Kamis, 30 Juni 2011

Butuh Pamrih, Apa Itu Salah?

Sudah lebih dari seminggu ini aku frustasi.

Ku lirik dompet di lemari, ah masih utuh tak tersentuh. Tebel.

Buka tudung saji di meja makan. Huuffh masih banyak bertebar makanan favoritku.

Aaaargghh  bukan karena itu, bukannnnnnnnnnnn.

Aku frustasi karena aku benci. Aku benci dengan keadaan yang sungguh kontras dengan pikiranku sebelumnya. Pasti seru, fun, ga ngebosenin, ga bikin capek. Aah ga terwujud itu.

Aku ngerasa tubuhku lagi ga fit. Eh bukan tubuhku, mungkin lebih tepatnya hatiku.

Kalau kata anak remaja puber seragam putih biru sih " Ich aqo3 AgY sAkiiEtdh haTy niicH, TuuHan aQoee CiinTdtha DyaAA, zunG9uh mendCinDtai1nyAA . , ."

Wah alay ya tulisannya, alay juga ya apa yang aku rasakan sekarang. Anak alay tuh dikit-dikit patah hati, sakit hati, dipublikasikan di status facebook, trus putus, trus nangis seember, trus....bunuh diri. 

Ihh serem

Ga segitunya juga kali yang aku rasain sekarang. Cuma ya itu, back to main topic, aku keserang penyakit hati. Ketergantungan terhadap cowo.

Akhir-akhir ini hubunganku dengan Noor jadi agak merenggang.Entah siapa yang berusaha menjauh, aku yakin pasti dia. Aku ga bisa kalau ga smsan sehariiiiiii aja. Ya kasih kabar lah ke aku.Ih tapi dia naudjubillah cueknya minta ampun. Susah ditebak, pengen ku jitak!

Trus aku pengennya tu samasama terus, ketemu tiap hari, huaaa ketergantungan banget yaa?

Aku kok jadi ngerasa aku ini kayak anak-anak alay di luar sana ya? Yang maunya lengketttt terus sama awowo, yang bakal nangis jingkar kalau dikecewain barang sedikit aja.

Pertama-pertama aku berusaha buat posthink, mungkin aja dia lagi sibuk lah. Tapi lama-lama kok ga wajar ya dia ga ada kasih kabar gitu. Ngilang gitu aja. Disuruh ke rumah, ada aja alasannya.
Berkaca pada masalah teman-temanku, mereka putusan sama pasangan mereka karena kurang komunikasi. Insidennya mirip banget. Ketakutanku makin berlebih. Aah satu lagi penyakitku. Over paranoid tengah menggerogoti akal sehatku.

Lantas aku nekat (????) buat matiin hapeku seharian penuh. Aku mau tau reaksinya gimana kalau nomorku ga aktif, aku ga ada kasih kabar ke dia. Aku mau tau, penasaran. Sudah terbayang di benakku jika dia akan mengirim sms bertubi-tubi buatku. Mhuaahahaha, aku tertawa terkekeh sambil mematikan hapeku.
Aaargh suck, tak disangka tak dinyana, dia ga kasih respon sesuai yang kuharapkan. BATAL! PERCUMA!. Tak ada satupun sms meluncur di hapeku dari dia.

Sebenarnya aku salah ga sih kalau mengharap perhatian dari dia? Minimal, aku dianggap ada lah. Aku pernah coba menanyakan perihal ini ke dia. Dia bilang aku berelebihan. Ini sepele baginya mungkin, dan sudah pasti.Aku pengen dia nyari aku, aku pengen dia ngerasa kehilangan aku. Aku hilang dan dia berusaha nyariin aku sampai dapat. Gimana supaya dia begitu? Otakku terlalu lemah untuk berpikir keras lagi. Aku penat !

Aku bingung, apa akunya yang lebay atau memang dianya yang udah bosan sama aku.
Aku udah berusaha kok buat membentuk diriku ini jadi cewe yang ga cengeng, ga manja, ga pengambekkan, ga rapuh ketika tersandung masalah sebesar apapun. Semua itu ku lakukan supaya aku terlihat tegar di depannya, agar ku membanggakannya. Tapi seolah dia mendepakku jauh, memerintahku untuk mencoba lebih kuat lagi, lagi, lagi. kuat hingga benar-benar bisa kuat tanpa dia.
Dia akan jauh lebih bangga bila aku bisa lepas dari tuntunannya dengan kekuatanku sendiri
Aku ga bisa, aku masih bergantung padanya. Aku masih butuh dia. Aku.... sayang dia. Ku harap dia juga begitu. Layaknya seperti dulu.

