Minggu, 19 Februari 2017

Split, Nyatanya Nyegerin!

Film Split yang aku tonton hari Rabu kemarin, ngingatin aku sama tagline iklan minuman bersoda Sprite. Nyatanya Split emang nggak ngilangin baper, tapi nyegerin dan bisa ngajak kamu berpikir jernih. Eh. Berpikir sampe rengat sih tepatnya. 

Ya, tagline filmnya udah kayak sinopsis singkat filmnya aja.
Sumber: SINI

Sumpah, sebenarnya aku bingung sama film Split. Aku nggak puas sama ending-nya. Banyak menimbulkan pertanyaan. Tapi aku berusaha pendam sampe rumah. Ya, karena nontonnya juga sendirian sih. Mau nanya sama siapa juga. Dan lagi, aku nggak puas sama seat yang aku pilih. Aku suka duduk di seat F. Tapi waktu itu lagi penuh, dan aku diapit sama orang yang selalu nyerocos, “Nggak ngerti ih.” “Filmnya aneh ih.” “Karakternya banyak tapi yang keliatan itu-itu aja ih.”

BIKIN TAMBAH PUSING.

Rasanya pengen ngomong ke mereka yang ngedumel itu,

“Mulut dijaga.”

Tapi walaupun bikin pusing, Split itu nyegerin. Memang nyegerin dengan genre filmnya yang thriller-psikologi. Trus sutradaranya, M. Night Shyamalan, yang punya banyak penggemar sekaligus haters karena film-filmnya ada yang bagus dan ada yang jelek. Eh beneran haters nggak sih? Soalnya ya itu, pada banyak yang kecewa sama film-film beliau. Banyak yang ngerasa film-film beliau setelah The Sixth Sense itu nggak bagus. 

Aku juga kenal Om Night Swalayan (panggilan sayangku buat beliau, eh sebenarnya karena susah ngetik namanya sih huhu) pas di filmnya yang The Visit. Film yang direkomendasiin Mbak Nita di salah satu postingannya. Film yang bikin aku mikir kalau kita jangan sampai durhaka kepada orangtua. Durhaka sampai mutusin buat kabur dari rumah, dan ngebiarin orangtua jadi... 

Nah, berbekal rasa sukaku sama The Visit, aku mutusin buat nonton Split. Oh iya, sama penasaran dengan James McAvoy sih. Aku baru pernah nonton satu filmnya, judulnya Atonement. Di situ dia imut banget, bajingaaaaaak! Mata birunya ngegemesin!

Dari muatamu, dari muatamu, ku mulai jatuh cinta!
Sumber: SINI

Di Atonement, dia main bareng Keira Knightley dan Saoirse Ronan. Adegan James dan Keira melepas rindu dengan beringas di perpustakaan sungguh epik. 

Akting James McAvoy di Atonement bikin nangis sesenggukan. Dan di Split... 

Split bercerita tentang tiga gadis ranum yang terdiri dari Casey (Anya Taylor-Joy), Clarie Haley Lu Richardson), dan Marcia (Jessica Sula) yang diculik oleh seorang lelaki paruh baya bernama Kevin (James McAvoy). Lelaki itu mengidap penyakit DID (Dissociactive Identity Disorder) yang menyebabkan dia punya 23 kepribadian. Nah, salah satu kepribadian itu yang menculik tiga gadis ranum, dan kepribadian itu punya nama, yaitu Dennis. 

Matamu melemahkanku, Mz. Galak bener.
Sumber: SINI

Setiap kepribadian yang dipunyai Kevin punya nama dan ciri khas masing-masing. 

Kalau si Dennis, adalah cowok kacamataan kayak Yogaeksrim dan Yogaesce. Rada cabul juga, karena sempat minta Marcia ngelakuin yang aneh-aneh. Persis banget kayak dua Yoga atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Yoga pangkat dua. Tapi Dennis terobsesi dengan kebersihan. Kalau Yoga pangkat dua, terobsesi dengan page one.

Ada Barry, si desainer berbakat. Ada Patricia, cewek yang anggun layaknya putri keraton. Patricia yang diperanin sama James McAvoy yang botak itu kelihatan lucu di mataku. Bikin aku ketawa kecil yang sok-sok ditahan tiap liat dia muncul. Tapi tawa kecilku berubah jadi tawa ngakak membahana pas dia mutar musik. Trus dia bilang, 

"Kudengar musik orang Asia membantu melancarkan pencernaan." 

Spontan aku langsung keingat lagu Badass-nya Awkarin. Lebih tepatnya ingat sama komen ini, 



Om Swalayan ternyata melek sama industri musik Indonesia juga!

Dan ada Hedwig adalah anak umur 9 tahun, yang suka dengerin Kanye West hip hop hip hopan. Nah, aku suka sama Hedwig! A en je a ye pokoknya! Aktingnya James gemilang banget pas meranin Hedwig. Bener-bener kayak anak umur 9 tahun. Aku juga dibikin ngakak pas di salah satu scene, di mana Hedwig minta cium sama Casey. Begitu dikasih, Hedwig dengan polosnya bilang, 

"Mungkin kamu hamil sekarang!"

Mirip kayak film siapaaaaaa gitu. Om Swalayan ternyata tau karya anak Indonesia juga njiiiiiirrrr. Hebat! Ku makin cinta produk dalam negeri!

Oh iya, sebenarnya nggak semua kepribadian ditampilin secara eksplisit sih. Ya kepribadian di atas itu yang ditampilin. Tapi kita udah dibikin percaya aja kalau kepribadian yang ada di tubuh Kevin itu beneran ada 23. James McAvoy bisa memerankan banyak kepribadian hanya dengan mimik wajah dan gestur tubuh. Tanpa perlu dia memperkenalkan diri lagi kerasukan kepribadian yang mana. Bajingseng!

