Minggu, 30 Oktober 2016

Berusaha Jadi Cantik Membuat Frigid

“Kalian setuju nggak sih, kalau cantik itu musibah?”

Pertanyaan itu datang dari Reyhan Ismail. Blogger merangkap hacker yang juga merupakan anggota grup Telegram World Werewolf Federation. 

Reyhan dan jajaran cast Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Sumber: Ilham bijingeks
Setelah beberapa waktu yang lalu Rey ngajuin pertanyaan “Apakah manusia punya bulu pantat?” ke grup, dan memancing banyak hujatan bukannya jawaban, Reyhan tadi malam kembali berulah. 

Mungkin itu bisa dibilang minta pendapat sih, bukan ngajuin pertanyaan. Juga lebih rasional daripada bertanya soal pantat atau bertanya “Saya mirip Junot kan?”

Cukup banyak yang menyambut gayung Reyhan alias menjawab pertanyaan Reyhan itu. Kak Ira mantap ngejawab, “Tidak.” Trus soal pendapat soal cantik dari para anggota pun mengalir deras. Sederas darah menstruasi saat hari pertama. 

Jaimbum: “Cantik itu anugerah. Cantik wajah, cantik perilaku. Udah sih gitu aja.”

Kak Ira: “ Tidak. Balik lagi ke kepribadian orang itu masing-masing, Rey.” 

Justin: “Cantik itu relatif, namun kebanyakan, yang dianggap cantik adalah sesuatu yang dibilang cantik oleh iklan-iklan nih, salah satunya. Jadi definisi cantik mengalami konstruksi sosial."

Ilham: “Cantik tidak cantik adalah anugerah. Selebihnya, hanya kesalahpahaman.”

Haris Firmansyah: “Cantik itu luka. Tapi jelek itu bonyok. Tergantung kita bisa mengobatinya atau tidak.”

Haris Bagus Saputra: “Cantik itu wanita. Walaupun ada sebutan piring cantik, tetap awalnya wanita. Wanita makhluk terindah yang pernah diciptakan. Untuk mewakili keindahan tersebut, dibuatlah kata cantik. Dan sekarang buat menyebut sebuah keindahan banyak yang bergeser jadi cantik.” 

Bidadari magang, Deva: “Cantik itu.... gua.” 

Aku sendiri juga ikut serta ngejawab pertanyaan Rey. Awalnya dengan nanya balik, 

“Wah. Kenapa bahas ini, Rey? Kamu ngerasa kecantikan yang pada dirimu itu musibah?” 

Habis itu ngelontarin pendapat nggak penting. Nggak memuaskan birahi Reyhan. 

Ya, aku ngerasa kesusahan buat ngejawab pertanyaan Reyhan. Ujung-ujungnya pertanyaan Reyhan bikin aku keingetan sama lagu Beyonce yang judulnya Pretty Hurts. 


Ini lagu lama sih. Rilis di tahun 2014. Dan nggak booming kayak Bad-nya Younglex ft Awkarin juga. Tapi menurutku, lagu ini bukan sekedar lagu. Mungkin bagi Katy Perry juga gitu. Dilansir dari kapanlagi.com, Katy Perry nyesel lagu ini dinyanyiin sama Beyonce. Padahal sang pencipta Pretty Hurts, Sia Furler, nawarin ke Katy Perry. Tapi Katy Perry-nya nggak balas email penawarannya Sia. Huh. Udah kayak kita chat si dia, tapi dibaca doang. Cukup menyakitkan. Eh, itu sih sungguh menyakitkan, bosque.

Dan entah karena akunya yang melankolis parah, rasanya sungguh menyakitkan kalau dengerin dan nontonin MV (music video)-nya Pretty Hurts. Lagunya bikin sedih. Ngeliat MV-nya, bikin sakit. Menurutku, lagunya nggak bakal bikin aku baper parah kalau MV-nya nggak kayak gitu. Bisa dibilang, MV-nya Pretty Hurts jadi favoritku, setelah MV-nya Maroon 5 yang She Will Be Loved. Di She Will Be Loved, Adam Levine masih ranum dan suka sama Ibunya pacarnya sendiri. Adam Levine yang horny sama MILF rapuh, terlihat begitu menggemaskan di mataku. UH!

MV Pretty Hurts dan pertanyaan Reyhan tadi malam bikin aku mikir, kalau cantik itu bukan musibah. Menurutku Justin juga nganggap gitu, pas aku ngebaca post-nya INI. Justin menjelaskan definisi cantik versi dia.

Dan Beyonce juga punya definisi cantik sendiri di Pretty Hurts. Lagu ini bercerita tentang menjadi cantik itu menyakitkan. Bukan pas cantiknya, tapi pas ngikutin banyak tuntutan yang ada supaya tetap terlihat cantik atau minimal terlihat cantik. Merawat diri supaya terlihat cantik sih masih sah-sah aja, tapi di Pretty Hurts itu lebih ke mengubah diri. 

