Paul Dano dan Empat Film Bikin Fangirling Rasa Fingering-nya
- 16.24
- By Icha Hairunnisa
- 52 Comments
Kalau ditanya siapa aktor favoritku, aku bingung mau jawab apa. Begitu banyak nama yang berkeliaran di kepala. Aku ngefans sama Joseph Gordon-Levitt, Josh Hutcherson, Jesse Eisenberg, Ryan Reynolds, Richard Gere, Jim Carrey... perasaan semuanya yang berbatang deh aku suka.
Meminjam kata-kata Ilham, ini perkara banyak pilihan. Ibaratnya kayak lagi di toko baju trus banyak pilihan baju yang bagus. Jadinya bingung. Bawaannya pengen ngomong,
“Aku mau semuanya! Aku engas!!!”
Tapi akhirnya, aku bisa juga engas cuma sama satu orang. Yaitu sama Paul Dano.
![]() |
| Sumber: Google Image |
Abang-abang kelahiran 19 Juni 1984 ini adalah aktor, produser, dan musisi yang bikin malam Mingguku kemaren semarak oleh teriakanku sendiri. Teriak ala anak-anak K-POP yang biasa ngelakuin fangirling. Aku jejeritan nggak jelas neriakin nama Paul Dano, sambil mencak-mencak di kasur pas nonton filmnya yang Little Miss Sunshine.
Sebenarnya Paul Dano ini nggak ganteng-ganteng amat sih. Mukanya culun gitu dan rada pucat. Tapi, kemampuan aktingnya bisa bikin aku teriak,
“AAAAAAAAAK AAAAAAHHHH AAAAAAH AARRGHHH FUCK ME, DANO! FUCK ME!”
Dan sebenarnya Little Miss Sunshine bukan film Paul Dano pertama yang aku tonton. Tapi Little Miss Sunshine adalah puncaknya aku nikmatin aktingnya dia. Fix. Ini fangirling rasa fingering.
Dan aku pengen nge-review beberapa filmnya Paul Dano yang pernah aku tonton. Lebih tepatnya memperkenalkan Paul Dano dan aktingnya lewat beberapa film di bawah ini:
1. The Girl Next Door (2004)
Film komedi romantis (atau mungkin) semi yang rilis tahun 2004 ini bisa dibilang adalah gerbang menuju sukanya aku sama komedi vulgar. The Girl Next Door pertama kali aku konsumsi waktu kelas 3 SMK. Waktu itu aku nontonnya bareng Owi, dan nggak bisa nahan ngakak sambil istigfar berkali-kali. Kami ngerasa durjana nonton film yang bercerita tentang anak-berprestasi-yang-bosen-sama-hidup-datarnya-trus-pacaran-sama-bintang-porno. Kami saling ngikat janji nggak bakal nonton The Girl Next Door lagi, eh tapi malah kami nonton itu mulu kalau lagi belajar kelompok. Kan bajingak.
Tapi selain ngakak, aku dan Owi juga terharu sama ending dari film ini. Bikin baper, karena film ini seolah mengajarkan arti persahabatan. Khusus aku sendiri, aku terharu sama tokoh Klitz yang diperankan Paul Dano.
![]() |
| Sumber: Google Image |
Paul Dano jadi cowok yang cupu, canggung, dan setia kawan. Aku ngerasa miris pas dia ngajuin satu pertanyaan ke Eli, temannya.
“Am I ugly?”
Sebenarnya dia nggak jelek sih. Dia cuma cupu secupu-cupunya kalau dibandingkan sama dua temannya yang juga cupu. Matthew, sang tokoh utama, cupu tapi ganteng. Dan Eli, cupu tapi songong.
Meskipun dia yang paling cupu, tapi dia punya kepanjangan yang nggak dipunyai Matthew dan Eli. Eh, kelebihan maksudnya. Bajingak. Hampir spoiler.
Dan ya, aku ngerasa biasa aja sih ngeliat Paul Dano di The Girl Next Door. Aktingnya nggak kayak akting, kayak dirinya sendiri gitu.
2. Ruby Sparks (2012)
HELL YEAAAH! Aku suka banget sama film ini! Premisnya bagus. Tentang seorang penulis novel yang mendapati tokoh fiksi dari novel yang lagi dia tulis jadi kenyataan. Jadi manusia. Tokoh fiksinya itu adalah gadis impiannya dia. Gadis yang bernama Ruby Sparks.
Paul Dano masih kelihatan cupu di film ini. Tapi cupu yang ganteng. Cupu yang punya nama besar sebagai penulis yang sukses di usia muda. Cupu yang punya pengalaman soal wanita dan depresi parah sama mantan sebelumnya. Cupu yang kesepian bukan karena nggak ada yang mencintainya, tapi karena dia terlalu mencintai dirinya sendiri.
Rasanya terlalu banyak yang bisa dianu dari film Ruby Sparks. Banyak juga macam-macam perasaanku buat tokoh Calvin yang diperankan Paul Dano. Aku ngerasa Calvin di awal bikin kita ngerasa simpati, kasihan karena dia yang depresi berat dan ngalamin writer's block. Di pertengahan bikin ngerasa ikut bahagia karena ngeliat dia bahagia bisa bareng sama Ruby Sparks, gadis impiannya. Lama kelamaan bikin jengkel, kesel, gemes karena ternyata dia itu egois trus posesif. Di ending, bikin terharu karena... dah gitu aja.
