Nomor gak dikenal tiba-tiba mengusik handphoneku, yang lagi aku gerayangin dalam rangka ngeliatin foto-foto jaman dulu.
“Halo?" sapa suara di seberang sana.
“INI SIAPA?”
“Zai.”
Dan seterusnya, suara ketusku berubah jadi suara terlalu ramah, atau lebih tepat disebut sebagai suara manja-manja-kegirangan-bikin-jijik.
Zai nelpon aku pake nomor salah satu juru masak di mesnya. Katanya, hape juru masak itu paling kuat buat nerima sinyal daripada hapenya dan hape teman-temannya. Jadi selain dia, teman-temannya juga turut buat make hape itu.
Setelah dulu harus naik ke menara atau ke bukit, harus berada ke Sangkulirang, dan sekarang harus minjam hape orang demi saling bertukar kabar dan menghujat lewat telpon?
Sekali lagi, aku ngeliat betapa hubungan kami diuji sama sesuatu yang keparat bernama sinyal.
Aku langsung keluar dari kamar, turun ke lantai bawah, sambil kegirangan. Oh iya, aku tidur bareng Mama dan Nanda dalam satu kamar, tapi beda tempat tidur. Padahal di rumah ada satu kamar lagi di lantai bawah, yang bisa ditidurin sama Mama, ataupun sama aku. Tapi Mama bilang kamar itu gak bikin tidur nyenyak entah karena apa. Begitu aku pengen nempatin kamar itu, Mama langsung berdalih kalau aku bakal gak kenal yang namanya tidur malam kalau dibiarin tidur sendirian. Faaaak lah. Eh, fa afaan (gak maksa kan?) Mama ini.
Gak masalah sih sebenarnya tidur sama adek sendiri dalam satu kamar, tapi kalau tidur sama Mama? Bukannya apa-apa, tapi aku ngerasa gak bebas aja. Beliau gak bisa tidur kalau anaknya masih nonton TV atau sekedar main hape. Jadi kalau beliau udah mau tidur, kami harus tidur juga, Buat Nanda yang emang gak hobi tidur larut malam, itu gak jadi masalah. Buat aku, itu juga gak jadi masalah sih. Selama aku bisa pura-pura tidur beberapa menit dan pas beliau tidur terlelap baru aku bisa melanjutkan apa yang aku lakukan tadi, kayak main twitter, nonton film di laptop, atau ngeblog. Jangan ditiru ya, anak-anak.
Lanjut, nah jadi aku langsung turun, dan bisa ditebak, Mamaku langsung terbangun.
“Siapa yang nelpon?”
“Zai, Ma.”
Meski dengan matanya yang sayu efek baru bangun tidur, Mama masih bisa menatapku tajam.
Sebentar lagi aku bakal disuruh tidur, dan berakhirlah telponan indah yang jarang-jarang terjadi ini. Aaarrrrrggghhh!!!
“Jangan belinyai (bahasa banjar, artinya berhambur) di kamar lah, di ruang tengah aja.”
Kemudian beliau membalikan badannya. Lanjut tidur.
Ini tumben induk singa gak marah kalau aku telponan jam segini.
Aku kembali meneruskan phone sex, eh meneruskan telponanku sama Zai. Kami ngobrolin banyak hal, meski dengan suaranya yang kadang hilang dan suaraku yang hilang juga, dengan telpon yang tiba-tiba terputus karena sinyal tiba-tiba hilang.
Seperti biasa dimulai dari aku dan dia mengambil peran sebagai pendengar sekaligus penghujat ulung atas apa yang aku ceritakan.
Sempat ada hening beberapa saat ketika ceritaku habis. Sampe akhirnya,
"Eh, kamu pernah nonton film Dear John gak?" Zai memulai obrolan baru.
"Gak pernah. Emang itu film apa? Bagus kah? Siapa yang main?"
"Channing Tatum. Tau Channing Tatum gak?"
"TAU AY, YANG DI 21 JUMP STREET ITU KAN?"
"Tumben tau. Iya, yang itu. Yang jadi ceweknya itu Amanda Seyfried, yang semok itu."