Hedwig junjunganku!
Sumber: SINI

Trus aku ngerasa James McAvoy punya muka yang mirip sama Aamir Khan dan Zumi Zola. Lebih mirip sama Zumi Zola sih. Mukanya nyegerin banget! Sampe bikin aku takut ketiduran pas nontonnya.

Hal nyegerin lainnya yaitu filmnya ini ada nampilin masa lalu-nya Casey. Bergantian antara masa sekarang dan masa waktu kecil. Sampe sekarang aku masih nggak paham apa hubungannya masa lalu Casey dengan banyak kepribadiannya Kevin. Tapi yaudah lah. Nikmati saja alunannya. 

Sekilas mirip Shaloom anaknya Wulan Guritno, ya?
Sumber: SINI

Dan Om Swalayan masih pake hal yang jorok gitu. Hahaha. Gimana ya, waktu di The Visit, ada scene di mana salah satu tokohnya dijejelin sama pampers yang isinya... uugh. Mirip kayak Sukatoro. Di Split juga ada yang jorok semacam itu, tapi nggak parah sih. Pokoknya bikin ngakak sekaligus.... NYEGERIN BANGET NJIR. 

Oh iya, tujuan Dennis menculik tiga gadis masih segelan itu adalah buat membangkitkan kepribadian ke-24. Bajingak. Kurang banyak ternyata 23 kepribadian itu bagi beliau. Dan masih kurang aneh. Ya, kepribadian yang ke-24 itu memang lebih aneh sih. Varises sekujur badan. 

Huufh. Semoga itu bukan spoiler ya. 

Dan semoga Split adalah film yang memuaskan para fans Om Swalayan. Menurutku kehadiran film Split ini tujuannya buat menyegarkan ingatan para fans akan film-film Om Swalayan sebelumnya. Ending-nya Split sengaja dibiarin ngegantung. Dan bagi pecinta Om Night Swalayan, menurutku bakal ketawa atau seenggaknya ngumpat, "Bahahahaha telek!" pas di ending-nya. Sedangkan buat aku.... kebingungan sampai ngerasa kepala mau rengat. Huhuhu.

Tapi secara keseluruhan, Split nyatanya nyegerin!

Dan yang paling nyegerin..... Split menyegarkan ingatanku akan kenyataan kalau dulu aku sempat sok-sokan punya kepribadian lain. Punya alter ego, bernama Alzhema. Alter ego yang sempat nulis di blog ini. Alter ego yang seenaknya aku hidup-matikan.

Habisnya aku ngerasa konyol aja sih punya alter ego. Trus kalau dipikir-pikir juga, sebenarnya kita punya banyak kepribadian tanpa harus kita bentuk. Tanpa harus kita kasih nama kayak kepribadian-kepribadiannya Kevin. 

Kepribadian kita bisa beda antara di dalam rumah sama di luar rumah. Antara lagi bergaul sama teman A dan teman B, kita bisa menjadi pribadi yang beda juga. Contohnya kalau aku di aku, saat lagi sama Dita, aku jadi orang yang ngatain dia dengan sepenuh hati sekaligus ngemong dia dengan segenap perhatian, mengingat dia yang lebih manja dan ngambekan daripada aku. Mungkin karena itu juga dia manggil aku dengan sebutan Tante. Huhuhu.

Pas lagi sama Kak Ira, aku jadi manja secara otomatis dan menyerahkan diri sepenuhnya untuk diceramahi, mengingat dia adalah kakak sepupuku dan sifatnya lebih dewasa daripada aku. 

Kalau lagi sama Dina, aku jadi orang yang kebal akan kritikan soal film kesukaanku. Dia suka banget ngatain film-film yang aku suka. Terakhir dia ngatain film yang aku suka, waktu ngatain La La Land. Dengan ketawa iblisnya yang nggak sinkron sama muka manisnya itu, dia cerita kalau dia tidur pas nonton La La Land. Dan dia lebih terima kalau Hacksaw Ridge jadi yang dielu-elukan netizen, bukannya La La Land. 

HUHUHUHU. SI DINA BAJINGAK. MENTANG-MENTANG MASIH NGGAK TERIMA KALAU EMMA STONE PUTUS SAMA ANDREW GARFIELD!

Ya, 'kepribadian' di atas sebenarnya itu lebih tepat dikatakan sebagai penempatan diri sih. Itu adalah kemampuan kita memahami orang lain yang punya sifat berbeda sama kita. Menyesuaikan diri kita dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.

Trus gimana dengan  ini?

Di depan orang yang kita suka, mendadak kita bisa menjadi pribadi yang beda. Kita yang biasanya kalem, bisa menjadi sosok yang atraktif demi mencari perhatiannya. Kita yang biasanya nyerocos mulu, ekspresif, brutal, beringas, tiba-tiba bisa jadi sosok yang seolah semuanya dijaga. Mulut dijaga. Kelakuan dijaga. Padahal hati nggak dijaga jadinya bisa disusupin sama si gebetan. 

Kita seolah punya kepribadian yang lain. Iya nggak sih? Pikirkan bersama, jangan sendiri.

Menurutku, kita memang harus punya kepribadian lain daripada kepribadian yang selama ini mendiami jiwa dan raga kita. Kita yang aslinya pemalu, harus punya kepribadian nggak tau malu karena itu bisa dipakai untuk menunjukkan bakat kita pada dunia. Kita yang perasa, harus punya kepribadian cuek-bebek agar sadar bahwa kesalahan di dunia ini bukan karena kita. Kita yang menganggap semuanya teman dan mempercayai mereka, harus punya kepribadian yang mikir kalau “Trust no one,” itu baik adanya.

Dan, kita yang aslinya sayang banget sama seseorang, harus punya kepribadian yang ngerasa biasa-biasa aja sama seseorang itu juga. Kita harus punya Hedwig di dalam diri kita. Hedwig si anak umur 9 tahun yang nggak ngerti soal sayang-sayangan. Supaya hidup kita nggak melulu soal seseorang itu. Supaya kita jadi orang yang nggak... membosankan. Nggak menjadi orang yang selalu senang dan sedih karena hal yang sama.

