Minggu, 09 Oktober 2011

Pacaran Juga Butuh Modal

Aku rada miris ngeliat pacaran muda mudi jaman sekarang (emangnya aku udah tua?). Khususnya bagi anak-anak belasan tahun (aku gin juga belasan tahun) yang masih berstatus pelajar.
Coba lihat mereka, kalau mau ketemu musti ngarang-ngarang alasan dulu kalau mau ketemuan sama sang pacar. Ma, ada kerja kelompok di rumah anu, Pa, mau jalan dulu mau cari buku itu sama teman, cuma teman aja kok suerrrrr. Kalau lagi kangen berat, tapi gak berani ke rumah tuh cewe maupun tuh cowok, ketemuannya di simpangan, depan gang, depan gapura kompleks. Kalau dipaksain harus ngapel ke rumah, si doi harus mati-matian nyamar sebagai tukang ojek lah, teman sekelas yang ada keperluan minjam peer lah, Sudah dibolehkan jalan, bermalam minggu ria, jalannya malah ke warnet, pinggir jalan, bahkan ke rumah temen. Gak ada agenda candle light dinner, nonton film romantis sampai yang bertema slasher di bioskop, atau hanya sekedar ke mall mencicipi pemandangan baju-baju terbaru yang terpampang di etalase.  Miris.

*gak, aku gak envy kok sama orang-orang yang lagi pacaran.. postingan ini wujud keprihatinanku aja. aku gak envy deh pleaseee *

Meski gak 100% dari anak-belasan-tahun-yang-masih-berstatus-pelajar tipikal berpacarannya kayak yang udah kusebutkan di atas,  namun gak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar anak-belasan-tahun-yang-masih-berstatus-pelajar mengalami siklus pacaran seperti itu. Kebanyakan anak SMP. Alasannya sungguh klise: karena gak dibolehin pacar-pacaran. masih kecil! 

Contoh kecilnya aja, adekku. Nanda Anggraini namanya.  Dia menjalin hubungan dengan lelaki berwajah korea agak ngondek bernama Chandra Adi Siarra. Adik kelasku waktu aku SMP.
Aku gatau persis sudah berapa lama mereka berhubungan lebih dari sekedar teman. Yang jelas, inbox di hape Nanda selalu dipenuhi dengan sms-sms mesra dari Chandra sejak tiga bulan lalu. Itu gak bisa dijadiin tolok ukur usia hubungan mereka. Siapa tau mereka berhubungan kurang dari tiga bulan itu, atau mungkin lebih dari tiga bulan itu. Kan mereka sekelas waktu kelas IX. Awalnya aku acc aja dengan hal ini. Tapi lama kelamaan.. kejanggalan mulai terlihat.

Nanda mulai belajar ilmu membohongi orang tua. Dia alasan mau ngerjain tugas, eh sekalinya dia jalan-jalan keliling cendana sama Chandra. Alasan mau ke pasar malam, malah mojok di warnet bareng Chandra. Minta pulsa sama Bapak, trus pulsanya dipake buat nelfon Chandra. Lagi-lagi Chandra.
Aku agak sangkal ngeliat polah tingkah Nanda. Dia jadi binal sekarang. Rela bohong demi ketemu sang pacar. bodohnya, bohongnya itu loh mudah banget dikuak. Gak pinter banget ngebohongnya. Masa mau belajar kelompok pas jam setengah 9 malam. Kan udah lumayan larut itu malamnya (bukan gulanya). Malam minggu lagi. Pakaiannya necis pula. Ketahuan banget kalau lagi ada janjian kencan. Oh tidak bisaaaaa.. kakakmu ini tidak bisa kamu tipu sembrakangan, Nanda!

Aku cuma bisa mesem-mesem. Kalau matanya mendelik-delik meminta pertolongan, ya aku langsung turun tangan. Entah itu dengan menyambung-nyambungkan cerita karangan Nanda, atau dengan mengalihkan perhatian. Apapun caranya, yang penting Nanda bisa kabur melancarkan aksinya. Kasian Chandra nya, plonga-plongo depan rumah. Aku kan kakak yang baik, jadi  aku harus rela berkorban bagi remaja kasmaran seperti adekku ini. Siapa tau nanti aku bisa pacaran backstreet (berhubung sekarang aku dilarang pacaran) trus Nanda ngebantuin aku nyusun alibi. Hooo ada maunya ternyata. Plaakkk

Beberapa hari kemudian...

