Dinakalin Gaspar Noe dan Ilham Bachtiar

Bermain game werewolf di Telegram bisa menambah banyak teman. Dari sekian orang yang mau temanan sama aku di grup WWF (World Werewolf Federation), ada satu orang yang paling bengal. Namanya Ilham. Dia adalah pemilik blog ilhambhaca.blogspot.id. Blog yang enak dibaca karena ada banyak review film dan kata-kata yang bikin ngakak.

Tingkah bengalnya banyak sih. Salah satu kebengalannya adalah, saat dia ngajak buat bikin proyek kolaborasi nulis di blog. Nge-review film bareng. Aku kaget sih, tambah kaget pas kalimatnya yang,

“Nge-review film yang belum kamu tonton. Trus kamu nanggepin review-ku. Jadi kamu bener-bener buta sama film yang aku review itu. Tulisan kita jadi satu post. Aku di atas, kamu di bawah.”

Nge-review film yang belum aku tonton? 

Sungguh-apaan-itu-bajingak.

Trus, dia di atas, aku di bawah? 

Kayak missionary anjir. 

Ilham bilang kalau project itu isinya ada dua pikiran. Yang satu udah nonton, yang satu belum nonton. Atau pengertian lainnya, yang satu mesum beneran, yang satu mesum settingan. Keren juga sih idenya.

Aku pun mengiyakan dengan mantap. Jadi dia semacam guest blogger di blogku ini. Halah. Blog beginian pake ada tamunya segala.

Ilham memilih Enter The Void sebagai film yang kami review bareng.


Sumber: Dikirimin Ilham.

Dan ini dia, review dari Ilham. Yang di bawahnya ada review dariku dari review-nya Ilham. Aku dan Ilham berusaha, pembaca menentukan. 



Ilham:

Enter The Void merupakan film ber-genre drama-fantasi yang patut disebarluaskan layaknya berita hoax kemunculan Dajjal di jalur Pantura. Film ini didalangi oleh Gaspar Noe yang bagi saya sangat berhasil mengemas materi seks, drugs dan kematian dalam durasi 161 menit.

Seks, drugs dan kematian tentu bukan materi baru dalam film. Namun, Enter the Void sukses memberikan pengalaman nonton yang berbeda dari film kelam yang lain. Enter The Void berkisah tentang seorang pria bernama Oscar yang berprofesi sebagai kurir narkoba. Film ini baru benar-benar dimulai saat Oscar mati tertembak di sebuah bar saat sedang melakukan transaksi. Biasanya film selesai kalau tokoh utama mati. Ini tokoh utama mati malah film baru dimulai. Alur ceritanya mundur? Bukan! Film ini bercerita setelah si tokoh utama mati. Wadefak!

Sudut pandang orang pertama dalam film ini benar-benar kentara, sebab kita diajak untuk melihat apa yang Oscar lihat. Setelah Oscar mati, kita akan dibawa melayang di atas kota Tokyo layaknya arwah penasaran. Melalui out of body experience itulah kita bisa melihat bagaimana Oscar mengawasi orang-orang terdekatnya seperti Linda (adik Oscar), Alex (teman Oscar), dan Victor (pelanggan narkoba). 

Tak seperti mengintip ala manusia hidup, sebagai arwah, Oscar tidak memiliki batasan dalam penglihatan. Ia bisa menembus tembok dan atap yang memungkinkan ia melihat hal-hal intim seperti saat adiknya bercinta dengan Mario (bos Linda). Bahkan ketika Linda bercinta dengan Alex, Oscar dapat masuk kedalam pikiran Alex sehingga ia merasa sedang bercinta dengan adiknya sendiri.

Ide arwah penasaran ini diangkat oleh Gaspar Noe melalui buku Tibetan Book of the Dead. Buku kematian orang Tibet itu diterjemahkan secara visual dengan apik oleh Noe. Tehnik steadycam yang digunakan Noe benar-benar mengagumkan. Bagi saya, Enter The Void ini melebihi Birdman (Alejandro G. Inarritu).

Dari keseluruhan visual yang disajikan, kita akan lihat bagaimana unsur psydhelic tersajikan lezat dalam film ini. Gaya psydhelic ini menyajikan distorsi visual dan narasi eksperimental yang kental dengan kejujuran dalam memvisualkan sesuatu. Sehingga jangan kaget jika kamu nantinya melihat adegan seks yang begitu vulgar. Bahkan di umur saya yang kesekian ini, ada satu scene yang cara pengambilan gambar untuk adegan seksnya itu baru pertama kali saya saksikan.