"Terus terus, ceritanya bagus?" Aku langsung cepat-cepat skip yang masalah semok, ntar ujung-ujungnya dia ngolokin berat badanku yang segitu-gitu aja.
"Enggak juga sih. Ceritanya tuh tentang Channing Tatumnya itu tentara, dia sama si Amanda... Beuh, LDR." Ada ketawa yang ditahan pas mau nyebutin kata terakhir.
Zai pun dengan luwesnya menduduki posisi sebagai pembicara. Menceritakan alur film Dear John. Menorehkan senyum dan tawa di bibirku sekaligus.
"Akhirnya Amandanya nikah sama si Tim, bapaknya anak yang kena autis itu. Dia kan dapat cuti terus dia nemuin Amanda, tau-taunya Amandanya udah nikah sama orang lain. Apa dia langsung gak galau. Maka alasannya tuh karena si Tim gak ada yang ngurus. Alasan aja. Bangkai."
"Oh gitu ya. He he he he he. Ntar aku download lah."
Hening kembali tercipta. Aku menoleh ke arah jam dinding. Udah jam dua belas aja.
"Aku keingatan kamu pas ngeliat Amandanya kayak gitu."
"Kenapa? Aku cantik kayak Amanda ya? Ya-ya emang sih."
Sebenarnya aku tau maksudnya dia apa, tapi you know kan, cewek, kadang pura-pura bloon biar si cowok ngomong lebih jauh dan lebih jelas, yang bikin si cewek seneng. Eeeh, itu rahasia cewek sih sebenarnya.
"MATAMU! Kamu mirip kayak dia, yang. pina iya-iyanya nyuruh cerita semua yang dilakuin, eeh ntar ujung-ujungnya nikah sama orang lain."
"Emang cewek semua kayak gitu kan, minta cowoknya cerita apa yang terjadi sama cowoknya?"
"Bukan itunya sih. Hhhhh. Makin bungul ya kamu. Maksudnya, antara kamu sama aku, kamu yang paling takut diantara kita ada yang selingkuh. Kamu yang paling pengen dikabari, diceritakan apa yang terjadi. Kamu yang kelihatannya paling takut kehilangan. Sama kayak Amanda. Tapi nyatanya dia malah sama yang lain, bukan sama Channing padahal udah setia. Udah ngerti, Bitch?"
Sudah ngerti dari awal sih sebenarnya. Tapi masih belum ngerti kenapa kamu jadi mendadak alay gini, nyama-nyamain kisah di film kayak kisah sendiri. Tapi aku suka kamu alay, Asshole.
Jawabku dalam hati.
Habis itu aku berkoar-koar untuk gak jadi kayak Savannah, nama karakter Amanda di Dear John. Dan dia menanggapi dengan cemoohan, kayak meremehkan. Nyebelin sih, tapi emang dasar salahku dulu pernah jadi Savannah. Jadi dia masih suka ngungkit yang waktu itu.
Kelar telponan, sekitar jam setengah satu, aku kembali ke kamar. Tujuan utama memang untuk tidur, tujuan lainnya untuk ngeliatin foto alay yang aku gantung di kamar pake tali yang entah apa namanya, bentuknya mirip tali jemuran. Ngeliatin fotoku sama Zai dari dua tahun lalu sampe terakhir ketemu, Januari kemarin. Sambil browsing soal film Dear John.
![]() |
| quote paling aku suka. alah, padahal belum nonton filmnya. |
Dengan terasa, baru, atau udah empat bulan kami terjerumus ke dalam long distance relationshit.
Aku benci pake kalimat 'gak terasa', yang biasanya dipake buat status menjelang lebaran, atau kelulusan. Gak terasa udah mau lebaran aja. Gak terasa udah mau lulusan, pisah sama teman-teman.
Aaaakk. Bullshit! Seenggaknya buat yang lagi LDR, kalimat 'gak terasa' itu bullshit. Karena nyatanya, LDR itu sangat amat terasa.
Rasanya aneh LDR-an tapi gak kayak orang-orang.
