Selasa, 31 Januari 2017

Ditinggal Annie Hall, Alvy Singer Kena Kualat Itu...

Yak, dari judul postingan ini, aku kayak ngasih spoiler ke pembaca atas film Annie Hall. Film yang yang mau aku review baperin kali ini. Iya nggak sih? 

Tapi sebenarnya nggak juga sih. Karena di awal film, kita yang nonton udah dikasih tau sama Alvy Singer, pemeran utamanya, kalau dia pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita bernama Annie Hall namun sayangnya hubungan itu berakhir. 

Bukan poster official, tapi jadi favorit.
Sumber: SINI

Sekedar informasi, (tolong kata-kata tadi dibaca dengan logat sunda-nya Agia Aprilian), Annie Hall adalah film yang I love but hate at the same time, selain film (500) Days of Summer. 

Film horror. Sumber: SINI

Untuk (500) Days of Summer, kayaknya semua orang di dunia ini pada benci sekaligus cinta sama film bajingseng satu itu. Bahkan untuk mengungkapkan kebencian sekaligus kecintaannya, Yogaesce sampe menganggap (500) Days of Summer itu genre-nya bukan romantic-comedy, tapi thriller-slasher. Aku sendiri nganggap kalau (500) Days of Summer adalah film horror. Serem kan, kalau ada orang kayak Summer, yang ngedeketin kita, bilang suka sama kita, kitanya nyaman, trus nyoba berbagai gaya berdasarkan referensi film Jan Dara kayak missionary dan gaya anal (menyebut itu sebagai doggy style rasanya tidak estetik) bersama-sama. 

Eh pas kita tanya kita dan dia ini apa, dia ngejawab nggak ada apa-apa. Kita sedih, kita kecewa, kita pengen pergi aja, trus dengan polosnya dia bilang yang kira-kira kayak yang dibilang Summer, 

“Tom, don’t go! You’re still my bestfriend!”

MY BESTFRIEND, NJIR. BESTFRIEEEEEND. BESTFRIEND PALKONLU RENGAT!

Horror abis. 

Tapi aku juga cinta sama film ini. Ya karena ceritanya bagus, soundtrack-nya ciamik, dan para pemainnya keren. Film ini bikin aku jatuh cinta sama Joseph Gordon-Levitt, dan berimpian ingin punya suami bermata sipit seperti matanya. Agar mata sang suami jadi pemandangan yang indah saat kami berdua lagi pillowtalk. Halah. Cuman ya itu sih, aku kesal sekesal-kesalnya sama karakter Summer. 

Dan rasa kesalku itu aku rasain lagi pas nonton Annie Hall. 

Poster versi ini lucu, ya! Annie-nya kayak mau pergi ke mana gitu. Kayak mau kantor pos dulu.
Sumber: SINI 

Sebenarnya Alvy Singer itu bukan tokoh antagonis sih. Ya, kayak Summer juga yang sebenarnya bukan tokoh antagonis. Tapi gimana ya, ada hal-hal yang bikin aku kesal sama dia, sekesal aku sama Summer. 

Well, Annie Hall adalah film keluaran tahun 1977. Film lawas gitu. Tahun ’70-an bajingak! Agak ragu juga pas nontonnya karena takut ngerasa bosan atau ngerasa serem, karena siapa tau pemainnya udah ada yang meninggal. Kan serem njir, nonton film orang mati. Tapi mengingat fakta kalau aku tau film ini dari blognya Tommy, dan biasanya film-film dari blognya nggak pernah mengecewakan, yaudah... takis! Lagian Movfreak juga ada bilang kalau nonton Annie Hall itu seperti ‘berkenalan’ dengan kakak dari (500) Days of Summer. Sip sudah~ 

Annie Hall ini kayak film-filmnya Raditya Dika, di mana Raditya Dika jadi pemeran utama sekaligus jadi sutradara. Woody Allen sebagai sutradara di film ini sekaligus jadi pemeran utamanya. Eh enggak deng. Raditya Dika yang kayak Woody Allen. Secara Woody Allen adalah idolanya Raditya Dika. 

Film yang meraih untung sebesar $38.000.000 (bukan $3800. Ini Woody Allen, brother!) ini bercerita tentang Alvy Singer (Woody Allen) seorang  komika tukang curhat dan penggerutu yang mencoba menebak-nebak, menganalisa, dan mencari tau penyebab dia dan sang pacar, Annie Hall (diperankan oleh Diane Keaton aaaaah aku suka banget!) bisa berakhir. 

Lagi nontonin pasangan mesum di semak-semak.
Sumber: SINI
Nonton Annie Hall ini kayak lagi baca buku diary-nya Alvy. Mungkin kalau blognya Yoga Akbar difilmkan, bakal jadi film kayak gini kali, ya. Habisnya, Alvy di sini curhat banget. Tentunya dengan pembawaan yang nggak melankolis mengingat ini film romantic-comedy. Apalagi ada adegan-adegan di mana Alvy ngomong ke kamera, ngomong sama penonton, yang dikenal dengan istilah breaking the fourth wall. Hal itu ngingatin aku sama Deadpool yang juga cerewet dan sering ngomong ke kamera. 

Mau nge-vlog. Sumber: SINI
Yang bikin film ini kerasa curhatan banget adalah karena adegan demi adegannya benar-benar dari sudut pandangnya Alvy, sudut pandang cowok. Ya, mirip kayak Tom Hansen di (500) Days of Summer. Tapi kalau Tom ‘disetir’ sama narator gitu, sedangkan Alvy Singer menyetir dirinya sendiri. Ya gitu deh pokoknya. Trus alurnya maju mundur. Ada cerita waktu dia masih kecil, waktu dia sama istri pertamanya dia, waktu sama istri keduanya dia, dan tentu aja waktu sama Annie Hall. 

Filmnya tentang dia banget. Tentang dia yang kritis terhadap hal-hal sekitar, canggung (tapi anehnya dia supel kalau sama cewek), sinis terhadap kehidupan sehingga terobsesi dengan kematian, dan... langsung ke yang bikin aku kesal sama Alvy Singer-nya, ya. Alvy itu itu egois. Ada adegan di mana Annie Hall bilang ke Alvy, 

“Kamu tau sesuatu? Kamu sangat egois. Jika aku melewatkan terapiku, kamu hanya berpikir dampaknya padamu!”

Lelah mengantri tiket nonton film yang udah 1 juta penonton.
 Sumber: SINI
Oke, mungkin perasaan kesalku ke Alvy itu terlalu berlebihan. Lebih baik rasa kesal diganti jadi rasa nggak simpati sama Alvy. Sama seperti yang dirasain sama pemilik blog Movfreak pada Alvy. Ya, aku nggak ngerasa simpati sama Alvy yang kayak gitu. Aku lebih simpati sama Annie Hall. Annie adalah sosok wanita yang kikuk. Gugupan. Sedangkan Alvy adalah orang yang tenang bahkan bisa kritis sama apa yang diucapkan Annie. Terbukti dari beberapa adegan, contohnya di adegan Annie menyapa Alvy sehabis main tenis bareng. Kelihatan banget si Alvy-nya kritis, njir. 

