Senin, 26 Oktober 2015

Ketika Bertiga Jadi Bertega

Selain threesome, kayaknya kegiatan yang dilakuin bertiga itu gak enak. Rasanya ganjil, kayak jumlahnya. 


Nggg, sebenarnya gak tau juga sih beneran enak apa enggak. Orang belum pernah. Gak bakal pernah kayaknya. Karena aku seorang kapiten. Eh bukan, karena aku seorang penganut monogami sejati. Poligami? NO. Kalau nge-poliandri-in Adam Levine sama Josh Hutcherson, leh uga. 


Entah, yang jelas bertiga itu menurutku gak enak. Ditigakan cintanya, misalnya. Diduain aja udah gak enak, apalagi ditigain? 


Tapi kalau di film-film, rata-rata yang bertema persahabatan atau bertema high-school, pasti personil persahabatannya itu jumlahnya tiga orang.


Geng 'The Plastics" di film Mean Girls yang jadi barometer film-film remaja sampe sekarang ini, beranggotakan Regina (Rachel McAdams), Gretchen (Lacey Chabert) dan Karen Smith (kembaran beda nasibku, Amanda Seyfried). Tiga cewek cantik nan sintal. Jadi pengen ngeremas............ bantal. Saking sebelnya karena gak punya badan kayak gitu.


'Rancho' Shamaldas Chanchad (Aamir Khan, senyumnya bikin meleleh), Farhan Qureshi (R. Madhavan), Raju Rastogi (Sharman Joshi) menjalin persahabatan sejati dengan latar belakang sebagai mahasiswa teknik mesin di film 3 Idiots. Padahal di film, mereka gak idiot. Mereka cuma sedikit naif. 


Di film Charlie's Angels, tiga wanita cantik tergabung dalam agen investigasi swasta. Tiga-tiga cantik semua. Natalie (Cameron Diaz), Dylan (Drew Barrymore, kembaranku lagi), dan Alex (Lucy Liu) dengan kompak menyelidiki, serta menangkap para penjahat yang sialannya, selalu ganteng. Kalau aku jadi salah satu dari mereka, pasti bakalan bingung mau diapain itu penjahatnya. Antara mau diborgol atau mau dinikahin. 

Gak kalah cantik dan kompak, dibanding pendahulunya, waktu Charlie's Angels masih jadi serial televisi tahun 1970. Di tahun itu aku belum lahir. Mamaku sama Bapakku aja waktu itu masih belum jadian kayaknya.

Posenya Islami sekali. Btw, yang ditengah itu mirip Katy Perry ya?

Upaya Miller (Miles Teller, mantan pacarku) dan Casey (Skylar Astin) buat ngerayain ulang tahun Jeff Chang (Justin Chon) berbuah kekacauan karena Jeff mabuk berat. Dan kekacauan itu ngebawa mereka ke kehidupan Jeff yang sebenarnya, kehidupan yang kelam, kehidupan yang mereka berdua gak pernah tau selama ini, selama mereka bersahabat sekian lamanya. Sedih ngeliat ending film 21 and Over ini. Aku jadi mikir kalau persahabatan cowok itu yang benar-benar sejati.


Walaupun bukan sebagai cerita utama di film The Girl Next Door karena cerita utamanya yaitu tentang anak baik-baik yang jatuh cinta sama pemain film porno, tapi cerita tentang persahabatan tiga anak kuper di sekolah yaitu si tokoh utama bernama Matthew Kidman (Emile Hirsch, mantan pacar juga) yang rajin belajar dan anak rumahan, Eli (Chris Marquette) yang kutu buku dan pendiam, dan Klitz (Paul Dano) yang mesum tapi setia kawan banget itu tambah bikin aku mikir betapa indahnya persahabatan para lelaki. Mereka menyebut diri mereka itu sebagai tripod, yang jika salah satunya gak ada, maka gak ada gunanya. So sweet ~ 




Dan masih banyak lagi film-film yang menggaet tiga orang sebagai 'anggota' sebuah persahabatan sejati. Lihat? Di film-film di atas seolah-olah semua akan indah jika dilewati bertiga. Tapi kalau dilihat di kehidupan nyata, gak seindah itu.


Bertiga itu sebenarnya gak jelek sih, gak dilarang juga. Tapi menurutku, orang-orang yang sahabatan bertiga di dunia nyata itu kebanyakan pada ngerasa gak seenak  kayak di film-film, walaupun juga gak sedikit orang yang enjoy aja sahabatan bertiga. Kalau sudah ngerasa gak enjoy, bertiga mungkin lebih tepatnya disebut bertega.


Dan menurutku, sahabatan bertiga bisa disebut sebagai sahabatan bertega saat anggotanya ngerasain hal-hal berikut ini:


1. Salah satu anggotanya dicuekkin. 
Situasinya begini. Pas lagi bertiga, dua orang itu ngobrol heboh asik sendiri sementara satunya, diam aja. Dan ketika si satunya itu bergabung dalam obrolan heboh itu, si satunya itu malah gak ditanggapin. Malah krik krik. Trus mereka berdua melanjutkan obrolan mereka lagi. Si satunya kembali diam kayak nahan boker. 

Atau yang lebay kayak gini. Lagi jalan kaki bertiga. Seperti layaknya cewek sahabatan kalau jalan harus gelendot-gelendotan, si satu gelendotan ke si dua. Sementara si tiga, di belakang mereka. Dicuekkin. 

Situasi-situasi di atas sebenarnya biasa aja, kalau terjadinya cuma sekali. Tapi kalau udah berkali-kali, bikin gak terbiasa. Bikin ngerasa kayak gak dianggap dan gak dihargai. Bikin ngerasa gak ada tempat buat si ketiga. 

Menurutku, situasi-situasi sialan itu bisa terjadi karena adanya sekat di antara si satu+si dua dan si tiga. Sekat yang terbentuk karena cuma si satu dan si dua aja yang tau bahan obrolan itu. Misalnya si satu dan si dua sama-sama suka hip-hop, jadi ngerasa aneh ngobrolin Tupac waktu sama si tiga. Atau karena si satu dan si dua berasal dari daerah yang sama, jadi ngobrolnya suka asik berdua aja. 

Kalau sudah di posisi sebagai si tiga yang dicuekkin, rasanya pengen meringkuk di sudut ruangan sambil nitikin air mata. Badan besar kayak gini kenapa dianggap kehadirannya gak ada? Dicuekkin itu gak enak. Chat cuma di read aja gak enak, apalagi 'diread' secara langsung? 


2. Ada tindak pilih kasih 
Pernah gak sih, ngalamin momen sahabatan bertiga, tapi temanmu yang satu lebih condong ke yang satu, cuma ke satu bukan ke kamu juga? 

Misalnya gini. Ada tiga orang bernama K, M, dan T. Awalnya mereka sering jalan bertiga. Tapi lama-kelamaan, K sama M makin lengket berdua. Kalau M mau makan, pasti nyariin K. K mana K mana? Kalau K gak ada, dia gak makan. Ditemenin orang lain gak mau. Gitu juga kalau tiap foto rame-rame. Ngerengek mau foto sebelahan sama K aja. Padahal ada T di sebelahnya. Kalau K ada masalah, pasti curhatnya maunya ke M aja. Kalau K mau boker, maunya dicebokin M. 

Okelah, kita pasti punya sahabat yang berfungsi sebagai semacam orang kepercayaan. Itu wajar. 

Tapi gimana ya, menurutku tindakan itu tidak berperikesahabatan. Kita sahabatan bertiga, tapi kita gak difungsikan sebagai sahabatnya. Kita selalu nyaksiin mereka jalan berdua tanpa kita. Kita yang biasanya diajak makan bareng, sekarang dianggap puasa tiap hari. Kita yang biasanya juga dijadiin tempat buang curahan hati, sekarang ogah dijadiin lagi. Kita yang biasanya foto bareng bertiga, malah dijadiin tukang foto mereka berdua. Sama kayak poin di atas, kita serasa gak dianggap. 

