Rasanya udah lama aku nggak nulis hal selain film. Kangen juga nulis review lagu kayak pas review Crush, keseharian receh kayak pas ngomongin ponakan dan kumpulan kebodohanku kayak soal kebiasaan gampang tidurku. Aku jadi terpikir buat nuntasin rasa kangen ke tiga hal itu dalam satu postingan kali ini.
Oke, jadi dua hari kemarin, pagi pas bangun tidur, hal yang pertama terpikirkan yaitu bukan serangan-fajar-suami-istri-itu-rasanya-kayak-gimana-sih seperti biasanya, tapi...
“Tulus itu kepribadiannya melankolis, plegmatis, sanguinis, atau koleris ya?”
Ya, pertanyaan nggak penting memang. Tapi menurutku, mengetahui kepribadian seseorang itu penting. Dengan mengetahui jenis kepribadiannya, kita bisa tau bagaimana cara menggaulinya. Eh maksudnya, cara bergaul dengannya.
Aku penasaran sama kepribadiannya Tulus. Kayaknya empat kepribadian itu, tergambar dari lagu-lagunya di album Monokrom.
![]() |
| Monokrom. Bukan nama jilbab. Sumber: Google Image |
Rasa penasaran itu terbawa sampe aku lagi berurusan perpanjang yang harus diperpanjang yaitu STNK. Selama nunggu perpanjangan STNK diproses, aku kepoin hastag #DistribusiMonokromTULUS di Twitter. Nyari tau kota-kota mana aja album Monokrom tersedia.
Ternyata Samarinda ada!
![]() |
| Samarinda paling pojok bawah kanan, gaes. Sumber: #DistribusiMonokromTULUS |
Oke. Sulung Extreme Musick. Aku langsung kepoin akun Instagram store itu. Trus kaget, karena foto-foto di Instagram-nya menandakan kalau itu store album dan merchandise musik metal.
Metal?
Ini metal beneran apa mellow total apa gimana?
Nggak salah nih? Masa album Tulus dijual di toko musik metal?
SAMARINDA KEWREN AMAT YAK.
Untungnya, ada foto album Monokrom terpampang di situ. Huufh. Aku menghela napas lega.
Sepulang dari ngurus STNK, aku dan Nanda meluncur ke Sulung Extreme Musick. Sempat kesusahan juga sih, karena tempatnya di dalam gang gitu. Aku chat via Whatsapp store-nya juga centang satu mulu. Sms juga nggak dibalas. Tapi akhirnya ketemu juga.
Dan memang store metal sih. Dari luar udah terlihat garang. Udah kelihatan bertebaran album metal, baju anak metal, snapback dan beanie. Belum lagi ada sekumpulan cowok-cowok berpakaian serba hitam lagi lesehan sambil ngaduk-ngaduk bak transparan yang isinya stiker.
Sumpah, aku bingung mau kayak gimana masuknya. Aku ngerasa cupu banget. Seandainya aku sempat belajar jadi anak metal sama Ani, mungkin aku masuknya dengan ngucap salam sambil headbang dan moshing biar ngerasa jadi bagian dari mereka.
Tapi akhirnya aku masuk juga.
“Permisi, ini tadi yang sms.” Kataku ke cowok-cowok itu.
“Sms?” Jawab salah satu dari mereka dengan muka kebingungan.
“Ada yang bisa dibantu, Mbak?”
Ada suara dari balik meja kasir. Seorang mbak-mbak. Cowok-cowok yang aku pikir orang store itu, ternyata pembeli. Terlihat pas mereka berisik nanyain album yang mereka pegang harganya berapa. Huhuhu. Bego banget dah si Icha.
“Mbak, mau cari album... Monokrom. Monokromnya Tulus.”
Si mbak langsung senyum. Senyum yang kalau aku liat, maknanya oh-ini-si-cabe-nyari-album-Tulus-anjir-mellow-amat-dah.
Tapi, I don’t give a fuck lah. Yang penting album Monokrom bisa aku gerayangi.
![]() |
| Album Tulus ngamar sama aku. |
Ya, pertanyaan nggak pentingku di atas soal kepribadiannya Tulus masih ngeganggu aja sih. Jadi baiknya aku review lagu-lagu yang ada di album ini.
1. Manusia Kuat.
“Kau bisa patahkan kakiku. Patah tanganku rebut senyumku. Hitamkan putihnya hatiku. Tapi tidak mimpi-mimpiku.”
