The End of the F....uck Me, James!

"I’m James, I’m 17, and I’m pretty sure I’m a psychopath.”

Kalimat ngehe di atas jadi salah satu alasan kenapa aku masih nggak bisa move on dari The End of the F***ing World, series brojolan Netflix, yang aku tonton bulan kemarin sebelum melahap Dilan 1990. Karena kalimat yang diucapkan James (Alex Lawther) itu juga, aku jadi lebih condong ke James daripada Dilan, Walaupun nggak bisa dipungkirin kalau IQBAAL JADI DILAN KOK MANIS BANGET SIH ANJIIIIIIIIR.....

Aku susah move on dari bulan kemarin. Padahal sebelum nonton, aku nggak nyangka bakal sebaper ini. Nonton ini juga karena lagi keranjingan nonton series sih. Gara-gara Black Mirror. Waktu itu aku bertekad buat nyelesain series ini dengan woles, mengingat waktu aku maratonin Black Mirror season 4 dalam waktu semalam, kepalaku sakit kurang tidur.

Lemah. Huhuhu.

Eh ternyata series ini tiap episodenya cuman 20 menitan aja anjir. Kalau dikurangin beberapa menit, jadi deh film pendeknya Rahul Syarif. Yasuds langsung aku hajar di malam itu juga. Bergumul dengan James dalam semalam.

Bergumulnya semalam, bapernya berminggu-minggu. 

Aku juga bertekad buat nulis ini sebelum nulis review Dilan 1990. Lah tapi malah nggak ketulis-tulis karena..... susah buat nggak ngait-ngaitin Dilan dan James. Ntar kalau ditulis, bawaannya jadi banding-bandingin Dilan sama James mulu. Bukannya aku nggak suka Dilan, tapi karakternya James itu lebih membumi buat cewek biasa-biasa aja kayak aku sih. Terus aku kegirangan deh ternyata ada aja yang kepikiran ngegabungin Dilan 1990 sama The End of the F***ing World

Kayak begini: 

Cemberut pulang dari pasar.

SENENG BANGET GILA PARAH. AKU SAMPE JADIIN WALLPAPER KOMPUTER KERJAKU.

Ini juga gila sih, aku sampe nggak tega buat ngelompat ke series lain. Ada beberapa yang pengen aku tonton, tapi aku kayak gimana, ya. Kayak mau ngejaga rasa sayangku ke series ini. Karena kalau nonton yang lain, ntar bisa kebaper sama yang lain deh. Aku nggak mauuuuuuu. Aku maunya ini ungkapin dulu di blog, baru deh aku ke series lain. TAPI AKU BINGUNG MAU NULISNYA GIMANAAAA. LAGIAN AKU UDAH LAMA NONTONNYA, NULISNYA UDAH NGGAK MOOD LAGIIIIII.

Sampai akhirnya aku ngeliat ini di Twitter:



Aku senang bukan main ketemu teman satu perbaperan. FYI, Alan ini bisa dibilang sebagai adik kecilku, adik online-ku kalau katanya dia mah. Alan ini juga seorang anak SMA yang sedang berdiri di tengah badainya ujian akhir sekolahnya. 

Ngeliat kebaperannya Dik Alan, aku jadi punya ide buat nulisnya kayak gimana soal series ini di blog. Aku pun ngehubungin Dik Alan. Niatnya sih pengen nge-BF (Baperin Film) kayak biasanya, sama Dik Alan, tapi... ini kan series. Jadinya BS dong, ya. Apaan coba itu. Terus kayaknya udah bosen deh kalau diwujudin dalam bentuk wawancara BF gitu mulu.

Akhirnya aku mikir kalau aku tetap ngajakin Dik Alan baperin, terus aku kelompokkan. Ehe.

So, ini dia tulisan pemikiran kami berdua tentang The End of the Fu***ing World (seterusnya bakal aku sebut TEOTFW). Aku kelompokin kayak gini. Oh iya, mungkin juga bakal spoiler sih.



TENTANG ISTIMEWANYA TEOTFW.

Menurutku, istimewanya itu di semuanya! Banyak hal yang bisa ngebuat aku ngumpat "Brengseeeeeek!" dari series ini. Ide ceritanya aneh, lucu, dan brutal. Drama percintaan remaja dan hubungan orangtua-anak. Genre-nya black comedy (atau dark comedy ah auk deh), bikin ngakak karena hal-hal nggak lazim. Durasinya pas, Pemainnya santap jiwa. Sontreknya oke punya nendang semua. Pemainnya sant—oke aku udah nyebut soal pemainnya, ya. Ntar soal pemain, dibahas nanti di bawah.