Entah cuma aku seorang sendiri, yang ngerasa kalau Abdel Achrian dikacangin sama Rina Nose dan Irfan Hakim waktu lagi bareng-bareng ngebawain acara AKSI Indosiar. Rina Nose lebih condong ke Irfan Hakim, begitu juga sebaliknya. Aku suka kasihan ngeliat Irfan Hakim lebih sering ngambil alih ngebawain acaranya itu, lebih banyak ngomong, lalu ngajak ngomong Rina Nose. Sementara Abdel? Kalau ngomong gak ditanggepin, dilewatkan gitu aja, kecuali kalau Abdel lagi ngelucu. Untung waktu itu ada Mamah Dedeh sebagai salah satu juri di acara itu, jadi Abdel gak diam ngangguk-ngangguk aja di atas panggung ngeliatin Rina Nose sama Irfan Hakim. 

Pemandangan serupa juga aku lihat pas Andhika Pratama, Gading Marten, dan Gilang Dirga ngebawain acara SUCA Indosiar di episode-episode awal. Andhika dan Gading yang sebelumnya emang udah pernah ngebawain acara bareng, keliatan asik berdua. Si Gading yang berdiri di tengah, posisi berdirinya rada lebih menghadap ke Andhika, agak membelakangi Gilang. Andhika juga sering ngelakuin kontak mata sama Gading daripada sama Gilang. Gilang disitu kebanyakan ngangguk-ngangguk aja ngeliatin mereka berdua. Soalnya setiap mau ngomong, dipotong mulu sama Andhika. Tapi makin kesini, mereka jadi kompak sih. Gilang udah sering diajak ikut ngebanyol. Mereka jadi nyatu. Alhamdulillah. 

Ngeliat dua kejadian itu, aku jadi mikir kalau tindakan pilih kasih itu bisa terjadi karena ada perbedaan yang ekstrem, pada personil yang dipilih kasihin. Abdel mungkin digituin karena perbedaan umur, sementara Rina dan Irfan umurnya gak beda jauh. Gilang digituin karena Andhika dan Gading memang sudah kenal lama. 

Saat kita dalam posisi gitu walaupun umur kita dan dua teman kita gak beda jauh atau kita memang sudah kenal lama tapi masih dipilih kasihin,  mungkin karena kita gak sebaik yang dicondongin itu. Mungkin karena kita gak seperhatian yang dicondongin itu. Kita gak sepintar, sekeren, sekece, segaul, sehangat secantik, sebanyak duit yang dicondongin. Mungkin. Pokoknya, kita lebih kurang lah daripada yang dicondongin itu.


3. Diam-diam jadi musuh dalam selimut 
Gak enak banget, ada musuh dalam selimut. Mending diam-diam ada om dalam selimut deh. Itu mah enak, apalagi dibayar, dibayarnya gak nunggu sampai udah pagi. Dibayarin makan maksudnya. 

Aku pernah baca twit-nya Alitt Susanto, yang bunyinya kayak gini, 

"Orang yang suka ngomongin kejelekan orang lain, tapi masih suka jalan ama orang yang diomongin, semacam suka ngelus-ngelus tai sendiri."

Bener juga sih, kayak ngelus ngelus tai. Udah bau, ngotorin tangan, gak ada gunanya juga. Tapi kenapa masih banyak yang mau ngelakuin itu? 

Ngelakuin ngomongin orang di belakang, ngomongin yang jelek-jelek, tapi di depan orang itu baik banget. Ngelakuin jalan bareng sama orang itu, senang-senang, tapi habis bilang ke yang lain kalau sebenarnya gak suka jalan sama orang itu. Bilang ke satunya. Anehnya, gak suka tapi jalan mulu sama orang itu. 

Trus bikin obrolan tentang orang yang dijelek-jelekin itu. Obrolan rahasia. Ngomongnya harus di belakang orang itu. Di toilet. Kalau sudah mulai berani, berdua itu ngomonginnya pas di depan orang yang dijelek-jelekkin itu, sambil bisik-bisik atau pake sindiran. Kalau udah di posisi itu, rasanya me-nye-dih-kan. 

Itu adalah salah satu alasanku kenapa aku gak suka jadi cewek, seperti yang pernah Alzhema, alter egoku, tulis di postingan Cewek Gak Selalu Benar. Aku gak suka sistem persahabatan cewek yang manis di depan, sepet di belakang. 

Aku suka sama sistem persahabatan cowok yang jujur, apa adanya, nyablak, kasar, suka ngomong mesum, dan lain sebagainya. Kebanyakan, cewek enggan blak-blakan di depan orang yang gak dia suka. Entah karena ngerasa gak enak, gak pengen nyakitin, atau pengen si yang dijelek-jelekin itu sadar dengan sendirinya. Tapi namanya juga manusia, semut di seberang nampak, gajah di pelupuk matanya tak nampak. Gimana mau sadar kalau gak dikasih tau? 

Kalau dua dari bertiga itu akhirnya saling ngebenci, si yang satunya biasanya bingung mau ngapain. Mau ngebela salah satu atau mau jadi penengah. Dan kalau seandainya pilihan pertama yang dipilih tanpa tau siapa yang sebenarnya salah atau gak mau masalah itu diselesaikan dengan kepala dingin, kelar. Kelar persahabatan bertiga itu. 

Because real friends don't judge each other. They judge others together. Sip. Yeaah! 


Walaupun gak pernah threesome, seenggaknya aku pernah sahabatan bertiga. Mulai dari jaman sekolah dulu bahkan sampe sekarang. Jujur, pernah ngerasain bertega juga.


Memang, perbedaan bukan jadi penghalang dalam bersahabat. Tapi kalau perbedaan itu gak diterima dengan lapang dada, bertiga bisa jadi bertega. Aku jadi ngiyain kata-kata Kakakku beberapa hari yang lalu, 


"Bertiga itu gak bakal bisa nyatu, kalau salah satunya masih ada yang mikirin dirinya sendiri. Entah salah satu dari dua orang teman kau, atau malah kau sendiri." 


Mungkin bertiga di film-film itu bisa menyatu dan keliatan menyenangkan, karena mereka saling menerima perbedaan, kekurangan, dan kelebihan masing-masing. Mereka saling bergantung satu sama lain. Mereka saling melengkapi. 


Ada yang pernah, atau lagi ngalamin bertega?


Saran, aku punya dua saran sih. Cari sebabnya kenapa kamu ngalamin bertega, lalu intropeksi diri, dan perbaiki sampai kamu terlihat cocok bersama mereka.


Atau cari sebabnya kenapa kamu ngalamin bertega, lalu pergi menjauh dari mereka daripada mencoba tetap dekat tapi ngerasa sakit. 


Btw, aku jadi keingatan Destiny's Child bubar. Apa jangan-jangan mereka bubar di tahun 2005 gara gara salah satunya ngerasain bertega juga ya?

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 21 Oktober 2015

Mual Nontonin Joseph Gordon-Levitt

Kalau diliat-diliat lagi, kemaren-kemaren aku nulis postingan yang nyelipin kalimat yang ada kata 'takut' nya. Aku takut berharap. Aku takut sama masa depan. Aku takut kalau Abang keluarin di dalam. Keluarin muntahan di dalam rumah maksudnya.

Bikin garuk-garuk pantat sih bacanya. Sok dramatis banget. Aku nyesal baru nyadar itu sekarang, setelah mungkin yang baca postinganku itu udah ngerasain pantatnya gatal duluan. Huhu. 

Ngomong-ngomong soal takut, setiap orang pasti punya ekspresi ketakutan masing-masing, pas lagi nonton film serem di bioskop. 

