Senin, 28 Desember 2015

Sambung Menyambung Menjadi Cerpen, Itulah Widy

Judul di atas yang panjangnya bisa ngalahin panjangnya punya Adam Levine itu, adalah plesetan dari sepenggal lirik lagu Dari Sabang Sampai Merauke. Tepatnya di lirik, “Sambung menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia.”

Dan maksudnya, panjang judul lagunya Adam Levine, yang Lost Stars. Pendek kan? Bukan maksudnya panjang yang lain. Ciyeee, mikir mesum.....

Hmm. Iya tau, yang baca nggak mikir mesum. Tapi mikir kalau aku memang nggak sejago Adam Levine buat bikin judul yang menarik. Huhu.

Tapi untungnya, aplikasi chat Line di hapeku terlihat lebih menarik, berkat adanya Widy.

Aku bukannya punya ID Line-nya Widy Soediro Nichlany alias Widy Vierra, trus dengan noraknya aku cerita sama beliau kalau lagunya yang berjudul Rasa Ini itu pernah bikin aku nangis bercucuran ingus. Bukannya gitu. Widy itu nama grup chat di Line, yang dibentuk pada tanggal 25 November kemarin.

Dibuat dengan setulus hati dan semulus paha Pevita oleh Yoga

Pembentukan grup chat ini atas alasan gilanya aku dan tiga teman blogger mention-an di Twitter. 

Kami yang terdiri dari Wulan, Darma, Yoga, dan aku sendiri berkicau ngomongin hal-hal yang kebanyakan nggak pentingnya. Seharusnya kami ngomongin yang penting-penting, misalnya ngediskusiin hal-hal yang perlu dibuktikan kebenarannya. 

Kayak, apakah bener suka susah tidur malam hari itu tanda orang kreatif, apakah bener kalau foto bertiga itu, yang di posisi tengah bakal duluan meninggal dunia, atau apakah bener timun bisa bikin cewek jadi becek.  

Sampe akhirnya Yoga mengundang kami bertiga gabung ke multiple chat. Nggak lama, dia ngebuat grup chat bernama WIDY. Nama itu dibuat dari inisial nama kami berempat. Wulan, Icha, Darma, dan Yoga. Nama yang keren. Serasa kayak grup band RAN, yang namanya dibuat dari inisial juga. Semoga karier kami semulus mereka. Dan LDR-ku sama Zai seindah lagu mereka yang Dekat Di Hati itu. Huehehehehe.

Obrolan di grup dan di mention-an ternyata nggak beda jauh. Sama-sama ngomongin hal random tapi seru. Berawal dari ngomongin soal jilboobs. Trus ngomongin film. Ngomongin sariawan. Lama-lama jadi ngomongin percintaan. Curhat-curhatan.

Aku jadi girang dengan adanya Widy. Aplikasi Line-ku bukan sekedar jadi pajangan di layar hape atau jadi menuh-menuhin memori.

Selama ini aku jarang banget main Line. Selain gara-gara yang chat cuma orang-orang yang ngundang buat main Let’s Get Rich, aku juga sebel sama ID Line-ku. Alay dan sok imut. Gara-gara Kak Fajar yang dengan nakalnya bikin ID Line-ku. Dan ID Line itu nggak bisa diganti. Huaaaaaa!!!!!

Makanya, aku males kalau ada yang minta ID Line. Lebih tepatnya, malu. Tapi itu dulu sih. Sekarang urat maluku yang nyaris putus jadi putus beneran.

Apalagi kalau udah ngumpul sama anggota Widy (Btw, aku ngetik ini serasa kami ini anggota ibu-ibu arisan), urat malu serasa udah nggak berbentuk lagi.

Seperti Indonesia yang berbeda-beda suku, agama, dan ras tapi tetap satu, kami juga berbeda tapi menyatu. Dengan umur kami yang pada berbeda, yaitu Darma berumur 22 tahun, aku berumur 21 tahun, Yoga berumur 20 tahun, dan Wulan berumur 19 tahun, paling imut, kami ngerasa klop satu sama lain. 

Tiap hari ada aja topik yang dibahas. Biasanya Yoga yang mulai, kadang Darma. Dan kebanyakan topiknya soal hal-hal yang berhubungan sama sense of humor kami yang sama, yaitu tentang yang mesum-mesum tapi lucu. Ada tapinya ya.

Perjalanan WIDY nggak selalu mulus. Cobaan grup datang dari Darma yang mutusin tali behanya. Eh enggak. Mutusin buat keluar dari grup. Dia bilang mau lebih fokus ke skripsi. Tapi hari belum berganti, dia udah minta dimasukin sama Yoga.

Ciyeeee. Minta masukin sama Yoga. 

Masukin ke grup maksudnya.

Dan kami nerima kehadiran Darma kembali dengan tangan terbuka. Sedih juga nggak ada Darma. Ntar nama grup jadinya WIY. Nama grup apaan itu?

Selain cobaan, hidayah juga datang ke grup WIDY. Tepatnya datang ke Yoga. Dia mendadak bijak. Dari ngomongin manfaat jadi jomblo, mudharatnya pacaran, sampe berkahnya taaruf.  Darma malam itu juga tiba-tiba jadi alim, dengan bertausiyah singkat soal hari yang nggak berkah itu hari yang gimana.

Aku sempat bingung sih, ini Yoga jadi bijak gara-gara ingat mati atau gimana? Trus si Darma, apa gara-gara sempat keluar dari grup, dia jadi alim trus masuk lagi buat menyadarkan aku, Wulan, sama Yoga?  

Aku ngerasa dapat pencerahan. Sedangkan Wulan malam itu ngilang. Aku pikir dia ngilang buat shalat istikharah demi tau jodohnya kelak, tapi ternyata karena nugas. Selang beberapa jam kemudian, dia muncul. Ikut berdecak kagum dan tercerahkan. Mungkin juga sampe standing applause, sujud syukur, atau bahkan potong tumpeng begitu ngeliat obrolan kami yang akhirnya bermanfaat itu. Entahlah.

Tapi, sepandai-pandainya Yoga bijak, akhirnya mesum juga. BAHAHAHAHA! Sama sih, aku juga. Darma dan Wulan juga gitu. Tapi sumpah, buat lucu-lucuan aja kok. Ntar kami mesum beneran pas udah nikah. Sama pasangan masing-masing. Yuhuuuuu~

Waktu itu aku ngajuin tes psikologi sederhana ke grup juga buat lucu-lucuan aja. Dari sepuluh pertanyaan di tes itu, aku cuma ngajuin satu,

“Coba bayangin ada air terjun. Air terjun itu ngalir. Menurut kalian, berapakah deras aliran air terjun tersebut? Jawab yang jujur ya. Yang pertama kali terlintas di pikiran.”

“Gue jawab 2, Cha.”jawab Darma.

“Boleh 100-1000an nggak? Gue 999.” Yoga nyusul.

“9,8 Cha.” Wulan ikut menyusul.

Aku langsung banting mouse. Ngakak sengakak-ngakaknya sambil naikin satu kaki ke kursi kerja kantor.

“Itu jawaban serius, Yog?”

“Itu deres banget. Bayangan gue segitu.”

Aku ngakak lagi. Rasanya nggak tega buat ngasih tau hasilnya.

“Jawabannya apa, Cha?” tanya Wulan penasaran.

Dengan tubuh yang goyang-goyang karena ketawa ngakak, aku ngetik jawabannya.

“Derasnya aliran terjun menunjukan gairah seks yang anda miliki. Skala 1-5 sedang. 6-10 bergairah tinggi. 10-seterusnya maniak.”

Jadi udah tau kan, teman-teman. Siapa yang paling mesum? Bahahahahaha.

Darma waktu itu senang dengan hasilnya, walaupun sempat dikatain sama Wulan. Dikatain syahwat lemah, air terjun apa air pipis, itu gairah seks apa Sarimi isi dua. Wulan menerima hasil tesnya dengan lapang dada sambil tetap ngatain Darma. Lama kelamaan target bully-an pun berubah menjadi Yoga. Semakin dia ngeles kalau dia bukan maniak seks, semakin kami melancarkan serangan. Puas banget rasanya nge-bully orang yang biasanya nge-bully orang. BAHAHAHAHAHA. Oke, kami jahat. Ampun, Yog. :(

Sampe akhirnya Yoga pamit buat mandi. Kami kembali ngatain dia, dengan bilang kalau Yoga mau mandi wajib.

“GUEEEE MAU KE KOMPAS SETAAAAAN. KALIAN TAEEEE!”

Sumpah, aku ngakak nggak nahan. Dari yang banting-banting mouse jadi pukul-pukul meja saking ngerasa bahagianya nge-bully orang habis-habisan.

Dan mungkin karena lelah di-bully, sisi drama telenovelanya Yoga keluar.

“DIAM KAU SULASTRI! SUDAH CUKUP KEBOHONGAN DAN KEBUSUKANMU INI! AKU SUDAH MENGERTI TABIAT KAU!”

“Sulastri siapa, Yog?” tanya Darma dengan polosnya.

“KAU JUGA ALFONSO! TAK USAH BERPURA-PURA! AKU TAU KALIAN SELAMA INI MERENCANAKAN NIAT JAHAT! DIAM-DIAM KALIAN INGIN MEREBUT HARTA TUGIMIN!”

