Sabtu, 26 September 2015

Tanda-Tanda Alzheimer Semakin Dekat

Kemaren sore, aku dilecehkan sama tukang parkir.


Ceritanya gini. Waktu mau pulang ke rumah, aku ngedapatin motorku di tengah-tengah hamparan motor lain. Susah buat dikeluarin. Dengan tampang memelas dan suara mendesah, aku manggil bapak tukang parkir depan kantorku buat ngeluarin motorku itu.


"Pak, keluarin." kataku sambil nunjuk-nunjuk motor matic Scoopy merahku.

"Apa, Cha?"

"Keluarin, Pak. KELUARIN."

Si Bapak tukang parkir ngehampirin aku. Bukannya lanjut ngehampirin motorku, dia malah nanya ke tukang parkir ruko sebelah.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 25 September 2015

Omnivora Lagu

Setelah sukses bertanya lewat single Where Are Ü Now yang beat-nya bikin aku pengen nari perut, Justin Bieber kembali bertanya dengan single terbarunya berjudul What Do You Mean. 

Duh, si Bieber nanya-nanya mulu. Padahal aku gak kemana-mana kok. Aku cuma vakum ngefans sama dia semenjak masuk SMK, dan memilih buat mantengin lagu-lagunya Maroon 5. Trus berlanjut suka sama Eminem sampe sekarang.

Dulu, tepatnya waktu SMP, aku jadi Belieber kijil. FYI, Belieber itu sebutan buat penggemarnya Justin Bieber. Dan kijil itu... centil. 

Aku jadi sosok perempuan yang menggilai sosok Justin Bieber, stuck sama lagu-lagunya, ngejilatin foto-fotonya yang kepampang di layar hape, dan mengidam-idamkan dia jadi suamiku kelak. Kami sebaya, sama-sama kelahiran '94, itu jadi peluang yang besar buat jadi istrinya, kan? Begitu pemikiranku dulu. Betapa polosnya, dan songongnya.


Sampe ngedit foto beginian, Astagfirullah, ampuni hambamu yang binal ini, Ya Wadud.

Untungnya, sebelum yang baca muntah-muntah hebat (atau mungkin sekarang udah keburu muntah), aku gak ngidam-ngidamkan JB sebesar itu lagi.

Begitu JB melepas album Believe di pasaran, saat itu juga dia melepas citra dirinya sebagai anak baik-baik. Dia resmi jadi bad boy, seiring dengan usianya yang makin nambah. Seolah belum puas dengan citra dirinya yang baru, JB mulai rajin bikin kontroversi sana-sini. Lagunya juga gak sebagus waktu di album My World. Dia juga semakin jadi bahan omongan gak enak. Kalau dulu diomongin suaranya kayak cewek, kalau sekarang diomongin kelakuannya like an asshole. Aku kzl ngeliatnya.

Tapi aku gak kzl lagi begitu ngeliat postingan Kartini di akun Instagramnya.

Teman sekelasku waktu SMK itu nge-upload teaser MV What Do You Mean, lagu terbarunya JB. Aku sempat kaget. Perasaan dia udah gak suka lagi sama JB semenjak orang itu putus sama Selena Gomez. Kartini beralih ke Cody Simpson. Dan kagetnya lagi, model di MV-nya itu kayak Cara Delevingne. Btw, kami berdua sama-sama ngefans Cara. Tapi dia parah, sampe ngaku-ngaku jadi saudara kandungnya Cara. Kalau aku sih, nganggap diriku ini serpihan bulu kakinya Cara udah seneng.

Oh, mungkin gara-gara ada Cara, makanya dia upload teaser itu. Pikirku.

Tapi Kartini bilang kalau itu bukan Cara. Dan sebelum aku nuduh Kartini yang gak bersalah itu bohong sama aku demi bikin aku kelihatan kudet, akhirnya official music video-nya dirilis.

Seperti biasa, JB seolah gencar nunjukkin kalau dia udah dewasa, dengan beradegan dewasa. Lawan main di MV-nya selalu model-model cantik, dan kali ini model cantik bernama Xenia Deli. Si JB tau aja kalau nama model itu kayak nama merk mobil, main nunggangin aja. Aku ngerutin kening selama nonton MV-nya itu.

Oke, sebenarnya gak masalah sih. Mau dia ngelakuin threesome di MV-nya juga gak masalah, toh itu lagunya sendiri, ya terserah dia. Tapi rasanya aku gatal buat ngumpat sana-sini habis mengonsumsi MV-nya. Aneh banget.

Jadi gini, di awal MV, JB terlihat lagi ngobrol sama seorang cowok. Mereka membuat perjanjian. Trus JB pergi ke apartemen pacarnya, si Xenia Deli itu. Gak lama mereka main bareng, kalian pasti tau permainan macam apa itu. Makna lagunya mulai tersampaikan di bagian ini. Si cewek bersikap ramah, tapi kadang jadi pemarah.

