Rabu, 27 Juli 2016

Sayangilah Mustangmu, Bukan Pelepas Kutangmu

Lebih baik nonton film keluarga disfungsional, daripada nontonin cowok yang ngalamin disfungsi ereksi. Alias susah keras. – Icha, 21 tahun. Kebelet pengen berkeluarga.

Pengen nulis kayak gitu rasanya, di jidat orang-orang yang heran pas aku bilang suka nonton film bertema keluarga disfungsional. Tapi lihat jidatnya juga sih. Kalau jidatnya lebar kayak aku, bisa aja aku tulis. Kalau nggak sih palingan aku kecup aja. Kecup pake hak-nya sepatu higheels. Btw, definisi keluarga disfungsional yaitu keluarga yang punya banyak konflik, perilaku buruk, bahkan ada pelecehan di antara anggota-anggotanya. 

Awalnya karena setahun yang lalu aku ngebaca post Distopiana yang INI. Trus jatuh cinta sama salah satu film yang dibahas di post itu, yaitu Dogtooth. Sampe sekarang jadi kecanduan buat nonton film sejenis itu. 

Alhamdulillah (kayaknya Astagfirullah bagi yang baca ini huhuhu), aku nonton The Virgin Suicides dan Mustang. Dua film keluarga disfungsional (atau bisa disebut drama coming of age) yang menurutku punya banyak kemiripan satu sama lain. Dan punya kemiripan sama aku, jadinya kegeeran trus munculin naluri baper bloggerku.

The Virgin Suicides bercerita tentang lima perempuan bersaudara yang dikekang kedua orangtuanya. Karena nggak tahan dengan kekangan yang lebay, si bungsu, Cecilia (Hannah R. Hall) mutusin bunuh diri. Bukannya sadar kalau udah memenjarakan anak-anaknya, orangtuanya malah makin beringas aja ngekangnya. Para Lisbon Girls, lima bersaudara itu, harus ngalamin masa remaja yang kelam. Salah satu contoh kekelamannya yaitu Lux yang diperankan Kirsten Dunst, makin dikekang ya makin nakal. Bikin aku setuju banget sama yang ditulis di review Cinetariz

“Terlalu mengekang sama bahayanya dengan terlalu memberi kebebasan.”

Sedangkan Mustang, nggak beda jauh sama The Virgin Suicides. Mustang punya lima perempuan bersaudara yang juga dikekang. Nggak boleh keluar rumah, harus putus sekolah. Ada salah satu dari lima bersaudara itu juga yang bunuh diri karena saking depresinya. Cuma masalah yang bikin dia depresi itu beda sih daripada yang bikin Cecilia bunuh diri. Dan kalau disuruh milih, aku lebih suka Mustang daripada The Virgin Suicides.

Sumber: Google Image

Bukan, bukan karena Mustang itu film dari Turki yang bikin aku jadi keingat serial Elif. Apalagi keingat serial Cinta di Musim Cherry. Dan serial-serial Turki lain yang berhasil merenggut remote tivi dariku. Bukan juga karena di The Virgin Suicides, nggak ada adegan Kirsten Dunst diselamatin sama Spiderman pas hujan trus dicipok. Bukan. Mustang adalah pengkritik atau penyindir yang lebih menyenangkan daripada The Virgin Suicides, terhadap isu sensitif. Isu sensitif berupa moral, agama, dan budaya. 

Hal ‘menyenangkan’ yang aku dapat waktu nonton Mustang berawal dari Lale (Güneş Şensoy) Nur (Doğa Doğuşlu), Ece (Elit İşcan), Selma (Tuğba Sunguroğlu),dan Sonay (İlayda Akdoğan) main di pantai bareng temen-temen cowok. Hal itu mereka lakuin demi ngehibur si bungsu, Lale yang nangis karena guru kesayangan mereka pindah ke Istanbul. Lima bersaudara itu asik main gendong-gendongan sambil nyiprat-nyipratin air satu sama lain. 