Trus aku juga nggak simpati sama Alvy yang seolah membuat aturan yang harus dipatuhi selama Annie jadi pacarnya. Annie harus baca buku tentang kematian, Annie harus kuliah, Annie harus selalu mengalah di setiap adu mulut mereka. Ya, Annie dan Alvy selalu berantem. Dan sampe sekarang, aku masih bingung, maunya Alvy itu sebenarnya apa sih?

Diam tanpa kata. SUMBER: SINI
Yang juga bikin aku bingung, Alvy ini canggung pas berhubungan sama orang lain, tapi dia bisa dengan mudahnya berinteraksi dengan lawan jenis. Dia gercep dan engas. Pertemuan pertamanya dengan Allison, istri pertamanya, udah nunjukin kalau dia orangnya supel sama cewek. Nggak ada canggung-canggungnya. Begitu juga saat dia jalan bareng sama Annie. Dengan mudahnya dia minta cipok ke Annie. Modus bajingak. Skill wahid! Pas udah jadian, dia ngegombalin Annie mulu. 

Apa semua komika kayak gitu, ya? Supel dan mudah mengeluarkan kata-kata manis ke lawan jenis? Apa semua cowok pada dasarnya kayak gitu, ya?

Mengulas debat cagub DKI semalam. Sumber: SINI

Banyak yang bilang film Annie Hall ini adalah cerminan hidupnya Woody Allen, mengingat fakta kalau Woody Allen itu juga komika, sama kayak Alvy Singer. Ditambah lagi Diane Keaton, aktris yang memerankan karakter Annie Hall, punya nama belakang asli Hall dan dulu punya nama panggilan Annie. Mereka berdua juga pernah menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Sungguh sebuah hegemoni dunia yang tak diremehkan! Gaung yang termarjinalkan! 

Tapi entahlah, hal itu sebenarnya nggak terlalu penting sih. Yang penting filmnya baguuuuus! Waktu nonton pertama kali, aku ngerasa filmnya cukup bagus. Pas nonton kedua, bikin pengen bersenandung dengan lagu Anjay-nya Kemal dkk, trusnya liriknya, 

“Film Annie Hall dari Woody Alleeeeeeeen. Filmnya anjaaaaaaaaay!” 

Ya anjay aja. Filmnya cerdas. Mau bagaimanapun, karakter Alvy Singer adalah karakter yang unik. Itu adalah salah satu keunikan di film ini. Dan aku nggak bakal kesal sama Alvy kalau seandainya Woody Allen nggak memerankannya dengan sempurna. Karakternya Alvy kuat banget. 

Walaupun alurnya maju mundur, tapi nggak bikin yang nonton jadi pusing. Filmnya asik buat diikutin. Yang bikin aku cinta sama film Annie Hall jauh lebih banyak daripada yang bikin aku kesal sama Alvy. Filmnya banyak nampilin adegan-adegan absurd macam ‘roh’ Annie bisa keluar sendiri saat dia dan Alvy lagi ena-ena. Trus Alvy bisa ‘nontonin’ masa lalunya Annie, suara hati Alvy dan Annie yang bisa kita denger, kayak adegan di sinetron yang tokoh antagonis pas mau ngeracunin tokoh protagonis. Unik pokoknya!

Nah, penyebab utama yang bikin aku jatuh cinta sama Annie Hall, sebenarnya sih karakternya Annie Hall-nya itu sendiri. Dan aku baru ngeh kalau Diane Keaton itu main di The Big Wedding. Wadefak! Udah tua aja njir! Umur 71 tahun!

Eyang Putri. Sumber: SINI

Ya, walaupun sebenarnya Annie Hall berpenampilan nggak secantik dan seimut Summer Finn. Annie Hall bukan tipe cewek cantiiiiik banget. Rambutnya berantakan, minderan, bahasa tubuhnya kaku, dan dia adalah pengendara mobil yang buruk sampe bikin Alvy sempat takut naik mobil sama dia. Tapi Annie Hall itu unik, eksentrik, dan wajahnya ekspresif. Kepribadian yang bisa bikin aku naksir berat sama seorang cewek, kalau aku jadi cowok. Entahlah, bawaannya nyaman aja kalau ngobrol sama cewek kayak Annie Hall. Diajak ngobrol aja ena, apalagi diajak ngent.... 

Jadi duta shampo lain. Sumber: SINI

Suka sama style-nya dia juga! Baju kegedeaaan! AAAAAAK! Hidup retro!

Boyish abis. Sukaaak! Sumber: SINI
Dan yang aku suka lagi, Annie berubah menjadi yang lebih baik setelah putus dari Alvy. Dia yang minderan dan panikan, berubah menjadi cewek yang lebih mandiri dan percaya diri. Kalau di (500) Days of Summer, Tom Hansen-nya yang berubah jadi lebih baik. Nah kalau ini, Annie Hall-nya yang berubah gitu. 

Sedangkan Alvy, tetap jadi si penggerutu. Tetap bikin nggak ngerti maunya dia itu sebenarnya apa. Dia udah punya Annie Hall yang baik, tapi dia malah.... 

Ada satu adegan di mana nampilin dialog Alvy yang, 

“Banyak wanita cantik di sana. Asiknya bisa menggoda banyak wanita.” 

KAN BAJINGAK YA. DASAR ALVY! 

Tapi walaupun gitu, aku nggak sampe benci sih sama Alvy Singer. Nggak sampe memaki-maki dia juga. Pas dia nggak mendapatkan Annie kembali padahal dia udah berusaha keras, aku bukannya ketawa bahagia selayaknya orang yang senang kalau musuhnya menderita, melainkan cuma bilang, 

“Kualat itu....”

Sebenarnya itu juga bukan kualat sih. Ya karena mereka nggak ditakdirkan buat bersama aja. Sesederhana itu. Lagian, Alvy nggak jahat kok. Cuman ya itu, membingungkan. 

Btw, Annie Hall adalah film komedi romantis yang santap jiwa! Walaupun tokoh utamanya bukan anak remaja, tapi menurutku film ini masih related sama generasi muda. Bukan film yang merusak generasi muda kok. Tapi membuat generasi muda sadar kalau cinta itu... aneh. Dan walaupun ini film komedi romantis, aku nggak ketawa ngakak pas nontonnya. Mungkin karena banyak jokes yang nggak aku paham. Aku mah pahamnya sama dirty jokes doang. Huhuhu.

Atau mungkin sebenarnya lucunya ya ini: saat Annie dan Alvy saling mengikat cinta mereka kelewat erat, mereka banyak berantemnya. Begitu mereka melepaskan ikatan itu, mereka bisa melebur dan ketawa bareng lagi. Itu menurutku aneh, bikin bertanya “Kenapa bisa gitu?” dan... lucu. Bikin ketawa miris.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 25 Januari 2017

Sympathy For Lady Ira Nokia

Selain terpana sama czech casting yang kurang lebih sama kayak fake taxi (jangan gugling dua-duanya please), aku juga terpana sama kenyataan bahwa Oldboy, film bajingak favoritku dari Korea, ternyata punya dua ‘saudara.’ Oldboy bukan anak tunggal yang lahir dari Park Chan-Wook atas dasar nafsu birahi memfilmkan pembalasan dendam. Tapi Oldboy adalah anak kedua yang lahir setelah film Sympathy For Mr. Vengeance dan Sympathy For Lady Vengeance.

