2017's Status

(review ini spoiler. kayaknya)

"Is it bad that I'm only 18 years old and relate to this 47 year old character?"

Komentar yang aku temui di trailer film Brad's Status itu bikin aku ngakak. Setelah nonton filmnya, ternyata aku ngerasa senasib sama komen itu. 

Bukan, bukan karena aku masih umur 18 tahun (walaupun nggak papa sih dianggap gitu hehehe), tapi karena aku ngerasa akrab sama karakter itu.

Gambar terkait
Pas baca judulnya, langsung keingat Facebook.
Film keluaran tahun 2017 ini punya Ben Stiller, memerankan seorang bapak beranak satu, yang punya keluarga harmonis dan karir bagus. Namanya Brad Sloan. Alih-alih bersyukur dengan hidupnya, Brad malah menyibukkan dirinya dengan lamunan tentang teman-teman semasa kuliahnya, yang lebih sukses dari dirinya. Lamunan itu terbawa sampai saat Brad mengantar anaknya hunting perguruan tinggi. 
Jalan-jalan sore sama anak

Brad membandingkan dirinya dengan teman-temannya. Brad ngerasa hidupnya nggak cukup. Brad ngerasa dia bukan siapa-siapa di dunia ini. Ngerasa dikucilkan karena dia kalah sukses dari teman-temannya.

Sampai akhirnya Brad harus ketemu sama Craig Fisher (Michael Sheen), temannya yang sukses menjadi pembicara di TV dan punya buku best seller. Teman yang udah bikin dia dengki dan sebenarnya malas banget buat dia temuin. Perasaan Brad kurang lebih sama kayak males buat nemuin mantan yang udah move on duluan. 

Brad ini ambisius dan nggak cepat puas. Dia nggak habis pikir sama istrinya, Melanie (Jenna Fischer) yang selalu bahagia, cepat puas, dan mudah bersyukur. Dia juga nggak habis pikir sama anaknya, Troy (Austin Abrams) yang pasrah aja pas nggak bisa ikut wawancara masuk salah satu perguruan tinggi. 

Ben Stiller di Brad's Status ini ngingatin aku sama perannya dia The Secret Life of Walter Mitty. Ben Stiller kayaknya memang berbakat menjadi tukang melamun profesional deh. Setelah melamun di tubuh Walter Mitty. Cuman gimana, ya, Brad ini ngeselin daripada Walter Mitty. Aku bisa kasihan sama Walter padahal dia sebenarnya nggak butuh dikasihani. Sedangkan Brad ini nggak bikin aku kasihan padahal dia "berharap" buat dikasihani. 

Brad dan Mel
Dia ngerasa hidupnya yang paling menderita. Ya, memang. Ada beberapa pemikirannya dia yang bikin aku ngerasa simpati sama dia. Tapi lama kelamaan aku ngerasa gemes sih sama Brad. Tepatnya pas di adegan yang ada dialog kira-kira,

"Kamu pernah tau orang miskin?"

Sumpah. Itu nohok. Nohok karena nunjukin kalau orang yang suka ngeluh itu jadi terlihat hmmm, terlihat menjijikkan di mata orang lain. Tukang ngeluh itu malesin. 

Karakter Brad memang ngeselin, tapi nggak sampai bikin benci juga. Aku kesel sekaligus suka sama Brad. Aku suka sama pemikiran-pemikiran negatifnya. Aku suka adegan (atau lamunan?) Brad tentang kesuksesan anaknya. Dia bisa ngegunain anaknya sebagai lambang kesuksesan. Sebagai bukti kalau dia lebih sukses daripada teman-temannya. Tapi di satu sisi dia bisa iri sama kesuksesan anaknya sendiri. Dia bisa ngerasa tersaingi dan menjadikan anaknya sebagai musuh. 

Walaupun aku masih umur 23 tahun, belum nikah, dan belum punya  anak, tapi aku ngerasa BRAD ITU KOK YA AKU BANGET....

Ketakutan, kecemasan, rendah diri, ambisius berlebihan, dan cinta duniawinya Brad kurang lebih bisa mewakilkan aku di tahun 2017. Dulu waktu di tahun 2016, dengan lebaynya aku mikir kalau itu adalah tahun kehilanganku. Kehilangan pekerjaan dan kehilangan pacar. Sampai akhirnya itu nggak berlangsung lama. Aku dapat kerja dan dapat pacar. Mungkin itu gara-gara doa Pange yang ini, 


Sekarang, dengan lebaynya aku mikir kalau tahun 2017 ini tahun yang bikin aku ngerasa.... nggak baik-baik aja. Aku ngerasa, kayaknya aku memang ditakdirin tiap tahun harus LDR sama orang. Tahun ini aku LDR sama teman terdekatku, yaitu Dita dan Kak Ira. Aku ngerasa nggak punya orang yang bisa dicurhatin dan ditemuin kapan aja lagi.