Split bikin aku berpikir sejernih itu. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 14 Februari 2017

Kepada Para Blogger yang Tulus, Frank Love You All!

Selain telat datang bulan, hal yang bisa bikin aku sedih adalah telat mengetahui film sebajingak Frank. Begitu banyak tanya di kepala, tapi tanya yang paling bajingak adalah,

“Semesta kok bisa setega ini?”

Yha, menurutku semesta tega karena telat mempertemukan aku dan Frank, yang keluar tahun 2014. Tapi aku baru nonton tahun 2017 njiiiir. Baru beberapa hari yang lalu.

Sengaja pake poster yang ini, biar nggak dikira film animasi
Sumber: SINI
Aku tau film ini dari blognya Mas Don. Lagi-lagi Mas Don menyuguhkan review nyeleneh spesialnya. Film Her juga pernah dia review dengan spesial. Yha pokoknya film-film yang spesial menurut dia, harus ditulis dengan spesial. Review film Her-nya Mas Don sendiri mengilhamiku buat bikin rubrik nge-BF. Dan review film Frank juga mengilhamiku buat.... buat nonton dan nulis review baper kali ini. Ya... nggak spesial sih. Huhu. 

Dan sama kayak Her, Frank adalah film yang nggak mengecewakan. 

Frank punya tokoh utama yang bernama Frank (Michael Fassbender). Tapi filmnya berdasarkan sudut pandang Jon (Domhall Gleeson). Jon adalah pegawai kantoran yang punya mimpi menjadi musisi, lebih tepatnya menjadi penulis lagu terkenal layaknya Kurt Cobain, John Lennon, dan Dodhy Kangen Band. Dia melewati hari-harinya dengan mencari inspirasi untuk lagunya, bersemangat ingin sampai ke rumah untuk menuliskan lirik dan mencari nadanya, dan nge-twit soal impiannya itu diiringi dengan hastag berbau motivasi. 

Sampai akhirnya, doanya yang selalu ia panjatkan di timeline Twitter pun terkabul. Berkat ngaso di pinggir pantai dan menyaksikan orang yang melakukan percobaan bunuh diri, Jon diajak bergabung ke dalam band bernama The.... The Soronpksldhd. 

Salah, bangke! The Seronpnrbd yang bener. 

AARRGH! Maksudnya The Sepong. 

AARRRGH JINGEKS! Yang bener itu... The Soronprfbs.

Ya gitu. Nama bandnya emang aneh.

Nah, yang bunuh diri itu keyboardist-nya band itu. Dan kebetulan Jon bisa main keyboard. Yaudah deh, jadi rezekinya si Jon. Nah, band The Sepong, eh maksudnya band The Soronprfbs dikepalai oleh Frank (Michael Fassbender) yang dikepalai oleh benda kepalsuan. Yha, kepala palsu, terbuat dari paper mache. Tapi kejeniusan Frank dalam bermusik itu orisinil. Sebagai vokalis, leader, dan pencipta lagu di The Soronprfbs, Frank menciptakan musik yang nggak umum, rada nyeleneh, liriknya susah dimengerti. Asliiiiiiik keren banget.

Cara Frank memuaskan penonton.
Sumber: SINI
Musiknya memang aneh sih. Tapi aku suka. Lagu mereka yang judulnya Ginger Crouton, di mana itu pertama kalinya Jon bergabung, bikin aku geleng-geleng kepala sambil ketawa bingung. Kayak gimana ya... Ya gitu deh. Nyeleneh banget njir. Tapi lucuk-lucuk gemash! 

Musik mereka ditambah dengan gestur tubuhnya Frank saat nyanyi, ngingatin aku sama Kuburan Band, band kesukaan Nanda waktu SMP. Yha, di saat aku ngefans sama Lyla, Nanda ngefans sama band yang terkenal dengan lagu Lupa-Lupa Ingat-nya itu. Terutama sama Priya, ujung tombak alias vokalisnya. Sungguh, waktu itu Nanda bikin aku malu punya adek kayak dia. KOK SUKANYA SAMA VOKALIS BEDAKAN PUTIH SEREM GITU?!

Dan saat itu kami berdua gencar melakukan persaingan ketat sebagai Lylaku (sebutan buat fans Lyla) dan Kuncen Kuncin (sebutan buat fans Kuburan Band). Saling membanggakan band favorit masing-masing. Sungguh, rasa persaudaraan kami sangat kuat. 

KUAT RAHANGMU RENGAT!

Yhaaa jadi gitu, nyelenehnya sih yang bikin The Soronprfbs dan Kuburan Band itu mirip. Dua band itu sama-sama nggak takut buat tampil beda. Kuburan Band dengan penampilan mereka, The Soronprfbs dengan musik mereka. 

Frank sedang memimpin rapat paripurna
Sumber: SINI

Semakin lama bergabung, Jon semakin tau bahwa The Soronprfbs bukan cuma nyeleneh di musiknya, tapi juga di personilnya. Ada Frank yang jenius, punya jiwa kepemimpinan, tapi kadang suka emosi sendiri. Kadang bersahabat, kadang dingin. Suka menyendiri juga. Dan ya, paling anehnya itu sih. Pake kepala palsu selama bertahun-tahun. Nggak pernah dilepas. 

Ada Don (Scoot McNairy), sang manajer band yang akrab sama Jon sekaligus nularin rasa kagumnya akan Frank ke Jon. Trus ada Clara (Maggie Gyllenhaal), si cewek galak tapi jadi guardian angel-nya Frank. Ngemong dan ngontrol emosinya Frank gitu. Ada juga Nana (Carla Azar) dan Baraque (Francois Civil), yang karakternya nggak terlalu keliatan kuat tapi kebenciannya sama kehadiran Jon sebagai personil baru terlihat jelas. 