"Kak, makasih yaaa yang waktu malam itu. Saya bisa jalan sama Chandra. Hihihi" 

Aku mengangguk sekenanya,

"Iya Sal, (aku dan orang rumah memanggilnya dengan sebutan Isal, karena dulu rambutnya megar mekar nan panjang serta kusut masai, mengingatkanku pada tante pulau seberang yang bernama Isal) Untung Mama belum pulang waktu itu.. Adanya cuma Bapak. Kalau sama Mama kamu minta izinnya, pasti gak dibolehin. "

"Hehehe, iya kak.. Untung aja ya.."

"Oh iya, kalian jalan kemana waktu itu? Cie cieeee"

"Ke warnet, Kak. Dia bikin akun Heello"

"Oh.. trus? trus? Kamu makan dimana?"

Mulai terlihat raut bingung

"Di rumah masing-masing lah.."

"Aduh, bukan itu maksudnya. Itu bego memang penyakit atau kebiasaan sih? Sering banget kambuhnya... Gini loh, kamu sama dia makan di mana? Ya masa' ke warnet doang?"

"Memang ke warnet aja, Kak. Emang kenapa?"
Gedubraaaakkk. Kasiannya adekku. Dibawa lari semalaman, di malam minggu, dan ternyata cuma ke warnet? Warnet? Warnet?

"Kok rada gak so sweet gitu yaaa... Dapat apa di warnet? Kalaupun kamu sama dia mau online, kan bisa di rumah.. Modem ini buat apa coba kalau kamu ujung-ujungnya ke warnet. Makan gitu kek, ya buat isi perut trus buat ngobrol-ngobrol juga. Kan kalian jarang ketemu.."

"Anu ka.. bingung sih mau kemana.. Mau ke rumah Cindy tapi Cindy nya lagi ga ada di rumah, ya jadi ke warnet deh."

Hapaaaaah???


Aku jadi rada prihatin ngeliat nasib Nanda. Bukannya matre ya, tapi etis gak sih kalau kita (seandainya jadi cowo) mengajak jalan pacar kita ke tempat-tempat yang.. ya gitu deh. Dia gak mikir apakah pacarnya itu bisa senang atau enggak?  Minimal, ajak makan gitu. Tinggalin kesan baik buat si cewe. Kalian, jika ku tanya, kalian senang gak sih dibawa jalan ke warnet? Kalian gak malu bermalam mingguan di warnet?  Asal gak macam-macam, malu itu masih sedikit kadarnya. Hhhhhhhh jadi sangkal sama Chandra nah. Grrrrrrrrr

Masih mending warnet, ada juga cowo yang bawa cewenya pacaran di perumahan-perumahan kompleks. Eh kompleks-kompleks perumahan. Eeeehhh ga tau deh. Maklum, tinggal di rumah susun. Mereka berpacar-pacaran di semak-semak. di teras rumah yang belum ada penghuninya (loh kok mulai ngerasa aura horror yaa). Makin gelap, makin lancar mereka.  Ada juga yang pacaran di danau, yang biasanya ramai oleh para pemancing pagi harinya. Jika malam menjelang, apalagi malam minggu, satpol PP betebaran. menjaring anak-anak remaja yang ketahuan mesum. Trus ditindak lanjuti di kantor polisi. Itu parah, ini lebih parah lagi. Sebuah masjid terbesar di Samarinda, bahkan di Asia (mungkin), digunakan jadi tempat pacaran sama anak-anak remaja, khusunya anak alay bermotor yang menimbulan suara mirip ketinting, dan ber-KYT merah. Ini patut digarisbawahi. Bukan aja polah tingkah mereka, tempat suci  kayak gtu pun ikut mereka nodai. Miris. Aku masih bersyukur Nanda masih di ambang batas.