Vengeance Trilogy!
Sumber: SINI
Lahirnya mereka nggak berbarengan kayak film omnibus (film yang berisi beberapa film pendek/segmen di dalamnya dengan jalinan cerita yang berbeda, sutradara dan pemain yang berbeda, tapi memiliki satu benang merah, misalnya kesamaan genre) macam 4bia dan Rectoverso, tapi berurutan selang beberapa tahun. Dan sebenarnya juga dibilang cuma pseudo-(bukan sebenarnya) trilogy karena ceritanya nggak saling berkaitan satu sama lain. Tapi mengusung tema yang sama. Ya itu tadi, tema balas dendam.

Kakak beradik. Sumber: SINI
Dari ketiganya itu, yang belum aku tonton yaitu si kakak pertama, Sympathy For Mr. Vengeance keluaran tahun 2002. Aku baru nonton Oldboy keluaran 2003, yang bikin aku kangen mulu jadinya pengen ketemu terus dengan nontonin berkali-kali. Dan nonton Sympathy For Lady Vengeance keluaran tahun 2005, karena nggak sengaja ngedenger soundtrack-nya. Gils keren banget njir! Lebih keren dari soundtrack-nya Oldboy! Dari soundtrack-nya, soundtrack-nya, ku jatuh cinta! Ku padahal belum nonton filmnya!

Tipe kesukaan Yoga. Cemataan. 
Sumber: SINI

Karena dibikin eargasm selama berhari-hari, aku mutusin buat nonton filmnya. Dan ternyata…..

Sympathy For Lady Vengeance (atau judul lainnya, Lady Vengeance) bercerita tentang narapidana wanita bernama Lee Geum Ja (Lee Young-Ae). Ia baru keluar dari penjara setelah mendekam selama 13 tahun atas kasus penculikan dan pembunuhan anak di bawah umur belum siap tempur bernama Won Mo. Kasusnya menghebohkan layaknya kasus sianida Jesssica-Mirna. Umurnya waktu itu masih 19 tahun. Ya ampun. Umur segitu aku masih gila-gilanya nonton serial Hormones. Lah dia udah masuk tivi aja, njir. Udah terkenal.

Sumber: SINI

Trus Geum-Ja ini juga cantik. Mukanya putih, bersih, dan bercahaya kayak pake Fair and Lovely pencerah harian multi vitamin. Mukanya yang mirip malaikat juga diiringi dengan kelakuannya yang kayak malaikat. Selama di penjara, Geum Ja jadi anak famous. Ngehits sebagai Geum-Ja yang baik hatinya. Kerjaannya ngebantu para narapidana di situ.

Mulai dari ngebantu nuntunin jalan narapidana yang udah tua, nyuapin makan, ngipasin pas tidur, merawat narapidana yang jadi beban para narapidana di situ, dan membantu temannya yang sepasang suami istri. 

Radit dan Jani wannabe.
Sumber: SINI

Geum-Ja lagi nyuapin Oprah Winfrey. Eh.
Sumber: SINI
Oh iya, masih ada lagi. Membantu pelaku pencabulan yang berada di bawah tekanan ‘daerah bawah’. Trus juga memberi nasihat pada narapidana pelacur kata. yang nasihatnya kurang lebih kayak isi tausiyah Mamah Dedeh di Mamah dan Aa Beraksi, episode Aku Dekat Allah pun Dekat. 

Nggak punya sayap. Tapi mirip malaikat.
Sumber: SINI

Tapi sebenarnya Geum-Ja itu nggak salah. Adalah Mr. Baek (Choi Min-Sik) yang harusnya dipenjara atas kasus penculikan dan pembunuhan itu. Hal itu jadi ngingatin aku sama dua film, yaitu The Shawshank Redemption dan The Hunt. Geum-Ja nggak bersalah tapi masuk penjara, itu mirip sama Andy Dufresne-nya The Shawshank Redemption. Dan Mr. Baek itu kayak Lucas-nya The Hunt, di mana tokoh utamanya itu guru TK juga. Itu aja sih miripnya.


Bukan Kak Seto. Sumber: SINI


Nah, jadi begitu Geum-Ja keluar dari penjara, dia melancarkan serangan balas dendamnya ke Mr. Baek. Nggak sendirian, tapi dengan bantuan teman-teman narapidananya. Melancarkan serangan balas dendam yang nggak biasa.

Bersolek setelah keluar dari penjara. 
Sumber: SINI

Dan mungkin jadi hal yang nggak biasa, kalau aku bilang aku lebih suka film ini daripada Oldboy. Yha! Katanya film ini yang paling jelek di antara tiga film dari Vengeance Trilogy. Katanya kurang sadis, twist-nya nggak bikin shock, alurnya bikin pusing, kebanyakan karakter, adegan seksnya kurang hot. Tapi enggak menurutku. Aku suka film ini! Emang dasarnya AB kali ya. Sukain hal yang nggak disukai banyak orang.

Unsur dramanya katanya terlalu kental. Hal itu terbukti sih. Aku udah dua kali nonton tapi masih nangis emosional pas di salah satu scene. Sisi keibuanku (yang nggak seberapa ini) mendadak muncul. Ya mau gimana. Namanya juga yang meranin itu cewek. Harus lebih mellow daripada yang meranin itu cowok. Dan film ini bagiku menyeruakkan ‘aroma daerah kewanitaan’. 

Eh maksudnya gini, awalnya kita udah disuguhin opening credits yang menurutku kayak lagi ngeliat iklan Sumber Ayu Whitening-nya Artika Sari Devi. Ada warna putih dan warna merah. Seterusnya, filmnya semakin wanita banget. Bukan cewek banget, ya. 

Alasan lainnya yang bikin film ini jadi wanita banget, yaitu karena muatan artistiknya banyak. Filmnya jadi indah, megah, dan anggun. Mungkin ibaratnya Oldboy itu Whiplash dan Lady Vengeance itu La La Land. Ya, Whiplash punya cerita yang kuat, sama kayak Oldboy. Ending-nya juga nyesek. Beda dengan La la Land yang punya cerita biasa aja dibandingkan sama Whiplash. Tapi… dari segi sinematografi dan soundtrack, La La Land dan Lady Vengeance jadi juaranya.

Mengheningkan cipta... MULAI!
Sumber: SINI
Selain itu, ada adegan yang nyisipin black comedy. Bikin aku ngakak padahal itu adegan kejam gitu. Lucunya lagi rata-rata yang main di Lady Vengeance ini, yang main juga di Oldboy. Jadi semacam reuni pemain Oldboy gitu. Lucu juga pas ngeliat Choi Min-Sik yang di Oldboy meranin karakter protagonis, lah di Lady Vengeance jadi antagonis. 