Btw kasihan Jon sih. Dia dianggap remeh sama para personil lain, terutama sama Clara. Padahal Frank nyaman-nyaman aja sama Jon, bahkan di awal bilang kalau Jon itu enak dipandang. Tapi bagi Clara, lelaki favorit Frank itu benar-benar jadi hegemoni yang diremehkan.


Frank: "Pas! Cocok sama saya!"
Sumber: SINI

Selain diremehkan, Jon juga kayak nggak punya hak berkarya dalam band itu. Terlihat dari scene Jon memperdengarkan lagu ciptaannya ke Frank, tapi lagu itu ‘direcokin’ sama Frank dan Clara. Jon kesal, dan dari kekesalannya itu bikin aku mikir kalau sebenarnya dia pengen teriak, 

“Musikku otoritasku!”

Tapi kekaguman Jon dengan The Soronpfbrs nggak pudar. Semakin lama bergabung, Jon semakin ngerasa The Soronprfbs harus lebih dikenal. Jon ingin melejitkan potensi mereka. Jon pengen mereka digaungkan oleh banyak orang. Jon pengen satu semesta tau kehebatan mereka.

Maka, Jon pun diam-diam merekam keseharian mereka selama pembuatan album. Tanpa sepengetahuan Frank dkk. Tanpa minta izin bahkan tanpa melakukan disparitas terlebih dahulu. Dari fajar, senja, hingga purnama, Jon merekam aktivitas mereka, trus di-upload ke Youtube. Jon juga menceritakan detail tentang Frank, tentang The Soronprfbs, dan perasaannya menjadi personil band di blog pribadinya. Dan di Twitter juga tetep. Pokoknya Jon ini anak socmed banget. Jon sungguh bersimulakra di dunia maya dan di dunia nyata. Demi menjadi gaungan media massa yang termarjinalkan. 

BTW, AKU YANG BEGO INI JADI PUSING ANJIS NULIS PAKE KATA-KATA HEGEMONI DKK KAYAK CEWEK PINTER. PALA LANGSUNG TERASA RENGAT. HUHUHU. 

Oke lanjut. 

Scene di atas sempat ngingetin aku sama (maaf) Raditya Dika, penulis yang lagi gencar-gencarnya ngeluarin film tiap tahun. Beliau suka bikin vlog yang isinya tentang proses syuting film yang sedang digarapnya. Hmm benar-benar. Menurutku proses syuting itu baiknya nggak perlu ditunjukkan secara eksplisit kayak gitu. Entahlah, menurutku jadinya malah nggak bikin penasaran sama filmnya. 

Tapi sama seperti Raditya Dika yang jadinya berhasil mendulang lebih dari 1 juta penonton buat filmnya karena suka nge-vlog, Jon pun berhasil mendapatkan apa yang dia mau karena aksi merekam diam-diamnya itu. The Soronprfbs pun diundang meramaikan festival musik di Amerika. Tapi hal itu bukan jadi kabar gembira bagi Clara, Nana, dan Baraque. Dari situlah aura filmnya yang fun berubah jadi gloomy

Dan ending-nya.... bikin aku nangis prihatin sekaligus terharu. Pengen meluk Frank rasanya, pas ngeliat dia nyanyiin lagu I Love You All! Persahabatan antar personil kerasa banget. Sangat. Btw kalau mau dengerin I Love You All, baiknya dengerin yang versi film. Lebih emosional. Atau seenggaknya nonton dulu filmnya, baru dengerin lagunya itu. Bakal ngerasa apa yang dirasain sama Frank dkk sih menurutku.

Secara keseluruhan, I LOVE FRANK! Filmnya menyenangkan dengan banyak jokes black comedy yang bertebaran. Aku ngakak di beberapa adegan. Yaitu saat Frank menabur abu orang mati, dan saat Jon dan Clara menjadi ‘akrab.’ Bikin Darma yang udah nonton dan suka sama Clara, jadi bilang kalau Clara itu jutek tapi mauan juga. 

Di sebelah Frank itu bukan DJ Butterfly btw.
Sumber: SINI

Frank adalah tipikal film favoritku. Fun tapi sebenarnya kelam. Ada ngomongin soal gangguan jiwa juga. SUKAAA! Trus film besutan Lenny Abrahamson ini menurutku punya aura yang sama kayak Little Miss Sunshine. Dan pas ngeliat Jon, aku kayak ngerasain aura Paul Dano. Aura waktu Paul Dano meranin Hank di Swiss Army Man. Dari kikuknya dia sampe jambangnya ngingatin aku sama pacar Zoe Kazan itu. Atau kayak ngeliat Rupert Grint waktu di music video Lego House-Ed Sheeran, di mana Ed Sheeran sangat amat narsis sekali.

Trus aku ngerasa kalau kata “Dingleberries!” yang ada di novel An Abundance of Katherines punya ‘saudara.’ Dingleberries adalah kata yang biasa diucapkan dua tokoh di novel itu, yaitu Colin dan Hassan, saat salah satu dari mereka ada yang berkata kelewatan. Dan aku nemuin kata yang punya fungsi hampir sama dengan “Dingleberries!” Yaitu “Chincilla!” Kata yang ada di film Frank. Kata yang bisa kita ucapkan pas ada sesuatu yang membuat emosi, ada perlakuan melewati batas wajar. 

Tapi kepuasan yang Frank kasih ke aku melewati batas wajar. Frank bicara akan banyak hal. Sarat akan komedi satir, komedi yang lagi getol-getolnya diomongin Yogaeskrim di grup Whatsapp WIRDY. Frank menyindir tentang industri musik sekarang yang lebih mentingin dapatin ketenaran dan receh daripada dapatin kepuasan hati dan kepuasaan penikmat musik. Frank menyindir tentang sifat ambisius dalam mengejar impian. Ambisius nggak selamanya bagus, karena bisa membutakan kita akan kelemahan kita yang harusnya diperbaiki. Frank juga menyindir penggunaan media sosial. 

Jadi, yang nggak suka film tentang musik, tetap bisa menikmati Frank dengan engas. 

