Minggu, 10 September 2017

The Big No

Malam Minggu kemarin aku habiskan dengan beberapa kegiatan berfaedah. Ngedengerin lagu-lagunya Taylor-is-dead alias lagu-lagu lamanya Taylor Swift sambil bernostalgia, dan nonton dua film beda genre. Nonton Krisha dan The Big Sick. Untuk orang semager aku, nonton dua film dalam satu malam adalah kegiatan yang produktif, positif, dan edukatif. 

Dari dua film di atas, aku lebih suka Krisha. Hal yang nggak aku duga sebelumnya, karena aku pikir aku bakal kasmaran berat sama The Big Sick mengingat itu film komedi romantis dan ada Zoe Kazan main di situ. ZOE KAZAN CANTIKNYA NGGAK NAHAAAAN! 

Tapi ya gimana. Film yang dapat skor 98% di Rotten Tomatoes itu menurutku b aja. Aku ngerasa lebih terhubung sama Krisha daripada sama The Big Sick, walaupun aku nggak pernah ngalamin punya anggota keluarga yang pemabuk kayak Krisha. Kalau mabuk darat sih punya. Krisha memenuhi kriteriaku sebagai film bajingseng. Punya tokoh utama menarik dan drama keluarga Krisha bisa dibaperin ke hal selain keluarga. 

Misalnya ke soal kita main serong dari pacar kita. Kegep, minta maaf dengan berbagai cara mulai dari ngomong langsung sampai bikin postingan di blog, berusaha buat berubah, tapi si pacar masih nggak mau maafin kita dan nggak nganggap kita lagi. Pilihannya ada dua, mau terus berusaha sampai capek sampai si pacar bener-bener percaya sama kita. Atau ngerasa usaha kita nggak dihargai terus balik lagi jadi tukang main serong selevel Gemini bajingak.

Aku ngerasain kesenangan yang bermuncratan pas nonton film sedepresif Krisha. Tapi aku lebih tertarik buat ngebaperin The Big Sick. Ada beberapa keresahan receh yang aku rasain habis nonton filmnya dan harus aku tumpahkan kali ini. 

Lebih suka posternya yang ini daripada yang satunya.

The Big Sick adalah kisah nyata seorang komika yang difilmkan. Komika tersebut bernama Kumail Nanjiani dan di film ini dia bermain sebagai dirinya sendiri. The Big Sick udah kayak film-filmnya Raditya Dika. Tokoh utamanya sama-sama seorang komika, sama-sama tentang kisah percintaan yang nggak mulus, dan sama-sama ada komedinya. Perbedaannya yaitu nggak ngomongin mantan atau kehidupan jomblo ngenes. Tapi lebih berat, yaitu cinta beda kultur terus berhubungan dengan agama dan restu orangtua. 

Kumail (Kumail Nanjiani) adalah seorang komika muslim keturunan Pakistan yang tinggal di Chicago, Amerika. Dia melewati hari-harinya dengan open mic di kafe, kerja sambilan menjadi sopir Uber, dan berkunjung ke rumah orangtuanya. Keluarga Kumail cukup fanatik soal agama dan tradisi. Nyuruh Kumail buat numbuhin jenggot kayak kakaknya yaitu Naveed (Adeel Akhtar), nyuruh Kumail buat salat lima waktu, dan menjodohkan Kumail dengan perawan keturunan Pakistan. 

Perlakuan-perlakuan di atas cukup bikin Kumail gerah. Dia bukan Muslim yang taat. Bisa dibilang dia hidup dengan gaya barat. Kalau ditambah tato sekujur tubuh dan suara merdu, Kumail udah kayak Zayn Malik. Tapi terlepas dari itu, siapa sih yang nggak gerah sama tradisi kolot bertajuk perjodohan? Perjodohan yang benar-benar pokoknya-harus-nikah-dengan-sesama-Pakistan. Kalau mau nikah sama yang bukan produk Pakistan, pasti nggak direstuin, diasingkan dan dicoret dari kartu keluarga alias nggak dianggap sebagai anggota keluarga lagi. Pilihannya seolah cuma ada dua kalau mau tetap hidup damai: Nikahin cewek Pakistan atau melajang sampai ajal menjemput. 

