Minggu, 24 Juli 2011

Postingan Setelah Ter-Sign

Setelah sekian lama blog ini ga mau ter sign, akhirnya bisa juga. Berkat bantuan teman smp ku sekaligus mantanku wakt smp (penting ga sih ini dipublikasikan?), blog ini dapat berjalan sebagaimana mestinya. Padahal aku dah frustasi berat mengingat blog ini sangat berpengaruh besar dalam pengembangan diriku. Disini aku bisa ngegalau nge-fly sesenak udel tanpa dengar keluhan ngeliat wajah ngantuk menguap karena bosan akan curhatanku. Disinalah surga curhatku la la la la

Karena udah lumayan lama ga buka blogku dan posting, yaah jadinya aku bingung sendiri mau ngeposting apa.Saking banyaknya cerita yang mengendap di otakku, jadi galau sendiri mau cerita yang mana. Oh okeoke, cerita yang paling fresh aja.

Gini gini, aku lagi getol2nya pengen nabung nih. Semangat '45 dah pokoknya. Berhubung sekarang lagi musim sekolah menguras kantong dalam rangka membeli buku2 sekolah, maka hasrat untuk shopping barang2 yang lagi nge trend harus ku pendam dulu. Lama kelamaan juga ga enak dipendam mulu, membusuk adanya. Nah ga mungkin aku harus memaksa hasratku terlampiaskan dengan meminta uang kepada orangtuaku. Rasanya berat banget. Melihat wajah masam orangtua beserta keluhannya,.

Nabung. Nabung.Nabung. Nabung.
Mudah untuk diucapkan. Tapi pas raga sudah siap untuk melakukannya , ah ga siap jadinya.
Sampe2 aku bikin cara2 jitu menabung, tetap aja ga bisa than godaan untuk menghabisi duit itu.
Tapi setelah ingat barang yang pengen dibeli, semangat menabung kembali menggebu. O o o o o

Udah ah,segini aja postingnya. Sumpah mandek banget otakku menjelajah inspirasi huhu.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 08 Juli 2011

Kata Hati Emang Gak Bisa Bohong

Kata hati emang ga bisa berbohong. Sejauh ini aku berusaha membantah kata hatiku, dan akhirnya aku merasa malu sendiri.
Aku mempertahankan keyakinan yang seharusnya diruntuhkan. Aku yakini dia akan datang dengan dirinya yang dulu, seseorang yang tersenyum lebar bahkan tertawa melihat kecerobohanku, seseorang yang menggengam tanganku erat dan menatap mataku dalam dalam, seseorang yang memanggilku 'karena kamu cuma satu". Dia M. Noor. Still the one ku..

Kata hati emang ga bisa berbohong. Kata hati berujar Nur akan meninggalkanku, tapi aku membantahnya. Aku membangkang dengan kata hatiku sendiri.. Mungkin lebih tepatnya, aku membohongi diriku sendiri. Ku harap pembohonganku berbuah manis.Semanis dulu. Bukan kayak sekarang yang menghilang, menjauh, mendekati wanita lain, menutup mata dan telinganya. Bukan itu yang ku mau, tapi itu yang terjadi..

Kata hati emang ga bisa bohong. Harus kuakui itu. Karena buktinya sudah ada di depan mata.
Kata hatiku membuktikan ucapannya. Dia akan meninggalkanku? Yap, benar.
Malam kemarin satu sms mampir di hapeku. Isinya... aah, aku ga pantas untuk menuliskan sms dari orang agung itu. Ya, agung. Agung karena dia punya kuasa untuk membuat budak menyembahnya memohon mohon kasihnya. Siapa lagi budaknya kalau bukan aku.
Dengan tangan gemetar, aku balas sms itu. Aku berusaha kelihatan 'mahal' di sms balasanku, dengan tidak mengumbar kata memohon meminta alasan kenapa dia mutusin.
Lima menit, sepuluh menit... setelah pesan sudah terkirim dan ga ada balasan dari dia, aku langsung telpon Dea. Nangis dengan membabi buta. Dea berusaha nenangin aku dengan wejangan-wejangannya, tapi itu masih ga bisa ngeredain tanjalku sepenuhnya. Tanjal tanjal ingus bececeran tisu banjir. Haaah, cuma NUR yang bisa, Dea...

