Kalau mantanmu pernah mutusin kamu dengan alasan, “Kamu terlalu baik buat aku.”
Dan teman tidurmu pernah ninggalin kamu yang habis ditidurin dengan alasan,
“Kamu terlalu cepat keluarnya buat aku.”
Rasanya nggak ada salahnya aku pake alasan “Kamu terlalu jahat buat aku,” yang ditujukan buat Suicide Squad.
![]() |
| Sumber: Google Image The worst heroes ever. Dan semoga bukan jadi the worst poster film ever karena warnanya rada norak |
Dengan memakai tagline, “Worst heroes ever,” aku ngerasa para penjahat yang diutus buat menyelamatkan dunia di film itu pasti lebih jahat daripada penjahat di film Batman v Superman: Dawn of Justice, si Lex Luthor yang diperankan Jesse Eisenberg. Selain kalah jumlah, Lex Luthor terlihat kalah garang, kalah sangar, dan kalah brutal dibandingkan supervillain di Suicide Squad. Padahal aku suka yang brutal-brutal. Jadi, aku berharap Suicide Squad bisa memberikan kebrutalan yang kuinginkan. Kebrutalan yang jauh lebih brutal daripada yang didapatkan seorang masokis. Kebrutalan yang memuaskan. Umm.
Maka dari itu, berbulan-bulan aku nungguin Suicide Squad tayang. Dan hari Rabu kemaren aku nonton film itu. Nonton bareng Kak Ira, Kak Pio, Kak Lulus, dan Max.
FYI, kami berlima pada buta film superhero. Beda sama Dina dan Kak Fajar yang maniak film superhero, jadi paham sama seluk beluk film dan komiknya. Tau mana film superhero yang bagus, mana yang sampah. Mungkin karena itu kami ngerasa terpuaskan dengan kebrutalan Suicide Squad, yang kalau dipikir-pikir, brutalnya biasa aja. Mungkin karena itu Kak Ira sampe bilang kalau dia mau nonton lagi.
![]() |
| Aku, Kak Pio, dan Max yang..... belum mandi dan datang telat |
Dan mungkin karena itu, aku suka sama Suicide Squad. Bukan film yang sempurna bagusnya kayak The Shawsank Redemption yang jadi film favoritku sepanjang masa, atau Easy A, film yang pertama kali bikin aku nulis review baper, tapi Suicide Squad itu film bagus. Bukan yang kayak orang-orang bicarakan, yang bilang kalau Suicide Squad itu film jelek. Dan aku nggak bisa ngelak juga, bahkan sebenarnya juga setuju kalau Suicide Squad punya beberapa (nggak mau pake kata banyak hahaha) kelemahan.
Script-nya kacangan. Kalau kata Movfreak, penonton seolah dibuat terjerumus ke dalam hal klise film superhero.
Dan kalau kataku, para penjahat bedebah itu beraksi nggak ada bedanya kayak pahlawan. Iya sih, mereka itu supervillains yang dituntut buat jadi superheroes. Tapi, seenggaknya ada lah perbedaan cara bertarungnya antara penjahat sama pahlawan. Lebih nyeleneh kek. Mereka masih kurang jahat. Di awal film, apalagi pas pengenalan tokoh, mereka kelihatan garang. Kelihatan berbahaya. Kelihatan gila. Cuman berbahayanya mereka itu sempat goyah karena ada kilas balik waktu mereka sebelum jadi seberbahaya itu, yang bikin penonton bukannya takut, tapi malah tersentuh hatinya.
Deadshot yang diperanin Will Smith, bikin aku senyam-senyum terharu pas ngeliat dia sama anaknya. Kalau mau ada kilas balik masa lalunya, diliatkannya pas filmnya udah berjalan lama. Tunggu sampe penonton ngerasa ketakutan atau naluri masokisnya timbul dulu, baru deh ada kilas balik masa lalunya.
SOTOY AMAT LU NGATUR-NGATUR, CHAAAA.
