Selasa, 30 Agustus 2016

Nge-BF Bareng Darma Kusumah: Mending Backstreet Daripada Jadi The Lobster

Berawal dari menerima kenyataan pahit kalau banyak blogger (terutama blogger personal) yang hilang bak ditelan bumi, trus ada project dari grup Tulisan Wortel Share tentang nge-bully salah satu anggota grup, dan rasa kagum berlebihanku sama review Her punya Mas Dony, aku jadi kepikiran buat sok-sokan bikin rubrik. Namanya BF. 

Bukan Blue Film gaes, tapi Baperin Film. Konsepnya mirip kayak review film Her (dasar ikut-ikutan!). Ngebahas satu film bareng-bareng. Tapi yang ngebedain selain aku jauh di bawah Mas Dony yang udah pelahap film apa aja, orang yang aku ajak ena-ena ngebahas film itu adalah blogger yang nggak harus suka nonton film. Dan blogger yang bisa dikorek luka lamanya trus jadinya curhat colongan baper deh. Huahaha. 

Teman nge-BF-ku kali ini adalah Darma Kusumah. Pemlilk blog berdebu (karena udah lama ditinggalkan penghuninya huhu) darmakusumah.blogspot.co.id. Darma adalah salah satu teman dunia maya yang cukup dekat sama aku. 

Selain karena kami sama-sama anggota grup iseng-iseng bernama WIDY, juga karena aku sering menyesatkan dia buat suka apa yang aku suka. Dia jadi suka nonton ke bioskop sendirian, karena aku sering cerita betapa enaknya nonton sendirian. Dan akhir-akhir ini tiap aku ngebahas satu film, dia langsung download dan nonton filmnya. 

The Lobster adalah salah satu film yang dia udah tonton. Bercerita tentang David (Collin Ferrel), seorang duda yang hidup di masa depan di mana ada aturan manusia-manusia yang nggak punya pasangan, ditempatkan di sebuah hotel dan diperintahkan buat nyari pasangan selama 45 hari. Kalau nggak dapat pasangan dalam waktu segitu, bakal dijadiin hewan. David memilih bakal jadi lobster. 

Tapi David memilih kabur dari hotel dan pergi ke hutan. Di sana dia bertemu perempuan yang bikin dia jatuh cinta. Dan si perempuan itu juga jatuh cinta sama dia. David akhirnya mendapatkan orang yang mencintai dia, tapi di tempat yang salah. Tempat yang nggak mengizinkan adanya cinta sepasang kekasih.

Sumber: Google Image


The Lobster jadi film karya Yorgos Lanthimos favoritku setelah Dogtooth. Aku senang sih Darma milih bahas film ini, karena aku pikir dia bakal curhat jor-joran soal kejombloannya, tapi ternyata.... 

Langsung simak aja ya. Dialog di bawah ini aku edat-edit biar (semoga) nggak spoiler


Darma: Filmnya aneh, Cha. Ide ceritanya nggak masuk akal. 

Icha: Aneh gimana? Nggak masuk akal gimana?

Darma: Bukan nggak masuk akal sih, tapi nggak terduga. Orang nggak punya pasangan, tapi dijadiin hewan. Trus... habis itu apa lagi ya? Ini kok jadi grogi ya gue?

Icha: Hahahahaha! Biasa aja anjir. 

Darma: Kalau didesak nih nggak suka anjir. 

Icha: Iya plegmatis tuh memang nggak suka didesak anjir.

Darma: Hahaha. Gue habis nonton filmnya, baca review-nya ya. Itu sutradaranya dari Yunani kan. Yang gue pikir, kayaknya sih filmnya agak berat cuman dikemas dengan sesuatu yang aneh. Karena orang Yunani kan filsuf semua gitu. Jadi gue pikir filmnya nggak bakal bisa diterima orang umum.

Icha: Aha.

Darma: Masuk satu jam pertama, agak ngebosenin sih. Kayak pengenalan karakter gitu kan. Lima puluh menit terakhir, mulai ada konflik-konflik, yang konfliknya tentang asmara. Gue pikir bakal tentang ke judulnya lebih lanjut. The Lobster. Ternyata nggak kan. Bisa diterima sih. Nah ada adegan yang menegangkan. Yang mata.

Icha: AAAAK AKU BENCI ITU. AKU GAK SUKA FILM YANG ADA ADEGAN MATANYA!

Darma: Hahaha. Gue udah mau skip tuh, tapi penasaran juga bakal gimana. Menegangkan sih kalau kata gue. Dan itu ending-nya..... gantung. Balik nanya buat penonton. Apakah karena cinta, kalian bakal rela menyakiti diri sendiri? 

Icha: Wuidih. Hahaha. Baper. 

Darma: Hahaha. Itu balik ke masing-masing penonton sih sebenarnya. Makanya di ending-nya adegannya gitu. Mungkin bagi penonton yang berani, udah berfantasi bahwa David ngelakuin hal itu. Tapi kalau bagi penonton yang masih punya ketakutan untuk berkomitmen, akan ragu-ragu. Apa karena demi itu jadi melukai diri sendiri?

Icha: Hmm. Curhat?

Darma: HAHAHA. Itu related ama lu tauk. Lu harus nonton lagi pokoknya.

Icha: HAHAHA. Related apanya anjir.

Darma: Gini lho, lu udah mulai suka main game kan?

Icha. Hahaha. Paan. 

Darma: Itu lu nggak jadi diri sendiri kan. Demi cinta. Related dong, related dong? 

Icha: Oooh.... kalau aku jadi suka main game, itu menyakiti diri sendiri gitu? 

Darma: Bukan sih. Lebih ke nggak jadi diri sendiri. Atau gini, lu mencari kesamaan sama orang yang lu suka. 

Icha: Ini kok jadi aku yang di-related-in? Padahal aku mau kamu tercurhat gitu. Sial.

Darma. Hahahaha. Jam terbang gue masih jauh di bawah. Gue nggak punya mantan sebanyak lu.

Icha: Nggak usah bawa-bawa mantan, ya. Trus, apa pendapat kamu soal David melukai dirinya sendiri? Padahal dia nggak perlu gitu. Dia bisa normal buat ngejagain ceweknya kan?

Darma: Hmm. Penggambaran filmnya kan, pasangan yang tinggal di kota itu, harus punya kesamaan. Mungkin kalau terlepas dari aturan itu, bisa aja David tetap dengan keadaannya yang biasa. Tapi David ngebuat dirinya jadi nggak biasa supaya punya kesamaan sama ceweknya. Mungkin umumnya ya, kalau kita cari pasangan yang punya kesamaan, bakal lebih mudah mendekatkan diri. Bakal lebih mudah membuka obrolan gitu kan. 

Icha: Betul. 

Darma: Nah itu udah mulai terjadi pas Davidnya sama ceweknya, perempuan rabun jauh.

Icha: Yap.

Darma: Pas si ceweknya buta, hubungan mereka jadi agak renggang gitu kan?

Icha: Iya! Nggak kayak dulu.... 

Darma: Nggak kayak awal-awal waktu mereka masih sama. Cuma dari obrolan sederhana lho, kayak kamu-ingat-kacamata-pertama-kamu. Obrolan sederhana yang mendekatkan gitu. 

Icha: Yaaaa~

Darma: Pas nanya penyakit yang sama-sama mereka punya, mereka nemu persamaan gitu kan. Jadi ngerasa klop. Dan David udah punya perasaan sama ceweknya kan. Akhirnya dia memaksakan juga supaya bisa senasib sama ceweknya. Makanya yaudah dia menyakiti dirinya sendiri demi kedekatannya itu, persamaan itu, bisa terjadi lagi. Nggak kayak obrolan-obrolan pas si cewek udah berbeda. Jadi nggg... basi banget.

Icha: Iya. Pas mereka udah berbeda, jadi memaksakan obrolan, Dar. 

Darma: Iya. Pada umumnya kali ya, perbedaan itu nggak seru. Lebih baik cari pasangan yang punya kesamaan. Lebih mudah buat beradaptasi sama pasangannya.

Icha: Jadi, The Lobster ini menurut kamu ngangkat tentang kalau kita berhubungan lebih dari sekedar teman, harus ada persamaan gitu? Tapi disajikannya secara ekstrem?

Darma: Iya gitu. 

Icha: Trus kamu setuju nggak kalau mau cari pasangan, harus yang sederajat? Misalnya harus sama-sama kaya? Itu termasuk nggak sih yang disindir di The Lobster?