Kata hati emang ga bisa bohong. Sudah sering kata hatiku menjagaku supaya aku ga nangis lagi karena diputusin. Haha, ini ketiga kalinya aku diputusin ya. Tapi ini pertama kalinya aku meraung raung, sedih banget rasanya, ga pernah kayak gini sebelumnya. Soalnya aku ga tau kenapa dia mutusin aku. Perasaanku aku sudah coba ngerti dia selama seminggu ini. Ya kan? Masih kurang aku mencoba puasa mikirin sda, sibuk baca baca majalah lama supaya ga tergoda buat sms dia, mau tau kabar dia? Ga liat aku memendam kekesalan saat dia wall2an sama cewe yang dulu sempat dia suka? Aku sudah coba berbagai metode berpikir positif ala Nina Rahmadani. Aku sempat menekan dalam dalam perasaan tak dianggap itu. SUDAH !
Haha, ternyata ini imbalannya... #aku ga bermaksud sombong dengan membeberkan pengorbananku. kelegaan yang kucari.

Kata hati emang ga bisa bohong. Aku menangis di depan adekku tanpa malumalu lagi. Saat mau keluar kamar, ku pakai kacamataku sebagai alibi mata bengkak, lalu terduduk lesu di depan tv. Mataku memang mengarah ke layarnya, tapi pikiranku melayang kayak layangan lepas. Apa salahku? Dosa apa aku? Huaaaaa alay sih. Aku  lampiaskan nafsu curhatku sama kakak pertamaku. Dia ikut menangis liat aku nangis. Dia ikut murka pas aku murka. Dia ikut ingusan pas aku ingusan. Mirip latah.

Kata hati emang ga bisa bohong. Malam terasa panjang untuk dihabiskan pada saat itu. Merutuki, mencaci, memaki, menyesali. Sudah, sudah, aku ga bisa berpura pura lagi jadi seorang Icha yang bahagia bisa pacaran dengan cowo impiannya. Aku lelah nangis sembunyi sembunyi lagi. Bantal guling sudah jenuh menyamarkan isak tangisku. Setelah bangun pagi, rasanya kepala ini berat banget. Aku masih ngarep kalau itu cuma mimpi. Cuma mimpi. Tapi tetap aja, ini kenyataan. Ugly truth..

Kata hati emang ga bisa bohong. Saatnya aku ikhlas menerima kejujuran kata hatiku itu. Bahwa dia telah meninggalkanku dengan ketidakjelasannya. Lagi lagi aku kalah dengan kata hatiku sendiri. Dan jangan sampe dia datang kembali kepadaku dengan sebuah alasan. Aku harus menuruti titah kata hatiku. Lupakan dia, tapi jangan sampe benci dia. Anggaplah rasaku dulu ke dia adalah roti selai srikaya. Ketika dia pergi, aku harus membuang selai srikaya itu. Membiarkan roti itu itu tawar rasanya, seperti dahulu ketika sang roti belum mengenal selai srikaya. Roti tawar.. Perasaanku kini kucoba untuk tawar terhadapnyaa..

Kata hati emang ga bisa bohong. Maafkan aku yang selama ini memercundangimu, wahai kata hatiku. Mulai sekarang, aku akan rajin menanyakanmu, mana yang harus ku pilih, ku lakukan. Terimakasih atas kejujuranmu.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 05 Juli 2011

Esempe

Jari jemari lentikku menekan kursor, lalu membuka foto jadul semasa SMP. Foto sekumpulan orang utan berangkulan di tepi sungai, tag dengan berbagai nama dan berbagai orang tentunya, lalu di bawahnya terpampang 1.935 komentar nyelekit lucu. Aku terbahak tiap membaca deret komentar yang terlontar dari mereka. Ada Aris, Nida, Fajar, Rispa, Bella, Lelly, Nina, Adit, Tomi, Shela, Eqy, Fenny, dan Arighi (untuk nama yang satu ini, aku menulisnya sambil mendehem dehem mesem). Di komentar itu, kami bebas untuk saling mengolok, menuding, menghapaki, mencemooh, tapi dalam hal kepositifan ya, yang ga menyakitkan hati. Sekedar bercanda aja.