Ada yang teriak-teriak histeris, entah itu teriak nanyain apa yang lagi dilakuin di film itu kayak kenapa-itu-matanya-dicongkel-huaaaaa, teriak buat bikin giliran si setan dalam film yang takut, teriak minta tolong, teriak minta dilindungi pacar dengan pelukan. Ada yang nutupin mukanya pake tangan karena gak mau liat adegan nyeremin itu tapi ngintip juga di balik jari-jemari. Ada yang tetap tegar nonton sambil meringis. Ada yang nahan pipis di celana. Bahkan sampe ada yang mau pingsan.

Aku masih ingat jelas gimana muka kesalnya Indra, pas dia nyeritain pengalaman waktu dia nyaris pingsan, gara-gara diajak teman sekelasan buat nonton Final Destination 5. 

Ralat. Bukan diajak, tapi dijebak. Teman-temannya kompak ngejebak seorang Indra yang hematophobia (phobia sama darah) buat nonton film horror berformat 3D itu. Awalnya Indra diajak tanpa dikasih tau bakal nonton apa. Dengan polosnya dia ikut nonton, dan.....

"Tau-tau begitu udah masuk ke dalam teater dan duduk, udah ada adegan jembatan runtuh. Aku langsung keringat dingin, teman-temanku di kanan-kiri pada megangin tanganku sambil ketawa-ketawa. Aku gak kuat, Yang. Langsung keluar dari teater, cari toilet. Sialan memang bagiannya tuh."

Kira-kira begitu yang dilontarkan Indra, empat tahun yang lalu. 

Sebagai pacarnya waktu itu, aku kesal banget denger dia dikerjain gitu. Jahat banget sih mereka! Jahat banget, karena gak ajak-ajak aku buat ngerjain Indra.  Padahal kan aku pengen ngeliat muka pucatnya pas nonton film itu.

Sambil nyimak curhatannya, aku cuma bisa pasang muka prihatin, walaupun dalam hati salut sama keberanian teman-temannya buat 'menyembuhkan' hematoophobianya itu, dengan cara yang kreatif. Aku yang waktu itu jadi pacarnya aja gak pernah berani ngajak dia nonton film darah-darahan, takut diputusin. Walaupun akhirnya putus juga sih. 

Aarrrrgghhh kok jadi ngomongin masa lalu sih, Cha? Masa lalu bareng mantan lagi. 

Tapi jujur, sampe sekarang aku masih gak habis pikir sama Indra yang takut sama darah. Cowok takut sama darah? Sampe mau pingsan segala lagi.

Dulu aku juga takut sih nonton film begituan, film darah-darahan. Tapi gak sampe mau pingsan juga, palingan bawaannya kalau liat adegan darah mengucur, teriak minta dinikahin aja sih. Gak ada tuh bawaan muka jadi pucat, kepala musing, mual, positif mengandung, apa segala macam.

Dan entah karena diam-diam Indra tau aku masih mikirin hematophobianya dia lalu dia ngutuk aku, atau memang hukum karma itu beneran ada, aku ngalamin pengalaman yang rada persis kayak dia. Tanggal 13 kemaren. 

Di Hari Bebas Bra Sedunia itu, Dita ngajak aku buat nonton film The Walk. Beberapa hari sebelumnya, aku ada bilang kalau mau nonton film di bioskop sendirian. Awalnya mau nonton 3 Dara, lalu beralih mau nonton The Martian, akhirnya ganti rencana, jadi mau nonton The Walk, film terbarunya Joseph Gordon-Levitt. Aku pengen aja ngerasain sensasi nonton sendirian lagi kayak dulu. Lagian juga, aku ngajak Dea dan Dina, mereka gak bisa.

Tapi entah kenapa, tiba-tiba Dita ngajakin aku nonton. Padahal kami jarang-jarang nonton bareng. Mungkin dia sudah lelah ngedengar rencananku yang bergonta-ganti terus. Pacar kek, yang gonta-ganti. Gitu kali ya yang ada di pikirannya.

Singkat cerita, personil nonton gak cuma aku dan Dita, tapi nambah satu lagi, yaitu Dina (yang akhirnya bisa diajak nonton). Teman sekelasku dulu itu emang ngefans sama Joseph Gordon-Levitt, gara-gara itu cowok main di film Inception. Dita suka sama film Premium Rush-nya Joseph. Sementara aku kesengsem sama Joseph karena akting cemerlangnya sebagai cowok di-PHP-in di film 500 Days of Summer. Eh, aku suka dia karena film Don Jon juga deh. Soalnya dia disitu keren banget. Apalagi pas dia lagi mastur....CHA STOP CHA. Stop.

Pulang kerja, aku langsung meluncur pulang ke rumah untuk ganti baju. Yap, ganti baju doang. Aku gak nyempatin diri buat mandi dulu. Sungguh jorok sekali. Tapi mau kayak gimana, filmnya tayang pukul 18.15. Sementara aku nyampe rumah pukul 17.55.

Aku langsung sms Dita, ngabarin kalau aku udah nyampe rumah. Aku dijemput dia buat nonton. You know, aku gak boleh bawa motor sendiri kalau jalan malam. Malang nian nasib punya Mama kayak Hitler.

Dengan kecepatan berkendara Dita yang entah berapa km/jam tapi bikin bibirku bentuknya jadi keriting, kami nyampe juga di Cinema XXI Big Mall. Kami udah kayak perampok toko emas, berlari dan menerobos orang-orang di tangga eskalator, sambil tetap mengobrol,

"Aku belum makan loh ini. Rasa teguncang perut, lari-lari." 

"Aku juga belum, Tan. Tadi gak sempat. Ayok semangat, Tan! Kasian Syaiba (panggilan Dina, nama lengkapnya Syaiba Meidina) pasti udah nungguin kita."

Aku berhenti, menghela nafas.

"HAHA. Aku gak yakin dia udah nyampe duluan. Aku gak bisa bayangin dia berdiri sambil berkacak pinggang nungguin kita depan XXI. Itu gak mungkin."

"Masa sih?" Dita menatapku heran, gak percaya.

Mau gak mau pemandangan gak adanya Dina di sekitar XXI pas kami udah nyampe, bikin Dita harus percaya sama aku. Kami serempak menoleh ke jam dinding. Pukul 18.12.

"Dasar plegmatis, pasti ngaret dah! Jadi mau makan orang rasanya, mumpung lagi lapar." 

"Tan, itu nah dia! Yang pake pink-pink!" 

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Dita, seorang cewek bersweater stripe pink dan jilbab dengan warna senada. Tampilan sih feminin abis, tapi cara jalannya kayak cowok sok cool gitu. Dasar Dina, masih aja tomboy kayak dulu.

Setelah puas mencaci-maki dia karena kengaretannya, akhirnya kami masuk ke dalam teater. Untungnya, filmnya belum mulai. Aku dan Dita jadi batal memangsa Dina hidup-hidup.

Dan perjuangan (sok-sok an banget dibilang perjuangan) kami berbuah manis. Filmnya keren banget!

Dina senyum-senyum gak berhenti sampe kami keluar dari teater. Dita melangkahkan kaki keluar dari teater sambil ngedumel pengen makan ini-itu, karena ngeliat banyak adegan yang nampilin para pemain lagi makan-makan. Aku mengurut-ngurut kepalaku sambil nyiumin botol minyak kayu putih, menghirup aromanya dalam-dalam. Aku keluar dari teater dengan tampang kayak orang mau pingsan.

Muka pucat. Kepala pusing. Perut mual.

Joseph Gordon-Levitt bikin aku pengen muntah. Mual. Bukan karena aktingnya jelek, atau karena ngeliat aktingnya tiba-tiba aku langsung berbadan dua, bukannnnnnnn. Justru karena saking kerennya akting si ganteng Joseph, aku ngerasain itu.

