Selasa, 25 Oktober 2011

Buku PKN Kelas 2 SD

"Ketika lo mulai punya banyak musuh & terjerumus hal negatif, baca lagi buku PPKn lo waktu SD. disitu banyak arti kehidupan"

Melihat tweet-an dari @premangank itu, jiwa kepenulisanku langsung bangkit. Aku pun langsung mencari-cari buku PKN ku waktu SD, tepatnya kelas 2 SD. Membongkar kardus kardus lusuh gudang belakang rumah. Di tiap lembarnya aku menemukan bab mengenal kegiatan musyawarah, hak dan kewajiban, menghormati guru dan teman dan di sekolah, kejujuran dan kedisplinan. Benar kata om geng, aku menemukan arti kehidupan disini. Sontak, aku teringat Dea.


Aku sama Dea lagi ada masalah. Bahasa SD nya, lagi-musuhan. Bahasa SMP nya, lagi-kada-beteguran. Bahasa SMK nya, lagi-bediaman. Sebenarnya sudah berulang kali aku kayak gini sama Dea, tapi.... tapi untuk kali ini, ngena banget. Random abis.

Awalnya dari jalan santai, yang rutin dilaksanakan warga SMK Negeri 1 Samarinda setiap hari Jumat. AKu dipusingkan dengan hapalan surah Al- Baqarah dari Bu Camelia. Sambil berjalan menyusuri jalanan, aku komat-kamit merapalkan surah yang panjangnya sampai 3 juz itu. Alhamdulillah yah aku disuruhngapal yang ayat 177 aja. Tapi.. alamak, memakan satu lembar kertas, sama artinya pula. Dea cs gangguin anak kelas X, sebut saja ia Paijo. Sebut-saja-ia-Paijo itu anak kelas X entah-jurusan-apa-aku-pura-pura-ga-tau yang disukai sama Reni karena otak cemerlangnya.  Aku pun ikut menganggu anak itu, buat seru-seruan. Eh ternyata dia malah menjauh (yaiyalaaaahhh). Ilfeel sama kami. Aku pun kembali ke rutinitasku semula. 

Selang beberapa menit kemudian, karena aku  semakin pusing dengan hapalanku yang dari tadi ogah nemplok di kepala, sontak aku menegur Dina, Dea, Chintya, dan Eka yang lagi tertawa ngakak. Aku kira mereka masih godain sebut-saja-ia-paijo. Ternyata enggak! Dea pun marah, dan gak mau menegurku lagi sampai detik ini.

Ku tanya sama teman-teman semua.Jeng jeng. Tetapi mereka bilang tidak tau. Sayang... mungkin diriku sudah tertipu.. na na na na. Eh gak ding, ehem hampir sama kayak lirik lagu Ayu Ting-Ting di atas. Aku tanya sama teman-teman semua, mereka cuma bilang sabar Chaaaa. Dina bilang kalau Dea marah banget sama aku. Karena ucapanku yang "malu aku eh temanan sama Dea nih, hahahaha", yang kuucapkan semata-mata hanya bercanda.

Tapi sayangnya, Dea sudah keburu merumuskan ucapanku itu sebagai ucapan SERIUS.

Masalah ini kecil, tapi besar dampaknya. Aku ngaku aku salah, aku gak bisa menertibkan mulutku sendiri. Tapi sumpah, itu cuma bercanda. Coba bayangkan aja, sekesal-kesalnya kita sama orang, apa kita berani mengungkapkannya langsung di hadapannya? Apalagi kalau orang itu sahabat kita. Minimal ya ngomongin di belakang. Kebiasaan yang sebenarnya buruk.

Aku mencoba untuk minta maaf. Tapi mukanya itu lohhh..... sukses membuatku mundur. Bener kata Chintya, mukanya Dea sinis. Aku menyadarinya tadi pagi, saat aku  baru datang, pas Dea ngeliat aku, mukanya langsung sinis, trus balik badan. Padahal awalnya ketawa-ketiwi.
Aku yang melankolis a.k.a cengeng ini, langsung berurai air mata (oke, ini cukup lebay). Dia gak mau liat aku, dia benci kehadiranku. Dia nutup pintu pembatas antara kelas XI AP 1 dan XI AP 2 dengan keras begitu ngeliat ada aku. Sampai-sampai sapu yang disandarkan di pintu, jatuh mengenai tubuhku ini. Gak sakit sih, tapi nyesek di dada.

Seberapa besar salahku ke dia? Bukan berarti aku mencantumkan namaku sebagai korban dengan pertanyaan itu. Aku tersangka. Jika tersangka harus dihukum, aku gak cukup kuat untuk menghadapi hukuman ini. Permusuhan ini adalah hukuman. Mungkin aku harus mengajukan banding. Memilih hukuman mati aja.

Sampai sekarang, aku belum bisa menakar seberapa berat dosaku (oke, ini juga lebay) ke dia. Aku jadi ingat Nina. Dulu, di November 2010, aku musuhan sama Nina gara-gara nasi kuning. Aku meminta maaf sama dia, mulai dari memeluknya di depan kelas, ngajak ngobrol pas jalan santai. Tapi tetap aja mendapat reaksi yang sama. Gak pernah diheranin. Ya, sekarang udah baikan sih, dengan melakukan hal-hal memalukan. Itu yang membuatku urung untuk minta maaf sama Dea. Apalagi sifat Dea yang keras begitu. Aku punya bakat dimusuhin orang kali ya.

Mungkin aku harus rajin-rajin membaca buku PKN kelas 2 SD lagi. Mendalaminya, memahaminya, menerapkannya. Agar aku gak cengeng menyesali keadaan kayak gini. Agar aku bisa dewasa, sedewasa anak kelas 2 SD yang tertawa ceria di segala kondisi.

Tapi, sejujurnya, aku pengen baca buku PKN kelas 2 SD sama-sama Dea.