Seperti layaknya mesin waktu, foto itu membawa ingatanku ke masa putih biru. Uups, bukan ingatanku aja, tapi seolah ragaku juga terbawa ke dalam suasana kelas 3-3. Sebuah kelas bernuansa hijau (maklum kan sekolah go green), sumpek, ribut, rame. Keakraban kerap terjalin disana. Ga ada batasan antara yang kaya dengan yang miskin, yang cewe dengan yang cowo. Asli asik banget. Apalagi dulu duduknya cewek-cowok, waktu itu aku duduknya sama Tomi, terus pindah sama Aris. Nah, Aris tuh hobi banget bancakin orang.
'Bakpao kota tepian' kerap disenandungkannya jika mau memanggil aku. Masa cinta2an di kelas 3-3 juga seru. Bahagia banget rasanya bisa dimanjakan.

Aku pengen ngerasain kelas 3-3 lagi. Coba aja ada event dimana kami reunian terus belajar di kelas 3-3 lagi, sekolah bareng lagi, pake baju smp lagi.. T,T

Sudah ah cukup sampai sini aja postingannya, ga kuat bendungin kangen ni
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 02 Juli 2011

Ayo Jalan Terus, Break Masih Terlampau Jauh Untuk Mengejar!

Akiu ngerasa geli sendiri kalau dengar kata BREAK dalam sebuah hubungan-lebih dari-sekedar-teman a.k.a pacaran. BREAK seminggu, besoknya langsung putus. Digantung tanpa kepastian. Sakitnya dua kali lipat.
Untuk apa break itu diberlakukan di hubungan yang sepertinya menyenangkan itu? Apa pacaran itu melelahkan dan memenatkan badan sehingga break itu  diperlukan? Lah, kalau gitu, kenapa ga putus aja sekalian daripada digantung dengan status 'kami-sedang-break-sementara' yang bikin debar debur itu? Terus, kalau udah terlanjur makan hati, kenapa masih mau pacaran? Mereka yang rela break adalah orang-orang bodoh terpedaya oleh pasangannya sendiri, iya toh? Pertanyaan-pertanyaan itu tinggal di dalam otakku. Penuh sesak ingin keluar. Tapi aku belum dapat jawaban yang pas untuk menamatkan hidup pertanyaan-pertanyaan retorik itu. Aku muak menggali rasa kepenasaranku. Ah, break itu hanya picisan.

"Hentikan cengiranmu itu, Cha. Itu bodoh, munafik. Sombongnya kau !. Karena sekarang yang ada di hadapanmu adalah yang kau remehkan itu! Dia, lelaki itu, meminta kamu untuk menjauhinya, memberinya ruang sendiri untuk saat ini. Dia ga sempat mikirin kamu. Kau dengar itu? Dengar!"

Aaarrrgghhh! Bukan, bukan, tidak. Aku ga berhadapan dengan break sialan itu! Dia cuma sibuk, dia ga sempat merhatiin aku, JUST IT! Sergahku melawan konflik batinku sendiri. Bisikan itu terlanjur menggerogoti  akal sehatku.

"Lantas, kenapa dia jadi jauh gitu? Jadi makhluk asing buat kamu? Oh, bukan, jadi hantu asing! Hhaha, sungguh malang nasibmu, Cha. Kamu ga usah menyangkal, break yang kamu remehkan selama ini akhirnya terjadi juga padamu. Aku bangga kamu bisa break juga :P"

 Ini bukan break, wahai kata hatiku sayang... Dia memang akhir-akhir ini begitu. Dia lagi ada masalah. Dan dia lagi butuh waktu untuk nyelesainnya. Sebagai pacarnya, aku harus mengerti keadaannya yang sekarang. Ini bukan break! Camkan itu.

"Bravo, bravo. Inikah Icha yang ku kenal selama ini? Icha yang menggampangkan segalanya, tanpa pikir resikonya sama sekali? Icha yang mudah dibohongi keadaan? Oh, mungkin lebih tepatnya disebut MUDAH DIBODOHI KEADAAN. Mana Icha yang dulu? Yang enggan untuk disakiti, diperlakukan tidak semestinya, yang dengan segannya memutuskan hubungan dengan cara seribu kali lebih sakit lalu mendapatkan pengganti yang lebih baik? Kenapa kamu jadi lembek begini? Putuskan dia sekarang! Masih banyak yang inginkan kamu, memanjakan kamu... Aku ga mau kamu sakit hati karena dia.."