Jadi coverboy dan covergirl. Sumber: SINI
Trus banyak adegan sederhana yang nggak jadi sederhana, layaknya suasana hati jadi nggak sesederhana biasanya cuma karena hal sepele (sepele palkonlu rengat!) yaitu datang bulan. Adegan-adegan di film ini pada bikin mikir, “Ih, keren banget! Kok kepikiran, ya?” Contohnya pas adegan Geum-Ja menerjemahkan pesan dari anak perempuan bernama Jenny. Itu sederhana tapi jadinya wow banget. Apalagi ditambah dengan soundtrack-nya yang klasik dan megah. Yang paling aku suka itu Sympathy For Lady Vengeance, A Witch, sama Mareta No'm Faces Plorar. Indah di telinga.

Adegan yang memunculkan sisi keibuan.
Sumber: SINI

Trus banyak flashback dan karakter itu sempat bikin bingung sih. Alurnya maju-mundur. Tapi itu yang bikin satu persatu kisah hidup Lee Geum-Ja terungkap. Seru buat diikutin. Para pemainnya juga nggak ada yang jelek aktingnya. Pada total semua memerankan karakternya. 

Dan yang paling aku suka, tokoh utamanya! Geum-Ja mendulang lebih banyak simpati daripada tokoh utama di Oldboy. Geum-Ja terlihat lebih realistis dan universal dibandingkan Oh Dae-Su. Dan kita biasanya lebih bersimpati pada karakter yang lebih realistis kan? Meskipun ngedrama gitu. Si baik jadi jahat karena dendam.

Bukan Chef Marinka.
Sumber: SINI
Cuman aku nggak fokus ke balas dendamnya, melainkan ke kebaikan yang dilakuin Geum-Ja. Kebaikan yang menurutku menimbulkan dua persepsi. Bikin kita bingung. Dia baik itu, apa karena memang baik atau karena supaya ntar dibantuin pas keluar dari penjara? 

Tapi aku memilih persepsi pertama. Geum-Ja itu sosok wanita yang feminin, dulunya innocent, anggun, religius, dan keibuan. Geum-Ja menolong mereka dengan tulus. Sama kayak Andy Dufresne yang menolong narapidana dengan tulus dan cerdas. 

Sosok Lee-Geum Ja berhasil ngedapatin simpati yang besar bukan cuma dari teman-temannya, tapi juga dari kita sebagai penonton. Jadi, kita seolah memaklumi upaya balas dendamnya dia. Atau lebih tepatnya, mereka. Karena bukan cuma Geum-Ja yang punya dendam terhadap Mr. Baek, tapi banyak. Kita seolah udah dibuat berpihak padanya dari awal. Sehingga dengan yakin mikir kalau kejahatan harus dibayar dengan kejahatan. Seperti yang dibahas di SINI.

Lagian, siapa yang nggak ngerasa simpati Andy Dufresne, apalagi sama Andy Dufresne versi keibuan?

Siapa yang nggak ngerasa simpati sama orang baik? Apalagi orang sebaik Kak Ira. Keibuan dan keanggunan Geum-Ja sontak ngingatin aku sama kakak sepupuku itu.


Sumpah. Kak Ira itu orang baik. Sudah banyak kebaikan yang dia lakuin ke aku. Banyak. Dia orang yang selalu aku repotkan, dari hal besar yang menyangkut soal aku-masih-kekanak-kanakan-nggak-bisa-ngurus-diri-sendiri, soal aku-susah-makan, bahkan dalam hal kecil kayak pas aku nanya siapa-tuh-nama-artis-yang-bla-bla. Dengan sigap dia langsung gugling tanpa aku minta. Dia pendengar yang baik. Dia selalu berhasil nenangin aku yang panikan. Dia punya rasa peduli yang tinggi. Dia selalu bisa diandalkan. Dia nggak marah dan malah ngakak pas nama kontaknya di hapeku itu tertulis 'Kak Ira Nokia.' Dieditin begini sama anak WWF pun dia nggak marah.

Iklan layanan masyarakat. 
Karya: Yoga deh kayaknya. Lupa.

Foto buku nikah. 
Karya: Uda.

Yang jelas, dia merepotkan dirinya demi aku. Demi banyak orang di sekelilingnya. 

Jejak kebersamaan aku dan Kak Ira. Dibikin dua tahun lalu.

Udah banyak orang yang dia baik-hati-in. Dia selalu ada buat Kak Indra yang 'ditelantarkan sementara' alias ditinggal kerja sama pacarnya. Dia udah kayak jadi induknya Max, kalau lagi perlu apa-apa, Max datang ke Kak Ira. Dia selalu ada buat....

Sekarang Kak Ira lagi dalam masa-masa yang bisa dibilang lumayan berat. Mamanya lagi sakit dan dia lagi jadi jobseeker. Tapi Kak Ira nggak berubah jadi orang yang sendu. Kak Ira tetap ceria dan berwibawa kayak biasanya. 

Orang-orang baik hati seperti Kak Ira, menurutku mendulang banyak simpati dan doa. Pasti banyak yang ngedoain orang-orang baik. Bahkan nggak cuma ngedoain, tapi juga ngebantuin. Aku sendiri ngerasa belum ngebantuin Kak Ira apa-apa. Untuk saat ini aku baru bisa berdoa, semoga Kak Ira bisa ngelewatin semua cobaan. Semoga Kak Ira selalu berbahagia. Semoga Kak Ira mendapatkan jodoh yang baik. Entah yang kayak gimana, yang jelas jangan kayak Gemini bajingak gini,



He he he.

Oke. Serius. Jadi, Lady Vengeance adalah film yang menurutku nggak bisa disukai semua kalangan. Khususnya kalangan yang nonton film buat mencari hiburan. Mencari refleks tawa. Kecuali kalau darah-darah dan muatan artistik yang banyak itu bisa dibilang hiburan. Lady Vengeance ditujukan buat orang yang ingin menikmati karya seni.

Sama kayak Kak Ira. Orang baik satu itu bukan ditujukan untuk orang yang sekedar menjadikannya hiburan. Orang baik satu itu didapatkan untuk dihargai dan diapresiasi, dan dijaga layaknya karya seni berharga. Aku nggak rela Kak Ira dijahatin. Sama siapapun. 

So, terima kasih telah menjadi orang yang baik, Kak Ira Nokia.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 16 Januari 2017

Nge-BF Bareng Haw: Eksploitasi Hubungan di The Mermaid

Dengan mantap, film komedi asal Hongkong berjudul The Mermaid, jadi film yang aku BF (Baperin Film)-in kali ini. 

Lesung pipinya! Sumber: Google Image

Dan seperti biasa, aku nggak sendirian layaknya onani, tapi berdua. Bareng orang yang ngenalin aku sama The Mermaid, yaitu Hawadis, atau yang biasa dipanggil Haw. Pemilik blog howhaw.com. 

Berdasarkan pendapat Rey, mulai sekarang aku bakal pajang foto teman nge-BF-ku.
Nah, ini fotonya Haw.
Sumber: Instagram
Sudah lama aku kagum sekaligus kesal sama blogger asal Kalimantan Barat ini. Kagum, karena dia bisa menjelaskan teori fisika (yang dia sebut V-sika) dengan sesederhana mungkin, lalu mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari bahkan ke soal percintaan di blognya.

