Jumat, 31 Maret 2017

Oleh-Oleh Dari Tour Departures

Selain anime dan JAV, tontonan dari Jepang yang jarang aku jamah adalah film-filmnya. Aku cuma pernah nonton Confessions, Audition, dan 700 Days of Battle Us vs The Police. Berkaca pada Confessions dan Audition, aku jadi males nonton film Jepang lagi. Gimana ya, alurnya lambat jadinya rada ngebosenin. Film Jepang setauku gitu sih, rata-rata alurnya memang lambat. Itu yang bikin aku males nonton film Jepang, selain karena aktornya nggak ada yang brewokan.

Huh. Dasar wanita.

Tapi hal itu nggak berlaku pada Departures, film Jepang keluaran tahun 2008. Setiap adegannya berharga, dan nggak terasa tau-tau udah habis aja, walaupun durasinya dua jam lebih. Departures nggak ngebosenin dan sayang untuk dilewatkan layaknya diskon besar-besaran. 

Apalagi film ini memenangkan banyak penghargaan, salah satunya adalah Oscars untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Padahal kabarnya, sang sutradara, Yojiro Takita, sempat nggak mau berharap banyak sama film ini, dikarenakan isu sensitif yang ada di dalamnya. Makanya aku jadi makin tertarik buat menikmati Departures. 

Sumber: sini

Departures bercerita tentang Daigo Kobayashi (Matashiro Motoki), seorang pemain cello yang terpaksa harus pensiun dini alias dipecat karena orkestranya dibubarkan. Walaupun begitu, dia tetap (berusaha) bahagia dan memutuskan pulang ke kampung halamannya bersama istrinya, Mika (Ryoko Hirosue) yang cantik, setia, dan pandai bersyukur atas karunia Yang Maha Esa dengan cara memandang langit secara berseri-seri setiap harinya.

Dalam keadaan menganggur itu, Daigo kebingungan harus kerja apa. Dia merasa kalau dia nggak punya skill wahid apa-apa selain menggesek-gesek cello. Sampai akhirnya lelaki polos itu melihat iklan lowongan kerja yang..... unik. 

Pengalaman tidak diutamakan. Tidak ada batasan umur. Gajinya tinggi. 

What the hell..... Siapapun pasti langsung engas kalau lihat lowongan kerja yang persyaratannya sebaik-hati gitu. Nggak kayak lowongan pekerjaan yang dulu aku pernah lihat. 


Sampai sekarang aku masih bingung sih. ITU BUKA LOWONGAN PEKERJAAN APA BUKA PENDAFTARAN JADI FINALIS MISS INDONESIA?! Segala pake persyaratan cantik luar dalam. Masih kesel aja aku sama lowongan kerja itu njir. 

Ah lanjut aja deh.

Daigo pun dengan semangat melamar kerja. Menjalani interview kerja yang bikin aku (dan menurutku penonton lain juga) ngakak. Dan dia salah menduga perusahaan tempat dia melamar kerja itu bergerak di bidang travel agent, karena namanya adalah agent NK. Ternyata tempat itu adalah agen pengurus kematian. Atau lebih tepatnya, agen perias jenazah.

Pertanyaan, "Bisakah orang yang tidak pernah melihat mayat, melakukan pekerjaan ini?” yang Daigo lontarkan, adalah awal dari keseruan Departures. Selanjutnya kita dipertontonkan tentang betapa pekerjaannya sebagai noukanshi alias perias jenazah itu bayarannya tinggi tapi dianggap sebagai pekerjaan yang sebaiknya dihindari. 

Menyaksikan pertunjukkan kematian dengan khidmat
Sumber: sini
Aku dibuat terpana sama konflik itu. Terpana juga sama kenyataan bahwa Departures ini film drama, tema dan konfliknya berat, tapi nggak bernuansa kelam. Trus masih bisa sempat-sempatnya nyelipin beberapa adegan yang lucu. Bikin senyam-senyum juga. Pokoknya film ini beraura positif gitu sih.


Pegang tanganku~ Bersama jatuh cintaaaaa~ Oooooh~
Sumber: sini

Film ini juga ngasih pengaruh yang cukup besar ke aku. Pas selesai nontonnya, aku ngerasa dunia tak lagi sama. Aku ngalamin momen langka, di mana aku mandangin Mamaku yang lagi tidur nyenyak, trus aku terngiang-ngiang tausiyah Mamah Dedeh di acara Mamah dan Aa Beraksi episode Sampai Kapan Berbakti Pada Orangtua. Habis itu aku.... menitikkan air mata. Nangis sesenggukan. 

KAPAN LAGI SEORANG ANAK YANG URAKAN KAYAK AKU NGALAMIN MOMEN FANTASTIS KAYAK DI ATAS COBA? 

Trus kematian di film ini, digambarkan dengan indah banget. Ritual merias jenazah itu jadi semacam pertunjukan teater. Daigo dan bosnya, Ikuei Sasaki (Tsutomu Yamazaki), seolah lebih tepat disebut sebagai seniman, bukannya perias jenazah. Mereka berdua dengan telaten menyeka tubuh jenazah, membersihkan kotoran-kotoran yang ada di tubuh jenazah, dan merias wajah jenazah itu layaknya merias model di Wardah Beauty Class.

Para penghuni agen NK
Sumber: sini

Kalau Yojiro Takita diibaratkan travel agent, maka Departures adalah paket tour yang disediakannya (ini aku jadi sok-sok kayak travel blogger iya nggak sih huhuhu aku nggak cocok, ya). Kita diajak melakukan perjalanan wisata yang sarat akan pelajaran tentang pekerjaan, keluarga, kehidupan, dan kematian. Oh iya, konflik lain dari film ini adalah Daigo punya masa lalu yang kelam, yaitu ditinggalin Ayahnya yang pergi dengan wanita lain, di usianya yang waktu itu baru 6 tahun. Ngingatin aku sama Eminem yang ditinggalin Ayahnya juga, di usia 6 bulan. Pasti rasanya berat banget ditinggalin orangtua sendiri.

Kita seolah diajak berkunjung dari satu tempat wisata ke tempat wisata lain. Kita diajak 'berkunjung' ke keluarga yang memakai jasa agen NK, ke kehidupan pemilik agen NK, dan tentu aja ke kehidupan Daigo.

Dan seperti layaknya mantan kekasih, Departures mengajarkan aku akan banyak hal. 

Di antaranya belajar tentang kebudayaan Jepang. Bahwa pengurusan jenazah di Jepang itu nggak menyeramkan. Tapi indah banget. Trus belajar bahwa pekerjaan mulia kayak merias jenazah itu malah dihindari, tabu, dianggap hina, rentan di-bully, memalukan, dsb. Dari yang aku baca (lupa pernah baca di mana huhuhu), biasanya orang yang melakoni pekerjaan itu adalah warga pendatang, biasanya dari Korea. 
Serah terima kain basah untuk menyeka jenazah
Sumber: sini
Kebajingakan anggapan orang akan perias jenazah itu, terlihat dari orang-orang di sekitar Daigo (termasuk istrinya sendiri) yang mikir, 

“Daigo, kamu masih muda! Carilah pekerjaan lain!” 

"Emang nggak ada pekerjaan lain sampai harus kerja jadi perias jenazah?" 

“Mendingan kamu mangkal di daerah Vorvo Samarinda aja tiap malam deh, Go!”