Darma: Nggak tau sih. Cuman menurut gue kalau di The Lobster, persamaannya lebih ke fisik kali ya. Kalau materi kayaknya nggak. Ya kayak temannya David yang pincang, trus satunya si gagap. Ceweknya si rabun jauh. David rabun jauh. 

Icha: Oke. Trus filmnya nyindir kalau kita tuh kalau mau bahagia, harus punya pasangan. Scene waktu David masih di hotel, ada peragaan di panggung. Itu konyol banget tuh. Kalau nggak ada pasangan, jadinya bakal kayak gimana. Kalau ada pasangan, jadinya bakal gimana. 

Darma: Ya memang bener. Faktanya kalau berdua memang lebih baik. Waktu di hutan tuh, bener-bener harus mandiri. Di hutan ngegambarin kalau sendiri, memang harus bisa kuat banget. Harus bisa ngurus sendiri. 

Icha: IYA! Bahkan kalau misalnya mau mati, ngubur kuburan sendiri! Astaga. Hahaha. Konyol.

Darma: Hahaha. Iya tuh. Gue keselnya sama komandan yang di hutan. Jahat. Tega sama temannya sendiri. 

Icha: Itu dia saking pengen ngejaga hutan itu tetap jadi hutan para jombloers gitu kan. 

Darma: Serius tujuannya itu?

Icha: Hutan itu diciptakan buat orang-orang yang nggak tahan tinggal di hotel. Entah nggak tahan sama aturannya. Atau orang-orang yang nggak dapat pasangan tapi nggak mau diubah jadi hewan. Kaburnya ke hutan. 

Darma: Oooh...

Icha: Nah terus, orang-orang di hutan itu tugasnya nyari para jomblo yang bersembunyi di hutan buat ditangkap. Kalau para jomblo hotel dapat satu jomblo hutan, berarti dia dapat tambahan satu hari ada di hotel. Mereka dikasih jatah empat puluh lima hari gitu ya?

Darma: Iya. Btw nggak ada tuh adegan gituan parahnya! Kata lu ada? Weeek. 

Icha: Hahaha. Protes ya? Sori, sori. Aku lupaaaa. Aku kan nontonnya udah lama, pas sebelum bulan puasa!

Darma: Lu ketiduran kali nontonnya. Trus mimpi adegan gituan. 

Icha: Anjir. Nggak ada yang bisa dimimpiin dari filmnya tauk. Mukanya mereka nggak ada kebahagiaannya pas lagi begituan. Birahi kita pas lagi nonton adegan begituan tuh tergantung dari pemainnya sih. Kalau pemainnya kayak semangat, kita jadi ikutan... semangat. 

Darma: Iya. Nafsunya dapet.

Icha: Nah kalau ini nih, mainnya kaku. Yang nontonnya jadi nggak nafsu. Ngebatin ih apaan sih. Iya nggak sih gitu? Hahaha. 

Darma: Hahaha! Iya. Trus itu ada lho, yang di hotel yang si cewek nggak berperasaan itu. Si cewek kesedak. Pura-pura mati. Ek!

Icha: HAHAHAAHAHA. 

Darma: Si cewek bilang kita-kayaknya-cocok-deh. 

Icha: Hah? Aku nggak ngerti. Cocoknya gimana?

Darma: Iya, si ceweknya kesedak gitu kan, makan buah apa gitu. Trus pura-pura mati. Nggak ditolongin sama David. Si David padahal mau nolongin tapi bingung nolongin gimana. Ceweknya malah nangkepnya mereka sama-sama nggak punya perasaan. Sama-sama saling cuek. David padahal nggak cuek. 

Icha: Ohahahaha. ASTAGA! Pantesan si cewek tau-tau bilang cocok. Aku kira si cewek udah nyerah nggak dapat pasangan, makanya dia asal ngomong!

Darma: Hahaha. Itu ada pesannya. Ternyata pura-pura mencintai itu lebih sulit daripada berpura-pura menyembunyikan perasaan~ Baru ada adegan si pincang, anaknya sama pasangan barunya nemuin David.

Icha: Eh iya pas itu, David nendang kaki anaknya si pincang. Anjir. 

Darma: Supaya pincang. Hahaha. 

Icha: Anjir ngakak nonton itu.

Darma: Hahaha. Yang paling ngeselin si cewek nggak berperasaan itu lho. Ini cewek paan sih.

Icha. Hahaha. Komedi gelap gitu. Aku suka sih, tapi nggak suka-suka banget. 

Darma: Gue sih nggak nyampe komedinya di mana. Mungkin masalah selera kali.

Icha: Ooh... Ini, gimana kalau pas mereka lagi dansa di hutan? Sendirian? Menurutku itu lucu banget! Hahaha.

Darma: Hahahaa iya anjir. Ngakak. Sakit dansanya. 

Icha: Sumpah itu aneh banget. Mukanya datar, gerakannya kaku, jogetnya sendiri-sendiri. SEGITUNYA PESTA JOMBLO HAHAHA. Pokoknya itu kota yang nggak diimpikan jomblo banget deh.

Darma: Iya sih, di review Movienthusiast bilang gitu. Tapi gue nggak mikir ke sononya deh. Soalnya gini lho, ini related sama....

Icha: Hah? Paan lagi?

Darma: Hahahaha. Anggaplah hutan loners itu dunia blog. Di hutan nggak ada yang tau kalau David sama perempuan rabun jauh itu ada hubungan. Sama kayak siapa gitu~ 

Icha: HAHAHAHA. Darma. Fak.

Darma: Sama kayak kota itu... jam-jam malemnya siapa gitu. David dan perempuan rabun jauh bisa deketnya pas ke kota ke rumah ibunya ketua Loners doang. Sama kayak siapa gitu yang bisanya intens pas malem hari.

Icha: HAHAHAHAHA AKU NGGAK KEPIKIRAN SAMPE KE SITU! 

Darma: Nah kan itu related banget sama siapa gitu~ HAHAHAHA. Itu hubungan backstreet kan? Persis. 

Icha: HAHAHA DARMA KAMU HEBAAAAAT FAAK!

Darma: HAHAHAHA. Di publik mereka nggak gembar-gembor hubungan kan karena faktor keadaan. Jadi pasang-pasang kode supaya nggak ketahuan. Nengok sebelah kiri artinya mencintai kamu lebih dari siapapun. Sebelah kanan, waspada ada bahaya. Trus kalau angkat tangan sebelah kiri, dibelakangin, itu artinya~

Icha: I WANNA FUCK YOU. 

Darma: Nah itu artinya. Hahaha. Itu backstreet banget kan. Cocok sama siapa gitu yang juga pasang kode. Kalau komen di blog biasa aja. Padahal ada hubungan. Sama kayak siapa gitu.

Icha: Anjir. 

Darma: Gue ingat semua adegannya. Intinya backstreet banget. Related banget sama siapa gitu~ Huahaha. 

Icha: Aku nggak nyangka kamu malah nge-bully. Bukannya kamu yang kena bully. Temanya jomblo tapi malah ke backstreet. Njir. 

Darma: Hahaha. Gue nggak kemakan sama ketakutan jadi jomblonya dari filmnya itu. Lebih ke romansa cinta yang tergolong ekstremnya. Bapernya sama cinta bisa bikin kita menyakiti diri sendirinya. Dan berpura-pura. Standar abis sih.

Icha: Okaaay. Tapi unik. Yang habis nonton kebanyakan kemakan soal jomblonya. Trus David sama si pincang sama-sama berkorban menyakiti diri sendiri, tapi beda. Si pincang berkorban demi keuntungannya sendiri nggak jadi binatang, David berkorban karena cinta. Filmnya tentang kepura-puraan.

Darma: Ya. Intinya gue nggak kemakan jomblonya. Hahaha. Oh iya satu lagi, filmnya ini ngasih tau soal azab. Buat orang yang suka masturbasi sembarangan.

Icha: Hah? 

Darma: Kan temennya David yang masturbasi itu, tangannya dipanggang.

Icha: Ah iya! Aku baru inget adegan itu! Hahaha. Eh tapi di hutan bebas masturbasi kan?

Darma: Iya bebas. Hahaha. 

Icha: Ada pesan moralnya ya. Azab itu bisa didapatin di dunia nyata, nggak cuma di akhirat kelak.

Darma: Hahaha. Pesan agamis.

Icha: Jadi kamu nggak ngerasa related sama The Lobster, Dar?

Darma: Yang related itu... Anggaplah hutan itu arena bermain game. Atau dunia blog. Dunia si siapa gitu yang bikin dia dan dianya menyembunyikan hubungan. 

