I, Lady Bird

Judul tulisan ini terinspirasi oleh film brojolan tahun 2016 berjudul I, Daniel Blake. Aku pake judul gitu karena sepanjangan nulis ini ditemani sama lagu Dream A Little Dream of Me-nya Doris Day, salah satu original soundtrack I, Tonya.

Padahal tulisan kali ini tentang Lady Bird. Biasanya kalau nulis soal satu film, aku bakal dengerin soundtrack dari film itu. Lah ini malah dari film lain.

Tapi ya gimana, soundtrack Lady Bird nggak ada yang tertinggal di hatiku. Terbang tinggi hilang bersamaan dengan berakhirnya filmnya. Maksudnya, nggak ngena gitu. Nggak bikin terngiang-ngiang. Beda sama soundtrack-nya I, Tonya.

Tapi kalau soal filmnya sendiri....

LADY BIRD INI NGENA BANGET NJIR.

Fly away home. Bukan slogan maskapai penerbangan.

Malah setelah nonton Lady Bird, rasanya aku pengen nasehatin pihak Screenplay dengan rentetan kalimat,

"Surat Cinta Untuk Starla The Movie harus belajar dari Lady Bird. Bikin cerita yang sederhana aja. Ngapain pake plot twist rahasia besar terkuak sok bikin penonton tercengang. Film bagus nggak harus pake plot twist!"

Padahal  aku nggak nonton Surat Cinta Untuk Starla The Movie sih. Cuman modal baca dongengnya Ryu Deka aja. Ehehehe.

Tapi udah mikir gitu sih. Karena Lady Bird ini temanya sederhana, tapi ngena. Film brojolan tahun 2017 ini ngehits banget. Banyak pujian yang dituai film yang disutradarai oleh Greta Gerwig ini. Mungkin gambar di bawah ini bisa merangkum prestasi bajingak Lady Bird:



Yak, film ini film semi autobiografinya Greta Gerwig, yaitu sutradaranya sendiri. Film ini juga merupakan debut dari Greta Gerwig sebagai sutradara, yang biasanya main film dan nulis naskah. Aku pernah nonton film yang ada dia main, judulnya Frances Ha. Aku ngerasa relate, sampai gatal ngeganti judul filmnya jadi Icha Ha karena karakter dia di film itu kekanak-kanakan, sering bokek, dan undateable. Mirip kayak aku. Huhuhu.

Pas ngeliat kalau Lady Bird ini film tentang Ibu-anak...

AKU LANGSUNG ENGAS.

Ternyata engasku nggak percuma. Filmnya memang beneran bagus. Puja-puji pada film ini ternyata bukan hoax membangun. Aku suka dialog demi dialog di film ini, yang seolah asal keluar dari mulut para pemainnya. Terus ending-nya.... jauh dari kata klise. Tapi sukses bikin sesenggukan.

Lady Bird punya tokoh anak umur 17 tahun dan Ibunya sebagai pemeran utama. Si anak umur 17 tahun itu bernama Christine McPherson (Saoirse Ronan), punya niat ingin segera angkat kaki dari kampung halamannnya, Sacramento, demi mencari jati diri. Demi kuliah di luar kota. Demi hidup di kota besar.

Selain nggak suka dengan kota kelahirannya, dia juga nggak suka namanya sendiri. Dia lebih suka dipanggil dan dikenal dengan nama Lady Birdlayaknya penyanyi dangdut umur 27 tahun yang dikenal dengan nama Zaskia Gotik daripada nama aslinya yaitu Surkianih.

Hari-hari Lady Bird diisi dengan bersahabat dengan Julianne "Julie" Steffans (Beanie Feldstein), latihan teater, dan berdebat sama Ibunya, Marion McPherson (Laurie Metcalf). Mereka sering beda pendapat. Termasuk beda pendapat soal masa depan Lady Bird. Si Ibu bekerja shift ganda karena suaminya dipecat. Si Ibu pengen cari universitas yang dalam kota, yang murah, untuk menekan biaya hidup. Sedangkan Lady Bird pengen di luar kota. Lady Bird pengen bebas karena ngerasa selama ini terkekang oleh Ibunya dan juga sekolah Katoliknya.