Makna lagunya yang udah dalem itu didukung dengan MV-nya yang bikin lebih dalem menusuk. Di MV-nya itu, Beyonce ceritanya jadi salah satu peserta kontes kecantikan. Lika-likunya menjadi peserta kontes kecantikan terlihat dengan miris di MV itu. Lirik awal lagunya jadi gerbang kenyesekanku. 

“Mama said, you’re a pretty girl
What’s in your head, it doesn’t matter
Brush your hair, fix your teeth
What you wear is all that matters.” 

WHAT’S IN YOUR HEAD, IT DOESN’T MATTER. WHAT YOU WEAR IS ALL THAT MATTERS. Cantik dilihat dari luar aja. 

Sedih sih ini, kalau kata Jaimbum. 

Lirik seterusnya, ngejabarin tentang banyaknya tuntutan untuk menjadi cantik. Tuntutan yang lama-kelamaan semakin nggak realistis aja. Tuntutan untuk bukan menjadi cantik lagi, tapi untuk jadi sempurna tanpa cacat cela. Tuntutan yang harus dipenuhi Beyonce dan teman-teman satu kontes kecantikannya. Beyonce menyanyikan lagu ini dengan emosional. Dia kelihatan cantik banget sekaligus terluka banget.

Lagunya ditutup dengan lirik, 

“Are you happy with yourself?”

Seolah bikin yang ngedengerin jadi merenung dan nanya ke diri sendiri, 

“Bersusah payah ini itu kayak diet karena minder dibilang gemuk atau pake softlens karena takut terlihat jelek, apa bikin kamu bahagia?”

Untuk poin kedua di pertanyaan tadi, ngingatin aku sama diriku sendiri. Pake softlens karena takut dianggap jelek. Salah satu dari sekian ketakutanku. Dan ketakutanku itu udah ada sejak lama. Sejak kelas dua SMP. 

Mataku minus sejak kelas 6 SD. Dan demi keselamatan diri sendiri dalam beraktivitas, aku mutusin buat pake kacamata. Tapi keputusanku berubah pas sebuah momen kejingsengan terjadi. Sempat aku ceritain di SINI. Waktu itu aku pacaran sama teman sekelas, kami putus, trus beberapa hari kemudian diary dan sms-sms di hapeku jadi bahan bacaan di depan kelas. Isinya tentang hubunganku sama temen sekelasku itu. Aku dan dia diciye-ciyein. Lalu momen itu berakhir dengan pernyataan,

“Mana mungkin aku pacaran sama Betty Lafea!”

Aku ngerasa jelek banget begitu dia bilang gitu. Aku bertekad buat belajar pake softlens akhirnya pake softlens terus sampe sekarang. 

Aku juga pernah berupaya buat ngurusin pipi. Aneh sih memang. Waktu itu aku putus, eh ralat, diputusin mantan dengan alasan mau fokus sekolah. Beberapa bulan kemudian, si mantan udah punya pacar lagi. Pacar barunya cantik. Matanya bulat dan pipinya tirus. Begitu tau kenyataan pahit itu, aku langsung liat cermin dan ngeliat kalau aku nggak kayak pacar barunya. Badanku kurus tapi pipiku nggak tirus. 

Aku pun males makan dan tiap hari nepokin pipi sendiri. Karena aku pikir, karbohidrat, protein, serta lemak dalam makanan itu menetapnya di pipiku doang. Dan itu bisa dikurusin denggan cara ditepok-tepokin. Huhuhuhu. 

Pemikiran yang sangat asu. 

Pake softlens menurutku lebih nyaman dipandang daripada pake kacamata. Tapi nggak aman. Aku pernah nggak turun sekolah karena mata sebelah kiriku bengkak memerah. Panas. Berair. Nggak bisa dibuka. 

Aku juga pernah pake softlens sebelah kanan doang karena softlens sebelah kirinya udah rusak. Bikin mataku keliatan gede sebelah. Mau beli tapi waktu itu nggak ada uang. Mau minta orangtua, pasti diingatin sama tragedi mata-bengkak-merah-berair dan disuruh pake kacamata aja. Dan waktu cairan softlensku habis, aku terpaksa pake air keran buat nyuciin softlensku. Ending-nya, seharian aku ngerasain mataku gatal minta digaruk gemes. 

Walaupun nggak ada apa-apanya sama yang di MV Pretty Hurts, tapi aku ngerasa relate sama MV itu. Berusaha menjadi cantik itu pretty hurts. Pake softlens dan ngurusin pipi adalah dua upaya bodohku buat kelihatan cantik. Seenggaknya cantik di hadapan orang yang waktu itu aku sayang. Dan walaupun aku nggak berhasil kelihatan cantik, aku bisa ngerasa aku terlihat normal, wajar, apalah itu. Nggak ngerusak pemandangan. 

BAJINGAK. AKU NGETIK ITU SERASA RENDAH DIRI BANGET. 