Aku kasihan sama Daigo pas bagian itu. Sekaligus jadi malu sama diriku sendiri. Malu udah ngeluh capek sama kerjaan, yang sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, itu nggak perlu dikeluhkan. Aku juga jadi ingat momen-momen waktu aku jadi jobless yang hopeless. Aku ngerasa nggak bisa apa-apa. Nggak punya bakat, aku blogger biasa. Hal sama yang dirasain Daigo pas dia bingung mau kerja apa lagi selain kerja jadi pemain cello. Aku jadi semakin sadar, kalau nggak ada satupun pekerjaan di dunia ini yang hina, selama uang yang dihasilkan dari pekerjaan itu halal. Halal, halal, halaaaaal! Mamah tau sendiri.


Berbicara dari hati ke hati dengan cello
Sumber: sini

Aku juga belajar tentang karakteristik cowok Jepang. Katanya, cowok Jepang punya kepribadian yang cenderung tertutup. Hal itu terbukti di Daigo, yang berkarakter introvert, selain polos dan penyabar. Cowok-cowok di sana juga nggak menye-menye dan nggak 'tunduk' pada kuasa perempuan. Terlihat di adegan waktu Mika meminta Daigo buat berhenti jadi perias jenazah. Bikin aku mikir kalau seandainya Departures di-remake Indonesia dengan kearifan lokal, pasti di adegan itu, ada debat menye-menye. Trus bakal ada dialog,

"JADI KAMU PILIH KERJAAN KAMU ATAU AKUUUUU? PILIH KERJAAN ATAU AKUUU?!!"

Ya, intinya di sana beda sama di sini. Gaya pacaran para kawula muda di sana juga beda. Kalau kencan, bayar sendiri-sendiri. Nggak ada antar jemput, karena selain di sana pada pakai alat transportasi umum, menurutku juga karena rasa ketergantungan mereka pada pasangan nggak 'selebay' pasangan di sini. Nggak ada ritual main-ke-rumah-pacar-bawain-martabak padahal baru pacaran beberapa hari, karena di sana prinsipnya main ke rumah pacar atau bawa pacar ke rumah itu, kalau udah yakin banget. Dan biasanya butuh waktu yang lama buat ngelakuin itu.

Dan dari film yang mengangkat tema tentang kematian ini, aku belajar tentang kehidupan. Belajar bahwa apapun yang terjadi di kehidupan kita, itu emang udah ditakdirkan. Udah menjadi suratan takdir. Semuanya udah diatur. Baik dan buruk masa lalu kita, itu pasti ada maksudnya. Jadi nggak perlu disesali. Dan bukankah hidup memang begitu? Hidup adalah perjalanan. Kita harus melangkah ke depan. Bukan berpijak di tempat yang sama alias nggak mau terima sama masa lalu kita.

INI AKU SOK BIJAK BANGET BIJIK.

Yaaaaaaaaa pokoknya gitu lah. Everything happens for a reason, kalau katanya Kak Ira, pas selesai nonton film ini.

Aaaaaak. Departures adalah tur yang menyenangkan!

Dan ya, aku bawa 'oleh-oleh' dari tur Departures. Yaitu ingatanku sama adegan di mana bos-nya Daigo yang ngomong kira-kira gini ke Daigo pas mereka lagi makan bareng. 

"Yang hidup memakan yang mati untuk bertahan hidup."

Bikin aku pengen nimbrung di tengah-tengah mereka. Trus dengan lancangnya ngajuin satu pertanyaan ke bosnya Daigo.

"Apakah diri orang-orang yang serasa lebih hidup karena telah mematikan perasaannya terhadap hal tertentu, masuk dalam teori yang-hidup-memakan-yang-mati-untuk-bertahan-hidup? Mematikan nafsu belanjanya demi membuat isi dompet bisa hidup lebih lama pas akhir bulan, misalnya. Atau mematikan hasrat ngeblog-sampai-tengah-malamnya demi mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik. 

Atau mematikan perasaan nggak enaknya sama orang lain, mematikan kepo sama urusan orang lain, mematikan rasa lebih mementingkan perasaan orang lain, demi merasakan hidup lebih menyenangkan dan melegakan. Apakah itu bisa dibilang, eh apa sih bahasa Jepang-nya Pak Bos, ya pokoknya apakah contoh di atas itu bisa dibilang contoh dari teori yang-hidup-memakan-yang-mati-untuk-bertahan-hidup, Pak Bos?"

Huahahaha. Pertanyaan. Macam. Apa. Itu. Cha. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 25 Maret 2017

Pria, Wanita, Fakir Miskin, dan Anak-Anak Terlantar Punya Selera

Setelah Instagram, aplikasi media sosial yang aku uninstall beberapa waktu lalu dari hapeku adalah Twitter. Lumayan, hal yang telah aku lakukan itu selain menghemat kuota, juga mengurangi intensitas begadangku. 

Tapi itu nggak berlangsung lama. Karena pas buka Twitter di komputer kantor, aku nemuin timeline Twitter penuh dengan ritwitan dari akun @pseuDony_ yang isinya tentang daftar film favorit setiap tahun selama hidup. Banyak yang ikutan ‘permainan’ itu. 

Nafsu bejatku untuk ikut main juga pun membuncah. Di situ aku ngerasa keimananku benar-benar diuji. 

Akhirnya aku install Twitter lagi. Huahahahaha! Rada kaget liat Twitter versi baru. Banyak perubahan sana-sini, tapi yang bikin kaget sih DRAF TWIT-KU PADA NGILANG ANJIIIIIIRRR.... PADAHAL BANYAK TUH DRAF-NYA. SAYANG BANGET HUHUHU. 

Tapi yaudah, lagian draf-nya pada alay gitu sih isinya. Aku pun langsung nge-twit dan mention ke akun Mas Don. 




Sungguh basique sekali, bosque~

Setelah sejam dua jam ngelakuin itu, aku jadi kepikiran. Aku ngerasa ikutan main dengan nggak lepas dan bikin aku nggak puas sama hasilnya. 

Daftar di atas itu ada yang dari hasil mikir cepet, jadinya ada film lain yang harusnya jadi film favoritku di insert-tahun daripada film yang udah aku masukin di daftar. Ada beberapa film yang sayang buat nggak masuk daftar, jadinya aku bikin daftar lagi.



Tahun 2014, setelah aku pikir-pikir lagi, harusnya aku masukin Mommy. Karena Mommy duluan yang mencuri perhatianku, dan Mommy yang menurutku related sama aku. 

Ada juga yang dalam satu tahun, dua film yang kujadiin favorit. Yaitu tahun 2015, aku juga favoritin Mustang. Susah buat milih antara The Lobster dan Mustang, karena sama-sama berkesan. Begitu juga di tahun 2004, aku favoritin film absurd lainnya tentang cinta yaitu 3 Iron. Memilih 3 Iron dan Eternal Sunshine of The Spotless Mind itu sulit. In The Mood For Love, A Walk To Remember, Flipped, dan Ruby Sparks juga nggak aku masukin di daftar sebelumnya karena alasan yang sama. 

Oh iya, 2010 dan 2012 punya banyak film yang bisa difavoritkan. Selain Flipped, aku juga favoritin Incendies, film drama asal Kanada tentang perjuangan saudara kembar menjalankan ‘wasiat’ dari Ibu-nya yang telah meninggal. Dan di 2012, selain Ruby Sparks, aku juga favoritin.... Jan Dara. Nggak usah ditulis ya sinopsisnya. Drama keluarga yang sedih banget pokoknya. Perlu tisu sebanyak-banyaknya buat menikmati itu film. Hiks. 

Ada juga yang dari hasil terlalu banyak mikir. Kalimat “Eh kalau aku pilih ini, ntar dibaca orang kayak gimana, ya?” terngiang-terngiang di kepalaku. Nah, The Virgin Suicides itu contohnya. Itu film kelam banget sumpah, tapi aku suka. Cuman aku males daftarku itu isinya itu rata-rata film kelam, jadi akhirnya aku masukin film remaja komedi romantis, yaitu 10 Things I Hate About You. 

