeblog. Mau pake alasan lagi sibuk kerja, udah dipake sama Yogaesce. Jadi alasannya ada tiga: 

1. Kenal sama aplikasi Letterboxd
2. Nyaman nge-review film di Letterboxd
3. Ketagihan nge-review film di Letterboxd

Yaps, gara-gara kenal Letterboxd brengsek terus keasikan review film di sana kegirangan banget anjir udik banget, jadinya udah males buat review film di sini. Otomatis, film-film bajingseng yang aku tonton dan biasanya langsung aku bikinin draf, aku lewatin aja. Aku udah puas nge-review singkat di sana. 

Ini juga alasan utama kenapa aku nggak nge-review baperin I, Tonya. Padahal udah dari kapan nontonnya. Padahal udah di dua postingan sebelumnya aku nyebut film keluaran tahun 2017 ini mulu. Huhuhuhu.

Tiap liat ini langsung ingat Elsa-nya Frozen.

Entahlah, awalnya aku bingung mau kayak gimana  review film ini. Rasanya kayak lagi suka sama orang, terus bingung mau ngomong apa. Perasaan suka, atau bahkan perasaan cinta itu, cukup dirasain aja.

Oh iya, I, Tonya ini tentang kisah hidup Tonya Harding, atlet figure skating yang karirnya hancur karena diduga jadi tersangka penyerangan Nancy Kerrigan. Nancy adalah rekan sesama atlet figure skating. Tonya adalah atlet figure skating yang terkenal karena nama buruknya, layaknya Nikita Mirzani yang terkenal bukan karena bakat aktingnya, melainkan karena kontroversinya di dunia hiburan. Tapi Tonya ini berbakat banget. Banget. Dia punya 'jurus' andalan saat berseluncur indah, yaitu bisa ngelakuin manuver sulit bernama triple axel. Muter-muter tiga kali di udara dan baaaam! Mendarat dengan indah.

Bikin aku ingat sama kasusnya Lance Armstrong, atlet sepeda yang ketahuan pake doping. Tapi Tonya beda sama Lance. Di saat Lance bikin aku gedek pas nonton film tentang dia berjudul The Program, Tonya malah bikin aku kasihan sama dia. Bahkan lebih dari itu. Bikin aku sayang sama Tonya. Pengen peluk Tonya kayak Okky Lukman yang melukin peserta Mikrofon Pelunas Hutang

Karena nggak bisa meluk, dan ya akhirnya aku nggak bingung lagi mau review-nya gimana, yaudah aku tulis aja deh kali ini. Orang-orang harus tau kalau ada film yang bajingseng selain Lady Bird! Demi film ini aku rela ngeblog! Terus ini film biopik yang nggak biasa, dan aku pengen review-nya dengan nggak biasa juga. Yaitu dengan rumus 5W + 1H. Rumus yang biasa dipake jurnalis dalam nulis berita. 

Jadi, aku nge-review film ini dengan ngasih pertanyaan pake rumus itu, terus aku jawab. Tanya sendiri, jawab sendiri.

Hehehe. Aneh kayaknya deh. Habisnya nggak ada yang nanyain aku soal film ini sih. Jadinya aku bikin gini aja deh. Huhuhu.


1. What (Apa)
Apa yang nggak biasa dari I, Tonya

Tahun 2017 kayaknya jadi tahun film biopik berhamburan. Sejauh ini yang aku tau ada The Disaster Artist, tentang Tommy Wiseau si pembuat film legendaris The Room. Ada Film Stars Don't Die In Liverpool, tentang aktris Amerika namanya Gloria Grahame. Ada Battle of the Sexes, film tentang petenis wanita. Terus ada I, Tonya

Tapi I, Tonya ini tampil beda. Ngegabungin antara rekaman wawancara tiap karakternya dengan kejadiannya berlangsung. Para karakternya juga ngomong sama penonton kayak pas waktu nonton Deadpool. Breaking the fourth wall apa deh itu namanya. Jadi, kita kayak berasa beneran nonton video pengakuan orang yang ada reka ulang masa lalunya gitu. 