Tapi rasanya masih mending sih, daripada dulu. Waktu jaman sekolah, aku udah ngerasa kalau aku ini frigid. Hampir sama kayak lemah syahwat gitu. Frigid adalah hilangnya gairah seksual pada wanita karena faktor kejiwaan. Bisa karena cemas atau takut nggak ada yang bisa menerima wanita itu apa adanya, karena trauma masa lalu, atau karena keegoisan pria yang mendominasi ranjang. 

Intinya, aku udah memikirkan kalau aku nikah nanti, pasti ena-enaku jauh dari kata ena. 

Bajingak banget. Karena sekarang pada kenyataannya, birahiku di atas normal. 

EH. ENGGAK. 

Bajingak banget karena, “Kenapa aku senaif itu?” Sampai bikin aku rendah diri. Nggak cinta sama sama diriku sendiri. Sampai bikin aku mikir aku jelek pake kacamata. Bikin aku nangisin mata minusku. Sok tegar pake softlens yang bikin mata sakit. Benci sama pipi tembemku. Susah move on berlebihan sampe ngerasa frigid. Kenapa aku terlalu menuhankan kecantikan versi orang lain? Kenapa aku nggak bersyukur dengan apa adanya aku aja?

Aku jadi ingat adegan favoritku di MV Pretty Hurts. Beyonce lagi di panggung, habis unjuk bakat yaitu nyanyi, trus ditanya sama MC-nya. 

“Ms. Third Ward, your first question. What is your aspiration in life?’

Di situ, Beyonce kelihatan tercengang pas ditanya gitu. Ngejawabnya juga nggak lugas. Menurutku bukan karena gugup, tapi karena itu pertanyaan yang nggak terduga buat dia. 

Kalau Pangeran Wortel ada di posisi Beyonce itu, mungkin dia bakal ngejawab dengan lugas deh. Ngejawab dengan kalimat, 

“Pertanyaan bagus!”

Wow. Aku semakin bangga sama Pangeran Wortel. Ululululululu~

Oh iya, balik ke Beyonce lagi. 

Trus Beyonce ngejawab, 

“Oh... My aspiration in life... would be... to be happy.”

Jomplang sama flashback yang ditampilin pas Beyonce ngomong gitu. Miris. 

Ya, miris. Beyonce “dituntut” hidup untuk menjadi cantik. Semakin berupaya buat jadi cantik, semakin merasa sakitlah dia. Semakin ngerasa takut nggak ada yang bisa nerima dia apa adanya. Padahal yang dia mau adalah menjadi orang yang berbahagia. Dan kalaupun harus cantik, kecantikan jiwa yang lebih penting. Jauh lebih penting daripada kecantikan raga. 

Pembahasan soal definisi cantik di grup WWF, makna lagu Pretty Hurts, dan upayaku buat terlihat cantik meskipun tetap aja nggak cantik, melahirkan jawaban baru buat pertanyaan Reyhan. 

“Cantik itu menurutku anugerah, Rey. Berusaha untuk memenuhi tuntutan yang menyakiti diri sendiri demi menjadi cantik, itu yang disebut musibah. Jadi, cantik atau enggaknya seorang perempuan, dia harus tetap berbahagia. Perempuan itu harus percaya kalau dia mau ngerasa bahagia, dia lebih dari nyaman dipandang. Dia lebih dari sekedar cantik.”

Semoga jawabanku ini bikin Reyhan berhenti nganggap kalau kecantikan yang ada pada dirinya itu musibah. Aamiin. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 23 Oktober 2016

Tulisan Pertama Teman-Teman Grup Pertama

Seperti malam pertama, grup chatting beranggotakan orang-orang yang cuma kenal di dunia maya pertama juga berkesan. Grup pertamaku adalah Slum Shady. Lebih tepatnya itu adalah grup penggemar Eminem dari berbagai kota di Indonesia. Aku iseng gabung ke grup Whatsapp-nya setelah sering kepoin akun Twitter-nya.

Seru sih. Tapi karena aku lubangan sendiri di situ, sementara para anggota lainnya pada batangan semua, aku ngerasa cengo. Ditambah juga pengetahuanku akan dunia musik hip-hop masih cetek. Tiap mereka ngomongin rhyming, verse, flow, aku gatel mau nanya, 

“Eminem sama Kim dah rujuk berapa kali? Itu Eminem kok tegar banget ya dulu mau maafin Kim? Rapper ternyata susah move on juga. Setia juga. AAAAAK!!”

Huaaaa. Cewek emang gini iya. Suka ngomongin yang baper-baper.

Nah, grup WIDY (silakan tanya WIDY itu apa sama Yoga, biar dia gondok) bukan grup chatting pertama, tapi jadi grup chatting pertama yang bikin baper. Walaupun Yoga bilang kalau WIDY adalah grup blogger, tapi aku nggak nganggap gitu. Bagiku, WIDY adalah grup orang-orang yang punya selera humor sama, yang kebetulan sama-sama suka nulis. Suka saling curhat. Suka saling ngatain. Suka saling ngedukung. Dan yang terpenting, suka beradu ngomongin hal-hal berbau mesum. 