Lagu Tulus yang bikin kita jadi ngerasa termotivasi pas dengernya. Bikin jadi ngerasa nggak mau nyerah gitu aja. Bikin kita jadi tersuntikkan semangat. Aku ngerasa, Tulus di lagu ini adalah Tulus yang koleris. Tulus yang kuat.
Ada yang berpendapat kalau atmosfir yang yang ditimbulkan lagu ini mirip kayak lagu Rise-nya Katy Perry. Di komen Youtube, dan di berbagai artikel, pada bilang kalau lagu ini cocok buat jadi lagu tema Pekan Olahraga Nasional (PON) dan acara-acara kompetisi.
Aku jadi mikir, Manusia Kuat cocok buat ngiringin kemenangan Owi-Butet di Olimpiade Rio 2016 kemarin. Atau buat ngiringin perjalanan hidupnya Awkarin. Di salah satu artikel, dia pernah bilang kalau dia pengen jadi salah satu orang paling berpengaruh di dunia. Yeaah. Jangan pedulikan haters, Awk! Zat hijau daun adalah karbohidrat!
2. Pamit.
“Izinkan aku pergi dulu. Yang berubah hanya tak lagi ku milikmu.”
Lagu ini udah pada banyak yang tau. Dan banyak blogger yang ngebahas lagu ini. Mulai dari ngulas keindahan lagunya sampe ngeparodiin. Tapi aku nggak terlalu horny sama Pamit. Lagunya keren sih, megah dan dramatis dengan jenis musik ballad-orkestra dan liriknya yang galau mampus. Tapi entahlah, bercinta sama lagu ini nggak bikin aku sampe eargasme.
Tulus ngingatin aku sama orang-orang plegmatis yang suka memecahkan masalah dengan cara termudah. Dan solusi termudah (kalau nggak mau ribet) buat mengurai kusutnya hubungan jarak jauh yaitu putus. Bikin aku mikir, mungkin Tulus kepribadiannya plegmatis kali, ya. Di lagu ini, dengan bijaknya dia ngeyakinin si perempuan kalau mereka masih bisa berteman. Plegmatis abis. Pecinta damai.
3. Ruang Sendiri
“Aku butuh tau seberapa ku butuh kamu. Percayalah rindu itu baik untuk kita.”
Lagunya keren. Selain karena tema lagunya yang bikin kita ngumpat sialan-Tulus-kepikiran-aja-bikin-lagu-tentang-ginian, tapi juga karena ada alunan harmonikanya.
Aku suka Tulus yang terdengar jahat di lagu ini. Jahat, tapi dia ngasih alasan kenapa dia ‘sejahat’ itu. Alasan yang masuk akal. Kita memang butuh ruang sendiri buat diri kita. Seperti yang dibilang Tulus, jarak menciptakan ruang, ruang menciptakan rindu, dan rindu baik untuk suatu hubungan. Berhubung sanguinis itu biasanya bosenan, suka berubah-ubah baik hobi ataupun tujuan, bikin aku mikir kalau Tulus itu sanguinis. Dia butuh ruang sendiri untuk menghindarkan diri dari kebosanan dan kejenuhan.
4. Tukar Jiwa
"Coba satu hari saja kau jadi diriku. Kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu."
Menurutku, lagu ini menggambarkan kalau Tulus berkepribadian sanguinis. Kepribadian yang pengen orang ngerasain apa yang dia rasain. Tulus udah kehabisan cara buat ngeyakinin pasangannya tapi pasangannya masih nggak percaya.
Lagu ini ngingatin sama reality show yang dulu pernah tayang, yaitu Tukar Nasib. Kalau di reality show itu, orang berada tukar nasib sama orang nggak berada, di lagu ini Tulus pengen tukar nasib sama pasangannya. Ngerasain gimana jadi dia. Dengan alunan musik jazz-nya, di lagu ini Tulus seolah menyampaikan rasa gregetan ke pasangannya yang mungkin berkepribadian melankolis, yang suka nangis irasional karena mikir kalau Tulus itu nggak sayang sama dia.
5. Tergila-Gila
“Kau pintar buat aku rindu. Kau buatku tergila-gila.”
Kesan yang didapat dari lagu ini.... Tulus itu nakal juga. Di lagu ini, alunan musiknya bikin kita senyam-senyum binal. Tulus penasaran sama gebetannya yang hari-ini-mesra-besok-lusa-dingin. Yang terlihat mau-tapi-malu.
Trus lirik lagu ini yang,
“Tau hati ini luluh. Lihat wajahmu yang sendu, itu yang paling kau andalkan,”
Itu bikin Darma dengan sengaknya bilang,
“Liriknya lu banget. Lu kan suka nangis tuh.”
ANJIR.