Padahal menurutku sekolahnya nggak ngekang sih. Guru-gurunya malah lucu-lucu. Ada dialog pas Lady Bird konsul ke gurunya, dan itu lucu. Gurunya nggak kolot, cenderung gaul dan bersahabat.

Tapi Lady Bird ini bukan tipikal anak durhaka yang bikin kita pengen nyumpahin dia supaya dikutuk. Bukan juga tipikal orang menyebalkan yang bikin kita senang kalau dia dapat kesusahan, layaknya netizen yang senang pas tau Jennifer Dunn si pelakor terciduk polisi karena kasus narkoba.

Saoirse Ronan memerankan Lady Bird dengan ekspresif dan loveable. Muka naif-naif judesnya Lady Bird ke guru dan Ibunya bener-bener kayak anak remaja masih sekolah yang dikuasai emosi pubertas. Masih bandel-bandelnya. Tapi terlihat.... wajar. Aku yakin sih pas waktu masih sekolah, kita pernah ngerasa paling bener dan paling tau apa yang kita mau.

Sedang dikuasai emosi pubertas.

Terus Lady Bird ini juga lugu sih. Dia nyedihin hal yang bikin dia mikir kira-kira,

"Katanya kamu beginiannya cuma sama aku?"

Lady Bird ngebuat Greta Gerwig dan film tentang hubungan naik-turunnya Ibu-anak jadi terlihat sederhana, apa adanya, dan nggak mendrama. Lady Bird menerbangkan ingatan orang-orang ke masa-masa remajanya dan saat-saat bersama Ibu. Lady Bird menerbangkan ingatanku ke mana-mana.

"Turunin aku sekarang!"
Lady Bird ngingatin aku sama ekskul teaterku dulu waktu SMK. Aku jadi kangen buat latihan teater lagi. Aku lagi-lagi ngerasa latihan teater lebih seru daripada pas udah nampil. Huaaaa sumpah kangen.

Tapi aku nggak pernah terlibat cinlok sih kayak Lady Bird. Huhuhu.

Lady Bird ngingatin aku sama film It: Chapter One. Di mana salah satu pemerannya, si Eddie (Jack Dylan Grazer) punya tulisan "Loser" yang dia ganti jadi "Lover" di gips tangannya. Lady Bird juga punya, tapi tulisannya "Fuck you, Mom."

Lady Bird ngingatin aku sama film Manchester by the Sea. Karena ada Lucas Hedges. berperan sebagai Danny di film ini. Waktu di Manchester by the Sea, dia jadi anak abege labil yang punya pacar dua biji. Dua. Biji. Kalau di Lady Bird, dia jadi cowok manis pacarnya Lady Bird. Ya, cowok manis. Saking manisnya sampai terlalu merespek wanita.

Anak teater yang terlibat cinlok.

Lady Bird ngingatin aku sama film Call Me By Your Name. Timothée Chalamet pemeran utamanya Call Me By Your Name, main di Lady Bird juga, jadi Kyle. Aku belum nonton Call Me By Your Name sih, tapi udah kesedot aja sama manisnya Timothée. Huhuhu.

"Akuh manis kan?" -Kyle
Aku bener-bener iri anjeeeeeeeeeeer. Itu si Saoirse enak bener ya bisa sama dua berondong sekaligus. Lucas umurnya masih 21 tahun, Timothée masih 22 tahun. Sedangkan Saoirse umurnya 23 tahun (seumuran sama aku!).

HUAAAA MBAK SAOIRSE SAOS TIRAM AAAAAAAAAK!

