Main Ke Kampung Kajang Bareng Si Lajang
- 11.00
- By Icha Hairunnisa
- 68 Comments
Setelah dulu pernah mau jalan ke Bayur dan
aku dituduh mau dijual ke om-om, lalu hari Sabtu kemaren waktu aku chat sama
Aldian, dia menanggapi rencana jalan-jalanku hari Minggu dengan panik.
"Kamu mau ke Kampung Kajang? Sama siapa? Naik apa?"
"Sama Dita. Naik motor lah."
"Yakin berdua aja? Trus serius mau naik motor? Itu jauh.”
“Ya.. mau naik apa lagi.”
Rasanya pengen jawab, “Masa mau
naikin kamu?”
Sumpah, gedek amat. Mentang-mentang aku anak cupu
yang jarang jalan jauh karena kendala ijin dari orangtua, langsung kayak mau
ngelarang gitu.
“Kesana mau ngapain? Astagfirullah…”
“Mau main-main aja. Aku penasaran banget, Aldian. Itu baru buka.
Banyak yang bilang tempatnya bagus.”
“Baru buka darimana? Itu sudah ditutup sama pemerintah.
Prostitusinya udah nggak boleh lagi. Kamu mau nekat mangkal disana?”
Kemudian chat berisi
emot ketawa ngakak yang sampe kepalanya rebah ke lantai pun bermunculan.
Sumpah, mangkal apaan sih maksudnya? Trus prostitusi?
Ujung-ujungnya aku baru ngeh kalau chat kami itu ada kesalahpahaman.
Kampung Kajang yang aku maksud yaitu Kampung Kajang Anggana
Playland and Waterboom (KPJ), di
Samarinda. Sedangkan yang dikira Aldian itu Kampung Kajang di Sangatta Selatan,
sebuah lokalisasi. Sebuah kawasan yang 'mengizinkan' adanya aktivitas seksual. Katanya
sih, Kampung Kajang itu lokalisasi tertua di Kalimantan Timur.
Sialaaan. Antara mau
nangis sama mau ngakak sih. Ini sudah kali kedua aku dan Dita dituduh
macam-macam kalau mau jalan ke suatu tempat.
Ya Allah, KAMI BERDUA YANG POLOS INI SALAH APAAAAA?
Mungkin kalau aku jadi
travel blogger, aku bakal dicap
sebagai travelokalisasi blogger. Atau kalau memang beneran aku pergi ke Kampung
Kajang Sangatta, mungkin judul postingan ini bakal jadi,
"Main Ke Kampung
Kajang Bareng Si Lajang Lalu Kami Diterjang Om-Om Yang Mengaku Bujang Sampe
Kejang-Kejang dan Akhirnya Ditinggalkan Dalam Kondisi Telan…"
Serem banget. Silahkan
lanjutkan sendiri.
Untung aja itu nggak jadi kenyataan, karena faktanya aku dan Dita
beneran pergi Kampung Kajang Anggana, hari Minggu kemaren. Dengan menempuh perjalanan sekitar 45 menit (sedangkan Kampung
Kajang Sangatta bisa 4-5 jam), kami sampai dengan selamat. Dan dengan kucuran
keringat. Ya, hari itu matahari lagi binal-binalnya.
Karena itu, kami berdua yang awalnya pengen berenang (baca: Dita
aja yang berenang, aku main air) di waterboom-nya,
terpaksa ke playland-nya dulu. Harga tiket masuknya Rp 10.000,-. Ada wahana
bermain balon air, sepeda air, dan kereta api. Tempatnya teduh dengan banyak
pohon, dan sawah yang menghampar di bagian belakang.
Bukannya main, kami berdua malah sibuk selfie. Nista sekali.
Selama berpatroli sambil selfie sama Dita itu, aku mikir keras.
Aku pengen jadiin ini bahan buat postingan, tapi postingan macam apa? Aku aja
nggak motoin tempat ini dari tadi. Aku juga nggak tau gimana cara nulis yang
baik dan benar tentang tempat rekreasi, nulis yang bikin orang jadi tertarik
buat ikut mengunjungi.