Sabar, Cha. Sabaaaaar jangan engas langsung bahas James......

Oke, yang udah terpampang nyata istimewanya sih ide ceritanya. Tentang dua bocah pembangkang, durhaka, pemberontak bernama Alyssa (Jessica Barden) dan James (Alex Lawther) yang kabur dari rumah. Alyssa, punya bapak tiri yang nggak dia suka dan ibu yang seolah dibutakan cinta. James hidup berdua, sama ayahnya yang menduda.

Mereka berdua ini remaja yang kelam. Alyssa orangnya sinisan dan nggak sopan. James suka bunuh binatang sejak kecil dan pengen bunuh yang lebih daripada itu. James pengen bunuh Alyssa. Sedangkan Alyssa pengen punya teman buat kabur dari rumah. Yasuds, mereka bersatu menjadi dua sejoli yang kayak mau ngelakuin silariang alias kawin lari ala suku Bugis.



Mereka berhasil minggat dari rumah, tapi ngalamin insiden yang bikin mereka bukan sekedar kabur dari orang-orang yang menyebalkan lagi. Tapi juga kabur dari kejaran polisi. Bukan kabur sebagai anak durhaka, tapi juga kabur sebagai tersangka.

BRENGSEK NGGAK SIH IDE CERITANYAAAA. KELAM TAPI LUCU. ISTIMEWA BANGET KAN BEDA DARIPADA YANG LAIN HUAAAA.

Penyajian series kampret ini mirip sama film manis macam Flipped, pake dua sudut pandang cuman nggak gantian per babak. Gimana ya, pokoknya sama-sama pake voice over gitu. Nah, itu menurutku bikin lucunya. Misalnya ada adegan di mana Alyssa mikir kalau dia nyaman sama James, sementara James lagi ngasah pisau buat bunuh Alyssa di rumahnya.

Itu salah satu kelucuan yang bikin TEOTFW istimewa buatku.

Pas aku tanya Dik Alan, dia punya pendapat lain soal istimewanya TEOTFW.

"Perbedaanya series ini dengan series-series yang sudah pernah aku tonton adalah... Series ini bisa sebagus itu hanya dengan berfokus pada dua karakter. Biasanya untuk ukuran series bakal ngebosenin banget kalau mostly scene-nya hanya menampilkan tokoh yang itu-itu aja. Dan hal tersebut tidak berlaku pada TEOTFW. "

Aku spontan ngangguk-ngangguk semangat karena pendapat Dik Alan itu. Yeaaaaah TEOFTW memang istimewa!



TENTANG TOKOH FAVORIT.

"Alyssa. Dia punya pribadi yang menyenangkan dengan perilaku yang tidak menyenangkan. Tapi justru dua hal tersebut bisa bikin dia semenarik itu, dan dia bisa mengubah seorang James yang awalnya psycho menjadi sosok penyayang."

Jawab Dik Alan pas aku tanya soal tokoh favorit. Wajar sih, ya. Namanya juga cowok, dia pasti engas sama tokoh cewek. Bahkan Dik Alan bilang kalau seandainya dari episode 1 ceweknya itu Mimi Peri, bukan Alyssa, mungkin langsung dibunuh sama James.

Aku ngakak brutal jadinya anjir.

Tapi memang Alyssa ini mudah disukain sih. Bisa jadi manic pixie dream girl. Alyssa juga sebenarnya rapuh, dia butuh kasih sayang di balik sifat pemarah dan perilaku nggak sopannya. Cowok-cowok bawaannya jadi pengen ngelindungin. Ditambah lagi perawakannya Alyssa imut-imut. Dia bisa keliatan imut walaupun bentukan mukanya judes gitu. Terus dia agresif tanpa terlihat murahan. Gils! 




Jessica Barden sukses ngebawain peran Alyssa yang anak SMA itu. Yang bikin aku kaget, dia pernah main di The Lobster. Aku nggak sadar. Aaaaak. Katanya favoritin The Lobster, tapi nggak hapal para pemainnya huhuhu. Terus yang bikin kaget lagi, DIA TERNYATA UDAH 25 TAHUN ANJIR. TAPI COCOK MERANIN ANAK UMUR 17 TAHUN ANJIR. GILS AWET MUDA GILSSSSSS.