Filmnya berdasarkan kisah nyata, berdasarkan sejarah yang ditorehkan seniman jalanan bernama Phillipe Petit, yang diperankan dengan sialan-bagus-banget sama Joseph. Phillipe berhasil mewujudkan mimpi gilanya, yaitu menyeberangi kedua gedung World Trade Center hanya dengan seutas kawat, tahun 1974.

Film bergenre drama-biografi. Film yang punya pesan moral, kerja keras dan keoptimisan bisa membuat mimpi kita terwujud. Film yang retro sekali, karena ber-setting di tahun '70 an. Film yang gak ada adegan bunuh-bunuhan, pemerkosaan, setan-setanan. Film yang cuma nampilin adegan berdarah sedikit, darahnya cuma di telapak kaki si Phillipe.

TERUS YANG BIKIN MUAL ITU APA, CHA??!!

Entahlah. Kemualanku berawal dari waktu ngeliat Joseph berdiri di atas kawat, di antara gedung, tanpa pengaman apapun, kepalaku langsung pusing. Aku ngeri ngeliat dia berdiri di atas kawat tinggi banget kayak gitu.

Adegan berlanjut ke Joseph jalan dengan perlahan namun pasti, menyusuri kawat sambil memegangi (kalau gak salah) tongkat besi di tangannya untuk menyeimbangkan tubuh. Dan pusingku, berlanjut ke rasa kayak ada yang ngaduk-ngaduk perutku. Ditambah dengan jantung degap-degup gak beraturan. Aneh, padahal kan aku lagi gak mesum di dalam teater, ngapain deg-deg an kayak takut kepergok?

Aku noleh ke arah Dita dan Dina. Dina fokus nonton, posisi duduknya rada membungkuk ke depan. Dita bersandar di bangku teater sambil menatap tajam ke arah layar. Raut muka mereka gak ada nunjukkin tanda-tanda kayak aku.

Oh, mungkin gara-gara kamu belum makan dari tadi siang, Cha. Bisikku ke diri sendiri.

Joseph berhasil mengakhiri jalannya di atas kawat, dia udah sampe di gedung seberangnya. Tapi Joseph/Phillipe itu ngerasa terpanggil buat jalan di atas kawat lagi. Jadi dia pun kembali nyusurin kawat itu lagi.

Adegan demi adegan selanjutnya nampilin si Phillipe alias Joseph wara-wiri di atas kawat itu. Udah nyampe ujung, eh dia balik lagi buat kembali jalan. Joseph mondar-mandir nunjukkin keahliannya. Dia gak peduli sama polisi-polisi yang udah berjaga di sisi kedua gedung, teriak-teriak ngekhawatirin dia bakal jatuh.

Ngeliat itu, bikin aku teriak-teriak cemas sambil mencengkeram lengan bangku teater.

"Tan, coba diam!" tegur Dita. Di sebelahnya ada Dina yang cengar-cengir ngeliatin aku.

Oke. Aku diam.

Dan diam ngebikin aku lebih menghayati perutku yang kayak diobrak-abrik rasanya.

Eh, setelah mondar-mandir di atas kawat itu, ternyata Joseph pake nunjukkin atraksi hormat segala ke penonton yang ada di bawah. Dia bersimpuh, di tengah-tengah kawat itu. Bersimpuh seolah-olah kayak lagi di tanah luas. Sambil ngeliat ke bawah.

"Aaaaakk ngapain kamu sok-sok an kasih hormat gitu, Seph? Pujungan betul jadi orang! Aaaaakkkk bungulllll nanti kamu jatuh!!!!!!"

"Astaga heh bediam lagi inya, bungulnya heh coba cepatin bejalan ke gedung situ pang! Joseph bungulll!!!!'

"Neh neh senyum dia! Kalo ha' pas kesandung apa gitu baru tau! YA ALLAH, AY! AAAAKKKK!!!! Mati aku, mati aku, mati......"

"Cha, Cha, diam, Cha." Giliran Dina yang negur aku. Dita narik-narik lengan bajuku, minta supaya aku diam. Tapi aku tetap aja teriak-teriak cemas.

Aku sempat terdiam anggun nan kalem pas ngeliat adegan si Joseph nyempatin diri buat baring, BARING PEMIRSA! Baring di atas seutas kawat itu. kepalaku makin pusing, perut rasanya udah bukan kayak diobrak-abrik lagi, tapi udah kayak lagi diblender.  Lalu aku ngerasain ada yang naik dari perut menuju ke tenggorokkan. Sesuatu yang nafsu pengen dikeluarkan, dan akhirnya..........

"HOEKKK!!!!"

Aku muntah. Tapi untungnya, gak ada yang keluar. Eh itu masih bisa dibilang muntah gak sih? Ya pokoknya gitu, aku ngelakuin adegan orang muntah pada umumnya, tapi gak ngeluarin apa-apa, selain angin. 

"Astaga, Tante! Ini nah ada minyak kayu putih!" Dita langsung nyodorin minyak kayu putihnya. Dina ngakak sengakak-ngakaknya ngetawain aku, yang waktu itu memilih buat bersandar sambil menghisap aroma dari botol minyak kayu putih itu, daripada menghantam mukanya supaya dia diam. Dina sialan.

Ini nih, adegan yang kampret banget, bikin aku jadi kayak ibu hamil muda

Seterusnya, Joseph semakin banyak tingkah aja. Apalagi pas dia baring trus ada burung berhenti terbang habis itu ngeliatin dia, langsung deh dia mendadak oleng. Spontan aku langsung teriak,

"AAAAKKKK JOSEPH!!!!!!!!! AAAKKK!!!!" 

"Aaaaaakkk Joseph~ Aaaakkk~" Terdengar suara dari belakang kursi, niruin teriakkanku tadi. Suara yang dicewek-cewekkan. Kayaknya itu cowok, cowok ngolokkin aku. Aku malu banget. HUAAAAA!!!!!

Untungnya sebelum aku benar-benar muntah beneran atau mutusin buat keluar dari teater, Phillipe alias Joseph mutusin buat mengakhiri acara mondar-mandirnya. Dia digiring sama banyak polisi, tapi diapreasiasi sama banyak orang termasuk sama polisi-polisi itu sendiri. Filmnya berakhir bahagia. Dita dan Dina juga ngerasa bahagia, dilihat dari muka mereka yang sumringah ngolokkin aku.

"HAHAHAHAHAHA gitu aja sampe pucat muka. Gak ada serem-seremnya padahal. Astaga, Tante!" 

"Kamu juga sih, Dit, Ngajak nonton ibu hamil. Ya jadinya gitu."

"Tante, diminum aja minyak kayu putihnya. Gapapa, diminum aja."

"Penonton lain pada biasa aja loh, Cha. Dasar melankolis aneh. HAHAHAAHA!!!"

Aku cuma bisa melemparkan senyum kecut sambil tetap ngehirup aroma minyak kayu putih, ngedengar ocehan mereka. Tapi lucu juga sih, dimana-mana orang megang popcorn kalau nonton film, lah ini megang botol minyak kayu putih. Huhuhuhu.

Raut bahagia dan puas terpancar hampir di semua muka penonton film The Walk waktu itu, pas filmnya udah selesai. Gak terkecuali aku. Aku puas kok, sumpah aku puas. Aku gak nyesel udah nonton film ini. Tapi kenapa juga harus ngerasain mual pas nontonnya. Dina sama Dita biasa-biasa aja tuh. Penonton yang lain kayaknya juga gitu, biasa-biasa aja.

"Mungkin kamu kena efek dari filmnya, Cha. Aku baca dimana gitu, ada salah satu kritikus film yang mual gitu juga pas nonton filmnya. Kritikus itu sih katanya phobia ketinggian. Jangan-jangan kamu juga lagi." kata Dina panjang lebar, di sela-sela kegiatan mengunyah nasinya, pas kami lagi makan habis nonton film itu.