Di tahun 2017 ini, aku lebih sering main Instagram daripada tahun kemarin. Di situ pula aku ngerasa sirik dan iri sama teman-temanku. Bahkan sama orang yang sebatas kenal di sosmed. Kecemburuan sosial, kalau kata orang. Aku ngebandingin diriku sama mereka, lalu ngerasa aku bukan siapa-siapa. 

Di tahun 2017, aku ngerasa minder sama teman-teman seumuranku. Di mana mereka kerja buat nambahin uang jajan, tiap mau belanja nggak pake mikir, sedangkan aku kerja dengan tantangan yang beda banget dari waktu jadi customer service. Aku kerja dengan kenyataan yang seolah bilang ke aku, 

"Chaaaa, Bapakmu udah nggak kerja lagi, Mamaku sakit-sakitan."

Di tahun 2017 ini, aku ngeblog dengan drama. Punya masalah di dunia blog. Masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan kalau nggak ada bumbu-bumbu dipanas-panasin orang lain, atau bisa diselesaikan dengan memilih diam. Atau... masalah yang sebenarnya nggak patut dianggap sebagai masalah. 

Di tahun 2017 ini, aku ngerasa Nocturnal Animals adalah film yang aku banget. Aku ngerasa hidupku berubah setelah mutusin buat pergi dari seseorang yang udah bertahun-tahun sama aku. Aku ngerasa The Scientist-nya Coldplay terdengar lebih brengsek. Aku ngerasa gagal begitu ngeliat teman-temanku yang bisa sukses pacaran lama, yang masih sama satu orang dengan awetnya. 

Sampai di sini, aku benci udah nulis kalimat-kalimat cengeng di atas. Kalimat demi kalimat berisi kejadian yang aku alamin itu, kalau ditulis dan diingat lagi, terus dibandingin sama hidup orang yang kelihatannya lancar-lancar aja, jadi ngehancurin diri sendiri.  

Mengeluhkan apa yang udah terjadi, akan ngehancurin diri sendiri. 

Nggak ada bagus-bagusnya. 

Sama kayak Brad yang hobi ngelamunin hal-hal yang dia anggap sebagai kegagalan hidup.

Kesamaan dengan Brad itu, bikin aku ngerasa senang udah ketemu Brad's Status sebelum tahun 2017 ini berakhir. Aku jadi mikir kalau aku nggak boleh berpikir negatif  lagi. Aku harus terima apapun yang terjadi dengan mensyukurinya. Aku nggak boleh berharap dunia kasihan sama aku. 

Karena aku baik-baik aja. Sama kayak Brad.

Selamat tahun baru.

You Might Also Like

9 komentar

  1. Taun 2017 ini aku jugak punya masalah. Tapi berusaha buat happy karena patokanku YOLO. Muahahah :v

    Buat sebagian orang, tipe orang kek Brad itu malesin. Tukang ngeluh, ambisius en gak bisa bersyukur. Tapi ya bagusnya jadi berusaha lebih keras en gak gampang pasrah sama keadaan. Plus minus yak.

    Semoga 2018 ini banyak rejeki dan selalu bahagia ya, Cha. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuhuuuu. Setiap orang punya masalahnya masing-masing ya, Beb. Tinggal gimananya dianya nyikapin masalah itu. Kamu nyikapinnya dengan YOLO. Mantap shol!

      Betul. Ada plus minusnya. Harusnya seimbang sih biar nggak malesin banget.

      Aamiin. Makasih, Beb. Kamu juga ya! Semoga kebeli ipon ten! Wkakakaka.

      Hapus
  2. Time flies, (some) people changes. You are one of them. Happy new year, Cha!

    BalasHapus
  3. Selamat tahun baru! 2017 punya rasa yang semakin membuat hidup ini menarik ya. Hehehe. :))

    Semoga di tahun 2018 kita semua tetep jadi orang yang bisa menangani masalah dengan kepala dingin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat tahun baru juga, adik kecilku!

      Aamiin. Makasih, Rob. Kamu juga ya. Semoga makin tergenjot semangat kuliahnyaaaaaa~

      Hapus
  4. Lihat postingan farihikmaliyani nemu blog ini. Blognya enak, banyak review tapi bahasanya santai :) Salam

    BalasHapus
  5. Fak, aku telat banget baca postingan ini karena belum sempat bw kemana-mana. Tapi aku mengamini doa pange dan juga setiap harapan kamu di tahun 2018 ini. Semoga tahun ini, Icha menjadi pribadi yang lebih baik. Selamat tahun baru! :*

    Btw, aku suka quote-quote yang ada di film ini. Mantap bener. Adegan yang ngingatin biar kita nggak jadi manusia yang gampang ngeluh itu emang pas banget. Aku sukaaaaaa :')

    BalasHapus