Begitu mereka pulang, Neneknya manggilin mereka dengan muka menahan marah. Mereka diadili satu persatu. Karena Sonay yang paling tua di antara mereka berlima, Sonay yang diadili duluan di kamar oleh sang Nenek. Empat saudaranya di luar kamar menanti dengan harap-harap cemas. Entah apa yang Neneknya lakukan. Aku sih ngebayanginnya si Nenek ngelakuin kayak yang dilakuin ke para anggota Yakuza perempuan. Yang kalau kata akun Twitter @indoKEPO, anggota Yakuza perempuan yang ngelanggar peraturan, bakal dapat hukuman pada putingnya. Serem. Tapi kayaknya Sonay bersaudara nggak dapat hukuman sevulgar itu deh. Karena Neneknya cuma ngomong vulgar, 

“Cucuku menggesek-gesekkan selangkangan di leher anak laki-laki! Cucuku bermasturbasi di leher anak laki-laki!”

Mereka jelas kaget, kenapa si Nenek bisa mikir sengeres, eh sejauh itu. Padahal mereka tadi seru-seruan doang. Tapi hal itu dianggap cabul oleh para tetangga yang ngeliat kejadian itu, trus ngelaporin ke Neneknya mereka. Neneknya yang emang kolot, juga karena Turki masih berpegang erat pada tradisi dan agama. Agama Islam.

Ini pas otw ke tempat pemeriksaan... nonton sendiri aja lah.
Sumber: Rorypnm

Sejak saat itu, hidup Mustang Girls pun berubah. Mereka benar-benar nggak boleh keluar rumah. Kerjaannya ngelakuin hal-hal yang perempuan banget kayak masak dan ngejahit. Trus harus pake baju tertutup. Paman Erol, paman mereka, pake nambahin dengan nggak boleh pacaran. Beliau nggak suka banget ngeliat Mustang Girls dekat sama laki-laki. Sonay yang udah terlanjur punya pacar, tetap pacaran dan sering mojok sama pacarnya dengan kabur  lewat jendela.

Walaupun dikekang, mereka mencoba menghibur diri dengan tetap senang di rumah. Mereka masih bisa ketawa, masih bisa bercanda, masih bisa pura-pura lagi berenang padahal lagi di kasur....

Sampai akhirnya, keputusan Nenek buat menikahkan mereka satu persatu, memisahkan mereka. Ngebuat mereka nggak bisa senang-senang bareng lagi.  Sonay yang awalnya mau dijodohkan dengan pria yang bulu-dadanya-nyembul-di-balik-baju, akhirnya nikah sama pacarnya. Pria berbulu dada nyembul itu nikah sama Selma. Ece yang ‘giliran’-nya tiba buat dinikahkan, mutusin buat bunuh diri. Dan saat itu si Lale, tokoh paling kecil tapi paling strong di film ini, ngambil tindakan. Dia jadi pahlawannya. Pahlawan bagi Nur yang juga mau dinikahkan, dan pahlawan bagi dirinya sendiri. 

Selesai nonton Mustang, aku tersenyum haru sambil ngusap airmata yang ngalir. Film yang nyentuh abis. Aku suka semangat Lale yang pengen membebaskan saudaranya dari pemikiran kolot Nenek dan Pamannya. Aku suka Mustang ngebawa pemikiran orang jaman dulu (atau masih sampe sekarang) yaitu kalau tandanya masih perawan itu yang ngeluarin darah pas malam pertama.

Aku suka karena film ini nggak bikin aku mikir kalau Lale itu pembangkang. Lale itu cuma pengen ngerasain kebebasan. Aku suka karena Mustang nggak bikin aku mikir kalau si Neneknya itu jahat. Neneknya itu baik, beliau kayak gitu karena faktor moral, budaya, dan agama yang dipegang terlalu erat. 

Dan yang paling aku suka, yaitu persaudaraan mereka berlima. Bikin baper. Aku nangis pas scene Sonay dan Selma nikah, jadi mereka berlima nggak serumah lagi. Spontan aku langsung keingat sama empat saudara perempuanku. Yang kalau boleh dikasih nama kayak Lisbon Girls dan Mustang Girls, namanya Abdullah Girls. Abdullah itu nama Bapakku, btw. Bahri Abdullah.

Lisbon Girls, Mustang Girls, Abdullah Girls. Huahahaha. 