Bicara soal sotoy, waktu nonton, aku bingung mau sotoy gimana sama apa tujuan mereka dikasih misi berbahaya dan siapa yang bakal mereka hadapi. Tau-tau mereka udah murka aja karena baru tau kalau mereka ngelawan penyihir berbikini bernama Enchantress, yang diperankan Cara Delevingne. Penyusunan strategi gimana cara ngelawannya juga nggak ada. Terlihat Rick Flag (Joel Kinnaman), kapten Suicide Squad, kayak diekorin aja gitu sama Deadshot dkk.
Aku pikir aku aja yang bodoh udah mikir gitu. Tapi ternyata memang bener. Script-nya lemah. Selain itu, ada beberapa karakter yang kurang dapat perhatian dari David Ayer, sang sutradara.
Captain Boomerang (Jai Courtney) bikin aku bertanya-bertanya,
“Ngapain sih dia di situ? Ngelawak doang?”
Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje) nggak dapat banyak jatah berdialog. Dan yang paling disayangkan.... yaitu El Diablo. Karakter yang diperankan Jay Hernandez itu punya kekuatan yang paling keren, masa lalu paling kelam, pembawaan paling-tenang-cool-gitu-bikin-meleleh, tapi scene yang menyorot dia, nggak banyak. Penggunaan kekuatannya yang bisa ngeluarin api dari tangan itu bikin aku berfantasi liar. Waktu dia ‘nulis’ kata bye pake api, aku jadi ngebayangin El Diablo bisa gunain kekuatannya buat nembak cewek. Dia bisa aja nulis, “Will you marry me?” trus direkam dan videonya nggak kalah ngehits sama videonya waktu dia membantai orang-orang pake kekuatan apinya itu. Uuuh~
Walaupun penulisan script-nya letoy, tapi para pemainnya menguatkan film ini. Bikin penonton ngerasa tegang dan tetap terus nyaksiin filmnya sampai klimaks. Seenggaknya itu terjadi ke aku.
Will Smith keren meranin Deadshot, si penembak andal yang juga jadi duda keren beranak satu. Deadshot bukan kayak duda mesum, yang suka kasih tarif alias bayaran ke orang, ngg maksudnya ngebayar kupu-kupu malam. Melainkan dia suka ditarifin. Maksudnya, dia penembak bayaran yang dibayar, bertarif mahal. Ngakak banget pas dia ngelakuin prosesi ditarifin. Kayak mau bikin bangkrut yang narifin. Bikin bangkrut, Viola Davis, yang ngebawain peran Amanda Waller, pembentuk Task Force One alias Suicide Squad.
Selain akting ngerasa bangkrut, Viola Davis juga keren pas berakting dari jadi wanita berwibawa ke wanita beringas, dengan tiba-tiba nembak. Aku nggak ngerti scene itu. Yang udah nonton, bisa jelasin nggak? Ngg... yang jelas, gara-gara scene itu, aku jadi senang pas Amanda Waller diserang sama para anak buahnya Enchantress. Refleks aku ngomong,
“Amanda mau di-gangbang! Kapok!”
Untungnya hal itu nggak terjadi. Tapi hal vulgar lain yang terjadi. Cara Delevingne berakting vulgar sih menurutku.
Cara Delevingne memerankan June, seorang arkeolog yang kesurupan Enchantress. Udah pakaiannya vulgar, trus cara dia ‘merekrut’ manusia biasa buat jadi anak buahnya, dengan cara dicipok sama dia. Sialan. Nggak puas ciuman sama Rick Flag? Trus, dia suka meliuk-meliukan badannya gitu pas ngeluarin kata-kata yang mengancam dan menakutkan buat Deadshot dkk. Kelihatan konyol. Aku dan Kak Ira jadi sepakat nyebut itu sebagai goyang Enchantress.
Sambil nahan ketawa, Kak Ira teriak,
“Jangan goyang, please. Jangan!”
Aku ngakak sengakak-ngakaknya.