Dan menurutku. Frank juga bisa jadi sindiran untuk para penulis, -okay, aku persempit aja jadi blogger- jadi sindiran untuk para blogger yang menulis karena cuma pengen dapat receh sebanyak-banyaknya. Atau yang menulis karena cuma pengen digandrungi lawan jenis, seperti yang pernah di-twit Yogaeksrim. Atau menulis cuma karena  pengen dianggap wah-pinter-banget, pengen dianggap seleb secara instan, pengen.....

Huufh.

Dan yha, Frank ngebuat aku mikir keras sampe kepala rengat. Lalu menghasilkan kesimpulan, kalau berkarya karena suka ngelakuinnya sama berkarya karena pengen terkenal itu beda sensasinya. Beda banget. Nulis dengan sepenuh hati, nulis apa yang disukai, tanpa mengharap pujian pembaca, itu beda rasanya dengan nulis yang bikin tertuntut buat nulis yang disukai pembaca. 

Sekilas Frank kayak ondel-ondel ya?
Sumber: SINI
Frank seolah ngasih tau, kalau nggak semua orang yang berkarya itu butuh ketenaran. Frank berkarya bukan karena niat terkenal, bukan karena iseng aja juga kayak Awkarin di lagu Bad. Tapi karena cintanya yang besar pada musik. Dia butuh pendengar pun, bukan karena pengen dielu-elukan, tapi karena butuh teman yang bisa memberi masukan. Frank tulus dalam berkarya. Frank hanya butuh hasrat bermusiknya tersalurkan.

Sama kayak blogger yang tulus. Blogger yang tulus memang keliatannya ‘nggak peduli’ apakah tulisannya bisa disukai apa enggak, tapi dia juga butuh pembaca. Karena ya itu tadi. Butuh teman buat ngasih masukan dan kritik untuk berkembang menjadi lebih baik. 

Dengan dunia blog yang semakin hari semakin sepi ini, aku berharap para blogger tulus tetap bertahan. Tetaplah menulis, gengs! Jangan mencederai idealisme blogger sejati! FRANK LOVE YOU ALL!!!!!!!!

Dan semoga, Frank love me too. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 04 Februari 2017

Nge-BF Bareng Heru Arya – LOVE Itu Tentang Cinta dan Diksi

Februari. Bulan yang rasanya pas buat ngebaperin film bertema cinta. Rasanya juga pas kalau film yang film yang dibaperin itu adalah film LOVE.

Saling menghangatkan tubuh. Sumber: SINI
Selain karena judulnya udah bawa-bawa kata cinta dalam bahasa Inggris, film keluaran tahun 2015 ini juga punya gaya cinta yang berlimpah. Eh ralat, gaya bercinta yang melimpah. Mengingat kalau film ini adalah film besutan om-om mesum asal Prancis bernama Gaspar Noe, LOVE dijamin bakal sepanas atau bahkan lebih panas dari film karya Om Gaspar sebelumnya yaitu Irreversible dan Enter The Void.

Fix. Nge-BF LOVE seru nih.

Dan orang yang pas buat diajak nge-BF kali ini adalah...... Heru Arya! Atau yang biasa dikenal di dunia blogger sebagai Pangeran Wortel yang punya kerajaan di tulisanwortel.com. Dia adalah seorang blogger personal yang kini banting setir menjadi blogger tutorial.

📊 Pangeran Wortel
Sumber: akun Twitter Heru Arya 
Alasan memilih LOVE dan Pange (begitu biasa aku memanggilnya) sebagai satu paket dalam nge-BF kali ini karena Pange yang memperkenalkan aku dengan LOVE.


Trus karena aku nggak kuat nontonnya, akhirnya aku mutusin buat nge-BF ini sama Pange. Kayaknya Pange ini suka banget sama LOVE. Terlihat dari ini,


Ya memang seru sih. Love bercerita tentang Murphy (Karl Gusman) yang mengingat masa-masa indah dan pedih bersama mantannya, Electra (Aomi Muyock). Dia dan Electra saling mencintai, tapi sayangnya hubungan mereka harus berakhir karena Murphy menghamili Omi (Klara Kristin). Meski kejadian putus itu terjadi dua tahun lalu, tapi Murphy belum bisa melupakan Electra. Gairahnya akan Electra sangat besar, bahkan lebih besar daripada gairahnya akan mengejar impiannya sebagai sutradara.

Pandangan pertama, awal aku berjumpa~
Sumber: SINI
Kalau kata Pange sih, "Jelas ini film keren!"

Nah, keseruan selanjutnya dari LOVE ini bisa disimak dari BF-ku sama Pange berikut ini.


Icha: Pange, ingat waktu aku ngajakin nge-BF beberapa waktu lalu? Ayok nge-BF. Pange bisanya kapan?

Heru: Ingat. Nanti selesai maghrib ya, Cha. Ini mau ke masjid dulu.

Icha: Oke deh, Pange. Sholat dulu. Trus maksiat lagi. Bahas film LOVE.

*20 menit kemudian*

Heru:  Baru pulang ini. Mau mulai maksiat sekarang atau nanti?

Icha: Hahaha! Yaudah sekarang, ya. Pertanyaan pertama.... Pange pertama kali kenal film LOVE dari mana?

Heru: Pertama kenal dari temen yang kostannya punya wifi gratis 24 jam. Jadi, dia bisa donlot film aja sesukanya. Dan film LOVE salah satunya.

Icha: Okay. Trus alasan mau nonton itu apa, Pange?

Heru: Untuk alasan sendiri karena lihat opening-nya yang enam detik pertama aja, udah bikin pengen copy...

Icha: Jadi gitu ya.... Trus Pange udah berapa kali nonton itu? Dan ada tokoh favorit nggak?

Heru: Nontonnya dua kali. Pertama waktu baru dapet. Kedua waktu lagi suntuk kemaren. Tokoh favorit itu tokoh utamanya, Cha. Si cowoknya. Namanya siapa, Cha? Lupa nih...