Karena Mustang, aku makin ngerasa beruntung punya empat saudara perempuan. Menyenangkan, semenyenangkan Lale yang punya empat saudara perempuan. Entah bakal kayak gimana kalau aku nggak punya Kak Iin, Kak Fitri, Kak Dayah, dan Nanda. 

Banyak hal nyenengin yang aku alamin karena punya saudara kayak mereka, seperti yang pernah aku tulis di SINI. Cuman sekarang aku ngerasa, mungkin aku nggak bakal ngerasain betapa nyenenginnya punya adek, kalau nggak ada Nanda. Nyenengin karena ngeliat dia yang nangis kejer karena dipehapein. Nyenengin aja, ternyata nggak cuma aku dan Lucky Laki yang bisa menangis karena cinta. HUAHAHA. 

Ya, Nanda nangis karena cowok yang udah bikin dia baper, malah mutusin buat jadian sama cewek lain. Dan Nanda mutusin buat membaperkan dirinya sama video terbaru Awkarin. Saat itulah giliran aku yang nangis. Bisa-bisanya dia baper sama video Awkarin. Trus baper sama kalimat di video itu yang,

“Ketika Cancer dan Sagitarius bersatu, di situ ada kita.” 

SHIT, MAN.

Pasti udah pada tau videonya. Di mana di video itu, Awkarin ngasih kejutan buat Gaga trus curhat soal dia diputusin sama pacarnya itu.

Kayaknya bisa nih dibikin film. Judulnya Confession of  Gagaholic.
Plesetan dari Confession of Shopaholic.

Bukan cuma curhat, tapi Awkarin juga mewanti-wanti kita yang nonton supaya jangan nyakitin Gaga. Ditambah lagi, ada ancaman dari Sarah, temen Awkarin di video itu, buat Gaga. Ancamannya yang paling ngena yaitu, 

“Bukan karma, tapi roda itu emang berputar.”

Aku sempat tenangis dikit sih pas nonton videonya itu. Hehe. Tapi nggak sampe baper juga. Jujur, aku juga pernah nangis-nganga-lebar karena diputusin. Bahkan susah move on dua tahun. Aku juga pernah bikin video curhat yang isinya putus sama Indra. Video yang ada aku post di blog, cuma lupa (atau nggak mau nginget) judulnya apa. Aku pernah ngerasain kenistaan bercinta ala ababil. 

Aku rasa Awkarin wajar udah kayak gitu. Ini masanya dia nangis lebay karena cinta. Ini masanya dia pikir cuma si Gaga yang bisa bikin dia bahagia. Ini masanya dia nggak sadar kalau kalimatnya dia yang, “I will always put your happines first over mine,” itu lebih baik ditujukan buat saudaranya, buat keluarga, bukan buat Gaga.

Karena keluarga, nggak bakal pernah ninggalin dia. Seperti Lale yang nggak ninggalin Nur. Seperti kakak-kakak dan adekku yang nggak bakal pernah ninggalin aku. 

Dan nanti bakal ada masanya Awkarin lebih sayang sama 'mustang'-nya, daripada sayang sama pelepas kutangnya, yaitu Gaga. Eh tauk deh, Gaga pernah ngelepas kutangnya Awkarin apa enggak.

Sialan. Udah panjang aja ini post. Sampe ngomongin Awkarin segala. Ini post kemana-mana. Udah kayak roda aja. Berputar. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 10 Juli 2016

Sabtu Bersama Anak Bapak

“Aku tak tau harus mulai dari mana.
Aku tak tau harus menulis apa.
Di tanganku duka. Di tanganku suka.”

Penggalan lirik Lagu Cinta-nya Iwan Fals membawaku ke sini. Lagu yang jadi original soundtrack (OST) Sabtu Bersama Bapak, film yang diadaptasi dari novel bestseller dengan judul yang sama. Lagu yang mengiringi scene romantis di film itu, yang bukannya bikin aku senyam-senyum, tapi malah bikin aku nangis dengan bahu terguncang. Bikin Dita, temen nontonku waktu itu, nyikut lenganku. Aku noleh ke dia, trus dia geleng-gelengin kepala tanda heran. 