Psydhelic yang kuat membuat kita harus waspada, sebab akan muncul scene yang membuat perut mual. Saya sendiri perlu mengambil jeda cukup lama untuk menyelesaikan film ini. Selain efek psydhelic yang memabukkan, alur cerita juga bikin pusing seputing-putingnya. Jalan cerita yang tidak bisa ditebak apa maunya hati salahkah kita.. Bangsat malah nyanyi lagunya Asmirandah!! Maksudnya, gak usah berlelah-lelah menebak jalan ceritanya. Nikmati saja!

Btw, saya jadi ngebayangin kalau live action-nya Death Note itu menggunakan tehnik steadycam tingkat tinggi macam Enter the Void ini sepertinya asyik. Diambil dari sudut pandang Ryuk si Shinigami, terbang menyaksikan dampak Death Note dan masuk dalam pikiran Kira. Atau kalau mau yang lebih gurih kita bisa berharap agar film Doraemon menggunakan tehnik yang sama juga. Jadi mengambil sudut pandang Doraemon, terus terbang pakai baling-baling bambu. Lagipula saat masuk lorong waktu yang ada di lacinya Nobita itu kan mencerminkan sensasi psydhelic juga. Mantaps!!

Yah.

Jika kamu tipe orang yang suka memperkaya pengalaman menonton film, Enter the Void adalah pilihan tepat. Jangan lupa pakai headset atau earphone biar suara orgasm-nya gak terdengar sama tetangga sebelah. Minum antimo juga gaes, rawan mual. Kalau capek bisa istirahat dulu. Nanti kalau libidonya sudah terisi baru lanjut nonton. Oiya, jangan lupa tisu atau daun pisang juga perlu disiapkan, buat jaga-jaga. Bukannya mau berpikir yang jorok, hanya saja hasrat ingin menyiram tembok dengan protein tinggi itu bisa datang kapan saja. Biar temboknya lebih artistik dan kokoh. PAAN SIH..??!

Sudah ya. Semoga bermanfaat. Bhay gaes!!


Bonus:

Sumber: Son Agia, blogger yang mencintai Ilham diam-diam.



Icha:

Ngebaca review Enter The Void-nya Ilham di atas, bikin aku yang di bawah ini jadi seneng. 

Pertama, karena aku nggak ngerasa sendirian, yang suka sama film kelam nan depresif. Dulu aku sempat mikir gitu pas Ilham nge-review Requim For A Dream. Aku ngumpat kesenangan dalam hati. Yang aku rasain soal filmnya, juga dirasain sama Ilham. Dan oke, Enter The Void tentang narkoba. Ngingatin lagi-lagi sama Requim For A Dream. Aarrrghh, Requim For A Dream mulu, Cha! Huhu. Gini deh kalau referensi filmnya masih sedikit.

Kedua, karena aku ngerasa Ilham lebih mesum daripada aku. Udah milih film yang beginian, yang kalau kata dia Enter The Void adalah best visualization of sex ever, kata-kata di review-nya pada vulgar. Seputing-putingnya. Tisu atau daun pisang. Hasrat ingin menyiram tembok dengan protein tinggi. Madefaqa. 

Fix, Ilham mesum padahal suka ngatain orang lain mesum. Fakta terungkap! Aku seneng!

Sebelumnya Ilham juga nyaranin beberapa judul buat post ini. Di antaranya yaitu, 

SENSASI SANGE BARENG GASPAR NOE

ENTER THE VOID: BOKEP EKSPERIMENTAL

FILM YANG BEREKSPERIMEN DENGAN BIRAHI

KENAKALAN OM NOE. 

Liat? Mesum banget nggak sih? Bandingkan sama pilihan judulku yang tergolong aman itu.

Selain ngasih kesenangan, review Ilham ngasih kekesalan juga. Aku kesel karena ‘nggak dibolehin’ nonton Enter The Void itu. Jadi aku milih buat nonton Irreversible, filmnya Gaspar Noe, sutradaranya Enter The Void demi tau bakal mau nulis apa di post ini.