Detik itu juga aku banjir air mata saking ngakaknya.

Sejak saat itu, obrolan kami yang ngalor ngidur makin parah. Kami jadi sering ngobrolin hal-hal dengan capslock dan pake nama ala tokoh di telenovela. 

Nama telenovelanya Yoga itu Sergio. Darma itu Alfonso. Wulan itu Gabriela. Dan aku yang dari Sulastri naik pangkat menjadi Treviguela. Kata Darma, nama telenovelaku kayak nama permen karet. Sialan. Habis manis sepah dibuang dong. Huhu. Sialan kau, Alfonso!

Saking asiknya mem-bully satu sama lain dan bertelenovela ria, kami jadi lupa kalau grup chat itu baiknya kalau ada manfaatnya. 

Mungkin cuma aku yang lupa. Yang lain mah ingat akan hal itu. Salah satunya Yoga, yang ngusulin ide buat ngegarap satu cerpen bersama-sama. Setiap satu atau lebih kalimat, ditulis secara bergantian, sampe akhirnya cerpen itu mencapai ending.

HUAAAAA AKU EXCITED BANGET SUMPAAAAAH. Begitu juga Wulan dan Darma. Ide itu cemerlang sekaleeee! Selain buat latihan menulis, juga buat semakin mempererat ukhuwah di antara kami. Kami bisa makin mengenal satu sama lain, bisa tau kepribadian masing-masing dari cara dan ciri dalam menulis cerpen itu. Bisa tau kelebihan masing-masing. Saling memberi kritik, saran, dan masukan dalam menulis. Kami sambung menyambung menjadi grup yang menelurkan karya, walaupun hanya cerpen.

Well, seperti yang Yoga udah jelasin di postingannya, cerpennya bakal dipublikasikan oleh masing-masing di antara kami berempat secara bergiliran. Jadinya cerpen bersambung gitu. Dan cerpennya udah setengah jalan. 

Rencananya penentuan giliran ngepublikasiin itu berdasarkan urutan inisial di WIDY. Pertama, di blognya Wulan. Kedua, di blogku ini. Ketiga, di blognya Darma. Dan keempat, di blognya Yoga. Buat kapan keluar cerpennya yaitu Januari 2016. YEAAAAH~

Oh iya, dimana ada grup biasanya ada slogan. Dan kami sempat bingung slogan yang ‘kami banget’ itu apa.

Kalau slogannya “The WIDY. Bukan grup gosip, tapi grup belajar nulis sip.”, udah kayak tempat bimbingan belajar. Darma sempat nyaranin, “The WIDY. Karena nggak mesum nggak aseks.” Tapi karena takut diamuk massa atau grup kami bakal difatwa haramkan sama MUI, maka nggak jadi. Akhirnya sesuai saran Yoga, slogannya jadi, “The WIDY. Write, read, and repeat again.”

Slogan yang ciamik. Udah kayak kami ini grup konsisten. Ya, semoga selalu begitu. Baik cerpennya, maupun grupnya. Semoga. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 26 Desember 2015

Kahaani: Kenali Dulu Baru Nikahi

Di saat ada personal blogger, fashion blogger, movie-review blogger, travel blogger, food blogger. Ada satu spesies blogger lagi, yaitu baper blogger. Dan itu aku.

Geli-geli basah sih buat ngakuinnya. Tapi memang iya, aku orangnya baperan. Apapun yang dilihat dan didengar, disangkut-pautin sama perasaan sendiri. Dengerin lagu mellow sebentar, sudah baper. Nonton film drama Thailand, baper juga. Pas ngeliat Sasha Grey di MV Space Bound-nya Eminem, bawaannya pengen ngejerit, 

“Huaaaa!!! Itu kan porn star favoritnya si Zai. Aaaaakkk jadi ingat dia kan!!”

Habis itu nyemilin tissue. 

Mungkin karena itu, aku nggak punya bakat buat jadi movie-review blogger. Lalu lahirlah pendapat di bawah ini, kira-kira sebulan yang lalu. 

“Untuk review buku dan film jangan terlalu spoiler, Cha. Gue belum bisa, sih, cara review. Hmm. Baca review lu berasa bocor.”

Atas pendapat itu, aku ngakak-sengakaknya. Ngakak karena terima banget. Pendapat itu berkemungkinan besar bisa mewakili orang-orang, yang pernah baca postinganku, soal film atau buku.

Seperti yang kita tau, mengetahui spoiler dari sebuah film itu semacam bencana. Apalagi kalau film itu film favorit. Dan ya, aku sering menebar spoiler di postingan soal filmku. He he he....

Aku jadi ngayal, setiap yang baca review filmku, pada rame-rame menyumpah serapah trus close tab. Habis itu ngebanting laptopnya sendiri dan langsung harakiri, sambil bilang, 

“Dasar Icha sialaaaaan! Beraninya kau membeberkan jalan cerita dan endingnya! Aku lebih memilih mati saja daripada nggak jadi nonton film itu! Terkutuklah kau setan spoiler! Arwahku akan menghantuimuuuu!!!” 

Oke. Nggak segitunya juga sih. Tapi yang jelas pasti agak kesel. Dan aku punya alasan kenapa aku sengeselin itu. Karena tujuanku nulis soal film itu bukan kayak tujuan orang-orang nge-review film pada umumnya. Dari tujuan review film berikut ini, 

1. Memberikan informasi atau pemahaman menyeluruh tentang film itu, misalnya siapa para pemainnya, siapa para kru filmnya, apa genre filmnya, gimana penggambaran tentang film itu, dll.

2. Membangkitkan rasa penasaran, sehingga penikmat film dapat mempertimbangkan film tersebut apakah layak ditonton atau tidak.

3. Menumbuhkan minat untuk membandingkan antara pendapat sendiri dengan pendapat di review.

4. Mengajak penikmat film untuk menelusuri lebih jauh atau mendiskusikan film itu bersama-sama.

Nggak ada satupun yang jadi tujuanku. 

Tujuanku cuma pengen membagikan euforia sehabis nonton satu film. Euforia yang ternyata berujung spoiler. Huahahaha. Intinya, aku cuma pengen nyeritain kebahagiaan maupun kesedihanku habis nonton film itu. Nyeritain kebaperanku. Aku cuma pengen ngait-ngaitin film itu sama kehidupanku, yang aku rasa ada kemiripannya. Aku cuma pengen bercerita. 

Sungguh tujuan yang jauh dari kata mulia, dan nggak penting banget. Huhuhuhuhu.

Kali ini, aku mau cerita soal film lagi. Dan nggak bakal spoiler. Kayaknya. Insyaa Allah. 

Berhubung keuangan lagi mengalami masa paceklik, jadi aku bukannya nyeritain film Star Wars: The Force Awakens, Single, atau Negeri Van Oranje. Tapi film dari India, berjudul Kahaani. Film keluaran tahun 2012 yang bikin aku menyumpah serapah karena saking terpesonanya

Bercerita tentang Vidya Bagchi (Vidya Balan), seorang wanita hamil besar yang pergi dari London ke Kolkata, buat nyari suaminya yang hilang. 

Vidya Bagchi, ibu hamil yang cantik nan ayu.
Suaminya, Arnab Bagchi, menjalankan tugas di salah satu kota di India itu, dan mendadak menghilang tanpa kabar. Dibantu polisi muda bernama Rana (Parambrata Chatterjee), Vidya nyari keberadaan suaminya itu. Tapi anehnya, dicari di kantor tempat suaminya bertugas, nggak ada yang kenal. Dicari di tempat tinggalnya, nggak ada juga yang kenal. Semakin dicari semakin nggak jelas siapa itu Arnab. Yang ada, seseorang bernama Milan Damji. Seorang buronan IB (Intelegence Bureau), diduga merupakan otak dari teror gas beracun yang terjadi dua tahun lalu. Masalahnya pada Vidya, muka Arnab dan muka Milan Damji mirip banget. 

Vidya pun bertekad buat nemuin Milan Damji, supaya bisa nemuin suaminya. Tapi nggak mudah, karena data-data tentang Milan Damji dihapus. Juga ada pembunuh bayaran yang siap membunuh siapa aja yang jadi informan tentang Milan Damji, atau siapa aja yang kepo sama Milan Damji. Pokoknya nggak mudah. Apalagi dengan kondisi sang tokoh utama yang lagi hamil besar. 

Huuufh. Berhenti sampai situ nyeritainya, Chaaaa. 

Ternyata bukan cuma film yang dibintangi sama Shahrukh Khan, atau film komedi India kayak 3 Idiots dan PK, yang bisa membangkitkan hawa nafsuku buat nonton film India. Film mysthery-thriller dengan pemainnya yang aku belum tau sebelumnya juga bisa. Film ini nggak ada adegan nyanyi sambil joget-jogetnya. Nggak ada sama sekali. Yang ada, kejutan demi kejutan serta pertanyaan dari diri kita sendiri. 

Kenapa Arnab Bagchi menghilang gitu aja? 

Sebenarnya ada nggak sih yang namanya Arnab Bagchi? 

Trus Milan Damji itu siapa? 

Endingnya bakal gimana? 