Ya, aku memang bikin heran sih. Alay. Gitu aja nangis. Tapi mau gimana, aku baper sama scene itu. Mungkin karena juga baper sama lagunya. Lagu Cinta keren. Lebih keren daripada lagu Iwan Fals yang lain. Misalnya Bento, Aku Bukan Pilihan, atau Lonteku. 

Tapi filmnya memang efektif bikin nangis sih. Bagi yang udah baca novelnya, pasti udah nggak heran lagi kalau film ini bakal memakan banyak korban mata. Bikin nangis, minimal berkaca-kaca. 

Sumber: Movie.co.id

Aku yang emang dari sononya mudah tersentuh hatinya (baca: cengeng), jadi basah gitu. Matanya yang basah. Aku sering basah karena film. Kalau Agung Hapsah punya outro dan tagline andalan di tiap vlog-nya yaitu, “Until next time, stay classy,” mungkin aku juga punya. Yaitu, “Until next time, stay wet.”

Yeaah, stay wet. Wet dreams. Mimpi basah. 

Eeeh. Enggak! Astagfirullah. Huhuhu. 

Ngomong-ngomong soal mimpi basah, eh mimpi aja, aku sempat punya mimpi pengen punya novel Sabtu Bersama Bapak. Cetek amat ya, mimpinya. Tapi beneran, dulu sempat ada niatan gitu buat beli, gara-gara Yoga dan Darma ngerekomendasiin dengan menggebu-gebu. Tapi entah karena apa aku nggak jadi mulu beli novelnya. Dan sekarang jadi nyesel deh. Huuaaaa.

Tapi untungnya rasa sesalku nggak berlanjut sampe ke film. Karena filmnya bagus. Bukan cuma soal Bapak, tapi soal cinta-cintaannya juga. Sebagai orang yang belum baca novelnya, aku pikir aku bakal dibikin baper soal keluarga aja sama filmnya. Ternyata lebih dari itu. Dan yang seperti ditulis di Storibriti, Monty Tiwa selaku sutradara, piawai membolak-balikan perasaan. Ngebuat emosi jadi naik turun, sedih, ketawa, tegang, terharu. Emosinya para penonton bapak-bapak, ibu-ibu, semuanya. 

Khusus buat penonton kayak aku, aku ngerasa nonton Sabtu Bersama Bapak ini nggak terduga. Aku nonton Sabtu Bersama Bapak di hari Sabtu kemaren sama Dita. Padahal rencananya mau nonton hari sebelumnya, yaitu Jum’at. Nggak terduga juga dia ngakak keras pas nontonnya, pas scene Saka yang diperanin Deva Mahenra sibuk bergugup ria. Tumbenan. Pas nonton show stand up comedy-nya Ernest Prakasa aja si Dita mukanya datar. Padahal aku sama Kak Ira waktu itu ngakak sambil saling pukul-pukulan badan. 

Padahal, motif aku ngajakin dia nonton Sabtu Bersama Bapak di hari Sabtu bersamaku itu pengen liat dia nangis. Sesekali gitu giliran aku yang ngatain dia cengeng. Huahahaha. Lagian dia itu anak Bapak banget. Manja dan dimanjain Bapaknya. Aku ngarepnya dia ngerasa relate, trus nangis tersedu-sedu ingat sama Bapaknya di rumah yang telah membesarkan dia sampe sesemok itu seorang diri. Eh yang terjadi malah......

“Tante, aku pengen punya suami kayak Saka. Aaaak Sakaaaaa! Saka ganteng, lucu lagi! CARIKAN COWOK KAYAK SAKA, TAN! CARIKAN!”

Anjrot. Mission failed. 

Untungnya, akting para pemainnya pada nggak gagal. Bagus semua!

Aktingnya Deva Mahenra keren. Lebih keren daripada waktu dia main di serial Tetangga Masa Gitu. Tapi aku nggak sampe favoritin sih. Nggak kayak Dita. Kalau ada scene yang nampilin Saka, yang diperanin si Deva, badannya langsung condong ke depan. Aku yang biasanya ngakaknya lebih keras dari dia kalau ada yang lucu, mendadak jadi lebih kalem. Jelas kelihatan kan, siapa yang lebih pengen dimakan Saka siang-siang. Atau lebih pengen dikasih makan siang yang besar-besar punyanya Saka. Iya kali ya, Dita gitu.

