Selasa, 30 Agustus 2011

Dan Takbir Pun Berkumandang

Setelah menuntaskan puasa ketiga puluh hari ini, akhirnya takbir pun berkumandang. Taraweh pun tutup buku, dan lantunan takbir bertubi-tubi yang menggantikannya. Itu artinya, lebaran tinggal beberapa jam lagi. Disini, aku terpekur menekuni laptop pink centilku, guna menghabiskan malam takbiran ini. Ga ada yang istimewa. Ga ada agenda jalan-jalan ngamburin kota seperti yang kini dilakukan kakakku beserta calon suaminya. Ga ada acara ngumpul bareng teman-teman. Malam  takbiran ini berjalan seperti biasa bagiku, seperti malam-malam sebelumnya.

Rasanya aku ga pernah jalan kalau malam takbiran. Emang ga minat sih kalau ga ada tujuan pastinya, kalau hanya sekedar melihat-lihat pemadangan kota di malam hari. Tahun-tahun sebelumnya aku memang begini, menghabiskan malam takbiran di rumah aja. Begitupun juga tahun ini. Aku ga dibolehin jalan malam sih, apalagi malam takbiran rame begini. Aku sih sudah biasa dilarang ini itu, dilarang jalan malam ya biasa aja. Tapi kenapa, ada kesepian yang menyergap. Aku ngerasa sepi, sendiri. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hanya ditemani dua ponakanku yang binal ini. Para ibunya menitipkan padaku agar aku menjaganya selama mereka-mereka sibuk. Mamaku sibuk di dapur. Bapakku ngurusin zakat fitrah dimasjid terdekat. Adekku lagi keluyuran entah kemana. Maka, disini aku. Seorang tante muda merangkap babysitter, sedang posting sambil mengawasi tingkah laku Artha dan Tasya yang lagi main mercon.

Padahal, aku menantikan malam takbiran yang berkesan. Berkumpul dengan jumlah anggota keluarga yang utuh. Semuanya berada di rumah, ga kemana-mana. Atau seru-seruan bareng teman-teman di jalan, atau di rumahku gitu. Jalan sama pacar? So sweet sih, tapi kesannya gimana ya.. menyenangkan kalau tepat pada waktunya. Mungkin untuk saat-saat ini, keluarga dan sahabat jadi prioritas utama. Aku ga mau terlalu menggantungkan harapan banyak sama pacar sih.

Malam takbiranku ga pernah istimewa -__-
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Untung Cuma Tepending Bukan Tecancel

Sempat terpukul dengar kabar dari MUI, kalau tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Rabu. Anak amor yang tumpah di jalan pada syok, rombongan konvoi pada syok, ibu-ibu pada syok, bapak-bapak pada syok, anak-anak kecil pengonsumsi kembang api pus merucon pada syok, bedug masjid pada syok. Orang persiapannya udah siap wal'afiat, eeeh diundur. Raut kekecewaan terpancar pada wajah-wajah pada malam hampir takbiran itu.

Aku ga habis pikir, baru kali ini MUI lamban dalam mengambil sikap. Sidang mulut berbusa itu ternyata hanya menghasilkan putusan yang banyak mengecewakan pihak banyak. Padahal sudah jelas-jelas kalender menunjukkan hari selasa umat islam akan lebaran. Iklan-iklan di tipi juga pada udah berrkoar-koar. Siaran di berbagai media mulai menampangkan euforia lebaran. Seolah benar-benar mantap kalau lebaran itu hari selasa. Eh sekalinya pas malamnya, desas desus ga enak mulai terdengar. Katanya bubuhan muhammadyah lebarannya hari selasa. Biasanya muhammadyah selalu mendulukan hari lebaran mereka. Nah itu yang buat kami (para muslim NU) ragu. Maka, tipipun dijadikan bancakan. Jari jemari bermain lincah di tombol mencari-cari channel tipi yang menyiarkan rapat MUI. Dan setelah menunggu kaik-kaik itu rapat, keputusannya yaitu tanggal 1 Syawal jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011 Masehi.

Keputusan yang mendadak ini yang bikin aku geram, dan mungkin para umat muslim di luar sana. Bukannya ga sabaran pengen lebaran sih, tapi ya kami ngerasa dikecewakan aja. Di saat semua matang, ya terpaksa harus batal. Hati yag sudah menggebu-gebu menyambut lebaran malah jadi kecewa. Kasian opor ayamnya ntar basi, kasian imam shalatnya ngimamin taraweh lagi, kasian..

Banyak yang menyampah kesal di twitter, facebook. Ga tau siapa yang salah? Kalendernya, pemerintahnya, atau hilalnya? Muhammadyah tampak tenang-tenang aja tuh. Desas-desusnya mereka tetap melaksanakan shalat ied di gor sempaja, dan tentu saja merayakan lebaran. Sirik? Ah, enggak. Lagi-lagi aku cuma bingung, sangat binngung sih lebih tepatnya. Katanya islam itu satu kesatuan, tapi kok bergolong-golongan gitu. Kalau mendekati lebaran begini, banyak kepercayaan yang ngambang ke permukaan. Di desa ini sudah berlebaran, menganut kepercayaan ini sudah melaksanakann lebaran, yang di desa itu berpuasa tiga puluh dua hari, yang di kampung ini tradisinya begitu. Berbeda itu boleh aja sih, ah tapi kenapa ya aku ngerasa islam itu jadi terpecah belah kayak gitu. Ga kompak. Lihat aja, islam ada dua golongan. Muhammadyah sama NU. Apa maksudnya coba? Huh, aku  bukannya menghakimi adanya muhammadyah ya, bukan kok. Lagi-lagi aku cuma bingung aja. Sejauh ini masih belum ada yang menjelaskan ke aku sejak kapan islam itu ada dua golongan.