Ntar ada adegan ciumannya nggak ya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas berkecamuk di kepalaku pas nonton film ini. Awalnya aku baper waktu Vidya cerita kalau suaminya hilang. Nggak bisa ngebayangin, kalau aku di posisinya. Pas bunting malah ditinggal suami. Trus pas Vidya dan Rana mencari keberadaan Arnab, serasa lagi nonton Termehek-Mehek. Begitu pencarian mereka berdua semakin lama semakin nihil, aku langsung mikir. Kalau mau nikah sama seseorang, harus kenali dulu orangnya. Harus tau bebet, bibit, bobotnya, baru dibabat. Biar nggak bernasib sama kayak Vidya ini. 

Ya ya ya. Kahaani. Kenali dulu, baru nikahi. 

Begitu di ending, pemikiranku di atas soal film ini salah. Salah besar. Ending-nya kece sekali. Aku sukses ditipu sama film ini. Iya sih, namanya juga film, pasti menipu. Karena itu bukan kenyataan tapi dibikin seolah kenyataan, dan pemainnya cuma berakting. Tapi ini bener-bener menipu, menampar banget. Jauh banget dari perkiraan di awal. Nggak nyangka ending-nya bakal sesialan itu. 

Jadi, Kahaani itu bukan (sekedar) tentang kenali dulu baru nikahi. Kahaani sesuai artinya dalam bahasa Indonesia, yaitu cerita. Vidya membawa ceritanya, “My husband is missing.” Kemudian berlanjut dengan tokoh lain membawa cerita soal Milan Damji. Cerita tentang kebudayaan India yang unik. Lalu cerita yang benar-benar ceritanya, berada di ending

Dan karena film ini, aku jadi punya cerita sendiri. Cerita tentang betapa kagumnya aku sama ibu kayak Vidya Bagchi. Ketegarannya, ketabahannya, ketegasannya, dan keberaniannya bikin siapapun yang ngeliat bakal naruh simpati dan kekaguman. Itu semua nggak terlepas dari akting Vidya Balan yang total memerankan tokoh Vidya Bagchi, sampe menyabet piala Best Actress di The 58th FilmFare Awards. Balan menghidupkan tokoh Bagchi, yang digambarkan di film itu, mempunyai sifat seperti Dewi Durga dalam ajaran agama Hindu. 

Sebenarnya, aku nggak cuma kagum sama Bagchi aja sih. Tapi pada semua ibu di dunia ini. 

Terlepas dari agama, bukankah semua ibu itu kayak Dewi Durga? Bijaksana, cantik, dan memesona. Penuh kasih sayang tak terhingga sepanjang masa. Rela menjadi korban demi kesetiaan. Menjadi pembela kebenaran di tengah maraknya kejahatan. Berlindung di bawah naungan yang lebih kuat yaitu laki-laki, tapi bukan berarti nggak bisa jadi pelindung. 

Pffft. Entah ini bisa disebut movie review, curhatan nggak jelas, atau postingan dengan tema Hari Ibu yang telat.

Btw, Mamaku ke Banjarmasin dari hari Rabu. Entah kapan pulangnya. Semoga aja sih ingat pulang. Kalau Nanda nginap di rumah Kak Dayah, bukannya Kak Dayah beserta suaminya yang nginap di rumahku, rumah jadi kosong loh. 

Jadi, ayuk kesini. Jagain rumahku. Aku mau ke Banjarmasin juga rasanya. Tiba-tiba aku kangen Mama. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 16 Desember 2015

Tetaplah Jomblo dan Polos, Ta.

Bingung gimana cara nulis yang baik-baik soal keponakan, itu termasuk tanda-tanda kalau seseorang positif nggak punya sifat keibuan ya?

Rencananya aku mau nulis postingan tentang keponakanku, Khalid Artha Adha, atau yang biasanya dipanggil Artha. 


Foto di atas waktu dia masih umur 4 tahun sih. Hari ini, dia genap berusia 7 tahun. Sekitar tiga atau empat tahun lagi, bakal menginjak umur anak laki-laki ideal untuk disunat.

Jadi, sebagai tante yang baik, aku mau nulis tentang dia. Buat mengenang dia kelak, kalau-kalau nanti dia depresi karena otongnya dipotong. Trus mutusin buat bunuh di…..

ASTAGFIRULLAH, NGETIK APA AKU BARUSAN?

Dasar nggak punya sifat keibuan. 

Ya pokoknya gitu dah. Aku mau ceritain soal dia, tapi bingung mulai darimana. Masalahnya, setiap ngomongin anggota keluarga, bawaanya pengen ngebawa-bawa keanehan mereka. Aku pernah ngomongin soal keponakan-keponakanku, adekku, kakakku. Mamaku dan Bapakku juga nggak luput. HUHUHUHU. Kutuklah aku jadi batu akik :( 

Tapi tetap aja sih aku mau nulis. Dan mengawalinya dengan bilang,

“Aku kangen Preman Gank.”

Serius, kangen banget. Dan ya, itu bukan orang. Itu nama akun twitter, @premanGank.

Akun twitter kesayanganku dari jaman sekolah itu udah lama banget nggak nongol di timeline. Terakhir nongol pas bulan September kemaren. Entah apa yang menyebabkan akun itu menghilang bak ditelan bumi.

Padahal, akun itu pelipur laraku banget. Twit-twitnya selalu berbau mesum sih, menyampaikan kebenaran dengan cara yang nggak bener. Tapi cara itu cukup cerdas buat menyentil beberapa pihak yang masih kangen mantan, pihak yang masih betah di-friendzone-in, sampe para pejabat yang doyan korup. 

Kalau stalking akunnya, bawaannya pengen senyum-senyum mesem sambil ngangguk-ngangguk tanda setuju. Kadang juga ngakak dengan posisi ngangkang. Jangan ditiru, gaes.

Dan lusa malam kemaren, kangenku ke Preman Gank udah mencapai puncaknya. Aku pun dengan gencar stalking akun itu. Dengan binalnya ngakak sambil ngangkang lagi, ngeliat twit-twit dan meme-meme yang di-upload akun itu.

Sampe akhirnya, tawaku terhenti pas ngeliat meme di bawah ini,


Aku langsung duduk manis. Dan pengen nyunggingin senyum miris. Bahkan pengen nangis. Tragis. 

Meme di atas memang bener keadaannya. Anak SD jaman sekarang pada pintar. Pintar pacaran.

Kalau nggak salah pas Januari lalu, dunia maya dikejutkan dengan postingan anak SD di Facebook. Anak SD itu meng-upload foto anak SD juga, cewek, yang diklaim adalah pacarnya.

Pamer pacar yo oloooh. Sumbernya disini
Bahkan ada yang terang-terangan nyatain perasaannya di depan umum, nih contohnya.

Anak SMP nembak anak SD. Pffft. Sumbernya disini

Percintaan anak SD juga menghadirkan keintiman dan kegalauan kayak orang dewasa. Ada anak yang update status kayak gini,

Anak kecil tau apa sama capek hati??!! Sumbernya disini
Giliran patah hati, malah berniat mau bunuh diri,

Dek, kamu harus tau,
mending cinta ditolak daripada lampiran CV ditolak pas mau ngelamar kerja.
Itu lebih nyesek. Sumbernya disini
Miris banget. Di saat mereka harusnya sibuk nangisin mainan yang nggak terbeli, nangis karena habis jatuh dari sepeda, nangis karena disuruh mandi padahal mau nonton kartun dulu, eh malah nangis gara-gara diputusin pacar.  

Di saat mereka cuma harus memusingkan ulangan Matematika. Sekarang malah memusingkan kenapa pacar tiba-tiba minta break trus habis itu si pacar ngilang. 

Di saat mereka harusnya main bareng anak-anak sepantaran tanpa memandang gender, eh malah mau mainnya sama pacar aja. Kalau main sama lawan jenis, takut si pacar cemburu. Kecil-kecil sudah dikekang dan dicemburui berlebihan. 

Di saat mereka harusnya berebut mainan atau berebut ranking satu di kelas, eh malah rebutan cewek. Pipis aja masih berceceran, udah berani macarin anak orang. 

Well, sebenarnya sih fenomena anak SD pacaran terjadinya nggak cuma sekarang ini. Udah dari dulu. Sebenarnya bukan pacaran juga, tapi naksir-naksiran. Pacar-pacaran. Sebatas suka, kagum, atau cuma karena sering dijodoh-jodohkan sama teman. Keseringan diciye-ciyein.

Ekspresi dalam menyampaikan rasa sukanya juga beda. Anak SD jaman dulu lebih banyak malu-malu kucingnya. Memendam rasa itu sendirian karena takut dikatain teman-teman. Memandang yang ditaksir dari kejauhan. Nyoba buat selalu dekat dengan berusaha cari bahan obrolan, walaupun topiknya dipilih sembarangan. Bahkan ngejahilin yang ditaksir cuma supaya dapat perhatian. 

Contoh terdekatnya ada pada Wulan. Di postingannya yang ini, dia cerita soal ngalamin cinta pertama sama teman sekelasnya waktu SD. Febri juga nulis tentang cinta-cintaannya waktu SD di postingannya yang ini, dimana dia jatuh cinta sama gurunya sendiri. 