Sampe akhirnya, aku ngalamin kejadian yang unik. Hmm. Aneh sih
lebih tepatnya. Oke, ngenes, lebih tepat.
Berawal dari aku dan Dita mutusin buat duduk di bangku bawah
pohon kelapa. Nggak lama aku ngerasain nyeri di bokong. Btw itu apa sih nama
ilmiahnya? Aku sering banget ngerasain itu kalau duduk di tempat keras.
Kebanyakan orang kurus sih yang ngerasain itu. Karena bokongnya nggak padat,
isinya tulang semua. Jadi ya gitu. Kayaknya.
Nyeri pun menjalar ke kepala. Pandanganku kabur. Apapun yang di
depanku jadi kelihatan bercabang, kayak membelah diri. Termasuk Dita. Badanku
juga ngerasa lemas.
“Tan, Tan, ngapain duduk di
bawah?”
Seketika pandanganku yang dari bercabang jadi naik satu level,
yaitu gelap.
Ya, dengan dramatisnya aku jatuh pingsan. Pas aku sadarkan diri
dengan aroma minyak kayu putih menyeruak, aku ngeliat sekumpulan ibu-ibu, dua
anak kecil, dan dua mas-mas mengelilingi aku yang lagi berbaring.
“Kamu kenapa, Dek? Belum
sarapan kah?”
“Kepanasan kah?”
“Habis diputusin pacar
kah?”
Aku cuma cengengesan, sebagai pengganti jawaban, “Gara-gara bokong saya nyeri, Bu.”
Aku juga bingung Dita dimana. Pas bangkit dari kubur, eh
pembaringan, Dita ternyata ada di belakangku.
“Kamu lucu. Kok bisa
pingsan? Padahal aku loh yang nggak sarapan dari pagi.”
“Tiba-tiba pusing aja. Eh,
kamu kah yang bawa aku kesini?”
Dita pun cerita panjang lebar soal kronologi aku jatuh pingsan.
Dia udah nyoba buat ngebangunin aku yang tiba-tiba terbaring
anggun di tanah, tapi aku tetap nggak sadar. Trus ada ibu-ibu lewat, manggil
anggota keluarganya yang terdiri dari dua mas-mas, dan aku diangkut. Eeeh.
Digendong. Nggak lama, pihak KPJ Playland datang ngeliat kondisiku, habis itu
pergi begitu ibu-ibu ini bilang aku istirahat di gazebonya aja.
![]() |
| Ini foto sebelum pingsan. Gazebo di belakang itulah aku dibaringkan. Huhu. |
Pas lagi ngobrol sama Dita itu, salah satu ibu-ibu disitu bilang
kalau aku ini anemia. Katanya tadi mukaku cantik pucat banget. Nah, itu dia alasan yang tepat.
Ini bukan pertama kalinya aku pingsan di tempat umum. Waktu SMP,
aku langganan pingsan tiap upacara dan di kelas. Di pasar dan di supermarket
juga pernah, waktu bulan puasa beberapa tahun lalu. Dan sekarang disini. Pingsan
yang biasanya ngerepotin keluarga sendiri, sekarang malah ngerepotin keluarga
orang.
Tapi Alhamdulillah, mereka semua baik banget. Mau-maunya nolongin
aku. Mau-maunya bersikap ramah, ngajak kami ngobrol sambil bercanda dan
ketawa-ketiwi. Mau-maunya ngasih aku minum dan makan.
Setelah ngerasa udah baikan (dan kenyang, huehehehe) aku dan
Dita pamit undur diri. Trus menyalami mereka yang kalau nggak salah ada
sembilan orang, sambil ngucapin terima kasih. Soalnya kalau ngucapin, “Mohon maaf lahir dan batin,” udah kayak
Lebaran.
“Hati-hati ya, Dek. Cowok
tuh bisa dicari kok.”
Terdengar suara dari salah satu mas-mas disitu, lalu disusul
dengan tawa renyah ibu-ibu. Lagi-lagi aku cuma bisa cengengesan.