Aku sudah berubah, wahai kata hatiku. Aku bukan lagi cewe labil yang sembarangan memilih cinta. Aku bukan si gadis pengambekkan, ratu tega, atau apalah itu. Justru  aku menyesali kenapa aku dulu kayak gitu. Dia adalah hal terbaik yang ku punya, aku ga mau melepasnya. Bagiku, sungguh kejam aku jika memperlakukannya seperti yang kulakukan dulu. Aku ga bakal sakit hati karena dia. Aku ikhlas merasakan ini. Jadi jangan judge dia sembarangan. Ngerti?

"Yeaah, aku iyakan saja. Tapi satu hal yang aku ga ngerti dari perkataanmu tadi. Dia adalah hal terbaik yang kamu punya? Dia cuek, ga romantis, apa itu terbaik? Bukankah tipe cowo yang kamu idamkan adalah kebalikan dari itu, Cha? Cha.. jangan sampai cinta butakan mata hatimu"

Terlambat kamu katakan itu. Mata hatiku sudah terlanjur dibutakan oleh pesonanya yang tak biasa itu. Dia cuek, tak murah memberi perhatian. Satu kalimat "aku sayang kamu" yang terlontar dari bibirnya mampu membuatku begadang semalaman tanpa harus menenggak kopi pahit. Aku belum pernah merasakan sensasi setrum alami yang mengalir ketika dia mengecup keningku lamaaa sekali. Dia romantis dengan caranya sendiri. Dan aku suka itu. Bukankah ada teori bahwa 'cinta itu buta', wahai kata hatiku tersayang?

"Wow, aku terpukau, Cha. Kalau dia memang begitu, kenapa sekarang dia berubah? Apa salahmu ke dia, Cha? Sudahkah kamu tanyakan ini padanya?  Sms mu jarang dibalasnya, seolah dia ga mau berhubungan denganmu lagi! Cha, apa ini tanda-tanda bahwa dia sudah jenuh sama kamu?"

Husssh.. jangan menakut-nakuti aku kayak gitu dong. Sudah ku bilang kan, dia lagi ada masalah yang harus dia selesaikan. Tadi malam aku sudah bicarain ini ke dia. Aku udah tumpahkan apa yang ku rasa. Dia lagi butuh waktu senggang. Dia ga mau melibatkankanku dalam masalah peliknya. Aku sempat ragu sih sebanrnya. Tapi dia meyakinkanku. Dia sayang kok sama aku. Dia minta maaf kemisteriusan dan kecuekkannya selama ini. Aku memberinya sebongkah pengertian. Ketika dia bilang makasih, rasanya aku jadi bangga. Egoku yang terus menerus menuntut perhatian dari dia perlahan lahan runtuh, seiring dengan kristal bening asin yang mencair dari pelupuk mataku. Aku nunggu dia sampe dia datang kepadaku. Sampai dia selesai dengan pergelutan dirinya. Pasti sebentar lagi kok.

"So, kalian tetap aja kan break? Jalani hidup masing-masing unutk sementara waktu itu namanya break kan? Kalian akan putus, aku yakin, Cha! Lihat saja nanti! Dia lamalama akan bilang putus!"

Tidak, tidak, kata hatiku sayang! Kami masih samasama saling membutuhkan kok. Kami hanya saling menyibukkan diri. Ga selamanya pacaran itu harus lengket setiap saat kan? Kami masih punya dunia yang harus kami benahi. Ada saatnya untuk berdua, ada juga saat untuk sendiri. Beda dengan break, yang sama sekali menutup mata untuk pasangannya. Kalau dirasa waktunya sudah pas, ya putus. Ini bukan BREAK. Kami samasama masih sayang kok. Mungkin ini caranya agar aku berpikir dewasa. Mencoba mengerti orang lain. Bukan melulu orang lain yang mengerti aku.

"Hmm.. bener juga sih. Setiap hubungan memiliki fase-fase yang bertahap. Sekarang kamu sedang berada di fase yang sulit. Yah, akhirnya aku mengalah. Kamu benar. Berjuang, Cha. Jalan terus. Aku senang dia bisa mendewasakanmu dengan cinta ini. Dia pasti akan datang."

Aku membuka mataku yang sedari tadi tertutup.Rasanya bahagia banget bisa mengalahkan kata hati egoku itu. Sekarang, aku ga perlu takut kehilangan dia. Break masih jauh di belakangku kok!
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com