Gak lazim. Kodrat sebagai laki-laki dan sebagai perempuan diputar balikkan. Dimana disini malah cewe yang manjain cowo, yang saban hari nelfonin cowo. Si cewe pura-pura gak peduli dengan tagihan pulsa yang membengkak karena keranjingan nelfon. Kalau cowonya pernah nelfon sih ya gpp, tapi kalau si cewenya yang nelfonnnnnnnnn terus, si cowo tinggal nunggu hapenya berdering aja tanpa keluar pulsa, keterlaluan kan? Rela jadi ojek pribadi sang cowo, yang siap siaga mengantar-jemput sang cowo belahan hatinya itu kemana saja, bahkan ke Ujung Kulon sekalipun. Dari uang pinjaman sampai uang jajan, sang cewe yang nyediakan buat cowo. Alasan si cowo ogah ngeluarin duit beragam adanya. Bisa update tiap harinya. Tugas sekolah si cowo serasa tugas sekolah cewe. Si cewe melulu yang ngerjain tugas-tugas sekolah si cowo. Sekali dua kali, lama-lama tiap kali. Dengan mengatasnamakan cinta, si cewe melakukan hal itu dengan ikhlas. Tanpa banyak tanya, tanpa banyak protes. Banyak kan yang kayak gitu? Contoh-contohnya bisa kita temui di sekolah-sekolah SMP-SMA/ sederajat terdekat.

Kalau sudah putus, langsung deh memaki-maki. Maunya ai aku buang-buang pulsa buat nelfon dia, mau-maunya ai keluar biaya banyak buat dia, dan mau-maunya lainnya.Menyesal deh.

Setelah melihat fenomena itu, mari kita lihat alasan kenapa cowo mendadak parasit kayak gitu. :
Mereka (terutama cowo, sangat ditekankan sekali buat cowo. sangat!), berbuat seperti itu karena minimnya dana sebagai penunjang proses pacar-berpacaran mereka. Pacaran itu, apalagi yang tahapnya sudah serius-tinggal-tunggu-tanggal-nikah, sama aja dengan ngasih makan anak orang. Ibaratnya, udah ngenafkahin (apaan coba), udah ngebanting tulang buat keperluan pasangan. Kodratnya kan, lelaki yang memberi, perempuan yang menerima. Lelaki mencari, perempuan menunggu. Kalau jadi terbalik posisinya, ya namanya melanggar kodrat dong. Ya aku gak maksain si cowo kalau mau pacaran harus kaya-raya, tapi ya jangan mentang-mentang si cewe anteng-anteng aja digituin, malah dimanfaatin. Dikeruk hartanya, digunakan kepolosannya. Uang jajan mereka aja belum cukup buat ngebelanjain diri sendiri, apalagi buat orang lain. Gitu-gitu beraninya bawa cewenya ke tempat karaoke, nah ujung-ujungnya si cewe juga yang bayarin. Masa' buat pacarnya, si cowo sampe perhitungan sih?
Terus juga, kenapa cowo-cowo suka ngebawa ke tempat-tempat yang gak lazim yang telah kusebutkan di atas? Hmm... mereka ga tau tempat-tempat yang pas buat pacaran. Entah karena kekolotan daya pikir mereka mereka, atau keterbatasan dompet mereka. Jahat banget ya aku kelihatannya mengkritik sampai kayak gitu. Aku sih mandangnya gini, kalau pacaran dibawa ke tempat-tempat seperti itu, gak etis. Bikin malu. Mending pacaran di rumah aja sekalian, enak lagi bisa dikontrol orangtua.

Susah ya? Ga usah pacaran aja kalau gitu. Gitu aja kok repot.

Seperti ketika ingin membuka usaha, pacaran juga butuh modal. Modal kocek lumayan tebal hanya untuk sesekali gitu, dan modal kepekaan untuk melihat sejauh mana telah membahagiakan pacarnya. Om Mario Teguh aja pernah bilang kalau cowo yang bilang kalau cewe matre adalah cewe kere. Waw.

3 komentar:

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com