Minggu, 20 Maret 2011

Ma, Dia Cantik, Kok Aku Enggak?

Liburan kali ini tetap menyisakan kejenuhan tiada tara.

Bangun tidur, ngulet bentar, nguap sana sini menyebarkan aroma neraka, turun tangga dengan langkah tertatih tatih mengucek ngucek mata, nyungsep ke kamar mandi, mencari secercah harapan dibalik sabun dan shampo serta alat pembersih lainnya.

Pake baju secepat kilat, mengunyah sarapan dengan membabi buta, kembali mengendap ke kamar, membuka laptop, mulai berseluncur ria di dunia maya sampe sore menjelang.

Bosan bosan bosan aku bosan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sampai suatu ketika mata ini berpapasan dengan cermin duduk di sampingku, yang memantulkan bayangan wajahku.
Terlihat jelas disana, sosok cewek kucel kumel berambut sebahu basah habis keramas, tersentum kecut dengan pipi tembem yang mengembang, hidung peseknya kembang kempis dengan alis tipis yang mengernyit.
Itu AKU. AKU YANG JELEK .

Ya, aku jelek. Jika ada yang bilang bahwa manusia ga ada yang sempurna, mungkin aku adalah manusia yang sangat amat tidak sempurna. Apalagi ketika aku menyesal keputusanku yang memangkas rambut panjangku yang mencapai hampir sepinggang. Huhuhuhuhu nyesel bangeettttt. Sekarang, lihat rambutku. Megar kayak singa. Diikat satu kuncir kuda, malah terkesan tomboy. jelek jelek jelek

Aku memang punya kadar kepercayaan diri yang rendah. Setiap jalan di pusat keramaian gitu, aku ngerasa orang orang ngeliat dengan tatapan aneh. Aku iri sama cewe berambut panjang, cewe berhidung mancung, cewe.

Liat liat propict teman-temanku di facebook, iih cantik cantik banget mereka. Pose apapun, berbagai angle
Sedangkan aku? Senyum aja kayak orang lagi ngejen.

Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuu bukan saja bosan karena liburan, aku juga bosan ngeliat mukaku yang gini gini aja. Ga ada perubahan ekstrim. Mancung kek, pipi nya ga tembem cacat gini kek, rambutnya bepanjang kek. Arrrggggghhhhhhhhh X___X

Susah banget ya buat bersyukur itu?? Sampai sekarang teteup aja aku masih ga bisa untuk mensyukuri diriku apa adanya.. Aaaaah LONTONGGGGGG T.T

MA... DIA CANTIK, KOK AKU ENGGAK ???

Hei siapa saja, jawab pertanyaan bodoh ini nah --'
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 18 Maret 2011

Kita Harus Beda, Kiita Ga Boleh Sama, Sayang!

Dimana-mana, yang namanya menjalin hubungan itu harus ada kecocokan. Istilah nya sih, harus ada chemistry. Yakin deh, kalau di antara dua sejoli yang saling memadu kasih satu sama lain ga ada chemistry-nya, dijamin gampang gugur gitu aja.

Berteman butuh chemistry supaya ga berantem mulu, makanan dan lidah butuh chemistry supaya enak terasa, guru dan murid butuh chemistry supaya proses belajar mengajar berjalan dengan lancar, penjual dan pembeli butuh chemistry supaya dagangan cepat laku pembeli memperoleh apa yang diinginkan, semuanya butuh chemistry. Chemistry lagi. CHEMISTRY.
Sama aja kayak pacaran, pacaran juga butuh. Sangat butuh malah.

Ibaratnya chemistry itu makanan pokok semacam nasi atau jagung atau sagu, sumber karbohidrat dalam suatu hubungan lebih-dari-sekedar-teman ( aku tak mau menyebutkannya sebagai hubungan-percintaan, terdengar tidak pantas untuk diucapkan anak yang masih balita sepertiku :D)

Ada yang masih belum paham mengenai chemistry??
Baiklah, aku akan jelaskan dari kehidupan sehari-hariku,
Memahami perihal chemistry adalah hal yang gampang, namun untuk mencapainya, butuh waktu lama.
Di sudut kamar, aku terpekur menekuni buku usang, berisi tentang 27 daftar profil mantan-mantanku beserta penyebab putusnya.
Hah? Pake diabadikan segala ke dalam buku? Sebegitu pentingkah mantan-mantanmu,Cha?
Haha, sebenernya iseng iseng aja sih, buku ini ku buat waktu kelas 2, disaat alay lebay sedang nge-hits-nya. Setiap putusan, aku selalu menulliskannya di buku lecek kucel itu. \
Setelah kubaca lagi, aku hanya bisa ketawa ngakak.
"Bodohnya aku mau pacaran sama ini, mau sama itu..,"

"Iih kok kekanak-kanakkan banget ya",

"Iih cepat banget dapat penggantinya ya, dulu aku macan!"

Komentar-komentar itu meluncur lancar dari bibirku. Haha, aku gila, dalam periode kelas 6 SD-kelas 8 SMP, aku telah memacari sebanyak 27 cowo. Astaga, ternyata aku binal...Ngakak sendiri sambil mukulin bantal.

Chemistry. Penyebab putus paling dominan ya karena ga ada chemistry. 27 cowo yang tercantum di buku itu, sama sekali belum punya chemistry denganku. Tapi itu dulu. Duluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu sekali.
Aku menengok ke hubunganku yang sekarang, hubunganku bersama Nur.
Apakah kami punya chemistry???
Pertanyaan yang belum siap untuk dijawab. Tapi kami udah berusaha menjawabnya tadi malam.
Banyak kesamaan yang terletak pada kami berdua (postingan pasangan sinonim-red), yang seolah olah mengisahkan bahwa Nur adalah wujudku kalau diwujudkan dalam lelaki. Hmm gini, mungkin kalau aku dilahirkan sebagai lelaki, maka yang terwujud adalah Nur. Simple nya sih gitu.
Sifat kami yang rada pengambekkan juga sama! Kalau aku ngambek, aku suka melimpahkan kekesalanku pada orang lain. Ya, yang biasanya dilimpahkan itu cuma bisa diam, menenangkan, menyenangkanku...
Nah, apa yang kulakukan itu akhirnya dilakukan oleh Nur. Dia ngambek, tapi dia butuh aku.
Sama, sama persisssss !!
Cara dia mengungkapkan kemarahannya, cara dia ngambeknya, sama persis denganku.
Aku jadi kelabakan menghadapi "diriku sendiri" tapi dalam wujud orang lain
Kami sama sama egois, sama sama mengedepankan ego masing masing.
Masalah ini kecil, tapi kenapa kok tiba-tiba jadi segede gini ???
Seperti rokok yang mampu menjelma menjadi sebuah kebakaran besar-besaran
Dia sempat menghina bacaan favoritku, yaitu buku psikologi, Huhuhuhu rada kesal eh sebenarnyaa
kami sempat beradu pendapat, kami ngerasa ga cocok lagi, di saat itu aku ngerasa sebentar lagi mimpi gaje aneh menyedihkanku kemarin malam akan menjadi kenyataan. JEDERRRRRRR!!!
Sampai akhirnya..