Aku gak pernah ngerasa sih punya phobia, selain phobia ditinggal pacar. Hoek. Sampe sekarang aku juga gak tau kenapa waktu itu aku ngerasa mual. 

Apa karena aku belum ada makan dari siang jadi maag-ku kambuh, apa karena aku memang punya phobia sama ketinggian, apa karena aku belum mandi jadi aku kebauan sama bau badanku sendiri? Eh kalau emang gara-gara aku belum mandi, harusnya Dita sama Dina juga ngerasa mual. Satu teater ngerasa mual. Gak cuma aku aja. 

Atau jangan-jangan aku...... dikutuk Indra?

Entahlah, yang jelas gara-gara itu, aku jadi mikir, jangan meremehkan ketakutan orang lain. Karena siapa tau aja, ketakutan kita justru lebih konyol daripada ketakutan orang lain itu.  Oke, tumben ada pesan moralnya. Oke. Sip. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 19 Oktober 2015

An Abundance of Upaya Buat Lupa Kamu

Libur Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram kemaren, aku habiskan dengan selonjoran di kamar. Langit yang berwarna kelabu tertutup kabut asap dan kondisi dompet yang berasap (gak ada isinya maksudnya), ngebuat aku pengen di rumah aja, melototin film The Book Thief yang tayang di Fox Movies. Film yang ngingatin aku sama Zai.

Lebih tepatnya, ngingatin aku sama momen aku bilang film itu jelek, sementara dia ngolokin selera filmku yang jelek.

"Filmnya bagus gitu, walaupun gak begitu seru. Si anak itu, harus kehilangan orangtua. Karena rezim kekuasaan Hitler. Tau Hitler gak? Yah, sebelas dua belas lah sama Mamamu kejamnya." Katanya waktu itu, tanpa ngerasa berdosa sama sekali.

Pas lagi menikmati adegan si Liesel, anak kecil pemeran utama film itu dan temannya yang bernama Rudy lagi lari-larian, hapeku goyang getar. Telpon masuk dari nomor yang gak dikenal.

"Halo?" 

"Selamat ulang tahun, mesum. Maaf telat. Maaf juga gak kasih apa-apa." 

"AAAAAAAAAAAAKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Sontak aku ngejerit sekencang-kencangnya. SUARA ITU!  Suara yang biasanya selalu nelpon aku, melawan sinyal, dari yang rutin sehari sekali, lalu jadi dua hari sekali, seminggu sekali, dan akhirnya jadi gak nelpon aku sampe dua bulan ini. 

"Gak usah lebay gitu. Ini aku ganti nomor baru. Nomorku rusak gak bisa nelpon. Sinyalnya juga kampret, padahal aku udah ke bukit."

"Aku senang nah aku senang, boleh kah aku teriak lagi? AAAAAAAAAAKKKKKK!!!"

Aku gak peduli dia bilangin aku lebay atau apa, atau perabot rumah tangga di rumahku pada hancur, yang jelas aku senang! Air asin dari mataku juga ikutan keluar, menemani teriakkanku yang keluar dari mulutku. Aku pikir dia sakit Chlamydia karena asik main kuda-kudaan bebas disana, aku pikir dia mau nyerah sama LDR ini dan milih buat menghilang aja, aku pikir....

"Dasar gak jelas. Eh ciyeee, ada party apa di rumahmu pas ulang tahun?"

"Party, party! Gak ada. Untung ada Dita yang nyulik aku malam-malam. Daripada aku nungguin ucapan selamat dari orang yang selalu ngira ulang tahunku tanggal 17..."

"Aku tengah malam ke bukit, Seng. Gak ada sinyal. Besoknya, tanggal berapa tuh, tanggal 8 ya, aku kesana lagi. Gak ada juga sinyalnya. Yasudah. Aku bisa nelponnya sekarang. Lagi di Sangkulirang nih."

Aku menyimak kata demi kata yang diucapin sama Zai itu, sambil ngelirik ke arah TV. Adanya film The Book Thief sambil telponan sama Zai bikin aku ngerasa itu kebetulan yang indah. HAHAHAHAHA! Aku memang makhluk Tuhan yang drama queen, suka ngait-ngaitin satu hal dengan hal lain.

Seterusnya kami ngobrolin banyak hal, walaupun agak terganggu dengan suara yang terputus-putus dan ributnya suasana dermaga. Dia cerita kalau ternyata dia gak bisa ambil cuti pas bulan Desember. Bisanya pas bulan Januari. Aku cuma bisa senyum ngedengar itu, nahan sedih. Aku gak mau sedih-sedihan di telponan kami yang jarang-jarang ini. Aku tau, pasti dia ikut nahan sedih di balik olokannya ke aku dan tawa renyahnya. Rencananya buat tahun baruan di Samarinda gagal. Gagal ginjal.

"Seng, jemputannya udah datang. Udahan ya. Selamat tua ya, semoga yang di depan jadi gede. Aamiin." 

"Sialan! Iya, hati-hati ya. Moga ferry-nya gak tenggelam."

Telpon pun terputus. Aku menaruh pelan hapeku, ngebelai-belai layarnya, lompat turun dari ranjang, dan............... sujud syukur.

TERIMA KASIH YA ALLAH, HAMBAMU INI BISA DENGAR SUARA HAMBAMU YANG SATU ITU LAGI!

Rasanya kayak dinina boboin sama Adam Levine sambil baring di pangkuannya Josh Hutcherson dan dibelai-belai sama Eminem. Aku menghabiskan waktu seharian itu dengan senyam senyum kijil sambil melukin boneka. Akibat dari telponan yang sebenarnya sebentar, gak sampe dua jam.

Dan karena sebentar itu, aku jadi gak sempat cerita banyak hal lain ke dia. Aku ceritanya di postingan ini aja ya. 

Aku jatuh cinta sama novel John Green. Mungkin aku pecintanya yang telat, karena cinta sama karyanya begitu karyanya itu difilmkan. Kalau ada yang tanya, "Novelnya yang The Fault In Our Stars ya, Cha?" aku bakal ngegelengin kepala dengan mantap. Aku belum pernah baca novel itu, pas nonton filmnya aku juga gak terlalu suka. Sejauh ini aku suka novel Om John yang judulnya, tentu aja, Paper Towns, dan An Abundance of Katherines. Untuk judul yang terakhir, aku cinta mati.

Hi. My name is Aisha

Ceritanya mau sok-sok kayak Cara, mulut ketutup rambut. Tapi gak punya rambut.
Eh, rambutnya lagi dikudungin maksudnya

An Abundance of Katherines memang gak (atau belum?) difilmkan, tapi aku tetap ngerasa telat buat jadi fansnya Om John. Tapi gak telat datang bulan kok, apalagi telat datang bulan gara-gara beliau.

Novel ini nyeritain tentang anak jenius (atau anak ajaib, seperti yang disebutkan dalam novel itu) bernama Colin Singleton, yang kehidupan percintaanya tidak secemerlang otaknya. Dia selalu menjadi orang yang dicampakkan. Dicampakkan oleh sembilan belas cewek berbeda dengan nama yang sama, Katherine. Untuk mengobati sakit hatinya, dia ngelakuin perjalanan panjang bareng sahabatnya yang bernama Hassan, sampe akhirnya mereka tiba di Gutshot, sebuah kota kecil di Tennessee. Selama hidup di Gutshot, Colin merancang teori matematika buatannya sendiri, teori yang diyakininya bisa memprediksi hubungan asmara apapun agar dia terbebas dari 'status' sebagai Tercampak sejati. Colin juga belajar lebih mengenal orang lain, memahami persahabatannya dengan Hassan yang sangat indah, dan ngerasain jatuh cinta bukan karena obsesi gilanya akan nama Katherine lagi.