Ya, mungkin karena faktor itu, pas Robby masuk jadi temen baru kami, namanya jadi WIRDY. Bukan WIRYD.

Karena nggak mau dihakimi massa sih. Nama grupnya religius tapi orang-orangnya kayak kebelet minta dipijat plus-plus gini. Huhuhu. Btw, jangan anggap itu nama om-om. Itu tugasku. Hargai aku. Cukup aku aja yang nganggap nama itu nama om-om. Ichsan bajingak mah nggak perlu! Huhuhu.

Aku jadi ingat waktu kenal mereka pertama kali. Norak sekali. Memang gitu kali ya. Kita suka berlaku norak saat pertama kali nemuin hal baru. Termasuk pertama kali nulis postingan di blog. Dan aku pengen nge-review tulisan pertama mereka. 


1. Wulan
Perawan Pekanbaru satu ini suka curhat lepas di blognya. Dengan luwesnya dia nulis soal kesehariannya yang bikin ngakak sambil geleng-geleng kepala dan menggugam -ini-anak-hidupnya-ada-ada-aja-deh. Tulisannya di blog menggambarkan tagline iklan Chitato. Boobs is never flat. Eh, maksudnya life is never flat. Satu hal yang aku cemburuin dari dia selain hidungnya yang mancung itu. Ugh! 

Wulan bisa dibilang jarang nulis soal cinta-cintaan. Tapi begitu ngebaca tulisan pertama di blognya, tulisannya tentang cinta-cintaan. Begitu baca judulnya, 161 Days, aku jadi keingat sama film (500) Days of Summer. Pas baca isinya, malah jadi keingat lagu Dia-nya Maliq & D’Essentials. 

Tapi beda. Lagu Dia tentang kasmaran. Sedangkan tulisan Wulan yang banyak kata dia-nya itu, tentang mantan. Wulan nyeritain jasa-jasa sang mantan selama berpacaran, yaitu ngajak berangkat sekolah bareng, jadi orang kepercayaan orangtua Wulan, nemenin makan malam, ngingatin sholat, sampe selalu ngeberi lolipop. 

LOLIPOP. LOLIPOP. LOLIPOP.

Sejak diracuni hikayat es krimnya Yoga, pikiranku sama makanan tak lagi positif. Termasuk sama lolipop. 

Wulan. Selalu. Diberi. Lolipop. 

Yang itu artinya....

Enggak. Pikiranku nggak ke lollipop-yang-dipake-buat-hand-job-dan-blow-job kok. Tapi ke..... 

MURAH SEKALI HARGA DIRIMU, WULAN! BARU DIKASIH LOLIPOP AJA DAH SENENG! GIMANA KALAU PACARAN SAMA WILLY WONKA! HORNY PARAH KALI! 

Wulan juga ada nulis soal kebiasaan cowok itu. Selalu setia memakai topi, selalu ngucapin ailopyu, dan selalu diharapkan Wulan duduk di depan rumah dengan senyum khas. 

Itu cowok dibiarin duduk di luar aja njiirrr. Dingin dingin deh. Udah kayak Bang Haris aja, yang waktu pacaran sama mantannya trus ngapel, cuma dibolehin sampe di teras doang. Huhuhu Diajak ngamar kek gitu. 

Lebih parahnya, Wulan juga ada nulis, 

“Dia yang selalu menurunkan kursi ku dikelas disetiap pagi hari.
Dia yang rela manjatin pohon mangga demi aku.”

Bijingeks Wulaaaaaaan!!!!! Cowoknya dipake buat jadi pesuruh doang! Nurunin kursi sama manjatin pohon mangga anjeeeer. Giliran si cowok mau manjatin Wulan, si Wulannya nggak mau. Ya pantesan aja jadi mantanan. Dasar Wulan egois!

Bakat Wulan buat bikin yang baca tulisannya jadi geleng-geleng kepala, ternyata udah terlihat jelas di tulisan pertamanya. 


Introduction. Begitu judul tulisan pertama milik Darma Kusumah. Kirain isinya bakal bahasa Inggris semua gitu. Ternyata enggak. Isi postingannya ya gitu, tentang perkenalan. Ngingatin aku sama lagunya Tulus yang Tuan Nona Kesepian. Karena ada kata tuan dan nonanya.

Kayak gini, 

“Hallo.... tuan dan nona, selamat berkunjung di blog pribadi gue. Sebuah blog yang tidak akan memberikan apa-apa kepada kamu-kamu tuan dan nona.” 

Selain itu juga, kalimat di postingan Darma itu yang, 

“Sebuah blog yang bertujuan untuk nemenin gw yang sendirian.”

Sendirian. Identik sama kesepian. 

Kalau disambungin sama kepribadian Darma, jadi makin ngingatin sama liriknya Tuan Nona Kesepian yang, 

“Tuan kesepian. 
Tak punya teman. 
Hatinya rapuh tapi berlagak tangguh.” 

Darma banget! Sok tegar! Sok kuat padahal mah harus dirawat! 