"Aku ga pengen kita putus cuman masalah beda pendapat sperti ini cha,,"

Aku tergugu. Dia masih mengharapkan hubungan ini lanjut??

"Masih banyak koq cha cowo d.luar sana yg selalu bisa ngerti'in kamu,,
Aku tw kamu jenuh sama hubungan ini,
Jujur cha,,
Aku gk mw aku jadi beban bwt'mu,,
Aku sama miftha cuman teman cha,
Gk usah takut,
Aku ga mungkin nyakitin kamu cha dgn cara kyk gtu,
jujur aku ga ada rasa lg ma dia,,"

Ya memang, masalah kecil bisa jadi besar kalau kami samasama egois. Hal itu udah terbukti tadi malam.
Ku pikir, dua bulan belum nyampe ini akan berakhir. Tapi pada kenyataannya,
Tuhan masih sayang padaku.
Tuhan ga ngebiarin anugerahku itu berpindah tangan. Anugerah terindahku.
Dan akhirnya kami berbaikan ^^

Lalu, setelah pertempuran sengit itu, APA DI ANTARA KAMI ADA CHEMISTRY??
Ku jawab : Iya, ada. Tentu saja ada !
Selamanya akan ada chemistry kalau di antara kami ada yang mau mengalah, ada yang mau berkorban, ada yang mau menjadi 'beda'. Kesamaan kami yang seringkali membuat pencapaian menuju chemistry itu jadi terhambat.
Sama sama kekanak-kanakkan? Sama sama pengen dimanja? Sama sama egois? Sama sama ga mau ngerti?
Gimana caranya mau dapat chemistry??
Iya sih, kecocokan itu selalu diartikan harus sama. Chemistry itu harus sama satu sama lain
Tapi ini lain. Kami ingin beda.

"Kita harus beda, kita ga boleh sama, sayang!"

Nah, jangan artikan macam macam postingan gaje ini ya. Ini yang kumaksudkan sebagai 'BEDA'
Semoga yang ngebacanya bisa ngerti postingan gaje ini ^^
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 17 Maret 2011

Si Pemikir Iri Pada Makhluk Acuh Tak Acuh

"Ah, emang gue pkirin?!"
"I don't care!"
"Terserah aja! Peduli kah!!"

Memang enak sih, melontarkan rentetan kalimat tersebut kalau lagi punya masalah dengan seseorang. Apalagi dengan ekspresi wajah ga tau-tau, mantap dah,. Rasanya tuh enjoy aja, ga terbebani, merasa kuat, merasa benar.
Sebesar apapun masalah yang dihadapi, kelihatannya tuh santai aja untuk dijalanin.
Didiamkan gitu aja, eeeh masalahnya langsung kelar. Nguap gitu aja ga ada bekas.
Enak banget yaaa, hidup tanpa beban.

Seringkali aku iri pada 'orang-orang cuek' itu. Kumpulan makhluk acuh tak acuh.
Bandingkan saja dengan diriku, yang mudah panik cemas khawatir.
Dan PEMIKIR.
Bukannya pemikir dalam pelajaran matematika atau pelajaran memumetkan semacamnya, yang bisa membuatku dikatakan sebagai makhluk jenius, malah mikirin satu masalah yang ga ada ujungnya.
Gak pandang bulu, kecil atau besar, semuanya dipandang rata. Menurutku sama saja, samasama membebankan. Over paranoid.
Parno.
Penakut
Cemen
Apalagi ha'?? Silahkan menudingku sesuka hati


Saat ini, aku lagi ada masalah dengan temanku, Dea.
Memang kelewat sering sih aku bermasalah sama dia, tapi kurasa itu ga berlangsung lama. Habis itu kami berbaikan, seolah olah ga pernah ada masalah.
Tapi yang ini lain..
Di siang itu, pada hari Senin, kami mau ke Perpustakaan Daerah dalam rangka mengerjakan tugas Dokumentasi Perpustakaan. Jannah pertamanya nyeletuk,

"Iih.. di perpustakaan tuh bikin ngantuk kam, be-AC pang disitu.."

Supaya dianggap gaul disitu, buru buru aku menyambung perkataan Jannah barusan,

"Iya eeh.. Jangan lama lama ya disitu tuh, bikin ngantuk eeh.."
Tak disangka tiba tiba Dea langsung membatalkan rencana kami tersebut.
Lalu cepat cepat melenggang pergi mencari angkot bersama Via. Kami (aku, Jannah, Nina) terbengong-bengong dibuatnya.

"Dia ngambek tuh! NGAMBEK!" Kataku sambil berlari tergesa gesa

"Lah, kenapa? Emang kita ada buat salah apa?" Jannah berasumsi

"Omonganmu tadi tu nah, Cha! Dasar gendas!"  Perkataan Nina menyudutkanku.

Kami bertiga mengejar keberadaan Dea.
Di angkot, Dea cuma diam. Sepertinya dia benar-benar marah. Terutama marahnya ke aku.
Aku langsung menyetopkan angkot tepat di depan Perpustakaan Daerah. Aku ingin membuktikan kalau kami bisa 'bergerak' tanpa dia. Selama ini mungkin aku berada di bawah kendali Dea. Segala apapun yang kulakukan harus menunggu keputusan darinya. Dan saatnya, aku meruntuhkan persepsi itu. Mhuahahaahahaha.. dia ngambek ga jadi  ke Pusda, bukan berari kami juga ga jadi ke Pusda!!
Ketawa puas dalam hati


Kupikir aku ga bakal kepikiran tentang masalah itu.
Tapi pada kenyataannya, aku jadi mumet sepanjang hari.
Nempel terus di memori otak. Perasaan bersalah menghantui. Sampe sampe dia aja ga sudi buat balas smsku. Huhuhuhuhuhhu PEMIKIR T.T


Hal hal yang terlalu sering dijadikan bahan pikiran ternyata bisa kebawa ke alam mimpi.
Contohnya seperti inni, aku mimpi kalau Miftha (cewek yang dulu disukai Nur yang bikin Nur jumplaitan mengejar cintanya Miftha) berhubungan lagi dengan Nur. Mereka dekat, semakin dekat, merapat, dan lama lama jadian.
Nur mencampakkanku, memilih bersama Miftha selamanya uwowowowowoo. Iiiih jangan sampe daah

Lagi lagi aku  jadi pemikir. Hampir aja aku mau nyeritain mimpi gaje aneh menyedihkan ini ke Nur, tapi takutnya ntar yang ada dia malah ketawa ngakak pas dengernya. Huhuhuhuhu X___X

Jadi, pantas saja kan kalau aku iri pada makhluk makhluk acuh tak acuh ??
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Cedera Akhlak+Cedera Bibir= CRAZIEST

Baru aja sembuh dari cedera otak, eeeh bukan cedera otak beneran sih. Maksudnya tuh gini, cedera otak yang kumaksudkan itu ya keabnormalan cara berpikirku dalam memandang kehidupan. Mungkin lebih tepatnya gini, kegilaanku dalam menjalankan aktivitas sehari hari.. Sudah tak terhitung orang orang di luar sana mengatakan bahwa aku gila, gokil, aneh, freak, berani mati. Apa aku bangga? Tentu saja tidak.