Waktu mengkhatamkan novel ini sebulan yang lalu, aku bohong kalau aku bilang gak terobsesi sama novel ini. Novel ini kelewat bagus. Diputusin sembilan belas cewek berbeda dengan nama yang sama, yang bener aja?!

Banyak hal-hal keren. Persamaan matematika, pengetahuan Om John yang luas, gaya nulisnya yang (ternyata) lucu dan mesum, tokoh-tokoh dalam novelnya yang unik, persahabatan antara Colin yang Yahudi dan Hassan yang beragama Islam, yang anehnya, erat. Sebenarnya aku enek kalau udah ketemu persamaan matematika beserta grafiknya, tapi karena ceritanya keren, muntahan karena enek itu aku telan.

Yang gila matematika, pasti demen sama ini novel. Gatau deh kalau yang gila duit, demen juga apa enggak.

Baca novel ini bikin aku jadi punya penyakit hati, yaitu iri. Aku iri sama jeniusnya Colin. Aku iri sama Hassan yang walaupun suka bercanda mesum dan ngatain Colin, tapi taat beribadah. Aku iri sama mereka berdua, walaupun beda agama dan kepribadian mereka berbanding terbalik, tapi mereka saling ngejaga dan saling menyayangi, dengan cara yang bebungulan. Aku iri sama Lindsey yang selalu ceria walaupun lagi sedih. Aku iri sama Om John, beliau bisa bikin novel sekeren ini.

Baca novel ini bikin jiwa mengait-ngaitkan-satu-hal-dengan-satu-hal-lainku kambuh. Aku mengait-ngaitkan, atau lebih tepatnya (dan gebleknya) nyama-nyamain Colin sama diriku sendiri.

Aku tau kalau aku sama Colin itu beda banget. Colin cowok, berambut jew-fro (aku ngebayangin Justice Smith yang cocok meranin Colin kalau novel itu difilmkan, bukan Giring Nidji). Colin cerdas. Colin suka main anagram, beda sama cowok-cowok jaman sekarang yang suka main Instagram. Colin cinta sama matematika, dan benci pelajaran bahasa. Colin potret anak culun tapi ganteng dengan rambut jew-fro, kulitnya yang putih, dan kacamata tebalnya, beda sama potret anak culun di FTV Indonesia yang rata-rata berambut lepek dengan gaya rambut belah tengah. Colin punya mantan bernama Katherine sebanyak 19 orang.

Aku cewek, cewek tulen. Berambut lurus. Aku gak cerdas. Aku baru tau apa itu namanya anagram, dan baru bisa ngebentuk anagram sendiri, dari kata Icha jadi Haci, bunyi kalau lagi bersin. Aku benci matematika. Aku potret anak, eh tante muda dengan lima keponakan. Aku gak punya mantan sampe 19 orang, apalagi punya mantan yang namanya Katherine, karena aku masih suka cowok.

Tapi aku ngerasa kalau kami punya persamaan. 

Kami sama-sama takut akan masa depan. Kalau dia ingin memprediksi masa depan hubungannya dengan persamaan matematika yang dibuatnya, sedangkan aku ingin memprediksi masa depan hubunganku dengan angan-anganku, seandainya alat pendeteksi jodoh itu ada.

Kami juga sama-sama menjijikkan, kalau lagi patah hati.

Colin sampai muntah keesokan harinya begitu malamnya dia diputusin sama Katherine XIX. Colin selalu mengutuk dirinya, menganggap dirinya yang cerdas itu gak berarti apa-apa di mata Katherine-Katherine-nya. Colin susah move-on dengan selalu memikirkan semua Katherine itu, terutama Katherine yang terakhir, sambil berbisik "Aku mencintaimu" ke diri sendiri.

Tingkah menjijikkanku.... banyak. Tapi yang baru-baru ini, lebih tepatnya dua bulan terakhir ini, aku lebay dalam mengupayakan diriku supaya gak sedih, karena Zai gak ada kabarnya. Karena Zai gak ada nelpon. 

Demi menghindarkan diriku dari mel-think tentang dia, aku coba buat nyibukkan diri. Dengan cara yang bisa dibilang, menjijikkan.

Adanya novel An Abundance of Katherines dan Paper Towns adalah salah satu upayaku buat lupa sama Zai. Tiap malam sebelum tidur, aku bertatapan dan ngegrepe-grepe salah satu dari dua novel itu. Kami, aku dan novel, larut dalam kemesraan kami, yang berbalut hening dan dinginnya malam. Tapi begitu baca beberapa halaman, aku malah semakin ingat Zai. Berharap lupa, malah tambah ingat. Apalagi pas baca ini, 

"Dan setidaknya dalam benak Colin ada pengulangan yang lebih dalam: setiap kali, Katherine-Katherine mencampakkannya karena mereka tidak menyukainya. Mereka semua tiba pada kesimpulan yang sama tentang dirinya. Colin tidak cukup keren atau cukup tampan atau sepintar yang mereka harapkan--pendek kata, Colin tidak cukup berarti. Maka itu terjadi padanya lagi dan lagi, sampai membosankan. 

Tapi monoton bukan berarti tidak menyakitkan. Di abad pertama Masehi, otoritas Romawi menghukum St. Apollonia dengan meremukkan gigi satu demi satu menggunakan tang. Colin sering memikirkan hubungan kejadian itu dengan kemonotonan dicampakan: kita punya 32 gigi. Setelah beberapa lama, setiap gigi yang dihancurkan barangkali bakal jadi monoton, bahkan membosankan. Tapi akan terus terasa menyakitkan. 

Putus berkali-kali itu membosankan, tapi terasa menyakitkan. Aku gak mau ngerasain itu sama Asshole. Gak mau, Bang!

Batinku waktu itu. Sambil menggigit bibirku kuat-kuat, menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Sok dramatis. 

Karena baca novel malah bikin baper (dan udah aku tamatin juga itu novel, kecuali Paper Towns), aku memilih buat dengerin lagu. Akhirnya dapat lagu-lagu yang bikin eargasme. Lagu-lagu anti galau. 

Lagi asik-asiknya nyanyiin lagu How Deep Is Your Love-nya Calvin Harris feat Disniples, eh, Disciples, sambil ngelakuin gerakan maju mundurin pundak,

"How deep is your love? Is it like the ocean? What devotion? Are, hiks huaaaaaaaaa, you?"

HUAAAAAAAA. INI LAGU KAMPRET BANGET DAH, KIRAIN NYENENGIN, TERNYATA LIRIKNYA....... 

Lagu Barat emang suka gitu ah, suka nipu. 

Bungulnya, aku langsung nangis. Jadinya hidung yang bergerak maju mundur. Kembang-kempis karena nahan ingus yang nafsu berlelehan.

Upaya ketiga, aku lari ke agenda nonton acara Stand Up Comedy Academy tiap malamnya. Jadi lupa sih, lupaaaaa banget. Yang aku ingat cuma ketawa, ketawa, ketawa, dan Raditya Dika. Nangis itu apa? Sorry, aku gak kenal yang namanya nangis. Apalagi nangis mikirin keadaan orang. 

Tapi pas lagi commercial break dan pandanganku beralih dari TV ke dinding kamar, pikiranku dibawa ngayal lagi buat ngekhawatirin Zai.

HUAAAA CEPATIN DONG IKLANNYAAA!!!! AKU GAK MAU GALAU!!!!!!! MANA RADITYA DIKAKU, MANAAAAAA????????????

Upaya ketiga pun gak berhasil sepenuhnya. Aku memilih tidur. Bukan karena emang gak berhasil, tapi karena acaranya udah habis.