Trus pas lagi asik-asiknya baca, tau-tau dah habis aja. Cuma enam kalimat aja itu postingan. Enam kalimat! Pendek banget bangke. Belum klimaks, udah kelar aja. Ejakulasi dini!

Aku jadi mikir, 6 kalimat itu menggambarkan kalau mungkin ukuran tititnya Darma juga 6... centimeter. 

Btw, Darma lagi menuntut ilmu ke Turki selama kurang lebih tiga tahun. Ini foto Darma lagi di Turki bareng teman-temannya:

Darma dan para pencari ilmu, (semoga) bukan pencari tempat memuncratkan peju

Alhamdulillah, dia sehat-sehat aja. Tapi satu hal sih yang aku resahkan. Apakah dengan tititnya yang cuma 6 cm itu, dia mampu bertahan di Turki? Nggak dikucilkan dari pergaulan gitu? Bisa dapat jodoh di sana juga nggak? 

Entahlah. Wish him luck


Adik kecil kita satu ini ternyata udah ngeblog selama dua tahun. Keren! Hal ini aku ketahui dari postingan pertamanya yang berjudul Debut. Robby menuliskan kalau blognya resmi dibuat tanggal 30 Juni 2014. Satu hari di bulan Juni.

Lagi-lagi, ngingatin aku sama lagu Tulus. Yang judulnya Satu Hari di Bulan Juni. Terlihat sih, kalau Robby nulis di blog, kayak lagunya Tulus. Robby ngeblog dengan setulus hati. Bawaannya kalau baca blognya dia, aku pengen plesetin lirik Satu Hari Di Bulan Juni. Dari liriknya yang,

"Kita tak perlu terlalu banyak uang
Kita bahagia meski tak kemana-mana
Kamu cantik, meski tanpa bedak
Rasakan ini senang, di dadaku. 
Memilikimu."

Jadi kayak gini, 

“Kita tak perlu terlalu ingin page one 
Kita bahagia meski tak dapat job review
Blogku ciamik meski tak ber-SEO
Rasakan ini senang, di dadaku.
Memiliki blog.”

Dan lagi-lagi, tulisannya pendek banget anjir. Lebih parah dari punya Darma.

Bajingan.

Ini nih, 

“Tanggal 30 Juni 2014 resmi blog ini dibuat. Gw ga mau ngetik banyak” karna gw maen di warnet. Mungkin abis lebaran gw baru mulai aktif di blog ini. See ya!

Dah. Gitu. Doang. 

Empat kalimat doang bajingaaaaaaak! Berarti, titit Robby cuma 4 cm. Wow fakta! Entahlah itu hitungannya udah termasuk kulup apa belum. Eh, Robby sih udah sunat, ya. Kulupnya udah musnah pasti.

Ngebaca postingan pertama Robby itu bikin aku suudzon sih. Dia ngetik postingan debut dengan ngebut itu, sebenarnya sebagai selingan aja nungguin donlotan video bokep. Begitu donlotannya udah selesai, ya udah dikelarin nulisnya. Fix. 

Karena aku nggak puas dengan ukuran 4 cm, eh 4 kalimat, aku pun ngebaca tulisan keduanya Robby. Berjudul Intro. Berharap tulisannya rada panjangan. 

Rada panjangan sih emang. Tapi cuma 5 kalimat. Bangke. NAMBAH SATU KALIMAT DOANG. 

Tapi ada satu kalimatnya yang membekas. Yaitu, 

“Apalagi yaaa... yaudahlah segitu aja, gw lagi nyolong koneksi internet punya tetangga nih :D”

Bajingan.

Aku semakin suudzon aja. Bawaanya jadi mikir kalau Robby saat itu lagi donlot video bokep lagi, trus hampir kegep tetangganya. Yaudah sebelum close tab, dia nulis gitu deh. Ngaku aja deh, Rob! Kamu itu nggak sepolos yang Kakak Icha bayangkan! 


4. Yoga
Kesukaan Yoga terhadap yang panjang-panjang (dada wewe gombel misalnya), terlihat di tulisan pertamanya. Ternyata Yoga emang suka nulis panjang-panjang dari dulu. Tapi nggak bikin mikir kalau titit Yoga itu panjang sih. Nggak. 

Yoga nulis soal gombalannya ke seorang cewek yang nggak dia sebutin namanya. Tulisan pertamanya berjudul Kamu Satu

WOW. SEORANG GEMINI YANG TERKENAL PLAYBOY, NULIS SOAL NGANGGAP SEORANG CEWEK JADI SATU-SATUNYA BUAT DIA. WOW. PEMBOHONGAN PUBIC!

Baru baca judulnya aja, aku udah kesel. 

Kekesalanku akan judul tulisannya itu, berlanjut pas baca isinya yang kalimatnya gini, 

“Practice makes perfect.... Gue kurang tau artinya apa kalimat barusan, soalnya Alfalink gue ilang, yang jelas, latihan itu membuat sesuatu itu menjadi sempurna, dari kita gak bisa lama-lama kalo latihan terus pasti bisa,,”

Beda sama lagu Satu-nya Dewa 19 yang romantis, tulisan Yoga yang Kamu Satu ini nggak ada romantis-romantisnya. Muahahahaha. Meskipun aku yakin Yoga nulis kalimat berikut ini, berupaya buat terlihat romantis. 