Kesembuhan dari cedera otak ini, oh mungkin lebih tepatnya disebut cedera akhlak, karena libur panjang dalam rangka penyelenggaraan UAS bagi siswa-siswi SMK. Keeksisan cedera akhlakku hanya berlaku di lingkungan sekolah. Ya kalau dirumah sih aku masih menjaga supaya cedera akhlak ini tidak kambuh pada tempatnya. Ya biasalah, namanya juga anak muda yang tengah mencari jati diri. Semua jenis kepribadian wajib dicicipi.

Dan voilaaaaa...!! Sekarang, lihatlah cermin besar di depanmu, Cha!

Pandangi bayanganmu yang terpantul disana, telisiklah dirimu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Apakah ada yang mencolok? Ada yang berbeda dari biasanya?

Kujawab: ADA

Yaitu: Bibir bengkak membiru dengan darah setengah mengering

Aku meringis tanda kesakitan, sambil mengusap usap bibir sexy dan (kata orang) memble.

Ini semua terjadi gara gara aku tadi mau naik ke kamarku.Berhubung rumah bagian depanku sedang dalam proses perombakan, jadi ya terpaksa sepanjang hari aku harus mendem di kamarku yang pengap. Aku membawa makanan dan minuman ke kamarku. Agak berat sih, apalagi pas mau naiki anak tangganya.

Pas aku menaiki anak tangga yang ke-5 kalau ga salah, eeh tiba tiba aku terantuk, tersandung..
Dan bisa sangat mudah ditebak, bibirku menghantam anak tangga yang entah keberapa, kepalaku pun tak luput dari hantaman, menghasilkan darah segar yang mengucur deras dan kepala benjol  berseni  tinggi.

"Aww! Nur!"

Ngerasa lagi ngigau, aku memanggil nama itu sambil tetap merintih kesakitan.

Untung aja ga ada yang sempat mendengar jeritanku barusan. Bisa diolokkin aku.

Cepat cepat kutuntaskan ritual makanku dengan bibir perih ini, lalu menghadap ke cermin besar.

Cenat cenut rasanya eeeeh. Aku jadi keingatan Ainun, yang dulu pernah cedera bibir seperti ini waktu praktek lompat tinggi. Bangga banget kayaknya dia, memamerkan bibirnya yang luka itu ke teman-teman yang lewat. Hohoho

Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihh seremmmmmmm

Apa salahku Ya Allah?

Setelah sembuh total dari cedera akhlak (yang dipastikan bakal kambuh lagi kalau sudah turun sekolah kemudian bertemu dengan teman sepermainan), engkau menurunkan sebuah cedera terbaru, yaitu CEDERA BIBIR?

Apa salah BIBIRKU Ya Allah?

Apa salah anak tangga lotengku Ya Allah?

Apa salah... permisi, aku mau shalat taubat dulu
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 13 Maret 2011

M
ATEMATIKA atau MATIMATIKA(H) ?
asih tetap tekun menatap lembaran soal ulangan harian, masih tetap mencoba memadati kertas coretan lecek dengan penuh angka dan garis garis tak menentu, masih tetap memutar otak menggigit bibir, masih tetap mencoba melirik kiri kanan bergerilya mencari secercah pertolongan, masih tetap merapalkan doa makan (hah?). Masih tetap saja lembar jawaban ini bolong bolong. Bego. Bego. Oh begoooo….

Hari Sabtu ini, aku kena remidi ulangan matematika. Seperti biasa. Padahal minggu kemarin pas ulangan, aku dapat nilai 85 loh. Nah sekarang malah remidi. Mungkin waktu itu dapat nilai 85 itu, Tuhan khilaf memberiku nilai. Astagpirullah Chaa, Tuhan itu Maha Benar, mana mungkin khilaf (baru  ingat kalau nilai agama islam serta akhlak saya mengenaskan, astagpirullah ampuni hamba ya allah)

Sebenarnya aku udah ga kaget lagi sih kalau aku langganan remidi matematika. Ku akui, aku memang ga tertarik dengan pelajaran hitung menghitung itu. Menurutku matematika itu penting sih, tapi kenapa aku ngerasa aku bukan orang penting yang terjun  ke dalam dunia matematika (apa jah?). Dari SMP sih nilai matematikaku memang hobi nyungsep ke deretan angka merah. Nilai matematika di UAN aja 4, 95. Bandingkan dengan bahasa inggris di UAN 8,00. Nah, kalau bahasa inggris tuh lain lagi. Dari SD aku memang excited sama pelajaran bahasa inggris. Bahasa inggris tuh fleksibel, seru, ga ribet, ga musti menghapal rumus tepuntal tepelilit kayak matematika gitu tuh. Bahasa inggris tuh bikin penasaran, seru. Ada kepuasan tersendiri kalau udah bisa speaking dengan aksen british. Lah kalau matematika? Memecahkan soal dengan rumus yang seabrek?  Cenat cenut kepalaku.