Awalnya Kumail nggak terlalu memusingkan hal itu. Dijadikannya kebiasaan Ibunya yang suka memperkenalkan lubangan Pakistan itu sebagai jokes personal. Sampai akhirnya Kumail jatuh cinta sama Emily (Zoe Kazan), perawan lucah Amerika yang cantik dan humoris. Cintanya nggak bertepuk sebelah tangan. Tapi.... Emily harus terbaring koma di rumah sakit karena penyakit misterius. Misterius ya, bukan mistis. 

Di masa-masa Emily koma, Kumail harus meyakinkan orangtuanya Emily dan perasaannya sendiri akan Emily. Kumail harus memilih salah satu: nikah sama pacar terus ena-ena 69 atau dapat warisan keluarga. Eh bukan. Kumail harus memilih antara pacar atau keluarga. 

Btw aku kira Kumail ini orang India lho. 

Eeeeeeer. Film yang berdasarkan dari kisah nyata dan relatable kayak The Big Sick nyatanya nggak bikin aku baper parah kayak waktu nonton Her dan Ruby Sparks. Dua film yang nggak realistis itu. Ada hal yang aku suka dan aku nggak suka dari film ini. The Big Sick menurutku adalah film Hollywood yang nggak Hollywood. Ada soal perjodohan, stereotype agama, dan usaha merebut hati calon mertua. Rasanya jarang ada film Hollywood yang ada kayak gitunya. Hal itu ngingatin sama para sepupuku yang di Bengalon dan Makassar, yang pada nikah sama saudara jauh karena tradisi harus nikah sama yang sukunya Bugis juga. 

Untungnya penyajian hal-hal berat di film keluaran tahun 2017 ini nggak kaku, nggak menggurui, nggak membenarkan dan nggak membela agama Islam atau agama lain. Persoalan beda agamanya nggak terlalu ditekankan. Lebih nekanin soal tradisi Pakistan yang perjodohan itu sih. Ini jadi salah satu yang aku suka. The Big Sick nyantai, ringan, dan lucu. Walaupun ya nggak lucu-lucu banget. Beberapa scene memang ada yang bikin ngakak, contohnya kayak Emily yang sempat malu ngaku kalau dia mau buang air besar. Dialognya juga ada yang bikin ketawa. Tapi ya.... nggak membekas gitu. Nggak sampai bikin aku ngakak tanjal kayak Trainwreck misalnya. Hmmm. Ini soal selera humor atau apa, ya. Entahlah. 

Mudah untuk bisa baper sama The Big Sick. Usaha Kumail dalam memperjuangkan cintanya bikin senyam-senyum. Kumail nggak gentar walaupun dijudesin sama camer galak. Gaya pacarannya (terlepas dari bobok-bobok lucu bareng) itu relatable sama gaya pacaran kawula muda tanah air. Sok-sok nggak mau saling komunikasi, nongkrong bareng, nonton film yang berakhir dengan filmnya yang malah ‘nontonin’ alias berakhir dengan ciuman. Yeaaaah, itu biasanya yang terjadi pas kita lagi nonton di bioskop kan, ya? Eh iya nggak sih?

Ditambah tindakan santainya Kumail saat meladeni penonton open mic yang nyinggung soal terorisme sama keislamannya. Tapi aku kurang ngerasa klik sama chemistry antara Kumail dan Zoe. Interaksi mereka sebagai dua orang yang saling mencintai bagus sih. Tapi menurutku tetap aja nggak ngena. Nggak tau kenapa. Apa karena aku lebih suka kalau Zoe sama Paul Dano atau karena karakter Kumail itu kurang bisa disukai. Sebagai komika, Kumail harusnya lucu. Dia lucu sih tapi ya lucu biasa aja menurutku. Nggak ekspresif. Masih lucu-lucu menarik si Amy Schumer, pemeran di Trainwreck. 