Kami pun meneruskan perjalanan. Beli minum, duduk bentar, habis
itu meluncur ke waterboom yang letaknya persis di sebelah playland-nya. Harga
tiket masuknya murah, Rp 45.000,-.
Tapi bukannya berenang, kami malah selonjoran manis mandangin
orang yang lagi berenang. Dita kembali sibuk selfie, sedangkan aku sibuk meng-copy paste Word cerbung WIDY bagian dua
ke aplikasi Blogger di hapeku. Cerbung itu memang direncanain buat di-publish
hari itu juga.
“Tan, masa Ibu tadi ngira kita saudaraan. Aku dikira adekmu. Pas
aku bilang teman, muka Ibunya langsung aneh gitu. Hahahaha,” kata Dita
tiba-tiba.
Perkataan yang udah sering aku dengar dari orang-orang. Kami berdua sering disangkain adek-kakak.
![]() |
| Ini foto yang sering dibilang kami kakak adek. Kami beneran mirip nggak sih? |
Padahal aku nggak ngerasa mirip dia, sahabatku dari SMK itu. Satu-satunya yang mirip mungkin cuma jenis kelamin kami. Dia Cina asli, aku
Cina-Cinaan. Dia punya badan yang berisi, aku kayak orang kurang gizi. Dia
kelahiran ’96, aku kelahiran ’94.
Dia belum pernah pacaran sama sekali, aku
udah pernah pacaran berkali-kali, dengan hati yang dipatahkan berkali-kali
pula. Selama ini aku nggak pernah liat dia pacaran.
Bukan, bukan karena dia aseksual. Tapi karena dia susah jatuh
cinta sama orang. Begitu jatuh cinta, orang itu bukan yang terbaik buat dia.
Dia pernah jatuh cinta sama tukang PHP. Dia pernah jatuh cinta sama anggota
salah satu komunitas di Samarinda. Dia pernah dijatuh cintai sama temannya dan
begitu dia jatuh cinta balik, dia patah hati.
Jujur, aku ngerasa Dita ini keren. Dia milih buat berhenti jatuh
cinta saat dia tau orang itu bukan orang yang tepat. Dia bisa terang-terangan
bilang nggak bisa ngebalas perasaan sama orang yang naruh perasaan sama dia.
Seolah dia nggak mau membuang-buang waktunya untuk cinta yang semu.
Baginya, cinta itu bukan obsesi. Cinta itu kerjasama antara dua
orang sebagai pemilik rasa yang sama. Jangan perjuangin orang yang nggak mau
diperjuangkan.
Aku bangga punya sahabat kayak Dita, yang biasa manggil aku
dengan sebutan Tante, dan aku panggil dia dengan sebutan Dut. Sahabat yang
ngobrolin hal random walaupun terkadang nyebelin didengar, karena kebanyakan ngeluh
soal berat badan. Tapi dia nggak pernah ngobrolin harapannya yang kelewat besar
soal cinta. Nggak pernah ngobrolin hatinya yang berulang kali patah parah.
Nggak pernah ngobrolin pemaklumannya akan cinta yang jelas-jelas salah.
Ibarat badak Sumatera, Dita itu satwa langka. Langka di zaman
sekarang, yang anak baru masuk PAUD aja
udah pacaran.
Aku bangga, sekaligus iri. Karena aku nggak bisa setangguh dia. Beruntungnya
cowok yang nikahin Dita nanti, si badak Sumatera.
Dan betapa ngenesnya aku kalau seandainya Dita punya pacar.
Karena aku kalau kemana-mana bakalan sendirian. Bakal nggak ada yang sabar
nanganin aku pas di keadaan pingsan kayak tadi.
Jangan sampe itu terjadi. Lajang sampe halal, Dut. SAMPE
HALAAAAAAAL!
Nah loh, malah ngomongin Dita. Kayaknya emang bener deh, aku
cocoknya jadi travelokalisasi blogger daripada travel blogger. Hiks.