Paul Dano masih kelihatan cupu di film ini. Tapi cupu yang ganteng. Cupu yang punya nama besar sebagai penulis yang sukses di usia muda. Cupu yang punya pengalaman soal wanita dan depresi parah sama mantan sebelumnya. Cupu yang kesepian bukan karena nggak ada yang mencintainya, tapi karena dia terlalu mencintai dirinya sendiri.
Rasanya terlalu banyak yang bisa dianu dari film Ruby Sparks. Banyak juga macam-macam perasaanku buat tokoh Calvin yang diperankan Paul Dano. Aku ngerasa Calvin di awal bikin kita ngerasa simpati, kasihan karena dia yang depresi berat dan ngalamin writer's block. Di pertengahan bikin ngerasa ikut bahagia karena ngeliat dia bahagia bisa bareng sama Ruby Sparks, gadis impiannya. Lama kelamaan bikin jengkel, kesel, gemes karena ternyata dia itu egois trus posesif. Di ending, bikin terharu karena... dah gitu aja.
![]() |
| Sumber: Google Image |
Chemistry-nya bareng Zoe Kazan, pemeran Ruby Sparks itu dapet banget. Bikin baper. Nih, aku ada foto mereka berdua.
Eh. Sorry. Malah foto syur yang keluar.
Maksudnya ini.
![]() |
| Sumber: Google Image |
Akting mereka berdua asli keren banget. Dan ternyata Zoe Kazan adalah screenwriter film ini. Bajingseng! Udah cantik, berbakat nulis lagi.
Dan ternyata lagi, mereka itu pacaran. PANTESAN AJA MEREKA MENGHAYATI PERAN BANGET NJIR. SI ZOE KAZAN-NYA PAKE ADA ADEGAN TIDUR DI ATASNYA PAUL DANO TANPA PAKAIAN SEGALA JINGAAAAN.
Gilanya aku sama film Ruby Sparks, bikin aku jadi tergila-gila sama Paul Dano. Tapi baru sebatas mengagumi doang, belum sampe ke kebelet pengen 'dimasuki.'
3. Little Miss Sunshine (2006)
Huaaaaa! Film tentang keluarga disfungsional paling keren yang pernah aku tonton. Film tentang harapan yang nggak selalu bisa terwujud paling ceria dan menyegarkan. Film black-comedy yang bisa bikin ngakak keras sekaligus nangis keras.
Sama kayak Ruby Sparks, terlalu banyak yang bisa dianu dari film ini. Terlalu banyak perasaan yang tercurahkan buat film ini. Pas lagi ngetik gini pun, aku nggak bisa berhenti buat senyam-senyum dengan detak jantung yang nggak beraturan. Aku deg-deg-an bahagia. Little Miss Sunshine adalah paket komplit. Semua yang aku suka ada di situ. Tema keluarga disfungsional ada. Para tokoh yang berkarakter unik pun ada. Jokes yang vulgar juga ada. AAAAK!!!
Mungkin aku bakal review film ini di postingan khusus. Karena sekarang aku mau bahas soal tokoh yang diperankan Paul Dano di film ini. Lelaki penyedot perhatianku ini berperan sebagai Dwayne Hoover. Dia adalah salah satu tokoh yang unik dari keluarga disfungsional itu. Ya, unik yang kelam. Dia adalah anak anti sosial yang kurang percaya diri. Fans berat Friedrich Nietszche, filsuf asal Jerman. Trus dia ngelakuin puasa bicara selama berbulan-bulan sampai impiannya masuk US Air Force Academy bisa terwujud.
![]() |
| Sumber: Google Image |
Aku pikir Paul Dano bakal diam tanpa kata mulu dari awal film sampe habis. Tapi ternyata aku salah. Ada satu adegan Dwayne alias Paul Dano yang sedih, bikin mataku berkaca-kaca. Tapi momen melankolis itu dirusak sama adegan selanjutnya yang bikin ngakak. Bangke bener. Selain itu, aku suka adegan pas dia lagi ngomong sama Pamannya, Frank (Steve Carrel) di meja makan. Nggak ngomong juga sih, karena dia nulis itu apa yang mau dia bilang,
Dia nulis, "I hate everyone."
Si Paman nanya,
Si Paman nanya,
"Bagaimana dengan keluargamu?"
Dwayne langsung menggaris bawahi kata 'everyone'. Sumpah itu bikin ngakak. Selera humorku aneh banget.
Saat itulah aku ngerasa engas sama Paul Dano. Aku ingin segera dibobol. Masuki aku, Paul Dano! Masuki!
Selain karena adegan bikin ngakak itu, aku engas karena ngerasa relate aja sama tokoh Dwayne. Aku juga pernah puasa bicara gitu, Tapi karena marahan sama Mamaku. Hahahaha. Durhaka. Bisa dibilang aku juga anti sosial. Aku kurang percaya diri. Dan yang lebih ngerasa relate.... aku juga fans Friedrich Nietszche. Yeah!