Lalu datang tiga kawanan bertopeng menculik mereka. JB dan si si cewek itu disekap, disandera, disembeleh buat hari raya Idul Adha. Eh, yang terakhir itu bohongan, kalaupun ada paling buat versi Islaminya. Lanjut, untungnya mereka berhasil kabur dengan cara terjun bebas dari lantai atas. Pas jatoh, mereka berdua udah ada di tengah-tengah arena skateboard. Salah satu dari kawanan bertopeng itu juga ada, trus dia ngebuka topengnya dan voilaaaaa! Ternyata orang itu adalah orang yang diajak ngobrol di awal MV, atau lebih tepatnya dibayar JB buat melakukan penculikan itu. Habis itu mereka larut dalam pesta di arena itu. Si cewek senang, JB pun goyang. Goyang bareng orang-orang di pesta itu. Udah gak ada lagi adegan goyang di ranjangnya.

Ngebayar orang buat nyulik kamu dan pacarmu, demi ngebawa pacarmu ke skate park? Kejutan macam apa itu? What do you mean, Ntin???!!!


Sumpah, aku gak ngerti apa yang ada di pikiran sutradaranya, Brad Furman. Maksudnya apa pake konsep cerita buat MV yang kayak gitu? Yang lebih bikin gak ngerti, kenapa juga JB masih aja demen gak rapi kalau pake celana, sampe celana dalamnya kelihatan. Celana dalamnya yang bermerk Calvin Klein itu sempat-sempatnya terpampang di MV-nya. Sponsored by Calvin Klein, huh? Ngakak keras aku ngeliatnya. Kayaknya si JB belum nonton tausiyah Mamah Dedeh yang temanya tentang riya' itu gak boleh deh.

But fuck it all, aku ngefans sama lagunya. Komentar demi komentar di official lyric video-nya melegakan buat dibaca, karena banyak yang suka sama lagu ini. Bahkan ada yang gak ngaka kalau What Do You Mean itu lagunya JB. Entah itu pujian atau... Huaaaaa kasihan juga sih sama anak itu.

Menurutku, lagunya easy-listening. genre musiknya keren, pop-tropical house, nyatu dengan sempurna sama suara seraknya. Dan makna lagunya, setauku sih belum ada lagu yang ngangkat tema tentang cewek-tuh-maunya-apasih-dasar-cewek-tuh-ngebingungin-susah-ditebak. Liriknya bener-bener ngegambarin cowok yang gak tau maunya cewek itu apa. Ngegambarin cowok yang selalu salah di mata cewek. Ngegambarin cowok-cowok yang lagi kena plin-plannya cewek PMS.

Kebanyakan cewek emang gitu kan? Suka gengsian bilang yang sebenarnya. Maunya dimengerti sama cowok. Suka pengen si cowok peka dan tau sendiri tanpa harus si cewek kasih tau. Suka gak terus terang. Padahal cowok juga manusia, bukan makhluk bertanduk di kepala, yang bisa menangkap sinyal dari cewek dengan dua tanduknya itu.

Seperti yang aku lihat di Genius.com, JB menjelaskan kalau makna lagunya adalah,

"Girls are often flip-floppy. They say something, and then they mean something else. “What do you mean?“ … I don’t really know, that’s why I’m asking."

HUAAAAAAAAAA!!!!!
HUAAAAAAAAAAA LAGIIII!!!!!
HUAAAAAAAAAAAAAAAA LAGI AHHHH!!!!

Dengerin What Do You Mean terus-terusan bikin aku jatuh cinta lagi sama JB. Telepas dari semua kontroversi yang dibuatnya, dan hatersnya yang kayaknya semakin banyak, JB adalah sosok cowok berbakat, ganteng, dan romantis. Entahlah, aku anggap lagu ini romantis. Mungkin gara-gara JB ngebahas kelakuan si cewek dengan detilnya. Dia bingung dan kesal, tapi tetap sayang. UUUHHH~

Walaupun konsep MV-nya aneh, kolor Calvin Klein-nya nongol dengan songong, potongan rambutnya kayak mau nyaingin rambutnya Kristen Wiig, aku ngerasa terlalu tua buat jadi Belieber lagi, yang jelas aku suka lagunya. Suka banget! Kalau JB ngeluarin single dengan judul kalimat tanya lagi, misalnya judulnya "Who Are You?!", aku bakal jawab, "I'm your Selena." Trus kami berdua ngeluarin single duet judulnya "Will You Marry Me?" HUAHAHAHAHA!