Lalu aku, yang pernah ngalamin cinta-cintaan di SD juga, sama teman cowok yang sering ngejahilin aku di kelas. Aku sering dibikin jengkel, tapi juga dibikin kangen sama kelakuannya. Bisa dibilang itu benci jadi cinta. Hoek. 

Walaupun tiap anak berbeda, tapi aku rasa semua bentuk cinta-cintaan anak SD jaman dulu itu punya ciri yang sama. Nggak terang-terangan. 

Cinta-cintaan anak SD dulu kebanyakan nggak pernah jadi sebuah hubungan. Juga nggak ngehasilin sakit hati parah sampe pengen bunuh diri. Lagian, anak SD jaman dulu pikirannya belum nyampe ke pacar-pacaran. Kadang ada anak yang malah marah kalau udah dikatain pacaran sama teman-temannya. 

Beda banget sama sekarang. Lebih buka-bukaan. Baik di medsos maupun di dunia nyata. Seolah-olah itu adalah pencapaian terbesar di umur mereka yang masih sangat belia. Punya pacar. Sedih. 

Dan aku baru sadar, kalau Artha sekarang jadi anak SD. Kalau nggak salah, udah kelas 2 SD. Dia tumbuh di era digital ini. Saat semuanya serba dimanjakan dengan internet, sinetron cinta-cintaan sampah makin marak, dan permainan tradisional sudah jarang terlihat. Oh iya, satu lagi. Saat biaya hidup makin mahal, jadi orangtua bekerja lebih keras sampai ngorbanin waktu bersama anak.

Naluri ketanteanku (karena nggak punya naluri keibuan) pun muncul. Aku takut kalau Artha sampe terkena imbas dari kemajuan ini. Ya, kemajuan. Anak SD bisa maju berlangkah-langkah cinta-cintaan kayak anak SMA. Sedih. 

Tapi kalau ngedengar cerita dari Ibunya, Kak Iin, dan cerita kakakku yang lain, kayaknya Artha nggak tertarik buat pacaran. Dia pernah mukulin temannya karena temannya itu ngatain dia. 

"Faris sih, Bu. Artha tuh nggak pacaran sama Sabita! Artha cuma mainan aja sama Sabita tuh nah, Bu." Jawab Artha begitu ditanya alasan memukuli temannya. 

Buset. Brutal banget. Kayaknya Artha kena imbasnya game Point Blank deh, bukannya kena imbas sinetron cinta-cintaan. 

Selain itu, Artha kayaknya nggak punya potensi buat mesum di usia dini.

Sebulan yang lalu, aku nggak sengaja ngedenger percakapan antara Kak Dayah dan Artha di balik pintu. Mereka yang lagi di teras ngobrolin banyak hal, mulai dari Khansa (anaknya Kak Dayah) kenapa ekspresi mukanya selalu datar, Artha orang Banjar atau orang Jawa, sampai.....

"Tante Dayah, masa' Om Jay gak suka main COC. Sukanya main janda. "

GUBRAK!

Waktu itu aku kaget. Masih ingat aja itu bocah, sama voice note-nya Zai seminggu yang lalunya. Gara-gara Zai sialan....

"Hah? Tau darimana? Abang (panggilan buat Artha) ada bbman kah sama Om Jay?"

"Enggak. Artha ada tuh nah gangguin Tante Icha bbman. Tante Icha suruh Artha kirim suara. Artha tanya gak main COC kah Om. Om Jay nya jawab gak hobi main COC, hobinya main janda."

Ngedengar itu, Kak Dayah istigfar berkali-kali, habis itu ngakak. Artha bukannya ikut ngakak, malah nanya,

"JANDA ITU APA SIH, TANTE DAYAH?"

Ya Rabb. Pake nanya segala lagi si Artha. Pantas aja waktu lagi kirim-kirim voice note, dia diam aja pas Zai ngomong itu. Tenyata bukan karena ilfil, tapi karena nggak tau artinya. 

Saat itu juga aku langsung mundur teratur. Masuk ke kamar. Takut kepergok lagi nguping, trus kena siraman rohaninya Kak Dayah. Gara-gara secara gak langsung ngajarin Artha buat mesum.

Kalu lagi ingat kejadian itu, bukan cuma kesal sama Zai aja yang aku rasain. Tapi juga lega. Karena Artha nggak tau apa makna dari main janda. Janda aja dia nggak tau.

Jadi, aku berharap dia bakal selalu sepolos itu. Nggak ngikut pergeseran tatanan moral. Nggak pacaran kayak anak SD jaman sekarang ini.

Aku pengen bisa ngucapin ini di depan keponakanku itu.

"Selamat ulang tahun, Artha. Semoga makin ganteng, makin pintar, makin rajin ikut pengajian Guru Yasin. Bandel boleh, tapi jangan terlalu. Nggak capek apa tiap hari dapat hukuman nyapuin kelas mulu setiap pulang sekolah?

Selamat ulang tahun, bocah yang suka main COC. Tante tau, kamu suka main game. Tapi lihat deh, masih banyak permainan yang lebih asik dari itu. Yang kamu bisa lakuin sama teman-temanmu. Atau sama Tante. Jangan keseringan main hape ya?

Selamat ulang tahun, keponakan laki-laki Tante satu-satunya. Jangan pacaran kayak anak-anak SD jaman sekarang ya. Anak-anak itu, dewasa terlalu cepat. Padahal, apa enaknya sih jadi dewasa? Banyak pikiran. Banyak tanggung jawab yang harus diemban. Banyak pokoknya. 


Kalau disuruh milih, Tante nggak pengen jadi dewasa. Tante pengen kayak kamu. Senyum, ketawa, nangis, tanpa pura-pura. Apa adanya. Nggak perlu senyum di balik sedih. Nggak perlu ketawa padahal itu nggak lucu. Padahal kata-kata lucu itu bisa aja nyakitin.

Pokoknya, jadi dewasa itu sebenarnya nggak enak. Kalau ngelakuin adegan dewasanya sih, enak-enak aja. Kayaknya. Tante belum ngerasain sih. Jadi doain Tante biar cepat dilamar ya. Huahahaha!

Oke, pukul aja Tantemu ini, Ta. Tantemu ini ngebet banget kayaknya.

Tapi biarkan Tante berharap, kamu bakal selalu sepolos ini. Seanak-anak ini. Semoga kamu dewasa di waktu yang tepat. Semoga nanti kalau udah dewasa, kamu memilih buat taaruf aja, sama orang yang kamu sayang.

Selamat ulang tahun, Artha." 

Bahahaha. Ucapan dan doa macam apa itu, Chaaa?

Tapi nggak papa lah. Seenggaknya, aku bisa nulis yang baik-baik soal keponakanku.

Oke. Udahan ya. Mau ngebungkus kado yang nggak seberapa dulu. Sama mau mikir, aku bakal berusaha nahan ketawa. Atau nahan tangis, pas ngelontarin beneran ucapan di atas di depan anak itu.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 10 Desember 2015

Sebelum Membunuh Cowok Cuekmu, Baca Ini

Setiap cewek pasti mau punya pacar romantis. Yang perhatian, manjain, menyairin (dibacain atau dibuatin puisi maksudnya).
Cowok yang kayak gini nih. Uuhhh~
Dan, punya pacar cuek adalah mimpi buruk. 

Bahkan kalau misalnya Arief Muhammad alias Poconggg jadi cewek, dia nggak mau punya cowok cuek. Dia pernah bilang, kalau semandiri-mandirinya cewek, cewek tetap pengen ada yang merhatiin. Tetap pengen ada yang nanya lagi apa, di mana, sama siapa. Kapan makan, kapan mandi, kapan dapet.

Tapi mau gimana. Kalau pada kenyataannya, saat ini kita lagi naksir, berpacarkan, atau diperistri sama cowok cuek. Logika sama perasaan seolah bertolak belakang. Di satu sisi, ngerasa jengah sama sifat cueknya. Di satu sisi lain, nggak bisa ke lain hati. 

Daripada tiap hari timbul niatan buat ngebunuh itu cowok cuek, mau nggak mau kita harus ngertiin. Dia pasti punya alasan kenapa cuek.

Berikut bentuk-bentuk kecuekan cowok, beserta alasan kenapa dia begitu.


1. Jarang kasih perhatian
Jarang-jarang sms, chat, atau nelpon pacarnya. Jarang-jarang tanya gimana keadaan sang pacar. Jarang-jarang ngucapin, 

"Selamat pagi, sayang! Semoga aktifitas seharian ini lancar."

"Selamat makan siang, sayang! Makan yang banyak. Aku nggak mau kamu sakit." 

"Selamat datang bulan, sayang! Untungnya kemaren nggak keluar di dalam ya. Syukurlah."

Maksudnya, keluarin curhatan kalau telat dua bulan di dalam rumah. Kan bahaya. Bisa dipecat jadi anak. 

Cowok cuek memang terlihat kayak lupa kalau dia punya pacar. Sok sibuk. Jarang ngehubungin. Seolah tunggu ditelpon atau di-sms duluan.