:'''''''
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 21 Oktober 2011

Gloomy Friday

Waaaaaaaah rasanya sudah lama sekali aku gak nulis di laman blogku. Tugas banyak banget, tiap hari gak pernah absen mengisi buku agenda tugasku. Ada aja tugas dan remidi yang mengusik kehidupan normalku sebagai remaja putri single happy (ngakunyaaa). Maka dari itu aku gak ada posting akhir-akhir ini. Tapi kali ini, aku menyempatkan diri untuk nge-posting, daripada kosong melompong. Awalnya sih sekedar nengok doang, ini blog ada yang baca atau gak selain aku, ada yang komen nggak, ada yang komen atau nggak, dan ada ada ada ada lainnya. Positif, jawabannya malah NGGAK ADA. Teman-teman perlu paksaan dari ku kalau disuruh buka laman blogku dan membacanya. Maklum, blogger pemula. Hiks.

Pagi-pagi aku udah dibikin cemberut dengan hapalan Surah Al Baqarah  yang dari dua hari kemarin gak bisa kuhapal. Al Baqarah boo, ayat 177-178, beserta artinya pula. Kalau gak hapal, gak boleh ikut ulangan tengah semester. Kejam? Oh, tentu! Siapa sih gurunya? Bu Camelia. Guru yang konon katanya punya sixsence itu gak tendeng aling-aling dalam memberikan tugas kepada murid-muridnya. Aku dan teman-teman disuruh cari video tentang perkembangan islam, trus dikopikan di CD-RW. Aduh mana aku ngerti cara burning CD itu kayak apa :( Aku pun ngerjainnya di rumah Reni. Berbekal laptop centilku ini dan motor tebengan dari Kartini, akudan Reni sukses nyampe dengan selamat. Berpeluh keringat, dehidrasi, capek, pegel, semua demi ngerjain tugas yang menurut kami (dan kayaknya semua murid deh) ga jelas itu.
Beneran, capek banget. :( Bu Camelllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

Parahnya di Jumat ini, aku sukses membuat masalah dengan Dea. Meski sudah biasa marahan sama dia, tapi kali ini aku ngerasa bersalahhhhh banget. Mau nyertiain rasanya males..

Mana aku dimarah-marahin Bu Camel, Bu Ida, Ka Ian. Arrrgggghhhh

Kalau Billie Holiday nyanyiin lagu judulnya Gloomy Sunday, aku ga mau kalah. Dengan senang hati aku akan menyanyikan lagu berjudul Gloomy Friday. Spesial di hari ini tanpa berhenti.

Udah ah, segitu aja. Gak nahan pasang tampang ngenes nulis postingannya nih
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 13 Oktober 2011

Kamis Manis

Rata-rata timeline di twitter isinya pada merutuki hari kamis. Kamis galau lah, kamis ngenes lah, kamis tragis lah, kamis mistis lah. Kok kayaknya musuh gitu ya sama hari kamis. Tapi itu gak berlaku buatku. Kamis ini, kamis yang manis nan eksotis.

Statement dari aku itu dilandasi dengan dua kejadian yang menimpaku dan Reni tadi siang, yaitu sebagai berikut :

Pertama,
Ulangan matematika tadi benar-benar gak seperti yang kuduga. 
Benar-benar gak seperti yang aku duga loh. Awalnya aku duga kalau aku bakal keteteran seperti biasa. Aku kebingungan mencari jawaban, corat-coret ga jelas di buku catatan matematika, noleh sana-sini, gigit bibir gemeretakin gigi, selonjoran kepala di meja, dsb. 

Tapi ternyata, tapi ternyata.....
Tapi...
Ternyata...
TAPI TERNYATA...... 

Reni dan Kartini bantuin aku. Mereka dengan sigapnya (bareng Ariesta juga sih) ngerjakan soal itu sebelum ulangan dimulai. Bu Yayuk memang baik. Seminggu sebelum ulangan, Bu Yayuk sudah mewanti-wanti kami agar pelajari soal 27 dan 28 buku paket halaman entah halaman yang keberapa aku juga ga tau. Reni dkk (gak termasuk aku) mempelajari kedua soal itu. Cuma soal nomor 27 aja yang bisa terpecahkan. Kami berharap, semoga ulangan soal yang dipake buat ulangan yaitu soal nomor 27 itu.

Doa kami terkabul. Kartini, Reni, dan Ariesta pun mengerjakan soal dengan santai plus lihai. Sedangkan aku? Soal nomor 2 aja yang bisa. Tentang trigonometri. Kalau itu otakku masih bisa jangkau, kalau yang tentang persamaan? Huaa mau gantung diri aja.

Yang bisa ku lakukan di tempat duduk hanya grasak grusuk. Tiba-tiba, Kartini ngasih aku buku coretan, yang isinya tentang jawaban soal nomor 1, soal yang mirip sama soal nomor 27. Sumrigah. Aku langsung cepat-cepat nyalin. Aku gak peduli tatapan Puji dll yang mengharap meminta jawaban. 

Reni, Ariesta, dan Kartini ngumpul kertas ulangan secara bersamaan. Aku masih sibuk ngarsir gambar sana sini. Nia dkk masih menetap di tempat duduk mereka. Wah, tumben. Biasanya mereka cepet banget kalau ngerjain soal matematika. Mereka kan ga mau pamor mereka sebagai anak pintar menurun. Kalau sampai ada yang merebut pamor mereka, bisa-bisa disirikin bareng. 

Kelar semua prosesi ngerjain soal ulangan matematika, aku pun segera keluar menyusul mereka.

"Eh tadi lihat gak ibunya senyum-senyum pas ngeliat kita ngumpulkan tadi?"

Ariesta membuka obrolan.

"Iya, Ibunya senyum-senyum. Ibunya tau aja itu. KIta kan tadi nanya sebelum ibunya masuk kelas. Mikir ibunya tuh belajar anak ini, hahaha"

Ah, Reni.. Reni.. Kamu sama Tata sama Kartini aja yang belajar, lah aku ga belajar, malah belajar trigonometri. Padahal trigonometri tuh gampang banget, sambil merem gin bisa. Batinku sambil mendengarkan percakapan mereka.

"Cha, aku senang banget loh. Akhirnya kita bisa mengungguli Nia.. Doa orang yang teraniaya memang cepat dikabulkan ya hahaha "

"Hehe, iya Ren.. Itu kamu, bukan aku. Kalau ga ada kamu ni mana bisa aku. Malu aku eh ga ada belajar sama sekali yang persamaan itu. Makasih yah Ren..."