Icha: Hahaha. Fak. Oke, jadi apakah film ini worth it buat ditonton, Pak? 

Darma: Worth it. Karena film ini bikin kita mikir. Dikemas dengan hal-hal yang ekstrem, yang nggak standar. The Lobster bikin otak jalan. 

Icha: Dan... kamu nggak nyesel udah nonton ini?

Darma: Nggak nyesel. Cuma harus bersabar di satu jam pertama. Konflik di satu jam pertama belum dapet. Yang seterusnya baru ada konfliknya yang menarik. Btw gue masih penasaran kenapa judulnya The Lobster. Cuma karena David pengen jadi The Lobster? Menurut gue mungkin kalau judulnya gitu, harusnya kisah cinta mereka mirip kayak kisah cinta lobster. Eh kayak gimana deh kalau lobster itu jatuh cinta?

Icha: Entah. Lah ini aku jadi kepikiran sama Raditya Dika. Satu, Radit kan suka bawa-bawa jomblo. Dua, ngasih judul dengan nama jenis binatang dan ngehubungin kisah cintanya dengan pola hidup seekor binatang yang dijadiin judul novelnya. Yorgos Lanthimos itu versi ekstremnya Raditya Dika. 

Darma: Hahaha. Bisa bisa. Mungkin Yorgos fansnya Raditya Dika? 

Icha: Hahaha. Bisaaaaa.

Darma: Ini gue mau tanya deh. Lu kalau nonton film, suka yang tokoh utamanya gitu ya? YANG KAYAK OM-OM.

Icha: HAHAHA. Nggak gitu. Ya aku liat ceritanya lah!

Darma: Berkumis tebel, kacamataan, gempal. Hahahaha. Theodore Her sama David mirip tuh.

Icha: Anjir. Aku nggak, ah-mau-nonton-film-om-om-ah. ENGGAAAK. 

Darma: Bahahaha.

Icha: INI KENAPA JADI AKU YANG DI-BULLY SIALAAAAN. 

Darma: Lu niatnya jelek sih. Mau nge-bully gue. Rasakan. HAHAHAHA.


Abaikan ketawa jahat Darma. 

Kesimpulannya, The Lobster adalah film romantis terbaik bagi yang suka sebuah kisah cinta disajiin dengan cara absurd dan aneh. Mungkin (dan kayaknya pasti deh) jadi film konyol bagi penyuka genre drama romantis normal. 

The Lobster menyajikan kemungkinan terburuk menjadi jomblo. Kemungkinan terburuk menjadi orang yang pura-pura cinta cuma supaya nggak ngejomblo lagi. Kemungkinan terburuk berkorban demi cinta supaya cinta itu terlihat normal di hadapan banyak orang. 

Dan semoga postingan ini terlihat normal. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 21 Agustus 2016

Empat Kepribadian di Album Monokrom

Rasanya udah lama aku nggak nulis hal selain film. Kangen juga nulis review lagu kayak pas review Crush, keseharian receh kayak pas ngomongin ponakan dan kumpulan kebodohanku kayak soal kebiasaan gampang tidurku. Aku jadi terpikir buat nuntasin rasa kangen ke tiga hal itu dalam satu postingan kali ini. 

Oke, jadi dua hari kemarin, pagi pas bangun tidur, hal yang pertama terpikirkan yaitu bukan serangan-fajar-suami-istri-itu-rasanya-kayak-gimana-sih seperti biasanya, tapi...

“Tulus itu kepribadiannya melankolis, plegmatis, sanguinis, atau koleris ya?”

Ya, pertanyaan nggak penting memang. Tapi menurutku, mengetahui kepribadian seseorang itu penting. Dengan mengetahui jenis kepribadiannya, kita bisa tau bagaimana cara menggaulinya. Eh maksudnya, cara bergaul dengannya. 

Aku penasaran sama kepribadiannya Tulus. Kayaknya empat kepribadian itu, tergambar dari lagu-lagunya di album Monokrom. 

Monokrom. Bukan nama jilbab.
Sumber: Google Image

Rasa penasaran itu terbawa sampe aku lagi berurusan perpanjang yang harus diperpanjang yaitu STNK. Selama nunggu perpanjangan STNK diproses, aku kepoin hastag #DistribusiMonokromTULUS di Twitter. Nyari tau kota-kota mana aja album Monokrom tersedia. 

Ternyata Samarinda ada! 

Samarinda paling pojok bawah kanan, gaes.
Sumber: #DistribusiMonokromTULUS

Oke. Sulung Extreme Musick. Aku langsung kepoin akun Instagram store itu. Trus kaget, karena foto-foto di Instagram-nya menandakan kalau itu store album dan merchandise musik metal. 

Metal? 

Ini metal beneran apa mellow total apa gimana?

Nggak salah nih? Masa album Tulus dijual di toko musik metal?

SAMARINDA KEWREN AMAT YAK.

Untungnya, ada foto album Monokrom terpampang di situ. Huufh. Aku menghela napas lega. 

Sepulang dari ngurus STNK, aku dan Nanda meluncur ke Sulung Extreme Musick. Sempat kesusahan juga sih, karena tempatnya di dalam gang gitu. Aku chat via Whatsapp store-nya juga centang satu mulu. Sms juga nggak dibalas. Tapi akhirnya ketemu juga. 

Dan memang store metal sih. Dari luar udah terlihat garang. Udah kelihatan bertebaran album metal, baju anak metal, snapback dan beanie. Belum lagi ada sekumpulan cowok-cowok berpakaian serba hitam lagi lesehan sambil ngaduk-ngaduk bak transparan yang isinya stiker. 

Sumpah, aku bingung mau kayak gimana masuknya. Aku ngerasa cupu banget. Seandainya aku sempat belajar jadi anak metal sama Ani, mungkin aku masuknya dengan ngucap salam sambil headbang dan moshing biar ngerasa jadi bagian dari mereka. 

Tapi akhirnya aku masuk juga. 

“Permisi, ini tadi yang sms.” Kataku ke cowok-cowok itu. 

“Sms?” Jawab salah satu dari mereka dengan muka kebingungan. 

“Ada yang bisa dibantu, Mbak?” 

Ada suara dari balik meja kasir. Seorang mbak-mbak. Cowok-cowok yang aku pikir orang store itu, ternyata pembeli. Terlihat pas mereka berisik nanyain album yang mereka pegang harganya berapa. Huhuhu. Bego banget dah si Icha. 

“Mbak, mau cari album... Monokrom. Monokromnya Tulus.”

Si mbak langsung senyum. Senyum yang kalau aku liat, maknanya oh-ini-si-cabe-nyari-album-Tulus-anjir-mellow-amat-dah. 

Tapi, I don’t give a fuck lah. Yang penting album Monokrom bisa aku gerayangi.

Album Tulus ngamar sama aku.

Ya, pertanyaan nggak pentingku di atas soal kepribadiannya Tulus masih ngeganggu aja sih. Jadi baiknya aku review lagu-lagu yang ada di album ini. 


1. Manusia Kuat. 

“Kau bisa patahkan kakiku. Patah tanganku rebut senyumku. Hitamkan putihnya hatiku. Tapi tidak mimpi-mimpiku.” 

Lagu Tulus yang bikin kita jadi ngerasa termotivasi pas dengernya. Bikin jadi ngerasa nggak mau nyerah gitu aja. Bikin kita jadi tersuntikkan semangat. Aku ngerasa, Tulus di lagu ini adalah Tulus yang koleris. Tulus yang kuat. 

Ada yang berpendapat kalau atmosfir yang yang ditimbulkan lagu ini mirip kayak lagu Rise-nya Katy Perry. Di komen Youtube, dan di berbagai artikel, pada bilang kalau lagu ini cocok buat jadi lagu tema Pekan Olahraga Nasional (PON) dan acara-acara kompetisi. 

Aku jadi mikir, Manusia Kuat cocok buat ngiringin kemenangan Owi-Butet di Olimpiade Rio 2016 kemarin. Atau buat ngiringin perjalanan hidupnya Awkarin. Di salah satu artikel, dia pernah bilang kalau dia pengen jadi salah satu orang paling berpengaruh di dunia. Yeaah. Jangan pedulikan haters, Awk! Zat hijau daun adalah karbohidrat! 


2. Pamit. 

“Izinkan aku pergi dulu. Yang berubah hanya tak lagi ku milikmu.”