Nah, kalau aku udah jelas ya engasnya sama James. Alex Lawther sebagai James cute banget di mataku. Alex Lawther juga awet muda. Umurnya 22 tahun meranin anak umur 17 tahun. Imut dengan alisnya yang terpampang nyata dan matanya yang suka ngilang kalau senyum lepas. Terus bawa-bawa skateboard segala aaaaaaak.

Tapi bukan cuma karena itu aku jadi engas parah sama James. Aku engas karena karakternya James ini 'ngebingungin.' Dia ini tipikal cowok yang cupu enggak, tapi cowok cool juga enggak. Dia itu cowok…. aneh. Kalau kata Dik Alan,

"Aku ngerasa sosok seperti dia sangat dibutuhkan untuk melengkapi jenis spesies laki-laki."

Btw, Alex ini pernah main di Black Mirror juga, season 3 episode Shut Up and Dance. Cuman pas di situ aku biasa aja sama dia. Beda banget pas main di TEOTFW bajingak ini. Alex Lawther meranin James keren banget. Aku suka aksen Britishnya. Aku suka kenaifan yang dia tampilkan. Aku suka cara dia ngembangin karakter James. Aku suka sama apa aja yang dia lakukan. Gerak-gerik kecilnya mulai dari ngangguk, bilang oke dengan pelan, mejamin mata, itu…. AAAARRRRGHHH AKU SAYANG JAMES.


Karakter James yang dia perankan juga ngingatin kalau kita bisa jatuh cinta sama orang secara tiba-tiba, secara nggak terduga. Kayak James yang awalnya keliatan datar sejak lahir  (ekspresi wajahnya, bukan dadanya karena dadanya emang datar kan cowok) terus jadi 'punya perasaan' karena ketemu Alyssa.

AAARRRGGGH AKU PENGEN JALAN-JALAN NAIK MOBIL SAMA JAMEEEEEEEES. AKU PENGEN CARPOOL KARAOKE SAMA JAMEEEEEEES. AKU PENGEN NGELAKUIN ADEGAN FAKE TAXI SAMA JAMEEEEEEES.



TENTANG BRENGSEKNYA SONTREKNYA TEOTFW.

Sontreknya menunjang kebrengsekan series ini. Lagu-lagunya bikin mejamin mata pas dengerinnya. Bikin menerawang jauh. Bikin menyeringai dan senyum anjir-bagus-nih-musiknya. Bikin mata panas dan basah. Aku hampir suka semua lagu-lagu yang jadi sontrek. Paling suka sama lagu I Apologize-nya Timi Yuro. Bikin sesak-sesak ena di dada dengernya. Terus Keep On Running-nya The Spencer Davis Group. Berlanjut suka The Day We Fell In Love-nya The Ovations. Suka juga sama We Might Be Dead By Tomorrow-nya Soko. Terus suka---

AAAK BANYAAAAK.

TEOTFW menurutku keren dalam milih lagu-lagunya. Nyambung sama adegannya terus ada juga yang nggak nyambung tapi malah itu yang bikin lucu. Terus mengingat ini kan tontonan soal anak remaja, lagu yang dipake bukannya lagu hip-hop atau EDM gitu kayak biasanya film-film remaja pemberontak. Ini malah pake lagu-lagu lawas. Yang genrenya dulunya bukan seleraku, tapi gara-gara TEOTFW aku jadi suka.

Nah, Dik Alan juga berpikiran kurang lebih sama kayak aku soal sontrek. Dia bilang,

"Di series ini kebanyakan aku suka sih."

Eh, nggak cuma itu. Dia juga bilang,

"Terutama yang paling iconic yaitu Laughing on the Outside-nya Bernadette Carroll. Berasa denger lagu Kelam Malam-nya The Spouse kalau di film Pengabdi Setan."

Anjir lah Pengabdi Setan. Tapi memang iya sih, Laughing on the Outside emang khas TEOTFW bet. Itu juga lagu yang paling mudah diingat menurutku.



TENTANG EPISODE FAVORIT.

"Episode di mana ketika si Alyssa akan diperkosa oleh pemilik rumah dan si James nolongin gitu. Itu the best sih menurutku. Bagaimana cinta bisa mengubah pandangan seseorang. Tepatnya episode 3. Episode terakhir juga keren sih, memperkuat episode-episode sebelumnya."