HUAAAA!!!! JADI PENGEN PAKE BAJU SMP LAGI SAMA TOPI UNGU MIRIP KAYAK PUNYA JB, MAU JADI BELIEBER LAGIIIIII!!!!!

Tapi sebenarnya aku geli juga sih nulis postingan ini. Eh, bodo amat dah. Mau diketawain Dina kek karena dulu aku pernah bilang bakal gak suka JB lagi, mau dikatain alay sama Nanda kek, mau malu sama playlist lagu Maroon 5 dan lagu hip-hop kek, mau diceraikan sama Adam Levine kek. bodo amat. Aku orang yang gila dengerin lagu, sok-sok rajin nyari makna lagu trus nyocokin sama masalah yang lagi dialamin. Kalau boleh bilang. aku omnivoranya lagu. Penyanyi aja seharusnya bisa nguasain semua teknik bernyanyi dan bisa nyanyiin lagu berbagai genre musik. Dan menurutku, sebagai pendengar musik sejati, kita harus dengerin musik dari segala penyanyi dan genre. Melahap semuanya. Makananku kali ini, gak masalah buat pencernaanku yang berupa kedua telinga ini kok.

Oh iya, kalian omnivora lagu juga gak? 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 17 September 2015

Gara-Gara Mamah Dedeh dan Mikky Ekko

Kenapa gara-gara mereka berdua?

Pertanyaan yang kayaknya muncul di kepala yang baca judul postingan ini. Atau mungkin sebenarnya gak ada tuh yang punya pertanyaan kayak gitu, akunya aja yang kepedean. Tapi persetan dengan itu, aku tetap jawab pertanyaan di atas. 

Oke, selain mereka beda kelamin, mereka berdua juga beda 'dunia'. Yang satunya, yang terhormat Mamah Dedeh Rosidah, seorang pendakwah yang masih aktif dan ceria walaupun usianya sudah 64 tahun, idola Mamaku dan kayaknya jadi idolaku juga. Yang satu lagi, seorang penyanyi dan produser rekaman berusia 30 tahun asal Louisiana, mencuat ke dunia musik karena duetnya dengan Rihanna di lagu minta-ditemenin-kamu-jangan-pergi berjudul Stay.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 15 September 2015

Kalau Jalan Sendirian, Kejadian-Kejadian Ini Cuma Jadi Aib Tersegel

Kalau disuruh antara jalan sendirian atau jalan rame-rame, aku lebih milih poin yang pertama. 


Bukan, bukan karena lagi LDR terus gak ada yang bisa digandeng keliling Samarinda. Hah, alasan macam apa itu (padahal emang iya sih, sedikit)?! Tapi karena pada dasarnya aku memang lebih suka jalan sendirian daripada rame-rame. Aku lumayan sering ngelakuinnya. Dan menurutku, yang lumayan ekstrem sih pas mutusin buat nonton Paranormal Activity 4 sendirian. yang berakhir dengan kalimat sok berani terlontar dari mulut,


"Yaelah, gitu doang. Kirain serem banget sampe bakal bikin menstruasi."

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 11 September 2015

Doraemon, Tolong Keluarkan Alat-Alat Ini!

Sampe segede gini (jangan tanya apanya yang gede) aku masih suka aja ngarep kalau Doraemon itu beneran ada. Ibarat Pegadaian, Doraemon itu menyelesaikan masalah tanpa masalah. Gak kayak pacar, yang menyelesaikan masalah dengan masalah, karena bikin resah.


Eh, emang pacarnya siapa ya? Tauk deh. Bagi yang gak ada kasih kabar berhari-hari, tolong ngerasa aja ya. Terus habis itu ambil kaca. Terimakasih. *bukan sindiran*


Sebagai manusia yang kodratnya gak pernah merasa puas, kita menginginkan hal-hal yang mustahil, dan berharap kita bisa mendapatkannya dari kantong Doraemon. Contohnya Bang Haris Firmansyah, blogger yang secara gak langsung menginginkan pintu kemana sajanya Doraemon demi kelangsungan, kelancaran dan kenikmatan hubungan jarak jauh dengan pacarnya. Ciyeeeee.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 03 September 2015

Jangan Kesepian!

Bukan, ini bukan himbauan atau perintah bagi para jomblo akut supaya cepat cari pendamping hidup kok. Karena kesepian itu bukan cuma milik jomblo, tapi milik semua orang. Bener gak?


Btw, yang jomblo, mana tepuk tangan meriahnya? 


Bohong kalau ada yang bilang gak pernah ngerasa yang namanya kesepian, meskipun udah punya pasangan, keluarga, teman, sahabat, atau mantan. Setiap orang pasti pernah ngerasain momen kesepiannya masing-masing. Lama atau sebentar. Sementara atau selamanya.