Lagu ini udah pada banyak yang tau. Dan banyak blogger yang ngebahas lagu ini. Mulai dari ngulas keindahan lagunya sampe ngeparodiin. Tapi aku nggak terlalu horny sama Pamit. Lagunya keren sih, megah dan dramatis dengan jenis musik ballad-orkestra dan liriknya yang galau mampus. Tapi entahlah, bercinta sama lagu ini nggak bikin aku sampe eargasme. 

Tulus ngingatin aku sama orang-orang plegmatis yang suka memecahkan masalah dengan cara termudah. Dan solusi termudah (kalau nggak mau ribet) buat mengurai kusutnya hubungan jarak jauh yaitu putus. Bikin aku mikir, mungkin Tulus kepribadiannya plegmatis kali, ya. Di lagu ini, dengan bijaknya dia ngeyakinin si perempuan kalau mereka masih bisa berteman. Plegmatis abis. Pecinta damai.


3. Ruang Sendiri

“Aku butuh tau seberapa ku butuh kamu. Percayalah rindu itu baik untuk kita.”

Lagunya keren. Selain karena tema lagunya yang bikin kita ngumpat sialan-Tulus-kepikiran-aja-bikin-lagu-tentang-ginian, tapi juga karena ada alunan harmonikanya. 

Aku suka Tulus yang terdengar jahat di lagu ini. Jahat, tapi dia ngasih alasan kenapa dia ‘sejahat’ itu. Alasan yang masuk akal. Kita memang butuh ruang sendiri buat diri kita. Seperti yang dibilang Tulus, jarak menciptakan ruang, ruang menciptakan rindu, dan rindu baik untuk suatu hubungan. Berhubung sanguinis itu biasanya bosenan, suka berubah-ubah baik hobi ataupun tujuan, bikin aku mikir kalau Tulus itu sanguinis. Dia butuh ruang sendiri untuk menghindarkan diri dari kebosanan dan kejenuhan. 


4. Tukar Jiwa 

"Coba satu hari saja kau jadi diriku. Kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu."

Menurutku, lagu ini menggambarkan kalau Tulus berkepribadian sanguinis. Kepribadian yang pengen orang ngerasain apa yang dia rasain. Tulus udah kehabisan cara buat ngeyakinin pasangannya tapi pasangannya masih nggak percaya. 

Lagu ini ngingatin sama reality show yang dulu pernah tayang, yaitu Tukar Nasib. Kalau di reality show itu, orang berada tukar nasib sama orang nggak berada, di lagu ini Tulus pengen tukar nasib sama pasangannya. Ngerasain gimana jadi dia. Dengan alunan musik jazz-nya, di lagu ini Tulus seolah menyampaikan rasa gregetan ke pasangannya yang mungkin berkepribadian melankolis, yang suka nangis irasional karena mikir kalau Tulus itu nggak sayang sama dia. 


5. Tergila-Gila

“Kau pintar buat aku rindu. Kau buatku tergila-gila.”

Kesan yang didapat dari lagu ini.... Tulus itu nakal juga. Di lagu ini, alunan musiknya bikin kita senyam-senyum binal. Tulus penasaran sama gebetannya yang hari-ini-mesra-besok-lusa-dingin. Yang terlihat mau-tapi-malu. 

Trus lirik lagu ini yang, 

“Tau hati ini luluh. Lihat wajahmu yang sendu, itu yang paling kau andalkan,”

Itu bikin Darma dengan sengaknya bilang, 

“Liriknya lu banget. Lu kan suka nangis tuh.”

ANJIR. 

Di lagu ini, Tulus terlihat suka akan tantangan. Cocok kalau aku bilang Tulus menampilkan kepribadian sanguinis dari lagu ini. Sanguinis yang menyukai hal-hal menantang dan menarik. Dan ya, kayaknya semua cowok gitu deh. Suka menantang diri mereka buat mengejar cewek yang susah dideketin. Cewek yang bikin penasaran. 


6. Cahaya

“Semampuku kau akrab dengan senyum dan tawa. Semampuku tak lagi perlu kau takut cinta.”

AAAAAK! INI LAGU FAVORIT!!!! Aku pernah review colongan lagu ini di SINI. Aku eargasme parah sama Cahaya. Di lagu ini, menurutku Tulus adalah penggombal yang elegan. Yang sabar, penyayang, pintar, dan kuat. Kuat meyakinkan perempuannya yang rapuh. Bukan penggombal yang pake jurus bapak-kamu-dan-sebutkan-profesinya atau penggombal yang bilang, 

“Kamu cantik. Harganya satu malam mahal ya?"

Tulus adalah lelaki yang diinginkan para perempuan melankolis. Atau mungkin, Tulus sendiri berkepribadian melankolis. Dilihat dari lagu Cahaya ini, yang seolah peka sama perasaan orang. Memuja orang yang dia sayang. Sebuah kebiasaan orang melankolis. 


7. Langit Abu-Abu 

“Lalu kau pergi kembali dengannya. Aku pernah menyentuhmu, apa kau malu?”

Lagu paling kurang ajarnya Tulus. Dengan alunan pianonya yang polos tanpa tambahan instrumen musik lain, serta liriknya yang sederhana tapi bikin nyesek, lagu ini berhasil menelanjangi perasaan orang-orang yang pernah dijadikan pelarian. Atau orang-orang yang pernah dijadikan teman curhat lalu baper berharap dijadikan teman silat di ranjang, eh ternyata si dia yang curhat malah balikan sama mantannya yang jadi materi curhatannya itu. 

Noviyana suka banget sama lagu ini. Dan memang, siapa yang nggak suka sama Langit Abu-Abu? Kayaknya hampir semua orang pernah merasa jadi pelarian. 

Langit Abu-Abu menggambarkan Tulus yang sedih mengenang masa-masa dia dekat sama perempuan bedebah itu. Langit Abu-abu ngebuat Tulus terlihat mengenang masa lalu sambil menyendiri dan menatap langit ketika menyanyikannya. Itu melankolis banget kalau lagi alay sedihnya. 


8. Mahakarya 

“Senang dan tidak senang hidupmu tergantung kerja kerasmu.”

Lagu yang unik dengan alunan ukulele. Mahakarya menganjurkan kita buat ngelakuin entah itu hobi, pekerjaan, atau apapun, dengan hati. Dan juga jadi orang yang nggak leha-leha menantikan keberuntungan. 

Sifat koleris banget. Pekerja keras. 


9. Lekas

“Dunia terlalu ramai untuk manjakanmu. Lenyaplah semua sedihmu. Kau layak untuk terus tersenyum.”

Dengerin lagu ini, seolah disuruh buat tersenyum optimis. Seolah kayak aku lagi curhat sama orang-orang berkepribadian plegmatis. Orang-orang yang nggak suka larut dalam kesedihan, minimal nggak suka menunjukkan kesedihannya di hadapan orang lain. Dan orang-orang itu nggak suka ngeliat temannya bersedih ria. 


10. Monokrom

“Di mana pun kalian berada, ku kirimkan terima kasih. Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah.”

Ungkapan terima kasih terindah yang pernah aku dengar. Dengerinnya bikin hati tenang, dan senyam-senyum ngingat orang-orang yang disayang kayak orangtua dan para sahabat. Lagu ini menyeruakkan aroma nostalgia masa kecil dan masa bersama teman-teman. Orang-orang yang udah berjasa mewarnai hidup Tulus. Kayaknya semua kepribadian bakal ngucapin terima kasih seindah ini. 


Tulus itu kepribadiannya apa ya? Masih nggak kejawab nih. Huhu. Tapi aku ngerasa, aku bisa mahamin kalau Tulus adalah penyanyi yang memahami pendengarnya. Lagunya pada ngena semua. 

Dan selamat ulang tahun buat Tulus! Tanggal 20 Agustus Tulus ulang tahun. Aku sedikit menyesal tulisan ini nggak di-post kemarin. Huhu.

Selamat dengerin album Monokrom kalau akhirnya jadi horny karena baca review baper ini. Percayalah, Monokrom baik untuk kita. 

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 17 Agustus 2016

Cahaya Dari Tulus Buat Lights Out

Tanggal 16 Agustus, untuk pertama kalinya aku nonton bareng Nanda. Adikku yang berumur 19 tahun otw 20 tahun, tapi postur badannya kayak anak umur 14 tahun. 

Kami berdua nonton Lights Out, film horror yang digadang-gadang jadi film horror terbaik tahun ini. 

Sumber: Movfreak

Ya, selama aku menjabat jadi kakak kandungnya, aku nggak pernah nonton sama dia. Habisnya dia lebih suka karaokean daripada nonton. Trus selain muka kami yang nggak ada kompak-kompaknya, alias nggak mirip, beda, selera film kami juga beda. Dia suka nonton film horror. Yang itu artinya, dia jauh lebih pemberani dibanding aku. 