Kamis ini, jadi kamis yang manis buat Reni.

Kedua,
Ulangan bahasa inggrisku dapat nilai tinggi. 
Dari 50 soal pilihan ganda, aku betul 47. Aku pun sendiri rada gak percaya kalau itu nilaiku. Pertamanya sih 88, tapi karena kesalahan teknis dari bapaknya, nilaiku jadi 94. Kesalahan teknis itu pun aku ketahui secara gak sengaja dari Nia. Nilai Nia meroket dari entah berapa jadi 92. Aku mencium aroma yang gak beres. Setelah ku teliti, ternyata tiga buah soal jawaban yang sudah ku jawab disalahkan bapaknya. Padahal betul jawabannya. Sama kayak yang Nia alamin. Aku bersama Reni lalu klarifikasi nilai ke bapaknya, Pak Sudiyo. Pak Sudiyo, atau yang lebih akrabnya dipanggil Pak Dio, dengan baik hatinya meladeni kami. Aku ga mau kayak Nia tadi, yang langsung ganti nilainya gitu aja. Aku minta Bapaknya sendiri yang ganti, trus Bapaknya juga yang nuliskan di kertasku. Biar kesannya lebih akurat kalau itu nilaiku. Aku takut dianggap sok-sok mau nilai tinggi. Bapaknya ni sumpah baik betul. Kadang aku tenangis kalau teingat Pak Dio.. Ntar aku ceritain ya di postingan berikutnyaaa.

Sama kayak Reni, impianku ikut terkabul. Aku sukses mengungguli Nia dalam pelajaran bahasa inggris. Bangganya sampai disitu aja. Sebenarannya, aku rada ga enak klarifikasi nilai sama Pak Dio. Kasihan Pak Dio, harus nge-tip-ex nilai-nilai yang udah terlanjur tercantum di buku nilai. Tapi kalau ingat Nia yang udah klarifikasi nilai, aku ga mau kalah. Lagian, jawabanku bener kok. Aku gak mengada-ngadakan nilai ini.

Aku dan Reni begitu bangga bia mengungguli Nia. Rasa kesal kami ke Nia rasanya udah terlampiaskan melalui dua keajaiban tadi. Rasain tuh Nia, emang dia pikir dia aja yang BISA. You can do it, but I can do it better :p

Kamis ini manis. Tapi ini baru sebagian kecil.Ini baru langkah awal kami untuk menjatuhkan Nia *astagfirullah
Kami akan belajar lebih rajin lagi. Lebih dari ini. 

Agar tawa Nia yang terdengar meremehkan kami itu tak akan menggelegar lagi.
Yeaaah cemunguuudh
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 11 Oktober 2011

Bu Neni Marah... Hapaaahh?? Aarrggghhh!!!

Ketika Bu Neni marah
Wajah mulai memerah
Soal ulangan pun bertambah
Air hujan begitu deras tercurah
Petir menyambar ke segala arah

Kami pun semakin gerah
Karena nilai kami akan parah
Padahal tidak sepenuhnya kami yang bersalah
Kami hanya bisa pasrah

Sepenggal puisi di atas kami (aku dan Reni-red) tulis untuk mengenang kejadian tadi siang, yang menimpa kelas XI AP 2.

Langsung aja ya..
Jadi ceritanya gini, siang tadi ulangan kearsipan dilaksanakan. Soal-nya ada 10, di-diktekan oleh (siapa lagi kalau bukan) Bu Neni. Seperti biasa, kami menyontek dengan leluasa. Bu Neni memang gak pernah menegur kalau kami nyontek pas ulangan. Kami buka buku kah, diskusi jawaban kah, nerpe kah, ngintip jawaban punya teman kah, fine-fine aja. Selama itu gak begitu menimbulkan keributan, Bu Neni gak menyadari gerak-gerik licik kami dalam mendapatkan nilai bagus. Aku, karena terseret oleh keadaan, jadi ikut-ikutan nyontek-nerpe-diskusisoal-ngintipjawabanteman juga. Ini keadaan yang memaksaku lohhh, bukan kemauanku sendiri #ngeles. Aku melakukan ini semata-mata menghindari remidial. Kalau nilainya di atas rata-rata, alhamdulillah yaaa. Lagian, Ibu nya nyuruh jawabannya harus sama-sama persis dengan di buku, kalau gak persis ga dapat nilai. Meskipun sebenarnya intinya sama aja, tetap aja nilainya seret. Emangnya otak kami ni mesin foto copy kah ya, bisa menggandakan dokumen.

Mungkin sebenarnya Bu Neni tau kalau kita kayak gitu, tapi beliau membiarkan kami gitu aja. Diam. Entah karena malas buat marah-marah, atau bisa juga karena itu buat jebakan aja, jadi Bu Neni bisa menaik-turunkan nilai kami sesuka hati tanpa kami sadari.

Tapi, siang tadi, Bu Neni sudah tidak tahan lagi untuk berakting seperti biasanya.

Anak-anak pada ribut. Suara buku dibuka secara tergesa-gesa nan kasar terdengar jelas. Ditambah dengan posisi duduk yang gak wajar. Aku menghadap belakang, tepat banget ngadap ke Reni. Yang lain pada berbagi jawaban lewat bbm, diskusi, kerja sama. Itu kan dilarang keras di ulangan. Tapi kami lakukan dengan antengnya. Mumpung Bu Neni gak nyadar. Fu fu fu fu #ketawalicik

Aku mewakili barisan sebelah kiri, dapat soal B. Sedangkan Ariesta dan bubuhan barisan sebelah kanannya mendapat soal A. Otomatis, sebangku gak bisa nyontek. Tapi.... bisa saling membantu. Ketika Bu Neni membacakan soal A, aku dan Reni mencari-cari jawabannya di buku catatan. Kalau sudah giliran soal B dibacakan,Ariesta dan Kartini yang nyari-nyari jawabannya.
Janggal, soal A pada susah semua. Ga ada di buku catatan. Sudah dua soal yang kayak gitu. Soal B sih jawabannya semuanya ada di buku catatan, jadi kami santai-santai aja. Terlihat raut bingung dari bubuhan soal A.