Terus... film ini difasilitasi sama lagu-lagu tahun '80-an. Semua lagu-lagunya aku suka! Salah duanya yang aku suka yaitu Dream a Little Dream of Me-nya Doris Day dan Romeo and Juliet-nya Dire Straits. Selama aku nonton film biopik (yang jumlahnya bisa dihitung hehe), kayaknya nggak pernah ada yang punya trek bagus-bagus kayak I, Tonya


2. When (Kapan)
Kapan rilisnya I, Tonya dan kapan ditontonnya?

Film ini dirilis tahun 2017. Aku nontonnya juga pas di tahun 2017, tepatnya tanggal 30 Desember 2017. Nontonnya pas selesai pulang kerja, karena nggak ada agenda jalan dan nggak ada teman jalannya juga. 

Huhuhuhu. DITA CEPAT PULANG PLEASEEE AKU BUTUH TEMAN JALAAAAAAN AAAAAAAAAAAK.


3. Where (Di mana)
Di mana nonton I Tonya?

Yak pertanyaan penting, Ichaaaa....

Nontonnya di rumah. Donlotan. Huhuhu. Nggak tayang di bioskop sini. Aku nggak kayak Om Joko Anwar yang bisa nonton film ini di bioskop luar negeri. Huaaaaaaaaaaaaaaa. Pengen rasanya ngomong, 

"Enaknya hidupmu, Jok!."


4. Who (Siapa)
Siapa para pemain film I, Tonya?

McKenna Grace sebagai Tonya Harding kecil. Margot Robbie meranin Tonya Harding. Allison Janney sebagai LaVona Harding. Sebastian Stan sebagai...

Eh aku bahas satu-satu deh. 

Aku pertama kali liat McKenna Grace waktu nonton Gifted. Di situ dia jadi anak yang pinter Matematika. Di film ini, dia jadi anak berbakat lagi. Bisa main figure skating sejak kecil. Anak kecil satu ini aktingnya emang badass sih. Dia nunjukkin kalau dia memang suka main figure skating. Dia nangis selayaknya anak kecil pas digebukin Emaknya atau pas pisah sama Bapaknya. 

Tonya Harding cilik.
Terus ada Allison Janney sebagai LaVona, Ibunya Tonya. Dari mukanya aja udah ngeselin anjir. Kata "fucking" sering terdengar di film ini. Sering banget. Banyak banget. Itu sering dan banyak tersembur dari mulutnya LaVona.

LaVona mendidik Tonya dengan keras dan kasar. Suka main fisik. Ibu yang nggak keibuan sama sekali. Dodolnya dia bangga sama cara didiknya yang brutal itu. Aku ngerasa miris pas denger dia ngomong ke Tonya,

"You think Sonya Henie's mother loved her? Poor fuckin' you. I didn't stay home making apple brown bettys. No, I made you a champion knowing you’d hate me for it. That’s the sacrifice a mother makes.

I wish I had a mother like me instead of nice. Nice gets you shit. I didn't like my mother either, so what? I fucking gave you a gift."

Lebih gilanya lagi, LaVona pernah ngebayar orang buat manas-manasin Tonya supaya anaknya itu minder dan down. Gils banget.

Sifat kasar nggak anggun-anggunnya Tonya pun nurun dari didikan Ibunya. Tonya juga mudah sangkal kalau liat pesaingnya dapat skor lebih tinggi, menurutku juga nurun dari Ibunya. Pokoknya Ibunya ini devil banget gilaks. Didikan orangtua berpengaruh banget buat masa depan anak.



Jeff ternyata sama aja. Ini rasanya kayak nonton Posesif versi parahnya. Cuman di saat Lala-nya Posesif nggak bisa ngelawan pas dikasarin, lah ini Tonya-nya bisa ngelawan. Jadilah mereka saling kasar mengasari. 