Nih, si Saka yang bikin Dita horny.
Sumber: Google Image
Trus Dita juga suka sama aktingnya Acha Septriasa. Dengan lantangnya dia bilang kalau Acha itu cocok meranin apa aja. Bikin aku ngangguk-ngangguk sambil nyuruh dia memelankan suaranya. Tapi memang bener sih apa yang dibilang Dita. Aktingnya Acha mencuri perhatian. 

Bang, kita kapan punya dua anak laki-laki gini, Bang? Bang Adam Levine~
Sumber: Bintang.com 

Dia jadi Risa, wanita tangguh beranak dua yang selalu berusaha buat nyenengin suami. Muka bahagianya pas ngeliat Satya (Arifin Putra) yang baru pulang, bikin aku ngerasa dejavu. Muka-muka yang nantiin seseorang pulang trus pas orangnya pulang, seneng banget. Trus pas Satya bilang soal masakan Risa yang keasinan, bikin aku ingat sama nasi goreng naas buatanku yang keasinan. Bikin aku refleks ngomong, 

“Ih, RISA NIH AKU BANGET!” 

Giliran Dita yang nyuruh aku melanin suara. Nyuruh diem lebih tepatnya. Takut yang denger pada muntah kali, ya. Huhuhu. 

Kalau aktingnya Arifin Putra, nggak usah diragukan lagi sih. Selalu keren. Saking kerennya, Dita sampe ngirain kalau Satya itu psikopat. Soalnya marah-marahnya serem gitu. Terlalu kaku juga dalam membimbing keluarga kecilnya. Tapi yang paling keren pas dia lagi berdialog sama Pak Gunawan, Bapaknya, yang diperanin Abimana Aryasatya. Emosional banget. Menguras air mata. Jadi kepala keluarga itu keras. Bukan harus ‘keras’ biar bisa bahagiain istri dan punya anak, tapi memang keras. Nggak mudah. 

Tapi kayaknya kalau buat bawain perannya Ayu, itu mudah sih. Soalnya tinggal jadi wanita kalem adem ayem yang selalu siaga pasang senyum ngebosenin aja. Kira-kira gitu yang dibilang Dita. Dia kayaknya gedek gitu sama karakter Ayu yang diperanin sama Sheila Dara Aisha. Entah karena menurut dia aktingnya Sheila Dara itu jelek, atau karena dia cemburu aja si Sheila bisa deket-deket sama Deva. Tauk deh. Yang jelas, aku rada setuju sih sama Dita. Karakternya Ayu itu rada ngebosenin. Dan dibawain seadanya aja sama Sheila Dara. He he. He. He. 

Padahal akunya juga nggak bisa akting. 

Akting kayak Sheila Dara aja nggak bisa, apalagi akting kayak Ira Wibowo. Akting beliau bikin pertahanan air mataku jebol. Aura keibuannya bener-bener terpancar. Karakter Ibu Itje diperankan dengan kurang ajar kerennya. Chemistry yang ia bangun bareng Abimana, itu dapet banget. Aku tetap bisa baper walaupun Dita di sebelahku koar-koar nanya kenapa-Abimana-mau-peluk-pelukan-sama-Ira-Wibowo-yang-umurnya-jauh-lebih-tua.

I don’t give a fck, kalau kata Dovi. Ira Wibowo memang cocok meranin karakter seorang Ibu yang sayang anak. Aku lupa sih beliau main di film apa aja sebagai seorang Ibu. Yang paling aku ingat itu pas beliau berperan jadi Ibunya Rachel Amanda di film I Love You Om. Di film itu, ada scene di mana Ira Wibowo marah-marah sama Restu Sinaga, nangis, trus bukain satu persatu kancing bajunya yang menerawang itu sambil bilang, 

“Kalau ini yang kamu mau, saya rela! Tapi jangan ganggu anak saya! Dion baru 12 tahun. Jangan rusak masa depan anak saya!”

Sedih. Sayang anak banget kan.

Tapi di Sabtu Bersama Bapak, Ira Wibowo nggak perlu nangis-sambil-buka-kancing-baju buat bikin penonton ikut nangis. Karakter Ibu Itje yang sayang sama anak-anaknya, rindu sama suaminya yang udah tiada, ditunjukkan lewat perlakuan dan mimik wajah. 