Lady Bird ngingatin aku sama Lady Gaga yang punya nama panggung dan pake namanya itu ketimbang nama aslinya. Aku ngorek ingatanku lagi, dan jadi kengiang kenangan zaman SMP, di mana aku beli gantungan hape yang bisa ditulisin nama. Terus aku tulis kalau namaku itu Eliza Oktarianda. Nama belakangnya aku comot dari bulan kelahiranku terus dicampur sama kota kelahiranku. Oktober Samarinda jadinya Oktarianda. 

Hehe. Nama apaan dah itu.

Aku nggak suka dipanggil Nisa. Terus bikin nama sendiri yang sebenarnya terinspirasi dari calon namaku waktu kecil.

Jadi, dulu kata Mamaku, aku mau dikasih nama Elisa Oktaviani. Tapi kata Om Munir, adeknya Bapakku...

"Kayak nama orang Kristen." 

Padahal darimananya sik yang kayak nama orang Kristeeeen? Kecil-kecil udah dikaitin sama agama gitu. Huhuhu.

Lalu lahirlah nama Hairunnisa. Tanpa huruf K atau C di depannya. Nggak kayak nama panjang seorang Nisa pada umumnya. Entah itu typo atau sengaja aku nggak ngerti deh.

Waktu SMP, aku nggak nyaman kalau Om-ku manggil Nisa. Begitu juga kalau pas teman-teman SMP-ku yang manggil itu. Dengan kealayan yang aku idap waktu itu, begitu tau cerita soal nama Elisa itu, aku jadi berharap dipanggil Eliza. Pake huruf Z.

Alay banget, ya. Huhuhuhu.

Tapi itu nggak bertahan lama sih. Aku nggak seteguh Lady Bird. Lagian nama seanggun itu nggak cocok juga sama muka.

Lady Bird bening bet yaaak~

Lady Bird ngingatin aku sama Bapakku. Lady Bird lebih dekat sama Ayahnya daripada sama Ibunya, karena Ayahnya lebih woles. Aku suka pas Ayahnya ngobrol sama dia. Ngingatin kedekatanku sama Bapakku. Ngingatin aku waktu Mamaku bilang aku ini anak Bapak. Ngingatin aku sama pas orang rumah bilang kalau aku nggak dekat sama Mamaku,  gara-gara dulu cuma aku yang minum susu formula waktu kecil. Sementara tiga saudaraku minum ASI.

Oke fix, kalau aku punya anak, harus dicekokin ASI biar si anak nggak kayak aku.

Lady Bird ngingatin aku sama aku waktu masih sekolah. Tapi aku lebih ngerasa terhubung sama Ibunya Lady Bird. Entah karena aku nggak seberani Lady Bird (lompat dari mobil, bangsat!) atau aku nggak pernah ngalamin kisah cinta kayak dia, atau aku kalah cantik dari dia, yang jelas aku lebih ngerasa dekat sama Ibunya Lady Bird. Aku kayak ngerasa nggak asing sama beliau.

Lady Bird ngingatin aku sama Mamaku. Saat Mamaku kerja apaaaaa aja demi biayain sekolah anaknya (dibantu Kakak yang juga kerja) saat Bapak di-PHK dan belum mutusin kerja ngerantau ke Bengalon. Ibunya Lady Bird ngingatin aku sama Mamaku, yang benci kamar berantakanku. Ibunya Lady Bird cerewet dan perhitungan, lagi-lagi ngingatin aku sama Mamaku yang bikin aku kesal beliau sepelit itu. Ibunya Lady Bird ngingatin aku saat Mama diemin aku selama seminggu dulu waktu aku masih SMP.

Saat itu aku benar-benar ngerasa nggak nyaman di rumah. Didiemin orangtua itu lebih sakit daripada pas telak diteriaki sebagai anak durhaka.