Irreversible sungguh bedebah. Terkenal dengan scene pemerkosaan brutal pemeran wanitanya, Alex (Monica Belluci), bikin aku mikir kelamnya cuma itu doang. Tapi ternyata aku salah. Kalau Enter The Void nggak pake alur mundur, Irreversible pake alur mundur. Awal filmnya kelam banget dan bikin pusing nontonnya. Kameranya bergerak semaunya mutar sana mutar sini. Musik latarnya bikin sakit telinga. Pencahayaannya minim kayak warung remang-remang. Berkali-kali aku ngelontarin kalimat, 

“Thanks ya Ilham. Minta disiram cairan semennya memang kamu ya. Ini filmnya ngerenggut rasa nyaman banget sialan."

Lalu di pertengahan film sampai menjelang ending, ‘warung remang-remang’ itu jadi terang benderang. Kameramennya jadi nggak kayak orang mabok lagi. Dan ending-nya, bikin nyesek. Aku udah cukup dibikin nangis pas Alex yang ngambek sama pacarnya itu diperkosa sama germo, lah kenapa ending-nya gitu coba? Belum lagi ada kalau-katanya-Movfreak, scene abstrak berupa cahaya putih benderang dan ambience yang menusuk telinga. Bikin takut. 

Irreversible juga punya scene yang bikin mual menurut aku. Salah satu tokoh pria memukuli pria di bar dengan tabung pemadam kebakaran sampai mukanya benyek. Mungkin nggak ada apa-apanya dibandingin sama Enter The Void, tapi cukup bikin kesel. Film tipe ginian bikin penasaran kalau nggak ditonton. Tapi kalau ditonton, bikin mual. Itu yang ngeselinnya. 

Huaaaaa. Gaspar Noe adalah sutradara yang nakal. Dan Ilham adalah blogger yang nakal. Fix, aku dinakalin sama dua lelaki itu. Huhuhuhu. 

Tapi Om Gaspar Noe dan Ilham tuh nggak pernah niat jahat. Gue tau banget. Roda tuh berputar, Ga. 

Nggg maksudnya, ‘kenakalan’ mereka berdua itu keren. Mereka berdua cerdas.

Om Gaspar Noe bikin aku ngerasa Irreversible punya makna yang dalam. Kita nggak pernah tau nasib kita selanjutnya bakal kayak gimana. Mungkin sekarang kita bahagia, tapi siapa yang tau kalau semenit, sedetik, kemudian kita jadi sedih banget? 

Lalu Enter The Void juga bermakna yang nggak kalah dalam. Tentang rasa sayang sang kakak terhadap adiknya yang teramat besar. Pas Oscar, sang kakak udah mati pun, masih bisa berada di dekat Linda, sang adik. Seenggaknya itu yang aku tangkap dari trailer-nya. 

Dan Ilham yang milih Enter The Void buat di-review, jadinya aku tenonton Irreversible, bikin aku ngubah pemikiranku akan Tokyo dan Paris. Tokyo yang dulunya aku pikir adalah kota yang selalu ceria dan Paris yang aku pikir selalu romantis. Sekarang, pandanganku akan dua kota itu nggak sama lagi. 

Sama aja kayak orang ceria, nggak selamanya dia ceria. Bisa aja dia jadi orang yang depresi. Orang yang romantis, nggak selamanya dia romantis. Bisa aja dia punya sisi dirinya yang dingin dan ketus. Semua orang pasti punya sisi kelamnya sendiri. Dan baiknya jangan dilihat kalau itu adalah keburukan. Itu manusiawi.

Anjir. Malah sok bijak.


You Might Also Like

51 komentar

  1. Ngebahas masalah film emang ga ada abisnya.
    termasuk Enter The Void yang bener-bener baru ane denger.
    sepertinya itu film yang sudah tayang bertahun-tahun yang lalu ya ?
    .
    Barusan langsung i liat trailernya di youtube, asli sih beneran vokep itu. aku harus download nanti.
    Sepertinya setelah berlabuh disini ane jadi suka sama film-film suram dan mesum.
    suatu keajaiban

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhahahh, trpengaruh ajaran icha nih...

      Allhmdulillah gw blum trpngaruh sama film2 hasil review icha' yg lumayan mesum. Gk tau klo shabis gw baca tulisan diatas.. (bentar ya, gw baca dulu)

      Hapus
    2. Ayo dukung Icha jadi reviewer spesialis film-film mesum.

      Hapus
    3. Khairul: Hahaha. Iya. Tayangnya tahun 2009. Gimana? Sekarang udah download nggak?

      Brahahahaha! Suatu keajaiban. Bajingseng. Ketularan suka nonton film suram nan mesum itu kenyataan.