Trus kalau dipikir-pikir, ternyata tulisan-tulisan review baperku terinspirasi sama tulisan V-sika-nya Haw. Melemaskan hal yang biasanya 'kaku.' Ngomongin fisika itu kaku. Ngomongin film juga kaku. Dua tulisan itu kayak punya pembacanya sendiri gitu. Tapi dia mencoba menulis soal fisika tapi disederhanain dan jadinya merakyat dengan ngaitin sama soal percintaan. Aku pun nyoba buat ngelakuin kayak dia.

Kesalnya sama Haw..... DIA INI MAKANNYA APA SIK? KOK DIA BISA NULIS SEKEREN ITU DI BLOGNYA? 

Dan kekesalanku makin parah, pas aku ajak ngebaperin The Mermaid ini.

The Mermaid bercerita tentang Liu Xian (Deng Chao), seorang pebisnis muda sukses layaknya Christian Grey-nya Fifty Shades of Grey, yang memenangkan lelang atas suaka alam bernama Teluk Hijau. 

Mr. Grey dari Hongkong!
Sumber: Google Image

Bersama partner perempuannya yang dada ngondoynya pengen menyaingi ngondoynya dada DJ Butterfly, Liu berencana mereklamasi tempat itu. Memasang sonar. Mengganggu habitat hewan laut, termasuk duyung.

Kaum duyung pun mengutus Shan (Lin Yun), duyung paling cantik dan polos untuk menyamar menjadi manusia yang kemana-mana pake skateboard, menggoda Liu yang terkenal sebagai lelaki kencrot, lalu membunuhnya. Tapi saking polosnya, Shan malah jatuh cinta sama Liu. Begitupun juga sebaliknya.

Bukan Fifty Shades of Grey.
Sumber: Google Image

Langsung aja, ini nge-BF sama Haw.


Icha: Haw, mau baperin film nggak?

Haw: Boleh juga sih itu. Tapi jangan film keluaran Digital Playground ya...

Icha: AKU MAU BAPERIN THE MERMAID, BAJINGAK. Terserah kamu siapnya kapan.

Haw: Syukurlah kalau begitu. Aku mah siap kapan aja, Cha. Asal bayar di muka dulu.

Icha: Aku bisanya duduk di muka sih.

Haw: Nggak apa, asal jangan keluar di muka.

Icha: KELUAR DI MUKA PALKONLU RENGAT!

Haw: Anjaaayyy... Pal..rengat...

Icha: Okay. Aku mau langsung keluar, maksudnya mau langsung tanya. Kamu awalnya mau nonton The Mermaid itu kenapa, Haw?

Haw: Awalnya karena lihat judul film sama posternya di situs donlot film, nggak tertarik sih sebenernya. Tapi pas liat sutradaranya si Stephen Chow, yang udah dikenal dengan film komedi seru, jadinya lihat trailernya di yutup, eh ngakak. Donlot dan nonton deh...

Icha: Haw tau palkon? Haw nggak sepolos yang aku kira.

Haw: BUKAN TENTANG POLOS TIDAKNYA. ITU SINGKATAN UDAH UMUM, ICHA YANG CANTIK... ADIKNYAAA...

Icha: Bangset! Trus Haw ngefans sama film-filmnya Stephen Chow?

Haw: Iya, Cha. Sejak Shaolin Soccer, Kungfu Hustle, CJ7, God of Gambler, sama yang Biksu Tong itu, lupa judulnya.... Hampir semua komedinya asyik.

Icha: Kamu udah nonton banyak, ya. Kalau aku baru nonton film Chow yang itu.

Haw: Pantesan waktu itu di Twitter bilangnya sedih. Itu film-film Chow komedinya udah nyebar sedari awal padahal, sayangnya banyak yang miss. Kalo baru nonton gaya film Chow, itu yang scene awal-awal jadi mikir, "Ini maksudnya apaan, sih?"

Icha: Iya.... bener banget. Aku awalnya heran. Mikir "Kok gitu sih?" "Wah lucu juga ya." "Njir hahaha ngakak."

Haw: Hahaha. Abangku dulu sering nyuruh nyewa VCD film-film Chow, jadinya ikut nonton, lucu, trus mulai deh nyari film-film Chow lainnya. Tapi nggak dapet. Emang susah sih kalau nyari film-film Chow di toko sepatu.

Icha: Toko sepatu anjeeer.

Haw: Aneh itu, Cha. Kok di toko sepatu nggak ada jual VCD film Chow, ya? Padahal di KFC aja ada VCD SM*SH. Di SPBU ada VCD Teuku Wisnu dan siapa itu pemeran Cinta Fitri….

Icha: Terserah! Trus The Mermaid jadi favorit nggak?

Haw: Kalo dibilang favorit sih nggak. Karena bagaimanapun, film favorit saya itu Monster University.

Icha: Bohong! Film favorit kamu pasti Jan Dara!

Haw: AKU KAGAK PERNAH NONTON JAN DARA SAMPE ABIIIIIISSSS... FILENYA JUGA UDAH KUHAPUUUUUUUSSSSS... BEGINI-BEGINI AKU ORANGNYA MENJAGA TUBUH DARI NONTON FILM-FILM BEGITU. MATA AJA KADANG YG KUIJININ.

Icha: Taek.

Haw: Tapi The Mermaid bikin ngakak dan iri yang parah. Coba semua gadis selugu Shan, ya... Kan lumayan bisa ngelatih ciuman.

Pelatihan.
Sumber: Google Image

Icha: Bajingak. Eh iya tapi Shan lugu banget, ya? Beda banget sama cewek yang satunya itu.

Haw: Iya, Cha. Masih polos. Bentar, pas Bang Haris ke Samarinda, katanya, si Icha itu aslinya polos. Bahkan sampe kamu kutip kan ucapan yang itu.

Icha: Kampret! Iya, Haw. Dia nge-review aku kayak gitu. Awalnya review-nya "Saya kira kamu kayak mbak-mbak. Umur kamu kan 22. Ternyata kayak anak kecil." Trus aku minta penjelasan apa maksudnya kayak anak kecil. Dia jawab, "Muke lu masih polos!" 

Haw: KOK TUMBENAN NGGAK KAMU BALAS DENGAN JAWABAN, "YA MAAF KALO AKU KAYAK ANAK KECIL. TAPI AKU BISA NYIPTAIN ANAK YANG LEBIH KECIL KOK." KENAPA NGGAK BEGITUUUUUU........

Icha: HAW MESUM, ANJIR.

Haw: Dan itu kalian nggak mau saling bikin review biografi masing-masing di blog? Kayak misal, "Bang Haris itu aslinya ganteng banget. Cuma yang datang kemaren itu fotokopiannya yang item putih, diperkecil, jilid spiral..." Misal loh ini yaaa...

Icha: Haw....

Haw: Nah, kan kamu polos berarti nih, Cha. Bang Haris ada nyoba ngelatih gitu juga nggak sih, kemaren?