Lady Bird ngingatin aku sama tulisan tentang aku dan Mamaku yang pernah kutulis. Ada tulisan di mana aku bisa nerima beliau, aku berjanji, bertekad dan apalah itu. Ada juga yang seolah aku nggak terima sama Mamaku lalu menuntut 'hak'-ku sebagai anak. Perasaanku ke Mama naik turun, berubah-ubah, kayak Lady Bird ke Mamanya dan sebaliknya.

Akuh bet~
Btw, aku sempat kepikiran pengen ngerantau kayak Lady Bird buat ngerasain angetnya kasih sayang Mamaku.

Tapi ternyata nggak perlu.

Iya, nggak perlu. Ehehe. Cinta kota Samarinda aja lah. 

You Might Also Like

10 komentar

  1. Ngerantau ke Banyumas sini sini...

    :)

    BalasHapus
  2. Ceweknya kayak putih banget gitu ya, sekilas terlihat menyeramkan, sekilas jadi terlihat manis.

    Kesamaan cerita disini dengan saya adalah: sama-sama ga minum ASI.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ((terlihat menyeramkan))

      Iya juga sih. Putihnya putih pucat. Untungnya dia cantik :D

      YASH! KITA SENASIB YA HUHUHUHU.

      Hapus
  3. ((AKU LANGSUNG ENGAS)))
    (((engasku nggak percuma))


    ATUR AJA CA AMPUNI HAMBA.

    Nah, ini katanya bagus bangett ya emang. Tapi gue belum sempet nonton. Gue suka kalo yang simpel-simpel gini. Muehehehe. \:p/ *tring kembali ke haribaan ibu pertiwi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata "engas" di review ini aadalah kata lain dari bergairah. Eh enggak, maksudnya kata lain dari bernafsu. Eh maksudnya bersemangat, buat nonton satu film, Diiiii.

      Kalau gitu buruan nonton gih. Kamu kayaknya bakal suka deh~

      Hapus
  4. Awal lihat infografis Tirto, saya kira itu dia yang main Ruby Sparks. Wqwq. Taunya bukan anjis. :(

    Emang kenapa kalau namanya kayak orang Kristen deh? Nama saja dilabeli agama. Hm~ Adikku yang meninggal, "Barbara", itu namanya kayak nama orang luar dan mungkin juga Kristen. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkakakaka. Putihnya mirip-mirip sih. Tapi menurutku masih cantikan dan konyolan si Ruby Sparks. Yuhuuu.

      Nggak tau. Hahahahaha. Nah kalau Barbara itu iya sih, kayak nama orang luar dan biasanya orang luar jarang yang muslim ya, Yogs :D

      Hapus
  5. "Me at 19 years Old, don't tell me what to do but tell me how to survive" mahasiswa yang jauh dari ibunya dan lagi merantau.

    Kalo hubungan gw sama ibu kayaknya gak kayak di film ini (karena belum nonton jadi gak bisa mastiin), hehehehe, tetapi lebih mirip sama hubungan Kumail sama ibunya di The Big Sick. Akrab, tapi kadang suka banyak hal yang disembunyikan dari beliau. Kayak si Kumail yang gak mau dijodohin dan diem-diem pacaran sama Emily, dulu gw juga pernah diem-diem ngerokok, ditanya beliau bilangnya enggak, eh, ibu itu emang detektif paling cerdas di dunia, pada akhirnya ketauan juga. Kesel sih, memang, tapi begitulah orang tua.

    BalasHapus
  6. Udah nonton ini dan memang filmnya brengsek betuk saking bagusnya. Sesama pecinta Saoirse Ronan tosss dulu sini, Chaaa! Dulu kita kayaknya udah pernah bahas kalau sama-sama suka mbak Ronan di mentionan Twitter deh kalau nggak salah. Dan waktu trailer Lady Bird ini muncul, aku langsung nungguin karena Ronan filmnya jarang-jarang banget. Tapi seperti yang diduga, berkualitas. Ringan banget tapi pesannya ngena.

    Aku udah mikir sih kalau film ini pasti ngena banget ke kamu dan emang betul ya. Wkwk.

    BalasHapus