Pertamanya ngerasa aneh begitu ada pengumuman bahwa malam tadi shalat tarawih lagi. Walhasil, saf shalatnya terisi satu dua aja. Banyak yang sudah terlanjur terjun ke jalanan untuk konvoi, bahkan ke dapur untuk menyiapkan suguhan lebaran. Tahun ini bener-bener absurd lebarannya

Ngeliat euforia menyampah kekesalan karena ga jadi lebaran hari selasa di twitter, aku jadi ikut-ikutan menyampah di twitter. Sebenarnya ga kesal-kesal banget sih. Banyak tweet-an yang sontak bikin aku ketawa ngakak ngebacanya. Rata-rata pada kesal sama MUI, dan memilih jalur muhammadyah. Haha, ku pikir mau hari  selasa kek, hari rabu kek, tahun depan kek, lebaran ya tetap aja lebaran. Tetap hari  kemenangan. Tetap hari saling memafkan. Tetap hari yang suci. Bener kan?

Intinya, hari lebaran tanggalnya sudah jelas ditetapkan. Anggap aja puasa hari ini buat nambal-nambal pahala puasa kita yang 29 hari itu. Bukankah genap lebih baik? Besok bakalan ga PENDING kok, apalagi CANCEL. Lebaran tetap akan ada membayar jerih payah berpuasa kita.
Cayoooo sambut lebaran !!! ^^
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 29 Agustus 2011

Selamat Tinggal. Semoga Jumpa Lagi

Kelar sudah ritual shalat tarawih yang rutin dilaksanakan dua puluh sembilan akhir ini. Aku menghela nafas tanda syukur sambil melipat sajadahku dengan rapi. Huaaaaa, ga terasa lebaran di depan mata.

Postingan kali ini mengisahkan tentang wujud syukurku setelah berhura-hura dengan bulan puasa. Bukan, ini sama sekali bukan tulisan bertemakan religius seperti novel-novel islami  atau artikel yang berisi ceramah dai-dai kondang. Ini cuma sekedar tulisan yang berisi rangkaian pengalaman dan perasaanku selama menjalani bulan ramadhan. Sudah pasti perempuan sepertiku (hikss!!) akan kagok kalau disuruh menulis dengan tema religius. Wong aku ini binal, shalat masih bolong-bolong, ngaji masih gagap,masih suka ngakalin orangtua, yaitu dalam artian ngebohongin orangtua (oh aku ga sanggup tuk menuliskannya), masih suka iri kalau ngeliat Nanda dibelikan baju baru, dan sederet sifat buruk lainnya (astaghfirullah nistanya T.T). Haha, pengakuan dosa ni ceritanya.  Tapi lebih baik begini kan, lebih baik aku mengakui hal itu duluan daripada orang lain yang mengakui??

Ngomongin dosa emang ga ada habisnya, apalagi kalau ngomongin dosa orang. Uuppsss. Hmm back to main topic,  eh mau mulai dari mana ya?

Oh iya, tadi aku shalat tarawih loohhh. Setelah sekian malam aku meninggalkan ibadah sunah itu, dan memilih laptop pink centil ini sebagai pelariannya, akhirnya aku shalat juga #bangga. Nistakah aku? Ah, ga juga, shalat tarawih kan hukumnya sunah, jadi yang ga dosa kalau aku meninggalkannya. Hal itu yang selalu menghambat langkahku untuk menuju mushala dekat rumahku, menahan niatku untuk melaksanakan shalat tarawih. Hal itu yang meringankan bebanku kalau aku ga melaksanakannya. Jujur, aku suka gelisah kalau ada yang belum kukerjakan. Termasuk shalat (duileeehh). Bawaannya grasak-grusuk. Tapi kalau untuk shalat tarawih, aku tenang-tenang aja kalau ga melaksanakannya. Ya karena ada prinsip itu, pedoman itu.

Otomatis, aku bakal shalat tarawih kalau mood-ku lagi baik. Bisa dihitung deh kayaknya aku berapa kali shalat tarawih. Minggu pertama aku rutin, minggu kedua keserang tamu bulanan, minggu ketiga bolong-bolong mulai terlihat, minggu keempat lumpuh total. Penyebab aku malas tarawih banyak banget. Acara tv yang bagus, lagi pewe smsan, sakit perut kekenyangan, bahkan hobi menulisku pun bisa dijadikan penyebab, eh alasan deh bukan penyebab aku ga shalat. Kayak malam kemarin, aku ga shalat tarawih karena cerpen  yang sedang ku buat belum rampung. Berat banget rasanya meninggalkan cerpen yang belum selesai itu sendirian, sementara aku khusyuk bersemayam dalam sujud tarawih. Idih segitunya yak? Aku ngerasa berdosa sih karena lebih mengutamakan cerpenku daripada shalat tarawih, tapi aku gelisah aja gitu. Kalau aku shalat tarawih dengan hati gelisah ya jadi ga khusyuk kan? Sama aja bohong… Aaah alasanku nambah lagi satu.