“Kalau aku terus nyari yang lebih baik, suatu saat juga aku bakal ninggalin kamu. Tapi aku gak gitu, aku cuma nyari yang ngebuat hati aku nyaman, tenang, damai, dan tentram (ini kok damai dan tentram, emangnya gue udah mati).”

Nyari yang ngebuat hatinya nyaman, tenang, damai, dan tentram.

BULLSHIT!

Yoga kan nyarinya yang kacamataan, hidung mancung, trus ukuran dadanya 36B. Ya kayak Mia Khalifa dikacamatain gitu lah. 

Baca tulisan Kamu Satu-nya Yoga sambll dengerin Satu-nya Dewa 19 yang bawa-bawa alat indera manusia jadi seromantis itu, bener-bener jomplang. Yoga kayaknya harus belajar ngegombal sama Once atau Ahmad Dhani deh. 

Trus kayaknya dia nyadar kalau tulisannya itu aneh untuk ukuran orang seplayboy dia. Terlihat di kalimat ini, 

“Gue heran, kenapa gue bisa nulis kata-kata ini, mungkin karena gue pernah membacanya dan merasakan nya. Trus apa yang gue baca dan rasain gue tulis semua disini. Ya begitulah kira-kira. Trus apa nyambungnya sama Kamu Satu?”

Dia yang punya tulisan aja heran dan bingung. Apalagi yang baca. 

Doh, baca punya Yoga bukannya tersipu malu atau terharu. Malah kesel! Yoga bajingan tengik memang! Yoga gemini bangsat!

Gini nih, kalau orang yang ena dibangsat-bangsatin kayak Yoga. Tulisannya juga ena buat dibangsat-bangsatin. 


Ya, itulah tulisan pertama dari Wulan, Darma, Robby, dan Yoga. Tulisan dimana mereka pertama kali menjejakkan kaki di dunia blog. Mereka juga ada nge-review tulisanku dan temen-temen WIRDY lainnya. Punya Wulan bisa dibaca di SINI, punya Robby di SINI, punya Yoga di SINI, dan punya Darma...

DIA MAH SIBUK NYARI PERAWAN TURKI. NGGAK IKUTAN. BIJINGEKS MEMANG.

Btw, Yoga sama Wulan nge-review tulisan mereka sendiri juga sih. Tapi aku sama Robby enggak. Kalau aku, ntar malam pertamaku aja ya, yang aku review
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 16 Oktober 2016

Tutorial Menjadi Introvert Bahagia Seperti Amelie

Mainin hestek #TutorialSulit di Twitter beberapa waktu lalu adalah momen yang susah dilupain. Aku jadi kepikiran buat nulis tutorial juga kayak yang ditulis Yogaesce, Ichsan, Daus, Kresnoadi, dan Bang Haris. Tapi tutorial sulit. Sulit, karena aku sendiri juga bingung ini bisa disebut sebagai tutorial beneran apa enggak. 

Bukan. Bukan tutorial melakukan licking (menjilat area genital wanita dengan lidah, nggak perlu gugling lagi ya) tanpa basah sedikitpun. Tapi tutorial yang sesuai judul postingan ini. Tutorial yang bawa-bawa film. Berjudul Amelie. 

Sumber: Google Image

Bercerita tentang Amelie Poulain (Audrey Tautou), gadis introvert yang waktu kecilnya didiagnosa menderita kelainan jantung (padahal sebenarnya Amelie nggak punya kelainan jantung) oleh ayahnya yang seorang mantan dokter tentara. Ayahnya pun mutusin buat membatasi ruang gerak Amelie dengan nggak ngebolehin anaknya itu keluar rumah. Amelie belajar di rumah sama Ibunya yang seorang guru. 

Tapi sang Ibu meninggal. Bajingak banget pula kronologis kematiannya. Ibunya ketimpa orang yang bunuh diri lompat dari katedral. Jingeks. Amelie pun hidup bersama Ayahnya yang cuek itu. 

Pas dewasa, Amelie bekerja di sebuah kafe. Hidupnya berjalan datar dan membosankan selayaknya hidup orang-orang introvert. Sampai akhirnya Amelie nemuin ‘kotak harta karun masa kecil’ di apartemennya. Amelie mutusin buat ngembaliin kotak itu, kotak yang diduga umurnya udah empat puluh tahun. Dan berhasil, kotak itu dikembalikan ke pemiliknya. Sampai si pemiliknya itu menangis terharu. Hebatnya, Amelie berhasil mengembalikan kotak itu tanpa ketahuan kalau dia yang ngembaliin. 

Sejak saat itu, hidup Amelie tak lagi sama. Dia rela ngebantuin banyak orang tanpa pamrih, dengan cara yang bikin kita bajingak-kok-dia-bisa-kepikiran-bantuin-dengan-cara-gitu-sih dan dia bahagia. Orang-orang yang dia bantuin, nggak pernah tau kalau dia yang udah ngebantuin mereka. 