Oh iya, Jeff ini diperanin sama Sebastian Stan. Dia ini tipe suami yang awalnya manis banget tapi ternyata brutal. Sebenarnya Jeff ini sayang sama Tonya, tapi dia ringan tangan banget anjir. Sama kayak Yudhis juga, habis mukul langsung ngajak balikan. Langsung sok-sok nyesal. 

GOMBALMU, JEP!
Julianne Nicholson berperan sebagai Diane Rawlinson, mantan pelatihnya Tonya.  Keanggunannya khas banget. Masih terasa hangat kayak waktu nonton dia sebagai anak penyabar di August: Osage County. Dia sabar banget nanganin manusia temperamental kayak Tonya. Aku suka pas adegan Diane "ngomong" sama penonton. Nunjukin kalau akhirnya dia bisa ngejinakin Tonya.

Shawn Eckhardt diperanin Paul Walter Hauser, bodyguard Tonya sekaligus sahabat Jeff sekaligus orang paling menyebalkan di film ini. Lebih menyebalkan daripada Ibunya Tonya. Hhhhh omongannya sebesar badannya. Aku gedek sama apa yang dia banggain soal dirinya. Terus gedek juga pas dia sok-sok bego nggak kenal Tonya. Taik banget. Tapi bikin ngakak juga sih.

Terakhir dan yang utama.... ada Margot Robbie sebagai Tonya Harding.

Semua pemain yang dijelasin di atas, mirip sama aslinya. Sampai si Nancy Kerrigan juga mirip. Sanjiw! Santap jiwa! Tapi enggak dengan Margot Robbie. Mukanya beda jauh sama Tonya, anjir.

Aku malah ngerasa Tonya mirip sama Amy Schumer. 
5. Why (Mengapa)
Mengapa Margot Robbie cocok meranin Tonya padahal mukanya nggak mirip?

Kalau beneran Amy Schumer yang meranin Tonya, filmnya jatohnya jadi konyol sih. Dia aktris komedi gitu. Walaupun I, Tonya ini ada komedinya juga. Cuman kalau dibandingkan dengan 'peniru' lainnya kayak James Franco yang meranin Tommy Wiseau dan Emma Stone yang meranin Billie Jean King, Margot Robbie memang nggak mirip sama Tonya.

Tapi Margot mampu ngehidupin karakter Tonya walaupun muka mereka beda jauh. Gerak-geriknya beneran kayak atlet figure skating. Robbie meraninnya badass. Terus aku pernah liat video di mana adegan di film I, Tonya sama video Tonya asli digabung, dan itu keliatan kalau Margot meranin Tonya-nya mirip. Cara dia mainin tangannya pas berseluncur, cara dia kegirangan habis nge-triple axel, cara dia nangis ngadu ke para juri soal sepatunya yang bermasalah.... itu mirip banget.


Aku suka pas dia nyumpah. Pas dia senyum malu-malu. Pas dia ngasarin Jeff. Pas dia ngomong bikin kalimat demi kalimatnya terasa hidup. Semuanya aku sukaaaaaaa! Kayaknya nggak ada kelakuan Margot Robbie sebagai Tonya Harding yang nggak aku suka! Ini sama kayak pas aku nonton dia jadi Harley Quinn di Suicide Squad! Dia memang Margotku!

Anjir. Ini pake tanda seru mulu kayak Milea di novel Dilan 1990.


1. How (Bagaimana)
Bagaimana I, Tonya bisa bikin aku buat baper sama filmnya? 

Awalnya aku ngerasa baper sama film ini karena fakta skandalnya Tonya. Di mana pas dia skandal itu, waktu dia umur 23 tahun dan itu di tahun 1994. Umurku sekarang 23 tahun dan aku kelahiran tahun 1994. Gils. Aku ngerasa akrab bet sama film ini. Terus tulisan di posternya itu warna pink. Aku suka warna pink! Wooogggh!