Beda dengan Dik Alan, aku favoritin episode 5. Di situ aku jadi perempuan melankolis seutuhnya. Kalau episode terakhir juga sih. PENGEN MAIN KE PANTAI SAMA JAMES, YA RAAAB...


Tapi episode 3 memang keren sih. Ada dua adegan di episode itu yang membekas. Satunya bikin senyam-senyum sambil membatin, "Ya Allah, pengen joget," kayak Yoga pas dengerin lagu Boombayah. Adegan satunya lagi bikin sedih karena aku jadi inget mantanku. Ingat waktu beliau tidur di lantai pas jagain aku di rumah sakit. Tangannya ngegenggam tanganku yang aku biarkan ngegantung ke bawah.

Itu cukup.... brengsek kalau diingat-ingat lagi.

Mungkin karena itu aku nggak samaan kayak Dik Alan soal episode favorit. Huhuhu.



TENTANG APA YANG BISA DIBAPERIN DARI TEOTFW.

Dik Alan punya jawaban yang lugas tentang itu.

"Di saat aku lagi sibuk-sibuknya ngurusin sekolah yang udah tinggal di ujung ini. TEOTFW ngasih aku hiburan di tengah petualangan masalah yang mereka tengah hadapin. Aku sangat relate banget sih sama masalah mereka. Mereka menjadi psikopat kan hanya sebuah cerminan saja kalau mereka benar-benar lagi dalam masalah yang besar. Meskipun mereka sedang dalam masalah, tapi nggak menambah masalahku dengan menonton permasalahannya mereka. 

Malah mereka seperti memberi motivasi buatku, bahwasanya sebesar apapun masalah yang kita hadapi, harus dihadapin dengan santai dan ngehe seperti yang mereka lakukan ketika mengatasi masalah mereka."

Seketika aku minder. Anjir lah, sedangkan aku bapernya karena aku juga pernah ngerasain apa yang Alyssa rasain. Aku pernah (atau masih?) jadi anak pemberontak. Pernah ngerasa kalau aku psikopat karena sempat benci sama semua orang dan keadaan, setelah ngalamin fase sebagai anak bully-an waktu SMP. Aku juga pernah ada niatan mau kabur dari rumah kayak Alyssa. Mungkin kalau aku ketemu cowok kayak James, aku beneran kabur dari rumah kali, ya. Huhuhu.

Terus gandengan kayak gini di warteg.

ANJIR PEMBAPERAN YANG SANGAT TIDAK DEWASA SEKALEEEEEEH.

Begitu aku tanya, "Apakah series ini layak tonton buat yang ngerasa nggak relate?" Dik Alan punya jawabannya.

"Menurutku selama orang tersebut bisa merasakan pesan yang disampaikan oleh series itu, bisa relate aja. Tentang parenting, kesetiaan, pemecahan masalah. Mestinya semua orang sih bisa relate, ya. Peluang buat nggak disukain juga ada. Bagi mereka yang nggak bisa melihat pesan-pesan diatas. Mereka yang nggak ngena. Ya mungkin bisa aja sih bagi mereka yang bisa seneng cuma ngeliatin Jessica Barden atau Alex Lawther. 

Tapi itu bakal kayak aku dulu yang besokannya langsung amnesia ketika nonton film atau series. Karena yang dilihat cuma visualnya doang. Jadi, menurutku untuk bisa relate atau nggak, suka atau nggak. Tergantung apakah pesannya nyampe atau nggak, baper atau nggak. Gitu sih."

Dalem. Aku nggak kepikiran sampe ke situ. Lagi dan lagi.


Setelah nulis di atas, aku jadi mikir.... ANJIR ANJIR ANJIR AKU KALAH BIJAK DIBANDING ANAK SMA ANJIR.

Opini anak SMA sungguh mencerahkan. Memancing aku untuk berpendapat soal series ini lebih dalam lagi. Membangkitkan semangat nulisku yang beberapa waktu ini ngilang. Kalau James jadi ngerasain perasaan sayang, cemburu, takut kehilangan, sedih, senang, karena Alyssa, aku ngerasain perasaan semangat nulis soal TEOTFW ini karena Dik Alan. Yash. Terima kasih buat Dik Alan!

Satu lagi. Kalau aku nggak ngobrolin TEOTFW sama Dik Alan, mungkin ini tulisan isinya beneran soal James semua kali, ya. Isinya erangan fuck-me-James-fuck-me-harder-please doang.