Tapi kalau nonton film di laptop, masih suka barengan kok. Nonton film dari berbagai negara. Misalnya nonton Scarlet Innocence dari Korea, Jan Dara dari Thailand, dan Blue Is The Warmest Colour dari Perancis. 

Sialan. Baru nyadar kalau itu film semi semua. 

Dan baru nyadar kalau film Lights Out diadaptasi dari film pendek berjudul sama yang rilis tahun 2013. Gara-gara baca review Movienthusiast dan denger celetukan Nanda yang, 

“Ndese! Ini film yang dulu kau tonton itu nah! Yang kau cerita sama saya kalau kau teriak sampe ditanyain user!”

Refleks aku keingat masa-masa waktu jadi Customer Service. Aku nonton film pendek itu dan spontan teriak karena ada penampakan hantu jelek. Pas selesai nonton, aku takut nyentuh saklar lampu kantor. Aku yang biasanya keluar kantor paling lambat, entah karena masih download lagu pake wi-fi atau berlambat-lambat masang helm, langsung gerak cepat kalau udah jam pulang. Takut keluar paling terakhir dan harus matiin lampu. Huhuhu.

Aku pun penasaran buat nonton versi layar lebarnya. 

Penasaran, apakah seseram film pendeknya. Penasaran, gimana rasanya orang yang takut gelap kayak aku nonton film tentang gelap-gelapan. Penasaran, apakah Nanda bakal nganggap aku kakaknya lagi, karena aku teriak-teriak norak ketakutan di dalam teater trus bikin dia malu. 

Dan rasa penasaranku kejawab. Tapi filmnya nggak seseram yang aku kira. Seramnya nggak membekas sampe pulang ke rumah. Kalau boleh milih, lebih seram film pendeknya sih. Tapi ada hal lain dari Lights Out yang bikin aku mutusin buat nulis review baper ini. 

Lights Out bercerita tentang Rebecca (Teresa Palmer), yang pisah rumah sama Ibunya, Sophie (Maria Bello) dan adiknya yang bikin tante kegirangan macam aku jadi gemes, Martin (Gabriel Bateman). Rebecca nggak tahan sama sikap Ibunya yang makin hari makin aneh karena ditinggal mati sang suami, juga nggak tahan sama ketakutannya sama rumahnya sendiri. Ibunya suka ngomong sendiri, dan ada penampakan perempuan berdiri dengan rambut awut-awutan tiap lampu rumah dimatiin. 

Rebecca nggak sendirian, karena ternyata Martin juga ngalamin hal yang sama. Bahkan dia sampe nggak bisa tidur saking takutnya. Martin pun merengek minta tinggal bareng sama Rebecca aja. Ada scene di mana Rebecca mau bawa Martin, dan terjadilah drama Ibu-anak. Yang bukannya bikin tegang, malah bikin ngakak. Bukannya karena adegan itu konyol, tapi karena....

“Ndese, coba kau bayangkan kalau Rebecca itu Kak Dayah. Trus Kak Dayah bawa kita berdua ke rumahnya karena Mama marah-marah terus sama kita.”

Aku spontan ngakak, trus ngejawab, 

“Kak Dayah bilang berhenti-berlaku-sinting gitu sama Mama?”

“Iya. Hahahaha.”

Fix. Kami anak durhaka. Sempat-sempatnya ngaitin sama Mama di rumah.

Tapi kepindahan Martin ke rumah Rebecca, nggak ngaruh sih. Karena si hantu sialan nggak shampoan itu masih aja ngeganggu Martin, juga Rebecca. Dan ternyata dia punya nama, yaitu Diana. Dan ternyata Diana ini sahabatnya Sophie. Dan ternyata (ini mulu kata-katanya anjir!) perlakuan sinting Sophie selama ini karena dia masih ‘menjalin persahabatan’ sama Diana, walaupun Diana udah mati.

Jadi, tugas Rebecca dan Martin sebagai anak, yaitu membebaskan Sophie dari jeratan Diana. 

Lagi was-was di ruang remang-remang.
Sumber: Tahufilm 

Sahabat Ibu mereka itu punya kelemahan, yaitu nggak bisa ngeliat cahaya. Jadi dia munculnya pas lampu dimatiin doang. Ya, mirip-mirip Edward Cullen gitu lah nggak bisa kena cahaya, walaupun cahayanya beda. 

Dan bedanya lagi, Diana nggak bakal ngebuat kita jatuh cinta. Diana ngeselin abis! Sumpah! Sialaaaan! Seram anjir!

Seperti yang aku bilang di awal, Lights Out nggak seseram yang aku kira. Tapi bukan berarti Lights Out adalah film horror yang konyol. Diana adalah hantu sebenar-benarnya hantu daripada Valak. Momen kemunculan Diana yang selalu dengan lampu mati, bikin aku jadi was-was. 

Penonton Lights Out hari itu nggak rame, jadinya banyak bangku kosong, termasuk sebarisan bangku di depan aku dan Nanda. Jadinya parno sendiri. Takut tiba-tiba ada yang muncul dari balik bangku, trus nyipok. Eh maksudnya, nyeret gitu kayak Diana nyeret Martin. 

Sayangnya, film ini kurang lama. Tau-tau udah habis aja. Ternyata durasi filmnya 81 menit. Pantesan aja. Trus hantunya kayaknya nggak punya kemampuan lain selain muncul pas gelap, dan nyeret orang seenaknya. 

Mungkin karena itu aku nganggap film ini nggak seram banget. Atau mungkin aku jauh lebih takut nggak dapat jodoh sampe umur 24 tahun daripada takut sama remang-remangnya film ini. Entahlah. 

Untuk ending-nya, aku setuju sama yang dibilang Movienthusiast. Terkesan cheesy. Kalau kata Nanda, ending-nya aneh. Masa’ untuk ending seemosional itu, Martin yang masih kecil itu nggak nangis? 

Sedangkan menurut aku, itu adalah ending yang diharapkan sang sutradara, David Sandberg, jadi ending yang nggak terduga-duga. Memang nggak terduga-duga sih, tapi jadinya... apaan-sih-anjir-ending-nya-kenapa-gitu-dah-kayak-nggak-ada-ending-lain-aja.

Tapi secara keseluruhan, aku suka Lights Out. Film remang-remang ini ada unsur psikologisnya, seolah ngasih tau ke kita kalau kesepian bisa mengantarkan kita pada orang yang salah. Kayak yang dilakuin Sophie ke Diana. Menurutku, Sophie yang udah kesepian karena ditinggal mati sang suami, tambah kesepian lagi karena Rebecca pergi dari rumah. Yaudah, Diana pun diundang Sophie (atau datang?) karena kesepian itu.

Lalu Diana nggak konyol kayak Valak. Scene demi scene lampu matinya sukses bikin aku jejeritan. Walaupun sebenarnya bikin aku mikir, itu si Diana kalau didatangkan Wota yang bawa-bawa light stick, pasti keder juga. 

Drama Ibu dan anaknya, bikin aku ingat sama aku dan Mamaku yang suka debat soal hal-hal kecil. Trus aku ngakak pas Martin nanya sama Sophie, 

“Ibu, sudah minum vitaminnya?”

Bikin aku ingat sama kebiasaan aku dan Nanda yang suka nanyain Mama dengan pertanyaan, 

“Ma, sudah diminum kah Omeprosnya?’

Akting para pemainnya pada keren. Teressa Palmer berhasil ngebawain karakter Rebecca, sang kakak beradik satu yang tangguh dan mandiri. Selain tangguh dan mandiri karena hidup sendiri, tapi juga tangguh dari gombalan Bert (Alexander DiPersia), teman kencannya. 

Nah, karakter Bert juga sukses mencuri perhatianku selain karakter Martin. Bert ini kocak sih. Dia ngarep bener sama Rebecca yang mau-tapi-terlihat-nggak-mau. Dia juga ngebantuin Rebecca buat ngungkap siapa sebenarnya Diana. 

Aku suka waktu Bert ‘ketemu’ sama Diana. Bert pake media apa aja buat bisa bikin Diana mundur. Bikin ngakak dan berdecak kagum pas ngeliat scene itu. Bert udah kayak anak susu Vidoran Xmart. Banyak akalnya. 

Bisa dibilang, aku jatuh cinta sama karakter Bert. Walaupun jatuhnya nggak sedalam Rebecca. 