Selain mood, hal yang mempengaruhiku dalam melaksanakan tarawih atau enggak yaitu adanya niat lain yang muncul. Ya bisa dibilang ada udang dibalik batu gitu. Contohnya aja waktu pas malam keberapa gitu aku lupa. Ah malam kelima kalau ga salah. Nah, Dea ngajakin shalat tarawih bareng di salah satu masjid terbesar dan terkemuka di Samarinda. Aku langsung mengiyakan ajakannya. Asal tau aja, berkunjung ke masjid itu sama aja dengan berkunjung ke mall. Cuci mata gitu, ajang cari jodoh. Mereka berlomba-lomba berpakaian trendy guna menarik perhatian. Mondar-mandir sana sini menebarkan pesona. Bukannya shalat, malah cuci mata. Masjid *tiiiiiiiiittt tersebut banyak digandrungi di kalangan remaja samarinda untuk jalan-jalan. Dijadikan tempat buat kopi darat juga. Apakah aku dan Dea melakukan hal yang hal sama? Ohoho tentu saja tidak. Tujuan kami ke sana memang untuk shalat, sekaligus menuntaskan rasa penasaran yang mengendap di dada. Selama ini aku cuma dengar-dengar dari bisik-bisik tetangga aja, kalau masjid itu dijadikan tempat yang ga sekenanya. Sampe ada satpol PP segala lagi. Kurang apalagi coba? Nah akhirnya kami punya kesempatan juga untuk ke sana. Dan memang seperti yang selama ini ku dengar. Dimana-mana saf shalat pada bolong. Area luar tampak penuh dengan anak-anak remaja yang bermadu kasih. Astagfirullah. Aku dan Dea speechless.

Kini di hari terakhir puasa, aku menelisik kembali apa saja yang ku lakukan di  bulan yang mulia ini. Puasaku memang full, kalau misalnya ga terserang tamu bulanan pasti bakalan full sih. Ngaji juga lumayan meski terbata-bata dan ga sempat mengkhatamkan. Coba lihat buku kegiatan ramadhanku yang gersang itu, menampakkan daftar shalat tarawih yang sedikit ku laksanakan. Ku pikir gpp juga kalau ga shalat tarawih. Tapi, ada penyesalan yang bersisa di dadaku. Aku nyesal kenapa aku begitu melalaikannya. Di saat waktu tersedia, aku malah asik dengarin lagu atau bercumbu dengan ms word. Padahal dulu aku paling senang shalat tarawih, kesannya nenangin hati gitu. Eh aku ga bermakssud religius loh ya, beneran itu kok.Yang jelas, sekarang aku nyesal banget nah sering ga shalat tarawih, padahal pahalanya itu  loh berlipat lipat TT

Penyesalan ga ada gunanya, kini hanya harapan yang kugantungkan guna menutup bulan puasa ini.
Sampai jumpa ya bulan ramadhan. Semoga berjumpa lagi.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Hujan :*


“Aku suka hujan !”
 Teriakku kala sang hujan datang mengguyur bumi dengan ganasnya. Riaknya tumpah membasahi aspal yang gersang. Apalagi ketika aku terjun ke dalam lingkup deras hujan itu, berada di antara hantaman rintiknya. Segar membasahi wajah sumrigahku, sekujur badan penatku. Di saat Kak Dayah memaki maki turunnya hujan, dan Nanda tenggelam dalam selimut tebalnya, aku malah menari nari bersama hujan. Tak peduli tatapan orang sekitar atau pekikan Mami Ndese yang menyuruhku untuk cepat masuk ke dalam rumah. Aku buta aku tuli karena hujan.


Kenapa tiba-tiba aku mengawali paragraf ini dengan sekelumit kegiatanku dalam menyambut hujan yang terlihat kekanak-kanakkan itu? Jawabannya cukup simple, KARENA AKU SUKA HUJAN, apapun bentuknya. Mau deras, gerimis, hujan panas, hujan duit, hujan batu. Kekanak-kanakkan memang kalau sampai saat ini aku masih suka main hujan. Aku juga suka mengagumi hujan dan mempublikasikan kekagumanku itu pada siapa saja. Kalau ditanya kenapa aku suka hujan, alasannya banyak banget. Hujan itu eksotik, elegan, indah. Hujan itu bagaikan happy ending dalam kisah cinta penuh kemarau. Hujan itu menyejukkan, menenangkan saat kedua mata pasang mata ini memandang. Hujan itu indah ya?
Namun ga semuanya sependapat sama aku. Kakakku menggerutu ga jelas jika hujan datang. Terpekur di sudut kamarnya dengan bibir ingin menandingi ketebalan usus sapi. Kesal karena ga bisa jalan, itu alasannya memaki hujan. Teman-temanku menganggap aneh tentang kesukaanku ini. Lah emang kenapa kalau aku suka hujan? Yang sakit habis main hujan kan aku juga, kok kalian yang sewot? Hujan itu indah, tau ! Sambarku membantah ledekan mereka

Lama kelamaan aku mulai suka ngeliatin lagu yang ber-videoclip hujan. Misalnya lagu Angels Cry-nya Mariah Carey ft Ne-Yo, lagunya Selena Gomez judulnya A Year Without Rain, Grenade-nya Bruno Mars. Kesannya keren, apalagi kalau hujannya deras. Aku juga suka ngeliat cowo main hujan. Seksi keliatannya, ketika memainkan rambutnya yang kuyup itu hingga menimbulkan percikan air.
Huufhhh.. aku benar-benar maniak hujan.