Bukan lagi dengar kabar Emily sedang mengandung.

Lah aku nggak ada ngeliat hal menarik selain dia itu lucu dan suka ngebohongin orangtuanya. Aku pernah sih ngebohongin orangtua tapi nggak soal ibadah juga. ANJIR LAH INI AKU JADI SOK SUCI BET YAK.

Ngomong-ngomong soal komika, aku jadi inget masa-masa di mana aku masih sering nonton open mic. Aku yang hebohan dan suka teriak “UUUH!” kalau ada komika yang lucu. Sementara Kak Ira juga nggak kalah heboh dengan ngakak sambil tepuk tangan. Kami secara nggak langsung suka jadi pusat perhatian. Kami berdua sama cabe-cabean nggak ada bedanya. Huhuhu.

Nah, karakter Emily yang diperankan Zoe Kazan itu ngingatin sama kebiasaanku saat nonton open mic. Emily juga heboh pas nontonin Kumail. Itu jadi hal lain yang aku suka dari The Big Sick. Di film ini, Zoe Kazan cantik, mengagumkan, dan menggemaskan seperti biasanya. Cuman sayangnya.... menurutku pesonanya ketutup sama Holly Hunter, yang berperan jadi Ibunya. Aku suka banget sama kelakuan beliau yang gaul bet jadi Ibu. Pembawaannya nyantai, konyol, dan cenderung serampangan semau gue. Seksi! Dalam artian seksi yang cool. Chemistry beliau bareng Zoe Kazan bikin aku yakin kalau mereka Ibu-anak beneran. 

Ray Ramano, yang berperan sebagai Ayahnya Emily juga keren. Aku suka pas beliau ngomong, 

“Menjadi orangtua adalah mimpi buruk. Mencintai seseorang sama buruknya.”

Deeep! Dalemaaaaan!

Tapi ya aku tetap ngerasa kalau The Big Sick nggak sebagus yang aku kira. Nggak sebagus yang orang-orang di Twitter bilang. Aku jadi setuju sama apa yang dibilang Bang hehwhr soal The Big Sick. Orang pertama dan mungkin satu-satunya yang frontal bilang kalau The Big Sick biasa aja. 







Untuk twit yang terakhir, aku setuju banget. Untuk ukuran film komedi romantis, nggak ada soundtrack atau scoring di The Big Sick yang nempel di kepalaku. Bener, sepi bet. Masih mending pas liat trailer-nya, ada lagu Mess Is Mine-nya Vance Joy. Itupun nempel karena lagu itu pernah dipake di 13 Reasons Why. Soal soundtrack, The Big Sick kalah sama LOVE-nya Gaspar Noe di mana ada lagu Maggot Brain yang nempel dan bikin pengen bersenggama ramai-ramai. 

Jadi..... balik lagi ke awal. The Big Sick b aja menurutku. Tapi aku suka. Cuman, kalau ada yang bilang akting Zoe Kazan di The Big Sick adalah yang terbaik dari semua filmnya, aku bakal bilang big no. Kalau ada yang bilang The Big Sick adalah film komedi romantis terbaik, aku bakal bilang big no. Kalau ada yang bilang The Big Sick bisa bikin aku baper parah, aku bakal bilang big no

Sekarang aku ngerasa kayak orang-orang yang bilang La La Land itu b aja di saat banyak yang bilang La La Land itu bagus banget. Huhuhu.

Aku jadi mikir gini nih. Mungkin alasan terbesarku kenapa aku ngerasa The Big Sick itu b aja, karena aku nggak ngerasa terhubung sama film ini. Aku nggak pernah pacaran sama orang yang beda kultur sama aku. Atau karena aku nggak pernah ngalamin cinta yang kebentur restu orangtua. Yang pernahnya malah dapat restu dari orangtua, eh tapi malah aku putusin. Bodoh.