Kesepian bisa ditemui di kisah anak yang dianggap takkan pernah menyicip pahitnya kesepian karena telah dilimpahkan materi oleh orangtuanya yang sibuk bekerja. Kesepian bisa diam-diam menyelinap di persahabatan antara tiga orang remaja. Dua terlihat akrab, yang ketiga teracuhkan. Kesepian bisa tak terlihat, bisa tersembunyi di balik tawa lepas orang-orang asik memainkan gadgetnya, atau di balik muka ceria orang-orang saat mendengarkan lagu. Kesepian bisa jadi satu-satunya alasan kenapa sang mantan terindah tiba-tiba ngehubungin kita lagi. Si mantan ternyata cuma kesepian, bukannya kangen apalagi ngajak balikan. Kasihan.....


Bagian yang menakutkan, ternyata kesepian berbahaya bagi kesehatan fisik. Banyak studi yang meneliti tentang bahaya kesepian, diantaranya kesepian sama bahayanya dengan merokok 15 batang sehari. 15 batang. Panjang-panjang. 15 batang panjang, kalau semuanya disatuin punya kamu bakalan kalah panjang. Eh maaf. agak ambigu. Penelitian lainnya menemukan bahwa bahaya kesepian dua kali lipat besarnya dari dadanya Jupe obesitas. Terutama bagi lansia. Tuh, yang lagi jomblo, Jangan jomblo sampe lanjut usia, ya. Huahahahahaha.

Yang kesepian, bisa ngumpul-ngumpul sama tiga keponakan dan anak tetanggaku nih. Anaknya asik-asik kok.

Itu menurut penelitian sekumpulan orang-orang pintar. Kalau orang sok pintar dan sok cantik kayak aku boleh bikin penelitian, eh pengamatan sih lebih tepatnya, tentang apa aja dampak dari kesepian, hasilnya kayak di bawah ini. Semoga lebih menakutkan. 


1. Bikin mel-think
Gak, aku gak typo kok, atau kalian gak salah baca kok. Aku bukannya mau ketik melting yang artinya meleleh itu. Mel-think itu singkatan dari melancholy-thinking, pikiran yang rasanya lebih parah dan dramatis dari negative-thinking. Saat kesepian, banyak kalimat-kalimat yang isinya mengutuk orang lain, keadaan, dan diri sendiri. Berpikiran yang ngeres enggak-enggak. 

"Kenapa aku terlalu lama sendiri? Padahal aku bukan Kunto Aji! "

"Kenapa aku gak kayak tangga yang anaknya banyak?"

"Ini Bumi apa planet Mars? Penghuninya kayak gak ada!" 

"Apa aku harus sakit kanker dulu atau diculik alien dulu biar semua perhatian sama aku?"

Selain kalimat-kalimat di atas, kesepian juga bisa menciptakan air asin yang mengalir dari mata kita sampe ke bawah dagu. Asin rasanya, begitu kita tau saat orang yang kita butuhin gak ada buat kita. Begitu kita tau hanya ada kita dan dinding kamar, saling berhadapan. 

Pengen rasanya air mata yang keluar ada warnanya, biar aku rada senang dikit. Biar kayak Justin Bieber di MV Where Are Ü Now-nya Skrillex and Diplo.

Setauku, rata-rata cewek ngerasain mel-think saat kesepian. Gatau kalau cowok. 

Bahaya banget kalau sering ngerasa kesepian, trus mel-think. Bakal bikin ingusan mulu. Bantal basah tiap malam. Stok air mata habis. Ntar gak bisa nangis terharu pas di akad nikah atau wisuda anak lagi.


2. Bikin boros dan konsumtif
Bukan cuma boros air mata dan kalimat keluhan, tapi juga boros uang. Ada studi penelitian yang menemukan bahwa orang cenderung menghabiskan uang dan membeli barang yang tidak perlu saat kesepian. Dan kayaknya itu terjadi sama aku. Kalau aku lagi kesepian, aku cenderung suka gak mikir panjang buat jajan. Beli cemilan banyak, belanja baju, main di Amazon sampe bontok. Sok-sok gak peduli uang tinggal berapa. Begitu puas berbinal ria terus ngeliat isi dompet, pengen rasanya join bareng anak-anak di lampu merah.

Orang-orang pergi ke klub malam karena kesepian. Menghabiskan uangnya untuk kesenangan sementara, musik yang gak ada bikin hati tenang sama sekali, dan minuman yang rasanya kayak air kencing (katanya sih, belum pernah nyoba) itu. Om om pengusaha yang hobinya memakai jasa PSK itu bukan cuma karena dia hiperseks, tapi juga karena kesepian. Begitu juga dengan tante-tante girang yang doyan memanjakan berondongnya dengan harta, tahta, dan Raisa. Mereka hanya kesepian, menjadikan seks sebagai pelampiasan. Tapi dampaknya mengerikan buat keuangan mereka. 