Aku mulai sadar kalau hal-hal yang kusukai cenderung suram. Contohnya, aku suka warna abu-abu, lagu-lagu penguras airmata, dan sekarang aku sukanya hujan. Coba lihat, kalau di sinetron-sinetron Indonesia (khususnya indosiar, rcti dan sebangsanya) ,suasana sedih nan suram identik dengan hujan deras. Mungkin untuk menambah kesan dramatis, supaya penonton jadi trenyuh. Tapi aku suka ketika hujan deras diidentikkan dengan suasana bahagia. Kayak lagunya Selena Gomez, dia merasa dia mencintai seseorang yang ga bisa berada di sisinya. Yeeahh ketidakbisaan itu karena cowo yang dicintai Selena ternyata ga mencintai Selena balik. Selena menggambarkan perasaannya itu seperti tahun tanpa turunnya hujan, yang artinya tahun itu dilewati dengan kemarau berkepanjangan. Seperti itulah yang kayaknya ku rasain sekarang. Aku membutuhkan dia, seperti tahun membutuhkan hujan. Artinya, hujan begitu berarti bagi tahun, seberarti dirinya bagiku. Bukankah hujan begitu indah? Meski itu cuma perumpaan dalam sebuah lagu, rasa sukaku pada hujan sudah terlanjur mendarah daging. Ngeliat hujan mengguyur kota, tanpa ba-bi-bu-be-bo lagi aku langsung terjun ke dalamnya. Basah ya basah sekalian. Sensasinya itu loh. Rasanya lega banget bisa menghabiskan waktu bersama hujan. Kalian boleh mengolok kesukaanku ini. Tapi setelah kalian merasakannya sendiri, ku pastikan kalian akan menarik ucapan kalian itu. Main hujan beneran seru kok. Coba aja buktikan sendiri. Meski habis itu badan akan kebasahan oleh air hujan yang konon katanya kotor itu, meski sehabis itu kalian kena omel oleh mama-mama kalian, meski kalian akan sakit demam. Tapi keseruannya itu loh. Bikin ketagihan. Hal-hal yang dianggap suram oleh kebanyakan orang, jadi hal menyenangkan buatku.

Kecintaanku pada hujan itu merembet sampai ke impianku. Suatu saat nanti, entah kapan itu, akan ada lelaki yang membawaku terjun ke dalam derasnya hujan, memegang tanganku, menatap mataku, dan bilang tiga kata sakral “aku sayang kamu”. Itu impianku sekarang, melengkapi impianku yang lain yaitu menjadi penulis novel chicklit tersohor dan membahagiakan Bapakku. Aku pengen banget ditembak di tengah hujan. Jarang-jarang kan cowo mau mengajak cewe untuk main hujan. Takut nanti sakit lah, air hujan itu kotor lah. Setelah menyatakan cintanya, aku menjawab iya, dan kemudian kami berputar-putar di tengah hujan deras itu sampai kuyup. Mengungkapkan rasa sayang lewat perhatian. Memelukku, menjagaku dari dinginnya hujan yang menusuk, mengusap kepalaku yang basah, berceloteh panjang tentang perasaan masing-masing. Pulang-pulang dengan kondisi mengenaskan, trus diomelin bareng-bareng. Kayak anak kecil sih kelihatannya. Kesinetron-sinetronan sih emang. Tapi aku suka, tapi aku pengen suasana kayak gitu bisa terwujud di hidupku.  Pasti so sweet. :*

Aku suka hujan. Dan aku menginginkan pangeran hujan datang menjemputku. Bukan Indra, Nur, Romi, atau Febri,. Mereka tak melakukan itu. Semoga dia datang membawa hujan yang kuimpikan. Tuhan, kabulkan yaah J
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Maaf, Aku Ingkar