NB: Semua gambar kecuali yang paling atas, dicomot dari sini.

You Might Also Like

7 komentar

  1. ((kawin lari ala adat bugis))

    BAHASANYA TOLONG DIKONTROL YA, CHAAA, TOLONG.

    Berasa baca cerita dewasa anjir ulasannya ngehe sekali. Fuck me fuck me-nya buset dah plis. Tapi emang Alex Lawther ini ganteng sih. Dulu waktu dia meranin Alan Turing muda di film Imitation Game, dia udah kelihatan bibit gantengnya. Sebenarnya aku baru nonton series ini episode pertamanya doang. Terus belum sempat lanjutin karena masih ngabisin series bedebah Fringe sama Gossip Girl minggu lalu. Ntar deh mau lanjut nonton. Soalnya film atau cerita dark comedy gini selalu menggairahkan untuk dinikmati. *lalu mempertanyakan kejiwaan diri sendiri*

    Ngomong-ngomong, kita berdua sama-sama dirundung kejenuhan ngeblog dan ngetwit kayaknya. Lama nggak bersua di dua portal tersebut, Cha. Aku kangen sama kamu.

    Trus, blog kamu kenapa nih? Tiap dibuka homepage-nya kok lari ke way2themes terus. Ada error?

    BalasHapus
  2. Ini termasuk baru kan, ya? Beberapa anak Twitter lagi ngomongin series ini juga kalo nggak salah deh kemarinan. Baca ulasan tentang karakternya yang aneh itu jadi pengin nonton juga. Tapi Black Mirror season 2 dan 3 aja belum kelar-kelar nih. :(

    Si cewek usianya udah 25 saya nggak kaget, sih. Mukanya lebih tua dari saya gitu. Wqwq. Tampang suka menipu usia juga, kan. Pernah tuh ada pengalaman pas video call-an zaman baru lulus sekolah sama bule. Dia wajahnya udah kayak tante-tante, terus pas tanya ASL malah baru 19.

    Jangankan anak SMA, omongan bocah SD juga kadang-kadang bisa bijak, kok. :)

    BalasHapus
  3. "Are you virgin?"

    "Yes"

    "Me too"

    "Yeah, no shit!"

    Karena percakapan singkat itu, akhirnya aku memutuskan menyelesaikan seri ini semalaman sampai tuntas sebelum awalnya berencana tidur setelah episode 3 berakhir.

    Dialog singkat diatas terasa mengganjal diucapkan di depan mayat seseorang, di mana mayat itu adalah korban tikaman James. Terlebih, Alyssa yang berkubang darah
    sang mayat di sekujur tubuhnya dengan santainya menanggapi omongan James. Diiringi dengan musik classic saat scene itu berlangsung, gabungan dari scene, dialog dan lagu yang serba aneh itu berujung pada satu kata, keren!

    BalasHapus
  4. Hampir 2 bulan nggak pernah berkunjung dan membaca blog IchaStasya, pikiranku sudah dinetralisasi oleh sibuknya kehidupan luar. Eh, pas baca postingan sekarang ini, pikiranku mulai tercemar kembali. Sesederhana itu ya buat main engas2an di blog ini. Tangan sampai bergetar dibuatnya.

    Eniwei kisah cinta Allysa Soebandono dan James Herlino menurutku tetap memberi warna baru didunia percintaan kita yang klise ini. Mereka jadi pembeda bagaimana cinta bisa memasukkan sinar ultraviolet yang dibalut American Idiotnya Greenday sehingga *cincin kecebur* Oh, tidak! ya ampun, ya ampun.

    Eh, salah acara ya.

    Pas baca bagian "AKU PENGEN NGELAKUIN ADEGAN FAKE TAXI SAMA JAMEEEEEEES." bikin jadi cringe sendiri. Trus pas baca "mungkin ini tulisan isinya beneran soal James semua kali, ya. Isinya erangan fuck-me-James-fuck-me-harder-please doang."

    Disitu sya mulai kepikiran, "Enak juga ya jadi James..."

    BalasHapus
  5. Gila ini film emang keren banget sih. Udah baca novel grafisnya belum? Itu sama banget. Gak terlalu jauh beda. Dan sutradaranya emang sinting sih menurut gue. Scene favorit itu pas di rumah orang tajir. Hahahhaa.

    Anyway, harus coba tonton American Vandal! Coba review pasti susah jelasinnya. Muahahaha. \(w)/

    BalasHapus