Mengingat kebiasaanku saat kesepian yang rada konsumtif itu, semoga itu enggak ngebuatku berpotensi menjadi tante-tante gir..... Ah sudahlah. 


3. Bikin punya teman khayalan
Kesepian adalah salah satu alasan kenapa aku menciptakan Alzhema. Dengan hadirnya Zhema, aku ngerasa punya seseorang yang ngertiin aku, dan memberi nasihat songong tapi bijak. Zhema selalu mandang positif akan apa yang aku alami. Zhema terima aja dengar keluhanku. Zhema selalu ngebuat aku percaya sama dia, yang sebenarnya adalah diriku juga. 

Mungkin itu juga yang dirasain sama Narator di film Fight Club, film yang diangkat dari novel karangan Chuck Palahniuk, novel favorit Raditya Dika, seperti yang aku tahu dari majalah remaja Gadis. Dia ketemu sama tukang sabun bernama Tyler lalu ngebentuk sebuah perkumpulan bernama Fight Club. Hidup Narator yang dulunya suram karena penyakit insomnia dan sifat konsumtifnya, akhirnya jadi berwarna dan bermakna. Bukan, Narator bukannya jatuh cinta sama Tyler. Nah, ternyata si Tyler itu cuma 'teman khayalan'nya Narator semata. Gatau kalau sabunnya. 

Sejatinya, kita butuh orang lain dalam menjalani kehidupan. Orang yang kita butuhkan dan membutuhkan kita juga. Tapi kalau orang itu gak ada, kita gak bisa menghindari yang namanya kesepian. Teman khayalan adalah wujud dari angan-angan akan orang yang diharapkan selalu ada buat kita. Gak selamanya punya teman khayalan itu berbahaya sih, contohnya aja kayak Eminem, yang punya teman khayalan berupa alter ego bernama Slim Shady. Berkat alter ego, single The Real Slim Shady dan single lainnya meledak di pasaran. Tapi kalau berlebihan juga gak baik sih. 


4. Bikin salah orang
Quote "Never allow loneliness to drive you back into arms of someone you don't belong with." dari sekian banyak quote yang pernah dilontarkan Drake, adalah quote favoritku. Seperti yang aku tulis di atas, mantan mencari kita bisa aja karena kesepian. 

Kita, cewek-cewek, juga berpotensi melakukan hal yang sama saat kesepian. Sering terjadi adanya orang ketiga dalam hubungan, karena si cewek merasa kesepian. Orang ketiga yang awalnya cuma dianggap teman curhat, lalu jadi 'kakak angkat', dan pooof! Jadi selingkuhan. Si pacar tau, terus putusan, jadian sama selingkuhan, diselingkuhi sama selingkuhan, nyesal. The end. 

Saat kesepian, kurang perhatian dari pacar, kita (yang cewek-cewek, gatau kalau cowok) cenderung mencari perhatian dari orang lain. Entah dari teman, sahabat, atau mantan. Hati yang sedang kesepian itu mudah disusup sama orang yang baru dikenal sekalipun. Rentan. Bahayanya kalau kita 'mencari' perhatian ke orang yang salah. Bisa aja kita jadi musyrik, lari ke jin-jin nakal kalau kesepian.

Bukan cuma ke orang yang salah, kesepian juga bisa mengantarkan kita ke hal yang salah. Narkoba atau rumah bordil, misalnya. Bisa bikin lupa sih kalau kita kesepian, tapi dampaknya setelah itu.... menyenangkan, eh mengerikan maksudnya.


5. Bikin jadi pembunuh
Sebulan yang lalu, aku ngehabisin tiga hari berturut-turut buat nonton film  Jepang berjudul Confessions. Bukan, bukan JAV, tapi film. F-I-L-M. Tentang pembalasan dendam keren seorang guru SMP kepada dua pembunuh anaknya yang berusia lima tahun. Si guru memang benar-benar seorang guru sejati, memberikan 'pelajaran' berharga buat dua pembunuh itu, yaitu muridnya sendiri, yang masih SMP. Tema ceritanya fresh, para pemainnya total memainkan perannya, alurnya walaupun agak lambat tapi gak ngebosenin, setiap pengambilan adegannya unik, dan endingnya what the fuck! Aku cinta banget sama film yang bisa bikin aku bersumpah serapah pas habis nontonnya.

Mengerikan, ketika anak SMP bisa membunuh. Tanpa rasa bersalah. Lebih mengerikan lagi, alasan membunuh itu karena ingin dapat perhatian. Yang satu ingin membunuh supaya Ibunya yang udah lama pergi bakal nyariin dia, yang satunya lagi karena pengen punya teman. Mereka jadi pembunuh karena kesepian. Ngeres. Eh, ngenes.