"Bu.. ini belum dijelaskan Bu..."
suara Nuri memecah keheningan.

"Loh.. kan sudah Ibu jelaskan waktu itu.. kalian aja yang gak nyatat.."

Sekali lagi aku dan Reni mengecek buku catatan. Nihil.

"Ibu, ga ada Bu.."

"Iya Bu, kenapa soal-soal A susah-susah semua, Buuuuuu"
Ikhsan ikut bersuara.

Anak-anak soal A rame merutuki keadaan (merutuki Bu Neni lebih tepatnya). Hujan turun dengan derasnya, semakin menambah riuh suasana. Beneran deras, sampe-sampe suara Bu Neni mendiktekan soal jadi tenggelam, berganti dengan suara protes plus suara hujan plus suara petir. Semarak.

" Yasudah, ganti soal. Jadi essai!!!!"


"Yaaahh Ibu...  enakkan pilihan ganda, Bu.."

"Ayok essai soalnya pokoknya.. Katanya soal pilihan ganda itu susah.. Essaai!!!!!!"

"Ibu tanggung Bu, udah nomor 9 ini, tinggal satu soal lagi.."

"Ibu jangan Bu.. lanjutkan aja..."

"Essai pokoknya. Ayok soal nomor 1, sebutkan bla bla bla bla..."

Glek. Mati kutu. 
Muka Bu Neni, asli jutek abis. Campur nahan air mata. Gak biasanya loh!
Kami pun tanpa ba-bi-bu-be-bo lagi langsung menulis soal-soal yang didiktekan beliau. Suara Bu Neni meninggi. Mungkin supaya kedengaran di tengah hujan deras siang itu, mungkin untuk menunjukkan kalau beliau benar-benar marah . Petir menyambar sana sini. Suara Bu Neni makin nyaring, bikin agak takut eh. LOE. GUE. END

Mana soal-soalnya susah lagi. Kalau murni dari hasil mikir sih susah, tapi kalau nyontek dari catatan ya gampang banget. Dan jawabannya itu loh, panjang-panjang! Waktu kepepet abis, sekitar 15 menit. Bu Neni sangkal, kami galau~~

Kami pun mengumpulkan soal ulangan itu. Tetap, hasil dari ngeliat catatan. Beberapa kali kami kena tegur, tapi tetap aja kami buka tuh catatan. Biarlah, kali ini nilai kami dijadikan mainan.

Meski tanpa gertakan, tanpa omelan panjang, tanpa amarah besar, Bu Neni sudah menunjukkan kalau beliau benar-benar marah sama kami. Ya wajar aja sih marah, wong sebenarnya materi itu udah pernah dijelasin sama Ibu-nya, cuma ya ga ada disuruh nyatat. Naluri sendiri aja kalau mau nyatat materi itu. Seandainya aja salah satu dari kami itu (aku ga mau menyebutkannya-red) gak protes, pasti kami ga bakal dapat soal essai yang panjang-panjang itu. Pasti, Bu Neni gak akan sengambek itu.

Ah, entah harus minta maaf atau cuma diam. Aku (lebih baik) ga tau.


Sekian.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 10 Oktober 2011

Ibu Mie juga Manusia

Anak SMA/SMK dipikir-pikir rugi kalau sekolah tinggi-tinggi. Mainan aja kerjaan tiap hari. Si ilmu ga tau tuh nyangkutnya dimana. Berangkat sekolah pagi-pagi cuma buat nungguin bel istirahat sama bel pulangan aja. Eh, bukan bel sih, mungkin lebih tepatnya disebut sebagai ultimatum-dari-pasangan-cewe-cowo-bandara. Habisnya, bel nya di sekolahku tuh bunyinya gini :

" Teng-teng teng. Saatnya istirahat pertama dimulai."

Atau yang paling nge-hitsnya sih yang ini... :

"Saatnya jam kedua dimulai. I't's time to begin the second lesson". 

Si cowo yang ngebacakan bahasa indonesia, si cewe yang baca bagian bahasa inggrisnya. Suara mereka mirip sama suara-suara orang yang ngumumin jadwal keberangkatan di bandara. Itu kata Dea. Tapi menurutku sih, suara-suara itu lebih mirip pengumuman yang menggema di sekitaran mall, khususnya di lantai 2 lembuswana. Sering kan dengar "Kepada Mbak Wiji dari bagian Sorella, agar menemui manager kepegawaian di ruangannya sekarang juga. Terimakasih.".
Gak pernah dengar? Berarti kuping kalian perlu di-mall-in.

Ngomong-ngomong soal bel, hal pertama yang telintas di benakku di setiap bel istirahat berdentang adalah: CEPAT KE KANTIN, CHA!!! NANTI KALAU KEHABISAN MIE, NANGIS ILER LOE!!!

Aku, yang seolah-olah sedang kerasukan setan mie, langsung menarik Reni dan Kartini untuk ambil langkah seribu menuju kantin.
Sesampainya di kantin, suasana gegap gempita. Penuh. Pengap. Semua warga SMK Negeri 1 tampaknya tumpah ruah disini.  Mau jalan aja jadi serba salah. Pada nabrak ini nabrak itu. Bau keringat bercampur bau parfum murahan. Dimana kami sekarang? Aku jadi gak bisa ngebedain antara kantin dengan pasar pagi.

Dari mie pangsit, bakso romo, roti isi, nasi campur, nasi pecel, dll yng dijajakan di kantin, mie instan adalah makanan yang jadi most wanted anak-anak SMK 1 yang dilanda kelaparan. Karena mie instan ibu kantin itu harganya murah, praktis, terkenal dengan sambelnya yang mampus banget di lidah. Jadi, gak heran kalau stand mie instan begitu sesak oleh pengunjung. 

Aku sukses menerobos kerumunan orang-orang yang tengah mengantri. Di kiri kananku terdengar beberapa kicauan. 

"Bu.. indomie satu, Bu.. gak pake lama.."

"Bu, saya mie sedap bu dua bungkus dijadiin satu."

"Telornya setengah matang ya, Bu. Yang cepet Bu"

"Saya dadar Bu."

"Bu cepetin Bu saya lapar...!"