Tapi percayalah, itu bukannya dia nggak peduli. Bagi dia, bertanya dan ngucapin hal klise itu nggak ada manfaatnya. Bakal terasa ngebosenin. Dan nggak bermakna dalam lagi, kalau itu dilakuin setiap hari bahkan setiap saat. Itu hanya bakal jadi kewajiban, atau malah peraturan. Bukan bentuk perhatian sesungguhnya lagi.

Bagi cowok cuek, bentuk perhatian itu bukan sekedar kirim sms atau chat. Dia nunjukkin perhatian tanpa kita sadari kalau itu bentuk perhatian dari dia. 

Siapa tau, cowok cuek jarang komunikasian sama kita karena memang sibuk. Sibuk berusaha ngebahagiain orangtuanya dengan sekolah, kuliah, atau bekerja. Sibuk nyiapin bekal buat hidup bareng sama kita kelak di masa depan. Duuuh. HOEK.

Lagian, cowok yang selalu bisa komunikasian setiap saat 24 jam, memangnya bagus? Berarti dia nggak punya kesibukan. Kerjaannya cuma gerayangin hape sama nyolokin charger ke stopkontak.

Duh, jangan suudzon, Cha!

Yang jelas, dia peduli sama kita, dengan caranya sendiri. 


2. Dingin dan sok jual mahal
Cowok cuek identik dengan predikatnya sebagai cowok cool. Apalagi kalau badannya tinggi besar, dan bisa dimasukkin ice cream biar nggak mencair. Eh, itu sih kulkas. 

Cool alias dingin itu kayak pembawaannya yang tenang, nggak peduli sama sekitar, ekspresi mukanya juga datar. Jarang bicara, jarang senyum, apalagi koprol, jarang banget. Pokoknya dingin gitu, dingin-dingin bikin kepengin. Punya kharisma tersendiri. Tapi bikin kesel, karena cowok cuek juga nampilin kesan nggak butuh orang lain. 

Cowok cuek jarang ngedeketin cewek. Ngobrol soal cewek aja jarang.  Pas didekatin, dia malah ngejauh. Makin ngasih jarak. Kayak punya dunia sendiri. Jadi kesannya kayak sok jual mahal. Dikasih kode juga nggak nyadar-nyadar. Ya, cowok-cowok memang lemah sih kalau soal ngartiin kode-kode dari cewek, tapi cowok cuek ini kayak bego banget dah. 

Nah, sebenarnya cowok cuek itu nggak bermaksud sombong. Dia memang demen bicara seperlunya. Tapi saat kita tau kesukaan dia apa, dia akan bergairah buat ngomong panjang lebar. 

Cowok cuek juga biasanya suka sama cewek cerdas. Ya bukan cewek yang tiap hari kerjaannya makan buku, atau di umur 15 tahun udah masuk perguruan tinggi. Tapi cewek cerdas yang nyambung kalau diajak ngobrol dan wawasannya luas.

Sebenarnya cowok cuek nggak jual mahal. Cowok cuek adalah makhluk yang lebih terus terang daripada cowok romantis. Kalau dia nggak ada perasaan sama si cewek, dia bakal ngejauh. Nggak sok-sok ngasih harapan hanya karena takut si cewek tersakiti.

Cowok cuek susah buat jatuh cinta. Dan karena itu, biasanya dia setia. Boro-boro nyari selingkuhan, nyari pacar aja susah. Harus mematahkan anggapan bahwa cinta itu aneh. Ya, bagi dia, cinta itu aneh. 

Kalau punya rasa sama si cewek, cowok cuek juga nggak langsung ngungkapin. Dia lebih milih diam dan nahan perasaannya. Sampe si cewek nunjukkin tanda-tanda, kalau si cewek juga punya rasa yang sama. Tapi nunjukkinnya nggak sampe agresif juga sih. Dia bakalan ilfil kalau si cewek kayak ngebet pengin dipacarin.

Cowok cuek menjunjung tinggi keterus-terangan, jadi kita nggak perlu gengsi buat bilang sayang duluan. Seperti yang bodohnya, aku lakuin dua tahun lalu. Malu-maluin memang. Tapi dipikir positif aja, mungkin cowok cuek itu pendukung emansipasi wanita. Gitu. He he… he he.


3. Nggak romantis
Jarang memuji pacarnya. Yang ada malah ngatain mulu. Hidung pesek, badan kurus, dada rata. Nggak pernah ngegombal. Digombalin, "Iya, demi kamu nih, sayang. Aku makan sayurnya. Demi kamu, apa sih yang enggak.." malah bilang, 

"Iya, terserahmu aja."

Kalau diajakin ngomong soal masa depan, bukannya ikut mengkhayal atau ngerencanain. Malah, 

"Iya, itu misalnya kalau kita jodoh. Kalau nggak, gimana?" 

Jarang bilang aku-sayang-kamu. Tunggu dipaksa dulu baru mau. Itupun ngomongnya datar, nggak ada mesra-mesranya. 

Pas si cewek sakit, bukannya ngebujuk buat minum obat. Atau nyuapin makan pake sendok semen (biar makannya banyak jadi cepat sembuh), malah bilang, 

"Oh. Masih nggak puas kah sakit kemaren sampe di-opname? Bagus. Lanjutkan."

Sumpah, pengen nelan gulungan kabel rasanya kalau udah kayak gitu. 

Tapi cowok cuek pernah kok memuji pacarnya. Memang jarang sih, tapi sekali memuji, pasti bakal bikin sekujur tubuh melemas minta ditidurin. Lagian, kalau cowok suka sama penampilan cewek, dia memilih diam. Bagi mereka, kagumnya ke kita itu nggak perlu diungkapin.

Contohnya, dia bakal diam kalau si cewek pake baju yang menurut si cowok bagus dipake. Giliran si cewek pake baju jelek, si cowok langsung berkoar-koar ngatain. Nasib si cowok selanjutnya, tergantung sama si cewek sih. Bakal dilumat habis sama si cewek karena nggak terima dikatain jelek, atau hidupnya baik-baik aja. 

Beda sama cewek, yang rata-rata bakal berisik kalau liat temennya pake baju bagus. Bakal muji-muji, nanya beli dimana, trus koar-koar pengen beli juga. Kalau baju temennya jelek, dia bakal diem aja. Atau ngomongin diam-diam sama temennya yang lain. Iya nggak sih?

Dan biasanya kalau udah dipuji cantik sama cowok, cewek bakal mengelak.

"Ah masa sih, Sayang? Ini eyeliner aku ketebelan, baju aku jelek, lipstick aku warnanya nggak matching sama kaos kaki kamu. Bla bla bla bla"

Ngomong kayak gitu untuk apa? Mau ngerendah? Berharap semakin dipuji? Yang ada dia malah nyesal udah muji kita. Karena dia ngerasa, usahanya buat memuji nggak dihargai. Jadi, kalau pacar kita yang cuek itu tiba-tiba muji kita, cukup bilang terima kasih. Sambil menyunggingkan senyum manis dan genit. Kalau udah kayak gitu, mereka bakal ngerasa dihargai. Bakal sering memuji juga. Kayaknya sih. 

Cowok cuek nggak mau panjang-panjang angan dengan berkhayal bakal kayak gimana bermasa depan bareng kita, bukannya karena nggak yakin kalau pacarnya itu jodohnya. Dia cuma nggak mau berpikiran sok tau, mikir kalau dia dan pacarnya pasti jodoh.  Dia tau, dia hanya harus ngejalanin hubungan ini dengan baik, karena yang nentuin jodoh apa enggaknya itu Yang Maha Kuasa, bukan dia. Bukan kita juga, pacarnya. Hmm... cowok cuek agamis juga ya. 

Cowok cuek biasanya memegang prinsip, kalau mereka cukup satu kali atau seperlunya bilang, “Aku sayang kamu.”

Karena baginya, ucapan itu sakral. Kalau dijadikan rutinitas seperti yang cewek mau, sensasi mengucapkannya akan jadi biasa aja.

Memang nggak sefrontal cowok romantis sih. Tapi seperti yang dibilang salah satu kaskuser dalam thread cowok cuek, cowok cuek itu punya cara tersendiri buat nunjukkin rasa sayangnya. Cara yang nggak lazim sih memang, but his love mostly ruins so deep. 


4. Cenderung tertutup
Jarang mau cerita soal kehidupannya. Giliran kita yang cerita, nanggapinnya kayak nggak serius. Ngatain lah, jawab singkat-singkat lah, ngebahas yang lain lah, yang ujung-ujungnya bikin kita ketawa trus lupa sama cerita itu. 

Kalau ada masalah, dipendam sendiri. Kita taunya dia lagi ada masalah, dari orang lain. Bukan dari dia sendiri. Pas lagi ada masalah sama kita, dia diam. Atau buruknya, besoknya malah nggak tau-tau kalau dia dan kita lagi perang. Lempeng aja gitu sms, datang ke rumah, seolah nggak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.  

Nyebelin banget yak? 