Apa yang terjadi denganALJABAR? Bagaimana kelanjutan kisah cinta MATRIKS dan GEOMETRI selanjutnya? Akankah KALKULUS dapat kembali ke pangkuan orangtuanya? Dimana BANGUN DATAR itu berada sekarang? Kapan LOGARITMA dapat bersekolah kembali?
Memang sama sekali ga nyambung, tapi pertanyaan pertanyaan itu sering menggema di saat Bu Yayuk menjelaskan pelajaran. Bukannya berusaha untuk tahu jawaban dari soal matematika dengan memakai rumus, eeh malah bertanya ngelantur. Lebih mirip sinopsis sinetron daripada materi pelajaran matematika :D

Ada rasa iri sih sama orang orang yang pintar matematika. Contohnya kayak Nina dan Dea, sahabatku. Mereka dengan simplenya menuntaskan soal matematika. Aku ngerasa begooo banget. Kata Nina, aku ni anaknya sebenarnya pinter, tapi bukan di bidang matematika. Aku juga sebeneranya bisa kok pintar matematika, Cuma ya sering sering aja latihan ngerjakan soal, jangan ngelamun terus pas Bu Yayuk menjelaskan. Aku hanya manggut-manggut pas Nina berpetuah. Yaa Nin, andaikan Tuhan mengizinkanku supaya pintar matematika, udah dari dulu kalii aku jadi Master of Math. Tapi sayangnya Tuhan Yang Maha Kuasa tidak mengizinkanku. Bagaimana Nin? Aku harus berbuat apa? (yee bilang aja kalau males belajar matematika)

Kalau dipikir pikir, jika kemalasan dan kebutaanku terhadap rumus rumus matematika ini dibiarkan berlarut-larut, aku nya juga yang rugi. Remidi mulu, menjadi orang-orang keterbelakangan otak (ingat, bukan keterbelakangan mental) rumus, dan yang paling parahnya lagi, aku bisa-bisa ga lulus sekolah gara-gara nilai matematika terpeleset (terjerembab lebih tepatnya)

OH TIDAAAKKK!! Aku harus bertindak, aku  tak boleh diam saja. Reputasiku bisa turun gara-gara pelajaran mematikan tersebut !!

Apa aku harus membaca tumpukan buku kiat-kiat mengerjakan cepat soal matematika? Boro boro ngebacanya, ngebayanginnya aja udah ga ada birahi. Setiap berpapasan dengan buku buku matematika yang tengah tergeletak tak berdaya di depanku, aku berusaha untuk membukanya lalu menyerapnya. Tapi bagiku, isi dari buku matematika itu ga ku mengerti. Rumus rumus itu seolah menjelma menjadi huruf sansekerta. Sulit dibaca. Dan guru  yang menjelaskan kepadaku, seperti orangyang sedang membaca rangkaian istigfhar. Bikin nangis tiap dengernya.
Atau.. apakah aku harus mengunyah kertas kertas catatan matematika itu, berharap semoga kandungan zat protein kerbohidrat vitamin rumusnya dapat memberi nutrisi pada otak lemotku ? Oh, kurasa itu terlalu ekstrim untuk dilakukan anak dibawah umur sepertiku.

Belajar. Belajar Matematika. Belajar Matematika setiap hari.  Satusatunya cara untuk bisa memahami pelajaran ini. Belajar mencintai matematika secara tulus. Dan mempertahankan rasa cinta itu selamanya J
*sekian dan terimakasih
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 10 Maret 2011

Bussy Ini Bussy Itu Lalu Basiii --'

Hari rabu, hari kamis, dan hari jumat ini, rasanya kayak hukuman pancung dari diri sendiri buat diri sendiri deh.

Serasa jadi makhluk tersibuk didunia, dan ter'shiittt' di dunia.

Dimulai dari ke'bussy'an pertama, aku yang udah capek capek komat kamit merapalkan puisi buat ujian praktek sastra kelas 3 nya, eeh sekalinya jasaku belum bisa dipake. Ivonny dan Shanti yang 'bekerja' di hari rabu itu di depan anak anak kelas 3 yang tengah menderita. Pas latihan di pojokan kelas bareng Nina, udah total ni gaya dan penghayatanku. Lah lah tanpa sengaja (hah? bilang aja sengaja) aku menyenggol (lebih tepatnya sih menendang) vas bunga yang tak berdosa.. Jedar jederr...!!! Aku jumplaitan kesana kemari, makin gugup aja takut ketahuan kepala suku yang namanya Jannah. gulang guling nempel ke satu dinding ke dinding lain, huhuhuhu shiittt :( Untung aja Jannah masih punya hati yang besar dan tentu saja badan yang besar,dia mau mengampuni dosaku yang telah menganiaya vas bunga tersebut. Jannah, mmuaaach :*

Ke'bussy'an kedua, aku sama Nina turun les executive, yah sejenis les bahasa inggris gitu deh. Ketika ujian listening sedang berlangsung, pertamanya anteng anteng aja sih. Aku pintar. Aku hebat. Aku pintar. Aku hebat. Aku cantik. Semboyan berani mati itu kuucapkan dengan penuh khidmat, sambil sok sok fokus mendengarkan soal yang bergema di earphone.

Lama kelamaan suaranya tenggelam, lalu hilang. Kutunggu satu menit, tuh mbak-mbak dan bapak-bapak dalam earphone nya belum nongol nongol juga nyuapin soal buat aku. Aku menoleh ke arah Nina, dia terlihat sangat berkeyakinan kuat mengerjakan soal. Aku menghadap ke kabin depan. Ah anak SMP toh, pasti dia juga kebingungan sama kayak aku. Mhuahahauahaauahauahaua rasain kau, anak kecil ! Oh tapi tidak, dia tersenyum puas disana, menganggukan kepala trus menulis di text book-nya. Pandanganku teralih ke text book-ku. Bolong bolong.

Astaga, baru kusadari ternyata earphone tuh agak agak e'o gitu nah, pas aku pencet tombolnya demi memunculkan suaranya, eeh eh malah loncat soalnya gitu. Dari soal no 35 jadi ke 42. Huaaaaa nangis iler dah T.T

Ke'bussy'an ketiga, kamis ini. Pagi pagi aku (akhirnya) disuruh buat baca puisi di kelas XII AK-3. Bedua sama Ivonny gitu. Grogi eh aku.

Anak anak kelas 3 nya tuh beragam dah cara menyimak deklamasi puisiku. Ada yang tegaaaaang banget kayaknya sampe produksi iler gitu, ada yang cekakak-cekikik, ada yang menimpali, ada yang senyam senyum najong. Makasih buat Kakak berkacamata gatau tuh namanya siapa. iih keren banget dia menyimaknya so sweet dah.