"Aduh lamanya ai, sempat mati aku disini!!"

"Panasnya heh!! Ibunya ni lelet betul"

"Bu saya Bu, daritadi berdiri sendiri Bu. Bu saya nah Bu!!"

Bukannya merdu, kicauan-kicauan itu terdengar memekakkan telingaku. Mereka gak sabar menunggu giliran. Nyerobot gitu aja. Sudah nyerobot, ngeluh lagi. Tau ai panas, tau ai lama!!!! Tapi ya ga usah diungkapin langsung ke depan ibu mie nya dong. Ibu mie pasti sakit hati kan kalau dengarnya. Lagian, ibu mie nya itu kan cuma dua orang, melayani sekian banyaknya yang pesan mie. Tangan mereka masing-masing cuma dua. Gimana mau cepet? Coba belajar ngerti pang.

Lebih ngeselinnya lagi, mereka suka seenaknya kalau mau ngambil sambel. Sambel nya kan ditaroh di mangkok kecil. Siapa cepat, dia dapat. Nuangin ke mie nya sendiri itu gak nanggung-nanggung, semangkok itu bisa habis cuma dia sendirian aja. Padahal sambelnya itu pedes banget loh. Gak mikir kah bukan cuma dia aja yang butuh sambel? Enak banget ya, dihabisin sendirian, trus pasang muka-muka ga tau-tau lagi. Apalagi kalau mereka itu kakak kelas, waaahhh makin semena-mena mereka. Kami, yang gak kebagian sambel, cuma bisa merengut. Meratapi  mie kami yang polos tanpa sensasi 'haaaaaaaahh'

Di SMK Negeri 1 ada peraturan "Kantin tertutup bagi anak-anak SMK 1  pada jam pelajaran atau sebelum jam istirahat, apapun alasannya. Entah itu jam kosong, apalagi membolos. Terkecuali bagi anak-anak yang memakai baju olahraga" 

Jadi, waktu itu kan lagi jam kosong di kelasku. Waktu itu pelajaran olahraga, tapi gurunya lagi ga ada. Kami pun menggunakan kesempatan itu untuk pergi ke kantin. Sesampainya di kantin, kami malah diusir. Katanya gak boleh kalau selain yang pake baju olahraga. Trus aku bilang padahal ini lagi jam olahraga, tapi bapaknya ga ada, jadi kami pake baju batik deh. Ibu kantin tetap mengusir kami. Untungnya aku panjang akal, aku pun langsung ganti baju. Kebetulan hari itu aku bawa baju olahraga.Daripada belinya pas istirahat, pasti penuh.  Reni, Kartini. dan Ariesta menertawakan kenekatanku. Setelah puas tertawa, mereka lantas nitip minta belikan mie ke aku. Dasar grrrrrrrrr

Melihat fenomena itu, jiwa kewartawananku bangkit. Di sebuah kesempatan, aku berhasil mewawancarai salah satu dari dua orang Ibu Mie. Entah siapa namanya. Yang jelas, ibunya berambut pendek, senyumnya manis, ramah lagi. Eksklusif langsung dari narasumbernya.

"Bu, kenapa sih kami tadi dilarang beli? Kan Pak Asma'u nya lagi  ga ada, Bu. Makanya kami bebatikkan.."

Si Ibu, menjawab dengan bijak sambil menuang bumbu-bumbu mie ke mangkok

"Memang gak boleh.. Dimarahi ini semuanya kalau ketahuan ngejualin anak-anak. Belum jam nya. Banyak anak yang bolos ke kantin pas lagi belajaran. Makanya Ibu gak berani. Itu tuh diawasin kami semua. Oh iya, kamu tadi yang pake batik kan? Ganti baju sampe.."

Aku, yang cenderung pemalu, cuma bisa tersenyum. Lalu melanjutkan pertanyaan.

"Hihihi iya Bu, Oh iya Bu, Ibu sudah pernah kena marah kah Bu?"

"Gak dimarahin, cuma ditegur gitu aja. Diperingatkan dengan halus lah istilahnya. Tapi ya tetap aja kami semua ini takut. Bisa-bisa gak dibolehin jualan lagi disini.."

"Oh.. Iya iya, Bu.. Trus, apa suka-dukanya jualan di sini, Bu?"

"Suka nya ya banyak, dukanya banyak lagi. Ibu tu kadang suka kerepotan sendiri kalau sudah jam istirahat tuh. Penuh. Ibu ni bingung kadang, mana-mana yang pesan. Telor nya apa aja, dibungkus apa nggak.. Ibu nda tau lagi sudah siapa-siapa aja yang sudah bayar,siapa yang asal ambil. Uang yang Ibu terima kadang kurang, kadang kelebihan.. Ada yang maunya serba cepet, tapi ga mau buka bumbunya sendiri. Mau nya dibukakan... Apa nda ngerti ya kalau tangan ibu ini cuma dua.. sambel tuh kadang tumpah sana sini. Mubazir.., padahal masih banyak yg gak kebagian sambel."

Miris dengarnya.

"Maaf loh ya Bu, kadang saya suka kayak gitu Bu, hehe... Oh iya Bu, biasanya dalam sehari habis berapa bungkus mie?"

"Ya kira-kira dua dus itu. Tapi gak sebanding dengan bumbu-bumbunya. Bumbu-bumbunya suka nyisa banyak. Apalagi mie sedaap."

Satu pertanyaan lagi, namun sayangnya mie ku sudah selesai dibuat. Reni, Ariesta dan Kartini sudah merengek-rengek dari tadi. Atas dasar kasihan (dan karena kehabisan stok pertanyaan lagi), ku sudahi wawancaraku dengan Ibu Mie.

Dari sini aku mengambil kesimpulan, Ibu Mie perlu dihargai, perlu dimengerti. Mentang-mentang ada istilah 'pembeli adalah raja', kita jadi semena-mena sama si penjual. Tanpa si penjual, ga akan ada pembeli. Ga akan ada kita. Gak akan ada mie instan sederhana yang enak itu. Mau bikin sendiri sebenarnya bisa, tapi ga bisa ngalahin cita rasa yang dihasilkan Ibu Mie.