Trus 2016.... banyak film bagus sih di tahun itu. Tapi aku nganggap kalau Captain Fantastic jadi satu-satunya film yang fantastic di tahun 2016. Tapi karena terlalu mikirin, 

“Ih, kan La La Land banyak dapat penghargaan!”

“Ih, kan banyak tuh yang pilih La La Land! Masa kamu enggak, Cha?”

"Ih katanya kembaran Emma Stone, kok nggak pilih La La Land?" 

Akhirnya aku pilih La La Land aja. Yang aku favoritin juga, tapi nggak ngasih paket lengkap kayak yang udah Captain Fantastic kasih ke aku. 

Ya, begitulah kalau terlalu mikir. Mikirin pendapat orang lain. Mikirin selera orang lain, trus ngebandingin dengan selera kita. Anuan Mas Don itu menurutku secara nggak langsung ngasih tau kalau kita bebas mengutarakan pendapat soal film, mengutarakan selera film. Bebas berselera.

Dan ternyata nggak cuma aku aja yang punya selera yang mainstream. Tapi ternyata ada banyak. Ternyata banyak juga yang nggak milih film Seven, The Usual Suspect, Donnie Darko, Pulp Fiction, dan film-film apik klasik lainnya yang namanya udah tersohor, kayak yang aku lakuin. Aku belum pernah nonton film-film bajingseng itu. Dan itu yang bikin aku sempat minder buat ikutan. Trus ada beberapa yang ikutan, yang nggak selalu setiap tahunnya ada filmnya. Dikosongin aja gitu. Jujur apa adanya. Sukaaaa! 

Ngomongin soal selera, setiap orang punya selera yang beda-beda. Selera musik, film, makanan, sampe selera tipe cowok favorit.

Dan aku cukup sering nemuin orang yang seleranya beda sama aku. Sama Nanda misalnya. Rasanya selera kami nggak ada yang sama selain kami sama-sama suka nyanyiin lagu Eminem keras-keras. 

Berbeda soal selera itu udah biasa. Begitu juga dengan ‘mempermasalahkan’ soal beda selera. Aku masih bisa ketawa-ketawa (yang dipaksakan huhuhu) kalau udah kalah debat sama Dina soal selera film. Dia yang nggak suka La La Land, Oldboy, Dogtooth, dan film-film lainnya yang selama ini aku rekomendasiin ke dia dengan semangat. Aku masih bisa mengumpat, “Bajingak teleq kuda benyeq!” pas Dea bilang rekomendasi filmku melaini umat. Aku masih bisa cengengesan pas aku nonton AADC2 hari pertama trus Kak Ira bilang,

“Icha nonton film cinta-cintaan Indonesia? Sehat, Cha?”

Karena dia pikir selera filmku sebatas film luar tentang inses doang. Huhuhu.

Dan soal musik, aku suka banyak jenis musik. Salah satunya musik hip-hop, dan rapper yang aku favoritin yaitu Eminem. Beberapa teman ada yang heran dan bilang kalau aku aneh karena suka lagu-lagu yang ada kata-kata kasarnya lah, suka rapper yang banyak kontroversi lah, hasrat suka om-om (FYI, Eminem umurnya udah 44 tahun) nggak bisa dibendung lah. Ada rasa senang karena ngerasa waw-aku-unik, waw-aku-memang-pecinta-om-om-sejati, tapi di satu sisi juga ngerasa aku memang aneh. 

Tapi itu masih bisa aku anggap nggak papa. Lain halnya pas seleraku direndahin dengan cara dianggap sebagai hal yang harus dihindari. Selera makan favorit misalnya. Beberapa waktu yang lalu, aku ada ngerekomendasiin tempat makan siang langgananku ke salah satu teman kerjaku, sebut aja A. Teman kerjaku yang lain, sebut aja B, tiba-tiba nyamber dengan bilang, 

“Ih, di situ nggak enak, A! Sambalnya kurang nendang! Nggak usah makan di situ!”

Aku yang tadinya heboh ngejawabin pertanyaan si A soal tempat makan siang langgananku, langsung kaget dan senyum miris pas denger B ngomong gitu. Si A nanggepin si B dengan cengengesan. Sementara si B kembali ngelanjutin kerjaannya habis ngomong gitu. Aku dan A cuma bisa diem-dieman. Suasana jadi canggung, udah kayak pasangan digital love yang ketemuan untuk pertama kali trus ngerasa muka asli pasangannya beda sama muka di foto profil pasangannya itu. 

Ya... B emang kalau ngomong suka kelewat jujur sih. Tapi hal yang dilakuin B itu bikin aku kesal. Aku jadi mikir, pasti aku ngerasain kekesalan yang sama, bahkan lebih, kalau seandainya selera musik dan selera filmku yang dijadikan sebagai hal yang harus dihindari juga. 

Kesal aja sih, cara review-nya menurutku nggak ‘sehat’. Masa kita nyaranin orang buat nggak makan di situ, nggak nonton film A, dengerin musik B, cuma karena itu nggak sesuai sama selera kita? Kalau nyaraninnya ke satu-dua orang yang punya selera sama kayak kita sih nggak papa. Tapi kalau misalnya nyaraninnya sampai ke banyak orang? Ke media sosial misalnya? Bisa aja kan ada orang yang suka sama hal yang kita nggak suka itu, trus dia baca dan dia jadi tersinggung. Dia jadi marah, bahkan bisa aja jadi sedih karena ngerasa seleranya rendahan sekali. 

Aku masih terima dan berlapang dada kalau seleraku dikata-katain. Tapi kalau seleraku dijadiin suatu hal yang harus dihindari kayak wabah penyakit, direkomendasikan sebagai hal yang terlarang kayak minuman keras, jujur aku nggak terima. Aku ngerasa seleraku bener-bener direndahin. Dada berasa nyesek. 

Ya itu tadi, selera tiap orang beda-beda. Harusnya kita nggak maksain selera orang harus sama kayak selera kita. Haw pernah ngalamin itu, dan dia bilang, 

”Kayak aku aja, nggak begitu asyik pas baca Al-Qur'an, tapi kata ustaz, sangat menyenangkan.” 

YHA, HAW. YHAAAA.

Sembari ngetik postingan ini, aku nanya-nanya mulu sama diriku sendiri. Aku wajar nggak sih kesal cuma gara-gara itu? 

Lama kelamaan aku mikir, ternyata aku juga pernah jadi orang yang menjadikan selera orang sebagai hal yang harus dihindari. Secara sengaja maupun nggak disengaja. Dan aku ngerasa semua orang mungkin juga pernah. Mungkin aja itu nggak bermaksud buat merendahkan, tapi buat beropini doang. Itu subjektif, kalau kata Yoga. Itu.... wajar. Demi ngasih tau kalau punya selera yang bisa dibanggakan. Demi mempertahankan seleranya agar nggak tergeser posisinya sama selera lain.

Jadi, ya.... aku nggak mau kesal-kesalan lagi. Nggak mau minder. Karena solusinya adalah terima aja. Atau lebih tepatnya, nggak perlu didengerin kalau selera kita digituin. Yoga, sang filsuf yang merangkap sebagai tukang curhat, pernah bilang, 

”Kita berhak nggak dengerin pendapat orang kok. Sama-sama punya hak.” 

Bikin aku jadi mikir, kalau orang-orang yang ngerendahin selera itu punya hak buat ngerendahin, kita juga punya hak buat nggak ngedengerin. Dan tentu aja kita punya hak buat punya selera. Mau pria kek, wanita kek, fakir miskin dan anak-anak terlantar yang dipelihara negara sekalipun, berhak buat punya selera.