Icha: NGELATIH MAKSUD L? KAMPRET! Eh, Haw. Emang film-filmnya Stephen Chow sengaja kayak gitu ya efeknya? Kayak Indosiar gitu masa.

Haw: Kalo masalah sengaja atau nggak, aku nggak tau ya. Karena efek yang begitu bisa membuat kesan komedinya lebih dapet. Tapi emang hampir semua film Chow yang butuh efek khusus CGI, ya, tampilannya emang seadanya begitu. Tapi kalau lihat film Jackie Chan, yang mencari harta karun dan patung kepala Shio itu, efek CGI nya juga seadanya. Mungkin saja teknologi perfilman di China-nya yang memang belom memadai. Entahlah.

Icha: Iya sih bikin lucu. Sayangnya laga Indosiar, ceritanya juga nggak lucu.

Haw: Nilai lebih penggunaan efek itu biar nggak serius amat kesan filmnya. Aku juga nganggepnya itu kayak film indosiar, apalagi scene menyelam. Kayak asal tempel aja. Tapi itu nggak masalah sih. Film koplak begitu, nggak perlu ngeribetin efek-efek mahal.

Icha: NAH IYA! Yang scene menyelam itu Indosiar wannabe yak! Efek yang keren menurutku pas nenek-nenek kepala duyung, ngibasin sirip duyungnya buat memberantas korupsi. Eh, buat menghabisi para bajingak-bajingak itu.

Haw: Aku nggak nyangka nenek nenek yang demen tidur pas lagi dongeng itu hebat bet. Padahal emang di film Chow, yang hebat itu biasanya yang mukanya tua dan khas bapak-bapak atau ibu-bapak yang pake baju santai. Kayak yang di Kungfu Hustle, itu emak-emak kosan yang jago.

Icha: Keren yak! Semacam jadi kejutan! Trus aku lama-lama jadi kebiasaan deh sama gaya komedinya. Tawaku mulai pecah pas Shan mau nusuk kakinya Liu. Eh nggak taunya Liu nge-dance.

Haw: Iya. Gaya komedinya ya begitu, kadang nggak keduga kapan lucunya. Kayak pas Shan diajak natap mata si gurita, Octopus, buat nunjukin dia nggak bohong. Eh, Octopus-nya muter. Gegara kipasnya dinyalain. Itu jenius parah.

Icha: Hahaha iya! Orang adegannya udah serius juga. Eh langsung rusak gara-gara kipas angin.

Haw: Iya. Aku nyangkanya malah Octopus-nya yang nggak berani natap karena dia suka ama Shan. Eh, kerjaan si emak-emak yang nyalain kipas ternyata...

Icha: Bahahaha! Oh iya, Haw. Mengenai Shan dan kepolosan, apakah cowok bajingak macam kamu sukanya yang kayak Shan?

Penampakan Shan.
Sumber: Google Image

Haw: Nggak. Polos itu punya nilai plus, karena berarti dia gadis baik-baik. Tapi yang membuat lelaki menyukai gadis seperti Shan itu bukan kepolosannya. Tapi keceriaannya, cara pandangnya dan wajahnya. Perempuan yang ceria itu lebih menarik, bisa membuat suasana hati ikutan ceria juga.

Icha: Okay. Perempuan ceria itu lebih menarik hati para umat manusia~

Haw: Nggak cuma manusia saja sih, bahkan malaikat dan Tuhan juga lebih suka manusia yang ceria kan... Karena orang ceria itu menunjukkan kebersyukurannya, dan senyumnya dikasih nilai pahala.

Icha: Santap jiwa!

Haw: Terus cara pandangnya terhadap uang atau hal apapun. Di saat orang rela melakukan apapun demi uang dan Iphone 7, dia lebih mementingkan hal lain. Harga diri dan lingkungan kalo di film Mermaid. Dan lagi. Shan itu cantik, biar pun dadanya rata, giginya tajam, atau hidungnya besar...

Icha: Ngakak! Trus menurut kamu, kenapa Shan cepet jatuh cinta sama Liu?

Haw: Di filmnya, romansa percintaan mereka nggak mendominasi sih. Tapi meski begitu, melekat banget emosi percintaan mereka. Kalo dilihat, mereka jatuh cintanya pada saat bersamaan. Sehabis makan ayam dan bersenang-senang bersama. Kayaknya sih, karena telah melihat keunikan masing-masing dan udah menghabiskan ayam banyak bersama-sama. Makanya mereka jatuh cinta.

Liu dicekoki bukan ayam kampus.
Sumber: Google Image.
Jadi, kalau mau membuat orang jatuh cinta, makanlah ayam yang banyak. Oh iya, Mamaku jualan ayam potong. Boleh pesan ke aku kalo mau. Harganya lebih murah kok.

Icha: Yak. Setuju. Romansa percintaannya jadi pelengkap. Biar ceritanya lebih menarik. Tapi chemistry-nya mereka kuat ya, Haw. Pas mereka ciuman, ada keengasan sekaligus kepedihan di dalamnya. BTW INI KAMU SELALU ADA CELAH UNTUK PROMOSI JUALAN YAK!

Haw: Hahaha. Eh aku kok sedih pas bagian itu. Padahal itu adegan ciuman ya... Sebelumnya dibikin ngakak juga padahal. Filmnya parah emang itu mainin emosi yang nonton.

Icha: Aku juga sedih, Haw. Jadinya dilema gitu. 

Haw: Iya. Apalagi kalo kita yang nonton punya pengalaman serupa. Jadi makin sedih... Lucunya sedari awal sampai menjelang akhir, tapi sedih di menjelang akhirnya bikin lupa kalo sebelumnya udah ketawa ngakak dan jadi mendadak mellow.

Icha: Iya bener banget! Ih, gara-gara kamu tadi ada bahas Bang Haris, aku jadi inget kalau tulisan review Passengers-ku itu alay, mempublikasikan hubungan. Ada juga yang bilang tulisanku itu bukan aku banget. 

Haw: Kalo yang Passengers itu, aku juga bacanya nggak nyaman. Mesra dan terkesan romantis memang. Tapi entahlah.. Kalau itu dibilang nggak kamu banget, ya nggak bener juga. Justru itu yang kamu banget karena ditulis sepenuh hati. Nggak kayak tulisan lainnya yang pake mikir buat dilarikan ke kata mesum apa...Cuma ya itu, Cha. Nggak semua orang mau tau tentang hubungan kalian. Jadi jangan terlalu diekspos aja. Sesekali bolehlah.

Icha: Deep. Pantasan ada yang bilang kalau rindu tulisanku soal yang lain, misalnya tulisanku waktu aku pingsan di Kampung Kajang.

Haw: Bisa jadi begitu, sih. Orang-orang mau baca tulisan normalmu, Cha. Walau kamu emang nggak normal sih aslinya. Setidaknya, jangan melulu ada kisah kalian nyempil mungkin.

Icha: Aku nggak normal. Tengs.

Haw: Hahaha... Trus, namanya juga orang sedang jatuh cinta, Cha. Terlebih cewek, apa-apa disusupin sama perasaannya. Pelan-pelan aja ngebalikinnya. Kalau aku rindu postinganmu yang ada Nanda-nya. Udah.