Satu hal yang perlu diingat, Ibu Mie juga manusia.

Sekian.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 09 Oktober 2011

Pacaran Juga Butuh Modal

Aku rada miris ngeliat pacaran muda mudi jaman sekarang (emangnya aku udah tua?). Khususnya bagi anak-anak belasan tahun (aku gin juga belasan tahun) yang masih berstatus pelajar.
Coba lihat mereka, kalau mau ketemu musti ngarang-ngarang alasan dulu kalau mau ketemuan sama sang pacar. Ma, ada kerja kelompok di rumah anu, Pa, mau jalan dulu mau cari buku itu sama teman, cuma teman aja kok suerrrrr. Kalau lagi kangen berat, tapi gak berani ke rumah tuh cewe maupun tuh cowok, ketemuannya di simpangan, depan gang, depan gapura kompleks. Kalau dipaksain harus ngapel ke rumah, si doi harus mati-matian nyamar sebagai tukang ojek lah, teman sekelas yang ada keperluan minjam peer lah, Sudah dibolehkan jalan, bermalam minggu ria, jalannya malah ke warnet, pinggir jalan, bahkan ke rumah temen. Gak ada agenda candle light dinner, nonton film romantis sampai yang bertema slasher di bioskop, atau hanya sekedar ke mall mencicipi pemandangan baju-baju terbaru yang terpampang di etalase.  Miris.

*gak, aku gak envy kok sama orang-orang yang lagi pacaran.. postingan ini wujud keprihatinanku aja. aku gak envy deh pleaseee *

Meski gak 100% dari anak-belasan-tahun-yang-masih-berstatus-pelajar tipikal berpacarannya kayak yang udah kusebutkan di atas,  namun gak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar anak-belasan-tahun-yang-masih-berstatus-pelajar mengalami siklus pacaran seperti itu. Kebanyakan anak SMP. Alasannya sungguh klise: karena gak dibolehin pacar-pacaran. masih kecil! 

Contoh kecilnya aja, adekku. Nanda Anggraini namanya.  Dia menjalin hubungan dengan lelaki berwajah korea agak ngondek bernama Chandra Adi Siarra. Adik kelasku waktu aku SMP.
Aku gatau persis sudah berapa lama mereka berhubungan lebih dari sekedar teman. Yang jelas, inbox di hape Nanda selalu dipenuhi dengan sms-sms mesra dari Chandra sejak tiga bulan lalu. Itu gak bisa dijadiin tolok ukur usia hubungan mereka. Siapa tau mereka berhubungan kurang dari tiga bulan itu, atau mungkin lebih dari tiga bulan itu. Kan mereka sekelas waktu kelas IX. Awalnya aku acc aja dengan hal ini. Tapi lama kelamaan.. kejanggalan mulai terlihat.

Nanda mulai belajar ilmu membohongi orang tua. Dia alasan mau ngerjain tugas, eh sekalinya dia jalan-jalan keliling cendana sama Chandra. Alasan mau ke pasar malam, malah mojok di warnet bareng Chandra. Minta pulsa sama Bapak, trus pulsanya dipake buat nelfon Chandra. Lagi-lagi Chandra.
Aku agak sangkal ngeliat polah tingkah Nanda. Dia jadi binal sekarang. Rela bohong demi ketemu sang pacar. bodohnya, bohongnya itu loh mudah banget dikuak. Gak pinter banget ngebohongnya. Masa mau belajar kelompok pas jam setengah 9 malam. Kan udah lumayan larut itu malamnya (bukan gulanya). Malam minggu lagi. Pakaiannya necis pula. Ketahuan banget kalau lagi ada janjian kencan. Oh tidak bisaaaaa.. kakakmu ini tidak bisa kamu tipu sembrakangan, Nanda!

Aku cuma bisa mesem-mesem. Kalau matanya mendelik-delik meminta pertolongan, ya aku langsung turun tangan. Entah itu dengan menyambung-nyambungkan cerita karangan Nanda, atau dengan mengalihkan perhatian. Apapun caranya, yang penting Nanda bisa kabur melancarkan aksinya. Kasian Chandra nya, plonga-plongo depan rumah. Aku kan kakak yang baik, jadi  aku harus rela berkorban bagi remaja kasmaran seperti adekku ini. Siapa tau nanti aku bisa pacaran backstreet (berhubung sekarang aku dilarang pacaran) trus Nanda ngebantuin aku nyusun alibi. Hooo ada maunya ternyata. Plaakkk

Beberapa hari kemudian...

"Kak, makasih yaaa yang waktu malam itu. Saya bisa jalan sama Chandra. Hihihi" 

Aku mengangguk sekenanya,

"Iya Sal, (aku dan orang rumah memanggilnya dengan sebutan Isal, karena dulu rambutnya megar mekar nan panjang serta kusut masai, mengingatkanku pada tante pulau seberang yang bernama Isal) Untung Mama belum pulang waktu itu.. Adanya cuma Bapak. Kalau sama Mama kamu minta izinnya, pasti gak dibolehin. "

"Hehehe, iya kak.. Untung aja ya.."

"Oh iya, kalian jalan kemana waktu itu? Cie cieeee"

"Ke warnet, Kak. Dia bikin akun Heello"

"Oh.. trus? trus? Kamu makan dimana?"

Mulai terlihat raut bingung

"Di rumah masing-masing lah.."

"Aduh, bukan itu maksudnya. Itu bego memang penyakit atau kebiasaan sih? Sering banget kambuhnya... Gini loh, kamu sama dia makan di mana? Ya masa' ke warnet doang?"

"Memang ke warnet aja, Kak. Emang kenapa?"
Gedubraaaakkk. Kasiannya adekku. Dibawa lari semalaman, di malam minggu, dan ternyata cuma ke warnet? Warnet? Warnet?

"Kok rada gak so sweet gitu yaaa... Dapat apa di warnet? Kalaupun kamu sama dia mau online, kan bisa di rumah.. Modem ini buat apa coba kalau kamu ujung-ujungnya ke warnet. Makan gitu kek, ya buat isi perut trus buat ngobrol-ngobrol juga. Kan kalian jarang ketemu.."