Dialognya nggak terlalu panjang tapi ngena gitu. Beliau juga bisa membangu chemistry sama Arifin Putra dan Deva Mahenra. Terutama sama Deva. Bener-bener keliatan sama anak kandung sendiri menurutku. 

Dan Sabtu Bersama Bapak, keliatannya bener-bener bikin aku mikir aneh lagi. Seperti biasa kalau habis nonton film yang bikin baper. Aku mikir kalau bagi laki-laki, mungkin film ini mengajarkan gimana menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Imam yang baik bagi istri. Mencari teman hidup yang kuat karena suatu hubungan membutuhkan dua orang yang sama-sama kuat. 

Tapi mungkin bagi perempuan, anak perempuan macam aku, Sabtu Bersama Bapak bikin aku tambah bangga jadi anak dari Bapakku. Bapak yang jarang pulang karena kerja jauh kayak Satya yang kerja jauh jadinya LDR-an sama Risa. Bapak yang suka mendadak tanya aneh-aneh di telpon, misalnya bukannya tanya kabar malah tanya oli motor udah diganti apa belum, atau pas lagi di Samarinda, tiba-tiba ngajakin jalan-jalan sore. Kayak Saka yang bertingkah aneh pas ngajakin makan siang dan pas dinner nanyain pertanyaan nggak jelas. 

Bapak mungkin nggak sebijak Bapaknya Satya dan Saka dalam berkata-kata, tapi Bapak bikin aku selalu ngerasa jadi anak perempuannya yang manis. Bapak orangnya tenang, penyabar, dan penyayang. Bapak ngertiin sifat Mama yang rada keras dan overprotective. Bapak selalu percaya sama apa yang aku lakukan. Sama yang anak-anaknya lakukan. 

Aku bangga jadi anak Bapak. Bukan cuma di hari Sabtu kemaren pas nonton film Sabtu Bersama Bapak, tapi di hari-hari lain. Hari Bapak pulang ke Samarinda, Bapak lagi di Samarinda, Bapak balik kerja ke sana. Hari apapun. Tapi aku masih belum becus jadi anak Bapak. Belum. Dalam hal apapun. Jadi anak Bapak yang baik. Jadi anak Mama juga. 

Duh, mau nangis. 

Yaelah, lemah amat, ya. Mau beli obat kuat dulu deh. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 01 Juli 2016

Seperti The Hunger Games, The Hunger Month Juga Ada Sekuelnya

Kalau disuruh milih nonton Rudy Habibie, prekuelnya Habibie & Ainun. Atau nonton Deadpool 2, sekuelnya Deadpool, aku milih pilihan kedua. 

Iya iya, aku nggak berjiwa nasionalis dan selera filmku brutal. Tapi nggak bisa dipungkiri, aku pengen banget nonton Deadpool 2. Pengennya udah dari sekarang, padahal syuting filmnya mulainya awal 2017 nanti. Masih belum tau tayangnya kapan. Tapi nggak papa, ku tetap menanti. 

Pas baca soal itu di Movienthusiast, aku kegirangan sambil bertanya-tanya dalam hati.

Apa musuhnya Deadpool, yaitu si Cable, namanya bakal jadi olok-olokan Deadpool lagi? 

Apa nanti bakal ada kisah Dopinder (si supir taksi langganan Deadpool) dan Gita lebih lanjut? 

Bakal kena sensor lagi nggak ya, adegan seksnya Vannesa dan Wade Wilson alias Deadpool?

Dan masih banyak pertanyaan lainnya. 

Pokoknya, aku yakin kalau Deadpool 2 bakal sebagus sekuelnya The Hunger Games, yaitu Catching Fire. Banyak kelebihan Catching Fire daripada The Hunger Games. Salah satunya adalah Katniss dan Peeta bisa leluasa berciuman. Nggak kayak di The Hunger Games, yang kalau kata Bang Haris, nunggu sepi dulu baru ciuman. 

Tapi mau sebagus atau sejelek apapun sekuelnya Deadpool nanti, aku pengen nontonnya nggak dalam keadaan batuk pilek kayak sekarang. Supaya aku bisa mandangin Deadpool sambil khusyuk membasahi diri. Bukan hidung yang basah karena ingus, tapi..... 