Ada satu kalimat yang dilontarin Dwayne alias Paul Dano,
"You do what you love. And fuck the rest."
Anjir. Optimis gitu dia jadinya. Little Miss Sunshine dan akting Paul Dano bikin tema cerita kelam dan karakter depresi jadi keliatan cerah.
Makin bikin ingin dimasuki aja. Uuuh!
Makin bikin ingin dimasuki aja. Uuuh!
4. Swiss Army Man (2016)
Satu kata buat film ini. KENTUT! Kentut dalam artian aku memuji film ini bajingak-bagus-kok-bisa-kepikiran-ide-cerita-gini-ya, juga dalam artian di film ini ada unsur kentut. Dibintangi oleh Paul Dano dan Daniel Radcliffe.
Kutipan Nietszche yang,
"Selalu ada hal-hal tak masuk akal dalam cinta. Namun anehnya, hal-hal tak masuk akal tadi selalu memiliki alasan pembenaran."
Rasanya cocok buat film ini. Banyak yang nggak masuk akal di sini. Swiss Army Man bukan tipe film yang bisa dinikmati semua orang. Bahkan Reyhan sampe menghilangkan kagum, hormat, dan segannya sama Daniel Radcliffe karena nonton peran Daniel Radcliffe di film itu sebagai mayat hidup yang suka kentut dan ngelakuin hal ajaib lainnya. Tapi aku tetap cinta film ini.
Oh iya, Reyhan juga cinta sama film ini sih. Ya intinya, orang-orang yang udah nonton Swiss Army Man trus suka, selalu punya pembenaran kalau dikatain sama orang lain kenapa suka filmnya.
Oh iya, Reyhan juga cinta sama film ini sih. Ya intinya, orang-orang yang udah nonton Swiss Army Man trus suka, selalu punya pembenaran kalau dikatain sama orang lain kenapa suka filmnya.
Paul Dano berperan sebagai Hank Thompson, pemuda yang terdampar di pulau terpencil. Trus mau bunuh diri. Tapi niatnya itu batal karena kedatangan mayat hidup yang ntar dia kasih nama Manny (Daniel Radcliffe). Manny punya hal-hal ajaib dari tubuhnya yang bikin Hank yakin kalau Manny datang buat ngeluarin dia dari pulau itu.
![]() |
| Sumber: Google Image |
Dano ngegemesin parah! Yang bikin lucu itu Manny alias Daniel Radcliffe sih. Tapi ekspresinya Hank alias Paul Dano yang kebingungan campur kagum sama mukjizat yang ada pada Manny juga bikin ngakak. Belum lagi pas dia mau merangsang ingatannya Manny dengan cara yang bajingak. HUAHAHAHA. Ngegemesin banget. Pengen ta tujes-tujes!
Sebenarnya karakter Hank ini nggak beda jauh sama karakter-karakter yang dia perankan di film-film sebelumnya. Tapi karakter ini punya kalimat yang memorable menurutku. Pertama,
Kedua,
"The important, for now, is to find what was your life."
Ketiga,
"Manny, I think your penis is guiding us home."
Kalimat terakhir menurutku sungguh memorable. Penis bisa sangat berjasa gitu buat mereka.
Aku baru nonton film ini tadi malam menjelang tidur. Dengan rasa takut ketahuan sama Mama kalau aku belum tidur. Dan itu rasanya bajingak banget. Aku ngakak dalam benaman bantal. Jadi aku nyimpulin, kalau nahan ngakak adalah hal yang menyiksa selain nahan kangen. Dan lebih baik ngakak dalam benaman pelukanmu daripada dalam benaman bantal.
Rasanya nggak cukup sih kalau cuma bahas empat film di atas untuk menunjukan keengasanku terhadap Paul Dano. Masih ada film, There Will Be Blood (2007), Love and Mercy (2014), Gigantic (2009), dan lainnya. Tapi aku udah nggak sabar buat nulis soal ini.
Aku suka Paul Dano dan segala keabsurdannya sebagai aktor.
Aku butuh teman baik kayak karakter Klitz. Aku berimpian punya pacar kayak Calvin, trus kami membangun hubungan yang dibangun Calvin dengan keegoisannya itu, dari awal lagi. Aku pengen punya kakak laki-laki yang dari luar keliatannya nggak sayang aku, tapi sebenarnya sayang banget. Aku pengen nyemangatin karakter Hank supaya dia nggak ngerasa takut, jelek, dan nggak berguna lagi.
Aku suka Paul Dano dan segala keabsurdannya sebagai aktor.
Aku butuh teman baik kayak karakter Klitz. Aku berimpian punya pacar kayak Calvin, trus kami membangun hubungan yang dibangun Calvin dengan keegoisannya itu, dari awal lagi. Aku pengen punya kakak laki-laki yang dari luar keliatannya nggak sayang aku, tapi sebenarnya sayang banget. Aku pengen nyemangatin karakter Hank supaya dia nggak ngerasa takut, jelek, dan nggak berguna lagi.
Semoga fangirling rasa fingering ini menular.