Icha: BERAK KUDAAAA! Eh kok jadi mikir gini ya, kamu setuju nggak sih kalau mempublikasikan hubungan secara berlebihan itu termasuk eksploitasi hubungan? Kayak Liu yang mengeksploitasi sumber daya alam dengan reklamasi pantai.

Haw: Filmnya emang mau nyindir tentang eksploitasi dan reklamasi sih. Walau scene tentang perburuan lumba-lumbanya cuma sekelebat.

Pas di sini, sedih btw.
Sumber: tersapa.com

Tapi kalo tentang eksploitasi hubungan, itu maksudnya kayak mana dah? Otakmu, Cha. Kalo tentang hubungan, jauh sekali pemikirannya.

Icha: Jadi, eksploitasi hubungan itu kayak ngumbar hubungan di area publik. Di socmed misalnya. Menurut pasangan-pasangan yang mengumbar hubungan kayak gitu, itu bukan sebuah eksploitasi, melainkan eksplorasi. Mereka kayak nemuin sesuatu dari mengumbar hubungan. Lalu mereka berekspektasi yang indah-indah. Padahal realita nggak sesuai ekspekeksptasi. Yang menurut mereka itu romantis, ternyata bikin orang nggak nyaman.

Haw: Oh... Eksploitasi itu artinya juga berlebihan sih. Memamerkan kemesraan juga udah berlebihan. Terlebih lagi dipamerinnya di medsos dan sering. Pasti itu tidak baik. Jadi ya sama aja kayak mengeksploitasi, sihDan sesuatu yang berlebihan, pasti cenderung akan menghilangkan. Kalo di eksploitasi laut, itu keragaman dan spesiesnya yang bakal hilang. Dalam berhubungan, bisa saja kepercayaan dan kebahagiaannya yang bakal menghilang. Entahlah.

Icha: BAJINGAK! AKU MEMANG NGGAK SALAH PILIH MAU NGE-BF THE MERMAID SAMA KAMU! LANGSUNG NYAMBUNG PAS DIAJAK NGEBAPERIN FILM! AAAAAAAK! KAMU PILIHAN YANG TEPAT KAYAK KB IUD ANDALAN!

Haw: Kampeeeerrrr... Aku disamain sama alat KB. Padahal aslinya, cara kerjaku bertentangan dengan alat KB. Alat KB menggagalkan pembuahan, aku.....

Icha: Haw lebih mesum dari aku!!!!!!

Haw: Aku cuma ngimbangi, Cha... Ini aku sambil baca referensi buku-buku yang mendukung, kayak print out artikel Dokter Boyke, FHM magazine, Popular magz, Playboy magz. Belom autopilot. Jadi tenang saja, bakat mesum alamimu nggak bakal tersaingi.

Icha: SEGALA ADA AUTOPILOT. Haw, kamu ada pengalaman soal publikasi hubungan nggak?

Haw: Ada. Awalnya aku minta ke pacar buat nyembunyiin hubungan. Ya buat apa gitu dipamer-pamerin. Toh bahagianya karena pasangannya. Bukan bahagia karena kedengkian atau pujian orang lain. Tapi cara kerja otak wanita nggak begitu. Mereka memiliki alasan penuntut, "Kalau kamu nggak mau nunjukin di medsos, berarti kamu punya gebetan lain. Dan takut ketahuan udah punya pacar, kan..." Kalah telak udah.

Icha: Cewek kayak butuh pengakuan kalau dimiliki gitu, ya.

Haw: Iya. Awalnya cuma orang-orang terdekat yang tau. Lama-lama mulai deh dianya minta lagi, paling nggak nulis namanya di bio medsos. Aku nolak, berantem lagi. Terus sepakat lagi. Lama lagi, dia minta lagi, berantem lagi. Ya ujung-ujungnya ngalah aja.

Cuma nulis nama di bio aja, kan. Eh, makin dituruti, mintanya nambah lagi. Pasang potonya di header. Karena pasti ujung-ujungnya bakal kayak bio tadi, ya aku ngikut aja. Sekitaran awal bulan Mei ampe akhir Juni aku masangnya. Diganti lagi biar nggak terekspose banget, dia juga yang minta. Ya itu, ikutin aja dulu keinginannya, sebagai bukti bahwa kekhawatirannya itu salah. Habis itu, ya nggak apa diganti lagi.

Icha: Okay....

Haw: Dan iya, perempuan emang mau pembuktian dan pengakuan gitu. Alasan lainnya, biar nggak ada cewek lain yang ngedeketin pasangannya. Kalau awalnya nggak pernah kayak gitu, yang laki biasanya enggan, kesel, entah dengan alasan apa, tapi lama-lama bakal nerima aja sih

Icha: Kamu nggak berpendirian kuat buat tetap nggak publikasi hubungan, Haw?

Haw: Aku juga awalnya begitu. Pendiriannya kuat. Tapi lama-lama juga luluh. Nggak tega ngeliat dia minta ditulis namanya di bio. Terlebih, dia jadi sering banget marah gegara itu. Yaudah, ngalah aja. Dan ekspresinya pas lihat namanya ada di bio medsos, macam anak kecil yang dibeliin mainan yang diinginkannya. bahagia banget. Ya, kuikut bahagia jadinya.

Icha: Kamu so sweet juga ya, Haw. Udah pernah mau nurutin maunya dia~

Haw: Iya, Cha. Yang penting diturutin. Tapi lihat juga sih apa yang dimintanya. Jangan asal diturutin. Apalagi kalo minta pacar baru...

Icha: Bangke. Trus untuk postingan di blog? Dia alay kayak aku nggak? Kan dia blogger juga tuh.

Haw: Nah, waktu itu, dia juga mau posting tulisan tentang awal mula kedekatan kami. Aku nggak ngelarang sih. Itu hak dia. Cuma ngingetin aja, apa yang bakal dia dapat dari memposting cerita itu. Juga memberi contoh, orang yang terlalu mengumbar kisah cintanya, kemesraannya, justru malah membuat hubungan mereka nggak nyaman. Bahkan sampe ada yang putus. Banyak

Icha: Serem.

Haw: Dia juga mikir gitu, katanya dia juga pernah baca postingan orang yang indah banget diceritain di blog, tapi di postingan selanjutnya malah putus. Dia takut juga. Dan nggak jadi posting. Aku gatau hukum apa yang bekerja, tapi ya itu, jangan terlalu jelas memamerkan kemesraan. Karena bisa jadi, saat kita mau pamer kebahagiaan, sejatinya, kita tidak sebahagia itu. Makanya butuh pujian dari orang lain agar menjadi bahagia.

Liu dan Shan bahagia dengan cara mereka sendiri.
Sumber: Google Image

Icha: HUAAAA BENER BANGET. KASARNYA, ORANG YANG SUKA PUBLIKASIIN HUBUNGAN ITU PENGEN CARI PERHATIAN. EH GITU NGGAK SIH?