EH NGGAK DING. Supaya khusyuk nontonnya maksudnya. Batuk pilek ini nggak enak banget. Ingus naik turun, valak pening, tenggorokan kadang sakit kadang nggak, kayak shift-shift-an gitu. Sedihnya, bulan puasa udah mau berakhir, lebih sedihnya lagi diakhiri dengan sakit ngeselin begini. Kalau ditambah tahun ini, ini tahun ketiga bulan puasaku nggak jauh-jauh dari kata “sakit.” 

Kata “sakit” dan sekuel ada kaitannya sama bulan puasa, menurut orang yang suka ngait-ngaitin film sama kehidupannya kayak aku. Entah itu karena aku kurang kerjaan atau kejiwaanku terganggu akibat suka nonton film tapi nggak bisa akting, aku nganggap kalau kehidupan seseorang itu kayak film. Dan setiap orang punya film sekuel bulan Ramadannya masing-masing. 

Sekuel yaitu sebuah film kelanjutan dari cerita yang udah dihadirkan di film sebelumnya. Setiap orang punya ‘film’ Ramadan pertamanya. Yang bikin itu jadi film Ramadan pertamanya bisa karena itu dia pertama kali berpuasa, pertama kali berburu takjil, atau pertama kali bukber bareng pacar trus diputusin. Bebas. Pokoknya bulan puasa yang ‘berkesan’. Trus sekuelnya adalah yang meneruskan kesannya itu. 

Kalau bulan Ramadan, atau kalau boleh aku sebut sebagai The Hunger Month, diibaratin sama film The Hunger Games, berarti ada sekuelnya. 

Sumber: akun Twitter @RonsImawan

Dan The Hunger Month-ku bergenre drama keluarga. Temanya tentang sakit. Filmnya ‘tayang’ di bulan puasa tahun 2014. 

Di bulan puasa itu, Bapak masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya. Beliau sakit liver. Aku pernah tulis soal itu di SINI dan di SINI Sebenarnya udah pernah beberapa kali masuk rumah sakit sebelumnya, tapi di tahun itu beliau sampe nggak sadarkan diri selama dua hari. Momennya pas bulan puasa, jadinya makin ngerasa miris aja gitu. 

Aku dan para anggota keluarga bergantian nginap ngejagain Bapak di rumah sakit. Buka puasa di sana, sahur di sana. Syukurnya pas di malam takbiran, Bapak udah boleh pulang. Padahal beberapa hari sebelumnya, Mama ada nyuruh anak-anaknya,

“Habis sholat Ied nanti, kita langsung ke rumah sakit. Bemaafan wan Bapak. Lebaranan di sana haja kita. Bawain toples-toples kue kah ke sana sekalian.”

Drama abis. 

Dan entah perintah Mama itu doa atau apa, pas di Lebaran ketiga atau kedua ya, aku lupa, giliran Mama yang masuk rumah sakit. Sifat panikan dan overthinking Mama bikin kondisi beliau jadi drop. Aku dan anak-anak beliau kembali jadi anak RS. Bolak-balik ke rumah sakit-rumah lagi. Kondisi rumah jadi acak kadut. Kami makannya nggak teratur karena tukang nyuruh makannya, alias Mama, nggak ngurusin kami selama sakit. Tapi Mama cukup strong, cuma empat hari aja dirawat di rumah sakit. Padahal kan, bisa lebih lama lagi. Biar aku bisa bebas jalan tanpa ada yang ngelarang. 

Astagfirullah, enggak ding. Nggak mau lebih lama lagi kok.

Bulan puasa tahun 2014 jadi bulan puasa yang suram sekaligus berkesan buatku. Bulan puasa yang bermakna. Aku ngerasa nangisku di tahun itu adalah nangis buat hal yang pantas ditangisin. Aku nangisin kedua orangtuaku. Bukan nangis kayak biasanya, nangisin ukuran dadaku yang entah kapan bisa jadi 34B.