Aku ingkar, beneran ingkar. Aku mengingkari janji sakralku. Janji yang disaksikan oleh Merah Jambu (boneka teddy bear pemberian Nur), Nina, dan Nanda selaku adek kandungku sendiri. Aku mengingkarinya, padahal aku sangat yakin janji itu akan tertepati.
Sebenarnya janjinya cukup sederhana, semua orang juga bisa untuk menepatinya. Janji ini ku buat atas dasar rasa kejenuhanku akan hubungan-lebih-dari-sekedar-teman yang selama ini aku tekuni (huh lagaknya). Ga ngerti? Hmm gini, setelah putus dari Nur (please sebenarnya aku ga mau bahas ini), aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku ga akan pacaran lagi untuk setahun ke depan. Minimal pada hari ulangtahunku lah. Aku sudah menggembar-menggemborkan janji ini ke Nina, Nanda, dan tentu saja ke Merah Jambu. Tekadku sudah bulat, aku pengen melajang selama setahun. Pengen ikutan fokus pada pendidikan. Dan aku pun beneran fokus. Pekerjaan rumah ga keteteran lagi seperti layaknnya waktu aku pacaran. Smsan pun jarang, palingan cuma sms nyampah gitu, buang-buang bonus gitu. Jalan menghabiskan malam minggu sudah ga ku lakukan lagi, ku habiskan dengan membaca apa saja yang bisa dibaca yang tergeletak di meja belajarku. Bebas rasanya, aku bahagia menjadi lajang. Jauh dari perasaan resah gelisah memikirkan dia dimana, dengan siapa, sedang berbuat apa. Ga ada kekangan. Aku si lajang yang mampu berdiri sendiri. Itu semboyan yang terpahat di jiwaku.
Tapi lihatlah diriku sekarang. Di hari ini, tanggal 17 Agustus ini, di saat perayaan atas Indonesia yang telah memerdekakan dirinya dari belenggu penjajah, justru aku merasa aku ga bisa memerdekan diriku sendiri dari belenggu ‘mudah menjatuhkan hati’. Aku jadian sama Rudi. Waktu malam sebelumnya pas aku lagi buber bareng Nina, Shela, Lhely, dan Wilda, smsnya Rudi dibaca sama Nina. Ternyata Nina sudah tau semuanya tentang kedekatan kami jauh sebelum dia baca sms itu. Aku gugup, kalut. Aku takut Nina marah. Nina langsung balas smsnya Rudi. Lalu Nina mengajukan syarat, kalau Rudi mau nembak aku, harus di hadapan SHECOM. Lengkap, harus lengkap. Kalau nembaknya dihadapanku aja, berarti itu ga sah. Rudi pun sms ke nomornya Nina dan Lhely. Dia protes, malu katanya. Nina tetap bersikeras, dia bilang harus nembak pada malam itu. Nah pas jam tujuh itu kah habis buka puasa, Rudi bilang dia mau kerumahku. Nina (lagi lagi) nyuruh dia nembaknya di SCP aja, di hadapan Shecom pokoknya. Pas jam 8, Rudi sms katanya dia udah ada di rumahku dari jam. Aku murahan ya? Ah jahatnya, ah jijiknya aku! Aku jahat, ga memikirkan perasaan Nina! Aku menjijikan, begitu mudahnya didapatkan! 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Apa Aku Bisa Dibilang Sebagai Perebut?

Benar- benar absurd. Aku masih ga percaya kalau tadi malam aku sukses menghabiskan waktu bersama Rudi. Tau Rudi? Haaah.. panjang riwayatnya. Awalnya Nina dan Rudi yang saling kenal, tapi lama-kelamaan akhirnya aku kenal juga. Maklum, dulu aku dan Nina satu paket tak terpisahkan. Rudi pun mulai dekat dengan aku dan tentu saja dengan Nina. Rudi pernah nembak Nina kira-kira dua kali, tapi ditolak Nina. Aku ga tau persis alasannya apa Nina menolak cinta Rudi. Tapi yang jelas pasca penolakan itu, Nina dan Rudi tetap bersahabat. Otomatis karena aku bersahabat dengan Nina waktu itu, aku jadi bersahabat dengan Rudi. Kami bertiga sering ketemu, main bareng, foto- foto gaje bareng.

Selang beberapa bulan kemudian, kami jarang ketemu lagi. Masing masing saling mengatasnamakan kesibukan ini itu sebagai alasan untuk ga ketemu. Smsan juga jarang. Hape Nina kering kerontang akan sms-sms dari Rudi. Begitupun juga hapeku, yeaah meski terkadang dia sms aku, curhat tentang inceran barunya. Asal tau aja, dia itu pi el I way bi o way bi o way a.k.a  PLAYBOY. Bisa dibilang tipikal cowo don juan (maaf ya mas rudi :/). Ni cowo mudah jatuh cinta, mudah memperdaya, dan mudah juga untuk berpaling. Maka dari itu Nina menolak Rudi untuk memasuki kehidupannya lebih dalam lagi. Aku maklum aja sih, aku tau sebenarnya Nina juga menaruh rasa yang sama. Cuma ya itu, otak masih mampu mengalahkan hati. Ngerti aja kan??

Mereka tetap berteman kok sampai sekarang. Begitu pun juga aku. Aku smsan seperti biasa, ngobrol-ngobrol seperti biasa. Saling curhat-curhatan. Aku ngerasa bahagia bisa punya sahabat cowo seperti dia. Rasanya kayak ga ada sekat yang memisahkan antara lelaki atau perempuan. Rasanya sama aja dengan sahabat-sahabat cewe yang selama ini ku punya. Sampai suatu saat, hari apa kah itu aku lupa. Dia ke rumahku. Setelah berbulan-bulan ga ketemu dia, banyak perubahan. Rambutnya agak gondrong, kulitnya sawo matang. Beda waktu pertama kali aku ketemu dia. Rambut cepak dan kulit kuning langsatnya begitu kontras dengan Nina yang berambut panjang ikal dan kulit sawo matang. Haaah, Nina dan Rudi kayak jadi satu paket. Jadi kalau ketemu Rudi tanpa Nina, rasanya jadi aneh. Itu deh yang aku rasain waktu aku ketemu dia pas hari apakah itu. Agak canggung. 
Hari yang canggung itu menjadi awal kedekatan absurd kami. Malam jalan bareng, berangkat sekolah bareng (meskipun cuma sekali), dijemput sekolah, dia ke rumahku. Tingkahnya makin absurd.Bermanja dan memanjakanku. Seolah-olah melukiskan bahwa kami adalah sepasang kekasih. Bersahabat rasanya ga gini-gini banget juga, pikirku. Aku makin canggung. Bingung. 