Haha, ternyata cinta itu butuh PAMRIH ya. Kalau dikecewain, sedih. Kalau disakitin, nangis. Pengennya dibahagiain. PAMRIH, tapi ga muluk muluk. Cuma butuh balasan rasa yang sama.

Solusi lahir karena hadirnya masalah.Aku ingin masalahku berakhir dengan solusi yang terbaik. Entah aku akan jalan terus dengan Noor, atau berpisah lain arah.. Setiap bulan, ada aja masalah yang menerpa hubunganku bersama dia, yang pada akhirnya terselesaikan dengan senyum manis melengkung di raut wajah kami, lalu sebuah kecupan. Jangan sampai genangan air mata yang tertahan yang muncul di masalah bulan ini. Aku ga mau.. :(



Semoga dia ngebaca postinganku ini. Lalu di layar hapeku tertera satu sms ucapan selamat malam dari dia.
Semoga.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 29 Juni 2011

Naik kelas Naik Pangkat?

Sudah lama rasanya aku gak berkunjung di laman blogku ini. Banyak yang terjadi di minggu-minggu ini.. Well, I know, setiap orang mengalami masalah dalam hidupnya.

Yang jadi masalahku saat ini, MULAI  DARI MANA AKU MEMULAI PARAGRAF POSTINGAN BLOG KU INI?? MULAI DARI PENGALAMAN SEHARI-HARIKU KAH, SAKIT HATIKU KAH, KECEROBOHANKU KAH, DIAGNOSAKU AKAN KEHIDUPANKU MENDATANG KAH, ATAU NGEGOSIPIN ARTIS ARTIS TERNAMA SEPERTI RIHANNA, JUSTIN BIEBER, DAN DEWI PERSIK YANG SEBENTAR LAGI AKAN OPERASI SELAPUT DARA? Aaarggghhhh.  Sebuah pertanyaan bodoh, yang timbul akibat lamanya aku mengendap di kamar tanpa bercinta dengan laptop  pink kesayanganku ini, sehingga tidak bisa menghasilkan keturunan bernama ‘POST BLOG’.

Yeah, hari ini tepat seminggu lebih tiga hari, liburan kenaikan kelas. Ga terasa aku udah kelas XI.
Sempat speechless dengan ‘naik pangkat’ ini.
Wow, aku sudah kelas dua. Wow, aku jadi kakak kelas. Wow, ga ada lagi yang namanya takut ke kantin. Wow,  saatnya merajalela di area sekolah. Wow, para adik kelas akan jadi santapanku….

Eitts, tunggu, ADIK KELAS? JADI SANTAPAN? Sudah jadi rahasia umum, kalau kakak kelas punya porsi berkuasa lebih besar dibandingkan adik kelas. Saat MOS (Masa Orientasi Sekolah) sedang hangat-hangatnya berlangsung,sang kakak kelas akan menajamkan matanya, mencari sosok adik kelas yang terlihat belagu, ber-style bagus, dan tentu saja cantik. Lantas, sang kakak kelas itu beserta gankster-nya datang menyambangi kelas sang adik kelas tersebut. Makin banyak bicara, makin tipis juga kemungkinan anak itu untuk lolos dari jerat kakak kelas itu. Ya syukur-syukur kalau tiba-tiba bel sekolah berdentang hendak menyudahi perkelahian itu, atau mendadak datang guru BK yang menghadang gerombolan rusuh itu. Jadi ya terselamatkan deh nyawa adik kelas itu.

Kejadian seperti acapkali aku lihat, dan aku alamin juga.Aku pernah berada di posisi dan di waktu pelabrakan yang persis seperti deskripsi di atas. Bukan, bukan aku yang melabrak. Aku terlalu lemot dan lembek untuk melabrak adik kelas yang menurutku ga punya salah sama aku. Waktu kejadian labrak melabrak itu tengah berlangsung, aku menjadi penonton setia,yang sekali kali meringis ketika lontaran kebun binatang menggema. Sungguh sebuah tontonan yang menarik dan langka, pikirku waktu itu.