Rebecca yang awalnya kayak males ngejalin hubungan sama Bert, lambat laun jadi nggak bisa jauh dari Bert. Rebecca jadi percaya sama Bert. Karena Bert, Rebecca jadi percaya pada diri dan mampunya. Bert seolah percaya, kalau Rebecca adalah cahaya. Jadi Rebecca nggak perlu takut gelap lagi. 

Bert dan Becca. Jodoh nih ye. Huruf depannya sama. Yuhuuu~
Sumber: Google Image

Selesai nonton Lights Out, aku nggak ngerasa dihantui Diana yang mukanya lebih jelek dari aku itu. Tapi ngerasa dihantui sama kisah cinta Rebecca-Bert. Ini perasaan yang kurang lebih sama kayak waktu nonton The Conjuring 2, pas ngeliat romansa Ed-Lorraine. 

Bedanya, The Conjuring 2 punya soundtrack yang ngedukung kebaperanku, yaitu lagu Can’t Help Fallin’ In Love-nya Elvis Presley. Sedangkan Lights Out, nggak punya soundtrack yang bikin baper. 

Kalau boleh ngusulin, atau berkhayal deh, aku pengen soundtrack buat Lights Out itu....

Lagu Cahaya-nya Tulus. 


Hehehe. He. He.

Aku eargasme sama Cahaya. Lagu dari album terbaru Tulus, Monokrom itu bercerita tentang Tulus yang berusaha ngeyakinin perempuan yang dia suka, kalau perempuan itu udah bikin Tulus jatuh cinta. Kalau perempuan itu nggak perlu takut cinta. Kalau perempuan itu nggak perlu minder, apalagi ngerasa nggak berharga. 

Bagi Tulus, perempuan itu nggak sekelam yang dikira perempuan itu sendiri. Perempuan itu adalah cahaya. 

Aku paling suka liriknya yang, 

“Semampuku kau akrab dengan senyum dan tawa. Semampuku tak lagi perlu kau takut cinta.”

Sama yang, 

“Duhai cahaya, terima aku. Aku ingin kau lihat apa yang kau punya. Aku ingin kau kembali bisa percaya pada diri dan mampumu.” 

Dengan sotoynya aku nganggap kalau sikap rada dinginnya Rebecca ke Bert pas di awal film, karena Rebecca nggak mau Bert tau tentang kisah keluarganya yang kelam itu. Dengan gilanya aku nganggap kalau lagu Cahaya ini lagu Bert banget buat Rebecca. Bert yang berusaha ngeyakinin Rebecca. Ngeyakininnya delapan bulan, coy. Kalau kata Cenayang Film, Bert itu lelaki sabar karena udah mau friendzone-an sama Rebecca selama itu. Duh, Bert manis amat dah. 

Apalagi ada scene di mana Bert nenangin Rebecca dan Martin yang masih takut sama gelap. Scene itu seolah memvisualisasikan lirik Cahaya yang, 

“Aku pastikan jalanmu terang.”

Lights Out dan Cahaya, nggak bikin aku tambah takut gelap lampu dimatiin. Yang aku takutin, yang baca ini pada gelap mata. Marah nggak terkendali, hilang kesadaran, khilaf apa segala macam karena mikir ini-review-apaan-bangke. Ada cinta-cintaan dan lagunya Tulus segala anjir.

Huhuhu. 

Jangan gelap mata, ya. Apalagi gelap hati. Gelap-gelapan aja sini yuk sama aku.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 11 Agustus 2016

Her, Him, H.

“Ini kurang lebih kan sama aja kayak LDR yang ketemu di medsos, nggak pernah ketemu sama sekali dan cuma bercakap-cakap lewat telpon.” 

Kalimat di atas aku kutip dari review blog Movieholy kepunyaan Mas Dony (sok akrab banget pake manggil Mas, Cha!) yang aku baca tadi malam. Review film Her.

Sumber: MOVIEHOLY
Review itu aku dapatin dari twit Tommy Surya Pradana, pemilik blog Distopiana.com. 


Karena penasaran dan butuh ‘kesibukan’ di waktu yang harusnya tidur tapi malah nggak bisa tidur, aku buka link itu. Dan voila! Terpampang review film Her. Film yang dulu sempat diomongin mulu sama Kak Fajar. Film yang punya premis absurd, yaitu seorang cowok introvert yang jatuh cinta sama program komputer. 

What the hell! Udah kayak denger berita seorang cewek menikahi Menara Eiffel, atau ngeliat cowok lebih suka nunggangin motor gedenya daripada nunggangin pacarnya sendiri. 

Eh maksudnya, lebih sayang motor gedenya daripada pacarnya sendiri gitu.

Dulu aku sama sekali nggak berminat buat nonton Her. Tapi gara-gara review Mas Dony, tadi malam aku download filmnya. Langsung nonton malam itu juga. Nggak kayak keputusan one night stand alias bercinta dalam semalam tanpa komitmen yang bisa bikin cewek-cewek nyesel, keputusanku buat one night watch (ini maksa banget anjir) film ini, sama sekali nggak aku sesali. Filmnya bagus! Pantas aja, Mas Dony sampe bikin review yang unik dan beda. Karena filmnya memang pantas dikasih review sekeren itu. 

Dan semoga aja, review baperku ini pantas dikasih buat film sekeren Her. 

Her adalah film bergenre romantic science fiction comedy drama, jadi wajar aja ada banyak hal nggak masuk akal di film ini, selain premisnya itu tadi. Bercerita tentang Theodore (Joaquin Phoenix), seorang penulis surat cinta modern (surat cinta yang bukan ditulis tangan atau diketik, tapi didikte gitu di komputer). Itu satu, yang nggak masuk akal. Maksudnya, belum kejadian di masa sekarang gitu. Karena film ini ber-setting masa depan. Mirip-mirip kayak Eternal Sunshine of Spotless Mind yang bawa-bawa jasa penghapus ingatan bernama Lacuna Inc. Sama-sama nggak masuk akal kan.

Kedua, semua orang di film itu dimudahkan urusannya dengan kalau ngapain aja, tinggal pake perintah suara. Mau buka e-mail, tinggal ngomong. Mau chat sama orang, tinggal ngomong juga. Jadi nggak heran kalau ada pemandangan orang-orang pada kayak ngomong sendiri gitu. 

Dan nggak heran, di zaman yang modern banget itu, ada orang yang introvert kayak tokoh utama di film ini, yaitu Theodore. Kemajuan teknologi bikin kita jadi ekstrovert di dunia maya, tapi introvert di dunia nyata, karena terlalu asik dengan gadget. Gitu nggak sih? Colek me if I’m wrong. 

Selain introvert, Theodore juga berkepribadian melankolis. Kalau kata teman kerjanya, dia itu setengah pria setengah wanita. Saking melankolisnya gitu sih. Kemelankolisannya itu membantunya dalam bekerja menulis surat cinta, sehingga dia dikenal sebagai penulis yang romantis dan manis. Tapi nggak membantunya dalam hal percintaan. 

Theodore lagi dalam proses perceraian dengan istrinya, Catherine (Rooney Mara), kencannya dengan Amelia (Olivia Wilde) nggak berhasil, trus terjebak rasa cintanya yang dalam ke sebuah Operating System (OS) canggih bernama Samantha (Scarlett Johansson). Samantha, yang cuma berwujud suara itu, awalnya cuma jadi asisten yang ngurusin data-data pentingnya Theodore kayak e-mail dan bantuin Theodore baikin EYD di surat cintanya. Trus jadi teman curhat yang nemenin setiap hari. Lama kelamaan, Theodore makin ngerasa nyaman sama Samantha. OS itu pun juga ngerasain hal yang sama. Mereka saling jatuh cinta. Bahkan mereka menyalurkan rasa cinta mereka dengan have sex

Her mungkin terdengar dan terlihat aneh. Gimana bisa jatuh cinta sampe have sex sama program komputer, bangkeeeee?! 

Kemesraan Theodore dan Samantha janganlah cepat berlalu~
Sumber: Google Image

Tapi hei, udah banyak yang dipuaskan film ini, termasuk aku. Chemistry antara Theodore dan Samantha dapet banget, meskipun Samantha hadir dalam wujud suara aja jadi bikin Theodore kayak ngomong sendiri. Raut wajah kesepian dan butuh Samantha-nya Theodore terpampang jelas. Senyumnya Theodore karena ucapan manis Samantha, bikin aku jadi ikutan senyum. Dan suara Samantha, yang disuarakan Scarlett Johansson, itu bikin nagih buat didengerin. Ceria dan seksi. Nonton Her itu udah kayak nonton phone sex yang difilmkan. 