Trus lompat ke kelas XII AK 2, whuaahahaha disana ribut abis eh. Mereka tuh mau praktek seni budaya juga, musikalisasi puisi. Disana sini bergelimpangan berbagai properti yang akan digunakan dalam ujian praktek teaterikal musikalisasi puisi. Nama nama kelompoknya tiap kelas juga aneh ajaib gitu. Anak Abah, Bismillahirahmanirahim, Primadona, Cenat Cenut, Ciluk Ba, FS Alaycum, pokoknya aneh nyeleneh.
Back to main topic, nah pas di XII AK 2 tuh, anak anaknya ya sibuk sendiri gitu nah. Aga akit eh karena ga ada yang merhatikan , huhuhuhu :(

Di sesi kedua, aku berpapasan dengan kakakelas bernama Ka Iskandar. Dia tuh temannya Nur. kami ngobrola di belakang pintu, di dinding dinding kelas. Ketika aku masuk, Ka Iskandar duduk di pojokkan. Ketawa ketiwi memegang hapenya. Oh oh jangan abadikan aku Ka, pintaku berbisik, meski aku tau dia tak mungkin mendengarnya. :(

Ada anak kelas 3 yang nyamperin aku, dia nyuruh aku buat ngasih contoh baca puisi yang benar., minta ajarin aku baca puisi yang bagus tuh kayakmana. Soalnya waktu itu kakakelas tersebut (gatau siapa namanya) mau ujian praktek seni budaya. Puisi berjudul "Waktu Kecil" itu ku bacakan dengan suara lirih, habisnya puisinya menyayat gitu nah, sedihh. Hoho agak bangga aku dijadikan guru dadakan. entah karena terpukau atau ngerasa aneh dengan penampilanku, dia memberikan standing applause serta ucapan terimakasih. Ka, seharusnya aku yang berterimakasih, karena diperbolehkan membaca puisi agung itu. Karena kakak telah memilih aku sebagai guru dadakan kakak.. Semoga kakaknya ga terserang sembelit habis ngedengar suara bergetar ku yang mirip erangan sapi hendak kurban itu. Amin.

Ke'bussy'an ketiga.. Ooh my god, di hari jumat ini, sibuuuuuuuuuuuuk banget. Pagi pagi jam setengah delapan, aku dan Ivonny udah dipanggil yang terhormat (ingat, bukan yang MAHA KUASA) Bu Aida untuk kembali membacakan puisi, di kelas XII AP 2. Uups, disana kan kelasnya Ka Sumi dan Ka Nita. Mereka itu adalah anak teater melati, pembimbingku gitu. Mereka manggil aku dengan sebutan PIPI BURIT karena ukuran pipiku yang sangat eksotis (ngarepppp) serta tidak wajar. Aku diperlakukan kayak budak rakyat jelata gitu dah eh, mentang mentang aku ni baru kelas 1. Membagikan kertas soal, diketawain, diolok, huhhuhu tragis. Tapi kalau Ka Sumi Ka Nita sih, ya enggak. Mereka negur aku kok, tetap aja manggilnya PIPI BURIT, :D

Cuma ya aku agak minder aja jadinya, secara mereka anak seni asli senior pula. Pasti mereka mikirnya penampilanku baca puisi tadi sangat sangat jauh dari standard :(((
Beralih ke kelas XII MK 2. Cenat cenut jantungku, berpikiran bahwa resiko malu dan dilolokin bakal jadi berlipat ganda jika aku baca puisi di kelas marketing. Anak anak marketing tuh terkenal akan kebadungannya yang melalang buana sampai ke telinga jurusan jurusan lain. Semangatku ga boleh luntur hanya karena kabar burung itu. Haa!!!!

Sudah ada Mismur (astagpirullah) yang telah menunggu kedatanganku. Aku membaca puisi sebanyak tiga kali. Huufhh,, sudah terbiasa aku mendengar cercaan dari warga kelas. Jadi aku santai aja berusaha menahan malu.

Pas aku baca yang bagian.. " Sepanjang jalan Indonesia," ada yang ngolokin " Sepanjang jalan menuju kantin, aku melihatmu buleeeee" atau pas bagian "matamu! sini tak hajar!" ada yang sok sok kesakitan sambil memegang kedua kelopak matanya, trus pas aku baca yang bagian.. " Siapa melipat?" , anak kelas tiga yang tengah tekun menulis langsung terperanjat lalu beristigfhar nyaring nyaring. Yo olloh, waktu keluar kelas itu aja, aku diolokkin, di suruh baca lagii. Ampyunn

Kelar kelar kelar ya allah.. aku ngebet cepet cepet belajar matematika, karena sebentar lagi akan diadakan ulangan harian. Mengingat bahwa aku lemah tak berdaya dalam hal hitung-hitungan, aku segera memanggil Nina. Lebih tepatnya, Nina Baik. Lebih tepatnya lagi, Nina Baik Cantik. Dan lebih tepatnya lagi, Nina Baik Cantik Soleha. Sayang sekali, itu semua cuma bohong.

Ya elaah sekalinya,a kau dipanggil sama Bu Sri untuk ikut debat bahsa inggris harian. whatzz? panggilan lagi?
Ada apa denganku? tanpa ba-bi-bu-be-bo lagi, aku pergi ke lab bahasa inggris. Sesampainya disana, aku lansung disuruh duduk mengikuti debat. Lihat kanan kiri, semua pegang note dan pulpen. Di samping mereka ada kamus tebal. Lah aku??? Cuma bawa baju yang menempel di badan, handphone, dan kentut.

Sempat terbingung bingung sendri, maju satu satu gitu nah terus menyampaikan referensinya ke depan. Aku berpikir, apa yang mau kusampaikan? pulpen aja aku ga bawa! aku berdoa komat kamit moga ga kena giliran. Rencananya sih aku akan menyampaikan.. " Ladies and gentelman, uhh i'm here. My name is Hairunnisa. I'm so sorry for you all. Because i don't have a reference today. Because Mrs. Sri suddenly called me. I hope you can forgive me. Thanks." Hahaa Tuhan memang baik, giliranku ternyata besok. Wuowowowow senengnyaa

Itulah bussy bussy'an ku di tiga hari ini. Lama lama bisa jadi basi deh ya, ckckckck
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 08 Maret 2011

Andaikan Bisa Berguru Pada Orang Mati

Entah apa yang ada di pikiran Bu Nuraida, atau yang biasa kami (anak-anak SMK Negeri 1 Samarinda) panggil Bu Ida. Setelah mengamanatkan Ivonny untuk menjadi 'model' atawa pembaca puisi pada ujian praktek sastra tanggal 09 Maret 2011 nanti, eeh ibunya memanggilku untuk ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan ujian sastra itu.