Icha: Nama cowoknya siapa ya?

Heru: Entar. Pange tonton lagilah. Hahahaha.

Icha: Jadi Pange mau nonton lagi demi tau nama karakter cowoknya? Santap jiwa!

Heru: Iya. Hahaha. Udah nonton, Cha. Murphy namanya.

Ini yang namanya Murphy. Rambutnya kayak Robby Haryanto btw.
Sumber: SINI
Icha: Gils! Trus pas pertama nonton, nontonnya runut nggak, Pange? Waktu aku nontonnya pertama kali, aku skip-skip gitu masa. Dan adegan seksnya hampir 10 menit sekali njir. Bruakakakakaka.

Heru: Runut, Cha. Karena kebetulan waktu itu Pange udah tinggal di rumah sendiri.

Icha: YA AMPUUUN PANGE KUAT BANGET NONTON ITU! AKU AJA NONTON PERTAMA KALI NGGAK KUAT SAMA ADEGAN TRISAMNYA. TRUS JUGA NGGAK KUAT SAMA EKSPRESI DATARNYA MEREKA YANG TANPA RASA PAS NGOBROL BIASA TAPI BERGAIRAH BANGET PAS DI RANJAAAAANG.

Heru: Cha?

Icha: AKU NGGAK KUAAAT. NGGAK ADA EMOSI YANG AKU DAPATKAN PAS NONTON ITU SELAIN ENGAAAAAAAAAS! PADAHAL AKU JUGA PENGEN KETAWA, SENYAM-SENYUM, BAHKAN NANGIS. MENGINGAT KALAU FILM ITU GENRENYA ROMANCE. SEENGGAKNYA MENGINGAT FILM ITU JUDULNYA PAKE KATA CINTAAAAA.

Heru: Hahahaha... Tapi alurnya bikin bingung. Soalnya maju mundur kan, ya.. Nonton pertama masih bingung ceritanya mau gimana dan serunya di mana. Tapi nonton kedua baru deh, bisa ngerti.

Icha: Nah iya! Alurnya maju mundur. Mungkin itu maksudnya menyesuaikan sama adegan di filmnya yang kebanyakan maju mundur melancarkan hentakan keras. Jadi biar ada kesan film ini ‘film.’ Kalau alurnya maju, ini film porno doang.

Heru: Betul, Cha. Kalau dibuat maju, nggak akan penasaran kenapa si Murphy ngeluh mulu sambil jalan-jalan di kamar. Terus dia nostalgia deh.

Icha: Huahahaha iya, nggak akan ada adegan pembuka sesensasional itu. Handjob dengan skill wahid njiiiir......

Heru: Hahahaha.

Icha: Trus apa alasan Pange favoritin Murphy?

Heru: Karena dia setia. Tapi keadaan (lebih tepatnya keenakan) yang membuat dia lupa bahwa pake pengaman pun tetep harus hati-hati.

Icha: Iya sih. Murphy itu sebenarnya lebih sayang sama Electra ya daripada sama Omi. Nikah sama Omi itu terpaksa aja kayaknya. Eh emang terpaksa sih karena hamil.

Heru:  Iya. Dan setelah puncaknya selesai, Murphy bilang yang kalau nggak salah, “Sobek. Kayaknya bocor, nih.” Pengen aja gitu jawab, “Makanya pake no drop... Pelapis anti bocor.”

Icha: BANGKE. LANGSUNG BAWAANNYA PENGEN NGEIKLAN GITU, YA.

Heru: Hahaha... Iya.  Dan padahal dia sayang banget sama mantannya. Kisah putusnya pun simple. Si Murphy jujur, Electra kaget, Murphy diludahin. Terus udahan. Bukti dia setia lagi, ketika dia pengen nemuin Electra di kostannya yang ternyata ada cowok lain, yang Murphy tau itu cowok pemakai narkoba. Meskipun udah diusir, dia tetep nunggu Electra sampe keluar dari kostnya. Soalnya gara-gara dia, Electra udah nggak pulang-pulang ke rumah.

Murphy memulai pengakuan dosa pada Electra.
Sumber: SINI

Icha: *nyimak*

Heru: Yaaa... Ini mungkin karena serba salah juga, sih.  Meskipun udah janji nggak akan pernah ninggalin, tapi si Electra juga salah, sih. Pake minta sensasi baru. Dasar!! Bikin gemes. Akhirnya kan malah dia sendiri yang ditinggalin.

Icha: Apakah Pange ngerasa related dengannya? Related dengan dia yang pecinta film? Dengan dia yang susah lupa sama si Electra? Mantannya itu? Atau gimana?

Heru: Kalau yang related sama hidup Pange itu setianya. Tapi gaya pacarannya jelas beda dong...

Icha: Okay. Perihal nonton runut dan sendirian, itu Pange leluasa untuk menggaungkan birahi dalam otoritas diri, ya.

Heru:  Bener banget, Cha... Pange kalau nonton film apapun, asalkan sendiri dan ada kopi ditambah martabak, nggak akan skip. Dan kalau nontonnya nggak sendiri, mungkin kitanya jadi serba salah. "Takut orang lain salah maksud."

(lihat kemunculan dialog yang tiba-tiba itu. Pangeran Heru Arya masih menggunakan ciri khas menulisnya bukan cuma di blognya, tapi juga saat nge-BF gini. Contoh blogger yang konsisten)

Icha: Jadi Pange suka nonton sendirian? Hanya bertemankan martabak dan kopi? Sama sih kayak aku. Aku juga suka nonton sendirian. Tapi nggak bertemankan apa-apa. Huhuhu.

Heru: Hehehe... Lebih tepatnya biar nggak risih aja momennya. Dan karena Pange introvert, Cha. Susah bergaul. Meskipun banyak temen yang kenal. Tapi lebih seneng sendiri. Tenang dan nyaman aja rasanya.