Biasanya sih, kakak-kakak kelas pelabrak itu adalah cewe-cewe (jarang banget cowo-cowo ngelabrak adik kelas, kecuali kalau emang masalahnya genting banget) yang tajir, terkenal, tersohor, model, anak cheers, anak konglomerat, atau si fashionable. Mereka suka terlihat bergentayangan di seputaran lapangan, kantin, pojok pojok kelas, dengan kaki menggantung mata cekung menghitam rambut tergerai kusut masai panjang. Lah, kuntilanak dong?

Kakak-kakak kelas ini ga suka kalau ada adik kelas yang melampaui mereka. Hati mereka akan memanas jika ada sekelompok cowo-cowo teman sekelas mereka yang menggoda adik kelas tu.Apalagi kalau adik kelas itu pintar, cerdas, pokoknya bikin kakak-kakak kelas itu sensi bin keki. Ya, bisa dikatakan pelabrakan itu bermula dari rasa dengki. Cara melampiaskan kedengkiannya dimulai dengan datang ke kelas adik kelas itu, meneriakkan namanya (biasanya dikasih embel-embel pedas mengolok di belakang nama adik kelas itu), melabrak sampai puas, mengatai adik kelas itu dengan caci maki, makin banyak yang datang untuk menonton aksi mereka, makin jadi juga mereka.

I think, tiap tahun tak pernah terlewatkan oleh ajang ini. Seolah jadi acara rutin tahunan. Sebenarnya apa sih yang 'mereka' cari lewat cara yang bisa dibilang kriminalitas di sekolah itu? Kepuasan? Ketenaran?
Tak sepenuhnya juga sih salah sang kakak kelasnya. Kadang kakak kelas mengambil tindakan ini karena adiknya kelasnya yang memang keterlaluan, misalnya tuh adik kelas keganjenan sok dekat-dekat gitu, sok cari perhatian, bari muar. Bagiku ya pantas aja adik kelas itu dilabrak, ibaratnya ditegur gitu. Tapi mungkin caranya yang berlebihan?

Pelabrakan ga selamanya mendatangkan malapetaka buat adik kelas. Setelah dia dilabrak, biasanya dia akan terkenal keesokan harinya. Para penghuni sekolah berbaondong-bondong datang ke kelasnya dengan rasa penasaran berkecamuk di dada. Siapa yang benar siapa yang salah, sama saja di mata mereka. Kejadian itu sudah terlanjur dicap jelek dan menarik perhatian. Jadi terkenal secara instan. Enak ya?

Ah ga enak ah. Menyakiti raga dan jiwa orang yang ga tau apa-apa itu enak?

Ya, kalau bagi yang terpuaskan.Kalau bagi yang tersakiti?

Tapi aku harap, budaya labrak melabrak itu  tak lestari lagi.

#postingangaje
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sebenarnya Itu Karena Aku Mencintaimu, Endang

(POSTINGAN JAMAN DAHULU KALA)
Selasa kupikir akan menyenangkan.
Kalender di dinding menunjukkan tanggal 7. Hmm.. angka kesukaanku. Angka dimana aku dilahirkan di muka bumi ini. Dan angka dimana hubunganku dengan Noor terlahirkan. Setiap hari yang jatuh pada tanggal 7 pasti akan menyenangkan. Pikirku waktu itu.

Jadwal ulangan untuk hari Selasa ini, tanggal 7 ini adalah Bahasa Inggris dan IPS. Untuk Bahasa Inggris, aku sih nganggapnya enteng karena aku ngerasa aku udah belajar. EEh kampreto, ternyata yang selama ini aku pelajari saban malam, ga keluar  ! Apa kada kesal aku heh. Aku kena remidi akhirnya, dengan nilai 64. Excellent. Error recognition bikin lumpuh otak.

Patah hati sih sebenarnya, karena aku kena remidi. Dendam eh kena remidi padahal aku belajar. Yaah bukan rezeki kali ya :D

Tapi lebih patah hati lagi karena…. Sepertinya dan PASTINYA aku bakal kena remidi IPS untuk kesekian kalinya.

Asal tau aja ya, remidi IPS itu sama dengan cari ribut sama empunya IPS, yaitu Bu Endang.
Sang ‘korban remidi’ disiksa dengan hantaman soal soal sepanjang lima meter beserta jawabannya yang panjang pula. Dicambuk dengan omongan pedas menyayat telinga. Dimisteriusin dengan kehadiran ibunya yang suka gentayangan. Dibuat capek dengan mengejar mengejar beliau untuk meminta nilai. Diingat sepanjang masa sebagai anak pemalas. Huuiiiih sadis.