Di film The Roomate, Rebecca jadi pembunuh supaya bisa jadi satu-satunya teman yang dimiliki Sara. Rebecca itu posesif dan gila. Dia gak mau ada orang lain selain dia.  Rebecca kayak gitu karena ngerasa gak punya siapa-siapa yang baik ke dia selain Sara. Dia kesepian.

Gila banget. Lebih gila lagi kalau kesepian bisa membuat kita jadi pembunuh untuk diri kita sendiri. Nyayat urat nadi. Gantung diri. Minum baygon. Nelan obat tidur banyak-banyak. Menabrakkan diri di rel kereta. Makan beling. Makan orang.


Jangan ngerasa kesepian. Bukannya kita harus selalu berada di keramaian. Kadang kita juga butuh waktu sih untuk sendiri, menyendiri. Tapi menyendiri dan kesepian itu beda. Menyendiri itu pilihan yang dibuat. Kalau kesepian itu, keadaan yang mau gak mau harus dilewati.Tapi kalau kita mau, kita bisa hindari.


Saat ngerasa kesepian, gak ada teman yang ngertiin kita, kita bisa lari ke keluarga kita. Saat gak punya pacar, gak ada orang yang mau mendengarkan kita, kita masih punya blog untuk menerima tampungan perhatian, curhatan, dan opini absurd kita. Saat ngerasa gak punya siapa-siapa, ngerasa bahkan dinding kamar pun enggan ada untuk kita lagi, kita masih punya Sang Pencipta untuk kita curhatian kok. Karena sebenarnya, kita gak pernah sendirian. Gak akan.


Salam. Wanita yang gak kesepian, cuma suka menyendiri.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 01 September 2015

Kata Nanda, Kakaknya Punya Kenangan Manis

"Kenapa aku gak nangis ya malam kemaren? Nangis sih, tapi cuma menganak di pelupuk mata, gak netes behimat kayak bulan Januari kemaren."

Tawa kecil terdengar dari seberang telpon sana, sebagai jawabannya. Tawa kecil yang masih terdengar di telingaku sampe sekarang, walaupun telponanku sama Zai itu udah terjadi sebulan yang lalu.

Minggu malam, tanggal 26 Juli, Zai yang baru tiba di Sangkulirang nelpon aku. Dengan suaranya yang melemah karena kecapekan, dia cerita kalau dua jam lagi jemputannya dari mess bakal datang. Waktu itu, jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Sebagai pacar yang sok baik, aku berusaha buat nahan kantuk yang sebenarnya daritadi mendera, karena efek obat demam yang baru aku minum. Aku pengen nemenin dia sampe dia dijemput. 

"Eh, kalau disuruh milih liat kamu naked sama tidur, aku lebih milih tidur taulah." katanya dengan suara yang makin melemah, diakhiri dengan aksi menguap lebar. Aku dengarnya jelas kesal, ini orang ngantuk atau lagi mabuk sih? Bisanya ngomong ngawur kayak gitu. 

Kami telponan sampe jam sebelas malam. Aku yang dari duduk sampe baring dan dia yang dari berdiri sampe duduk selonjoran di depan warung orang yang sudah tutup, dengan mata yang terkantuk-kantuk. 

Dua jam telponan sama dia, sama halnya dengan dua minggu kepulangannya ke Samarinda. Rasanya kayak kedipan mata yang gak sampe sedetik. Singkat banget. Ketemu cuma beberapa kali, padahal aku udah berencana bakal tiap hari ketemu dia selama dia di Samarinda. Kami gak ada jalan, cuma menghabiskan waktu di rumahku dan di rumah sakit karena maag akut sialan itu. Dia ke Beras Basah Bontang bareng teman-temannya, padahal aku berencana walaupun dalam hati, dia kesana sama aku. Rencanaku semua berantakan. Kesal banget. Sia....... siamang! 

Tapi anehnya di malam itu, malam terakhir sebelum dia kembali ke hutan sawit, aku gak begitu ngerasa sedih banget kayak waktu di bulan Januari. Waktu di bulan Januari, pas pertama kali kami LDR, aku menghabiskan malamku dengan nangisin dia. Nangis di depannya, nangis di kamar, nangis depan tembok kamar mandi. Besoknya, nangis di kantor. Sampe ngerasa punya original soundtrack atas LDR-nya kami, yaitu lagu Beautiful Goodbye-nya Maroon 5, yang kalau didengerin bikin pengen nyari buraq buat datangin dia. 

Tapi kali ini, aku sedih sih, tapi gak berkepanjangan. Aku melepas kepergian keduanya ini dengan senyum. Senyum Pepsodent.

Aku kenapa? Apa karena lagi sakit makanya aku gak sempat buat nyedihin dia? Apa karena aku sudah terbiasa LDR?