Movfreak bilang kalau Amelie adalah film paling cerah, palingan membahagiakan, dan paling melegakan yang pernah dia tonton. New York Times menobatkan Amelie sebagai salah satu dari 1000 Film Terbaik yang Pernah Ada. 

Dan menurutku, Amelie adalah film Perancis paling positif yang pernah aku tonton. Selama ini aku taunya film Perancis itu kalau enggak Irreversible, ya Blue Is The Warmest Colour. Satunya tentang pemerkosaan, satunya lagi tentang lesbian. Menurutku, Amelie adalah film tentang orang introvert paling menyenangkan. Amelie dengan sempurna menggambarkan kesepian, keluarga disfungsional, dan pencarian jati diri dengan nggak ada suram-suramnya. Film yang worth-it banget ditonton kalau mau nonton film bertema suram tapi disajiin dengan ceria. Semua unsur di film ini menyenangkan. Para tokohnya, alur ceritanya, naratornya, original soundtrack-nya, dan tentu aja Amelie-nya. 

Btw, aku jarang nonton film pembangkit semangat. Satu-satunya film pembangkit semangat yang aku tonton dan aku suka itu The Shawshank Redemption. Sisanya, film pembangkit birahi. Tapi sejak nonton Amelie, The Shawshank Redemption nggak jadi satu-satunya lagi.

Dan entah perasaanku aja atau apa, aku bukan satu-satunya orang introvert yang ngerasa kalau menjadi orang introvert itu membosankan. Nggak punya hidup semeriah hidup orang ekstrovert. Datar. Membosankan. Selalu menunggu pancingan orang lain, nggak bisa memancing diri sendiri. Apalagi kalau introvert-nya udah masuk ke level yang lebih tinggi. Yaitu anti sosial. Hidup rasanya hampa banget. 

Maka dari itu, aku pengen nulis tutorial menjadi introvert bahagia seperti Amelie. Yaitu sebagai berikut.


1. Menolonglah dengan tulus
Amelie nggak pernah mengharapkan ucapan terima kasih dari orang. Mengharap orang-orang tau kalau dia yang nolong aja enggak. Dia dengan senang hati menolong orang buta menyeberang jalan, menolong tetangga di apartemennya, menolong anak buah tukang sayur, tanpa membeberkan identitasnya. Menolongnya dengan cara-cara yang kreatif pula. Jadi nyenengin nontonnya. Udah kayak nonton bokep yang gaya bercintanya bervariasi. 

Amelie waktu melancarkan bantuan nyelenehnya.
Bukan mau lagi motong kulup ya.
Sumber: Google Image

Ya, ketulusan membawa kita menuju kebahagiaan. Ketulusan Amelie dalam menolong bikin aku mikir, kalau berharap orang yang kita tolong itu ingat sama kebaikan kita, menghargai kebaikan kita, bahkan membalas kebaikan kita itu, bikin kita tersiksa. 

Dan itu yang terjadi sama aku. Jujur, aku lebih respect sama orang yang ngomong makasih pas aku bantuin. Atau bilang tolong pas minta bantuan. Aku lebih ikhlas ngebantuinnya daripada ngebantuin orang yang pantang bilang dua kata ajaib itu. Mungkin karena itu aku nggak bisa jadi semenyenangkan Amelie. 

So, cobalah menolong orang tanpa –minimal- nggak mengharap ucapan terima kasih. 



2. Lalu terimalah orangtua kita apa adanya
Amelie nggak pernah protes sama Ayahnya yang seenaknya mendiagnosa anaknya punya kelainan jantung. Padahal itu karena Amelie cuma lagi gugup aja pas deket sama Ayahnya, karena Ayahnya jarang deket sama dia. Amelie diam aja waktu temen satu-satunya, ikan-dalam-akuarium, dibuang sama Ibunya. Amelie nggak pernah buat ulah cuma demi menarik perhatian Ayahnya yang cuek. Amelie nggak pernah berontak atau marah hidup terisolasi di rumah. 

Sewaktu didiagnosa punya kelainan jantung
Sumber: Google Image

Pada kenyataannya, banyak anak-anak yang berontak sama cara didik orangtua otoriter kayak gitu. Termasuk aku. Aku selalu kesel sama Mamaku yang sampe sekarang masih suka protektifin aku. Kadang aku masih nggak terima kenyataan kalau aku jarang bisa ketemu Bapakku yang kerja jauh. Dan aku berontak dengan ‘membuat jarak’ sama Mamaku. Nggak bisa terbuka kayak anak-anak perempuan lain ke Mamanya. Bisanya terbuka pas mandi doang. Terbuka secara harfiah. 

Nggak bisa menerima suratan takdir ngebuat kita nggak bahagia. Maka, cobalah menerima seperti Amelie. Dan bersyukurlah masih bisa bareng sama orangtua di dunia ini.