Dan selayaknya film yang berkesan, biasanya bakal dibikinin sekuelnya demi memuaskan para pecinta filmnya itu, hal itu juga berlaku di bulan puasaku di tahun berikutnya. Tahun 2015, yang Maha Kuasa ngebikinin sekuel Ramadanku. Sekuel The Hunger Month. Dengan cerita yang menurutku memenuhi ekspetasi orang-orang yang nungguin sekuel suatu film, pengen sekuelnya lebih dahsyat daripada film pertamanya. Sedahsyat Catching Fire-nya The Hunger Games. Yaitu dengan cerita giliran aku yang sakit. Itu dahsyat kan, karena senang ngeliat aku yang menderita. Huhuhu. 

Di tahun itu, tepatnya tahun kemarin, sakit maagku membinal. Seminggu sebelum Lebaran, aku nggak puasa karena makan susah banget. Dibawa makan, muntah. Jadinya aku nggak turun kerja, kerjanya ganti di rumah, yaitu kerjaannya tiduran mulu. Pas Lebaran ketiga, aku masuk rumah sakit selama seminggu. Aku pernah ceritain dengan panjang lebar di SINI.

Sekuel The Hunger Month-ku ini menurutku genrenya bukan cuma drama keluarga lagi, tapi ada romance-nya. Kalau diibaratkan film horror, sekuelku ini kayak film The Conjuring 2. Cukup nyeremin sakit sampe dirawat inap, tapi bikin baper. Karena aku sakit, aku jadi ngerasain dijagain sama Zai. Ditungguin sampe tidur, dicemasin. Aku senyam-senyum ngeliat muka kelelahannya yang semalaman nggak tidur karena aku gelisah susah tidur. Biasanya mah dia kelelahannya cuma habis download bergiga-giga film semi.

Tapi ternyata nggak selamanya sekuelku sebaper The Conjuring 2. Atau seromantis AADC 2. Atau sevulgar Jan Dara 2. Karena setelah putus sama dia, aku ngerasa sekuel The Hunger Month-ku kayak film Human Centipede II. Bikin sakit hati pas awal-awal ditonton, tapi lama-lama heran sama kegilaannya. Dan akhirnya mikir lebih baik dilupain aja demi ketenangan batin. 

Dan tahun ini, kayaknya The Hunger Month-ku masih dibikinin sekuel. Aku sakit lagi walaupun sakitnya cemen, nggak kayak tahun kemaren. Tapi Ramadan tahun ini bener-bener beda sama Ramadan dua tahun kemarin. Nggak pernah aku bayangkan sebelumnya. 

Aku udah nggak pacaran sama Zai lagi. Aku udah nggak kerja di tempat dulu. Dan aku punya banyak teman baru yang didapatin dari blog. Bikin The Hunger Month-ku nggak cuma bergenre drama keluarga, tapi juga romance-comedy. Salah satu genre film kesayangan yang disematin di sekuel The Hunger Month-ku sama teman baru kesayangan. Genre yang bikin filmnya nggak pernah bosan ditonton. Bikin aku ngerasa jadi orang yang nggak membosankan lagi.

Tapi mau gimanapun Ramadannya, mau seneng kek mau sedih kek, setiap bulan Ramadan itu pasti berkesan. Pasti dan memang paling berkesan daripada bulan yang lain. Kalaupun ada ngenes dan mirisnya, menurutku anggap aja kayak film. Bakal ngebosenin kalau nggak ada konfliknya. Dan kalaupun ada cerita berbeda di tiap bulan Ramadan, misalnya bulan puasa kemaren punya pacar, sekarang jones, atau dulu kerja, sekarang jobless, anggap aja itu supaya nggak terlihat datar. Nggak sedatar dan segaring sekuelnya SAW, Final Destination, atau American Pie, yang formulanya itu-itu mulu tiap sekuel. 

Mau gimanapun Ramadannya, tetap harus disyukuri. Bersyukur karena bisa ketemu lagi sama bulan Ramadan. Bulan penuh ampunan. Bulan paling mulia.

Sial, kayaknya aku nggak cocok ya, sok bijak gitu. Huhuhu.  

Yaudah, aku pinjam aja kata-kata Effie di film The Hunger Games, trus diubah dikit. Buat jadi kalimat penutup. 

"Happy Hunger Month! And may the odds be ever your favor."

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com