Dan aku jadi mikir (lagi), kita nggak salah kalau punya selera yang beda dari kebanyakan orang. Kita pun bebas buat cuek sama pendapat orang akan selera kita. Seperti kata Haw,

“Jadi biarin ajalah apapun komentarnya. Kayak buku Tere Liye. Ada yang bilang bagus banget. Tapi ada juga yang bilang mending baca buku porno aja.”

Haw bajingak memang.

Lagian, kalau selera orang sama kayak selera kita, belum tentu juga itu jadi hal yang baik. Kadang ada kan cewek-cewek yang suka sama penyanyi yang sama, trus kayak rebutan gitu, kayak saingan gitu, membuktikan siapa yang jadi fans terbaik (dan calon istri terbaik, biasanya sih sampe mikir gitu). 

Dan kalau ada lawan jenis yang punya selera yang sama kayak kita, entah itu selera musik atau selera fim, belum tentu dia adalah jodoh kita. 

Seperti kata adiknya Tom Hansen di (500) Days of Summer,

“Just because she likes you the same bizzaro crap you do, doesn’t mean she’s your soulmate.”

Bikin aku mikir keras, kalau selera nggak perlu dibaperin.

Njir. Tau-tau udah panjang aja. Udah lama nggak curhat gini di blog sih. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 18 Maret 2017

Karena Captain Fantastic, Tragedi Jadi Komedi

“Ini film superhero kayak Captain America, ya?”

“Captain Fantastic ini siapanya Captain Tsubasa njiir?”

"Apakah Captain Fantastic pengertiannya sama kayak captain unicorn porn?"

Belum cukup bikin aku bertanya-tanya kayak gitu, Captain Fantastic bikin aku ingat sampai rengat sama dua film. Liat posternya, ngingatin sama film Little Miss Sunshine. Pas baca sinopsisnya, langsung keingat Dogtooth. Tentang cara hidup keluarga yang nggak normal, terisolasi dari dunia luar. Little Miss Sunshine dan Dogtooth adalah dua film bertema keluarga disfungsional kesukaanku. Khusus film terakhir, bikin aku dikatain gila sama Dina dan disumpahi serapahi oleh Mak Ben karena kata mereka, film itu aneh banget. Huhuhuhu.

Dan pas selesai nonton Captain Fantastic, aku mendaulatnya sebagai film tentang keluarga disfungsional kesukaanku juga. Di urutan pertama! Filmnya bagus banget faaaaaaak! Makasih buat Alanwari dan Farhan yang udah ngerekomendasiin film ini!
Foto keluarga
Sumber: SINI

Film ini ternyata meraih penghargaan Best Director di ajang Cannes Film Festival. Huaaaa! Aku selalu percaya film-film yang diajangkan di Cannes itu pasti bagus-bagus, layaknya percaya khasiat daun katuk baik untuk melancarkan ASI bagi ibu menyusui. 

Langsung aja. Captain Fantastic bercerita tentang Ben (Viggo Mortensen) super daddy dari enam anak yaitu Bodevan (George MacKay), Kielyr (Samantha Isler), Annalise Basso (Vespyr), Rellian (Nicholas Hamilton), Zaja (Shree Crooks) dan si bungsu Nai (Charlie Shotwell). Adegan awalnya sesaat kayak kita lagi nonton Animal Planet. Yha, hidup mereka kayak program-program di channel itu sih, menampilkan tentang hubungan manusia dan hewan. Manusia dan alam. Mereka hidup di hutan, jauh dari perkotaan, dan menolak gaya hidup modern yang konsumtif dan hedonis. 

Kehidupan sehari-hari mereka diisi dengan melatih tubuh mereka agar setara dengan atlet profesional, mencari makan dengan cara tradisional, dan belajar dengan sistem homeschooling di bawah cahaya bintang-bintang pada malam hari. Anak-anak Ben sungguh cerdas, tangguh, dan bahagia hidup dengan ‘kekangan’ idealisme sang Ayah yang seolah nggak ngebolehin anak-anaknya kenal dunia luar. 

Lari pagi~
Sumber: SINI
Mirip Dogtooth deh. Tapi miripnya cuma di bagian ‘kekangan’. Karena filmnya ini nggak menimbulkan aura depresif. Justru filmnya ini terasa menyenangkan dan bikin yang nonton ngakak. Genre-nya drama komedi btw. Yang ngebedain lagi, Ben nggak ngajarin yang aneh-aneh ke anaknya kayak orangtua di Dogtooth ngajarin anak-anaknya. Trus, film ini nggak cuma tentang kehidupan mereka di dalam hutan, tapi juga tentang mereka keluar dari hutan dan mulai mengenal dunia yang selama ini mereka (anak-anaknya) nggak pernah tau.

Karena tragedi meninggalnya Leslie (Trin Miller) istri Ben sekaligus Ibu dari enam anak itu, mereka pergi ke ‘dunia luar.’ Perjalanan mereka bukan sekedar pengen ngeliat Leslie untuk terakhir kalinya, tapi juga untuk mengabulkan apa yang diinginkan Leslie, yang dia tulis di surat wasiatnya. Leslie ingin mayatnya dikremasi, bukan dikuburkan dengan aturan agama Kristen. Tapi hal itu nggak berjalan mulus, karena orangtua Leslie mau anaknya tetap dikuburkan. 

Melangkah di catwalk.
Sumber: SINI
Sampai di sini, Captain Fantastic juga ngingatin sama Little Miss Sunshine. Dua film itu sama-sama tentang perjalanan menuju suatu tempat. Tapi aku lebih jatuh cinta sama apa yang telah Captain Fantastic lakukan padaku.

Aku suka beberapa adegan di film ini. Pertama, waktu Nai nanya soal apa-itu-perkosa. Dengan santainya Ben ngejawab pertanyaan anaknya itu. Blak-blakan. Nggak ada yang ditutupi. Beda waktu pas waktu aku kecil, nanya sama Mamaku gimana caranya bikin adek, dan Mamaku jawab, 

“Beli tepung trus diadon.”

Trus si Nai kepo banget, nanya sampe ke ujung-ujung. Ben keliatan canggung, jadi di tiap habis Nai nanya, Ben selalu ngalihin pembicaraan dengan nanya hal-hal nggak penting ke para anaknya. Bikin ngakak. 

Sekaligus bikin mikir, 

“Apakah kita harus jadi orangtua kayak Ben? Yang ngejawab apa adanya kalau ditanya anak soal hal-hal sensitif?”

Tambah bikin mikir pas adegan Justin, keponakannya Ben nanya gimana Leslie meninggal. Ayahnya Ben ngejawab dengan ‘berbohong,’ dalam rangka melindungi anak-anak dari hal-hal sensitif, sedangkan Ben ngejawab dengan jujur. Bilang kalau Leslie meninggal dengan cara bunuh diri. 

Adegan kedua yang aku suka, pas Nai dan sepupunya punya pengertian berbeda soal Nike. Kayak orang-orang pada umumnya, sepupunya bilang kalau Nike itu merk sepatu. Sedangkan Nai bilang kalau Nike itu Dewi Kemenangan dalam mitologi Yunani. KELAS BANGET ANJEEEEER.

Trus yang terakhir, aku suka pas Ben dan anak-anaknya akhirnya bisa menjalankan wasiat Leslie. Mereka melepas kepergian Leslie dengan haru. Dengan nyanyian. Dengan tarian. Dengan tawa. Nggak ada melankolis dan depresifnya. Tapi tetap aja sih aku nangis. Nangis karena terharu ngeliat kebahagiaan mereka. Dan terharu karena betapa indahnya lagu Sweet Child O’Mine-nya Guns and Roses yang mereka nyanyikan. Lagu rock bisa jadi semanis itu njiiiiiiirrrr. Keren!