3. Jangan takut berbeda!
Dari kecil, Amelie suka berimajinasi. Lalu semakin berkembang sampai dia dewasa. Contohnya, piringan hitam dijadiin pancake, tetangga yang lagi koma diajak ngobrol, dan ngehitung kasar berapa pasangan yang orgasme di hari itu. 

Dalam ngebantuin orang, Amelie juga ngegunain imajinasi-imajinasi liarnya. Terjadilah rentetan bantuan yang anti mainstream dan bikin geleng-geleng kepala sambil nyunggingin senyum terharu. Unik, kreatif, dan indah. Walaupun rada nggak logis sih, kok ada ya orang yang rela bersusah payah demi kebahagiaan orang lain. 

Amelie dan salah satu cara nyelenehnya
Sumber: Google Image

Tapi tetep yang aku suka, Amelie nggak takut buat jadi orang yang nyeleneh. Amelie nggak takut buat melihat dunia dengan sudut pandangnya yang berbeda itu. 

Ada yang bilang kalau orang introvert punya dunianya sendiri. Punya semestanya sendiri. Punya kebiasaan aneh sendiri. Menurutku mungkin itu yang menyebabkan kebanyakan orang introvert itu rendah diri. Orang introvert biasanya nggak membiarkan orang buat masuk ke dunianya karena takut. Takut orang yang masuk itu nggak bisa menerima dunianya. Takut dikatain aneh. Padahal, bisa aja ada orang yang antusias pengen masuk ke dunianya introvert. Pengen denger si introvert menceritakan soal imajinasi-imajinasinya. Pengen berimajinasi bersama, membentuk dunia baru. Dan mungkin keturunan baru. 

Jangan takut punya sudut pandang yang berbeda soal kehidupan. Bisa aja pemikiran kita yang menurut kita ih-apaan-sih, bisa jadi wow-keren-banget di mata orang lain. 


4.  Terakhir, kejarlah cinta sejati!
Selain naratornya yang bajingseng dan jokes ala Perancisnya yang cenderung sensual, hal yang aku suka dari film Amelie adalah kisah percintaan antara Amelie dan Nino. Kisah dua orang yang sama-sama unik. Seperti kata naratornya yang bilang, 

“Di saat Amelie kekurangan teman, Nino sebaliknya, punya lebih.”

Menggambarkan kalau mereka adalah dua orang yang sama-sama punya latar belakang menyedihkan. Nino punya banyak teman, yang dalam artian teman-teman yang nge-bully dia waktu masih sekolah. Tapi Nino nggak terpuruk dan menjalani hidup dengan menyenangkan. Dia hobi ngumpulin foto-foto dari photobox dekat stasiun yang dibuang pemiliknya. Nino kerja di sex shop tapi dia polos. Nino suka ngerekam suara ketawa yang menurut dia unik. Kalau dia denger suara ketawanya Bena, pasti direkam deh. 

Amelie jatuh cinta sama keunikan yang ada pada Nino. Dan mungkin Amelie pikir, kalau mau ngedeketin cowok unik, harus dengan cara yang unik pula. Akhirnya Amelie ngelakuin pendekatan ke Nino, tapi lagi-lagi dengan nggak membeberkan identitasnya. Dan tentu aja, dengan cara yang bajingseng sekali. Gemes nontonnya! Bikin senyam-senyum kampret. Introvert emang gitu kali ya. Berbakat jadi secret admirer.

Amelie sewaktu  melancarkan pedekate ke Nino
Sumber: Google Image

Jatuh cintanya Amelie ke Nino bikin aku mikir, mencintai seseorang itu beda kayak memberikan bantuan ke orang. Mencintai itu butuh pamrih. Imbalan. Balasan. Untuk orang setulus Amelie aja, dia masih bisa kecewa pas Nino bertingkah nggak sesuai yang dia harapkan. Tapi Amelie masih bisa tersenyum, karena toh dia udah berusaha. Dan ya, ending-nya manis sih. 

Nah, kebanyakan orang introvert cuma mendam perasaannya. Udah jarang jatuh cinta, sekali jatuh cinta jadi ragu, bahkan takut sama perasaannya sendiri. Pas yang disuka ditikung temen, baru deh nyesel. Setelah nonton Amelie, aku mikir, kalau sayang sama orang, yaudah ungkapin. Karena hidup nggak perlu dibikin sulit. Kalau nggak suka ya bilang nggak suka. Kalau sayang ya bilang sayang. Kalau lagi dapet ya bilang aja lagi dapet. Jangan pas dianya udah masukkin, baru bilang kalau lagi dapet. 


Yak, cukup segitu aja tutorialnya. Aku emang nggak bakat buat ngasih tutorial ke orang lain. Nggak kayak Pangeran Wortel. Huhuhuhu.

Yang jelas, berbanggalah menjadi introvert. Kalau terlihat dari luar, kita memang kayak cover film Amelie, yang bikin orang mikir kalau itu film horror. Tapi kalau udah kenal kita, kita punya hal-hal indah kayak film Amelie kok. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com