"Anu ka.. bingung sih mau kemana.. Mau ke rumah Cindy tapi Cindy nya lagi ga ada di rumah, ya jadi ke warnet deh."

Hapaaaaah???


Aku jadi rada prihatin ngeliat nasib Nanda. Bukannya matre ya, tapi etis gak sih kalau kita (seandainya jadi cowo) mengajak jalan pacar kita ke tempat-tempat yang.. ya gitu deh. Dia gak mikir apakah pacarnya itu bisa senang atau enggak?  Minimal, ajak makan gitu. Tinggalin kesan baik buat si cewe. Kalian, jika ku tanya, kalian senang gak sih dibawa jalan ke warnet? Kalian gak malu bermalam mingguan di warnet?  Asal gak macam-macam, malu itu masih sedikit kadarnya. Hhhhhhhh jadi sangkal sama Chandra nah. Grrrrrrrrr

Masih mending warnet, ada juga cowo yang bawa cewenya pacaran di perumahan-perumahan kompleks. Eh kompleks-kompleks perumahan. Eeeehhh ga tau deh. Maklum, tinggal di rumah susun. Mereka berpacar-pacaran di semak-semak. di teras rumah yang belum ada penghuninya (loh kok mulai ngerasa aura horror yaa). Makin gelap, makin lancar mereka.  Ada juga yang pacaran di danau, yang biasanya ramai oleh para pemancing pagi harinya. Jika malam menjelang, apalagi malam minggu, satpol PP betebaran. menjaring anak-anak remaja yang ketahuan mesum. Trus ditindak lanjuti di kantor polisi. Itu parah, ini lebih parah lagi. Sebuah masjid terbesar di Samarinda, bahkan di Asia (mungkin), digunakan jadi tempat pacaran sama anak-anak remaja, khusunya anak alay bermotor yang menimbulan suara mirip ketinting, dan ber-KYT merah. Ini patut digarisbawahi. Bukan aja polah tingkah mereka, tempat suci  kayak gtu pun ikut mereka nodai. Miris. Aku masih bersyukur Nanda masih di ambang batas.

Gak lazim. Kodrat sebagai laki-laki dan sebagai perempuan diputar balikkan. Dimana disini malah cewe yang manjain cowo, yang saban hari nelfonin cowo. Si cewe pura-pura gak peduli dengan tagihan pulsa yang membengkak karena keranjingan nelfon. Kalau cowonya pernah nelfon sih ya gpp, tapi kalau si cewenya yang nelfonnnnnnnnn terus, si cowo tinggal nunggu hapenya berdering aja tanpa keluar pulsa, keterlaluan kan? Rela jadi ojek pribadi sang cowo, yang siap siaga mengantar-jemput sang cowo belahan hatinya itu kemana saja, bahkan ke Ujung Kulon sekalipun. Dari uang pinjaman sampai uang jajan, sang cewe yang nyediakan buat cowo. Alasan si cowo ogah ngeluarin duit beragam adanya. Bisa update tiap harinya. Tugas sekolah si cowo serasa tugas sekolah cewe. Si cewe melulu yang ngerjain tugas-tugas sekolah si cowo. Sekali dua kali, lama-lama tiap kali. Dengan mengatasnamakan cinta, si cewe melakukan hal itu dengan ikhlas. Tanpa banyak tanya, tanpa banyak protes. Banyak kan yang kayak gitu? Contoh-contohnya bisa kita temui di sekolah-sekolah SMP-SMA/ sederajat terdekat.

Kalau sudah putus, langsung deh memaki-maki. Maunya ai aku buang-buang pulsa buat nelfon dia, mau-maunya ai keluar biaya banyak buat dia, dan mau-maunya lainnya.Menyesal deh.

Setelah melihat fenomena itu, mari kita lihat alasan kenapa cowo mendadak parasit kayak gitu. :
Mereka (terutama cowo, sangat ditekankan sekali buat cowo. sangat!), berbuat seperti itu karena minimnya dana sebagai penunjang proses pacar-berpacaran mereka. Pacaran itu, apalagi yang tahapnya sudah serius-tinggal-tunggu-tanggal-nikah, sama aja dengan ngasih makan anak orang. Ibaratnya, udah ngenafkahin (apaan coba), udah ngebanting tulang buat keperluan pasangan. Kodratnya kan, lelaki yang memberi, perempuan yang menerima. Lelaki mencari, perempuan menunggu. Kalau jadi terbalik posisinya, ya namanya melanggar kodrat dong. Ya aku gak maksain si cowo kalau mau pacaran harus kaya-raya, tapi ya jangan mentang-mentang si cewe anteng-anteng aja digituin, malah dimanfaatin. Dikeruk hartanya, digunakan kepolosannya. Uang jajan mereka aja belum cukup buat ngebelanjain diri sendiri, apalagi buat orang lain. Gitu-gitu beraninya bawa cewenya ke tempat karaoke, nah ujung-ujungnya si cewe juga yang bayarin. Masa' buat pacarnya, si cowo sampe perhitungan sih?
Terus juga, kenapa cowo-cowo suka ngebawa ke tempat-tempat yang gak lazim yang telah kusebutkan di atas? Hmm... mereka ga tau tempat-tempat yang pas buat pacaran. Entah karena kekolotan daya pikir mereka mereka, atau keterbatasan dompet mereka. Jahat banget ya aku kelihatannya mengkritik sampai kayak gitu. Aku sih mandangnya gini, kalau pacaran dibawa ke tempat-tempat seperti itu, gak etis. Bikin malu. Mending pacaran di rumah aja sekalian, enak lagi bisa dikontrol orangtua.

Susah ya? Ga usah pacaran aja kalau gitu. Gitu aja kok repot.

Seperti ketika ingin membuka usaha, pacaran juga butuh modal. Modal kocek lumayan tebal hanya untuk sesekali gitu, dan modal kepekaan untuk melihat sejauh mana telah membahagiakan pacarnya. Om Mario Teguh aja pernah bilang kalau cowo yang bilang kalau cewe matre adalah cewe kere. Waw.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 07 Oktober 2011

17 Tahun

Happy birthday to me
 Happy birthday to me
 Happy birthday happy birthday happy birthday to me….” 