Bingung ngebacanya? Gini loh, anak kelas 3 nya tuh kan lagi musim-musimnya ujian tertulis dan ujian ujian praktek gitu (bweee kesian deh loe para kelas 3 :p). Nah, tanggal 09 Maret nanti, anak-anak kelas 3 dari berbagai jurusan di SMKN 1 akan menjalankan ujian praktek dalam pelajaran seni sastra dan teater. Seluruh jurusan bo, yaitu Akuatnsi, Administrasi Perkantoran, Marketing,Multimedia, Usaha Perjalanan Wisata, dan Teknologi Jaringan dan Komunikasi.. Wew, kebayang deh malunya. Pertamanya sih Ivonny yang ditunjuk buat membacakan puisi di depan anak-anak kelas 3 yang tengah ujian, trus mereka akan menilai dan mngerjakan soal soal yang berkaitan dengan puisi yang telah dibacakan tersebut. Lah lah lah ternyata, Ibu Aida ngasih amanat ke aku buat merapalkan puisi itu, terjun ke dunia sastra (ceilaaaah) with Ivonny. Kata Bu Aida sih, waktu pas aku baca puisi judulnya "Ayah" (karyaku sendiri looooohhhh, haha sombongnyaaa:D), aku bagus dalam membawakannya. Jadi ya beliau mempercayakan puisi itu kepadaku. Hihhihihihi, tingkat kepedeanku naik 99% ^^

Setelah mencatat puisi tersebut, aku membacanya perlahan lahan. Dimanapun aku berada, orang-orang akan menemuiku yang tengah memegang kertas lecek berisi puisi tersebut. Aduh aduh, sumpah deh, aku agak mandek gimana cara ngebacanya, gimana cara menghayatinya. Penasaran seperti apa puisinya??
Berikut sepenggal puisi yang berjudul "Sepanjang Jalan Indonesia"



SEPANJANG JALAN INDONESIA
Karya: Nanang Suriadi


"sepanjang jalan Indonesia, buku buku terbakar,
wartawan terbunuh, tentara terbunuuh, mahasiswa terbunuh,
orang-orang terbunuh, sia-sia..."

sia-sia? tak kau tahu siapa yang menurunkan siapa,
siapa menaikkan siapa. jangan macam-macam bicara.
kambing hitam kau namanya.

"sepanjang jalan Indonesia, sepanjang sejarah hitam,
sepanjang darah tercecer. catatkan namamu pada halaman-
halaman yang terlipat.."

siapa melipat? jangan bicara tanpa fakta. provokator kamu !

"sepanjang jalan Indonesia, dihadang kapak merah,
dihadang preman politik, dihadang calo kekuasaan.."

matamu! sini tak hajar! kamu tahu siapa di belakangku?
hitung, berani ngomong lagi?
aku bakar rumahmu, aku...prek!

"sepanjang jalan Indonesia, sepanjang sunyi, puisi-puisi sepi.."
nah, begitu baru puisi !

Sumpah, susah bengettttz untuk menghayati isi puisinya. Puisi ini memerlukan suara nge bass dan emosi yang tinggi. Aku udah pernah mencoba membacakan puisi ini di depan Bu Aida.

Kata Bu Aida..

"Hairunnisa, suaramu sangat melankolis ya, cempreng gitu. Terus kalau nadanya meninggi, malah jadi melengking gitu. Kamu ga bisa marah ya orangnya? Emosimu kurang di bait 2 4, dan 6 ini ,Nisaaa, kamu harus kelihatan marah."

Mendengar kritikan itu, mau terjun ke jurang rasanya, terus mati, lalu dihidupkan kembali  menjadi orang baru. Yang suaranya ga cempreng dan ga melankolis.
Berullang kali aku latihan, membentuk suara 'berat'. Ga mungkin kan aku harus menaroh tumpukan batu bata di leherku, supaya suaraku menjadi berat total. Ga mungkin juga kau harus menenggak es es sari manis penyebab batuk. Satu-satunya jalan adalah dengan menggunakan pernafasan perut. Dengan nafasku yang pas-pasan dan cenderung pendek, kecuali di saat buang angin, aku berusaha membaca puisi dengan suara yang diberat-beratkan. Bu, saya gak sanggup BUUUUUUU...

Sudah ku coba berlatih di depan cermin lemari pakaian. Yak, ekspresi udah dapet.

Sudah ku coba merekam suaraku ketika membaca puisinya  Tetap cempreng. Tetap melengking :(

Iseng iseng aku buka Youtube, terus aku lihat video deklamasi puisi dari W. S. Rendra. Wow wow wow.. aku berdecak kagum, tepuk tangan sendiri memandang layar laptop. Hebat banget ni Om Rendra (sok akrab benget ya manggilnya OM), cukup dengan berdiri diam terpaku. semua penonton menyaksikan dengan tegang, gemetar. Om Rendra ga perlu berjumplaitan ke sana ke mari demi menarik perhatian penonton. Cukup dengan gerakan tangan yang melambai, dan mata yang seolah berbicara, penonton jadi terhipnotis.

Lalu aku menemukan ini... :

Budayawan dan penyair kelahiran Solo, 7 November 1935 bernama WS Rendra meninggal dunia dalam usia 74 tahun pada Kamis sekitar pukul 21:30 WIB setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok Jawa Barat.Penyair yang sering dijuluki sebagai "Si Burung Merak" itu sempat dibawa pulang ke rumah Kompleks Pesona Kayangan Depok.Namun WS Rendra yang mengidap komplikasi penyakit harus dirawat lagi di RS Mitra Keluarga Depok.
Lalu, Kahlil Gibran adalah seorang sastrawan perantauan (Mahjar)Ia la Kahlil Gibran meninggal dunia tepat pada tanggal 10 April 1931 jam 11 malam. Ia menderita penyakit sirosis hati dan TBC, tapi ia selalu menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir ia hidup, Kahlil Gibran dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village. Jenazah Gibran kemudian dimakamkan pada tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana ia pernah beribadah di sana. Ia lahir pada tanggal 6 Januari 1883.

Tokoh tokoh itu jadi panutanku, jadi alasanku untuk gigih berjuang di dunia seni.

Aku pengen banget berguru kepada mereka.Aku pengen tau kiat-kiat menulis puisi yang menggugah hati dari Opa Kahlil Gibran. Aku pengen belajar cara ampuh deklamasi puisi yang bisa bikin penonton gemetaran dari Om Rendra. pengen banget :*

Aku pengen banget jadi penyair profesional, selama ini aku biasanya cuma baca puisi sedih mewek aja. 

Nah, aku pengen aku bisa baca deklamasi segala macam puisi gitu deh *amin amin

Sayangnya, mereka sudah wafat, telah tiada. Andaikan aja aku bisa berguru pada mereka, huhuhuhuhuhuhuhu :((((

Sekarang, harapanku cuma satu. Semoga aja aku bisa mendeklamasikan puisi tersebut di hari  Rabu nanti. Aku gamau aah ngecewain Bu Aida. Aku mau buktiin kalau aku tuh 'orang seni beneran' :)

OM RENDRAAAAAAAAAAAAAAA

OPA KAHLIL GIBRANNNNNN.