Iya, aku tau. Dia itu jiwa player nya masih ga kuat untuk dia bendung. Seharusnya aku paham hal itu dari awal. Tapi udah telat, aku terlanjur tersugesti oleh kata-katanya. Bilang sayang, lalu membekukanku. Memegang tanganku, lalu menatap mataku. Habis itu ketawa bareng. Hahaha, aku berusaha sih menepis itu semua. Jujur aku mudah jatuh cinta orangnya, tapi biasanya itu sifatnya sementara. Kalau aku sering ketemu dia, makin sayang aku sama dia. Bisa dikatakan cinta bisa tumbuh dari kebersamaan. Dan aku sepertinya sudah terlanjur jatuh lagi. Aku melanggar janjiku, janji bahwa aku akan mengistirahatkan hatiku tuk kupercayakan ke orang lain lagi. 

Beneran kah ini aku jatuh cinta sama dia? Haram Cha, HARAM!!! Dia itu sahabatku, dia dulu pernah mengukir riwayat ehem ehem sama Nina. Apalagi sejak dia bilang sayang waktu itu. Aduh, aku tau sih gampang aja bilang sayang itu. Yang aku ga tau tuh kenapa aku sebegitu gampang terbius olehnya (tsaaahhhh). Ga, aku jatuh cinta. Aku kagum dan aku begitu kangen dengan perhatian yang dia beri. Yeaa, pelampiasan mungkin. Sebenarnya aku ga pengen pacaran lagi, serius. Aku pengen bersahabat aja sama dia, seperti layaknya aku dengan Febri, Ikhsan, Arighi. Huaaaaa… aku sudah terlanjur jatuh padanya.
Gimana ya reaksinya Nina begitu dia tau kalau aku sedekat ini sama Rudi? Apa dia marah? Kesal? Atau biasa aja? Issh, aku jadi merasa berdosa eh. Eh tapi kan, aku juga ga naroh perasaan lebih sama Rudi. AH tapi, aah bingung >,< Lagian kalau misalnya Nina setuju, aku jadi takut loh. Takutnya kalau kami putus, trus ga bisa sedekat ini lagi. Persahabatan itu lebih awet. Bener ga?

Yang jelas, aku pengen meneguhkan prinsipku nah. Aku pengen melajang lama, minimal sampe ada yang menyatakan cinta di hadapan Mamaku. Haha kapan itu ya? Kapan kapan, yang jelas bukan sekarang. Aku sudah menjadi yang terasing di hadapan cinta. Aku udah ga percaya lagi kalau pacaran di masa sekolah itu bisa awet.

Jadi sahabatku dulu ya, kayak dulu dan selamanya.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Met Belajar Ya

Postingan ini untuk seseorang disana, yang kenangannya masih memenuhi pikiranku . Maklum, belum sebulan. Tau aja kan siapa? Yeah dia mantan yang ga ku ikhlasin kepergiannya. Ah udah ah aku udah ikhlas kok. Apalagi setelah dengar penuturan Dea tentang penyebab kami putus, yang Dea tau dari Deni, dan Deni tau dari Nur sendiri. Singkatnya, Nur curhat sama Deni, trus Deni cerita ke Dea, dan Dea nyampaikan ke aku. Semacam rantai makanan. Di post kemaren ngakunya sih aku sudah lupa kalau aku pernah jatuh cinta. Tapi gapapa ya kalau aku nge-post tentang dia  lagi? Ibaratnya disini aku berkhayal sedang berhadapan dengan dia, ngomong sama dia. Silahkan katakan aku ini pecundang, beraninya cuma ngomong lewat blog. Silahkan ungkapan kebosanan karena membaca postingan blog yang temanya sangat monoton ini. Eh, emang ada yang baca laman blog ku ini? Ckckck nasib.

Ehem ehem tes tes satu dua tiga…
Nur, apa  kabar? Pasti baik-baik aja. Aku lihat hidupmu makin sejahtera akhir-akhir ini. Tapi sekarang kamu menghilang, ga keliatan lagi. Mungkin lebih baik  kita ga ketemu kayak gini ya. Tuhan selalu memberi jalan terbaik untuk kita, dan ini jalan terbaik yang selama ini Tuhan janjikan.
Sekarang aku ga perlu capek-capek menerka-nerka  apa salah apa kurangku hingga kita harus pisah kayak gini. Ikatan kita yang sudah terlanjur putus sudah mulai bisa ku ikhlaskan. Karena aku udah tau alasan sesungguhnya mengapa ini  terjadi. Dea yang menceritakannya ke aku, menceritakan curhatanmu yang waktu itu kamu ungkapkan ke Deni, sepupu Dea. Aku senang begitu mendengar alasanmu. Pendidikan. Pendidikan. Pendidikan. PENDIDIKAN. Ku ulang terus sampai aku benar-benar percaya bahwa alasan yang kamu berikan itu bukan hasil dari mengada-ngada. Kamu hanya ingin berusaha mengejar nilai ketertinggalan kamu, mengejar cita-cita kamu untuk kuliah di universitas yang kamu idamkan. Entah universitas apa, kamu ga pernah cerita sebelumnya. Universitas itu pasti bagus, sampai-sampai kamu sebegitu fokusnya. Sampai kamu mantap meninggalkan dan sempat menyakiti hati seorang cewe rapuh seperti aku. Dan kamu merasa lebih baik putus. Kamu ingin focus pada satu. Kamu tidak ingin pikiranmu bercabang memikirkan hubungan kita. Awalnya aku ga percaya, alasanmu itu terlalu klise. Tapi setelah mendengar penuturan Dea, perlahan lahan aku menaruh kepercayaan lagi ke kamu. Kamu ga mungkin berbohong kan. Kamu cowo terpolos yang pernah mengisi lembar agenda hidupku. Keyakinan itu menguatkanku untuk gak membenci kamu.