Di lagu ini, Tulus terlihat suka akan tantangan. Cocok kalau aku bilang Tulus menampilkan kepribadian sanguinis dari lagu ini. Sanguinis yang menyukai hal-hal menantang dan menarik. Dan ya, kayaknya semua cowok gitu deh. Suka menantang diri mereka buat mengejar cewek yang susah dideketin. Cewek yang bikin penasaran.
6. Cahaya
“Semampuku kau akrab dengan senyum dan tawa. Semampuku tak lagi perlu kau takut cinta.”
AAAAAK! INI LAGU FAVORIT!!!! Aku pernah review colongan lagu ini di SINI. Aku eargasme parah sama Cahaya. Di lagu ini, menurutku Tulus adalah penggombal yang elegan. Yang sabar, penyayang, pintar, dan kuat. Kuat meyakinkan perempuannya yang rapuh. Bukan penggombal yang pake jurus bapak-kamu-dan-sebutkan-profesinya atau penggombal yang bilang,
“Kamu cantik. Harganya satu malam mahal ya?"
Tulus adalah lelaki yang diinginkan para perempuan melankolis. Atau mungkin, Tulus sendiri berkepribadian melankolis. Dilihat dari lagu Cahaya ini, yang seolah peka sama perasaan orang. Memuja orang yang dia sayang. Sebuah kebiasaan orang melankolis.
7. Langit Abu-Abu
“Lalu kau pergi kembali dengannya. Aku pernah menyentuhmu, apa kau malu?”
Lagu paling kurang ajarnya Tulus. Dengan alunan pianonya yang polos tanpa tambahan instrumen musik lain, serta liriknya yang sederhana tapi bikin nyesek, lagu ini berhasil menelanjangi perasaan orang-orang yang pernah dijadikan pelarian. Atau orang-orang yang pernah dijadikan teman curhat lalu baper berharap dijadikan teman silat di ranjang, eh ternyata si dia yang curhat malah balikan sama mantannya yang jadi materi curhatannya itu.
Noviyana suka banget sama lagu ini. Dan memang, siapa yang nggak suka sama Langit Abu-Abu? Kayaknya hampir semua orang pernah merasa jadi pelarian.
Langit Abu-Abu menggambarkan Tulus yang sedih mengenang masa-masa dia dekat sama perempuan bedebah itu. Langit Abu-abu ngebuat Tulus terlihat mengenang masa lalu sambil menyendiri dan menatap langit ketika menyanyikannya. Itu melankolis banget kalau lagi alay sedihnya.
8. Mahakarya
“Senang dan tidak senang hidupmu tergantung kerja kerasmu.”
Lagu yang unik dengan alunan ukulele. Mahakarya menganjurkan kita buat ngelakuin entah itu hobi, pekerjaan, atau apapun, dengan hati. Dan juga jadi orang yang nggak leha-leha menantikan keberuntungan.
Sifat koleris banget. Pekerja keras.
9. Lekas
“Dunia terlalu ramai untuk manjakanmu. Lenyaplah semua sedihmu. Kau layak untuk terus tersenyum.”
Dengerin lagu ini, seolah disuruh buat tersenyum optimis. Seolah kayak aku lagi curhat sama orang-orang berkepribadian plegmatis. Orang-orang yang nggak suka larut dalam kesedihan, minimal nggak suka menunjukkan kesedihannya di hadapan orang lain. Dan orang-orang itu nggak suka ngeliat temannya bersedih ria.
10. Monokrom
“Di mana pun kalian berada, ku kirimkan terima kasih. Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah.”
Ungkapan terima kasih terindah yang pernah aku dengar. Dengerinnya bikin hati tenang, dan senyam-senyum ngingat orang-orang yang disayang kayak orangtua dan para sahabat. Lagu ini menyeruakkan aroma nostalgia masa kecil dan masa bersama teman-teman. Orang-orang yang udah berjasa mewarnai hidup Tulus. Kayaknya semua kepribadian bakal ngucapin terima kasih seindah ini.
Tulus itu kepribadiannya apa ya? Masih nggak kejawab nih. Huhu. Tapi aku ngerasa, aku bisa mahamin kalau Tulus adalah penyanyi yang memahami pendengarnya. Lagunya pada ngena semua.
Dan selamat ulang tahun buat Tulus! Tanggal 20 Agustus Tulus ulang tahun. Aku sedikit menyesal tulisan ini nggak di-post kemarin. Huhu.
Selamat dengerin album Monokrom kalau akhirnya jadi horny karena baca review baper ini. Percayalah, Monokrom baik untuk kita.