Besok malamnya, waktu mau tidur, aku gak bisa terlelap. Mau chat sama Dita, tapi aku yakin itu anak pasti udah tidur. Atau sibuk bercumbu dengan tugas kuliahnya. 

Aku mutusin buat tetap ambil hape yang tergeletak di sampingku. Aku nelpon Zai. Tapi lagi-lagi Mbak Veronica yang ngejawab. Dengan bodohnya, aku ngejawab yang dibilang sama Mbak Veronica.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."

"Halo? Seng? Kamu lagi ngapain? Oh... lagi boker sambil mikirin aku. Ih Seng, kamu kok jahat, mikirin aku sambil boker?"

"Iya gapapa. Dipikirin kamu aja udah syukur."

"Kamu nanya aku udah makan? Aku udah tadi. Makan kamunya aja belum. Kamu udah kah?"

"Aku lagi bete nah. Jadi tuh bla bla bla bla bla."

Malam itu, aku ngayal aku lagi telponan sama anak itu. Aku bukan sekedar ngayal, aku ngelakuinnya. Ngelakuin seolah-olah itu bener-bener terjadi. Sampe akhirnya aku tertidur lelap. Sampe aku gak cemas lagi. Bodoh, gak dikasih kabar selama dua bulan aja bisa jadi gila begitu.

Tapi aku gak peduli, yang penting aku lupa sama kecemasanku ke dia. Aku jadi ngerasa dia baik-baik aja, dan dia gak bakal pergi menghilang dari aku.

Tiap malam, aku ngelakoni adegan itu, dengan berbisik-bisik karena takut kedengaran Mama dan Nanda. Kalau adegan itu dilakuin buat syuting sinetron striping, mungkin aku udah kayak Jessica Mila, kaya rayanya. Kalau mukanya mah, gak bakal. Gak bakal cantik kayak Jessica Mila. HIKS.

Upaya berikutnya... untungnya Zai keburu nelpon aku. Aku udah gak tau lagi upaya menjijikkan apa lagi yang aku lakuin buat gak mel-think.

Intinya, aku berani buat berharap lagi, karena telpon dari Zai itu. Jujur, dari kemaren-kemaren takut buat berharap yang baik-baik buat hubunganku sama Zai. Aku selalu mikirin kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, supaya saat kemungkinan-kemungkinan itu jadi kenyataan, aku gak terlalu sedih. Aku sudah siap. 

Colin pun, di akhir novel, mulai berani untuk berharap lagi. Anak secerdas Colin pun gak bisa, gak berhak memprediksi masa depan hubungannya. Colin cuma manusia biasa. Tugasnya adalah menjalani hidup semampunya. Colin gak perlu takut bakal dicampakkan lagi. Colin gak perlu tau akhir hidupnya bakal kayak gimana, karena bagaimanapun akhir hidupnya, pasti itu yang terbaik.

Begitupun juga aku.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 13 Oktober 2015

Ketika Gigi Taringmu Tanggal, Kamu Bisa Keluar

Akhir bulan September kemaren, aku rada kesel, gak habis pikir sama Mamaku. Masih belum cukup apa, gak ngebolehin aku jalan malam bawa motor sendiri padahal aku udah kepala dua, atau selalu nelponin aku buat nanya bekalnya udah dimakan apa belum? Ya Allah, di saat Yoga ada posting betapa bangganya dia sama Ibunya di postingan ini di blognya, aku malah mau posting soal kekesalanku ke Mama.

Eh, gak sepenuhnya kesel sih. Baca aja paragraf-paragraf berikut ini. Jangan bawa aku ke kyai buat diruqyah dulu ya. 

Awalnya dari kejadian aku minjam baju sama Kakak pertamaku, Kak Iin. Berhubung koleksi bajuku jarang ada yang kecewek-cewekan dan sekarang aku udah berhijab, maka aku mutusin buat minjam bajunya Kakak lain Ibu-ku itu. Buat ngehadirin acara nikahannya Kak Yuls pada hari Minggu, tanggal 4 Oktober. 

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 09 Oktober 2015

Umur Bioskop, Katy Perry dan Nietzsche

Percaya atau enggak, orang yang sedang berulang tahun, selalu menganggap hal-hal yang terjadi di hari ulang tahunnya itu istimewa, padahal sebenarnya sih biasa aja.

Gak usah jauh-jauh, contohnya aja aku. 

Hal 'istimewa' pertama yaitu beberapa hari sebelum hari Rabu, sebelum tanggal 7. Aku ngeliat cuplikan trailer film The Cobbler di Fox Movies bakal tayang premiere tanggal 7, Rabu malam. Walhasil aku langsung teriak sambil salto,

"HUAAAAAA THANKS GOD! FILM ADAM SANDLER INI JADI KADO TERINDAH BUAT AKOEHHHHH!!!!"

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 05 Oktober 2015

Tolong, Saya Eargasme Sama Lagu-Lagu Ini

Entah, apa cuma aku aja di dunia yang fana ini, yang punya kebiasaan, kalau udah suka sama satu lagu, lagu itu bakal diulang mulu sampe bontok. 


Sampe jadi most played di pemutar musik hape. Sampe total view-nya di Youtube nambah mulu. Sampe orang di sebelah jadi suka atau enek sama lagu itu. Sampe hapal di luar kepala dan nemuin ada 'nada aneh' di lagu itu habis itu ngikik sendiri. Sampe Jokowi lengser dari jabatannya sebagai presiden. Sampe Tukang Bubur Naik Angkot mencapai 2000 episode. Sampe Rafathar Malik Ahmad, anaknya Raffi-Gigi udah gede dan masuk kuliah. Sampe kamu pulang dan ngelamar aku. HUAHAHAHAHA. 


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 02 Oktober 2015

Cowok Baik Itu yang Kayak Gimana?

Selain ngobrolin soal hengkangnya Zayn dari 1D dan takutnya kami kalau Niall bakal menyusul, rasanya gak ada lagi obrolan yang menguras air mataku dan Dita. Kebanyakan ngobrolin soal tugas kuliahnya, soal -aku-gendutan-kah-tan-enaknya-punya-badan-kayak-kamu yang berakhir dengan tekad dan janjinya buat gak makan malam selamanya tapi itu hanya janji belaka, soal model baju yang lagi ngetrend, soal tempat-tempat bagus buat foto, soal.... banyak lah. Namanya juga cewek.

Yang jelas, jarang banget kami melakukan obrolan intim. Maksudnya, obrolan yang melibatkan perasaan secara mendalam. 

Tapi beberapa hari lalu, pas kami berdua lagi asik menikmati mocca float dan mas-mas KFC-nya juga, sahabatku yang sering mengklaim dirinya sebagai keponakanku itu membuka obrolan tentang Ikhsan. Teman sekelas kami waktu SMK. Teman jogging kami tiap Minggu pagi. Tukang foto dadakan. Ojek gratisan saat jalan malam dan aku gak boleh bawa motor. Lelaki penghibur di saat kami lagi sedih. Komentator rusuh di akun socmed. Makhluk paling antusias saat ada rencana mau jalan bareng. Si sabar yang tegar saat aku ketiduran di motor. Sahabat yang........

"Aku kangen Ikhsan, Tan." kata Dita tiba-tiba. Matanya juga berkaca-kaca gak kalah tiba-tibanya. Aku kaget. Tumbenan itu anak nangis. Langka banget untuk seorang Dita yang suka ngolokin aku cengeng kalau aku curhat soal Zai. 

"Aku baca-bacain chat-nya dia pas ngehibur aku, waktu itu aku lagi kesel sama you know kan. Aku sayang mau hapus chat itu."

"Ingat waktu kita ikut event Sun Colour? Dia gak malu bawa-bawa kita berdua buat ikut bareng dia. Bareng teman-teman kuliahnya. Dia mau minjemin kita tongsis. Dia langsung kasih kacamatanya pas aku merengek sama kamu karena kacamataku ketinggalan. Dia nungguin kita yang jalannya lambat banget. Dia baik, Tante."