Oh iya, satu lagi sih. Aku baper sama film ini karena aku suka skating. Nonton Whip It, aku engas. Liat skateboard, aku lebih engas lagi. Pokoknya yang berhubungan sama seluncur, aku suka.

Kacangan amat ya alasannya.

Tapi ya, karena alasan-alasan di atas, aku jadi punya alasan lain buat bikin film ini dapat bintang lima di Letterboxd. Bahkan aku jadiin film favoritku, sejajar dengan Easy A, Her, dan The Lobster. Dari segi tema, harusnya aku lebih favoritin Lady Bird. Dari segi pemain, harusnya aku lebih favoritin The Battle of the Sexes karena ada Emma Stone kembaranku di situTapi malah film ini yang aku pilih.

Craig Gillespie sebagai sutradara film ini, menurutku ngelakuin hal yang sama kayak waktu dia brojolin Lars and The Real Girl. Dia bisa memanusiakan sex doll dan Ryan Gosling sebagai orang yang punya kelainan jiwa. Dia nggak ngebuat itu jadi film yang menye-menye, tapi jadi film yang menyentuh yang tetap ada humornya. 

I, Tonya diadon sama Craig jadi film yang bikin kita simpati sama Tonya. Bikin kita kenal sama Tonya. Bikin kita ngerasa dekat sama Tonya. Bikin kita mandang Tonya sebagai manusia yang butuh disayang, bukan manusia yang harus dimusuhi. Tonya rela ninggalin bangku sekolah demi fokus ke bidang figure skating, sehingga dia taunya cuma figure skating. Kebayang gimana sakitnya dia nggak dibolehin hidup dari satu-satunya bidang yang dia tau.


And yes, film ini menurutku kayak klarifikasi dari Tonya. Klarifikasi kalau dia sebenarnya nggak sejahat yang orang-orang pikir. Kalau dia nggak seharusnya dipandang sebagai orang yang bisanya main curang. Kalau masa lalunya kelam. Tonya punya Ibu yang kasar, suka mukulin dia, dan suka nyumpah. Pas punya suami, ya sama aja. Tonya tetap aja dikasarin. Tonya tumbuh di lingkungan orang-orang yang nggak sayang sama dia. Begitu dia "disayang" sama warga Amerika karena bakatnya, dia ngerasa berharga banget. Dia nggak mau kehilangan rasa sayang itu.

Film bagus menurutku adalah film yang bisa bikin aku peduli sama karakternya. Bikin aku ngerasa dekat, bahkan pengen mendekatkan diri sama karakternya. I, Tonya ngelakuin itu. I, Tonya bikin aku nangis buat peduliin Tonya.

Huaaaaa. Pengen peluk Tonya. 

You Might Also Like

14 komentar

  1. Margot Robbie emang bangkai. Pas banget kalau disuruh akting yang penuh aksi begini. Main berandalan oke, main figure skating bisa. Kenapa ada artis perempuan sekelas Margot Robbie? Kenapaaaaaaa? Harusnya dia menang oscar.

    Btw, kalah bandingannya Joko Anwar ya ngenes kita, Cha. Berasa butiran nasi di warung pinggir jalan yang jatuh ke lantai. Diinjak kaki customer. Penyet. JOKO ANWAR KAN SUTRADARA, CHA! Apalah kita yang penonton film karbitan dari indoxxi dan LK21.

    Film biopik kayak gini aku sering nonton yang bertema perang. Macam Pearl Harbor dan Hacksaw Ridge kemarin. Yang di luar genre itu aku baru nonton The Room karena rekomendasimu. Da I, Tonya ini, akan jadi watchlist film biopik selanjutnya. Yuhu ~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya setuju, May. Aku lebih jagoin dia menang Oscar daripada Saoirse Ronan sih. Margot Robbie memang badass!