Tapi nggak jadi nyebelin, begitu mikir kalau cowok cuek adalah pendengar yang baik. Dia nggak pernah nyela curhatan kita. Dia dengerin sampai selesai, sampai kita puas dan lega. Dia nggak cuma dengerin aja. Tapi juga merhatiin wajah kita. Ngetawain bibir kita yang manyun-manyun bebek dalam hatinya. Keheranan dengan alis kita yang naik turun tanpa lelah. Mengagumi wajah kita yang walaupun lagi beraura negatif, tapi tetap meneduhkan. Tetap bikin dia sayang. Duuuh~ 

Cowok cuek memang jarang bercerita sama pacarnya. Bukan karena dia nggak percaya, tapi karena takut bikin pacarnya panik. Dia nggak mau terlihat lemah dan minta dikasihani. Dia nggak mau pacarnya terbebani. Dia nggak mau senyum yang biasa mereka liat, berubah jadi raut sedih.

Tapi nggak selamanya kok cowok cuek itu tertutup. Pasti akan datang saat dimana dia cerita semua tentang dia. Kalau saat itu tiba, dengarkan dia baik-baik. Dan tersenyumlah. Berarti dia sangat sayang sama kita.

Cowok cuek memilih buat diam pas lagi berantem sama kita, karena nggak mau bikin kita tambah marah. Baginya, mengalahlah dengan diam. 

Padahal bagi kita, dia kayak lari dari masalah. Dia juga tipe orang yang nggak suka berlarut-larut dalam masalah. Dia berlaku seolah kemarin itu nggak terjadi apa-apa bukan karena nggak ngerasa bersalah. Tapi karena nggak mau memperpanjang masalah itu.

Mungkin gitu. Semoga gitu. Pokoknya mikir gitu aja deh.


5. Urat cemburunya putus 
Cowok cuek biasanya nggak ngatur-ngatur pacarnya bolehnya jalan sama siapa, kalau mau jalan harus ijin dulu, harus bikin surat pengantar dulu. Dia juga terlihat biasa aja pas si pacar koar-koar disepikin cowok lain. Pokoknya, kayak nggak ngerasa takut kehilangan sama sekali.

Cowok cuek bukannya nggak kenal rasa cemburu. Mereka bisa kok cemburu, bisa banget! Dia bisa banget cemburu kalau mergokin kita lagi french kiss sama mantan. Atau lagi main kuda-kudaan sama om-om di dalam mobil. Dia cemburu untuk hal-hal yang penting dan genting. Dan kalau cemburu pun, bukannya ngambek. Tapi langsung nyambit pake celurit. Antara nyambit hubungan kita dengan dia sampe putus, atau nyambit kita sampe nggak bernyawa lagi.

Cowok cuek juga sebenarnya cemburu sama hal-hal kecil, tapi nggak ditunjukin. Karena dia punya pikiran simple kayak Jack Sparrow,

“The problem is not a problem. The problem is your attitude about the problem.”

Jadi, dia nggak mau dikit-dikit cemburu. Dia juga anti negative-thinking. Singkatnya, dia percaya sama pacarnya.

Tapi, kalau sekali aja kita mengkhianati kepercayaannya, kita bakal ngerasain kayak habis berhubungan pake kondom bocor. Kita bakal nyesal. Dia anti pengkhianatan, dan susah buat percaya lagi.


6. Ogah memanjakan
Beda sama cowok romantis, cowok cuek jarang banget memanjakan. Nggak pernah nyuapin pas makan, bawain belanjaan, atau beliin pembalut pas pacarnya lagi dapet. Dia juga jarang ngelakuin kontak fisik mesra. Macam pegangan tangan dengan lembut, ngebelai kepala, atau nyium kening.

Yang ada, cowok cuek hobi banget ngejahilin si cewek. Narik-narik jari si cewek, ngacak-ngacak rambut sampe si cewek gondok, atau menoyor kepala si cewek sambil ketawa ngakak. Kurang kerjaan banget. 

Alasan cowok kayak gitu karena….. dia nggak mau ngelakuin hal-hal yang menjurus ke arah mesum ke pacarnya sendiri. 

Kesimpulannya, cowok cuek itu anti mesum, nggak kayak cowok romantis. Ya, cowok cuek anti mesum! YAAA!


Udah, itu aja. Takut semakin banyak poinnya, semakin kelihatan betapa sok taunya aku. Intinya, manusia pasti punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Dan bisa aja, kekurangannya itu malah jadi kelebihannya. Hmm. Sebenarnya agak berat juga sih, buat ngetik kalimat terakhir. 

Sebenarnya lebih takut, kalau kita cuma ngeliat cowok cuek dari sisi jeleknya. Sampe akhirnya dia pergi atau kita yang pergi, trus nyesal. Karena baru sadar kalau cowok cuek itu sebenarnya sayang sama kita. Karena baru sadar, kalau cowok diibaratkan minuman, minuman yang terlalu manis itu juga nggak enak.

Duh, jadi haus. Udahan ya. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 05 Desember 2015

Film-Film Kesepian

Waktu iseng membuka-buka galerinya Icha, saya menemukan banyak screenshot. Berupa twit-twit, quote-quote, bahkan foto Glenn Alinskie-Chelsea Olivia yang asyik berciuman di kolam renang. Saya hanya bisa tertawa sinis.

Heh, dasar kau pelaku LDR haus imajinasi liar, Cha. HAHAHA!

Tapi tawa sinis saya berganti jadi senyum miris, pas melihat screenshot twit-nya @RonsImawan. Bunyinya,

"Kalo lagi kesepian, jangan nyimak konten yang lucu-lucu atau nonton film komedi. Ketawa sendirian will make you look desperate."

Bagi orang yang suka nonton film komedi demi ngebunuh rasa kesepian, twit itu sungguh menohok sekali. Twit itu seolah berbicara langsung ke Icha. Dia banget soalnya.

Saudara alter egoku itu sering melarikan diri dari kesepian dengan nonton film, khususnya film komedi. Tujuannya supaya nggak kepikiran sama kesepian itu. Supaya nggak muncul niat belanja ini-itu agar nggak bosen sama kesepian. Supaya nggak kepikiran buat nyanyiin lirik,

"Lay Lay Lay Lay Lay Lay, panggil aku si Jablay. Abang jarang pulang, aku jarang dibelai." dengan mendesah sambil menggerayangi sekujur tubuhnya sendiri.

Tapi kalau dipikir-pikir, benar juga. Ketawa sendirian bikin dia jadi terlihat menyedihkan. Seolah-olah dia sedang berusaha keras untuk menghibur dirinya sendiri. Hahaha. Kasihan.

Well, sebenarnya itu gak ada salahnya. Yang salah itu, kalau dia memilih buat jadi wanita penghibur. 

Cuma.... menyedihkan aja.

Saya jadi teringat dengan postingannya tentang bahaya kesepian. Disitu Icha ada membahas sedikit film-film bertema kesepian. Rasanya masih kurang. Masih banyak lagi film-film tentang kesepian. Film-film yang menurut saya cocok buat ditonton orang kesepian seperti Icha, dan mungkin buat yang lain juga, yang ngerasa saat ini lagi kesepian kronis.

Yap, nonton flm horror biar nggak ngerasa sendirian.
Tapi saya takut pipis sendirian. Takut ada yang ngintip

Film-film kesepian tersebut yaitu, 


1. The Voices (2015)
Ini film tentang kesepian yang paling keren, menurut saya. Iya memang, genrenya thriller-comedy. Ada komedi-komedinya. Tapi nggak 100% komedi kok.

Ada drama sama thriller-nya juga. Dan Icha cinta mati dengan thriller. Tapi untungnya nggak punya cita-cita pengen punya pacar psikopat.

The Voices bercerita tentang Jerry Hickfang (Ryan Reynolds) seorang karyawan di bagian pengepakan dan pengiriman barang. yang ceria dan penuh semangat. Dia tinggal bersama anjing dan kucing sebagai peliharaanya. Dia jatuh cinta pada teman sekantornya, Fiona (Gemma Arterton). Di saat yang bersamaan, ada Lisa (Anna Kendrick) yang suka sama dia.

Ternyata si Jerry nggak seceria yang dilihat. Ya, sebelas dua belas lah kayak Icha.

Bedanya, dia punya kenangan pahit waktu kecil, yang ngebuat dia harus rutin pergi ke terapis. Kejiwaannya terganggu. Dan pada saat dia luput minum obatnya, dia bisa 'mendengar' kucing dan anjingnya ngomong ke dia. Ngasih dia nasihat baik dan buruk, yang lama-lama membuat dia jadi pembunuh.


Filmnya unik. Komedi, thriller, dan dramanya bergantian hadir di film ini. Keren. Adegan-adegannya suka bikin ambigu, yang nonton dibikin bingung memilih antara mau ketawa atau merasa ngeri. Muka Ryan juga sama sekali nggak bikin kita punya pikiran kalau dia ini sebenarnya sakit jiwa. Film ini juga seolah mereprentasikan alasan-alasan pembunuh sewaktu ditanya alasan ia membunuh, dan biasanya akan menjawab,

"Tidak tau. Saya hanya seperti mendengar suara-suara di telinga saya, Pak Hakim."

Kerennya lagi, adegan Jerry alias Ryan bisa ngomong sama binatang, sepertinya terinspirasi dari kisah Nabi Sulaiman. Kisah Nabinya umat Islam. Kurang keren apalagi coba? 

The Voices seolah menyuarakan kalau kesepian itu berbahaya. Kesepian bisa membuat kita kehilangan akal sehat dan akhirnya menghilangkan nyawa orang lain. Trauma di masa lalu juga ikut ambil bagian. Makanya, jangan menyakiti hati orang terlalu parah. Nanti bisa aja dia jadi trauma pacaran gara-gara kamu.