      Reyhan: Aaa Rey, kamu kayaknya nggak usah terpengaruh deh. Nanti passion kamu sebagai muadzin bisa hilang....


      Ilham: Kirim sms ke 6969.

      Hapus
  2. hehehehe. baca review-nya aja saya udah ngebayangin mualnya. kalian berdua emang sakit. padahal masih ada ice age dan the secret life of pets, kenapa nontonnya film beginian? hiiii.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anjay. Disuruh nontonin ice age. Wk. Duet maut ini mah. Sama-sama mesum dan suram.

      Hapus
    2. mereka emang duet maut yang suka bergoyang dangdut. *ngebayangin pipi icha bergoyang-goyang

      Hapus
    3. Iya, kamu berdua sakit. Jadi kapan kamu jenguk kami?

      Hapus
    4. Lah ini yg komen pemain werewolf smua nih? Baru tau aku. Wkwk

      Hapus
    5. Hahhahah aku malah menyarankan zootopia aja deh, life secret of pet aku rada berekspektasi tinggi tapi ternyata biz nonton yaaaa rada kuciwa wakakkakak

      Hapus
    6. NJAAAAY. RAME INI YANG NYANGKUT DI KOMENNYA BANG HARIS. ADA MBUM, JUSTIN, ILHAM, BENA, LULU, MBAK NITA. BRAHAHAHAHA. SAYANG KALIAN SEMUAAAA! :*

      Iya bener kata Ilham. Kapan Bang Haris mau jenguk?

      Bang Haris nggak usah nonton film beginian. Nanti keimutan dan kebocahannya bisa rusak. Hahahaha. Aku nggak pernah nonton Ice Age dan Secret Life of Pets. Susah suka sama film animasi. :(

      Hapus
  3. Aaakkk...gilaaaa bosque hhhhhh.

    Ini apaan? dia diatas kmu dibawah? tdinya gw udah berpikiran positif, kalo ini orang pasti mau panjat pinang. Ehh, gayanya malah disebutin :'))

    Trnyata dpat partner review film yg satu selera ya cha'? Mlahan sepertinya si Ilham ini lebih parah. Lbih kental mesum nya. Hahaha. Barusan gw baca klo film Enter The Void ini bisa bikn mual ya? aneh. Trakhir gw mual nonton film, pas filmnya Dora The Explorer, itu bikin mual abizzzzz.....

    Gw jdi pnasaran dngan gaya pnceritaan psydhelic. Dari skian banyak film yg gw udh nnton, blum prnah gw nemuin gaya pnceritaan yg sudut pndang nya berubah2. It's so excited!

    Gaspar Noe ini aneh2 jga ya film nya. Anti Mainstream. Beda dari yang lain. Dan juga MESUM. Kayaknya temennya Mad dog nih...sama2 Kelebihan cairan protein....

    BalasHapus
    Balasan
    1. (((LEBIH KENTAL MESUMNYA)))

      Lu kate susu frisian flag, sob? -___-
      Psydhelic itu menarik. Dulu para seniman lukis aliran psydhelic ini biasanya harus benar-benar mabuk atau ngefly dulu sebelum dia memulai melukis. Sehingga karya lukisannya jadi memiliki gaya yang aneh. Tapi justru beberapa diantaranya malah jadi mahakarya. Hahahha

      Hapus
    2. Komennya Ilham sungguh bajingak. Tapi kewren. Dia ngebantuin aku ngejawabin soal psydhelic. Makasih, Ilham!

      Dan thanks bosqueeee. Dah mau baca postingan gila ini sampe habis hhhhhh.

      Aku nggak kepikiran sama panjat pinang itu. Langsung ke missio masa :(

      MEMANG! Ilham jauh lebih parah dan kental mesumnya. Mual nonton Dora karena enek kebanyakan ditanyain bukan? Brahahaha.

      Iya. Om Gaspar Noe orangnya mesum gitu. Ada lagi tuh filmnya. Judulnya Love. Nggak tau deh bisa bikin kelebihan protein apa enggak :D

      Hapus
  4. Gue gak tahan nonton film2 begini euy. Mualnya itu :))

    Coba nonton dan review butterfly effect cha. Ada 1-3 tapi antar film gak saling berhubungan, yang ke 3 aja deh soalnya ada sex scanenya, lo pasti seneng :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. ((soalnya ada sex scanenya, lo pasti seneng))


      TEPAT SEKALI BUAT ICHA!