Acara bakar-bakar yang mengharukan.
Sumber: SINI
Layaknya cowok idaman, Captain Fantastic punya semua yang aku impikan. Tema yang menarik, ada komedi ada dramanya, akting para pemain yang cemerlang, dan pesan yang dibawa itu sebenarnya berat dan sulit tapi bisa dibawakan dengan woles. Captain Fantastic ibarat cowok humoris yang bisa diajak ngomong serius bukannya apa-apa dibercandain, berwawasan luas, dan kritis terhadap hal-hal sekitar. 

Tapi Ben bukan Ayah atau suami yang aku idamkan. Bukan berarti dia itu jahat, tapi gimana ya. Idealismenya lebay, bikin anak-anaknya jadi cerdas sih cerdas, tangguh sih tangguh, Tapi jadi nggak tau dunia luar. Nggak tau cara bersosialisasi sama orang lain. Jadi ndeso nggak tau hal-hal kekinian. Bahkan bikin si sulung, Bodevan, jadi gugup banget pas pertama kali ciuman. Film ini ‘bernuansa’ abu-abu, di mana nggak ada hitam dan nggak ada putih. 
Sungguh berbulu uuuh~
Sumber: SINI

Maksudnya, kita bingung menempatkan Ben itu sebagai kepala keluarga macam apa. Dia punya segudang bukti yang nunjukkin kalau dia itu kepala keluarga yang baik. Dia juga punya alasan yang masuk akal kenapa ngebentuk anak-anaknya dengan cara nggak biasa itu. Tapi Ben juga punya bukti kalau dia adalah orangtua yang bajingak. Kita sebagai penonton punya alasan yang bisa diterima buat menyalahkan cara Ben dalam membina anak-anaknya itu.
Zaja, Nai, Bodevan, Rellian, Vespyr, dan Kieryl.
Sumber: SINI

Dan layaknya orangtua yang nggak pilih kasih terhadap anak-anaknya, Captain Fantastic juga nggak pilih kasih pada para pemainnya. Nggak ada yang tampil mendominasi seolah nunjukkin kalau dia lebih berbakat daripada pemain yang lain. Terutama buat pemeran anak-anaknya Ben, mereka punya jatah masing-masing buat menunjukkan akting mereka. Di sepanjangan film, mereka bergantian ‘mengajak’ penonton untuk kenal sama mereka lebih dekat, secara teratur. 

Kielyr cantiknya bajingak banget yaaa~
Sumber: SINI


Semuanya dapat panggung. Emangnya kayak Young Lex, panggung para rapper dimakan semua sama dia. 

Karakter Rellian menarik perhatianku btw. Rellian adalah ABG pemberontak yang mulai tergoda sama ‘dunia luar’, dan jadi satu-satunya anak yang ngerasa kalau keluarganya itu nggak normal. Aku ngerasa kalau dia itu aku-waktu-umur-belasan banget. Bisa dibilang dulu aku adalah anak yang suka memberontak sama aturan orangtua, tergoda hal-hal di luar rumah, dan nganggap kalau keluargaku itu nggak normal. Aku pernah bete nggak jelas pas kami sekeluarga lagi ngumpul haha hihi. Aku pernah marah sama Mamaku kayak Rellian marah sama Ayahnya. Aku pernah mikir mau tinggal sama Bapak aja di Bengalon daripada di Samarinda sama Mama, kayak Rellian yang kabur dari Ayahnya. 

MASA REMAJAKU NGEDRAMA BANGET BIJINGEK. 

Ngomong-ngomong soal ngedrama, Captain Fantastic menurutku nggak bisa ditonton sama orang yang suka ngedrama. Maksudnya, nggak bisa ditonton dengan mood jelek atau dengan apa-apa dipermasalahin. Menurutku penonton film ini harus mau jadi pribadi yang berpikiran terbuka. Banyak hal-hal yang bajingseng. Entah terlihat nggak masuk akal, hal sensitif dibercandain, atau....

Bahkan mungkin orang yang fanatik agama nggak bisa nonton film ini. Orang yang agamis bisa ngamuk kali ya pas ngedengar perkataan Ben soal nggak-suka-agama-yang-terorganisir.

Atau denger pas adegan Ben ngomong gini, 

"My face is mine. My hand is mine. My mouth is mine. But I'm not. I'm yours."

Pasti orang agamis bakal koar-koar,

“Astagfirullah! Segala sesuatu itu adalah milik Allah! Kita hanya dititipkan!"

Ya, kayaknya lebay deh kalau sampai kayak gitu. Huhuhu. 

Tapi serius, orang-orang ‘ngedrama’ menurutku pasti bakalan nggak habis pikir sama Ben sekeluarga yang kayak ngejadiin kematian Leslie sebagai lelucon. Itu bukan berarti mereka nggak ngerasa kematian Leslie itu nggak berarti. Tapi justru karena mereka itu nganggap itu berarti, karena mereka sayang, makanya mereka ngejadiin tragedi itu jadi komedi. 
Mengekspresikan kebahagiaan dengan brutal.
Sumber: SINI

Lucu juga ya kalau tragedi jadi komedi. Aku jadi ingat kejadian dua minggu lalu. Waktu itu aku, Dea, dan Chintya ngelayat ke rumah Dina. Sahabatku itu nyeritain waktu dia dikabarin adiknya kalau kakaknya yang berdomisili di Balikpapan meninggal dunia. Dia bilang, 

“Pas aku lihat smsnya Titik (adeknya Dina), aku langsung kaget. Teriak. Asli kayak ngeliat hantu!!!”

Aku, Dea, dan Chintya nggak bisa nahan ketawa ngeliat Dina melakukan reka ulang adegan nerima sms itu. Ekspresi Dina lucu banget. Dina yang biasanya sok cool, jadi kayak Jim Carrey yang ekspresif. Kami ngakak keras sambil bersumpah serapah. Dina ikut ngakak dan mukulin tubuh Dea yang gempal. Sungguh, kami adalah pelayat yang tak tau sopan santun. Malah ngakak di suasana berkabung. 

Menurutku, Young Lex menjadikan tragedi foto masa kecilnya di-bully oleh netizen sebagai ide lagu. Di lagu terbarunya yang berjudul Makan Bang itu, seolah dia ngetawain netizen yang udah nge-bully dia. Seolah ‘berterimakasih’ ke para netizen karena udah ngasih inspirasi. Banyak yang bilang kalau dia kayak gitu karena baper. Tapi gimana ya, aku mikirnya kalau dia kayak gitu dalam upaya berusaha menjadikan tragedi itu sebagai komedi. Dia nganggap itu sebagai lucu-lucuan. Komedi buat dia, trus komedi buat netizen juga sih ujung-ujungnya. 

Dan aku ngerasa ikut-ikutan ngejadiin tragedi jadi komedi juga. Kemaren pas lagi jam istirahat kerja, Mamaku nelpon ngasih tau aku kalau adekku, Nanda, harus dioperasi.

“Hah? Operasi apa?”

“Itu lho. Benjolan di dada sebelah kirinya. Kan tadi pagi ke Dirgahayu. Diperiksa. Itu tumor sekalinya, Cha.”

Aku langsung ngakak di situ. Ngakak karena nggak nyangka benjolan yang pernah aku grepe-grepe dan sering Nanda grepe-grepe sebagai pelipur bosan, ternyata adalah tumor mamae atau tumor payudara. Ngakak juga karena INI UDAH KAYAK SINETRON AJA NJIR. PAKE OPERASI SEGALA.

“Kok Icha mau ketawa ya, Ma. Padahal ini sedih,” jawabku sambil nutupin mulut pake jilbab.