Sumpah, aku beneran senang kok. Ternyata bukan karena sudah jenuh dengan hubungan kita, bukan karena ada ‘putri pocari sweat’ lain yang mengalihkan perhatianmu dari aku. Bukan. Aku ngerasa plong banget. Aku lega. Aku bahagia. Betapa pentingnya pendidikan dibandingkan cinta. Yeeaaah, sewajarnya untuk seusia kita, pendidikan yang paling utama. Pacaran itu ntar aja, ya kan? Haha, pemikiranmu itu mirip banget dengan pemikiran mamaku. Sebaiknya aku berpikir gitu aja kali ya? Hmm sekali lagi, aku senaaaaaaaaaaaaaaanng banget. Aku dukung kamu.
Oh iya, aku juga mau ngucapin makasih. Makasih karena udah mengajarkan ilmu ikhlas. Makasih udah membuatku kebal akan kisah sedih. Makasih atas boneka teddy bear pink nya, yang masih setia menemani tidurku. Sesuai janjiku 5 bulan lalu, aku ga akan memakamkan ‘merah jambu’ itu di lemari. Aku tepati itu. Makasih karena udah membuatku ga mudah terperdaya lagi. Aku niat ga pengen pacaran lagi, kira-kira setahun lah aku melajang. Mungkin sweet seventeen yang akan kulewatkan tahun ini menjadi menyenangkan bersama sahabat-sahabatku, tanpa seorang pacar. Makasih udah mengajarkanku arti pengertian, kesabaran, ketaatan terhadap apa yang namanya komitmen. Makasih udah membentukku menjadi anak yang mandiri, ga manja lagi, ga berwujud menjadi si cengeng yang selalu menampakkan wajah muramnya di depan umum. Makasih udah menanamkan rasa tahu diri, dengan melihat diriku yang masih jauh dari kesempurnaan, aku jadi tahu diri dalam mematok cowo impian. Aku ga mau muluk-muluk, aku hanya ingin cowo yang bisa mengerti cinta sebenarnya. Kayak lagunya Pink yang judulnya Most Girl itu, nah kira-kira seperti itu gambaran tentang perasaanku sekarang. Aku sadar diri kalau wajahku ga cantik, ga memikat. Berbadan triplek tanpa lekuk-lekuk, rembes pula. Miftha, atau Rista. Mereka sempurna. Sangat wajar kalau dulu kamu pernah menaruh hati pada mereka. Aku sadar dari awal kalau aku bukan tipemu banget.  Dan mungkin bukan tipe dari semua cowo lainnya. Huaa lebay yak. Tapi emang bener begitu kan? Masih banyak kekurangan yang perlu ku tambal lagi. Makasih udah pernah sempat menerimaku apa adanya. Memujiku, menyanjungku. Makasih.

Semoga kamu bisa menetap menjadi mahasiswa di universitas yang kamu idamkan.
Maaf aku masih mengusikmu dengan pengharapan dan keluhanku selama ini.
Met belajar yaaa :)

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 04 Agustus 2011

Semoga Aku Selalu Bisa Lupa

Begitu banyak ide cerita yang berkeliaran di kepalaku, meminta untuk ditumpahkan ke dalam postingan blog.  Keseharianku, kesenanganku, kesedihanku, semua nyampur jadi satu. Setiap hendak menuliskannya, aku mencari apa kalimat yang menarik untuk membuka paragraph postingan blogku. Mencarinya bukan sekedar diam berpikir. Seringkali aku memutar lagu-lagu favoritku, melihat lihat ke luar ruangan, menonton TV.  Bukannya mendapat inspirasi, malah kegiatan “pengundang inspirasi” itu malah dianggap lebih menarik daripada menulis blog. Jadinya malah asyik dengerin lagu atau jalan-jalan sore, hingga postingan blog jadi terbengkalai. Dan akhirnya batal nge-post Sering banget aku mengalaminya. Maka dari itu, aku jadi jarang nge-post blog.  Entah apa yang menghambat jiwa menulisku untuk bekerja. Hiks.