"Sekarang dia kemana? Dulu sering komen di IG-ku, IG-mu. Dia rajin smsin kita nanya kapan ngumpul. Dia ngasih perintah buat jogging hari anu, jam anu. Dia minjamin sepedanya ke aku waktu kita gowes, nggg maksudnya kamu sama dia gowes." 

"Apa dia sibuk ya sekarang? Iya, sibuk sama Kiki! Sibuk pacaran." 

Aku nyaksiin gerutuan Dita dengan takzim. Aku gak perlu ikut menggerutu, karena gerutuanku tentang Ikhsan sudah tersampaikan dengan sempurna oleh Dita. 

Oh, mungkin belum. Belum semua. 

Ikhsan udah jarang jalan lagi sama kami. Kamu juga lost-contact sama dia. Aku sempat sedih karena waktu aku sakit dia gak jenguk, tapi karena waktu itu dia lagi di Makassar, dan dia titip salam ke Dea buat kesembuhanku dan minta maaf karena gak bisa jenguk. Gak jadi sedih deh. Sedihnya malah sekarang.

Ada sih dia sesekali-kali nongol di Instagram, tapi itu pun fotonya yang nongol yaitu foto bareng Kiki, sang pacar. Fotonya udah kayak pemotretan pre-wedding, mesra banget. Aku sama dia jadi enggan buat komen. Karena biasanya fotonya dia yang kami komen, selalu foto dia sendirian atau bareng teman-temannya. 

Kami berpikiran kalau renggangnya hubungan kami sama dia itu karena dia udah pacar. 

"Kata Yoel, cowok yang baik itu cowok yang bisa menjaga perasaan pacarnya. Jadi menurut Yoel, Ikhsan itu mungkin menjaga perasaan pacarnya itu. See? Dia gak ada upload foto bareng cewek lagi selain sama Kiki." 

"Iya sih.... Lagian kalau dilihat-lihat juga si Kiki itu overprotective dan cemburuan. Ikhsan berarti sayang banget sama Kiki. Ikhsan cowok baik. Bikin hastag #IkhsanCowokBaik aaah. Ha ha ha ha." Kataku, sambil menyemburkan tawa yang terdengar dipaksakan. 

"Cowok yang ngejauhin teman-temannya demi pacar, apa itu yang namanya cowok baik, Tan?" 

Dita menatapku tajam dengan mata sipitnya. Dia udah kayak Lucy Liu di film Charlie's Angels, versi gendut. EEEH enggak kok, Dit. Kamu gak gendut, kamu montok. Please jangan suruh aku traktir kamu colonel yakiniku lagi. Aku bisa bangkrut. 

Tanpa nungguin jawabanku, dia ngebuka obrolan kedua. Dia cerita kalau sekarang dia lagi dekat sama teman SMP-nya dulu, namanya A. Cowok itu dulu pernah suka sama Dita, tapi waktu itu Dita gak ngegubris. Sekarang, keadaannya jadi terbalik. Eh, gak terbalik juga sih. Dita suka sama A, tapi A ngegubris. Sayangnya, A udah ada yang punya. Mamanya yang punya. Eh, udah punya pacar maksudnya. A dan pacarnya, mesra banget. Gak menunjukkan pasangan yang salah satunya bosan, atau sama-sama bosan.

"Aku harus gimana, Tan? Dia sering chat aku akhir-akhir ini. Mulai dari nanya-nanya kamera gopro sampe nanya ijazah SMP. Suka ngegombalin aku. Gayanya kayak orang gak punya pacar, Tan. Dia semacam PHP, pemberi harapan penting.  " 

"Mungkin dia mau baik sama kamu? Mungkin dia orangnya gitu, saking ramahnya?" 

"Tan..... aku pernah terpikir gini loh. Kalau misalnya aja, misalnya nih, dia putus sama pacarnya, gak lama jadian sama aku, ketawa dulu ya, hahahahahaha. Oke lanjut, nah jadian sama aku, aku yakin dia bakal chat sama cewek lain kayak dia chat sama aku dulu sebelum pacaran. Ya kan? Kayak gitu dibilang mau baik sama aku?" 

Kata-kata Dita ada benarnya juga.

Seperti yang udah pernah aku tulis di postingan Cowok Baik-Baik, A adalah contoh nyata dari postinganku itu. Cowok baik-baik, atau yang di postingan itu aku sebut dengan cowok 'terlalu' baik, adalah spesies cowok yang dibenci oleh cewek. Cewek mana yang gak benci sama cowok yang memberi harapan ke semua cewek? Yang mengistimewakan kamu lewat tingkah atau tutur mulutnya, padahal bagi dia kamu itu cuma teman biasa? 

Aku langsung ngehampirin tempat duduk Dita, lalu merangkulnya. Obrolan kami malam itu melankolis sekali. Kami terdiam, seolah lagi mengheningkan cipta. 

Gak lama, kami foto-foto. Inilah maksud sebenarnya aku ngehampirin dan ngerangkul dia. Karena mau foto-foto pake aiponnya. HUAHAHAHAHAHA! . 

Kami kangen Ikhsan. Kangen banget. Kangen sama momen-momen di bawah ini, 





Yang di tengah itu Owi. Huaaa, kangen Owi juga!

Aku sama Dita sampe mikir, seandainya aja Ikhsan dan Owi jadian, mengingat dulu mereka pernah punya perasaan sayang satu sama lain tapi gak pacaran juga. Seandainya itu kejadian, kami masih bisa jalan-jalan bareng. Masih bisa ngerasain kehadiran Ikhsan. Gak kayak sekarang......

Duh, nulis beginian seolah olah kayak Ikhsannya udah tiada. Huaaaaaaaa. 

Entah salah aku dan Dita apa, tiba-tiba ngejauhin gitu. Entah dia udah males jadi cowok sendiri setiap jalam sama kami. Entah dia sibuk atau ada yang salah sama kami, atau dia mau menjaga perasaan ceweknya dengan gak jalan sama teman cewek lagi? Kelihatannya emang so sweet, sampe segitunya demi si pacar. Takut banget kalau pacar ninggalin. Aku sih kalau jadi Kiki, bakal bahagia banget punya pacar sebaik itu. Tapi......

Sementara A, mungkin aja dia gak bermaksud ngasih harapan palsu ke Dita, cewek yang aku kenal selama ini susah jatuh cinta, dan sekali jatuh cinta, jalannya malah gak mulus. Mungkin cowok itu cuma mau menjalin silaturahim, mau menjalin pertemanan baik-baik. Ngegombal pun mungkin sekedar becanda atau demi mengakrabkan diri. Mungkin dia tau perasaan Dita, dan dia ngehargain itu dengan perlakuannya yang (katanya Dita sih) bikin baper. Menghargai perasaan orang itu termasuk perbuatan baik, kan? Ah tapi........ 

Aku jadi bingung. Cowok yang baik itu yang kayak gimana? Cowok yang rela mengorbankan kebersamaan bersama teman-temannya demi kebahagiaan pacar, atau cowok yang tetap dekat sama cewek lain walaupun udah punya pacar? 

Apakah cowok baik itu cowok-cowok yang ngejomblo? 

Apakah cowok baik itu cowok-cowok ngondek?

Atau jangan-jangan bener yang dibilang sama Raditya Dika, cowok itu cuma ada dua tipe. Kalau gak brengsek, ya homo. Gitu?

Sumpah, aku kangen kebersamaan bareng Ikhsan. Sumpah, aku sedih liat Dita patah hati. Aku sedih saat dia bingung antara mau sedih atau mau senang kalau A hadir. Sumpah, aku pengen tau, cowok yang baik itu yang kayak gimana bentuknya. 

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com