Tapi muka menderitanya Cara Delevinge sebagai June itu.... juaraaaaaa! Dia kelihatan tertekan. Kelihatan rapuh.
Akting Margot Robbie juga juara. Dapet banget. Dia mampu ngebuat Harley Quinn jadi yang paling bersinar di Suicide Squad. Jadi yang paling ditunggu-tunggu. Jadi yang paling kelihatan tangguh, walaupun sebenarnya dia punya sisi rapuh.
Sebelumnya, aku mau minta maaf sama Justin Landhiani, karena aku jadi ikut-ikutan suka Harley Quinn kayak dia. Huhuhu.
Lanjut,
Jadi Harley Quinn itu dulunya adalah Harleen Frances Quinzel, seorang psikiater yang menangani Joker. Penampilan anggun dan pembawaan tenangnya berubah semenjak tergila-gila (atau dibuat tergila-gila? Aku masih nggak tau sih) sama Joker, si penjahat gila itu. Harley Quinn jadi wanita yang begitu cantik namun begitu sinting. Penampilan nyentrik dan kenekatannya bikin dia kelihatan nyebelin, tapi lebih banyak bikin kagumnya. Aku jadi salah satu yang dibikin kagum. Aku suka kenekatannya. Aku suka rambut ikat duanya. Aku suka ketawa lebarnya. Aku suka.... meratapi nasib karena nggak punya badan sebohay dia.
Tapi aku punya nama yang huruf awalnya sama kayak huruf awal namanya. Huruf H. Dia Harley Quinn, aku Hairunnisa Quinn. HAHAHAHAHAHAHAHA.
Dan kalau boleh ngerasa sama lagi, dulu aku sempat punya cita-cita jadi psikolog. Ya, kayaknya nggak beda jauh sama psikiater ya. Hoho.
![]() |
| Sumber: Movienthusiast Dan... bibirnya juga mirip sama aku. Suka nggak mingkem. |
Selain itu, aku juga baper karena romansa antara Harley Quinn dan Joker. Oh! Joker is so romantic! Entah kenapa, Jared Leto meranin Joker, jadi rada ngingatin aku sama perannya sebagai Harry Goldfarb di film Requim for A Dream. Di film itu, dia juga jadi cowok yang romantis. Romantis yang gila, tapi lebih gila di Suicide Squad sih. Aku baper sama scene yang nampilin mereka berdua.
Aku juga baper sama lagu You Don’t Own Me yang jadi soundtrack-nya Suicide Squad. You Don't Own Me dan Harley Quinn adalah dua hal yang aku baperin dari Suicide Squad. Dua hal yang bertolak belakang. Lagu You Don’t Own Me isinya tentang cewek yang berontak karena ngerasa dimanfaatkan oleh sang cowok, cuma dijadiin pajangan doang.
Sedangkan Harley Quinn, dia ngerasa nggak dimanfaatkan sama Joker. Mungkin, dia ngerasa bisa seberani dan senekat itu karena Joker. Harley Quinn nggak peduli dia jadi pembunuh dan masuk penjara karena Joker. Dia ngerasa rapuh, jauh lebih rapuh daripada June, tapi ngusahain buat ceria nggak kelam kayak Enchantress, lagi-lagi karena Joker. Dia jadi gila karena Joker, dari Joker, dan untuk Joker.
Bikin aku mikir, jatuh cinta, ngebuat semua hal jadi makes sense. Ngebuat hal-hal yang kelihatan gila, jadi kelihatan normal.
Mungkin post ini adalah the worst Suicide Squad's review ever. Mungkin perasaanku sama film Suicide Squad yang nganggap film ini bagus, adalah the worst feeling ever. Tapi, jatuh cinta sama kamu kayak jatuh cintanya Harley Quinn ke Joker, itu bukan the worst feeling ever kan?
Arrrgh. Kayak keselek tongkat baseball-nya Harley Quinn habis ngetik kalimat barusan.