Berkati aku :)
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 06 Maret 2011

Sejarah Lahirnya Pasangan Sinonim

Pernah ga kalian terpikir untuk bertemu lalu menjalin hubungan lebih dari sekedar teman a.k.a pacaran dengan seorang makhluk adam. yang sifatnya miriiiiiipp banget sama kamu? Bahkan mulai dari hobi kamu yang sama dengan dia, makanan favorit yang sama, sampai kebiasaan kecilmu itu pun samaaaaaaaa dengan apa yang sering kamu lakuin.
Mungkin kalian akan menjawab “Ga pernah kepikiran Cha”
Ya, aku sendiri pun pasti akan menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban ga-pernah-kepikiran itu. Karena ga pernah terlintas deh pikiran punya pacar yang tindak-tanduk nya mirip banget sama aku.
Namun pada kenyataannya, semesta mempertemukanku dengan hal yang tidak pernah terpikir tersebut.
Berawal dari seorang teman. Temanku tuh namanya Dea. Dea tuh punya sepupu namanya Deni, yang tinggal serumah dengan Dea. Aku yang hobi ke rumah Dea buat ngerjain peer atau sekedar bergosip ria, otomatis sering ngeliat Deni. Kebetulan juga teman-teman sekelas Deni tuh juga sering ke rumah. Nah, salah satu temannya Deni tuh ada yang namanya Bayu. Dea tuh mau nyomblangin aku dengan si Bayu itu. Kami memang udah pernah ketemu waktu aku ke rumahnya Dea, tapi dia aja tuh yang lupa (atau pura-pura lupa kali yaa?) kalau kami pernah ketemu. Maka, Dea pun merancang acara pertemuan kami berdua, antara aku dan Bayu. Bertempat di rumah Dea, pulangan sekolah.
Sesampainya di rumah Dea, bubuhan SMK 13 Penerbangan (sekolah Deni) telah berkumpul di teras rumah. Aku tergugu, diam sebentar, gugup. Aku dan Dea langsung masuk ke dalam rumah. Ternyata Bayu ada di salah satu tumpukan cowo cowo itu. Banyak eh bubuhan Deni. Bayu menyuruhku untuk keluar. Ya jelas lah aku ga mau. Wong disitu cowonya bejibun. Lantas, karena merasa dikacangin disitu, aku pamit kepada Dea. Aku memutuskan untuk pulang, Dengan baik hatinya Dea berniat mengantarkanku sampai ke depan gang.
Di tengah perjalananku dan Dea menuju depan gang, tiba-tiba kami dikejutkan oleh teman Deni yang mencegat dengan motornya.Aku kira itu Bayu, eeh ternyata bukan. Dia menawarkanku untuk ngantarin aku pulang, sekalian juga dia mau latihan paskib. Dea langsung mengiyakan ajakan itu. Aku gelagapan gugup bingung, sementara Dea hanya mengedipkan sebelah matanya, meminta supaya aku ga nolak tawarannya. Aku langsung naik ke motor cowo itu. Padahal di saat itu, Bayu juga mau ngantarin aku pulang, sayangnya motornya mogok pada saat itu. 
Dia ngantarin aku sampai depan rumah. Kami ga ada saling bicara selama di perjalanan. hanya bertukar senyum satu sama lain. Bahkan, aku ga sempat nanya siapa namanya. Cuman sesekali dia ngelucu sedikit dengan nunjuk pos ronda sebagai rumahku -_- Sampai suatu ketika Dea ngasih tau nama cowo itu. Muhammad Noor.
Lama kelamaan, aku jadi akrab dengan Noor, aaah Nur aja dah. Kami sering smsan, sering juga ngobrol meski masih malu-malu bin terbata-bata. Obrolan kami pun hanya seputar sekolah, hobi, keluarga. Yang lama-lama merembet ke masalah percintaanku yang complicated, bersama Indra. Yaa, waktu aku kenalan sama Nur, aku masih berstatus sebagai pacarnya Indra. Aku ngerasa enjoy aja curhat semua masalahku ke Nur. Dia asik, nyambung, dan bisa bikin aku ketawa lepas lupa segalanya. Lelaki yang baik hati dan menyenangkan, pikirku waktu itu mengenai dia
Sampai akhirnya Dea bilang  ke aku kalau Nur tuh mau berusaha ngejauhin aku. Dan aku juga harus ngejauhin dia. Aku seolah tertohok mendengar pernyataan itu. Ada apa ini? Apa salahku ke dia? Apa dia ga mau temanan sama aku lagi? Lalu Dea menjelaskan bahwa Nur tuh cuma ga mau ganggu hubunganku dengan Indra. Aku kaget. Dan yang lebih kagetnya lagi.. Nur itu suka sama aku!
Bukan maksudku untuk kepedean plus ke-GR-an, tapi pas hari Kamis tuh (aku lupa tanggal berapa) aku jalan bareng sama dia. Di tengah gelapnya ruangan Cinema 21, aku bersandar di bahunya. Dia megang tanganku dan bilang tiga kata sakral "aku sayang kamu". Di saat itu aku ngerasa omongan Dea bener banget. Tapi sekali lagi, aku berusaha menepis prasangka aneh itu. Mana mungkin dia suka sama cewe bulukan kayak aku. Keanehan semesta itu namanya.
Tepat di malam minggu, aku putusan sama Indra. Penyebabnya ga jelas, gara-gara cemburu buta sama sahabatku namanya Rudi. Perasaanku kalut campur aduk. Aku menangis sesenggukan ketika ditanyai Nur. Aku menceritakan semua itu dengan airmata yang berlinang tak tertahan. Dia mengusap airmataku dengan tangannya. Damai rasanya... Agak sedikit amnesia dengan kesedihanku.
Dan tralalalalalala trilililililili.. pada hari senin, dia nembak aku di depan rumahnya  Dea. pake direkam segala lagi sama bubuhannya tuh, ckckck apa kada shock. Aku terima, dan aku berhubungan lebih dari sekedar teman sama dia sekarang. Terus dia ngasih aku boneka teddy bear pink. Aku gak nyangka itu buat aku. Padahal waktu hari minggu, kan dia udah bawa-bawa kado itu sama Wiwid juga. Pas ku tanya, eeh dia bilang itu kado dari Wiwid buat cewenya Wiwid. Sempat kagum sam Wiwid eeh, and sirik juga sama cewenya Wiwid gitu. Sampe ku peluk peluk tuh kado, sambil berandai-andai. Eeh ternyata itu buat aku... Ckckckck. hanya bisa senyam senyum jalan menuju pulang sambil membawa kado.
Itulah sejarah atau bisa disebut juga riwayat pasangan sinonim. Pasangan  sinonim?
Banyak yang menjadi dasar lahirnya pasangan sinonim. Dari pertama aku kenal dia, persamaan pertama yang kutemukan adalah... KAMI SAMASAMA HOBI DIFOTO.. Di fb, banyak foto-foto gajenya. Kebiasaan di setiap saat selalu dijepret, ternyata juga merupakan kebiasaannya. Aku jadi ngakak sendiri setiap liat foto-foto nya yang super narsis gaje pula itu.
Kesinoniman kami selanjutnya adalah:
  • Sama-sama ga suka pelajaran matematika, fisika, kimia, pokoknya yang berhubungan dengan hitung-menghitung gitu deh, dan kami sama-sama suka pelajaran Bahasa Inggris
  • Sama-sama suka lagunya Shania Twain-You're Still One. Lagu-lagu mancanegara adalah segalanya bagi kami
  • Sama-sama mengidap penyakit maag
  • Sama-sama suka mie ayam
  • Sama-sama tipe orang yang moody-an, tapi kayaknya masih parahan aku deh. Maklum, namanya juga cewek.
  • Sama-sama suka bikin video gaje, dan gila poto
  • Samasama suka salting kalau ketemu orang baru, cenderung malu-malu kucing gitu
  • Samasama hobi tidur di kelas, bahkan dimanapun berada
  • Samasama lebih percaya sahabat daripada pacar
Hahaha.. apakah kami terlihat sangat bersinonim ?
Aku jadi ngerasa, aku seperti melihat 'diriku' dalam bentuk lelaki. Kata Nina, ini unik, dan aku harus pertahanin.
Aku harap,pasangan sinonim akan berjaya selamanya. Amin.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Dengan Betis Kuat Nan Seksi