2. St. Vincent (2014)
Lagi-lagi harus saya akui, kalau film ini film komedi. Tapi lagi-lagi juga, ada unsur dramanya. Dan ada om-om-nya juga. Yaitu Bill Murray. Penikmat om-om seperti Icha pasti bahagia menontonnya.

Ceritanya tentang Vincent (Bill Murray) kedatangan tetangga baru, Maggie (Mellisa McCarthy) dan anaknya Oliver (Jaeden Lieberher). Maggie adalah single-mother yang sibuk bekerja sehingga nggak sempat mengurus anaknya. Secara nggak sengaja, Maggie memberikan Vincent pekerjaan, yaitu jadi pengasuhnya Oliver selama Maggie bekerja. Vincent dan Oliver jadi dekat dan terhubung satu sama lain.

Masalahnya, Vincent adalah sosok orang tua rada pemarah, pemabuk, penjudi. Bener-bener bukan tipikal pengasuh yang baik. Tapi ternyata bikin mengharu biru. Makanya dikasih judul St. Vincent alias Santo Vincent, judul yang bikin kita bingung di awal. Namun akhirnya paham dan setuju di akhir.


Banyak yang istimewa di film ini. Nggak perlu banyak bumbu cinta-cintaan, apalagi gitu-gituan buat bikin filmnya betah ditonton sampe habis.

Tokoh sentralnya cuma seorang om-om tua, dan anak kecil umur 12 tahun. Tapi filmnya bikin nagih buat ditonton lagi dan lagi. Kesepian yang dirasain Vincent ditampilkan perlahan namun pasti. Perasaan kita seolah dijungkirkan balikkan pas film ini mendekati ending. Dari yang sebellll banget sama penampilan urak-urakan dan tutur kata semaunya Vincent, jadi merasa simpati begitu tau yang sebenarnya. Vincent hanya pura-pura menyebalkan, agar orang-orang nggak tau kalau sebenarnya dia itu kesepian. 

Icha banget. Suka ngomong mesum sampai bikin orang ilfil, demi supaya dianggap menyenangkan dan berpengalaman.

Kesepian bisa mengubah kepribadian seseorang. Vincent berubah jadi orang yang anti sosial sejak istrinya meninggal. Dia juga kesulitan ekonomi tapi masih sering ke pacuan kuda, untuk membunuh kesepiannya. Dia juga memakai jasa kupu-kupu malam, juga untuk membunuh kesepiannya itu. Segitu besarnya pengaruh kesepian.


3. Requim For a Dream (2000)
Tentang empat orang pecandu yang lama-kelamaan ngerasain hancurnya hidup mereka karena kecanduan mereka itu. Terdiri dari Harry (Jared Leto),  Marion (Jennifer Connely), dan Tyrone (Marlon Wayans) yang kecanduan narkoba. Sara Goldfarb (Ellen Burstyn), Ibu Harry, yang kecanduan nonton TV dan obat pelangsing. Mereka berempat punya mimpi masing-masing untuk diwujudkan, tapi sayang, cara yang ditempuh salah.


Film ini bikin saya ngeri sama apa yang namanya narkoba. Lebih merasa ngeri lagi sama efek kesepian, gara-gara tokoh Sara. Tokoh favorit saya. Dia yang udah tua, ditinggal mati suaminya, ditinggal anaknya yang kecanduan narkoba. Dan kalau Harry datang ke rumah, hanya mau ngejual TV di rumahnya itu, satu-satunya 'teman' yang dipunya ibunya. Sara sabar dan tabah menghadapi  Harry.

Di balik kesabarannya, dia punya impian ingin tampil di acara favoritnya yang dia tonton setiap hari. Akhirnya ada kesempatan buat tampil, dan dia ingin memakai gaun merah favorit waktu masih muda. Tapi sudah nggak muat.

Dia pun nyoba buat mengonsumsi obat pelangsing dosis tinggi. Dia nggak peduli betapa tersiksanya mengonsumsi obat itu. Yang terpenting dia selalu terpacu buat mewujudkan impiannya. Karena tujuan hidupnya hanya itu, dia ngerasa untuk apa hidup selain hanya buat itu. Saya jadi ikutan cengeng seperti Icha pas dialog Sara yang, 

""It's a reason to get up in the morning. It's a reason to lose weight, to fit in the red dress. It's a reason to smile. It makes tomorrow all right"

Huuufhh. Film yang terlalu depresif dan menyakitkan bagi saya. Dan membuat saya jadi berpikir, kalau kesepian bisa membuat kita jadi terobsesi akan suatu hal yang sebenarnya nggak baik, misalnya narkoba itu. Karena kita jadi mikir kalau hal itu satu-satunya yang bisa bikin kita bahagia, padahal nggak. 


4. Sleeping Beauty (2011)
Bukan film dongeng, tapi film drama, Drama rada erotis. Saya sebut rada erotis karena sebenarnya nggak ada adegan bercintanya, tapi ada yang membuat film ini jadi erotis.

Ciyeee..... yang cowok-cowok langsung gelinjangan di kasur. Apalagi kalau liat tokoh utamanya, cewek cantik asal Australia bernama Emily Browning, tampil polos berkali-kali di film ini. Polos dalam artian sebenarnya. Tanpa sehelai benang pun.

Bercerita tentang Lucy (Emily Browning), seorang anak kuliahan yang bekerja serabutan demi membiayai hidupnya. Jadi pelayan di rumah makan, kerja di fotokopian sederhana, dan relawan penelitian. Sedih.

Sampai pada suatu hari, Lucy membaca lowongan di surat kabar kalau ada pekerjaan menjadi 'erotic waiters', dan gajinya cukup besar. Tanpa pikir panjang, Lucy mengambil pekerjaan itu. Nggak disangka, si bos menawari Lucy untuk bekerja tambahan. Menjadi sleeping beauty.

Tugasnya mudah. Tinggal minum obat tidur, lalu berbaring dengan keadaan naked. Lucy nggak boleh mempertanyakan apa yang terjadi selama dia tidur. Pokoknya, tinggal terima bayaran saja.

Enak banget ya, kerjaannya cuma tidur trus dapat duit.

Padahal sebenarnya, ada pria-pria tua yang yang menikmati tubuh Lucy, selagi dia tidur. Pria-pria-tua-keriputan-nafsu-besar-stamina-kendor, yang rela membayar mahal demi bisa tidur dengan Lucy. Endingnya, miris banget. Rasanya jadi ikutan kesal seperti Lucy.


Sebenarnya saya lebih fokus ke pria-pria tua yang menyewa jasa sleeping beauty-nya Lucy. Mereka dari kalangan kaya-raya dan terpelajar, tapi kesepian. Entah kesepian karena istrinya tak sekuat dulu dalam melayaninya. Entah kesepian karena karir melonjak sampai sibuk sendiri lalu merasa nggak punya siapa-siapa. Entah kesepian karena bingung mau menghabiskan uangnya yang banyak itu kemana, sama siapa. 

Kesepian bisa membuat kita mencari pelarian. Membuat kita menghambur-hamburkan uang untuk kebahagiaan yang salah. Kayak pria-pria tua di film in. Kesepian juga bisa membuat kita jadi haus akan uang, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Seperti Lucy, yang merasa nggak punya siapa-siapa lagi yang berharga di hidupnya, setelah teman-tapi-mesranya bernama Birdman, meninggal dunia. Sampai dia merasa, kehormatannya pun sudah nggak berharga lagi dibanding uang. Wuidih, serem. Jangan kayak begitu ya, anak-anak. 


Dan masih banyak film-film kesepian lainnya. Tapi segitu aja dulu. Selain karena udah kepanjangan, saya rasa film-film di atas udah cukup buat menggambarkan, kalau nonton film bertema kesepian itu nggak menyedihkan.

Beda sama pas lagi sedih, trus mendengarkan lagu-lagu sedih. Sedihnya bisa jadi dua kali lipat. Atau beda sama pas lagi pengen, bisanya cuma mandangin foto sama pacar. Pengennya jadi dua kali lipat. Anu, pengen ketemu maksudnya. Bukankah begitu, Cha?

Tapi kalau nonton film kesepian, siapa tau kita jadi tau apa sebenarnya makna kesepian itu. Kita jadi tau, masih ada kesepian yang lebih parah dari yang kita alamin. Kita jadi tau, dampak kesepian itu sangat buruk. Kita jadi tau, kalau bukan cuma kita aja yang pernah mengalami kesepian. Kita jadi tau, kalau sebenarnya kita nggak kesepian, tapi memang kita yang sengaja menyepikan diri. Sok kesepian. 

Siapa tau. 


-Alzhema- 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 04 Desember 2015

Menghidupkan yang Telah Mati

Di saat anak-anak kekinian pada asyik main Duel Otak, aku malah asyik main Shady Wars. 

Game yang diluncurkan Eminem pada tanggal 5 November 2015 kemaren ini bikin aku yang orangnya nggak suka main game, jadi suka. Pas pagi selesai mandi, mainin game itu. Pas di kantor sela-sela kirim e-mail, main lagi. Pas malam sebelum tidur, lanjut main. Aku yang biasanya dimainin, akhirnya sekarang jadi orang yang mainin. Mainin game maksudnya.