      Hapus
    2. Yoga: AAH! ANAK BALIGHKAPAN YANG LEMAH! .

      Itu filmnya yang main si Asthon Kutcher bukan sik? Baru tau deh ada volumenya gitu 1-3. Dan kenapa deh kalimat terakhirmu gitu, Yog.... :((((


      Ilham: TEPAT SEKALI JUGA BUAT KAMU!

      Hapus
  5. Hmmm. Walaupun saya termasuk penganut anti-Ilham (bahkan seandainya di indonesia ada gerakan Tolak Eksistensi Ilham, saya siap jadi CEO nya. Haha), tapi saya setuju banget ama pendapat anak ini soal Death Note yang harusnya pake tehnik steadycam. Soalnya dulu saya sempet kepikiran gitu juga. Peran si Ryuk itu harusnya kayak Nick Carraway di film/buku The Great Gatsby. Sebagai pencerita plot, tapi bukan tokoh utama. Hmmm nice thought Ilham.

    Haha keren lah paragraf terakhir kamu Cha. Tumben ada kata mutiaranya. Lagi inget mantan pacar ya? Si siapa itu, zay...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ((PENGANUT ANTI ILHAM))

      ((GERAKAN TOLAK EKSISTENSI ILHAM))

      Aaah. Dasar pengagum rahasianya Ilham kamu, Gi. Mau muji Ilham aja harus pake ngebully dia dulu. Hahahahaha.

      Nick Carraway di The Great Gatsby. Film kesukaannya Yoga tuh. Aku belum pernah nonton. Live actionnya Death Note juga belum pernah :(

      Hehehe. Thanks, Agia. THANKS JUGA UDAH MENYEBUT NAMA VOLDEMORT. BAJINGAK.

      Hapus
    2. Bang Haris dan Ilham, kalian luar biasa! 😂

      Hapus
  6. Terima kasih Icha yang sudah bersedia mengemas review ini dengan baik. Dan terima kasih telah menggiring opini pembaca bahwa aku adalah orang yang mesum. Terima kasih! MAKASIH !! MAKASIH BANGET !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga Ilham yang sudah memilih, anjir memilih, memilih aku buat kolaborasi review film. Terima kasih juga udah balesin komen di sini. Huehehe.

      Btw jangan kapok ya. Lain kali kalau misalnya kolab lagi, citra kamu makin bagus kok daripada ini. Hahahahahaha!

      Hapus
  7. WAKAKAKAKKAKAKAKAKKAKAKAKAKAKKAK.
    Bocah gendeng kalian berdua.
    setuju sama Mas Haris. Kenapa harus film ini, padahal masih ada the life of pets atau yang terbaru mechnic.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seandainya komen Bena ini bisa disajikan dengan vn, pasti aku bahagia dengar wkakakakakakaka-nya. Ngikut wkakakaka juga. Bahahahaha.

      Yeah, aku memang sakit, Ben. Cocoknya sama film ginian. Life of pets belum nonton, keburu skeptis duluan karena akunya nggak suka film animasi. Kalau Mechanic itu juga belum nonton. Darma tuh yang udah :( Aku nggak sehat. Ilham apalagi. Hahahaha.

      Hapus
  8. Kita tunggu death note yg akan keluar tahun depan atau akhir tahun ini. Hmmm apakah menggunakan steadycam dan akting para pemain sangat emejing?
    Wkwkwk tolong abak dibawah 17th jangan baca postingan ini. Tolong di private kalau minta password tulisan ini kudu follow plus mention sang blogger yg collab bareng yang berawal dari wwf. Wkwk
    Monica belluci, lebih terkenal film anuannya. Tapi emang cantik sih haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya, nanti bakalan ada film Death Note ya. Okay. Film Fifty Shades Darker yang bikin Mia horny juga patut ditunggu tuh. Huehehehe.

      Iya bener, Miaaaa. Bahaya kalau anak di bawah umur baca beginian. Buset dah mention sang blogger. Ntar diseret sekalian ke mensyenan kita yang taq berujung itu, Mi. Hahahaha.

      Yap. Kalau kata Uda, Monica Belluci itu tante-tante dada kenceng. Brahahahaha.

      Hapus
  9. Nonton film beginian kayaknya gak seru selain bikin pusing, mual juga jadi pengen cepet-cepet dihalalin. Eh ini apa apaan sih?