Anjir jadi curhat.

12 komentar:

  1. Saya mengenalnya sebagai Dinesh, temennya Richard di Silicon Valley.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak nonton Silicon Valley jadinya aku nggak tau hehehe.

      Hapus
  2. lu nulis kesenangan yg bermuncratan, gue jadi mikir kemana-mana.
    pas liat poster filmnya, gue kirain orang india. eh trnyata pakistan. ya negrinya sbelahan lah ya.
    klo nnton ini kyaknya juga bakalan biasa aja juga sih, krena engga pernah dpet pacar yg beda kultur. tapi ga sebego org yg udah di restuin sama orangtua, tapi diputusin juga sih.

    lucuan kumail atau raditya dika, ca?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wadaw si Fauzi. Nggak bisa denger kata muncrat :(

      Nah sama. Aku juga ngirain dia itu orang India. Serumpun gitu dah sama Pakistan ternyata :D

      Hmmm bisa jadi. Tapi memang harus dibuktikan sendiri dengan nonton filmnya. Siapa tau engkau terinspirasi buat pacaran sama gadis Amrik~

      HEEEEEEEH! KOMENNYA DIJAGA YAAA! HUHUHUU FAUZI KAMPREEEEEET.

      Lucuan..... duh pertanyaan sulit :(

      Hapus
  3. Mungkin hampir sama ya pacaran dengan orang yang berbeda kultur dengan pacaran dengan orang yang berbeda agama.

    Restu orang tua? Entahlah kami hanya backstreet saat itu.

    Yang pada akhirnya dengan alasan - alasan a, i, u, e, o kami pun berpisah.

    *Curhat

    Zoe kazan lucu imut beud dah, mungil :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups. Di film ini maknanya jadi sama, Sep.

      Dengan siapa kamu backstreet saat itu? SEBUT NAMA.

      Tolong dongs curhatnya dilanjutin paling sedikitnya tiga paragraf....

      Iya dia imut bet. Aku yang cewek aja suka apalagi kamu yang cowok yaaaaa~

      Hapus
    2. Dia sejenis voldemort ka, dia yang tak boleh disebut namanya~

      Aduh kalo sampe tiga paragraf mending bikin postingan sendiri -_-

      Engga ah biasa aja, udah kapok suka dari tampilan luarnya aja~ yang terpenting itu dari duitnya, eh, hatinya.

      Hapus
  4. zoe kazan nih kayaknya nggak pernah tuir ya, mukanya gitu-gitu aja dari film jaman baheula sampai sekarang. padahal doi udah lumayan berumur.

    kalau liat review kamu, aku jadi mundur mau nonton deh, cha. kok kayaknya nggak ngefeel gitu :( *terlepas dari curhatan nyempil yg di bawah ya

    btw, paragraf 4 curhat tentang siapa? Yoga bukan? :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, May. Padahal dah kepala tiga. Sukaaaa sama baby face-nya dia. Imut banget jadi cewek. Uwuwuwuwuwu~

      Yaaaah ini malah mempengaruhi orang buat nggak nonton ya huhuhuhu. Kalau mau coba buktikan sendiri dengan nonton filmnya, May. Siapa tau ngena di kamu. Sejauh ini The Big Sick ngena di banyak orang :D

      Hmmmm Yoga Akbar dan Yogaesce tentunya dongs.

      Hapus
  5. Yoga: Sudah kujawab ya. Mhuahahaha.

    BalasHapus
  6. Kak Icha masih rajin ngeblog aja yak di saat jadwal blog gua amburadul. Di postingan ini gua tertarik utk menonton film ttg seorang komika yang lucunya biasa aja tapi bisa menarik perempuan cantik.. gua yakin itu perempuan receh banget ya. -__-

    Btw, arti kata "lucah" dalam ungkapan perempuan lucah itu apa, Kak? Adek masih polos ini masih semester 3.. -_-

    BalasHapus

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com