      Wakakakakakaka penyet. Iya makanya. Sedih mah kita. Kalau aku sedih, mau nonton film di luar kota aja susah, apalagi di luar negeri. Jadi mau nggak mau nontonnya lewat situs begitu :(

      Anjir. Dua film itu aku belum nonton. Butuh diengasin lebih keras sih kalau aku, buat tertarik nonton film perang. Yuhuuu oke kalau udah nonton mohon pendapatnya, ya, May! Penasaran pengen tau huehehehehek.

      Hapus
  2. gue masih bingung cara lu nulis review tentang film ini. dan seperti review'' film lu sebelumnya. kayaknya begitu menikmati bahkan menjiwai karakter filmnya yak.
    eh tapi, walaupun ngereview film d leterboxd, review film dsni juga dong, ca. gue dapet refrensi film'' keren kan dari sini juga.
    tapi boleh d tonton juga nih filmnya. karena pgen liat suaminya si tonya. gmana tuh udah ringan tangan gtu, tapi kok bsa gtu ya masih saling sayang.
    sama mau penasaran sama sosok ibunya tonya. ibu macam apaan itu ampe nyuruh orang lain buat bikin anaknya sendiri down. gila

    untuk para pemainnya, cuman pemeran tonya aja yg gue tau. sisanya enggak tau. ehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkakkakaka. Aku nggak terlalu ngerti teknis film sih, jadinya aku cuma bahas yang aku bisa aja kayak gini, Zi.

      Waaah ini mau seneng boleh nggak sihm mau ngerasa bermanfaat dan berfaedah boleh nggak sih hahaha. Iya aku bakal tetap ngeblog sih. Nyoba buat ngreview di dua-duanya hehehek.

      Ahahaha. Iya aku juga baru ngehnya sama si Tonya sih. Yang lainnya baru ngeh pas gugling :D

      Hapus
  3. Tak kenal maka tak sayang, mungkin itu yang ingin ditonjolkan pada film ini, mengungkap sisi balik dari seseorang yang kebanyakan orang tahu hanya dari sisi luarnya aja.

    Kayanya boleh juga dibikin film "awkarin" wkwkwkwk

    Film ini gak cocok buat anak dibawah umur 17+ ya, karena adegan kekerasan dan berkata kasarnya. Padahal pengen nonton :(

    Yah, kalo ka Icha vakum ngeblog, serasa ada yang kurang dalam hidup. Tapi apa ya? Bentar ya saya pikirin dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih Asep pinter~ Iyaps ya, aku kok nggak kepikiran ya mau masukin soal tak kenal maka tak sayang itu. Padahal bagus anjir.

      Nah iya tuh hahaha. Awkarin juga pasti ada sisi baiknya ya kan.

      Anjir. Lah kamu masih di bawah 17 tahun ya, Sep? Kupikir udah 18 tahunan gitu.

      *nungguin mikirnya Asep*

      Hapus
  4. Jadi jadi jadi cha. Karena udah sama-sama gitu. Kapan ngeluarin skandal juga? Bentar... ini maksudnya yang dipake di kaki itu kan ya?

    BalasHapus
  5. Belum pernah nonton filmnya gimana dong ca , di web-web film streaming gitu udah ada kali ya ? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya udah ada kok, Syahrizal (ini enaknya dipanggil apa ya? panjang hehehe). Selamat nonton! :D

      Hapus
  6. salam kenal dlu yakkk sesama Icha wihihihiih

    emang klo liat blogger cewek ngeripiw pelm dgn bhs syantai manjyah ginih lebih asik dibaca walopun bukan seorang movie freak yg sma skali gtw itu pelm apa dan yg main siapa heuheuehu....

    BalasHapus
  7. Segera pilih trading terbaikmu bersama Hashtag Option
    Trading online berbasis di Indonesia
    Bersama Hashtag Option trading lebih mudah
    PILIHAN TRADER #1
    - Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
    - Sistem Edukasi Professional
    - Trading di peralatan apa pun
    - Ada banyak alat analisis
    - Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
    - Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT

    Yuk Daftarkan diri Anda di www.hashtagoption.com

    BalasHapus