    Yak. Kalian berdua I2 alias Ilham -Icha sama sama mesumnya.. cocok dah cocok :p :D

    BalasHapus
  10. "Trus, dia di atas, aku di bawah?" aku ngira yang diatas lagi benerin antena tv terus yang bawah teriak udah bagus belum siarannya :'D
    Jadi pengen nonton ih, Teh Cha. tapi nggak mau ngeliat scene yang-bikin-muntahnya. kalo boleh tau, dari menit berapa sampai berapa scene itunya? :(((

    ((menyiram tembok dengan protein tinggi)) perumpamaan yang edan sekali.
    dan judul-judul rekomendasi dari doi itu sungguh edan. kalian memang best couple mesum film ever. NAON SIH RIS.

    "Sama aja kayak orang ceria, nggak selamanya dia ceria. Bisa aja dia jadi orang yang depresi. Orang yang romantis, nggak selamanya dia romantis. Bisa aja dia punya sisi dirinya yang dingin dan ketus. Semua orang pasti punya sisi kelamnya sendiri. Dan baiknya jangan dilihat kalau itu adalah keburukan. Itu manusiawi." AKU SUKA TEH CHA! THE BEST LAH. BENAR SEKALI. SALAM SUPER, I LOVE UUUUU! :'D

    BalasHapus
  11. Kalimat Ilham ini boleh juga, ya. "Pusing seputing-putingnya." Btw, putingnya warna pink apa cokelat? Wakkaka.
    Waduy, film begini nih yang gue demen. Ehhh. *pas ada kuota malem, donlot ah*

    Jadi, kapan nih Icha bahas film Norwegian Wood sama blogger ganteng tapi mesum? :/

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu mau ngetik "pusing sepusing-pusingnya", Yog. Yaelah, typo dikit..

      Hapus
  12. Keknya kalian berdua patut jadi duta Blogger Mesum. Hhahaha. Parah mah, sama-sama reviewer, tapi bahasannya mesum semua.

    Kenapa gak nonton Frozen aja... Biar kalian berdua gak jadi reveiwer nakal macam ini.

    Tapi, suka sih, isi filmnya. Keknya gue juga pernah nonton. :D Iya banget. Setuju kalo kita gak pernah tau hidup kita sedetik kemudian akan jadi apa. Itulah hidup.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf nih. Tapi YOGA AKBAR SHAOLIN tetep blogger mesum yang patut di perbincangkan.

      Hapus
    2. Wadaw ngeri juga ya kang yoga itu nanti takut gimana gituh kalau lagi main dengan dia.

      Hapus
  13. Udah lama ga kesini Icha tanpa binal ya. Keren loh konsisten nulis gak pernah setop. Ajarin aku dong kakak ): Ini gue juga lagi sok sok bedah Karya film, tapi gangerti istilah istilah film, malah jadi aneh :(

    Gue jadi mikir kok Ilham mirip Icha cuman versi cowok, dan lebih binal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ((lebih binal))

      Citraku makin sampah aja T___T

      Hapus
  14. Ica, kalo ngebahas review emang udah jagonya.. Gila abiss!!! Gila yg keren maksudnya. Ehhehe

    BalasHapus
  15. dua filmnya gak ada yang gue ngeri, yg gue tau cuman bagian yang doraemon aja :(

    kalo film yg bikin mual, coba nonton grotesque, ada bagian cabulnya juga cha, kamu pasti suka :)

    BalasHapus
  16. Nggaktau bisa menikmati film jenis begini apa enggak. Belum pernah nyoba soalnya haha. Tapi sering deh ah kalo abis baca review di blog Icha gini jadi nyari tau lebih. Soalnya bikin penasaran.

    BalasHapus
  17. Gilingan cuy, ilham keren abis cara reviewnya
    Banyak istilah yang musti aku pelajarin nih cha
    Psydelic ini maksudnya visualisasi HD yang dibikin kek rekaman gimana sih? Kasi tau dong

    Ehm itu kenapa ada pelepah pisang juga dibawa2 wakakakkaka
    Ada yg disiramin ke tembok juga Ya Alloh 18 plus apa yak
    Btw aku juga suka sih cha genre psikologis gini, pokoknya yang aneh2 gitu deh, orang anomali atau punya kpribadian tertentu
    Lalu itu oscar mati maksudnya ada bagian yang dia jadi roh apa gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Psydhelic itu salah satu cabang aliran seni sebenarnya. Jadi dulu para seniman membuat dirinya nge-fly, terus sensasi fly-nya itu ia tuangkan dalam kanvas hingga terciptalah karya lukis yang unik, aneh tapi keren. Seiring majunya teknologi dan media ekspresi seni, aliran psydhelic ini kemudian dieksekusi dalam film. Jadi kalau nonton film psydhelic itu kita kayak ditunjukkan apa yang dilihat orang nge-fly itu kayak gimana.