“Astagfirullah. Pokoknya nanti malam kamu yang jaga Nanda, ya. Besok izin aja nggak usah turun kerja.”

Telponan itu pun berakhir. Aku langsung ngakak sengakak-ngakaknya. Grup WA saudara ternyata ngebahas itu juga. Kak Dayah nyemangatin Nanda, sedangkan aku koar-koar bilang kalau itu kayak sinetron.

“Icha sudah situasi genting gini masih bisa ngelawak,” kata Kak Fitri di convo grup. 

AKU JAHAT YA. HAHAHA. HAHA. HA.

Setelah nyuruh aku istigfar dan menenangkan Nanda, Kak Fitri malah bilang, 

“Saya aja kayak ngerasa Nanda mau lahiran.”

Laaaaaaah. Aku tambah ngakak di situ. Nanda dan Kak Dayah juga ikutan ngakak.

Malamnya, Nanda dioperasi di rumah sakit Dirgahayu. Setelah kurang lebih satu jam, seorang suster keluar ngabarin kalau operasinya udah selesai, dan nunjukin baki atau apasih-namanya-aku-nggak-tau-njir yang isinya....

“Ini tumor yang diangkat, ya. Kami periksa dulu apakah tumornya jinak atau ganas. Paling cepat seminggu hasilnya udah keluar.”

Aku kaget liatnya. Yang kupikir cuma segede jempol, taunya besar-juga-fak-dah-kayak-tiga-jempol-kakinya-Dea-digabung-jadi-satu. 

Aku menoleh ke samping, ke arah Bapakku, dengan masang tampang mau nangis. Bapak malah ketawa sambil geleng-geleng kepala. Trus aku ikut ketawa juga dengan canggung. 

"Silakan kalau mau difoto," tawar si suster. Jiwa paparazi-ku langsung timbul. 

Begitu Nanda udah keluar dari ruang operasi, ke ruangan dirawat, sadar dari bius, aku nunjukkin foto tumor itu. Dia keliatan kaget trus bilang, 

“Kok kayak pizza sih, Ndese? Saya jadi lapar nah.”

HOLYSHIT. KAYAK PIZZA DARIMANANYA NJIIIIIR?! 

Aku ngakak. Tragedi (kalau operasi tumor susu itu bisa dibilang tragedi sih) dijadiin bahan tertawaan. Yaaaa tapi aku tetap sedih. Sekeluarga sedih dan simpati. Ngakakku itu bukannya wujud dari nggak peduli sama adekku itu. Aku peduli, aku prihatin, aku sedih, tapi nggak ditunjukkan dengan cara melankolis. 

Sebenarnya aku heran sama sikapku. Tumben aku nggak nangis. Mungkin efek nonton Captain Fantastic kali, ya? 

Yha. Mungkin. Captain Fantastic seolah ngajarin kalau tragedi yang terjadi di kehidupan kita, baiknya nggak usah disedihin. Boleh sih disedihin, tapi jangan sampai bikin lupa buat bahagia lagi. Alias kesedihannya jangan berlarut-larut. Dan kalau kita mandang tragedi itu dari sisi positif, tragedi itu bisa kita tertawakan. Jadi hiburan buat kita. Kalau kayak gitu, kita terlihat ikhlas dalam nerima tragedi yang terjadi, daripada kalau kita misalnya bersedih-sedihan. Kayak nggak terima sama takdir gitu. Lagian, tragedi itu juga udah berlalu. Pasti berlalu. 

Captain Fantastic seolah ngajarin kalau tragedi menyangkut soal keluarga aja bisa dijadiin komedi. Apalagi tragedi menyangkut orang yang 'bukan siapa-siapa' kita. Orang yang cuma singgah di kehidupan asmara kita, misalnya.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 12 Maret 2017

Nge-BF Bareng Justina Landhiani: Orang-Orang Panjat Sosial di Gone Girl

Seorang wanita bernama Ary Yogeswary yang curhat di blog mengenai perselingkuhan suaminya dan kisah itu menjadi viral, ngingatin aku sama film keluaran tahun 2014 karya David Fincher, berjudul Gone Girl. 

Kayak Darma aja. Suka foto dari belakang.
Sumber: SINI 

Tulisan Mbak Ary (sok akrab banget anjis) dan film Gone Girl menurutku punya kesamaan, yaitu sama-sama berisikan kisah tentang wanita yang diselingkuhi suami. Dan wanita itu sama-sama jadi sorotan publik. 

Ya tapi sebenarnya bukan itu sih inti dari Gone Girl. Bukan itu juga yang jadi alasan aku mendaulat Gone Girl sebagai salah satu film kesayangan. 

Dan jadi film kesayangan Justina Landhiani juga. Atau yang biasa aku panggil dengan sebutan Njus, mengingat dirinya yang imut-imut lucu dan manis-manis jambu. 
Ava Twitter Njus jaman dulu yang membuatku jatuh cinta. 
Njus adalah seorang blogger asal Solo yang selain jadi pengagum mie ayam, juga menjadi pengagum film-film thriller. Selain jadi penggemar kopi, juga jadi penggemar film-film superhero khususnya Marvel. Selain jadi penyebar spoiler, juga jadi penyebar semangat feminisme. Selain kadang bantuin di Katanium, juga kadang bantuin teman-teman di Twitter buat menilai jokes mereka itu itu cukup lucu atau nggak. Hehehe. 

Dan aku pengen ngebaperin film Gone Girl ini bareng Njus. Oh iya, Gone Girl ini bercerita tentang pencarian suami terhadap istrinya yang hilang. Sang suami, Nick (Ben Affleck) pun melapor ke pihak berwajib. Tapi setelah diperiksa, Nick dicurigai membunuh istrinya itu. Istrinya yang bernama Amy (Rosamund Pike) diduga telah dibunuh oleh suaminya sendiri. Karena Amy adalah penulis, dan dikenal sebagai The Amazing Amy berkat orangtuanya yang menuliskan kisah hidupnya sedari kecil, kasus itu jadi sorotan publik. 

Apalagi ketika Nick ketahuan berselingkuh dengan cabe-cabean kampus bernama Andie (Emily Ratajkowski, perempuan yang menurutku ‘menyeramkan’ karena ngebuat aku teriak histeris kenapa dia cantik banget bajingak) dan Amy diketahui ternyata hamil, publik semakin ‘peduli.’ Publik mengutuk Nick sebagai suami biadab, dan berpikir kalau kisah Nick cocok jadi ide cerita FTV Hidayah episode “Aku Hamil, Suamiku Selingkuh.” 

Tapi lama kelamaan kenyataan pun diungkap satu persatu. Ternyata nggak begini, ternyata nggak begitu. Ternyata bukan hanya tentang istri yang hilang, bukan hanya tentang suami yang selingkuh. Dan ternyata Njus punya pemikiran lain soal film ini. Pemikiran lain itu bisa ditemukan di obrolan intim antara aku dan Njus berikut ini: 


Icha: Hai, Njus. Mau nanya doooooong!

Justin: Nggak sekalian ngenalin “Nama saya Hairunnisa, dari Pengajian Ibu-Ibu Mar'artuss Sholihah di Samarinda?”

Icha: HAHAHAHAHAHAHAHA jokes Njus!

Justin: Begini saudari sholihah... sodaranya sholihin, Yoga Akbar Sholihin.

Icha: HENTIKAN, NJUS. HENTIKAAAAN!

Justin: Mwehehehehek.

Icha: Ku pengen nge-BF sama Njus. Mau nggak?

Justin: BF-in apa nih?

Icha: Gone Girl aja gimana? Nggg… Nonton Gone Girl dulu karena apa, Njus?