17. Lebih tepatnya, 17 tahun. Usia yang kata orang usia kebebasan. Dimana bisa bebas lepas dari tetek bengek peraturan anak-baru-gede, bebas dari pelototan mama papa karena ketahuan nonton film dewasa , bebas bawa motor sendiri karena udah mengantongi SIM, bebas mengumbar diri mengatakan “aku sudah dewasa , aku bukan anak bau kencur lagi” dengan memamerkan KTP. Bebas, namun rawan. Pintu gerbang menuju segala kemungkinan itu terbuka lebar.
Gak terasa, kini aku sudah berdiri di depan pintu gerbang itu. Pintu gerbang menuju usia 17 tahun. Hmmm.. dilihat dari postur tubuhku yang kutilang (kurus tinggal tulang kata Ariesta) serta betapa baby face-nya diriku, aku masih setengah percaya gak percaya kalau aku sudah 17 tahun. Secepat itu? Perasaan baru kemarin deh ulang tahunku yang ke-16, yang waktu Herman kasih aku kado.. Waktu memang gak bisa diperkirakan yah.




Seneng iya, sedih juga iya.  Orang-orang rumah aja dari kemarin sore sibuk grasak grusuk minta traktiran. Ucapan selamat ulang tahun Rudi yang pertama kali ngucapin, itu pun dia ngucapinnya jam setengah sepuluh malam kemarin. Trus Indra, alumni SMK 1, kakak kelasku yang paling jahil dan keras kepala, ngucapin lewat sms jam setengah satu dini hari. Sejauh  ini ga ada yang ngucapin selamat ulang tahun tepat jam 12 malam teng. Kalau tahun kemarin sih ada, Herman kah kalau gak salah, eh Lelly, eh Febri kayaknya, eh arrggghh lupa! Gegar otak ringan.


Aku memspesialkan diriku di sweet seventeen-ku ini. Sengaja bergadang sampai jam satu dini hari untuk  make a wish. Lalu menghitung hari-hari yang telah lewat, menghitung dosa-dosa yang telah diperbuat. kalau dalam islam sih namanya muhassabah (bener gak ni tulisannya?). Intropeksi diri, lantas membuat prioritas untuk ke depannya. rasanya menyenangkan banget. Aku suka bagian make a wish-nya. Memejamkan mata, bibir komat-kamit. Meski tanpa kue ualangtahun, tanpa lilin yang akan ditiup, prosesi make a wish ini dirasa sangat sakral.

Pagi pagi ngecek hape, sms-sms ucapan selamat-ulang-tahun-ya-icha berjejelan di inbox. 
Ketika aku mulai menampakkan batang hidung di sekitaran area sekolah, Dea sama Dina ngasih akukado berupa novel. Dua-duanya novel kesukaanku. Dea ngasih novel judulnya Pocong Juga Pocong, trus Dina ngasih yang judulnya Ohh Emm Jii. Aku senang banget, padahal ku pikir mereka ga ingat hari ulangtahunku. Kata Dina, mukaku bersinar. Apaan coba~~

Aku sempat kecewa ketika Nina bersikap biasa di sekolah. Ga ada ngucapin selamat atau apakah. Padahal Lulu dkk dengan lantang dan nyaringnya menyanyikan lagu Happy Birthday bareng-bareng, yang sontak membuatku malu dua kuadrat. Tapi ternyata, Nina datang  sore tadi ke rumahku, mengucapkan selamat lalu memberi kado berupa cake cokelat dan boneka pudell. Huaa senangnya. Padahal aku udah mikir macam-macam lohh.


Sore tadi, keluargaku pada ngucapin selamat. Padahal tadi pagi mereka pasang tampang saya-gak-sempat-lihat-kalender-jadi-gak-nyadar-kalau-icha-ulang-tahun. Sms-sms ucapan mulai datang berbondong-bondong. Bapak yang kerja nun jauh di sana juga ngucapin ulang tahun, lewat telfon. Beriak airmataku di pelupuk dengar suara Bapak.




Malamnya, malam ini, aku mencoba bersyukur atas penambahan umur dan pengurangan jatah hidup ini. Bertambah satu tahun berkurang satu masa. Terkadang aku masih rada merinding kalau ingat umurku sudah 17 tahun. Sifatku masih cenderung kekanakkan. Masih sering diperbudak emosi. Masih sering nangis sesenggukan, labil, sensitif, negthink melulu, selebor, ceroboh, manja. Itu bukan cerminan cewe 17 tahun. Untungnya, aku dikaruniai masalah oleh  Tuhan, sehingga sedikit demi sedikit aku bisa menyicil kedewasaanku. Seperti kata Bu Tutik, masalah atau kegagalan itu hendaknya dianggap sebagai pengalaman baik.  
Aku bersyukur dianugerahi fisik yang lumayan mumpuni. Ya walaupun gak cantik sih. Aku bersyukur punya teman-teman yang baik yang selalu ada buatku. Aku bersyukur punya orang tua yang begitu mengayomi anak-anaknya tanpa pilih kasih. Aku bersyukur aku disibukkan dengan tugas-tugas sekolah, sehingga aku gak perlu membuang waktu untuk bergalau. Aku bersyukur aku lajang di ulang tahunku yang ke-17 ini. Ya walauun kata teman-temanku gak enak ngelajang pas udah 17 tahun, ya aku gak peduli. Walaupun kata mereka umur 17 tahun itu kesempatan untuk menjalin hubungan spesial dgn laki-laki itu wajar, aku tetap keukeh mau melajang. Eittss, bukannya aku gak laku. Aku mau menepati janjiku aja #pembelaandirihaha. Bersyukur, aku ting-ting di ulang tahunku ini, tanpa jamahan laki-laki yang bisa menimbulkan dosa.


Dan malam ini, dari sekian rentetan euforia hari ulang tahunku, ada harapan di dalamnya. Harapanku sih banyak, kayak harapan-harapan yang anak remaja lontarkan pada umumnya. Tapi jika dirangkum, mungkin jadinya akan seperti ini: semoga aku bisa betah dengan jalan hidupku sekarang. 

Mohon wujudkan harapan seorang anak usia 17 tahun ini, Tuhan.


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com