      ((Lalu itu oscar mati maksudnya ada bagian yang dia jadi roh apa gimana?)) --> Jadi kita itu sebagai penonton jadi rohnya Oscar.

      Hapus
  18. Haaii kaichah ichah kimochiii lama aku tak mampir ksni~
    Duhh, kok aku jd kbiasaan manggilnya bgtu yah?:( ampuni aku kaichaah:(

    Ciee gegara main werewolf jd nambah tmen lagi :D rata2 yg main blogger jg sih ya? Tp kbnyakan blogger yg blm aku tau. Jd tau deh skrg. Hehe :D
    Udh ada tmen kolab-review film semi-bo*ep sgala lg nih:( eh ini trmasuk semi apa gak yah?
    Boleh jg nih idenya gabungin tulisan kalian berdua. Keren! Untung aja bkan yg lain yg digabung.. Eh, aku ngmng apasih barusan?._.

    Haduu kaicha, spertinya ini film agak berat jg yah? Aku blm siap nntn film bginian, apalagi filmnya ngebikin kyak ngerasain lgsg gtu. Duh:( klo film gaberani, tp klo berupa tulisan sih gapapa. Berupa novel eroro gtu bru kusuka! :D #halah #samaajadong

    Bnyak jg istilah yg gak aku ngerti kyak Psydhelic, dan apalah itu kawan2nya. Sgla nntn film bsa bkin mabok dan mual lah. Gak ngerti:( Hmm, kumerasa bodoh skali:( *brb nanya mbah gugel dlu*

    BalasHapus
  19. 'Aku di atas, kamu di bawah. ' Ilham bhangkeee hahahahaaaa
    kedengerannya ambigu gitu ya cha. Tapi aku yakin kok, Ilham nggak senakal itu. Ilham naq baeq-baeq. Soalnya dia suka nyiram tembok.

    YA ALLAH AKU KOMEN APAA :(

    Ngereview 2 film yang berbeda. Keren nih idenya. Walaupun kamu dia atas, ilham di bawah, kalian keliatan kompak bahasnya. Kalian juga cocok, sama-sama penyuka film, dan sama-sama mesum. Ohyeaaahhh!

    SETUJU SAMA BANG UBEN. ILHAM ADALAH ICHA VERSI BINAL. HUAHAHAHAHA

    Sering-sering gini, cha. Seru :D

    BalasHapus
  20. Baru tau kalo Psydhelic juga berlaku di film, satu gua cuma ada di musik sama seni rupa... Jadi pengen liat langsung gimana filmnya.

    Dan itu yg bilang kaicha icah kimochi ada ada aja njir.. setuju ane gan! Hahah..

    BalasHapus
  21. Saran judulnya ngeri, bosque~ Takuuuut baca judulnya. :'D

    Pas baca projeknya, agak bingung gimana cara dan maksudnya. Apalagi ditambahin atas-bawah. Tolonglah, saya masih polos, kakak Icha. Tidak tahu-menahu persoalan atas-bawah. :')

    Review saya terhadap review kalian berdua: tetep gak ngerti film.

    BalasHapus
  22. Err... kenapa kalian rusak sekali ya? wkwkwk Ampuuuun Ichak, ampuuuun :p

    BalasHapus
  23. Ya Allah saran-saran judul filmnya parah banger ya :D

    BalasHapus
  24. Duh keren bakat banget sih kang dalam hal review jadi pengen deh punya keahlian tersebut karena sangat penting juga untuk kedepannya apalagi saya suka ngereview, kalau begini mah harus banyak belajar nih biar jago dan muantappp.

    BalasHapus
  25. kayaknya kalian cocok deh cha, dan bung ilham, cocok jadi blogger yang bergenre 18+ X)
    Soal filmnya aku belum nonton ini film, dan lagi jarang nonton film juga :l

    iya betul tuh cha, coba nonton butterfly effect tuh yg ke 3, baguss wkwkw ada adegan nganu-nganunya

    BalasHapus