Justin: Disuruh temen Nonton Gone Girl, sejak Desember 2015 kayaknya. Jadi sejak aku penelitian skripsi udah disuruh temenku buat nonton. Tapi aku cuma iyaa iyaaa... terus skip-skip yang di akhir. Aku langsung ogah. Bilang... "Film apa-apaan tuh!" Dan baru Desember 2016 kemaren aku nonton. Terus aku nyesel... kenapa nggak nonton dari dulu. Keren banget dari segi penggambaran karakternya, konflik pribadi karakter penggambaran setting sekitarnya. Khas David Fincher yang aku suka banget!


Mandi darah yuhuu~
Sumber: SINI
Icha: Ohahaha. Jadinya malah suka, ya. Trus ada alasan lain nggak kenapa Njus suka Gone Girl?

Justin: Suka Gone Girl.. karena di situ karakter Amy-nya kuat. Dia tau apa yang dia mau, dan tau bagaimana caranya buat mencapai tujuannya.

Icha: Yuhuuuu. Trus menurut Njus, aktingnya Ben Affleck dalam memerankan Nick Dunne itu gimana?

Justin: Ben Affleck keren. Dia sukses memerankan pria tampan, charming, sekaligus jadi laki-laki yang dibenci wanita, juga mampu memerankan cowok yang rapuh dan bingung sama kelakuan istrinya.

Icha: Dibenci wanita. Aku juga mikir gitu. Keselnya pas dia selingkuh sama mahasiswi, si Andie. Tapi ada rasa kekaguman di situ sih. Dia cekatan banget masangin bajunya Andie. Andie-nya nggak pake beha btw.

Justin: Iya, jangan-jangan kalau Amy nggak ada, dia latihan pake dan ngelepasin baju perempuan dan beha sendiri, ya. Wkwkwkwkw.

Icha: Jokes Njus again. Hahaha. Okaaay. Trus apa semua cewek harus kayak Amy, Njus?

Justin: Menurutku sih iyaaaaa! Hihihi. Habis Amy keren. Ya kayak yang tadi aku bilang, cewek harus tau apa yang dia mau dan gimana cara wujudinnya. Sayangnya, kondisi sosial sekarang nggak memungkinkan. Dibilang "Jadi cewek nggak usah banyak milih," "Jangan terlalu pinter.” Ya kalo misal si cewek nggak tau apa yang dia mau, dia gampang disetir sama orang lain.

Icha: *nyimak*

Justin: Bukan berarti aku mencela orang-orang yg taat suami dan yah you named it lah. Tapi kalau kita nggak menghargai diri sendiri, nggak membuat kita lebih baik, kita akan dipandang rendah oleh siapapun itu, termasuk sama diri kita sendiri. Makanya aku salut sama Amy, dia nggak mau tampak pathetic. Kemudian menyusun rencana pembalasan kepada Nick dengan rapi, sampai Nick nggak bisa berkutik.


Tatap matamu bagai busur panah~
Sumber: SINI

Icha: Mantap bener ini! Tapi setuju ngggak sih, dia terlalu ngekang si Nick banget? Makanya Nick itu berpaling ke beha lain? Eh maksudnya ke cewek lain? Dia kayak nyetir Nick jadinya. Nah naluri cowok sih, setau aku, rada keder gitu dan bisa males kalau ceweknya lebih superior dari dia.

Justin: Emmm menurutku sebaliknya, ya. Amy ini awalnya baik-baik aja sama Nick. Dan... ya mungkin dia jenis orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Jadi ya dia melakukan tes untuk menguji si Nick.

Icha: Tes yang kayak gimana maksudnya, Njus?

Justin: Yang untuk mengetes cinta dari Nick, dia melakukan rekayasa dalam keuangan rumah tangga mereka. Dan Nick kenyataannya ketika udah di titik rendah kehidupan rumah tangganya, mulai mencari "kesegaran" lain di luar rumah. Trus Amy kan seorang public figure, kalau dia bercerai, pasti ntar dicemooh orang lain. Yaa udah deh dia mulai ngebales. Hehe.

Icha: Hmm terus..... adegan favorit Njus yang mana?

Justin: Pas Amy ada di jendela mobil, keliatan bebas dan puas banget.


Itu yang dibilang Amy di scene itu. Dan waktu dia ngilang, dan nyemir rambut di WC. Dia nggak mau jadi cool girl, maunya ya tetap jadi The Amazing Amy. Biar Nick tau kalau dia bukan cewek gampangan. Wkwkwk.

Icha: Oh iya. Dia juga udah pernah nyoba buat jadi cool girl. Iya nggak sih?

Justin: Iyaa wkwk. Akhirnya dia tau dia bukan gadis "baik-baik" seperti stereotype orang-orang. Dia tau apa yang dia mau, dia tau seberharga apa dia, dan dia tau bagaimana mewujudkan betapa berharganya dia, dan nggak membiarkan orang lain merenggut harga dirinya.

Icha: Sadiiiiiiis! Jadi menurut Njus, Amy itu bukan tokoh antagonis yak? Yang antagonis itu jadinya Nick?

Justin: Iya. Menurutku Amy itu orangnya cerdas dan bukan antagonis. Dia bereaksi begitu karena ada yang memulai. Kalau Icha, suka nggak sama Amy?

Icha: Suka sih. Tapi..... Aku kasihan juga sama Nick-nya. Mereka jadinya hidup dalam pernikahan yang penuh dengan kepura-puraan. Semuanya ingin terlihat dan dilihat sempurna. Dikendalikan sama Amy. Amy segitu cintanya sama Nick. Sampai nggak mau ngelepasin Nick. Padahal Nick-nya nggak bahagia gitu ngejalanin pernikahan sama dia.

Justin: Wah seru nih kalau kita beda sudut pandang. Hehe. Aku lihat mereka itu dari kacamata realistis. Nick butuh duit, Amy butuh branding yang oke buat dirinya. Udah, pas. Pasangan panjat sosial.


Mojok di perpustakaan.
Sumber: SINI
Icha: Nah iya sih. Mereka saling membutuhkan gitu kelihatannya. Dan saling melengkapi satu sama lain dengan kelebihan mereka itu. Tapi aku bingung. Sebenarnya Nick itu salah atau benar?

Justin: Masalah benar atau salah itu menurutku nggak penting, karena kita semua ada dalam area abu-abu. Menurutku yang paling penting adalah gimana kita bisa tetep survive dari area abu-abu ini.

Icha: Wuoogh! Area abu-abu.

Justin: Oh iya. Dan pernikahan dengan kepura-puraan? Bukankah banyak dari kita yang punya hubungan dengan berlandaskan hal tersebut. Ya, biar nggak terlihat ngenes karena jomblo, biar terlihat keren karena pasangannya keren, walau di belakangnya nggak sekeren yang dilihat orang lain selain yang bersangkutan.

Icha: ANJIIIIIIIIIIIR!!!!! SUMPAH NJUS AKU LANGSUNG NYUMPAH SERAPAH. INI BENAR BANGET. Trus ini. Menurut Njus, gimana soal media massa yang ikut berperan dalam pencarian The Amazing Amy itu? Dalam kehidupan sekarang, tanpa perlu jadi public figure pun.... hubungan kita juga bisa diikut campurin. Sama media sosial. Kalau di Gone Girl kan, media massa yaitu tivi dan pemirsanya kayak bikin Nick kelihatan jahat. Tapi habis itu Nick keliatan nggak jahat, malah meraih banyak simpati.

Justin: *gantian nyimak*

Icha: Kalau media sosial.... misalnya gini. Hubungan kita banyak yang tau, trus pas hubungan itu kandas dan diketahui teman-teman kita di media sosial, jadi kayak ngebentuk kubu gitu. Kubu yang ngebelain si A. Kubu yang di pihak si B. Padahal mereka nggak tau persis apa masalahnya yang bikin hubungan itu kandas. Cuma liat dari twit atau status yang diapdet A dan B aja. Nyambung gak sih Njus kalau dibaperin ke situ?