Tapi LOVE ini mungkin benar-benar kisah percintaan yang sesungguhnya. Cuma untuk di negara barat sana. Gaya pacaran mereka memang begitu. Jadi, sebagai orang timur ya kalo mau memahami isi ceritanya harus siap dengan adegan-adegannya yang tanpa sensor sedetik pun.

Icha: Nah. Itu dia yang dimaksudkan sama Om Gaspar Noe selaku sutradara film ini. Beliau pengen membawa kisah percintaan yang pada dasarnya. Yang berlandaskan gairah. Tapi berlaku di barat sana gitu yak. Dan adegan-adegannya.... Eksplisit bangeeeeeeet. Semuanya keliatan. Bahkan pas Murphy-nya penetrasi pun bener-bener keliatan.

Heru: Bener banget, Cha. Love menurut yang Pange tonton di LOVE ini bercerita tentang pengorbanan dan kesetiaan. Murphy karena saking sayangnya sama Electra, bahkan minta sensasi trisam yang jelas akan bikin kacau aja, Murphy sanggupin. Padahal Murphy juga tau dong, akibatnya dia pasti ketagihan sama punya Omi.. Tapi karena cinta itu buta tadi, dia pun menyanggupinya. Di situ sosok Murphy mau berkorban demi apapun asalkan Electra seneng. Meskipun selama nonton Pange pengen bisikin Electra, "Bego lu.”

Icha: Ngahahahaha. Aneh-aneh aja itu memang si Electra, ya.

Heru: Iya, Cha. Terus kesetiaannya Murphy tetap terlihat meskipun dia udah menikah dengan Omi. Pikirannya selalu ke Electra. Dan apalagi setelah ibu-nya Electra telpon kalo Electra nggak pulang-pulang, duh... Makin kacau deh...

Icha: Iya juga sih.

Heru: Tapi ada sisi baiknya yang bisa Pange ambil ketika Murphy nikah sama Omi. Kamarnya jadi rapi banget anjay....  Pange jadi pengen punya kamar serapi itu.

Icha: Oh iya ya? Ih sumpah Pange pemerhati filmnya banget! Aku aja nggak sadar.

Heru: Hahahaha. Dan serius, Pange jatuh cinta banget sama kamarnya si Murphy setelah menikah sama Omi.

Icha: Apa itu karena dia jarang ena-ena sama Omi makanya jadi rapi? Kalau dia nikah sama Electra, bisa aja kamarnya berantakan banget. Karena sering dipake buat diadakannya pencak silat. Silat di ranjang.

Heru: Bisa jadi. Bandingkan sama kamar Murphy sebelum dia menikah. Ancur!!!

Sesudah pencak silat di ranjang.
Sumber: SINI
Icha: Oh iya bener juga sih. Btw Pange pernah susah move on nggak kayak Murphy? Berapa lama?

Heru: Nggak pernah. Soalnya sering ditinggalin. Move on paling lama 1 minggu, Cha. Wajah yang tak tampan membuat Pange gampang kecewa karena jatuh cinta.

Icha: Wah, Pange orangnya bisa move on dalam tempo yang sesingkat-singkatnya! Kalau meminjam istilah dari Ilham, Pange nggak ngerasain gimana menyiksanya kerasukan kenangan. Eh tapi dulu Pange suka bawa-bawa jokes soal mantan. Nggak ada hubungannya ya sama ini?

Heru: Nggak ada. Jokes mantan emang seneng Pange pake. Pasalnya yang mutusin dan duain dulu, sekarang pada nge-chat nanya kabar dan pengen pada ngajak meetup gitulah. Lebih tepatnya pake jokes mantan sebagai pembalasan aja. Biar nyesel kalo pernah mainin perasaan gue, Cha. Tapi Pange bersyukur sekarang menemukan yang mau jadi partner hidup.

Icha: Wadaaaw! Pange punya pacar! Boleh nih kasih kisi-kisinya soal doi....

Heru: The end aja lah kalo bahas doi. Hahaha.

Icha: YAAAAAAAAH. Eh,  Pange selera ceweknya kayak gimana? Yang kayak Electra apa Omi?

Sesi ngobrol-ngobrol sebelum...
Sumber: SINI

Heru: Seleranya nggak keduanya, sih. Pas di luar kalem, di dalam hening sendiri ngeliat kelakuan mereka. Eh, maksudnya keduanya punya karakter sama aja di film ini. Cuman, beda kasih sayang aja.

Icha: Jadi... Pange lebih suka yang mana? Atau Pange punya tipe cewek idaman tersendiri?

Heru: Kalau ngeliat sisi luarnya si Electra (pas bareng di taman, cafe, kecuali di ranjang) lebih suka karakternya Electra. Sebenarnya kalau gue nggak terlalu milih, Cha. Yang penting, satu: Rahasia.

Icha: Anjay! Rahasia! Okeee!

Heru: Hahahahahaha.

Icha: Eh ngomong-ngomong rahasia.... Itu salah satu diksi andalan Pange. Pange sadar nggak sih, kalau Pange punya banyak diksi andalan? Aku mau bahas itu boleh, ya?

Heru: Diksi andalan? Banyak nggak sadar kayaknya. Soalnya kalau nulis ngalir aja, kayak permainan Electra sama Murphy.

Icha: Sungguh, Pange ini rendah hati sekali.... Ya kayak misalnya kata-kata Pange yang "Maaf untuk keputusan ini," "Pikirkan sendiri." dll. Itu banyak memberikan inspirasi.

Heru: Hahahaha... Inspirasi???? Dalam hal apa, Cha? Materi Pange pindah genre.

Icha: Menurutku Pange sama film LOVE itu sama. LOVE ngasih referensi gaya bercinta. Ada missionary, handjob, blowjob, doggy style, threesome, cow girl alias woman on top, restroom attendant, sampe bercinta dengan transgender. Kalau Pange, ngasih referensi kata-kata. Pange nggak ngerasa udah ngasih inspirasi?