"Karena kau punya kenangan manis sama dia sebelum dia pergi, Ndes. Kau sekarang sudah percaya dia, jadi kau gak nangis alay takut kehilangan dia lagi.”

Kata-kata sok tau dari Nanda waktu aku curhat sama dia, ngingatkan aku sama kejadian waktu di rumah sakit. Waktu dia ngejagain aku, walaupun cuma semalam. Gapapa sih, daripada cinta satu malam.

Malam itu, akhirnya aku ngerasain yang kayak Rina rasain selama dia dirawat di rumah sakit. Rina, pasien di sebelahku yang umurnya beda setahun sama aku, tapi penyakit kami sama. Maag akut. Aku yang udah gak muntah-muntah lagi habis makan tapi demam selalu tinggi, sedangkan Rina setiap makan pasti muntah. Ibaratnya, dia baru memasuki tahap awal maag akut. Dia selalu ditemani sama Ibunya dan seorang cowok yang kayaknya setahun-dua tahun lebih tua dari dia, yang aku tau dari Mamaku ternyata cowok itu adalah tunangannya. 

Si cowok itu, entah namanya siapa, sooooo romantic. Kampret. Si cowok ngejagain setiap hari, nyuapin, ngebelai-belai kepalanya Rina, ngantarin pas pipis, ngehapus air matanya Rina, sampe nyium kening tunangannya itu kalau lagi tidur. Pokoknya so fuckin’ sweet lah. 

Aku mikir, boro-boro Zai kayak gitu, jengukin aku aja enggak. 

Tapi untungnya sebelum aku nelan selang infusan karena stress gak dijenguk-jenguk, akhirnya Zai ngejenguk juga. Malam itu, ya balik lagi ke kata-kata malam itu, Rabu malam. Dia datang bukan dengan wajah cemas seperti cowok-cowok di film bertema pacarku-bakal-mati-karena-kanker, tapi dengan senyum mengejek.

“Akhirnya masuk rumah sakit juga.”

“Munyak! Eh, mukaku pucat kah?”

“Gak, sama aja.” katanya, cuek.

Rasanya mau marah, tapi gak jadi marah karena dia bilang sama Mamaku kalau malam itu dia aja yang jaga. Entah kemauannya sendiri, karena bbm dari Kak Dayah yang isinya bertanya,

“Kamu yang jagain Icha kah malam ini?” atau karena muka melasku yang minta dia di rumah sakit aja, yang jelas aku senang banget waktu itu.

Sekitar jam tujuh malam, jam besuk sudah habis. Pasien hanya diperbolehkan dijaga sama satu orang. Zai pun langsung keluar sebelum diusir sama petugas yang biasa bawa-bawa lonceng pertanda jam besuk sudah berakhir dan akan dibuka lagi jam setengah sembilan. Pengen rasanya biar aja Mama yang keluar sekalian pulang, biar aja Zai gak usah kemana-mana. Tapi karena takut dikutuk gak sembuh-sembuh sama orangtua sendiri, aku pun ngebiarin Zai bangkit dari duduknya.

“Kamu nanti balik lagi ya, jam setengah sembilan. Awas kalau enggak balik lagi!”

Zai hanya mengacungkan jari tengahnya. Spontan tindakannya itu mengundang kakiku buat nendang dia, tapi gak nyampe sasaran. Lalu dia pergi.

Rentang waktu antara jam tujuh ke jam setengah sembilan, rasanya sangat panjang. Aku menebak-nebak dia lagi ngapain dan dimana selama itu. Mungkin dia lagi di kosannya Albert. Mungkin dia lagi ngumpul-ngumpul sama teman-temannya yang sebagian aku gak kenal itu. Mungkin dia bakal lupa waktu dan……

Jam delapan, perawat datang membuyarkan lamunanku dan mendaratkan suntik antibiotik di lengan kiriku. Sialan, rasanya kayak luka dikasih garam. Aku sampe nangis karena gak tahan sama sakitnya. Setelah disuntik, kerasa nyeri. Dan telingaku ikut ngerasa nyeri juga, karena ngedengar Rina yang nangis tanjal minta gak usah disuntik.

“Dia takut habis dengar Mbaknya nangis. Kalau Mbaknya gak nangis dia gak nangis juga.” kata Ibunya Rina ke perawat yang lagi megang suntikan, dengan raut muka menahan ketawa. Aku dan Mamaku saling berpandangan, habis itu senyum-senyum. Ternyata ada yang lebih cemen daripada aku. Alhamdulillah ya, gak boleh sombongggggg. *logat bicara ala Syahrini*

Beberapa kali bujukan akhirnya bisa meluluhkan hati Rina buat mau disuntik. Dan sesuai dugaan, dia nangis waktu jarum suntik itu masuk ke dalam kulitnya. Rasanya wajar sih nangis, perawatnya juga sebelumnya bilang rasanya agak sakit. Mending waktu disuntik obat pas di RSUD Abdul Wahab Sjahranie kemaren deh.