Justin: Hehehe iya nyambung. Nah, Amy itu tau kekuatan media massa, jadi dia memang menggiring publik untuk bersimpati kepada dirinya, dan membuat publik membenci Nick.

((MY DUNNE))
Sumber: SINI 

Icha: Nah, menurutku Amy bukan cuma puas bisa balas dendam dengan cara itu. Keuntungan yang dia dapatkan adalah dia bisa dapat perhatian dari banyak orang. Seperti yang selama ini dia dapatkan berkat orangtua yang suka nulis soal dia.

Justin: Iya. Nick kan nggak pinter menggiring opini publik, nah ditolong sama pengacaranya itu. Dilatih biar punya ekspresi yang bikin mendulang rasa simpati.

Icha: Yoi. Karena dia udah terlatih dari kecil gitu, ya. Udah ada bakat nyelebnya sedari dulu. Trus menurut Njus, apakah media sosial itu berperan penting dalam suatu hubungan? Di film itu media massa yang kayak ikut campur. Kalau di dunia nyata, banyak orang-orang yang punya hubungan yang hubungannya diikut campurin teman-teman di media sosial.

Justin: Berperan penting kalo hubungan tersebut jadi konsumsi publik. Atau secara tidak langsung kita "menjualnya". Gitu....

Icha: Noted. Oh iya, Amy kan orangnya nggak mudah percaya dengan orang lain. Njus orangnya gitu juga ya?

Justin: Dulu sih nggak. Tapi setelah nonton Captain America: The Winter Soldier, aku mulai tau kalo nggak semua orang bisa dipercaya. Jadi ya aku cuma cerita seperlunya. Ya Allah, aku kok anak film banget, ya. Hahaha….

Icha: HAHAHAHAHAHAHA DITERAPIN KE KEHIDUPAN SEHARI-HARI YAK.

Justin: Banget, Cha. Aku belajar dari Mas-nya Logan Wolverines itu juga: “Keraskan hatimu, agar tidak gampang sakit hati.” Duh Gusti... ustadku film.

Icha: Hahaha. Njus nak film banget yak. Trus menurut Njus, apa yang dicari Nick pada Andie? Mahasiswi yang punya dada berukuran melebihi ukuran wajahnya yang kecil itu?

Justin: Bwahahahahak. Aku lihat Andie itu punya sex appeal yang cukup keren, ya. Ya, Nick mungkin cari kesegaran aja lewat Andie. Secara Amy udah tua.

Icha: Ya biasanya gitu yak alasan orang selingkuh. Mau cari penyegaran. Dan mirisnya kenapa masih aja ada cewek kayak Andie. Mencintai suami orang.

Justin: Lha enak og. Panjat sosial. Nick ganteng, dosennya, dan mungkin dia lagi fase estrus.

Icha: FASE ESTRUS ITU APAAAA?

Justin: Fase estrus sebetulnya nggak terjadi di manusia sih. Estrus itu terjadi di hewan seperti tikus, trus simpanse apa monyet ya aku lupa. Nah ketika estrus itu, bakal kelihatan kalau itu hewan lagi birahi. Misal kalau mencit (tikus kecil) lagi fase estrus, maka terlihat pembengkakan pada vaginanya kalo nggak salah. Dulu sampe vaginanya diusap-usapin ke gelas kaca. Kasian banget, biar bisa dilihat di mikroskop. Jadi kalau aku lihat orang yang lagi pengen kawin, aku katain lagi estrus.

Icha: ANAK BIOLOGI SUSAAAAAAAH COOOOY.

Justin: Tulisanku serius banget ya mwehehehe.

Icha: Nggak papa, Njus. Keren! Oh iya, yang soal panjat sosial itu gimana-gimana?

Justin: Emm apa yaa, menurutku saling memanfaatkan satu sama lain. Nggak ada yang bener-bener tulus dari hati. Wuwuwuwuwuwuwww~

Icha: Oh iya sih. Jadi film Gone Girl ini bisa dibilang tentang orang-orang yang suka panjat sosial.

Justin: Hati-hati jaman sekarang….*terusin lagunya

Icha: Banyak orang berteman punya maksud tujuan mengumbar kedekatan habis manis lo dibuang~

Justin: Cukup lucu!

Icha: Hahaha....Trus pesan moral dari Gone Girl ini apa, Njus?

Justin: Kok kayak Webtoon yes ada pesan moral. Apa yaaaaaa… Ntar aku mikir dulu pesan moralnya apa... Sebelum kita bahas pesan moral, alangkah baiknya kita pesan sate ayam dulu, Icha…

Icha: Hahaha. Sate ayamnya pake lontong nggak?

Justin: Pake.

Icha: Jokes Njus!

Justin: Hmm pesan moralnya apa yaaa? Yaaa... nggak ada... Hihi.. Aku mengambil pesan dari Gone Girl itu cuma dua sih:

1. Kita harus tau apa yang kita mau dan gimana kita mencapainya, kayak Amy.

2. Media massa/media sosial benar-benar bisa mengubah seseorang menjadi apa aja, pencitraan apapun bisa dibikin, jadi sebaiknya kita harus bijak untuk bersikap. Kalau ingin men-judge orang ya analisisnya harus deep, nggak cuma asal-asalan. Jangan gampang terkena arus, apalagi media massa atau media sosial.

Contohnya, kalau membenci orang ya bukan karena orang-orang membencinya terus kita jadi ikut-ikutan membenci. Menyukai orang karena banyak orang yang menyukai orang tersebut. Kalo gitu caranya, kita bakal terlihat pathetic. Menyedihkan. Suara kita bisa dibeli.

Icha: Waaaah hahaha menarik nih! Apakah selama ini suara kita sudah dibeli? Ayooo tanya bintang-bintang....

Justin: Hanya engkau yang kusayang…

Icha : Bruakakaka. 

Justin: Btw Icha jangan lupa buat kayak The Amazing Amy, ya.

Icha: Ku tak sanggup sepertinya. Amy tangguh dan cerdas sekali.

Justin: Halah, bisa kok. Hihihi. Tetap kocak kayak Icha biasanya. The Amazing Icha!

Icha: You know me so well.

Justin: Yes!!! Yaaa Icha, jangan lupa bikin standar dirimu, dan jangan lupa untuk mempertahankannya, ya. Kamu berharga! Aku itu suka sama Icha, mau Icha lagi looks welek kayak gimana aku tetap suka. Gitu, Cha. Kalau orang udah suka.

Icha: YA AMPUN, NJUUUUS. AKU TERHARUUUU. Jujur aku nggak pernah bikin standar apa-apa. Sekarang mau bikin deh.

Justin: Nah harus bikin standar. Biar nggak looks emyeh-emyeh manut aja. 

Icha: Siaaaap, bosque! Seneng banget bisa ngebahas film ini. Pake nyambungin ke panjat sosial segala pula! Makasih ya udah mau nge-BF sama akooooeh~

Justin: Maaci yaaa udah dikasih kesempatan nge-BF bareeng. It's such an honour.

Icha: Yuhuuuu~

Ya, kesimpulan dari nge-BF kali ini adalah, sebelum Gaga nyanyiin lagu judulnya Panjat Sosial, David Fincher udah ngebuat film yang ternyata ada soal panjat sosialnya. Dan ternyata bukan cuma Amy dan Spiderman aja yang bisa jadi The Amazing. Kita juga bisa. Semua perempuan juga bisa. Karena semua perempuan itu berharga. 

Harganya berapa? Ayo tanya bintang-bintang..... 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com