LDR yang bukannya dipisahkan sama pulau, selat, laut, jarak ratusan bahkan ribuan kilometer, planet. Kami masih di provinsi yang sama, kalau mau ke tempat dia berada harus menempuh perjalanan selama tujuh jam. Tapi aku baru tau, itu baru nyampe di Sangkulirangnya aja. Karena sesungguhnya dia berada di kawasan perkebunan kelapa sawit. Dari Sangkulirang kesana menempuh waktu sekitar dua jam dengan menyeberang laut. Menurutku lebih kampret daripada menempuh perjalanan keluar provinsi.
LDR yang gak diwarnain telponan smsan bbman Line-an tiap hari, bertukar kabar tiap hari. Dari jaman belum LDR, kami emang jarang komunikasian tiap hari. Ditambah dengan LDR, makin jaranglah komunikasian. Bukan lagi soal sifatnya yang gak suka komunikasian macam nanyain lagi-apa, udah-makan,-udah-boker, tapi soal sinyal yang susah didapat. Hampir sebulanan ini mulai bisa bbman sih, tapi kampret juga. Wi-fi disana kadang udah kayak terong-terongan pake celana sama baju ketat, minta disodomi pake powerbank. Nyebelin banget. Sering centang aja. Pas obrolan lagi seru-serunya, tiba-tiba centang, besok baru terkirim. Kan eek.
LDR yang tercipta bukannya karena kami beda pulau saling jatuh cinta. Gara-gara dia lulus kuliah dan harus, atau mau, entahlah, kerja sesuai apa yang dia pelajari dulu waktu kuliah. Dia masuk SMK SPP (SPMA) Negeri Samarinda, sekolah menengah kejuruan dengan sistem asrama, mempelajari pembangunan pertanian. Kuliahnya pertanian lagi, di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Itu anak kayaknya cinta banget sama pertanian, bukannya sama aku.
LDR yang aku pikir bakal berjalan dengan menyedihkan, ternyata berjalan dengan..... sangat menyedihkan. Aku kayaknya gak bisa tegar kayak pejuang LDR lain. Yang biasanya ke rumah ngegodain dua keponakanku, Khansa sama Tasya, sekarang gak ada. Yang biasanya nongol di depan pagar dan aku baru pulang baru mandi, sekarang gak ada. Yang biasanya pamer MV Eminem yang baru maupun yang lama, sekarang gak ada. Yang biasanya suka nampar pipiku, yang aku tendang kakinya kalau ngolokin selera filmku, sekarang gak ada.
Mulai nge-drama queen deh, Cha.
Tapi, dengan Zai nelpon pake hape ibu dapur tadi, aku jadi mikir kalau LDR telah mengubah sosok orang cuek yang aku kenal selama ini jadi sosok yang sedikit, hoek, romantis.
Bikin aku makin berpikir, kehilangan sinyal aja aku udah takut, apalagi kehilangan dia.
Hoek. Lagi. Kali ini dari yang baca.
Oh iya, aku belum nonton filmnya sih sampe sekarang. Padahal rencananya mau download dulu, nonton, baru aku nulis postingan ini. Tapi udah keburu gatal mau ngetik sih.
Eh, bukan.
Tapi sebenarnya karena postingan ini bukan tentang Dear John, tapi tentang Dear LDR. Kalau aku bisa nulis surat buat si LDR itu, aku pengen nulis surat yang isinya bilang kalau ada dua orang yang telah 'dia' ubah.
Satu, Zai. Yang lebih mau cerita tentang dirinya, lebih terbuka, mulai ngomong aneh (aneh karena keluar dari mulutnya) macam,
"Kamu jangan jalan sama monyet lain."
"Tunggu abang pulang ya, Dek. Abang disini buat masa depan kita. Hueeek."
"Jangan mati."
Dan selalu ngusahain untuk bisa komunikasian sama aku.
Dua, aku. Yang dulu selalu insecure, takut, saking takutnya sampe pergi ninggalin dia, sekarang berubah jadi pribadi yang berusaha buat berpikir positif, buat percaya, kalau dia sayang sama cewek kurus bergumpal kentut sama rindu ini dengan segenap jiwa cueknya.
Udah pusing karena gak nemu hikmahnya habis baca postingan ini? Sama, aku juga pusing nulisnya.