Heru: Ya, ngerasa... Tapi nggak sampe sejauh itu, Cha. Itu soal gimana kita nyikapi keputusan dan gimana kitanya berani nggak, nerima resiko dari keputusan itu sendiri.

Icha: Oh. Padahal udah sampe jauh sih kalau menurut aku. Pange adalah produsen diksi yang oke punya.

Heru: Kalau Pange sih, seneng aja orang kalo punya tanggapan yang positif. Tapi Pange nggak pernah mikir bakalan sejauh ini. Niatnya cuman ingin berbagi.

Icha: Ohahahaha. Trus yang mengenai akun parodi itu.... tanggapan Pange bagaimana? Apakah akun-akun itu harus di-gangbang?

Heru: Kadang ngakak. Tapi ada yang bikin kurang nyaman. Karena lucu itu sama menghina beda tipis. Jadi, ada yang kadang menurut Pange tak patut dijadiin jokes, tapi ya gitulah. Mungkin udah nggak bisa nyari materi bagus. Jadi, yang nggak Pange suka nggak akan Pange respon. Karena mereka makin direspon, ya makin ngerasa kalo mereka bener.

Icha: Hmmm.... aku manggut-manggut sih ini. Yang bikin kadang ngakak itu yang bagian mana, Pange?

Heru: Ya akun orang lain yg diparodikan sewajarnya. Kalau akun gue sih, ya gitulah....

Icha: Akunku nggak diparodikan sewajarnya btw. Qucedila. Btw kalau aku pake diksi-diksi dari Pange, Pange kesel nggak sih?

Heru: Tergantung caranya.

Icha: Aku sering pake kata-kata dari Pange. Hehehe. Dan aku punya daftar diksi yang aku suka dari Pange, yaitu:

1. Maaf untuk keputusan ini
2. Pikirkan sendiri
3. Wajar, kalau manusia sepertimu sering dibenci orang lain
4. Kualat itu....
5. Jangan segampang itu menilai

Heru: Hahahahahahahahaha. Ntap!! Aku aja kaget pernah nulis itu.

Icha: HAHAHAHAHAHAHA. Itu memorable banget. Sebenarnya masih banyak. Tapi sejauh ini, 5 itu yang aku suka. Hehehe. Nah kalau ngomongin soal blog, menurut Pange, apakah kita harus punya gairah yang besar dalam menulis blog sebesar gairahnya Murphy?

Heru: Kembali ke tujuan aja, Cha. Tapi apapun itu jelas butuh gairah yang besar. Contoh kecil aja seperti makan. Kalo nggak bergairah, mau lauknya enak pun di mata kita biasa aja.

Icha: Setuju ini mah.

Heru: Begitulah gairah. Selalu punya kaitan sama tujuan. Makin besar tujuan, tentu gairahnya juga nggak boleh biasa-biasa aja.

Icha: Oh oke.... nah kembali ke LOVE lagi nih.  Soal scene, scene favorit Pange yang nggak biasa-biasa aja, yang mana?

Heru: Waktu Murphy ketemu Electra di kafe yang ada lukisan sungai gitulah... Saat di scene itu, mereka terlihat seperti duduk di hamparan sungai dengan burung bangau dan hijaunya rumput. Itu keren, sih pemilihan tempatnya... Sisanya favorit level 2 aja Cha. Karena 80% film ini isinya ya gitu. Maju mundur. Alurnya... Hehehe.

Bertatap-tatapan manjah.
Sumber: SINI
Icha: Waaah. Sungguh artistik, ya, scene kesukaan Pange. Terakhir, apa pesan moral dari film ini?

Heru: Pesan moralnya, LOVE mengajak kita menghargai pasangan dan harus bisa menjaganya yang baik supaya nggak kejadian seperti Murphy. Tapi kalo dari sisi yang sebenarnya, LOVE ngasih edukasi seks yangg banyak banget versinya... Yang sebelumnya nggak tau, jadi tau...

Icha: EDUKASI SEKS! Oh iya, apakah film ini worth-it buat ditonton?

Heru: Untuk yang di bawah 17 tahun, masih belum. Tapi, untuk di atas 17 tahun Pange sih, rekomendasiin banget film ini. Tapi satu pesan yang harus diinget. Nontonnya harus sendiri. Jangan berdua. Suasana akan runyam total. Percaya deh... Apalagi nonton sama pacar... Hem... Bangetlah...

Icha: Wkakakakaka. Iya ih. Bahaya banget kalau nonton sama pacar. Nggak konsen nontonnya ntar.

Heru: Iya... Takut tangan salah jalan.

Icha: Tangan salah jalan maksudnya Pange? Coba jelaskan! Aku terlalu polos.

Heru: Halah!!! Kalo Icha jelas lebih paham dari Pange.

Icha: Hahaha. Tayek rengat! Oh iya, Pange nggak berminat buat nonton film-filmnya Gaspar Noe yang lain? Macam Irreversible sama Enter The Void?

Heru: Minat, sih... Tapi belum download aja.

Icha: Oh gitu. Oke deh. Rasanya sampe sini aja nge-BF-nya kali ya.

Heru: Oke...

Icha: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membahas film yang penuh akan cinta kasih ini.

Heru: Sama-sama, Icha... Semoga kontennya makin keren, ya. Makasih lho udah diundang di rubriknya.

Icha: Makasih atas doanya btw~

Heru: Iya... Udah, Cha? Lemes nih....

Icha: Udahan yuk.

Jadi, orang yang berwibawa, konsisten, dan berdedikasi seperti Pangeran Wortel alias Heru Arya ini ternyata juga suka film bergairah macam LOVE. Sampe sekarang aku masih nggak nyangka, kalau aku ngebaperin film sepanas ini sama seorang Pangeran Wortel. Dan nggak nyangka, dari seorang penggemar LOVE, aku bisa belajar banyak diksi yang oke punya. Aku, dan para blogger lainnya.

Gitu...
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com