Berulang kali aku jadi korban remidi Bu Endang. Di saat teman teman dengan antengnya membuka buku LKS untuk nyontek di bawah meja, aku malah terpekur menekuni lembar jawaban yang kosong melompong. Tingkat keberanian dan kenekatanku dalam menyontek memang rendah.
Terbukti ketika hasil ulangan dibagikan, nilaiku lah yang menempati di bawah standard. 40 lah, 65 lah. Sudah belajar sedikit sedikit, nyontek juga ga bisa, jadilah aku remidi. Menghadap ibu Endang beberapa hari kemudian di dewan guru.
Bu Endang sampai hapal mukaku. Beliau juga sok-sok akrab manggil namaku dengan sebutan Icha. Biasanya sih guru-guru acapkali memanggilnya dengan sebutan Nisa. Lah ini Icha. Haha.
Terus juga, Ibu nya kadang suka ikut nimbrung kalau aku sama teman-teman lagi ngobrol gitu. Beliau ikut cekakak-cekikik bareng kami. Beliau mengidap penyakit tekanan darah tinggi. Makanya suka marah marah hebat kalau lagi bad mood. Kalau liat Bu Endang, jadi teringat mamaku di rumah. Bagai pinang dibelah dua.
Sekarang yang kupikirkan, APAKAH AKU AKAN REMIDI IPS? Sudah pasti jawabannya IYA TENTU SAJA.

Mengingat bahwa lembar jawabanku gersang waktu itu, hanya nomor 1 dan 2 yang kuisi dari 5 soal essay. Menyedihkan, mana nomor 1 itu katanya salah lagi jawabannya. Diprediksi nilaiku akan mencapai 4,5, dan so pasti aku remidi again. Oh Tuhan, jangan lagi kau berikan musibah ini T.T

Lagi lagi nanti aku akan bertemu dengan Bu Endang lagi. Diceramahin lagi, dikasih soal banyak panjang lagi, huuuu aku ga bisa membayangkannya. Bu Endang pasti udah enek melihat wajah imutku terpampang di dewan guru.

Aku sampe terbawa mimpi perihal masalah ini . Berikut sekelebat mimpinya :

Aku berada di sebuah padang rumput, memakai baju matador, membawa lembar jawaban IPS (gilak! Emangnya aku mau ngapain ni? Pake baju matador lagi?)
Tiba tiba tampak sosok wanita bergaun putih, dialah Bu Endang
Aku menghampirinya, menggenggam tangannya, lantas saling bertatapan.
Dengan tersipu malu, aku berkata, “ Sebenarnya, Endang.. aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ini sangat penting. “
Bu Endang bingung, lalu menjawab, “ Katakan saja,Pangeran Icha.. Kau ingin minta remidi lagi? Silahkan. Tapi jangan sekarang. Aku lelah letih lesu lunglai lemah, 5L”
(Iklan Sangobion numpang lewat)
“Bukan, bukan minta remidi. Aku sudah lulus toh? Eh eh sebenarnya, aku pinter aja sih, ga perlu remidi… Selama ini, aku telah meembohongimu, aku ikut remidi bukan karena nilaiku jelek, tapi….”
“Tapi, tapi apa?” Bu Endang sontak membelalakkan mata
“Sebenarnya, semua itu karena aku suka padamu. Aku senantiasa ingin dekat denganmu.Aku mencintaimu, Endang…”
Lalu kami berpelukan. membentuk siluet cinta.

Aaarghhh aufff!!
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 01 Juni 2011

Make Over Raportmu Dengan Remidi

Setelah masa mati suri blog ini yang cukup memakan waktu lama, akhirnya aku datang memenuhi beranda blog dengan postinganku ga pentingku ini. Memang kelamaan sih, kayaknya hampir dua bulan aku ga posting blog.

Yeaaah, hal itu dikarenakan sekarang aku lagi keranjingan twitter, alhamdulillah udah bisa mention orang dan retweet  orang sekarang ya allah setelah sekian lama punya tapi ga tau cara makenya *sembah sujud ala suku pedalaman, katrok gilak ya akuu.

Trus juga aku keseringan pulang maghrib, pas adzan berkumandang tuh baru dah batang hidungnya nongol depan pagar rumah. Sesampainya di kamar langsung terkulai lemas. Mana sempat aku buka laptop buat posting blog. Kalau mau keluar kamar, siap siap dah kenyang nelan omelan dari mama tercintrong. Nasibbbb jadi anak gahol

Nah nah yang ini nih yang bikin hubunganku dengan blog menjadi renggang.

