Dulu aku pernah sempat punya
cita-cita pengen jadi angel.
Bukan, bukan angel yang artinya
malaikat, semacam manusia dermawan berhati malaikat yang membantu orang-orang
kesulitan. Bukan juga jadi Angel Lelga, sosialita istri siri (eh apa istri
kedua ya?) Rhoma Irama.
Tapi jadi angel-nya Victoria’s Secret. Angel adalah sebutan untuk model yang tampil di pagelaran Victoria’s Secret untuk mempromosikan produk pakaian dalam wanita tersebut.
Tapi jadi angel-nya Victoria’s Secret. Angel adalah sebutan untuk model yang tampil di pagelaran Victoria’s Secret untuk mempromosikan produk pakaian dalam wanita tersebut.
Cita-cita yang mulia banget kan?
Iya, mulia buat dijadiin alasan orangtua buat ngegeplak anaknya.
Aku juga punya cita-cita ini bukan
karena suka sama dunia modeling, apalagi karena ngerasa ukuran dada dan bokongku
layak dipertontonkan. Bukan banget. Aku merancang cita-cita ini karena ngerasa,
aku punya hal yang nggak dipunyai sama model-model kebanyakan. Yaitu, aku nggak
bisa gendut.
Dengan kelebihan (atau lebih tepatnya kekurangan) itu, aku nggak
perlu diet ketat sampe harus punya penyakit bulimia atau anoreksia, cuma demi
dapatin badan kurus. Karena nggak makan sehari aja berat badanku bisa turun beberapa
kg. Aku nggak perlu sok-sok menghindari makanan ini itu, mengurangi jatah
makan, karena memang dasarnya aku nggak doyan makan. Aku nggak perlu sit up
buat ngecilin perut, karena kalau aku makan banyak, larinya malah ke pipi.
HAHAAHAHAHAHAHAHAHA. JADI MODEL
TERNYATA MUDAH BANGET, CYIN.
Tapi impianku buat jadi angel pun
pupus.
Karena masih mikirin nama baik
keluarga. Karena tinggi badanku cuma 162 cm dan jadi angel itu minimal harus
179 cm. Karena harus ke San Fransisco buat audisi jadi angel. Dan karena nggak
ada angel yang sakit-sakitan.
Ya, karena kebiasaanku yang nggak
doyan makan, aku jadi sering sakit.
Waktu masih sekolah, aku sering
pingsan waktu upacara bendera. Sekarang juga sih, terakhir pingsan waktu jalan
sama Dita. Tahun kemarin, aku masuk rumah sakit dan dirawat inap selama
seminggu. Seminggu yang lalu, aku sakit radang tenggorokan.
Awalnya pilek, trus sakit kepala
yang lumayan nyiksa. Aku pikir maag akutku kambuh lagi, tapi pas dibawa makan, susah
buat nelan. Sakit banget, udah kayak ada luka di tenggorokan. Keesokan harinya
malah tambah sakit, dibawa nelan ludah aja sakit. Pas ngomong, ketawa, dan
nguap, sakitnya tetap terasa. Sialan.
Demam juga ikut berpartisipasi. Jadilah pilek, sakit di tenggorokan, dan demam berkolaborasi
menciptakan rasa sakit yang nggak manusiawi. Waktu buka chat WIDY, Yoga ada
bilang kalau dia lagi sakit. Dan sakitnya kurang lebih sama yang aku rasain.
Sialan banget. Ini radang tenggorokan lagi ngetrend apa ya?
Selama sakit, aku mikir kira-kira
apa yang bikin aku sakit kayak gini.
Apa karena aku malas makan?
Apa karena aku suka begadang?
Apa karena aku suka latihan mendesah nggak
ingat waktu?
Tapi ternyata sakitku ini
disebabkan karena panas dalam, juga iritasi. Ada bercak-bercak putih pada
tenggorokanku. Selama ini aku kurang
minum air putih, terlalu banyak makan makanan pedas dan berminyak.
Sakit itu mengharuskanku buat
banyak makan. Tapi masalahnya, makanan favoritku jadi makanan yang diharamkan selama
sakit. Makanan-makanan pedas, makanan-makanan yang dibakar, makanan-makanan
yang digoreng. Selain diharamkan, makanan-makanan itu juga seolah nggak bisa
terima aku apa adanya yang lagi sakit. ‘Mereka’ nggak mau aku telan, lebih
memilih buat keluar secara utuh maupun udah jadi muntahan.
Kan nggak lucu, aku makan tapi
cuma dikulum di mulut. Itu lagi makan
apa blow job?
Satu-satunya makanan yang bisa
terima aku apa adanya, yaitu bubur ayam.
Sumpah, selain mie ayam, sebenarnya
nggak ada makanan berkuah yang aku suka. Aku nggak suka bakso, rawon, sop, soto.
Di saat teman-temanku pada melahap dengan binal bola-bola daging bakso, aku
malah sibuk menerka-nerka umur abang tukang baksonya berapa tahun.
Nggak terkecuali bubur ayam.
Tapi karena cuma itu yang bisa
dimakan, jadi tiap hari aku melahap makanan yang nggak aku suka itu. Awalnya
memang nggak suka, tapi lama-kelamaan aku jadi suka sama cita rasanya yang
asin-asin gurih.
Aku jadi suka sama teksturnya
yang lembut, nggak perlu dikunyah. Tinggal telan, lalu masuk dengan leluasa
melewati tenggorokan, melewati proses pencernaan dengan anggun. Aku jadi suka
sama warnanya yang putih suci menggoda, dihiasi dengan suwiran ayam, potongan
tomat, daun seledri, daun bawang yang sudah dicincang, bawang goreng, dan
kerupuk. Aku jadi suka sama peranan bubur ayam buat jadi salah satu 'tokoh' di sinetron, sampe ngebuat sinetronnya jadi beribu-ribu episode.
![]() |
| karena nggak sempat motoin bubur ayam yang sering dimakan, jadi ngambil gambar bubur disini |
Hmmm. Mamamia lezatos!
Bubur ayam pun jadi menu makan siang.
Lalu jadi menu makan malam. Makanan tiap hari yang anehnya bikin aku nggak
kenal istilah enek, sampai akhirnya sembuh.
Ternyata memang benar, cinta bisa
tumbuh dari kebersamaan.
Alhamdulillah, berkat cinta sama
bubur ayam, aku udah sembuh. Jadi bisa kembali beraktifitas dan nggak perlu masuk rumah
sakit karena gara-gara malas makan trus akhirnya maag kambuh lagi.
Aku jadi mikir, kenapa
model-model itu nggak makan bubur ayam aja kalau mau tetap makan tanpa harus
diet ketat. Bubur ayam itu mengenyangkan dan juga sehat. Kayaknya cocok aja dimakan buat orang yang takut gendut.
Dan aku nggak bisa
ngebayangin kalau Komo sakit radang tenggorokan juga kayak aku. Ya, Komo
Ricky. Host acara Katakan Putus.
Tadi aku iseng googling makanan favoritnya, aku baca dia suka bakso sama pecel. Kira-kira dia bakal kayak gimana ya? Apakah dia bakal suka sarapan bubur juga kalau sakit radang tenggorokan, demi
bisa marah-marah lagi di Katakan Putus?
Lah, kok malah ngomongin Komo.
Gini deh, kalau orang yang nggak suka makan, trus nulis dengan tema makanan.