Banyak laki-laki yang bilang kalau film ini mereka banget, nggak kalah mereka bangetnya sama film (500) Days of Summer atau Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Meminjam istilah Tommy, film ini ditujukan buat para lelaki pecundang asmara. Theodore nggak kalah naifnya sama Tom Hansen. Dan Theodore nggak kalah melankolisnya dibanding Joel Barish. Semua itu karena akting Joaquin Phoenix yang dengan sukses meranin perannya sebagai Theodore. 

Masih terdengar dan terlihat aneh? Oke. Awalnya aku juga nganggap film ini konyol. Tapi ya itu tadi, karena baca review-nya Mas Dony, aku favoritin film ini. Di saat rata-rata review soal film ini isinya yaitu Her-itu-sindiran-buat-para-manusia-modern-yang-terlalu-cinta-sama-gadget-nya-jadi-ngelupain-orang-orang-di-sekitarnya, Mas Dony bersama temennya, Mas Dio, ngebahas film ini bersama-sama sebagai film yang menggambarkan relationship masa kini. 

Bukan, bukan relationship macam Awkarin-Gaga yang katanya goal itu, tapi nggak goal juga ke penghulu. Tapi relationship yang kata Mas Dony, ada pengaruh dari medsos. Jauh di mata, dekat di medsos. Hubungan yang nggak pernah ketemu, cuma chatting atau telponan doang. Tapi cinta yang dirasakan begitu dalam. Seolah nggak peduli itu perasaan yang nyata apa enggak. 

Dalem. Banget. Bener-bener review yang beda daripada yang lain. Dan ya, aku setuju kalau Her dikaitkan dengan cinta-jauh-di-mata-dekat-di-medsos itu. Kenyamanan yang dirasakan Theodore dan Samantha, kurang lebih sama dengan kenyamanan yang dirasakan para pasangan yang nggak-pernah-ketemu-tapi-udah berani-menjalin-hubungan-lebih-dari-sekedar-teman. 

Kata Darma, kenyamanan yang berasal dari jauh-di-mata-dekat-di-medsos itu ada namanya. Yaitu digital love. Dari Darma, aku jadi tau kalau digital love itu nggak kalah kuat dibanding cinta pada umumnya. Darma yang berdomisili di Jakarta, bisa dengan nekatnya ngedatangin Wulan di Pekanbaru. Ditambah dengan nonton Her, aku jadi percaya, kita bisa jatuh cinta dengan orang yang nggak pernah kita temui.

Kita bisa jatuh cinta sama orang kayak Theodore ke Samantha. Jatuh cinta karena suaranya yang seolah menyemangati kita dan ngegambarin kalau dia adalah orang yang cerdas dan lucu. Orang yang ngebuat kita jadi merasa berarti.

Kita bisa jatuh cinta dari telponnya setiap hari. Seperti yang dilakukan Samantha ke Theodore. Dimana Samantha ngobrol intim sama Theodore, ngebangunin Theodore, mengantar Theodore tidur, dan bilang “Boleh aku melihatmu tidur malam ini?” Trus Samantha bisa ‘ngeliat’ Theodore tertidur lelap. 

Kita bisa jatuh cinta dari obrolan random bercabang ke mana-mana, kayak obrolannya Theodore dan Samantha. Theodore yang ngomongin soal kesehariannya, sampai Samantha ngomongin gaya anal seks yang bakal jadi aneh kalau dubur bisa pindah ke ketek. Kita bisa jatuh cinta kayak Samantha ngatain Theodore dengan sebutan, “Cengeng.” Kita bisa jatuh cinta dari dia ngatain kita itu, karena bikin kita mikir, 

“Kok dia bisa mahamin aku ya? Padahal belum pernah ketemu. Apa dia soulmate-ku?”

Lalu dengan kegeerannya kita mikir kita juga bisa mahamin dia. 

Kita bisa jatuh cinta sama orang dengan cara ngekhawatirin dia, kayak Samantha ngekhawatirin Theodore. Sekalipun Samantha nggak tau apa yang terjadi sama Theodore. Kita bisa jatuh cinta dengan bingung kayak Theodore bingung kenapa Samantha menghela nafas kayak orang kelelahan, atau buruknya, kayak kecewa berat sama Theodore. Kita bisa jatuh cinta dengan sepeka itu.

Kita bisa jatuh cinta, tanpa mencemaskan absennya kontak fisik dan memusingkan jarak yang terbentang jauh.

Kita bisa senaif itu.

Mengingat kalau aku orangnya kudet dan gaptek, kalau misalnya ‘kepercayaan’ku di atas itu difilmkan, nggak bakal ada OS-OS-an. Ya tentang digital love itu. Trus judul filmnya itu.... Him.

Gila ya? Iya sih, aku gila. Her juga gila. Tapi Her sangat layak ditonton. Naskahnya, para pemainnya, lagu The Moon Song, yang jadi ost-nya, aku sukaaaaa. Jangan terganggu dengan kumis tebalnya Theodore. Jangan.

Digital love, juga sangat layak diperjuangkan. Kalau digital love-nya bikin kita pengen ngomong kayak Theodore. Ngomong, 

“I’ve never loved anyone like the way I loved you.”

Her. Him. H...ahahaha. Bahas jatuh cinta mulu si Ichanjir. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 05 Agustus 2016

Suicide Squad Is The Worst Feeling Ever

Kalau mantanmu pernah mutusin kamu dengan alasan, “Kamu terlalu baik buat aku.” 

Dan teman tidurmu pernah ninggalin kamu yang habis ditidurin dengan alasan, 

“Kamu terlalu cepat keluarnya buat aku.” 

Rasanya nggak ada salahnya aku pake alasan “Kamu terlalu jahat buat aku,” yang ditujukan buat Suicide Squad. 

Sumber: Google Image
The worst heroes ever.
Dan semoga bukan jadi the worst poster film ever karena warnanya rada norak

Dengan memakai tagline, “Worst heroes ever,” aku ngerasa para penjahat yang diutus buat menyelamatkan dunia di film itu pasti lebih jahat daripada penjahat di film Batman v Superman: Dawn of Justice, si Lex Luthor yang diperankan Jesse Eisenberg. Selain kalah jumlah, Lex Luthor terlihat kalah garang, kalah sangar, dan kalah brutal dibandingkan supervillain di Suicide Squad. Padahal aku suka yang brutal-brutal. Jadi, aku berharap Suicide Squad bisa memberikan kebrutalan yang kuinginkan. Kebrutalan yang jauh lebih brutal daripada yang didapatkan seorang masokis. Kebrutalan yang memuaskan. Umm. 

Maka dari itu, berbulan-bulan aku nungguin Suicide Squad tayang. Dan hari Rabu kemaren aku nonton film itu. Nonton bareng Kak Ira, Kak Pio, Kak Lulus, dan Max. 

FYI, kami berlima pada buta film superhero. Beda sama Dina dan Kak Fajar yang maniak film superhero, jadi paham sama seluk beluk film dan komiknya. Tau mana film superhero yang bagus, mana yang sampah. Mungkin karena itu kami ngerasa terpuaskan dengan kebrutalan Suicide Squad, yang kalau dipikir-pikir, brutalnya biasa aja. Mungkin karena itu Kak Ira sampe bilang kalau dia mau nonton lagi. 

Aku, Kak Pio, dan Max yang..... belum mandi dan datang telat

Dan mungkin karena itu, aku suka sama Suicide Squad. Bukan film yang sempurna bagusnya kayak The Shawsank Redemption yang jadi film favoritku sepanjang masa, atau Easy A, film yang pertama kali bikin aku nulis review baper, tapi Suicide Squad itu film bagus. Bukan yang kayak orang-orang bicarakan, yang bilang kalau Suicide Squad itu film jelek. Dan aku nggak bisa ngelak juga, bahkan sebenarnya juga setuju kalau Suicide Squad punya beberapa (nggak mau pake kata banyak hahaha) kelemahan. 

Script-nya kacangan. Kalau kata Movfreak, penonton seolah dibuat terjerumus ke dalam hal klise film superhero. 

Dan kalau kataku, para penjahat bedebah itu beraksi nggak ada bedanya kayak pahlawan. Iya sih, mereka itu supervillains yang dituntut buat jadi superheroes. Tapi, seenggaknya ada lah perbedaan cara bertarungnya antara penjahat sama pahlawan. Lebih nyeleneh kek. Mereka masih kurang jahat. Di awal film, apalagi pas pengenalan tokoh, mereka kelihatan garang. Kelihatan berbahaya. Kelihatan gila. Cuman berbahayanya mereka itu sempat goyah karena ada kilas balik waktu mereka sebelum jadi seberbahaya itu, yang bikin penonton bukannya takut, tapi malah tersentuh hatinya. 