DJENG DJENG DJENG!!!!!!!!!!!

Minggu minggu ini aku lagi sibuk-sibuknya jungkir balik mengejar guru-guru mata pelajaran produktif. Banyak nilai yang harus dipermak agar terlihat indah di raport.

Pelajaran kewirausahaan, PKN, dan IPS. Butuh perjuangan untuk mem-booking ibu guru mata pelajaran IPS buat jam remidi. Bu Endang namanya.

Bu Endang jual mahal kalau soal nilai. Pelit. Medit. Nyelekit.

Mendekati hari-H ulangan semester, warga SMK Negeri 1 Samarinda rela antri di ruang dewan guru untuk minta remidi. Aku berada di jejalan para siswa siswi yang meminta remidi saat itu.

Ruang dewan guru serasa sesak. Bu Endang serasa artis yang pamornya lagi naik daun. Suasana saat itu serasa di jumpa fans boyband korea. Penuh jeritan, tangisan, histeria.

Ini dunia lain, DUNIA LAIN. Ini bukan duniaku!! Pekikku dalam hati.

Aku nekat menerobos antrean. Lalu menyebutkan namaku di hadapan ibunya dengan lantang. Ibunya ternyata sudah hapal namaku, wajahku, dan kelakuanku di kelas (yang suka tidur di saat penjelasan tentang kurva), beliau mempersilahkanku untuk mengikuti remidi. Adalah suatu kehormatan diingat oleh BU ENDANG.

Nasibku berjalan mulus saat itu. Sangat kontras dengan temanku, Nina Rahmadhani.

Siang bolong tadi, dia beserta pasukannya menyambangi ruang piket, dimana disitu Bu Endang duduk santai.
Dia minta remidi juga, namun apa tanggapan Bu Endang??

"Bu, saya mau remidi IPS bab 1 Bu. Bisa kan?"

"Hah? Opo?! Nda ada remidi-remidian! Ini sudah hari apa toh Ndok. Nda usah ngeja-ngejar Ibu lagi. Ibu CAPEK!!"

Pasukan pun pulang dengan tangan hampa.

Haha, aku ngerasa guru-guru mata pelajaran yang mempunyai "umat remidi" yang banyak itu layaknya artis.Beliau dibaik-baikin, dipijitin biar ngasih nilai tinggi, dikejar kejar, diteleponin.Jadwal mengajar guru-guru "artist wannabe" itu padat. Jam 9 di kelas ini, jam 10 di kelas itu. Minjam jam guru ini, minjam jam guru itu. Merekap ini, merekap itu. Dipuja puji kalau ngasih nilai bagus. Dicaci maki kalau ngasih nilai nyungsep.Sama kayak artis, guru-guru "artist wannabe" dengan segudang materi pelajarannya yang menyulitkan itu juga banyak menuai kontroversi. Kehadirannya menimbulkan berbagai sensasi. Patut disyukuri sih sebenranya, kalau ga ada remidial gini, nilai yang terpajang di raport nanti pasti akan mengenaskan. Apa adanya sekali. Jadi ya jangan dikeselin lah remidi itu.(heeehh padahal benci juga ae ada remidi terus :D) Pusing juga sih harus remidi terus. Harus berhadapan dengan beliau-beliau itu.

Makanya belajar Chaaaaaa, jangan pacaran terus... Huhuhuhu TT

Memang susah ya jadi pelajar yang tak lupa pacar :(

Huuffh, tapi sekarang aku udah lega karena telah mengikuti remidi menuntaskan nilai-nilai tanggungku.Tadi siang juga aku udah ikut ulangan susulan Kewirausahaan. Huuaaah legaaaa.

Tapi belum sampe disitu. Aku masih harus menahan hembusan nafas legaku ini karena tugas tugas makalah menumpuk di sudut pikiranku. Itu harus dituntaskan!

Ada tugas Kewirausahan, Dok. Pus, huaaaah nangis darah segar naah TT

Oia, bentar lagi aku ulangan semester. Doain ya temund-temund moga sukses.

Jauhkan remidi ya tuhan... Ampun aku tak mau remidi again TT

Raportku sudah cantik kok tanpa make-over remidi.. *agakmaksa
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com