Mumpung sekarang semangat menulisku lagi menggebu-menggebunya, maka disini aku akan blak-blakan menulis seperti biasa. Yeaah sebenarnya mengisi waktu luang, mencoba sejenak melupakan lapar dan haus yang menempel sedari tadi. Puasa, bo. Keren ya, ngabuburitnya sambil nge blog :D
Postingan blogku kali ini ga beda jauh dengan post-post sebelumnya, yakni tentang cinta. Lagi?  Yap, meskipun sekarang aku lagi ga punya cinta (baca: pacar), tapi ga ada salahnya kan aku menuliskannya? Ehm oke, kulengkapi dengan tentang lupa dan benci, bagaimana?
Terdapat istilah dimana benci bisa jadi cinta, cinta jadi benci. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah ini, oh mungkin lebih tepatnya disebut teori ini, yang jelas teori ini sering dipakai kawula muda yang sedang bercinta berpatah hati *tsssaaaaaahh. Bahkan dipakai sebagai judul sinetron be-rating tinggi. Benci-jadi-cinta sih bagus aja, asal awet. Lah kalau cinta-jadi-benci??
Aku adalah salah satu pemakainya, pecandunya. Ketemu dengan cowok yang sangat menyebalkan. Tak terbayangkan untuk bisa memiliki dan dimiliki cowo menyebalkan itu. Saking bencinya, eh malah jatuh cintrong. Jadian beberapa bulan, seiring dengan waktu yang berjalan, akhirnya putus. Menghasilkan rasa benci tiada tara. Kami saling membenci satu sama lain, padahal dulu saling mencinta. Ga hanya sekali, teori ini menjungkir balikkan aku berkali kali sesuka hatinya. Kalau sudah jadi mantan, pasti dibenci. Itu ga bisa dipungkiri. Walau ga sedikit di luar sana yang masih tetap bersahabat meski udah putus.
Ada kebencian yang sempat terpatri ketika aku putusan dengan Nur. Benci dengan semua. Aku menghakimi kekurangan diriku dan jalan takdirku ini. Melihat wajahnya yang berseri, mendengar kabarnya yang baik baik saja pasca kami putusan, aku jadi makin benci. Aku jadi benci hidup ini. Kenapa dia baik-baik saja? Kenapa dia bisa ga terpuruk seperti aku? Gila seperti aku ini?
Tapi ga sepenuhnya aku benci dia setengah mati. Jujur aku masih mengaguminya. Menurutku, dia orang yang baik, ga pantas untuk dibenci. Dia pergi karena aku ga pantas buat dia. Aku menerka-nerka diriku seperti apa, dan ku simpulkan aku masih jauh dari tipikal cewe idaman. Wajar aja dia pergi untuk mencari yang lebih baik. Bukankah ada ayat yang mengatakan orang baik akan dipasangkan dengan yang baik, dan orang jahat akan dipasangkan dengan orang jahat? Aku ga bermaksud merendah. Beneran.
Lantas kenapa aku benci? Aku benci agar rasa cinta itu bisa pudar. Agar aku ga termakan sakit hati yang ku buat sendiri. Toh sekarang dia sudah ga ganggu hidupku kok, untuk apa aku sakit hati? Aku ngaku kalau aku ga bisa benci dia. Benar benar ga bisa. Aku cuma ingin lupa kalau aku pernah jatuh cinta, bukan benci karena pernah jatuh cinta. Benci dan lupa dalam artian ini memang ga ada sekatnya. Ga bisa dipisahkan, padahal yang dibutuhkan hanya salah satunya.Kalau aku lupain dia, aku harus benci dia terlebih dahulu. Dengan membenci aku bisa lupain dia. Ribet yaa?
Aku punya cara sendiri supaya kedua rasa itu memisahkan dirinya masing masing.Kalau aku boleh ngasih sekat diantara benci dan lupa itu, mungkin seperti ini : Sekatnya ada dua macam, yaitu SIBUKKAN dan BIARKAN. Di paling depan, sekat SIBUKKAN menyangga. Bahannya cukup kuat asal hati hati saat mau melewatinya. Di antara sanggahan sekat itu aku dapat menyibukkan diriku dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang selama ini aku tinggalkan, hingga aku ga sempat mikirin dia. Dengan begitu, aku jadi ga berurai airmata menyesali kepergian dia kan? Itu kegunaaan sekat SIBUKKAN.
Setelah melewati sekat SIBUKKAN, silahkan lewati sekat satu ini, BIARKAN. Butuh kesabaran untuk mencapai sekat ini. Harus ikhlas menerima kenyataan yang manis maupun yang pahit. Yang terpenting, membiarkan rasa sayang itu tetap ada. Sayang sebagai teman, bukan sebagai pacar lagi. Maka ketenangan batin yang akan didapatkan. Ga perlu memaksakan diri untuk benci kalau memang benar-benar ga bisa benci. Aku ga perlu memusuhinya. Biarkan hidup tetap berjalan sebagaimana mestinya, tanpa rasa dendam dan kecewa. Sekat BIARKAN membuat pemikiranku selangkah lebih dewasa.
Intinya, aku ga membencinya. Aku hanya lupa tentang dia. Lupa tentang kisah cinta kami dulu. Aku masih menempatkannya sebagai bagian hidupku. Sebagai sahabat. Jadi ingat Arighi, mantanku waktu kelas 3 smp. Meski aku memutuskannya dengan kurang ajar, mengumpatnya, mengecewakannya, kami tetap bersahabat sampai sekarang. Ga ada permusuhan. Aku malu pada diriku sendiri kalau ingat Arighi. Begitu baiknya Arighi, dia tetap mau temanan sama aku. Seharusnya aku juga begitu.
Aku sudah beneran lupa kalau pernah jatuh cinta. Semoga aku selalu lupa.

                
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com