Deadshot yang diperanin Will Smith, bikin aku senyam-senyum terharu pas ngeliat dia sama anaknya. Kalau mau ada kilas balik masa lalunya, diliatkannya pas filmnya udah berjalan lama. Tunggu sampe penonton ngerasa ketakutan atau naluri masokisnya timbul dulu, baru deh ada kilas balik masa lalunya. 

SOTOY AMAT LU NGATUR-NGATUR, CHAAAA. 

Bicara soal sotoy, waktu nonton, aku bingung mau sotoy gimana sama apa tujuan mereka dikasih misi berbahaya dan siapa yang bakal mereka hadapi. Tau-tau mereka udah murka aja karena baru tau kalau mereka ngelawan penyihir berbikini bernama Enchantress, yang diperankan Cara Delevingne. Penyusunan strategi gimana cara ngelawannya juga nggak ada. Terlihat Rick Flag (Joel Kinnaman), kapten Suicide Squad, kayak diekorin aja gitu sama Deadshot dkk. 

Aku pikir aku aja yang bodoh udah mikir gitu. Tapi ternyata memang bener. Script-nya lemah. Selain itu, ada beberapa karakter yang kurang dapat perhatian dari David Ayer, sang sutradara. 

Captain Boomerang (Jai Courtney) bikin aku bertanya-bertanya, 

“Ngapain sih dia di situ? Ngelawak doang?” 

Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje) nggak dapat banyak jatah berdialog. Dan yang paling disayangkan.... yaitu El Diablo. Karakter yang diperankan Jay Hernandez itu punya kekuatan yang paling keren, masa lalu paling kelam, pembawaan paling-tenang-cool-gitu-bikin-meleleh, tapi scene yang menyorot dia, nggak banyak. Penggunaan kekuatannya yang bisa ngeluarin api dari tangan itu bikin aku berfantasi liar. Waktu dia ‘nulis’ kata bye pake api, aku jadi ngebayangin El Diablo bisa gunain kekuatannya  buat nembak cewek. Dia bisa aja nulis, “Will you marry me?” trus direkam dan videonya nggak kalah ngehits sama videonya waktu dia membantai orang-orang pake kekuatan apinya itu. Uuuh~ 

Walaupun penulisan script-nya letoy, tapi para pemainnya menguatkan film ini. Bikin penonton ngerasa tegang dan tetap terus nyaksiin filmnya sampai klimaks. Seenggaknya itu terjadi ke aku. 

Will Smith keren meranin Deadshot, si penembak andal yang juga jadi duda keren beranak satu. Deadshot bukan kayak duda mesum, yang suka kasih tarif alias bayaran ke orang, ngg maksudnya ngebayar kupu-kupu malam. Melainkan dia suka ditarifin. Maksudnya, dia penembak bayaran yang dibayar, bertarif mahal. Ngakak banget pas dia ngelakuin prosesi ditarifin. Kayak mau bikin bangkrut yang narifin. Bikin bangkrut, Viola Davis, yang ngebawain peran Amanda Waller, pembentuk Task Force One alias Suicide Squad. 

Selain akting ngerasa bangkrut, Viola Davis juga keren pas berakting dari jadi wanita berwibawa ke wanita beringas, dengan tiba-tiba nembak. Aku nggak ngerti scene itu. Yang udah nonton, bisa jelasin nggak? Ngg... yang jelas, gara-gara scene itu, aku jadi senang pas Amanda Waller diserang sama para anak buahnya Enchantress. Refleks aku ngomong, 

“Amanda mau di-gangbang! Kapok!”

Untungnya hal itu nggak terjadi. Tapi hal vulgar lain yang terjadi. Cara Delevingne berakting vulgar sih menurutku. 

Cara Delevingne memerankan June, seorang arkeolog yang kesurupan Enchantress. Udah pakaiannya vulgar, trus cara dia ‘merekrut’ manusia biasa buat jadi anak buahnya, dengan cara dicipok sama dia. Sialan. Nggak puas ciuman sama Rick Flag? Trus, dia suka meliuk-meliukan badannya gitu pas ngeluarin kata-kata yang mengancam dan menakutkan buat Deadshot dkk. Kelihatan konyol. Aku dan Kak Ira jadi sepakat nyebut itu sebagai goyang Enchantress. 

Sambil nahan ketawa, Kak Ira teriak, 

“Jangan goyang, please. Jangan!” 

Aku ngakak sengakak-ngakaknya. 

Tapi muka menderitanya Cara Delevinge sebagai June itu.... juaraaaaaa! Dia kelihatan tertekan. Kelihatan rapuh. 

Akting Margot Robbie juga juara. Dapet banget. Dia mampu ngebuat Harley Quinn jadi yang paling bersinar di Suicide Squad. Jadi yang paling ditunggu-tunggu. Jadi yang paling kelihatan tangguh, walaupun sebenarnya dia punya sisi rapuh. 

Sebelumnya, aku mau minta maaf sama Justin Landhiani, karena aku jadi ikut-ikutan suka Harley Quinn kayak dia. Huhuhu. 

Lanjut, 

Jadi Harley Quinn itu dulunya adalah Harleen Frances Quinzel, seorang psikiater yang menangani Joker. Penampilan anggun dan pembawaan tenangnya berubah semenjak tergila-gila (atau dibuat tergila-gila? Aku masih nggak tau sih) sama Joker, si penjahat gila itu. Harley Quinn jadi wanita yang begitu cantik namun begitu sinting. Penampilan nyentrik dan kenekatannya bikin dia kelihatan nyebelin, tapi lebih banyak bikin kagumnya. Aku jadi salah satu yang dibikin kagum. Aku suka kenekatannya. Aku suka rambut ikat duanya. Aku suka ketawa lebarnya. Aku suka.... meratapi nasib karena nggak punya badan sebohay dia. 

Tapi aku punya nama yang huruf awalnya sama kayak huruf awal namanya. Huruf H. Dia Harley Quinn, aku Hairunnisa Quinn. HAHAHAHAHAHAHAHA. 

Dan kalau boleh ngerasa sama lagi, dulu aku sempat punya cita-cita jadi psikolog. Ya, kayaknya nggak beda jauh sama psikiater ya. Hoho.

Sumber: Movienthusiast
Dan... bibirnya juga mirip sama aku. Suka nggak mingkem.

Selain itu, aku juga baper karena romansa antara Harley Quinn dan Joker. Oh! Joker is so romantic! Entah kenapa, Jared Leto meranin Joker, jadi rada ngingatin aku sama perannya sebagai Harry Goldfarb di film Requim for A Dream. Di film itu, dia juga jadi cowok yang romantis. Romantis yang gila, tapi lebih gila di Suicide Squad sih. Aku baper sama scene yang nampilin mereka berdua. 

Aku juga baper sama lagu You Don’t Own Me yang jadi soundtrack-nya Suicide Squad. You Don't Own Me dan Harley Quinn adalah dua hal yang aku baperin dari Suicide Squad. Dua hal yang bertolak belakang. Lagu You Don’t Own Me isinya tentang cewek yang berontak karena ngerasa dimanfaatkan oleh sang cowok, cuma dijadiin pajangan doang. 

Sedangkan Harley Quinn, dia ngerasa nggak dimanfaatkan sama Joker. Mungkin, dia ngerasa bisa seberani dan senekat itu karena Joker. Harley Quinn nggak peduli dia jadi pembunuh dan masuk penjara karena Joker. Dia ngerasa rapuh, jauh lebih rapuh daripada June, tapi ngusahain buat ceria nggak kelam kayak Enchantress, lagi-lagi karena Joker. Dia jadi gila karena Joker, dari Joker, dan untuk Joker. 

Bikin aku mikir,  jatuh cinta, ngebuat semua hal jadi makes sense. Ngebuat hal-hal yang kelihatan gila, jadi kelihatan normal. 

Mungkin post ini adalah the worst Suicide Squad's review ever. Mungkin perasaanku sama film Suicide Squad yang nganggap film ini bagus, adalah the worst feeling ever. Tapi, jatuh cinta sama kamu kayak jatuh cintanya Harley Quinn ke Joker, itu bukan the worst feeling ever kan

Arrrgh. Kayak keselek tongkat baseball-nya Harley Quinn habis ngetik kalimat barusan. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com