Haw: Iya. Biar diakui kalo mereka sedang bahagia. Kayak ragu gitu sama diri mereka sen..berdua. Orang yang bahagia kadang malah ngelakuin sebaliknya, nggak mau ada yang tau. Misal kayak pas aku habis nyuri mangga, itu bahagia banget aku bisa makan mangga. Dan nggak mau aku kalo ada yang sampe tau dan ikutan nyuri juga.

Icha: Telek! Trus kalau di film The Mermaid, lumba-lumba dan duyung jadi pihak yang dirugikan. Nah kalau di eksploitasi hubungan, menurut kamu pihak mana aja yang dirugikan?

Haw: Bukan, Cha. Kalo pada eksploitasi laut, yang rugi itu bukan duyung atau lumba-lumbanya. Tapi lautnya.

Icha: Aku salah! Ngahaha. Oke, lanjut.

Haw: Jika duyung mati, lumba-lumba mati, maka putuslah rantai makanan dari bagian mereka. Dan itu bikin mangsa atau makanan utama mereka membludak. ekosistem nggak seimbang, laut kelebihan sesuatu yg mestinya dikit. lautnya bisa tercemar sendiri atau kering lebih cepat. Kayak rumput lautnya lebih cepat habis.

Misal ya makanan utama duyung itu ayam bakar. INI KENAPA DI FILMNYA MAKANAN DUYUNG ITU AYAM BAKAAAAARRRR... KENAPA NGGAK IKAN BAKAR AJA YANG LEBIH MASUK AKAAAL?! EH... HEWAN LAUT MANA YANG MAU BAKAR-BAKARAN? MEMANGNYA SIAPA YANG MAU NGEBAKAR DI LAUT? AAARGGHHH.....

Icha: NGAHAHAHA. Eh aku malah baru tau kalau di filmnya, duyung makan ayam bakar. Emang itu pas kapan, Haw?

Haw: Lah... pas awal Shan pulang ke teluknya itu kan beli ayam bakar dulu buat dibagiin ke temennya. Octopus protes karena hanya dibawain ayam bakar. Dia mau McDonald. Sampe-sampe bilang Shan pandai nari seperti McDonald. padahal maksudnya Madonna. Film koplak mah itu...

Contoh kekoplakan The Mermaid yang lain.
Sumber: Google Image

Icha: Oh iya! Aku nggak merhatiin. Oke, lanjutkan.

Haw: Misal makanan duyungnya itu ikan, terus duyungnya punah, ikan yang jadi makanan mereka berkembang lebih cepat, jumlahnya nggak kekontrol, makanan ikan yang berupa plankton atau rumput laut cepet habis, laut lebih cepat gersang jadinya. Nah, pada eksploitasi hubungan, yang dirugikan itu bukan pihak lainnya. Tapi yang menjalin hubungan itu sendiri. Mungkin awalnya berekspektasi akan menjadi pengingat kalo lagi berantem. "Lihat postingan kita ya." Tapi masalahnya, otak manusia nggak bisa bekerja lurus terus-terusan. Justru saat berantem, hal yang diekspos berlebihan itu jadi pemicu amarah lainnya. "Kok dia udah nggak sebaik kayak di postingan ini ya."

Akhirnya merasa hubungannya hambar. Dan alih-alih mengubah sikap agar baikan lagi, justru malah akan menghapus postingan mesranya. Karena udah menilai kalo pasangannya nggak sebaik dan semesra itu.

Icha: Jawaban yang bajingan. Dasar pakar cinta!

Haw: Pakar.... Iya, kayak gitu. Dan nggak tau ya kenapa fenomenanya begitu. Orang kalau cinta, diucapkan. Tapi pas marah atau kesal, malah ditunjukkan dengan tindakan. Coba sesekali dibalik, ketika cinta, ditunjukkan, ketika marah, dibicarakan. Kalo lagi jauh, bisa ditunjukin dengan ngasih ucapan atau puisi atau gambar kejutan misal. Terus kalo marah dibicarakan baik-baik, jangan main todong dan diem tanpa sebab.

Icha: AKU SETUJU BANGET! Oh iya. Pas Octopus kesel, dia omongin ke Shan.

Contoh muka kesalnya Octopus.
Sumber: Google Image
Haw: Pas ibu-ibu duyung nembakin panah ke dia, dia juga marah, kan... Tapi dia nggak langsung bertindak ngebales, dia malah bilang, "Orang paling kubenci itu kamu, kenapa ditembakkan kepadaku.." Si Gurita juga suka sama Shan, kan... dia langsung bertindak nyium kan... Nggak hanya bilang...

Icha: Hahaha. Octopus menerapkan apa yang kita bahas ini, Haw! Oh iya, pesan moral dari film The Mermaid apa?

Haw: Pesan moral, ya? Pertanyaan bagus!

Ini aja, "Bahkan seekor-seorang putri duyung pun pasti bisa berjalan jauh kalo pake skateboard. Jadi, berikanlah pasanganmu skateboard agar dia yakin kalo jarak yang jauh pasti bisa ditempuh"

Itu satu...Yang kedua, "Untuk mendapatkan lelaki kaya raya, pura-puralah menolak pemberiannya. Maka kamu akan mendapatkan hatinya."

Yang ketiga, "Jauhilah ibu-ibu yang pake pelindung rambut untuk mandi. Isengnya kebangetan."

Icha: HAW TAAAAAEK!!! Trus bagaimana menyikapi fenomena anak jaman sekarang ye, fenomena eksploitasi hubungan?

Haw: Orang yang tidak bisa diberitahu itu salah satunya adalah yang sedang jatuh cinta. Jadi kalau ada orang yang sedang mabuk cinta dan mengeksploitasi hubungan mereka di media, yaudah biarin aja. Paling amannya, cari orangtuanya dan beritahu. Atau orang terdekatnya, biar dijaga. Orang akan sadar kalo pamer kemesraan itu nggak baik biasanya kalo usianya udah vintage atau dewasa lah. Ya kalo mau menghilangkan sikap mereka, kasih makan aja yang banyak biar makin dewasa. Kan kalau udah dewasa, mereka nggak bakal pamer lagi. Tapi jadinya diem-diem biar nggak ketahuan istri. Itu.

Icha: BANGSET! Trus... apakah film ini patut ditonton?

Haw: Iyalah. Bahkan film jelek pun mesti ditonton agar tau kalo itu film jelek

Icha: Nggg.... Kamu selalu benar, Haw. Yaudah. Terima kasih udah mau ngebaperin film koplak ini. Semoga segera bisa Jan Dara-an sama pacar kamu.

Haw: Yaudah. Yang lebih semangat, Cha, ngerusak pembaca anak SMP-nya. Biar generasi kita pada pe'ak. Kalo pinter, entar gedenya cuma nipu-nipu rakyat aja. Sama ngerusak dan mengeksploitasi laut, hutan, dan diubah jadi ladang uang. Dan moga lekas jadi MILF, biar makin disuka.

Icha: HAW BAJINGAAAKKK!!!!

Yha, panjang banget. Tapi dunia harus tau kalau Haw secerdas, selugas, dan sebrengsek itu dalam ngebaperin film. HUHUHU. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com