Jam setengah sembilan lewat, Zai datang dan langsung duduk di sampingku. Ternyata dia gak kemana-mana, tapi dia nunggu di lantai bawah (ruanganku di lantai 3). Gak lama, Mamaku pulang waktu aku lagi tidur.

Pas aku bangun, aku ngeliatin dia dengan tatapan kesal. Dia yang lagi asik gerayangin hapenya.

Ini orang benar-benar gak care. Ceweknya sakit tuh coba dielus-elus kepalanya kek, dipijitin kek kakinya, ditanyain mau makan mau minum kek apa. Minimal, diajakin ngobrol. Ini malah pacaran sama hape!

Jarum jam menunjukkan pukul setengah dua belas lewat. Aku nyuruh Zai buat tidur. Dia ngegelengin kepala. Aku pun cuek dan mejamin mataku, berusaha buat tidur lagi.

Beberapa menit kemudian, satu belaian mampir ke kepalaku. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.

Itu anak kayaknya pas aku tidur aja baru mau sweet sama aku. 

Tangan itu pun berhenti, berganti dengan kepala yang tiba-tiba menimpa lengan kiriku. Ada suara kursi berderit. Aku ngebuka mata dan ngeliat dia tertidur di sampingku. Gak lama, dia ikut ngebuka matanya. Dia ngeluhin kakinya yang kesemutan karena tidur dalam posisi duduk. Aku nyuruh dia buat tidur di bawah, tapi dia gak mau. 

"Masih mau sama kamu." katanya datar. 

OH GOD, ambil bibirku sekarang! Biar aku gak senyum-senyum kijil terus!!!!!!

Sekitar jam dua, perutku kerasa sakit. Rasa kayak ditonjok itu kumat lagi di saat aku dan orang yang lagi jagain aku pengen tidur. Aku merintih di balik selimut yang nutupin mukaku. Dia langsung terbangun dari tidur dengan posisi duduknya dan kelabakan.

“Biasanya Mamamu ngapain kalau kamu begini?”

“Gatau, sakit pokoknya. Huaaaaaaaa!!!”

“Kamu mau makan? Makan kue, ya?”

Tangannya yang dari kepalaku berpindah ke pintu lemari di samping ranjangku. Dia ngambil satu kotak brownies yang dia bawa tadi. Membuka isinya dan menyuapkannya ke aku dengan sendok. Minumnya, karena waktu itu aku gak bisa bangun dan gak ada sedotan, jadi minumnya pake tutup botol. Rasanya kayak orang cacat. Orang cacat yang dicintai apa adanya sama pasangannya. Eaaak.

Setelah makan dan minum, sakit di perutnya berkurang. Aku ngeliat mata sipitnya yang semakin menyipit karena mengantuk. Ada rasa bersalah karena dia ngejagain aku jadi susah tidur kayak gitu.

Jam 3, dia akhirnya mutusin buat tidur di bawah, seperti yang aku suruh-suruh daritadi. Dia biarkan tangannya menggantung ke atas, menggengam tangan kananku, lalu beberapa menit kemudian, tangan itu jatoh, pertanda pemiliknya sudah terlelap. Aku pun tertidur lelap habis itu, dengan senyum kijil yang kembali mengembang. Aku gak nyesal diopname. HUAHAHAHAHA. Oke, kalimat sebelum tawa membahana itu rada alay. 

Walaupun beda jauh sama apa yang dilakuin tunangannya Rina, tapi aku ngerasa Zai sudah perhatian di malam itu. Perhatian dengan caranya sendiri. Cara yang menurut orang lain, orang yang lagi baca postingan ini, itu sangat biasa gak ada istimewanya, bahkan aneh. 

Tapi entahlah, cara dia ngejagain aku malam itu yang bikin aku senyum di malam kami terakhir ketemu. Bikin aku gak nangis tanjal lagi. Bikin aku ngerasa, aku sakit kemaren itu ada hikmahnya. Aku bisa ngeliat dia ada di sisiku, sayang sama aku bukan di saat senang-senang aja, tapi juga di saat aku sedih, aku sakit. Aku bisa tau, walaupun dia cuek, dia sayang sama aku.

Setiap aku ingat kejadian itu, entahlah, aku gak takut sama LDR lagi. Lagian, kenapa takut sama LDR? LDR gak kayak hantu tanpa kepala di film Sleepy Hollow kok. LDR cuma sebuah nama hubungan. Hoek. songong banget. 

Ah Nanda, sialan, kamu benar.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com