 D
engan betis yang kuat nan seksi
i hari Minggu kali ini, 27 February 2011, adalah hari yang gak biasa buatku. Pagi pagi buta, aku udah dikejutkan dengan telepon dari Dea Kusuma Wardhani, sahabat kentalku, yang dengan setianya membangunkanku. Jiaaaah.. aku baru ingat kalau hari ini ada acara Car Free Day di GOR  Segiri, dimana setiap siswa diharuskan dating ke GOR dan melakukan kegiatan olahraga apa saja. Whats? OLAHRAGA? Olalaaaa, aku sama sekali gak suka olahraga. Apapun jenis olahraganya, aku tetap ga berminat. Olahraga itu bikin capek aja, mendingan baca novel deeeh. Kira-kira begitu yang ada di pikiranku mengenai olahraga.
Jam 05.30, Dea tiba di rumahku. Kami pun berangkat menggunakan angkot. Apa daya, salah satu dari kami gak ada yang bisa naik motor, eeh kalau naiknya sih bisa aja. Nah maksudnya tuh kami ga bisa mengendarai serta mengoperasikan motor. Sungguh menyedihkan.
Setelah sampai di GOR Segiri, aku dan Dea serasa berada di dunia lain. Orang-orang bergerak dengan hiperaktif. Mengejar sana sini bola, senam, main sepeda, berteriak menjajakan makanan, memukul gumpalan bulu ayam (baca: shuttle kock). OH TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK, ini dunia lain, ini bukan duniakuuuu.. Jeritku di tengah keramaian.
Jam 09.30, kami pun pulang. Hasrat ingin ngeluyurku pun membuncah. Maka, ku putuskan untuk ikut Dina dan Chintya ke  Gramedia. Dea juga ikut. Horeeee horeeee…. :D
Jeder jederrrrr… Ternyata M. Noor, cowoku itu lagi sakit tifus. Agak terkejut aku eh. Padahal tadi malama ku baru aja ketemu dia. Dea pun mengusulkan kalau kami ke rumahnya aja sekarang, habis pulang dari Gramed ini. Usul yang bagus, usul yang brilian.. Lah tapi, mau naik apa kesananya? Kalau naik angkot, kami harus berjalan jauh lagi untuk mencapai rumahnya. Turun depan kuburan Muslimin, terus jalaaaaaaaaaaaaaaaaan lurus ngelewatin PLN, terus masuk ke jalan M. Said, terus cari gang 3, terus cari rumah pagar warna coklat.  Mikirnya aja udah capek, apalagi kalau sampai dilakukan. Dan kami akhirnya melakukan itu. Mewujudkan khayalanku barusan.
Dengan bermodal nekat, dengan bermodalkan BETIS  YANG KUAT NAN SEKSI, kami berjalan kaki menyusuri jalanan sambil dengerin lagu. Aku sengaja ga ada kasih tau Nur kalau kami mau ke rumahnya. Jadi semacam surprise  gitu deh. Di sepanjang perjalanan, aku dan Dea senyam senyum mebayangkan ekspresi wajah Nur pas ngeliat kedatangan kami. Hihihihihihihihihi
Huuuufffffffhhhhh… nyampe di tujuan dengan napas ngos-ngosan. Berulang kali kami mengusap peluh keringat, berusaha memasang tampang kami-anak-kuat-cerah-ceria-nan seksi. Rumah tampak sepi. Pagar tingginya berdiri kokoh tertutup rapat. Bingung deh gimana cara masuknya. Kayak gembel deh kami. Duduk lesehan dengan pakaian olahraga yang dekil. Orang-orang yang lewat  menatap bingung. Mungkin kalau aku bisa mengertikan tatapan itu, jadinya seperti ini: “Wow, ada pemulung yang sekolah hari minggu!”
Dea pun menelpon Nur, memberitahu bahwa kami ada di depan rumahnya. Ga diangkat. Ga diangkat. Dan lagi-lagi gak diangkat. Terlantar. Serasa jaman udah terbalik. Dulu kan ada tuh di sinetron-sinetron atau film-film roman,, yang di salah satu adegannya ada seorang cowo yang nungguin cewenya keluar. Sang cowo menatap dengan tatapan penuh harapan, ke arah balkon kamar si cewe. Tapi si cewe ga keluar keluar juga, meskipun si cowo udah memohon-mohon.Nah, gitu dah yang aku rasakan pas nungguin Nur keluar. Tapi terbalik. Eh ini malah cewe yang nungguin si cowo keluar :D
Kata Dea, kalau sampe telepon ke-10 Nur tetap ga angkat-angkat, lebih baik pulang aja. Aku udah nyerah, huuffh memang gak takdir aku ketemu sama dia. Untungnya aja dia langsung keluar, dan (akhirnya) sadar akan kedatangan kami. Aku senang banget. Perjuanganku bersama Dea jalan kaki dan menunggu dia selama setengah jam ternyata gak sia-sia.
Lah tadi tuh dia nonton tv, terus hapenya ditinggal di kamar. Hedeh hedeh pantasan, kami telpon ga diangkat-angkat.
Aku bahagia banget kalau berada di sampingnya. Berceriata tentang apa saja. Dia mampu membuatku lupa sama Indra.  Pas mau pulang aja, rasanya berat hati. Dia ngucapin makasih ke aku. Aku jadi bangga bo :D
Dengan betis kuat nan seksi, kami pun bisa menjalani hari Minggu ini denan lancer. Dan dengan betis kuat nan seksi, aku bisa ketemu dia haha. 
Salam pejalan kaki!!!!
Mhuahahahahahahahahahahaahaaa
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

GUMPALAN KESEHARIAN

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

Copyright © Pelacur Kata | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com