Mainnya juga nggak sampe bikin ubanan kayak Duel Otak. Pemain ditugaskan untuk mengarahkan karakter yang dimainkan, geser kiri atau ke kanan, buat nangkap lirik dan beat sesuai dengan lagu yang diputar, dan itu jatuh dari atas. Kehilangan satu lirik atau satu beat aja, kita bakal mati. Trus nanti bakal ada kayak musuhnya gitu, berupa pesawat atau apa entahlah, yang bisa menembak karakter kita. Kita juga bisa ngumpulin koin untuk ngebuka fitur-fitur baru atau ngedapatin senjata.

Game ini nggak hanya diperuntukkan buat para kaum Stan (penggemar Eminem) aja, tapi bisa juga buat kaum jomblo dan kaum LDR. Bagi para jomblo dan kaum LDR yang nggak tau mau gerayangin siapa selain dirinya sendiri, bisa gerayangin layar hape buat mainin Shady Wars. 

Eminem aja mainin game ini. Masa kamu mainin hati orang?
Ya, memang nggak bikin ubanan sih, karena kita nggak disuruh buat berpikir keras. Tapi pas kehilangan satu lirik aja, atau mati ditembak musuh, bikin menyumpah serapah. Ngumpat sana sini, refleks ngehentakin kaki, dan ngerusakin inventaris kantor. Dan secara nggak langsung, Shady Wars ngingatin aku sama Alzhema. 

Bukan cuma ngingatin, tapi juga bikin kangen.

Alzhema adalah alter egoku, yang aku bentuk karena aku ngerasa, ada diriku yang lain. Alzhema punya sifat yang berkebalikan dari sifatku, yang sebenarnya adalah sifatku juga, tapi selama ini nggak pernah aku tonjolkan. Kebiasaanku yang suka ngomong sendiri juga ikut andil dalam pembentukan Alzhema. Penjelasan lengkap soal Alzhema pernah aku tulis di Alter-Alter Egoan. Bagi yang udah pernah baca postingan berlabel ketikan Alzhema, itu adalah postingan yang ditulis sama Zhema maupun postingan tentang niatku ngebentuk dia.

Tapi itu nggak berlangsung lama. Semenjak aku keluar dari rumah sakit bulan Juli kemarin, 'kehadiran' Zhema di kehidupanku udah nggak ada lagi. Aku udah jarang mengumpat, bertingkah kecewek-cewekan banget, sering nangis, dan jarang dengerin lagu Eminem lagi. Trus aku berpikir buat ini-alter-ego-kita-matiin-aja-kali-ya. Akhirnya, Alzhema aku anggap nggak pernah ada. Lagian, banyak yang bilang kalau punya alter ego itu aneh. Mungkin mereka mau ngatain aku gila, tapi nggak enak. 

Dan apa aku memang gila atau apa, akhir-akhir ini aku ngelakuin hal-hal yang bukan aku. Hal-hal yang sebenarnya pengen aku lakuin dari dulu, tapi aku nggak lakuin karena ragu atau takut.

Pertama, tiba-tiba aku langsung uninstall Path. Walaupun aku memang kesal sama socmed pencitraan satu itu, tapi aku nggak pernah punya pikiran buat uninstall. Aku masih pengen tau kabar orang-orang tukang pamer disana. Aku takut dibilang kudet karena nggak tau tempat makan enak kalau uninstall Path. Tapi bukannya nyesal, aku malah bahagia. Aku terbebas dari kegiatan stalking nggak berguna dan penyakit hati yaitu iri. 

Kedua, aku berani ngomong terus terang dan kasar ke sahabat dekatku (dan mungkin satu-satunya), Dita. Itu karena aku sempat kesal sama sifatnya. Aku sempat males buat ketemu dia. Rasanya pengen kasih tau, "Stop bandingin hidupmu dengan hidup orang lain, wanita jalang!" 

Sayangnya, aku nggak bisa. Aku nggak mau kalau kami sampe musuhan. Cukup punya mantan pacar, nggak usah punya mantan sahabat juga. 

Tapi aku ngerasa kayak ada yang ngedorong aku buat ngehentiin ini, buat aku dekat lagi sama dia kayak biasanya. Seolah ada yang neriakin di telinga, "Dia sahabatmu yang berupa manusia, dia juga nggak sempurna kayak kamu. Dia ngeluh sama kamu, berarti dia percaya sama kamu!" Dan akhirnya, kami dekat lagi. Hal yang aku takutin nggak terjadi. Dia memang sahabatku. Dan ternyata ngomong blak-blakan dan kasar itu lebih baik. Huahahaha. Tapi jangan ditiru ya, guys. 

Ketiga, aku mendadak bener pas nanggapin curhatan orang. Aku yang biasanya nangis terharu atau ikut sedih, atau malah nge-bully, jadi mendadak tausiyah singkat dan nelurin kalimat-kalimat menasihati, ke teman yang curhat soal masalahnya. Padahal kalau dipikir-pikir, aku masih suka berpikir sempit dan kekanak-kanakan. 

Tapi aku suka banget dengerin orang curhat. Kayaknya udah jadi passion. Cuma, rasanya orang-orang terdekatku yang udah kenal aku banget, selalu mandang aku childish dalam nanggapin curhatan orang. Dan aku percaya, aku nggak ahli buat nanggapin curhatan orang. Tapi entah kenapa, begitu nanggapin kemaren, aku ngerasa.... what the F. Bijak itu bukan aku banget, tapi ternyata aku bisa. 

Keempat, aku ingat seseorang pas dengerin lagu-lagunya Eminem. Memang seringnya ingat Zai sih karena dia yang lebih dulu suka Eminem, tapi aku juga ingat seorang cewek yang getol belajar beatbox tapi nggak bisa-bisa, cewek yang suka pake masker rumah sakit, cewek yang nggak kenal apalagi nangisin Zai. Cewek itu Alzhema. Lebih tepatnya, cewek itu adalah diriku sendiri, yang aku tampikan dalam bentuk Alzhema. Karena selama ini aku udah dikenal sebagai cewek yang suka lagu-lagu melankolis, yang punya pemikiran cinta itu harusnya manis, bukan tragis. 

Perlahan-lahan, Alzhema 'menampakkan' dirinya. Alzhema mau hidup lagi setelah dimatikan sama aku. Agak ngeri sih. Lagi-lagi aku bakal bertindak di luar biasanya.

Dan aku, bakal menghidupkan dia kembali. 

Mengingat akhir-akhir ini juga, aku mulai ngerasa nggak bebas buat curhat blak-blakan di blog kayak dulu. Aku ngerasa risih, takut, dan malu, kalau nulis soal yang serius-serius. Ada yang pernah ngerasain gitu juga nggak?

Oh, mungkin cuma aku, yang ngerasain perasaan aneh itu. 

Aku takut nulis soal betapa melankolisnya aku. Aku takut dapat tanggapan aneh-aneh di kolom komentar. Aku takut yang baca jadi bosen. Aku takut kaum Syiah mengubah pandangan orang tentang agama Islam jadi buruk. Lah, kenapa bawa-bawa Syiah, Cha?!

Maka dari itu, aku 'menghidupkan' Alzhema kembali. Seenggaknya di blog ini. Ntar 'dia' bakal sesekali nulis kayak dulu, nyeritain hal-hal yang aku takut buat aku ceritain. Singkatnya, aku bersembunyi di balik Alzhema. Karena aku masih belum kuat buat nyeritain yang serius-serius tentang aku. 

Dan anyway, tanpa kita sadari, setiap orang punya potensi buat punya alter ego. Contoh kecilnya, sikap kita ke teman pasti beda sama sikap kita ke saudara, dan ke orangtua. Berubah-ubah gitu. 

Komika juga ada yang beralter ego. yang biasa disebut dengan persona. Mereka memainkan karakter di panggung, karakter yang bukan dia sebenarnya, semata-mata demi menyokong materi stand up comedy-nya atau menjadi ciri khas. 

Contoh terakhir, ngomongin yang jelek-jelek tentang teman di belakang tapi di depannya baik banget, itu juga bisa dibilang alter ego. Eh, bisa dibilang nggak sih? Aku juga bingung. 

Intinya, punya alter ego itu, menurutku nggak buruk. Selama alter ego itu bukan seorang pembunuh berdarah dingin, pemakan daging manusia, atau perenggut keperawanan para wanita. 

Selama alter ego itu bermanfaat kayak alter egonya Eminem, Beyonce, Alicia Keys, dll. Selama alter ego itu nuntun kita buat ngelakuin hal-hal yang dari dulu pengen kita lakuin, tapi nggak bisa. Nggak bisa karena terjebak pandangan orang terhadap kita selama ini. Terjebak sama kepercayaan diri sendiri yang nyaris udah nggak ada. 

Udahan ya, makin dilanjutin kayaknya bakal makin bikin orang-orang yang baca, jadi mikir aku punya gangguan jiwa. Dan kesimpulan dari postingan ini, kalau liat postingan berikutnya yang nulis itu Alzhema, siap-siap close tab aja. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com